Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Pembangunan ekonomi pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, dimana dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
masyarakat maka diperlukan pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan
distribusi pendapatan yang lebih merata. Masalah pertumbuhan ekonomi disuatu
daerah tergantung kepada banyak faktor seperti salah satunya adalah kebijakan
pemerintah itu sendiri, hal ini harus dikenali dan diidentifikasi secara tepat supaya
faktor tersebut dapat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan
ekonomi suatu daerah dapat diukur dengan melihat PDRB dan laju
pertumbuhannya atas dasar harga konstan. Pertumbuhan ekonomi yang cepat akan
berdampak terhadap ketimpangan dalam distribusi pendapatan.
Masalah ketimpangan pendapatan telah lama menjadi persoalan pelik dalam
pelaksanaan pembangunan ekonomi yang dilaksanakan oleh sejumlah negara
miskin dan berkembang. Menurut Lincoln Arsyad (1997) banyak negara sedang
berkembang yang mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi pada tahun
1960-an mulai menyadari bahwa pertumbuhan yang semacam itu hanya sedikit
manfaatnya dalam memecahkan masalah kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi
tinggi gagal untuk mengurangi bahkan menghilangkan besarnya kemiskinan
absolut. Dengan kata lain, pertumbuhan GNP per kapita yang cepat tidak secara
otomatis meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Karena apa yang disebut
dengan proses trickle down effect dari manfaat pertumbuhan ekonomi bagi
penduduk miskin tidak terjadi seperti apa yang diharapkan.
Upaya-upaya pemerintah untuk mengurangi ketimpangan sudah sering
dilakukan. Pada masa pemerintahan Orde Baru diluncurkan Konsep Trilogi
pembangunan untuk mengurangi ketimpangan pembangunan dan pendapatan
antar Provinsi di Indonesia. Konsep tersebut diwujudkan dalam program-program
yang mengarah pada pertumbuhan, pemerataan, dan stabilitas di wilayah NKRI.
Namun, upaya tersebut belum menunjukkan hasil signifikan dalam mengurangi
2

ketimpangan. Salah satu penyebabnya adalah sistem sentralisasi yang dilakukan
pada masa pemerintahan Orde Baru. Keputusan yang diambil pemerintah pusat
semakin memperbesar inefisiensi, karena banyak proyek yang digulirkan tidak
sesuai kebutuhan daerah.
Masalah distribusi pendapatan mengandung dua aspek. Aspek pertama
adalah bagaimana menaikkan tingkat kesejahteraan mereka yang masih berada
dibawah garis kemiskinan, sedang aspek kedua adalah pemerataan pendapatan
secara menyeluruh dalam arti mempersempit perbedaan tingkat pendapatan antar
penduduk atau rumah tangga. Keberhasilan mengatasi aspek yang pertama dapat
dilihat dari penurunan persentase penduduk yang masih berada dibawah garis
kemiskinan. Sementara keberhasilan memperbaiki distribusi pendapatan secara
menyeluruh, adalah jika laju pertambahan pendapatan golongan miskin lebih
besar dari laju pertambahan pendapatan golongan kaya.
Ketimpangan ekonomi sering digunakan sebagai indikator perbedaan
pendapatan per kapita rata-rata, antar kelompok tingkat pendapatan, antar
kelompok lapangan kerja, dan atau antar wilayah. Pendapatan per kapita rata-rata
suatu daerah dapat disederhanakan menjadi Produk Domestik Regional Bruto
dibagi dengan jumlah penduduk. Cara lain yang bisa digunakan adalah dengan
mendasarkan kepada pendapatan personal yang didekati dengan pendekatan
konsumsi (Widiarto, 2001). Dalam pengukuran ketimpangan pembangunan
ekonomi regional digunakan Indeks Williamson.
Ketimpangan ekonomi regional di Indonesia yang diukur dengan indeks
Williamson dari Tahun 1971 hingga Tahun 1990 berkisar antara 0,396 sampai
0,484. Hal ini menunjukkan ada peningkatan ketimpangan ekonomi regional
tetapi masih relatif sedang. Indek ketimpangan ekonomi regional dari Tahun 1991
hingga 1997 berkisar 0,643 sampai 0,671 berarti mengalami kenaikan cukup
tinggi (Sjafrizal, 1997).
Studi empiris dari Brodjonegoro (1999) dan Mahi (2000) dengan
menggunakan PDRB per kapita menurut harga konstan 1993 menunjukkan bahwa
Indeks Williamson tahun 1995 tercatat sebesar 0,716. Pada tahun 1996, Indeks
Williamson mengalami penurunan mecapai 0,712. Dan Tahun 1997, Indeks
3

Williamson mengalami kenaikan mencapai 0,713 sebagai akibat dari krisis
ekonomi di Indonesia (Thulus Tambunan, 2001).
Namun demikian, Kabupaten/Kota di Indonesia yang memiliki keuntungan
relatif besar dari sumber daya alam hanya 6 propinsi (20%) dan dari 350
kabupaten/kota tidak sampai 20 kabupaten/kota (5%) yang menikmati bagi hasil
yang besar (Simanjuntak, 2001). Gejala tersebut sesuai dengan kesimpulan dari
penelitian yang dilakukan oleh UNSFIR, yang menyatakan bahwa perbedaan yang
mencolok antara kekayaan daerah dengan kesejahteraan masyarakatnya pada
daerah-daerah yang kaya sumber daya alam tersebut telah menumbuhkan
kesadaran kolektif masyarakat terhadap sesuatu yang seharusnya dinikmati, yang
disebut aspirasi terhadap ketidakmerataan (inequality). Aspirasi ini mencerminkan
adanya rasa ketidak-adilan yang muncul bila tingkat kesejahteraan masyarakat di
daerah yang kaya sama atau bahkan lebih rendah dari masyarakat Indonesia pada
umumnya (Tadjoeddin, 2001).
Sedangkan perhitungan ketimpangan antar wilayah di Propinsi Jawa Tengah
berdasarkan penelitian Tantia Hastarini dengan menggunakan data time series dari
tahun 1981 hingga tahun 2000 menyimpulkan bahwa ketimpangan ekonomi antar
daerah di Provinsi Jawa Tengah cenderung mengalami peningkatan. Hal ini juga
ditunjukkan oleh perhitungan ketimpangan ekonomi yang dilakukan oleh Beppeda
Provinsi Jawa Tengah yakni tahun 1999 mencapai 0,75; tahun 2000 mencapai
0,78; tahun 2001 sebesar 0.76; tahun 2002 sebesar 0,77; tahun 2003 sebesar 0,80 ;
tahun 2004 sebesar 0,76; dan tahun 2005 sebesar 0,76 (Bappeda, Perda No. 11,
2003).
Studi Rappaport (1999) mengkaji empat kelompok fakta-fakta empiris dari
pertumbuhan ekonomi antar daerah (lokal) di Amerika Serikat dengan
menggunakan data panel berbagai atribut lokal Amerika Serikat tahun 1970-1990.
salah satu kelompok fakta empiris yang dikaji adalah korelasi-korelasi kebijakan
anggaran pemerintah dari pertumbuhan ekonomi lokal. Dalam hal hubungan
antara kebijakan anggaran pemerintah lokal dengan pertumbuhan ekonomi lokal
tersebut (dilihat dari tiga indikator: migrasi netto, pertumbuhan pendapatan per
kapita, dan pertumbuhan harga perumahan), dari estimasinya-estimasinya,
4

Rappaport mendapatkan empat fakta proses pertumbuhan ekonomi lokal di
Amerika Serikat.
Keempat fakta proses pertumbuhan ekonomi lokal Amerika Serikat tersebut
adalah: pertama, bahwa dari tahun 1970 sampai 1990, pertumbuhan ekonomi
lokal berkorelasi negatif dengan besaran keuangan pemerintah lokal; kedua,
pertumbuhan ekonomi lokal sepanjang periode yang diamati berkorelasi positif
dengan pengeluaran pemerintah lokal untuk pendidikan dasar dan pendidikan
menengah; ketiga, pertumbuhan ekonomi daerah tahun 1970 sampai 1990
berkorelasi negatif dengan pajak pendapatan personal lokal; keempat,
pertumbuhan ekonomi daerah berkorelasi negatif dengan pajak penjualan tertentu
yang diambil oleh pemerintah lokal. Tampak yang diamati disini bukan hanya
komposisi investasi pemerintah tetapi juga komposisi penerimaan pemerintah
lokal.
Terjadinya ketimpangan pendapatan di Indonesia merupakan suatu hal yang
perlu dicermati. Untuk itu diperlukan adanya kebijakan yang berupa pemanfaatan
sektor sektor basis dari masing masing daerah di Wilayah Pembangunan untuk
memajukan perekonomian daerah yang bersangkutan guna mengurangi
ketimpangan yang terjadi.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis akan mengangkat judul :
Analisis Tipologi dan Ketimpangan Pendapatan Antar Provinsi di Indonesia
Periode 2003-2010.
1.2 Rumusan Masalah
Sistem pemerintahan yang bersifat sentralistik yang terjadi selama ini,
disamping telah mengakibatkan terpuruknya perekonomian nasional juga
menyebabkan ketimpangan pertumbuhan ekonomi antar daerah. Ketimpangan
tersebut menyebabkan semakin melebarnya kesenjangan antara kaya dan miskin,
ketimpangan antar Provinsi maupun ketimpangan antar sektor ekonomi. Wilayah
miskin pertumbuhannya lebih lambat dari wilayah yang lebih berkembang atau
dikenal dengan konvergensi. Belum optimalnya pemanfaatan sumber daya alam,
rendahnya akses pasar baik pasar regional, nasional maupun internasional,
5

kapasitas sumberdaya manusia dan kelembagaan yang belum mendukung juga
dapat menyebabkan gap antara wilayah tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut, maka perumusan masalah yang akan dikaji
dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana Tipologi Daerah di 26 Provinsi yang ada di Indonesia pada
periode 2003-2010?
2. Bagaimana ketimpangan pendapatan antar provinsi yang ada di
Indonesia pada periode 2003-2010?
3. Bagaimana pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Jumlah Penduduk dan
Pengeluaran Pemerintah terhadap Ketimpangan Pendapatan di
Indonesia pada periode 2003-2010?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
1. Menganalisis Tipologi Daerah di 26 Provinsi yang ada di Indonesia
pada periode 2003-2010
2. Mengukur dan menganalisis tingkat ketimpangan pendapatan antar
Provinsi yang ada di Indonesia pada periode 2003-2010.
3. Menganalisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Jumlah Penduduk dan
Pengeluaran Pemerintah Terhadap Ketimpangan Pendapatan di
Indonesia pada periode 2003-2010.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini berguna untuk menyusun rencana yang komprehensif
bagi pembangunan Provinsi yang ada di Indonesia. Disamping itu penelitian ini
juga diharapkan :
1. Sebagai tambahan dan guna melengkapi khasanah pengetahuan tentang
ekonomi pembangunan.
2. Sebagai bahan informasi yang dapat digunakan oleh semua pihak serta
dapat dijadikan rujukan bagi mahasiswa untuk penelitian selanjutnya.
6

3. Berguna untuk mengevaluasi kegiatan perekonomian dan menyusun
kebijakan baru untuk pelaksanaan pembangunan.
1.5 Keaslian Penelitian
Penelitian atau studi terkait yang membahas tentang pertumbuhan
ekonomi dan distribusi pendapatan telah banyak dilakukan diantaranya sebagai
berikut:
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
No. Peneliti Sampel Alat analisis Hasil
1 Sutarno,
Mudrajad
Kuncoro
(2003)
Antar
kecamatan
di
Kabupaten
Banyumas
Tipologi Klassen,
Indeks
Williamson,
Indeks Entropy
Theil, Korelasi
Pearson
Berdasarkan Tipologi Klassen, kecamatan di
Kab. Banyumas diklasifikasikan menjadi
empat kelompok. Pada 19930-2000 terjadi
peningkatan ketimpangan, baik dengan Indeks
Williamson maupun Indeks Entropy Theil.
Hipotesa Kuznets berlaku di Kab. Banyumas
tahun 1993-2000
2 Mulyanto
Sudarmono,
(2006)
Wilayah
Pembangun
an I Jawa
Tengah
Analisis
pertumbuhan
ekonomi, Location
Quotient, Shift
Share, Indeks
Williamson,
Indeks Theil
Kecenderungan peningkatan nilai Indeks
Williamson dan Indeks Thiel. Hipotesa
Kuznets berlaku di wilayah Pembangunan I
Jawa Tengah.

3 Joko
Waluyo
(2007)
Antar
Provinsi Di
Indonesia
Indeks Entropy
Theil dan Korelasi
Pearson
Desentralisasi berdampak terhadap
ketimpangan pendapatan dan pertumbuhan
ekonomi
4 Budiantoro
Hartono (
2008 )
Provinsi
Jawa
Tengah
Indeks Williamson Ketimpangan ekonomi di Provinsi Jawa
Tengah yang diukur dengan Indeks
Williamson tahun 1981-2005 cenderung
meningkat.
5 Lili Masli
(2008)
Propinsi
Jawa Barat
Analisis deskriptif
dan analisis data
sekunder
Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat selama
periode penelitian antara periode tahun 1993-
2006 mengalami fluktuasi dan menunjukan
arah yang negatif apabila dibandingkan pada
awal penelitian.
6 Arman,
Rosmeli dan
Novita
(2009)
Negara
Indonesia
Analisis Indeks
Williamson
Semenjak tahun 2000 ketimpangan
pendapatan antar daerah semakin melebar.

Adapun perbedaan penelitian dengan judul Analisis Tipologi Dan
Ketimpangan Pendapatan Antar Provinsi di Indonesia dengan penelitian
terdahulu, sebagai berikut :
1. Lokasi penelitian di 26 Provinsi di Indonesia
2. Kurun waktu penelitian antara tahun 2003-2010
3. Alat analisis menggunakan Tipologi Klassen, Indeks Williamson, dan
analisis Ekonometrika yang menggunakan Data Panel.