Anda di halaman 1dari 17

Tugas Makalah Agama

Pelaksanaan dan Hikmah Puasa







Kelompok 3
Disusun Oleh:
1. Abdul Khaliq Brutu (01)
2. Erna Susilowati (11)
3. Muhammad Farija (22)
4. Vonita Briliana (34)


SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI
NEGARA
2013/2014
ii

KATA PENGANTAR


Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-
NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan baik untuk
memenuhi tugas PAI program Diploma 1 Pajak Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Shalawat
dan salam penulis tidak segan-segan mengucapkan untuk Nabi yang tercinta Muhammad
SAW, dalam hal ini penulis membuat judul Pelaksanaan dan Hikmah Puasa
Penulis menyadari makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari
berbagai pihak sehingga penulis dapat menutupi segala kekurangan dan kesulitan yang
penulis alami ketika menyusun makalah ini. Pada kesempatan ini izinkanlah penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Syukron Makmun selaku dosen mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
2. Kepada teman-teman yang telah membantu dalam penyelesaian tugas ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kesalahan maupun
kekurangan. Demikian semoga dengan adanya penulisan makalah ini bermanfaat bagi penulis
khususnya dan pembaca umumnya.






Penulis

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................................................... iii
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................................................... 1
C. Tujuan ......................................................................................................................................... 2
D. Metode Penulisan ........................................................................................................................ 2
PEMBAHASAN ..................................................................................................................................... 3
a. Pengertian Puasa ......................................................................................................................... 3
b. Syarat Syarat Puasa .................................................................................................................. 3
c. Rukun Puasa ................................................................................................................................ 4
d. Adab Puasa .................................................................................................................................. 4
e. Hal-hal yang membatalkan Puasa ............................................................................................... 6
f. Macam Macam Puasa .............................................................................................................. 7
1) Puasa Wajib ............................................................................................................................. 7
2) Puasa Sunnah .......................................................................................................................... 9
3) Puasa Haram ......................................................................................................................... 10
4) Puasa Makruh ....................................................................................................................... 11
g. Hikmah Puasa ........................................................................................................................... 11
PENUTUP ............................................................................................................................................ 13
Kesimpulan ....................................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 14


1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Puasa yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkannya
disertai dengan niat untuk berpuasa. Maksud menahan diri dalam hal ini adalah
menahan hawa nafsu anggota tubuh, perut maupun dalam hal seks dari terbit fajar
sampai terbenamnya matahari. Puasa merupakan salah satu cara dalam pengendalian
diri untuk menjalankan perintah Allah SWT. Allah SWT menetapkan bahwa kunci
masuk surga terletak dalam masalah mengendalikan diri baik jasmani maupun rohani,
dari perbuatan yang diharamkan dan pengendalian diri untuk melaksanakan akhlak
yang baik.
Ditinjau dari hukumnnya, puasa dapat diklasifikasikan menjadi puasa wajib,
puasa sunah, puasa haram, serta puasa makruh. Puasa wajib merupakan puasa yang
harus dilakukan semua umat muslim dan bila tidak dilaksanakan berakibat dosa.
Sedangkan puasa sunah yaitu puasa yang bila dilakukan akan mendapatkan pahala,
bila tidak dilakukan tidak mengakibatkan dosa. Dalam melaksanakan puasa wajib
maupun puasa-puasa sunah tersebut mempunyai syarat-syarat, rukun-rukun serta hal-
hal yang dapat mengakibatkan puasa tersebut batal. Puasa memiliki hikmah serta
faedah bagi jasmani serta rohani kita. Ibadah puasa banyak mengandung aspek sosial,
karena lewat ibadah ini kaum muslimin dapat ikut serta merasakan penderitaan orang
lain yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pangannya. Ibadah puasa juga
menunjukkan kepatuhan serta ketaqwaan seorang muslimin terhadap Allah SWT.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah-masalah yang akan dibahas di
dalam makalah ini, diantaranya:
a. Apakah pengertian dari puasa?
b. Apa sajakah yang termasuk syarat, rukun serta hal-hal yang dapat membatalkan
puasa itu?
c. Apa saja macam-macam dari puasa itu?
2

d. Kapan pelaksanaan puasa baik wajib maupun puasa sunah?
e. Apakah hikmah yang dapat diambil dari berpuasa?
C. Tujuan
Tujuan dibuat makalah ini adalah untuk mengetahui :
a. Pengertian dari puasa
b. Syarat-syarat, rukun serta hal-hal yang dapat membatalkan puasa.
c. Macam-macam puasa
d. Pelaksanaan puasa wajib maupun sunah
e. Hikmah dari berpuasa

D. Metode Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode kepustakan dari website
yang bahannya bersangkutan dengan isi dari makalah ini.

3

PEMBAHASAN

a. Pengertian Puasa
Puasa menurut bahasa adalah menahan diri dari segala sesuatu. Sedangkan
menurut istilah Fiqih, puasa adalah menahan diri dari segala perbuatan yang
membatalkan seperti makan, minum, serta hawa nafsu dari terbit fajar sampai
terbenamnya matahari, dengan berdasarkan niat serta mematuhi persyaratan-
persyaratan dan rukunnya. Menurut Ash Shiddieqy (1987:114) Puasa adalah
Menahan nafsu dari godaan syahwat dan mengekang diri dari segala kebiasaan yang
mengutamakan kenikmatan badani dan menciptakan kesucian batin yang akan
membawa ketenangan jiwa. Adapun menurut Al-Zuhayly (1996: 85 ) Puasa berarti
menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya yang berupa syahwat perut dan
syahwat kemaluan serta menahan hawa nafsu dari makan dan minum dengan niat
yang dilakukan oleh seseorang yang akan berpuasa dari terbit fajar sampai
terbenamnya matahari.

b. Syarat Syarat Puasa
Syarat dalam berpuasa dibagi menjadi 2 yaitu syarat wajib puasa dan syarat syah puasa.
Syarat syah puasa menurut Ash Shiddieqy (1987: 84-85) secara garis besar adalah
syarat yang harus dipenuhi untuk syahnya puasa diantaranya:
1.) Beragama Islam
Apabila seseorang itu kafir baik asli atau kafir murtad berniat puasa, tidaklah
sah puasanya. Apabila seorang muslim yang berpuasa menjadi murtad karena
mencela agama islam atau dia mengerjakan sesuatu yang merupakan penghinaan
bagi al-Quran atau memaki seorang Nabi, niscaya keluarlah ia dari Islam dan
batallah puasanya.

2.) Suci dari haid, nifas dan wiladah
Puasa wanita yang mendapat haid, bernifas ataupun bersalin (wiladah) pada
saat darah keluar baik banyak ataupun sedikit, baik anak yang lahir itu sempurna
ataupun yang dilahirkan itu segumpal darah atau daging.

4

3.) Berakal
Dapat membedakan mana yang baik dan buruk.
4.) Berpuasa pada waktunya
Berpuasa harus dilakukan pada waktunya yang tepat. Karenanya tidak sah
puasa jika dikerjakan diwaktu-waktu yang tidak dibenarkan berpuasa, seperti hari
raya Idul Fitri, Idul Adha dan hari-hari Tasyriq.

Adapun syarat wajib puasa adalah sebagai berikut :
a.) Berakal
b.) Balig
Anak-anak tidak wajib puasa. Sabda Rasulullah saw: tiga orang yang terlepas
dari hukum yaitu (a) orang yang sedang tidur hingga ia bangun, (b) orang gila
sampai ia sembuh, (c) kanak-kanak sampai ia balig. ( Riwayat Abu Dawud
dan Nasaih)
c.) Kuat berpuasa
Orang yang tidak kuat puasa misalnya karna sudah tua atau sakit maka orang
tersebut tidak wajib puasa.
c. Rukun Puasa
Rukun puasa meliputi :
a.) Niat
Kedudukan niat dalam ajaran islam penting sekali, karena ia menyangkut dengan
kemauan. Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhari menyatakan yang
Artinya : sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung kepada niat, dan
setiap manusia hanya memperoleh menurut apa yang diniatkannya.
b.) Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai
terbenam matahari.
d. Adab Puasa
1. Makan sahur
Para ulama bersepakat bahwa makan sahur adalah sunnah bagi orang yang
akan berpuasa. Al-Bukhari dan Muslim merawikan dari Anas r.a bahwa Nabi
Saw. Pernah bersabda, bersahurlah kamu, sebab didalam makanan sahur
terkandung berkah).
5

Sahur dapat dilaksanakan dengan makan atau minum, sedikit atau banyak
(meskipun hanya seteguk air); waktunya mulai pertengahan malam sampai
terbitnya fajar (yakni masuknya waktu untuk shalat subuh). Walaupun demikian
lebih baik berhenti dari makan dan minum kira-kira sepuluh menit sebelum masuk
waktu subuh ( waktu imsak).
2. Menyegerakan Buka Puasa
Dianjurkan bagi yang berpuasa untuk berbuka segera setelah meyakini
terbenamnya matahari. Bukhari dan Muslim merawikan dari Sahl bin Saad,
bahwa Nabi Saw. Pernah bersabda, Manusia masih dalam keadaan baik
sepanjang mereka masih menyegerakan buka puasa.
Dianjurkan pula untuk berbuka dengan satu atau tiga butir kurma atau boleh
juga dengan sesuatu yang manis ataupun air walaupun hanya seteguk. Kemudian
hendaknya melaksanakan shalat maghrib sebelum makan malam kecuali jika
makan malamnya telah tersedia, maka tak ada salahnya mendahulukan makan
sebelum shalat magrib.
3. Doa setelah Berbuka
Dianjurkan bagi orang yang sedang berpuasa agar memperbanyak baca dzikir
dan doa sepanjang hari terutama setelah berbuka. Diriwayatkan oleh tirmidzi
bahwa Nabi Saw. Pernah bersabda, tiga orang tak akan tertolak doanya yaitu
seorang yang sedang berpuasa sampai ia berbuka, penguasa negeri yang adil, dan
seoarang Mazhlum ( yakni yang tertimpa kedzaliman). Diantara doa-doa yang
dianjurkan membacanya berulang-ulang, terutama disore hari menjelang saat
berbuka.
4. Menggosok Gigi
Seorang yang sedang berpuasa tetap dianjurkan menjaga kebersihan giginya
dengan bersiwak (menggunakan kayu siwak ataupun sikat gigi) baik pada pagi
hari.
5. Banyak bersedekah dan menbaca Al-Quran
Banyak bersedekah dan mendarus (membaca bersama-sama atau sendiri) serta
mempelajari Al-Quran adalah perbuatan yang sangat dianjurkan pada setiap saat
namun lebih dianjurkan lagi pada bulan Ramadhan.
6. Menjauhkan diri dari perbuatan dan ucapan tidak senonoh
Seorang yang sedang berpuasa hendaknya tidak hanya menahan dirinya dari
makan, minum serta perbuatan terlarang lainnya, tetapi harus pula mencangkup
6

perbaikan jiwa dengan akhlak mulia dan menjauh dari segala perbuatan tercela.
Sabda Nabi Saw: Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum,
tetapi harus pula menahan diri dari perbutan sia-sia dan ucapan tidak senonoh.
Maka apabila orang lain menunjukan cercaan atau keajaiban terhadapmu,
janganlah membalasnya dengan perbuatan seperti itu, tetapi katakanlah: Aku
sedang berpuasa, aku sedang berpuasa! (HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan
Al-Hakim). Diriwayatkan pula bahwa Nabi Saw, pernah bersabda: Barangsiapa
tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan keji, maka tak ada sedikitpun kehendak
Allah untuk menerima puasanya dari makan dan minum.
e. Hal-hal yang membatalkan Puasa

a. Makan dan Minum
Makan dan minum yang membatalkan puasa ialah apabila dilakukan dengan
sengaja. Kalu tidak sengaja misalnya lupa maka hal tersebut tidak membatalkan
puasa. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: Barang siapa lupa, sedangkan ia
dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah puasanya
disempurnakan, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberinya makan dan
minum.( Riwayat Bukhari dan Muslim). Memasukkan seuatu kedalam lubang
yang ada pada badan, seperti lubang telinga, hidung, dan sebagainya menurut
sebagian ulama sama dengan makan dan minum yang artinya membatalkan puasa.
b. Muntah yang disengaja
Muntah yang tidak disengaja tidaklah membatalkan puasa. Sabda Rasulullah
Saw: Dari Abu Hurairah. Rasulullah Saw telah berkata, barangsiapa terpaksa
muntah, tidaklah wajib mengqada puasanya dan barang siapa yang mengusahakan
muntah, maka hendaklah dia mengqada puasanya. (Riwayat Abu Dawud,
Tirmizi, dan Ibnu Hibban)
c. Bersetubuh
Firman Allah Swt: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa
bercampur dengan istri-istrimu (Al-Baqarah: 187). Laki-laki membatalkan
puasanya dengan bersetubuh diwaktu siang hari dibulan Ramadhan, sedangkan dia
berkewajiban puasa, maka ia wajib membayar kafarat.
d. Keluar darah Haid
e. Gila
f. Keluar Air Mani dengan sengaja
7

Keluarnya air mani dengan sengaja ketika melakukan persetubuhan maka dapat
membatalkan puasa. Sedangkan keluarnya air mani karena bermimpi atau berkhayal
dengan tidak sengaja maka tidak membatalkan puasa.
f. Macam Macam Puasa
Puasa dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :
1) Puasa Wajib
Puasa wajib adalah puasa yang harus dikerjakan oleh seluruh umat muslim dan bila
tidak dilaksanakan maka berdosa. Puasa wajib dapat dikategorikan menjadi
beberapa macam, diantaranya adalah :
1. Puasa Ramadhan
Puasa bulan Ramadhan merupakan salah satu dari rukun islam yang
lima. Adapun Puasa bulan Ramadhan diwajibkan berdasarkan firman
Allah swt dalam surat Al-Baqarah [2]: 183 dan Al-Baqarah [2]:
185 Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertakwa. ( Al-Baqarah:180) Artinya: Bulan Ramadhan, yang
padanya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, serta pembeda (antara
yang hakq dan yang bathil). Maka barang siapa yang berpuasa di antara
kamu berada di bulan itu, hendaklah ia mempuasainya. Dan barang siapa
sedang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia tidak berpuasa) maka
(wajiblah ia menggantikannya) sebanyak hari-hari yang ditinggalkannya
itu, pada hari-hari lainnya. ( Al-Baqarah: 185).
Dari surat Al-Baqarah dan Hadits diatas menunjukan bahwa puasa
bulan Ramdhan merupakan puasa yang wajib dilaksanakan bagi seluruh
umat islam di dunia. Sebagai mana definisi wajib menurut fiqih adalah
perintah yang harus dilakukan atau dikerjakan. Jika perintah tersebut
dipatuhi , maka yang mengerjakannya mendapat pahala sebaliknya apabila
perintah tersebut ditinggalkan atau tidak dikerjakan maka akan mendapat
dosa. Menurut Rasjid ( 2010: 220) puasa Ramadhan diwajibkan pada
tahun kedua hijriah, yaitu tahun kedua sesudah Nabi Muhammad Saw.
hijrah ke Madinah. Hukumnya Fardu ain atas tiap-tiap mukallaf (baligh
dan berakal).
8


2. Puasa Qadha
Puasa Qadha adalah Puasa yang wajib ditunaikan karena seorang
muslim berbuka dalam puasanya di bulan Ramadhan yang disebabkan
udzur seperti safar (bepergian), sakit, haid dan nifas atau dengan sebab-
sebab yang lain. Menurut Handrianto ( 2007: 1) mengenai puasa Qadha
adalah: Sebenarnya puasa sebagai ibadah yang diwajibkan hanya puasa
Ramadhan, adapun puasa wajib yang lain berkaitan dengan puasa
Ramadhan salah satunya adalah puasa qadha, yaitu puasa untuk
menggantikan puasa Ramadhan yang di tinggalkan karena suatu sebab
syari. Puasa qadha adalah puasa yang wajib dibayar tunai, jangan ditunda-
tunda apalagi sampai utang berikutnya.

3. Puasa Kifarat
Puasa kifarat ialah puasa yang wajib ditunaikan karena berbuka dengan
sengaja dalam melaksanakan puasa bulan ramadhan (dalam hal ini ada
khilaf), bukan karena sesuatu udzur yang dibenarkan syara akan tetapi
diantaranya karena bersetubuh dengan sengaja bagi suami istri dibulan
Ramadhan disiang hari ketika dalam melaksanakan puasa, karena
membunuh dengan tidak sengaja, karena mengerjakan sesuatu yang
diharamkan dalam haji, serta tidak sanggup menyembelih binatang hadyu;,
karena merusak sumpah dan berdhihar terhadap isteri.
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah siapakah yang wajib
membayar kafarat tentang perilaku kesengajaan suami istri yang
melakukan hubungan seksual pada saat puasa di bulan
Ramadhan. Pertama, kewajiban membayar kifarat hanya dibebankan
kepada laki-laki saja dan bukan pada istrinya meskipun mereka
melakukannya berdua. Akan tetapi, pelakunya tetap saja jatuh pada laki-
laki karena walau bagaimanapun, laki-laki yang menentukan terjadi
tidaknya hubungan seksual. Pendapat ini didukung oleh imam SyafiI dan
ahli zahir. Dalil yang mereka gunakan adalah bahwa pada hadis tentang
kifarat puasa, Rasulullah saw hanya memerintahkan suami untuk
membayar kifarat tanpa menyinggung sama sekali kewajiban membayar
bagi istrinya. Kedua, kewajiban membayar kifarat itu berlaku bagi
9

keduanya yakni suami dan istri. Pendapat ini didukung oleh Imam Abu
Hanifah dan Imam Malik serta lainnya. Adapun dalil yang mereka
gunakan, adalah qiyas bahwa mengiyaskan kewajiban suami kepada
kewajiban istri pula.

4. Puasa Nadzar
Puasa nadzar ialah puasa wajib yang difardukan sendiri oleh seseorang
muslim atas dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Puasa nadzar
wajib ditunaikan menurut nazarnya. Menurut Yasin (2009: 112) Puasa
nadzar adalah puasa yang dilakukan karena niat. Contoh, kalau saya lulus
ujian dikampus, saya bernadzar akan berpuasa selama tiga hari bulan ini.
Ketika saya lulus ujian, puasa tersebut hukumnya wajib, artinya harus
dilakukan.
Adapun menurut Handrianto ( 2007:129) mengenai puasa Nadzar
adalah sebagai berikut: Bernadzar artinya berjanji akan berpuasa, apabila
misalnya sembuh dari sakit atau jika diperkenankan sesuatu maksud yang
baik (yang bukan maksiat) dalam rangka mensyukuri nikmat atau untuk
mendekatkan diri kepda Allah, maka wajiblah atasnya untuk
melaksanakannya. Puasa Nadzar pada dasarnya utang, bahkan lebih tegas
lagi karena biasanya dikaitkan dengan sesuatu. Oleh karena itu, seorang
yang bernadzar wajib melaksanakan puasa Nadzar tersebut sebab ia sendiri
yang membuatnya wajib. Dengan demikian, kita harus berhati-hati dalam
bernadzar janganlah kita mengucapkan nadzar akan melakukan sesuatu
termasuk puasa jika kita tidak sanggup melaksanakannya. Nadzar sangat
baik dilaksanakan sebagai rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah
kepada kita, terutama setelah hilangnya kesulitan dalam diri atau keluarga,
asal nadzar tersebut masuk akal dalam pelaksanaanya dan tidak
memberatkan diri.
2) Puasa Sunnah
Puasa sunnah adalah puasa yang bila dikerjakan mendapat pahala dan apabila
dikerjakan tidak mendapat dosa. Adapun jenis puasa sunnah adalah sebagai
berikut:

10

1. Puasa Syawal
Bersumber dari Abu Ayyub Anshari r.a. sesungguhnya Rasulallah saw.
bersabda: Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian dia
menyusulkannya dengan berpuasa enam hari pada bulan syawal , maka
seakan akan dia berpuasa selama setahun.
2. Puasa Arafah
Dari Abu Qatadah, Nabi saw. bersabda: Puasa hari Arafah itu menghapuskan
dosa dua tahun, satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang
(H. R. Muslim).
3. Puasa Senin Kamis
Rasulullah saw bersabda yang Artinya dari Aisyah : Nabi Muhammad SAW
memilih waktu puasa hari senin kamis. Puasa senin kamis hukumnya adalah
sunah / sunat di mana tidak ada kewajiban dan paksaan untuk
menjalankannya. Pelaksanaan puasa senin kamis mirip dengan puasa lainnya
hanya saja dilakukannya harus pada hari kamis dan senin saja, tidak boleh di
hari lain.
4. Puasa Syaban
Puasa nisfu sya'ban adalah puasa yang dilakukan pada awal pertengahan di
bulan syaban. Pelaksanaan puasa syaban ini mirip dengan puasa lainnya.
5. Puasa As-Syura
Dari Salim, dari ayahnya berkata: Nabi saw. bersabda: Hari Asyuro (yakni 10
Muharram) itu jika seseorang menghendaki puasa, maka berpuasalah pada hari
itu. Puasa asyura adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 10 di bulan
muharam / muharram. Pelaksanaan puasa assyura mirip dengan puasa lainnya.
6. Puasa Arafah
Puasa arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 di bulan zulhijah
untuk orang-orang yang tidak menjalankan ibadah pergi haji. Pelaksanaan
arafah mirip dengan puasa lainnya.
3) Puasa Haram
Puasa haram adalah puasa yang dilarang dalam agama Islam. Puasa yang
diharamkan tersebut antara lain:
1. Puasa pada tanggal 1 syawal dan 10 Dzulhijjah
Rasulullah saw melarang puasa pada dua hari: Hari Raya Idul Fitri dan Idul
11

Adha" (HR. Bukhari Muslim).
2. Puasa Hari Tasyrik tanggal 11, 12, 13 bulan Dzulhijjah
3. Puasa pada hari yang diragukan (hari syak/hari ragu)
4. Puasa Wishol
Puasa Wishol adalah berpuasa selama dua atau tiga hari berturut-turut tanpa
berbuka. Nabi Muhammad saw. bersabda : "Janganlah kalian berpuasa
wishol." (HR. Bukhori)
4) Puasa Makruh
Menurut fiqih 4 (empat) mazhab, puasa makruh itu antara lain :

1. Puasa pada hari Jumat
Berpuasa pada hari Jumat hukumnya makruh apabila puasa itu dilakukan
secara mandiri. Artinya, hanya mengkhususkan hari Jumat saja untuk
berpuasa.
Dari Abu Hurairah ra. berkata: Saya mendengar Nabi saw. bersabda:
Janganlah kamu berpuasa pada hari Jumat, melainkan bersama satu hari
sebelumnya atau sesudahnya.
2. Puasa sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadhan
Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi saw. beliau bersabda: Janganlah salah
seorang dari kamu mendahului bulan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua
hari, kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka berpuasalah hari itu.
g. Hikmah Puasa
a) Bertakwa dan menghambakan diri kepada Alla SWT. Takwa adalah
meninggalkan keharaman, istilah itu secara mutlak mengandung makna
mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan. Firman Allah SWT yang
artinya Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 83)
12

b) Puasa serupa dengan revolusi jiwa untuk merombak cara dan kebiasaan yang
diinginkan oleh manusia itu, sehingga mereka berbakti pada keinginannya.
c) Puasa menunjukkan pentingnya seseorang merasakan pedihnya lapar maupun
tidak dibolehkan mengerjakan sesuatu. Sehingga tertimpa pada dirinya dengan
kemiskinan atau hajtanya tidak terlaksana. Dengan sendirnya ia bisa
merasakan keadaan orang lain yang kesusahan, bahlan akan berusaha
membantu mereka.
d) Puasa dapat menyehatkan tubuh kita
Manfaat puasa bagi kesehatan adalah:
Puasa membersihkan tubuh dari sisa metabolisme. Saat berpuasa tubuh
akan menggunakan zat-zat makanan yang tersimpan. Bagian pertama
tubuh yang mengalami perbaikan adalah jaringan yang sedang lemah
atau sakit.
Melindungi tubuh dari penyakit gula. Kadar gula darah cenderung
turun saat seseorang berpuasa. Hal ini memberi kesempatan pada
kelenjar pankreas untuk istirahat. SepertiAnda ketahui, fungsi kelenjar
ini adalah menghasilkan hormon insulin.
Menyehatkan sistem pencernaan. Di waktu puasa, lambung dan sistem
pencernaan akan istirahat selama lebih kurang 12 sampai 14 jam,
selama lebih kurang satu bulan. Jangka waktu ini cukup mengurangi
beban kerja lambung untuk memroses makanan yang bertumpuk dan
berlebihan.Puasa mengurangi berat badan berlebih. Puasa dapat
menghilangkan lemak dan kegemukan, secara ilmiah diketahui bahwa
lapar tidak disebabkan oleh kekosongan perut. Tetapi juga disebabkan
oleh penurunan kadar gula dalam darah.

13

PENUTUP

Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa puasa adalah menahan diri dari
segala sesuatu yang dapat membatalkannya seperti makan, minum, serta hawa nafsu
dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan didasarkan niat berpuasa dan
mematuhi syarat serta rukun puasa. Puasa wajib meliputi puasa Ramadhan, puasa
Qadha, puasa Nadzar, dan puasa Kiffarat. Puasa wajib maupun sunah memiliki
ketentuan yang berbeda dalam waktu pelaksanaannya serta hukum untuk puasa
tersebut. Syarat-syarat yang terdapat dalam puasa dapat meliputi syarat syah puasa dan
syarat wajib puasa. Disamping itu semua, dapat diambil hikmah dari puasa diantaranya
sebagai wujud taqwa serta kepatuhan terhadap Allah SWT, dapat menyehatkan tubuh,
serta dapat membersihkan jiwa sehingga menjadi manusia yang rendah hati.

14

DAFTAR PUSTAKA


Indri, Safitri. 2012., Makalah Fiqih Puasa. http://indrisafitri04.blogspot.com/2012/11/makalah-
fiqih-puasa.html. (diakses tanggal 15 Desember 2013)
Erlina, Erna. 2012., Makalah Puasa.http://ernaerlina1.blogspot.com/2012/12/makalah-
puasa_9.html. (diakses tanggal 15 Desember 2013)