Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN FRAKTUR ANTEBRA

CHII (PRE DAN INTRA ORIF) DI RUANG INSTALASI BEDAH SENTRAL


A.PENGERTIAN
Fraktur antebrachii adalah terputusnya kontinuitas tulang radius ulna, pada anak biasanya tampak angulas
i anterior dan kedua ujung tulang yang patah masih berhubungan satu sama lain. Gambaran klinis fraktur
antebrachii pada orang dewasa biasanya tampak jelas karena fraktur radius ulna sering berupa fraktur yan
g disertai dislokasi fragmen tulang.

B.JENIS DAN ETIOLOGI
Menurut Mansjoer (2000), ada empat jenis fraktur antebrachii yang khas beserta penyebabnya yaitu :
1.Fraktur Colles
Deformitas pada fraktur ini berbentuk seperti sendok makan (dinner fork deformity). Pasien terjatuh dala
m keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh beserta lengan berputar ke ke dalam (endorotasi). Tangan te
rbuka yang terfiksasi di tanah berputar keluar (eksorotasi/supinasi).
2.Fraktur Smith
Fraktur Smith merupakan fraktur dislokasi ke arah anterior (volar), karena itu sering disebut reverse Colle
s fracture. Fraktur ini biasa terjadi pada orang muda. Pasien jatuh dengan tangan menahan badan sedang p
osisi tangan dalam keadaan volar fleksi pada pergelangan tangan dan pronasi. Garis patahan biasanya tran
sversal, kadang-kadang intraartikular.3.Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi merupakan fraktur radius distal disertai dislokasi sendi radius ulna distal. Saat pasien jat
uh dengan tangan terbuka yang menahan badan, terjadi pula rotasi lengan bawah dalam posisi pronasi wa
ktu menahan berat badan yang memberi gaya supinasi.
4.Fraktur Montegia
Fraktur Montegia merupakan fraktur sepertiga proksimal ulna disertai dislokasi sendi radius ulna proksim
al. Terjadi karena trauma langsung.



C.PATOFISIOLOGI
Apabila tulang hidup normal mendapat tekanan yang berlebihan, baik secara langsung maupun tidak lang
sung. Kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan tersebut mengakibatkan jaringan tidak mampu menahan kek
uatan yang mengenainya. Maka tulang menjadi patah sehingga tulang yang mengalami fraktur akan terjad
i perubahan posisi tulang, kerusakan hebat pada struktur jaringan lunak dan jaringan disekitarnya yaitu lig
ament, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan yang mengelilinginya (Long, B.C, 1996). Periosteu
m akan terkelupas dari tulang dan robek dari sisi yang berlawanan pada tempat terjadinya trauma. Ruptur
pembuluh darah didalam fraktur, maka akan timbul nyeri. Tulang pada permukaan fraktur yang tidak men
dapat persediaan darah akan mati sepanjang satu atau dua millimeter.
Setelah fraktur lengkap, fragmen-fragmen biasanya akan bergeser, sebagian oleha karena kekuatan cidera
dan bias juga gaya berat dan tarikan otot yang melekat. Fraktur dapat tertarik dan terpisah atau dapat tum
pang tindih akibat spasme otot, sehingga terjadi pemendekkan tulang (Apley, 1995), dan akan menimbulk
an derik atau krepitasi karena adanya gesekan antara fragmen tulang yang patah (Long, B.C, 1996).

D.MANIFESTASI KLINIK
Berikut adalah manifestasi klinik dari fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000) :
-Fraktur Colles
a.Fraktur metafisis distal radius dengan jarak _+ 2,5 cm dari permukaan sendi distal radius
b.Dislokasi fragmen distalnya ke arah posterior/dorsal
c.Subluksasi sendi radioulnar distal
d.Avulsi prosesus stiloideus ulna.
-Fraktur Smith
Penonjolan dorsal fragmen proksimal, fragmen distal di sisi volar pergelangan, dan deviasi ke radial (gard
en spade deformity).


-Fraktur Galeazzi
Tampak tangan bagian distal dalam posisi angulasi ke dorsal. Pada pergelangan tangan dapat diraba tonjol
an ujung distal ulna.
-Fraktur Montegia
Terdapat 2 tipe yaitu tipe ekstensi (lebih sering) dan tipe fleksi. Pada tipe ekstensi gaya yang terjadi mend
orong ulna ke arah hiperekstensi dan pronasi. Sedangkan pada tipe fleksi, gaya mendorong dari depan ke
arah fleksi yang menyebabkan fragmen ulna mengadakan angulasi ke posterior.
E.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk menentukan ada/tidaknya dislokasi. Lihat kesegarisan antara kon
dilus medialis, kaput radius, dan pertengahan radius.
Pemeriksaan penunjang menurut Doenges (2000), adalah
1.Pemeriksaan rontgen
2.Scan CT/MRI
3.Kreatinin
4.Hitung darah lengkap
5.Arteriogram

F.PENATALAKSANAAN
Berikut adalah penatalaksanaan fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000) :
-Fraktur Colles
Pada fraktur Colles tanpa dislokasi hanya diperlukan imobilisasi dengan pemasangan gips sirkular di baw
ah siku selama 4 minggu. Bila disertai dislokasi diperlukan tindakan reposisi tertutup. Dilakukan dorsofle
ksi fragmen distal, traksi kemudian posisi tangan volar fleksi, deviasi ulna (untuk mengoreksi deviasi radi
al) dan diputar ke arah pronasio (untuk mengoreksi supinasi). Imobilisasi dilakukan selama 4 - 6 minggu.


-Fraktur Smith
Dilakukan reposisi dengan posisi tangan diletakkan dalam posisi dorsofleksi ringan, deviasi ulnar, dan su
pinasi maksimal (kebalikan posisi Colles). Lalu diimobilisasi dengan gips di atas siku selama 4 - 6 mingg
u.
Fraktur Galeazzi
Dilakukan reposisi dan imobilisasi dengan gips di atas siku, posisi netral untuk dislokasi radius ulna distal
, deviasi ulnar, dan fleksi.
-Fraktur Montegia
Dilakukan reposisi tertutup. Asisten memegang lengan atas, penolong melakukan tarikan lengan bawah k
e distal, kemudian diputar ke arah supinasi penuh. Setelah itu, dengan jari kepala radius dicoba ditekan ke
tempat semula. Imobilisasi gips sirkuler dilakukan di atas siku dengan posisi siku fleksi 90 dan posisi le
ngan bawah supinasi penuh. Bila gagal, dilakukan reposisi terbuka dengan pemasangan fiksasi interna (pl
ate-screw).

G.KOMPLIKASI
Menurut Long (2000), komplikasi fraktur dibagi menjadi :
1.Immediate complication yaitu komplikasi awal dengan gejala
a.Syok neurogenik
b.Kerusakan organ syaraf
2.Early complication
a.Kerusakan arteri
b.Infeksi
c.Sindrom kompartemen
d.Nekrosa vaskuler
e.Syok hipovolemik
3.Late complication
a.Mal union
b.Non union
c.Delayed union

H.PATHWAYS

Trauma langsung
trauma tidak langsung


jaringan tidak kuat atau tidak dapat menahan
kekuatan dari luar


FRAKTUR



Perubahan letak fragmen kerusakan bagian-bagian lunak


Kehilangan fungsi kerusakan jaringan saraf


Keterbatasan gerak


Imobilitas Tindakan


Sirkulasi perifer berkurang
Konservatif Operatif Prosedur pembedahan

Iskemik
Gips Traksi OREF ORIF


Nekrosis jaringan Luka
I.ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
1.Pemeriksaan Fisik
a.Nyeri pada lokasi fraktur terutama pada saat digerakkan
b.Pembengkakan
c.Pemendekan ekstremitas yang sakit
d.Paralysis
e.Angulasi ekstremitas yang sakit
f.Krepitasi
g.Spasme otot
h.Parestesia
i.Tidak ada denyut nadi pada bagian distal pada lokasi fraktur bila aliran darah arteri terganggu oleh frakt
ur
j.Kulit terbuka atau utuh
k.Perdarahan, hematoma
2.Riwayat imunisasi tetanus bila ada fraktur yang terbuka
3.Pemeriksaan Diagnostik
Foto sinar X dari ekstremitas yang sakit dan lokasi fraktur
4.Pengkajian kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari

PERSIAPAN PRE OPERASI
1.Diet
8 jam menjelang operasi pasien tidak diperbolehkan makan, 4 jam sebelum operasi pasien tidak diperbole
hkan minum, (puasa) pada operasi dengan anaesthesi umum.Pada pasien dengan anaesthesi lokal atau spi
nal anaesthesi makanan ringan diperbolehkan.
2.Persiapan perut
Pemberian leuknol/lavement sebelum operasi dilakukan pada bedah saluran pencernaan atau pelvis daera
h periferal. Untuk pembedahan pada saluran pencernaan dilakukan 2 kali yaitu pada waktu sore dan pagi
hari menjelang operasi.
3.Persiapan kulit
Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambut. Pencukuran dilakukan pada waktu malam menjelan
g operasi. Rambut pubis dicukur bila perlu saja, lemak dan kotoran harus terbebas dari daerah kulit yang a
kan dioperasi. Luas daerah yang dicukur sekurang-kurangnya 10-20 cm2.
4.Pemeriksaan penunjang
Meliputi hasil laboratorium, foto roentgen, ECG, USG dan lain-lain.
5.Persetujuan operasi/informed consent
Izin tertulis dari pasien / keluarga harus tersedia. Persetujuan bisa didapat dari keluarga dekat yaitu suami
/ istri, anak tertua, orang tua dan kelurga terdekat. Pada kasus gawat darurat ahli bedah mempunyai wewe
nang untuk melaksanakan operasi tanpa surat izin tertulis dari pasien atau keluarga, setelah dilakukan ber
bagai usaha untuk mendapat kontak dengan anggota keluarga pada sisa waktu yang masih mungkin.
INTRA OPERASI
1.Anggota Tim Asuhan Keperawatan Intra Operasi
Anggota steril
a.Ahli bedah utama / operator
b.Asisten ahli bedah.
c.Scrub Nurse / Perawat Instrumen
Anggota tim yang tidak steril, terdiri dari :
a.Ahli atau pelaksana anaesthesi.
b.Perawat sirkulasi
c.Anggota lain (teknisi yang mengoperasikan alat-alat pemantau yang rumit).
2.Prinsip Tindakan Keperawatan Selama Pelaksanaan Operasi.
a.Persiapan Psikologis Pasien
b.Pengaturan Posisi
c.Membersihkan dan Menyiapkan Kulit.
d.Penutupan Daerah Steril
e.Mempertahankan Surgical Asepsis
f.Menjaga Suhu Tubuh Pasien dari Kehilangan Panas Tubuh
g.Monitor dari Malignant Hyperthermia
h.Penutupan luka pembedahan
i.Perawatan Drainase
j.Pengangkatan Pasien Ke Ruang Pemulihan, ICU atau PACU.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operasi
a.Nyeri berhubungan dengan fraktur tulang, spasme otot, edema, kerusakan jaringan lunak
b.Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan, imobilisasi
c.Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan imobilisasi, penurunan s
irkulasi, fraktur terbuka
d.Ansietas berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan dan hasil akhir pembedahan
e.Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kuli
t, trauma jaringan
Intra Operasi
a.Cemas
b.Resiko perlukaan/injury
c.Resiko penurunan volume cairan tubuh
d.Resiko infeksi
e.Kerusakan integritas kulit
INTERVENSI KEPERAWATAN
1.Nyeri berhubungan dengan fraktur tulang, spasme otot, edema, kerusakan jaringan lunak
Tujuan : nyeri berkurang
Kriteria hasil : klien mengatakan nyeri berkurang

Intervensi :
a.Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri
Rasional : Untuk menentukan tindakan keperawatan yang tepat
b.Imobilisasi bagian yang sakit
Rasional : Untuk mempertahankan posisi fungsional tulang
c.Tingikan dan dukung ekstremitas yang terkena
Rasional : Untuk memperlancar arus balik vena
d.Dorong menggunakan teknik manajemen relaksasi
Rasional : Agar klien rileks
e.Berikan obat analgetik sesuai indikasi
Rasional : Untuk mengurangi nyeri
2.Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan, imobilisasi
Tujuan : mobilitas fisik tidak terganggu
Kriteria : meningkatkan /mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
Intervensi :
a.Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan oleh cidera
Rasional : Untuk menentukan tindakan keperawatan yang tepat
b.Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik
Rasional : Melatih kekuatan otot klien
c.Bantu dalam rentang gerak pasif/aktif yang sesuai
Rasional : Melatih rentang gerak aktif/pasif klie secara bertahap
d.Ubah posisi secara periodik
Rasional : Untuk mencegah terjadinya dekubitus
e.Kolaborasi dengan ahli terapis/okupasi dan atau rehabilitasi medik
Rasional : Melatih rentang gerak aktif/pasif klien secara bertahap
3.Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan imobilisasi, penurunan s
irkulasi, fraktur terbuka
Tujuan : tidak terjadi kerusakan integritas kulit
Kriteria : klien memperlihatkan integritas kulit tetap baik
Intervensi :
a.Kaji kulit untuk luka terbuka terhadap benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna
Rasional : Memberikan informasi mengenai keadaan kulit klien saat ini
b.Massage kulit, pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan
Rasional : Menurunkan tekanan pada area yang peka dan berisiko rusak
c.Ubah posisi dengan sering
Rasional : Untuk mencegah terjadinya dekubitus
d.Bersihkan kulit dengan air hangat/nacl
Rasional : Mengurangi kontaminasi dengan agen luar
e.Lakukan perawatan luka secara steril
Rasional : Untuk mengurangi resiko gangguan integritas kulit
4.Ansietas berhubungan dengan prosedur pembedahan
Tujuan : cemas berkurang
Kriteria : menggunakan mekanisme koping yang efektif
Intervensi :
a.kaji tingkat kecemasan klien (ringan, sedang, berat, panik).
Rasional : untuk mengetahui tingkat kecemasaan klien
b.Dampingi klien
Rasional : agar klien merasa aman dan nyaman
c.Beri support system dan motivasi klien
Rasional : meningkatkan pola koping yang efektif
d.Beri dorongan spiritual
Rasional : agar klien dapat menerima kondisinya saat ini
e.Jelaskan jenis prosedur dan tindakan pengobatan
Rasional : informasi dapat menurunkan ansietas
5.Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kuli
t, trauma jaringan
Tujuan : tidak terjadi infeksi
Kriteria : mencapai penyembuhan luka sesuai waktu
Intervensi :
a.Inspeksi kulit adanya iritasi atau robekan kontinuitas
Rasional : Untuk mengkaji adanya iritasi atau robekan kontinuitas
b.Kaji kulit yang terbuka terhadap peningkatan nyeri, rasa terbakar, edema, eritema dan drainase/bau tak s
edap
Rasional : Untuk mengetahui ada/tidaknya tanda-tanda infeksi
c.Berikan perawatan kulit dengan steril dan antiseptik
Rasional : Untuk mengurangi resiko infeksi
d.Tutup dan ganti balutan dengan prinsip steril setiap hari
Rasional : Untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi
e.Berikan obat antibiotic sesuai indikasi
Rasional : Untuk mencegah terjadinya infeksi


J.DAFTAR PUSTAKA
Doenges M, 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pemdokumentasian P
erawatan pasien. Edisi III. EGC:Jakarta
Long, B.C, 2000. Perawatan Medikal Bedah. Edisi VII. Yayasan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajar
an:Bandung
Mansjoer, A, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. Media Aesculapius:Jakarta
http://medlinux.blogspot.com/2008/07/fraktur-coles.html

http://www.kfoes.cn/article/girls/2008-09-24/1103.html

Askep fraktur ( Lp Fraktur / patah tulang )

FRAKTUR


A. Konsep Dasar.
1. Pengertian
a. Fraktur adalah pemisahan / terputusnya / hilangnya kontiunitas dari pada struktur tulang.
b. ORIF adalah metode penatalaksanaan patah tulang dengan cara pembedahan reduksi terbuka dan fik
sasi internal dimana insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan ditemukan sepanjang bidan
g anatomik tempat yang mengalami fraktur, fraktur diperiksa dan diteliti, Hematoma fraktur dan fragmen
fragmen yang telah mati diiringi dari luka. Fraktur direposisi dengan tangan agar menghasilkan posisi y
ang normal kembali, sesudah reduksi, fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat alat ortopedi
berupa pin, pelat, srew, paku.

2. Anatomi fisiologis
Tibia adalah tulang kaki yang lebih rendah, lebih besar yang membantu menyokong berat badan. Fibula a
dalah tulang yang lebih kurus tau lebih kecil membantu mengontrol pergerakan dari pergelangan kaki.Tib
ia dan Fibula merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah paha yang membentuk persendian lutut denga
n femur. Pada bagian ujungnya terdapat tonjolan yang disebut os. Maleolus lateralis atau mata kaki luar.
Tibia lebih kecil, pada bagian pangkal melekat pada fibula. Pada bagian ujung membentuk persendian de
ngan tulang pangkal kaki dan terdapat taju yang disebut os. Maleolus medialis. Humerus (tulang pangkal
lengan) berupa tulang panjang seperti tongkat, bagian yang mempunyai hubungan dengan bahu, bentukny
a bundar membentuk kepala sendi yang disebut caput humeri. Pada caput humeri ini terdapat tonjolan yan
g disebut tuberkel mayor minor, disebelah bawah caput humeri terdapat lekukan yang disebut columna hu
meri.

3. Penyebab Patah Tulang
Penyebab patah tulang dibagi dalam tiga bagian, yaitu :
a. Kekerasan Langsung.
Kekerasan secara langsung menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya kekerasan itu, misalnya tulang
kaki terbentur bamper moil, maka tulang akan patah tepat di tempat terjadi benturan tersebut.
b. Kekerasan tidak langsung.
Kekerasan tidak langsung menyebabkan tulang patah di tempat yang jauh dari tempat terjadinya kecelaka
an atau kekerasan, dan biasanya yang patah adalah bagian yang lemah dalam jalur hantaman vektor keker
asan, contoh apabila seseorang jatuh dari tempat ketinggian dengan posisi tumit kaki terlebih dahulu, ma
ka yang patah selain tumit itu sendiri terjadi patah tulang tibia, fibula, femur dan kemungkinan juga patah
tulang verfebra.
c. Kekerasan Akibat Tarikan Otot
Patah tulang oleh karena tarikan otot jarang terjadi, contoh pada patah tulang ini adalah fraktur pahela dik
arenakan otot lecep dan otot tricep berkontraksi secara mendadak.

4. Sedangkan faktor yang mempegaruhi terjadinya patah tulang, yaitu :
a. Faktor ekstrinsik adalah gaya dari luar yang bereaksi pada tulang serta tergantung dari besarnya, wa
ktu atau lamanya dan arah gaya tersebut dapat menyebabkan patah tulang.
b. Faktor instrensik adalah beberapa sifat penting dari tulang yang menentukan daya tahan timbulnya f
raktur, yaitu kapasitas absorbsi dari sendi, daya elastisitas, daya terhadap kelelahan dan aktivitas atau kep
adatan.
5. Patofisiologi
Adanya daya atau tekanan pada tulang menyebabkan terjadinya fraktur. Adanya fraktur dapat merusak jar
ingan lunak, pembuluh darah, serabut saraf dan sum-sum tulang, periotium dan kortek tulang. Pada kerus
akkan jaringan lunak dapat terjadi luka, menyebabkan port de entry yang akan terjadi infeksi dan non infe
ksi, pada infeksi bisa terjadi delayed union dan malunion, pada non infeksi terjadi union. Pada kerusakan
pembuluh darah dapat terjadi perdarahan dan akan mengakibatkan hematoma dan hipovolemik. Pada hem
atoma terjadi vasodilatasi eksudasi plasma migrasi leukosit yang akan menyebabkan inflamasi, bengkak, t
erjadi penekanan saraf dan timbul nyeri. Pada hipovolemik dapat terjadi hipotensi akan menyebabkan sup
lai darah ke otak menurun, kesadaran menurun dan dapat terjaddapat terjadi syok hipovolemik. Pada keru
sakan serabut saraf dan sum-sum tulang dapat menyebabkan hilangnya sensasi dan terjadi anesthesia, dap
at juga merusak reseptor nyeri dan terjadi nyeri. Pada kerusakkan periostium dan kortek tulang dapat terja
di deformitas, krepitasi dan pemendekan extremitas.
6. Klasifikasi Fraktur
a. Incomplet adalah fraktur hanya melibatkan bagian petunjuk menyilang tulang, salah satu sisi pat
ah yang lain biasanya hanya bengkak (greenstick).
b. Complet adalah fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan fragmen tulang
biasanya berubah tempat.
c. Tertutup (simple) adalah fraktur titik meluas melewati kulit.

7. Proses Penyembuhan Tulang
Tahap-tahap Penyembuhan Tulang
a. Tahap Pembentukan
Dalam 24 jam mulai terbentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk ke area fraktur, setelah 24 jam terbent
uk karena suplai darah meningkat, berkembang menjadi Grawlasi
b. Tahap Prolifelasi Seluler sampai hari XII
Pada area Fraktur, menyuplai sel yang sudah berubah menjadi Fibri dan jaringan penunjang Fisura.
c. Tahap pra kallus 6-10 hari setelah cedera granulasi berubah menjadi pra kallus, ukuran maksimal 1
4-21 hari.
d. Tahap osifikasi kalkus sampai minggu ke XII
Membentuk Osifikasi kallus external minggu 3-10 kalus menyerupai tulang.
e. Tahap Konsulidasi 6-8 bulan dan remodeling 6-12 bulan
Dengan aktifitas osteoblas dan osteoklas kallus mengalami pembentukan tulang sesuai dengan aslinya.
8. Prinsip Penanganan Fraktur
Ada empat dasar yang harus di pertimbangkan pada waktu menangani fraktur :
Rekognisi menyangkut diagnosis fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di rumah sakit.
Reduksi adalah reposisi fragmen - fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya. Retensi me
nyatukan metode - metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen - fragmen tersebut selama
penyembuhan. Rencana rehabilitasi harus segera dimulai dan dilaksanakan bersama dengan pengobatan f
raktur.

9. Dampak Masalah.
Bila salah satu anggota tubuh mengalami gangguan yang mengakibatkan cedera, maka tubuh akan memb
erikan reaksi baik fisik maupun psikologis sebagai mekanisme pertahanan tubuh, disamping itu juga akan
memberikan pengaruh atau dampak terhadap kebutuhan penderita sebagai makluk hidup yang holistik da
n juga akan berpegaruh terhadap keluarga klien.
a. Pola Persepsi dan Tata Laksana Kesehatan
Bahwa biasanya klien multipel fraktur mempunyai harapan dan alasan masuk Rumah Sakit, Adapun alasa
nnya ingin segera sembuh dari penyakitnya dan harapan tersebut adalah tidak ingin terjadi kecacatan pada
dirinya kelak di kemudian hari.
b. Pola Nutrisi dan Metabolis
Pola nutrisi dan metabolik pada klain multipel fraktur jarang mengalami gangguan kecuali apabila terdapa
t trauma pada abdomen atau komplikasi lain yang dapat menyebabkan klien antreksia.
c. Pola aktifitas dan Latihan
Pada klien multipel fraktur setelah dilakukan orif akan mempengaruhi gerak dan pola. Aktivitasnya, oleh
itu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari hari, klien akan di bantu oleh perawat atau keluarganya
dan suami mungkin untuk dilakukan latihan rontag gerak baik positif / aktif.
d. Pola Tidur dan istirahat
Terganggunya pola tidur dan kebutuhan istirahat pada klien post orif dengan multipel fraktur biasanya di
sebabkan olah raga nyeri dan daerah operasi juga di sebabkan adanya plat dan screw.

e. Pola Perseptual dan Kognitif
Klien biasanya kurang memahami tentang proses penyembuhan luka dan pembentukan kalis atau penyam
bungan tulang kembali yang memerlukan proses dan waktu sehingga dalam tahap tahap perawatan perl
u kata penata laksanaan yang kompraktif.
f. Pola Elimasi Defekasi dan Iniksi
Klian kadang kadang masih dalam perawatan dirumah sakit membatasi makan dan minum, hal ini dikar
enakan adanya immabilisasi pasca operasi orif yang mengharuskan pasien tidak mempergunakan kakinya
yang cedera untuk aktifitas sehingga klien kurang beraktifitas dan dapat mengakibatkan konstipasi (semb
elit).

g. Pola Seksual dan Repraduksi
Klien post operasi orif dengan multipel fraktur jelas akan mempengaruhi pola kebutuhan seksualitas, disa
mping klien harus menjaga agar daerah operasinya seminimal mungkin mendapat beban dan rasa nyeri ya
ng tidak memungkinkan klien untuk melakukan aktifitas seksualnya.

h. Pola Hubungan Peran
Pola hubungan peran berpengaruh sekali terutama sekali apabila klien seorang kepala rumah tangga yang
merupakan satu satunya orang yang mencari nafkah bagi keluarganya.

i. Dampak Psikologis
Dampak psikologis yang di timbulkan adalah rasa khawatir terhadap kecacatan yang mungkin terjadi kela
k dikemudian hari sehingga memungkinkan tidak mampu beraktifitas seperti biasa.
j. Imobilisasi
Untuk memungkinkan kesemubuhan fregmen yang dipersatukan.
1. Fiksisasi Eksterns, tindakan ini merupakan pilihan bagi sebagian besar multipel fraktur di imabi
lisasi dengan menggunakan bidai atau gif.
2. Fiksasi interns, cara ini digunakan untuk kasus tertentu, ujung patahan tulang disatukan dan di f
iksasi pada operasi, misalnya dengan pen, plat dan screw, wire.

k. Fisioterapi dan Mobilisasi.
Sejak awal harus dilakukan latihan tentang gerak untuk mempraktekkan otot yang dapat mengecil secara
cepat jika tidak dipergunakan, estitasi fraktur cukup sembuh, mobilisasi sendi dapat dimulai sampai Entru
ntas gatal gatal telah kembali normal.

10. Komplikasi Fraktur
Shok, infeksi, nekrosis vaskuler, cedera vaskuler dan saraf, malunion, nonunion, delayed union,iskemik.

B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pengumpulan data
1). Anamnese
a) Indentitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, agama, suku bangsa, status perkawinan, pendidikan d
an pekerjaan.
b) Keluhan Utama Klien.
Pada aamnese ini yang perlu dikaji adalah apa yang diperlukan pada saat itu seperti nyeri, bengkak, kelain
an bentuk, hilangnya fungsi dan krepitasi serta pada daerah mana fraktur terjadi.
c) Riwayat Penyakit Sekarang.
Dalam pengkajian ini meliputi riwayat terjadinya terutama apakah dikarenakan kecelakaan, terjatuh atau t
erjadi benturan langsung dengan vektor kekerasan dan sifat pertolongan yang pernah diberikan.
d) Riwayat Penyakit Dahulu
Dalam pengkajian ini perlu ditanyakan meliputi riwayat yang berhubungan dengan trauma pada tulang, a
pakah klain mempunyai penyakit tulang seperti osteomylitis, ostroporasis dan apakah klien pernah menga
lami riwayat trauma sebelumnya.
2). Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan Umum Klien
Klien multiple fraktur dengan post orif biasanya terbaring total dengan seminimal mungkin melaksanakan
aktifitas gerak ini disebabkan karena adanya imabilisasi dan rasa nyeri akibat tindakan perbedaan, sehing
ga klien takut untuk bergerak, keadaan umum klien biasanya baik tetapi dapat menimbulkan dampak sepe
rti gangguan eliminasi inikasi dan defikasi, integritas kulit dan gangguan aktifitas lain yang menunjang ke
hidupan sehari hari.
b) Gejala klinis Patah Tulang
Gejala klinis dari Patah Tulang dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

(1) Tanda tanda pasti
(a). Gerakan abnormal pada tempat terjadinya patah tulang menjadi sendi palsu sehingga terjadi gera
kan yang abnormal.
(b). Krepitasi, yaitu di karenakan gesekan kedua ujung fragmen tulang yag patah sehingga terasa bun
yi gemeretak ketika ujung tulang yang patah bergesekan.
(c). Kalainan bentuk (deformitas), dikarenakan adanya kerusakan pada jaringan disekitar fraktur men
gakibatkan pendarahan dan pembengkakan.
(2) Tanda tanda tidak pasti
(a). Rasa nyeri, bengkak dan berubah warna (membiru) dikarenakan terjadi pendarahan di sekitar bagian
fraktur, rasa nyeri hebat terutama apabila dilakukan pergerakan atau aktifitas.
(b). Kelainan bentuk (deformitas), hal ini disebabkan oleh karena adanya perdarahan dan pembengkakan.
(c). Hilangnya fungsi (fungtiolaesa), disebabkan oleh rasa nyeri serta terpotongnya kontinuitas jaringan t
ulang sehingga tidak mampu melakukan pergerakan.

c) Pemeriksaan penunjang atau tambahan.
Pemeriksaan Laboratorium
(1). Pemeriksaan labortorium darah lengkap seperti hemoglobin, trombosit, leukosit, glukosa sewaktu
.
(2). Pemeriksaan faal hemostasis meliputi waktu pendarahan, waktu pembekuan.
(3). Pemeriksaan kimia klinik rutin yaitu, sikap darah puasa, sgot, sgpt.

(4). Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan Radiologi di gunakan untuk menguatkan diagnosa patah tulang yang dapat mengambarkan k
erusakan tulang, ketidak lurusan tulang dan kesalahan bentuk dari tulang itu sendiri.
. Diagnosa Keperawatan
Dari analisa data kemudian dirumuskan suatu diagnosa keperawatan berikut ini adalah beberapa diagnosa
keperawatan yang mungkin timbul pada klien post operasi orif dengan multipel fraktur antara lain:

1). Nyeri berhubungan dengan cedera pada jaringan lunak
2). Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan immobilisasi.
3). Kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan orif pemasangan plat dan srew.
4). Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
5). Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan / krisis.
6). Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang penatalaksanaan peren
canaan di rumah.

d. Perencanaan
Pada prinsipnya dalam penanganan atau pengobatan pada klien multiple fraktur ada empat tahap, adapun t
ujuan pemasangan plat dan screw yaitu mempertahankan reduksi extremitas yang mengalami fraktur tula
ng yang patah (immobilisasi), memudahkan perawatan (rehabilitasi) dalam masa perawatan (rehabilitasi)
terjadi proses penyambungan tulang yang terdiri dari beberapa proses yaitu granulasi pembentukan kalus
dan remodeling sehingga terbentuklah tulang seperti semula, adapun tahap perencanaan meliputi penentu
an tujuan dan kreteria hasil, merumuskan rencana tindakan.

LP TEORI ASKEP FRAKTUR
Post By. Andy Jmc di Selasa, April 30, 2013
BAB 1
LANDASAN TEORI
FRAKTUR

1.1 Tinjauan Teori
1.1.1 Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, fraktur terjadi jika t
ulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smelter & Bare, 2002).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan fraktur akibat dari trauma, beberapa fraktur se
kunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis, yang menyebabkan fraktur yang patologis (Barret d
an Bryant, 1990).
1.1.2 Etiologi
1) Trauma
(1) Langsung (Kecelakaan lalu lintas)
(2) Tidak Langsung ( jatuh dari ketinggian dengan posisi berdiri / duduk sehingga terjadi fraktur tulang
belakang)
2) Patologis, metastase dari tulang
3) Degenerasi / osteoporosis
4) Benturan dan cidera
5) Kelemahan tulang akibat keganasan
6) Ketidakmampuan otot mengabsorbsi energi atau kelelahan
1.1.3 Fisiologi
Proses Penyembuhan Tulang :
1) Fase Hematom
Pada permulaan akan terjadi perdarahan disekitar patahan tulang, yang disebabkan terputusnya pembuluh
darah pada tulang periosteum.
2) Fase Jaringan Fibrosis / Proliferasi Sel
Hematom menjadi media pertumbuhan sel jaringan fibrosis dan vaskuler. Sehingga hematom berubah me
njadi jaringan fibrosis dengan kapiler didalamnya. Fase ini berlangsung 5 hari.
3) Fase Pembentukan Kalus
Dalam hematom dan jaringan fibrosis ini tumbuh sel jaringan mesenkim yang bersifat osteogenik yang be
rubah menjadi sel kondroblas yang membentuk kondroit. Fase ini berlangsung 3 4 minggu.
4) Fase Osifikasi
Kalus fibrosismengalami penimbunnan mineral terutama kalsium sehingga berubah menjadi kalus tulang.
Berlangsung 3 4 bulan.
5) Fase Remodeling
(1) Terjadi pergantian sel tulang secara berangsur angsur oleh sel tulang yang mengatur diri sendiri ses
uai garis tekanan dan tarikan yang bekerja pad tulang.
(2) Akhirnya sel tulang ini mengatur diri menjadi sel tulang normal dengan kekuatan yang sama dengan
tulanng biasa.
(3) Fase ini berlangsung berbulan bulan bahkan bertahun tahun.
1.1.4 Manifestasi klinis
1) Nyeri terus menerus
2) Hilangnya fungsi, bagian yang terluka tidak dapat digerakkan
3) Krepitus / Krepitasi, teraba derik tulang akibat gesekan antar fragmen tulang
4) Bengkak dan perubahan warna lokal akibat trauma dan perdarahan
5) Deformitas (kelainan bentuk)
6) Peningkatan temperatur lokal
7) Pergerakan abnormal
8) Echymosis (perdarahan subkutan yang lebar)
1.1.6 Klasifikasi
1) Berdasarkan sifat fraktur
(1) Fraktur tertutup
Apabila fagmen tulang yang patah tidak tampak dari luar
(2) Fraktur terbuka
Apabila fragmen tulang yang patah tampak dari luar
2) Berdasarkan komplit / tidak komplit fraktur
(1) Fraktur komplit
Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran bergeser dari posisi normal)
(2) Fraktur inkomplit
Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang
Misal : - Hair line fraktur.Green stick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi yang l
ain membengkok
3) Berdasarkan bentuk garis patah & hubungan dengan mekanisme trauma
(1) Fraktur Transversal :Arah melintang dan merupakan aki bat
trauma angulasi / langsung
(2) Fraktur Oblik :Arah garis patah membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan merupakan akib
at dari trauma langsung
(3) Fraktur Spiral :Arah garis patah spiral dan akibat dari trauma rotasi
(4) Fraktur Kompresi :Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
(5) Fraktur komunitif :Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen
(6) Fraktur Depresi :Fraktur dengan bentuk fragmen terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang t
engkorak dan tulang wajah).
(7) Fraktur Patologik :Fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, tumor, metast
asis tulang).
(8) Fraktur avulsi :Tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendon pada perlekatannya.
(Smelter & Bare, 2002).
1.1.7 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan dengan sinar x harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu anterior posterior dan lateral, kekuat
an yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari satu tingkat karena itu bila ada fraktur pada kal
kaneus atau femur perlu juga diambil foto sinar x pada pelvis dan tulang belakang.
1.1.8 Penatalaksanaan
Pengelolaan patah tulang secara umum mengikuti prinsip pengobatan kedokteran pada umumnya yaitu :
1. Diagnosis tepat
2. Pengobatan yang tepat dan memadai
3. Bekerjasama dengan hukum alam
4. Memilih pengobatan dengan memperhatikan setiap pasien secara individu
Untuk patah tulangnya sendiri prinsipnya adalah :
1. Mengembalikan bentuk tulang seperti semula (reposisi).
2. Mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang (imobilisasi).
3. Mobilisasi, berupa latihan-latihan seluruh sistem gerak untuk mengembalikan fungsi anggota badan
seperti sebelum patah.
1.2 Tinjauan Teori ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
1.2.1 Pengertian
ORIF adalah suatu tindakan medis reduksi terbuka dengan fiksasi internal pada fraktur.
1.2.2 Etiologi
Indikasi ORIF :
1) Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi
2) Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup
3) Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan
4) Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi
5) Excisional Arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi
6) Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis
Dilakukan excisi caput femur dan pemasangan endoprosthesis Moore. Tindakan debridement dan posisi t
erbuka
1.2.3 Patofisiologi
Fraktur

Pre OP





























Etiologi

Post OP































1.2.4 Asuhan Keperawatan Fraktur
1.2.4.1 Pengkajian
1) Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering timbul pada klien dengan masalah sisten muskuloskeletal adalah nyeri , defor
mitas, kekakuan / ketidakstabilan sendi, pembengkakan / benjolan, kelemahan otot, gangguan sesibilitas,
dan gannguan atau hilangnya fungsi.
2) Pemeriksaan Fisik
(1) Aktivitas / Iatirahat
Keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian yang terkena ( mungkin segera, fraktur itu sendiri atau terja
di secara sekunder, dari pembengkakan jaringan , nyeri)
(2) Sirkulasi
1) Hipertensi (kadang kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri / ansietas) atau hipotensi (kehila
ngan darah)
2) Takikardia (Respon stress, hipovolemia)
3) Penurunan atau tak ada nadi pada bagian distal yang cedera, pengisian kapiler lambat, pucat pada ba
gian yang terkena
4) Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cidera
(3) Neurosensori
1) Hilang gerakan / sensasi, spasme otot
2) Kebas / kesemutan (Parastesia)
3) Deformitas lokal; angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi, spasme otot, terlihat kelemahan
/ hilang fungsi.
4) Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri / ansietas atau trauma lain)
(4) Nyeri / Kenyamanan
1) Nyeri tiba tiba pada saat cidera (Mungkin terlokalisasi pada area jaringan / kerusakan tulang, dapa
ta berkurang pada imobolisasi), tak adanyeri akibat kerusakan saraf
2) Spasme / kram otot (setelah imobilisasi)
3) Laserasi kulit, avulasi jaringan, persarahan, perubahan warna
4) Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba - tiba)
1.2.4.2 Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang,kerusakan sekunder terhadap fraktur
Tujuan : nyeri hilang atau berkurang
Kriteria Hasil :
- Ekspresi wajah klien tidak meringis kesakitan
- Klien menyatakan nyerinya berkurang
- Klien mampu beraktivitas tanpa mengeluh nyeri.

Intervensi:
1) Pantau vital sign, intensitas nyeri dan tingkat kesadaran
R/ Untuk mengenal indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang
diharapkan.
2) Pertahankan tirah baring sampai fraktur berkurang
R/ Nyeri dan spasme otot dikontrol oleh immobilisasi.
3) Bantu pasien untuk posisi yang nyaman
R/ Posisi tubuh yang nyaman dapat mengurangi penekanan dan mencegah
ketegangan.
4) Pakai kompres es atau kompres panas (jika tidak ada kontraindikasi)
R/ Dingin mencegah pembengkakan dan panas melemaskan otot-otot dan pembuluh darah berdilatasi unt
uk meningkatkan sirkulasi.
5) Berikan istirahat sampai nyeri hilang
R/ Istirahat menurunkan pengeluaran energi
6) Berikan obat analgetik sesuai dengan nyeri yang dirasakan pasien.
R/ Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh klien.
2) Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, terapi restriktif (imobilisasi tungkai
)
Tujuan : Mobilisasi fisik terpenuhi
Kriteria Hasil :
- Klien dapat menggerakkan anggota tubuhnya yang lainnya yang masih ada.
- Klien dapat merubah posisi dari posisi tidur ke posisi duduk.
- ROM, tonus dan kekuatan otot terpelihara.
- Klien dapat melakukan ambulasi.
Intervensi :
(1) Kaji ketidakmampuan bergerak klien yang diakibatkan oleh prosedur pengobatan dan catat persepsi
klien terhadap immobilisasi.
R/ Dengan mengetahui derajat ketidakmampuan bergerak klien dan persepsi klien terhadap immobilisasi
akan dapat menemukan aktivitas mana saja yang perlu dilakukan.
(2) Latih klien untuk menggerakkan anggota badan yang masih ada.
R/ Pergerakan dapat meningkatkan aliran darah ke otot, memelihara pergerakan sendi dan mencegah kont
raktur, atropi.
(3) Tingkatkan ambulasi klien seperti mengajarkan menggunakan tongkat dan kursi roda.
R/ Dengan ambulasi demikian klien dapat mengenal dan menggunakan alat-alat yang perlu digunakan ol
eh klien dan juga untuk memenuhi aktivitas klien.
(4) Ganti posisi klien setiap 3 4 jam secara periodik
R/ Pergantian posisi setiap 3 4 jam dapat mencegah terjadinya kontraktur.
(5) Bantu klien mengganti posisi dari tidur ke duduk dan turun dari tempat tidur.
R/ Membantu klien untuk meningkatkan kemampuan dalam duduk dan turun dari tempat tidur.
3) Kerusakan Integritas jaringan kulit b/d fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, ka
wat, sekrup
Tujuan : Klien dapat sembuh tanpa komplikasi seperti infeksi.
Kriteria Hasil :
- Kulit bersih dan kelembaban cukup.
- Kulit tidak berwarna merah.
- Kulit pada bokong tidak terasa ngilu.
- Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu / penyembuhan lesi terjadi
Intervensi:
(1) Observasi kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna, kelabu,
memutih
R/ Mendeteksi pembentukan edema dan observasi sirkulasi kulit dan masalah yang disebabkan oleh adan
ya pemasangan bebat.
(2) Ubah posisi tiap 2- 3 jam sekali
R/ Mengurangi tekanan konstan pada area yang sama dan meminimalkan resiko kerusakan kulit.
(3) Bersihakn kulit dengan sabun dan air. Gosok perlahan dengan alkohol dan atau/ bedak
R/ Sabun mengandung antiseptik yang dapat menghilangkan kuman dan kotoran pada kulit sehingga kulit
bersih dan tetap lembab.
(4) Observasi untuk potensial area yang tertekan, khususnya pada akhir pemasangan dan bawah bebatan
R/ Tekanan dapat menyebabkan ulserasi, nekrosis, dan / atau kelumpuhan saraf
(5) Gunakan tempat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi
R/ Meningkatkan sirkulasi darah
4) Gangguan perfusi Jaringan b/d penurunan aliran darah, edema berlebihan, pembentukan trombus, hi
povolemia
Tujuan : Mempertahankan perfusi jaringan secara adekuat
Kriteria hasil :
o Nadi teraba kuat
o Kulit hangat / kering
o Sensasi normal
o Sensori biasa
o Tanda tanda vital stabil
o Haluaran urin adekuat
Intervensi:
(1) Obsevasi kualitas nadi perifer distal terhadap cedera melalui palpasi / doppler. Bandingkan dengan e
kstermitas yang sakit
R/ Penurunan / tak adanya nadi dapat menggambarkan cedera vaskuler
(2) Observasi aliran kapiler, warna kulit, dan kehangatan distal pada fraktur
R/ CRT > 3 detik, warna kulit pucat menunjukkan adanya gangguan arterial, sianosis menunjukkan adany
a gangguan vena
(3) Lakukan tes saraf perifer dengan menusuk pada kedua selaput antara ibu jari pertama dan kedua dan
observasi kemampuan untuk dorsofleksi ibu jari bila diindikasikan.
R/ Panjang dan posisi saraf perineal meningkatkan risiko cedera pada adanya fraktur kaki. Edema / sindr
oma kompartemen atau malposisi alat traksi.
(4) Pertahankan peninggian ekstermitas yang cedera kecuali dikontraindikasikan dengan menyakinkan a
danya sindrom kompartemen.
R/ Meningkatkan drainase vena / menurunkan edema.
(5) Observasi tanda iskemia ekstermitas tiba tiba, misal penurunan suhu kulit dan peningkatan nyeri.
R/ Dislokasi fraktur sendi dapat menyebabkan kerusakan arteri yang berdekatan, dengan akibat hilangny
a aliran darah ke distal.

5) Potensial infeksi berhubungan dengan adanya luka yang terbuka.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
Kriteria Hasil :
1) Luka bersih dan kering
2) Daerah sekitar luka tidak kemerahan dan tidak bengkak.
3) Tanda-tanda vital normal
4) Nilai leukosit normal (5000 10.000/mm3)
Intervensi :
(1) Observasi keadaan luka
R/ Untuk memonitor bila ada tanda-tanda infeksi sehingga akan cepat ditanggulangi.
(2) Gunakan teknik aseptik dan antiseptik dalam melakukan setiap tindakan keperawatan
R/ Tehnik aseptik dan antiseptik untuk mencegah pertumbuhan atau membunuh kuman sehingga infeksi ti
dak terjadi.
(3) Ganti balutan 2 kali sehari dengan alat yangdengan alat yang steril.
R/ Mengganti balutan untuk menjaga agar luka tetap bersih dan dengan menggunakan peralatan yang steri
l agar luka tidak terkontaminasi oleh kuman dari luar.
(4) Monitor LED
R/ Memonitor LED untuk mengetahui adanya leukositosis yang merupakan tanda-tanda infeksi.
(5) Monitor tanda-tanda vital
R/ Peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi dan penurunan tekanan darah merupakan salah satu ter
jadinya infeksi

1.3 Konsep Anastesi
1.3.1 Pengertian
Anasthesia ( Bahasa Yunani) : Negatif Sensation.
Anasthesia menyebabkan keadaan kehilangan rasa secara partial atau total, dengan atau tanpa disertai keh
ilangan kesadaran.
1.3.2 Tujuan
Memblok transmisi impuls syaraf, menekan refleks, meningkatkan relaksasi otot.
1.3.3 Pemilihan Anastesi
Pemilihan anesthesia oleh anesthesiologist berdasarkan konsultasi dengan ahli bedah dan factor klien.
1.3.4 Type Anasthesia:
Perawat perlu mengenal ciri farmakologi terhadap obat anesthesia yang digunakan dan efek terhadap klie
n selama dan sesudah pembedahan.
1) Anasthesia umum.
Adalah keadaan kehilangan kesadaran yang reversible karena inhibisi impulse saraf otak.
Misal : bedah kepala, leher. Klien yang tidak kooperatif.
(1) Stadium Anesthesia :
a. Stadium I : Relaksasi
Mulai klien sadar dan kehilangan kesadaran secara bertahap.
b. Stadium II: Excitement.
Mulai kehilangan kesadaran secara total sampai dengan pernafasan yang iregulair dan pergerakan anggot
a badan tidak teratur.
c. Stadium III
Ditandai dengan relaksasi rahang, respirasi teratur, penurunan pendengaran dan sensasi nyeri.
d. Stadium IV : Bahaya.
Apnoe, Cardiapolmunarry arrest, dan kematian.
(2) Metode Pemberian
a. Inhalasi
Metode yang paling dapat dapat dikontrol karena intak dan eliminasi secara primer oleh paru.
Obat anesthesia inhalasi yang diberikan :
a) Gas: Nitrous Axida ( N20).
Padling sering digunakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau. Non iritasi dengan masa induksi dan peu
lihan yang cepat.
b) Folatile: Cairan yang dapat menguap.
1) Halotan : non iritasi terhadap saluran pernafasan dan menghasilkan mual dan muntah yang minimal
pada post op. Halotan dapat menekan pada system cardiovaskuler (Hypotensi dan Bradicardia). Dan berp
engaruh terhadap hypotalanus.
2) Ethrane. Anasthesi inhalasi yang menghasilkan relaksasi otot yang adekwat. Ethrane mengurangi vi
ntilasi klien.dan menurunkan tekanan darah.
3) Penthrane. Pelemas otot yang efektif dan memberikan efek analgetik pada konsentrasi rendah, toksi
k pada ginjal dan hanya digunakan untuk pembedahan waktu pendek.
4) Forane. Muscle relaksan, cardio vascular tetap stabil.
b. Anasthesi Injeksi IV.
Memberikan perasaan senang., cepat dan pelepasan obat secara pelan.
Obat anesthesia Injeksi IV yang diberikan :
a) Barbiturat. Sering digunakan, bekerja langsung pada CNS dari sedasi sedang sampai kehilangan kes
adaran, sedikit mengurangi nyeri.
Thiophental sodium.
1) Skart acting
2) Suplement N20 pada operasi singkat.
3) Hipnotik pada anesthesia regional.
4) Depresan paten terhadap sistem jantung dan paru
b) Narkotik:
1) Suplement anesthesia inhalasi
2) Narkotik yang sering digunakan morphin sulfat, meperidine, dan Fentanil Sitrate.
3) Analgesia post op yang adekwat.
4) Menurunkan ventilasi alveolar dan depresan pernafasan.
c) Inovar.
1) Kombinasi Fentonil sitrat dan Tranguilizer Dropreridol.
2) Digunakan dosis kecil untuk supplement N20 dan anesthesia regional.
3) Durasi panjang depresi pernafasan, hypoventilasi, apnea, hypotensi selama post op.
d) Ketamine:
1) Obat anesthesia yang tersendiri.
2) Bekerja pada bagian syaraf teretentu.
3) Diberikan pada IV atau IM.
4) Menyebabkan penurunan kesadaran secara cepat, analgetika tanpa depresi pernafasan atau kehilang
an tonus otot.
5) Merangsang sitem cardiovascular.
6) Digunakan : Diagnostik, pembedahan singkat, supplement N20.
7) Selama pemberian: mimpi buruk, halusinasi, tindakan irrational.
e) Neuromuskuler brochler.
1) Muscle relaksan selama pembedahan.
2) Mempermudah pemasangan GT Tube
3) Bekerja pada garis otot tubuh dengan mempengaruhi impuls pada motor end plate.
(3) Komplikasi anesthesia umum:
Komplikasi jarang tetapi dapat mengancam jiwa.
a. Komplikasi sebagian besar minor sebagai akibat tehnik intubasi seperti gigi patah atau trauma vocal
cord. Dapat terjadi akibat hyperektensi leher, rongga mulumulut kecil, sendi mandibuler yang kaku.
b. Anesthesia overdosis terjadi pada orang tua atau kelainan klien.
c. Hypertermia Maligna. Kerusakan pada membran sel otot sirkulasi kalcium meningkat, rata-rata m
etabolisme meningkat dan suhu tubuh 46 derajad celcius. Terjadi pada klien yang sensitif pada halothan
e, penthran, succinyl clorida .
Gejala : takikardi, peningkatan suhu tubuh yang kontinu, sianosis , hipotensi, kaku otot, aritmia .
Tindakan :
1) Operasi dihentikan, pendinginan dengan cairan es IV.
2) Lavage es nasogastric
3) Secara simultan diberikan diuretic, oksigen 100 %.
2) Anestesi local atau regional
Anestesi local atau regional secara sementara memutus transmisi impuls saraf menuju dan dari lokasi kh
usus.
Luas anestesi tergantung :
1) Letak aplikasi
2) Volume total anestesi
3) Kosentrasi dengan kemampuan penetrasi obat
4) Penggunaan regional anestesi
5) Kontra indikasi general anestesi
6) Klien mengalami reaksi yang merugikan dengan general anestesi
7) Pilihan klien
(1) Metode Pemberian
a. Anestesi Topikal
Pemberian secara langsung pada permukaan area yang dianestesi
Bentuk: Salep atau spray.
Sering digunakan : prosedur diagnotik atau intubasi , l;aringoskopi, cistocopi.
Masa kerja 1 (satu ) menit, lama kerja 20 30 menit
b. Lokal anestesi
Injeksi obat anestesi secara I C dan S C ke jaringan sekitar insisi , luka atau lesi.
c. Field Block
Injeksi secara bertahab pada sekeliling daerah yang dioperasi
( hjerniorraphy , dental prosedur ,bedah plstik )
d. Nerve Block
Injeksi obat anestesi local ke dalam atau sekitar saraf atau saraf yang mempesarafi daerah yang dioperasi .
Block saraf memutus transmisi sensasi ,motor, sympatis.
Tujuan : mencegah nyeri selama prosedur dianostik, mengurangi nyeri dan meningkatkan sirkulasi pada p
enyakit vascular.
Contoh : lidocain ( xilocain )
Bupivacain ( makain )
Ephineprin potensiasi
e. Spinal Anestesi / Intra techal
Dicapai dengan injeksi obat anestesi ke dalam ruang sub orachonoid.
Pada L 2 3 atau L 3 4.
Absorsi ke erat saraf terjadi secars cepat dan menghasilkan analgesia dengan relaksasi.
Efektif untuk operasi abdomen dan panggul.
(2) Komplikasi :
1) Over dosis
2) Teknik pemberian yang salah
3) Sensitifitas klien terhadap anestesi
Tanda :
Stimulasi CNS diikuti depresi CNS dan cardio:
Gelisah, pembicaraan incoherent, sakit kepala, mata kabur, rasa metalik, mual, muntah, tremor,konfulsi d
an peningkatan nadi respirasi, tekanan darah
4) Komplikasi local : Edema, peradangan, abses, necrosis,ganggren.
1.3.5 Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian :
Di ruang penerimaan perawat sirkulasi:
(1) Memvalidasi identitas klien.
(2) Memvalidasi inform concent.
(3) Chart Review.
(4) Memberikan informasi yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi kebutuhan actual dan potensial sela
ma pembedahan.
(5) Mengkaji dan merencanakan kebutuhan klien selama dan sesudah operasi
(6) Perawat menanyakan.: Riwayat allergi, reaksi sebelumnya terhadap anesthesia atau tranfusi darah.
(7) Check riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.
(8) Check pengobatan sebelumnya : therapy, anticoagulasi.
(9) Check adanya gigi palsu, kontaks lens, perhiasan, wigs dan dilepas.
(10) Lakukan kateterisasi.
2) Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul:
(1) Resiko cidera sehubungan dengan anesthesia, posisi intra operatif dan bahaya lain dari lingkungan in
tra operatif.
(2) Gangguan integritas kulit sehubungan dengan luka operasi.
(3) Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan anesthesia
(4) Defisit volume cairan sehubungan dengan kehilangan darah dan cairan tubuh selama pembedahan.
3) Perencanaan
(1) Resiko cidera
Tujuan:: Klien akan dipertahankan dalam keadaan anesthesia yang aman selama pembedahan dan bebas
dari perlukaan peralatan operasi.
Intervensi:
a. Persiapan dan penggunaan obat anesthesia yang tepat.
b. Positioning, posisi yang tepat.
Untuk menjamin posisi yang tepat dikaji : kesesuaian fisiologiss, perubahan sirkulasi yang minimal, prote
ksi struktur tulang dan neuromuscul
(2) Gangguan integritas kulit:
Tujuan: Klien akan mengalami gangguan integritas kulit yang dan kontaminasi yang minimal.
Intervensi:
a. Plastic adhesive drape setelah daerah pembedahan dibersihkan dan kering.
b. Penutupan kulit:
Tujuan:
1) Menutup lumen pembuluh darah.
2) Mencegah perdarahan dan kehilangan cairan tubuh.
3) Mencegah kontaminasi luka.
Faktor yang menentukan kekuatan penutupan luka :
1) Materi jahitan.
Ahli bedah akan memilih metode dan type penutupan kulit berdasarkan letak incisi, ukuran dan ke
dalaman luka, usia dan riwayat medik klien.
2) Staples dan plester digunakan untuk menutup luka superfisialis atau epidermis.
3) Benang jahit : Absorbable dan non absorbable.
4) Ukuran benang : 0.-5, 2 0 11- 0.
1.4 Asuhan Keperawatan Peri Operatif
1.4.1 Perawatan Pre Operatif
1) Pengkajian
Anamnesa
Point penting dalam riwayat keperawatan preoperative :
(1) Umur
(2) Alergi terhadap obat, makanan
(3) Pengalaman pembedahan
(4) Pengalaman anestesi
(5) Tembakau, alcohol, obat-obatan
(6) Lingkungan
(7) Kemampuan self care
(8) Support system
Pemeriksaan Fisik
Pengkajian dasar preop dilakukan untuk :
(1) Menentukan data dasar
(2) Masalah pengobatan yang tersembunyi
(3) Potensial komplikasi s.d. anestesi
(4) Potensial komplikasi post op.
Fokus : Riwayat dan sitem tubuh yang mempengaruhi prosedur pembedahan.
a. System kardiovaskuler
Untuk menentukan kekuatan jantung dan kemampuan untuk mentoleransi pembedahan dan anestesi.
Perubahan jantung : 39 % kematian perioperatif.
b. Sistem pernapasan
Lansia, smoker, PPOM : resiko atelektasis, kolap jaringan paru.
1) Mencegah pertukaran oksigen/CO2
2) Intoleransi karena perubahan dalam dada dan paru.
3) Regiditas cavum thoraks dan menurunnya ekspansi paru : efisiensi ekskresi paru terhadap anestesi
menurun.
c. Renal system
Abnormal renal fungsi menurunkan rata ekskresi obat dan anestesi
Skopolamin, morphin dapat menyebabkan konfusi disorientasi
d. Neuorologi system
Bagaimana kemampuan ambulasi ?
e. Muskulussceletal
Defomitas dapat mempengaruhi posisi intra dan post-operasi
Artritis menerima posisi nyeri post-operasi oleh karena immobilisasi
f. Status Nutrisi
Malnutrisi,obesitas merupakan resiko tinggi pembedahan
Vit. C , vit.B diperlukan untuk penyembuhan luka dan pembentukan fibrin.
Pada obesitas, wondhiling menurun oleh karena jaringan lemak tinggi
g. Psikososial asesment
Tujuan :
1) Menentukan kemampuan coping
2) Informasi
3) Support
h. Laboratorium
2) Diagnosa Keperawatan
(1) Pengetahuan kurang sehubungan dengan pengalaman pre-op
(2) Kecemasan sehubungan dengan pengalaman pre-op
3) Perencanaan
(1) Pengetahuan kurang ( knowledge defisite )
Tujuan : Klien mengatakan dan mematuhi prosedur pre-op
Mendemostrasikan teknik untuk mencegah komplikasi post-op
Intervensi
a. Fokus : Edukasi pre-operasi
b. Informasi :
a) Informed consent :
1) Alasan pembedahan
2) Pilhan dan resikonya
3) Resiko pembedahan
4) Resiko anestesi
b) Pembatasan diit dengan NPO ( nothing per oral ) dalam 6 8 jam sebelum pembedahan
GI (gastro intestinal ) preparasi :
1) Mencegah perlukaan colon
2) Melihat jelas area
3) Mengurangi bacteri intestinal
c) Skin preparasi
Tube, drain, I V line
d) Post op exercise :
1) Pernafasan diafragma
2) Incestive spirometri
3) Batuk dan pusing yang berkaitan dengan luka pembedahan.
4) Berjalan dan latihan kaki
(2) Kecemasan :
Tujuan : kecemasan klien menurun , menunjukkan relaksasi saat istirahat
Intervensi :
1) Preoperatip teaching
2) Komunikatif
3) Rest.
1.4.2 Intervensi Klien Intra Operatif
Anggota Tim Pembedahan
A. Tim pembedahan terdiri dari :
1) Ahli bedah
Tim pembedahan dipimpin oleh ahli bedah senior atau ahli bedah yang sudah melakukan operasi.

2) Asisten pembedahan (1orang atau lebih) asisten bias dokter, riside, atau perawat, di bawah petunjuk
ahli bedah. Asisten memegang retractor dan suction untuk melihat letak operasi.
3) Anaesthesologist atau perawat anaesthesi.
Perawat anesthei memberikan obat-obat anesthesia dan obat-obat lain untuk mempertahankan status fisik
klien selama pembedahan.
4) Circulating Nurse
Peran vital sebelum, selama dan sesudah pembedahan.
Tugas :
- Set up ruangan operasi
- Menjaga kebutuhan alat
- Check up keamanan dan fungsi semua peralatan sebelum pembedahan
- Posisi klien dan kebersihan daerah operasi sebelum drapping.
- Memenuhi kebutuhan klien, memberi dukungan mental, orientasi klien.
Selama pembedahan :
- Mengkoordinasikan aktivitas
- Mengimplementasikan NCP
- Membenatu anesthetic
- Mendokumentasikan secara lengkap drain, kateter, dll.
5) Surgical technologist atau Nurse scrub; bertanggung jawab menyiapkan dan mengendalikan peralat
an steril dan instrumen, kepada ahli bedah/asisten. Pengetahuan anatomi fisiologi dan prosedur pembedah
an memudahkan antisipasi instrumen apa yang dibutuhkan.

B. Penyiapan kamar dan team pembedahan.
Keamanan klien diatur dengan adanya ikat klien dan pengunci meja operasi. Dua factor penting yang berh
ubungan dengan keamanan kamar pembedahan : lay out kamar operasi dan pencegahan infeksi.
1) Lay Out pembedahan.
Ruang harus terletak diluar gedung RS dan bersebelahan dengan RR dan pelayanan pendukung ( bank da
rah, bagian pathologi dan radiology, dan bagian logistik).
Alur lalu lintas yang menyebabkan kontaminasi dan ada pemisahan antara hal yang b
Alur lalu lintas yang menyebabkan kontaminasi dan ada pemisahan antara hal yang bersih dan terkontami
nasi design (protektif, bersih, steril,dan kotor).
Besar ruangan tergantung pada ukuran dan kemampuan rumah sakit.
Umumnya :
- Kamar terima
- Ruang untuk poeralatan bersih dan kotor.
- Ruang linen bersih.
- Ruang ganti
- Ruang umummuntuk pembersihan dan sterilisasi alat.
- Scrub area.
Ruang operasi terdiri dari :
- Stretcher atau meja operasi.
- Lampu operasi.
- Anesthesia station
- .Meja dan standar instrumen.
- Peralatan suction.
- System komunikasi.
2). Kebersihan dan Kesehatan Team Pembedahan.
Sumber utama kontaminasi bakteri yaitu team pembedahan yang hygiene menurun dan kesehatan menuru
n ( kulit, rambut, saluran pernafasan).
Pencegahan kontaminasi :
- Cuci tangan.
- Handscoen.
- Mandi.
- Tidak memakai perhiasan.
3). Pakaian bedah.
Terdiri : Kap, Masker, gaun, Tutup sepatu, baju OK.
Tujuan: Menurunkan kontaminasi.
4). Surgical Scrub.
Cuci tangan pembedahan dilakukan oleh :
- Ahli Bedah
- Semua asisten
- Scrub nurse.
- Saat sebelum menggunakan sarung tangan dan gaun steril.
Alat-alat:
- Sikat cucin tangan reuable / disposible.
- Anti microbial : betadine.
- Pembersih kuku.

1.4.2 Intervensi Klien Post Operasi
1) Stadium ketiga dan terakhir dari perioperasi adalah bila klien masuk ruang pulih sadar, ruang PAR,
atau PACU.
2) Selama periode post operative, klien dirawat oleh perawat di ruang PAR (Post Anesthesia Recovary
) dan unit setelah di pindah dari ruang pemulihan.
3) Waktu yang diperlukan tergantung umur dan kesehatan fisik, type pembedahan, anesthesia dan kom
plikasi post operasi.
4) Perawat sirkulasi, anesthesiologist / perawat anesthesia dan ahli bedah mengantar klien ke area reco
very merupakan awal periode post operasi.
5) Ahli bedah atau anesthesiologist mereview catatan klien dengan perawat PACU dan menjelaskan ty
pe dan luasnya pembedahan, type anesthesia, kondisi pathologist, darah, cairan intra vena, pemberian oba
t, perkiraan kehilangan darah dan beberapa trauma intubasi.
1) Pengkajian
Anamnesa
Setelah menerima laporan dari perawat sirkulasi, dan pengkajian klien, perawat mereview catatan klien ya
ng berhubungan dengan riwayat klien, status fisik dan emosi, sebelum pembedahan dan alergi.
Pemeriksaan fisik dan manifestasi klinik
(1) Sistem pernafasan.
a. Ketika klien dimasukan ke PACU, Perawat segera mengkaji klien:
Potensi jalan nafas, dengan meletakan tangan di atas mulut atau hidung.
Perubahan pernafasan ( rata-rata, pola, dan kedalaman). RR < 10 X / menit untuk melihat gangguan cardi
ovascular atau rata-rata metabolisme yang meningkat.
b. Auscultasi paru : keadekwatan expansi paru, kesimetrisan.
c. Inspeksi: Pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu pernafasan diafragma, retraksi sternal
efek anathesi yang berlebihan, obstruksi.
d. Thorax Drain
(2) Sistem Cardiovasculer.
a. Sirkulasi darah, nadi dan suara jantung dikaji tuiap 15 menit ( 4 x ), 30 menit (4x). 2 jam (4x) dan s
etiap 4 jam selama 2 hari jika kondisi stabil.
b. Penurunan tekanan darah, nadi dan suara jantung untuk melihat depresi miocard, shock, perdarahan
atau overdistensi.
c. Nadi meningkat menunjukkan shock, nyeri, hypothermia.
d. Kaji sirkulasi perifer ( kualitas denyut, warna, temperatur dan ukuran ektremitas.
e. Homans saign menunjukkan trombhoplebitis pada ekstrimitas bawah (edema , kemerahan, nyeri).
Keseimbangan cairan dan elektrolit
a. Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan.
b. Ukur cairan baik dari NG tube, out put urine, drainage luka.
c. Kaji intake / out put.
d. Monitor cairan intravena dan tekanan darah.
(3) Sistem Persyarafan
a. Kaji fungsi serebral dan tingkat kersadaran pada semua klien dengan anesthesia umum.
b. Klien dengan bedah kepala leher : kaji respon pupil, kekuatan otot, koordinasi. Anesthesia umum k
aji adanya depresi fungsi motor.
(4) Sistem perkemihan.
a. Kontrol volunteer fungsi perkemihan kembali setelah 6 8 jam postanesthesia inhalasi, IV, spinal.
b. Anesthesia , infus IV, manipulasi operasi kaji adanya retensio urine
c. Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi pada abdomen bawah (distensi buli-buli).
d. Dower catheter : kaji warna, jumlah urine, out put urine < 30 ml / jam menunjukkan komplikasi gin
jal.
(5) Sistem Gastrointestinal.
a. Mual muntah, pada 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat menyebabkan stress dan ir
itasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat.
b. Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suarar usus.
c. Kaji paralitic ileus : tidak terdengar suara usus, distensi abdomen, tidak flatus.
d. Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan decompresi dan drainase l
ambung.
1) Meningkatkan istirahat.
2) Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.
3) Memonitor perdarahan.
4) Mencegah obstruksi usus.
5) Irigasi atau pemberian obat.
Jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 8 jam.
(6) Sistem Integumen.
a. Luka bedah sembuh sekitar 2 minggu. Jika tidak ada infeksi, trauma, malnutrisi, obat-obat steroid.
b. Penyembuhan sempurna sekitar 6 bulan satu tahun.
c. Ketidak efektifan penyembuhan luka dapat disebabkan :
1) Infeksi luka.
2) Diostensi dari udema / palitik ileus.
3) Tekanan pada daerah luka.
4) Dehiscence.
5) Eviscerasi.
Drain dan Balutan
Semua balutan dan drain dikaji
Semua balutan dan drain dikaji setiap 15 menit pada saat di ruang PAR, (Jumlah, warna, konsistensi, dan
bau cairan drain dan tanggal observasi).
Dan minimal tiap 8 jam saat di ruangan.
Pengkajian Nyeri
Nyeri post operatif berhubungan dengan luka bedah , drain dan posisi intra operative.
Kaji tanda fisik dan emosi; peningkatan nadi dan tekanan darah, hypertensi, diaphorosis, gelisah, menangi
s.
Kualitas nyeri sebelum dan setelah pemberian analgetika.
Pemeriksaan Laboratorium.
- Dilakukan untuk memonitor komplikasi.
- Pemeriksaan didasarkan pada prosedur pembedahan, riwayat kesehatan dan manifestasi post operative.
Test yang lazim adalah elektrolit, Glukosa, dan darah lengkap.
2) Diagnosis Keperawatan.
(1) Gangguan pertukaran gas, s.d efek sisa anesthesia, imobilisasi, nyeri.
(2) Gangguan integritas kulit s.d luka pemebedahan, drain dan drainage.
(3) Nyeri s.d incisi pembedahan dan posisi selama pembedahan.
(4) Potensial terjadi perlukaan s.d effect anesthesia, sedasi, analgesi.
(5) Kekurangan volume cairan s.d kehilangan cairan intradan pot operasi.
(6) Ketidak efectifan kebersihan jalan nafas s.d peningkatan sekresi.
(7) Perubahan eliminasi urine ( penurunan) s.d obat anesthesia dan immobilisasi.
3) Perencanaan
(1) Gangguan pertukaran gas
Tujuan :
Klien akan mempertahankan ekspansi paru dan fungsi pernapasan yang adekuat.
Intervensi :
a. Posistioning klien untuk mencegah aspirasi
b. Insersi mayo untuk mencegah obstruksi, melakukan suction.
c. Pemberian aksigen
d. Endotracheal tube/mayo dilepasuntuk menghindari refleks gag kembali.
e. Dorong batuk dan bernapas dalam 5 10 x setiap 2 jam. Khususnya 72 jam pertama (potensial kom
plikasi :atelektasis, pneumonia).
f. Klien dengan penyakit paru, orang tua, perokok, panas spirometer.
g. Suction.
(2) Gangguan integritas kulit
Tujuan :
Luka klien akan sembuh tanpa komlikasi luka post operatif.
Penyebab luka infeksi :
- Kontaminasi selama pembedahan
- Infeksi preoperative
- Teknik aseptic yang terputus
- Status klien yang jelek.
Intervensi :
a. Terapi obat : Antibiotik profilaksis spectrum luas (24 72 jam post op)
b. Perawatan luka dengan gaas antibiotik.
c. Balutan luka : ganti sesuai order dokter. Luka yang ditutup dengan balutan dibuka 3-6 hari.
d. Drain : Evakuasi cairan dan udara
e. Mencegah luka infeksi yang dalam dan pembentukan abses pada luka bedah.
(3) Nyeri
Tujuan
Klien akan mengalami pengurangan nyeri akibat luka bedah dan posisi selama operasi.
Intervensi :
a. Terapi obat : Pemberian anlgetik narkotik dan non narkotik nyeri akut (meperidin hydroclorida, m
orphine sulphate, codein sulphate, dan lain-lain.)
b. Mengkaji tipe, lokasi ditensitas nyeri sebelum pemberian obat.
c. Pada pembedahan yang luas diperlukan kontrol nyeri dapat dengan menggunakan iv pump.
d. Observasi tekanan darah, pernapasan, kesadaran, (depresi napas, hyotensi, mual, muntah yang merupa
kan komplikasi narkotik).
e. Metode pangendalian nyeri yang lain :
1) Positioning
2) Perubahan posisi tiap 2 jam
3) Masase
4) Evaluasi :
Kriteria hasil yang diharapkan pada klien post op adalah :
1. Mempertahankan ekspansi paru dan fungsi yang adekuat yang ditandai suara napas jernih.
2. Mengikuti diet TKTP
3. menjelaskan dan mendemonstrasikan perawatana balutan dan drain.
4. Penyembuhan komplit tanpa komplikasi
5. Mengungkapkan nyeri hilang.





DAFTAR PUSTAKA


Barret dan Bryant, (1990), The lippincott Manual of Nursing Practice, fifth edition, JB Lippincott Compa
ny, Philadelphia.

Doengoes, Marilyn E. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, pedoman untuk perencanaan dan pendoku
mentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta.

Hudak and Gallo, (1994), Critical Care Nursing, A Holistic Approach, JB Lippincott company, Philadelpi
a.

Muttaqin, Arif. (2008). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. EGC. Jakarta

Reksoprodjo Soelarto, (1995), Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta.

Sjamsuhidajat. R (1997), Buku ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta