Anda di halaman 1dari 9

QUANTITY VS LOT

Jika kita membicarakan tentang quantity dan lot pastinya kita akan lebih memilih
menggunakan quantity dari pada lot, karena dalam transaksi marketiva mereka umumnya tidak
menggunakan lot tetapi quantity sebagai gantinya. Yang dengan adanya system quantity ini kita
bisa lebih mudah atau fleksibel dalam menentukan berapa modal yang ingin digunakan untuk
trading. Sebelum membahas tentang quantity dan lot kita jelaskan terlebih dahulu secara singkat
tentang leverage. Laverage melibatkan pinjaman sejumlah uang yang dibutuhkan untuk
berinvestasi dalam sesuatu. Dalam kasus forex, uang biasanya dipinjam dari broker. Forex
trading perlu untuk menawarkan leverage tinggi dalam artian bahwa hal ini perlu untuk
kebutuhan margin awal sehingga trader dapat membangun dan mengkontrol sejumlah besar
uang. Sebagai contoh misalkan kalau kita membeli telur seharga Rp.15.000/kg, pastinya kita
akan membayar dengan harga tersebut. Jika harga telurnya naik menjadi Rp.16.000/kg dan kita
jual kembali ke pasar atau warung dan kita akan mendapatkan profit sebesar Rp.1000/kg.
Kalau menggunakan trading dengan quantity 1 di Marektiva, yang artinya kita
bertransaksi dengan modal senilai 1 SEN, Jadi kalau kita punya uang 1 USD, maka di Markeiva
itu bernilai 100. Bagaimana jika lebih dari 1, pastinya akan banyak nilai yang kita dapatkan.
Kalau kita membuka 1 lot eurusd misalkan marginnya butuh 100.000 euro kalau kurs euro
1,3500 itu artinya kita membutuhkan $135.000. jika dihitung dengan 1:100 itu berarti hanya
$100.000, dan tidak akan cukup untuk trade 1 lot.
untuk pemula maupun expert, leverage itu tergantung tradernya dan keperluan. tidak
semua pemula menggunakan 1:500 dan expert menggunakan 1:1 atau sebaliknya. tapi memang
leverage 1:50 atau 1:100 sepertinya yang paling ideal. Kalau dengan dana $1000, itu mungkin
lebih tepatnya adalah risk yang akan kita terima. Jadi kalau kita membuka 0,1 lot, SL nya 100
pip (=100$ =10%), kalau open 0,01 lot, SL nya bisa 1000 pips (=100$ =10%).




PENILAIAN KINERJA PORTOFOLIO

Dalam penilaian kinerja portofolio tujuan dari penilaian kinerja portofolio ini adalah
untuk mengetahui dan menganalisis apakah portofolio yang dibentuk telah dapat meningkatkan
kemungkinan tercapainya tujuan investasi dan dapat diketahui portofolio mana yang memiliki
kinerja lebih baik. Dimana metode yang digunakan dalam penilaian ini yaitu dengan
menggunakan metode indeks sharpe, indeks treynor, dan indeks jansen. Dalam contoh kasus
pada slide tersebut adalah sebagai berikut :
Periode RpA RpB RpC Rm RF
1 30.5 17.5 -33 -26 7.9
2 39.6 39.4 30.8 36.9 5.8
3 11.1 34.3 18.2 23.6 5.2
4 12.7 -6.9 -7.3 -7.2 5.3
5 20.9 3.2 4.9 6.4 7.2
6 35.5 28.9 30.9 18.2 8.9
7 55.1 24.1 34.7 31.5 11.5
8 -7.8 28.5 15.2 -4.8 14.1
9 22.8 23.4 33 20.4 10.7
Rata-rata 24.5 21.4 14.2 11.0 8.5
Sdpi 28.1 21.4 28.5 52.5
pi 1.2 0.92 1.04 1.6

Dalam pembahasan diatas dapat diperoleh hasil :
INDEKS SHARPE
Spi = (Rpi Rf) / SDpi
o SpA = (24,5 8,5) / 28,1 = 0,569
o SpB = (21,4 8,5) / 21,4 = 0,602
o SpC = (14,2 - 8,5) / 28,5 = 0,2
o Spm = (11,0 8,5) / 52,5 = 0,047

INDEKS TREYNOR
Tpi = (Rpi Rf) / pi
o TpA = (24,5 8,5) / 1,2 = 13,33
o TpB = (21,4 8,5) / 0,92 = 14,02
o TpC = (14,2 8,5) / 1,04 = 5,48
o Tpm = (11,0 8,5) / 1,6 = 1,56

INDEKS JANSEN
Jpi = (Rpi Rf) (Rm Rf) pi
o JpA = (24,5 8,5) (11,0 8,5) 1,2 = 16,2
o JpB = (21,4 8,5) (11,0 8,5) 0,92 = 9,56
o JpC = (14,2 8,5) (11,0 8,5) 1,04 = 3,32
o Jpm = (11,0 8,5) (11,0 8,5) 1,6 = 0
Kesimpulan Kasus diatas adalah :
Portofolio B memiliki kinerja yang tinggi kecuali pada indeks jansen yang memiliki kinerja
tertinggi adalah A sebesar 16,2. Indeks sharpe sebesar 0,602, dan indeks treynor sebesar
14,02. Sedangkan untuk portofolio A & C perlu dilakukan revisi.







INDEKS HARGA SAHAM DAN CORPORATE ACTION

Dalam suatu perusahaan ada yang namanya corporate action untuk meningkatkan
kinerja atau performance. Karena istilah corporate action ini sering muncul di koran atau
majalah. Seperti contohnya Fanny Rifqy El Fuad, Head of Representatives Capital Market
Information Centre Pekalongan menuturkan bahwa istilah corporate action jika diterjemahkan
berarti aksi perusahaan atau langkah perusahaan dalam rangka meningkatkan kinerja atau
menunjukkan performance baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Karena tujuannya
meningkatkan kinerja atau performance, biasanya aksi korporasi selalu ditanggapi positif oleh
pelaku pasar. Setiap perusahaan yang ingin melakukan ekspansi biasanya selalu melakukan aksi
korporasi yang bermacam-macam bentuknya. Yang namanya aksi perusahaan memiliki variasi
beragam mulai dari pergantian manajemen perusahaan, pembagian dividen, stock split, reverse
stock, merger, akuisisi, divestasi, penerbitan saham baru, pembagian saham bonus, dividen
saham, share swap, debt share swap, private placement, hingga melakukan penyertaan di
perusahaan lain. Pada umumnya, semua jenis aksi perusahaan bersifat material sehingga setiap
kali aksi korporasi digulirkan seringkali memberikan dampak terhadap perubahan harga saham
di pasar. Karena setiap aksi korporasi berdampak material, maka Bapepam - LK mengatur dalam
satu ketentuan khusus. Perlu diketahui bersama bahwa langkah emiten untuk melakukan
keputusan corporate action harus disetujui dalam suatu rapat umum baik Rapat Umum Pemegang
Saham ataupun Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa. Persetujuan pemegang saham adalah
mutlak untuk berlakunya suatu corporate action sesuai dengan peraturan yang ada di pasar
modal.
Ada beberapa bentuk corporate action yang diantaranya adalah :
1. Analisis Strategis
2. Divestasi
3. Akuisisi
4. Merger
5. Konsolidasi
6. Right Issue
7. Reverse Stock
8. Stock Split
9. Private Placement
10. Tender Offer
11. Dilusi.

Corporate action menimbulkan dampak yang positif terhadap perubahan harga saham.
Artinya, harga saham emiten yang melakukan corporate action seringkali mengalami kenaikan.
Dan karena itu pula, informasi tentang aksi korporasi selalu menjadi informasi yang ditunggu-
tunggu oleh pelaku pasar. Bahkan ada kecenderungan, pelaku pasar mencari-cari informasi aksi
korporasi agar bisa mencuri start untuk membeli saham lebih dulu di pasar. Hal ini pula yang
memunculkan istilah buy on rumors, sell on the news. Bagi sebagian besar pelaku pasar
informasi tentang aksi korporasi merupakan informasi yang amat berharga. Siapa yang
memperoleh informasi lebih dulu maka ia akan memperoleh peluang lebih besar untuk meraih
capital gain. Jadi, corporate action adalah energi yang membuat investor lebih bersemangat
belanja saham di bursa.













ANALISIS FUNDAMENTAL

Dalam analisis fundamental, data yang dimaksud adalah data keuangan, data pangsa
pasar, siklus bisnis, dan sejenisnya. Sementara data faktor eksternal yang berhubungan dengan
badan usaha adalah kebijakan pemerintah, tingkat suku bunga, inflasi, dan sejenisnya. Dengan
mempertimbangkan data-data seperti tersebut diatas, analisis fundamental menghasilkan berupa
analisis penilaian badan usaha dengan kesimpulan apakah perusahaan tersebut sahamnya layak
dibeli atau tidak. Jika nilainya mahal atau overvalued, saham tersebut dianggap nilainya lebih
tinggi berdasarkan analisis fundamental melalui perbandingan harga yang berlaku di pasar.
Dengan kata lain harganya sudah terlalu mahal jadi lebih baik tidak dibeli atau dijual jika
memiliki sahamnya. Sementara jika yang terjadi sebaliknya, saham itu layak untuk dibeli dengan
alasan harganya murah.
Salah satu aspek penting dari analisis fundamental adalah analisis laporan keuangan,
karena dari situ dapat diperkirakan keadaan, atau posisi dan arah perusahaan. Laporan keuangan
yang dianalisa adalah :
1. Laporan keuangan yang menggambarkan harta, utang, dan modal yang dimiliki
perusahaan pada suatu saat tertentu. Laporan keuangan ini disebut neraca.
2. Laporan keuangan yang menggambarkan besarnya pendapatan, beban beban, pajak,
dan laba perusahaan dalam suatu kurun waktu tertentu.
Jika kita sebagai investor maka ada baiknya kita memilih menggunakan ROE (Return On Equity)
untuk indikator kita, dan untuk perusahaan di Indonesia yang potensi pertumbuhannya masih sangat
besar, angka yang pantas adalah 15% dan bukannya 10%. Untuk Free Cash Flow, yang merupakan hasil
dari Operating Cash Flow ditambah Investing Cash Flow, angkanya tidak selalu positif. Kalaupun
angkanya negatif, tidak bisa dikatakan kurang baik karena bisa jadi perusahaan sedang dalam rangka
ekspansi besar-besaran. Sebagai contoh bisa kita lihat pada analisis berikut ini :
Return On Equity Rata-rata dalam 5 tahun terakhir di atas 15%
Dihitung dengan cara membagi Laba Bersih dengan Rata-rata Nilai Ekuitas. Rasio ini sebenarnya juga
sudah dipublikasikan dalam laporan keuangan perusahaan ataupun oleh Bursa Efek Indonesia. Berikut
ini adalah cuplikan yang saya ambil dari Bursa Efek Indonesia.


Dari table diatas kita lihat bahwa berturut-turut, data ROE adalah 46.44%, 41.11%,
42.65%, 33.98%, dan 31.06%. Jika di rata-ratakan berarti 39.05% . hasil tersebut dihitung dari
total semuanya dibagi 5.














CAPITAL ASSET PRICING MODEL

Dalam teori capital asset pricing model ini yaitu untuk menentukan suatu sekuritas
individu, dan portofolio merupakan hal yang sangat penting bagi investor. Dalam menentukan
biaya capital, dan pricing sekuritas memerlukan model yang parsimoni dalam menangkap
kompleksitas pasar modal. CAPM memerlukan estimasi tingkat bunga bebas risiko (risk-free
rate of interest), estimasi return portofolio pasar yang diharapkan (expected return market
portfolio), dan estimasi beta untuk tiap aset individual. Yang kita ketahui bahwa apabila > 1.00
artinya saham cenderung naik dan turun lebih tinggi daripada pasar.
< 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih rendah daripada indek pasar secara umum
(general market index). Perubahan persamaan risiko dan perolehan (Equation Risk and Return)
dengan memasukan faktor .
Sebagai contoh Diasumsikan beta saham PT Sosro adalah 0,5 dan tingkat return bebas
risiko (Rf) adalah 1,5%. Tingkat return pasar harapan diasumsikan sebesar 2%.
Dengan demikian, maka tingkat keuntungan yang disyaratkan investor untuk saham PT Sosro
adalah:
Rs = Rf + s (Rm Rf)
= 0,015 + 0,5 (0,02 0,015) = 1,75%
Anggap tingkat return bebas risiko adalah 10 persen. Return harapan pasar adalah 18 persen. Jika
saham LEVIS mempunyai beta 0,8, berapakah return disyaratkan berdasarkan CAPM?
Ki = 10% +0,8 x (18% - 10%) =16,4%
Anggap tingkat return bebas risiko adalah 10 persen. Return harapan pasar adalah 18 persen. Jika
saham lain yaitu saham Astra mempunyai return disyaratkan 20 persen, berapakah betanya?
20% = 10% + i x (18%-10%)
10% = i x 8%
i =1,25
Suatu sekuritas x yang mempunyai Expected Return 0.27 (27% per tahun) dan nilai
betanya 1.2, apakah sekuritas x ini layak di beli atau tidak?
Rs = Rf + s (Rm Rf)
Rf = misal SBI 1 bulan saat ini adalah 0.06 (6% per tahun)
Rm = misal return IHSG yang diharapkan saat ini adalah 0.26 (26% per tahun, didapatkan
dengan cara memprediksi return).
s = 1.2, sehingga :
Rs = 0,06 + 1.2 (0,26 0,06)
Rs = 0,06 + 1.2 (0,2)
Rs = 0,06 + 0,24
Rs = 0,3 (30%).
Kesimpulan, dengan nilai beta 1.2, apabila return yang diperoleh hanya 27%, maka harga
sekuritas terlalu mahal, karena return wajarnya adalah 30%.