Anda di halaman 1dari 16

Suara.

com - Kasus paedofil yang terjadi di Jakarta International School (JIS), Pondok Indah, Jakarta
Selatan, hanyalah satu kasus dari banyak kasus serupa yang pernah terjadi di Indonesia.
Sejumlah kasus paedofil lainnya terjadi di berbagai daerah. Yang paling mengerikan adalah yang
pernah dilakukan oleh Baekuni atau Babe. Kakek ini tak hanya menyodomi anak, tapi juga
memutilasinya.
Berikut ini adalah lima kasus pelecehan seksual terhadap anak yang pernah menghebohkan Tanah
Air dalam beberapa tahun terakhir.
1. Di Pondok Indah
Korbannya salah satu anak TK berusia enam tahun di Jakarta International School (JIS), Pondok
Indah, Jakarta Selatan. Anak ini menjadi korban sodomi yang dilakukan oleh petugas cleaning
service, Agun dan Awan, pada 20 Maret 2014 di toilet sekolah. Saat ini, kedua petugas kebersihan
sekolah tersebut sudah ditahan di Polda Metro Jaya.
2. Di Surabaya
Polisi menangkap Tjandra Adi Gunawan (37) karena diduga menjadi pelaku pelecehan seksual
terhadap anak di bawah umur di Surabaya, Jawa Timur.
Ia dibekuk pada 24 Maret 2013 karena membuat enam anak di bawah umur bersedia mengirimkan
gambar bermuatan pornografi kepadanya. Lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai Quality
Assurance Manager di PT KSM Surabaya ini diketahui telah melakukan aksinya sejak Oktober
2013.
3. Di Jakarta
Baekuni alias Babe. Namanya membuat warga yang punya anak kecil bergidik. Babe yang
ditangkap pada Januari 2010 itu terbukti menyodomi banyak anak, kemudian membunuh 14 anak.
Empat anak, di antaranya dimutilasi. Babe divonis pidana seumur hidup oleh majelis hakim
Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada 6 Oktober 2010.
4. Di Karangasem
Pelakunya bule bernama Tony William Stuart Brown (52) alias Tony. Tony menyodomi dan
melakukan pelecehan seksual terhadap dua anak remaja, yakni IB (16) dan IM (14), di Karangasem,
Bali, sejak November 2003 sampai Januari 2004.
Atas perbuatannya, Pengadilan Negeri (PN) Karangasem menjatuhkan vonis 13 tahun penjara
kepada Tony. Setelah itu, Tony bunuh diri di penjara LP Ambapura, Bali.
5. Di Banjar Kaliasem
Pelakunya bule asal Belanda. Namanya Max Le Clerco. Pada tahun 2005, Max melakukan
pelecehan seksual terhadap anak berusia sembilan tahun di Banjar Kaliasem, Kabupaten Buleleng,
Bali.
Menanggapi banyaknya kasus paedofil di Bali, Koordinator Jaringan Peduli Anak Korban Paedofil
(JPAKP), Luh Putu Anggreni, mengatakan para pelaku memanfaatkan keramahtamahan orang Bali
untuk melampiaskan nafsunya.























HUKUM YANG BELUM BERLAKU TERKAIT PAEDOFIL DI INDONESIA

Pakar Kebijakan Publik UGM, Dr. Agus Heruanto Hadna menyebutkan hukum maupun
kebijakan di Indonesia seharusnya diperkuat untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan,
eksploitasi, bahkan penelantaran terhadap anak. Sayangnya, hal itu belum sepenuhnya
dilakukan oleh pemerintah. Yang ada, sistem hukum maupun kebijakan di Indonesia
belum bisa memberikan perlindungan terhadap anak dari berbagai tindak kekerasan dan
ekspolitasi.
Penanganan kasus kekerasan anak belum serius dilakukan pemerintah. Belum ada
koordinasi antarkementrian terkait, bahkan dengan lembaga-lembaga pemerhati di bidang
perlindungan anak dan perempuan, katanya, Kamis (8/5) dalam diskusi Menilik
Kebijakan dan Sistem Perlindungan Anak di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
(PSKK) UGM.
Menurutnya kelemahan dalam sistem perlindungan anak terjadi karena kebijakan yang
dibuat masih bersifat sektoral. Masing-masing lembaga memiliki kebijakan dan tidak
berkesinambungan satu sama lain. Seperti diketahui belum lama muncul sejumlah kasus
kekerasan pada anak baik secara fisik, seksual, maupun penelantaran. Sebut saja kasus
paedofil yang baru saja terkuat di Sukabumi dan di JIS. Sebelumnya terjadi kasus
kekerasan seksual, fisik, dan penelantaran yang menimpa sebagian besar anak di panti
asuhan Samuel, Jakarta.
Banyak kasus terungkap, ada yang terjadi di dalam rumah, sekolah, bahkan di ruang-
ruang publik. Iqbal Saputra, Renggo Khadafi, maupun 100 nama anak-anak korban
paedofil di Sukabumi mengingatkan kita lagi bahwa anak-anak belum terlindungi. Hak
mereka sebagai anak tercerabut karenan kelalaian dan ketidakpedualian, papar Hadna.
Sepanjang tahun 2013 Komnas Perlindungan Anak menerima 3.023 pengaduan kasus
kekerasan anak. Jumlah tersebut mengalami peningkatan hingga 60 persen dibanding
tahun sebelumnya yang hanya 1.383 kasus. Dari jumlah tersebut 58 persen merupakan
kasus kejahatan seksual pada anak.
Hadna meyakini berbagai praktik eksploitasi sistematis yang berakibat buruk bagi
perkembangan anak bukan sesuatu yang baru. Namun, menurutnya hal tersebut telah
lama terjadi, hanya saja kasusnya tidak terkuak ke permukaan.
Misalnya, dari hasil Studi PSKK UGM yang dimulai pada 2001 menunjukkan selama kurun
waktu delapan tahun (1996-2004) terdapat 25 paedofil asal Amerika Serikat, Asutralia,
Inggris, Jerman, Perancis, dan Belanda yang beroperasi di Bali. Untuk memuluskan
aksinya dan meminimalisir perlawanan, para paedofil membentuk jaringan yang
terstruktur rapi dan tersembunyi. Bahkan dalam beberapa kasus melibatkan orang tua
anak, warga desa, dan paedofil lain yang menjadi sekutunya.
Dulu sebenarnya kasus kekerasan anak banyak terjadi. Bedanya kalau sekarang akses
informasi yang lebih terbuka menjadikan isu menyebar lebih cepat dan luas. Jadi agak
sulit jika dikatakan kekerasan pada anak meningkat. Sementara angka yang pasti
menunjukkan kenaikan sampai sekarang belum pernah terungkap, padahal data itu sangat
dibutuhkan untuk perencanaan kebijakan yang lebih tepat, urai Kepala PSKK UGM ini.
Dalam pandangan Hadna, selama ini penerapan pola kebijakan di Indonesia masih saja
berdasarkan pada pembuktian. Sehingga dalam kasus kekerasan pada anak seolah-olah
harus ada yang menjadi korban terlebih dahulu sebelum menyusun aturan dan kebijakan
yang mengatur hal itu. Dengan begitu, aspek-aspek pencegahan menjadi terabaikan
dalam penyusunan peraturan dan kebijakan perlindungan anak.

Pendidikan Seks Bagi Anak
Pendidikan seks menjadi hal yang sangat penting diberikan kepada anak untuk mencegah
berbagai tindak kekerasan yang mungkin terjadi. Menurutnya anak-anak butuh diajarkan
bagaimana cara menghargai tubuhnya sendiri maupun menghormati orang lain.
Pendidikan seks bagi anak penting dilakukan. Namun hal ini terasa sulit dilakukan karena
dalam sistem pendidikan kita lebih memprioritaskan pendidikan budi pekerti dan agama
dalam kurikulum pengajaran. Sementara pendidikan seks masih dikesampingkan, bahkan
terkesan tidak dibutuhkan, jelasnya menyayangkan.
Hadna menyebutkan pemerintah seyogianya tidak mengabaikan untuk tidak memasukan
pendidikan seks bagi anak dalam kurikulum pengajaran. Hal tersebut bisa dilakukan
dengan memformulasikan metode pendidikan seks yang tepat, sesuai dengan tahap
perkembangan usia anak, dan tidak melanggar norma masyarakat maupun agama.
Pemerintah harus mencari model atau metode yang cocok, terangnya.
Dalam menyikapi berbagai kasus kekerasan anak, lanjut Hadna, pemerintah seharunya
mengambil sikap tegas. Bukan hanya sekadar menjadi pemantau kasus saja. Sikap ini
justru tidak efektif dalam mengungkap persoalan kekerasan anak.
Demikian halnya dalam hal kebijakan, bukan saatnya membuat kebijakan yang tambal
sulam, tidak berdasar pada indentifikasi persoalan sesungguhnya, tegasnya. (Humas
UGM/Ika)























Adakah efek jera bagi paedofil?
Terbaru 9 Mei 2014 - 02:15 WIB
Facebook
Twitter
Google+
Kirim kepada teman
Print page

Dugaan kekerasan seksual terhadap anak diperkirakan semakin banyak.
Pemerintah Indonesia akan mengusulkan hukuman yang lebih berat kepada
pelaku tindak kekerasan seksual terhadap anak, setelah terungkap berbagai
kasus tindak kejahatan seksual terhadap anak-anak belakangan ini, termasuk
di KlikSukabumi dan Sumedang.
Pernyataan itu disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet, Kamis, 8
Mei.
Berita terkait
SBY minta pelaku pedofil dihukum berat
Penegakan hukum 'lemah' atas kekerasan anak
Presiden prihatin kekerasan anak meningkat
Topik terkait
Forum
Presiden mengatakan langkah tersebut akan ditempuh dengan jalan mengajak DPR merevisi pasal-
pasal dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
"Perlu dilakukan penguatan, revisi dan penyempurnaan. Dengan demikian, apabila dijalankan, itu
akan menimbulkan efek tangkal, kemudian juga efektif, dan juga menjanjikan hukuman yang tidak
ringan," kata Presiden Yudhoyono.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan rata-rata hukuman bagi para pelaku
kekerasan terhadap anak hanya sekitar lima tahun, karena kurangnya pemahaman para penegak
hukum dalam kasus perlidungan anak.
"Hakim Agung kita Pak Asep mengatakan kebanyakan kasus kekerasan seksual paling tinggi adalah
lima tahun, belum pernah ada yang divonis di atas lima tahun. Ini yang membuat pelaku nyaman,
jadi efek jera tak pernah diberikan," jelas Sekjen KPAI, Erlinda.
Pendapat Anda
Bagaimana komentar Anda tentang penegakan hukum dalam kasus tindak kejahatan seksual
terhadap anak-anak?
Apakah ancaman hukuman sudah sesuai atau mungkin perlu diperberat?
Apa saja yang dapat menimbulkan efek jera? Apakah stigma dalam masyarakat sekarang sudah
luntur sehingga tidak membuat pelaku takut?
Ramaikan Forum di radio BBC Dunia Hari Ini edisi Kamis, 15 Mei siaran pukul 18.00 WIB.
Mohon isi nama dan nomor telepon Anda untuk kami hubungi guna merekam pendapat Anda.
Komentar
Forum BBC
Di radio setiap Kamis siaran BBC Dunia Hari Ini pukul 18.00 WIB
Di online BBCIndonesia.com
Kirim komentar di kolom atau lewat Twitter dan Facebook
Berikut sebagian pendapat Anda.
"Sesungguhnya ancaman hukuman bagi paedofil belum sesuai dan belum memberikan efek jera
kepada pelaku. Hukumannya harus di atas 20 tahun. Dan dia juga harus menanggung biaya untuk
proses penyembuhan bagi korbannya." Bonefasius Jehandut.
"Hukuman bagi paedofil tergantung juper di polisi dan jaksa apakah ditambahkan pasal yang
mengakibatkan masa depan anak yang hilang, trauma, pasal kekerasan, obat terlarang, dn lain-lain
yang dituntut hakim hukuman 25 tahun atau lebih." Charles P Sihombing, Doloksanggul.
"Revisi undang-undang tentang perlindungan anak harus dilakukan karena, menurut saya,
hukumannya terlalu ringan. Yang kedua, di Indonesia terlalu banyak tabu jadi anak-anak tidak
dibelajarkan." Zul Bahri, Medan.
"Revisi tidak hanya undang undang perlindungan anak, tetapi juga bidang lain seperti undang-
undang narkoba, korupsi, kriminalitas dengan kekerasan sampai meninggal dunia. Kita bisa
mencontoh penegakan hukum seperti Singapura, Malaysia bahkan Brunei Darussalam dengan
syariah Islam. Selama hukum lemah maka Indonesia sebagai pasar kejahatan." Wahjoe, Nganjuk.
"Maraknya kasus ini menandakan lemahnya hukum di Indonesia. Mengingat begitu besar dampak
dari kasus ini sebaiknya pelaku kasus ini terapkan hukum seberat-beratnya, kalauperlu hukuman
mati." Tuslam Budi, Cilacap.
"Hukuman apapun bentuknya tidak akan menimbulkan efek jera jika sanksi tersebut diberikan tanpa
upaya menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan tindak kriminal itu dilakukan. Jika kita hanya
mengandalkan sanksi dalam menekan tindak kriminalitas maka bisa dipastikan bukan berkurangnya
tindakan kriminal yang akan terjadi tapi justru akan semakin meningkatnya kualitas tindak kriminal
yang kita dapatkan. Untuk itu jika memang pemerintah serius ingin menekan tindak kriminalitas
maka diperlukan tindakan sistemik yang akan mengurai benang kusut tindak kriminalitas yang
sedang melanda negeri ini. Tapi saya tidak melihat keseriusan dari pemerintah dalam hal ini." Abdul
Azis, Tangerang Selatan.
























Mensos Setuju Hukuman Kebiri dengan
Disuntik pada Pelaku Paedofil


Bogor - Kementerian Sosial RI akan segera mengajukan Revisi Undang-undang Nomor 23 tahun 2002
tentang Perlindungan Anak di Bawah Umur, ke DPR. Salahsatu hal yang direvisi, menurut Menteri Sosial
Salim Segaf yakni agar diberlakukannya hukuman kebiri terhadap pelaku kejahatan seksual terhadap
anak, seperti yang diberlakukan di Rusia, Korea Selatan dan Polandia.

Hal tersebut, diungkapkan Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufri saat mengunjungi Rumah Sakit Ibu dan
Anak UMMI di Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Sabtu (17/5/2014) siang.

"Seharusnya hukuman bisa memberikan efek jera. Kenapa tidak diterapkan bila hukuman kebiri dengan
cara disuntik bisa menekan angka kekerasan seksual terhadap anak," Kata Salim kepada wartawan.
Selain hukuman Kebiri, hukuman penjara minimal 15 tahun hingga hukuman mati

Revisi tersebut, kata Salim, diajukan karena tingkat kejahatan seksual terhadap anak dibawah umur,
belakangan ini terus meningkat. Dengan memperberat sanksi hukum terhadap pelaku, Salim berharap
kejahatan terhadap anak dibawah umur dapat ditekan.

Meski demikian, menurut Salim, hal yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara pencegahan agar
kejahatan seksual terhadap anak dapat dihindari.

"Peran orangtua sangat penting dalam mengawasi anak dalam rangka melakukan pencegahan dini
kejahatan seksual. Yang terpenting saat ini bukan menangani korban, melainkan melakukan pencegahan
dini. Menangani korban adalah tahap terakhir," tambah Salim.

Selain itu, Kata Salim, Kemensos RI juga berkomitmen akan mengawal Intruksi Presiden tentang
Gerakan Nasional Anti Seksual Terhadap Anak. "Gerakan ini akan dilaksanakan Bulan Juni nanti,"
tambahnya.









Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia
( Beberapa waktu terakhir )
Kasus-Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia

Menurut Pasal 1 Angka 6 No. 39 Tahun 1999 yang dimaksud dengan pelanggaran hak
asasi manusia setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara,
baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi,
menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau
kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang dan tidak mendapatkan atau
dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyesalan hukum yang adil dan benar
berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
Hampir dapat dipastikan dalam kehidupan sehari-hari dapat ditemukan pelanggaran hak
asasi manusia, baik di Indonesia maupun di belahan dunia lain. Pelanggaran itu, bisa
dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat, baik secara perorangan ataupun
kelompok.
Kasus pelanggaran HAM ini dapat dikategorikan dalam dua jenis, yaitu :
a. Kasus pelanggaran HAM yang bersifat berat, meliputi :
1. Pembunuhan masal (genisida)
2. Pembunuhan sewenang-wenang atau di luar putusan pengadilan
3. Penyiksaan
4. Penghilangan orang secara paksa
5. Perbudakan atau diskriminasi yang dilakukan secara sistematis

b. Kasus pelanggaran HAM yang biasa, meliputi :
1. Pemukulan
2. Penganiayaan
3. Pencemaran nama baik
4. Menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya
5. Menghilangkan nyawa orang lain

Setiap manusia selalu memiliki dua keinginan, yaitu keinginan berbuat baik, dan
keinginan berbuat jahat. Keinginan berbuat jahat itulah yang menimbulkan dampak
pada pelanggaran hak asasi manusia, seperti membunuh, merampas harta milik orang
lain, menjarah dan lain-lain.
Pelanggaran hak asasi manusia dapat terjadi dalam interaksi antara aparat pemerintah
dengan masyarakat dan antar warga masyarakat. Namun, yang sering terjadi adalah
antara aparat pemerintah dengan masyarakat.
Apabila dilihat dari perkembangan sejarah bangsa Indonesia, ada beberapa peristiiwa
besar pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dan mendapat perhatian yang tinggi
dari pemerintah dan masyarakat Indonesia, seperti :

a. Kasus Tanjung Priok (1984)
Kasus tanjung Priok terjadi tahun 1984 antara aparat dengan warga sekitar yang berawal
dari masalah SARA dan unsur politis. Dalam peristiwa ini diduga terjadi pelanggaran
HAM dimana terdapat rarusan korban meninggal dunia akibat kekerasan dan
penembakan.

b. Kasus terbunuhnya Marsinah, seorang pekerja wanita PT Catur Putera Surya Porong,
Jatim (1994)
Marsinah adalah salah satu korban pekerja dan aktivitas yang hak-hak pekerja di PT
Catur Putera Surya, Porong Jawa Timur. Dia meninggal secara mengenaskan dan
diduga menjadi korban pelanggaran HAM berupa penculikan, penganiayaan dan
pembunuhan.

c. Kasus terbunuhnya wartawan Udin dari harian umum bernas (1996)
Wartawan Udin (Fuad Muhammad Syafruddin) adalah seorang wartawan dari harian
Bernas yang diduga diculik, dianiaya oleh orang tak dikenal dan akhirnya ditemukan
sudah tewas.

d. Peristiwa Aceh (1990)
Peristiwa yang terjadi di Aceh sejak tahun 1990 telah banyak memakan korban, baik
dari pihak aparat maupun penduduk sipil yang tidak berdosa. Peristiwa Aceh diduga
dipicu oleh unsur politik dimana terdapat pihak-pihak tertentu yang menginginkan Aceh
merdeka.

e. Peristiwa penculikan para aktivis politik (1998)
Telah terjadi peristiwa penghilangan orang secara paksa (penculikan) terhadap para
aktivis yang menurut catatan Kontras ada 23 orang (1 orang meninggal, 9 orang
dilepaskan, dan 13 orang lainnya masih hilang).

f. Peristiwa Trisakti dan Semanggi (1998)
Tragedi Trisakti terjadi pada 12 Mei 1998 (4 mahasiswa meninggal dan puluhan lainnya
luka-luka). Tragedi Semanggi I terjadi pada 11-13 November 1998 (17 orang warga
sipil meninggal) dan tragedi Semanggi II pada 24 September 1999 (1 orang mahasiswa
meninggal dan 217 orang luka-luka).

g. Peristiwa kekerasan di Timor Timur pasca jejak pendapat (1999)
Kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia menjelang dan pasca jejak pendapat 1999 di
timor timur secara resmi ditutup setelah penyerahan laporan komisi Kebenaran dan
Persahabatan (KKP) Indonesia - Timor Leste kepada dua kepala negara terkait.

h. Kasus Ambon (1999)
Peristiwa yang terjadi di Ambon ni berawal dari masalah sepele yang merambat
kemasala SARA, sehingga dinamakan perang saudara dimana telah terjadi
penganiayaan dan pembunuhan yang memakan banyak korban.

i. Kasus Poso (1998 2000)
Telah terjadi bentrokan di Poso yang memakan banyak korban yang diakhiri dengan
bentuknya Forum Komunikasi Umat Beragama (FKAUB) di kabupaten Dati II Poso.

j. Kasus Dayak dan Madura (2000)
Terjadi bentrokan antara suku dayak dan madura (pertikaian etnis) yang juga memakan
banyak korban dari kedua belah pihak.


k. Kasus TKI di Malaysia (2002)
Terjadi peristiwa penganiayaan terhadap Tenaga Kerja Wanita Indonesia dari persoalan
penganiayaan oleh majikan sampai gaji yang tidak dibayar.

m. Kasus-kasus lainnya
Selain kasusu-kasus besar diatas, terjadi juga pelanggaran Hak Asasi Manusia seperti
dilingkungan keluarga, dilingkungan sekolah atau pun dilingkungan masyarakat.
Contoh kasus pelanggaran HAM dilingkungan keluarga antara lain:
1. Orang tua yang memaksakan keinginannya kepada anaknya (tentang
masuk sekolah, memilih pekerjaan, dipaksa untuk bekerja, memilih jodoh).
2. Orang tua menyiksa/menganiaya/membunuh anaknya sendiri.
3. Anak melawan/menganiaya/membunuh saudaranya atau orang tuanya
sendiri.
4. Majikan dan atau anggota keluarga memperlakukan pembantunya
sewenang-wenang dirumah.

Contoh kasus pelanggaran HAM di sekolah antara lain :
1. Guru membeda-bedakan siswanya di sekolah (berdasarkan kepintaran,
kekayaan, atau perilakunya).
2. Guru memberikan sanksi atau hukuman kepada siswanya secara fisik
(dijewer, dicubit, ditendang, disetrap di depan kelas atau dijemur di tengah
lapangan).
3. Siswa mengejek/menghina siswa yang lain.
4. Siswa memalak atau menganiaya siswa yang lain.
5. Siswa melakukan tawuran pelajar dengan teman sekolahnya ataupun
dengan siswa dari sekolah yang lain.
Contoh kasus pelanggaran HAM di masyarakat antara lain :
1. Pertikaian antarkelompok/antargeng, atau antarsuku(konflik sosial).
2. Perbuatan main hakim sendiri terhadap seorang pencuri atau anggota
masyarakat yang tertangkap basah melakukan perbuatan asusila.
3. Merusak sarana/fasilitas umum karena kecewa atau tidak puas dengan
kebijakan yang ada.


Bom Bali I ( 12 Oktober 2002 )

Bom Bali terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002 di kota kecamatan Kuta di pulau
Bali, Indonesia, mengorbankan 202 orang dan mencederakan 209 yang lain, kebanyakan
merupakan wisatawan asing. Peristiwa ini sering dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah
dalam sejarah Indonesia.

Beberapa orang Indonesia telah dijatuhi hukuman mati karena peranan mereka dalam
pengeboman tersebut. Abu Bakar Baashir, yang diduga sebagai salah satu yang terlibat dalam
memimpin pengeboman ini, dinyatakan tidak bersalah pada Maret 2005 atas konspirasi serangan
bom ini, dan hanya divonis atas pelanggaran keimigrasian.

Korban Bom Bali I

* Australia 88
* Indonesia 38 (kebanyakan suku Bali)
* Britania Raya 26
* Amerika Serikat 7
* Jerman 6
* Swedia 5
* Belanda 4
* Perancis 4
* Denmark 3
* Selandia Baru 3
* Swiss 3
* Brasil 2
* Kanada 2
* Jepang 2
* Afrika Selatan 2
* Korea Selatan 2
* Ekuador 1
* Yunani 1
* Italia 1
* Polandia 1
* Portugal 1
* Taiwan 1

Pelaku Bom Bali I

* Abdul Goni, didakwa seumur hidup
* Abdul Hamid (kelompok Solo)
* Abdul Rauf (kelompok Serang)
* Abdul Aziz alias Imam Samudra, terpidana mati
* Achmad Roichan
* Ali Ghufron alias Mukhlas, terpidana mati
* Ali Imron alias Alik, didakwa seumur hidup
* Amrozi bin Nurhasyim alias Amrozi, terpidana mati
* Andi Hidayat (kelompok Serang)
* Andi Oktavia (kelompok Serang)
* Arnasan alias Jimi, tewas
* Bambang Setiono (kelompok Solo)
* Budi Wibowo (kelompok Solo)
* Dr Azahari alias Alan (tewas dalam penyergapan oleh polisi di Kota Batu tanggal 9 November
2005)
* Dulmatin
* Feri alias Isa, meninggal dunia
* Herlambang (kelompok Solo)
* Hernianto (kelompok Solo)
* Idris alias Johni Hendrawan
* Junaedi (kelompok Serang)
* Makmuri (kelompok Solo)
* Mohammad Musafak (kelompok Solo)
* Mohammad Najib Nawawi (kelompok Solo)
* Umar Kecil alias Patek
* Utomo Pamungkas alias Mubarok, didakwa seumur hidup
* Zulkarnaen

Bom Bali II ( 1 Oktober 2005 )

Pengeboman Bali 2005 adalah sebuah seri pengeboman yang terjadi di Bali pada 1 Oktober
2005. Terjadi tiga pengeboman, satu di Kuta dan dua di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang
tewas dan 196 lainnya luka-luka.

Pada acara konferensi pers, presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan telah
mendapat peringatan mulai bulan Juli 2005 akan adanya serangan terorisme di Indonesia. Namun
aparat mungkin menjadi lalai karena pengawasan adanya kenaikan harga BBM, sehingga
menjadi peka.

Tempat-tempat yang dibom:

* Kaf Nyoman
* Kaf Menega
* Restoran R.AJAs, Kuta Square

Menurut Kepala Desk Antiteror Kantor Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan
(Menko Polhukam), Inspektur Jenderal (Purn.) Ansyaad Mbai, bukti awal menandakan bahwa
serangan ini dilakukan oleh paling tidak tiga pengebom bunuh diri dalam model yang mirip
dengan pengeboman tahun 2002. Serpihan ransel dan badan yang hancur berlebihan dianggap
sebagai bukti pengeboman bunuh diri. Namun ada juga kemungkinan ransel-ransel tersebut
disembunyikan di dalam restoran sebelum diledakkan.

Komisioner Polisi Federal Australia Mick Keelty mengatakan bahwa bom yang digunakan
tampaknya berbeda dari ledakan sebelumnya yang terlihat kebanyakan korban meninggal dan
terluka diakibatkan oleh shrapnel (serpihan tajam), dan bukan ledakan kimia. Pejabat medis
menunjukan hasil sinar-x bahwa ada benda asing yang digambarkan sebagai "pellet" di dalam
badan korban dan seorang korban melaporkan bahwa bola bearing masuk ke belakang tubuhnya

Korban Bom Bali II

23 korban tewas terdiri dari:

* 15 warga Indonesia Flag of Indonesia.svg
* 1 warga Jepang Flag of Japan.svg
* 4 warga Australia Flag of Australia.svg
* tiga lainnya diperkirakan adalah para pelaku pengeboman.

Pelaku Bom Bali II

Inspektur Jenderal Polisi Ansyaad Mbai, seorang pejabat anti-terorisme Indonesia melaporkan
kepada Associated Press bahwa aksi pengeboman ini jelas merupakan "pekerjaan kaum teroris".

Serangan ini "menyandang ciri-ciri khas" serangan jaringan teroris Jemaah Islamiyah, sebuah
organisasi yang berhubungan dengan Al-Qaeda, yang telah melaksanakan pengeboman di hotel
Marriott, Jakarta pada tahun 2003, Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada tahun 2004, Bom
Bali 2002, dan Pengeboman Jakarta 2009. Kelompok teroris Islamis memiliki ciri khas
melaksanakan serangan secara beruntun dan pada waktu yang bertepatan seperti pada 11
September 2001.

Pada 10 November 2005, Polri menyebutkan nama dua orang yang telah diidentifikasi sebagai
para pelaku:

* Muhammad Salik Firdaus, dari Cikijing, Majalengka, Jawa Barat - pelaku peledakan di Kaf
Nyoman
* Misno alias Wisnu (30), dari Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Cilacap, Jawa
Tengah - pelaku peledakan di Kaf Menega

Kemudian pada 19 November 2005, seorang lagi pelaku bernama Ayib Hidayat (25), dari
Kampung Pamarikan, Ciamis, Jawa Barat diidentifikasikan.