Anda di halaman 1dari 13

Table of Contents

Pendidikan Karakter Anak Usia Dini, Gagasan yang Menuju Tindakan ........................................................ 2
proses belajar pada anak .............................................................................................................................. 2
Tujuan Pendidikan Karakter pada Usia Dini .................................................................................................. 3



Pendidikan Karakter Anak Usia Dini, Gagasan yang Menuju Tindakan

Karakter Anak usia dini (0-6 th) adalah unik. Mereka aktif, spontan, ceria, dan penuh rasa ingin tahu.
Smua stimulus akan direspon pada usia ini, semua informasi akan diserap dan mereka akan menangkap
apa saja yang ada disekitarnya. Anak-anak aktif dan belajar melalui semua inderanya.
Anak usia dini kita ibaratkan seperti spons yang menyerap smua yang ada di sekelilingnya dan semua
yang diserap itu akan menjadi fondasi penting dalam pembentukan kepribadiannya kelak.
Pendidikan karakter pada usia dini merupakan proses belajar tentang segala aspek dan komponen yang
dibutuhkan untuk membentuk kepribadian yang matang dan paripurna, dimana orang tua, guru,
lingkungan dan masyarakat berperan sebagai pilar utamanya. pada usia ini anak sangat membutuhkan
keteladanan, bukan hanya sekedar nasehat atau norma tertulis.

proses belajar pada anak

Imitasi adalah proses meniru atau mencontoh, dimana pada pada anak usia dini proses inilah yang
pertama dilakukannya dalam memenuhi rasa ingin tahu dan merespon stimulasi lingkungan. Anak akan
meniru smua yang dia lihat, dengar dan rasakan dari lingkungan.
Identifikasi adalah proses selanjutnya ketika imitasi diberi penguatan berupa reward and punisment
serta dilengkapi dengan deskripsi yang baik. Anak akan belajar mengenali semua prilaku yang ditirunya
dan mulai bisa membedakan mana prilaku yang dapat diterima dan memberi dampak positif serta mana
prilaku yang tidak bisa diterima dan memberi dampak negatif.
Internalisasi adalah proses pemahaman ketika prilaku yang suhat dikenalinya mulai dibiasakan dan
diberi penguatan sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Internalisasi inilah yang kemudian
membetuk pemahaman anak dan membangun fondasi kepribadiannya secara utuh.
Misalnya, anak meniru tokoh kartunnya yang suka melempar barang ketika bertarung, ini adalah proses
imitasi dan biasanya dilakukannya ketika bermain peran dengan teman-temannya. Orang tua dan
gurunya membantu melakukan proses identifikasi bahwa melempar barang kepada teman tidak bisa
diterima karena akan menyakiti teman dan hal tersebut tidak sopan, maka disini anak belajar untuk
membedakan prilaku mana yang bisa diterima oleh masyarakat dan yang mana yang tidak. Prilaku
positifnya diberi penguatan dengan pujian atau hadiah yang lain sehingga akan berulang dan cenderung
menetap. Kebiasaan dan pemahaman terhadap prilakunya inilah yang kemudian terinternalisasi dalam
karakternya dan menjadi komponen dalam pembentukan kepribadian.

Tujuan Pendidikan Karakter pada Usia Dini
Belajar adalah hakekat manusia, dilakukan semenjak manusia ada di dalam kandungan sampai ke
penghujung usianya nanti. Maka pendidikan karakter pada usia dini bertujuan untuk membantu proses
belajar anak dalam pemahaman norma dan nilai sehingga mampu memilki semua komponen yang
dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang berkualitas dan paripurna yang sesuai dengan perkembangan
zamannya.
Pendidikan karakter menjadi sesuatu yang urgen pada saat ini karena semakin maraknya terjadi
demoralisasi dan degedrasi pengetahuan dalam masyarakat. Masyarakat cenderung lebih menghargai
keunggulan intelektual dan menyampingkan kematangan emosianal, sosial dan spiritual. Banyak muncul
lulusan sekolah dan sarjana yang berotak cerdas tetapi mentalnya lemah dan prilakunya tidak terpuji.
Penelitian telah mengungkapkan bahwa ternyata keberhasilan dan kesuksesan seseorang tidak semata-
mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemapuan teknis (hard skill) semata tetapi jug oleh kemampuan
mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Berangkat dari sinilah maka pendikikan karakter sebaiknya masuk pada ranah terkecil dan dimulai sedini
mungkin agar lahir generasi penerus yang memilki kepribadian berkualitas dan paripurna sehingga
mampu menjadi penopang bagi bangsa yang hebat, tangguh dan mampu berperan dalam tataran dunia.
Nilai-nilai Karakter yang Dikembangkan Pada Usia Dini
Nilai spiritual dalam hubungannya dengan Tuhan. Nilai ini bersifat religius, dimana anak belajar
untuk memahami bahwa pikiran, perkataan dan tindakannya diusahakan selalu didasari oleh nilai
keTuhanan dan ajaran agamanya
Nilai yang berhubungan dengan dirinya sendiri secara internal, seperti kejujuran, tanggung jawab,
disiplin, mandiri, percaya diri, kreatifitas, hidup sehat dan cinta ilmu.
Nilai yang berhubungan dengan sesama dan lingkungan, seperti memahami hak diri sendiri dan
orang lain, patuh pada aturan, menghargai orang lain dan bersikap santun.
Penerapan Pendidikan Karakter Pada Usia Dini
Membangun konsep diri positif
Pribadi yang produktif dan bijaksana terbukti memilki konsep diri positif, dimana mereka mampu
mengenali kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri yang kemudian berhasil mengembangkan kelebihan
yang dimilikinya serta mampu mengatasi kekurangannya dengan melakukan kompromi dan kerjasama
dengan lingkungan sosialnya.

Konsep diri positif adalah modal penting bagi anak usia dini untuk bisa memandang dirinya sendiri
sebagai pribadi yang baik sehingga kelak pada usia remaja dan dewasa individu tersebut juga memilki
tolak ukur diri yang baik serta mampu bekerjasama dengan lingkungan sosial secara proporsional.

Pada penerapannya konsep diri anak dibangun melalui penerimaan yang baik dari orang tua, guru dan
lingkungan terhadap kondisinya. Anak diterima dengan segala kelebihan dan kekurangan yang
dimilikinya. Kelebihan anak kita kembangkan dan di sisi lain kita membantu untuk mengatasi
kekurangannya. Jangan menilai anak secara subyektif melalui sudut pandang dewasa tetapi berusahalah
mememahami mereka sesuai dengan tahap perkembangan usianya serta keunikannya.

Orang tua dan guru diharapkan mampu membangun komunikasi dua arah yang ideal dengan anak.
Biasakan untuk menyimak apa yang disampaikan anak tanpa melakukan kritik atau mengecilkan
pendapatnya. Biarkan anak menyampaikan pendapatnya secara aktif. Beri teladan dan bimbingan dalam
proses diksusi tersebut agar anak belajar cara komunikasi yang efektif, kapan dia sebaiknya
mendengarkan dan kapan dia harus bicara.

Kemampuan komunikasi positif adalah salah satu modal terpenting bagi anak untuk menyampaikan
pikiran dan isi hatinya dengan asertif dan santun. Di kemudian hari kemampuan ini akan sangat berguna
dalam perannya sebagai anggota masyarakat sosial.

Selain itu komunikasi yang baik antara orang tua, guru dan anak akan membantu menjalin kedekatan
satu sama lain. Hal ini juga memudahkan orang tua dan guru untuk mentranfer nilai-nilai kebijakan pada
anak tanpa kesan menghakimi atau menggurui.
Anak yang mendapatkan penerimaan tanpa syarat akan belajar menghargai dirinya sendiri dan
berkembang menjadi anak yang bahagia. Kemampuan untuk bahagia inilah yang kemudian akan
mengantarkannya menjadi pribadi yang penuh syukur dan berusaha berguna bagi sekelilingnya.

Tak peduli betapapun berhasilnya anak dalam kehidupannya kelak, kalau ia tak pernah belajar merasa
bahagia pada awal hidupnya maka ia tidak akan bahagia.

Menanamkan nilai spiritual
Pada anak usia dini penjelasan nilai spiritual sebaiknya masih dalam bentuk konkret, karena pada
tahapan usia ini mereka belum memahami nilai spritual abstak seperti yang dipahami oleh orang
dewasa.

Misalnya, mereka belum paham konsep dosa sehingga kalau dia berteriak pada ibunya dan kita
mengancam dengan bahwa sikapnya itu akan membuat dia berdosa, maka kemungkinan prilaku itu akan
berulang kembali, karena dosa adalah konsep abstak. Sebaiknya kita jelaskan bahwa berteriak pada ibu
itu membuat ibunya sedih, hal ini jauh lebih mudah dipahaminya, karena ibu yang sedih jauh lebih
konkret baginya.
Setelah itu kita lanjutkan penjelasan bahwa Tuhan sangat sayang padanya, sangat sayang pada anak
yang sabar dan bertutur kata baik, sama seperti ibu juga sayang sekali padanya.

Penanaman nilai spritual pada usia dini sebaiknya diberikan bukan dalam konsep dogmatis atau bentuk
hafalan dan ritual tanpa makna, melainkan dalam bentuk keteladanan dalam prilaku sehari-hari dan
pengambaran kasih sayang Tuhan terhadap umatnya secara universal.

Misalnya anak dibiasakan membaca doa sebelum dan sesudah makan, namun juga diberi penjelasan
bahwa itu adalah caranya berterima kasih pada Tuhan atas makanan yang tersaji, bahwa Tuhan sangat
sayang padanya sehingga memberi makanan yang bisa membuatnya kuat dan sehat. Kebiasaan ini
sebaiknya dilakukan orang tua secara konsisten sebagai keteladanan, sehingga anak memahaminya
sebagai nilai spiritual yang termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya ritual tanpa makna.

Nilai spritual sangat penting bagi anak. Karena nilai ini akan menjadi dasar kepribadian yang rendah hati,
bijaksana dan santun. Pribadi yang akan memanifestasikan nilai dan norma agama dalam setiap aspek
kehidupanya, bukan hanya menjalankan ritual tanpa makna.

Pemahaman terhadap nilai spiritual yang baik akan membuatnya memahami bahwa ada yang jauh lebih
besar dari dirinya, sehingga tetap berani bermimpi besar, berusaha kuat namun tetap berpijak di bumi.

Memberi teladan dan membiasakan prilaku yang baik
Sesuai proses belajar pada anak usia dini maka tahap awal dari belajarnya adalah meniru dan kemudian
mebiasakannya sebelum terbentuk menjadi karakter. Sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek
terpenting dalam hal ini adalah keteladanan.

Keteladanan membutuhkan konsistensi. Hal ini mudah dikatakan tapi belum tentu mudah dalam
pelaksanaan. Oleh sebab itulah dibutuhkan kerjasama antara orang tua, guru dan lingkungan untuk
membangun tempat hidup yang positif bagi anak.

Orang tua dan guru sebagai pihak yang terdekat dengan anak sebaiknya merenungkan kembali peran
dan fungsi utama kita dalam membangunan karakter dan intelektual anak, sehingga kita selalu
terdorong untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas diri.

Mendorong rasa ingin tahu dan proses kreatif
Pada tataran ini orang tua dan guru diharapkan menciptakan lingkungan terbuka bagi anak, dimana
mereka mampu mengeksplorasi dunianya dalam bimbingan dan rasa aman.

Budayakan diskusi di rumah dan sekolah, sehingga anak terlatih menyampaikan rasa ingin taunya
dengan vara yang santun dan baik namun tetap mendapatkan informasi akurat yang dibutuhkan. Diskusi
juga membantu melatih anak untuk mampu berpikir kritis dan mengasah logikanya.

Semua proses kreatif tidak mungkin lepas dari kesalahan dan kegagalan. Biasakan anak untuk
memahami bahwa salah dan gagal bukan hal buruk selama dia mau bertanggung jawab dan
memperbaikinya. Orang tua dan guru sebaiknya memahami bahwa kesalahan dan kegagalan yang
dibuat anak adalah caranya mempelajari suatu keterampilan. Sehingga kita tidak perlu bereaksi
berlebihan ketika anak melakukannya, kita justu diharapkan mampu mendorongnya untuk
mengidentifikasi kesalahannya dan membimbingnya utuk memperbaiki dan melakukan dengan lebih
baik lagi nantinya.

Proses ini juga akan mendorong anak untuk mencintai belajar, mencintai ilmu. Mereka akan memahami
bahwa belajar adalah caranya untuk memperkaya diri dengan pengetahuan, bukan hanya sekedar
mencari nilai di atas kertas.
Anak akan memahami bahwa proses belajar itu menyenangkan, karena kesalahan tidak membuat
mereka takut namun semakin mendorong rasa ingin taunya dan mengajarkan tentang nilai-nilai
kehidupan.

Pencapaian yang didapat anak dari proses kreatif ini akan meningkatkan rasa percaya diri dan
keterampilan untuk selalu mengembangkan diri.

Anak yang memilki keterampilan untuk mengidentifikasi kesalahannya akan berkembang menjadi
pribadi yang mampu melakukan introspeksi diri dan penuh tanggung jawab.
Anak yang belajar memperbaiki kesalahannya akan berkembang menjadi pribadi yang jujur, tangguh,
konsisten dan inovatif.
Anak yang memiliki ruang untuk melatih kreatifitasnya akan menjadi pribadi yang produktif dan
bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Melatih keterampilan sosial
Pada anak usia dini prilaku egosentris masih sangat dominan, hal ini wajar karena mereka memang
sedang membangun konsep keakuan dalam kepribadiannya.

Walaupun proses ini masih sangat dominan namun penting sekali memberi ruang anak untuk melatih
keterampilan sosialnya karena latihan sejak dini akan memudahkannya untuk melakukan identifikasi
prilaku dan pemahaman norma. Kelak mereka akan lebih mudah memahami perilaku mana yng bisa dan
tidak bisa diterima oleh sekelilingnya dan hal ini akan membantu pada proses adaptasi dalam
masyarakat.

Anak sudah bisa dikenalkan pada lingkungan lain selain rumah dan sekolahnya, misalnya ikut dalam
kegiatan sosial dengan ibunya atau ikut les menari yang sesuai minatnya. Cara ini akan membantu anak
mengenali bahwa ada dunia lain yang lebih luas selain di rumah dan di sekolah, juga bisa membantunya
memahami berbagai macam karakter orang dan berbagai aturan serta norma yang berbeda dalam tiap
lingkungan.

Proses di atas juga dapat membantu mengasah empati dan simpati anak. Dengan mengenal banyak
karakter lain anak akan belajar untuk memahami perasaan orang lain dan berusaha menempatkan
dirinya pada posisi tersebut. Misalnya ketika dia merebut mainan teman, maka dia akan belajar
berempati bahwa temannya sedih dengan sikap itu, maka kelak dia tidak akan mengulanginya agar
temannya mau bermain bersama lagi.
Pengalaman tersebut akan memberinya pelajaran berharga yang tidak bisa dilatih hanya dengan
nasehat atau cerita dari orang tuanya.

Selain itu anak juga perlu berlatih untuk bersikap asertif, yaitu mampu berkata tidak namun dengan cara
yang santun dan tidak menyinggung pihak yang kita tolak. Pribadi yang matang sebaiknya memilki
asertifitas yang baik pula, sehingga mampu memilah hal yang baik dan tidak untuk dirinya serta dapat
menolak hal-hal yang tidak baik tersebut namun tetap memilki hubungan yang baik dengan semua
pihak.
Misalnya melatihnya untuk menolak dan tidak ikut-ikutan ketika temannya memperolok teman yang
lain, ajarkan dia untuk menyampaikan pendapatnya. Sampaikan bahwa dia tidak mau ikutan kalau masih
nakal n olok-olok teman yang lain karena itu akan membuat orang lain sedih, tapi kalau nanti mereka
sudah jadi anak baik lagi bisa berteman kembali. Hal ini lebih konkret dan lebih mudah dipahami pada
tahapan usia dini.

Anak yang melatih keterampilan sosialnya sejak dini akan berkembang menjadi pribadi yang mudah
beradaptasi, memiliki kebesaran hati dan kedermawanan yang baik.
Anak adalah jejak kita di bumi, semua kebaikan yang kita usahakan akan diteruskan oleh mereka.
Bimbing dan didiklah mereka segna segenap cinta, kasih sayang dan ilmu yang kita milki, sehingga
mereka menjadi insan yang mencintai Tuhannya dan dicintai olehn sesamanya.
Demikian materi ini kami susun, semoga dapat menjadi manfaat dan salah satu sumber semangat serta
inspirasi dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan anak-anak kita bersama.
Doa dan harapan terbaik kami bagi anak Indonesia, generasi penerus yang membahagiakan dan
membanggakan, insyaalloh..amin amin ya rabbalalamin.
Character Education Early Childhood , Actions Towards idea

Character Early childhood ( 0-6 years ) is unique . They are active , spontaneous , cheerful , and full of
curiosity. Whole stimulus will respond at this age , all the information will be absorbed and they 'll catch
whatever is around. Children active and learning through all the senses .
Early childhood can be compared to a sponge that absorbs smua around him and all that absorbed it will
be an important foundation in the formation of his personality later .
Character education at an early age is a process of learning about all aspects and components required
to form a mature personality and plenary , where parents , teachers , and community environments act
as the main pillar . at this age children are in need of an exemplary , not just advice or written norm .

learning process in children

Imitation is the process of imitating or copying , which in the early childhood this is the first process does
meet curiosity and respond to environmental stimulation . Children will imitate smua he see, hear and
feel of the environment .
Identification is the next process when imitation was given in the form of reward and reinforcement
punisment and equipped with a good description . Children will learn to recognize all the imitated
behavior and begin to differentiate between acceptable behavior and positive impact and which
behaviors are unacceptable and have a negative impact .
Internalization is the process of understanding when the behavior started Suhat familiar habit and
reinforcement in accordance with the values and norms . Internalization is then set up a children's
understanding and building the foundations of his personality as a whole .
For example , children imitate the cartoon character who likes to throw things when fighting , this is a
process of imitation and usually does when playing the role with his friends . Parents and teachers help
make the process of identification that throwing to friends is unacceptable because it would hurt a
friend and it is not polite , so here children learn to distinguish behavior which can be accepted by the
public and which are not . Given a positive behavior reinforcement with praise or other reward that will
be repeated and tend to settle . Habits and an understanding of its behavior is then internalized in
character and become a component in the formation of personality .

Purpose of Character Education at an Early Age
Learning is the nature of man , since man was made in the womb up to the end of later age . Then the
character at an early age education aims to help children's learning process in understanding the norms
and values so as to have the all the components needed to be a qualified person and complete in
accordance with the development era.
Character education into something that is urgent at this time because of the increasingly widespread
demoralization and degedrasi occur in the knowledge society . Communities tend to be more
appreciative of intellectual superiority and maturity aside emosianal , social and spiritual . Many
emerging graduate school and graduate with a brain smart but mentally weak and his behavior is not
commendable . Research has revealed that in fact the success and the success of a person is not solely
determined by the knowledge and technical Traffic ( hard skills ) but merely jug by the ability to manage
themselves and others ( soft skills ) .
Departing from pendikikan is where the character should go in the realm of the smallest and started as
early as possible so that the next generation is born who has the perfect personality and quality so as to
become a crutch for a great nation , powerful and able to play a role in the level of the world .
Character values Developed In Early Childhood
spiritual value in relation to God . This value is religious , in which children learn to understand that our
thoughts, words and actions are always based on the sought divine values and the teachings of his
religion
The value associated with himself internally , such as honesty , responsibility , discipline , self-
contained , self-confidence , creativity , healthy living and love of science .
The value associated with each other and the environment , such as the right to understand
themselves and others, abide by the rules , respect others and be polite .
Implementation of Character Education In Early Childhood
Building a positive self-concept
Personal productive and have the proven expedient positive self-concept , whereby they are able to
recognize their own strengths and weaknesses which he then managed to develop its advantages and
drawbacks able to cope with a compromise and cooperation with the social environment .

Positive self-concept is of capital importance for young children to be able to see themselves as being
good so that later in adolescence and adulthood these individuals also have the good benchmark
themselves and able to cooperate with the social environment proportionally .

In the child 's self-concept application built through good reception from parents , teachers and the
environment condition. Children welcome with all its advantages and disadvantages . The advantages of
our children develop and on the other hand we are helping to overcome its shortcomings . Do not judge
children subjectively through the eyes of an adult but mememahami try them in accordance with the
age and development stage of its uniqueness .

Parents and teachers are expected to build the ideal two-way communication with the child . Get used
to listening to what the child without criticism or shrink opinion. Let the children actively express an
opinion . Give examples and guidance in the diksusi process so that children learn how to effective
communication , when he should listen and when to talk .

Positive communication skills is one of the most important capital for the child to express his mind and
his heart with assertive and polite . At a later date this capability would be very useful in her role as a
member of a social community .

In addition good communication between parents , teachers and children will help to attach to each
other . It also allows parents and teachers to transfer policy values in children without being judgmental
or patronizing .
Children who receive unconditional acceptance will learn to respect themselves and blossom into a
happy child . The ability to be happy is then delivered into the personal gratitude and trying to be useful
to him.

No matter how successful the child in later life , that he never learned to feel happy at the beginning of
his life he will not be happy .

Instilling the value of spiritual
In early childhood explanation spiritual values should be in the form of concrete , because at this stage
of this age they do not understand the value of spiritual abstraction as understood by adults .

For example , they do not understand the concept of " sin " so that when he yelled at her and
threatened us with that attitude it will make him sin , then it is likely that the behavior will be repeated
again , because sin is the concept of abstraction . We should explain that yelling at the mother makes
her sad , it is much easier to understand , because the mother is sadly much more concrete for him .
After that we continue with the explanation that the Lord is very dear to him , was very fond of the child
patient and well -spoken , the same as her mother is also a pity .

Planting spiritual values at an early age should not be given in the form of the concept of rote and
dogmatic or ritual without meaning , but rather in the form of exemplary behavior pengambaran
everyday and love of God to his people universally .

For example, children accustomed to read prayers before and after meals , but also given the
explanation that it was his way of thanking God for the food presented , that the Lord is very dear to him
that gives food that can make it strong and healthy . This habit should parents do consistently as
exemplary , so that children understand the spiritual values manifested in everyday life , not just a ritual
without meaning .

Spiritual values is very important for children . Because this value will be the basis of a humble
personality , thoughtful and polite . One who will manifest the values and norms of religion in every
aspect of his life , not only running the ritual without meaning .

Understanding of the spiritual values that will either make it understand that there are much bigger
than him , so still dare to dream big , strive strong but remains grounded in the earth .

Provide exemplary behavior and good habit
As per the process of learning in early childhood the early stages of learning are imitating and then
mebiasakannya before it is formed into a character . It can be concluded that the most important aspect
in this regard is " exemplary " .

Modeling requires consistency . It is easy to say but not necessarily easy in implementation . That is why
the need for cooperation between parents, teachers and the environment to build a positive life for
children .

Parents and teachers as the party closest to the child should rethink our roles and functions of the main
character and develop their intellectual , so we are always encouraged to continue to learn and improve
the quality of self .

Encourage curiosity and the creative process
At this level of parents and teachers are expected to create an open environment for children , where
they are able to explore their world in a guidance and a sense of security .

Budayakan discussion at home and school , so that children want to convey a sense of well-trained
taunya with vara was polite and well but still get the accurate information needed . Discussion also helps
train children to be able to think critically and hone logic .

All the creative process can not be separated from mistakes and failures . Familiarize children to
understand that one and failed not a bad thing as long as he wants to take responsibility and fix it .
Parents and teachers should understand that mistakes and failures made children is how to learn a skill .
So we do not need to overreact when children do , we magnified expected to push him to identify his
mistakes and lead him weeks to improve and do it better later .

This process will also encourage children to love learning , to love science . They will understand that
learning is a way to enrich themselves with knowledge , not just looking for a value on paper .
Children will understand that learning is fun, because they are afraid of making mistakes is not yet
taunya further encourage curiosity and teach about the values of life .

Obtained from the child's attainment of the creative process will increase the confidence and skills to
constantly develop themselves .

Children who have the skills to identify the mistakes will develop into a capable personal introspection
and responsibility.
Children who learn to correct his mistakes will develop into personal honest , tough , consistent and
innovative .
Children who have space to train personal creativity will be productive and useful , either for himself or
for others .

Training of social skills
In early childhood egocentric behavior is still very dominant , but this is simply because they are building
the concept into " I " early in his personality .

Although this process is still very dominant , but it is important to give children space to practice their
social skills because early exercise will make it easier to identify the behavior and understanding of the
norm . Later they will be easier to understand where the behavior yng can and can not be accepted by
him and this will help in the process of adaptation in society .

Children can be introduced to the environment other than home and school , for example, participate in
social activities with her dancing lessons or participate according to their interests . This will help the
child to recognize that there is another, larger world apart at home and at school , can also help people
to understand the wide variety of characters and a variety of rules and norms that are different in each
environment .

The above process can also help hone children's empathy and sympathy . By getting to know many
other characters children will learn to understand the feelings of others and try to put himself in that
position . For example, when he seized a toy friend , then he will learn that his sad empathize with that
attitude , then later he will not repeat his order would play together again .
The experience will give him valuable lessons that can be trained not only with the advice or stories
from her parents .

In addition, children also need to be trained to be assertive , which is able to say no , but in a way that is
polite and not offend those who we reject . Mature private asertifitas should have the good anyway , so
as to sort out the good stuff and not for himself and can reject things that are not that good but still
have the good relationship with all parties .
For example, trained to reject and not bandwagon when her friends poke another , teach him to express
his opinion . Convey that he does not want to follow that still naughty banter n other friends because it
will make others sad , but if later they had a good girl again be friends again . It is more concrete and
easier to understand at an early age stages .

Children who practice social skills early on will develop into personal adaptable , have the magnanimity
and generosity are good .
Children are our footprint on the earth , all the good that we try to be forwarded by them . Segna
guidance and bring them all the love , affection and the knowledge that we Milki , so that they become a
human being who loved his Lord and loved his neighbor olehn .
Thus the material is structured , may be a benefit and a source of encouragement and inspiration in a
harmonious relationship with our children together .
Our prayers and best wishes for the children of Indonesia , next generation to be happy and proud ,
insyaalloh .. amen amen yes rabbalalamin .