Anda di halaman 1dari 2

Cahaya Mata

Tataplah mata beningnya. Apa yang kau temukan di sana? Dengarlah celotehannya,
apa yang kau rekam darinya? Lihatlah tingkah polanya. Apa yang terlukis disana?
Syukur.
Seharusnyalah hanya kata itu yang tepat dan pantas diungkapkan untuk
menjelaskan segala rasa yang menggumpal di rongga dada ketika 'cahaya mata'
menatap, tersenyum, tertawa bahkan 'berulah' dihadapan saya, umminya.
ersyukurlah seharusnya karena ternyata sang cahaya mata tercipta dan terlahir
sempurna. Tumbuh dan berkembang sempurna. Tengkurap, merangkak, merambat,
berdiri, berjalan dan berlari, melompat bahkan rolling dengan sempurna.
ersyukurlah seharusnya ketika usia delapan bulan bibir mungil itu mulai
mengeja !abbah...abbah! memanggil abi, ayahnya. Terharu melihat usahanya mengucap
kata demi kata, merangkai kalimat demi kalimat. "ingga kini lancar bicara dan
mengha#al surah.
ersyukurlah seharusnya kala jari$jari lentik itu melakukan kerja$kerja motorik
halus dan kasar. %erapihkan mainannya yang berantakan, memakai baju sendiri,
mengenakan sepatu sendiri, menyuap makanannya sendiri. %encorat$coret buku dengan
tulisannya.
Lucu ketika mendengar alasannya melakukan semua tadi, !&ida kan udah besar!.
'adahal usianya baru saja tiga tahun.
Tiba$tiba ada rasa malu yang menjalar, ada rasa sesal yang mendalam mengingat
reaksi yang saya lakukan ketika sang buah hati membuat ulah. Layar dihadapan saya
terbentang lebar$lebar, menayangkan kaleidoskop kehidupan yang saya jalani dengan
anak tercinta.
(etika ia mencorat$coret dinding, bermain air, bermain pasir, mengacak$acak
lemari pakaian, melompat$lompat di tempat tidur yang telah rapi tertata. Ada marah
yang menggelegak, ada kesal yang terucap, ada wajah$wajah masam. Ada tangis juga.
Tangis penyesalan setelah marah kepadanya, marah yang terbalut na#su.
Lalu dengan tatapan polos dan suara kanak$kanaknya ia berkata !)mmi, marah
ya?!
*a +abb, apa yang telah saya lakukan?
(emana teori sabar yang pernah saya kaji bertahun silam? ahwa ummi adalah
madrasatul aulad. )mmi adalah tempat pertama dan utama anak berguru dalam hidup
ini. Alangkah mudahnya berkata$kata, alangkah tak ringannya mengamalkan kata$kata.
Saya membayangkan, sekiranya Allah memberikan umur panjang, lalu saya
renta, ringkih dan tak berdaya. %asa kanak$kanak saya berulang di usia senja lalu saya
berbuat 'ulah', perlakuan apa yang ingin saya dapatkan dari anak saya kelak?
Saya bayangkan sekiranya anak saya marah, kesal, jengkel dan berwajah masam
ketika menyuapi saya, ketika membasuh najis saya disebabkan saya telah lemah, tak
dapat lagi melakukan sendiri pekerjaan$pekerjaan itu. Sakit hati, bukan?
Anak adalah nikmat sekaligus ujian yang Allah curahkan pada saya. Sungguh tak
pantas membalas nikmat dengan maksiat.
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
%aka, seharusnyalah saya hamparkan kesabaran seluas semesta karena saya
tengah mendidik calon khali#ah. *ang tidak hanya akan mengasuh saya di hari tua kelak
tapi juga mengasuh dan memelihara umat manusia untuk taat pada&*A.
%aka, saya tatap mata beningnya. Lalu saya temukan syukur yang tak terkira
atas segala nikmat&*A.