Anda di halaman 1dari 12

1.

Aditya Eka Putra


2.Aprillia Nur Anisa
3.Arif Budi Nugroho
4.Dessy Amelia
5.M.Dwi Ihwanur Riza
6.Robby M. Alfian
7.Syauta, Paula Martha
KELOMPOK 6
PENENTUAN TEKANAN
KAPILER
PADA SAMPLE BATUAN
RESERVOIR
Mengapa Kita harus mempelajari Tekanan Kapiler .... ???
Agar kita dapat mengetahui tekanan kapiler yang ada pada
batuan reservoir

Dengan mengetahui tekanan kapiler yang ada pada batuan
reservoir , selanjutnya dapat mengetahui batas kontak antar fasa
fluida

Sehingga kita bisa mendpatkan distribusi saturasi fluida vertical
untuk menentukan letak kedalaman sumur yang akan dikomplesi
(dalam perencanaan Well Completion)

Apa itu Tekanan Kapiler... ??

Tekanan kapiler (P
c
) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan
yang ada antara permukaan fluida non-wetting fasa (P
nw
)
dengan fluida Wetting fasa (P
w
) sebagai akibat dari
terjadinya pertemuan permukaan (batas kontak) yang
memisahkan mereka.

P
c
= P
nw
- P
w


Di reservoir biasanya air sebagai fasa yang membasahi (wetting
fasa), sedangkan minyak dan gas sebagai non-wetting fasa atau
tidak membasahi.

Dimana :
Pc = tekanan kapiler, dyne/cm2
Pnw= tekanan pada permukaan fluida non wetting phase
,dyne/cm2
Pw = tekanan pada permukaan fluida wetting phase , dyne/cm2

Hubugan tekanan kapiler didalam rongga pori batuan dapat dilakukan
dengan sebuah sistem tabung kapiler .

Dimana Cairan fuida akan cenderung untuk naik bila ditempatkan dalam
sebuah pipa kapiler dengan jari-jari yang sangat kecil .

Hal ini diebabkan oleh adanya tegangan adhesi yang bekerja pada
permukaan tabung .

Besarnya tegangan adhesi dapat diukur dari kenaikan fluida , dimana
gaya total untuk menaikkan fluida = berat kolom fluida

Tekanan didalam tabung kapiler diukur pada sisi batas antara
permukaan dua fasa fluida .
Tekanan kapiler dalam batuan berpori tergantung pada ukuran pori-pori
dan macam fluidanya. Secara kuantitatif dapat dinyatakan dalam
hubungan sebagai berikut:



dimana :
P
c
= tekanan kapiler
= tegangan permukaan antara dua fluida
cos = sudut kontak permukaan antara dua fluida
r = jari-jari lengkung pori-pori
= perbedaan densitas dua fluida
g = percepatan gravitasi
h = tinggi kolom

Dalam Persamaan diatas dapat dilihat bahwa tekanan kapiler
berhubungan dengan ketinggian di atas permukaan air bebas (oil-water
contact), sehingga data tekanan kapiler dapat dinyatakan menjadi plot
antara H versus saturasi air (S
w
).




h g
r
P
c
. .
cos . . 2





Perubahan ukuran pori-pori dan densitas fluida akan mempengaruhi bentuk
kurva tekanan kapiler dan ketebalan zona transisi.

Dari Persamaan diatas ditunjukkan bahwa h akan bertambah jika
perbedaan densitas fluida berkurang, sementara faktor lainnya tetap. Hal ini
berarti bahwa reservoir gas yang terdapat kontak gas-air, perbedaan
densitas fluidanya bertambah besar sehingga akan mempunyai zona transisi
minimum.


Demikian juga untuk reservoir minyak yang mempunyai API gravity rendah
maka kontak minyak-air akan mempunyai zona transisi yang panjang.

Ukuran pori-pori batuan reservoir sering dihubungkan dengan besaran
permeabilitas yang besar akan mempunyai tekanan kapiler yang rendah
dan ketebalan zona transisinya lebih tipis dari pada reservoir dengan
permeabilitas yang rendah.


#Peralatan Pada Percobaan
Mercury Injection Capillary Pressure Apparatus

#Kesimpulan
Penentuan tekanan kapiler dari suatu sampel formasi dapat dikatakan
lebih cepat dan efisien pada distribusi saturasi fluidanya, dari sumur.

Dari percobaan diperoleh dari adanya distribusi tersebut, maka akan
terdapatnya zona transisi karena tidak terdapat batas fluida yang jelas.

Pressure vs Volume
Nilai dari pressure berbanding lurus dengan volume. Semakin besar
volume, maka nilai tekanan akan semakin meningkat.

Correct pressure vs volume Saturation
Nilai dari correct pressure akan berbanding terbalik dengan nilai mercury
saturation. Tetapi penurunannya terjadi secara bertahap. Dari gravik
terlihat ada dua tahap penurunan, yaitu pada 120 atm sampai 10 atm, an 10
atm sampai 0 atm.