Anda di halaman 1dari 15

Gagal Jantung Akut

Kelompok E2

Nurvita Pranasari G1A010054
Febrilia Mutiara Sari G1A010056
Indra Jati Laksana G1A010057
Rahmat Vanadi. N G1A010058


Definisi
Gagal jantung adalah sindrom klinis (sekumpulan
tanda dan gejala) ditandai oleh sesak nafas fatik
(saat istirahat/saat aktivitas) yang disebabkan
oleh kelainan struktur atau fungsi jantung

Gagal jantung akut didefinisikan sebagai
serangan cepat/rapid/onset atau adanya
perubahan dari gejala-gejala atau tanda-tanda
(symptoms and sign) dari gagal jantung yang
berakibat diperlukannya tindakan atau terapi
secara urgent.
Etiologi
Disfungsi miokard
Beban tekanan berlebihan atau pembebanan sistolik (systolic overload)
Beban sistolik yang berlebihan di luar kemampuan ventrikel (systolic
overload)
Beban volume berlebihan atau pembebanan diastolik (diastolic overload)
Peningkatan kebutuhan metabolik atau peningkatan kebutuhan yang
berlebihan (demand overload).
Gangguan pengisian (hambatan input) ventrikel karena gangguan aliran
masuk ke dalam ventrikel
Kelainan otot jantung
Aterosklerosis koroner
Hipertensi sistemik/pulmonal
Peradangan dan penyakit miokardium
Penyakit jantung seperti stenosis katup semilunar, temponade perikardium,
perikarditis konstruktif, stenosis katup AV
Faktor sistemik seperti hipoksia dan anemia
Epidemiologi
23 juta orang di seluruh dunia.
American Heart Association, Tahun 2000 di AS 4,7 juta
orang mengidap GJ, terdapat 550.000 kasus baru per
tahun
Prevalensi di Amerika dan Eropa mencapai 1-2%.
Angka keperawatan pasien yang berhubungan
dengan gagal jantung sebesar 4,7% untuk perempuan
dan 5,1% untuk laki-laki.
Peningkatan prevalensi gagal jantung, mulai 0,8%
untuk orang berusia 50-59 hingga 2,3% untuk orang
dengan usia 60-69 tahun.
Gagal jantung dilaporkan sebagai diagnosis utama
pada pasien di rumah sakit utuk kelompok usia lebih
dari 65 tahun pada tahun 1993.
Patogenesis
1. Aktivasi sistem Renin Angiotensin Aldosteron

Stimulasi sistem RAA konsentrasi renin dan
angiotensin II plasma vasokonstriktor renal
(arteriol eferen) dan sirkulasi sistemik rangsang
pelepasan noradrenalin dari pusat saraf simpatis,
hambat tonus vagal dan merangsang
pelepasan aldosteron retensi natrium dan air,
meningkatkan sekresi kalium.
2. Sistem saraf simpatik (SSS)
Aktivasi sistem simpatis melalui tekanan pada
baroreseptor menjaga cardiac output dengan
meningkatkan denyut jantung, meningkatkan
kontraktilitas serta vasokonstriksi perifer
(peningkatan katekolamin).
Apabila hal ini timbul berkelanjutan dapat
menyebabkan gangguan pada fungsi jantung.
Aktivasi simpatis yang berlebihan dapat
menyebabkan terjadinya apoptosis miosit, hipertofi
dan nekrosis miokard fokal (Jackson G, 2000).

3. Peningkatan kadar Peptida Natriuretik Atrial
(PNA)

Atrial Natriuretic Peptide (ANP) dihasilkan di atrium
sebagai respon terhadap peregangan
menyebabkan natriuresis dan vasodilatasi.
Pada gagal jantung akut, PNA ini diimbangi oleh
efek neurohormonal yang lain sehingga efek
yang sebenarnya menguntungkan buat ginjal
menjadi hilang
Patofisiologi
1. Sesak napas
Peningkatan tekanan pengisian bilik kiri
menyebabkan transudasi cairan ke jaringan paru.
Penurunan compliance paru menambah kerja
napas.
2. Batuk
Terjadi akibat sembab pada bronkus dan
penekanan bronkus atrium kiri yang dilatasi.
3. Takikardi
Peningkatan denyut jantung akibat peningkatan
tonus simpatik. Penurunan curah jantung dan
tekanan darah meningkatan denyut jantung
melalui baroreseptor di aorta dan arteri karotis.
4.Sianosis
Penurunan tekanan oksigen di jaringan perifer
dan peningkatan ekstraksi oksigen terjadi pada
gagal jantung akut akan mengakibatkan
peningkatan methemoglobin (redued Hb) kira-
kira 5g/100ml, sehingga timbul sianosis.
5.Suara jantung
Suara S3 dan S4 akan terdengar yang
menunjukan adanya gagal jantung sistolik dan
atau gagal jantung distolik. Bising jantung sistolik
di apeks yang menunjukan adanya insufisiensi
mitral, akibat dilatasi bilik kiri
Penegakan Diagnosis
1. Anamnesis
Peningkatan volume intravaskular (gambaran dominan)
Ortopnue yaitu sesak saat berbaring
Dipsneu on effort (DOE) yaitu sesak bila melakukan
aktifitas
Paroxymal noctural dipsneu (PND) yaitu sesak nafas tiba-
tiba pada malam hari disertai batuk
Berdebar-debar
Lekas lelah
Batuk-batuk
Peningkatan desakan vena pulmonal (edema pulmonal)
ditandai oleh batuk dan sesak nafas.
Peningkatan desakan vena sistemik seperti yang terlihat
pada edema perifer umum dan penambahan berat
badan.

2. Pemeriksaan Fisik

Auskultasi nadi apikal, biasanya terjadi takikardi (walaupun
dalam keadaan beristirahat)

Bunyi jantung, S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya
kerja pompa. Irama gallop umum (S3 dan S4) dihasilkan
sebagai aliran darah ke atrium yang distensi. Murmur dapat
menunjukkan inkompetensi / stenosis katup.

Palpasi nadi perifer, nadi mungkin cepat hilang atau tidak
teratur untuk dipalpasi dan pulsus alternan (denyut kuat lain
dengan denyut lemah) mungkin ada.

Pemeriksaan kulit : kulit pucat (karena penurunan perfusi perifer
sekunder) dan sianosis (terjadi sebagai refraktori gagal jantung
kronis). Area yang sakit sering berwarna biru/belang karena
peningkatan kongesti vena.

3. Pemeriksaan Penunjang

EKG (elektrokardiogram)
Echokardiogram
Foto rontgen dada
Tes darah BNP untuk mengukur kadar hormon
BNP (B-type natriuretic peptide) yang pada
gagal jantung akan meningkat.
Sonogram
Kateterisasi jantung.
Penatalaksanaan
1.Farmakologi:
Terapi awal gagal jantung akut bertujuan untuk
memperbaiki gejala dan menstabilkan kondisi
hemodinamik, yang meliputi:
Oksigenasi dengan sungkup masker atau CPAP
(Cobtinuous Positive Airway Pressure), target SaO
2
94-
96%
Pemberian vasodilator berupa nitrat atau nitroprusid
dosis diberikan secara titrasi 2-3 menit mulai 5 g/mnt
sampai efek yang dikehendaki atau telah mencapai
dosis 200 g/mnt
Terapi diuretik dengan furosemid atau diuretik kuat
lainnya (dimulai dengan bolus IV dan bila perlu
diterukan dengan infus berkelanjutan) diindikasikan
pada pasien gagal jantung akut dekompenssi yang
disertai gejala retensi cairan.
Cont,,

Pemberian morfin untuk memperbaiki status fisik,
psikologis, dan hemodinamik
Pemberian infus intravena dipertimbangkan
apabila ada kecurigaan tekanan pengisian yang
rendah (law filling pressure)
Pacing, antimalaria atau elektroversi jika terjadi
kelainan denyut dan irama jantung
Mengatasi komplikasi metabolik dan kondisi
spesifik organ lainnya
Non farmakologi:

Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakitnya,
pengobatan serta pertolongan yang dapat dilakukan
sendiri
Perubahan gaya hidup seperti pengaturannutrisi dan
penurunan berat badan pada penderita dengan
kegemukan
Pembatasan asupan garam, konsumsi alkohol, serta
pembatasan asupan cairan perlu diajurkan pada
pasien
Penderita juga dianjurkan untuk berolahraga karena
mempunya efek positif terhadap otot skeletal, fungsi
otonom, dan endotel
Profikasis antibiotik pada operasi dan prosedur gigi
diperlukan terutama pada penderita dengan penyakit
katup primer maupun katup protesis