Anda di halaman 1dari 1

Menganut pola konsumsi vegetarian adalah pilihan, tidak semua orang mampu

menjalaninya. Ada berbagai macam alasan seseorang menganut pola konsumsi vegetarian,
diantaranya adalah karena alasan agama/kepercayaan, kesehatan maupun untuk diet. Vegetarian
mempunyai dua pengertian, yakni pengertian sebagai kata benda dan kata sifat. Sebagai kata
benda, berarti orang yang berpantang makan daging, tetapi hanya makan sayur-sayuran dan
bahan makanan nabati lainnya. Sebagai kata sifat, vegetarian berarti tidak mengandung daging
atau kebiasaaan berpantang daging.
Ada beberapa jenis vegetarian, diantaranya adalah vegan, vegetarian lacto, vegetarian
ovo, vegetarian lacto-ovo, pseudo-vegetarian, pollo-vegetarian, pesco-vegetarian, semi
vegetarian atau flexitarian, dan yang terakhir adalah fruitarian.
Pada kenyataannya, pola konsumsi vegetarian banyak membawa dampak positif bagi
tubuh jika dijalani dengan baik dan tetap memenuhi seluruh kebutuhan gizi. Namun ternyata pola
konsumsi vegetarian tak selamanya berdampak positif. Jika pola konsumsi vegetarian tidak
dijalani dengan baik, tidak diatur dan diawasi secara ketat maka pola vegetarian ini cenderung
mengakibatakan defisiensi beberapa jenis nutrisi, salah satunya adalah defisiensi zat besi.
Zat besi (Fe) merupakan mikroelemen yang esensial bagi tubuh, zat ini terutama
diperlukan dalam hematopoiesis (pembentukan darah) yaitu dalam sintesa haemoglobin (Hb).
Terdapat dua jenis sumber zat besi dalam makanan, yaitu zat besi hem dan bukan hem. Makanan
hewani seperti daging, ikan dan ayam merupakan sumber utama zat besi hem. Sedangkan zat
besi non hem terdapat dalam pangan nabati, seperti sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan
dan buah-buahan.
Orang yang menganut pola konsumsi vegetarian akan cenderung mengalami defisit
sumber zat besi hem, karena mereka tidak mengkonsumsi daging, ikan maupun ayam.