Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I
PENDAHULUAN
Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang
disebabkan oleh bakteri Mikobacterium tuberkulosa. Bakteri ini merupakan
bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk
mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru dibandingkan
bagian lain tubuh manusia. Namun, bakteri TBC ini uga dapat menyerang setiap
bagian dari tubuh seperti tulang belakang, ginal, dan otak. !ika tidak ditangani
dengan baik, penyakit TBC bisa berakibat fatal. TBC menular melalui udara dari
satu orang ke orang lain melalui droplet infection atau dari per"ikan sputumnya.
#nsidensi TBC dilaporkan meningkat se"ara drastis pada dekade terakhir
ini di seluruh dunia. $emikian pula di #ndonesia, Tuberkulosis % TBC merupakan
masalah kesehatan, baik dari sisi angka kematian (mortalitas), angka keadian
penyakit (morbiditas), maupun diagnosis dan terapinya. $engan penduduk lebih
dari &'' uta orang, Indonesia menempati urutan ketiga setelah India dan China
dalam hal umlah penderita di antara && negara dengan masalah TBC terbesar di
dunia.
Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah di dunia termasuk negara
berkembang seperti #ndonesia. (ada anak, selain tatalaksana TB masih kurang
diperhatikan, diagnosis TB pada anak pun masih sulit ditegakkan, sehingga
under/over diagnosis dan under/over treatment sering teradi.
Berbagai upaya diagnosis telah banyak dilakukan baik pemeriksan
serologi maupun kultur untuk men"ari M. tuberculosis. Namun pemeriksaan
penunang tersebut belum mampu menentukan apakah seorang anak sakit TB atau
hanya terinfeksi M. tuberculosis tanpa sakit se"ara sederhana, murah, "epat dan
akurat.
&
TB dapat menyerang semua lapisan, enis kelamin dan usia. Bila TB
teradi pada anak, diagnosis sering terlambat karena keterlambatan anak dibawa
ke petugas kesehatan dalam hal ini dokter. Tidak arang bayi dibawa sudah dalam
keadaan berat seperti TB milier atau meningitis. )ebenarnya bila TB diketahui
lebih awal, kemungkinan menadi berat dapat di"egah.
(1*)

+
BAB II
LAPORAN KASUS
II.1 IDENTIFIKASI
, Nama - .n. .
, /mur - 1* tahun
, !enis kelamin - 0aki-laki
, .lamat - !l.Bungaran 1T.'*%12.'1 kel.3 4ulu
, )tatus - Belum 5enikah
, (ekeraan - )iswa
, .gama - #slam
, 51) - && .pril &'1+
II.2 ANAMNESIS
Tanggal && .pril &'1+, diberikan oleh ibu penderita.
Keluhan utama
Batuk disertai darah seak 6 1* hari )51).
Ria!at "e#$alanan "en!a%it
6 1.7 bulan yang sebelum masuk rumah sakit . 8s mengeluh batuk,
batuk disertai dahak berwarna putih. Batuk darah tidak ada. )etiap batuk
dada terasa sakit tidak ada. Nafsu makan menurun ada. Berat badan
menurun ada. )ering berkeringat di malam hari tidak ada. 9edua tungkai
sembab tidak ada. $emam ada hilang timbul. Nyeri dada tidak ada. 8s
uga mengeluh sesak napas. )esak berkurang saat os istirahat. 8s
mengeluh sering terbangun pada malam hari karena sesak napasnya tidak
ada. 8s lebih nyaman tidur dengan + bantal tersusun untuk mengurangi
sesaknya. )esak dipengaruhi oleh aktifitas, "ua"a,dan emosi tidak ada.
*
5ual dan muntah tidak ada. 9edua tungkai sembab tidak ada. 8s
kemudian berobat ke dokter umum dan kemudian os diberi obat (os tidak
tahu namanya). )etelah minum obat, keluhan batuk dan sesak napas nya
tidak berkurang.
6 1* hari sebelum masuk rumah sakit os mengeluh batuk, batuk
tidak disertai dahak. Batuk darah ada berwarna merah kehitaman,
banyaknya 6 1%* gelas a:ua. )etiap batuk dada terasa sakit tidak ada.
Nafsu makan menurun ada. Berat badan menurun ada. 5ual ada, muntah
tidak ada. Berkeringat di malam hari ada. 9edua tungkai sembab tidak
ada. $emam ada hilang timbul. 8s uga mengeluh sesak napas. )esak
berkurang saat os istirahat. 8s mengeluh sering terbangun pada malam
hari karena sesak napasnya tidak ada. 8s lebih nyaman tidur dengan +
bantal tersusun untuk mengurangi sesaknya. )esak dipengaruhi oleh
aktifitas ada, "ua"a dan emosi tidak ada. B.9 dan B.B tidak ada
kelainan. 8s kemudian berobat ke )p($ di 1) 5uhamadiyah dan telah
dilakukan 1o Thora;. 4asil foto thorak didapatkan kesan TB milier dan
langsung diruuk ke 1)/$ B.1# (alembang dan dirawat inap.
Ria!at Imuni&a&i'
BC< - lengkap
$(T - lengkap
(olio - lengkap
4epatitis B - lengkap
Campak - lengkap
9esan- #munisasi lengkap
Ria!at "en!a%it (ahulu'
a. 1iwayat darah tinggi disangkal
b. 1iwayat kelainan ken"ing tidak ada.
". 1iwayat penyakit antung disangkal.
d. 1iwayat maag tidak ada.
e. 1iwayat minum obat-obatan selama = bulan tidak ada .
Ria!at "en!a%it %elua#)a
7
1iwayat penyakit dengan keluhan yang sama disangkal
II.* PEMERIKSAAN FISIK +22 A"#il 2,1*-
Kea(aan umum
9eadaan umum - tampak sakit sedang
9esadaran - "ompos mentis
Tekanan darah - 1&'%>' mm4g
Nadi - 33 ;%menit, reguler, isi dan tegangan "ukup
(ernafasan - +';%menit
)uhu - +>,*
'
C
$ehidrasi - (-)
<i?i - Cukup
Berat badan - +@ kg
Tinggi badan - 17' "m
#5T - 1>.> kg%m
&

Kea(aan &"e&i.i%
Kulit
2arna sawo matang, turgor kembali "epat, ikterus pada kulit (-), sianosis (-),
s"ar(-), keringat umum(-), keringat setempat (-), pu"at pada telapak tangan
dan kaki (-), pertumbuhan rambut normal.
K/B
Tidak ada pembesaran 9<B pada daerah aksila, leher, inguinal dan
submandibula serta tidak ada nyeri penekanan.
Ke"ala
Bentuk oAal, simetris, ekspresi sakit sedang, dan deformitas (-).
Mata
=
Bksoftalmus dan endoftalmus (-), edema palpebra (-), konungtiAa palpebra
pu"at (C), sklera ikterik (-), pupil isokor, reflek "ahaya normal, katarak
senilis, ar"us senilis, pergerakan mata ke segala arah baik.
Hi(un)
Bagian luar tidak ada kelainan, septum dan tulang-tulang dalam perabaan
baik, tidak ditemukan penyumbatan maupun perdarahan, pernapasan "uping
hidung (-).
Telin)a
Tophi (-), nyeri tekan pro"essus mastoideus (-), pendengaran baik.
Mulut
Tonsil tidak ada pembesaran, pu"at pada lidah (-), atrofi papil (-), gusi
berdarah (-), stomatitis (-), rhagaden (-), bau pernapasan khas (-), faring tidak
ada kelainan.
Lehe#
(embesaran kelenar tiroid tidak ada, !D( (7-&) "m4
&
8, kaku kuduk (-).
Da(a
Bentuk dada simetris, nyeri tekan (-), nyeri ketok (-), krepitasi (-)
Pa#u0"a#u
# -
(-
(-
.-
)tatis simetris kanan kiri, dinamis kanan E kiri.
)tem fremitus paru kanan E kiri
)onor di kedua lapangan paru. Batas paru hepar #C) D linea
mid"laAikula de;tra, peranakkan (C)
Desikuler (C) di kedua lapangan paru, ronki basah halus (C) di kedua
lapangan paru, wheezing (-).
>
1antun)
# -
(-
(-
.-
#ktus kordis tidak terlihat.
#ktus kordis tidak teraba, thrill (-).
Batas antung atas #C) ### linea parasternalis sinistra, batas antung
kanan #C) D linea parasternalis dekstra, batas antung kiri #C) D#
linea a;illaris anterior sinistra
41 E 33 ;%menit, murmur (-), gallop (-)
Pe#ut
# -
(-
(-
.-
$atar, aringan parut ( - ).
0emas, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba, ballotement test
(-),shifting dullnes (-), turgor kulit normal, undulasi (-).
Tympani
Bising /sus (C) 5enurun
Alat %elamin
Tidak diperiksa
E2t#emita& ata&
Butoni, eutrophi, gerakan bebas, kekuatan C7, nyeri sendi (-), edema (-),
aringan parut (-), pigmentasi normal, akral hangat, ari tabuh (-), turgor
kembali "epat, clubbing finger (-), palmar eritema (-).
E2t#emita& 3aah
Butoni, eutrophi, gerakan bebas, kekuatan C7, nyeri sendi (-), edema pretibial
(-%-), pigmentasi normal, akral hangat, clubbing finger (-), turgor kembali
"epat, aringan parut (-).
II. 4. PEMERIKSAAN PENUN1AN/
3
+22 A"#il 2,1*-'
1. Da#ah Rutin
N5. In(i%at5# Ha&il Nilai n5#mal
1. 4emoglobin >.@g%dl 1*-1= g%dl
&. 4ematokrit &7 AolF *'-*3 AolF
+. 0eukosit 1@.7''% mm
+
7'''-1''''%mm
+
*. Trombosit >*@.'''% mm
+
&'''''-7'''''% mmG
7. 0B$ 1+' mm%am 0H1' mm%am
=. 4itung enis-
Basofil
Bosinofil
Batang
)egmen
0imfosit
5onosit
'
&
&
3*
3
*
'-1
1-+
&-=
7'->'
&'-*'
&-3
2. Kimia Klini%
@
22 A"#il 2,1*
*. Ele%t#5lit
N5. In(i%at5# Ha&il Nilai n5#mal
N5. In(i%at5# Ha&il Nilai n5#mal
1. B)) 1*7 mg%dl H &'' mg%dl
&. .sam urat +,= +,*-3,7 mg% dl
+. /reum 1&,7 17-+@
*. 9reatinin 1,& 0 ',@-1,+ mg% dl
7. .lbumin +,@ +,3-7,1 gr% dl
=. <lobulin &.> 1,7-+ gr% dl
>. 9olesterol total
4$0 kolesterol
0$0 kolesterol
Trigliseride
>*
*'
+1
31
H &'' mg% dl
0- I 7' mg% dl
H 1+' mg% dl
H 17' mg% dl
3. Bilirubin total
Bilirubin direk
Bilirubin indirek
',@
',7
',*
'-1,1 mg% dl
H',+7 mg% dl
H',>7 mg% dl
@. )<8T
)<(T
+7
&7
H +> /%0
H *1 /%0
1'
1.
&.
Natrium
9alium
171
*.>
1+7-177 mmol%0
+,7-7,7 mmol.0
4. Da#ah Rutin + 6 Mei 2,1*-
N5. In(i%at5# Ha&il Nilai n5#mal
1. 4emoglobin @.' g%dl 1*-1= g%dl
&. 4ematokrit +' AolF *'-*3 AolF
+. 0eukosit 17,'''% mm
+
7'''-1''''%mm
+
*. Trombosit &=*.'''% mm
+
&'''''-7'''''% mmG
7. 4itung enis-
Basofil
Bosinofil
Batang
)egmen
0imfosit
5onosit
'
&
1
>3
1+
=
'-1
1-+
&-=
7'->'
&'-*'
&-3
6. R5nt)ent Th5#a%& PA
11
<ambar rontgen thoraks (. (1> .pril &'1+)
Bkspertise -
(ulmo - tampak infiltrate berukuran milier di seluruh lapangan paru
Cor - dalam batas normal
)inus "ostofrenikus kanan dan kiri lan"ip
$iafragma baik
9esan - TB paru milier
1&
<ambaran roentgen (. thoraks (. (+' .pril &'1+)
Bkspertise -
(ulmo - tampak infiltrate berukuran milier di seluruh lapangan paru
Cor - dalam batas normal
)inus "ostofrenikus kanan dan kiri lan"ip
$iafragma baik
9esan - TB paru milier
II.6 DIA/NOSIS KER1A
TB 5ilier
II.7 DIA/NOSIS BANDIN/
(neumonia
1+
II.8 PENATALAKSANAAN
Non farmakologis
Bed 1est
(erbaikan gi?i - diet tinggi protein dan kalori
Bdukasi pasien dan keluarga - pengawasan minum obat
Jarmakologis
8ksigen + 0%menit
#DJ$ 10 gtt ;;%m (makro)
Ceftria;on &;1gram
.mbro;ol tab +;1
1anitidin +;1amp
II.9 RENCANA PEMERIKSAAN
BT. #,##,###
II.: PRO/NOSIS
Kuo ad fungtionam - dubia ad bonam
Kuo ad Aitam - dubia ad bonam
RESUME
1*
)eorang anak berinisial ., berumur 1* tahun, 51) && .pril &'1+ dengan
keluhan utama batuk berdarah seak 6 1* hari )51).
6 1.7 bulan yang sebelum masuk rumah sakit . 8s mengeluh batuk, batuk
disertai dahak berwarna putih. Batuk darah tidak ada. )etiap batuk dada terasa
sakit tidak ada. Nafsu makan menurun ada. Berat badan menurun ada. )ering
berkeringat di malam hari tidak ada. 9edua tungkai sembab tidak ada. $emam
ada hilang timbul. Nyeri dada tidak ada. 8s uga mengeluh sesak napas yang
hilang timbul. )esak dipengaruhi aktiAitas. )esak berkurang saat os istirahat. 8s
mengeluh sering terbangun pada malam hari karena sesak napasnya tidak ada. 8s
lebih nyaman tidur dengan + bantal tersusun untuk mengurangi sesaknya. )esak
tidak dipengaruhi oleh udara, "ua"a, dan emosi. 5ual ada dan muntah tidak ada.
9edua tungkai sembab tidak ada. 8s kemudian berobat ke dokter umum dan
kemudian os diberi obat (os tidak tahu namanya). )etelah minum obat, keluhan
batuk dan sesak napas nya tidak berkurang.
6 1* hari sebelum masuk rumah sakit os mengeluh batuk, batuk tidak
disertai dahak. Batuk darah ada berwarna merah kehitaman, banyaknya 6 1%*
gelas a:ua. )etiap batuk dada terasa sakit tidak ada. Nafsu makan menurun ada.
Berat badan menurun ada. 5ual ada, muntah tidak ada. )ering berkeringat di
malam hari ada. 9edua tungkai sembab tidak ada. $emam ada naik turun. Nyeri
dada tidak ada. 8s uga mengeluh sesak napas. 8s merasa sesak saat beraktifitas.
)esak berkurang saat os istirahat. 8s mengeluh sering terbangun pada malam hari
karena sesak napasnya tidak ada. 8s lebih nyaman tidur dengan + bantal tersusun
untuk mengurangi sesaknya. )esak dipengaruhi oleh udara, "ua"a, dan emosi
tidak ada. B.9 biasa. B.B warna hitam tidak ada. 8s kemudian berobat ke )p($
di 1) 5uhamadiyah dan kemudiannya diruuk ke 1)/$ B.1# (alembang dan
dirawat inap.
)elain itu, dari anamnesis riwayat penyakit terdahulu, os tidak pernah
mengalami sakit dan ini adalah pertama kali os sakit dah berobat.
$ari pemeriksaan fisik tanggal && .pril &'1+ ditemukan 8s dengan
keadaan umum sakit sedang, tekanan darah 1&'%>' mm4g , nadi 33 ;%m reguler,
17
isi dan tegangan "ukup, temperatur +>.* LC, dan lau napas +' ;%m. $ari
pemeriksaan fisik kepala, didapatkan palpebra anemis (C). (ada pemeriksaan fisk
paru ditemukan retraksi (C), ronkhi basah halus (C) di kedua lapangan paru,
whee?ing (-). (ada pemeriksaan fisik antung ditemukan dalam batas normal , 41
E 33 ;%menit, murmur(-), gallop (-). $ari pemeriksaan fisik abdomen ditemukan
keadaan perut datar, lemas, hepar dan lien tidak teraba dan pada e;tremitas,
edema pretibial (-).
$ari hasil pemeriksaan penunang pada pemeriksaan laboratorium darah
rutin didpatkan 4emoglobin >,@ g%dl, leukosit 1@,7'' %ul, trombosit >*@,''' %ul,
0B$ 17' mm%am, hitung enis '%&%&%3*%3%* dan kimia darah didapatkan dalam
batas normal dan pada ui BT. didapatkan BT. # (C) BT. ## (C) dan BT. ### (C).
(emeriksaan rontgen thora; didapatkan tampak infiltrate berukuran milier di
seluruh lapangan paru antung dalam batas normal, sinus "ostofrenikus kanan dan
kiri lan"ip dan diafragma baik. 9esannya TB 5ilier.
1=
PERKEMBAN/AN SELAMA RA;AT INAP +FOLLO; UP-
24 a"#il 2,1*
S )esak nafas
O
Kea(aan umum
9esadaran - "ompos mentis
Tekanan darah - 11'%>' mm4g
Nadi - 1'' ;%menit
11 - +';%menit
Temperatur - +=,7LC
Ke"ala' konungtiAa palpebra pu"at (C), sklera ikterik (-)
Lehe# ' !D( (7-&) C5 4
&
8, pembesaran kelenar getah bening (-)
Pa#u0"a#u
# -
(-
(-
.-
)tatis, dinamis simetris paru kanan dan kiri.
)temfremitus kiri E kanan
)onor di kedua lapangan paru. Batas paru hepar #C) D#,
peranakkan (C)
Desikuler C%C, ronkhi basah halus di kedua lapangan paru,
whee?ing (-)
1antun)
# -
(-
(-
.-
#ktus kordis tidak terlihat.
#ktus kordis tidak teraba, thrill (-).
Batas antung atas #C) ### linea parasternalis sinistra,
batas antung kanan #C) D linea parasternalis dekstra,
batas antung kiri #C) D# linea a;illaris anterior sinistra
41 E 1'' ;%menit.
murmur (-), gallop (-)
Pe#ut
# -
(-
(-
.-
$atar dan tidak ada pembesaran, Aenektasi (-)
0emas, nyeri tekan (-), turgor kulit normal.
Timpani, shifting dulllness (-)
Bising usus (C) nemurun
.lat kelamin - tidak diperiksa
B;tremitas atas - edema pretibial -%-
A $yspneu e" TB paru milier C infeksi sekunder
P
#stirahat.
#DJ$ 10F gtt ;;%m (makro)
(emberian 8
&
*-= 0%menit
Ceftria;one &; 1g
5etil (rednisolon *-*-'
.mbro;ol +;1
1ethapy &;1%&
R BT.
1>
26 A"#il 2,1*
S 9eluhan - sesak nafas
O
Kea(aan umum
9esadaran - "ompos mentis
Tekanan darah - 11'%=' mm4g
Nadi - 11' ;%menit
11 - +> ;%menit
Temperatur - +>,=LC
Ke"ala' konungtiAa palpebra pu"at (C), sklera ikterik (-)
Lehe# ' !D( (7-&) C5 4
&
8, pembesaran kelenar getah bening (-)
Pa#u0"a#u
# -
(-
(-
.-
)tatis, dinamis simetris paru kanan dan kiri.
)temfremitus kiri E kanan
)onor di kedua lapangan paru. Batas paru hepar #C) D,
peranakkan (C)
Desikuler C%C, ronkhi basah halus di seluruh lapangan paru,
whee?ing (-)
1antun)
# -
(-
(-
.-
#ktus kordis tidak terlihat.
#ktus kordis tidak teraba, thrill (-).
Batas antung atas #C) ### linea parasternalis sinistra,
batas antung kanan #C) D linea parasternalis dekstra,
batas antung kiri #C) D# linea a;illaris anterior sinistra
41 E 11' ;%menit, (-), gallop (-)
Pe#ut
# -
(-
(-
.-
$atar dan tidak ada pembesaran, Aenektasi (-)
0emas, nyeri tekan (-), lien tidak teraba, turgor kulit normal.
Timpani, shifting dulllness (-)
Bising usus (C) normal
.lat kelamin - tidak diperiksa
B;tremitas atas - edema pretibial -%-
A TB paru milier
P
#stirahat.
8ksigen + 0%menit
#DJ$ 10 gtt ;;%menit
Ceftria;one &; 1g
5etil (rednisolon *-*-'
.mbro;ol +;1
1ethapy &;1%&
14MB
13
6 Mei 2,1*
S $emam
O
Kea(aan umum
9esadaran - "ompos mentis
Tekanan darah - 11'%3' mm4g
Nadi - 1&* ;%menit
11 - +& ;%menit
Temperatur - +3.1LC
Ke"ala' konungtiAa palpebra pu"at (-), sklera ikterik (-)
Lehe# ' !D( (7-&) C5 4
&
8, pembesaran kelenar getah bening (-)
Pa#u0"a#u
# -
(-
(-
.-
)tatis, dinamis simetris paru kanan dan kiri.
)temfremitus kiri E kanan
)onor di kedua lapangan paru. Batas paru hepar #C) D,
peranakkan (C)
Desikuler C%C, ronkhi di kedua lapangan paru, whee?ing (-)
1antun)
# -
(-
(-
.-
#ktus kordis tidak terlihat.
#ktus kordis tidak teraba, thrill (-).
Batas antung atas #C) ### linea parasternalis
sinistra, batas antung kanan #C) D linea
parasternalis dekstra, batas antung kiri #C) D#
linea a;illaris anterior sinistra
41 E 1&* ;%menit, murmur(-), gallop (-)
Pe#ut
# -
(-
(-
.-
$atar dan tidak ada pembesaran, Aenektasi (-)
0emas, nyeri tekan (-), lien tidak teraba, turgor kulit normal.
Timpani, shifting dulllness (-)
Bising usus (C) normal
.lat kelamin - tidak diperiksa
B;tremitas atas - edema pretibial -%-
A TB paru milier
P
#stirahat.
8ksigen *-= 0%menit
#DJ$ $7F C drip aminophilin 1 amp %&* am
5etil (rednisolon *-*-'
.mbro;ol +;1
(CT +;1 9%p
1 1;*7'mg
4 1;3''mg
M &;7''mg
B +;+7'mg
1@
BAB III
TIN1AUAN PUSTAKA
*.1. TB Milie#
+.1.1 $efinisi
Tuber"ulosis adalah penyakit menular pada manusia dan hewan yang
disebabkan oleh spesies Mycobacterium dan ditandai dengan pembentukan
tuberkel dan nekrosis kaseosa (perkeuan) pada aringan-aringan
(+)
.
Tuber"ulosis merupakan infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosa dan ditandai oleh pembentukan granuloma
pada aringan yang terinfeksi dan oleh hipersensitiAitas yang diperantarai
sel (cell-mediated hypersensitivity)
(*)
Tuber"ulosis 5iliaris adalah enis tuber"ulosis yang berAariasi dari
infeksi kronis, progresif lambat hingga penyakit fulminan akut, ini
disebabkan oleh penyebaran hematogen atau limfogen dari bahan kaseosa
terinfeksi ke dalam aliran darah dan mengenai banyak organ dengan
tuberkel-tuberkel mirip benih padi
(+)
.
TB 5ilier merupakan penyakit 0imfo-4ematogen sistemik akibat
penyebaran kuman 5.tuberkulosis dari kompleks primer yang biasanya
teradi dalam waktu &-= bulan pertama setelah infeksi awal.
+.1.& Btiologi
(enyebab Tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis seenis
kuman berbentuk batang dengan ukuran panang 1-*% Nm. )pe"ies lain
yang dapat memberikan infeksi pada manusia adalah M.bovis, M.kansasi,
M.intercellulare. sebagian besar kuman terdiri dari asam lemak (lipid).
0ipid inilah yang membuat kuman lebih tahan asam dan tahan terhadap
trauma kimia dan fisik
(&)
.
&'
Mycobacterium tuberculosa, basilus tuberkel, adalah satu diantara
lebih dari +' anggota genus Mycobacterium yang dikenal dengan baik,
maupun banyak yang tidak tergolongkan. Bersama dengan kuman yang
berkerabat dekat, yaitu M. bovis, kuman ini menyebabkan tuber"ulosis. M
leprae merupakan agen penyebab penyakit lepra. M avium dan seumlah
spesies mikroba"terium lainnya lebih sedikit menyebabkan penyakit yang
biasanya terdapat pada manusia. )ebagian besar mi"obakterium tidak
patogen pada manusia, dan banyak yang mudah diisolasi dari sumber
lingkungan
(*)
. 9uman ini dapat hidup pada udara kering maupun dalam
keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). 4al ini
teradi karena kuman dalam sifat dormant. $ari sifat dormant ini kuman
dapat bangkit kembali dan menadikan tuber"ulosis aktif lagi.
$i dalam aringan, kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni
dalam sitoplasma makrofag. )ifat lain kuman ini adalah aerob. )ifat ini
menunukkan bahwa kuman lebih menyenangi aringan yang tinggi
kandungan oksigennya. $alam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal
paru-paru lebih tinggi daripada bagian lain, sehingga bagian apikal ini
merupakan tempat predileksi penyakit Tuber"ulosis
(&)
5ikrobakterium dibedakan dari lipid permukaannya, yang
membuatnya tahan-asam sehingga warnanya tidak dapat dihilangkan
dengan alkohol asam setelah diwarnai. 9arena adanya lipid ini, panas atau
detergen biasanya diperlukan untuk menyempurnakan perwarnaan
primer
(*)
+.1.+ Bpidemiologi
Tuber"ulosis berlanut sebagai penyebab kematian yang penting.
(ada tahun 1@@1, di .merika )erikat dilaporkan &=.&3+ kasus tuber"ulosis,
dengan angka kasus 1',* per 1''.''' per tahun. .ngka kasus telah
menurun hingga setingkat 7-= persen per tahun, namun seak tahun 1@37
arahnya berbalik, yaitu angka kasus menaik sampai 17,3F selama 7 tahun.
&1
$iperkirakan bahwa 1' uta orang .merika mempunyai hasil test
tuber"ulin yang positif, tetapi kurang dari 1F anak-anak .merika yang
menunukan reaksi terhadap tuber"ulin. (enyakit tuber"ulosis di .merika
/tara "enderung menadi penyakit pada orang tua, penduduk kota yang
miskin, dari golongan ke"il dan penderita .#$)
(*)
. (ada segala umur, rata-
rata kasus di antara orang-orang kulit hitam "enderung dua kali lebih besar
dari pada orang kulit putih. 8rang-orang hispanik, 4aiti dan imigran .sia
Tenggara mempunyai rata-rata kasus yang sama tingginya dengan indiAidu
dari negara asal mereka dan pada indiAidu-indiAidu ini frekuensi penyakit
yang teradi di antara indiAidu mudanya menunukan keadian penyakit ini
pada anak-anak muda di negara mereka.
(ada banyak tempat didunia, penyebaran penyakit tuber"ulosis
menurun, namun pada banyak negara miskin tidaklah demikian. (ada
beberapa negara, perkiraan angka kasus baru adalah sampai setinggi *''
per 1''.''' per tahun.
)ebagaimana di .merika /tara dan Bropa, kemiskinan beralanan
seiringan dengan tuberkulosis. (ada daerah yang preAalensinya tinggi,
preAalensi tuber"ulosis tampak setara pada lingkungan pedesaan dan
perkotaan dan terutama menyerang orang dewasa muda. (ada negara
dengan infeksi 4#D endemik, tuber"ulosis merupakan penyebab tunggal
morbiditas dan mortalitas yang terpenting pada pasien .#$). (erkiraan
yang beralasan tentang besarnya angka tuber"ulosis di dunia adalah
sepertiga populasi dunia terinfeksi dengan M. tuberculosis, bahwa +' uta
kasus tuber"ulosis aktif di dunia, dengan 1' uta kasus baru teradi setiap
tahun, dan bahwa + uta orang meninggal akibat tuber"ulosis setiap tahun
(*)
. Tuber"ulosis mungkin menyebabkan = F dari seluruh kematian di
seluruh dunia.
+.1.* (atofisiologi
&&
+.1.*.1 Tuber"olusis (rimer
(enularan tuber"ulosis paru teradi karena kuman
dibatukkan atau dibersinkan keluar menadi droplet nuclei dalam
udara. (artikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama
1-& am, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraAiolet, Aentilasi
yang baik dan kelembaban. $alam suasana lembab dan gelap
kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan.Bila
partikel ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada alan
nafas atau paru-paru. 9ebanyakan partikel ini akan mati atau
dibersihkan oleh makrofag keluar dari trakeo-bronkhial beserta
gerakan silia dengan sekretnya. 9uman uga dapat masuk melalui
luka pada kulit atau mukosa tapi hal ini sangat arang teradi. Bila
kuman menetap di aringan paru, ia bertumbuh dan berkembang
biak dalam sitoplasma makrofag. $i sini ia dapat terbawa masuk
ke organ tubuh lainnya. 9uman yang bersarang di aringan paru-
paru akan membentuk sarang tuber"ulosis pneumonia ke"il dan
disebut sarang primer atau afek primer. )arang primer ini dapat
teradi dibagian mana saa aringan paru
. (1)
$ari sarang primer ini akan timbul peradangan saluraan
getah bening menuu hilus (limfangitis lokal), dan uga diikuti
pembesaran kelenar getah bening hilus (limfadenitis regional).
)arang primer C limfangitis lo"al C limfadenitis regional E
kompleks primer
(&)
.
9ompleks primer ini selanutnya dapat menadi
(&)
-
1. )embuh sama sekali tanpa meninggalkan "a"at.
&. )embuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis
fibrotik, klasifikasi di hilus atau kompleks sarang <hon.
+. 9omplikasi dan menyebar se"ara -
&+
a. (er kontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya.
b. )e"ara bronkogen pada paru yang bersangkutan
maupun paru disebelahnya. $apat uga kuman
tertelan bersama sputum dan ludah sehingga
menyebar ke usus.
". )e"ara limfogen, ke organ tubuh lainnya
d. )e"ara hematogen, ke organ tubuh lainnya.
)emua keadian diatas tergolong dalam peralanan
tuber"ulosis primer
+.1.*.& Tuber"ulosis (ost-primer
9uman yang dormant pada tuber"ulosis primer akan
mun"ul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen
menadi tuber"ulosis dewasa (tuber"ulosis post-primer).
Tuber"ulosis post-primer ini dimulai dengan sarang dini
yang berlokasi di regio atas paru (bagian api"al posterior
lobus superior atau inferior). #nAasinya adalah kedaerah
parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiler paru.
)arang dini ini mula-mula uga berbentuk sarang
pneumonia ke"il. $alam +-1' minggu sarang ini menadi
tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel
histiosit dan sel $atia-0anghans (sel besar dengan banyak
inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan berma"am-
ma"am aringan ikat
(&)
.
&*
Mycobacterium Tuberculosis dalam droplet nuclei (ukuran H7Nm)
#nhalasi ke dalam paru sampai ke alAeolus
5akrofag alAeolus memfagosit kuman TB
4an"ur Tidak han"ur
Berkembang biak di dalam makrofag
0isis makrofag
Jokus primer <honO
(enyebaran 0imfohematogen
(enyebaran limfogen penyebaran hematogen
+acute generalized hematogenic spread-
Tersangkut di uung kapiler
)aluran limfe (limfangitis)O kelenar limfe (limfadenitis)O
Tuberkel (miliar)
Ma&a in%u3a&i - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
-
#munitas selular tubuh terbentuk
4ipersensitifitas terhadap tuberkuloprotein
/i tuberkulin positif
&7
Ofokus primer <hon C limfangitis C limfadenitis E kompleks primer 1anke
2aktu yang diperlukan seak masuknya kuman TB hingga
terbentuk kompleks primer 1anke disebut masa inkubasi (&-1&
minggu).
(ada saat terbentuknya kompleks primer, berarti telah teradi
infeksi TB primer.
9alender peralanan penyakit tuberkulosis primer
K5m"le%& E#5&i TB tulan)
P#ime# B#5n%u& +(alam * tahun-
+&e3a)ian 3e&a# TB /in$al
Sem3uh &en(i#i- Menin)iti& +&etelah 6 tahun-
Pleu#al E..u&i5n TB Milie#
In.e%&i +(alam 12 3ulan-
4#(B1)BN)#T#J#T.) 9B9BB.0.N $#$.(.T
TB) T/BB19/0#N (8)#T#J
1.2 min))u 1 tahun
&=
+.1.7 9lasifikasi Tuberkulosis
Tu3e#%ul5&i& Pa#u
Be#(a&a# ha&il "eme#i%&aan (aha% +BTA-
TB paru dibagi atas-
a. Tuberkulosis paru BT. (C) adalah-
)ekurang-kurangnya & dari + spesimen dahak menunukkan
hasil BT. positif
4asil pemeriksaan satu spesimen dahak menunukkan BT.
positif dan kelainan radiologik menunukkan gambaan
tuberkulosis aktif
4asil pemeriksaan satu spesimen dahak menunukkan BT.
positif dan biakan positif
b. Tuberkulosis paru BT. (-)
4asil pemeriksaan dahak + kali menunukkan BT. negatif,
gambaran klinik dan kelainan radiologik menunukkan
tuberkulosis aktif
4asil pemeriksaan dahak + kali menunukkan BT. negatif dan
biakan M. tuberculosis positif.
Be#(a&a#%an ti"e "a&ien
Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan
sebelumnya. .da beberapa tipe pasien yaitu -
a. 9asus baru
.dalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan
dengan 8.T atau sudah pernah menelan 8.T kurang dari
satu bulan.
b. 9asus kambuh (relaps)
.dalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan
sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi
berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BT. positif atau
biakan positif.
&>
Bila BT. negatif atau biakan negatif tetapi gambaran
radiologik di"urigai lesi aktif % perburukan dan terdapat
geala klinis maka harus dipikirkan beberapa kemungkinan-
1. #nfeksi non TB (pneumonia, bronkiektasis dll) $alam hal ini berikan dahulu
antibiotik selama & minggu,kemudian dieAaluasi.
&. #nfeksi amur
+. TB paru kambuh
". 9asus defaulted atau drop out
.dalah pasien yang tidak mengambil obat & bulan berturut-turut atau lebih
sebelum masa pengobatannya selesai.
d. 9asus gagal
.dalah pasien BT. positif yang masih tetap positif atau kembali menadi
positif pada akhir bulan ke-7 (satu bulan sebelum akhir pengobatan)
.dalah pasien dengan hasil BT. negatif gambaran radiologik positif
menadi BT. positif pada akhir bulan ke-& pengobatan
e. 9asus kronik % persisten
.dalah pasien dengan hasil pemeriksaan BT. masih positif setelah selesai
pengobatan ulang kategori & dengan pengawasan yang baik
Tu3e#%ul5&i& E%&t#a Pa#u
Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh
lain selain paru, misalnya pleura, kelenar getah bening, selaput otak,
perikard, tulang, persendian, kulit, usus, ginal, saluran ken"ing, alat
kelamin dan lain-lain. $iagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif
atau patologi anatomi. /ntuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan
pengambilan spesimen maka diperlukan bukti klinis yang kuat dan
konsisten dengan TB ekstra paru aktif.
&3
+.1.= <eala-<eala 9linis
9eluhan yang dirasakan penderita tuber"ulosis dapat berma"am-
ma"am atau malah tanpa keluhan sama sekali. 9eluhan yang
terbanyak adalah-
$emam
Biasanya subfebril menyerupai demam influen?a, tetapi
kadang-kadang panas badan dapat men"apai *'-*1LC. )erangan
demam pertama dapat sembuh kembali. Bagitulah seterusnya
&@
hilang timbulnya demam influen?a ini, sehingga penderita merasa
tidak pernah terbebas dari serangan demam influen?a. 9eadaan ini
sangat dipengaruhi daya tahan tubuh penderita dan berat ringannya
infeksi kuman tuber"ulosis yang masuk.
$emam menga"u pada peningkatan suhu tubuh sebagai
akibat dari infeksi atau peradangan. )abagai respons terhadap
inAasi mikroba,sel-sel darah putih tertentu mengeluarkan suatu ?at
kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen, yang memiliki
banyak efek untuk melawan infeksi dan uga bekera pada pusat
termoregulasi hipotalamus untuk meningkatkan patokan termostat.
(irogen endogen meningkatkan titik patokan termostat hipotalamus
selama demam dengan memi"u pengeluaran lokal prostaglandin,
yaitu ?at perantara kimiawi lokal yang bekera langsung di
hipotalamus.
4ipotalamus sekarang mempertahankan suhu di titik
patokan yang baru dan bukan di suhu tubuh normal. 8rgan ini akan
memi"u mekanisme-mekanisme respons dingin untuk
meningkatkan suhu. 5enggigil ditimbulkan agar dengan "epat
meningkatkan produksi panas, sementara Aasokonstriksi kulit uga
berlangsung untuk dengan "epat mengurangi pengeluaran panas.
9edua mekanisme tersebut mendorong suhu naik.
#nfeksi% peradangan akibat mikroorganisme
P
Tubuh memfagosit pirogen eksogen
P
5engeluarkan pirogen endogen
P
4ipotalamus mengeluarkan asam ara"hidonat
P
+'
5engeluarkan prostaglandin
P
5erangsang termoreseptor di hipotalamus
P
1espon dingin (menggigil dan Aasokonstriksi kulit)
)uhu tubuh meningkat
P
$emam
Batuk
Batuk dapat teradi karena adanya iritasi pada bronkus.
Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang
keluar. )ifat batuk mulai dari kering (non produktif) kemudian
setelah timbul peradangan menadi produktif (menghasilkan
sputum). 9eadaan yang lebih lanut adalah berupa batuk darah
(hemoptoe) karena terdapat pembuluh darah yang pe"ah.
9ebanyakan batuk darah pada tuber"ulosis teradi pada kaAitas,
tetapi dapat uga teradi pada ulkus dinding bron"hus.
Batuk merupakan refleks fisiologis kompleks yang
melindungi paru dari trauma mekanik, kimia dan suhu
(1&,1+).
Batuk
uga merupakan mekanisme pertahanan paru yang alamiah untuk
menaga agar alan napas tetap bersih dan terbuka, dengan
alan
(1&,1+)
-
1) 5en"egah masuknya benda asing ke saluran napas.
&) 5engeluarkan benda asing atau sekret yang abnormal dari dalam
saluran napas
)esak nafas
+1
(ada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan
sesak nafas. )esak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah
lanut, dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru-paru.
Nyeri dada
<eala ini agak arang ditemukan. Nyeri dada timbul apabila
infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan
pleuritis.
5alaise
(enyakit tuber"ulosis bersifat radang yang menahun. <eala
malaise sering ditemukan berupa- anoreksia, tidak ada nafsu makan,
badan makin kurus (berat badan turun), sakit kepala, meriang, nyeri
otot, keringat malam, dll. <aala malaise ini makin lama makin
berat dan teradi hilang timbul se"ara tidak teratur
(&)
.
+.1.> 9riteria $iagnosis
$iagnosis penyakit tuber"ulosis didasarkan pada-
(1). .namnesis dan pemeriksaan fisik
(ada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda-
a. Tanda-tanda infiltrat (redup, bron"hial, ronkhi basah).
b. Tanda-tanda penarikan paru, diafragma, dan mediastinum.
". )e"ret di saluran nafas dan ronkhi.
d. )uara nafas amforik karena adanya kaAitas yang berhubungan
langsung dengan bron"hus.
PEMERIKSAAN RADIOLO/IS
+&
0okasi lesi tuberkulosis umumnya didaerah apeks paru ( segmen
apikal lobus atas atau segmen apikal lobus bawah), tetapi dapat uga
mengenai lobus bawah (bagian inferior) atau di daerah hilus menyerupai
tumor paru ( misalnya pada tuberkulosis endobronkial).
(ada awal penyakit saat lesi masih merupakan sarang-
sarang pneumonia,gambaran radiologis berupa ber"ak-ber"ak seperti awan
dan dengan batas-batas tidak terkihat berupa bulatan dengan batas yang
tegas. 0esi ini dikenal sebagai tuberkuloma.
(ada kaAitas bayangannya berupa "in"in yang mula-mula
berdinding tipis. 0ama-lama dinding adi sklerotik dan terlihat menebal.
Bila teradi fibrosis terlohat bayangan yang bergaris-garis. (ada klasifikasi
bayangannya tampak sebagai ber"ak-ber"ak padat dengan densitas tinggi.
(ada atelektasis terlihat seperti fibrosis yang luas disertai pen"iutan yang
dapat teradi pada bagian atau satu lobus maupun pada satu bagian paru.
<ambaran tuberkulosis milier terlihat berupa ber"ak-ber"ak halus
yang umumnya tersebar merata pada seluruh lapangan paru.
<ambaran radiologis lain yang sering menyertai tuberkulosis paru
adalah penebalan pleura (pleuritis), massa "airan di bagian bawah paru
(efusi pleura%empiema), bayangan hitam radiolus"ent di pinggir
paru%pleura (pneumotoraks).
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
DARAH
(ada saat tuberkulosis baru mulai (aktif) akan didapatkan umlah
leukosit yang sedikit meninggi dengan hitung enis dengan pergeseran ke
kiri. !umlah limfosit masih dibawah normal. lau endap darah mulai
meningkat. bila penyakit mulai sembuh umlah leukosit kembali normal
dan umlah limfosit masih tinggi. 0au endap darah mulai turun ke arah
normal lagi.
++
4asil pemeriksaan darah lain didapatkan uga - 1). .nemia ringan
dengan gambaran normokrom dan normositerQ &). <ama globulin
meningkatQ +). 9adar natrium darah menurun. pemeriksaan tersebut diatas
nilainya uga tidak spesifik.
Belakangan ini terdapat pemeriksaan serologis yang banyak uga
dipakai yakni (eroksidase .nti-(eroksida ((.(-TB). (rinsip dasar ui
(.(-TB adalah menentukan adanya antibodi #g< yang spesifik terhadap
antigen 5.Tuber"ulosae. sebagai antigen dipakai polimer sitoplasma
5.Tuber"ulin Aan boAis BC< yang dihan"urkan se"ara ultrasonik dan
dipisahkan se"ara ultrasentrifus. 4asil ui (.(-TB dinyatakan patologis
bila pada titer 1-1'.''' didapatkan hasil titer didapatkan hasil ui (.(-TB
yang positif. 4asil positif palsu kadang-kadang masih didapatkan pada
pasien reumatik, kehamilan dan masa + bulan reAaksinasi BC<.
SPUTUM
(emeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya
kuman BT., diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. $isamping itu
pemeriksaan sputum uga dapat memberikan eAaluasi terhadap pengobatan
yang sudah diberikan. $alam hal ini dianurkan satu hari sebelum
pemeriksaan sputum,pasien dianurkan minum air sebanyak C & liter dan
diaarkan melakukan refleks batuk. $apat uga dengan memberikan
tambahan obat-obat mukolotik eks-pektoran atau dengan inhalasi larutan
garam hipertonik selama &'-+' menit. Bila masih sulit, sputum dapat
diperoleh dengan "ara bronkos-kopi diambil dengan brushing atau bron"ial
washing atau B.0 (Bron"ho .lAeolar 0aAage). BT. dari sputum bisa uga
didapat dengan "ara bilasan lambung. 4al ini sering dikerakan pada anak-
anak karena mereka sulit mengeluarkan dahaknya. )putum yang akan
diperiksa hendakna sesegera mungkin
Bila sputum sudah didapat, kuman BT. pun kadang-kadang sulit
ditemukan, kuman baru dapat ditemukan bila bronkus yang terlibat proses
+*
penyakit ini terbuka keluar,sehingga sputum yang mengandung BT.
mudah keluar.
9riteria sputum BT. positif adalah bila sekurang-kurangnya
ditemukan tiga batang kuman BT. pada satu sediaan. $engan kata lain
diperlukan 7''' kuman dalam 1 m0 sputum. (emeriksaan dengan
mikroskop fluoresens dengan sinar ultraAiolet walaupun sensisitAitasnya
sangat tinggi arang dilakukan karena pewarnaan yang dipakai (auramin-
rho-damin) di"urigai bersifat karsinogenik.
(ada pemeriksaan dengan biakkan, setelah *-= minggu penanaman
sputum dalam medium biakkan, koloni kuman tuberkolosis mulai tampak.
Bila setelah 3 minggu penanaman koloni tidak uga tampak, biakkan
dinyatakan negatif.
TES TUBERKULIN
Tes Tuberkulin hanya menyatakan apakah seseoramg indiAidu
sedang atau pernah mengalami infeksi 5.tuber"ulosis,5.boAis.Aaksinasi
BC< dan mikrobakteri patogen lainnya. $asar tes tuberkulin ini adalah
reaksi alergi tipe lambat. (ada penularan dengan kuman patogen baik yang
Airulen ataupun tidak (5i"roba"terium tuber"ulosae atau BC<) tubuh
manusia akan mengalami reaksi imunologi dengan dibentuknya antibodi
selular pada permulaan dan kemudian diikuti oleh pembentukkan antibodi
humoral yang dalam perannya akan menekankan antibodi selular.
Bila pembentukkan antibodi selular "ukup misalnya pada
penularan dengan kuman yang sangat Airulen dan umlah kuman sangat
besar atau pada keadaan dimana pembentukkan antibodi humoral amat
berkurang (pada hipogam-globulinemia), maka akan mudah teradi
penyakit sesudah penularan.
)etelah *3->& am tuberkullin disuntikkan, akan timbul reaksi
berupa indurasi kemerahan yang terdiri infiltrat limfosit yakni reaksi
persenyawaan antara antibodi selular dan antigen tuberkulin. Banyak
sedikitnya reaksi persenyawaan antibodi selular dan antigen tuberkulin
+7
amat dipengaruhi oleh antibodi humoral, makin ke"il indurasi yang
ditimbulkan. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, hasil tes 5antou; ini
dibagi dalam- 1). #ndurasi '-7 mm (diameternya) - mantou; negatif E
golongan non sensitiAity. $isini peran antibodi humoral paling menonol Q
&).#ndurasi =-@ mm - hasil meragukan golongan low-grade sensitiAity.
$isini peran antibodi humoral masih menonol Q +). #ndurasi 1'-17 mm -
5antou; positiAe E golongan normal sensitiAity. $isini peran kedua
antibodi seimbang Q *). #ndurasi lebih dari 17 mm - 5antou; positif kuat E
golongan hipersensitiAity. $isini peran antibodi selular paling menonol.
Biasanya hampir seluruh pasien tuberkulosis memberikan reaksi
mantou; yang positif (@@.3F). 9elemahan tes ini uga terdapat positif
palsu yakni pada pemberian BC< atau terinfeksi 5yoba"terium lain.
Negatif palsu lebih banyak ditemui daripada positif palsu.
(&). 0aboratorium darah rutin (0B$ normal atau meningkat, limfositosis)
(+). Joto toraks (. dan lateral. <ambaran foto toraks yang menunang
diagnosis TB yaitu-
a. Bayangan lesi terletak dilapangan atas paru atau segmen api"al lobus
bawah.
b. Bayangan berawan (pat"hy) atau berber"ak (nodular).
". .danya kaAitas, tunggal, atau ganda.
d. 9elainan bilateral, terutama di lapangan atas paru.
e. .danya kalsifikasi.
f. Bayangn menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian.
g. Bayangan milier.
(*). (emeriksaan )putum BT.
+=
(emeriksaan sputum BT. memastikan diagnosis TB paru, namun
pemeriksaan ini tidak sensitiAe karena hanya +'->'F pasien TB yang
tidak dapat didiagnosis berdasarkan pameriksaan ini.
(7). Tes (.( (peroksidase anti peroksidase)
5erupakan ui serologi imunoperoksidase memakai alat histogen
imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya #g< spesifik
terhadap basil TB.
(=). Tes 5antou;%Tuberkulin
Tes 5antou;
0okasi penyuntikan di bagian Aolar lengan bawah
$iukur diameter pembengkakan (indurasi yg teradi)-
o '-*mm - ui tuberkulin negatif.
o 7-@mm - positif meragukan. $isebabkan oleh kesalahan
teknis (trauma dan lain-lain), keadaan anergi, atau reaksi silang
dengan 5.atipik.
o R1'mm - dinyatakan positif tanpa menghiraukan
penyebabnya.
!ika sudah pernah diimunisasi, '-17 mm merupakan kondisi yang normal,
ika I17 mm baru positif kuat.
-(emeriksaan penunang yang dianurkan-
(emeriksaan (ungsi 0umbal - dilakukan pada setiap pasien TB
milier walaupun belum ada keang atau penurunan kesadaran untuk
menentukan diagnosis meningitis TB.
(>). Teknik !olymerase Chain "eaction
$eteksi $N. kuman se"ara spesifik melalui amplifikasi dalam
berbagai tahap sehingga dapat mendeteksi meskipun hanya ada1
+>
mikroorganisme dalam spe"imen. )elain itu teknik (C1 ini uga dapat
mendeteksi adanya resistensi.
(3). #ecton $ickinson $iagnostic Instrument %ystem (B.CTBC)
(@). &nzyme 'inked Immunosorbent (ssay (B0#).)
(1'). 5SC8$8T
(7)
.

$iagnosis kera TB anak ditegakkan ika umlah skor R=, (skor maksimal 1*).
$iagnosis tuber"ulosis "ukup mudah ditegakkan mulai dari
keluhan-keluhan klinis, geala-geala kelainan fisis, kelainan radiologis
sampai kelainan bakteriologis. Tetapi dalam prakteknya tidak mudah
+3
menegakkan diagnosisnya menurut (merican Thoracic society diagnosis
pasti tuber"ulosis paru adalah dengan menemukan kuman Mycobacterium
tuberculosis dalam sputum atau "airan paru se"ara biakan
(&,=)
.
+.1.3 (enatalaksanaan
Terdapat & ma"am sifat%aktiAitas obat terhadap tuber"ulosis yakni
(&)
-
1..ktiAitas bakterisid
$isini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang sedang tumbuh
(metabolismenya masih aktif). .ktiAitas bakteriosid biasanya diukur
dengan ke"epataan obat tersebut membunuh atau melenyapkan kuman
sehingga pada pembiakan akan didapatkan hasil yang negatif (& bulan dari
permulaan pengobatan).
&..ktiAitas sterilisasi (bakteriostatik)
$isini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang
pertumbuhannya lambat (metabolismenya kurang aktif). .ktiAitas
sterilisasi diukur dari angka kekambuhan setelah pengobatan dihentikan.
$alam pengobatan penyakit Tuber"ulosis dahulu hanya dipakai
satu ma"am obat saa. 9enyataan dengan pemakaian obat tunggal ini
banyak teradi resistensi. /ntuk men"egah teradinya resistensi ini, terapi
tuber"ulosis dilakukan dengan memakai perpaduan obat, sedikitnya
diberikan & ma"am obat yang bersifat bakterisid. $engan memakai
perpaduan obat ini, kemungkinan resistensi awal dapat diabaikan karena
arang ditemukan resistensi terhadap & ma"am obat atau lebih serta pola
resistensi yang terbanyak ditemukan ialah #N4
(&)
.
!enis obat yang dipakai -
1. 8bat primer
+@
a. #sonia?id
b.1ifampisin
". (ira?inamid
d. )treptomisin
e. Btambutol
&. 8bat sekunder
a. Btionamid
b. (rotionamid
". )ikloserin
d. 9anamisin
e. (...). (!ara (mino %alicylic (cid)
f. Tiaseta?on
g. Diomisin
h. 9apreomisin
*'
)ebelum ditemukannya rifampisin metode terapi terhadap
tuber"ulosis paru adalah dengan system angka panang (terapi
standar) yaitu- #N4 (4) C )treptomisin ()) C (.) atau Btambutol
(B) tiap hari dengan fase initial selama 1-+ bulan dan dilanutkan
dengan #N4 CBtambutol atau (.) selama 1&-13 bulan.
)etelah diketemukannya 1ifampisin maka paduan obat
menadi- #N4 C 1ifampisin C )treptomisin atau Btambutol setiap
hari (fase initial) dan diteruskan dengan #N4 C 1ifampisin atau
Btambutol (fase lanut)
(aduan ini selanutnya berkembang menadi terapi angka
pendek, dimana diberikan #N4 C 1ifampisin C)treptomisin atau
Btambutol atau (ira?inamid (M) setiap hari sebagai fase initial
selama 1-& bulan dilanutkan dengan #N4 C 1ifampisin atau
Btambutol atau )treptomisin &-+ kali seminggu selama *-> bulan,
sehingga lama pengobatan keseluruhan menadi =-@ bulan.
$engan pemberian terapi angka pendek akan didapat beberapa
keuntungan seperti -
1. 2aktu pengobatan lebih dipersingkat.
&. Biaya keseluruhan untuk pengobatan menadi lebih hemat dan efisien.
*1
+. !umlah penderita yang membangkang menadi berkurang.
*. Tenaga pengawas pengobatan menadi lebih hemat dan efisien.
8leh karena itu $epartemen 9esehatan 1.#. dalam rangka program
pemberantasan penyakit tuber"ulosis paru lebih menganurkan terapi
angka pendek dengan perpaduan obat 41B%7 4
&
1
&
(#sonia?id C
1ifampisin C Btambutol setiap hari selama satu bulan, dan dilanutkan
dengan #sonia?id C 1ifampisin & kali seminggu selama 7 bulan)
(&)
.
8bat TB utama saat ini adalah rifampisin, isonia?id, pira?inamid,
etambutol, dan streptomisin. 1ifampisin dan isonia?id merupakan obat
pilihan utama dan ditambah dengan pira?inamid, etambutol, dan
streptomisin. 8bat TB lain adalah para-aminosalicylic acid ((.)),
cycloserin terizidone ethionamide prothionamide oflo)acin
levoflo)acin mo)iflo)acin gatiflo)acin ciproflo)acin kanamycin
amikacin dan capreomycin yang digunakan ika teradi multidrug
resistance (5$1).
1. #sonia?id (4)
#sonia?id (#N4) bersifat bakterisid dan sangat efektif terhadap
kuman dalam keadaan aktif, dapat membunuh @'F populasi kuman dalam
beberapa hari pertama pengobatan. Bersifat bakteriostatik terhadap kuman
yang diam. $osis harian yang dianurkan 7-17 mg%kgBB%hari. Bfek
samping yang berat berupa hepatitis yang dapat timbul pada kurang lebih
',7F penderita. Bila teradi ikterus pengobatan dapat dikurangi dosisnya
atau dihentikan sampai ikterus membaik. Bfek samping ringan dapat
berupa kesemutan, nyeri otot, dan gatal-gatal. (ada keadaan ini pemberian
#N4 dapat dilanutkan.
&. 1ifampisin (1)
*&
1ifampisin bersifat bakterisid pada intrasel dan ekstrasel, dapat
membunuh kuman semidorman (persisten) yang tidak dapat dibunuh oleh
isonia?id. $osis 1'-&' mg%kgBB%hari yang diberikan sebelum makan.
)alah satu efek samping yang berat rifampisin adalah hepatitis. Bila teradi
ikterik maka pengobatan dihentikan atau dosis dikurangi, setelah sembuh
pengobatan dapat dilanutkan lagi. 1ifampisin dapat menyebabkan warna
merah atau ingga pada air seni dan keringat yang teradi karena proses
metabolisme obat dan tidak berbahaya. Bfek samping lain adalah mual dan
trombositopenia.
+. (ira?inamid (M)
(ira?inamid bersifat bakteriosid, dapat membunuh kuman yang
berada dalam sel dengan suasana asam. $osis harian yang dianurkan 17-
+' mg%kgBB%hari sebaiknya dibagi dalam dua dosis. Bfek samping utama
dari penggunaan pira?inamid adalah hepatitis, nyeri sendi dan kadang-
kadang dapat menyebabkan serangan arthritis gout yang kemungkinan
disebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbunan asam urat. 9adang-
kadang teradi reaksi hipersensitiAitas misalnya demam, mual, kemerahan,
dan reaksi kulit yang lain.
*. )treptomisin ())
)treptomisin bersifat bakteriosid dan bakteriostatik. $osis harian
yang dianurkan 17-*' mg%kgBB%hari intramuskular. Bfek samping utama
dari streptomisin adalah pada saraf kranialis D### yang berkaitan dengan
keseimbangan dan pendengaran. 1isiko efek samping meningkat seiring
dengan peningkatan dosis yang digunakan dan umur penderita. 9erusakan
alat keseimbangan biasanya teradi pada & bulan pertama dengan tanda-
tanda telinga mendenging (tinitus), pusing dan kehilangan keseimbangan.
)treptomisin uga bersifat nefrotoksik.
7. Btambutol (B)
Btambutol bersifat bakteriostatik. $osis harian yang dianurkan
17-&' mg%kgBB%hari. Btambutol dapat menyebabkan gangguan
*+
penglihatan berupa berkurangnya ketaaman penglihatan, buta warna
untuk warna merah dan hiau maupun neuritis optik.
(rinsip dasar pengobatan TB adalah minimal dua ma"am obat
dan diberikan dalam waktu relatif lama (= T 1& bulan). (engobatan TB
dibagi dalam dua fase yaitu fase intensif (& bulan pertama) dan sisanya
sebagai fase lanutan. (emberian paduan obat ini dituukan untuk
men"egah teradinya resistensi obat dan untuk membunuh kuman
intraseluler dan ekstraseluler. )edangkan pemberian obat angka
panang selain untuk membunuh kuman uga untuk mengurangi
kemungkinan teradinya relaps.
8bat anti tuberkulosis pada anak diberikan setiap hari. 4al ini
bertuuan untuk mengurangi ketidakteraturan minum obat yang lebih
sering teradi ika obat tidak diminum setiap hari. (aduan obat yang
baku untuk sebagian besar kasus TB anak adalah paduan rifampisin,
#N4, dan pira?inamid. (ada fase intensif diberikan rifampisin, #N4,
dan pira?inamid, sedangkan fase lanutan hanya diberikan rifampisisn
dan #N4.
(enatalaksanaan medikamentosa TB milier adalah pemberian * T 7
ma"am 8.T kombinasi isonia?id, rifampisin, pira?inamid, dan
streptomisin atau etambutol selama & bulan pertama, dilanutkan
dengan isonia?id dan rifampisin sampai = T 1' bulan sesuai dengan
perkembangan klinis. /ntuk kasus TB tertentu yaitu TB milier, efusi
plera TB, perikarditis TB, TB endobronkial, meningitis TB, dan
peritonitis TB, diberikan kortikosteroid (prednison) dengan dosis 1 T &
mg%kgBB%hari, dibagi dalam tiga dosis. 0ama pemberian kortikosteroid
adalah & T * minggu dengan dosis penuh dilanutkan tappering off
selama & T * minggu.
/99 respirologi (( #$.# telah menyepakati pedoman dosis 8.T
dengan mempertimbangkan toleransi anak terhadap dosis, dan tidak
**
hanya sekedar eksplorasi dosis untuk pasien dewasa, se"ara ringkas
dosis dan efek samping 8.T dapat dilihat di table.
Nama obat $osis harian
(mg%kbBB%hari)
$osis
maksimal
(mg perhari)
Bfek samping
#sonia?id 7 T 17 +'' 4epatitis, neuritis perifer,
hipersensitiAitas
1ifampisin 1' T &' ='' <astrointestinal, reaksi kulit,
heoatitis, trombositopenia,
peningkatan en?im hati, "airan
tubuh berwarna oranye
kemerahan
(ira?inamid 17 T +' &''' Toksisitas hati, artralgia,
gastrointestinal
Btambutol 17 -&' 1&7' Neuritis optik, ketaaman mata
berkurang, buta warna merah T
hiau, penyempitan lapangan
pandang, hipersensitiAitas,
gastrointestinal
)treptomisin 17 T *' 1''' 8totoksik, nefrotoksik
(engobatan yang tepat akan memberikan perbaikan radiologis TB
milier dalam waktu * minggu. 1espon keberhasilan terapi antara lain
adalah hilangnya demam setelah & T + minggu pengobatan, peningkatan
nafsu makan, perbaikan kualitas hidup sehari T hari dan peningktan
berat badan. <ambaran milier pada foto toraks berangsur T angsur
menghilang dalam 7 T 1' minggu, tetapi mungkin uga belum ada
perbaikan sampai beberapa bulan.
.. (enatalaksanaan
a. 5edikamentosa-
(engobatan untuk pasien ini tergolong dalam pengobatan TB yang
berat yaitu-
*7
Jase intensif - $igunakan minimal * obat. Saitu 1ifampisin
(1'-&' mg%kgBB%hari, dosis maksimal =''
mg%hari), #N4 (7-17 mg%kgBB%hari, dosis
maksimal +'' mg%hari), (ira?inamid (17-+'
mg%kgBB%hari, dosis maksimal &''' mg%hari),
Btambutol (17-&' mg%kgBB%hari, dosis
maksimal 1&7' mg%hari). (engobatan fase
intensif dilakukan selama & bulan.
Jase lanutan - $igunakan rifampisin dan isonia?id selama 1'
bulan,
.nti-inflamasi - /ntuk TB berat seperti TB 5ilier, ditambahkan
kortikosteroid sebagai anti-inflamasi yaitu
prednison dengan dosis 1-&mg%kgBB%hari,
dibagi dalam + dosis, maksimal ='mg%hari.
0ama pemberian &-* minggu dengan dosis
penuh, dilanutkan tapering off selama &-=
minggu.
b. Non medikamentosa-
-0a"ak sumber penularan, sumber penularan pada anak adalah
orang dewasa yang menderita TB aktif dan kontak erat dengan
anak tersebut. (ada kasus ini diperkirakan sumber penularan
adalah sang ayah, oleh karena itu, diperlukan edukasi kepada
*=
keluarga agar sang ayah dibawa ke puskesmas terdekat untuk di
diagnosis ulang.
-Bdukasi kepada keluarga agar pasien minum obat se"ara teratur
(adheren) dan dihabiskan sesuai resep dokter walaupun merasa
sudah sembuh. )elain itu diberitahukan uga efek samping obat
yang mungkin teradi. $an minta agar pasien datang kembali tiap &
minggu selama & bulan untuk mengeAaluasi efek samping obat
(pemeriksaan fungsi hati -I )<8T%)<(T)
-(erbaikan gi?i pasien meliputi ke"ukupan asupan makanan,
Aitamin dan mikronutrien agar keadaan gi?inya membaik sehingga
imunitasnya uga membaik.
-9arena termasuk TB berat maka diperlukan pembatasan aktifitas
fisik.
+.1.@ (rognosis
1. !ika berobat teratur sembuh total (@7F).
&. !ika dalam & tahun penyakit tidak aktif, hanya sekitar 1 F yang
mungkin relaps
(>)
.
+.1.1' 9omplikasi
1. (erdarahan (hemaptoe) massif, aspirasi, syok, pnemonia, abses
paru.
&. 9ematian akibat aspirasi
+. )epsis
(3)
.
.. 9omplikasi
Pa#u '
a) (neumothoraks
b) Bronkiektasis
") .bses (aru
Pen!e3a#an &e<a#a hemat5)en '
*>
a) TB kulit
b) 5eningitis TB
") )pondylitis
d) TB ginal
e) (eritonitis TB
Pen!e3a#an &e<a#a lim.5)en '
a) 0ymphodenitis TB
BAB I=
ANALISIS MASALAH
Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. 9uman ini
berbentuk batang, tahan asam dalam pewarnaan, disebut sebagai Basil Tahan
.sam (BT.). 9uman ini mati dengan sinar matahari langsung tetapi dapat
bertahan hidup ditempat gelap dan lembab. Cara penularannya melalui droplet
(per"ikan dahak). 9uman dapat menyebar langsung ke aringan sekitar, pembuluh
limfe, dan pembuluh darah.
*3
Tuberkulosis milier merupakan hasil dari acute generalized hematogenic
spread dengan umlah kuman yang besar. )e"ara patologi anatomik, tuberkulosis
milier ditandai dengan nodul kuning keputih-putihan yang berdiameter 1 T + mm
dan teradi difus diseluruh kedua paru yang se"ara histologik merupakan
granuloma. Tuberkulosis milier dihasilkan dari basil tuberkulosis yang beralan
dari kelenar limfe hiler melalui saluran thoraks dan sirkulasi Aena ke parenkim
paru, dimana mereka menutup kapiler pulmonal dan menyebabkan nekrosis pada
dinding pembuluh darah. #stilah milier berasal dari gambaran lesi diseminata yang
menyerupai butir padi-padian.
(ada kasus ini, dari anamnesis diketemukan menifestasi klinis batuk-batuk
selama lebih dari + minggu (dapat disertai darah). )esak nafas, sesak nafas
dipengaruhi aktiAitas. 8s merasa sesak saat beraktifitas. )esak berkurang saat os
istirahat. 8s mengeluh sering terbangun pada malam hari karena sesak napasnya
tidak ada. 8s lebih nyaman tidur dengan + bantal tersusun untuk mengurangi
sesaknya. )esak dipengaruhi oleh udara, "ua"a, dan emosi. $emam hilang timbul
disertai keringat malam dan malaise yaitu penurunan nafsu makan penurunan
berat badan atau sulit untuk meningkatkan berat badan.
$ari pemeriksaan penunang, pada pemeriksaan laboratorium darah
rutin didpatkan hemoglobin >,@ g%dl, leukosit 1@,7'' %ul, trombosit >*@,''' %ul,
0B$ 17' mm%am, hitung enis '%&%&%3*%3%* dan kimia darah didapatkan dalam
batas normal dan pada ui BT. didapatkan BT. # (C) BT. ## (C) dan BT. ### (C).
(emeriksaan rontgen thora; didapatkan tampak infiltrate berukuran milier di
seluruh lapangan paru antung dalam batas normal, sinus "ostofrenikus kanan dan
kiri lan"ip dan diafragma baik dan kesannya TB 5ilier.
(enatalaksaan pasien ini meliputi penatalaksaan farmakologis dan non-
farmakologis. (enatalaksaan non farmakologis antara lain istirahat dengan posisi
setengah duduk, diet tinggi protein dan kalori, dan pemberian oksigen *-= liter
ika sesak. (emberian oksigen dituukan untuk men"ukupi kebutuhan oksigen dan
mengurangi sesak nafas dan beban antung /ntuk penatalaksanaan farmakologis
dimulai dari pemberian #DJ$ 10F gtt ;%menit (makro). .mbro;ol +;1
bermanfaat untuk mengurangi sekret di alan pernafasan, "eftrai;one &;1gram
*@
untuk melawan infeksi, aminophilin 1 amp di drip bertindak sebagai
bronkodialator untuk mengurangi sesak nafas, para"etamol +;1 (+3.7
o
C) untuk
mengobati demam, metil prednisolon *-*-' adalah sebagai anti-inflamasi di
bagian bron"hial, dan pemberian 8.T bertahap untuk mengobati TB, 1ifampisin
1;*7'mg, #sonia?id 1;+''mg, (ira?inamid &;7''mg, Btambutol +;&7'mg.
(rognosis terapi terhadap pasien ini adalah :uo ad Aitam dubia ad
bonam dan :uo ad fun"tionam dubia ad bonam
Da.ta# Pu&ta%a
(1) (edoman Nasional TB .nak, /nit 9era 9oordinasi (ulmonologi (( #katan
$okter .nak
#ndonesia, &''7.
1. (ri"e.)ylAia ..,2ilson.0orraine 5.,1@@7., (atofisiologi 9onsep 9linis (roses-
(roses (enyakit., Bdisi *., (enerbit Buku 9edokteran B<C,!akarta.,4al- >7+->=&.
7'
&. Bahar., .., 1@@3., Buku .ar #lmu (enyakit $alam., !ilid ##., Balai (enerbit
Jakultas 9edokteran /niAersitas #ndonesia., !akarta., 4al->17->1@
+. $orland., &''&.,9amus 9edokteran $orland.,Bdisi &@.,(enerbit Buku
9edokteran B<C.,!akarta.,4al-&+'=
*. $aniel., 5.T., 1@@@., 4arrisonQ (rinsip-(rinsip #lmu (enyakit $alamQ
Tuberkulosis., Dol &., (enerbit Buku 9edokteran B<C., !akarta., 4al- >@@-3'>.
7. 5ansoer, .rief.,&''*.,9apita )elekta 9edokteran.,!ilid #.,(enerbit 5edia
.es"ulapius Jakultas 9edokteran /niAersitas #ndonesia.,!akarta., 4al-*>&-*>=.
=. .min, 5., .lsagaff, 4., )aleh., T.2.B.5., 1@@=., #lmu (enyakit (aru.,
.irlangga /niAersity (ress., 4al- 1+-+7.
>. )tandar (elayanan 5edis 1)/( $1. )ardito., &'''., Tuberkulosis (aru.,
5edika Jakultas 9edokteran /niAersitas <aah 5ada., Sogyakarta., 4al 71-7+.
3. Corwin., B.!., &''1., Buku )aku (atofisiologi., (enerbit Buku 9edokteran
B<C., !akarta., 4al-*1*-*1=.
@. 1asad, ).,9artoleksono.).,Bkayuda,#.,&''1.,1adiologi $iagnostik., Balai
(enerbit Jakultas 9edokteran /niAersitas #ndonesia.,!akarta.
1'. )imon, <.,1@3=., $iagnostik 1ontgen /ntuk 5ahasiswa 9linik $an $okter
/mum.,(enerbit Brlangga.,!akarta., 4al-&3'-&@=.
11. 248.,1@@7.,(etunuk 5emba"a Joto /ntuk $okter /mum.,(enerbit Buku
9edokteran B<C.,!akarta., 4al-=&
1&. Cool J$, 0eith $B. (adaophysiology of "ough. $alam- Clini"s in Chest
5edi"ine. Braman )) (ed.). (hiladelphia- 2B )aunders Co, 1@@>- 13@-@7.
1+. Jishman .(. Cough. (ulmonary $iseases and $isorders, se"ond edition. New
Sork- 5"<raw-4ill Co, 1@@3- +*&-=.
71
1*.http-%%www.kalbe."o.id%files%"dk%files%1'U<ambaran9linisTuberkulosis5ilier.p
df%1'U<ambaran9linisTuberkulosis5ilier.html