Anda di halaman 1dari 6

DASAR_DASAR EVALUASI

Suharsimi arikunto

Bab 7 TAKSONOMI
1. Arti dan Letak Taksonomi dalam Pendidikan
2. Taksonomi Bloom
Menurut taksonomi Bloom ini tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah,
kawasan), dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci
berdasarkan hirarkhinya. Domain-domain tersebut antara lain:
a) Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Dalam ranah ini hirarkinya
adalah pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (application), analisis
(analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation).
b) Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan
dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Dalam ranah ini hirarkinya
adalah pandangan atau pendapat (opinion) dan sikap atau nilai (attitude, value)
c) Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Ranah ini tersusun atas keterampilan (skill) dan kemampuan ( abilities)
Taksonomi lain-lainnya:
a. Mc Guire dan Klickmann (1963) telah menyusun taksonomi untuk bidang biologi, Wood (1968)
untuk matematika, Leuis (1965) untuk IPA.
b. Guilford telah menciptakan pola yang menggambarkan struktur intelek dalam bentuk kubus
c. Gagne dan Merrill menyebutkan ada 8 hierarki tingkah laku, antara lain:
Signal learning
Stimulus-response learning
Chaining
Verbal associating
Discrimination learning
Concept learning
Rule learning
Problem solving.

d. Garlach dan Sullivan mencoba mengganti gambaran tentang proses dalam rumusan yang
umum menjadi tingkah laku siswa yang dapat diamati. Kategori yang diajukan adalah:
Identify
Name
Describe
Construct
Order
Demonstrate.

e. De Block mengemukakan model yang didasarkan pada tujuan-tujuan mengajar. Dia mejukan 3
arah dalam kegiatan mengajar:
From partial to more integral learning
From limited to fundamental learning
From special to eneral learning.

Bab 13 MENGANALISISS HASIL TES

1. Menilai Tes yang Dibuat Sendiri

Guru yang sudah banyak berpengalaman, mengajar dan menyusun soal-soal tes, juga masih sukar
menyadari bahwa tesnya masih belum sempurna. Oleh karena itu cara yang paling baik adalah
secara jujur melihat hasil yang diperoleh oleh siswa.
Ada 4 cara untuk menilai tes, yaitu:
a. Meneliti secara jujur soal-soal yang sudah disusun, kadang-kadang dapat diperoleh jawaban
tentang ketidak jelasan perintah atau bahasa, taraf kesukaran, dan lain-lain keadaan soal tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:

(1) Apakah banyaknya soal untuk tiap topik sudah seimbang ?
(2) Apakah semua soal menanyakan bahan yang telah diajarkan ?
(3) Apakah soal yang kita susun tidak merupakan pertanyaan yang membingungkan (dapat disalah
tafsirkan)?
(4) Apakah soal itu tidak sukar untuk dimengerti ?
(5) Apakah soal itu dapat dikerjakan oleh sebagian besar siswa ?
b. Mengadakan analisis soal (item analysis). Analisis soal adalah suatu prosedur Yang sistematis,
yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun.
Faedah mengadakan analisis soal:
(1) Membantu kita dalam mengidentifikasi butir-butir soal yang jelek.
(2) Memperoleh informasi yang akan dapat digunakan untuk menyempurnakan soal-soal untuk
kepentingan lebih lanjut.
(3) Memperoleh gambaran secara selintas tentang keadaan yang kita susun.

c. Mengadakan checking validitas. Validitas yang paling penting dari tes buatan Guru adalah
validitas kurikuler.
d. Mengadakan checking reliabilita. Salah satu indikator untuk tes yang
Mempunyai realibilitas yang tinggi adalah bahwa kebanyakan dari soal-soal tes itu mempunyai daya
pembeda yang tinggi.

2. Analisis Butir Soal(Item Analysis)
Analisis butir soal yang dalam bahasa inggris disebut item analiysis dilakukan terhadap
empirik.Maksudnya, analisis itu baru dapat dilakukan apabila suatu tes telah dilaksanakan dan hasil
jawaban terhadap butir-butir soal telah kita peroleh.
Untuk mengetahui kapan soal dikatakan baik, kurang baik, dan soal yang jelek sangat berhubungan
dengan analisis soal, yaitu taraf kesukaran, daya pembeda, dan pola jawaban soal.

a) Taraf Kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah
tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu
sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba
lagi karena di luar jangkauannya.

Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya sesuatu soal disebut indeks kesukaran. Besarnya
indeks kesukaran antara 0,00 sampai dengan 1,0. Soal yang indeks kesukaran 0,0 menunjukkan
bahwa soal itu terlalu sukar, sebaliknya indeks 1,0 menunjukkan bahwa soalnya terlalu mudah.
Didalam istilah evaluasi, indeks kesukaran diberi simbol P (proporsi). Rumus mencari P adalah :
P = B
JS
Dimana :
P= indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS = jumlah seluruh siswa peserta tes
Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut :
Soal dengan P 1,00 sampai 0,30 adalah soal sukar
Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang
Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah
Walaupun demikian ada yang berpendapat bahwa soal soal yang di anggap baik yaitu soal soal
sedang, tetapi bukan berarti soal soal yang terlalu mudah atau terlalu sukar tidak bisa digunakan,
hal ini tergantung dari penggunaannya.
b) Daya Pembeda.
Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang
berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.
Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi, indeks diskriminasi
ini sama dengan indeks kesukaran yaitu berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Hanya bedanya, indeks
kesukaran tidak mengenal tanda negatif tetapi pada indeks diskriminasi ada tanda negatif.
Bagi suatu soal yang dapat dijawab benar oleh siswa pandai maupun siswa bodoh, maka soal itu
tidak baik, demikian pula jika semua siswa, baik pandai maupun bodoh tidak dapat menjawab
dengan benar, soal tersebut tidak baik karena keduanya tidak mempunyai daya pembeda. Soal yang
baik adalah soal yang dapat dijawab oleh siswa pandai saja.
Jika seluruh kelompok atas (pandai) dapat menjawab soal dengan benar, sedang seluruh kelompok
bawah (bodoh) menjawab salah, maka soal tersebut mempunyai diskriminasi paling besar, yaitu
1,00. Sebaliknya jika semua kelompok atas menjawab salah, tetapi semua kelompok bawah
menjawab betul, maka nilai diskriminasinya adalah -1,00. Tetapi jika siswa kelompok atas dan siswa
kelompok bawah sama-sama menjawab benar atau sama-sama menjawab salah, maka soal tersebut
mempunyai nilai diskriminasi 0,00 karena tidak mempunyai daya pembeda sama sekali.
Rumus mencari nilai Diskriminasi adalah :
D = BA/JA BB/JB = PA PB
Dimana :
J = jumlah peserta tes
JA = banyaknya peserta kelompok atas
JB = banyaknya peserta kelompok bawah
BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar
BB BA/JA = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar.
PA = BB/JB = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar ( P sebagai indeks kesukaran).
PB = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

c) Pola Jawaban Soal
Pola jawaban yang dimaksud adalah distribusi testee dalam hal menentukan pilihan jawaban pada
soal bentuk pilihan ganda. Pola jawaban soal diperoleh dengan menghitung banyaknya testee yang
memilih pilihan jawaban a, b, c, atau d atau yang tidak memilih pilihan manapun.
Dari pola jawaban soal dapat ditentukan apakah pengecoh (distractor) berfungsi sebagai pengecoh
dengan baik atau tidak. Pengecoh yang tidak dipilih sama sekali oleh testee berarti bahwa pengecoh
itu jelek, sebaliknya sebuah distraktor dapat dikatakan berfungsi dengan baik apabila distraktor
tersebut mempunyai daya tarik yang besar bagi pengikut pengikut tes yang kurang memahami
konsep atau kurang menguasai bahan.
Dengan melihat pola jawaban soal, dapat diketahui :
a. Taraf kesukaran soal
b. Daya pembeda soal
c. Baik dan tidaknya distraktor
Kekurangan suatu soal mungkin hanya terletak pada rumusan kalimatnya sehingga hanya perlu
ditulis kembali, dengan perubahan seperlunya.


Bab 19 EVALUASI PROGRAM PENGAJARAN

Evaluasi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk menentukan apakah target
progam yang disusun sudah tercapai dengan begitu maka akan diketahui bagaimana kualitas
mengajar seorang guru apakah sudah efektif atau belum berdasarkan tingkat pencapaian yang sudah
dicapai.
Evaluasi progam merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat
tingkat keberhasilan progam. Untuk menentukan seberapa jauh target progam sudah tercapai, yang
dijadikan tolak ukur adalah tujuan yang sudah dirumuskan dalam tahap perencanaan kegiatan.
Pentingnya evaluasi progam yaitu agar guru mengetahui betul apa yang terjadi di dalam proses
belajar-mengajar, guru berkepentingan atas kualitas pengajaran. Untuk memperbaiki proses
pengajaran yang akan dilaksanakan lain waktu, guru perlu mengetahui seberapa tinggi tingkat
pencapaian dari tugas yang telah dikerjakan selama kurun waktu tertentu.
Objek atau sasaran evaluasi progam.
Input(masukan)
Materi atau kurikulum.
Guru.
Metode atau pendekatan dalam mengajar.
Sarana: alat pelajaran atau media pendidikan.
Lingkungan manusia.
Lingkungan bukan manusia.
Cara melaksanakan evaluasi progam.
Apabila guru ingin melakukan evaluasi progam dengan lebih seksama, terlebih dahulu harus
menyusun rencana evaluasi sekaligus menyusun instrument pengumpulan data. Mengenai
bagaimana menyiapkan instrumen untuk angket, pedoman wawancar, pedoman pengamatan dapat
dipelajari dari buku-buku penelitian. Sebagai cara yang paling sederhana adalah mengadakan
pencatatan terhadap peristiwa yang dialami dari kegiatan sehari-hari di kelas.