Anda di halaman 1dari 22

THERMISTOR

(Laporan Sistem Sensor dan Sistem Pengkondisi Sinyal)










Akhfi Zamri
1017041015













JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013

Judul Percobaan : Thermistor
Tempat Percobaan : Laboratorium Sistem Sensor dan Pengkondisi Sinyal
Tanggal Percobaan : 27 Desember 2012
Nama : Akhfi Zamri
NPM : 1017041015
Jurusan : FISIKA
Fakultas : MIPA
Kelompok : III (Tiga)






Bandar Lampung, 27 Desember 2012
Mengetahui,
Asisten




____Zaitun______
NPM. 0917041017








THERMISTOR

Oleh:
Akhfi Zamri

ABSTRAK
Telah dilakukan praktikum percobaan berjudul Thermistor yang bertujuan untuk
mempelajari karakteristik sensor temperatur, mampu mengkalibrasi sensor
tersebut, memahami perbedaan tanggapan sensor yang sudah linear dan yang
belum linear tanggapannya, mampu membuat rangkaian yang berfungsi
meningkatkan linearisasi tanggapan thermistor secara sederhana. Pada dasarnya
NTC dan PTC merupakan jenis-jenis dari thermistor. Thermistor atau tahanan
termal adalah alat semikonduktor yang berfungsi sebagai tahanan, yang memiliki
koefisien tahanan temperatur yang tinggi. Thermistor juga memiliki kepekaan
yang tinggi terhadap perubahan suhu, ini membuat thermistor sangat sesuai untuk
pengukuran dan pengontrolan temperatur secara presisi. Thermistor jenis NTC
memiliki resistansi menurun apabila temperaturnya naik, jika resistansinya
berkurang, maka temperaturnya akan bertambah. Thermistor jenis PTC
mempunyai sifat, jika temperature atau suhunya naik maka hambatannya naik.
Pada percobaan ini baik PTC maupun NTC dilakukan dua kali percobaan, yaitu
menggunakan air dingin (menggunakan es batu) dan menggunakan air yang
dipanaskan (menggunakan heater kecil). Pada PTC, ketika kita menggunakan air
dingin, semakin lama waktu yang digunakan maka temperatur menurun dan nilai
thermistor yang diperoleh semakin meningkat. Dan ketika air dipanaskan,
semakin lama waktu pemanasan maka temperatur dan hambatan thermistor
meningkat. Pada NTC, ketika kita menggunakan air dingin, semakin lama waktu
yang digunakan maka temperatur menurun dan nilai thermistor yang diperoleh
semakin meningkat. Dan ketika air dipanaskan, semakin lama waktu pemanasan
maka temperatur meningkat dan hambatan thermistor menurun.




DAFTAR ISI


halaman
LEMBAR PENGESAHAN.. i
ABSTRAK................................... ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR GAMBAR iv
DAFTAR TABEL v
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang....1
B. Tujuan Percobaan.......................3
II. TINJAUAN PUSTAKA
III. METODE PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan.......8
B. Metode Percobaan .8

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Data Pengamatan10
B. Pembahasan....11
V. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



DAFTAR GAMBAR

Gambar halaman
1.1 NTC................................3
1.2 PTC.3
4.1 Grafik hubungan R thermistor dengan temperatur pada NTC...................12
4.2 Grafik hubungan R thermistor dengan temperatur pada PTC....................12


















DAFTAR TABEL

Tabel halaman
4.2 Ketika menggunakan air panas pada NTC..............................................11
4.4 Ketika menggunakan air panas pada PTC...............................................11
















I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Thermistor merupakan komponen semikonduktor yang terbuat dari campuran
oksida-oksida logam yang diendapkan seperti mangan, nikel (Ni), tembaga, besi
(Fe), dan uranium. Thermistor atau tahanan termal adalah alat semikonduktor
yang berfungsi sebagai tahanan, yang memiliki koefisien tahanan temperatur yang
tinggi. Thermistor juga memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perubahan suhu,
ini membuat thermistor sangat sesuai untuk pengukuran dan pengontrolan
temperatur secara presisi. Thermistor merupakan salah satu pilihan yang tepat
sebagai sensor suhu karena perubahan tahanan thermistor yang relatif besar
terhadap perubahan suhu. Thermistor akan lebih sensitif terhadap suhu, apabila
dihubungkan menggunakan rangkaian dengan prinsip jembatan Wheatstone.
Thermistor mempunyai 2 macam tipe yaitu :
1. NTC (Negative Temperature Coefficient)
Thermistor jenis ini memiliki resistansi menurun apabila temperaturnya naik, jika
resistansinya berkurang, maka temperaturnya akan bertambah (Fraden, 1996).
Thermistor jenis NTC ini terbuat dari campuran antara nikel (Ni), cobal (Co),
magnesium (Mg), besi (Fe), dan tembaga (Cu) (Palls,1991).





Tabel 1.1 Karakteristik Thermistor tipe NTC

No Parameter Nilai
1. Range Suhu -100 sampai 450
2. Resistansi pada 25 0,5 ohm sampai 100 Mohm
1 Kohm sampai 10 Kohm
3. B (karakteristik suhu pada bahan) 2000 K sampai 5500 K
4. Suhu maksimum 1250
300 untuk tipe
stady state
600 untuk tipe
intermittently


2. PTC (Positive Temperature Coefficient)
Thermistor jenis ini mempunyai sifat, jika temperature atau suhunya naik maka
hambatannya naik (Fraden, 1996). Kepala termistor jenis PTC ini terbuat dari
bahan barium titanate sedangkan kaki dari PTC terbuat dari zikonium titanate.

Gambar 1.1 NTC



Gambar 1.2 PTC

PTC ini menunjukkan bahwa besarnya nilai hambatan besarnya nilai yang
dimiliki oleh PTC lebih besar daripada NTC. Thermistor jenis PTC ini memiliki
karakteristik range dari -100 sampai 250. Thermistor mempunyai sifat yang
tidak linier terhadap suhu, ada beberapa cara untuk mengatasi ketidak linieran
suatu termistor diantaranya yang pertama menggunakan resistor paralel, dimana
resistor dihubungkan secara paralel terhadap thermistor. Dan yang kedua
menggunakan resistor seri dimana resistor dihubungkan secara seri terhadap
themistor.
B. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Mempelajari karakteristik sensor temperatur.
2. Mampu mengkalibrasi sensor tersebut.
3. Memahami perbedaan tanggapan sensor yang sudah linear dan yang belum
linear tanggapannya.
4. Mampu membuat rangkaian yang berfungsi meningkatkan linearisasi
tanggapan thermistor secara sederhana.









II. TINJAUAN PUSTAKA
PTC (Positif Temperatur dari koefisien Resistance) thermistor adalah jenis
koefisien positif temperatur thermistor, terutama terdiri dari BaTiO3 keramik.
BaTiO3 keramik merupakan jenis khas ferroelectric bahan dengan resistivity yang
lebih besar dari 10
12
.cm suhu di bawah normal, melalui semi konduktor doping
memiliki kuat PTC kemanjuran - telah sangat rendah perlawanan suhu di bawah
normal tetapi pengalaman tiba-tiba dan besar mutasi sekitar suhu Curie sebagai
Ambient suhu meningkat. Hal ini karena dinding lapisan permukaan dipaksa oleh
negara ada pada batas butiran kristal yang multicrystal BaTiO3 bahan
semikonduktor. Suhu di bawah Curie, tingginya perlawanan kristal-batas
ferroelectric memiliki karakteristik dengan dielectric konstan dan rendah potensi
hambatan, elektron dengan mudah dapat menembus potensi hambatan dan sesuai
materi ada resistivity rendah. Bila suhu di atas Curie, kisi kristal terjadi pada
lapisan tahan tinggi dan ferroelectric terus menurun dengan cepat. Potensi
hambatan meningkat karena dielectric konstan tetes sesuai dengan Curie-Weiss
Hukum. Dengan peningkatan dramatis hambatan yang tinggi, menjadi sulit untuk
elektron melalui penghalang potensial dan resistivity dari bahan-bahan yang
sesuai meningkat drastis. Behaves ini sebagai PTC kemanjuran dari bahan yang
secara makro. Karena properti ini, PTC thermistor yang banyak digunakan baik di
industri elektronik dan peralatan rumah tangga. Bidang penerapannya
diklasifikasikan sehubungan dengan tiga dasar listrik performance dari PTC

critesistors. Dasar parameter adalah sebagai berikut ditunjukkan dalam matriks
diagram ( Anonymous , 2009).

Termistor ditemukan oleh Samuel Ruben pada tahun 1930, dan mendapat hak
paten di Amerika Serikat dengan nomor #2.021.491. Ada dua macam termistor
secara umum: Posistor atau PTC (Positive Temperature Coefficient), dan NTC
(Negative Temperature Coefficien). Nilai tahanan pada PTC akan naik jika
suhunya naik, sementara NTC justru kebalikannya. Thermistors dapat
diklasifikasikan menjadi dua jenis, tergantung pada tanda k. Jika k adalah positif,
perlawanan meningkat dengan meningkatnya suhu, dan perangkat disebut positif
suhu koefisien (PTC) thermistor, atau posistor. Jika k negatif, resistensi menurun
dengan meningkatnya suhu, dan perangkat yang disebut koefisien suhu negatif
(NTC) thermistor. Resistors thermistors yang tidak dirancang untuk memiliki k
sebagai dekat dengan nol mungkin, agar mereka tetap tahan hampir konstan
selama rentang temperatur yang luas (http://id.wikipedia.org/wiki/Termistor).

Standar acuan dari sebuah thermistor adalah thermistor suhu tubuh pada suhu
yang nominal nol daya tahan yangditentukan, biasanya 25C. Yang nol daya tahan
adalah nilai dc perlawanan dari thermistor diukur pada suhu tertentu dengan
kekuatan menghilangnya oleh thermistor yang cukup rendah lebih lanjut
penurunan daya tidak akan menghasilkan lebih dari 0,1 persen (atau 1 / 10 dari
ukuran yang telah ditentukan toleransi, mana yang lebih kecil) perubahan
perlawanan. Resistance ratio mengidentifikasi karakteristik rasio dari nol daya
tahan dari thermistor diukur pada 25 C untuk daya tahan yang diukur pada 125

C. Pada suhu nol daya tahan dari koefisien adalah rasio pada suhu tertentu (T),
yang menilai perubahan dari nol daya tahan dengan suhu ke nol daya tahan dari
thermistor (http://2.bp.blogspot.com /termo.bmp).
Termistor adalah piranti semikonduktor yang mempunyai koefisien hambatan
suhu negatif (NTC) seperti telah disebutkan di atas. Hal ini berbeda dengan
kebanyakan logam yang mempunyai koefisien suhu positip (PTC), yang artinya
nilai hambatannya turun jika suhu yang mempengaruhinya naik. Hubungan antara
suhu dan hambatan dalam termistor dinyatakan dengan:
(

|
|
.
|

\
|
=
0
0
1 1
exp
T T
R R |
dimana;
Ro adalah hambatan termistor pada suhu To,
adalah konstanta yang ditentukan melalui eksperimen.Termistor adalah piranti
yang sangat peka dan dengan kalibrasi yang baik dapat memberikan keluaran
yang konsisten dengan ketelitian 0,01. Thermistor terbagi menjadi dua jenis, yaitu
NTC dan PTC. NTC thermistor adalah salah satu yang nol-daya tahan menurun
dengan peningkatan suhu. Suhu koefisien negatif (NTC) thermistor merupakan
penghambat semiconducting keramik yang dihasilkan oleh sintering bahan pada
suhu tinggi, dan menggunakan logam oksida sebagai utama component.
NTC karakteristik thermistor berpendapat bahwa penurunan nilai perlawanan
dengan suhu naik. Membuat penggunaan dari karakteristik, dan suhu NTC
thermistor probe dapat diterapkan dalam suhu kompensasi, arus masuk sekarang
batas, pengukuran dan pengendalian suhu. PTC thermistor adalah salah satu yang

nol-meningkatkan daya tahan dengan peningkatan suhu. Dengan peningkatan
dramatis hambatan yang tinggi, menjadi sulit untuk elektron melalui penghalang
potensial dan resistivity dari bahan-bahan yang sesuai meningkat drastis. Behaves
ini sebagai PTC kemanjuran dari bahan yang secara makro. Karena properti ini,
PTC thermistor yang banyak digunakan baik di industri elektronik dan peralatan
rumah tangga. Bidang penerapannya diklasifikasikan sehubungan dengan tiga
dasar listrik performance dari PTC critesistors
(http://www.scribd.com/doc/3128969/Termistor).














III. PROSEDUR PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai
berikut:
1. Thermistor NTC
2. Wadah tahan panas
3. Es batu
4. Voltmeter/ Ohmmeter
5. Thermometer Hg
6. Heater kecil
7. Catu daya
B. Metode Percobaan
Adapun langkah-langkah ataupun metode yang dilakukan pada percobaan ini
adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan sensor thermistor
2. Menyiapkan wadah tahan panas
3. Menyiapkan es batu
4. Menyiapkan voltmeter dengan sistem catudaya
5. Menyiapkan thermometer Hg dan heater kecil
6. Menghubungkan pin thermistor dengan voltmeter/ ohmmeter

7. Memasukkan es batu pada wadah, kemudian memasukkan heater pada wadah
tersebut.
8. Mengukur temperatur dengan thermometer Hg dan thermistor, lalu mencatat
nilai R dari thermistor di voltmeter dan temperatur dari thermometer Hg secara
bersamaan dengan selang waktu 3 menit. Pada menit ke 15 memulai untuk
mencatu daya heater, sehingga es mulai cepat mencair dan memanas, jika
perubahan suhu cepat mencatat per 5 menit nilai temperaturnya.
9. Membuat tabel percobaan.




















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Data Pengamatan
Adapun dari percobaan yang telah dilakukan, maka diperoleh data sebagai
berikut:
1. Pada Thermistor NTC
Tabel 4.1 Ketika mengalami kenaikan suhu
No. Temperatur (
0
C) R thermistor (Ohm)
1 50 8,33
2 60 7,30
3 70 4,64
4 80 3,80



2. Pada Thermistor PTC
Tabel 4.3 Ketika mengalami kenaikan suhu
No. Temperatur dg Hg (C) R thermistor (Ohm)
1 50 4,56
2 60 6,61
3 70 13,60
4 80 19,95





B. Pembahasan

Pada kali ini telah dilakukan praktikum percobaan thermistor pada PTC dan NTC,
di mana PTC dan NTC adalah merupakan jenis-jenis dari thermistor. Thermistor
adalah alat atau komponen atau sensor elektronika yang dipakai untuk mengukur
suhu. Prinsip dasar dari termistor adalah perubahan nilai tahanan (atau hambatan
atau werstan atau resistance) jika suhu atau temperatur yang mengenai termistor
ini berubah. Nilai tahanan pada PTC akan naik jika suhunya naik, sementara NTC
justru kebalikannya. Artinya, PTC (Positive Temperature Coefficient), thermistor
jenis ini mempunyai sifat, jika temperature atau suhunya naik maka hambatannya
naik, sedangkan NTC (Negative Temperature Coefficient), thermistor jenis ini
memiliki resistansi menurun apabila temperaturnya naik, jika resistansinya
berkurang, maka temperaturnya akan bertambah.
Pada percobaan ini baik PTC maupun NTC dilakukan satu kali percobaan, yaitu
menggunakan air dingin dan kemudian di panaskan sampai suhu 80, dan setiap
kenaikan 50,60,70 dan 80 maka resistor dibaca dan diambil datanya. Percobaan
ini dilakukan dengan mengukur temperatur dengan thermometer dan thermistor,
lalu mencatat nilai R dari thermistor di voltmeter dan temperatur dari
thermometer secara bersamaan. Pada suhu 50
0
C memulai untuk pengambilan
data, menggunakan ceret heiter sehingga air mulai memanas, jika perubahan suhu
cepat mencatat 50
0
C nilai temperaturnya sehingga didapatkan nilai temperatur
dan nilai hambatan thermistor. Pada PTC, ketika kita menggunakan air dingin,
semakin lama waktu yang digunakan maka temperatur menurun dan nilai
thermistor yang diperoleh semakin meningkat. Dan ketika air dipanaskan,

semakin lama waktu pemanasan maka temperatur dan hambatan thermistor
meningkat. Pada NTC, ketika kita menggunakan air dingin, semakin lama waktu
yang digunakan maka temperatur menurun dan nilai thermistor yang diperoleh
semakin meningkat. Dan ketika air dipanaskan, semakin lama waktu pemanasan
maka temperatur meningkat dan hambatan thermistor menurun.
Dari data yang telah diperoleh, maka diperoleh grafik hubungan antara R
thermistor (sumbu Y) dengan temperatur (sumbu X) sebagai berikut:


Gambar 4.1 Grafik hubungan R thermistor dengan temperatur pada NTC



Gambar 4.2 Grafik hubungan R thermistor dengan temperatur pada PTC

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
0 20 40 60 80 100
R
e
s
i
s
t
o
r

Temperatur
0
5
10
15
20
25
0 20 40 60 80 100
R
e
s
i
s
t
o
r

Temperatur


Pada grafik NTC dan PTC didapatkan kelinieran garis. Pada grafik NTC, garis
yang diperoleh selalu menurun dan resistansinya berkebalikan dengan kenaikan
suhu. Pada grafik PTC, garis yang diperoleh awalnya tetap, kemudian meningkat
sesuai suhu yang dipanaskan.

Adapun aplikasi dari thermistor PTC dan NTC ini adalah termistor NTC banyak
dipakai pada peralatan elektronik yang digunakan di berbagai bidang seperti
kesehatan, otomotif, teknologi informasi, komunikasi dan nuklir sebagai pengukur
suhu yang sangat sensitif. Sedangkan termistor PTC banyak digunakan juga pada
berbagai peralatan terutama pemanas sebagai pengontrol suhu otomatis (self
temperature control) atau sebagai pemanas yang mengatur suhu secara mandiri
(self regulating heater).












V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari percobaan yang telah dilakukan adalah
sebagai berikut :
1. Prinsip dasar dari termistor adalah perubahan nilai tahanan (atau hambatan
atau werstan atau resistance) jika suhu atau temperatur yang mengenai
termistor ini berubah.
2. NTC thermistor adalah salah satu yang nol-daya tahan menurun dengan
peningkatan suhu.
3. PTC thermistor adalah salah satu yang nol-meningkatkan daya tahan dengan
peningkatan suhu.
4. Pada PTC, ketika kita menggunakan air dingin ke suhu yang panas, semakin
lama waktu yang digunakan maka temperatur menurun dan nilai thermistor
yang diperoleh semakin meningkat. Dan ketika air dipanaskan, semakin lama
waktu pemanasan maka temperatur dan hambatan thermistor meningkat.
5. Pada NTC, ketika kita menggunakan air dingin, semakin lama waktu yang
digunakan maka temperatur menurun dan nilai thermistor yang diperoleh
semakin meningkat. Dan ketika air dipanaskan, semakin lama waktu
pemanasan maka temperatur meningkat dan hambatan thermistor menurun.










DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2009. http://id.wikipedia.org/wiki/thermistor

http://id.wikipedia.org/wiki/Termistor
http://www.scribd.com/doc/3128969/Termistor
http://2.bp.blogspot.com /termo.bmp




































L A M P I R A N