Anda di halaman 1dari 3

DAMPAK SOSIAL C-AFTA ( china asean free trade area )

Dengan diberlakukannya C-AFTA banyak memberi dampak terhadap kehidupan sosial masyarakat.
Dunia yang tanpa batas, keluar masuk barang yang intens serta interaksi dengan dunia luar disatu
sisi memberikan dampak positif bagi perkembangan masyarakat. Namun disisi yang lain,
pemberlakuan C-AFTA ini semakin menambah penderitaan sebagian besar masyarakat yang berada
dalam negara berkembang yang masih berada dibawah garis kemiskinan. Mereka digiring kepada
sebuah dunia dimana kekuatan pasar menjadi panglima, hilangnya subsidi dan peranan dari negara
dalam bidang ekonomi sehingga multi palyer effect dari kemiskinan menjadi meningkat seperti
tingginya angka kriminal.
Skenario liberalisasi melalui perjanjian perdagangan bebas memberikan dampak yang luas pada
negara-negara yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena barang-barang impor dari China dan
negara-negara ASEAN lainnya akan menyerbu sampai ke daerah-daerah yang pelosok. Sedangkan
upaya-upaya protektif terhadap produk-produk lokal berupa pemberian subsidi merupakan hal
yang dilarang didalam perjanjian C-AFTA tersebut. Akibatnya akan banyak pengusaha-pengusaha
kecil dikwatirkan akan gulung tikar, karena digilas oleh produk-produk dari negara lain yang murah
meriah dan berteknologi tingggi.
Sejumlah praktisi di industri dan kalangan asosiasi pun mulai merapatkan barisan. Mereka mencoba
menolak penandatanganan perjanjian tersebut, Soalnya bila sampai ditandatangani maka akan
mengancam kestabilan industri di negara negara berkembang. Karena dinilai hasil produksi yang
dihasilkan oleh negara-negara berkembang dengan teknologi yang jauh dibawah China bisa kalah
bersaing dengan produk impor dari China. Apalagi bila dilaksanakannya kebijakan yang sam-
pai membebaskan pajak impor hingga nol persen.
Tentu saja bila diantara negara-negara ASEAN menekan perjanjian tersebut, maka bisa dipastikan
akan terjadi defisit perdagangan yang akan dialami oleh negara yang berkembang. Ini akan
menimpa 10 sektor industri yang akan kembali ke titik nadir. Industri manufaktur nasional masih
butuh perlindungan bukan malah dibiarkan mau menghadapi China. Jika dibiarkan, ancaman PHK
dan deindustrialisasi akan menjadi kenyataan.
Dengan keadaan yang seperti demikian diperlukan langkah yang bijak untuk menyikapi hal
tersebut. Karena apabila berimplikasi besar terhadap masalah sosial, maka harus diambil langkah
tegas untuk mengatasinya, yang mana langkah tersebut memiliki keuntungan didua sisi, baik di sisi
masyarakat maupun disisi negara-negara lainnya yang telah menyetujui dari perjanjian
perdagangan bebas tersebut. Sebab masalah sosial merupakan masalah yang sangat penting dan
apabila terjadi masalah sosial seperti tingginya angka kemiskinan, melonjaknya angka
pengangguran, tingginya tingkat kriminalitas serta penyakit-penyakit sosial lainnya akan
membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkannya dan memerlukan biaya yang cukup besar
untuk merenovasi kehidupan sosial yang luluh lantak akibat kemiskinan.
Adanya liberalisasi dibidang ekonomi dan kurangnya peranan negara dibidang ekonomi menurut
Karl Max semakin membukanya pertentangan antar kelas. Pertentangan kelas antara kelas
pemodal yakni pengusaha dan kelas buruh yakni rakyak kecil, buruh, tani dan orang miskin. Dengan
adanya pertentangn antar kelas tersebut membuka peluang besar untuk terjadinya konflik-konflik
sosial ditengah masyarakat. Kaum miskin, buruh dan tani yang semakin terjepit oleh kerasnya
kehidupan akan melakukan pemberontakan-pemberontakan dengan nama Revolusi. Selanjutnya
Marx mengatakan bahwa dengan adanya liberalisasi dibidang ekonomi maka menyebabkan
terpusatnya kepemilikan cabang-cabang produksi. Produksi-produksi akan dimiliki oleh sekelompok
pribadi yang mana ini akan menyebabkan keterasingan (alienasi) dalam proses produksi. Langkah-
langkah konstruktif harus dilakukan dalam menghadapi era pasar bebas ini, salah satunya yakni
dengan melakukan pemberdayaan ekonomi di tingkat masyarakat kecil dan menengah. Dan hal
yang paling penting ialah melakukan pembangunan terhadap sumber daya manusia yang handal
sehingga bisa menangkap peluang-peluang dari globalisasi serta merubah ancaman menjadi
peluang ekonomi bagi masyarakat. Tanpa sumber daya manusia yang handal, perekonomian
dinegara-negara berkembang yang ikut tegabung dalam C-AFTA tetap tidak akan mengalami
progress.




DAMPAK ekonomi C-AFTA ( china asean free trade area )
Setelah diberlakukannya ACFTA, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perekonomian Indonesia
semakin morat-marit. Beberapa sektor semakin memburuk dan tidak jarang industri yang gulung
tikar akibat serbuan produk China yang sangat gencar. Berikut dampak positif dan negatif ACFTA
bagi indonesia .
Dampak positif :
1. ACFTA akan membuat peluang kita untuk menarik investasi. Hasil dariinvestasi tersebut
dapat diputar lagi untuk mengekspor barang-barang ke negara yangtidak menjadi peserta
ACFTA.
2. Dengan adanya ACFTA dapat meningkatkan voume perdagangan. Hal ini dimotivasi dengan
adanya persaingan ketat antara produsen. Sehingga produsen maupun para importir dapat
meningkatkan volume perdagangan yang tidak terlepas dari kualitas sumber yang
diproduksi.
3. ACFTA akan berpengaruh positif pada proyeksi laba BUMN 2010 secara agregat. Namun
disamping itu faktor laba bersih, prosentase pay out ratio atas laba juga menentukan
besarnya dividen atas laba BUMN. Keoptimisan tersebut, karena denganadanya ACFTA,
BUMN akan dapat memanfaatkan barang modal yang lebih murahdan dapat menjual
produk ke Cina dengan tarif yang lebih rendah pula (pemaparan MENKEU SriMulyani dalam
Rapat Kerja ACFTA dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR RI), Rabu (20/1). Porsi terbesar (91
persen) penerimaan pemerintah atas laba BUMN saat ini berasal dari BUMN sektor
pertambangan, jasa keuangan dan perbankan dan telekomunikasi. BUMNtersebut
membutuhkan impor barang modal yang cukup signifikan dan dapat menjual sebagian
produknya ke pasar Cin


Dampak Negatif :
1. Serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran sektor-
sektor ekonomi yang diserbu. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telah
mengalami proses deindustrialisasi (penurunan industri). Berdasarkan data Kamar
Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, peran industri pengolahan mengalami
penurunan dari 28,1% pada 2004 menjadi 27,9% pada 2008. Diproyeksikan 5 tahun
kedepan penanaman modal di sektor industri pengolahan mengalami penurunan
US$ 5miliar yang sebagian besar dipicu oleh penutupan sentra-sentra usaha strategis
IKM(industri kecil menegah). Jumlah IKM yang terdaftar pada Kementrian
Perindustriantahun 2008 mencapai 16.806 dengan skala modal Rp 1 miliar hingga Rp
5 miliar. Dari jumlah tersebut, 85% di antaranya akan mengalami kesulitan dalam
menghadapi persaingan dengan produk dari Cina.
2. Pasar dalam negeri yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga yang sangat
bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha dari produsen
di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau pedagang saja. Sebagai contoh,
harga tekstil dan produk tekstik (TPT) Cina lebih murah antara 15% hingga25%.
Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade
SudrajatUsman, selisih 5% saja sudah membuat industri lokal kelabakan, apalagi
perbedaannya besar. Gejala inilah yang mulai tampak sejak awal tahun 2010. Misal,
para pedagang jamu sangat senang dengan membanjirnya produk jamu Cina secara
legal yang harganyamurah dan dianggap lebih manjur dibandingkan dengan jamu
lokal. Akibatnya, produsen jamu lokal terancam gulung tikar.
3. Karakter perekomian dalam negeri akan semakin tidak mandiri dan lemah.Segalanya
bergantung pada asing. Bahkan produk tetek bengek seperti jarum sajaharus
diimpor. Jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor, sedangkan sektor-
sektor vital ekonomi dalam negeri juga sudah dirambah dan dikuasai asing,
makaapalagi yang bisa diharapkan dari kekuatan ekonomi Indonesia
4. Jika di dalam negeri saja kalah bersaing, bagaimana mungkin produk-produk
Indonesia memiliki kemampuan hebat bersaing di pasar ASEAN dan Cina?
Datamenunjukkan bahwa tren pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke Cina
sejak 2004hingga 2008 hanya 24,95%, sedangkan tren pertumbuhan ekspor Cina ke
Indonesiamencapai 35,09%. Kalaupun ekspor Indonesia bisa digenjot, yang sangat
mungkin berkembang adalah ekspor bahan mentah, bukannya hasil olahan yang
memiliki nilaitambah seperti ekspor hasil industri. Pola ini malah sangat digemari
oleh Cina yangmemang sedang haus bahan mentah dan sumber energi untuk
menggerakkanekonominya.
5. Peranan produksi terutama sektor industri manufaktur dan IKM dalam pasar
nasional akan terpangkas dan digantikan impor. Dampaknya, ketersediaan lapangan
kerja semakin menurun. Padahal setiap tahun angkatan kerja baru bertambah lebih
dari 2 juta orang, sementara pada periode Agustus 2009 saja jumlah pengangguran
terbuka di Indonesia mencapai 8,96 juta orang. Inilah dampak ACFTA terhadap
perekonomian di Indonesia yang penulis dapat kemukakan.