Anda di halaman 1dari 2

Sang Pencerah

Ahmad Dahlan terlahir dengan nama Muhammad Darwisy pada tahun 1868
dari kedua orang tuanya yaitu Kiai Haji Abubakar bin Kiai H Sulaiman dan Nyai
Abubakar. Kedua orang tua Ahmad Dahlan dikaruniai oleh tujuh orang anak, lima
perempuan dan dua laki-laki. Ahmad Dahlan sendiri adalah anak lelaki pertama yang
ketiga kakaknya adalah perempuan.
KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar
Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri
dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat pada masa itu. Dilihat dari silsilahnya, Muhammad Darwisy terlahir dari
keluarga yang mengerti agama. Muhammad Darwisy dididik dalam lingkungan
pesantren sejak kecil yang mengajarinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia
menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan
menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun. Di sinilah ia
berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti
Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibnu Taimiyah.
Pada usia 20 tahun (1888), ia kembali ke kampungnya, dan berganti nama
menjadi Ahmad Dahlan. Sepulangnya dari Makkah ini, iapun diangkat menjadi khatib
amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta dan ia menikah dengan Siti Walidah.
Seorang pemuda usia 20 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam
yang melenceng ke arah sesat, Syirik dan Bid'ah ingin ia mengajak umat Islam untuk
keluar dari jaring pemikiran tradisional melalui reinterpretasi terhadap doktrin Islam
dalam rumusan dan penjelasan yang dapat diterima oleh akal.
Dengan sebuah kompas, dia menunjukkan arah kiblat di Masjid Besar
Kauman yang selama ini diyakini ke barat ternyata bukan menghadap
ke Ka'bah di Mekah, melainkan ke Afrika. Umumnya masjid-masjid dan langgar-langgar
di Yogyakarta menghadap Timur dan orang-orang shalat mengahadap ke arah Barat
lurus. Padahal kiblat yang sebenarnya menuju Kabah dari tanah Jawa haruslah miring
kearah Utara + 24 derajat dari sebelah Barat. Berdasarkan ilmu pengetahuan tentang
ilmu falak itu, orang tidak boleh menghadap kiblat menuju Barat lurus, melainkan harus
miring ke Utara + 24 derajat. Oleh sebab itu, K.H. Ahmad Dahlan mengubah bangunan
pesantrennya sendiri supaya menuju ke arah kiblat yang betul.
Usul Ahmad Dahlan untuk mengubah kiblat masjid besar kontan membuat
para kiai, termasuk penghulu Masjid Agung Kauman, Kyai Penghulu Cholil
Kamaludiningrat meradang.
Walaupun usul perubahan arah kiblat ini ditolak, melalui suratnya Ahmad
Dahlan mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah. Ahmad
Dahlan dianggap mengajarkan aliran sesat, menghasut dan merusak kewibawaan
Keraton dan Masjid Besar, serta dianggap membangkang aturan yang sudah berjalan
selama berabad-abad lampau.
Bukan sekali ini Ahmad Dahlan membuat para kyai naik darah. Dalam khotbah
pertamanya sebagai khatib, dia menyindir kebiasaan penduduk di kampungnya,
Kampung Kauman, Yogyakarta. "Dalam berdoa itu cuma ikhlas dan sabar yang
dibutuhkan, tak perlu kiai, ketip, apalagi sesajen," katanya. Walhasil, Dahlan dimusuhi.
Langgar kidul di samping rumahnya, tempat dia salat berjamaah dan mengajar
mengaji, bahkan sempat hancur diamuk massa lantaran dianggap menyebarkan aliran
sesat. Dahlan yang piawai bermain biola juga dianggap kontroversial karena dianggap
biola itu milik orang belanda padahal biola itu ia dapatkan dari teman sewaktu di kereta.
Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir karena membuka sekolah yang
menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda, serta
mengajar agama Islam di Kweekschool atau sekolah para bangsawan di Jetis,
Yogyakarta.
Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan
lingkungan cendekiawan priyayi Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak
membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah dan
lima murid murid setianya : Sudja, Sangidu, Fahrudin, Hisyam dan Dirjo, Ahmad
Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam
agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.