Anda di halaman 1dari 38

USUL SKRIPSI

PERBANDINGAN EFEK ANTIBAKTERIAL EKSTRAK Aloe vera (LIDAH BUAYA)
TERHADAP PENGHAMBATAN PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus (ATCC
33826) DENGAN Salmonella typhi (ATCC 14028) SECARA I N VI TRO



Oleh:
Vici Muhammad Akbar
G1A010091





KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN
PURWOKERTO

2014
ii

SKRIPSI


PERBANDINGAN EFEK ANTIBAKTERIAL EKSTRAK Aloe vera (LIDAH
BUAYA) TERHADAP PENGHAMBATAN PERTUMBUHAN Staphylococcus
aureus (ATCC 33826) DENGAN Salmonella typhi (ATCC 14028)
SECARA I N VI TRO

Oleh:
Vici Muhammad Akbar
G1A010091



Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Kedokteran
pada Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman





Disetujui dan disahkan
Pada tanggal, 6 Juni 2014



Pembimbing I


Dra. IDSAP Peramiarti, M.Kes
NIP. 19630819.198903.2.002
Pembimbing II


dr. Lieza Dwianasari S, M.Kes
NIP. 19710515.200212.2.001


iii

DAFTAR ISI


Halaman
HALAMAN JUDUL.............................................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................ii
DAFTAR ISI………...............................................................................................iii
DAFTAR TABEL...................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... v
DAFTAR SINGKATAN........................................................................................vi

I. PENDAHULUAN ................................................................................... ....... 1
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Perumusan Masalah .................................................................................. 4
C. Tujuan Penelitian................................................................................ 4
D. Manfaat Penelitian…………………......................................................... 4
1. Manfaat Teoritis .................................................................................... 4
2. Manfaat Praktis ..................................................................................... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 6
A. Aloe vera…................................................................................................. 6
B. Salmonella typhi………................................................................................ 8
C. Staphylococcus aureus.............................................................................. 8
D. Efek Antibakterial A. vera Terhadap Bakteri............................................ 15
E. Kerangka Teori .................................................................................17
F. Kerangka Konsep ...................................................................................... 18
G. Hipotesis ................................................................................................... 19

III. METODE PENELITIAN ........................................................................... 20
A. Alat dan Bahan…........................................................................................20
1. Alat ………………................................................................................20
2. Bahan……….................................................................................20
B. Metode Penelitian ................................................................................... 20
C. Rancangan Percobaan................................................................................ 21
D. Variabel Penelitian..................................................................................... 22
E. Definisi Operasional................................................................................. 22
F. Cara Mengukur Variabel……………………………………………….. 23
G. Tata Urutan Kerja .................................................................................... 23
H. Analisis Data ............................................................................................ 26
I. Waktu dan Tempat Penelitian……………………………………..….… 28
J. Jadwal Penelitian…………………..………………………………….… 29


DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................30


iv


DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Definisi Operasional Variabel……………………………………22
Tabel 2 Jadwal Penelitian…………………………………………………29

v

DAFTAR GAMBAR
Halaman

Gambar 1 Aloe vera………………………………………………........................ 7
Gambar 2 Koloni Salmonella typhi …….…………………….......................... 9
Gambar 3 S. typhi………………………….……................................................ 9
Gambar 4 Koloni Staphylococcus aureus……………................................... 11
Gambar 5 S. aureus………………………….…….............................................12








































vi

DAFTAR SINGKATAN

SSA : Salmonella shigella agar
MSA : Manitol salt agar
MIC : Minimum inhibitory concentration
IC
50 :
Inhibitory Concentration 50
ATCC : American Type Culture Collection
UNSOED : Universitas Jenderal Soedirman



















1

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salmonella typhi (S.typhi) merupakan bakteri gram negatif yang dapat
menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan. Jenis bakteri ini dapat hidup
dalam aliran darah atau pada saluran pencernaan manusia yaitu tepatnya di usus
(CDC, 2008).
Bakteri ini berbentuk basil atau batang, memiliki dua membrane (membran
luar dan membran dalam, periplasma, dan rantai lipopolisakarida yang terdiri dari
3,6 – dideoxyhexose. S.typhi memiliki sistem regulasi yang kompleks yang dapat
berespon terhadap perubahan lingkungan sekitar. Pada penanaman di medium agar
SSA (Salmonella Shigella Agar) akan terlihat morfologi koloni dari S. typhi yang
berbentuk bulat dengan ukuran kecil sampai sedang, dan berwarna merah di
tengahnya terdapat titik hitam dan akan tumbuh secara maksimal pada suhu 37˚C
(Brooks et al., 2008).
S.typhi merupakan patogen bagi manusia, penyakit yang paling sering
disebabkan bakteri ini adalah demam tifoid. Salmonellosis adalah penyebab
signifikan penyakit diare pada manusia dan menyebabkan 1,4 juta angka kesakitan
dan rata – rata 600 kasus kematian per-tahun di Amerika Serikat. Dari penelitian
sebelumnya telah ditentukan sebabnya bahwa infeksi utama S.typhi ini terutama
dari makanan yaitu konsumsi daging, telur, produk jagung, buah, sayuran, dan air
minum (Bin Zeng et al., 2013).
Adapun bakteri yang merupakan flora normal pada tubuh manusia, yaitu
Staphylococcus aureus (S. aureus). Akan tetapi bila jumlah flora normal ini
berlebih dalam tubuh manusia dan berada tidak pada habitatnya aslinya maka flora
normal ini dapat berubah menjadi patogen yang dapat menginfeksi manusia.
2

Adapun habitat normal S. aureus yaitu pada kulit dan membrane mukosa manusia.
(Ogunleye et al., 2009).
S. aureus merupakan bakteri gram positif yang mempunyai bentuk kokus
dan bekteri ini akan terlihat bergerombol seperti anggur. Bakteri ini dapat di
biakkan pada medium agar yaitu, Blood Plate Agar dan atau pada Nutrient Agar
(NA). Suhu maksimum yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri tersebut
adalah 37˚C (Brooks et al., 2008).
S. aureus bila sudah menjadi patogen dalam tubuh manusia dapat
menyebabkan sejumlah penyakit mulai dari penyakit kulit, infeksi jaringan lunak
seperti bakterimia pada mukosa mulut dan pernafasan atas, pneumonia,
endokarditis, dan sepsis (Aswani et al., 2011).
Sebagian besar penelitian terkini tentang bakteri ini melibatkan proteomik
dari S. aureus dan MRSA (Methicillin Resistance Staphylococcus Aureus).
Resistensi terhadap antibiotik meticilin ini menjadi masalah yang serius bagi
penanganan penyakit yang di sebabkan S. aureus. Banyak kasus MRSA ini terjadi
di rumah sakit dan menyebabkan penyakit infeksi nosokomial sehingga dibutuhkan
pengobatan lain yang dapat membantu dalam mengatasi kasus infeksi bakterimia
yang disebabkan S. aureus tersebut (Buchan, 2010).
Di Indonesia sendiri masih banyak masyarakat yang menggunakan
alternatif pengobatan herbal untuk kesembuhannya dibandingkan dengan
pengobatan yang menggunakan bahan kimia seperti obat yang diresepkan oleh
dokter. Masyarakat pun meyakini, obat itu tidak harus yang selalu diresepkan oleh
dokter namun juga yang sudah tersedia di alam dan dapat digunakan untuk
kesembuhan, merupakan obat alamiah atau yang biasa disebut dengan obat herbal.
Obat alamiah atau herbal ini mempunyai sedikit efek samping dibandingkan
3

dengan obat kimia. Salah satu bahan alamiah yang digunakan masyarakat untuk
pengobatan bagi kesembuhan adalah penggunaan lidah buaya (Setyowati , 2010).
Lidah buaya atau Aloe vera merupakan tanaman yang sudah dikenal sejak
lama di Indonesia dan dapat digunakan sebagai obat ataupun bahan kosmetika pagi
wajah dan rambut. A. vera merupakan tanaman yang menyimpan air dalam
daunnya untuk bertahan hidup baik itu di daerah kering dan dataran rendah ataupun
daerah yang curah hujannya tidak menentu. Bagian dalam daunnya merupakan
jaringan lunak, lembab, dan licin yang terdiri dari sel parenkim yang besar dan
berdinding tipis dimana air tersebut di produksi. Daun A. vera ini tidak hanya
berdinding sel karbohidrat seperti selulosa dan hemiselulosa, tetapi juga
menyimpan karbohidrat seperti asetil mannans (Fatemeh, 2013).
A. vera telah digunakan selama beberapa abad dalam bidang terapi kuratif
dan mempunyai sifat terapeutik, Meskipun A. vera mempunyai lebih dari 75 bahan
aktif dari gel yang berada didalamnya yang telah identifikasikan dari penelitian
yang pernah dilakukan yang mengandung unsur – unsur potensial aktif seperti
vitamin, enzim, mineral, glukosa, lignin, saponin, antrakuinon, asam salisilat dan
asam amino. Vitamin yang terkandung didalamnya seperti vitamin B1, B2, B6,
kolin, asam folat, vitamin C, α-tocopherol, dan β-carotene. Enzim – enzim seperti
siklooksigenase, oksidase, amylase, katalase, lipase, alkalin phosphatase, dan
karboksipeptidase juga terkandung pada A. vera. Terdapat pula asam amino
esensial dan asam amino non esensial yang terkandung didalamnya. Asam amino
esensial tersebut adalah lisin, threonine, valin, leusin, isoleusin, phenylalanine, dan
methionine. Sedangkan asam amino non esensial yang terdapat didalamnya adalah
histidin, arginin, hidroksiprolin, asam aspartat, asam glutamate, prolin, glisin,
alanin, dan tirosin. Terdapat beberapa bahan aktif yang memiliki efek antibakterial
4

yang cukup kuat seperti fennol, tannin, antrakuinon, saponin, dan sterol. Bahan –
bahan aktif tersebutlah yang bisa menekan pertumbuhan bakteri atau berperan
sebagai antibakterial terhadap patogen pada manusia mengingat angka resistensi
penggunaan bahan kimiawi yaitu antibiotik sebagai antibakterial semakin tinggi
(Fatemeh, 2013).
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pemberian ekstrak A. vera dapat menghambat pertumbuhan koloni
bakteri S. typhi dan koloni bakteri S. aureus.
2. Apakah ada perbedaan daya hambat pertumbuhan koloni bakteri S. typhi dan
koloni bakteri S. aureus pada pemberian ekstrak A. vera.
3. Berapakah dosis efektif / MIC ekstrak A. vera yang dapat menghambat
pertumbuhan koloni bakteri S. typhi dan koloni bakteri S. aureus.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum :
Untuk mengetahui efek antibakterial ekstrak A. vera terhadap penghambatan
pertumbuhan koloni bakteri S. typhi dibandingkan dengan pertumbuhan koloni
bakteri S. aureus.
2. Tujuan Khusus :
a. Mengetahui daya hambat ekstrak A. vera terhadap pertumbuhan koloni
bakteri S. typhi.
b. Mengetahui daya hambat ekstrak A. vera terhadap pertumbuhan koloni
bakteri S. aureus.
c. Mendapatkan dosis efektif / MIC ekstrak A. vera yang dapat menghambat
pertumbuhan koloni bakteri S. typhi dan koloni bakteri S. aureus.

5


D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritik
Untuk menambah khasanah pengetahuan dibidang mikrobiologi dan
farmakologi kedokteran.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kandungan yang
terdapat didalam A. vera dan efek antibakterial ekstrak A. vera.
b. Bagi Farmasi
Diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang kandungan yang terdapat
didalam A. vera dan manfaat ekstrak A. vera sebagai alternatif untuk
mencegah pertumbuhan bakteri S. typhi dan S. aureus.
c. Bagi Pengembang Bisnis Obat
Untuk mengadakan uji klinis lebih lanjut terhadap manfaat antibakterial
A. vera sehingga bisa membuat inovasi baru dengan menggunakan berbagai
unsur potensial yang terkandung didalamnya.





6


II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Aloe vera
Aloe vera atau lidah buaya merupakan tanaman yang masuk ke dalam
family Liliaceae. A. vera merupakan tanaman seperti kaktus yang mudah
tumbuh ditempat yang beriklim panas dan kering. A. vera telah banyak
digunakan di negara Timur Tengah, Afrika, hingga Mediterania. Hal ini
didapatkan bahwa A. vera dapat tumbuh liar di Siprus, Malta, Sisilia, Cape
Verde, hingga gorong - gorong kering di India (Rajeswari, 2010). Tanaman A.
vera, yang banyak tersebar di Indonesia, dan dapat tumbuh dengan subur di
Pontianak, Kalimantan Barat karena iklim tropis di Indonesia. Penggunaan A.
vera sendiri di Indonesia sudah banyak digunakan sebagai bahan baku untuk
kosmetika, bahan pangan, pembuatan sabun atau shampoo serta mengobati
berbagai macam penyakit (Ratnaningtyas, 2010). A. vera sendiri sudah banyak
digunakan di Indonesia sebagai obat herbal, yaitu sebagai laksatif (Hartawan,
2012).

7


Gambar 1. Aloe vera

Secara taksonomi, Aloe vera diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Liliales
Family : Liliaceae
Genus : Aloe
Spesies : Aloe vera (Joseph, 2010).
A. vera memiliki morfologi yang sangat unik. Tanaman ini memiliki
batang yang berserat atau berkayu, dan banyak kandungan di dalam daun dan
gelnya. Diduga komponen tubuh berupa, vitamin, polisakarida, antibakteri,
antifungi, antivirus, antiinfeksi, antiperadangan dan masih banyak zat lain yang
bermanfaat bagi manusia terdapat didalam A. vera (Baswarsiati dan Dewi,
2009). Terdapat beberapa bahan aktif yang memiliki efek antibakterial yang
8

cukup kuat seperti fennol, tannin, antrakuinon, saponin, dan sterol. Bahan –
bahan aktif tersebutlah yang bisa menekan pertumbuhan bakteri atau berperan
sebagai antibakterial terhadap patogen pada manusia mengingat angka
resistensi penggunaan bahan kimiawi yaitu antibiotik sebagai antibakterial
semakin tinggi (Fatemeh, 2013).
Di antara komponen-komponen di atas, ada beberapa komponen zat
yang memiliki efek antibakterial, yaitu antrakuinon dan acemannan (Hartawan,
2012). Pada penelitian yang dilakukan oleh Joseph et al (2010) menunjukkan
bahwa efektivitas antrakuinon pada A. vera sebagai antibakterial dan
antiinflamasi tergantung dosisnya, dalam jumlah besar senyawa ini mempunyai
efek pencahar yang kuat, tetapi ketika jumlah kecil membantu penyerapan
makanan di usus dan sebagai agen antimikroba yang ampuh (Joseph, 2010).
2. Salmonella typhi (S. typhi)
S. typhi merupakan bakteri gram negatif yang dapat menyebabkan
peradangan pada saluran pencernaan. Penyakit paling sering yang ditimbulkan
adalah demam tifoid (Bin Zeng et al., 2013).
S. typhi sendiri merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang yang
termasuk dalam familia Enterobacteriacea, anaerob, tidak membentuk spora,
dan mampu bergerak secara spontan. S. typhi mempunyai karakteristik yang
penting bahwa dapat tumbuh dan berkembang biak diluar tubuh host, sehingga
mempunyai peluang kelangsungan bertahan hidup lebih besar (Gray, 2002).
9


Gambar 2. Koloni S. typhi (Todar, 2008).
S. typhi akan tumbuh pada medium Salmonella Shigella Agar dan
membentuk koloni yang memiliki morfologi berukuran kecil, berwarna kuning
bening, dan berbentuk bulat, sedangkan sifatnya adalah tidak berlendir dan
berbau menyengat (Ochiai et al., 2005).

Gambar 3. Salmonella typhi (Todar, 2008).
a. Infeksi S. typhi pada manusia
S. typhi dapat menjadi patogen pada manusia dan menyebabkan infeksi
lebih dari 20 juta penduduk dunia dan menyebabkan kematian pada 20.000
penduduk dunia setiap tahunnya. Manifestasi yang diakibatkan karena infeksi
S. typhi yaitu demam tifoid. Bakteri ini dapat masuk kedalam tubuh manusia
melalui transimisi air dan makanan menyebar ke traktus gastrointestinal.
Bakteri ini mencapai usus halus bagian proksimal, dan melakukan penetrasi
kedalam lapisan mukosa epitel. Setelah S. typhi mencapai kelenjar getah
10

bening regional mesenterium dan kemudian terjadi bakteremia pada organ lain
seperti liver, spleen, kantung empedu dan ginjal (Charles, 2010).
Bakteremia S. typhi ini menyebabkan dua kejadian kritis yaitu masuknya S.
typhi kedalam kantung empedu dan plaque peyer. Infeksi yang disebabkan
akan menimbulkan peradangan yang hebat dan akan terjadi nekrosis pada
jaringan tersebut. Nekrosis ini ditandai dengan kolesistisis nekrotikans, dan
perdarahan usus (Charles, 2010).

b. Resistensi S. typhi pada Antibiotik
Sudah dilakukan penelitian sejak dahulu tentang kepekaan antibiotik
terhadap penggunaan pengobatan untuk penyakit yang disebabkan oleh S.typhi.
Pada tahun 2007 – 2008 dilakukan kembali penelitian pada 6 rumah sakit
berbeda di Iran tentang resistensi antibiotik terhadap pengobatan penyakit
karena S.typhi. Kemampuan resistensi ini dikarenakan S. typhi memiliki gen
aadA, aadB, strA, strB, aphAl-lab, bla
PSE
dan bla
TEM.
Gen bla
PSE
dan bla
TEM

yang mampu mengiduksi enzim β-lactamase, dan gen tersebut mampu
mendegradasi ampicillin sebesar 63% dengan cara memecah cincin β-
laktamase (Tajbakhsh, 2011).

3. Staphylococcus aureus (S. aureus)
S. aureus merupakan bakteri gram positif yang mempunyai bentuk
kokus dan bekteri ini akan terlihat bergerombol seperti anggur. Bakteri ini
dapat dibiakkan pada medium agar yaitu, Blood Plate Agar dan atau pada
Nutrient Agar (NA). Suhu maksimum yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
bakteri tersebut adalah 37˚C. S. aureus merupakan bakteri yang paling sering
11

ditemukan dalam tubuh manusia. Sifat S. aureus sendiri merupakan flora
normal dalam tubuh manusia, tetapi dapat juga menjadi patogen apabila
terdapat pada luka yang terbuka dan mukosa hidung (Brooks et al., 2008). S.
aureus sendiri merupakan bakteri gram positif yang memiliki morfologi
dengan bentuk coccus, bergerombol seperti anggur (Harris et al., 2002).

Gambar 4. Koloni S. aureus (Todar, 2008).

S. aureus termasuk mudah tumbuh pada pembenihan bakteriologik
dalam keadaan aerob, tumbuh paling cepat pada suhu kamar 37° C. Koloni
pada media agar padat Blood Plate Agar atau Nutrient Agar terlihat berbentuk
bulat, halus, elevasi cembung dan berkilau (Brooks et al., 2008).

Gambar 5. Stapylococcus aureus (Todar, 2008).
12


a. Infeksi S. aureus pada Manusia
S. aureus banyak terdapat pada mukosa saluran pernapasan atas manusia,
bakteri ini bersifat sebagai flora normal. Namun pada beberapa keadaan dapat
menjadi patogen bagi manusia. Infeksi yang disebabkan S. aureus mulai dari
derajat ringan sampai berat. Infeksi terjadi di kulit dan jaringan, yang
menyebabkan bakterimia, impetigo, pneumonia, endokarditis dan sepsis. Pada
infeksi yang berulang dapat menyebabkan impetigo dan infeksi luka.
Sedangkan pada infeksi yang lebih berat dapat menyebabkan pneumonia,
endokarditis dan infeksi nosokomial (Aswani, 2011).
Infeksi S. aureus pada kulit dapat berlanjut menjadi selulitis atau
peradangan dan oedema pada jaringan epidermis dan dermis. Pada kasus
komplikasi yang serius dapat menyebabkan staphylococcal scalded skin
syndrome. Ketika S. aureus mauk dan menyebar ke organ – organ lain dapat
mempengaruhi organ paru dan menyebabkan pneumonia staphylococcal dan
dapat menyebar lagi ke organ jantung lewat aliran darah paru – jantung yang
mengenai katup jantung juga endokardium yaitu endokartis (Aswani,2011).
S. aureus juga dapat menyebabkan keracunan pada organ gastrointestinal
yang menyebabkan Toxic Shock Syndrome dengan gejala demam tinggi, mual,
muntah, diare, dan dehidrasi yang diikuti dengan nyeri pada otot juga tekanan
darah rendah (hipotensi). Bila kejadian ini terus berlanjut maka mengakibatkan
shock yang berujung pada kematian (Aswani, 2011).
b. Resistensi S. aureus pada Antibiotik
S. aureus memiliki kemampuan memproduksi sebuah enzim yaitu
penisilinase. Penisilinase ini merupakan metabolisme dari S.aureus yang dapat
13

menghambat kerja antibiotik golongan pensilin. S. aureus memiliki gen blaZ
yang mengkode enzim β-laktamase. Gen ini mampu mendegradasi obat
antibiotik penisilin dengan cara memecah cincin β-laktamase (Sudigdoadi,
2010).
Penisilin merupakan antibiotik β-laktam yang kerjanya dapat mengatasi
infeksi bakteri seperti S. aureus. Karena penggunannya begitu luas dan tidak
terkontrol dengan baik maka terjadilah resistensi terhadap obat-obatan
golongan penisilin dari S. aureus. Obat – obatan tersebut dapat dilawan S.
aureus karena kemampuan memproduksi β-laktamase sehingga dapat
beradaptasi dengan baik (Hardy, 2004).

c. Uji Kepekaan Antimikroba
Uji kepekaan anti mikroba yaitu bertujuan untuk mengukur kemampuan
zat antimikroba untuk menghambat pertumbuhan bakteri secara in vitro.
Kemampuan ini dapat diperkirakan melalui metode dilusi. Metode dilusi ini
terdiri dari dua teknik yaitu teknik dilusi cair dan teknik dilusi agar.
Konsentrasi yang terendah menghambat pertumbuhan setelah inkubasi disebut
konsentasi hambatan minimum (Minimum Inhibitory Concentration / MIC).
Nilai MIC tersebut digunakan untuk menilai respon klinis obat, dan kemudian
dibandingkan dengan konsentrasi obat yang diketahui tercapai dalam serum
dan cairan tubuh lainya (Puspitasari, 2008).
Teknik dilusi cair terdiri dari makrodilusi dan mikrodilusi. Pada
prinsipnya adalah sama tetapi yang membedakan untuk makrodilusi volume
yang digunakan lebih dari 1 ml, sedangkan untuk mikrodilusi volume yang
digunakan mulai dari 0,05 ml sampai 0,1 ml. (Puspitasari, 2008).
14

Selain teknik dilusi cair, dapat juga digunakan teknik dilusi agar. Pada
teknik dilusi agar ini dilakukan pengenceran yang dicampurkan dengan obat
dan kemudian ditambahkan kedalam agar, sehingga memerlukan pembenihan
sesuai jumlah pengenceran. Pada teknik dilusi agar ini dapat dilihat kadar
bunuh minimal (KBM) dengan cara melihat zona yang terbentuk pada medium
agar dan kontrol (Juliantia, 2012).

4. Efek antibakterial A. vera terhadap bakteri
A. vera memiliki kandungan yang diduga memiliki efek antibakterial,
terdapat berbagai mekanisme kerja antibakteri yaitu mekanisme penghambatan
sintesis dinding sel, penghambatan fungsi membran sel, penghambatan sintesis
protein, penghambatan metabolisme sel bakteri, dan penghambatan sintesis
asam nukleat (Rosyidah, 2010).
Mekanisme antibakteri pertama dapat dilakukan melalui dinding sel yang
mengandung peptidoglikan, yaitu suatu kompleks polimer nukopeptida yang
terdiri dari polisakarida dan polipeptida. Polisakarida sendiri terikat pada rantai
pendek peptida yang dapat mengganggu sifat ketahanan suatu dinding sel jika
terjadi reaksi transpeptidasi oleh berbagai enzim. Kemudian inhibitor enzim
autolisis dalam dinding sel yang dapat mengaktivasi enzim lisis menjadi tidak
aktif sehingga menyebabkan terjadinya lisis jika keadaan lingkungan sel
bakteri isotonis atau memiliki tekanan yang sama. Mekanisme penghambatan
fungsi dari membran sel tersebut terjadi akibat terganggunya integritas
fungsional dari membran sel yang dapat menyebabkan makromolekul dan ion
keluar dari intrasel bakteri sehingga terjadi kematian sel. Mekanisme kedua
yaitu dengan penghambatan sintesis protein yang terjadi melalui penghambatan
15

translasi dan transkripsi bahan genetik. Mekanisme lainnya adalah dengan
menghambat metabolisme sel bakteri dengan cara menghambat kerja enzim
yang penting bagi pertumbuhan bakteri. Mekanisme terakhir adalah dengan
cara penghambatan sintesis asam nukleat, yaitu dengan menghambat sintesis
RNA dan DNA dalam sel bakteri.
Efek antibakterial yang dihasilkan oleh A. vera dihasilkan dari berbagai
senyawa yang terkandung didalamnya. Senyawa – senyawa tersebut
diantaranya adalah, antrakuinon, saponin, tanin, dan sterol (Rosyidah, 2010).
Antrakuinon secara alami ditemukan dalam beberapa tanaman seperti
Aloe Senna Rhubarb,Cascara dan lainnya. Antrakuinon memilik bentuk berupa
bubuk kristalin berwarna kuning atau abu kehijauan. Antrakuinon yang
terkandung dalam kulit lidah buaya yang berwarna kuning dan rasa pahit,
terdiri dari glikosida Aloin A (barbaloin) dan Aloin B (isobarbaloin). Alon
sendiri memiliki sifat antiinflamasi dan antibakteri, namun pada jumlah besar
dapat menimbulkan efek pencahar atau laksatif denan meningkatkan gerakan
peristaltik usus (Rosyidah, 2010).
Antrakuinon tersebut merupakan senyawa turunan kuinon. Kuinon
sendiri merupakan antibakteri yang efektif. Kuinon dapat bersifat sebagai
antibakteri karena dapat membentuk kompleks dengan asam amino nukleofilik
didalam protein, sehingga menghilangkan fungsi dari protein tersebut yang
menyebabkan kerusakan dinding sel bakteri dan membunuh ataupun
menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Saponin serta sterol bekerja
sebagai antibakteri dengan cara menghambat pertumbuhan bakteri itu sendiri.
Dengan menghambat sintesis protein dari bakteri tersebut maka menyebabkan
perubahan komponen bakteri tersebut (Rosyidah, 2010).
16

Tanin merupakan senyawa yang banyak terdistribusi dalam daun, buah,
kulit, atau batang suatu tanaman. Tanin juga memilik efek aktivitas biologis
sebagai agen presipitasi protein, alkaloid, gelatin, dan polisakarida. Tanin
tersebut adalah salah satu komponen yang terdapat dalam A. vera yang
memiliki sifat antibakterial. Tanin bekerja sebagai antibakteri dengan cara
menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara menghambat dinding sel bakteri
(Bawono, 2013).
Saponin merupakan suatu glikosida dari triterpenoid atau aglikon steroid
dengan jumlah rantai gula yang bervariasi. Saponin banyak ditemukan dari
tanaman dan merupakan salah satu sumber alami. Fungsi saponin dalam
tanaman ialah sebagai bentuk penyimpanan karbohidrat, produk buangan dari
metabolisme tumbuh – tumbuhan, atau sebagai fungsi proteksi dari serangan
serangga (Bawono, 2013).
Saponin memiliki beberapa sifat lain, diantaranya menghasilkan busa
dalam larutan air, mempunyai rasa pahit, dan membentuk persenyawaan
dengan kolesterol serta hidroksisteroid. Saponin bersifat hipokolesterolemik,
imunostimulator, dan antikarsinogenik. Mekanisme antikarsinogenik ini
meliputi efek antioksidan dan sitotoksik langsung pada sel kanker, selain itu
saponin sangat efektif sebagai agen antimikroba terhadap bakteri, virus, jamur,
dan ragi (Bawono, 2013).
Sterol atau steroid alhokol merupakan derivat dari kelompok steroid yang
memiliki triterpena dengan kerangka dasar cincin siklopentana
perhidrofenantrena dan memiliki guus hidroksil. Senyawa sterol yang terdapat
dalam tanaman disebut fitosterol. Sterol lain yang juga terkandung didalam
17

tanaman selain fitosterol adalah sitosterol, stigmasterol, kampasterol,
ergosterol, dan fukosterol (Bawono, 2013).
Sterol yang terkandung dalam A. vera yaitu kolesterol, campesterol,
lupeol, dan β-sitosterol berfungsi sebagai agen antiinflamasi. Lupeol yang
termasuk salah satu bagian dari sterol juga memiliki sifat analgesik,
antimalaria, antiatritik, dan antiseptik. Sifat antispetik yang dimilik lupeol
terbukti aktif terhadap bakteri Staphylococcus auerus (Bawono, 2013).



















18

B. Kerangka Teori



















Gambar 3. Kerangka teori (Brooks et al., 2008; Bashir et al., 2011)
Keterangan :
: Garis pengaruh
: Garis penghambat

Ekstrak daun A.
vera
Pembentukan dinding sel
terganggu, perubahan
komponen dinding sel dan
membran sel bakteri

Penyebab infeksi
S. typhi
Membran sel
Efek antibakterial
Penghambatan pertumbuhan
S. typhi dan S. aureus
S. aureus
Sterol
Antrakuinon,
Saponin,
Tanin
Replikasi
Inaktivasi protein
dan menghambat
pembentukan
peptidoglikan
pada dinding sel
Bakteri lisis
19

C. Kerangka Konsep








Keterangan :
: Garis hubungan
: Menghambat

D. Hipotesis
1. Pertumbuhan koloni bakteri S. typhi dan S. aureus dapat dihambat dengan
pemberian ekstrak A. vera.
2. Terdapat perbandingan sensitivitas pertumbuhan koloni S. aureus dengan S.
typhi terhadap ekstrak A. vera.
3. Semakin rendah konsentrasi ekstrak A. vera dalam penghambatan pertumbuhan
koloni bakteri yang digunakan maka semakin sensitif pula efek yang
ditimbulkan.
4. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak A. vera yang digunakan maka semakin
tinggi pula penghambatan pertumbuhan koloni bakteri S. typhi dan S. aureus
yang ditimbulkan.

Ekstrak Aloe
vera
konsentrasi
75%, 60%,
45%, 30%, dan
15%
Penghambatan
pertumbuhan
S. typhi
Kontrol negative
(akuades)

Penghambatan
Pertumbuhan
S. aureus
20

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Alat dan Bahan
1. Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah autoklaf (All American
Model No. 25X), lemari es , blender (10.00 rpm), inkubator (memert incubator),
tabung reaksi (pyrex), cawan petri (pyrex) mikro pipet (Finipete), blue tips,
timbangan (AND EK-1200i), kertas label, aluminium foil, tissue, kertas
pembungkus, pembakar Bunsen, Erlenmeyer (pyrex), drugal sky (Germany
handle), jarum ose (Germany Handle).
2. Bahan
Bahan - bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alkohol 70%, etanol
96 %, ekstrak ethanol Aloe vera, akuades, Nutrient Broth, media SSA
(Salmonella Shigella Agar) dan media MSA (Manitol Salt Agar).
B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Posttest-only with Control Group
Design. Mengacu pada penelitian sebelumnya untuk membantu menentukan
konsentrasi ekstrak A. vera yang efektif. Desain penelitian ini memungkinkan
peneliti untuk membandingkan efek dari penghambatan pertumbuhan S. aureus dan
S. typhi oleh ekstrak daun A. vera dengan konsentrasi sebesar 15%, 30%, 45%, 60%
dan, 75% kemudian membandingkan kelompok pertumbuhan S. aureus dan S.
typhi dengan yang diberi akuades sebagai kontrol negatif.



21

C. Rancangan Percobaan
Penelitian dilakukan dengan rancangan posttest design pada ekstrak daun
aloe vera dan akuades sebagai kontrol negatif. Posttest design dilakukan dengan
memasukkan ekstrak daun A. vera dan akuades pada tabung reaksi yang dibuat
dengan media yang sudah dikultur bakteri S. typhi dan S. aureus. Jumlah presentase
koloni bakteri pada media yang sudah dikultur dan dibandingkan dengan kontrol
negatif kemudian dihitung untuk menilai potensi antibakteri ekstrak daun A. vera
(Vandepitte dan Verhaegen, 2010).
Penentuan jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini dengan
menggunakan rumus Federer yaitu (t-1)(n-1) > 15 dimana t adalah jumlah perlakuan
dan n adalah jumlah ulangan. Penelitian ini membagi sampel menjadi 6 konsentrasi
sehingga didapatkan jumlah ulangan adalah 4 kali pengulangan. Estimasi drop out
10% dari total sampel, maka menjadi 5 pengulangan. Berdasarkan rumus tersebut,
keseluruhan sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 36.
Kelompok pengulangan dibagi menjadi 6 kelompok :
1. Kelompok control negatif (Konsentrasi 0%) adalah cawan yang diberikan
akuades sebagai kontrol negatif sebanyak 5 sampel
2. Kelompok 15% (Konsentrasi 15%) adalah cawan yang diberikan konsentrasi
15% sebanyak 5 sampel.
3. Kelompok 30% (Konsentrasi 30%) adalah cawan yang diberikan konsentrasi
sebesar 30% sebanyak 5 sampel.
4. Kelompok 45% (Konsentrasi 45%) adalah cawan yang diberikan konsentrasi
sebesar 45% sebanyak 5 sampel.
5. Kelompok 60% (Konsentrasi 60%) adalah cawan yang diberikan konsentrasi
sebesar 60% sebanyak 5 sampel.
22

6. Kelompok 75% (Konsentrasi 75%) adalah cawan yang diberikan konsentrasi
sebesar 75% sebanyak 5 sampel.

D. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas : Ekstrak ethanol daun A. vera dengan konsentrasi
sebesar 15%, 30%, 45%, 60% dan, 75% sebagai antibakteri.
2. Variabel Terikat : Pertumbuhan S. typhi dan S. aureus


E. Definisi Operasional Variabel
No Definisi Operasional Skala
1. Ekstrak ethanol A. vera adalah
ekstrak dari tumbuhan A. vera yang
dilarutkan dalam pelarut ethanol
dengan metode ekstraksi maserasi
yang kemudian dibuat beberapa
konsentrasi, yaitu 15%, 30%, 45%,
60% dan, 75%. Untuk pengenceran
konsentrasi, digunakan larutan
akuades steril.
Rasio
2. Pertumbuhan bakteri S. typhi dan S.
aureus dilihat dari pertumbuhan
koloni bakteri S. typhi dan S. aureus
pada medium cawan masing –
masing bakteri. Potensi
penghambatan pertumbuhan dinilai
dari jumlah penurunan pertumbuhan
koloni tiap bakteri yang dihasilkan
yang telah diberikan perlakuan
ekstrak ethanol A. vera dan kontrol
negatif. Disebut menghambat jika
terdapat lebih sedikit pertumbuhan
koloni tiap bakteri dibandingkan
dengan kontrol negatif, tidak
menghambat jika tidak terdapat
penurunan jumlah koloni tiap bakteri
dibandingkan dengan kontrol
negative.
Rasio

23


F. Cara Mengukur Variabel
Untuk mengetahui adanya daya hambat pada pertumbuhan bakteri
S. typhi dan S. aureus maka digunakan metode dilusi cair yang ditetesi ekstrak daun
A. vera dengan konsentrasi yang berbeda pada tiap tabung reaksi. Terdapat 6 tabung
reaksi yang salah satunya digunakan sebagai kontrol negatif kemudian 5 tabung
sisanya akan diberi ekstrak aloe vera dengan konsentrasi 15%, 30%, 45%, 60% dan
75%. Dari setiap tabung tersebut diberikan suspensi masing – masing bakteri
sebanyak 100µl menggunakan mikropipet. Kemudian, cawan petri yang berisi
media, bakteri dan ekstrak A. vera akan diinkubasi selama 2 x 24 jam dengan suhu
37
0
C. Pengukuran pertumbuhan koloni S. Typhi dan S. Aureus dilakukan dengan
cara menghitung jumlah koloni menggunakan colony counter.
Cara menghitung penghambatan dengan menggunakan metode Lay, yaitu
dengan membandingkan selisih antara jumlah koloni yang diberi akuades (sebagai
kontrol) dan jumlah koloni dari perlakuan yang dicobakan. Hasil yang didapatkan
dinyatakan dalam persentase. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi
Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas
Jenderal Soedirman.

G. Tata Urutan Kerja
Tata urutan kerja pada penelitian ini meliputi sterilisasi alat, persiapan alat,
bahan, persiapan larutan uji dan uji kepekaan mikroba.
1. Sterilisasi Alat
Sterilisasi dilakukan menggunakan sterilisasi basah, yaitu sterlisasi dari
organisme pada peralatan yang dilakukan dengan autoklaf menggunakan uap air
jenuh bertekanan 2 atm pada suhu 121°C selama 30 menit.
24

2. Persiapan Larutan uji
Tumbuhan A. vera, didapatkan dari perkebunan A. vera di Bantarsoka,
Berkoh, Banyumas, Jawa Tengah yang kemudian ditanam sendiri oleh peneliti
pada tanah yang sudah diberikan pupuk, dan setiap harinya disiram air.
Karakteristik A. vera yang digunakan adalah yang berumur 5-6 bulan dengan
ketinggian daun mencapai 30-40 cm serta memiliki ketebalan di pangkal
mencapai 3-4 cm. Untuk persiapan dan pembuatan ekstrak daun A. vera,
dilakukan dengan cara maserasi. Maserasi adalah suatu cara pencairan simplisia
dengan cara merendam simplisia tersebut dalam pelarut dengan beberapa kali
pengocokan atau pengadukan pada suhu ruangan, sedangkan remaserasi adalah
pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat
pertama dan seterusnya. Ekstrasi dengan metode maserasi ini dilakukan pada
daun dan gel A. vera secara bersamaan. A. vera dicuci terlebih dahulu kemudian
dipotong - potong, lalu dimasukan kedalam alat maserasi untuk dihaluskan
menjadi satu. Kemudian, direndam dalam larutan ethanol selama 4 hari. Setelah
itu larutan ini disaring dan kemudian hasil saringannya dilakukan evaporasi
pada evaporator untuk mendapatkan hasil ekstrak (Agarry et al., 2005).

3. Pembuatan Variasi Konsentrasi Larutan
Larutan ekstrak A. vera dibuat dengan cara melarutkan hasil ekstrak aloe
vera dengan akuades. Pengenceran dilakukan dengan menggunakan rumus
konsentrasi sebagai berikut :

Keterangan :
b = bobot ekstrak (gram)
25

v = volume larutan (ml)
Larutan ekstrak aloe vera dengan konsentrasi 15%, 30%, 45%, 60%, dan
75% diperoleh dengan cara pengenceran menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
M1 : Konsentrasi awal larutan ekstrak A. vera yang diencerkan
V1 : Volume awal larutan ekstrak A. vera yang diencerkan
M2 : Konsentrasi akhir larutan ekstrak A. vera yang diencerkan
V2 : Volume akhir larutan ekstrak A. vera yang diencerkan
Vx : Volume Nutrient Broth

4. Uji Kepekaan
Disediakan dua buah suspensi bakteri yang akan diujikan ( S. typhi dan S.
aureus ), dari masing – masing bakteri diambil menggunakan jarum ose untuk
diinokulasikan pada media NB 10 ml, kemudian diinkubasi pada suhu 37°C
selama 1 x 24 jam. Kemudian ambil 100µl yang dan dimasukkan kedalam
tabung yang sudah berisi ekstrak A. vera dengan konsentrasi yang berbeda dan
tabung yang berisi akuades sebagai kontrol negatif. Setelah itu lakukan
pengenceran sampai 10
-6
suspensi bakteri, dua pengenceran terakhir dilakukan
penanaman pada media masing – masing (SSA untuk S. typhi dan MSA untuk S.
aureus) secara Federel menggunakan metode agar spread plate. Inkubasi
berikutnya dilakukan selama 2 x 24 jam pada suhu 37°C. Amati jumlah
pertumbuhan koloni pada kontrol negatif, dan perlakuan ekstrak A. vera. Hitung
persentase penghambatan pertumbuhan pada ekstrak A. vera.

26


H. Analisis Data
Analisis data yang akan dilakukan untuk uji aktivitas antibakterial ekstrak A.
vera dilakukan dengan menggunakan analisis probit untuk mengetahui kadar
Inhibitory Concentration 50 (IC
50
)

dengan menghitung persentase daya hambat
terhadap bakteri S. typhi dan S. aureus. Nilai probit didapatkan melalui table probit
berdasarkan pada persentase daya hambat dan dibuat persamaan garis Y = a+bx
dimana Y = persentase kematian atau penghambatan 50% atau nilai probit 5. Dan X
= log konsentrasi. Nilai IC
50
diperoleh dari persamaan tersebut dengan memasukkan
nilai probit 5. Rumus nilai IC
50
adalah sebagai berikut :
a = ∑(X)∑(XY)-∑(X
2
)∑(Y)
(∑(X)
2
)-n∑(X
2
)
b = ∑(X) ∑(Y)-n∑(XY)
(∑(X))
2
-n∑(X
2
)

r = n∑(XY)- ∑(X) ∑(Y)
(

) (())

(

) ((())

Persamaan garis Y = a+bX
IC
50
5 = a+bX
bX = 5-a
X = 5-a
b
Anti log X = konsentrasi IC
50
Yang akan diinterpretasikan, pada konsentrasi berapakah ekstrak A. vera dapat
menghambat pertumbuhan 50% bakteri S. typhi dan S. aureus.
27

Pertumbuhan koloni dihitung dengan menggunakan metode Total Plate
Count (TPC) dengan rumus :
Jumlah koloni/ml=

Keterangan :
A : jumlah koloni bakteri
a : faktor pengenceran
n : jumlah pengenceran yang dibuat agar tuang

Perhitungan persentase penghambatan pertumbuhan koloni bakteri
Persen (%) penghambatan pertumbuhan koloni =





Keterangan :
% penghambatan : persentase kemampuan kadar
ekstrak A. vera dalam menghambat
pertumbuhan S. typhi dan S.
aureus.
Jumlah koloni perlakuan 0% : jumlah koloni S. typhi dan S. aureus
pada media setelah perlakuan dengan
pemberian ekstrak A. vera dengan
konsentrasi 0%.
28

Jumlah koloni masing-masing konsentrasi : jumlah koloni S. typhi dan S.
aureus setelah perlakuan dengan
pemberian ekstrak A. vera dengan
konsentrasi 15%, 30%, 45%, 60%,
dan 75%.

Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan program SPSS. Data yang
didapat akan diuji normalitasnya dengan menggunakan uji Saphiro – Wilk. Data
yang didapat tidak terdistribusi normal maka dilakukan transformasi data dan
dilakukan uji normalitas kembali. Apabila data tetap tidak terdistribusi normal maka
data selanjutnya akan diuji dengan menggunakan uji Kruskal Wallis, yaitu uji
analisis komparatif dua kelompok tidak berpasangan untuk mengetahui adanya
perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan pada variabel tergantung. Untuk
mengetahui kelompok mana saja yang terdapat perbedaan bermakna, dilakukan uji
Post Hoc Mann Whitney. Semua uji dilakukan dengan tingkat kepercayaan 95%
(α=0,05) (Dahlan, 2009).
I. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dan pengamatan dilaksanakan pada bulan Mei - Oktober 2014 di
Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Kedokteran UNSOED.
J. Jadwal Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2014 – Oktober 2014.





29

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
Bulan ke
Waktu Kegiatan I II III IV V VI
Tahap Persiapan √
Penyusunan Proposal √
Seminar Proposal √
Tahap Pelaksanaan √
Penelitian dan Pengambilan
Data

Pengolahan dan Analisis
Data

Tahap Akhir Penelitian √
Penyusunan Hasil √
Seminar Hasil √













30


DAFTAR PUSTAKA

Aswani, Vijay H. Shukla, Sanjay K. 2011. Prevalence of Staphylococcus aureus and
Lack of Lytic Bacteriophages in the Anterior Nares of Patients and
Healthcare Workers at Rural Clinic. Clinical Medicine on Research Volume
9, Number 2 : 75-81
Banu A, Sathyanarayana BC, Chattannaver G. 2012. Efficacy of fresh Aloe vera Gel
against multi-drug resistant bacteria in Infected Leg Ulcers. Australian
Medical Journal. 305 – 309
Bashir, A., Saeed, B., Mujahid, T.Y., Jehan, N. 2011. Comparative Study of
Antimicrobial Activities of Aloe vera Extracts and Antibiotiks Against
Isolates from Skin Infections. African Journal of Biotechnology. Vol. 10 (19),
3835-3840.
Brooks, Geo F. Janet, S. Buttel. Stephen, A. Morse. 2008. Jawetz, Melnick, &
Adelberg Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
Bin Zeng. Guozhong Zhao. Xiaohong Cao. Zhen Yang. Chunling Wang. Lihua Hou.
2013. Formation and resuscitation of Viable but Nonculturable Salmonella
typhi. BioMed Research International.
Banso, A. & Adeyemo, S.O. 2007. Evaluation of Antibakterial Properties of Tannins
Isolated from Dichrostachys cinerea. African Journal of Biotechnology. Vol.
6 (15) : 1785-1787
Bawono, Suryo Adi Kusumo. 2013. Efek Antibakterial Ekstrak Lidah Buaya (Aloe
vera) Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus (ATCC 33862) Secara
In Vitro. Universitas Jenderal Soedirman.
Buchan, Blake W. Ledeboer, Nathan A. 2010. Identification of Two Borderline
Oxaciline-Resistant Strains of Staphylococcus aureus From Routine Nares
Swab Specimens by One of Three Chromogenic Agars Evaluated for the
Detection of MRSA. American Journal Clinical Pathology 134:921-927.
Centers for Disease Control and Prevention, 2008. Investigation of Outbreak of
Infections Caused by Salmonella Saintpaul. Diakses tanggal 15 Mei 2014,
http://www.cdc.gov/salmonella/saintpaul/jalapeno/
31

Charles, Richelle C. Alaullah, Sheikh. Bryan, Krastins. et al. 2010. Characterization
of Anti-Salmonella enterica Serotype Typhi Antibody Responses in
Bacteremic Bangladeshi Patients by an Immunoaffinity Proteomics-Based
Technology. American Society for Microbiology. p. 1188-1195.
Fatemeh, Nejatzadeh-Barandozi. 2013. Antibacterial Activities and Antioxidant
Capacity of Aloe vera. Nejatzedeh-Barandosi Organic and Medical Letters.
Diakses tanggal 18 Mei 2014, http://www.orgmedchemlett.com/content/3/1/5
Fitriana Ratnaningtyas, dkk. 2010. Pemanfaatan Lidah Buaya (Aloe vera) Dalam
Pembuatan Sabun Organik Serbaguna Di Kelurahan Tanggung Kecamatan
Kepanjen Kidul Kota Blitar. Universitas Negeri Malang.

Gray, Jeffrey T. and Paula J. Fedorka-Cray. 2002. Salmonella Foodborne Diseases.
Eds. Dean O. Cliver and Hans P. Riemann. San Francisco: Academic Press.
55-68.
Hardy, K.J. Hawkey, P.M. Gao, F. Oppenheim, B.A. 2004. Methicilin Resistant
Staphylococcus aureus in Critically Ill. British Journal of Anaesthesia 92 (1)
: 121-30
Harris, L.G., Foster, S.J., Richards, R.G. 2002. An Introduction to Staphylococcus
aureus, and Techniques For Identifying and Quantifying S. aureus Adhesins
In Relation to Adhesion to Biomaterials. European Cells and Materials. Vol
4 : 39 – 60. ISSN 1473-2262.
Juliantina, Farida. 2012. Manfaat Sirih Merah (Piper crocatum) Sebagai Agen Anti
Bakterial Terhadap Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif. Universitas
Islam Indonesia Yogyakarta.
Joseph, Baby. & Raj, S.Justin. 2010. Pharmacognostic and Phytochemical Properties
Of Aloe Vera Linn –An Overview. Interdisciplinary Research Unit,
Departement of Biotechnology, Malankara Catholic College, Marlagirl, K.K
District. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and
Research.
Ochiai, R. Leon. Wang, XuanYi. Seidlein, Lorenz von. Yang, Jin. Bhutta, Zulfikar.
Bhattacharya, Sujit. K. Agtini, Magdarina. Deen, Jacqueline. Wain, John.
Kim, Deok Ryun. Jodar, Luis. Clemens, John. 2005. Salmonella Paratyphi A
Rates, Asia. Emerging Infectious Diseases. Diakses tanggal 10 Mei 2014,
www.cdc.gov/eid : Vol. 11.
32

Ogunleye, V.O., Ogunleye, A.O., Ajuwape, A.T.P., Akande, K.A., Adetosoye, A.I.,
2009. Occurrence of Methicilin-resistant Staphylococcus aureus in a Nigerian
Tertiary Hospital. African Journal of Biomedical Research.
Panahi, Yunes. Reza, Sharif Mohamad. Sharif, Alireza. Beiraghdar, Fatemeh. Zahiri,
Zahra. Amirchoopani, Golnoush. Tahmasbpour, Marzony Eisa. Sahebkar,
Amirhossein. 2012. A Randomize Comparative Trial on the Therapeutic
Efficacy of Topical Aloe vera and Calendula officinalis on Diaper Dermatitis
in Children. The Scientific World Journal. Article ID 810234.
Puspitasari, Indri. 2008. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Bawang Putih (Allium
sativum Linn) Terhadap Bakteri S. aureus In Vitro. Universitas Diponegoro
Semarang.
Rajeswari, R. Umadevi. M.C. Rahale, Sharmila. Pushpa, R. Selvavenkadesh, S.
Khumar, K. P. Sampath. Bhowmik, Debjit. 2010. Aloe vera: The Miracle
Plant Its Medicinal and Traditional Uses in India. Journal of Pharmacognosy
and Phytochemistry. IC Journal No: 8192.
Ratnaningtyas, Fitriana., Purwaningrum, Ribut., Susanti, Romia Hari. 2010.
Pemanfaatan Lidah Buaya (Aloe vera) Dalam Pembuatan Sabun Organik
Serbaguna di Kelurahan Tanggung Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar.
Rosyidah, K. Nurmuhaimina, S.A. Komari, N. Astuti, M.D. 2010. Aktivitas
Antibakteri Fraksi Saponin dari Kulit Batang Tumbuhan Katsuri (Mangifera
casturi). Bioscientiae Unlam. Vol. 7 No. 2 : 25-31
Setyowati, F. M. 2010. Etnofarmakologi dan Pemakaian Tanaman Obat Suku Dayak
Tunjung di Kalimantan Timur. Media Litbang Kesehatan Volume XX
Sudigdoadi, Sunarjati. 2010. Analisis Tipe Staphylococcal Cassette Chromosome
mec (SCCmec) Isolat Methicilin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).
Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.
42(4):149-154.
Tajbakhsh, Mercedeh. Rene, S Hendriksen. Nochi, Zahra. Zali, Mohammad Reza.
Aarestrup, Frank M. Lourdes, Garcia-Migura. 2011. Antimicrobial Resistance
in Salmonella sp. Recovered From Patiens Admitted to Six Different
Hospitals in Tehran, Iran from 2007 to 2008. Institute of Microbiology,
Academy of Sciences of the Czech Republic. 57: 91 – 97.
Todar, Kenneth. 2008. Online Textbook of Bacteriology. Diakses pada 22 Mei 2014,
www.textbookofbacteriology.net