Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PKN

PERANAN PERS DIKEHIDUPAN MASYARAKAT BERDEMOKRASI

















DISUSUN OLEH KELOMPOK 1
XII IPA3

- Alvi nurlaily-02 - Mustika zafiratus aksana-22
- Dwi wira setianingsih-09 - Noor frenda brilian surya-23
- Fitrilia kristina-11 - Siska ibbi habibah-29
- M. Rizal Kurniawan-19 - Winda az zahra-31

SMA NEGERI 1 BOJONEGORO
Panglima Sudirman Street No. 28 Bojonegoro telp. (0353) 881574
website : www.sman1bojonegoro.sch.id
Januari 2013
BAB 1
Pendahuluan

Peranan pers dalam masyarakat demokrasi, Pers adalah salah satu sarana bagi warga
negara untuk mengeluarkan pikiran dan pendapat serta memiliki peranan penting dalam negara
demokrasi. Pers yang bebas dan bertanggung jawab memegang peranan penting dalam
masyarakat demokratis dan merupakan salah satu unsur bagi negara dan pemerintahan yang
demokratis. Menurut Miriam Budiardjo, bahwa salah satu ciri negara demokrasi adalah memiliki
pers yang bebas dan bertanggung jawab.
Sedangkan, Inti dari demokrasi adalah adanya kesempatan bagi aspirasi dan suara rakyat
(individu) dalam mempengaruhi sebuah keputusan. Dalam Demokrasi juga diperlukan partisipasi
rakyat, yang muncul dari kesadaran politik untuk ikut terlibat dan andil dalam sistem
pemerintahan. Pada berbagai aspek kehidupan di negara ini, sejatinya masyarakat memiliki hak
untuk ikut serta dalam menentukan langkah kebijakan suatu Negara.
pers merupakan pilar demokrasi keempat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. pers sebagai
kontrol atas ketiga pilar itu dan melandasi kinerjanya dengan check and balance. untuk dapat
melakukan peranannya perlu dijunjung kebebasan pers dalam menyampaikan informasi publik
secara jujur dan berimbang. Disamping itu pula untuk menegakkan pilar keempat ini, pers juga
harus bebas dari kapitalisme dan politik. pers yang tidak sekedar mendukung kepentingan
pemilik modal dan melanggengkan kekuasaan politik tanpa mempertimbangkan kepentingan
masyarakat yang lebih besar.
kemungkinan kebebasan lembaga pers yang terkapitasi oleh kepentingan kapitalisme dan politik
tersebut, mendorong semangat lahirnya citizen journalism. istilah citizen journalism untuk
menjelaskan kegiatan pemrosesan dan penyajian berita oleh warga masyarakat bukan jurnalis
profesional. aktivitas jurnalisme yang dilakukan oleh warga sebagai wujud aspirasi dan
penyampaian pendapat rakyat inilah yang menjadi latar belakang bahwa citizen journalism
sebagai bagian dari pers merupakan sarana untuk mencapai suatu demokrasi.
Wajah demokrasi sendiri terlihat pada dua sisi. Pertama, demokrasi sebagai realitas kehidupan
sehari-hari, kedua, demokrasi sebagaimana ia dicitrakan oleh media informasi. Di satu sisi ada
citra, di sisi lain ada realitas. Antara keduanya sangat mungkin terjadi pembauran, atau malah
keterputusan hubungan. Ironisnya yang terjadi sekarang justru terputusnya hubungan antara citra
dan realitas demokrasi itu sendiri. Istilah yang tepat digunakan adalah simulakrum demokrasi,
yaitu kondisi yang seolah-olah demokrasi padahal sebagai citra ia telah mengalami deviasi,
distorsi, dan bahkan terputus dari realitas yang sesungguhnya. Distorsi ini biasanya terjadi
melalui citraan-citraan sistematis oleh media massa. Demokrasi bukan lagi realitas yang
sebenarnya, ia adalah kuasa dari pemilik informasi dan penguasa opini publik.
Proses demokratisasi disebuah negara tidak hanya mengandalkan parlemen, tapi juga ada media
massa, yang mana merupakan sarana komunikasi baik pemerintah dengan rakyat, maupun rakyat
dengan rakyat. Keberadaan media massa ini, baik dalam kategori cetak maupun elektronik
memiliki cakupan yang bermacam-macam, baik dalam hal isu maupun daya jangkau sirkulasi
ataupun siaran.
Akses informasi melalui media massa ini sejalan dengan asas demokrasi, dimana adanya
tranformasi secara menyeluruh dan terbuka yang mutlak bagi negara yang menganut paham
demokrasi, sehingga ada persebaran informasi yang merata. Namun, pada pelaksanaannya,
banyak faktor yang menghambat proses komunikasi ini, terutama disebabkan oleh keterbatasan
media massa dalam menjangkau lokasi-lokasi pedalaman.
Keberadaan radio komunitas adalah salah satu jawaban dari pencarian solusi akan permasalahan
penyebaran akses dan sarana komunikasi yang menjadi perkerjaan media massa umum. Pada
perkembangannya radio komunitas telah banyak membuktikan peran pentingnya di tengah
persoalan pelik akan akses informasi dan komunikasi juga dalam peran sebagai kontrol sosial
dan menjalankan empat fungsi pers lainnya.










BAB II
Pembahasan

PERANAN PERS DALAM MASYARAKAT DEMOKRASI
A. Pengertian, Fungsi dan Peran serta Perkembangan Pers di Indonesia

1. Pengertian Kemerdekaan Pers, Pers, Perusahaan Pers, Wartawan,Organisasi Pers, Pers
Nasional dan Pers Asing.

a. Kemerdekaan pers
Kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur
yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
yang demokratis, hal ini sesuai dengan pasal 28 Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun1945 yang menyebutkan Kemerdekaan berserikat dan berkumpul,
mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkandengan undang-
undang, dan pasal 28 E ayat (3) yang berbunyi: Setiap orang berhak atas kebebaran berserikat,
berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Selanjutnya pasal 28F berbunyi Setiap orang berhak
untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi
danlingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan,
mengolah dan menyampaikan informasi, dengan menggunakan segala jenis saluran yang
tersedia. Berdasarkan pertimbangan di atas, maka Undang - undang Republik Indonesia Nomor
40 Tahun 1999 Tentang Pers ditetapkan.

b. Pengertian pers
Ketentuan umum pasal 1 dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers
menyebutkan: Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan
kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan
menyampaikan informasi, baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data
grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan
segala jenis saluran yang tersedia.

c. Perusahaan pers
Perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakanusaha pers
meliputi perusahaan media cetak, media elekrronik, dan kantor berita, serta perusahaan media
Iainnya yang secara khusus rnenyelenggarakan, menyiarkan atau menyalurkan informasi.

d. Wartawan dan organisasi
Pers wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik.
Sedangkan organisasi pers adalah organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers.

e. Pers nasional dan pers asing
Pers nasional adalah pers yang diselenggarakan oleh perusahaan pers
Indonesia. Sedangkan pers asing adalah pers yang diselenggarakan olehperusahaan asing.


2. Fungsi dan Peran Pers
a. Fungsi pers
Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan,hiburan dan
kontrol sosial. Di samping itu pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi.

b. Peran Pers
Pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut:
1) Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui.
2) Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan Hak
Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan.
3) Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat,akurat dan benar.
4) Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-halyang berkaitan dengan
kepentingan umum.
5) Memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Pers memegang peranpenting yaitu menanamkan
pengertian kepada rakyat, sekaligus sebagaisarana pengaduan masyarakat tentang
penyimpangan-penyimpanganpelaksanaan program pembangunan.
3. Perkembangan Pers di Indonesiaa.
a. Masa Penjajahan Belanda
Sejak pertengahan abad ke-18, Belanda sudah memperkenalkanpenerbitan surat kabar di
Indonesia. Surat kabar yang pertama kali terbit diIndonesia yaitu pada bulan Agustus 1744,
dengan nama BataviascheNouvellesjd.Tujuan penerbitan surat kabar pada masa itu yaitu untuk
saranapendidikan terutama kepada orang Belanda sendiri, dan orang-orang
Eropaumumnya, dan untuk orang-orang Indonesia sebagai latihan memperolehpekerjaan,
terutama di dalam perusahaan penerbitan itu sendiri

b. Masa pergerakan nasional
Pada masa pergerakan nasional bangsa Indonesia mengalami kemajuan. Perjuangan fisik,
diganti dengan perjuangan melalui organisasi yang bersifat modern. Di samping itu perjuangan
melawan Belanda dilakukan juga melalui pers.
Pengaruhnya pejuangan melalui pers sangat besar, bahkan bersifat internasional, terutama
di negeri Belanda dan Eropa.

c. Masa penjajahan Jepang
Sikap pemerintah Jepang lebih keras lagi, dibandingkan Belanda. Hal itu dilakukan
baik kepada para pejuang maupun kepada dunia pers. Semua surat kabar, berita-
berita, dan karangan harus melalui sensor di bawah petugas Jepang dan kantor berita Jepang
yang disebut Domei. Banyak pejuang yang bergerak secara ilegal termasuk dunia pers, agar
tidak diketahui oleh bala tentara Jepang. Namun, ada tiga tugas utama yang tidak boleh
dilupakan, yaitu, menggalang semangat perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan, menyumbang
bagi pengembangan bahasa persatuan Indonesia, dan memantapkan pengalaman dan
keterampilan di bidang jurnalistik dan penerbitan pers untuk kepentingan hari depan.

d. Masa kemerdekaan
Berita proklamasi Republik Indonesia pertama kali disiarkan oleh para wartawan
Indonesia melalui kantor berita jepang, Domei, di bawah pimpinan Adam Malik .
Teks proklamasi setelah dibacakan lalu diserahkan kepada Asa Bafagih seorang wartawan muda,
untuk diteruskan kepada Pangulu Lubis. Di kantor Domei, selanjutnya Lubis menyiarkan teks
proklamasi tanpa sepengetahuan petugas senior Jepang. Berita tentang proklamasi juga disiarkan
melalui radio-radio yang waktu itu masih dikuasai tentara Jepang. Tokoh-tokoh pergerakan yang
bekerja di stasiun-stasiun radio, antara lain, I Maladi, Yusuf Ronodipuro, Sakti Alamsjah, A.
Kadarusman, dan Suryodipury. Wartawan maupun koran-koran tetap setia kepada negara
proklamasi, sehingga ketika itu mendapat tindakan kekerasan dan tentara Sekutu. Inggris
memberedel harian Sinar Deli dan Pewarta Deli yang terbit di Medan, bahkan tentara Inggris
menghancurkan alat-alat cetaknya. Tindakan serupa dilakukan terhadap Soeloeh Merdeka dan
Mimbar Oemoem yang terbit di Medan, serta Oetoesan Soematra, Merdeka, dan Obor Rakjat
yang terbit di Palembang. Sejak Proklamasi, pengusaha-pengusaha pers golongan Cina, juga
kembali menerbitkan koran-korannya. Di Medan muncul kembali harian-harian seperti Sin Po
dan KengPo. Di Semarang terbit Sin Mm, dan di Surabaya ada JavaPost. Pada umumnya koran-
koran Cina tersebut mencerminkan sikap hati-hati untuk menghindar bentrokan dengan Belanda
dan gerakan-gerakan separatis dengan pemerintah republik. Tetapi kelompok kelompok Cina
tertentu, seperti Poh An Tui di Medan, menunjukkan warna pro-Belanda. Misalnya yan terjadi
di Sumatra, cara Belanda menindas pers republik pada saat-saat mereka melancarkan agresi
militernya yaitu dengan menahan para wartawannya.

e. Masa Pemerintahan RIS
Perjanjian KMB mengubah bentuk negara kesatuan menjadi RIS. Namun umurnya hanya
delapan bulan saja, sebab pada tanggal 17 Agustus 1950 kembali lagi menjadi Negara Kesatuan
RI. Mingguan Pesat terbitanYogyakarta, edisi 16 Agustus 1950, memuat sambutan Presiden
Soekarno yang berjudul Bersatulah Kembali, yang isinya untuk membangkitkan jiwa
persatuan.
.
f. Masa demokrasi terpimpin
Dunia pers dibentuk menjadi pers manipol untuk menuju pers sosialis melalui Peraturan
Peperti No. 10 Tahun 1960 dan dilengkapi Surat Presiden Nomor.3569/HKII 960 Tanggal 12
Oktober 1960. Berdasarkan Peraturan seperti No.10/1960, sejumlah persyaratan harus dipenuhi
sebelum izin terbit dikeluarkan, antara lain :
1) mendukung dan membela Manipol dan program pemerintah

2) menjadi alat penyebarluasan Manipol dengan tujuan menghapus imperialisme
dan kolonilisme, liberalisme, federalisme, dan separatisme;
3) membela politik luar negeri bebas dan aktif serta mendukung pelaksanaanya, tidak
mendukung perang dingin antara dua blok asing serta tidak menjadi alat perang kedua blok
tersebut.
4) memperkuat keyakinan rakyat Indonesia terhadap prinsip-prinsip dasar, orientasi, program,
dan kepemimpinan revolusi;
5) menyokong setiap langkah untuk menciptakan ketertiban umum,keamanan, maupun
ketenangan situasi politik.
6) meningkatkan kesadaran terhadap kepribadian Indonesia, umpamanvamencegah tulisan-
tulisan, gambar - gambar, dan lukisan-lukisan yang bersifat sensasi dan bertentangan dengan
perasaan susila.
7) memberikan kritik-kritik yang konstruktif terhadap keadaan dan pelaksanaan kebijakan
pemerintah dengan selalu berpedoman pada Manipoli.

g. Masa Orde Baru
Pembersihan terhadap dunia pers dilakukan terhadap surat-surar kabar dan
pemecatan wartawan yang terlibat G-30-S/PKI. Di Jakarta jumlah wartawan yang dipecat
mencapai 165 orang dan di kota lainnya mencapai 208 orang. Isi dan Tap MPRS Nomor XXXIII
MPRI 1966 sebagai berikut:
1) Kebebasan pers berhubungan erat dengan keharusan adanya pertanggung jawaban
kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kepentinganrakyat dan keselamatan negara. kelangsungan
dan penyelesaian revolusihingga terwujudnya tiga kerangka tujuan revolusi, moral dan tata
rertib,serta kepnibadian bangsa.
2) Kebebasan pers Indonesia adalah kebebasan untuk menyatakan sertamenegakkan kebenaran
dan keadilan. dan bukan kebebasan dalampengertian liberaIisme

h. Masa reformasi
Pada era reformasi tersebut, kehidupan pers mendapatkan angin segar, hal ini ditandai
dengan ditetapkannya Undang-undang RI No. 40 Tahun 1999 pada tanggal 23 September 1999.

Latar belakang dan pertimbangan dikeluarkanya Undang-undang Republik Indonesia nomor 40
tahun 1999 tentang pers adalah:
1) Kemerdekaan pers merupakan kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk
menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis.
2) Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, kemerdekaan
menyatakan pikiran dan pendapat sesuai dengan hati nurani dan memperoleh informasi
merupakan hak asasi manusia yang sangat hakiki.
3) Pers nasional sebagai wahana komunikasi masa, penyebar informasi, dan pembentuk opini
harus dapat melaksanakan azas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya,
berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional , sehingga harus mendapat jaminan
perlindungan hukum, serta bebas dan campur tangan dan paksaan dari manapun.
4) Pers nasional berperan ikut menjaga ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.


B. Pers yang Bebas dan Bertanggungjawab sesuai Kode Etik Jurnalistik dalam
Masyarakat Demokrasi di Indonesia

1. Pers yang Bebas dan Bertanggung Jawab
Undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers mengatur tentang pers yang bebas dan
bertanggung jawab. Pasal-pasal yang mengatur tentang kebebasan pers antara lain.
a. Kemerdekaan pers Pasal 2 Undang-undang nomor 40 tahun 1999 menyebutkan:
Kemerdekaan pers adalah salah. satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsp-prinsip
demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum.
b. Kebebasan memilih organisasi wartawan Wartawan bebas memilih organisasi wartawan Hal
ini sesuai pasal 7 Undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang pers. Adapun organisasi
wartawan tersebut, antara lain PWI, KWRI dan AJI.
c. Perlindungan hukum Sesuai pasal 8 dalam undang-undang tentangpers, dalam melaksanakan
profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum.
d. Hak pendirian perusahaan persSetiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan
perusahaan pers.Hal ini diatur pula dalam pasal 9.
e. Ancaman pidana bagi yang menghambat tugas pers setiap orang yang secara melawan hukum
dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan
ketentuan Pasal 4 Ayat (2) dan Ayat (3), dipidana dengan pidana penjara palipg lama 2 (dua)
tahunatau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

f. Pertanggungjawaban pers
Pertanggung jawaban pers yaitu pertanggung jawaban konstitusional sebagai mana tercantum
pada alinea kedua kalimat kedua Pembukaan kode etik jurnalistik Wartawan Indonesia yang
menyebutkan Seluruh wartawan menjunjung tinggi konstitusi dan menegakkan kemerdekaan
pers yang bertanggung jawab, mematuhi norma - norma profesi kewartawanan, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta memperjuangkan ketertiban dunia
Berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial berdasarkan Pancasila.
Pertangguung jawaban pers lebih lanjut ditegaskan dalam kode etik jurnalistik.

Pasal 2 berbunyi : Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana
mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan berita, tulisan, atau gambar yang dapat
membahayakan keselamatan dan keamanan negara.

Pasal 3 berbunyi : Wartawan Indonesia tidak menyiarkan berita, tulisan, atau gambar yang
menyesatkan, memutar balikkan fakta, bersifat fitnah, cabul, sadis, dan sensasi berlebihan.

2. Kode Etik Jurnalistik dalam Masyarakat Demokrasi di Indonesia
Kode etik jurnalistik disebutkan dalam Undang-undang nomor 40 tahun 1999tentang pers pasal 7
ayat (2) : yang berbunyi Wartawan memiliki dan mentaati kodeetik jurnalistik. Beberapa contoh
kode etik jurnalistik sebagai berikut:
a. Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia (PWI)
Pasal 1
Wartawan Indonesia beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berjiwa Pancasila,
taat kepada UUD negara, bersifat ksatria, menjunjung tinggi harkat dan
martabat manusia dan lingkungannya, mengabdi kepada kepentingan bangsa dannegara, serta
terpercaya dalam mengemban profesinya.
Pasal 2 .
Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggungjawab dan bijaksana mempertimbangkan patut
tidaknya berita, tulisan, atau gambar yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan
negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menjunjung perasaan agama, kepercayaan atau
keyakinan suatu golongan yang dilindungi oleh UU.

Pasal 3
Wartawan Indonesia tidak menyiarkan berita, tulisan. atau gambar yang menyesatkan, memutar
balikkan fakta, bersifat fitnah, cabul, sadis, dan sensasi berlebihan,
Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak menerima imbalan untuk menyiarkan atau tidak menyiarkan
berita, tulisan, atau gambar yang dapat menguntungkan atau merugikan seseorang atau sesuatu
pihak.
Pasal 5
Wartawan Indonesia menyajikan data secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dan
kecepatan, serta tidak mencampur adukkan fakta dan opini sendiri.
Pasal 6
Wartawan Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan pribadi dengan
tidak menyiarkan berita, tulisan, atau gambar yang merugikan nama baik atau perasaan susila
seseorang, kecuali menyangkut kepentingan umum.
Pasal 7
Wartawan Indonesia dalam memberitakan peristiwa yang diduga menyangkut pelanggaran
hukum dan atau proses peradilan harus menghormati asas praduga tak bersalah, prinsip adil,
jujur, dan penyajian yang berimbang.
Pasal 8
Wartawan Indonesia memberitakan kejahatan susila dengan tidak menyebut namadan identitas
korban. Penyebutan nama dan identitas pelaku kejahatan yang masih dibawah umur, dilarang.
Pasal 9
Wartawan Indonesia menulis judul yang mencerminkan isi berita.


Pasal 10
Wartawan Indonesia menempuh cara yang sopan dan terhormat untuk memperoleh bahan berita,
gambar, atau tulisan, dan selalu menyatakan identitasnya kepada sumber berita.
Pasal 11
Wartawan Indonesia dengan kesadaran sendiri secepatnya mencabut atau meralat setiap
pemberitaan yang kemudian ternyata tidak akurat dan memberi kesempatan hak jawab secara
proporsional kepada sumber dan atau objek berita.
Asal 12
Wartawan Indonesia meneliti kebenaran bahan berita dan memerhatikan kredibilitas dan
kompetensi sumber berita.
Pasal 13
Wartawan Indonesia tidak melakukan tindakan plagiat, tidak mengutip berita, tulisan,atau
gambar tanpa menyebut sumbernya.
Pasal 14
Wartawan Indonesia harus menyebut sumber berita, kecuali atas permintaan yang bersangkutan
untuk tidak disebut nama dan identitasnya sepanjang menyangkut fakta dan data, bukan opini.
Apabila nama dan identitas sumber berita tidak disebutkan,segala tanggung jawab ada pada
wartawan yang bersangkutan.
Pasal 15
Wartawan Indonesia menghadapi ketentuan embargo, bahan latar belakang, dan
tidak menyiarkan informasi yang oleh sumber berita tidak dimaksudkan sebagai bahan berita,
serta atas kesepakatan dengan sumber berita tidak menyiarkan keterangan off the record.
Pasal l6
Wartawan Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa penataan Kode Etik Jurnalistik ini terutama
berada pada hati nurani masing-masing.
Pasal 17
Wartawan Indonesia mengakui bahwa pengawasan dan penaraan sanksi pelanggaran KEJ ini
adalah sepenuhnya hak organisasi dan PWI dan dilaksanakan oleh Dewan
Kehormatan PWI. Tidak satu pihak pusat di luar PWI yang dapat mengambil tindakan terhadap
Wartawan Indonesia dan atau medianya berdasarkan pasal-pasaldalam KEJ ini.

b. Kode Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI)
1) Jurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
2) Jurnalis senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebehasan dan keberimbangan dalam
peliputan dan pemberitaan serta kritik dan komentar.
3) Jurnalis memberi tempat bagi pihak yang kurang memiliki daya kesempatan untuk
menyuarakan pendapatnya.
4) Jurnalis melaporkan fakta dan pendapat yang jelas sumbernnya
5) Jurnalis tidak menyembunyikan informasi penting yang perlu diketahui masyarakat.
6) Jurnalis menggunakan cara-cara yang etis untuk memperoleh berita, foto dan dokumen.
7) Jurnalis menghormati hak narasumber untuk memberi informasi latar belakang, off the record,
dan embargo
8) Jurnalis segera meralat setiap pemberitaan yang diketahuinya tidak akurat.
9) Jurnalis menjaga kerahasiaan sumber informasi konfidensial identitas korbankejahatan
seksual, dan pelaku tindak pidana di bawah umur.
10)Jurnalis menghindari kebencian, prasangka, sikap merendahkan, diskriminasi,dalam masalah
suku, ras, bangsa, politik, cacar/sakit jasmani, cacar/sakitmental atau latar belakang sosial
lainnya


C.Evaluasi Kebebasan Pers dan Dampak Penyalahgunaan KebebasanMediaMassa

1. Evaluasi Kebebasan Pers
Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia memberikan sambutan pada Kongres
Komite Wartawan Reformasi Indonesia yang dilaksanakan diMonumen Pers Surakarta 23
Agustus 2006. Isi sambutan tersebut merupakan evaluasitentang kebebasan pers dan dampak
kebebasan massa. Reformasi yang bergulir di tahun 1998 menjadi harapan seluruh bangsa
Indonesia untuk memasuki suatu kehidupan yang lebih baik yaitu era pembaharuan
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Seiring dengan itu,bangsa Indonesia
mulai menata sistem penyelenggaraan negara dan memantapkan
jalannya pelaksanaan demokrasi yang ditopang dengan kebebasan pers melalui Undang - undang
Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Dalam perjalanannya perubahan itu ternyata belum
sepenuhnya mampu menjawab harapan. Di sana sini masih banyak ditemui hambatan dan
rantangan yang menunjukkan bahwa bangsa kita belum sepenuhnya siap untuk melakukan
perubahan dan ke arah mana perubahan ini akan dibawa. Dengan perkataan lain dapat dikatakan
bahwa semangat perubahan yang terjadi nampaknya lebih bersifat emosional daripada
pertimbangan-pertimbangan rasionalitas.

2. Dampak Penyalahgunaan Kebebasan Media Massa

Era globalisasi dengan kemajuan alat komunikasi, terutama kemajuan dibidang media
elektronika misalnya internet, faksimile, handphone, televisi, radio,tape recorder, mempunyai
dampak positif membawa kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa, selain juga dapat
berdampak negatif membawa ke dunia kemaksiatan, misalnya narkotika, adensi moral,
kekerasan, dan memecah keutuhan bangsa dannegara. Pengaruh media massa kepada
masyarakat, sangat kuat hal ini karena cepatnya alur informasi yang sampai ada masyarakat.
Untuk itu, hendaknya mediamassa pandai-pandai menggunakan kebebasan yang telah dimiliki.
Dampak penyalahgunaan kebebasan media massa, antara lain:
a. menimbulkan keguncangan dalam masyarakat. Jika tidak segera ditanggulangi, maka dapat
menimbulkan disintegrasi bangsa;
b. menimbulkan bahaya bagi keselamatan bangsa dan negara;
c. kritik yang tidak sesuai fakta, sensasional, dan tidak bertanggungjawab akan menimbulkan
fitnah










BAB III
Penutup

Kesimpulan
Kebebasan pers yang sedang kita nikmati sekarang memunculkan hal-hal yang sebelumnya tidak
diperkirakan. Suara-suara dari pihak pemerintah misalnya, telah menanggapinya dengan
bahasanya yana khas; kebebasana pers di Indonesia telah kebablasan! Sementara dari pihak
masyarakat, muncul pula reaksi yang lebih konkert bersifat fisik.
Barangakali, kebebasana pers di Indonesia telah mengahsilkan berbagai ekses. Dan hal itu makin
menggejala tampaknya arena iklim ebebasan tersebut tidak dengan sigap diiringi dengan
kelengakapan hukumnya. Bahwa kebebasan pers akan memunculkan kebabasan, itu sebenarnya
merupakan sebuah konsekuensi yan wajar. Yang kemudan harus diantisipasi adalah bagaimana
agar kebablasan tersbeut tidak kemudian diterima sebagai kewajaran.


















DAFTAR PUSTAKA

http://kewarganegaraan3.wordpress.com/2010/01/29/peranan-pers-dalam-masyarakat-
demokratis/
http://www.tugaskuliah.info/2011/04/peranan-pers-dalam-masyarakat-demokrasi.html
http://www.scribd.com/doc/2654690/MAK