Anda di halaman 1dari 5

Faktor-Faktor Penyebab Perang

Posted on January 25, 2011 by AnnisaMardiana: Kumpulan Tulisan [Tugas]-Ilmu Hubungan Internasional
Universitas Gadjah Mada
Perang (war) merupakan fenomena politik internasional dalam konstelasi Hubungan
Internasional bangsa-bangsa di dunia dalam sistem politik global. Keberadaan
perang sendiri sampai sekarang masih selalu ada (exist) terkait dengan sifat dasar
manusia yang berupa agressor. Sifat ini direpresentasikan oleh negara (state) sebagai
perwujudan aktor dalam tata politik internasional. Hal inilah yang membuat perang
selalu menarik untuk dibahas dan didiskusikan. Setelah dua perang dunia besar
yaitu Perang Dunia I pada tahun 1914-1918 dan Perang Dunia II yang dimulai pada
tahun 1939 sampai 1945, serta Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet
yang mengikuti dua perang besar tersebut, warga dunia mengira perang dalam skala
global atau internasional akan sudah benar-benar hilang. Namun tidak demikian.
Fenomena perang yang nampaknya merupakan warisan hingga akhir abad ke-20
hingga abad ke-21 ini pun masih tetap ada. Hal ini tidak bisa terlepas dari
kepentingan negara bangsa untuk mencapai national interestnya.
Definisi Perang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti permusuhan antara
dua negara, bangsa, agama, suku, dan lain sebagainya, sebagai tambahan, perang
merupakan pertempuran bersenjata antara dua pasukan1. Definisi perang di sini
merupakan suatu bentuk pertempuran terbuka, dimana terdapat kontak senjata
antara pasukan yang saling berperang. Sedangkan menurut Hedley Bull, Perang
merupakan kekerasan yang terorganisir yang dilakukan oleh unit politik yang satu
dengan unit politik yang lainnya2. Sedangkan menurut Clausewitz, perang
merupakan tindakan yang ditujukan untuk memaksa atau mendorong pihak lawan
untuk memenuhi keinginan pihak yang melakukan perang (an act intended to
compel our opponent to fulfil our will)3. Pernyataan Clausewitz mengenai konsepsi
perang tersebut muncul dari fenomena perang yang pada waktu itu berlangsung
secara dominan di Eropa. Kemudian timbul pertanyaan, apakah perang merupakan
tindakan yang rasional, intelijen, ataupun purposif. Bull menambahkan dalam
bukunya bahwa perang seringkali bukan merupakan pelayan dari tujuan yang
rasional ataupun intelijen. Bull mengatakan bahwa perang pada mulanya merupakan
perilaku suku bangsa primitif sebagai bentuk ritual. Sedangkan dalam negara bangsa
yang lebih modern perang digunakan untuk menguji kohesi dan rasa identitas (sense
of identity). Sedangkan berdasarkan sejarah, perang hanya sekedar berupa nafsu dan
dorongan untuk menaklukkan. Sedangkan Hans Morgentahu dari perspektif realis
menilai perang (war) sebagai instrumen untuk mencapai kepentingan nasional
(national interest). Instrumen militer seringkali digunakan sebagai media perang
yang efektif. Seperti yang diungkapkan oleh Hans Morgenthau mengenai upaya
Napoleon Bonaparte yang lebih menggunakan instrumen kultur untuk menaklukkan
suatu wilayah, if he could make and hold military conquest, he would reach his
imperialistic goal more quickly4. Definisi dan pengertian perang di sini
merupakan arti perang yang dapat dilihat secara tangible. Di samping itu masih ada
perang yang berupa perang ideologi.
Sebab-sebab sebuah negara pergi berperang, atau faktor-faktor penyebab perang
(the causes of war) secara umum ada tiga.
Pertama, penyebab perang disebabkan oleh alasan perolehan ekonomi, diukur dalam
hal perolehan sumber daya alam seperti emas, perak, minyak, atau monopoli
perdagangan atau akses pasar, bahan mentah (raw materials) dan investasi5. Hal ini
disampaikan oleh Hedley Bull dalam bukunya Hedley The Anarchical Society A
Study of Order in World Politics. Alasan atau faktor penyebab perang ini mungkin
sejalan dengan perspektif merkantilis yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eopa pada
zaman dahulu berupa perdagangan dan penjajahan yang dilakukan pada era
merkantilisme mulai sekitar abad ke-16. Faktor tersebut juga mungkin sejalan
dengan Teori Stabilitas Hegemonik, dimana terdapat asumsi bahwa pasar
internasional dapat berfungsi optimal ketika tersedia public goods internasional
yang dalam penyediaannya dibutuhkan perdamaian dan keamanan, perimbangan
kekuatan, perdagangan bebas dan pembayaran internasional yang sehat. Ketika
terdapat sebuah negara yang bersedia menanggung beban tersebut, maka ekonomi
dunia cenderung mengalami pertumbuhan tinggi dan kemakmuran karena manfaat
dari perdagangan bebas, keamanan dan perdamaian, maupun mata uang yang sehat
merangsang perkembangan pasar dimana-mana. Hal ini sebenarnya sesuai dengan
perspektif liberalis yang mengedepankan efisiensi ekonomi, memanfaatkan
Sumber Daya Alam yang tersedia dalam sistem internasional, serta jaringan
intervensi pasar.
Kedua, perang dilangsungkan untuk alasan keamanan, untuk menentang atau
melawan ancaman yang datang dari luar terhadap integritas bangsa ataupun
kemerdekaan7. Perang dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan
atau yang mengancam stabilitas negara. Salah satu bentuk perang dengan alasan
sekuritas tersebut adalah Perang Irak yang dilakukan oleh AS. Meskipun banyak
yang menentang perang tersebut, namun perang ini bisa dijadikan sebagai salah satu
contoh alasan mengapa AS melakukan serangan terhadap Irak. Adalah sebuah
strategi yang revolusioner pada masa pemerintahan George W. Bush pada bulan
September 2002, yang disebut sebagai National Security Strategy of The United
States of America yang berisi:
wage, and win, the war against the worldwide network of terrorist organizations.
Prevent any other great power challenging the hegemonic position of the United
States as the sole global superpower.
Deter the use of nuclear, biological weapons against the United States and its allies.
Pursue regime change and disarmament in Iraq by all means necessary, including
by the preemptive use of the military force, to overthrow the Iraqi dictator Saddam
Hussein.
Attempt to recruit global support for U.S. military operation while, in those
endeavors, preventing the United States of becoming isolated from those parts of the
world opposed to U.S. operations overseas.
Pursue the search for technological solutions to military problems through the
development of smaller smart bombs, nonlethal weapons, and an inproved ballistic
missile defense system in outer space.
Remain capable of using military interventions at the same time in at least two
regions of strategic U.S. Importance.
Strategi tersebut kemudian dikenal sebagai The Bush Doctrine.
Ketiga, permasalahan Perang dilancarkan untuk mendukung tujuan ideologi,
political faith, atau menyebarluaskan nilai-nilai agama9. Perang Ideologi merupakan
pertentangan antara dua sistem nilai yang saling berlawanan. Perang Ideologi tidak
semata-mata menggunakan instrumen militer, namun lebih banyak memanfaatkan
jalur-jalur propaganda, seperti pengaruh, infiltrasi, dan lain sebagainya10. Perang
mengenai permasalahan ideologi dapat bertransformasi bentuknya menjadi perang
yang berbasis pada faktor identitas. Salah satu bentuk perang yang berdasarkan
identitas misalnya Perang Israel-Palestina yang berdasarkan identitas agama. Di
samping itu, di samping itu masih banyak lagi perseteruan yang diakibatkan oleh
faktor identitas yang kebanyakan berupa konflik-konflik.
Contoh dari Perang yang disebabkan oleh masalah perolehan ekonomi dalam hal
perolehan sumber daya alam adalah Perang Irak. Pada tahun 2003, Amerika Serikat
melakukan invasi ke Irak di bawah komando Presiden George W. Bush. Alasan
mereka secara general adalah untuk menumbangkan diktator Irak, Saddam Hussein.
Namun, di samping itu masih ada motif lain yang membuat AS begitu bersemangat
untuk melakukan penyerangan ke Irak. Masalah sumber daya menjadi salah satu
pemicunya. Salah satunya mengenai cadangan minyak di Irak. Kandungan minyak di
Irak diperkirakan lebih besar dari 20 milyar barrel11. Selain minyak, pemicu lainnya
yang menyebabkan AS menginvasi Irak adalah ditemukannya emas. Menurut buku
Armageddon yang disusun oleh Ir. Wisnu Sasongko, telah ditemukan kandungan
emas yang besar seperti gunung di Sungai Eufrat. Badan Antariksa Amerika Serikat
telah berhasil menemukan kandungan emas tersebut melalui satelit mereka12.
Contoh lain dari perang yang diakibatkan dari permasalahn ekonomi, terutama
mengenai hal-hal seperti monopoli perdagangan, akses pasar, bahan mentah, dan
investasi adalah apa yang disebut dengan Bidding War. Selain itu, upaya
kolonialisme yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa pada zaman merkantilisme
yang berupaya untuk menemukan sumber daya alam ke negara-negara lain juga
diakibatkan oleh motif ekonomi.
Sedangkan contoh Perang yang merupakan bentuk dari permasalahan keamanan
(security reason) adalah perang yang dipropagandakan oleh AS dalam hal melawan
terrorisme (War on Terrorism) yang dilakukan AS dengan berbagai cara, termasuk
Pre-Emptive Strike. Yaitu dengan menyerang pihak yang dicurigai mampu
mengancam keamanan negaranya dengan terlebih dahulu menyerang negara
tersebut, sebelum negara tersebut mampu mencapai wilayah mereka. Di dalam buku
World Politics, Preemptive Strike disebut juga sebagai Preemptive War dalam
konteks Perang Dingin. Preemptive War menurut World Politics merupakan a quick
first-strike attack that seeks to defeat an adversary before it can organize a retaliatory
response. Salah satu bentuk Preemptive War yang dilakukan AS hingga kini ialah
upaya mereka untuk memerangi Taliban di Afghanistan yang mereka anggap
berpotensi untuk mengancam keamanan nasional (national security) mereka.
Sedangkan perang yang berdasarkan pada pandangan ideologis salah satunya adalah
Perang Dingin, yang mulai timbul sejak akhir Perang Duni II. Amerika Serikat (USA)
dan Uni Soviet (USS) saling berebut pengaruh di dunia dalam hal ideologi antara
ideologi Kapitalis dengan ideologi Sosialis-Komunis. Mereka menggunakan jalur-
jalur propaganda, menyebarkan pengaruh, infiltrasi, bahkan pembangunan
ekonomi. Perang ideologi yang dilancarkan oleh AS dan Soviet memang tidak sampai
menimbulkan Perang Terbuka, akan tetapi perseteruan mereka menimbulkan Proxy
War di Vietnam, antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, serta antara Korea
Utara dengan Korea Selatan. Selain itu, ada pula perang ideologi yang berbasiskan
pada identitas agama. Contohnya Perang Israel-Palestina yang pada mulanya berupa
perebutan tanah untuk tinggal, kemudian berkembang menjadi isu yang amat
sensitif mengenai keyakinan mereka masing-masinga pada ajaran kitab mereka.
Selain itu, ada pula Perang Salib yang terjadi sekitar tahun 1095-1291.
DAFTAR PUSTAKA
Armstrong, Karen. Berperang Demi Tuhan. Bandung: Mizan. 2002
Blainey, Geoffrey. The Causes of War. London: Macmillan Press Ltd.1988.
Bull, Hedley. The Anarchical Society A Study of Order in World Politics. Basingstoke:
Macmillan. 1977.
Morgentahu, Hans. Politic Among Nations: The Struggle for Power and Peace. Sixth
Edition. Director, Miller Centre of Public Affairs. University of Virginia. 1985.
Kegley, Charles. World Politics: Trends and Transformation, Tenth Edition.
Belmont: Thomson Wadsworth. 2006.
Large, Judith & Sisk, Timothy. Democracy, Conflict and Human Security. Swedia:
International IDEA. 2006.
Sasongko, Wisnu. Armageddon: Peperangan Akhir Zaman. Jakarta: Gema Insani.
2003.
Setiawati, Siti. Irak di Bawah Kekuasaan Amerika. Yogyakarta: Pusat Pengkajian
Masalah Timur Tengah Universitas Gadjah Mada. 2004.
Smith, Wayne. Toward Resolution? London: Lynne Rienner Publishers, Inc. 1991.
Stoessinger, John. Why Nations Go To War. New York: St. Martins Press. 1993.
Willmott, H.P. Empires in the Balance. Maryland: Naval Institute Press. 1989.
Referensi Tambahan:
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 1974.
Poppy S. Winanti. Ekonomi Politik Internasional. Perspektif EPI: Merkantilisme
[Sumber: Mochtar Mas'oed]. 2007.http://www.poppysw.staff.ugm.ac.id/file/02-
Perspektif%20EPI.pdf
Irak Melelang Cadangan Minyak Mentahnya, http://hizbut-
tahrir.or.id/2010/03/01/irak-melelang-cadangan-minyak-mentahnya/ 25 Mei 2010.

Anda mungkin juga menyukai