Anda di halaman 1dari 9

A.

Pengertian Restorasi Gigi


Restorasi adalah hasil akhir prosedur kedokteran gigi yang bertujuan memugar bentuk,
fungsi, dan penampilan gigi.
(Harty dan Ogston, 1995)
B. Pengertian Amalgam
Amalgam adalah alloy yang memiliki merkuri sebagai salah satu komponennya. Amalgam
yang digunakan dalam kedokteran gigi, adalah bubuk dan cair. Liquidnya yaitu merkuri
sedangkan powdenya adalah silver based alloy dengan jenis varian dan kombinasi.
Amalgam adalah campuran merkuri dengan satu atau lebih logam lainnya, amalgam gigi
paling moden terdiri dari kombinasi merkuri dengan perak, timah, tembaga, dan zink.
Amalgam berasal dari kata yunani malagma(emolien) dari malassein (untuk melunakkan),
titik lebur campuran yang diturunkan dan massa yang demikian dilunakkan oleh adanya
merkuri sebagai komponennya (McGehee, 1956)
Amalgam didefinisikan sebagai campuran dari dua atau beberapa logam (alloy) yang
salah satunya adalah merkuri. Dental amalgam sendiri merupakan campuran dari merkuri
(Hg), perak(Ag),timah (Sn), tcmbaga (Cu) dan bahan-bahan lain yang memiliki fungsinya
masing-masing. Semua unsur tersebut saling melengkapi jika dikombinasikan dengan
perbandingan yang tepat.
Amalgam dapat mengalami perubahan dimensi selama pemanipulasiannya. Terdapat
dua jenis perubahan dimensi pada amalgam, yaitu kontraksi (pengerutan) dan ekspansi
(pengembangan). Ekspansi dapat menyebabkan tekanan pada puIpa dan sensitivitas pasca-
operatif, sedangkan kontraksi dapat berakibat pada timbulnya celah keeil dan karies
sekunder. Kontraksi terjadi setelah triturasi yang disebabkan oleh larutnya partikel Ag dan
terbentuknya kristal V1 yang menimbulkan volume akhir yang lebih keeil dari pada volume
awalnya. Suatu kontraksi yang kecil dapat terjadi kembali pada 1-2 jam setelahnya karena
pembentukan massa padat Hg di dalam Ag3Sn.
Pada saat kondensasi, kontraksi masih berlangsung karena tekanan yang diberikan
menyebabkan bergeraknya merkuri keluar dari massa. Ekspansi yang timbul 20 menit setelah
triturasi disebabkan oleh penyusunan yang rapat dari kristal-kristal y1 di dalam matrix.
Ekspansi terns berlanjut sampai satu jam. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya
perubahan dimensi pada amalgam adalah ukuran partikel alloy, perbandingan merkuri dengan
alloy amalgam, waktu triturasi, kondensasi dan kontaminasi .(http://www.researchgate.net/)
G. Kavitas kelas II
Kavitas kelas II merupakan kavitas yang terdapat pada permukaan proksimal gigi
posterior (gigi molar dan premolar). Kavitas pada permukaan halus atau lesi mesial dan atau
distal biasanya berada di bawah titik kontak yang sulit dibersihkan. Menurut definisi Dr.
Black, karies Klas II dapat mengenai permukaan mesial dan distal atau hanya salah satu
permukaan proksimal dari gigi sehingga dapat digolongkan menjadi kavitas MO (mesio
oklusal), DO (disto oklusal), dan MOD (mesio oklusal distal).
Karena permukaan untuk perbaikan biasanya dibuat dari permukaan oklusal,
permukaan oklusal dan aproksimal dari gigi direstorasi sekaligus. Tetapi bila dilihat dari
definisinya, kavitas ini adalah lesi proksimal dan tidak selalu mencakup permukaan
oklusal.(Anonim, 2011)
Ketika ditemukan suatu kasus kavitas kelas II disertai dengan kavitas pit dan fisure
(kelas I), maka keadaan ini diklasifikasikan sebagai kavitas kelas II.

H. Kavitas kelas V
Kavitas kelas V merupakan kavitas yang terdapat pada 1/3 gingival pada semua gigi,
di permukaan bukal, labial, lingual dan palatinal (bukan pada pit dan fisur), namun lesi ini
lebih dominan timbul di permukaan yang menghadap ke bibir dan pipi daripada lidah.
Kavitas Klas V bisa mengenai sementum selain email.
Kavitas kelas V pada gigi incisivus sentralis kanan atas. (Shuman, 2004)

I. Kegagalan Restorasi Amalgam Kavitas kelas II
1. Fraktur marginal ridge (lingir tepi)
Penyebab:
- Axiopulpal line angle tidak dibulatkan saat preparasi
- Marginal ridge terlalu tinggi
- Embrasur oklusal tidak benar
Solusi:
- Axiopulpal line angle dibulatkan saat preparasi
- Tinggi marginal ridge disesuaikan dengan gigi sebelahnya dan dengan oklusi
- Menciptakan embrasur oklusal yang bersesuaian dengan gigi sebelahnya
2. Tumpatan overhanging sehingga mengiritasi gingiva
Penyebab:
- Kesalahan peletakan wedge yang terlalu ke gingival saat insersi amalgam

Solusi:
- Posisi wedge diletakkan secara benar
3. Tepi amalgam lemah
Penyebab:
- Kertidaksesuaian antara tumpatan amalgam dengan arah dinding mesiolingual dan
mesiofasial
Solusi:
- Perhatian khusus pada arah prisma email dan sifat amalgam saat preparasi dan insersi
amalgam.(Roberson, 2006)

A. TUMPATAN KELAS II
1. Indikasi dan Kontra Indikasi
Indikasi Amalgam untuk Kavitas kelas II:
1. Kehilangan jaringan gigi sebelum dan selama perawatan minimal. Karies melibatkan
permukaan occluso-distal atau mesio-occlusal.
2. Prognosis yang tidak meyakinkan sehingga yang paling baik adalah memberikan
restorasi semipermanen yang tahan lama.
3. Mudah dikerjakan dan murah.
4. Gigi masih vital.

Kontra Indikasi Amalgam untuk Kavitas kelas II:
1. Jumlah karies yang tinggi.
2. Karies yang luas melibatkan cups.
3. Dibutuhkan estetik.
4. Gigi antagonis logam yang tidak
sejenis
.
2. Batasan Pembuatan Restorasi
Retorasi amalgam klas II dapat bertahan lama jika :
1. Preparasi gigi tepat
2. Matriks sesuai
3. Daerah operasi terisolasi
4. Material restorasi dimanipulasi dengan
tepat
Restorasi dengan bahan amalgam sangat baik digunakan ketika insidensi karies tinggi.
Banyak dokter gigi di UK yang masih menggunakan amalgam sebagai bahan tumpatan
proksimal. Tetapi, kekurangannya adalah estetika menjadi kurang baik, kurangnya ikatan
dengan jaringan pada gigi dan tidak memiliki sifat kariostatik. Amalgam dapat menutup
kavitas tapi tidak mendukung enamel dan dentin. Oleh karena itu, ketika estetika menjadi hal
yang utama atau ketika enamel dan dentin menjadi lemah akibat karies, restorasi
menggunakan resin komposit dapat menjadi pilihan.

3. Teknik Restorasi
Ukuran dari restorasi tergantung dari keadaan dan kebutuhan. Apabila karies
menggerogoti email di sepanjang gingival border, haruslah dibuat floor pada restorasi untuk
menghilangkan email yang tidak disokong oleh dentin. Luasnya caries lingual dan fasial
mempengaruhi besarnya preparasi kavitas.
Dinding dari restorasi di buat kurang lebih datar dan lurus dengan sudut cavosurface
pada 90 derajat. Berhasilnya tumpatan tergantung pada akuransi dan ketepatan pembuatan
alur (groove).
Keberhasilan suatu cavitas adalah hasil dari pemeriksaan area kavitas seperti
kedalaman cavitas, kehalusan occlusal wall atau line angle-nya. Sudut pada alur (groove) dari
preparasi kavitas dapat meningkatkan retensi dari restorasi amalgam. Dinding-dinding perifer
haruslah halus.
Saat menghilangkan debris apabila kavitasnya luas kemungkinan terpaparnya pulpa
lebih meningkat. Untuk itu disarankan memakai base atau liners untuk melindungi pulpa dari
restorasi yang dalam.
Apabila restorasi lebih tinggi atau lebih rendah dari permukaan oklusal maka akan
meningkatkan akumulasi plak dan mempermudah makanan untuk masuk ke sela selanya
sehingga kemungkinan terjadi recurrent caries bisa lebih tinggi.

Pada restorasi amalgam kelas II, ada beberapa tahapan :
a. Initial Clinical Procedures
Pada tahap ini, dilakukan persiapan sebelum dilakukan preparasi gigi yang akan direstorasi
amalgam kelas II. Sebelumnya perlu dilakukan pengecekan oklusi pasien dengan articulating
paper. Keadaan trauma oklusi harus dibenarkan agar tidak merusak tumpatan yang telah
dibuat. Pada umumnya, anastesi perlu dilakukan untuk restorasi amalgam kelas II.
Pemasangan rubber dam juga diperlukan apabila lesi karies cukup luas.

b. Preparasi Kavitas
Hal yang harus diperhatikan yaitu tepi dari preparasi haruslah tajam dan bersih. Celah
pada bagian dinding fasial dan lingual dengan groove bentuknya datar, sedangakan pada
daerah gingival floor halus. Operator haruslah yakin bahwa celah atau lubang preparasi sudah
tepat.
Pertama, harus dibuat occlusal outline form atau occlusal step. Dengan menggunakan
bur nomor 245, dilakukan pemotongan pada bagian fisur atau pit yang paling dekat dengan
bagian proksimal. Sumbu panjang bur harus sejajar dengan axis gigi. Kedalaman seitar 1,5
mm sampai 2 mm. Agar tercipta preparasi yang konservatif, maka itsmus dibuat sesempit
mungkin atau selebar bur nomor 245. Pulpal floor harus dibuat rata, namun tetap disesuaikan
dengan pola DEJ.
Ketika kita menjaga bur tetap paralel terhadap axis gigi, maka akan tercipta preparasi
yang sedikit konvergen. Beberapa perluasan juga dapat digunakan sebagai retensi, bisa dibuat
dovetail atau yang berasal dari fisur central.Yang harus diperhatikan adalah sebelum seorang
dokter gigi memperluas area preparasinya sampai bagian marginal ridge, ia harus
mmvisualisasikan lokasi akhir dari facial dan lingual walls dari proximal box relatif terhadap
kontak area. Hal ini dapat menghindari overextension.
Tahap selanjutnya adalah membuat proximal outline form atau disebut juga proximal
box. Tujuan pembuatan proximal box adalah :
1. Menghilangkan semua lesi karies, kesalahan, dan material restorative yang lama.
2. Menciptakan margin carvosurface sebesar 90 derajat.
3. Penghilangan jaringan yang dekat dengan bagian fasial, lingual, dan gingival tidak
lebih dari 0,5 mm (idealnya).
Pada pembuatan proximal box, hal pertama yang dibuat adalah isolasi bagian enamel
proksimal dengan proximal ditch cut. Dengan mengunakan bur berdiameter 0,8 mm
memotong enamel dan dentin ke arah gingiva. Untuk enamel sekitar 0,2-0,3 mm, sedangkan
dentin sebesar 0,5-0,6mm. Selain itu, jarak dengan gigi terdekat juga harus diperhatikan:
untuk lesi yang kecil 0,5 mm.
Bagian proximal ditch dapat dibuat divergen ke arah gingiva untuk memastikan
dimensi fasiolingual bagian gingival lebih besar dari pada bagian oklusal.
Enamel yang terkurung dalam preparasi dihilangkan dengan spoon excavator. Dengan
menggunakan enamel hatchet atau bin-angle chiset atau keduanya, enamel proksimal yang
tidak didukung dengan dentin. Carvosurface diindikasikan sebesar 90 derajat untuk
memastikan tidak ada enamel rods yang tertinggal pada bagian proksimal
Setelah proximal box telah terbentuk dengan baik, maka selesailah tahap initial
preparation. Tahap kedua adalah Final Tooth Preparation. Tahapan ini diawali dengan
penghilangan lesi karies pada dentin dan menghilangkan enamel yang tidak didukung dentin.
Penghilangan jaringan karies di dentin menggunakan excavator, sedangkan pada lesi yang
meluas ke arah pulpa dihilangkan menggunakan round bur.
Kedalaman dari preparasi oklusal adalah 2,0 mm dan kedalam dari proksimal adalah 3
mm. lebar dari gingival floor sekitar 1 mm.
Pada preparasi ini, pulpal floor dan gingival floor pada bagian proksimal harus cukup
rata. Hal ini bisa dilakukan dengan chisel atau hatchet. Kerataan preparasi adalah faktor
penting lain, karena ketidak teraturan floor akan menyebabkan titik konsentrasi tekanan. Saat
pasien menggigit restorasi, tekanan akan menyebabkan amalgam retak (cracking) atau patah.
Axio-pulpal line angle tidak perlu di-bevel pada preparasi kavitas. Hal ini dibutuhkan
untuk menghindari tekanan dari sudut yang menyebabkan restorasi patah.

c. Restorative Technique
Menempatkan sealer atau adhesive system jarang digunakan, karena penggunaan
bonding tidak dapat menggantikan retensi konvensional secara mekanik yang terjadi antara
amalgam dan gigi atau dentin.
Pertama tama pasang matrix band disekeliling gigi ke dalam contour proksimal
sebelum insersi amalgam ke dalam cavitas. Pembatas kayu (wedge) ditempatkan di
embrasure gingival untuk menstabilkan matrix band. Wedge ini harus erat untuk menghindari
adanya overhang amalgam. Cara memasang wedge: (1) memutuskan kira-kira 1,2 cm tusuk
gigi. (2) pegang bagian yan diputus tadi dengan pliers nomor 110. (3) masukkan poin tip
facial atau lingual embrasure (4) ganjal band terhadap gigi dan margin. Batas atau bentuk dari
matrix band mempengaruhi berhasilnya restorasi.
Amalgam dimasukkan ke dalam cavitas dengan menggunakan condenser dan
marginal di raratakan dengan probe.
Matrix band dilepas setelah di isi amalgam untuk mengetahui apakah ada yang
berlebih. Kelebihan amalgam dapat di hilangkan dengan pisau amalgam.
Amalgam kemudian di burnish dengan menggunakan ball burnisher untuk
memampatkan amalgam dengan lebih baik. Setelah di burnish, carver digunakan untuk
memperbaiki embrasure oklusal dari restorasi.
Kemudian amalgam di polish untuk mengurasi sifat tarnish, korosi dan meretensi
plak. Green stone digunakan untuk mempolish amalgam dan di ikuti dengan karang, dan
abrasive rubber point. Medium girt dan fine grit abrasive point dengan handpiece kecepatan
rendah digunakan untuk polishing tahap akhir dari restorasi. Polishing dilakukan satu hari
setelah amalagam di insersikan ke dalam kavitas agar amalgam setting sempurna. Dengan
demikian, dapat tercapai permukaan amalgam amalgam yang halus dan berkilau.

4. Kegagalan Restorasi Amalgam Kelas II
Penelitian terhadap restorasi amalgam yang gagal menunjukkan bahwa kesalahan operator
pada saat preparasi dan manipulasi bahan mempunyai peranan yang penting terhadap
ketahanan sebuah restorasi amalgam.
Kegagalan restorasi kelas II meliputi :
1. Fraktur marginal ridge (lingir tepi)
Penyebabnya adalah axiopulpal line angle tidak dibulatkan saat preparasi, marginal ridge
terlalu tinggi, dan embrasur oklusal tidak benar. Solusi untuk mengatasi fraktur ini adalah
axiopulpal line angle dibulatkan saat preparasi, tinggi marginal ridge disesuaikan dengan gigi
sebelahnya dan dengan oklusi dan menciptakan embrasur oklusal yang bersesuaian dengan
gigi sebelahnya.
2. Karies sekunder
Karies sekunder dapat terjadi pada gigi yang sudah direstorasi. Biasanya terjadi kebocoran
pada margin tumpatan dengan jaringan gigi yang sehat. Dapat juga disebabkan karena bagian
isthmus pecah sehingga menjadi pintu masuk bagi saliva, sisa makanan dan bakteri. Preparasi
yang tidak tepat pada daerah proksimal hingga ke bagian yang mudah dibersihkan (self
cleansing) juga mendorong terjadinya karies sekunder.
3. Tumpatan overhanging sehingga mengiritasi gingiva
Penyebabnya adalah hesalahan peletakan wedge yang terlalu ke gingival saat insersi
amalgam. Posisi wedge harus diletakkan secara benar.
4. Patah pada isthmus
Daerah isthmus pada tumpatan kelas II adalah daerah sempit yang menghubungkan dua
daerah tumpatan yang lebih besar, sehingga apabila patah pada daerah ini menyebabkan
lepasnya dinding proksimal. Pencegahan terhadap patah di daerah isthmus dapat dilakukan
dengan memperhatikan letak pembuatan isthmus, yaitu pada sepertiga atau seperempat lebar
kuspid mesio-distal dan lebar isthmus ideal sekitar sepertiga jarak buko-lingual. Dasar kavitas
pada perbatasan dinding aksial dan oklusal dibuat bevel untuk memberi ketebalan yang cukup
sehingga mampu menahan beban kunyah.
5. Tepi amalgam lemah
Penyebabnya adalah kertidaksesuaian antara tumpatan amalgam dengan arah dinding
mesiolingual dan mesiofasial. Solusinya,harus diperhatian khusus pada arah prisma email dan
sifat amalgam saat preparasi dan insersi amalgam.
6. Restorasi lepas seluruhnya
Retensi sangat dibutuhkan pada setiap restorasi terutama pada kelas II. Untuk menghindari
lepasnya restorasi dari kekuatan tarik maka pada bentuk kavitas kelas II harus dibuat dovetail.

Kesalahan pada waktu preparasi
1. Pengambilan jaringan yang berlebihan
Salah satu syarat preparasi kavitas adalah semua pit dan fisure yang terkena karies
harus dimasukkan dalam outline foam. Tetapi ini bukan berarti outline foamm dapat dibuat
selebar mungkin, karena pengambilan yang berlebihan akan melemahkan sisa jaringan dan
akan melemahkan amalgamnya sendiri. Pelebaran ke arah bukolingual kavitas proximal box
di daerah oklusal yang berlebihan mengakibatkan tidak baiknya dukungan bagi dinding
proksimal dan akhirnya akan mengakibatkan kerusakan pada bagian marginal (marginal
deterioration). Hal ini terjadi jika dinding kavitas proximal box sejajar dengan permukaan
luar gigi, ternyata posisi bur tidak tepat yaitu tegak lurus terhadap gingivaa. Sehingga
operator berusaha membetulkan kesalahan ini dengan melakukan pelebaran kavitas.
Kesalahan lain yang bisa terjadi adalah jika adanya dinding proximal box dan kunci retensi
di oklusal dilihat dari pandangan oklusal. Berhubung sempitnya permukaan oklusal,
sempitnya lebar isthimus, dan ekstensi box yang minimal pada aspek oklusal, dinding-
dinding proximal box jangan terlalu lebar membuka ke arah emberasur. Sebaiknya dinding
proximal box harus bertemu di dinding oklusal dalam garis lurus sehingga tidak terdapat
titik-titik lemah dalam preparasi tersebut.
2.Letak dasar dinding proximal
Kesalahan kedua pada waktu preparasi adalah dalam meletakkan dasar dari dinding
proximal. Letak dasar dari dinding proximal yang ideal adalah pada daerah self cleansing
atau dibawah gingiva bebas. Jika kedalaman lesi memerlukan diletakkannya dinding gingiva
lebih jauh lagi, maka preparasi harus hati-hati agar tidak membuka pulpa. Secara klinis
kadang-kadang ada kecenderungan untuk memperdalam dasar dari dinding proximal
terutama pada lesi yang dalam, tetapi hal ini sangat berbahaya karena dapat mengenai pulpa.
Hal ini disebabkan karena bentuk piulpanya juga demikian.
3. Isthimus
Lampshire (1955) menganjurkan pembuatan isthimus harus lebar agar diperoleh
badan tumpatan nyang kuat pada titik lemah preparasi, sehingga akan mencegah terjadinya
fraktur pada tumpatan. Law et al (1996) dan mc. Donald (1966) menjelaskan bahwa
pembuatan isthmus harus sempit sedangkan badan tumpatan yang cukup kuat dapat diperoleh
dengan jalan mendalamkan kavitas. Idealnya lebar isthmus tidak lebih dari 1/3 jarak tonjol
molar sulung (cups bukal dan lingual). Merle dan raymon berpendapat bahwa fraktur pada
amalgam biasanya terjadi di daerah ishtmus. Penyebab fraktur pada isthimus adalah trauma
gigi antagonis dan pemakaian reatorasi selama 24 jam.
4. Terbukanya pulpa
Jarak antara tanduk pulpa dan permukaan enamel demikian dekatnya yaitu lebih
kurang 2 mm. Oleh karena itu pergerakan sedikit saja dari kesalahan preparasi dapat
menyebabkan terkenanya pulpa, untuk ini dituntut keterampilan yang tinggi dari operator dan
hendaknya dijalin kerjasama yang baik dengan pasien. Kegagalan membulatkan dinding axial
juga dapat menyebabkan terbukanya pulpa
PRINSIP PREPARASI KAVITAS
Setiap mengerjakan suatu preparasi kavitas selalu harus mengikuti pedoman dasar
yangmerupakan tahapan prinsip preparasi kavitas sehingga hasil preparasi akan
baik dansempurna. Prinsip preparasi kavitas tesebut terdiri atas :
1. Out line form (benyuk perluasan)
Merupakan bentuk dan batas kavitas pada permukaan gigi. Hal-hal yang perlu
diingatdalam pembuatan outline form ini adalah :
a. Membuang semua jaringan karies dan fisur yang dalam
b. Membuang semua jaringan email yang tidak didukung dentin yang sehat
c. Perluasan kavitas sampai ke self clensing area dan jaringan gigi yang sehat.

2. Resistance form (bentuk resistensi)
Membentuk kavitas agar restorasi maupun ginguva sendiri tidak
pecah atau tahanterhadap tekanan pengunyahan. Untuk mencapai tersebut dinding
pulpa dibuat rata dantegak lurus pada bidang as gigi, dinding lateral harus tegak lurus
pada dinding pulpa.Dinding gingival juga harus rata dan tegak lurus pada dinding as gigi.

3. Retension form(bentuk retensi)
Membentuk kavitas agar restorasi tidak bergerak dan tidak mudah
lepas. Macam-macam retensi anatara lain :
a. Under cut
b. Paralelisme dinding-dingding
kavitas
c. Dove tail
d. Groove (alur)
e. Pin hole
f. Micropit

4. Confenience form
Bentuk kavitas yang memudahkan pemasukan atau insersi atau
pemasangan bahan restorasi.

5. Menghi l angkan j ar i ngan kar i es

6. Finishing email wall and margin (penyelesaian dinding dan tepi email)