Anda di halaman 1dari 4

MODUL 5 (R. 3.

08)
1. Reaksi tulang pada kondisi abnormal
kematian lokal (nekrosis avaskuler dari tulang)
perubahan pada deposisi tulang
perubahan pada resorbsi tulang
kerusakan mekanik (fraktur)

2. Reaksi tulang yang masih terhadap kondisi abnormal dan contohnya:
Mengubah deposisi tulang
Mengubah resorpsi tulang
Kombinasi dari perubahan deposisi dan perubahan resorpsi (contoh: osteoporosis,
atromegali, rickets)

3. Reaksi epifisial plate pada kondisi abnormal :
a) Meningkatkan pertumbuhan
b) Mengurangi pertumbuhan
c) Pertumbuhan torsional (posisiduduktidakbenar)
Contoh :
Ricketss : Kekurangan kalsifikasi pada kartilago epifisial plate . Pada zona kalsifikasi
kartilago mengakibatkan perlambatan atau penghambatan pertumbuhan di seluruh
epifisial plate
Dituitary dwarfism ( lorain type) : kekurangan growth hormone yang berasal dari
kalenjar pituitary
Acondroplasia : bersifat bawaan sejak lahir , kekurangan pertumbuhan kartilago dan
seluruh epifisial plate
Gigantisme (Hiperchondroplasia) :Pertumbuhan kartilago yang berlebihan pada
epifisial plate, bawaan dari lahir.
Pituitary gigantisme : Kelebihan growth hormone dari kalenjar pituitary anterior ,
menstimulas isemua pertumbuhan epifisial plate.

4. Reaksi articular cartilage pada kondisi abnormal
Destruksi : kekuatan regenerasi artikular kartilago yang terbatas sehingga
kerusakan tulang rawan adalah lesi yang serius dan tidak bias diperbaiki
Contoh: Rheumatoid arthritis
Degenerasi : diinisiasi oleh perubah substansi semen interseluler matriks dan tidak
melindungi kolagen fibril. Kartilago menjadi lebih encer dan sel-sel berkurang
Contoh: premature aging of cartilage
Poliferasi peripheral : osteosit

5. Reaksi membran sinovial terhadap kondisi abnormal :
a) Memproduksi cairan sinovial berlebih
b) Menjadi lebih tebal (hipertrofi)
c) Adhesi antara membtan sinovial dan articular cartilage

6. Reaksi joint capsule terhadap kondisi abnormal.
a) menjadi meregang dan memanjang sehingga sendi menjadi tidak stabil.
Contoh : - luka akibat traumatic dislocation dengan ruptur pada kapsul atau ligamen
yang menyebabkan ketidakstabilan sendi.
infeksi , athritis septic menyebabkan dislokasi patologic pada sendi karena
kapsul dirusak oleh pus

b) menjadi padat dan memendek sehingga membatasi jangkauan gerakan sendi
Contoh : - infeksi , pembentukan fibrosis dan scar pada kapsul yang diikuti denganinfeksi
sehingga mengakibatkan sendi menjadi kontraktur
-cronic arthritis
- joint contractur

7. Atrofi : karena tidak bergerak terlalu lama
- Hipertrofi : karena terlalu serng bergerak
- Nekrosis : nekrosis otot dalam waktu 6 jam sompartment syndrome
- Kontraktur
- Regenerasi : contoh polyomyelitis

8. tipe deformitas pada tulang
lost of alignment : tulang panjang bisa keluar dari ligamen karna tulang panjang
terpelintar dari tulang axis atau bengkak.
abnormal length : bisa abnormal pada panjang atau pendeknya. bila hanya 1
ekstremitas saja disebut limb length discrepancy.
bony outgrowth : lesi seperti pada osteochondroma, muncul dari permukaan
tulang dan dapat mengubah konfigurasinya sehingga terjadi defomitas tulang

9. Penyebab deformitas pada tulang :
a. Kelainan congenital perkembangan tulang
Cacat pada tulang dapat terjadi karena aplasia (kegagalan perkembangan), hipoplasia
(underdevelop), dysplasia (perkembangan tidak normal)
b. Fraktur
- Non union : bila fraktur gagal disatukan
Mal union
c. Gangguan pada pertumbuhan epiphyseal plate
d. Bending of abnormality soft bone
Pada rakhitis dan osteomalacia, matrik tulang terkalsifikasi secara normal

10. Tipe deformitas pada persendian :
a. Displacement of the joint
- Bila hubungan timbal balik antara dua permukaan sendi hilang
b. Hipermobilitas persendian
c. Restricted mobility of the joint, terjadi kontraktur pada otot

11. Penyebab deformitas joint :
kelainan kongenital dari perkembangan sendi
acquire dislocation, terjadi karena injuri, infeksi sehingga sendi tidak stabil
mechanical blocks
adhesi sendi
kontraktur
ketidakseimbangan otot
external pressure