Anda di halaman 1dari 131

BENTUK LAYANAN BIMBINGAN ROHANI PASIEN DALAM

MEMBANTU PROSES KESEMBUHAN PASIEN DI LAYANAN


KESEHATAN CUMA-CUMA(LKC) CIPUTAT

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)




Oleh:

INDAH CHABIBAH_
NIM: 107052002552





PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H / 2011 M

i

ABSTRAK
Indah Chabibah, Bentuk Layanan Bimbingan Rohani Pasien dalam Membantu
Proses Kesembuhan Pasien di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Ciputat,
dibawah bimbingan Dr. Asep Usman Ismail, MA

Sekarang ini banyak Rumah sakit yang hanya memberikan pelayanan secara
medis kurang memperhatikan pelayanan secara spiritual padahal menurut ketetapan
WHO yang baru ini orang bisa dikatakan sehat apabila mencakup 4 hal yaitu sehat
secara fisik, sehat secara psikologis, sehat secara sosial dan sehat secara spiritual.
Bimbingan rohani bagi pasien merupakan kegiatan yang di dalamnya terjadi
proses bimbingan dan pembinaan rohani kepada pasien di Rumah Sakit sebagai
bentuk upaya kepedulian kepada mereka yang sedang mendapat ujian dari Allah
SWT. Dalam kegiatan tersebut bagaimana seorang relawan dapat memberikan
ketenangan, kedamaian dan kesejukan hati kepada pasien dengan senantiasa
memberikan dorongan dan motivasi untuk tetap bersabar, tawakkal dan tetap
menjalankan kewajibannya sebagai Hamba Allah, dengan demikian akan membantu
kualitas kesembuhan pasien secara holistik.
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk layanan
Bimbingan Rohani Pasien yang ada di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma ciputat dalam
membantu proses kesembuhan pasien di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Ciputat.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kualitatif, penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang
diamati. Adapun yang menjadi subjek disini adalah pembina rohani selaku yang
melaksanakan program Bimbingan Rohani, selain itu pasien juga menjadi subjek
dalam penelitian ini karena pasien yang menerima layanan Bimbingan Rohani. Yang
menjadi objek penelitian ini adalah program Bimbingan Rohani pasien.
Berdasarkan hasil penelitian bentuk layanan bimbingan rohani pasien yang
ada di Layanan Kesehatan Cuma Cuma ada 2 macam kegiatan bimbingan rohani
yang pertama adalah Bimbingan Rohani Pasien Rawat Inap yaitu bimbingan rohani
yang diberikan kepada pasien rawat inap LKC, yang kedua yaitu bimbingan rohani
pasien rawat jalan yaitu buat pasien LKC yang berobat jalan atau rawat jalan,
biasanya berupa pengajian di masjid binaan LKC yang diadakan setiap sebulan sekali
yang wajib diikuti oleh member LKC.
ii

KATA PENGANTAR

Bimillahirrahmanirrahiim
Alhamdulilah wa syukurillah, segala puji bagi Allah SWT tuhan semesta
alam yang telah memberikan kita segala nikmat yang tak terhingga kepada
hambanya sampai detik ini, dan Shalawat serta salam semoga selalu senantiasa
terlimpahkan kepada baginda Muhammad SAW sehingga penulis dapat melewati
perjalanan akademis dan dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Model
Layanan Bimbingan Rohani Pasien dalam Membantu Proses Kesembuhan Pasien
di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Ciputat.
Alhamdulillah pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini atas
usaha dan upaya yang telah penulis lakukan serta bantuan yang sangat berharga
dari beberapa pihak. Di tengah kesibukannya, mereka menyempatkan waktu luang
untuk berbagai informasi dan motivasi agar penulis mampu mewujudkan skripsi
ini. Maka dengan niat suci dan ketulusan hati, penulis ingin menyampaikan
ucapan terima kasih kepada orang-orang atas segala bantuannya terutama kepada :
1. Dr. H. Arief Subhan, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Drs. Wahidin Saputra, MA
selaku Pembantu Dekan Bidang Akademik, Drs. H. Mahmud Jalal, MA
selaku Pembantu Dekan Bidang Administrasi, Drs. Study Rizal LK, MA
selaku Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan.
2. Dra. Rini Laili Prihatini, M.Si selaku Ketua Jurusan Bimbingan dan
Penyuluhan Islam. Terima kasih atas segala motivasi yang telah diberikan
hingga terselesaikannya skripsi ini. Maaf kalu selalu merepotkan ibu.


iii

3. Drs. Sugiharto, MA selaku Sekretaris Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan
Islam. Terima kasih pak atas semuanya.
4. Teristimewa orang tua penulis, My great Mom Suriyah dan Alm. Amad
Kurdi yang ada di surga sana , Terima kasih penulis ucapkan yang telah
mengantarkan penulis hingga seperti sekarang dengan penuh kasih sayang,
doa, kesabaran, keikhlasan dan perjuangan hidup demi kelangsungan
pendidikan putra-putrinya, terima kasih untuk semuanya.
5. Dr. Asep Usman Ismail,M.A. selaku Pembimbing skripsi yang dengan sabar
telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis. Terima kasih atas
motivasinya bapak, sehingga bisa terselesaikannya skripsi ini. Syukron jiddan
buat semuanya pak
6. Para penguji yang telah memberikan masukan pada skripsi ini.
7. Para Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah
memberikan dedikasinya, pengarahan, pengalaman, serta bimbingan kepada
penulis selama perkuliahan.
8. Untuk semua Kakak-kakak ku tersayang dan terbaik, Dra. Imronah, Drs. H.
Amir Maruf, Musodah, Bejo Mudzakir, Ida Zulifah,S.Pd.i, Alif Nur
Solihin,S.Pd.i, Faidloturrofiah, Amd. Terima kasih atas doa dan motivasi
yang tak henti diberikan sehingga terselesaikannya skripsi ini, penulis akan
berusaha tidak mengecewakan kalian. Terima kasih dan tetap selalu menjadi
penyemangat penulis.
9. Buat ponakan-ponakan ku Laras Azmil Abida, Patih Elkautsar Muhammad,
Ravi Dara Jeeta, Muhammad Nazalul Fawadz, Asfa Ihdal Mafaza, Isna fadia
Hayya, yang sudah mendukung dan menghibur penulis.


iv

10. Bapak Iwan selaku supervisi program di LKC yang telah banyak memberikan
informasi, pengalaman, dan memberikan semangat sehingga terselesaikan
skripsi ini. Maaf pak saya selalu merepotkan bapak
11. Ust Yazid selaku pembina Rohani pasien di LKC yang sudah meluangkan
waktunya sehingga dapat terselesaikan skripsi ini.
12. Seluruh Staf Karyawan Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Dakwah untuk
referensi buku-bukunya.
13. Hamdani Jabir yang tak pernah bosan memberi semangat dan membantu
penulis, selalu menjadi teman setia dalam suka dan duka, sehingga dapat
terselesaikannya skipsi ini. Terima kasih atas semua doa dan motivasinya ya
bby, semoga Allah membalas semua kebaikkan mu. Semoga kebersamaan
kita akan indah pada waktunya, Aminn....
14. Geng Kor (wiwin, vika, huwaida, dan Ilah) teman-teman seperjuangan ku,
yang tak pernah henti memberi semangat untuk penulis. Semoga pertemanan
kita terjalin sampai kakek nenek yaa...amiin
15. Untuk semua teman-teman ku seperjuangan di Jurusan Bimbingan dan
Penyuluhan Islam, khususnya angkatan 2007, terima kasih atas
kebersamaannya, selama hampir 4 tahun lamanya kita berbagi satu sama lain,
semoga kita sukses selalu, dan tetaplah menjadi teman-teman terbaik bagi
penulis.
16. Teman-teman yang tidak bisa disebutkan satu persatu, penulis ucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya.


v

17. Yang terakhir gomawo buat opaa-oppaku Shinee, DBSK, Super Junior, dll,
yang sudah membantu menghilangkan rasa penat dan stres dalam
menyelesaikan skripsi ini. Saranghae oppa
Akhirnya penulis berharap semoga apa yang telah diberikan mendapatkan
balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT dan penulis berharap semoga skripsi
ini dapat bermanfaat bagi yang membaca pada umumnya dan bagi keluarga besar
Bimbingan dan Penyuluhan Islam pada khususnya.


Jakarta, Mei 2011

Indah Chabibah


vi

DAFTAR ISI
ABSTRAK . ........ i
KATA PENGANTAR ........ ii
DAFTAR ISI vi
DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ....................................... 6
1. Tujuan Penelitian ...... 6
2. Manfaat Penelitian 7
D. Tinjauan Pustaka 7
E. Metodologi penelitian .................................................... 9
1. Metode penelitian ...................................................... 9
2. Subjek dan objek penelitian .....................................13
3. Tempat dan waktu Penelitian...................................13
4. Teknik pengumpulan data ........................................14
5. Sumber data ..............................................................15
6. Teknik analisa data ...................................................15
7. Keabsahan data .......................................................16
8. Teknik penulisan data...............................................17
F. Sitematika Penulisan .......18

BAB II LANDASAN TEORI 20
A. Bimbingan Rohani ...................20
1. Pengertian Bimbingan Rohani ...20
2. Tujuan dan fungsi bimbingan rohani ........................ 24
3. Metode Bimbingan Rohani ........................................26
4. Bentuk Bimbingan .................................................... 29
B. Pengertian Pasien ............................................................ 31
1. Pengertian Pasien ...................................................... 31
vii

2. Kondisi Mental Kejiwaan Pasien .............................. 32
3. Terapi Keagamaan Bagi Pasien .................................33
C. Konsep Sehat dan Sakit .................................................. 34
1. Konsep Sehat .............................................................34
2. Konsep Sakit ............................................................. 36

BAB III GAMBARAN UMUM LAYANAN KESEHATAN CUMA-
CUMA................................................................................... 43
A. Latar Belakang Berdirinya ........ 43
B. Perkembangan LKC 44
C. Visi Misi Tujuan LKC ... 46
D. Struktur Organisasi . 47
E. Program-program LKC . 48
1. Direct Program ................................................... 48
2. Indirect Program ................................................... 49
F. Sistem Kepesertaan LKC .... 49
G. Layanan Bimbingan Rohani Pasien ............................. 51
1. Visi, Misi dan Tujuan BRP .................................... 52
2. Karakteristik BRP .................................................. 53
3. Manfaat BRP bagi Pasein ....................................... 53
4. Syarat Pembina Rohani ............................................55

BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA . 56
A. TEMUAN ....................................................................... 56
1. Bentuk Layanan Bimbingan Rohani Pasien di LKC ..56
2. Keadaan pasien sebelum sesudah mendapat BRP ......63
B. Analisis ........................................................................... 65
1. Analisis model kegiatan BRP di LKC ..................... 65
2. Analisis pasien sebelum sesudah mendapat BRP .....78

BAB V PENUTUP .. 85
A. Kesimpulan . 85
viii

B. Saran .. 86

DAFTAR PUSTAKA ....... 87
LAMPIRAN ........




1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) merupakan lembaga non profit
jejaring Dompet Dhuafa Republika khusus di bidang kesehatan yang melayani
kaum dhuafa secara paripurna melalui pengelolaan dana sosial masyarakat
(ZISWAF- Zakat, Infak, Sedekah dan wakaf) dan dana sosial perusahaan.
1
LKC
juga memiliki layanan rawat inap dan rawat jalan yang sudah berfungsi sebagai
mana mestinya seperti Rumah Sakit.
Setiap Rumah sakit berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan.
Pelayanan diwujudkan melalui upaya penyembuhan pasien (kuratif), pemulihan
kesehatan pasien (rehabilitatif), yang ditunjang upaya peningkatan kesehatan
(promotif) dan pencegahan gangguan kesehatan (preventif), secara menyeluruh
(holistik) dengan pendekatan biopsikososiospiritual sebagaimana disebutkan oleh
Organisasi Kesehatan Sedunia(WHO). Terdapat kecenderungan pendekatan yang
dilakukan pada pasien-pasien di Rumah Sakit tidak secara holistik, hanya
ditujukan pada pendekatan fisik (biologis) semata dan melupakan pendekatan
spiritual, padahal pendekatan spiritual (Rohani) merupakan pendekatan yang
urgen, karena sebagai kebutuhan dan kewajiban.
Dengan banyaknya Rumah Sakit yang memberikan pelayanan kesehatan
saat ini menyebabkan berbagai pelayanan memberikan service yang lebih
memuaskan pelanggan, hal ini menyebabkan tingginya tariff rumah sakit yang

1
http://www.lkc.or.id/index.php/tentang-kami yang di akses pada tanggal 12 maret 2011

2



tidak mampu ditanggung oleh masyarakat biasa. Tingginya jumlah pasien yang
masuk ke rumah sakit dan kurangnya perawatan yang diberikan pada rumah sakit
menyebabkan LOS (leng of stay/lama tinggal di RS) menjadi semakin panjang
sehingga banyak diantara penderita/keluarga merasa keberatan dengan biaya yang
harus dibayar untuk biaya perawatan. Hal ini terjadi hampir disemua bangsal
perawatan.
2
Banyak Rumah Sakit yang memberikan pelayanan hanya kepada
orang yang mampu atau kaya sedangkan banyak orang yang kurang mampu tidak
mendapat pelayanan sebagaimana mestinya.
Kebanyakan manusia cenderung menganggap bahwa cobaan atau ujian
hidup terbatas pada hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti bencana
alam,pailit/bangkrut, kesedihan, sakit, kecelakaan, atau hal-hal yang lazim disebut
musibah. Paling tidak, nasihat untuk bersabar dan tabah menghadapi masalah-
masalah yang dirasa menyakitkan. Terkadang tidak terlintas dalam benak kita
bahwa nikmat berupa kesehatan,kekayaan, kesenangan, jabatan, dan kemewahan
merupakan ujian serta cobaan, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:
_ _. 1: ,.l l,. :l!, ,>' .. !.,l| `->. __
Artinya : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan
menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-
benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan(Q.S. Al anbiyaa :
35)
3

.

2
H. Nurul Kawakib, Urgensi Santunan Spiritual di Rumah Sakit, 2009 di akses dari
http://nurulkawakibblog.blogspot.com/2009/04/urgensi-pendekatan-spiritual-di-rumah.html yang
diunduh pada tanggal 15 februari 2011 pada pukul 09.00
3
Ali Yafie, dkk., Sakit menguatkan Iman(Jakarta : Gema Insani Press, 1996). Cet,ke-1,
h.1.

3



Konsep Sakit, menurut Nani Maharany, S.Kep., Ners dari Departemen
Keperawatan RS Al Islam, adalah suatu keadaan tidak menyenangkan yang
menimpa seseorang sehingga orang tersebut mengalami gangguan aktivitas
sehari-hari, baik aktivitas jasmani, rohani, maupun sosial. Sakit dapat juga
diterjemahkan sebagai sebuah keadaan penyimpangan dari status kesehatan yang
mempunyai arti lebih luas dari sekadar penyakit. Pola penyembuhan pasien
selama ini biasanya lebih fokus pada penanganan penyakit secara medis.
Sementara itu, pendekatan proses tenaga medis (perawat) yang lebih mengarah
pada kebutuhan dasar manusia masih belum banyak diterapkan.
Padahal, pendekatan proses keperawatan adalah perawat sebagai pengganti
pasien, perawat sebagai penolong pasien, dan perawat sebagai partner pasien.
Pendek kata, perawat berperan sebagai motivator dan edukator bagi pasien yang
ditanganinya. Diakuinya, memang belum ada standar baku pelayanan
keperawatan yang berdasar pada keperawatan spiritual. Dengan demikian, perlu
ada semacam buku petunjuk standar keperawatan spiritual, mengingat masyarakat
Indonesia adalah masyarakat yang beragama.
4

Dan sebagai Seorang yang beriman, kita mempercayai bahwa dibalik
sesuatu yang terjadi pada manusia pasti ada hikmahnya. Semua yang dialami
dalam hidup ini adalah cobaan Allah swt, supaya manusia dapat membuktikan
sikapnya dalam menghadapi segala macam ujian untuk mengendalikan dirinya.
5


4
H. Nurul Kawakib, Urgensi Santunan Spiritual di Rumah Sakit, 2009 di akses dari
http://nurulkawakibblog.blogspot.com/2009/04/urgensi-pendekatan-spiritual-di-rumah.html yang
diunduh pada tanggal 15 februari 2011 pada pukul 09.00
5
Ali Yafie, dkk., Sakit Menguatkan Iman (Jakarta : Gema Insani Press, 1996). Cet. Ke-1,
h.1.

4



Dalam kerangka berfikir filsafat kehidupan ini, penulis melihat dan
menyikapi keadaan sakit. Sakit adalah salah satu aspek kehidupan manusia. Bila
manusia tidak memahaminya, ia akan menganggap sakit itu suatu derita.
6

Hampir setiap orang pernah sakit. Musibah yang satu ini memang dapat
menimpa siapapun dan dimanapun. Ia tidak memandang perbedaan pangkat dan
status sosial, bahkan tanpa mengenal ruang dan waktu. Datangnya pun bisa tiba-
tiba. Kalau yang kebetulan sejenis penyakit ringan, mungkin tak terlalu
berpengaruh terhadap kehidupan kita. Malah sering kita lihat penyakit sebagai
peristiwa alamiah yang bisa terjadi pada siapa saja. Tetapi jika yang datang itu
penyakit berat,atau yang terasuk dalam stadium terminal,terkadang bisa
menghilangkan harapan hidup bahkan tak jarang bisa menurunkan mental dan
merontokkan iman kita dalam waktu sekejap. Islam tidak menginginkan orang
sakit tanpa usaha, sebab Nabi telah bersabda bahwa setiap penyakit itu ada
obatnya dan kita semua disuruh untuk berobat.
Penyakit yang diderita seseorang tidak terlepas dari seluruh mata rantai
kehidupannya, dan penyakit itu harus didudukkan dalam filsafat ujian. Penyakit
adalah salah satu ujian Allah yang dianggap orang sebagai sesuatu yang tidak
menyenangkan. Pada waktu orang sakit imannya akan teruji, karena sakit itu
seseuatu yang tidak menyenangkan, maka harus diterima dengan kesabaran.
7

Untuk menolong atau meredakan ketegangan jiwa dalam membantu proses

6
Ali Yafie, dkk., Sakit Menguatkan Iman (Jakarta : Gema Insani Press, 1996). Cet. Ke-1,
h.1.
7
Ali Yafie, dkk., Sakit Menguatkan Iman (Jakarta : Gema Insani Press, 1996). Cet. Ke-1,
h. 7

5



penyembuhan para pasien maka Bimbingan Rohani Pasien (BRP) hadir sebagai
sarana pelengkap penyembuhan dan pelayanan para pasien di Rumah sakit.
Bimbingan Rohani Pasien sebagai salah satu program layanan kesehatan
yang dilaksanakan oleh Lembaga pelayan masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa
Republika yang di dalamnya terjadi proses Bimbingan dan pembinaan Rohani
kepada pasien di Rumah sakit sebagai bentuk upaya kepada mereka yang
mendapat ujian dari Allah swt.
Lembaga ini juga mendirikan sebuah klinik yaitu Layanan Kesehatan
Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Republika yang merupakan lembaga non
profit pertama di Jabodetabek yang menyediakan pelayanan kesehatan gratis bagi
kaum miskin. Antara lain LKC Cabang: Gerai Sehat, TB Center, Aksi Tanggap
Bencana (SigaB), Aksi Layanan Sehat (ALS), Khitanan Massal (KhitMas),
Operasi Massal (OpMas), Pembiayaan Pasien,Pos Sehat Mitra, Pondok Keluarga
dan Masyarakat Sehat (PKMS), Penyuluhan Kesehatan, Medical Check Up, Bina
Rohani Pasien (BRP), Pelayanan Ambulance dan Mobil Jenazah. Bukan saja
pelayanan secara medis tetapi juga pelayanan secara spiritual.
8
Di LKC ini
memberikan layanan kesehatan secara gratis jadi layanan ini hanya diberikan
kepada kaum dhuafa atau kurang mampu.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulis mencoba menelaah
terhadap masalah tersebut dalam skripsi penulis yang diberi judul Bentuk
Layanan Bimbingan Rohani Pasien (BRP) dalam membantu proses

8
Brosur LKC

6



kesembuhan pasien di LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) Dompet
Dhuafa Ciputat.
B. Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Dari sekian banyaknya Layanan yang diberikan oleh Layanan
Kesehatan Cuma-Cuma Ciputat. Maka penulis hanya mengambil atas satu
Layanan Bimbingan Rohani Pasien (BRP) yang diberikan kepada pasien
di LKC. Bimbingan Rohani Pasien (BRP) merupakan salah satu dari
program yang ada di LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) Dompet
Dhuafa Ciputat.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka penulis
merumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu Bagaimana Bentuk
Layanan Bimbingan Rohani Pasien dalam membantu proses kesembuhan
di LKC.
C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan layanan
Bimbingan Rohani Pasien dalam membantu proses kesembuhan pasien. Adapun
tujuan secara khusus yaitu untuk mengetahui layanan-layanan BRP yang
diberikan kepada pasien di LKC khususnya dalam membantu proses kesembuhan
pasien.


7



2. Manfaat Penelitian
Sesuai dengan tujuan di atas, maka manfaat dari penelitian ini yaitu:
a. Manfaat akademis
Dengan skripsi ini diharapkan dapat menjadi bahan refrensi bagi mahasiswa
Fakultas Dakwah dan Komunikasi, khususnya jurusan Bimbingan dan penyuluhan
islam. Serta memberikan pengetahuan yang lebih tentang Bimbingan Rohani
pasien yang ada di LKC.
b. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan sebagai :
- Sebagai bahan evaluasi dalam pelayanan program Bimbingan Rohani
Pasien yang ada di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC).
- Sebagai masukan bagi pengelolaan program Bimbingan Rohani Pasien
di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma(LKC).
D. Tinjauan Pustaka
Dalam penulisan skripsi ini, ada beberapa judul skripsi mahasiswa atau
mahasiswi sebelumnya yang oleh penulis jadikan sebagai tinjauan pustaka.
Namun perlu dipertegas perbedaan antara masing masing judul dan masalah
yang dibahas, antara lain:
1. Rahmah Hidayah, NIM: 1030520286722, Jurusan Bimbingan Penyuluhan
Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Dengan judul skripsi: Peranan Bimbingan Rohani Pasien
Dompet Dhuafa Republika Dalam Meningkatkan Sikap Sabar Pasien di

8



Rumah Sakit Cengkareng Jakarta Barat. Dalam penelitian ini dijelaskan
tentang bagaimana peranan bimbingan rohani pasien dalam meningkatkan
kesabaran pasien yang sedang mengalami sakit. Apakah Bimbingan
Rohani pasien yang diberikan kepada sudah sesuai dengan harapan
lembaga pelayan masyarakat yang mengadakan program bimbingan
rohani pasien yaitu salah satunya meningkatkan kesabaran pasien.
2. Nur Hidayah, NIM : 102052025658, Jurusan Bimbingan Penyuluhan
Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Dengan judul skripsi Peranan Bimbingan Rohani Pasien (BRP)
Dompet Dhuafa dalam proses penyembuhan pasien Rumah Sakit Umum
Daerah Cengkareng. Dalam penelitian ini dijelaskan tentang bagaimana
bimbingan rohani pasien itu berperan dalam penyembuhan pasien Rumah
Sakit Cengkareng Jakarta Barat.
3. Siti umayah, NIM : 105052001770, Jurusan Bimbingan Penyuluhan
Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi,Pelaksanaan Bimbingan
Rohani bagi pasien dan keluarga napza pada saat detoksifikasi di Rumah
Sakit Muhammad Husni Thamrin Internasional Salemba Jakarta. Dalam
penelitian ini dijelaskan tentang pelaksanaan bimbingan rohani bagi
pasien khusus narkoba.
4. Rika Nurhasanah, NIM: 102052025661, Jurusan Bimbingan Penyuluhan
Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Pelaksanaan Bimbingan
Rohani Islam dalam menangani depresi bagi penderita kanker di Rumah
Sakit Kanker Dharmais Jakarta

9



5. Galuh Yuni Utami,NIM: 105052001744, Jurusan Bmbingan Penyluhan
Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, pelaksanaan bimbingan
rohani islam terhadap penderita skizofrenia di panti bina laras harapan
sentosa 3 ceger jakarta Timur.
Dari penelitian diatas yang membedakan dengan penelitian ini adalah tentang
model, kalau diatas dijelaskan peranannya bimbingan rohani pasien yang telah
diberikan apakah sudah berperan dengan baik atau belum. Sedangkan penelitian
ini yaitu tentang model bimbingan yang diberikan kepada pasien dalam membantu
proses kesembuhan di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma.
E. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan bagian yang sangat penting karena sangat
menentukan sukses atau tidaknya suatu penelitian. Metode penelitian adalah cara
yang digunakan untuk mengumpulkan data di dalam penelitian. Adapun bentuk
penelitian ini adalah penelitian lapangan field research yaitu melakukan penelitian
langsung dengan datang langsung ke Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Ciputat.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut
Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Lexy.J. Moleong, pendekatan kualitatif
adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
9

Adapun langkah langkah dalam penelitian yang dilakukan adalah :

9
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitan Kualitatif , Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya,2007, h.4.


10



a. Pengamatan Awal
Pengamatan awal bertujuan untuk melakukan penelitian singkat
yang membantu untuk memahami keadaan program Layanan yang ada di
LKC, sehingga dapat melakukan identifikasi masalah yang terdapat
dalam salah satu program layanan di LKC. Pengamatan dilakukan secara
langsung dengan datang langsung ke LKC dan browsing di Home atau
web LKC.
10

b. Mengidentifikasi Masalah
Setelah dilakukan pengamatan awal untuk mengumpulkan
informasi mengenai kondisi awal tentang program Layanan yg ada di
LKC, maka langkah yang diambil selanjutnya adalah mengidentifikasi
masalah yang ada sehingga dapat menemukan permasalahan yang ada
dalam program Layanan yang ada di LKC.
Permasalahan yang muncul dan ingin diteliti adalah yaitu
memusatkan perhatian pada salah satu program Layanan yang ada di
LKC yaitu Layanan Bimbingan Rohani Pasien. Karena Layanan tersebut
merupakan layanan penting selain layanan yang diberikan secara medis.
11

c. Permasalahan
Setelah melakukan pengidentifikasian masalah yang akan diteliti,
maka langkah selanjutnya yaitu melakukan perumusan masalah yang

10
Metodologi penelitian, yang diakses di :
http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=7&submit.y=9&submit=next&qual=high&
submitval=next&fname=%2Fjiunkpe%2Fs1%2Ftmi%2F2010%2Fjiunkpe-ns-s1-2010-25406098-
16510-clpp-chapter3.pdf, pada tanggal 13 april 2011, pukul 20.00.
11
Metodologi penelitian, yang diakses di :
http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=7&submit.y=9&submit=next&qual=high&
submitval=next&fname=%2Fjiunkpe%2Fs1%2Ftmi%2F2010%2Fjiunkpe-ns-s1-2010-25406098-
16510-clpp-chapter3.pdf, pada tanggal 13 april 2011, pukul 20.00.


11



akan diteliti. Yaitu tentang model layanan Bimbingan Rohani Pasien yang
ada di LKC dalam membantu proses kesembuhan pasien.
d. Menetapkan Tujuan penelitian
Langkah selanjutnya adalah menentukan tujuan yang akan dicapai
dalam melakukan penelitian ini memiliki arah dan sasaran yang jelas
yang hendak dicapai dalam permasalahan yang dihadapi. Selain itu tujuan
ini juga dimaksudkan untuk memberikan solusi bagi LKC dalam
mengkoreksi program Layanan yang ada apakah sudah berjalan lancar
dan sesuai dengan yang diharapkan.
12

e. Menetapkan Batasan Masalah
Dalam melakukan penelitian dalam memecahkan permasalahan
yang ada diperlukan adanya batasan-batasan agar sasaran dan arah dari
penyelesaian pemaslahan yang ada tidak menyimpang. Batasan-batasan
masalah ini bertujuan agar dalam memecahkan masalah yang ada lebih
akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian ini sehingga akan memberikan
hasil yang sesuai yang akan diteliti.
f. Studi Literatur
Agar dapat mengenal permasalahan yang akan diteliti, dibutuhkan
pengetahuan tambahan yang dapat diperoleh dari beberapa literatur sesuai
dengan permaslahan yang ada. Dengan mempelajari teori-teori atau
konsep-konsep yang dapat mendukung tugas akhir penelitian ini, maka

12
Metodologi penelitian, yang diakses di :
http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=7&submit.y=9&submit=next&qual=high&
submitval=next&fname=%2Fjiunkpe%2Fs1%2Ftmi%2F2010%2Fjiunkpe-ns-s1-2010-25406098-
16510-clpp-chapter3.pdf, pada tanggal 13 april 2011, pukul 20.00.

12



dapat membantu penulis untuk menganalisa permaslahan yang diteliti.
Dan dapat mencari alternatif pemecahan permasalahan yang diteliti.
13

g. Melakukan pengumpulan data
Langkah yang selanjutnya adalah melakukan pengumpulan data
yang dapat digunakan untuk penyelesaian masalah yang diteliti. Data-data
yang dikumpulkan yaitu data-data primer dan data sekunder. yang
diperoleh dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. dan
melakukan instrumen penelitian yaitu membuat pedoman wawancara.
14

h. Pengolahan Data
Data-data yang telah dikumpulkan sebelumnya kemudian diolah. Pengolahan
data yang dilakukan melalui beberapa langkah-langkah yaitu :
a. Reduksi data, yaitu dimana peneliti mencoba memilih data yang
relevan dengan proses layanan bimbingan rohani pasien bagi
pasien yang ada di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC).
b. Penyajian data, setelah data mengenai proses layanan bimbingan
Rohani Pasien bagi pasien LKC serta hambatan-hambatannya
diperoleh, maka data tersebut disusun dan disajikan dalam bentuk
narasi, visual gambar, matrik, bagan, tabel dan lain sebagainya.

13
Metodologi penelitian, yang diakses di :
http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=7&submit.y=9&submit=next&qual=high&
submitval=next&fname=%2Fjiunkpe%2Fs1%2Ftmi%2F2010%2Fjiunkpe-ns-s1-2010-25406098-
16510-clpp-chapter3.pdf, pada tanggal 13 april 2011, pukul 20.00.

14
Metodologi penelitian, yang diakses di :
http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=7&submit.y=9&submit=next&qual=high&
submitval=next&fname=%2Fjiunkpe%2Fs1%2Ftmi%2F2010%2Fjiunkpe-ns-s1-2010-25406098-
16510-clpp-chapter3.pdf, pada tanggal 13 april 2011, pukul 20.00.

13



c. Penyimpulan atas apa yang disajikan, pengambilan kesimpulan
dengan menghubungkan dari tema tersebut sehingga memudahkan
untuk menarik kesimpulan.
15

2. Subjek dan Objek Penelitian
Adapun yang menjadi subjek penelitian ini ada tiga subjek yang ingin
diteliti yang pertama yaitu kepala bidang atau ketua kegiatan Bimbingan
Rohani Pasien di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) selaku yang
membuat konsep. Yang kedua yaitu petugas BRP yang melaksanakan
layanan BRP. Yang ketiga adalah pasien selaku penerima layanan BRP.
Sedangkan yang menjadi objek adalah layanan Bimbingan Rohani Pasien
di LKC ciputat.
3. Tempat dan waktu penelitian
Peneliti melakukan penelitian ini berlokasi di Layanan Kesehatan Cuma-
Cuma Dompet Dhuafa Ciputat Jl. Ir. H. Djuanda No 34 Ciputat Mega Mal D
01, Ciputat, Tangerang Selatan. Adapun alasan pemilihan lokasi itu didasari
oleh pertimbangan sebagai berikut : Lokasi penelitian mudah dijangkau oleh
peneliti, bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk layanan Bimbingan
Rohani Pasien yang ada di LKC sehinga mempermudah peneliti menganalisis
data. Adapun waktu penelitian ini dilakukan mulai bulan Februari sampai
dengan Mei 2011.



15
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 1998. H.288

14



4. Pengumpulan Data
Berdasarkan permasalahan penelitian dan data-data yang dibutuhkan, maka
penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi yaitu aktifitas pengamatan meliputi kegiatan pemusatan
perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan alat indera.
16
Dalam
penelitian ini, observasi dilakukan dengan cara berkunjung atau datang
langsung ke LKC ciputat untuk memperoleh sehingga data peneltian
didapatkan.
b. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu
dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang
mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee)yang
memeberikan jawaban atas pertanyaan itu.
17
Wawancara ditujukan pada
pelaksana bimbingan rohani pasien untuk memperkuat dan pelengkap data
pada penelitian ini. Wawancara dilakukan dengan cara face to face atau
berhadapan langsung, Dan dengan pasien yang rawat inap dan rawat jalan.
c. Dokumentasi
Data data yang diperoleh dari lapangan yaitu di LKC ciputat yang
berhubungan dengan maslah penelitian, baik dari sumber, dokumen formal,
buku-buku, artikel dan lain sebagainya.

16
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta:
PT.Rieneka Cipta,1996), h. 145.
17
Moleong, Ibid, h. 186.

15



5. Sumber Data
Sumber data adalah subjek utama dalam proses penelitian masalah diatas:
Adapun sumber data dari penelitian ini adalah :
a. Sumber data primer, yakni data yang diperoleh langsung dari pembina
Rohani Pasien di LKC.
b. Sumber data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari buku-buku,
literatur, brosur dan artikel yang memiliki relevansi terhadap objek
penelitian ini.
6. Teknik analisa data
Yang dimaksud teknik analisa data adalah suatu proses penyederhanaan
data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan.
18

Menurut Bogdan & Biklen yang dikutip oleh Lexy J Moleong mengemukakan
bahwa teknik analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan
bekerja dengan data,mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi bahan
yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan
pola,menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan
apa yang akan diceritakan kepada orang lain.
19

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan tujuan
yang ingin dicapai, yaitu dari data yang terkumpul kemudian dijabarkan
dengan memberi interpretasi untuk kemudian diambil kesimpulan akhir.

18
Masri Singarimbun dan Sofian Efendi, Metode Penelitian Survai(Jakarta: LP3ES),1995,
cet ke-1. h. 263.
19
Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 248.

16



Ada berbagai cara untuk menganalisa data, tetapi secara garis besarnya
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Reduksi data, yaitu dimana peneliti mencoba memilih data yang
relevan dengan proses layanan bimbingan rohani pasien bagi pasien yang
ada di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC).
b. Penyajian data, setelah data mengenai proses layanan bimbingan
Rohani Pasien bagi pasien LKC serta hambatan-hambatannya diperoleh,
maka data tersebut disusun dan disajikan dalam bentuk narasi, visual
gambar, matrik, bagan, tabel dan lain sebagainya.
c. Penyimpulan atas apa yang disajikan, pengambilan kesimpulan
dengan menghubungkan dari tema tersebut sehingga memudahkan untuk
menarik kesimpulan.
20

7. Keabsahan Data
a. Kredibilitas (derajat kepercayaan) dengan menggunakan teknik tringulasi,
yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu
yang lain, hal itu dapat dicapai dengan jalan; (a). membandingkan data
hasil pengamatan dengan hasil wawancara, misalnya untuk mengetahui
bimbingan merntal bagi gelandangan dan pengemis yang diberikan oleh
PSBK tersebut. (b). membandingkan keadaan dan prespektif sesorang
dengan berbagai pendapat dan pandangan orang lain, misalnya dalam hal
ini peneliti membandingkan jawaban yang diberikan oleh klien yang
menerima pelayanan dengan jawaban yang diberikan oleh pegawai atau
peksos. (c). membandingkan hasil wawancara dengan hasil dokumen

20
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 1998)

17



yang berkaitan dengan masalah yang diajukan. Peneliti memanfaat
dokumen dan data sebagai bahan perbandingan.
21

b. Ketekunan atau keajegan pengamatan, ketekungan pengamatan
bermaksud menentukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi-situasi
yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari.
Kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci,
maksudnya peneliti hanya memusatkan dan mencari jawaban sesuai
dengan rumusan masalah saja.
22

c. Kepastian dengan teknik pemeriksaan audit, kepastian auditor dalam hal
ini ialah objektif atau tidak tergantung pada persetujuan beberapa orang
terhadap pandangan, pendapat dan penemuan seseorang. Dapatlah
dikatakan bahwa pengalaman sesorang itu subjektif, sedangkan jika
disepakati oleh beberapa orang barulah dapat dikatakan objektif.
23

8. Teknik Penulisan Data
Dalam penulisan ini peneliti menggunakan teknik penulisan yang didasakan
pada buku Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis dan Disertasi yang diterbitkan
oleh CeQDA (Center For Quality Development and Assurance) UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta tahun 2007.



21
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 1998). h. 330-331
22
Ibid, h. 329
23
Ibid, h. 341

18



F. Sistematika Penulisan
Pembahasan dalam skripsi ini dibagi dalam lima BAB, adapun
penyusunannya sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN
Latar belakang masalah, batasan dan perumusan masalah, tujuan
dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka dan
sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORITIS
Pada bab ini penulis menjelaskan tentang landasan teoritis yaitu
Pengertian Model, Pengertian Bimbingan Rohani, Tujuan dan
Fungsi Bimbingan Rohani, Pengertian Pasien, Konsep Sehat dan
Sakit.
BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG LKC DOMPET DHUAFA
CIPUTAT
Pada bab ini penulis mengemukakan akan membahas tentang
gambaran umum objek penelitian yang terdiri dari : Latar belakang
berdirinya, perkembangan Layanan Kesehatan Cuma-Cuma, visi
misi dan tujuan, program-program Layanan Kesehatan Cuma-
Cuma, Program Layanan Bimbingan Rohani Pasien.
BAB IV TEMUAN DAN ANALISA DATA LAPANGAN

19



Pada bab ini berisi tentang temuan data yang terdiri dari : model
layanan BRP yang diberikan kepada pasien di Layanan Kesehatan
Cuma-cuma, Keadaan pasien sebelum dan sesudah mendapat
Bimbingan Rohani pasien.
BAB V PENUTUP
Meliputi uraian kesimpulan dan saran

20




20

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Bimbingan Rohani
1. Pengertian Bimbingaan Rohani
Pengertian bimbingan diartikan berbeda-beda oleh para tokoh, oleh karena itu
penulis ingin menguraikan istilah dari arti Bimbingan dan dari pendapat tokoh-
tokoh tersebut.
Istilah Bimbingan merupakan terjemahan dari bahasa inggris guidance yang
berasal dari kata kerja to guide yang berarti menunjukkan, menurut H.M. Arifin
Bimbingan berarti menunjukkan atau memberi jalan, atau menuntun orang lain ke
arah tujuan yang bermanfaat bagi hidupnya di masa kini
dan masa mendatang.
1

Menurut crow dan crow pengertian guidance yaitu bantuan yang diberikan
kepada seseorang baik pria atau wanita, yang memiliki pribadi yang baik dan
pendidikan yang memadai, kepada individu dari setiap usia untuk menolongnya,
mengemudikan kegiatan hidupnya, mengarahkan pandangannya sendiri, membuat
pilihannya sendiri, memikul bebannya sendiri.
2

Menurut Djumhur dan M. Surya, memberikan batasan mengenai
pengertian Bimbingan, yaitu suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus
dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya,

1
H.M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama , Jakarta : PT.
Golden Terayon Press,1998, Cet, ke-6, h-1
2
Djumhur dan M. Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah , Bandung: CV. Ilmu,
1975, h.25.

21



agar tercapai kemampuan untuk memahami dirinya (self understanding),
kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptence), kemampuan untuk
mengarahkan dirinya (self direction) kemampuan untuk merealisasikan dirinya
(self realization), sesuai dengan potensi kemampuan dalam yang menyesuaikan
dirinya baik dengan lingkungan keluarga maupun dengan masyarakat. Dan
bantuan itu diberikan oleh orang yang memiliki keahlian dan pengalaman khusus
dalam bidang tersebut.
3

Menurut R.C Suhartian dan Bonar Simangunsong, Bimbingan adalah
suatu bantuan yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu dalam
menemukan kemampuan-kemampuan dari segi kehidupan masyarakat, agar
demikian nantinya individu atau sekelompok individu lebih sukses dalam
merencanakan rencana-rencana hidupnya.
4
Selanjutnya Suhartian dan
Simangusong mengutip dari Bimo walgito, bahwa Bimbingan adalah Bantuan
yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari
atau mengatasi kesulitan-kesulitan didalam hidupnya, agar supaya individu atau
sekumpulan individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya.
5

Rohani berasal dari kata roh yang berarti 1) sesuatu (unsur) yang ada
dalam jasad yang diciptakan Tuhan sebagai penyebab adanya hidup (kehidupan):
nyawa; jika sudah berpisah dari badan, berkahirlah kehidupan seseorang. Makhluk

3
Ibid, h.28
4
RI. Suhartin dan Bonar Simangunsong, Pembinaan Personil Melalui Bimbingan dan
Penyuluhan , Jakarta ; Paneindo, 1989, h. 17.
5
Ibid, h.17.

22



hidup yang tidak berjasad, tetapi berpikiran dan berperasaan (malaikat, jin, setan,
dsb). Semangat,spirit, kedamaian bagi seluruh warga sesuai dengan islam.
6

Dalam al-Quran dinyatakan bahwa ruh merupakan kesempurnaan dan
kekuasaan terhadap penciptaan manusia supaya menjadikan manusia tunduk
kepada Allah, dijelaskan dalam surah As-Shaad (38) ayat 72 :
:| ..,. > . , _. _- `-1 .l _.>.. __
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh
(ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya".
Dalam firman Allah yang lain, yakni dalam surah Al-Isra (17) ayat 85 :
.l:`. _ s _l _ _l _. . _ !. .. _. l-l | ,l __
dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk
urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Menurut firman tersebut dijelaskan bahwa sebagau manusia kita hanya
diberikan sedikit informasi tentang masalah ruh, misalnya gejala-gejalanya. Dan
selebihnya merupakan urusan Allah. Nabi SAW bersabda mengatakan :
Ruh-ruh adalah himpunan yang terorganisasi, yang saling mengenal akan
bergabung dan yang tidak saling mengenal akan saling berselisih.
7

Menurut Imam Al-Ghazali yang dikutip oleh Jamaluddin Kafie, roh
mempunyai dua pengertian yaitu roh jasmani dan roh rohani. Yang dimaksud roh

6
KBBI , Jakarta: Balai Pustaka, 2007, Cet. Ke-4, ed. 3, h. 960.
7
Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam
Perspektif Islam , Jakarta : Kencana, 2004, h.58-59.

23



jasmani ialah zat halus yang berpusat di ruangan hati dan menjalar ke seluruh
tubuh, karenanya manusia dapat bergerak (hidup) dan dapat merasakan perasaan
serta dapat berfikir atau mempunyai kegiatan-kegiatan hidup kejiwaan. Sedangkan
roh rohani ialah sebagian dari yang ghaib. Dengan roh ini manusia dapat
mengenal dirinya sendiri dan mengenal tuhan serta menyadari keberadaan orang
lain (berkepribadian dan berketuhanan), serta bertanggung jawab atas segala
tingkah laku.
8

Sedangkan pengertian Rohani berasal dari bahasa arab yang berarti ruh
sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia arti rohani adalah roh yang bertalian
dengan yang tidak berbadan jasmaniah.
9

Imam Al Ghazali berpendapat bahwa roh itu mempunyai dua pengertian,
yaitu roh jasmaniah dan roh rohaniah. Roh jasmaniah yaitu zat halus yang
berpusat di ruangan hati dan menjalar keseluruh tubuh, karenanya manusia dapat
bergerak (hidup) dan dapat merasakan berbagai perasaan serta dapat berfikir atau
mempunyai kegiatan-kegiatan hidup kejiwaan. Sedangkan roh rohaniah adalah
bagian dari yang ghaib. Dengan roh ini, manusia dapat mengenal dirinya sendiri
dan mengenal Tuhan, serta bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya.
Menurut kaum sufi, ruh adalah esensi kehidupan, ia bukan tubuh secara fisik
atau otak dan fikiran serta ingatan. Ruh memiliki dunia yang berbeda yang berasal
dari Tuhan dan seluruhnya milik Tuhan.
10


8
Jammaluddin Kaffie, Psikologi Dakwah , Surabaya: Indah, 1993, h. 15.
9
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka, cet. Ke-1, h. 850.
10
Hakim Muinuddin, Penyembuhan Cara Sufi. Penerjemah Burhan Wira Subrata,
Jakarta: Lentera, 1999, Cet. Ke-1, h. 42.

24



Dari beberapa teori di atas maka penulis memilih salah satu teori yang
menjadi acuan yaitu dengan menggabungkan teori bimbingan djumhur dan teori
rohani Imam Al-Ghazali maka pengertian Bimbingan Rohani pasien yaitu suatu
proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu
dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk
memahami dirinya (self understanding), mengenal dirinya sendiri dan mengenal
tuhan serta menyadari keberadaan orang lain (berkepribadian dan berketuhanan),
serta bertanggung jawab atas segala tingkah laku. Karena menurut penulis teori
tersebut sesuai dengan kebutuhan pasien.
A. Tujuan dan Fungsi Bimbingan Rohani Pasien
1. Tujuan dan Fungsi
a. Tujuan Bimbingan dan penyuluhan yaitu :
1) Untuk mengenal diri sendiri dan lingkungan
2) Untuk dapat menerima sendiri dan lingkungan secara positif
dan dinamis.
3) Untuk dapat mengambil keputusan sendiri tentang berabagai
hal.
4) Untuk dapat mengarahkan diri sendiri.
5) Untuk dapat mewujudkan diri sendiri.
11

Tujuan Bimbingan Rohani Islam menurut Ainur Rahim Faqih
yakni:

11
Slamito, Bimbingan di Sekolah , Jakarta: Bina Aksara, 1998, h. 10-12.

25



1. Membantu klien untuk mengembangkan pemahaman diri
sendiri sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi dan
kesempatan yang ada.
2. Membantu proses sosialisasi dan sensivitas kepada kebutuhan
orang lain.
3. Memberikan dorongan di dalam pengarahan diri, pemecahan
masalah, pengambilan keputusan dan keterlibatan diri dalam
maslah yang ada.
4. Mengembangkan nilai dan sikap secara menyeluruh serta
perasaan sesuai dengan penerimaan diri.
5. Membantu di dalam memahami tingkah laku manusia.
6. Membantu klien untuk memperoleh kepuasan pribadi dan
dalam penyesuaian diri secara maksimum.
7. Membantu klien untuk hidup didalam kehidupan yang
seimbang dalam berbagai aspek fisik, mental dan sosial.
12

b. Fungsi Bimbingan Rohani Pasien
Kemudian menurut Dewa Ketut Sukardi menjelaskan bahwa
ditinjau dari sifatnya layanan Bimbingan, dapat berfungsi :
a. Fungsi preventif, layanan Bimbingan ini dapat berfungsi
sebagai pencegahan, artinya merupakan usaha pencegahan
terhadap timbulnya masalah.

12
Ainur Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam , Yogyakarta. UI Press,
2001,Cet. Ke-2, h. 54.

26



b. Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan yang akan
menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak
tertentu.
c. Fungsi perbaikan, yaitu fungsi bimbingan yang akan
menghasilkan terpecahkannya atau teratasinya berbagai
permasalahan yang dialami individu.
d. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, fungsi ini berarti
bahwa layanan bimbingan ini dapat membantu para individu
dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan
pribadinya secara mantap, terarah dan berkelanjutan.
13

Pada dasarnya Bimbingan Rohani Islam merupakan aktualisasi teologi
yang dimanifestasikan dalam suatu kegiatan manusia beriman sebagai makhluk
sosial yang dilaksanakan secara teratur untuk membina dan mengarahkan manusia
agar aqidahnya mantap, keyakinannya kokoh, bertambahnya taqwa kepada Allah
SWT, taat melaksanakan ibadah dan memantapkan kesadaran beragama, sehingga
dapat membawa seseorang menjadi lebih tenang dalam menghadapi permasalahan
dan jauh dari rasa cemas.
B. Metode Bimbingan Rohani
Menurut H.M.Arifin, metode Bimbingan Rohani Islam yakni:

13
Dewa Ketut Sukardi, Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah , Jakarta:
Rineka Cipta, 2000, h. 26-27.

27



a. Wawancara, salah satu cara memperoleh fakta-fakta kejiwaan yang dapata
dijadikan bahan pemetaan tentang bagaimana sebenarnya hidup kejiwaan
klien pada saat tertentu yanmemerlukan bantuan.
14

b. Metode Group Guidance (bimbingan secara berkelompok), yakni cara
pengngkapan jiwa/batin oeh klien serta pembinaannya melalui kegiatan
kelompok seperti ceramah, diskusi, seminar,simposium, atau dinamika
kelompok (group dynamics), dan sebagainya.
c. Metode Non Direktif (cara yang tidak mengarahkan), metode ini
mempunyai dua macam yakni :
- Client Centered, yaitu cara pengungkapan tekanan batin yang
dirasakan menjadi penghambat klien dengan sistem pancingan yang
berupa satu dua pertanyaan yang terarah.
- Metode edukatif, yaitu cara pengungkapan tekanan perasaan yang
menghambat perkembangan belajar dengan mengorek sampai tuntas
perasaan/sumber perasaan yang menyebabkan hambatan dan
ketegangan.
d. Metode Psikoanalisa (penganalisaan jiwa), metode ini untuk memperoleh
data-data tentang jiwa tertekan bagi penyembuhan jiwa klien tersebut.
15

e. Metode Direktif (metode yang bersifat mengarahkan), metode ini bersifat
mengarahkan kepada klien untuk berusaha mengatasi kesulitan (problema)
yang dihadapi. Pengarahan yang diberikan kepada klien ialah dengan
memberikan secara langsung jawaban-jawaban terhadap permasalahan
yang menjadi sebab kesulitan yang dihadapi/dialami klien.

14
H.M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama , Jakarta : PT.
Golden Terayon Press,1998, Cet, ke-6, h. 44-50.
15
Ibid.

28



f. Metode lainnya, seperti metode sosiometri yaitu suatu cara yang
dipergunakan untuk mengetahui kedudukan klien dalam kelompok.
16

Ada pula metode-metode lain dalam Bimbingan Rohani yakni :
a. Metode AudioVisual
b. Metode dzikir, dzikir hanya akan memiliki nilai bila dilakukan sesuai
petunjuk Allah Swt dan Rasul-Nya, dzikrullah artinya mengingat Allah
SWT,mengingat sesuatu berarti menunjukkan hubungan hati dengan yang
diingat, ingatan ini berpusat di hati, akal dan lisan adalah alat bantu bagi
ingatan kita, adapun dzikirnya seperti ; Takbir, Tahmid dan Tasbih.
17

c. Sholat
d. Puasa, menurut Al-Mawardi, selain mengatasi berbagai penyakit, puasa
juga melatih rohani atau jiwa manusia agar menjadi lebih baik. Temuan
terakhir kedokteran jiwa membuktikan bahwa puasa dapat meningkatkan
derajat perasaan atau Emotional Quaetion (EQ) manusia.
18

Secara psikologis manusia tidak hanya diukur atau dinilai dari kecerdasan
atau Intelejent Quaetion (IQ)nya tetapi juga diukur dari EQnya. EQ
berpengaruh dalam pembentukan sifat-sifat seseorang anatara lain : sifat
dermawan, santun, sabar, rela berkorban, kasih sayang, dan rasa kepedulian.
19


16
H.M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama , Jakarta : PT.
Golden Terayon Press,1998, Cet, ke-6,h.44-50.
17
Lembaran Dakwah Keluarga Marhamah, Menangis Mengingat Allah Swt. Edisi 460, h.
2.
18
Al-Mawardi, Hikmah Puasa Tinjauan Ilmu Kedokteran, Jakarta: PT. Prima, 2001, Cet.
Ke-2, h.149.
19
Al-Mawardi, Hikmah Puasa Tinjauan Ilmu Kedokteran, Jakarta: PT. Prima, 2001, Cet.
Ke-2, h.149.

29



Seandainya IQ berpengaruh pada bertambahnya rasa percaya diri dan
meningkatnya daya ingat serta daya nalar seseorang.
Dari segi kesehatan mental puasa erat kaitannya dengan kemampuan
mengendalikan diri, puasa merupakan wahana penempatan mental sehingga
ujian dan cobaan serta sikap menghadapi perjuangan dan pengorbanan yang
lebih berat. Puasa dapat melatih kedisiplinan dalam mengendalikan diri dari
amarah, nafsu ingin berkuasa, sikap berlebihan dan dari sikap merasa paling
benar.
20

Metode Commulative Records, yaitu segala fakta yang diperoeh dari klien
dicatat secara teratur dan rapih didalam buku catatan untuk klien yang
bersangkutan serta disimpan baik-baik sebagai file (dokumen penting),pada
saat dituntaskan, catatan pribadi tersebut dianalisa dan diidentifikasi untuk
bahan pertimbangan tentang metode apa yang lebih tepat bagi bantuan yang
harus diberikan kepadanya.
21

2. Bentuk Bimbingan
Bentuk-bentuk Bimbingan antara lain :
1. Layanan orientasi
2. Layanan informasi
3. Layanan penempatan dan penyaluran
4. Layanan Bimbingan Belajar
5. Layanan Konseling Perseorangan
6. Layanan Bimbingan Kelompok

20
Ibid. h. 149.
21
Al-Mawardi, Hikmah Puasa Tinjauan Ilmu Kedokteran, Jakarta: PT. Prima, 2001, Cet.
Ke-2, h.149.

30



7. Layanan Konseling Kelompok.
22

Adapun bentuk-bentuk Bimbingan Islam antara lain:
1. Bimbingan dan penyuluhan jabatan (Vocational)
Bentuk ini berkenaan dengan maslaah jabatan atau kekayaan yang
perlu dipilih oleh individu, sesuai dengan kemampuan dan bakat-
bakat masing-masing untuk masa sekarang maupun masa
mendatang.
2. Bimbingan Penyuluhan Bidang Pendidikan (Sducational Guidance
dan Counseling)
Bentuk bimbingan Islam ini menyangkut tentang tentang
pengambilan keputusan mengenai lapangan studi yang akan
dipilih, yang berkaitan dengan kurikulum di sekolah dan perguruan
Tinggi, serta fasilitas pendidikan lainnya.
3. Bimbingan dan Penyuluhan Keagamaan (Religius Counseling)
Bentuk bimbingan ini diberikan seseorang yang bersifat
keagamaan, seperti melalui keimanan (keyakinan) menurut Islam,
yang bertujuan membantu memecahkan problematika terbimbing
dalam bidang keagamaan.
Bimbingan ini bersifat keagamaan, sebab menggunakan metode
pendekatan keagamaan dalam memberikan bimbingan rohaninya.
23

Terbimbing tersadarkan melalui suatu hubungan sebab akibat
dalam rangkaian problem yang dihadapi. Selain itu, sisi

22
ibid
23
ibid

31



kejiwaannya disentuh dengan nilai-nilai keimanan yang mengisi
kekosongan spiritual dalam dirinya.
24

C. Pengertian Pasien
1. Pengertian pasien
Kata pasien berasal dari kata bahasa Indonesia analog dengan kata
patient dari Bahasa Inggris. Patient diturunkan dari Bahasa latin yaitu
patient yang memiliki kesamaan arti dengan kata kerja pati yang
artinya menderita.
25

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pasien adalah orang sakit:
yang dirawat oleh dokter; penderita sakit.
26
Pasien adalah Orang sakit,
penderita (sakit), baik itu yang menjalani rawat inap pada suatu unit
pelayanan kesehatan tertentu ataupun yang tidak. Dan seseorang
dikatakan sakit apabila orang itu tidak lagi mampu berfungsi secara
wajar dalam kehidupan sehari-hari karena fisiknya yang sakit atau
kejiwaannya yang tertanggu.
27

Beberapa pengertian pasien, diantaranya :
a. Menurut Christine Brooker dalam bukunya Kamus Saku Perawat:
1) Pasien adalah penderita penyakit mendapatkan pengamanan medis
dan/atau asuhan keperawatan.
2) Klien yang memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan.
28


24
ibid
25
http://wikipedia.org.id/2009/0116/index. html, pada tanggal 12 maret 2011 jam 14.00.
26
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai
Pustaka, 2001, h. 834.
27
Dadang Hawari, Pelatihan Relawan Bimbingan Rohani Pasien, Sawangan: Dompet
Dhuafa Republika, tanggal, 9 juli 2003.
28
Christine Brooker, Kamus Saku Keperawatan, Jakarta :EGC, 2001, h. 309.

32



b. Menurut Barbara F. Weller dalam buku Kamus Saku Perawat, pasien
adalah orang yang sakit atau yang menjalani pengobatan karena menderita
penyakit.
29

2. Kondisi mental (kejiwaan) pasien
Ketika pasien sedang menghadapi, merasakan penyakit yang sedang di
deritanya, maka pada saat itu pula mentalnya terganggu. Karena badan dan
jiwa saling mempengaruhi. Pengaruh emosi yang ada dalam kehidupan
seseorang sangat berpengaruh pada kondisi kejiwaan (mental) sekaligus
agar menjaga kesehatan badannya. Dengan demikian, semakin jelas bahwa
setiap orang yang menderita sakit (pasien) maka gangguan mentalnya yang
ada pada dirinya cenderung dipengaruhi kondisi fisik dan psikisnya
masing-masing. Bila kondisi fisik dan psikisnya pun cenderung sedikit.
Akan tetapi, seandaimya kondisi fisik dan psikisnya kurang baik maka
gangguan mental yang dideritanya cenderung lebih berat.
30
Selain kedua
kemungkinan itu, ada faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
gangguan mental (kejiwaan) terhadap pasien, antara lain sebagai berikut:
a. Usia, semakin tua seseorang maka pasien cenderung respek dengan
kegiatan Bimbingan Rohani.
b. Pendidikan, jika dilihat dari faktor ini tingkatan pendidikan
seseorang terlepas. Ia mempunyai pendidikan agama ataupun tidak
melibat ke arah itu.

29
Barbara F. Weller, Kamus Saku Perawat, Jakarta: EGC,2005, h. 508.
30
Dadang Hawari, Al-Quran: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa , Jakarta: Dana
Bhakti Prisma Yasa, 1996, h.133.

33



c. Ekonomi, disamping pasien sedang menghadapi penyakitpun harus
juga memikirkan tentang biaya yang akan ditanggung selama ia
dirawat di Rumah Sakit.
Setelah mengamati sebab-sebab terjadinya gangguan mental yang
terjadi pada pasien, telah di dominasi oleh causa psikis, dan
permasalahan yang ada pada diri pasien adalah karena masalah
emosi yang ada pada diri mereka.
31

3. Terapi Keagamaan Bagi Pasien
Terapi adalah suatu cara pengobatan yang dilakukan dokter kepada
pasien. Sedangkan yang dimaksud penulis disini adalah terapi pasien
melalui pendekatan keagamaan.
Terapi keagamaan menurut Dadang Hawari adalah suatu proses
penyadaran terhadap objek atau pasien diantaranya sebagai berikut :
a. Proses penyadaran melalui taubatan nasuha
b. Menyalurkan pasien melalui doktrin optimisme, memberikan
nasihat-nasihat misalnya: Tuhan Maha Pengampun, hidup ini
hanya sementara.
c. Pemberian motivasi yang tidak terlepas dari nilai-nilai spiritual dan
ritual.
32

d. Proses aksi atau tindakan yang dilakukan baik dari aspek kognitif
yaitu dengan pemberian materi Al-Quran dan Hadits , Rukun Iman
dan Islam, Akhlaq, Tauhid dan Islamologis. Selanjutnya aspek

31
ibid
32
Dadang Hawari, Al-Quran: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa ,Jakarta: Dana
Bhakti Prisma Yasa, 1996, h. 133

34



psikomotor, yaitu pelaksanaan sholat fardhu, sunnah, dzikir, doa,
puasa dan sebagainya. Setelah itu akan terlihat aspek afektif yaitu
kesabaran, kejujuran, kepatuhan, kedisiplinan dan amanah.
33

D. Konsep Sehat dan Sakit
1. Konsep Sehat
Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit
akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek
fisik, emosi, sosial dan spiritual.
Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan
yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari
penyakit atau kelemahan (WHO,1947). Definisi WHO tentang sehat mempunyai
karakteristik berikut yang dapat meningkatkan
konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994):
1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.
3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.
34

UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah
keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup
produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus
dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan
sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.

33
Dadang Hawari, Al-Quran: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa , Jakarta: Dana
Bhakti Prisma Yasa, 1996, h. 133.
34
Iwan Purnawan, S.Kep,Ns, Konsep Sehat dan Sakit, yang diakses di
http://www.scribd.com/doc/8343666/Konsep-Sehat pada tanggal 5 mei 2011, pada pukul 21.00.

35



Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang
dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan
lingkungan internal (psikologis,intelektual, spiritual dan penyakit) dan
eksternal(lingkungan fisik, social, dan ekonomi) dalam mempertahankan
kesehatannya.
35

Dalam pengertian lain Sehat adalah suatu keadaan sejahtera (sempurna)
fisik, mental, dan sosial, tidak terbatas pada bebas dari penyakit dan kelemahan
saja.
Health is defined as a state of complete physical, mental, and social well being
and not marely absence of disease and infirmity.

Yang dimaksud dengan kesehatan ialah keadaan yang meliputi kesehatan
badan,rohani (mental), dan sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari
penyakit cacat, dan kelemahan (UU RI No. 9/1960).
36

Sehat adalah tidak hanya sehat dalam arti fisik, psikologis, dan sosial, tetapi sehat
dalam arti spiritual / agama. (Empat dimensi sehat : bio psiko sosio spiritual
) (WHO, 1984).
Seseorang dikatakan sehat apabila ia memiliki tubuh jasmaniah yang
sehat, tidak berpenyakit, gizi yang baik, psike (mental) rukhaniyah yang tenang,
tidak gelisah, mempunyai kedudukan sosial yang baik, mempunyai kehidupan dan
rumah berlindung, serta dihargai sebagai manusia.
37
Kesehatan adalah keadaan

35
Iwan Purnawan, S.Kep,Ns, Konsep Sehat dan Sakit, yang diakses di
http://www.scribd.com/doc/8343666/Konsep-Sehat pada tanggal 5 mei 2011, pada pukul 21.00.
36
Zuchairi Dahlan, Konsep Sehat dan Sakit, Blok Kesehatan Masyarakat, 16 April 2008.
H.2-6.
37
Zuchairi Dahlan, Konsep Sehat dan Sakit, Blok Kesehatan Masyarakat, 16 April 2008.
H.2-6.

36



sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial, yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomis.
38

2. Konsep Sakit
Sakit adalah keadaan dimana fisik, emosional, intelektual, sosial,
perkembangan, atau seseorang berkurang atau terganggu, bukan hanya keadaan
terjadinya proses penyakit.Oleh karena itu sakit tidak sama dengan penyakit.
39

Sebagai contoh klien dengan Leukemia yang sedang menjalani pengobatan
mungkin akan mampu berfungsi seperti biasanya sedangkan klien lain dengan
kanker payudara yang sedang mempersiapkan diri untuk menjalani operasi
mungkin akan merasakan akibatnya pada dimensi lain, selain dimensi fisik.
Perilaku sakit merupakan perilaku orang sakit yang meliputi: cara seseorang
memantau tubuhnya; mendefinisikan dan menginterpretasikan gejala yang
dialami; melakukan upaya penyembuhan; dan penggunaan sistem pelayanan
kesehatan. Seorang individu yang merasa dirinya sedang sakit perilaku sakit bisa
berfungsi sebagai mekanisme koping.
40

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Sakit
1. Faktor Internal
a. Persepsi individu terhadap gejala dan sifat sakit yang dialami
Klien akan segera mencari pertolongan jika gejala tersebut dapat mengganggu
rutinitas kegiatan sehari-hari. Misal: Tukang Kayu yang menderita sakit
punggung, jika ia merasa hal tersebut bisa membahayakan dan mengancam
kehidupannya maka ia akan segera mencari bantuan. Akan tetapi persepsi seperti

38
ibid
39
Iwan Purnawan, S.Kep,Ns, Konsep Sehat dan Sakit, yang diakses di
http://www.scribd.com/doc/8343666/Konsep-Sehat pada tanggal 5 mei 2011, pada pukul 21.00.
40
Ibid

37



itu dapat pula mempunyai akibat yang sebaliknya. Bisa saja orang yang takut
mengalami sakit yang serius, akan bereaksi dengan cara menyangkalnya dan tidak
mau mencari bantuan.
b. Asal atau Jenis penyakit
Pada penyakit akut dimana gejala relatif singkat dan berat serta mungkin
mengganggu fungsi pada seluruh dimensi yang ada, Maka klien bisanya akan
segera mencari pertolongan dan mematuhi program terapi yang diberikan.
Sedangkan pada penyakit kronik biasanya berlangsung lama (>6 bulan)sehingga
jelas dapat mengganggu fungsi diseluruh dimensi yang ada. Jika penyakit kronik
itu tidak dapat disembuhkan dan terapi yang diberikan hanya menghilangkan
sebagian gejala yang ada, maka klien mungkin tidak akan termotivasi untuk
memenuhi rencana terapi yang ada.
41

Syariat Islam membagi tipikal orang sakit menjadi tiga tipe atau tiga bagian :
1. Orang yang sakit ringan
2. Orang sakit Keras
3. Orang yang dalam sakaratul maut
Dari tiga tipe tersebut yang pertama dan kedua yang umumnya ada di
rumah sakit manapun, sedangkan tipe ketiga tak banyak terjadi dirumah sakit
kecuali Allah menakdirkan kita menanganinya dan kalaupun terjadi sangat jarang
sekali.
42

1. Orang yang sakit ringan umumnya memiliki masalah serius dalam
komunikasi karena indra pendengaran penglihatan, dan pengucapan tak

41
Ibid
42
Zuchairi Dahlan, Konsep Sehat dan Sakit, Blok Kesehatan Masyarakat, 16 April
2008.h.6

38



memiliki masalah. Akan tetapi kondisi psikis dan sifat dasar alami pasien
menjadi faktor kedua dalam proses konseling.
2. Adapun tipe sakit keras./ tipe kedua umumnya pasien kondisi kritis
umumnya berada di ICU, pasien pasca operasi dan pasien yang divonis
dengan penyakit menahun (TBC, tumor, kanker.dll ). Pada pasien tipe
kedua, jangan dulu berharap menjalin komunikasi langsung dan aktif pada
pertemuan pertama kali, hubungan yang intens dan berkelanjutan menjadi
kunci dalam proses konseling tipe kedua.
3. Pasien fase atau tipe ketiga, penanganan pasien haruslah sesuai dengan
syariat islam, proses talqin harus tetap diupayakan seiring bantuan CPR,
kejut listrik, tidak mengganggu proses talqin untuk pasien.
43

3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keyakinan dan Tindakan
Kesehatan
1. Faktor Internal
1. Tahap Perkembangan
Artinya status kesehatan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini
adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap rentang usia
(bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan
yang berbeda-beda.
44

Untuk itulah seorang tenaga kesehatan (perawat) harus mempertimbangkan
tingkat pertumbuhan dan perkembangan klien pada saat melakukan perncanaan
tindakan.Contohnya: secara umum seorang anak belum mampu untuk mengenal

43
Zuchairi Dahlan, Konsep Sehat dan Sakit, Blok Kesehatan Masyarakat, 16 April
2008.h.6
44
Iwan Purnawan, S.Kep,Ns, Konsep Sehat dan Sakit, yang diakses di
http://www.scribd.com/doc/8343666/Konsep-Sehat pada tanggal 5 mei 2011, pada pukul 21.00.

39



keseriusan penyakit sehingga perlu dimotivasi untuk mendapatkan penanganan
atau mengembangkan perilaku pencegahan penyakit..
2. Pendidikan atau Tingkat Pengetahuan
Keyakinan seseorang terhadap kesehatan terbentuk oleh variabel intelektual
yang terdiri dari pengetahuan tentang berbagai fungsi tubuh dan penyakit latar
Belakang pendidikan, dan pengalaman masa lalu.
Kemampuan kognitif akan membentuk cara berfikir seseorang termasuk
kemampuan untuk memehami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit
dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga kesehatan
sendirinya.
45

3. Persepsi tentang fungsi
Cara seseorang merasakan fungsi fisiknya akan berakibat pada keyakinan
terhadap kesehatan dan cara melaksanakannya.Contoh, seseorang dengan kondisi
jantung yang kronik merasa bahwa tingkat kesehatan mereka berbeda dengan
orang yang tidak pernah mempunyai masalah kesehatan yang berarti. Akibatnya,
keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakan kesehatan pada masing-
masing orang cenderung berbeda-beda. Selain itu, individu yang sudah berhasil
sembuh dari penyakit akut yang parah mungkin akan mengubah keyakinan
mereka terhadap kesehatan dan cara mereka melaksanakannya.
Untuk itulah perawat mengkaji tingkat kesehatan klien, baik data subjektif
yiatutentang cara klien merasakan fungsi fisiknya (tingkat keletihan, sesak napas,
ataunyeri), juga data objektif yang aktual (seperti, tekanan darah, tinggi badan,

45
Ibid

40



dan bunyiparu). Informasi ini memungkinkan perawat merencanakan dan
mengimplementasikan perawatan klien secara lebih berhasil.
46

4. Faktor Emosi
Faktor emosional juga mempengaruhi keyakinan terhadap kesehatan dan cara
melaksanakannya. Seseorang yang mengalami respons stres dalam setiap
perubahan hidupnya cenderung berespons terhadap berbagai tanda sakit, mungkin
dilakukan dengan cara mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat
mengancam kehidupannya. Seseorang yang secara umum terlihat sangat
tenang mungkin mempunyai responsemosional yang kecil selama ia sakit.
Seorang individu yang tidak mampu melakukan koping secara emosional terhadap
ancaman penyakit mungkin akan menyangkal adanya gejala penyakit pada dirinya
dan tidak mau menjalani pengobatan.
47

Contoh: seseorang dengan napas yang terengah-engah dan sering batuk
mungkin akan menyalahkan cuaca dingin jika ia secaraemosional tidak dapat
menerima kemungkinan menderita penyakit saluran pernapasan. Banyak orang
yang memiliki reaksi emosional yang berlebihan, yang berlawanan dengan
kenyataan yang ada, sampai-sampai mereka berpikir tentang resiko menderita
kanker dan akan menyangkal adanya gejala dan menolak untuk mencari
pengobatan.Ada beberapa penyakit lain yang dapat lebih diterima secara
emosional, sehingga mereka akan mengakui gejala penyakit yang dialaminya dan
mau mencari pengobatan yang tepat.
48

5. Spiritual

46
Ibid
47
Iwan Purnawan, S.Kep,Ns, Konsep Sehat dan Sakit, yang diakses di
http://www.scribd.com/doc/8343666/Konsep-Sehat, pada tanggal 5 mei 2011, pada pukul 21.00.
48
Iwan Purnawan, S.Kep,Ns, Konsep Sehat dan Sakit, yang diakses di
http://www.scribd.com/doc/8343666/Konsep-Sehat, pada tanggal 5 mei 2011, pada pukul 21.00.

41



Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang menjalani
kehidupannya, mencakup nilai dan keyakinan yang dilaksanakan, hubungan
dengan keluarga atauteman, dan kemampuan mencari harapan dan arti dalam
hidup. Spiritual bertindak sebagai suatu tema yang terintegrasi dalam kehidupan
seseorang. Spiritual seseorang akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap
kesehatan dilihat dari perspektif yang luas.
49

Fryback (1992) menemukan hubungan kesehatan dengan keyakinan
terhadap kekuatan yang lebih besar, yang telah memberikan seseorang keyakinan
dan kemampuan untuk mencintai. Kesehatan dipandang oleh beberapa orang
sebagai suatu kemampuan untuk menjalani kehidupan secara utuh. Pelaksanaan
perintah agama merupakan suatu cara seseorang berlatih secara spiritual. Ada
beberapa agama yang melarang penggunaan bentuk tindakan pengobatan
tertentu,sehingga perawat hams memahami dimensi spiritual klien sehingga
mereka dapat dilibatkan secara efektif dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
2. Faktor Eksternal
a. Praktik di Keluarga
Cara bagaimana keluarga menggunakan pelayanan kesehatan biasanya
mempengaruhi cara klien dalam melaksanakan kesehatannya.
Misalnya:
Jika seorang anak bersikap bahwa setiap virus dan penyakit dapat berpotensi
mejadi penyakit berat dan mereka segera mencari pengobatan, maka bisasnya
anak tersebut akan malakukan hal yang sama ketika mereka dewasa. Klien juga

49
ibid

42



kemungkinan besar akan melakukan tindakan pencegahan jika keluarganya
melakukan hal yang sama. Misal: anak yang selalu diajakorang tuanya untuk
melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, maka ketika punya anak dia akan
melakukan hal yang sama.
50

b. Faktor Sosio ekonomi
Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit
dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereaksi terhadap
penyakitnya. Variabel psikososial mencakup: stabilitas perkawinan, gaya hidup,
dan lingkungan kerja. Sesorang biasanya akan mencari dukungan dan persetujuan
dari kelompoksosialnya, hal ini akan mempengaruhi keyakinan kesehatan dan
cara pelaksanaannya.
c. Latar Belakang Budaya
Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan
individu, termasuk sistem pelayanan kesehatan dan cara pelaksanaan kesehatan
pribadi. Untuk perawat belum menyadari pola budaya yang berhubungan dengan
perilaku dan bahasa yang digunakan.
51




50
ibid
51
Iwan Purnawan, S.Kep,Ns, Konsep Sehat dan Sakit, yang diakses di
http://www.scribd.com/doc/8343666/Konsep-Sehat , pada tanggal 5 mei 2011, pada pukul 21.00.

43


BAB III
GAMBARAN UMUM TENTANG LAYANAN KESEHATAN CUMA-
CUMA

A. Latar Belakang Berdirinya

Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet dhuafa Republika
merupakan lembaga non profit pertama di Jabodetabek (Jakarta-Depok-Bogor-
Tangerang-Bekasi) yang menyediakan pelayanan kesehatan gratis bagi kaum
miskin yang didirikan pada tanggal 6 November 2001 dan diresmikan oleh wakil
Presiden RI Bapak DR. Hamzah Haz. Pelayanan diberikan secara paripurna
melalui klinik gratis di Ciputat-Tangerang dan Bekasi serta pelayanan kesehatan
keliling di daerah kumuh. Seluruh pelayanan diberikan dalam sistem kepesertaan
(membership).
1
Hingga saat ini, member yang terdaftar berjumlah 14.250 kepala
keluarga miskin dengan jumlah populasi 71.250 jiwa yang telah mendapatkan
manfaat Layanan Kesehatan Cuma-Cuma dengan memanfaatkan dana sebesar 6,5
Milyar setiap bulannya.
Selain itu LKC juga membantu kesehatan ribuan jiwa korban bencan alam
dan konflik, seperti banjir nasional 2002 dan 2007, konflik Ambon, bencana tanah
longsor Bandung dan bencana tsunami Aceh dan gempa Nias. Serta tsunami
Yogya dan Pangandaran, longsor di kabupaten Karanganyar,banjir di Jawa
Tengah dan Jawa Timur awal tahun 2008, dan Gempa Padang Sumatra Barat.

1
Home LKC, yang diakses di http://www.lkc.or.id/index.php/tentang-kami pada tanggal
22 februari 2011, pukul 10.00.

44



LKC merupakan alternatif solusi atas permasalahan kaum miskin.
2
Dasar
pemikirannya adalah memecahkan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.
LKC telah berevolusi menjadi sebuah model yang melibatkan partisipasi aktif
seluruh masyarakat. Gambarannya, kaum miskin dapat berobat gratis sementara
pembiayaan kesehatannya didanai oleh seluruh elemen masyarakat, mulai dari
individu sampai perusahaan. Selain dana, masyarakat juga membantu dari
berbagai sisi, seperti tenaga dengan menjadi relawan LKC.
Dengan model ini, besar biaya kesehatan per keluarga miskin yang
ditanggung pun menjadi murah. Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC)
merupakan lembaga non profit jejaring Dompet Dhuafa Republika khusus di
bidang kesehatan yang melayani kaum dhuafa secara paripurna melalui
pengelolaan dana sosial masyarakat (ZISWAF- Zakat, Infak, Sedekah dan wakaf)
dan dana sosial perusahaan.
3

B. Perkembangan LKC
Pada tahun 2001, LKC diresmikan oleh Bapak Wapres Hamzah Haz. LKC
lahir sebagai kepedulian Dompet Dhuafa dalam membantu dhuafa dengan
mengelola dana ZISWAF. LKC memeberikan layanan rawat jalan umum, gigi,
spesialis, KIA, rawat inap, pendampingan rujukan, persalinan dan kegiatan aksi
layan sehat. LKC turut membantu korban banjir besar di Jabodetabek pada
Februari 2002.

2
Home LKC, yang diakses di http://www.lkc.or.id/index.php/tentang-kami pada tanggal
22 februari 2011, pukul 10.00.
3
Home LKC, yang diakses di http://www.lkc.or.id/index.php/tentang-kami pada tanggal
22 februari 2011, pukul 10.00.
45



Memasuki tahun 2003 LKC bekerjasama dengan RSPP mendirikan Gerai
Sehat Cipulir (GSC). Di tahun 2004 LKC juga bekerja sama dengan P&G dan
Yayasan Bani Saleh Bekasi untuk mendirikan Gerai Sehat Bekasi (GSB). Di
tahun yang sama, LKC mengadakan seminar penanganan kanker payudara.
LKC membantu korban tsunami aceh dan gempa di Nias. LKC
bekerjasama dengan EMOI untuk program recovery kesehatan di Aceh Utara.
LKC mengadakan seminar penanganan gizi buruk. LKC bekerja sama dengan GF
ATM untuk program ekspansi DOTS TB di LKC dan GSB pada tahun 2005
sampai dengan sekarang.
4

Selanjutnya pada 2006 LKCmembina daerah binaan dengan pendekatan
promotif preventif berupa pendampingan posyandu. LKC bekerjasama dengan
EMOI untuk program Community development di Bojinegoro. LKC mersmikan
TB center LKC di Ciputat dan Bekasi. LKC memberikan buku 5 tahun LKC. LKC
mendapat pimpinan baru. LKC mendapat Eramuslim Award.LKC bekerja sama
dengan PPA pedul untuk ALS daerah kumis. LKC paembang berdiri.
LKC membantu korban banjir di Jabodetabek, Aceh Tamiang dan Daerah
Lainnya. LKC mengadakan bikes Againts TB untuk mengkapanyekan pengobatan
TB. LKC mengadakan temu kader posyandu daerah binaan LKC. LKC turut
membidangi konsep lahirnya Rumah Sehat Masjid Agung Sunda Kelapa
September 2007.

4
Home LKC, yang diakses di http://www.lkc.or.id/index.php/tentang-kami pada tanggal
22 februari 2011, pukul 10.00.
46



Tahun 2008, LKC menyelenggarakan pelatihan Peningkatan Kinerja
Organisasi (PKOPO) di 11 Puskesmas serta pembangunan Polindes/Pustu/PKM di
26 titik dalam rangka recovery pasca banjir di Kabupaten Bojonegoro, Jawa
Timur. Disamping itu LKC mendirikan LKC cabang di Makasar serta menggagas
untuk merelokasi pelayanan medik LKC di Rumah Sehat Terpadu, konsep rumah
sakit dengan pelayanan terpadu untuk penyembuhan pasien secara paripurna yang
direncanakan bergabung di Zona Madina Dompet Dhuafa di Parung-Bogor.
5

Dompet Dhuafa Republika diresmikan tanggal 2 Juli 1993 dan menjadi
lembaga sosial sesuai Akta Notaris No 41 tanggal 14 September 1994 oleh H.
Abu Jusuf, SH, Notaris Jakarta. Pada Tahun 2000, Eri Sudewo, perintis Dompet
Dhuafa republika dan dr. Piprim Yanuarso SpA membuat konsep layanan
kesehatan gratis untuk kaum dhuafa, bulan September 2001 perijinan teknis ke
Departemen Kesehatan RI. 17 Oktober 2001, LKC mulai menerima pasien
dhuafa, 3 November 2001, LKC mengundang sejumlah masyarakat sekitar
Ciputat untuk doa bersama, 6 November 2001, LKC diresmikan oleh Wakil
Presiden RI Hamzah Haz.
6

C. Visi, Misi dan Tujuan
1. Visi
Menjadi institusi yang mampu mengembangkan program pelayanan
kesehatan secara profesional bagi dhuafa di Indonesia pada tahun 2012.
7


5
Home LKC, yang diakses di http://www.lkc.or.id/index.php/tentang-kami pada tanggal
22 februari 2011, pukul 10.00.
6
Dompet Dhuafa Republika, Profil Lembaga Katalog Program, Ciputat 2010, h.5.
7
Dompet Dhuafa Republika, Profil Lembaga Katalog Program, Ciputat 2010, h.4.
47



2. Misi
a. Mengembangkan sistem pelayanan kesehatan yang berbasis ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK)
b. Mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
c. Mengembangkan kemitraan dengan sesama jejaring Dompet Dhuafa
(DD) dan di luar jejaring DD, baik Nasional maupun Internasional
d. Mengembangkan metode pemberdayaan yang berbasis komunitas
kesehatan dan menganut pendekatan promotif-kuratif secara holistik.
8

D. Struktur Organisasi
Tabel struktur organisasi di LKC
9



8
ibid
9
Home LKC, yang diakses di http://www.lkc.or.id/index.php/tentang-kami pada tanggal
22 februari 2011, pukul 10.00.

48



STRATEGI LKC
1.Menyiapkan akreditasi lembaga
2.Menyiapkan pendirian rumah sakit terpadu sebagai pelayanan tingkat lanjutan
3.Mengembangkan jaringan cabang LKC di dalam dan luar Jabodetabek
4.Mengembangan pelayanan promotif
5.Bermitra dengan Pemerintah dan swasta, NGO nasional dan internasional dalam
program??? kesehatan masyarakat
6.Melakukan program pemberdayaan masyarakat berbasis bidang kesehatan.
7.Meningkatan penghimpunan dana melalui kerjasama program.
8.Membentuk karyawan yang berkarakter social entrepreneur
NILAI-NILAI LKC
1. Disiplin
2. Profesionalisme
3. Kejujuran
4. Musyawarah
5. Kerjasama
10


E. Program Program Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa
Ciputat
Untuk mengimplementasikan visi dan misinya, Layanan Kesehatan Cuma-
Cuma (LKC) menjalankan berbagai macam program unggulan yang strategis,
efektif, efisien, dan terukur. Didukung dengan pengelolaan lembaga yang

10
http://www.lkc.or.id/index.php/tentang-kami yang diakses pada tanggal 10 April 2011
49



akuntabel dan profesional, dan terfokus pada pelayanan sosial yang bersifat
nirlaba, LKC terus tumbuh dengan mendapat kepercayaan tinggi dari para
donatur.
11

LKC membagi programnya dalam dua pendekatan. Pendekatan pertama
adalah Direct Program. Program ini bersifat langsung, dimana aksi yang
dilakukan oleh LKC akan dirasakan seketika itu juga oleh para penerima manfaat.
Pendekatan yang kedua adalah Indirect Program dimana LKC berupaya
meningkatkan kualitas pelayanannya kepada para penerima manfaat melalui
peningkatansoft skill. Dari sini diharapkan, kualitas dan profesionalisme pelaksana
program (sumber daya manusia) menjadi lebih baik. Selain itu, dalam indirect
program tercakup pula pengembangan dan pembangunan fisik sarana kesehatan.
Secara garis besar, berikut penjabaran program kegiatan LKC:
A.Direct Program
1. LKC Cabang: Gerai Sehat, TB Center, Aksi Tanggap Bencana (SigaB)
2. AksiLayanan Sehat (ALS)
3. Khitanan Massal (KhitMas)
4. Operasi Massal (OpMas)
5. Pembiayaan Pasien
6. Pos Sehat Mitra
7. Pondok Keluarga dan Masyarakat Sehat (PKMS)
8. Penyuluhan Kesehatan

11
Home LKC, yang diakses di http://www.lkc.or.id/index.php/tentang-kami pada tanggal
22 februari 2011, pukul 10.00.

50



9. Medical Check Up
10. Bina Rohani Pasien (BRP)
11. Pelayanan Ambulance dan Mobil Jenazah
B.Indirect Program
1. Program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kader TB Dots, Pusat Informasi TB
Masyarakat (PIT Mas), Manajemen Laktasi, dan Peningkatan Kinerja Organisasi
melalui Pembelajaran Organisasi (PKOPO)
2. Program Konsultan Pendampingan Sarana Kesehatan
3. Program Pembangunan Sarana Kesehatan.
12

F. Sistem kepesertaan LKC
Untuk menjaga amanah para donatur, LKC menggunakan sistem
kepesertaan dimana calon peserta mendaftar langsung ke LKC dengan mengisi
formulir dan menyerahkan fotokopi KTP, fotokopi Kartu Keluarga dan SKTM
(Surat Keterangan Tidak Mampu) dari kelurahan. Tim survey LKC akan
memverifikasi langsung untuk memastikan calon peserta tersebut benar-benar
dhuafa. Jika disetujui peserta akan memperoleh kartu peserta yang berlaku selama
setahun. Apabila masa berlakunya habis, maka Tim Survey kembali
memverifikasi langsung. Jika masih kategori dhuafa, maka kartu tersebut akan
diperpanjanguntuk jangka waktu 1 tahun berikutnya.
13

Yaa jadi di LKC itu harus jadi member dulu, yang pertama adalah
Mengajukan berkas ,diterima, diverifikasi, kemudian survey ketika
disurvey sudah layak, dan dalam survey kami sangat ketat yaa, kadang

12
ibid
13
LKC Dompet Dhuafa republika, Profil Lembaga Katalog Program, Ciputat 2008, h. 9.
51



ketika hari pertama kita dateng yang punya motor, tivi pada diumpetin,
terus kemudian kita survey yang kedua tiba tiba ada motor atau tivi
makanya kita lakukan survey sampai 8 kali lebih dilakukan secara
mendadak, karena orang yang lantainya ubin, punya sepeda itu tidak
layak untuk menjadi member llkc, karena lkc ini kan benar-benar di
desain khusus untuk kaum dhuafa, karena setiap member itu dapet kartu, 1
kartu itu untuk satu keluarga kalau sudah diterima kemudian di foollow up
dan bisa mendapat layanan yang ada.
14

Menurut mukhtar, LKC dalam melakukan survey melakukan tiga kriteria:
a. Tingkat kedhuafaan, yang nilainya atau bobotnya mencapai 58 persen.
dengan poin 51 saja dia sudah bisa masuk menjadi member. Jika dia full
dhuafa, tanpa dia sakit pun sudah bisa jadi member.
b. Kondisi kesehatan. Artinya apabila dia dalam kondisi sakit atau tidak atau
jika ada ibu hamil, kehamilannya itu dalam resiko tinggi atau tidak.
c. Indikator pelaku. disini kita lihat ada atau tidaknya pelaku menyimpang
seperti pelacuran, minum minuman keras, narkoba, berjudi, ujar mukhtar
seraya membenarkan indikator ini terkait dengan gaya hidup seseorang. ya
kalau gaya hidupnya minum-minuman, berjudi seperti itu kita bisa anulir
jadi member.
15

A. Bimbingan Rohani Pasien
Merupakan bagian integral dari bentuk pelayanan kesehatan dalam upaya
pemenuhan kebutuhan bio-Psyco-Socio-Spritual, yang komprehensif, karena pada
dasarnya setiap diri manusia terdapat kebutuhan dasar spiritual ( Basic spiritual
needs, Dadang Hawari, 1999 ).

14
Wawancara pribadi dengan pak iwan, LKC, pada tanggal 15 April 2011, pukul 15.00
15
LKC Dompet Dhuafa, Asy Syifa No. 002 edisi ulang Tahun 2010, h. 30
52



Pentingnya bimbingan spiritual dalam kesehatan telah menjadi ketetapan
WHO yang menyatakan bahwa aspek agama ( spiritual ) merupakan salah satu
unsur dari pengertian kesehataan seutuhnya (WHO, 1984). Untuk itu pada 2003
Dompet Dhuafa Republika mulai mengadakan kegiatan pelayanan Bimbingan
Rohani Pasien di Rumah Sakit, sebagai langkah kongkrit untuk membantu pasien
dalam proses penyembuhannya.
16

Bimbingan Rohani Pasien Adalah kegiatan yang didalamnya terjadi proses
bimbingan dan pembinaan rohani kepada pasien di Rumah Sakit sebagai bentuk
upaya kepedulian kepada mereka yang sedang mendapat ujian dari Allah SWT.
Dalam kegiatan tersebut bagaimana seorang relawan dapat memberikan
ketenangan, kedamaian dan kesejukan hati kepada pasien dengan senantiasa
memberikan dorongan dan motivasi untuk tetap bersabar, tawakkal dan tetap
menjalankan kewajibannya sebagai Hamba Allah.
17

Bimbingan Rohani Pasien adalah salah satu aktivitas yang dilakukan untuk
memberikan motivasi dorongan kepada pasien yang sedang mengalami sakit
dengan tujuan agar lebih baik dan tidak berputus asa terhadap sakit yang
dideritanya.
18

1. Visi, Misi, dan Tujuan
VISI
Menjadi program yang humanis dan mampu Meningkatkan kualitas
Kesembuhaan Pasien Melalui Layanan Spiritual

16
LPM Dompet Dhuafa, Bimbingan Rohani Pasien, yang diakses pada http://www.lpm-
dd.com/?eks=program&a=viewfullteksperkategori&kat=BRP&id=62, pada tanggal 12 April,
pukul 13.00.
17
BRP-LPM Dompet Dhuafa Republika, Kiat-Kiat dalam Menghadapi dan Mengatasi
Problem Pasien di Rumah Sakit , Ciputat 2010.
18
Wawancara pribadi dengan pak iwan, LKC, pada tanggal 15 April 2011, pukul 15.00
53



MISI
Melakukan aktifitas pembinaan dan penyuluhan tentang pentingnya kesehatan
spiritual dan faktor religiusitas terhadap pola hidup dan kesehatan masyarakat.
19

Tujuan :
a. Mensyiarkan Dakwah Islam yang Rohmatan lilalamin.
b. Sebagai bentuk kepedulian yang sehat terhadap si sakit
c. Memberikan pengertian kepada pasien dan keluarga agar tetap
bersabar dan berdoa.
d. Memberikan bimbingan kepada pasien dalam menghadapi musibah
dan ujian
e. Memberikan dorongan kepada pasien agar tidak putus asa
f. Membimbing perasaan si pasien agar tetap tenang
g. Mengingatkan Pasien untuk berbaik sangka pada Allah SWT
Memberikan Pelayanan Rohani bagi Pasien.
h. Penguatan psikologi pasien, dengan pemberdayaan mental dengan
rawatan rohani menyeluruh.
20

i. Image Positif baik untuk lembaga maupun rumah sakit.
21

2. Karakteristik Bimbingan Rohani Pasien

19
LPM Dompet Dhuafa, Bimbingan Rohani Pasien, yang diakses pada http://www.lpm-
dd.com/?eks=program&a=viewfullteksperkategori&kat=BRP&id=62, pada tanggal 12 April,
pukul 13.00.

20
BRP-LPM Dompet Dhuafa Republika, Kiat Kiat Dalam Menghadapi dan Mengatasi
Problem Pasien di Rumah Sakit, Ciputat, 2010, h.5
21
BRP-LPM Dompet Dhuafa Republika, Kiat-Kiat dalam Menghadapi dan Mengatasi
Problem Pasien di Rumah Sakit
54



a. Program yang berdimensi sosial dan langsung menyentuh aspek
emosional individu.
b. Ruang lingkup operasional kegiatan ini adalah rumah sakit dan
masyarakat.
c. Tingkat mobilitas tinggi karena memiliki SDM yang muda dan energik.
d. Keterlibatan masyarakat dari berbagai kalangan melalui program
kerelawanan.
e. Layanan holistik yang diberikan tidak hanya kepada mustahik tapi
juga muzakki.
22

3. Manfaat Bagi Pasien
a. Memberikan ketenangan batin dan keteduhan hati kepada pasien dalam
menghadapi penyakitnya.
b. Memberikan motivasi dan dorongan untuk tetap bersabar dan bertawakkal
dalam menghadapi ujian dari Allah SWT.
c. Menumbuhkan suasana ukhuwah dan keakraban kepada pasien untuk
saling berbagi rasa dan cerita
d. (keluh kesah - curhat)
e. Konsultasi Fiqih Sakit (konsultasi tentang bagaimana cara shalat,
berwudhu dan sebagainya ketika sedang sakit).
f. Konsultasi Zakat, Infaq,dam Shadaqoh
23


22
LPM Dompet Dhuafa, Bimbingan Rohani Pasien, yang diakses pada http://www.lpm-
dd.com/?eks=program&a=viewfullteksperkategori&kat=BRP&id=62, pada tanggal 12 April,
pukul 13.00.

23
LPM Dompet Dhuafa, Bimbingan Rohani Pasien, yang diakses pada http://www.lpm-
dd.com/?eks=program&a=viewfullteksperkategori&kat=BRP&id=62, pada tanggal 12 April,
pukul 13.00.
55



4. Syarat untuk menjadi pembina rohani
Adapun untuk menjadi syarat sebagai pembina rohani tidak memerlukan
persyaratan yang begitu banyak, yang penting adalah basic keagamaannya.
Seperti yang dikatakan oleh ustadz yazid.
Kalu untuk saat ini belum ya , yang penting itu basic keagamaan kita saja,
gimana kita mau membimbing rohani kalu kita tidak punya basic
keagamaan yang bagus. Kalau masalah pendidikan untuk sekarang
memang belum ada standar tertentu tapi nanti mungkin akan diperlukan
orang berpendidikan untuk menjadi pembina bimbingan rohani pasien,
karena perkembangan zaman juga ya
24
.



24
Wawancara pribadi dengan ust. Yazid, Ciputat, 13 April 2011, pukul 14.00.
56

BAB IV
TEMUAN dan ANALISA
A. Temuan
I. Bentuk Layanan Bimbingan Rohani Pasien yang ada di Layanan
Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Ciputat
Dari hasil penelitian tentang bentuk layanan Bimbingan Rohani Pasien
bagi pasien dalam membantu proses kesembuhan pasien di Layanan
Kesehatan Cuma-Cuma Ciputat adalah sebagai berikut :
1. Bimbingan Rohani Pasien bagi pasien Rawat Inap di LKC.
Bimbingan Rohani pasien Rawat Inap ini merupakan bimbingan
reguler untuk pasien rawat inap di LKC biasa disebut juga model cluster
karena bimbingan ini dilakukan di tiap cluster bagi pasien yang rawat
inap biasanya satu cluster di dampingi oleh satu pembina Rohani,
biasanya satu cluster sama dengan satu bed.
1

Bimbingan ini dilakukan setiap hari oleh ustadz pada jam 15.00-17.00,
Bimbingan ini diberikan dalam bentuk motivasi dan pelaksanaan ibadah
(shalat) saat sedang sakit dan dibuatkan, bimbingan bukan diberikan
hanya kepada pasien tetapi juga kepada keluarga yang menunggu.
2

Seperti yang dipaparkan oleh ustadz Yazid berikut ini:
yaa yang pertama bimbingan untuk rawat inap, khususnya di
LKC ini ya karena kan disini itu khusus untuk dhuafa jadi
minimnya pengetahuan tentang agama makanya disinilah perlunya

1
Wawancara pribadi dengan bapak Iwan, LKC, pada tanggal 15 April 2011, pukul 15.00
2
Panduan Program Pengelolaan Bimbingan Rohani Pasien LKC,
57



bimbingan rohani, karena ketika mereka mendapat musibah atau
penyakit mereka bingung bagaimana untuk melakukan shalat , nah
dari sini kita bimbingan agama selain itu juga memberi motivasi
kepada keluarga yang menunggu agar lebih tabah, tapi itu tadi
yang lebih penting ke rohaniahnya
3


Adapun langkah-langkah dalam kegiatan Bimbingan Rohani Pasien Rawat
Inap adalah sebagai berikut :
Pra pelayanan:
a. Perhatikan pakaian dan peralatan lain yang dibutuhkan
b. Bawalah buku bimbingan rohani yang akan diserahkan ke pasien
c. Jagalah hubungan baik dengan pihak rumah sakit
d. Saat menuju ruang pasien ucapkan salam kepada para pengunjung
atau keluarga pasien dengan tersenyum
e. Ketuk pintu dengan lembut dan perkenalkan diri dengan singkat
dan ramah
f. Mohon izin kepada keluarga atau penunggu pasien untuk
bersilaturahmi dengan pasien
g. Apabila pasien dalam keadaan siap dan tidak mengganggu pelayanan
dapat dimulai
h. Usahakan sudah dapat mengetahui nama pasien
Proses pelayanan:
a. Perkenalkan diri secara khusus kepada pasien,
b. Lakukan wawancara singkat tentang penyakit atau aktifitas pasien
dengan bersahabat dan penuh empati
c. Tidak larut dalam kesedihan pasien

3
Wawancara pribadi dengan ust. Yazid, Ciputat, 13 April 2011, pukul 14.00.
58



d. Catatlah hal-hal yang dianggap perlu pada lembaran yang telah
dipersiapkan
e. Berikan sentuhan-sentuhan tangan terhadap pasien sebagai rasa
empati
f. Berikan pengertian untuk tetap sabar dalam menghadapi cobaan
(tetapi tidak menggurui)
g. Anjurkan untuk tetap melaksanakan sholat (praktekan tata cara
tayamum dan sholat sekemampuan pasien)
h. Bacakan beberapa ayat al-Quran dengan suara lembut
i. Bacakan doa dengan bahasa Arab dan Indonesia untuk kesembuhan
pasien.
j. Berikan buku bimbingan rohani Islam
k. Proses pelayanan bimbingan minimal 10 menit dan maksimal 15
menit
l. Apabila memungkinkan pasien menandatangani lembar kunjungan
(dapat diwakilkan oleh keluarganya atau suster yang merawat)
m. Mohon diri dengan santun dan ucapkan salam.
4


Seperti yang telah dijelaskan diatas, dari pra pelayanan sampai proses
pelayanan metode yang digunakan dalam model ini adalah metode direktif
kenapa direktif karena pendekatan yang digunakan secara langsung, jadi
kita langsung dateng pasien kemudian kita beri bimbingan dan

4
BRP-LPM Dompet Dhuafa Republika, Kiat Kiat Dalam Menghadapi dan Mengatasi
Problem Pasien di Rumah Sakit, Ciputat, 2010, h. 3-4.
59



arahan.
5
Seperti kegiatan yang dilakukan awal sebelum bimbingan dimulai.
Yang ada dalam kutipan dibawah ini:
hmmm pendekatannya ya biasa aja, datengin perkamar kita data,
kemudian kita tanya keluhannya, bertanya tentang kabar hari ini,
perkembangannya sudah sejauh mana, nanty dari jawaban itu kan
bisa di lihat disebut positif atau secara kejiwaan. Nah setelah itu
baru kita kasih bimbingan.
6


Selain menggunakan metode direktif model ini juga menggunakan Metode
dzikir, Seperti yang dibilang oleh pembina Rohani di dalam melakukan
bimbingan.
Yaa biasanya kita lebih menekankan ke ibadah shalatnya dan
ibadah kepada Allah seperti dzikir, karena kita kan kita tahu yaa
kalau dengan dzikir dan selalu mengingat Allah itu bisa membuat
kita lebih tenang dan merasa lebih dekat dengannya, ketika kita
sedang sakit sebenernya kita kan sedang diuji sama Allah,
disitulah kita seharusnya lebih bisa mendekatkan diri kepada
Allah.
7


Pendekatan dalam model ini lebih condong ke Pendekatan psikodiagnostik
adalah memahami kepribadian pasien melalui penafsiran terhadap tanda-
tanda tingkah laku, gerak tubuh, sikap, penampilan, suara dll. Dengan
tujuan untuk dapat memberikan pertolongan dengan lebih tepat.
8
Seperti
dalam kutipan wawancara dibawah ini:
Yaa sebelum bimbingan kita kan mendengarkan keluhan pasien,
kemudian tanya perkembangan keadaan pasien, nah dari jawaban
itu kemudian kita bisa tahu kondisi pasien tersebut baru deh kita
kasih bimbingan.
9

Materi yang digunakan Dalam kegiatan Bimbingan Rohani mencakup pada
aspek rohani yaitu:

5
Wawancara pribadi dengan bapak Iwan, LKC, pada tanggal 15 April 2011, pukul 15.00
6
Wawancara pribadi dengan ust. Yazid, Ciputat, 13 April 2011, pukul 14.00.
7
Wawancara pribadi dengan ust. Yazid pada, Ciputat, 13 April 2011, pukul 14.00
8
Muhammad Rofiq Lubis, Tehnik Berkomunikasi dengan Pasien, Ciputat 2008.
9
Wawancara pribadi dengan ust. Yazid, Ciputat, 13 April 2011, pukul 14.00.
60



a. Bimbingan ibadah wajib
b. Bimbingan membaca al-Quran/ surat-surat pendek.
c. Bimbingan fiqih sakit
d. Bimbingan Akhlaq.
10


2. Bimbingan Rohani Pasien bagi Rawat Jalan
Selain Bimbingan Rohani pasien bagi pasien rawt inap ada juga
Bimbingan bagi pasien rawat jalan, yaitu Bimbingan Rohani yang
diberikan kepada pasien tidak menginap di LKC atau yang hanya berobat
jalan. Terdapat poli Bimbingan Rohani Pasien setiap Selasa dan Kamis
jam 08.00-10.00 WiB, dilaksanakan oleh ustadz atau pembinaan aspek
rohani atau spiritual, dapat mendaftar langsung atau rujukan dari poli
umum atau spesialis.
11
Tetapi sekarang ini sudah tidak berdasarkan jadwal
yang ditentukan karena rawat jalan ini:
Sesekali pas gak ada pasien rawat inap atau setelah bimbingan rawat
inap selesai, saya keliling dibawah bagian pendaftaran sambil mereka
menunggu, saya kasih bimbingan rohani, jadi bimbingan rohani ini bukan
untuk yang rawat inap saja ya, tapi yang berobat jalan juga kita kasih,
sebenernya kalu rawat jalan itu temporer saja kalu ada orang yang butuh
bimbingan dan konsul kita di panggil oleh dokter kemudian kita datengin
pasiennya.
12

Dalam kegiatan Bimbingan Rohani Pasien bagi pasien Rawat Jalan
diadakan pengajian member LKC. Pengajian member LKC ini adalah
salah satu program Bimbingan Rohani bagi pasien rawat jalan yang
dilakukan di luar atau non reguler yang berkerja sama dengan masjid-

10
Panduan Program Pengelolaan Bimbingan Rohani Pasien LKC
11
Panduan Program Pengelolaan Bimbingan Rohani Pasien LKC
12
Wawancara pribadi dengan ust. Yazid pada, Ciputat, 13 April 2011, pukul 14.00
61



masjid binaan yang ada di kelurahan Ciputat dan sekitarnya, yaitu masjid
binaan mitra LKC yang terbagi di 11 kelurahan yaitu Kedaung, Ciputat,
Sarua indah, Pisangan, Pondok Pinang , Jombang 1, Jombang 2, Cipayung,
Rengas, Pondok Ranji, Cempaka Putih, untuk bina rohani pasien yang
dilakukan diluar yaitu pengajian bina rohani pasien yang wajib diikuti oleh
member LKC
13

Adapun langkah langkah dalam bimbingan rohani bagi pasien
rawat jalan ini adalah seperti halnya pengajian biasa atau ceramah agama
yang diikuti dengan diskusi yang dilakukan secara rutin setiap sebulan
sekali. Setiap member LKC wajib mengikuti pengajian binaan masjid
binaan LKC ini. Karena pengajian tersebut merupakan salah satu program
dari layanan Bimbingan Rohani Pasien yang ada di LKC. Adapun Rincian
kegiatannya sebagai berikut.
1. Pelaksanaan Pengajian satu bulan sekali untuk masing-masing Kelurahan
di kecamatan Ciputat, Pamulang dan kelurahan Pondok Pinang
2. Pelaksanan pengajian bulanan dilaksanakan pada hari kerja.
3. Pembicara eksternal LKC yang telah di sepakati oleh pimpinan LKC.
4. Pembina Rohani wajib memakai seragam baju koko LKC.
5. Peserta LKC, pembicara dan Bina Rohani harus memberikan tanda tangan
dalam Daftar Hadir sebagai tanda bukti untuk laporan keuangan tiap
bulan.
6. Receptionis membagikan kartu pengajian bagi peserta yang belum
mendapatkannya, guna optimalisasi kehadiran peserta di Pengajian

13
Wawancara pribadi dengan ust. Yazid pada, Ciputat, 13 April 2011, pukul 14.00
62



bulanan peserta LKC, untuk kemudian peserta di haruskan membawa
kartu pengajiannya setiap kali berobat bersama kartu anggotanya
7. Resepsionis di haruskan menanyakan kartu pengajiannya setiap kali
berobat.
14

Metode yang digunakan dalam bimbingan ini adalah metode group
guidance karena bimbingan rohani ini diberikan secara kelompok bukan
dengan perorangan, biasanya dilakukan dengan cara ceramah dan
semacam diskusi kepada para member LKC yang mengikuti pengajian
binaan di masjid binaan LKC. Seperti yang dikatakan oleh ustad yazid:
untuk bina rohani pasien yang dilakukan diluar yaitu pengajian bina
rohani pasien yang wajib diikuti oleh member LKC , dalam pengajian
tersebut diberikan bimbingan agama dan pelayanan kesehatan,
adapun materi yang diberikan adalah materi yang berhubungan
dengan agama dalam pemberian materi diberikan waktu satu jam
kemudian setelah itu tanya jawab tentang materi yang disampaikan,
banyak mereka yang responnya bagus, bahkan kadang-kadang ketika
pengajian itu selesai banyak yang ingin bercerita kepada saya.
15

Adapun pendekatan yang dilakukan juga secara kelompok. Dan lebih
mengarah ke pendekatan psikoterapi yaitu proses pengobatan dan
penyembuhan penyakit mental, spiritual, moral maupun fisik dengan
bimbingan dan pengajaran sesuai dengan petunjuk Al-quran dan sunnah.
16

Untuk penyampaian materi yang pasti berhubungan dengan agama karena
bermaksud untuk menambah pengetahuan agama para member LKC agar
hidupnya terarah lebih baik lagi. Dan melihat dari kebutuhan para member
yang mengikuti pengajian.

14
LKC, SOP pelayanan terhadap pasien dan keluarga,
15
Wawancara pribadi dengan ust. Yazid pada, Ciputat, 13 April 2011, pukul 14.00
16
Muhammad Rofiq Lubis, TehnikBerkomunikasi dengan Pasien, Ciputat, 5 juli 2008.
63



II. Keadaan Pasien sebelum dan Sesudah mendapat Bimbingan Rohani
Pasien.
1. Keadaan pasien sebelum mendapat Bimbingan Rohani Pasien
Sebelum mendapat bimbingan kebanyakan pasien merasakan
kegelisahan dan kecemasan seperti yang telah dikatakan dari beberapa
pasien dibawah ini:
Menurut Mulyati sebelum mendapat bimbingan dia merasa gelisah
dan putus asa. Menurutnya tidak ada jalan lain lagi selain menunggu
keajaiban, seperti yang dikatakan mulyati: sebelum itu saya hampir
berputus asa karena penyakit saya, saya sudah tidak tahu harus
bagaimana lagi. tapi alhamdulillah pak ustadz mengingatkan saya
kalau semuanya ini pasti akan kembali kepada yang menciptakan.
17

Menurut pak Wawan sebelum mendapat bimbingan dia bingung
harus ngapain seperti yang dikatakannya sebelum dapet bimbingan
kan saya hanya diem ya bingung mau ngerjain apa, sedangkan saya
hanya terbaring di tempat tidur . yasudah saya Cuma diem saja saya
juga bingung ketika mau melaksanakan sholat harus gimana
18

Menurut ibu Yustinah sebelum mendapat bimbingan rohani ia
merasa kurang mengontrol emosinya: sebelum saya dapet bimbingan
rohani saya itu orangnya suka marah, terus rada emosian apalagi kan
saya sering sakit-sakitan kan, jadi bawaaannnya itu gimana gitu ka
19

Menurut Herlan sebelum mendapat bimbingan dia merasa hampa :
sebelum saya dapat bimbingan rohani saya Cuma diem aja, sesekali

17
Wawancara pribadi dengan mulyati, LKC, pada tanggal 4 mei 2011, pukul 10.00.
18
Wawancara pribadi dengan pak wawan, LKC pada tanggal 4 mei 2011, pukul 11.00
19
Wawancara pribadi dengan ibu yustinah,LKC pada tanggal 5 mei 2011 pukul 13.00
64



sambil melamun memikirkan masa depan saya gimana nasibnya, jadi
saya bukannya tambah sembuh malah kepikiran yang enggak-enggak.
20

2. Keadaan pasien setelah Bimbingan Rohani Pasien
Setelah bimbingan, pasien merasa lebih nyaman dan lebih pasrah
kepada Tuhan bahwa semuanya akan kembali kepadaNya. Seperti
ungkapan dibawah ini:
Menurut Mulyati setelah mendapat bimbingan ia merasa lebih
tenang dan lebih nyaman. Perasaan saya pertamanya sih biasa aja ya dan
saya sedikit tenang, cuman saya jadi mikir kalu semuanya itu kan bakal
kembali kepada Allah ya.
21

Menurut pak Wawan setelah mendapat bimbingan rohani dia
merasa menadi lebih baik dari sebelumnya. Setelah dapet bimbingan saya
merasa lebih baik ya dan sadar akan dosa-dosa saya, heheh.
22

Menurut bu Yustinah setelah mendapat bimbingan merasa lebih
banyak mendapat tentang pengetahuan agama. Alhamdulillah ya setelah
saya ikut pengajian ini saya merasa senang saya merasa lebih tambah
pengetahuan yaaa, jadi ngerti gitu mana yang baik dan mana yang tidak
23

Menurut Herlan setelah mendapat bimbingan rohani dia merasa
lebih nyaman dan sadar akan dosa-dosa dia seperti yang dia katakan:
Perasaan saya sih awalnya biasa saja tapi lama kelamaan saya jadi sadar

20
Wawancara pribadi dengan Herlan, LKC pada tanggal 5 mei 2011 pukul 13.30.
21
Wawancara pribadi dengan Mulyati, LKC, pada tanggal 4 mei 2011, pukul 10.00.
22
Wawancara pribadi dengan pak Wawan, LKC pada tanggal 4 mei 2011, pukul 11.00
23
Wawancara pribadi dengan ibu Yustinah,LKC pada tanggal 5 mei 2011 pukul 13.00
65



kalau yang ngasih kesembuhan itu kan Allah jadi kita hanya bisa berusaha
dengan berobat
24

Berdasarkan wawancara diatas, maka dapat dilihat bahwa empat pasien
yang telah diwawancarai ternyata sudah membantu proses dalam
kesembuhan pasien masing-masing walaupun dengan cara yang berbeda-
beda.
B. Analisis
I . Analisis Model kegiatan Bimbingan Rohani Pasien di LKC
Adapun bentuk kegiatan Bimbingan Rohani di LKC itu ada 2 macam yaitu :
1. Bimbingan Rohani bagi Pasien Rawat jalan dan Rawat inap
a. Bimbingan Rohani yang diberikan kepada pasien rawat inap .
Bimbingan rohani dilakukan untuk menghilangkan persaan-perasaan tidak
nyaman,gelisah, cemas, putus asa, perasaan ingin mengakhiri hidup dan
perasaan ini yang sering pasien rasakan. Sehingga perasaan-perasaan tersebut
dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien. Oleh karena itu, untuk
menghilangkan atau meminimalisir sikap yang pasien rasakan pada umumnya,
dapat diselesaikan dengan pemecahan masalah atas dasar keimanan dan
keyakinan pasien terhadap Allah SWT. Sehingga pasien dapat merasakan dan
memperoleh ketenangan dalam hidup sesuai dengan harapannya. Karena:
Bimbingan Rohani pasien yaitu suatu proses pemberian bantuan yang terus
menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang
dihadapinya,agar tercapai kemampuan untuk memahami
dirinya(selfunderstanding), mengenal dirinya sendiri dan mengenal tuhan
serta menyadari keberadaan orang lain (berkepribadian dan berketuhanan),

24
Wawancara pribadi dengan herlan, LKC pada tanggal 5 mei 2011 pukul 13.30.
66



serta bertanggung jawab atas segala tingkah laku. Karena menurut penulis
teori tersebut sesuai dengan kebutuhan pasien.
25

Seperti halnya dalam bimbingan yang diberikan bagi pasien yang
menginap di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma, Bimbingan ini dulu rutin
dilakukan setiap hari oleh ustadz pada jam 15.00-17.00, tapi sekarang sudah
tidak terjadwal lagi dikarenakan ustadz atau pembina rohani tinggal satu orang
saja.
Bimbingan ini biasanya disebut dengan bimbingan cluster yaitu bimbingan
perkamar. Maksudnya disini adalah setiap kamar di didatangi oleh satu
pembina rohani untuk membimbing pasien yang sedang sakit dan memberikan
siraman rohani . Di LKC tersebut untuk ruang rawat inap sendiri ada
sembilan bed atau tempat tidur.
Bimbingan ini diberikan dalam bentuk motivasi dan pelaksanaan ibadah
(shalat) saat sedang sakit, yang dilakukan oleh ustdaz atau pembina rohani
datang ke kamar kemudian melakukan komunikasi dengan pasien seperti
menanyakan kabar pasien, terus keadaan pasien, dan perkembangan pasien,
mendengar keluhan pasien sesekali diberikan sentuhan sentuhan, kemudian
memberi nasihat, membacakan beberapa ayat-ayat suci al-Quran atau surat-
surat pendek, kemudian mendoakan pasien agar pasien cepat sembuh,
bimbingan bukan diberikan hanya kepada pasien tetapi juga kepada keluarga
yang menunggu.


25
Djumhur dan M. Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah (Bandung: CV. Ilmu,
1975), h.25.

67



Adapun langkah-langkah dalam kegiatan Bimbingan Rohani Pasien Rawat
Inap adalah sebagai berikut :
Pra pelayanan:
a. Perhatikan pakaian dan peralatan lain yang dibutuhkan.
Sebelum melakukan bimbingan perlu diperhatikan pakaian dan peralatan
yang dibutuhkan karena penampilan juga penting. Kalau kita rapi dan
sopan pasti pasien akan ramah menerima kehadiran kita.
b. Bawalah buku bimbingan rohani yang akan diserahkan ke pasien
Sesekali membawa buku kecil panduan doa-doa untuk diberikan kepada
pasien yang sakit.
c. Saat menuju ruang pasien ucapkan salam kepada para pengunjung
atau keluarga pasien dengan tersenyum.
Karena Senyum adalah daya pikat nomor satu dalam perbedaan
mendasar antara senyum komunikasi, perlu diingat bahwa seorang
konselor agama/ pembimbing rohani dengan senyum-senyum yang lain,
adalah senyum yang tulus dan terpancar dari hati ( semua ini
tergantung dari keberhasilan dan tingginya keimanan kita saat itu )
sebelum bimbingan akan sangat membantu untuk senyum yang sangat
tulus.
Fungsinya yaitu : Membantu menghilangkan kecurigaan berlebihan dari
pasien, Menarik perhatian si pasien dan mau bertanya dengan kita, perlu
diingat bahwa pertanyaan dari pasien adalah kunci awal komunikasi
konselor dan pasien, tapi jangan buat pasien bertanya-tanya dengan
68



senyum kita buatlah senormal mungkin, Ekspresi perhatian terhadap
pasien, Diharapkan dapat menenangkan pasien.
d. Ketuk pintu dengan lembut dan perkenalkan diri dengan singkat
dan ramah.
Sebelum melakukan bimbingan terlebih dahulu memperkenalkan diri
agar bisa lebih dekat dengan pasien atau lebih kenal.
e. Mohon izin kepada keluarga atau penunggu pasien untuk
bersilaturahmi dengan pasien.
Setiap pembina rohani meminta izin kepada keluarga atau penunggu
untuk melakukan bimbingan rohani kepada pasien.
f. Apabila pasien dalam keadaan siap dan tidak mengganggu pelayanan
dapat dimulai.
g. Usahakan sudah dapat mengetahui nama pasien.
Sebelum melakukan bimbingan perlu mengetahui data pasien. Agar
lebih mudah untuk mengenal pasien dan penyakit pasien.
Proses pelayanan:
a. Perkenalkan diri secara khusus kepada pasien
Artinya kita perlu memperkenalkan dahulu siapa diri kita dan kita datang
untuk apa agar pasien merasa lebih nyaman dengan kedatangan kita.
Seperti 5 hal yang harus di perhatikan yaitu

b. Lakukan wawancara singkat tentang penyakit atau aktifitas pasien
dengan bersahabat dan penuh empati
c. Tidak larut dalam kesedihan pasien
69



Kita boleh berempati kepada pasien tapi tidak boleh terlalu larut nanti
yang ada pasien merasa sedih.
d. Catatlah hal-hal yang dianggap perlu pada lembaran yang telah
dipersiapkan.
Mencatat perkembangan pasien agar bisa mengetahui sudah sejauh mana
kesembuhan pasien.
e. Berikan sentuhan-sentuhan tangan terhadap pasien sebagai rasa
empati
f. Berikan pengertian untuk tetap sabar dalam menghadapi cobaan
(tetapi tidak menggurui)
g. Anjurkan untuk tetap melaksanakan sholat (praktekan tata cara
tayamum dan sholat sekemampuan pasien)
h. Bacakan beberapa ayat al-Quran dengan suara lembut
i. Bacakan doa dengan bahasa Arab dan Indonesia untuk kesembuhan
pasien.
j. Berikan buku bimbingan rohani Islam
k. Proses pelayanan bimbingan minimal 10 menit dan maksimal 15
menit
l. Apabila memungkinkan pasien menandatangani lembar kunjungan
(dapat diwakilkan oleh keluarganya atau suster yang merawat)
m. Mohon diri dengan santun dan ucapkan salam.
26

Point utama dalam hal santun adalah : dalam menyikapi pasien tanpa ada
rasa atau gaya yang menggurui walaupun kita sedang mengurai suatu

26
BRP-LPM Dompet Dhuafa Republika, Kiat Kiat Dalam Menghadapi dan Mengatasi
Problem Pasien di Rumah Sakit, Ciputat, 2010, h. 3-4.
70



materi keagamaan di hadapan pasien.
27
Hak seorang muslim yang lain
adalah jika bertemu saling memberi salam ( hadits ), dalam salam
terkandung syiar dan dalam salam bermakna ketenangan dan
ketentraman hati.
28
Adapun fungsinya yaitu Syiar , Antisipasi jika
ternyata pasien yang kita kunjungi adalah non muslim atau salah satu
keluarga ada yang non muslim, salam bisa menjadi kunci berharga
dalam komunikasi sesama muslim sehingga sudah dari awal jika ada
kesalahan data agama atau semacamnya pasien akan sadar bahwa
bimbingan rohani ini bukan untuknya, kalaupun ada penolakan dari
pasien sudah diidentifikasi sejak dini, Menenangkan dan
Menantramkan, Menambah wawasan (dalam mengucap salam
dianjurkan tidak ragu-ragu atau sangat pelan, ucapkan salam secara jelas
dan jernih dengan suara yang dalam dan wibawa).
29

Bimbingan rohani memang dibutuhkan pasien karena untuk mengurangi
kecemasan, kegelisahan, ketegangan pasien. Biasanya pasien yang sedang
sakit itu sering mengalami kecemasan dan kegelisahan, makanya disinilah
perlu dibimbing secara spiritualnya agar lebih baik lagi dan lebih pasrah
bahwa semuanya itu akan kembali kepada sang pencipta Allah SWT.
Metode yang digunakan dalam bimbingan rawat inap ini adalah metode
direktif (metode yang bersifat mengarahkan), metode ini bersifat
mengarahkan kepada klien untuk berusaha mengatasi kesulitan
(problema) yang dihadapi. Pengarahan yang diberikan kepada klien ialah
dengan memberikan secara langsung jawaban-jawaban terhadap

27
BRP-LPM Dompet Dhuafa Republika, Kiat Kiat Dalam Menghadapi dan Mengatasi
Problem Pasien di Rumah Sakit, Ciputat, 2010, h. 22.
28
BRP-LPM Dompet Dhuafa Republika, Kiat Kiat Dalam Menghadapi dan Mengatasi
Problem Pasien di Rumah Sakit, Ciputat, 2010, h. 15
29
BRP-LPM Dompet Dhuafa Republika, Kiat Kiat Dalam Menghadapi dan
Mengatasi Problem Pasien di Rumah Sakit, Ciputat, 2010, h. 22.
71



permasalahan yang menjadi sebab kesulitan yang dihadapi/dialami
klien.
30

Kenapa dibilang direktif karena secara langsung ke pasien dimana seorang
ustadz atau pembina rohani memberikan bimbingan langsung kepada pasien,
materi yang diberikan juga sesuai dengan penyakit pasien misalnya seperti
Sabar, ikhtiar berobat, memberikan harapan kesembuhan, dzikir dan doa.
Sabar itu penting karena:
Sabar dapat menjauhkan perasaan cemas, gelisah dan frustasi. Bahkan
sebaliknya akan membawa kepada ketentraman batin.
31


Ikhtiar berobat, sakit memang cobaan dari Allah dan kita sebagai manusia
berusaha untuk menyembuhkan rasa sakit tersebut yaitu dengan cara berobat
kepada dokter. Ada yang perlu diperhatikan dalam memberikan pelayanan
kepada pasien yaitu seperti, Perhatikan pakaian dan peralatan lain yang
dibutuhkan, membawa buku bimbingan rohani yang akan diserahkan ke
pasien, menjaga hubungan baik dengan pihak rumah sakit, Saat menuju ruang
pasien mengucapkan salam kepada para pengunjung atau keluarga pasien
dengan tersenyum, mengetuk pintu dengan lembut dan memperkenalkan diri
dengan singkat dan ramah, Mohon izin kepada keluarga atau penunggu pasien
untuk bersilaturahmi dengan pasien, Apabila pasien dalam keadaan siap dan
tidak mengganggu pelayanan dapat dimulai, dan diusahakan sudah dapat
mengetahui nama pasien. Kenapa dibilang cluster karena model ini adalah
merupakan konsep atau ide untuk pasien rawat inap dimana di LKC hanya ada
9 bed atau cluster makanya sering disebut model cluster.

30
H.M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama (Jakarta : PT.
Golden Terayon Press,1998), Cet, ke-6, h-1
31
Zakiah darajat, Psikoterapi Islam, Jakarta: PT Bulan Bintang , 2002, h. 136.
72



Adapun Kelebihan dari model bimbingan ini adalah bimbingan model
cluster ini sudah bagus, artinya sudah bisa menjawab kebutuhan pasien selain
itu pasien juga bisa lebih mengungkapkan keluhan keluhannya. Bimbingan ini
diberikan secara langsung atau face to face jadi bisa lebih empatik. Karena
seperti yang dibilang ketika orang sakit itu banyak mengalami kegelisahan dan
kecemasan disinilah bimbingan rohani berperan dalam membantu proses
kesembuhan pasien bukan hanya sehat secara fisik tapi juga sehat secara
spiritual.
Kekurangan dari model ini adalah layanan bimbingan rohani ini hanya
diberikan kepada rawat inap dan biasanya waktunya pun tidak terlalu lama
karena ditakutkan menganggu waktu istirahat pasien. Dan kebanyakan ketika
penyakit pasien menular maka pasien tersebut tidak bisa mendapat bimbingan
rohani ditakutkan bisa menular ke pembina rohaninya.
2. Bimbingan Rohani bagi pasien rawat jalan
Ini adalah bimbingan yang diberikan kepada pasien yang berobat jalan
atau pasien yang bukan rawat inap, bimbingan ini diberikan kepada pasien
yang sedang berobat jalan. Biasanya ini dilakukan setelah pembina rohani
melakukan bimbingan regular atau cluster.
Bimbingan rawat jalan ini sifatnya temporer yaitu waktunya tidak tentu,
sesekali setelah pembina rohani selesai memberikan bimbingan rohani bagi
pasien rawat inap kemudian melanjutkan bimbingan dengan pasien rawat
jalan, atau ketika ada orang butuh bimbingan dan konsul kemudian pembina
rohani atau ustadz dipanggil untuk memberikan bimbingan.
73



Kelebihan dari model ini adalah siapa saja bisa mendapat bimbingan
rohani, misalnya pada waktu kita berobat sambil menunggu antrian bisa dapat
bimbingan rohani, jadi bimbingan rohani ini bisa mengisi waktu luang pasien
tapi kekurangannya yaitu kurang mendalam untuk mengetahui kondisi pasien,
kurang rinci dan mendetail karena waktunya pun cenderung sedikit dan
frekuensi pertemuannya pun hanya sebentar.
Bimbingan Rohani bagi pasie Rawat jalan mengadakan kegiatan
bimbingan rohani berupa pengajian member LKC yang dilakukan setiap
sebulan sekali, pengajian ini wajib diikuti oleh semua member LKC, karena
pengajian ini bertujuan untuk memperdalam pengetahuan agama bagi para
member LKC. Bimbingan ini dilakukan di masjid binaan LKC yaitu di 11
kelurahan antara lain: Kedaung, Ciputat, Sarua indah, Pisangan, Pondok
Pinang , Jombang 1, Jombang 2, Cipayung, Rengas, Pondok Ranji, Cempaka
Putih.
Kegiatan ini wajib dilakukan oleh member LKC karena layanan ini
merupakan konsep Bimbingan Rohani yang dilakukan diluar, bentuk
bimbingannya pun berbeda dengan bimbingan Rohani yang diberikan dalam
model cluster atau bimbingan per-kamar, kalau dalam pengajian Rohani itu
bentukya ceramah kemudian tanya jawab, selain itu juga ada penyuluhan
kesehatan. Pengajian ini bermaksud untuk menambah pengetahuan agama
dengan para member LKC jadi mereka dibekali pengetahuan agama yang
cukup.
Dan pengajian bina rohani ini bisa diikuti siapa saja termasuk yang rawat
inap atau rawat jalan, mereka yang pernah mendapat bimbingan cluster atau
74



bimbingan regular rawat inap pun bisa ikut pengajian bina rohani ini, yang
dilakukan sebulan sekali.
Pelaksanaan Pengajian satu bulan sekali untuk masing-masing Kelurahan
di kecamatan Ciputat, Pamulang dan kelurahan Pondok Pinang. Pelaksanan
pengajian bulanan dilaksanakan pada hari kerja, Pembicara eksternal LKC
yang telah di sepakati oleh pimpinan LKC, Pembina Rohani wajib memakai
seragam baju koko LKC, Peserta LKC, pembicara dan Bina Rohani harus
memberikan tanda tangan dalam Daftar Hadir sebagai tanda bukti untuk
laporan keuangan tiap bulan.
Receptionis membagikan kartu pengajian bagi peserta yang belum
mendapatkannya, guna optimalisasi kehadiran peserta di Pengajian bulanan
peserta LKC, untuk kemudian peserta di haruskan membawa kartu
pengajiannya setiap kali berobat bersama kartu anggotanya, Resepsionis di
haruskan menanyakan kartu pengajiannya setiap kali berobat.
Pengajian bina rohani menyiapkan kegiatan pengajian mulai dari :
a. Mengundang pembicara
Maksud mengundang pembicara disini adalah untuk mengisi materi
ceramah atau pengajian, kadang pengajian ini diisi oleh pembina rohani
atau ustadz kadang kadang juga mengundang pembicara.
b. Membuat pengumuman peserta
Biasanya seminggu sebelum diadakan pengajian para member LKC sudah
diberitahu bahwa ada pengajian mengenai tempat dan waktunya, pengajian
ini dilakukan bergilir di 12 kelurahan yang sudah disebutkan diatas.
c. Menunujuk tugas moderator
75



Seperti acara ceramah pada umumnya di pengajian ini juga ada moderator
yang mengatur acara dan materi yang disampaikan.
d. Menyiapkan daftar hadir
Setiap peserta atau member LKC yang ikut pengajian wajib mengisi daftar
hadir karena sebagai bukti kalau sudah mengikuti pengajian.
e. Konsumsi (sncak)
Seperti biasa setiap ada pengajian atau ceramah pasti selalu ada konsumsi
atau snack, karena pengajian ini berlangsung lumayana lama yaitu sekitar
dua jam.
Pengajian ini dilaksanakan sesuai jadwal dimulai dengan membaca surat
yasin, penyampaian materi pengajian kemudian doa dan penutup.
Biasanya setelah pengajian selesai banyak member LKC yang curhat, sharing
tentang maslahnya, kemudian dari tim pembina rohani berusaha mengarahkan
dan membimbing agar member LKC itu bisa menemukan jalan keluarnya
sendiri dan menjadi orang yang lebih baik. Adapun metode yang digunakan
yaitu:
Metode Group Guidance (bimbingan secara berkelompok), yakni cara
pengungkapan jiwa/batin oeh klien serta pembinaannya melalui kegiatan
kelompok seperti ceramah, diskusi, seminar,simposium, atau dinamika
kelompok (group dynamics), dan sebagainya.
32


Pengajian ini menggunakan group guidance karena pengajian ini adalah
bimbingan yang dilakukan secara kelompok bukan perorangan lagi, dengan
cara ceramah yang disampaikan oleh pembina rohani LKC. pendekatan yang
dilakukan disini adalah

32
H.M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama (Jakarta : PT.
Golden Terayon Press,1998), Cet, ke-6, h-1
76



pendekatan psikoterapi yaitu proses pengobatan dan penyembuhan
penyakit mental, spiritual, moral maupu fisik dengan bimbingan dan
pengajaran sesuai dengan petunjuk Al-quran dan sunnah.
33


Karena disini dilakukan pendekatan bukan hanya orang yang sedang sakit
saja tetapi orang yang sehat juga bisa ikut pengajian tersebut karena tujuan
dari pengajian ini adalah untuk membantu member LKC menjadi orang yang
lebih baik sesuai dengan pedoman Al-quran dan sunnah.
Kelebihan dari pengajian ini adalah bimbingan bisa dilakukan secara
kelompok atau sekaligus yaitu dengan menentukan tema yang ingin
disampaikan, selain itu semua member bisa menambah pengalaman tentang
agama bagi semua member LKC, bukan hanya yang dirawat inap atau rawat
jalan tetapi mereka yang sudah resmi menjadi member. Kelemahannya adalah
kurang fokus atau tidak terlalu mendetail pada permasalahan yang dimiliki
oleh pasien dikarenakan bimbingan ini diberikan secara kelompok bukan
individu lagi.
Adapun deskripsi dari 2 kegiatan yang dilakukan dalam Bimbingan Rohani
mencakup pada aspek rohani yaitu:
a. Bimbingan ibadah wajib.
Yaitu bimbingan yang diberikan kepada pasien dalam melakukan ibadah
kepada Allah, seperti halnya shalat, dzikir, dan lain sebagainya seperti
yang dikatakan oleh pembina Rohani yaitu:
Yaa biasanya kita lebih menekankan ke ibadah shalatnya dan
ibadah kepada Allah seperti dzikir, karena kita kan kita tahu yaa
kalau dengan dzikir dan selalu mengingat Allah itu bisa membuat

33
Muhammad Rofiq Lubis, TehnikBerkomunikasi dengan Pasien, Ciputat, 5 juli 2008.
77



kita lebih tenang dan merasa lebih dekat dengannya, ketika kita
sedang sakit sebenernya kita kan sedang diuji sama Allah,
disitulah kita seharusnya lebih bisa mendekatkan dari Allah.
34


b. Bimbingan membaca al-Quran.
Dalam bimbingan ini pasien juga diajarkan mengaji, karena dengan
mengaji bisa membuat hati kita lebih tenang, dengan mengkaji al-Quran
kita juga bisa tahu mana yang baik dan mana yang tidak.
c. Bimbingan fiqh sakit.
Definisi dari bimbingan fiqih sakit itu sendiri adalah suatu Ilmu
tentang hukum Islam yang berlaku bagi orang yang sakit.
35
Secara harfiah
fiqih sakit terdiri dari dua kata: yaitu Fiqih dan Sakit. Fiqih berarti ilmu
tentang hukum islam, sedangkan sakit berarti tidak terasa nyamannya
tubuh ( bagian tubuh) karena menderita sesuatu (demam, sakit perut, dan
sebagainya). Untuk memahami fiqh sakit yaitu Pengetahuan tentang
hukum Islam yang berlaku bagi orang yang sedang sakit, diberikannya
kekhususan ibadah bagi orang sakit dikarenakan adanya kemudahan dari
Allah SWT kepada hamba-Nya sehingga selama sakit tidak ada yang
menghalanginya secara syari untuk menjalankan ibadah sebagai
kewajibannya, misalnya dalam hal bersuci bagi orang yang sedang sakit
juga diberi kemudahan misalnya bagi orang Sakit yang mampu berwudhu
orang sakit yang tidak mendapatkan kesulitan di luar batas kemampuannya
saat berwudhu, tidak mendapatkan mudharat atau bahaya, tidak merasa

34
Wawancara pribadi dengan ust. Yazid pada, Ciputat, 13 April 2011, pukul 14.00
35
Ust. Abdul Muhit,S.Pdi, FIQIH BAGI PASIEN(Tuntunan Ibadah Untuk Orang Sakit),
2008, h.2
78



sakit.
36
Sakitnya tidak bertambah parah berdasarkan rekomendasi seorang
dokter atau berdasarkan pengalaman pribadi atau dia tidak mampu namun
mendapatkan orang yang membantunya untuk berwudhu tanpa
mendapatkan mudharat dan bentuk lain dari bentuk-bentuk kemampuan.
Orang seperti ini wajib berwudhu yang dengannya akan diberi
pahala jika melakukannya dan berdosa bila tidak melakukannya serta
sholatnya tidak sah. Nabi bersabda: ALLAH tidak menerima Sholat salah
seorang di antara kamu jika berhadats hingga dia berwudhu, Ketika
berwudhu ia wajib mengerjakan seluruh fardu wudhu, yaitu : mulai dari
niat, membasuh wajah, membasuh tangan hingga sikut.
37
Adapun Sholat
untuk orang sakit yaitu Syarat sah sholat: Suci dari najis
(badan,pakaian,tempat), suci dari hadats (besar, kecil ), menutup aurat,
menghadap kiblat, masuk waktu sholat. Dan tata cara bersuci yaitu Orang
sakit yang mampu berwudhu; wajib seluruh fardhu wudhu sebagaimana
orang sehat, Orang sakityang tidak mampu berwudhu; diwajibkan kepada
mereka untuk melakukan tayammum, Orang sakit yang tidak mampu
berwudhu & tayammum dikarenakan tidak menemukan debu/
menjadikannya berbahaya, diperbolehkan melaksanakan shalat tanpa
berwudhu & tayammum.
Orang yang sedang sakit wajib melaksanakan shalat fardhu
walaupun harus membungkuk atau berpegang pada dinding/ tongkat, Jika

36
Ust. Abdul Muhit,S.Pdi, FIQIH BAGI PASIEN(Tuntunan Ibadah Untuk Orang Sakit),
2008, h.2-3.
37
Ust. Abdul Muhit,S.Pdi, FIQIH BAGI PASIEN(Tuntunan Ibadah Untuk Orang Sakit),
2008, h.2-3.
79



tidak sanggup berdiri, boleh melakukannya dalam keadaan duduk, jika
tidak sanggup, berbaring pada lambungnya dalam keadaan menghadap
kiblat, jika tidak sanggup, telentang dengan kedua kaki ke arah kiblat.
Untuk gerakan ruku dan sujud boleh menggunakan isyarat. Orang sakit
wajib melakukan shalat di setiap waktunya. Jika merasa kepayahan ia
boleh menjama ( baik jama taqdim maupun jama takhir).
Yang perlu diperhatikan ketika kita sedang sakit adalah Sabar
dalam menghadapi musibah, Berbaik sangka kepada Allah, tawakal atau
berserah diri, banyak bersyukur kepada Allah, memperbanyak istighfar &
menghisab diri.
38

d. Bimbingan Akhlaq.
Yaitu bimbingan tentang akhlaq dan perilaku yang disesuaikan dengan al-
quran dan Sunnah.
II. Analisis pasien sebelum dan sesudah mendapat Bimbingan
Rohani.
1. Pasien sebelum mendapat bimbingan
Dari hasil penelitian diatas ternyata memang betul pasien sebelum mendapat
bimbingan banyak yang mengalami kegelisahan dan kecemasan berlebih dan
rasa ketakutan akan kematian, seperti yang diungkapkan beberapa pasien di
bawah ini:
Menurut mulyati ia merasa gelisah dan tidak tenang seperti yang dikatakan
olehnya :

38
Ust. Abdul Muhit,S.Pdi, Fiqih Bagi Pasien(Tuntunan Ibadah Untuk Orang Sakit), 2008,
h.4-6.
80



sebelum itu saya hampir berputus asa karena penyakit saya, saya sudah
tidak tahu harus bagaimana lagi..
39


a. Mulyati ini adalah salah satu pasien di LKC yang mengidap
penyakit kanker, dulunya ia sempat di rawat di RSCM , setelah menjadi
member LKC. Tim dari LKC sering hadir ke rumahnya (home care)
untuk mengetahui keadaan mulyati dan memberikan bimbingan rohani
karena ia merasa sudah tidak berdaya, tidak tahu apa yang harus
dilakukan.
b. Sedangkan menurut Menurut pak Wawan sebelum mendapat
bimbingan dia bingung harus melakukan apa, seperti yang dikatakannya:
sebelum dapet bimbingan kan saya hanya diem ya bingung mau ngerjain
apa, sedangkan saya hanya terbaring di tempat tidur . yasudah saya
Cuma diem saja saya juga bingung ketika mau melaksanakan sholat
harus gimana
40


pak Wawan adalah salah satu pasien di LKC yang mengidap penyakit
thipus sudah 2 minggu dia dirawat di LKC, dia merasa bingung dan tidak
tahu apa yang harus dilakukan kecuali hanya berbaring tidur dan menahan
rasa sakit.
c. Menurut ibu Yustinah sebelum mendapat bimbingan rohani ia merasa
kurang mengontrol emosinya:
sebelum saya dapet bimbingan rohani saya itu orangnya suka marah,
terus rada emosian apalagi kan saya sering sakit-sakitan kan, jadi
bawaaannnya itu gimana gitu ka
41


Ibu Yustinah adalah salah satu pasien LKC yang sudah hampir 7 tahun lebih
menjadi member LKC, ibu Yustinah ini menderita sakit lambung, ibu

39
Wawancara pribadi dengan mulyati, LKC, pada tanggal 4 mei 2011, pukul 10.00.
40
Wawancara pribadi dengan pak wawan, LKC pada tanggal 4 mei 2011, pukul 11.00.
41
Wawancara pribadi dengan ibu yustinah,LKC pada tanggal 5 mei 2011 pukul 13.00
81



Yustinah ini merupakan pasien yang aktif ikut pengajian bina rohani pasien
yang diadakan oleh LKC.
d. Menurut Herlan sebelum mendapat bimbingan dia merasa hampa.
sebelum saya dapat bimbingan rohani saya Cuma diem aja, sesekali
sambil melamun memikirkan masa depan saya gimana nasibnya, jadi saya
bukannya tambah sembuh malah kepikiran yang enggak-enggak.
42


Herlan merupakan pasien yang menderita sakit tumor. Dia terbilang masih
muda umurnya baru 17 tahun, dia merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus
dilakukan.

2. Keadaan Pasien setelah Bimbingan Rohani Pasien
Pasien yang sudah mendaat bimbingan merasa lebih baik dan merasa lebih
tenang dan nyaman berbeda ketika mereka belum mendapat bimbingan rohani.
Karena:
Spiritual seseorang akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap
kesehatan dilihat dari perspektif yang luas. Fryback (1992) menemukan
hubungan kesehatan dengan keyakinan terhadap kekuatan yang lebih
besar, yang telah memberikan seseorang keyakinan dan kemampuan
untuk mencintai. Kesehatan dipandang oleh beberapa orang sebagai
suatu kemampuan untuk menjalani kehidupan secara utuh. Pelaksanaan
perintah agama merupakan suatu cara seseorang berlatih secara
spiritual.
43


Seperti yang diungkapkan pasien dibawah ini :

a. Menurut Mulyati setelah mendapat bimbingan ia merasa lebih tenang dan
lebih nyaman. Perasaan saya pertamanya sih biasa aja ya dan saya sedikit
tenang, cuman saya jadi mikir kalu semuanya itu kan bakal kembali
kepada Allah ya.
44
Disini terlihat bahwa bimbingan rohani ini membantu

42
Wawancara pribadi dengan herlan, LKC pada tanggal 5 mei 2011 pukul 13.30.
43
http://www.scribd.com/doc/8343666/Konsep-Sehat yang diakses pada tangal 10 mei
2011
44
Wawancara pribadi dengan mulyati, LKC, pada tanggal 4 mei 2011, pukul 10.00.
82



dan mengarahkan pasien ke arah yang lebih baik, karena prinsip
bimbingan:
Menurut H.M. Arifin Bimbingan berarti menunjukkan atau
memeberi jalan, atau menuntun orang lain ke arah tujuan yang
bermanfaat bagi hidupnya di masa kini dan masa mendatang.
45

b. Menurut pak Wawan setelah mendapat bimbingan rohani dia merasa
menjadi lebih baik dari sebelumnya. Setelah dapet bimbingan saya
merasa lebih baik ya dan sadar akan dosa-dosa saya, heheh.
46

Pasien merasakan perbedaan ketika sesudah mendapat bimbingan dia
merasa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karena sudah dijelaskan
bahwa fungsi dari bimbingan itu salah satunya adalah :
Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, fungsi ini berarti bahwa
layanan bimbingan ini dapat membantu para individu dalam memelihara
dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah dan
berkelanjutan.
47


Disini bisa dilihat perkembangan bapak wawan setelah mendapat
bimbingan dia sadar akan dirinya yang masih banyak dosa dan ingin
berusaha memperbaiki dirinya untuk menjadi lebih baik lagi.
c. Menurut bu Yustinah setelah mendapat bimbingan merasa lebih banyak
mendapat tentang pengetahuan agama. Alhamdulillah ya setelah saya ikut
pengajian ini saya merasa senang saya merasa lebih tambah pengetahuan
yaaa, jadi ngerti giu mana yang baik dan mana yang tidak
48

Ibu yustinah merasa senang ketika sudah mendapat bimbingan karena dia
merasa bertambah pengetahuan tentang agama yang bisa menjadikan

45
H.M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama (Jakarta : PT.
Golden Terayon Press,1998), Cet, ke-6, h-1
46
Wawancara pribadi dengan pak wawan, LKC pada tanggal 4 mei 2011, pukul 11.00
47
Dewa Ketut Sukardi, Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah (Jakarta:
Rineka Cipta, 2000), h. 26-27.
48
Wawancara pribadi dengan ibu yustinah,LKC pada tanggal 5 mei 2011 pukul 13.00
83



pedoman hidupnya. Karena menurutnya dia bisa mengetahui yang benar
dan salah dari agama yang menjadi pedomannya. Salah satu tujuan
bimbingan yaitu:
Mengembangkan nilai dan sikap secara menyeluruh serta
perasaan sesuai dengan penerimaan diri.
49

Dan disini ibu yustinah bisa mengembangkan dirinya melalui
pedoman yang dia sudah tahu mana yang baik dan mana yang benar
setelah mengikuti bimbingan rohani.
d. Menurut Herlan setelah mendapat bimbingan rohani dia merasa lebih
nyaman dan sadar akan dosa-dosa dia seperti yang dia katakan: Perasaan
saya sih awalnya biasa saja tapi lama kelamaan saya jadi sadar kalau yang
ngasih kesembuhan itu kan Allah jadi kita hanya bisa berusaha dengan
berobat
50

Dalam tujuan bimbingan rohani ada yang namanya :
Membantu klien untuk mengembangkan pemahaman diri sendiri
sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi dan kesempatan yang
ada.
51

Herlan merasa lebih nyaman setelah mendapat bimbingan rohani,
menurutnya dia juga sudah berusaha agar cepat sembuh, tetapi Allah lah
yang menentukan dia hanya bisa berusaha dengan cara berobat.

49
Ainur Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam (Yogyakarta. UI Press,
2001),Cet. Ke-2, h. 54
50
Wawancara pribadi dengan herlan, LKC pada tanggal 5 mei 2011 pukul 13.30.
51
Ainur Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam (Yogyakarta. UI Press,
2001),Cet. Ke-2, h. 54.
84



Jadi dari beberapa kegiatan bimbingan rohani yang ada di LKC sudah membantu
dalam proses kesembuhan pasien. Bukan hanya sehat secara fisik tapi juga sehat
rohani.

85

Bab V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, sebagaimana
telah di uraikan dalam pembahasan pada bab sebelumnya, maka peneliti
mencoba menyimpulkan bahwa Bentuk Layanan Bimbingan Rohani Pasien itu
ada 2 macam. Peneliti mencoba untuk menguraikan kesimpulan sebagai
berikut:
1. Bentuk Kegiatan Bimbingan Rohani ada 2macam yaitu :
a. Bimbingan rohani bagi pasien rawat inap.
Bimbingan reguler atau cluster, yaitu salah satu bimbingan yang
dilakukan bagi pasien rawat inap yang ada di LKC, bimbingan ini
dilakukan per kamar. metode yang digunakan dalam bimbingan ini
adalah metode direktif karena pendekatannya dilakukan secara
langsung atau face to face berhadapan langsung dengan pasien.
b. Bimbingan Rohani Pasien bagi pasien rawat jalan.
Bimbingan ini diberikan kepada pasien yang berobat jalan atau rawat
jalan. Biasanya dilakukan dengan cara pengajian masjid binaan LKC
Pengajian member LKC binaan ini adalah salah satu program BRP
yang dilakukan di luar yang bekerja sama dengan masjid-masjid di
kelurahan ciputat dan sekitarnya. Pengajian ini diwajibkan bagi
member LKC. Karena pengajian ini bertujuan untuk memperdalam
pengetahuan agama kepada para member LKC. Adapun metode yang
digunakan dalam pengajian ini adalah metode group guidance karena
86


disini bimbingan ini dilakukan secara kelompok yaitu dalam bentuk
ceramah dan diskusi.
B. SARAN
Tanpa mengurangi rasa hormat atas kerja keras yang dilakukan pihak
panti dan dengan disertai keterbatasan seoarang peneliti sebagai manusia biasa
yang memiliki keterbatasan dan tak luput dari kesalahan yang baru belajar
tentang pengetahuan Bimbingan Rohani Pasien, di bawah ini akan di catat
beberapa rekomendasi yang barang kali mampu memberikan masukan bagi
Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma untuk kinerja dan ektifitas kegiatan
pemberdayaan di kemudian hari.
a. Menambahkan anggota Pembina Rohani pasien agar tidak terbengkalai
program yang lain dan agar bisa berjalan lebih bagus lagi, dan tentunya bisa
mendapat hasil kinerja yang lebih baik.
b. Membangun kembali mitra masjid binaan di beberapa kelurahan yang belum
tersentuh agar para member LKC yang berada di daerah-daerah kecil juga
masih bisa mendapat Bimbingan Rohani.
c. Menambah waktu untuk layanan Bimbingan Rohani Pasien, karena banyak
permintaan dari pasien juga dan lebih konsisten dengan waktu.
d. Menambah program baru lagi agar lebih bervariatif dan tidak monoton.





87





Daftar pustaka
Al-Mawardi. Hikmah Puasa Tinjauan Ilmu Kedokteran. Jakarta: PT. Prima,
2001.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
PT.Rieneka Cipta,1996.
Barbara F. Weller. Kamus Saku Perawat. Jakarta: EGC,2005.
Brooker, Christine. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta :EGC, 2001.
Darajat, Zakiah. Psikoterapi Islam, Jakarta: PT Bulan Bintang , 2002.
Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka, 2001.
Dewa Ketut Sukardi. Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah.
Jakarta: Rineka Cipta, 2000.
Djumhur dan M. Surya. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah . Bandung: CV.
Ilmu, 1975.
Faqih, Ainur Rahim. Bimbingan dan Konseling Dalam Islam (Yogyakarta. UI
Press, 2001.
H.M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama
JakartaPT. Golden Terayon Press,1998.
Hawari, Dadang. Al-Quran: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa.
Jakarta: Dana Bhakti Prisma Yasa, 1996.
_______________, Pelatihan Relawan Bimbingan Rohani Pasien. Sawangan:
DompetDhuafa Republika, tanggal, 9 juli 2003.
Kaffie, Jammaluddin. Psikologi Dakwah. Surabaya: Indah, 1993.
KBBI. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitan Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya,2007.
Muinuddin, Hakim. Penyembuhan Cara Sufi. Penerjemah Burhan Wira Subrata.
Jakarta : Lentera, 1999.
RI. Suhartin dan Bonar Simangunsong, Pembinaan Personil Melalui
Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta ; Paneindo, 1989.
Shaleh, Abdul Rahman. dan Wahab, Muhbib Abdul. Psikologi Suatu Pengantar
Dalam Perspektif Islam. Jakarta : Kencana, 2004.
Singarimbun, Masri dan Efendi, Sofyan. Metode Penelitian Survai. Jakarta:
LP3ES,1995.
Slamito, Bimbingan di Sekolah, Jakarta: Bina Aksara, 1998.
Yafie, Ali. dkk., Sakit Menguatkan Iman . Jakarta : Gema Insani Press, 1996.








Sumber dari majalah, internet dan artikel:

Abdul Wahid Chairul , Pengertian Model dan Jenis-jenisnya, yang diakses di
http://www.damandiri.or.id/file/abdwahidchairulahunairbab2.pdf.
BRP-LPM Dompet Dhuafa Republika, Kiat Kiat Dalam Menghadapi dan
Mengatasi Problem Pasien di Rumah Sakit, Ciputat, 2010.
Dahlan, Zuchairi. Konsep Sehat dan Sakit, Blok Kesehatan Masyarakat, 16 April
2008.
Home LKC, yang diakses di http://www.lkc.or.id/index.php/tentang-kami
Kawakib, Nurul. Urgensi Santunan Spiritual di Rumah Sakit, 2009 di akses dari:
http://nurulkawakibblog.blogspot.com/2009/04/urgensi-pendekatan-
spiritual-di-rumah.html.
LKC Dompet Dhuafa republika, Profil Lembaga Katalog Program, Ciputat 2008,
LPM Dompet Dhuafa, Bimbingan Rohani Pasien, yang diakses pada:
http://www.lpmdd.com/?eks=program&a=viewfullteksperkategori&kat=B
RP&id=62
Muhit, Abdul. S.Pdi, Fiqih Bagi Pasien (Tuntunan Ibadah Untuk Orang
Sakit), 2008.
Purnawan, Iwan. S.Kep,Ns, Konsep Sehat dan Sakit, yang diakses di :
http://www.scribd.com/doc/8343666/Konsep-Sehat.
.










LAMPIRAN LAMPIRAN


1
Panduan Pengelolaan Bimbingan Rohani Pasien

PANDUAN PENGELOLAAN
PROGRAM BIMBINGAN ROHANI LKC

1. TUJUAN
1.1. Menjadi panduan umum dalam menyelenggarakan program Bina Rohani pasien
1.2. Sebagai syarat kelengkapan bagi lembaga agar lembaga dapat terakreditasi sesuai
dengan ketentuan dari Komite Akreditasi Rumah Sakit ( KARS ) Departemen
Kesehatan.

2. DEFINISI
2.1. Bimbingan rohani adalah salah satu program yang dilaksanakan di Departemen
Pengembangan Program yang fokus pada layanan spiritual/ konselig.

3. RUANG LINGKUP
3.1. Panduan ini mengacu pada visi LKC
3.2. Penduan ini mencakup panduan umum bimbingan rohani pasien member LKC,
bimbingan komunitas ( KSM ), dan bimbingan rohani pasien di rumah sakit mitra LKC

4. LAIN- LAIN
Panduan ini akan diperbaiki atau diubah bila diketahui terdapat kekeliruan dan atau
perubahan di kemudian hari.

5. Kebijakan Umum
5.1. Sasaran Kegiatan
a. Pasien yang sakit fisik dan rohani
b. Peserta LKC
c. Masyarakat peduli donatur
d. Karyawan LKC

5.2. Kegiatan
Bimbingan rohani pasien terdiri atas 6 kegiatan yaitu :
5.2.1. BRP ( peserta) untuk program Kelurga Sehat Mandiri ( KSM ), pendampingan
1 kluster = 200 KK member LKC )
5.2.2. Bimbingan rohani bagi pasien rawat jalan dan rawat inap di LKC
5.2.3. Pengajian member LKC di Masjid binaan.
5.2.4. Bimbingan rohani regular di rumah sakit mitra LKC
5.2.5. Kunjungan rumah ( Home Care ) Sapa pasien
5.2.6 Pengembangan Kegiatan

5.3 Deskripsi Kegiatan
6.3.1 Kegiatan Keluarga Sehat Mandiri ( KSM )
Adalah : Kegiatan pendampingan 1 kluster yang terdiri dari 200 kepada
keluarga dan berstatus sebagai member LKC

a. Ketentuan dasar untuk kegiatan ini adalah
- Pendampingan keluarga PHBS
Pembinaan mental/ rohani pasien
Adanya pembatasan dan pengelompokan peserta
Kriteria peserta adalah berdomisili di Wilayah, Pamulang, Pondok
Aren, Kebayoran Lama
Adanya pendamping yang terpadu dan Spesifik
Terpadi artinya: pendamping adalah tim yang terdiri atas, dokter,
perawat/ bidan, dan Pembina rohani.
Spesifik artinya setiap kluster/ dasa wisma di dampingi oleh tim
secara spesifik ( orangnya tetap).
Adanya pembatasan dan pentahapan program, waktu program adalah
1 s.d. 2 tahun yang terbagi dalam semester
2
Panduan Pengelolaan Bimbingan Rohani Pasien
b. Deskripsi Kegiatan
Aspek Fisik
- Pemerikasaan kesehatan bulanan bagi Ibu dan Anak balita.
- Pemeriksaan kesehatan awal bagi anggota keluarga dengan
penyakit degeneratif.
- Akses pelayanan bagi kasus emergensi.
- Deteksi dini kesus infeksi kronis.
- Deteksi dini kasus kekurangan gizi dan enemia bagi ibu hamil,
ibu menyusui, bayi dan balita.
- Gathering khusus bagi pasien dengan kasus degeneratif, difable
dan pasca gangguan mental.
Aspek Rohani
- Bimbingan ibadah wajib.
- Bimbingan membaca al-Quran.
- Bimbingan fiqh sakit.
- Bimbingan Akhlaq.
- Konseling masalah keluarga.
- Preventif terhadap kasus gangguan mental/ rohani.

c. Teknis Pelaksanaan

LKC melakukan perekrutan dan penyiapan tenaga pelaksana
program
Tenaga pelaksana program terdiri atas perawat/ bidan, Pembina
rohani ( Ustad ), dan pendamping keluarag ( relawan/ pekerja
sosial ) yang bekerja sebagai sebuah tim yang dipimpin oleh
penanggung jawab program Bina Rohani LKC. Tim ini disebut
tim pendamping.
LKC melakukan rekrutmen dan seleksi terhadap keluarga dhuafa
( member LKC ) yang akan menajdi partisipan program, kelurga
peserta di sebut keluarga partisipan program ( PP)
Partisipan program di kelompokkan menjadi 5 kluster setiap
kluster terdiri dari 20 KK, kelompok ini di sebut Klaster Dasa
Wisma ( KDW), hal ini untuk memudahkan pendampingan serta
memudahkan tumbuhnya dinamika social dalam kelompok.
Tiap kluster Dasa Wisma ( KDW ) akan didampingi oleh satu tim
pendamping yang terdiri dari 2 orang,
Teknis pelaksanaan program : Assesment, Gathering rutin
penyamaan persepsi, menumbuhkan dan pemecahan masalah
kesehatan, kunjungan rumah, implementasi program, monitoring
dan evaluasi.

e. Volume Kegiatan
Adanya penanggung jawab program BRP
Jumlah partisipan program dalam tahun ini adalah 200 KK atau
10 Klaster Dasa Wisma (KDW)
Dibutuhkannya tim pendamping sebanyak 5 tim baik
perawat/bidan, ustadz Pembina rohani, maupun pendamping
sosial

f. Indikator
Indikator keberhasilan program:
Tercapainya cek list perilaku hidup sehat pada semester akhir
program
Terbentuknya kelompok dasa wisma yang mandiri saling Bantu
memecahkan masalah kesehatan anggota keluarganya.

g. Evaluasi
Pemantauan kegiatan dilakukan dalam rakor dan laporan bulanan
program, evaluasi 6 bulanan dan evaluasi akhir
3
Panduan Pengelolaan Bimbingan Rohani Pasien
6.3.2 Bimbingan rohani bagi pasien rawat jalan dan rawat inap di LKC
a. Bimbingan Rohani Pasien Rawat Jalan:
Terdapat poli BRP setiap Selasa dan Kamis jam 08.00-10.00 WIB
Dilaksanakan oleh ustadz untuk pembinaan aspek rohani/spiritual
Dapat mendaftar langsung atau rujukan dari poli umum/spesialis.

b. Bimbingan Rohani Pasien Rawat Inap:
Dilakukan kunjungan pasien rawat inap setiap hari oleh Ustadz
pada jam 15.00-17.00
Bimbingan diberikan dalam bentuk motivasi dan pelaksanaan
ibadah (shalat) saat sedang sakit & dibuatkan status bimrohnya
Bimbingan diberikan bukan hanya pada pasien tetapi juga pada
keluarga pasien yang mendampingi di ruang rawat inap.

6.3.3 Pengajian member LKC di Masjid binaan
6.3.4 Bimbingan rohani regular di rumah sakit mitra LKC
a. Terdiri atas :
1. Bimbingan Reguler Rumah Sakit.
2. Bimbingan Khusus Pasien Gangguan Jiwa.

1. Bimbingan Reguler Rumah Sakit
Bimbingan rohani yang secara rutin diberikan kepada para pasien
yang menjalani rawat inap di rumah sakit mitra BRP secara
komprehensif meliputi:
Bimbingan pasien kondisi biasa, bimbingan pasien kondisi
terminal
Bimbingan pasien gawat darurat (high care), layanan bimbingan
anfal/sakaratul maut.

2. Bimbingan Khusus Pasien Gangguan Jiwa
Bimbingan rohani bagi pasien yang mengalami ganguan jiwa
b. Pelaksana
Dilaksanakan oleh Sahabat Pasien
Harus adanya MoU dengan pihak manajemen RS
Harus adanya format laporan pelaksanaan BRP
Melibatkan masyarakat yang peduli dan instansi sejenis lainnya
(pemerintah & swasta)
Adanya standar pelaksanaan/penanganan pasien (prognosis
bonam, dubia & malam).

c. Sahabat Pasien
Persyaratan Sahabat Pasien:
Pria/Wanita usia 23-28 tahun
Belum menikah
Mampu membaca Al Quran dengan baik
Hafal doa-doa
Berkepribadian dan berpenampilan Islami serta menarik
Komunikatif dan humanis
Sabar, mampu menginspirasi, dan memberikan motivasi
Percaya diri dan santun
Dapat menjaga amanah dan mampu mengendalikan emosi
Pendidikan perguruan tinggi ( diprioritaskan berlatar belakang
psikologi, konseling, dan agama)
Memiliki KTP dan surat keterangan baik dari RT dan RW.

d. Volunteer
BRP saat ini dilaksanakan oleh Sahabat Pasien (SP), selain itu didukung
pula oleh relawan yang berasal dari beberapa lembaga sosial, pengajian,
pribadi, maupun perguruan tinggi yang melaksanakan program magang
di BRP
4
Panduan Pengelolaan Bimbingan Rohani Pasien
6.3.5 Kunjungan rumah ( Home Care ) Sapa pasien
a. Layanan Home Care
Kunjungan ke rumah pasien untuk memberikan pembinaan rohani yang
lebih intensif.

b. Sapa Online
SAPA Online (Spiritual Patient Awareness by Online) Adalah layanan
patient care dengan layanan konsultasi agama melalui telepon.

c. Sms Tausiyah
Merupakan layanan bimbingan rohani bagi pasien yang sudah
mendapat bimbingan regular atau pada saat pasien pulang
kerumahnya
Tausiyah ini disampaikan melalui media HP menggunakan
fasilitas SMS.

d. Sasaran Home care
Sasaran pasien yang jelas : LKC saat ini pasien TB
Sapa pasien dengan telepon atau sms (untuk
donatur/mitra/masyarakat dan pasien RS).

6.3.6 Pengembangan Program
a. In House Training ( IHT ) dan Pelatihan relawan Sahabat
Pasien.

Merupakan wadah untuk meningkatkan apresiasi dan kapasitas
sahabat pasien dibidang layanan spiritual dalam memberikan
layanan prima, sekaligus sebagai media edukasi masyarakat
Melatih kemampuan terhadap share holder agar memiliki skill
yang sama dan sesuai dengan standar layanan
Sahabat pasien mengetahui urgensi memberikan bimbingan
bimbingan spiritual kepada orang yang sedang sakit
Memahami dan mengetahui tata cara melakuka bimbingan sesuai
dengan tuntunan Islam
Peserta mampu menjalankan kegiatan bimbingan rohani pasien
ditempat kerjanya masing-masing
Meningkatkan kemampuan sahabat pasien dalam memberikan
materi pada event pelatihan BRP
Bentuk kegiatan berupa : Training Of Trainer ( TOT ), Focus
Group Disccusion ( FGD ), Training Hopnotherapy.

b. Spiritual Care On Patient Training (SCOPE Training)
Sinergi BRP dengan stake holder training ini difokuskan bagi
lembaga/organisasi atau perorangan yang concern terhadap
kegiatan konseling islam,
target peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Training
dilaksanakan secara rutin 1 tahun sekali.

c. Riset dan Pengembangan.
Kompilasi literatur yang terkait erat dengan program Bimbingan Rohani
dan menjadikan salah satu disiplin ilmu yang patut dikembangkan dan
disosialisasikan ke masyarakat sekaligus mampu melibatkan partisipasi
masyarakat dalam program Bina Rohani.

Aktifitas yang dilakukan diantaranya :
1. Penerbitam Buku
2. Program Mata kuliah Biina Rohani Pasien di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
3. Penulisan buku, Skripsi dan Tesis
4. Kegiatan magang/ Praktek lapangan
5
Panduan Pengelolaan Bimbingan Rohani Pasien

MATERI BIMBINGAN ROHANI PASIEN
LPM - DOMPET DHUAFA REPUBLIKA

No Kondisi Pasien
Materi Bimbingan Rohani
Bagi Pasien Bagi Keluarga
1 Sakit Ringan Sabar Sabar
Ikhtiar Berobat Berikan Dorongan/Harapan
Berikan Harapan Kesembuhan Bantu dengan Doa
Tingkatkan Ibadah Tingkatkan Ibadah
Dzikir dan Doa Tingkatkan Iman dan Taqwa
Dzikir dan doa
2
Sakit Berat tapi masih
sadar (Terminal State) * Baik Sangka Kepada Allah * Minta Maaf
* Sabar, Tawakal * Memberi Maaf
* Minta Maaf * Berikan Dorongan/ Harapan


* Shalat (Ibadah)
Semampunya * Doakan
* Tetap Berobat + Washiat
* Istighfar, Dzikir dan Doa
3
Sakit Berat, Tidak
Sadar * Membisikan Kalimat Tauhid * Ridha dan Ikhlas
a. Pingsan * Didoakan * Ciptakan Ketenangan
b. Karena Penyakitnya * Doa Pasrah * Ajak Bersama Doa Pasrah
4 Kritis (Sakaratul Maut) * Sama Dengan diatas * Ridha, Ikhlas dan Sabar
* Jaga Kebersihan/Ketenangan
* Jangan Meratap
* Talqinkan dan doakan
5
Akan di operasi dan
Pasca Operasi * Sabar dan Tawakal * Sabar dan Tawakal

* Shalat Jama dan Qoshor
jika waktu telah masuk * Dzikir dan Berdoa
* Berdoa
* Bersyukur pasca Operasi * Bersyukur pasca Operasi
* Sujud Syukur * Sujud Syukur
6 Sembuh dengan Cacat * Ikhlas dan Sabar * Ikhlas dan sabar
* Optimis
* Berikan Dorongan agar lebih
Optimis
* Ridha, menerima Kenyataan
* Bersyukur
7 Melahirkan * Sabar dan Tawakal Berikan Dorongan/Harapan
* Mengikuti Nasihat Dokter Doa untuk Ibu dan Bayinya
Berdoa Adakan Aqiqah

Bersyukur dan berdoa untuk
Bayi
8
Melahirkan dengan
Cacat * Sabar dan Ikhlas * Sabar dan Ikhlas
* Curahkan Kasih Sayang * Curahkan Kasih Sayang
Dzikir dengan Ucapan:

Biqadarillahi wa maa syaa'a
fa'ala

Dengan takdir Allah, segala
yang dikehendaki-Nya
semuanya terjadi
9
Melahirkan tetapi
Meninggal * Pasrah dan Sabar * Pasrah dan Sabar
* Jangan Meratap * Jangan Meratap
Dzikir dengan Ucapan:

Innaa Lillaahi wa innaa ilaihi
raji'uun, Allaahumma ajirnii fii
mushiibatii wakhluflii khairan
minka

Sesungguhnya kami milik
Allah dan sesungguhnya kami
akan kembali kepada-Nya

Ya Allah berikianlah pahala
atas musibahku ini dan
berikanlah pengganti yang
lebih baik (HR. Muslim)
10 Bayi yang Sakit * Doakan si bayi Ikhtiar Berobat

* Untuk Ibu: Berikan ASI
selama 2 tahun Sabar dan Tabah
* Dzikir dan Berdoa
11 Anak -anak yang sakit Hibur dan Gembirakan Sabar dan Tabah
Doakan * Dzikir dan Berdoa
12 Percobaan Bunuh Diri * Wawancara Konseling * Wawancara Konseling
* Jangan Putus Asa * Jangan Putus Asa
* Istighfar dan bertaubat * Istighfar dan bertaubat
* Dekatkan Diri Kepada Allah * Dekatkan Diri Kepada Allah
* Bakti pada Orang tua * Shalat Tahajjud
13 Ketergantungan Obat * Wawancara Konseling * Wawancara Konseling
* Jangan Putus Asa * Jangan Putus Asa
* Istighfar dan bertaubat * Istighfar dan bertaubat
* Dekatkan Diri Kepada Allah * Dekatkan Diri Kepada Allah
* Bakti pada Orang tua * Shalat Tahajjud
14 Korban Pemerkosaan * Tabah/ Percaya Diri
* Sabar, Tabah dan Kuatkan
Iman

Putus asa, takut,
kecewa, nekat
* Tingkatkan Pemahaman
agama * Dekatkan Diri Kepada Allah
* Taubat dan Istighfar * Doa mohon Bimbingan Allah
* Dekatkan Diri Kepada Allah
* Doa Mohon Bimbingan Allah
15 Korban Pemerkosaan * Tabah/ Percaya Diri
* Sabar, Tabah dan Kuatkan
Iman
jika hamil
* Tingkatkan Pemahaman
agama * Dekatkan Diri Kepada Allah
* Taubat dan Istighfar * Doa mohon Bimbingan Allah
* Dekatkan Diri Kepada Allah
* Doa Mohon Bimbingan Allah
* Setiap anak terlahir suci
16 Gagal KB dan
* Pengertian KB Menurut
Islam * Pengertian KB Menurut Islam

Tidak menerima
Kehamilan * Terima Apa adanya * Terima Apa adanya
* Syukur dan berdoa * Syukur dan berdoa
* Dekatkan Diri Kepada Allah * Dekatkan Diri Kepada Allah
17 Mandul * Anjurkan ke Spesialis * Doakan

* Amalkan amalan Nabi
Zakaria dan Nabi Ibrahim

* Cari Pahala dengan
mengangkat anak
18 Penyakit Kelamin * Sadar/ Insaf * Bimbing dan arahkan
* Berobat * Berikan Harapan pada pasien
* Berikan harapan Sembuh * Doakan
* Pelajari agama
* Berdoa
19 Manula * Berikan harapan Sembuh
* Gembirakan/Santuni
* Mantapkan Agamanya

02) SOP Pelayanan Terhadap Peserta dan Keluarga (3) 1
SOP Pelayanan Terhadap Peserta & Keluarga


Departemen : Pengembangan Program
Bagian : Pembina Rohani
SOP : Pengajian Bulanan Peserta LKC

Alur SOP

1. Bina Rohani mengadakan pengajian bagi peserta LKC setiap 1 bulan sekali.

2. Bina Rohani menyiapkan kegiatan pengajian mulai dari :
o mengundang pembicara
o membuat pengumuman untuk peserta
o menunjuk petugas moderator
o menyiapkan daftar hadir
o konsumsi (snack)

3. Pengajian dilaksanakan sesuai jadwal dimulai dengan ;
o Membaca surat Yasin berjamaah
o Penyampaian materi pengajian
o Penutup

4. Membuat laporan kepada atasan, setiap akhir bulan

Kebijakan

1. Pelaksanaan Pengajian satu bulan sekali untuk masing-masing Kelurahan di
kecamatan Ciputat, Pamulang dan kelurahan Pondok Pinang
2. Pelaksanan pengajian bulanan dilaksanakan pada hari kerja.
3. Pembicara eksternal LKC yang telah di sepakati oleh pimpinan LKC.
4. Pembina Rohani wajib memakai seragam baju koko LKC.
5. Peserta LKC, pembicara dan Bina Rohani harus memberikan tanda tangan
dalam Daftar Hadir sebagai tanda bukti untuk laporan keuangan tiap bulan.
6. Receptionis membagikan kartu pengajian bagi peserta yang belum
mendapatkannya, guna optimalisasi kehadiran peserta di Pengajian bulanan
peserta LKC, untuk kemudian peserta di haruskan membawa kartu
pengajiannya setiap kali berobat bersama kartu anggotanya
7. Resepsionis di haruskan menanyakan kartu pengajiannya setiap kali berobat.


Bagian Terkait

1. Resepsionis
2. Pelaksana Program
3. Keuangan




02) SOP Pelayanan Terhadap Peserta dan Keluarga (3) 2
Departemen : Pengembangan Program
Bagian : Pembina Rohani
SOP : Bina Rohani Daerah Binaan


Alur SOP

1. Bina Rohani mengadakan kegiatan bina rohani untuk daerah binaan LKC yang
dikelola oleh KPK.
2. Bina Rohani mengatur bentuk kegiatan dan teknis pelaksanaannya,
berkoordinasi dengan KPK
3. Pembinaan yang di lakukan Bin-Roh adalah berupa pengajian di tiap-tiap
daerah binaan berkoordinasi dengan KPK.
4. Bina Rohani berkoordinasi dengan KPK dalam menyiapkan kegiatan pengajian
mulai dari :
o mengundang pembicara
o membuat pengumuman untuk peserta
o menunjuk petugas moderator
o menyiapkan daftar hadir
o konsumsi (snack)
5. Pengajian dilaksanakan sesuai jadwal dimulai dengan ;
a. Membaca surat Yasin berjamaah
b. Penyampaian materi pengajian
c. Penutup
6. Membuat laporan kepada atasan, setiap akhir bulan


Kebijakan

1. Pembinaan yang di lakukan Bin-Roh adalah berupa pengajian di tiap-tiap
daerah binaan berkoordinasi dengan KPK.
2. Peserta pembinaan, pembicara dan Bina Rohani harus memberikan tanda
tangan dalam Daftar Hadir sebagai tanda bukti untuk laporan keuangan tiap
bulan.


Bagian Terkait

1. Pelaksana Program












02) SOP Pelayanan Terhadap Peserta dan Keluarga (3) 3

Departemen : Pengembangan Program
Bagian : Pembina Rohani
SOP : Memberi Bantuan Transportasi Peserta LKC


Alur SOP

1. Peserta meminta bantuan biaya transportasi kepada Resepsionis,
a. Bila nilai nominalnya dibawah Rp 20.000,- , maka resepsionis bisa
langsung memberikan bantuan sesuai dengan hasil wawancara,
b. Bila lebih dari Rp 20.000,-
1. peserta harus mengajukan ke Bin-Roh
2. atau di konsultasikan lewat telepon ke Bin-Roh bila tidak ada di
tempat

2. Perawat rujukan juga bisa mengajukan bantuan biaya transportasi untuk
peserta rujukan kepada resepsionis dan atau Bin-Roh, bila nilai nominalnya
lebih dari Rp.20.000,-


Kebijakan

1. Bantuan biaya transportasi peserta di danai dari dana infaq Jum`at dan
anggaran Bin-Roh.

Bagian Terkait

1. Resepsionis
2. Perawat Rujukan





















02) SOP Pelayanan Terhadap Peserta dan Keluarga (3) 4
Departemen : Pengembangan Program
Bagian : Pembina Rohani
SOP
: Memberi Bantuan Konsumsi untuk Keluarga Pasien
IRNA dan Rujukan

Alur

1. Perawat IRNA dan rujukan meminta bantuan konsumsi pasien kepada Bin-roh
2. Bin-roh mengajukan anggaran ke keuangan, dan mengatur penyediaan
makanan tersebut.


Kebijakan

1. Bantuan konsumsi untuk keluarga pasien IRNA dan Rujukan sehari tiga kali
(sarapan pagi, makan siang dan makan malam)
2. Bantuan konsumsi setiap kali makan senilai Rp 5.000,-
3. Penanggung jawab bantuan ini adalah Pembina Rohani
4. Bantuan ini hanya diberikan kepada satu orang dari 1 (satu) keluarga pasien
berdasarkan laporan dari perawat IRNA dan perawat Rujukan


Bagian Terkait

1. Perawat IRNA
2. Perawat Rujukan
3. Keuangan























02) SOP Pelayanan Terhadap Peserta dan Keluarga (3) 5
Departemen : Operasional
Bagian : Rumah Tangga
Sub Bagian : Juru Masak
SOP : Penyediaan Makanan Bagi Keluarga Pasien

Alur SOP

1. Ada permintaan dari perawat kepada juru masak untuk menyediakan
makanan bagi keluarga pasien
2. Petugas juru masak menyarankan kepada perawat untuk menghubungi Bin-
Roh


Kebijakan

1. Juru masak tidak menyediakan makanan bagi keluarga pasien
2. Bantuan konsumsi setiap kali makan senilai Rp 5.000,-
3. Penanggung jawab bantuan ini adalah Pembina Rohani
4. Bantuan ini hanya diberikan kepada satu orang dari 1 (satu) keluarga pasien
berdasarkan laporan dari perawat IRNA dan perawat Rujukan


Bagian Terkait

1. Pembina Rohani
2. Perawat IRNA
3. Perawat Rujukan


Hasil wawancara
Nama responden : Ust. Yazid
Jabatan : Pembina Rohani Pasien
1. Apa yang dimaksud BRP ?
Bimbingan rohani pasien ya itu bimbingan rohani yang diberikan ke
pasien khususnya di LKC ini ya karena kan disini itu khusus untuk dhuafa
jadi minimnya pengetahuan tentang agama makanya disinilah perlunya
bimbingan rohani, karena ketika mereka mendapat musibah atau penyakit
mereka bingung bagaimana untuk melakukan shalat , nah dari sini kita
bimbingan agama selain itu juga memberi motivasi kepada keluarga yang
menunggu agar lebih tabah, tapi itu tadi yang lebih penting ke
rohaniahnya.
2. Apa yang menjadi tujuan didirikannya BRP di LKC ?
Hmm tujuannya yaitu Sebagai bentuk kepedulian kepada pasien yang
sedang sakit, kemudian Memberi pengertian kepada pasien dan keluarga
agar tetap bersabar dan berdoa, Memberi bimbingan khususnya rohani
kepada pasien dalam menghadapi musibah dan ujian, Memberi dorongan
kepada pasien agar tidak putus asa, Membimbing perasaan si pasien agar
tetap tenang

3. Apa yang menjadi visi misi BRP di LKC ?
Visi : meningkatkan kualitas kesembuhan pasien melalui bimbingan
spiritual

4. Bagaimana struktur organisasi BRP di LKC ?
Sebenernya dulu diLKC ada 13 orang tapi sekarang hanya single man,
hanya saya yang melakukan BRP di LKC . jadi tidak ada struktur
organisasi yang sistematis atau tersusun.
5. Ada berapa model layanan BRP yang diberikan kepada pasien di
LKC ?
Hmmm yang pertama adalah bimbingan untuk rawat inap di LKC . yaa
bimbingan aja, hmmm pendekatannya ya biasa aja, datengin perkamar kita
data, kemudian kita tanya keluhannya, bertanya tentang kabar hari ini,
perkembangannya sudah sejauh mana, nanty dari jawaban itu kan bisa di lihat
disebut positif atau secara kejiwaan. Untuk masalah jumlah pasien yang rawat
inap ga tau jumlahnya tapi untuk pasien yang harus ditangani yaitu 20 orang
perbulan. Di lkc saja makanya ketika kemaren saya bilang . dan 20 0rang itu
hanya untuk rawat inap saja. kalu rawat jalan itu temporer saja kalu ada dokter
yang butuh kita di panggil, kalau ada pasien yang butuh bimbingan kita
dipanggil atau konsul . jadi selain rawat inap yaitu pengajian bina rohani
pasien bagi member lkc yang dilakukan sebulan sekali karena dibagi menjadi
12 kelurahan yaitu kedaung, ciputat, sarua indah, pisangan, pondok pinang ,
jombang 1, jombang 2, cipayung, rengas, pondok ranji, cempaka putih. yang
rutin yaitu yang pengajian dan semua member lkc itu wajib mengikuti
pengajian sesuai dengan kelurahan masing masing adapun dalam pengajian
itu kita memberi materi 1 jam kemudian sisa waktunya untuk tanya jawab, dan
alhamdulillah respon mereka sangat senang dan antusias sekali bahkan kadang
ada yang curhat setelah pengajian itu selesai , mereka sangat senang karena
ada yang mau mendengar keluhan mereka. Bahkan ada yang minta untuk
dilakukan seminggu sekali. Adapun untuk waktu pengajian itu dimuali dari
jam 10 sampai abiz dzuhur, terus materi yang disampaikan lebih kepada
tentang pemahaman agama, dan penyuluhan kesehatan tujuan dari pengajian
member lkc ini yaitu untuk memberi pengetahuan agama kepada member
yaitu.
6. Bagaimana untuk menjadi pembina BRP LKC?
Kalu untuk saat ini belum ya , yang penting itu basic keagamaan kita saja,
gimana kita mau membimbing rohani kalu kita tidak punya basic
keagamaan yang bagus. Kalau masalah pendidikan untuk sekarang
memang belum ada standar tertentu tapi nanti mungkin akan diperlukan
orang berpendidikan untuk menjadi pembina bimbingan rohani pasien,
karena perkembangan zaman juga ya .
7. Pendekatan apa saja yang digunakan saat Bimbingan Rohani Pasien
?
Pendekatan yang dilakukan ya kita datengin per kamar kemudian kita
tanya keluhannya, kita tanya perkembangan psikisnya, kadang ada yang
semangat sekali ketika kita datang karena mereka ingin curhat atau cerita
bahkan kadang sampai setengah jam hanya menangani pasien, selain itu
ketika saya sedang melakukan bimbingan rohani pasien saya bercanda,
humor, agar mereka tidak jenuh dan bosan. Karena biar mereka juga
terkesan dengan hadirnya kita.
8. Materi apa saja yang diberikan kepadda pasien saat brp berlangsung
?
Untuk materi yang saya berikan ya pertama itu pasien agar tetap
melakukan shalat, ya paling banyak tentang agama ya, seperti ketika
mereka bingung untuk berwudhu ketika sakit harus gimana. Pokonya
tentang beribadah kepada Allah seperti shalat dan dzikir.
9. Bagaimana bimbingan yang bapak berikan kepada pasien ?
Yang pasti bimbingan agama ya, yang menyangkut ke rohani pasien, ya
itu tadi pertama datengin pasien kemudian mengucapakn salam bertanya
tentang kabar hari ini dan tentang perkebambangannya sekarang.
Kemudian dengar keluhan mereka setelah itu baru dikasih bimbingan
agama dan kemudian di doain atau berdoa untuk pasien agar psien cepat
sembuh.
10. Bagaimana keadaan pasien sebelum mendapat bimbingan ?
Mereka merasa gelisah , kurang sabar dan kurang mendekatkan diri
kepada Allah.
11. Bagaimana keadaan pasien setelah mendapat bimbingan ?
Alhamdulilah ada perubahan ya walaupun tidak ada 100% itu bisa
kelihatan dari perkembangan perilaku yang tadinya sedih dan pemurung
tapi sekarang menjadi lebih sabar.

Responden interviewee



(ust. Yazid) (indah chabibah)

















Hasil wawancara
Nama Responden : pak Iwan
Jabatan : Supervisi Program
1. Apa yang dimaksud BRP?
Bimroh adalah salah satu aktivitas yang dilakukan untuk memberikan
motivasi dorongan kepada pasien yang sedang mengalami sakit deng an
tujuan agar lebih baik dan tidak berputus asa terhadap sakit yang
dideritanya.

2. Bagaimana sejarah dan latar belakang berdirinya BRP di LKC DD
Ciputat?
Maka kornya kesehatan tahun 2008 dipindahkan ke lkc , di lkc baru ada
bimroh .. sebelumnya ada namanya ustadz muzadii beliau di bimroh lkc
terus sekarang ditambah tenaga kemudian programnya berakhir pada
2009, artinya program itudi revisi kemudian dipegang Cuma dua orang
ditambah lagi dengan satu orang yaitu ustad yazid sampai sekarang ,
sekarang brp di lpm lagi di update lagi

3. Apa yang menjadi tujuan didirikannya BRP di LKC ?
Tujuan didirikannya brp adalah :
1. Menjawab kebutuhan spiritual pasien karena dikomplementary medicine
pelengkap pengobatan itu salah satunya aspek spiritual karena orang sakit
itu 70% dipengaruhi oleh psikologis spiritual.
2. Dakwah bil haal , memang menjawab tantangan dakwAH bil haal, dakwah
di tempat pengajian kan udah umum , nah kalu ini kan dakwah di rumah
sakit artinya ketika orang itu butuh belum pernah dilakukan
3. Menjawab ketika ada bencana itu kan ada namanya recovery mental. Itu
ada perencanaan dari sisi pengawasan pengawasan psikologi dan spiritual

4. Apa yang menjadi visi misi BRP di LKC ?
Sudah saya berikan di file kemaren
5. Bagaimana struktur organisasi BRP ?
Ini juga sudah saya berikan data yang kemaren
6. Ada berapa model layanan BRP yang diberikan kepada pasien di
LKC ?
Cluster, pengajian di masjid binaan, home care (kunjungan ke rumah )
7. Bagaimana untuk menjadi pembina BRP di LKC?
Yang pertama yaitu : Pria/Wanita usia 23-28 tahun, Belum menikah,
Mampu membaca Al Quran dengan baik, Hafal doa-doa,
Berkepribadian dan berpenampilan Islami serta menarik, Komunikatif dan
humanis, Sabar, mampu menginspirasi, dan memberikan motivasi,
Percaya diri dan santun, Dapat menjaga amanah dan mampu
mengendalikan emosi, Pendidikan perguruan tinggi ( diprioritaskan
berlatar belakang psikologi, konseling, dan agama), Memiliki KTP dan
surat keterangan baik dari RT dan RW.

8. Pendekatan apa saja yang digunakan BRP saat pelaksanaan
Bimbingan kepada pasien ?
Pendekatannya beda setiap penyakit , melakukan.... yang udah dialami
kekhawatiran cemas was-was kemudian menyalahkan Tuhan tidak terima
dengan kondisi penyakitnya setelah bimbing kemudian mereka lebih sabar
yang tadinya tidak tahu , yang tadinya cemas itu akan sedikit mengurangi
rasa kecemasan karena ada rasa , ada perubahan,memang kalau secara
fisik sudah keliahatan tapi bisa jadi, meskipun yang bukan dari fisik
ketika dia lagi diam kemudian membaca istighfar, banyak perubahannya .
Cuma nanti dari dokter kedengeran dari detak jantungnya, ada dokter
husen dr dari iran spesialis penyakit dalam , pas dia deteksi pasien itu
detak jantungnya itu berdzikir Allah, Allah, Allah sampai dia kaget beda
dengan orang yang sering shalat sama orang yang belum pernah itu
termasuk detak jantungnya pun berbeda kenapa karena da was was , kalu
orang biasa yaa biasa aja.
9. Materi apa yang diberikan kepada pasien saat BRP berlangsung ?
Sudah terlampir yaa di data yang saya kasih.
10. Bagaimana bimbingan yang bapak berikan kepada pasien ?
Yaa bimbingan agama seperti yang sudah saya katakan tadi disini kita
memberikan bimbingan lebih ke rohani pasien jadi lebih kepada tentang
melakukan ibadah kepada Allah danlain sebagainya.
11. Bagaimana keadaan pasien sebelum mendapat bimbinngan?
Sebelum bimbingan mereka merasa gelisah, cemas dan ada rasa tidak
tenang takut akan kematian
12. Bagaimana keadaan pasien setelah mendapat bimbingan ?
Setelah mendapat bimbingan mereka merasa lebih tenang dan sabar bahwa
semua ini ujian dari Tuhan dan semuanya akan kembali kepada Tuhan.

Responden interviewe

(bpk. Iwan) (IndahChabibah)

Hasil wawancara
Nama : mulyati
Pasien LKC sakit mata bengkak
1. Apakah bapak/ibu sudah mendapat Bimbingan Rohani ?
Bimbingan rohani ya, iya saya sudah pernah ketika saya dirawat inap di
LKC , ada ustadz yang dateng kemudian ngasih siraman rohani gitu.
2. Sudah berapa kali Ibu/Bapak mendapat Bimbingan Rohani ?
Hmm sudah berapa kali ya, lupa saya sudah berapa kali mendapat
bimbingan, kalau ga salah sih ada 10 kali lebih yaa, karna kan waktu itu
saya pernah dibawa ke RSCM yaa , tapi disana saya belum dapetin
bimbiingan rohani, setelah saya di LKC baru ada bimbingan yang
beginian.
3. Berapa lama waktu Bimbingan Rohani?
Kalau waktu kadang itu bisa setengah jam kadang juga bisa seperempat
tergantung kondisi kitanya juga ya ka, kadang kan kalu kita mau cerita
banyak ya mereka juga bisa lama, kadang kalau misalnya kita masih istrht
yaa Cuma sebentar paling bacain doa sama nasehat nasehat gitu.
4. Bagaimana perasaan ibu setelah mendapat bimbingan ?
Perasaan saya yaa biasa aja ya, cuman saya jadi mikir kalu semuanya itu
kan bakal kembali kepada Allah ya . jadi saya ikhlas saja.
5. Bagaimana cara bapak menyikapi sakit yang bapak rasakan?
Penyakit saya ini kan sudah parah ya jadi saya juga sudah tidak tahu harus
gimana lagi yang saya bisa itu hanya ikhlasin sama Allah, saya berdzikir
terus mudah2an cepat diberi kesembuhan, dan mudah2an cobaan ini cepat
berakhir tapi saya bersyukur karena Allah berarti sedang menghapus dosa
dosa saya.
6. Apakah harapan Bapak/ibu setelah mendapat Bimbingan Rohani ?
Harapan saya si pastinya bar cepet sembuh ya, tapi kalau untuk setelah
mendapat bimbingan rohani saya berharap si bisa lebih tenang tidak
menyesali apa yang sedang menimpa sekarang ini.
7. Apakah bapak merasa lebih tenang setelah mendapat bimbingan
rohani?
Setelah mendapat bimbingan rohani saya memang merasa tenang rasanya
itu lebih sabar aja, dan menerima cobaan ini karena saya yakin Allah
sedang menguji saya, saya juga merasa terbantu dengan adanya bimbingan
rohani ini karena sudah membantu mengurangi kegelisahan dan ketakutan
saya.
8. Bagaimana rasa sakit bapak apakah sedikit berkurang setelah
mendapat bimbingan rohani?
Hmmm gimana ya ka , sakit saya itu kadang-kadang terasa sakit sekali,
biasanya saya hanya pas ah dan saya tinggal dzikir untuk mengurangi rasa
sakit saya, karena saya dibilangin sama ustadz kalau saya sedang merasa
kesakitan saya disuruh berdzikir sama Allah agar bisa mengurangi rasa
sakit saya.
9. Apakah ada perbedaan antara sebelum dan sesudah mendapat
bimbingan?
Yang saya rasakan ya ada, saya lebih sabar dan lebih percaya kalau
penyakit saya ini pasti akan sembuh, sebelum itu saya hampir berputus asa
karena penyakit saya, saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. tapi
alhamdulillah pak ustadz mengingatkan saya kalau semuanya ini pasti
akan kembali kepada yang menciptakan.
10. Apakah dengan Bimbingan Rohani Ibu/Bapak merasa lebih dekat
kepada Allah?
Kalau beribadah kepada Allah saya memang merasakan ya, saya
melakukan ibadah kepada Allah ya semampu saya, sebisa saya, kayak
misalnya masalah berwudhu dan shalat kadang saya sering tayamum
karena keterbatasan saya.















Hasil wawancara
Nama : pak wawan
Pasien LKC

1. Apakah bapak/ibu sudah mendapat Bimbingan Rohani ?
Ya saya pernah dapet .
2. Sudah berapa kali Ibu/Bapak mendapat Bimbingan Rohani ?
Sudah berapa ya kalau ga salah sih 3 kali, saya kan pertama dateng kesini
paling masih dikasih obat aja belum dapet apa itu yang namanya
bimbingan rohani, pas waktu udah lumayan lama berobat disini saya kaget
tiba-tiba ada ustadz dateng dan nanya nanya ke saya yasudah saya Cuma
diem dan dengerin.
3. Berapa lama waktu Bimbingan Rohani?
Gatahu ya berapa lama 30 menit kayaknya lah. Tapi saya seneng ketika
pak ustadz dateng dia mau dengerin cerita sama keluhan saya. Karena
semenjak saya sakit jarang yang mau dengerin keluhan saya.
4. Bagaimana perasaan bapak setelah mendapat bimbingan ?
Setelah dapet bimbingan saya merasa lebih baik ya dan sadar akan dosa-
dosa saya, heheh namanya udah tua jadi banyak dosa, saya juga merasa
sejuk , tenang dah pokoknya.
5. Bagaimana cara bapak menyikapi sakit yang bapak rasakan ?
Wah saya mah biasanya diem aja, abiz mau ngapain lagi saya juga
bingung, ya paling saya rasakan itu sakit biasanya kalo sudah minum obat
saya diemin aja.
6. Apakah harapan Bapak/ibu setelah mendapat Bimbingan Rohani ?
Ya pastinya saya pengin cepet sembuh ya, ga ada kan orang sakit terus
menerus. Sama saya merasa lebih baik lagi daripada dulu.
7. Apakah bapak merasa lebih tenang setelah mendapat bimbingan
rohani?
Yaa jujur saya merasa tenang ketika setelah dapet ceramah dari pak
ustadz, rasanya itu tenang dan lumayan lah saya jadi tambah pengetahuan
tentang agama saya
8. Bagaimana rasa sakit bapak apakah sedikit berkurang setelah
mendapat bimbingan rohani?
Seperti yang saya bilang tadi saya merasa sedikit tenang dan tidak berfikir
macem macem tentang penyakit saya, saya malah yakin kalau saya pasti
bisa sembuh, yang penting berusaha dan berdoa itu bisa membantu saya
untuk cepat sembuh.
9. Apakah ada perbedaan antara sebelum dan sesudah mendapat
bimbingan?
Ya jelas ada, sebelum dapet bimbingan kan saya hanya diem ya bingung
mau ngerjain apa, sedangkan saya hanya terbaring di tempat tidur .
yasudah saya Cuma diem saja saya juga bingung ketika mau
melaksanakan sholat harus gimana, tapi setelah dapet bimbingan saya
diarahin gimana melaksanakan shalat ketika sakit dan cara berwudhu juga,
alhamdulilah setelah itu saya mencoba mengisi waktu luang saya buat
beribadah kepada Allah.
10. Apakah dengan Bimbingan Rohani Ibu/Bapak merasa lebih dekat
kepada Allah?
Ya merasa dekat sii, kan sekarang ini saya memang mencoba untuk selalu
beribadah kepada Allah, soalnya saya tahu Allah itu pasti akan
mengabulkan doa hambanya kalau kita dekat dengan Allah, makanya saya
sekarang juga sedang mendekatkan diri kepada Allah.


















Hasil wawancara
Nama : bu yustinah
Pasien LKC (sakit lambung)

1. Apakah bapak/ibu sudah mendapat Bimbingan Rohani ?
Oh bimbingan rohani itu ya, ya saya sering saya kan aktif ikut pengajian
saya ikut mullu setiap ada pengajian, memang lkc itu bagus sekali jadi
setiap bulannya saya mengikuti pengajian yang diadakan lkc.
2. Sudah berapa kali Ibu/Bapak mendapat Bimbingan Rohani ?
wah dah berapa kali ya, kalu yang pengajian sih udah sering, tapi kalau
yang dirawat saya belum tahu tuh karena belum pernah juga kali ya,
hehehehe
3. Berapa lama waktu Bimbingan Rohani?
Biasanya sih satu jam ya kalau dipengajian .. nanti kalo sudah selesai
pengajian ada tanya jawab gitu ka, jadi misalnya yang kurang ngerti
ditanyain gitu, biasanya juga setelah pengajian itu ada cek kesehatannnya.
4. Bagaimana perasaan bapak setelah mendapat bimbingan ?
Alhamdulillah ya setelah saya ikut pengajian ini saya merasa senang saya
merasa lebih tambah pengetahuan yaaa, jadi ngerti giu mana yang baik dan
mana yang tidak, pokoknya itu lebih percaya deh sama Allah.
5. Bagaimana cara bapak menyikapi sakit yang bapak rasakan ?
Biasanya saya ke LKC terus dikasih obat, ya saya bisanya Cuma itu kan
namanya kita sakit ya jadi ya kita juga harus berusaha biar sembuh
gimana, yaa untung ada LKC ini yang membantu saya. Pokoknya LKC itu
bagus banget,semua layanan disini diberikan secara gratis semua.
6. Apakah harapan Bapak/ibu setelah mendapat Bimbingan Rohani ?
Harapan saya sih ka biar jadi lebih baik lagi, sama itu ka saya menjadi
lebih bersyukur ternyata ya ka masih banyak yang kurang beruntung. Tapi
mang begini ya ka semuanya udah diatur sama Allah.
7. Apakah bapak merasa lebih tenang setelah mendapat bimbingan
rohani?
Yaa kayak yang saya bilang tadi ka saya itu senang kalau dikasih
bimbingan rohani soalnya itu juga memotivasi saya untuk sembuh ka, kan
kadang pak ustadnya sering ngeelasin tuh yang ada di alquran
8. Bagaimana rasa sakit bapak apakah sedikit berkurang setelah
mendapat bimbingan rohani?
Ya saya tuh ka kalau sakit ga dirasain kecuali kalau pas kambuh yaa,,,
setelah saya dapet bimbingan kan jadi lebih tenang dan lebih ngerti, jd
ketika sakit saya kambuh saya coba dengan berdzikir, shalat minta sama
Allah agar disembuhkan.
9. Apakah ada perbedaan antara sebelum dan sesudah mendapat
bimbingan?
Oh jelas ada itu, ini ya ka sebelum saya dapet bimbingan rohani saya itu
orangnya suka marah, terus rada emosian apalagi kan saya sering sakit-
sakitan kan, jadi bawaaannnya itu gimana gitu ka, tapi kalau setelah dapet
bimbingan saya mah dah lebih sabar ka .. nerima cobaan ini ikhlas ka , ya
namanya juga kita lagi diuji sama Allah ya ka.
10. Apakah dengan Bimbingan Rohani Ibu/Bapak merasa lebih dekat
kepada Allah?
Alhamdulillah ka setelah dapet bimbingan rohani saya lebih ngerti tentang
shalat, sama tentang ajaran agama yang betul itu gimana , kan soalnya itu
ya ka pas pengajian bapaknya sering bilang terjemahan yang dari alquran
itu ka jadi dia itu bacain terus dari situ saya ngerti kalu didalam islam itu
memang benar ka. Jadi apa yang ada dialquran itu tidak salah .

















Hasil wawancara
Nama : herlan 15 tahun
Pasien LKC (sakit Tumor)
1. Apakah kamu sudah mendapat Bimbingan Rohani ?
Ya saya sudah pernah mendapat bimbingan rohani pas waktu saya di LKC,
saya didatengi oleh ustadz dan dia bilang kalau rasa sakit saya ini harus
disyukuri.
2. Sudah berapa kali kamu mendapat Bimbingan Rohani ?
Sudah berapa kali ya kalau ga salah baru 2 kali saya dapet bimbingan
rohani itu, waktu itu pas dua hari setelah saya berobat tiba tiba ada yang
dateng ke kamar saya kemudian ngasih bimbingan rohani gitu, dijelasin
soal shalat wudhu dan sebagainya.
3. Berapa lama waktu Bimbingan Rohani?
Biasanya sih ga lama ga sampe berjam-jam ya kalau misalnya pak ustadz
udah ngasih arahan kemudian doain saya ya terus pak ustadz pulang,
mungkin sekitar setengah jam an kali ya.
4. Bagaimana perasaan kamu setelah mendapat bimbingan ?
Perasaan saya sih awalnya biasa saja tapi lama kelamaan saya jadi sadar
kalau yang ngasig kesembuhan itu kan Allah jadi kita hanya bisa berusaha
dengan berobat, dan saya berterima kasih dengan LKC yang sudah mau
membantu saya disini, semua biaya kan ditanggung sama LKC.
5. Bagaimana cara kamu menyikapi sakit yang kamu rasakan ?
Walaupun dengan kondisi seperti ini saya justru dapat menyebut nama
Allah sebanyak mungkin untuk mengurangi rasa sakit saya
6. Apakah harapan kamu setelah mendapat Bimbingan Rohani ?
Harapan saya sih paztinya biar cepet sembuh dan bisa lebih dekat sama
Allah karena saya masih banyak dosa.
7. Apakah bapak merasa lebih tenang setelah mendapat bimbingan
rohani?
Yaa dengan adanya bimbingan rohani saya memang merasa tenang karena
ustadz ngasih tahu saya ketika saya sedang merasa kesakitan ingatlah slalu
sama Allah, minta tolong sama dia insyaAllah di ringankan sakitnya,
seperti misalnya berdzikir atau apa deh yang bisa kita lakukan untuk
mengingat Allah dan meminta kepadanya agar diberikan kesembuhan.
8. Bagaimana rasa sakit kamu apakah sedikit berkurang setelah
mendapat bimbingan rohani?
Ya saya merasakan sedikit berkurang ya, karena ketika saya sebut nama
Allah saya merasa lebih tenang dan lebih pasrah, malah saya jadi lupa
sama sakit saya.
9. Apakah ada perbedaan antara sebelum dan sesudah mendapat
bimbingan?
Yang saya rasakan sih ada ya dulu sebelum saya dapat bimbingan rohani
saya Cuma diem aja, sesekali sambil melamun memikirkan masa depan
saya gimana nasibnya, jadi saya bukannya tambah sembuh malah
kepikiran yang enggak-enggak. Tapi setelah dapet bimbingan rohani saya
merasa lebih mengerti lagi dan mencoba pasrah kepada Allah. Karena saya
yakin semua ini kan pasti ada hikmahnya bagi keluarga saya dan saya
sendiri

10. Apakah dengan Bimbingan Rohani kamu merasa lebih dekat kepada
Allah?
Ya justru dengan keadaan saya seperti ini saya jadi selalu mengingat nama
Allah, mulut saya selalu komat kamit mengucapkan nama Allah, dan saya
lebih pasrah bahwa semuanya itu juga akan kembali kepadaNya.