Anda di halaman 1dari 18

MANAJEMEN OPERASI GLOBAL

KODAK BUSINESS SYSTEMS DIVISION



Dibuat untuk memenuhi tugas Manajemen Operasi Global
Yang diberikan oleh Ibu Dr. Fitri Lukiastuti, SE. MM



Disusun Oleh :
1. Fitri Ayu (1M111685)
2. Intan Kumalasari (1M111697)
3. Karina Kurnia Rakhmawati (1M111699)
4. Miranti Verdiana (1M111712)
5. Riana Sari ( 1M111735)

STIE BANK BPD JATENG
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas rahmat dan karunianya penulis mampu menyelesaikan makalah
dengan judul Manajemen Operasi Global Kodak Business Imaging Systems
Division ini dengan baik.
Makalah ini penulis susun guna memenuhi tugas mata kuliah Manajemen
Operasi Global yang diampu oleh Ibu Dr. Fitri Lukiastuti, SE. MM. Tujuan dari
penulisan makalah ini sendiri dimaksudkan agar para mahasiswa dapat memberi
solusi terhadap studi kasus dengan objek Kodak Business Imaging Systems
Division.
Penulis berharap agar tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya serta penulis pada khususnya. Penulis menyadari bahwa dalam
menyusun makalah ini masih jauh dari sempurna. Karenanya penulis
mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun sehingga di kemudian
hari penulis mampu menyusun makalah dengan lebih baik lagi.





Penulis





DAFTAR ISI

Halaman Cover.............................................................................. i
Kata Pengantar .............................................................................. ii
Daftar Isi........................................................................................ iii
I Pendahuluan ............................................................................... iv
1.1 Latar Belakang Masalah ................................................. iv
1.2 Perumusan Masalah ........................................................ vi
II Isi .............................................................................................. vii
2.1 Landasan Teori ............................................................... vii
2.2 Pembahasan Masalah ...................................................... xiii
III Kesimpulan .............................................................................. xv
IV Daftar Pustaka .......................................................................... xvi











I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Eastman Kodak Company merupakan sebuah perusahaan
multinasional yang berbasis di Rochester, New York. Didirikan
oleh George Eastman dan Henry Strong pada tahun 1892. Perusahaan ini
menghasilkan berbagai macam produk kamera, fotografi, pencetak, dan
lain-lain. Selama abad ke-20, Kodak memegang peranan yang dominan
dan menjadi pioner dalam perkembangan fotografi film, bahkan pada
tahun 1976 menguasai 90% market di Amerika Serikat. Saat itu Kodak
terkenal dengan tagline-nya "Kodak moment".
Namun memasuki abad ke-21, perusahaan ini mulai mengalami
kemunduran dan pada 19 Januari 2012, perusahaan ini resmi mengajukan
permohonan mendapat perlindungan kepailitan. Ini berawal, sejak
diketemukannya teknologidigital fotografi, fotografi film mulai
ditinggalkan dan berdampak terhadap merosotnya kinerja Kodak
Kodak Digital merupakan teknologi yang mempunyai keterkaitan
langsung dan berkembang dari teknologi yang sama seperti ketika
berfungsi untuk merekam gambar pada televisi. Pada tahun 1951, untuk
pertama kalinya video tape recorder (VTR) mengambil gambar dari
kamera televisi, kemudian mengkonversi informasi tersebut menjadi suatu
impuls listrik (digital) dan menyimpan informasi tersebut ke dalam tape
magnetis. Seorang ahli Bing Crosby Laboratorium (tim peneliti yang
didanai oleh seorang insinyur bernama Vrosby dan dipimpin oleh John
Mullin) membuat versi awal dari VTR. Pada tahun 1956, teknologi VTR
telah disempurnakan (VR1000 yang dibuat oleh Charles P. Ginsburg dan
Ampex Corporation) dan umum dipakai oleh industri televisi. Antara
televisi/kamera video dan kamera digital yang menggunakan CCD
(Charged Couple Device)untuk mengatur warna dan intensitas cahaya.
Pada saat itu pula era kamera digital telah dimulai dengan sangat pesat.


Pada tahun 1981, Sony memperkenalkan kamera elektronik
komersil pertama mereka yang disebut Mavica. Gambar yang direkam ke
mini disc dan kemudian dimasukkan ke dalam video reader yang
terhubung ke monitor atau televisi warna. Walaupun Mavica belum dapat
dikatakan kamera digital, itu sebenarnya merupakan modifikasi kamera
video yang mengambil foto secara spontan.
Sejak pertengahan tahun 1970-an, Kodak memiliki beberapa
penemuan tentang solid-state/kejernihan untuk sensor gambar yaitu
mengubah cahaya ke gambar digital untuk penggunaan pada tingkat
profesional dan konsumen rumah tangga. Pada tahun 1886, ilmuwan
Kodak untuk pertama kalinya di dunia mengenalkan sensor megapixel,
dimana sensor ini mampu merekam 1,4 juta pixel yang dapat
menghasilkan 57 inci foto digital cetak berkualitas baik pada saat itu.
Pada tahun 1987, Kodak merilis tujuh produk untuk merekam,
menyimpan, memanipulasi, transmisi elektronik, dan mencetak sesuatu
seperti gambar suatu objek. Pada tahun 1990, Kodak mengembangkan
sistem foto CD dan mengusulkan pertama kalinya di seluruh dunia untuk
menetapkan standar warna digital dalam lingkungan komputer dan
peripheral komputer. Pada tahun 1991, Kodak merilis pertama kalinya
untuk para profesional, suatu sistem dalam pemotretan yanitu Digital
Camera System (DCS), yang bertujuan untuk photo journalist. Kamera
tersebut adalah Nikon yang dilengkapi dengan sensor 1.3 Megapixels.
Kamera digital yang pertama untuk tingkat konsumen pasar yang
bekerja dengan komputer rumah melalui USB (Unit serial Bus) adalah
kamera QuickTake 100 Aplle (17 Februari 1994), kamera Kodak DC40
(28 maret 1995), Casio QV-11 (dengan monitor LCD, akhir 1995), dan
Sony Cyber-Shot Digital Still Camera (1996). Namun, kodak memasuki
era tersebut dengan agresif kampanye pemasaran untuk memajukan DC40
dan membantu memperkenalkan gagasan digital fotografi kepada
masyarakat. Kinkos dan Microsoft bekerja sama dengan Kodak Digital
untuk membuat gambar digital yang menggunakan software di berbagai
tempat kerja dan kios foto, dimana para pelanggan diizinkan untuk
memproduksi CD foto, gambar digital, dan kemudian dapat menambahkan
ke dokumen komputer mereka. IBM bekerja sama dengan Kodak
membaut internet berbasis jaringan pertukaran gambar.
1.2 Perumusan Masalah
1. Bandingkan pendekatan Keith dan Andy dalam mengambil
keputusan untuk merelokasi perusahaan Kodak dengan yang telah
diambil oleh Kodak BISD Managers ?
2. Mengapa para manager Kodak memutuskan untuk memindahkan
lokasi perusahaan microfilm dan printer ke luar negeri ?
3. Atas analisis Keith dan Andy, mereka menyimpulkan bahwa
perusahaan Kodak tidak perlu direlokasi. Apa kami setuju ? Apa
alasannya ?
4. Apa yang akan saya rekomendasikan kepada Kodak Management
apabila saya menjadi Manager dalam perusahaan tersebut ?











II. Isi

2.1 Landasan Teori

Teori Lokasi
Teori lokasi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang menyelidiki tata
ruang (spatial order) kegiatan ekonomi. Atau dapat juga diartikan sebagai
ilmu tentang alokasi secara geografis dari sumber daya yang langka, serta
hubungannya atau pengaruhnya terhadap lokasi berbagai macam usaha
atau kegiatan lain.
Secara umum, pemilihan lokasi (Hoover dan Giarratani, 2007)
ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain :
1. Bahan baku lokal (local input);
2. Permintaan lokal (local demand);
3. Bahan baku yang dapat dipindahkan (transferred input) dan;
4. Permintaan luar (outside demand).

Von Thunen (1826) mengidentifikasi tentang perbedaan lokasi dari
berbagai kegiatan pertanian atas dasar:
1. Perbedaan sewa lahan (pertimbangan ekonomi).
2. Tingkat sewa lahan paling mahal di pusat pasar dan makin
rendah apabila makin jauh dari pasar.
3. Menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar
dengan menggunakan kurva permintaan.
4. Berdasarkan perbandingan (selisih) jenis produksi antara harga
jual dengan biaya produksi untuk membayar sewa lahan (makin
tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin
besar kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar).



Weber (1909) menganalisis tentang lokasi kegiatan industri.
Menurut teorinya pemilihan lokasi industri didasarkan atas: prinsip
minimisasi biaya; bahwa lokasi setiap industri tergantung pada total biaya
transportasi dan tenaga kerja di mana penjumlahan keduanya harus
minimum. Artinya tempat di mana total biaya transportasi dan tenaga kerja
yang minimum adalah identik dengan tingkat keuntungan yang
maksimum.

Menurut Weber ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri, sbb:
1. Biaya transportasi;
2. Upah tenaga kerja;
3. Kekuatan aglomerasi atau deaglomerasi.

Ahli-Ahli Lain Tentang Penentuan Lokasi, Sebagai Berikut:
1. Richardson (1969) mengemukakan bahwa aktivitas ekonomi atau
perusahaan cenderung untuk berlokasi pada pusat kegiatan sebagai
usaha untuk mengurangi ketidakpastian dalam keputusan yang diambil
guna meminimumkan risiko. Dalam hal ini, baik kenyamanan
(amenity) maupun keuntungan aglomerasi merupakan faktor penentu
lokasi yang penting, yang menjadi daya tarik lokasi karena aglomerasi
bagaimanapun juga menghasilkan konsentrasi industri dan aktivitas
lainnya.
2. Teori Lokasi dari August Losch melihat persoalan dari sisi permintaan
(pasar), berbeda dengan Weber yang melihat persoalan dari sisi
penawaran (produksi). Losch mengatakan bahwa lokasi penjual sangat
berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Makin
jauh dari tempat penjual, konsumen makin enggan membeli karena
biaya transportasi untuk mendatangi tempat penjual semakin mahal.
Losch cenderung menyarankan agar lokasi produksi berada di pasar
atau di dekat pasar.

3. Teori Christaller (1933) menjelaskan bagaimana susunan dari besaran
kota, jumlah kota, dan distribusinya di dalam satu wilayah. Model
Christaller ini merupakan suatu sistem geometri, di mana angka 3 yang
diterapkan secara arbiter memiliki peran yang sangat berarti dan model
ini disebut sistem K = 3. Model Christaller menjelaskan model area
perdagangan heksagonal dengan menggunakan jangkauan atau luas
pasar dari setiap komoditi yang dinamakan range dan threshold.

4. D.M. Smith memperkenalkan teori lokasi memaksimumkan laba
dengan menjelaskan konsep average cost (biaya rata-rata) dan average
revenue (penerimaan rata-rata) yang terkait dengan lokasi. Dengan
asumsi jumlah produksi adalah sama maka dapat dibuat kurva biaya
rata-rata (per unit produksi) yang bervariasi dengan lokasi. Selisih
antara average revenue dikurangi average cost adalah tertinggi maka
itulah lokasi yang memberikan keuntungan maksimal.

5. McGrone (1969) berpendapat bahwa teori lokasi dengan tujuan
memaksimumkan keuntungan sulit ditangani dalam keadaan
ketidakpastian yang tinggi dan dalam analisis dinamik.
Ketidaksempurnaan pengetahuan dan ketidakpastian biaya dan
pendapatan di masa depan pada tiap lokasi, biaya relokasi yang tinggi,
preferensi personal, dan pertimbangan lain membuat model
maksimisasi keuntungan lokasi sulit dioperasikan.

6. Menurut Isard (1956), masalah lokasi merupakan penyeimbangan
antara biaya dengan pendapatan yang dihadapkan pada suatu situasi
ketidakpastian yang berbeda-beda. Isard (1956) menekankan pada
faktor-faktor jarak, aksesibilitas, dan keuntungan aglomerasi sebagai
hal yang utama dalam pengambilan keputusan lokasi.



Model gravitasi adalah model yang paling banyak digunakan untuk
melihat besarnya daya tarik dari suatu potensi yang berada pada suatu
lokasi. Model ini sering digunakan untuk melihat kaitan potensi suatu
lokasi dan besarnya wilayah pengaruh dari potensi tersebut. Model ini
dapat digunakan untuk menentukan lokasi yang optimal.

Resiko Dari Nilai Tukar Valuta Asing Dan Biaya Modal
Resiko dari nilai tukar valuta asing dan biaya modal. Valuta asing
merupakan perubahan nilai dari suatu mata uang ke mata uang lainnya.
Suatu negara dapat menggunakan valuta asing dimiliki untuk melakukan
pembayaran pada negara lain. Valuta asing akan mempunyai suatu arti
apabila valuta tersebut dapat ditukarkan dengan valuta lainnya tanpa
pembatasan. Biaya modal merupakan biaya yang harus dikeluarkan atau
dibayar oleh perusahaan untuk mendapatkan modal yang digunakan untuk
investasi perusahaan. Dengan melakukan kegiatan di bursa valuta asing
dan di pasar modal global perusahaan memiliki resiko yang besar
diantaranya :
1. Perubahan nilai tukar mata uang yang tidak stabil yang dapat
mempengaruhi besarnya tingkat bunga yang harus dibayar, misalnya
pada awal peminjaman nilai tukar stabil sehingga tingkat bunga rendah
tapi setelah terjadi pergerakan nilai tukar (melemah) peminjam harus
membayar bunga lebih tinggi.
2. Jika terjadi gejolak ekonomi, politik, dan keamanan investor dapat tiba-
tiba menarik investasinya atau membatalkan investasinya.
3. Jika nilai tukar suatu mata uang tinggi akan mendorong terjadinya
impor dan menghambat ekspor dan sebaliknya.






Volatile Exchange Rates Can Put Operations at Risk by Donald R.
Lessard and John B. Lightstone
Sebagian besar eksekutif senior memahami bahwa nilai tukar yang
berubah dapat mempengaruhi nilai dolar aset perusahaan mereka dan
kewajiban moneter dalam mata uang asing. Tidak banyak, bagaimanapun,
memahami bahwa nilai tukar dapat memiliki dampak serius pada laba
usaha. Beberapa perusahaan telah diberi tanggung jawab manajer untuk
mengawasi eksposur operasi ini. Namun demikian, operasi paparan sering
menjadi penyebab besar variabilitas laba usaha dari tahun ke tahun, dan
banyak keputusan tergantung pada pemahaman yang baik tentang itu.
Dalam jangka panjang, manajer harus mempertimbangkan operasi
pemaparan menyusun strategi dan perencanaan produk di seluruh dunia.
Dalam jangka pendek, pemahaman paparan operasi sering akan
meningkatkan operasi keputusan. Selain itu, evaluasi unit bisnis dan
manajer perusahaan harus terjadi setelah efek nilai tukar telah
diperhitungkan karena mereka berada di luar kendali manajemen.
Paparan Operasi menjadi lebih penting karena beberapa alasan.
Kurs lebih berfluktuasi di dunia tingkat bunga mengambang dikelola
daripada selama periode ekspansi AS di ekonomi internasional. Semakin
banyak, negara-negara yang mengikuti kebijakan moneter yang berbeda.
Pada saat yang sama, pasar menjadi lebih global. Amerika Serikat tidak
lagi memiliki 70% atau 80% pangsa pasar dunia dalam industri kunci,
tetapi pasar saham lebih sama dengan Eropa dan Jepang.
Karena perubahan ini, nilai tukar terhadap laba operasi perusahaan
dalam industri berdaya saing global, apakah mereka mengekspor produk
mereka. Bahkan, perubahan nilai tukar seringkali dapat mempengaruhi
laba usaha perusahaan yang tidak memiliki operasi di luar negeri atau
ekspor tetapi menghadapi persaingan asing penting dalam pasar domestik
mereka.


Dengan memahami perilaku jangka panjang dan jangka pendek
nilai tukar, kita dapat mengerti bagaimana mereka mempengaruhi laba
usaha. Dalam jangka panjang, perubahan kurs mata uang nominal dolar-
mata uang asing cenderung hampir sama dengan perbedaan antara AS dan
tingkat inflasi asing dalam harga barang yang diperdagangkan. Jika tingkat
inflasi AS adalah 4% lebih tinggi dari Jerman sepanjang tahun, tanda
deutsche akan cenderung memperkuat sekitar 4% terhadap dolar.
Hubungan jangka panjang antara nilai tukar dan tingkat harga-biasanya
disebut paritas daya beli (PPP)-menunjukkan bahwa perubahan daya saing
antar negara, yang dinyatakan akan timbul karena tingkat inflasi yang
tidak sama, cenderung diimbangi oleh perubahan yang sesuai pada nilai
tukar. Dalam jangka pendek dari enam bulan sampai beberapa tahun,
bagaimanapun, nilai tukar yang tidak stabil dan sangat mempengaruhi
daya saing perusahaan yang menjual ke pasar yang sama tetapi
mendapatkan bahan-bahan dan tenaga kerja dari berbagai negara.
Perubahan jangka pendek dalam hasil daya saing relatif dari
perubahan kurs nominal yang tidak diimbangi oleh perbedaan dalam
tingkat inflasi di kedua negara. Jika tanda deutsche memperkuat 4%
terhadap dolar dan tingkat inflasi Jerman adalah 1%, eksportir AS ke pasar
Jerman dilayani terutama oleh produsen Jerman akan melihat naik nya
harga dolar 5%. Namun, jika tingkat inflasi di Amerika Serikat adalah 4%,
atau 3% lebih tinggi dari tingkat inflasi Jerman, margin operasi dari
produsen AS akan naik hanya satu persen.
Contoh ini menunjukkan bahwa perubahan daya saing relatif tidak
tergantung pada perubahan-nominal tingkat jumlah tanda deutsche tukar
diperoleh untuk setiap dolar-tetapi pada perubahan nilai tukar riil, yang
perubahan kurs nominal minus perbedaan tingkat inflasi di kedua negara.
Dengan demikian, dalam hal eksportir AS untuk Jerman, perubahan kurs
nominal adalah 4% tetapi perubahan kurs riil (yang kemudian
mempengaruhi laba operasi) hanya 1%.

Karena perubahan nilai tukar riil mencerminkan penyimpangan
dari PPP, selama jangka waktu yang lama perubahan kumulatif dalam nilai
tukar riil cenderung lebih kecil daripada nilai tukar nominal. Volatilitas
nilai tukar riil dalam jangka waktu enam bulan sampai beberapa tahun,
bagaimanapun, menyebabkan variabilitas berlebihan dalam operasi marjin.

Ketidakpastian, Kontrak, Dan Fleksibilitas Tingkat Upah
Aliran kuantitas yang menggunakan dasar teori klasik
mengasumsikan bahwa situasi yang dihadapi masyarakat adalah pasti dan
pasar tenaga kerja yang bekerja sempurna. Dengan pasar tenaga kerja yang
sempurna, proses tatonementakan menjamin terbentuknya keseimbangan
dan kestabilan tingkat upah, serta kepastian masa depan. Model
keseimbangan umum Walras yang memakai dasar teori klasik
mengasumsikan hal yang sama. Ini berarti terdapat implikasi bahwa proses
transaksi tidak akan terjadi sampai keseimbangan tercapai. Friedman
secara eksplisit menyatakan bahwa teori moneternya didasarkan pada
persamaan-persamaan keseimbangan umum dari Walras dan juga
menyatakan bahwa semua antisipasi akan menjadi kenyataan pada jangka
panjang.
Keynes sebaliknya, menyatakan bahwa uang penting karena
menjembatani masa sekarang dan masa mendatang.Hal tersebut hanya
dapat berlaku apabila terdapat ikatan-ikatan kontrak dalam satuan uang
yang kontinu sepanjang waktu.Keinginan orang untuk memegang uang
sebagai bentuk kekayaan menunjukkan adanya ketidakpercayaan seratus
persen terhadap perkiraan-perkiraan dan perhitungan masa
mendatang.Artinya terdapat ketidakpastian yang selalu terjadi dan tidak
dapat dihindari.
Keynes menyatakan bahwa bila keadaan dunia selalu dipenuhi
kepastian, dan semua harapan serta antisipasi masyarakat selalu terwujud,
orang tidak perlu memegang uang karena tidak rasional. Uang dalam
situasi seperti yang diasumsikan oleh kaum klasik merupakan suatu jenis
aset yang memberikan jasa berupa likuiditas yang lebih kecil dibandingkan
dengan biaya memegangnya, jadi return memegang uang adalah negatif,
yang tidak mungkin terjadi.

2.2 Pembahasan Masalah

1. Menurut Andrew Bartmess dan Keith Cerny, terdapat lima kriteria
untuk menilai kebutuhan akan relokasi :
a. Complexity
b. Required level of interaction
c. Similarity of background and expertise
d. Requirement of a prior relationship
e. Concreteness of Information

Faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi pabrik antara lain:
1. Lingkungan masyarakat
2. Kedekatan dengan pasar
3. Tenaga kerja
4. Kedekatan dengan bahan mentah dari pemasok
5. Fasilitas dan biaya transportasi
6. Sumberdaya alam lainnya

Hambatan dalam pemilihan lokasi:
1. Lokasi sulit mendapatkan tenaga kerja
2. Lokasi dengan harga tanah murah, tetapi kondisinya jelek
sehingga perlu biaya mahal untuk membuat pondasi
3. Lokasi diluar kota dengan harga murah, tetapi fasilitas prasarana
jalan dan saran transportasi belum dibangun
4. Lokasi di sekitar pemukiman dan sulit membuang limbah.



2. Relokasi pabrik ini dianggap penting sebagai usaha untuk menekan
biaya produksi
3. Iya kami setuju bahwa pabrik Kodak Microfilm dan Printers tetap
berada di Rochester, New York karena Keunggulan Rochester
sebagai pemilihan lokasi pabrik ini salah satunya adalah karena
sejak awal berdirinya, Kodak sudah didirikan di Amerika Serikat.
Oleh karena itu, Kodak sudah mengetahui dengan pasti mengenai
aturan upah tenaga kerja, pajak, serta tidak perlu memikirkan
tentang ketidakpastian nilai tukar lantaran masih sama-sama
menggunakan mata uang USD.
4. Jika kami sebagai Manajer Kodak, kami setuju terhadap pendapat
Andrew dan Keith tersebut. Dikarenakan jika harus merelokasi
pabrik, akan diperlukan biaya yang cukup besar untuk
pembangunan pabrik baru beserta pemindahan peralatan-peralatan.
Dengan tetap berada di Rochester, perusahaan tidak perlu
memikirkan mengenai perbedaan tingkat nilai tukar.















III. Kesimpulan

Menurut kami Kodak merupakan perusahaan multinasional yaitu
perusahaan yang berusaha di banyak negara dan perusahaannya sangat
besar. Perusahaan ini memiliki kantor-kantor, pabrik, dan kantor cabang di
banyak negara. Yakni Kodak ada di beberapa negara AS, Taiwan, dan
Australia. Dan perusahaan ini memiliki kantor pusat, dimana untuk
mengkoordinasi manajemen global, Kodak sendiri kantor pusatnya di
Rochester, New York. Perusahaan ini menggunakan strategi relokasi
untuk mengembangkan industri.
Menurut kelompok kami, Kodak Microfilm and Printers tidak perlu
merelokasi pabrikya, karena hal itu nanti akan berdampak pada :
1. Industri kecil yang berhubungan dengan industri yang dipindahkan akan
terkena dampak yang merugikan sehingga menjadi lambat berkembang.
2. pekerjaan semakin berkurang karena adanya pemindahan lokasi pabrik
tanpa disertai pemindahan pekerja/buruh/pegawai/karyawan.
3. Pendapatan negara maju tersebut akan berkurang.
4. Meningkatkan tingkat pengangguran di negara tersebut.
















IV. Daftar Pustaka

Ike Nurcahyono.2009. Pemiihan Lokasi Sekolah Sekolah Dasar
Dengan Mempertimbangkan Jarak Tempuh Calon Siswa Dan Jumlah
Sekolah Yang Ideal Sekecamatan Pejagoan Kebumen. Surakarta.
http://eprints.uns.ac.id/8022/1/144331308201009391.pdf

Eastman Kodak Company.2007. Tersedia di
http://en.wikipedia.org/wiki/Eastman_Kodak