Anda di halaman 1dari 117

STEREOTIP SUKU MANDAR DI KOTA MAKASSAR ( STUDI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA SUKU BUGIS DAN SUKU MANDAR

OLEH:

AHMAD RIZANDY R

E 311 08 261

STEREOTIP SUKU MANDAR DI KOTA MAKASSAR ( STUDI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA SUKU BUGIS DAN SUKU MANDAR OLEH:

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pada Jurusan Ilmu Komunikasi Program Studi Public Relations

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HASANUDDIN

2012

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Skripsi

: Stereotip Suku Mandar di Kota Makassar (Studi Komunikasi Antarbudaya suku Bugis dan suku Mandar )

Nama Mahasiswa

: Ahmad Rizandy R

Nomor Pokok

: E31108274

Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing.

Makassar, 04 Oktober 2012

 

Menyetujui

Pembibing I

Pembimbing II

Das‟ad Latif,S.Sos,S.Ag.M.Si

Dr. H. Muhammad Farid, M.Si NIP: 196107161987021001

NIP:197312212006041002

 

Mengetahui

Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Dr. H. Muhammad Farid, M.Si NIP: 196107161987021001

HALAMAN PENERIMAAN TIM EVALUASI

Telah diterima oleh Tim Evaluasi Skripsi Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Hasanuddin untuk memenuhi sebagian syarat-syarat guna

memperoleh gelar kesarjanaan dalam Jurusan Ilmu Komunikasi Program Studi

Public Relations Pada Hari Rabu, Tanggal 28 November 2012.

Makassar, 28 Agustus 2012

TIM EVALUASI

Ketua

: DR. H. Muhammad Farid, M.Si

(…………………)

Sekretaris

: Das‟ad Latif, S. Sos, S.Sag, M.Si

(…

...

…………….)

Anggota

: 1. Drs. Abdul Gafar, M.Si

(…

...

…………….)

  • 2. DR. Jeanny Maria Fatimah, M.Si

(…

...

…………….)

  • 3. Drs. Kahar. M. Hum

(…

...

…………….)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat, karunia dan kemudahan serta ridha-Nya, sehingga

skripsi ini dapat terselesaikan meski penulis mengalami beberapa hambatan.

Tak lupa penulis mengucapkan shalawat dan salam kepada junjungan Nabi

Muhammad SAW.

Penulitian yang berjudul “Stereotip suku Mandar di kota Makassar

(Studi Komunikasi Antarbudaya suku Bugis dan suku Mandar)” diharapkan

dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam memahami dan menghargai

perbedaan dalam melakukan komunikasi antarbudaya khususnya pada

perbedaan budaya, karena perbedaan itu sendiri bukanlah hambatan dalam

melakukan komunikasi melainkan rahmat yang diberikan olleh Allah SWT

kepada kita.

Proses penyusunan skripsi ini melibatkan berbagai pihak yang memberi

dukungan berupa fasilitas, dukungan materil, moril, dan doa. Oleh karena itu

penulis mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan kepada

  • 1. Ibunda tercinta (salmah) dan ayahanda (Abd Rahman) , penulis banggakan Kak Rudi, Serly, Siska, Ilham, adik Dyna, David dan keluarga besar yang telah memberikan dukungan dan doa sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

  • 2. Bapak Dr. Muhammad Farid, M.Si selaku pembimbing I dan Das‟ad Latif, S.Sos,S.Ag,Msi selaku pembimbing II yang telah

memberikan bimbingan, pengarahan, dan saran hingga penulisan

skripsi ini terselesaikan.

  • 3. Bapak Dr. Muhammad Farid, M.Si selaku ketua jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin.

  • 4. Bapak Drs. Sudirman Karnay, Msi selaku sekertaris jurusan ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.

  • 5. Bapak-bapak dan Ibu-ibu dosen ilmu komunikasi yang telah memberikan ilmu dan keteladanan.

  • 6. Pegawai dan staf-staf di akademik dan jurusan ilmu komunikasi yang telah banyak membantu.

  • 7. Masyarakat kelurahan Lette RW V terkhusus kepada Mira yang telah membantu, mengenalkan pada warga selama di lokasi penelitian.

  • 8. Sahabat-sahabatku di Jurusan Ilmu Komuniksai 08 : Zulhidayat dan Zulfikar, Baso, Akil, Mifda dan seluruh teman-teman di jurusan komunikasi.

  • 9. Teman-temanku chenry, Arif, Adnan, Takdir dan Asrul terima kasih atas dukungan dan bantuannya.

10. Saudara-saudaraku yang ada di UKM Silat FISIP UNHAS.

Semoga allah swt senantiasa memberikan karunia dan perlindungan

kepada kita semua, mengingat penulis masih perlu banyak belajar, maka

dengan kerendahan hati meminta kesediaan pembaca untuk meminta

tanggapan dan masukan bilamana dalam penyelesaian skripsi ini terdapat

kesalahan dan kekeliruan. Besar harapan penulis agar skripsi ini bisa menjadi

sebuah referensi ataupun literatur yang dapat meningkatkan potensi, wawasan

dan pengetahuan mahasiswa ilmu komuniasi kususnya komunikasi

antarbudaya.

Makassar, 24 November 2012

P E N U L I S

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Stereotip Suku Mandar Di Kota Makassar (Studi Komunikasi Antarbudaya suku Bugis dan suku Mandar)”.(Dibimbing oleh Muhammad Farid dan Das‟ad Latif).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stereotip yang berkembang dalam komunikasi antarbudaya warga suku Bugis terhadap suku Mandar. Selain itu, penilitian ini juga bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stereotip suku Bugis terhadap suku Mandar di kota Makassar. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan serta melakukan wawancara mendalam dengan unit analisis warga Bugis yang ditentukan melalui Purposive sampling yakni menentukan secara sengaja unit analisis dengan menggunakan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa stereotip yang berkembang terhadap suku Mandar di kota Makassar hampir sama. Dari stereotip-stereotip yang ada pada unit analisis semuanya berkembang dan mengarah pada stereotip yang positif walaupun ada satu unit analisis yang memiliki stereotip negatif terhadap suku Mandar. Kemudian dari unit-unit analisis juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi stereotip terhadap suku Mandar adalah lingkungan sosial, persepsi, interaksi langsung, dan unsur kebudayaan (kepercayaan, nilai, sikap dan lembaga sosial).

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

HALAMAN PENERIMAAN TIM EVALUASI ............................................

iii

KATA PENGANTAR .....................................................................................

iv

ABSTRAK

vii

DAFTAR ISI

viii

DAFTAR GAMBAR

xi

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................

1

  • A. Latar Belakang Masalah ......................................................

1

  • B. Rumusan Masalah ................................................................

7

  • C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ..........................................

7

  • D. Kerangka Konseptual ..........................................................

8

  • E. Definisi Operasional

12

  • F. Metode Penelitian

14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA................................................................

18

 
  • A. Pengertian Komunikasi ......................................................

18

  • B. Fungsi Komunikasi ..............................................................

20

  • C. Komunikasi sebagai proses sosial

.....................................

21

  • D. Budaya .................................................................................

22

  • E. Komunikasi Antarbudaya ....................................................

26

  • F. Stereotip dan Prasangka .......................................................

31

  • G. Persepsi .................................................................................

37

  • H. Teori Interaksi Simbolik .......................................................

39

  • I. Konflik ..................................................................................

41

  • J. Nilai-nilai Suku Bugis ..........................................................

42

  • K. Nilai-nilai Suku Mandar .......................................................

45

BAB III

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN .........................

50

  • A. Keadaan Geografis kelurahan Lette.....................................

50

  • B. Keadaan Demografi kelurahan Lette ...................................

50

  • C. Keadaan Sosialbudaya kelurahan Lette ..............................

53

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...........................

55

  • A. Hasil Penelitian .................................................................

55

  • B. Pembahasan .......................................................................

77

BAB V

PENUTUP ....................................................................................

94

B.

Saran .......................................................................................

95

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keanekaragaman suku bangsa merupakan masalah global, hampir

seluruh negara di dunia memiliki keanekaragaman suku, etnis dan agama.

Keanekaragaman tersebut tentunya ditandai dengan keberagaman

kebubudyaan antara satu dengan yang lain. Hal tersebut dapat dilihat dari

perbedaan tatanan pengetahuan, bahasa, pengalaman, kepercayaan, nilai,

sikap, dan konsep tentang alam semesta.

Kebudayaan yang dimiliki oleh suku, etnis, dan agama turut

mempengaruhi gaya komunikasi sehingga perbedaan budaya dapat menjadi

sebuah rintangan dalam berinteraksi satu sama lain. Sebagaimana

dikemukakan Cangara (2008:156) bahwa terdapat rintangan budaya yang

menjadi gangguan dalam berkomunikasi dimana rintangan budaya yang

dimaksud adalah rintangan yang terjadi disebabkan adanya perbedaan norma,

kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pihak-pihak yang terlibat dalam

berkomunikasi.

Keanekaragaman masyarakat (masyarakat majemuk) adalah hal yang

dihargai pada masyarakat Indonesia karena masyarakat Indonesia sendiri

terdiri dari berbagai macam suku, etnis dan agama.Wilodati (2012) secara

rinci menggambarkan kemajemukan masyarakat Indonesia dari berbagai sisi:

Pertama, hubungan kekerabatan, hubungan kekerabatan ini merujuk pada

pada ikatan dasar hubungan darah (keturunan) yang dapat ditelusuri

berdasarkan garis keturunan ayah, ibu atau keduanya. Kedua, ras dapat

dibedakan dengan ciri-ciri fisik orang lain (rambut, kulit dan bentuk muka).

Ketiga, daerah asal merupakan tempat asal orang lahir yang akan memberikan

ciri tertentu apabila yang bersangkutan berada di tempat lain seperti dialek

yang digunakan, anggota organisasi yang bersifat kedaerahan serta prilaku.

Keempat, menggunakan bahasa sukunya masing-masing. Kelima, agama

yang dianut Indonesia yang berbeda-beda.

Masyarakat majemuk yang hidup bersama dalam satu wilayah terdiri

dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda tentunya sangat rentan

dengan konflik antar kelompok. Konflik kelompok di Indonesia, seperti

konflik SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) sudah menjadi

konsekuensi dalam hidup bermasyarakat majemuk, karena hal tersebut bisa

terjadi kapan saja dengan membawa identitas kelompok. Konflik SARA

biasanya terjadi ketika antar kelompok tidak dapat saling memahami budaya

masing-masing dan merasa budayanyalah yang lebih unggul dibanding yang

lain (etnosentrisme).

Konflik kelompok dalam masyarakat majemuk mengindikasikan

bahwa terdapat kegagalan dalam komunikasi antarbudaya. Komunikasi yang

dimaksud menurut Stewart dalam Djuarsa dan Sunarwinardi (2008:277)

adalah komunikasi yang terjadi dalam satu kondisi yang menunjukan adanya

perbedaan budaya seperti bahasa, nilai, adat dan kebiasaan. Keberhasilan

komunikasi antarbudaya dapat dijelaskan dalam prespektif The 5 Invetable

Laws of Effective Communication (Lima Hukum Komunikasi Efektif)

meliputi: Respect, Empathy, Audible, Clarity, dan Humble disingkat REACH.

Hal ini relevan dengan prinsip komunikasi sosial budaya yaitu sebagai upaya

meraih perhatian, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon

positif dari orang lain (Suranto, 2010:194).

Stereotip-stereotip terhadap suku, etnis dan agama tertentu merupakan

hambatan dalam membangun sebuah komunikasi antarbudaya yang efektif.

Lippman dalam Mariah (2007:62) menggambarkan stereotip sebagai

“Pictures in our headsbahwa tidak melihat dulu lalu mendefinisikan,

mendefinisikan dulu kemudian melihat, kita diberitahu dunia sebelum

melihatnya dan membayangkan kebanyakan hal sebelum mengalaminya. Dari

penjelasan ini kita dapat mengetahui bahwa stereotip dapat menjadi

penghambat dalam proses komunikasi karena stereotip dapat menimbulkan

penilaian negatif antar suku dan etnis.

Stereotip itu sendiri terbentuk oleh kategori sosial yang merupakan

upaya individu untuk memahami lingkungan sosialnya. Dengan kata lain,

ketika individu menghadapi sekian banyak orang di sekitarnya, individu akan

mencari persamaan-persamaan antara sejumlah orang tertentu dan

mengelompokkan mereka kedalam satu kategori. Namun pada gilirannya

kategori sosial ini justru mempengaruhi cara pandang seseorang yang sudah

dimasukkan kedalam kelompok tersebut. Akibatnya timbul kesalahan-

kesalahan dalam melakukan persepsi sosial karena seluruh individu dalam

kategori sosial tertentu mempunyai sifat-sifat dari kelompoknya.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa bangsa Indonesia adalah

bangsa multikultur terdiri dari banyak suku dan etnik tentunya akan mudah

menimbulkan stereotip antaretnik dan suku. Stereotip ini dapat menjadi

pemicu konflik jika stereotip tidak sesuai dengan kebenaran yang ada atau

salah dalam mempersepsi terhadap kelompok lain. Oleh karena itu

kesalapahaman yang ditimbulkan oleh stereotip harus senantiasa dihilangkan

dalam aktifitas komunikasi antarbudaya.

Keberhasilan komunikasi antarbudaya juga sangat diperlukan bagi

masyarakat yang mendiami kota-kota besar di Indonesia. Tingginya tingkat

perpindahan penduduk dari desa ke kota, ketergantungan ekonomi dan

mobilitas antar negara menjadikan kota sebagai tempat yang didiami berbagai

latarbelakang budaya yang berbeda. Kesalapahaman antarbudaya yang

ditimbulkan oleh stereotip bisa saja terjadi dalam hidup bermasyarakat di

kota-kota besar jika anggota masyarakat tidak dapat memahami satu sama

lain mengenai budaya kelompok lain.

Salah satu kota besar yang terdapat di Indonesia yang saat ini

mengalami perkembangan pesat adalah kota Makassar, terletak dibagian

timur Indonesia yang sekaligus merupakan Ibu kota Provinsi Sulawesi

Selatan. Kota Makassar sejak abad XV sudah menjadi kota Niaga yang

memiliki peranan penting di Asia Tenggara adanya hubungan dangan kota-

kota dagang lainnya seperti Siam, Pegu, Malaka, Aceh, Cina dan Arab

sebagai bukti bahwa kota Makassar adalah sebuah kota yang besar sekaligus

menandakan bahwa kota Makassar sudah menjadi kota multikultur.

Sampai saat ini pun kota Makassar masih menjadi primadona bagi

masyarakat lokal maupun mancanegara. Sebagai pusat ekonomi, hiburan dan

pendidikan, tentunya hal tersebut menjadi daya tarik kelompok masyarakat

tersebut untuk menetap di kota Makassar. Tak heran jika kota Makassar

didiami bebagai macam etnis, suku dan agama yang berbeda dan ini dapat

dilihat dengan adanya perkempungan etnis atau suku tertentu yang ada di kota

Makassar seperti kampung Cina, kampung Toraja, kampung Mandar.

Adanya pemikiran etnosentrisme, stereotip dan prasangka negatif

yang masih berkembang sampai saat ini dapat menjadi potensi pemicu

terjadinya konflik antar kelompok etnis dan suku di kota Makassar. Seperti

halnya rentetan konflik yang pernah terjadi contohnya konflik pada tahun

1997 melibatkan etnik Bugis-Makassar dan Cina, kemudian tawuran antar

mahasiswa berbeda suku yang kerap terjadi dan terakhir konflik mahasiswa

Bone dan Palopo pada tanggal 29 oktober 2011 adalah gambaran nyata

bahwa konflik antar kelompok suku dan etnis sangat rentan di kota Makassar

sebagai kota yang bermasyarakat majemuk.

Di Sulawesi Selatan terdapat beberapa etnis dan suku, tetapi ada

empat suku besar yang sekaligus mendiami kota Makassar yakni Makassar,

Bugis, Toraja dan Mandar. Dari literatur-literatur sejarah Sulawesi Selatan

bahwa sejak zaman kerajaan, keempat suku tersebut sudah memiliki

hubungan satu sama lain baik dari aspek perdagangan, politik, dan budaya.

Oleh karena itu keempat suku tersebut memiliki beberapa persamaan dari

aspek budaya dan sampai saat ini keempat suku tersebut memilik ikatan

persaudaraan yang kuat sebagai suku besar yang mendiami Sulawesi

Selatan.

Suku Mandar sendiri dulunya menjadi bagian dari Sulawesi Selatan,

tetapi pada tahun 2006 daerah suku Mandar terpisah dari Sulawesi Selatan

menjadi sebuah provinsi tersendiri dibagian barat Sulawesi, tetapi suku

Mandar yang sudah bermukim di kota Makassar masih tetap menjadi

bagian dari masyarakat kota Makassar. Ini terbukti dengan adanya sebuah

perkampungan Mandar yang bagi masyarakat kota Makassar mengenalnya

“Kampung Mandar” daerah ini berada di Jalan Rajawali kelurahan Lette

kecamatan Mariso kota Makassar, penghuni daerah ini adalah mayoritas

suku Mandar.

Salah satu contoh stereotip yang berkembang bagi suku-suku yang ada

di Sulawesi Selatan adalah stereotip terhadap suku Mandar. Selain suku

Mandar diakaui sebagai pelaut ulung yang hanya dengan perahu “Sandeq”

dapat mengarungi lautan luas, diketahui juga bahwa suku Mandar adalah

suku yang banyak memiliki “Ilmu sihir” atau bagi masyarakat Sulawesi

Selatan mengenalnya dengan istilah “Doti”. “Pelembekan kepalaterhadap

lawan yang ingin disengsarakan adalah jenis doti yang dimiliki suku

Mandar dan menjadi cerita yang lazim terdengar dan di takuti di Sulawesi

Selatan (Ngeljaratan dalam http:/sebuah-refleksi-kritis-tentang-mandar).

Berkembangnya stereotip tersebut bisa menjadi potensi yang

menghambat dalam komunikasi antarbudaya Suku Mandar dengan suku

Bugis maupun dengan suku lainnya khususnya ketika mereka berada dalam

linkungan masyarakat Kota Makassar. Stereotip tersebut bisa saja menjadi

penilaian negatif terhadap suku Mandar sehingga dikawatirkan akan

mengarah pada sikap dan perilaku negatif terhadap suku mandar. Selain itu

apabila kebenaran akan stereotip tersebut benar-benar terjadi tentunya

tuduhan akan secara langsung tertuju pada suku Mandar yang belum tentu

suku Mandar yang melakukan sehingga menimbulkan kesalahpahaman.

Berdasarkan asumsi tersebut maka penulis ingin meneliti mengenai

stereotip tersebut dengan judul penelitian:

Stereotip Suku Mandar di Kota Makassar (Studi Komunikasi

Antarbudaya suku Bugis dan suku Mandar)

B. Rumusan Masalah

Untuk memudahkan dalam pelaksanaan penelitian, permasalahan

yang diteliti dibatasi sesuai dengan topik yang diteliti. Adapun permasalahan

yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah

stereotip

yang

berkembang

pada

suku

Bugis

terhadap suku Mandar di kota Makassar?

2. Faktor-faktor

apa

yang

mempengaruhi

stereotip

suku

Bugis

terhadap suku Mandar di kota Makassar?

  • C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

    • 1. Tujuan Penelitian

      • 1. Untuk mengetahui stereotip yang berkembang pada suku Bugis terhadap suku Mandar di kota Makassar.

      • 2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stereotip suku Bugis terhadap suku Mandar di kota Makassar.

  • 2. Kegunaan Penelitian

    • 1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan keilmuan khususnya pada kajian komunikasi antarbudaya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar

informasi untuk mengajukan saran dan rekomendasi kepada

pihak lain yang ingin melakukan penelitian lanjutan

D. Kerangka Konseptual

Rich dalam Djuarsa & Sunarwinardi (2008) komunikasi antarbuadaya

terjadi apabila diantara orang-orang yang berbeda kebudayaannya dan

Stereotip merupakan hambatan dalam melakukan komunikasi secara efektif

antara orang yang berlainan budaya karena stereotip merupakan keyakinan

seseorang untuk menggeneralisasi sifat-sifat tertentu yang cenderung negatif

tentang orang lain karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman

bersama, Jhonson dalam liliweri (2005:209).

Menurut Tajfel dalam Gudykunst (1992:91) stereotip dibedakan

menjadi stereotip individu dan stereotip sosial, sebagaimana diketahui

stereotip merupakan generalisasi yang dilakukan seseorang individu dengan

menarik kesimpulan atas karakter orang lain melalui proses kategori yang

bersifat kognitif (berdasarkan pengalaman individu) adalah stereotip individu.

Sedangkan stereotip sosial terjadi manakala stereotip itu telah menjadi

evaluasi terhadap kelompok tertentu dan telah meluas dan menyebar pada

kelompok lain. Stereotip ini hanya bisa menjadi sebuah stereotip sosial jika

mereka dimiliki atau didasarkan oleh sebagian besar dari orang yang ada

dalam kelompok sosial.

Sama halnya dengan isu yang berkembang pada suku Mandar di kota

Makassar yang dianggap sebagai suku yang memiliki banyak ilmu sihir atau

“doti” adalah evaluasi yang telah meluas dan menyebar pada suku lain. Miles

dan Brown dalam liliweri (2005:208) mengemukakan tiga aspek esensial dari

stereotip:

1. Acap

kali

keberadaan

individu

dalam

suatu

kelompok

telah

dikategorisasi

dan

kategorisasi

itu

selalu

terindifikasi

dengan

mudah melalui karakter tertentu misalnya, perilaku dan kebiasaan

bertindak.

2. Stereotip bersumber dari bentuk atau sifat perilaku turun temurun,

sehingga seolah-olah melekat pada semua anggota kelompok.

3. Karena itu, individu yang merupakan anggota kelompok

diasumsikan memiliki karakteristik, ciri khas kebiasaan bertindak

yang sama dengan kelompok yang digeneralisasi itu.

Stereotip yang berkembang tentunya akan menghambat proses

komunikasi antarbudaya. Stereotip akan menimbulkan prasangka dan

prasangka ini selanjutnya merupakan dasar atau pendorong dari terjadinya

perilaku terbuka (diskriminasi). Apabila stereotip suku Bugis mengenai ilmu

sihir atau “doti” yang dimiliki suku Mandar adalah prasangka yang

cenderung kearah prasangka negatif maka tentunya akan berdampak pada

sikap yang ditunjukkan seperti tidak menyukai, penghindaran diri sampai

pada diskriminasi.

Sebagaimana dalam Djuarsa & Sunarwinardi (2008) bahwa stereotip

merupakan kerangka berpikir yang berada pada tataran kognitif atau

pengetahuan maka stereotip muncul karena dipelajari dari berbagai cara.

Pertama, orangtua, saudara atau siapa saja yang berinteraksi dengan kita.

Kecenderungan untuk mengembangkan stereotip ini melalui pengalaman

orang lain, terutama bila kita tidak mengetahui atau kurang memiliki

pengalaman bergaul dengan anggota-anggota dari kelompok yang dikenai

stereotip. Kedua, dari pengalaman pribadi. Setelah berinteraksi satu atau dua

orang kelompok budaya (suku, etnik, ras) kita kemudian melakukan

generalisasi tentang sifat atau karakteristik yang dimiliki oleh kelompok

tersebut. Begitu kesan kelompok tersebut terbentuk maka kecenderungan kita

selalu mencari sifat atau karakteristik tersebut dalam setiap perjumpaan

dengan anggota kelompok tersebut. Ketiga, dari media massa seperti surat

kabar, majalah, film, radio, televisi, buku Kita dapat mempelajari stereotip

mengenai suatu kelompok dari penyajian pesan atau informasi yang

disampaikan media massa.

Masih dalam Djuarsa & Sunarwinardi (2008), Secara umum bahwa

stereotip memiliki empat dimensi yakni:

  • 1. Arah (direction), yakni menunjuk pada arah penilaian, apakah positif atau negatif, misalnya disenangi atau dibenci.

  • 2. Intensitas, yaitu menunjuk pada seberapa kuatnya keyakinan dari suatu stereotip.

  • 3. Ketepatan, artinya ada stereotip

yang

betul-betul

tidak

menggabarkan kebenaran, atau sebagian tidak benar.

  • 4. Isi khusus, yaitu sifat-sifat khusus mengenai suatu kelompok. Stereotip mengenai suatu kelompok dapat berbeda-beda artinya stereotip dapat berubah dari waktu ke waktu.

Teori interaksi simbolik yang dipopulerkan Mead dalam West dan

Tunner (2008:99) dengan asumsi bahwa manusia bertindak terhadap manusia

lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka, makna

diciptakan dari hasil interaksi antar manusia melalui proses persepsi.

Suku Bugis memiliki stereotip terhadap suku Mandar bahwa suku

Mandar memiliki ilmu sihir “Doti” yang dapat melembekkan kepala.

Pemaknaan terhadap kepemilikan “Doti“ ini bisa saja berwujud pada

keraguan untuk berkomunikasi dalam berinteraksi. Stereotip ini bisa saja

berubah tergantung sejauh mana pemaknaan terhadap stereotip tersebut,

dalam teori ini individu memiliki peluang untuk mempersepsi lingkungan

sekitarnya. Dalam hal ini pemaknaan adalah hasil persepsi yang dipengaruhi

oleh diri individu masing-masing.

Teori interaksi simbolik yang dipopulerkan Mead dalam West dan Tunner (2008:99) dengan asumsi bahwa manusia bertindak
STEREOTIP SUKU BUGIS Dimensi Stereotip 1. Arah (direction) 2. Intensitas 3. Ketepatan
STEREOTIP
SUKU BUGIS
Dimensi Stereotip
1.
Arah (direction)
2.
Intensitas
3.
Ketepatan
FAKTOR PEMBENTUK STEREOTIP: 1. PENGALAMAN PRIBADI 2. INFORMASI ORANG TERDEKAT
FAKTOR PEMBENTUK
STEREOTIP:
1.
PENGALAMAN
PRIBADI
2.
INFORMASI
ORANG TERDEKAT

SUKU MANDAR

Gambar I: Model Kerangka Konseptual Penelitian

E. Defenisi Operasional

  • 1. Suku Bugis adalah warga keturunan suku Bugis asli yang berdomisili di kota Makassar.

  • 2. Suku Mandar adalah warga keturunan suku Mandar asli yang berdomisili di kota Makassar.

  • 3. Stereotip adalah pengetahuan atau keyakinan suku Bugis terhadap suku Mandar yang mengarah pada penilaian yang kaku dan cenderung kearah negatif.

  • 4. Arah (direction) adalah menunjuk pada arah penilaian suku Bugis terhadap suku Mandar, baik positif atau negatif. Misalnya disenangi atau dibenci.

  • 5. Intensitas adalah menunjuk pada seberapa kuatnya keyakinan suku Bugis terhadap stereotip yang berkembang.

  • 6. Ketepatan adalah tingkat akurasi yang menggambarkan benar tidaknya stereotip yang berkembang terhadap suku Mandar.

  • 7. Isi khusus adalah sifat-sifat khusus yang distereotipkan terhadap suku Mandar, dalam penelitian ini sifat khusus tersebut adalah “doti” yang dapat berubah dari waktu ke waktu.

8. Pengalaman pribadi adalah faktor pembentuk stereotip suku Bugis

yang dilatarbelakangi pengalaman pribadi yang pernah dialami

sehingga dapat menguatkan atau melemahkan stereotip.

9. Informasi orang terdekat adalah pembentuk stereotip suku Bugis

terhadap suku Mandar yang berasal dari teman atupun keluarga.

10. Media massa adalah saluran yang digunakan oleh suku Bugis dalam

memperoleh tentang stereotip terhadap suku Mandar, sumber tersebut

adalah surat kabar, majalah, film, radio, televisi, buku.

F. Metode Penelitian

  • 1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Lette Kecamatan Mariso

Kota Makassar selama empat bulan yaitu bulan April hingga Juli 2012.

Alasan memilih kelurahan Lette sebagai fokus lokasi penelitian adalah

karena di lokasi tersebut mayoritas penduduknya adalah kelompok

masyarakat yang menjadi objek penelitian yaitu suku Bugis dan suku

Mandar. Tentunya antara suku Bugis dan suku Mandar memiliki

intensitas interaksi yang baik sehingga diantara kedua suku tersebut

memiliki pengetahuan tentang suku satu sama lain.

  • 2. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif

dengan objek suku Bugis yang menetap di kota Makassar memiliki

stereotip terhadap suku Mandar. Pendekatan kualitatif digunakan untuk

memahami interaksi sosial serta dengan metode wawancara mendalam,

maka diharapkan ditemukan pola-pola hubungan yang meggambarkan

stereotip berkembang dan faktor-faktor yang mempengaruhi (Sugiono,

2010:24).

  • 3. Teknik Penentuan Informan

Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan secara

purposive sampling yakni menentukan sendiri secara sengaja informan

dengan menentukan kriteria sebagai berikut:

  • 1. Suku Bugis yang menetap di Kota Makassar

  • 2. Memiliki stereotip terhadap suku Mandar

  • 3. Asli keturunan suku Bugis

  • 4. Berinteraksi dengan suku Mandar minimal 5 tahun

Dengan kriteria tersebut maka peneliti menentukan lima orang dari

suku Bugis mewakili populasi sebagai informan.

  • 4. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data secara menyeluruh dan intergratif yang

terkait dengan tujuan penelitian, paling tidak menggunakan tiga teknik

pengumpulan data penelitian kualitatif yaitu observasi, wawancara

mendalam dan dokumentasi.

  • a. Observasi

Observasi yang dilakukan dengan mengamati secara langsung

tanpa mediator sesuatu objek untuk melihat kegiatan yang dilakukan

oleh objek yang diteliti tujuannya adalah untuk melihat interaksi

langsung yang terjadi dan mengetahui fenomena yang tidak

diperoleh melalui teknik wawancara.

b. Wawancara mendalam

Berger dalam Kriyantono (2007:96) wawancara adalah

percakapan antara periset (seseorang yang mendapatkan informasi)

dan informan (seseorang yang diasumsikan mempunyai informasi

penting tentang suatu objek. Pada teknik pengumpulan data ini

dilakukan dengan bertatap muka dengan informan secara intensif

dengan menggunakan pedoman wawancara guna mendapatkan data

yang lengkap dan mendalam.

  • c. Dokumentasi

Pengumpulan data melalui dokumentasi dilakukan dengan

mengumpulkan data berupa tulisan, dokumen, gambar ataupun karya

tulis akademik guna pelengkap dari observasi dan wawancara.

Berdasarkan sumbernya, peneliti mengumpulkan data melalui:

1.

Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber data

pertama atau tangan pertama dilapangan. Hasil wawancara dan

observasi merupakan data primer yang akan diperoleh sebelum

ataupun pada saat penelitian berlangsung, hasil data tersebut bisa

diperoleh dari hasil wawancara berdasarkan pengalaman individu

sebagai objek opnelitian, mengenai yang dialami warga suku Mandar

dan Bugis dalam berinteraksi atau yang disebut data individu.

  • 2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua

atau sumber sekunder. Data ini dapat berupa data teks yakni berupa

penelitian sebelumnya, catatan, berita surat kabar, gambar. Dalam

penelitian ini peneliti memperoleh data sekunder melalu situs web

http:/// sebuah-refleksi-kritis-tentang-mandar. Diakses pada tanggal

3 januari 2012 pukul 20.20 WITA.

5. Teknik Analisis Data

Untuk menganalisis data penelitian ini akan digunakan analisis data

model interaktif Milles dan Huberman yaitu terdapat tiga proses yang

belangsung secara interaktif. Pertama, reduksi data, yaitu proses memilih

memfokuskan, menyederhanakan, dan mengabtraksikan data dari

berbagai sumber data misalnya dari catatan lapangan, dokumen, arsip dan

sebagainya, sedangkan proses mempertegas, memperpendek membuang

yang tidak perlu menentukan fokus dan mengatur data sehingga

kesimpulan bisa dibuat. Kedua, Penyajian data, seperti merakit data dan

menyajikan dengan baik supaya lebih mudah dipahami, penyajian bisa

berupa matrik, gambar, skema, jaringan kerja, tabel dan narasi. Ketiga,

menarik kesimpulan/verifikasi, proses penarikan kesimpulan awal harus

kuat dan terbuka, kesimpulan akhir dilakukakn setelah pengumpulan data

berakhir (Sugiyono 2010:246).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  • A. Pengertian Komunikasi

Komunikasi pada awalnya dikenal sebagai alat untuk menghubungkan

antara manusia satu dengan yang lainnya, komunikasi tidak dianggap sebagai

sesuatu yang harus diberi perhatian atau menjadi satu kajian disiplin ilmu.

Namun sejak pada abad V Masehi, di Yunani berkembang istilah retorika

yang khusus mengkaji pernyataan manusia. Retorika diartikan sebagai seni

berpidato dan seni berbahasa yang digunakan untuk mempengaruhi dan

menggugah orang-orang. Pada perkembangan ini komunikasi masih diartikan

sebagai percakapan dan penyampaian gagasan antar manusia secara lisan

dengan bertatap muka.

Seiring dengan perkembangan zaman komunikasi terus berkembang,

komunikasi bukan hanya sekedar menyampaikan gagasan secara lisan

melainkan berkembang dalam bentuk tulisan. Hal tersebut ditandai dengan

adanya gagasan untuk menuliskan informasi yang dianggap penting oleh

kaisar Romawi Julius Caesar (100-44 SM) dalam sebuah papan pengumuman

(acta diurnal). Selanjutnya dengan adanya Penemuan kertas, mesin cetak dan

terbitnya surat kabar kemudian penemuan radio, film, televisi studi

komunikasi semakin berkembang.

Terkait dengan komunikasi sebagai landasan dasar manusia dalam

menyampaikan gagasan, ide, dan perasaannya, maka dengan hal tersebut

manusia dapat memahami satu sama lain serta mampu mewariskan

pengetahuannya ke genarasi selanjutnya. Sedangkan dalam konteks yang

lebih luas khususnya dalam hidup bermasyarakat, komunikasi menjadi hal

yang sangat dibutuhkan ketika terjadi permasalahan dalam masyarakat,

karena permasalah tersebut akan diselesaikan dengan perundingan maupun

berdiskusi. Sedengkan disisi lain komunikasi dapat menjadi pemicu dari

sebuah permasalahan jika komunikasi tidak dilakukan secara efektif.

Kata atau istilah “komunikasi” bahasa Inggris communication berasal

dari bahasa latin communicates atau communicare yang berarti “berbagi” atau

“menjadi milik bersama”. Dengan demikian bahwa komunikasi mengacu

pada suatu upaya yang bertujuan untuk mencapai kebersamaan.

Berbagai defenisi telah dikemukakan oleh para ahli dalam Suranto

(2010:2) diantaranya:

Komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima, dengan bantuan pesan; pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima (Wilbur Schramm,1955)

Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam (D. Lawrence Kincaid, 1981)

Komunikasi sebagai suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa, sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respon dari pikirannya yang

serupa

dengan

yang

dimaksudkan

(Raymond S. Ross, 1983)

oleh

sang komunikator

Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu, mengandung arti, dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada penerima pesan. (Edward Depari, 1990)

  • B. Fungsi komunikasi

Dalam kajian ilmu komunikasi banyak ahli mengemukakan

pendapatnya tentang fungsi komunikasi. Salah satu diantaranya Harold D.

Lasswell dalam Cangara (2008:2) menyebut tiga fungsi dasar penyebab

manusia berkomunikasi yakni sebagai berikut:

Pertama, adalah hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya. Melalui komunikasi antar manusia dapat mengetahui peluang-peluang yang ada untuk dimanfaatkan, dipelihara dan menghindar pada hal-hal yang mengancam alam sekitarnya. Melalui komunikasi antar manusia dapat mengetahui suatu kejadian atau peristiwa. Bahkan melalui komunikasi manusia dapat mengembangkan pengetahuannya, yakni belajar dari pengalamannya, maupun melalui informasi yang mereka terima dari lingkungan sekitarnya. Kedua, adalah upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Proses kelanjutan suatu masyarakat sesungguhnya tergantung bagaimana masyrakat itu beradaptasi dengan lingkungannya. Penyesuaian ini bukan saja terletak pada kemampuan manusia memberi tanggapan terhadap gejala seperti banjir, gempa bumi dan musim yang mempengaruhi perilaku manusia, tetapi juga lingkungan masyarakat tempat manusia hidup dalam tantangan.Dalam lingkungan penyusuaian, agar manusia dapat hidup dalam suasana harmonis. Ketiga, upaya untuk melakukan transformasi warisan sosialisasi. Suatu masyarakat yang ingin memperthankan keberadaannya, maka anggota masyarakatnya dituntut untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peran. Misalnya bagaimana orang tua mengajarkan tatakrama bermasyarakat yang baik kepada anak-anaknya.

Rudolph dalam Elvinaro & Bambang (2007:3) mengemukakan bahwa

komunikasi itu memiliki dua fungsi: Pertama, fungsi sosial yakni untuk

tujuan kesenangan, untuk menunjukkan ikatan dengan orang lain,

membangun dan memilihara hubungan. Kedua,fungsi pengambilan

keputusan, yaitu memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu

pada saat tertentu. Sebagian keputusan ini dibuat sendiri dan sebagian lagi

dibuat setelah berkonsultasi dengan orang lain.

  • C. Komunikasi sebagai proses sosial

Dalam proses sosial, komunikasi menjadi alat dalam melakukan

perubahan sosial (social change). Komunikasi berperan menjembatani

perbedaan dalam masyarakat karena mampu merekatkan sistem sosial

masyarakat dalam usahanya melakuakan perubahan. Oleh karean itu untuk

memahami komunikasi sebagai proses sosial maka komunikasi harus

dipandang dalam dua aspek yakni secara sosial dan komunikasi sebagai

proses. Komunikasi diartikan secara sosial jika komunikasi selalu melibatkan

dua atau lebih orang yang berinteraksi dengan berbagai niat dan kemampuan,

sedangkan komunikasi sebagai proses jika komunikasi bersifat

berkesinambungan.

Menurut Nurudin (2008:47) bahwa komunikasi sebagai proses sosial

di masyarakat memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:

1. Komunikasi menghubungkan antar berbagai komponen

masyarakat. Komponen disini tidak hanya individu dan masyarakat

saja, melainkan juga berbagai bentuk lembaga sosial seperti pers,

asosiasi, organisasi desa.

2.

Komunikasi membuka peradaban. Menurut Koentjraningrat

(1997), istilah peradaban dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-

unsur dari kebudayaan yang halus dan indah, seperti kesenian, ilmu

pengetahuan serta sopan santun dan sistem pergaulan yang

kompleks dalam suatu struktur masyarakat yang kompleks pula.

  • 3. Komunikasi adalah manifestasi kontrol sosial dalam masyarakat. Berbagai nilai (Value), Norma (Norm), peran (Role), cara (Usage), kebiasaan (folkways), tatakelakuan (Mores) dan adat (Customs) dalam masyarakat yang mengalami penyimpangan (Deviasi) akan dikontrol dengan komunikasi baik melalui bahasa lisan, sikap apatis atau perilaku nonverbal individu.

  • 4. Tanpa bisa diingkari komunikasi berperan dalam sosialisasi nilai ke masyarakat. Bagaimana sebuah norma kesopanan disosialisasikan kepada kegenerasi muda dengan contoh perilaku orang tua (nonverbal) atau dengn pernyataan nasehat langsung (verbal).

  • 5. Individu berkomunikasi dengan orang lain menunjukkan jati diri kemanusiaannya. Seseorang akan diketahui jati dirinya sebagai manusia karena menggunakan komunikasi, itu juga berarti komunikasi menunjukkan identitas seseorang.

D. Budaya

D.1 Pengertian Budaya

Kata “kebudayaan” berasal dari bahasa Sangsekerta buddhayah

yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang berarti budi atau akal.

Adapun istilah Culture yang merupakan istilah asing yang juga memiliki

kesamaan arti dengan kata Latin “colore” yang berarti sebagai daya dan

kegiatan manusia mengolah dan mengubah alam (Soerjono Soekanto

2007:150).

Para pakar anthropology dalam Keesing (1999:150) memberikan

defenisi budaya sebagai berikut:

Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat, istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat (Tylor 1871)

Keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu (Linton 1940)

Semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, dan nonrasional yang pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia (Kluchohn dan Kelly 1945)

Keseluruhan realisasi gerak, kebiasaan, tata cara, gagasan, dan nilai-nilai yang dipelajari dan diwariskan dan perilaku yang ditimbulkannya (Kroeber 1948)

Pola, eksplisit dan implisit, tentang dan untuk perilaku yang dipelajari dan diwariskan melalui simbol-simbol, yang merupakan

prestasi khas manusia, termasuk perwujudannya dalam benda- benda budaya (Kroeber dan Kluckhohn 1952)

Berdasarkan beberapa defenisi diatas maka dapat disimpulkan

bahwa budaya adalah himpunan pengalaman dan pengetahuan yang

dipelajari kemudian mengacu pada pola-pola perilaku yang ditularkan

secara sosial sehingga menjadi kekhususan dan pedoman hidup bagi

kelompok sosial tertentu.

D.2 Wujud dan Unsur kebudayaan

Menurut Koentjaraningrat dalam Tri (1998:32) budaya paling

tidak memiliki tiga wujud. Pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu

kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan,

dan sebagainya. Kedua, wujud kebudayaan sebagai tindakan berpola dari

manusia dalam masyarakat. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-

benda hasil karya manusia.

Adapun unsur kebudayaan yang bersifat universal yang dapat

dilihat dari setiap kebudayaan:

1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia sehari-hari

2. Sistem

mata

pencaharian

dan

sistem

ekonomi

misalnya

pertanian, peternakan, sistem produksi

3. Sistem

kemasyarakatan

misalnya

sistem

perkawinan,

kekerabatan dan sistem warisan

4.

Bahasa sebagai media komunikasi baik lisan maupun tulisan

  • 5. Ilmu pengetahuan

  • 6. Kesenian

  • 7. Sistem religi atau kepercayaan

D.3 Karakteristik kebuadayaan

Murdrock dalam Mattulada (1997:2) mengemukakan karakteristik

kebudayaan yaitu:

1. Kebudayaan dipelajari, kebiasaan, keterampilan, nilai, dan

pengetahuan yang mendukung suatu kebudayaan diperoleh

sepanjang hidup, bukan dipindahkan atau diperoleh secara

genetik. Kebudayaan diperoleh dari keluarga dan kelompok

sosial lainnya melalui imitasi, saran, instruksi formal dan

informal atau komunikasi massa.

2. Kebudayaan dipindahkan. Meskipun seluruh binatang mampu

belajar, hanya manusia yang mampu memindahkan yang mereka

peroleh dari lingkungan dan pengalamannya kepada anak

cucunya melalau media bahasa.

3. Kebudayaan adalah produk masyarakat. Kebudayaan dihasilkan

dari interksi manusia dalam kelompok yang menghasilkan

seperangkat pengetahuan, kebiasaan dan harapan-harapan.

Pengetahuan dan kebiasaan itu dibagi, dimiliki oleh anggota

kelompok dan dijaga melalui seperangkat sanksi sosial.

  • 4. Kebudayaan itu ideal. Dalam kebudayaan terdapat kebiasaan- kebiasaan yang dipandang sebagai pola tingkah laku ideal yang diharapkan untuk diikuti oleh setiap anggota.

  • 5. Kebudayaan memberi kepuasan. Kebudayaan mempunyai tugas untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan biologis dan sosiokultur manusia.Kebutuhan biologis seperti kebutuhan akan makanan, perumahan, dan sex. Kebutuhan untuk dihargai, dicintai dan kebutuhan akan pendidikan merupakan kebutuhkan yang bersifat sosiokultur.

    • 6. Kebudayaan itu adaptif. Seluruh kebudayaan itu selalu berubah dan perubahan ini merupakan penyusuaian terhadap lingkungan. Perubahan itu dapat terjadi karena adanya penemuan baru atau pinjaman budaya. Penerimaan tergantung pada keterbuakaan masyarakat terhadap ide baru, kesesuaian dengan apa yang masyarakat miliki dan keuntungan relatif yang diberikan oleh setiap perubahan.

    • 7. Kebudayaan itu integratif. Anggota-anggota kelompok yang memiliki kebudayaan merasa saling berhubungan dan menjaga nilai-nilai yang terdapat dalam kebudayaan itu dengan baik.

Mereka saling bersatu dalam menghadapi ancaman dari luar

terhadap kelangsungan hidup kebudayaannya.

  • E. Komunikasi Antarbudaya E.1 Pengertian Komunikasi Antarbudaya

Komunikasi antarbudaya merupakan perluasan dari komunikasi

antarmanusia seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi organisasi, dan

komunikasi massa. Dalam hal ini komunikasi antarbudaya terdapat dalam

jenis-jenis komunikasi tersebut, penekanannya ada pada perbedaan

kebudayaan yang dimiliki antara pengirim dan penerima pesan.

Dalam perkembangannya komunikasi antarbudaya telah banyak

didefinisikan oleh para ahli, beberapa diantaranya yang dikutip dari

Suranto (2010:32) sebagai berikut:

Komunikasi antarbudaya adalah seni untuk memahami dan dipahami oleh khalayak yang memiliki kebudayaan lain (sitaram,

1970)

Komunikasi bersifat budaya apabila terjadi di antara orang-orang yang berbeda budayanya (Rich, 1974)

Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi dalam suatu kondisi yang menunjukkan adanya perbedaan budaya seperti bahasa, nilai-nilai, adat-adat, kebiasaan (Stewart, 1974)

Komunikasi antarbudaya menunjuk pada suatu fenomena komunikasi dimana para pesertanya memiliki latar belakang budaya yang berbeda terlibat dalam satu kontak antara satu dengan yang lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung (Young Yung Kim, 1984)

Komunikasi dan kebudayaan memiliki keterkaitan satu sama lain,

kebudayaan yang dimiliki oleh kelompok diwariskan melalui komunikasi.

Sebagaimana fungsi komunikasi adalah sebagai upaya untuk melakukan

transformasi warisan sosial. Dalam hal tersebut masyarakat yang ingin

memperthankan keberadaannya, maka anggota masyarakatnya dituntut

untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peran melalui komunikasi.

Perlu dipahami bahwa komunikasi semakin efekif dikarenakan

adanya kemiripan latar belakang sosialbudaya seperti yang diungkapkan

Mulyana (2000:107):

Dalam kenyataannya, tidak pernah ada dua manusia yang persis sama, meskipun mereka kembar yang dilahirkan dan diasuh dalam keluarga yang sama, diberi makanan yang sama dan dididik dengan cara yang sama. Namun kesamaan dalam hal-hal tertentu, misalnya agama, ras (suku), bahasa, tingkat pendidikan, atau tingkat ekonomi akan mendorong orang-orang untuk saling tertarik dan pada gilirannya karena kesamaan tersebut komunikasi mereka menjadi lebih efektif.

E.2 Unsur Kebudayaan Yang Terdapat Dalam Komunikasi

Antarbudaya

Semavor dalam Djuarsa & Ilya (2008:290) membagi berbagai

aspek kebudayaan kedalam tiga pembagian besar unsur-unsur sosial

budaya yang secara langsung sangat mempengaruhi penciptaan makna

yang selanjutanya menentukan perilaku komunikasi. Unsur -unsur tersebut

yakni keyakinan, nilai dan sikap, pandangan hidup mengenai dunia,

organisasi sosial.

Unsur-unsur keyakinan, nilai dan sikap memiliki pengaruh yang

sangat besar dalam proses komunikasi antarbudaya yaitu sebagai

penyaring yang menentukan informasi atau pesan apa yang perlu

diperhatikan dan dihindari. Dalam penentuan tersebut bisa dikatakan

bahwa terjadi proses penyeleksian yang melibatkan peranan persepsi,

dalam arti bahwa suatu kelompok budaya melihat sesuatu dengan

prespektif budaya mereka sendiri dan ini timbul dari pengalaman budaya

yang diwariskan yakni yang mereka percaya dan dianggap baik.

Unsur lain seperti pandangan hidup mengenai dunia turut

mempengaruhi kepercayaan nilai dan sikap yang mempengaruhi perilaku

dalam berkomunikasi karena berkaitan dengan orientasi, pandangan hidup

manusia terhadap makhluk dan masalah-masalah mengenai Tuhan dan

alam semesta bisa dikatakan bahwa ini adalah unsur sistem kepercayaan

dalam kebudayaan.

Unsur budaya terakhir yang berkaitan dengan komunikasi

antarbudaya adalah organisasi sosial. Merupakan upaya kelompok budaya

mengorganisasi kelompoknya serta pengaruh organisasi sosial terhadap

anggotanya dalam mempersepsi dunia. Misalnya saja lembaga pendidikan

sebagai organisasi sosial yang kita dapatkan memiliki pengaruh besar

terhadap cara pandang kita terhadap dunia termasuk informasi,

pengetahuan dan keterampilan. Dengan adanya pengetahuan yang

didapatkan dari organisasi sosial yang membentuk identitas kebudayaan

tentunya akan terlihat pada perilaku komunikasi ketika terjadi komunikasi

yang berbeda latar belakang budaya.

Ketiga unsur budaya tersebut semuanya berpengaruh langsung

terhadap persepsi, artinya komunikasi antarbudaya dapat dipahami sebagai

perbedaan budaya dalam mempersepsi objek-objek sosial. Hambatan

dalam komunikasi antarbudaya terjadi ketika pengirim dan penerima pesan

yang berbeda latar belakang budaya tidak dapat memahami budaya

masing-masing khususnya perbedaan persepsi terhadap fenomena sosial.

E.3 Model Komunikasi Antarbudaya

Inti dari komunikasi antarbudaya adalah pengirim dan penerima

pesan berasal dari kelompok budaya yang berbeda. Itu artinya bahwa suatu

pesan akan diterima dalam suatu budaya dan akan direspon kembali dalam

budaya lain yang sesuai dengan budaya si penerima pesan.

Pengaruh budaya atas komunikator dalam mengirim pesan dan

merespon pesan terlukis dalam model komunikasi antar budaya sebagai

berikut:

Gambar II: Model komunikasi antarbudaya Porter & Samovar (1998) Sumber: Sihabuddin (2011:22) 1. Budaya A dan

Gambar II: Model komunikasi antarbudaya Porter & Samovar (1998)

Sumber: Sihabuddin (2011:22)

  • 1. Budaya A dan B relatif serupa diwakili oleh gambar A dan B yang relatif hampir serupa.

  • 2. Budaya C sangat berbeda dari budaya A dan B. Perbedaannya tampak pada bentuknya dan jarak fisiknya dari budaya A dan
    B.

Proses

komunikasi

antarbudaya

dilukiskan

oleh

arah

gambar

panah-panah yang menghubungkan antarbudaya:

1. Pesan mengandung makna yang dikehendaki oleh komunikator

2. Pesan mengalami suatu perubahan dalam arti pengaruh budaya

si penerima pesan atau komunikan.

3. Makna pesan berubah selama fase penerimaan atau respon balik

dalam komunikasi antarbudaya karena makna yang dimiliki

komunikator

tidak

mengandung

budaya

yang

sama

dengan

komunikan.

  • F. Stereotip dan Prasangka

Komunikasi antarbudaya cenderung mengalami kemudahan jika

pelaku komunikasi yang berlainan budaya memiliki derajat persamaan dalam

persepsi, sebaliknya jika terdapat kesulitan dalam persamaan persepsi maka

komunikasi yang berlangsung tidak akan efektif dan menimbulkan

kecenderungan untuk menguatkan akan perbedaan kelompok.

Dari perbedaan dan persamaan persepsi tersebut maka kelompok

kebudayaan berfikir mengenai kelompok lain, menyimpan dan

mengintegrasikan informasi kelompok lain dan kemudian menggunakan

informasi untuk menarik kesimpulan atau melakukan penilaian.

Terkadang juga suatu kelompok memiliki interaksi yang terbatas

dengan kelompok lain, kelompok tersebut dapat memberikan penggambaran

tentang kelompok lain. Hal ini diakibatkan adanya pengatahuan atau

informasi dasar yang dimiliki oleh kelompok, penggambaran tersebut

cenderung kearah penilaian sosial walaupun karakter yang digambarkan

hanya dimiliki oleh seorang anggota kelompok dan kemudian

digeneralisasikan secara keseluruhan.

Penggambaran tersebut merupakan aktifitas stereotip yang diartikan

sebagai keyakinan suatu kelompok terhadap kelompok budaya tertentu,

anggota kelompok memiliki karakteristik yang sama dan sekaligus menjadi

kerangka berpikir yang sangat mempengaruhi pemprosesan informasi yang

datang.

Menurut Judd, Ryan & Parke dalam Byrne (2003:230) stereotip yaitu

kerangka berpikir kognitif yang terdiri dari pengetahuan dan keyakinan

tentang kelompok sosial tertentu dan karaktek tertentu yang mungkin dimiliki

oleh orang yang menjadi anggota kelompok.

Sedangkan menurut Sternberg (383:2008) Stereotip adalah keyakinan

bahwa anggota-anggota kelompok sosial cenderung memiliki jenis-jenis sifat

yang kurang lebih seragam.

Masih menurut Dunning dan Sherman dalam Byrne (2003:231)

mendeskripsikan stereotip sebagai penjara kesimpulan (inferential prisons),

ketika stereotip telah terbentuk, stereotip membangun persepsi kita terhadap

orang lain, sehingga informasi baru tentang orang akan diintepretasikan

sebagai penguatan terhadap stereotip bahkan hal yang diketahui tidak terjadi.

Menurut Baron dan Paulus dalam Mulyana (2000:220) stereotip

terjadi karena ada beberpa faktor yang berperan. Pertama, sebagai manusia

kita cenderung membagi dunia ke dalam dua kategori: kita dan mereka. Lebih

jauh, orang-orang yang kita persepsi sebagai diluar kelompok kita dipandang

sebagai lebih mirip satu sama lain daripada orang-orang dalam kelompok kita

sendiri. Dengan kata lain, karena kita kekurangan informasi mengenai

mereka, kita cenderung menyamaratakan kita semua, dan menganggap

mereka sebagai homogen. Kedua, stereotip tampaknya bersumber dari

kecenderungan kita untuk melakukan kerja kognif sesedikit mungkin dalam

berfikir mengenai orang lain, dengan memasukkan orang dalam kelompok,

kita dapat mengasumsikan bahwa kita mengetahui banyak tentang mereka

(sifat-sifat utama mereka dan kecenderungan prilaku mereka) dan kita

menghemat tugas kita yang menjemukkan untuk memahami kita secara

individu.

Sedangkan menurut Wyer dan Srull dalam Baron (2006:220) Stereotip

seringkali berfungsi sebagai skema, merupakan kerangka kognitif untuk

mengatur, menafsirkan dan mengingat informasi. Manusia juga dalam

pembentukan stereotip menyalurkan usaha kognitif sesedikit mungkin dalam

banyak situasi sosial. Dengan demikian, salah satu alasan penting manusia

mempertahankan stereotip adalah bahwa hal tersebut dapat menghemat usaha

kognitif untuk melihat orang tersebut secara kompleks sebagai individu.

Stereotip juga dapat bekerja secara cepat dalam memproses informasi

sosial dimana stereotip itu bertindak dalam mengatur dan menafsirkan seperti

yang diungkapkan beberapa ahli yang dikutip dalam Baron (2006:222)

dibawah ini;

Stereotip bertindak, mengarahkan apa yang kami hadirkan untuk mengakhiri desakan pengaruh yang kuat pada bagaimana kita memproses informasi sosial (Yzerbyt, rocher, & schradron 1997).

Informasi yang sesuai dengan stereotip diaktifkan, diproses lebih cepat diingat daripada informasi yang berhubungan dengan hal lain (dovido, Evans, & Tyler, 1986: Macrae et al, 1997).

Stereotip menyebabkan seseorang memegang kelompok untuk memperhatikan karakter tertentu dari informasi umum yang konsisten dengan stereotip. Selanjutnya, ketika informasi yang tidak konsisten dengan stereotip tidak berhasil masuk kedalam kesadaran, mungkin secara aktif ditolak atau diubah dengan cara yang halus yang membuatnya tampak konsisten dengan stereotip (Kunda & Oleson, 1995, Locke & Waker, 1999: O'Sullivan & Durso 1984).

Stereotip bekerja seolah sebagai pembenaran atas penilaian kelompok

sekaligus memberikan efek kuat terhadap informasi sosial yang akan

diproses. Informasi yang sesuai dengan stereotip seringkali mendapatkan

respon yang lebih cepat dan diingat lebih baik dibandingkan informasi yang

tidak berhubungan dengan stereotip. Stereotip mendorong seseorang

memperhatikan jenis-jenis tertentu khususnya informasi yang konsisten

dengan stereotip dan ketika informasi itu tidak konsisten dengan stereotip,

maka seseorang secara aktif menolak atau sedikit mengubahnya sehingga

tampak konsisten dengan stereotip (Kunda & Oleson dalam Byrne

2003:230).

Hal ini juga dicontohkan sebagai kelompok dengan kekuatan yang

lebih secara khusus cenderung memperhatikan informasi yang konsisten

dengan stereotip negatif tentang anggota kelompok yang lebih dibawah

Sebaliknya para anggota kelompok yang lebih dibawah ada kecenderungan

stereotip mereka kurang (Fiske dalam Baron, 2006:224).

Stereotip senantiasa bergandengan dengan prasangaka karena prasangka

itu sendiri merupakan hasil dari penggambaran yang digeneralisir yakni

berupa penilaian yang cenderung kearah negatif. Manstead dan Hewstone

dalam fatur (2002:3) prasangka didefinisikan sebagai susatu keadaan yang

berkaitan dengan sikap-sikap dan keyakinan-keyakinan yaitu ekspresi

perasaan negatif, penunjukan sikap bermusuhan atau prilaku diskriminatif

terhadap anggota lain. Dan prasangka adalah sikap negatif yang dibenarkan

terhadap individu berdasarkan keanggotaan individu dalam kelompok

(Santrock 2005:670).

Masih dalam Santrock (2005:671) bahwa menurut Monteith ada

beberapa faktor orang berprasangka yakni sebagai berikut:

  • 1. Kepribadian individu Ketaatan pada cara-cara konvensional dalam bersikap, penyerangan terhadap orang yang melanggar norma-norma konvensional, pemikiran yang kaku, dan penyerahan berlebihan terhadap otoritas. individu dengan kepribadian yang otoriter memilik kecenderungan. Namun, tidak semua orang yang memendam prasangka memiliki keperibadian otoriter.

  • 2. Persaingan antar kelompok atas sumber daya yang langka Perasaan permusuhan dan prasangka dapat berkembang ketika masyarakat tidak memiliki pekerjaan , tanah, kekuasaan, atau status atau salah satu dari sejumlah bahan sumberdaya dilingkungan sekitar. Mengingat sejarah kelompok masyarakat terlibat dalam bersaing satu sama lain untuk kepemilikan sumber daya tertentu, dengan demikian dimungkinkan timbul prasangka terhadap satu sama lain.

3.

Motivasi untuk meningkatkan harga diri

Individu mendapatkan rasa harga diri melalui identifikasi mereka

sebagai anggota kelompok tertentu. Kelompok mereka dipandang

lebih dibandingkan kelompok lain, dan harga diri mereka akan

lebih ditingkatkan. Dalam pandangan ini, kelompok mengarah ke

identitas sosial yang positif dan memiliki harga diri yang lebih

tinggi.

  • 4. Proses kognitif yang berkontribusi terhadap kecenderungan untuk mengkategorikan (stereotip) manusia terbatas dalam kapasitas mereka untuk berpikir secara cermat dan seksama (Allport, 1954) lingkungan sosial sangat kompleks dan membuat banyak tuntutan pada kapasitas pemrosesan informasi yang terbatas, menghasilkan penyederhanaan lingkungan sosial melalui kategorisasi dan stereotip, sekali stereotip ada, prasangka sering mengikutinya.

  • 5. Pembelajaran budaya keluarga, teman, norma tradisional, dan lembaga memberikan banyak kesempatan bagi individu untuk mendaptkan prasangka dari orang lain. Dengan cara ini, sistem kepercayaan prasangka dapat dimasukkan kedalam sistem kepercayaan orang lain. Seperti halnya anak sering menunjukkan prasangka sebelum mereka

memiliki kemampuan kognitif atau mengembangkan sikap mereka

sendiri.

Prasangka sosial yang pada mulanya hanya merupakan sikap-sikap

perasaan negatif lambat laun berubah menjadi tindakan-tindakan yang

diskriminatif terhadap orang-orang yang termasuk diprasangkai, tanpa

terdapat alasan-alasan yang objektif pada pribadi orang yang dikenakan

tindakan-tindakan diskriminatif dan ini dapat bersumber dari proses kognif

dan pengaruh sosiokultural (Manstead & Hewstone dalam arif rahman

2002:3).

Stereotip dan prasangka memiliki pengaruh terhadap komunikasi

antarbudaya. Pengaruh tersebut antara lain meliputi tiga hal. Pertama,

stereotip dapat menyebabkan tidak terjadinya komunikasi antarbudaya atau

hambatan dalam berkomunikasi. Kedua, stereotip dan prasangka yang

mengarah pada hal negatif mempengaruhi kualitas dan intensitas interaksi.

Ketiga, stereotip dan prasangka yang mendalam akan menghasilkan

antilokusi yakni berbicara dengan teman sendiri, mengenai sikap, perasaan,

pendapat dan sterotipe tentang kelompok lain, bahkan sampai pada tindakan

diskriminatif.

G. Persepsi

Persepsi dalam proses komunikasi memiliki peranan penting karena

respon terhadap pesan yang diterima merupakan hasil proses persepsi, Proses

tersebut terkait dengan menyeleksi, mengevaluasi, mengatur dan

mengintepretasi pesan yang diterima.

Suranto (2010:197) mendefenisikan persepsi sebagai proses internal

yang dilalui invidu dalam menyeleksi, dan mengtur yang datang dari luar atau

secara sederhana persepsi sebagai proses individu dalam memahami kontak

dengan dunia sekelilingnya.

Beberapa ahli juga memeberikan defenisi terhadap persepsi,

sebegaimana yang disebutkan dalam Werner & Tandkard (2008:84) sebagai

berikut:

Proses yang kompleks dimana orang memilih, mengorganisasikan dan mengintepretasikan respon terhadap rangsangan ke dalam situasi masyarakat dunia yang perlu arti dan logis. (Barelson dan Steiner,

1964)

Persepsi merupakan aktifitas aktif yang melibatkan pembelajaran, pembaruan cara pandang dan pengaruh timbal balik dalam pengamatan (scott 1994)

Persepsi sebagai proses yang kita gunakan untuk mengintepretasikan data-data sensoris (lahlry, 1991)

Proses persepsi terbagi dalam dua dimensi, pertama adalah proses

fisiologis yang dikategorikan kedalam dimensi fisik melibatkan proses

indrawi dari stimulus yang diterima. Proses persepsi pada dimensi ini akan

diawali dengan stimulus yang mengenai indra, stimulus dapat berupa sesuatu

yang bisa dicium, segala sesuatu yang dilihat, segala sesuatu yang bisa

didengar. Sedangkan dimensi kedua adalah dimensi psikologis yakni stimulus

yang diterima panca indara dipilih, diorganisasikan dan secara spontan

pikiran dan prasaan memberi makna dari stimulus yang diterima (intepretasi).

Dimensi psikologis yang mengenai pancaindra tersebut sangat

dipengaruhi oleh kebutuhan individu, dibutuhkan atau tidak. Selain itu dalam

proses ini juga pengalaman masa lalu dan harapan masa yang akan datang

menjadi pertimbangan dalam memproses stimulus, disini kita mengharapkan

sesuatu akan terjadi ketika melihat stimulus namun bila stimulus yang

diharapkan tidak sesuai dengan harapan maka stimulus tersebut tidak akan

mendapatkan perhatian. Yang terakhir dari proses persepsi adalah intepretasi

adalah upaya pemberian makna yang merupakan respon dari stimulus yang

telah melewati tahap fisiologi dan psikologis.

Perilaku atau cara bertingkahlaku seseorang yang nampak dan dapat

diamati dalam lingkungan sosial juga merupakan stimulus atau rangsangan

yang akan dipersepsi oleh orang lain. Oleh karena itu tindakan seseorang

akan memiliki hasil intepretasi yang beragam tergantung cara seseorang

mempersepsi tindakan itu, dan pada akhirnya akan terbentuk penilaian

terhadap orang lain. Hal ini dapat dilihat dari seseorang yang tanpa

mengucapkan sepatah kata pun kepada orang lain, kita sudah dapat

memberikan gambaran yang begitu banyak tentang diri orang tersebut

dikarenakan kita melihat dari perilaku yang ditampakkan.

H. Teori Interaksi Simbolik

Teori ini menekenkan pada individu yang berinteraksi dengan

menggunakan simbol, dalam simbol tersebut terdapat makna yang ditafsirkan.

Dalam hal ini, bahwa makna merupakan tujuan dari interaksi sosial yaitu

menciptakan makna yang sama, karena tanpa makna yang sama komunikasi

akan menjadi sulit atau bahkan tidak mungkin terjadi. Dalam teori ini juga

terdapat tiga konsep utama yang dapat menjelaskan mengenai interaksi

individu dengan lingkungan sosialnya yakni pikiran, diri, dan masyarakat.

Pikiran merupakan kemampuan untuk menggunakan dan memaknai

simbol sehingga pikiran dalam teori ini diartikan sebagai sebuah proses. Ada

keterlibatan kemampuan berfikir dalam menafsirkan simbol-simbol yang

diterima dari orang lain, artinya makna dari simbol yang diterima adalah

kesimpulan dari proses berfikir.

Konsep mengenai “diri” dalam teori ini adalah mengarah pada

“konsep diri” yang terbentuk dari penilaian orang lain yakni seperti apa

individu memandang diri mereka sendiri berdasarkan pandangan orang lain.

jadi lingkungan kelompok yang memperlihatkan simbol-simbol memberikan

pengaruh terhadapa penilaian terhadap diri inidvidu, sehingga akan ada

kecenderungan untuk melakukan tindakan yang sama dengan kelompok.

Sedangkan masyarakat dalam teori interaksi simbolik ditekankan pada

kemampuan memahami dan menyusuaikan atas perilaku-perilaku individu

yang memiliki makna dimana masyarakat diartikan sebagai kehidupan

kelompok yang terdiri dari perilaku-perilaku anggota masyarakat. Oleh

karenaya hubungan individu dalam masyarakat akan dipengaruhi oleh proses

sosial, norma budaya masyarakat memiliki intervensi dalam membatasi

perilaku individu. Sebagaimana yang dikutip dalam Littlejohn (2009:233):

Masyarakat terdiri atas sebuah jaringan interaksi sosial dimana anggota-anggotanya menempatkan makna bagi tindakan mereka dan tindakan orang lain dengan menggunakan simbol-simbol (Dell Hymes, 1974)

Teori ini dalam kaitannya dengan stereotip antarsuku dan etnis

dianggap cukup tepat. Dengan melihat stereotip sebagai aspek kognitif

individu maka pemahaman kelompok yang ditularkan akan melalui proses

kognitif individu dalam menerima stereotip.

  • I. Konflik Antaretnik

Konflik memiliki dua jenis, pertama adalah konflik atas atau dimensi

vertikal. Yang dimaksud konflik atas adalah konflik antara elit dan massa.

Elit bisa dari para pengambil kebijakan di tingkat pusat, kelompok bisnis atau

aparat militer. Hal yang menonjol dalam konflik ini adalah digunakannya

instrumen kekerasan negara, sehingga timbul korban dikalangan massa

(rakyat). Kedua adalah konflik horizontal, yakni konflik yang terjadi

dikalangan massa (rakyat sendiri) dan ada dua jenis konflik horizontal yang

tergolong besar; (1) konflik antar agama, konflik ini mengemuka ini

mengemuka di berbagai daerah, seperti Ambon, Jakarta, dan beberapa daerah

lainnya. (2) konflik antar suku, khususnya antara suku Jawa dan suku lainnya

di luar pulau Jawa. Selain itu muncul pula kasus seperti konflik antar suku

Madura dengan suku Melayu di Kalimantan Barat seperti di Pontianak dan

Sambas (Susan 2010:99).

Konflik horizontal seperti konflik antar suku dan etnik bagi prespektif

kalangan komunal lebih dapat diamati melalui analisis konflik primordial

dimana pendekatan ini melihat identitas etnik , budaya, agama, ras dan bahasa

adalah kuat atau stabil, tak bisa diubah , yang terbentuk melalui proses yang

panjang. Sehingga anggota kelompok-kelompok suku maupun etnis

cenderung merasa budayanyalah yang paling baik, hebat ataupun kuat. Bukan

hanya itu dalam prakteknya anggota kelompok juga memperlakukan sesama

anggota dengan baik melebihi kelompok lain ataupun menutup hubungan

kepada kelompok lain (ekslusif).

Identitas etnis dilahirkan dari sentimen primordial, kesadaran budaya

yang terbangun didalam komunitas etnis melalui institusi dasar, seperti

keluarga, keyakinan kelompok, loyalitas dimana individu lahir sebagai

anggotanya (Isaacs dalam Susan 2010:92).

  • J. Nilai-nilai Budaya Suku Bugis

Suku Bugis adalah salah satu dari suku bangsa yang paling dikenal di

Nusantara. Berada di bagian barat daya pulau Sulawesi, termasuk dalam

rumpun keluarga besar Austronesia. suku Bugis atau orang Bugis memiliki

berbagai ciri khas menarik diantaranya bahwa suku Bugis dikenal sebagai

orang pelaut meskipun menurut Christian Pelras dalam bukunya Manusia

Bugis menganggap bahwa pengetahuan tersebut adalah keliru melainkan

orang Bugis sendiri adalah petani.

Masih dalam Manusia Bugis bahwa orang Bugis sendiri dalam

interaksi sehari-hari pada umumnya berdasarkan sistem patron klien sistem

kesetiakawanan antara seorang pemimpin dengan pengikutnya yang saling

kait mengait dan bersifat menyeluruh, namun mereka tetap memiliki rasa

kepribadian yang kuat. Prestise dan hasrat berkompetisi untuk mencapai

kedudukan sosial yang tinggi, baik melalui jabatan maupun kekayaan, tetap

merupakan faktor pendorong utama yang menggerakkan roda kehidupan

sosial kemasyarakatan. Mungkin ciri khas tersebut yang membuat suku Bugis

memiliki mobilitas sangat tinggi serta memungkinkan mereka menjadi

perantau (Perlas, 2006:5).

Diseluruh wilayah nusantara dari semananjung melayu dan Singapura

hingga pesisir barat Papua, dari Filipina selatan dan Kalimantan hingga Nusa

Tenggara dapat dijumpai orang Bugis dengan aktivitas pelayaran,

perdagangan, pertanian, pembukaan lahan perkebunan. Kemampuan orang

Bugis menyusuaikan diri merupakan modal terbesar yang memungkinkan

mereka bertahan dimana-mana selama berabad-abad dan meskipun mereka

menyusuaikan diri dengan keadaan sekitar, orang Bugis juga tetap mampu

mempertahankan identitas “kebugisan” mereka. Orang Bugis juga memiliki

tradisi kesusastraan baik lisan maupun tulisan, salah satu bukti terbesarnya

adalah epos sastra La Galigo merupakan karya tulis yang berkembang dari

tradisi lisan.

Kepercayaan, nilai dan sikap suku Bugis dapat dilihat dari sudut

pandang orang Bugis sendiri maupun diluar dari orang Bugis. Sudut pandang

orang luar memberi gambaran yang sering bertentangan dan belum tentu

sesuai dengan kenyataan sebenarnya seperti yang terlihat dalam Pelras

(2006:251) sebagai berikut:

Secara umum orang bugis adalah orang yang memiliki semangat tinggi (berdarah panas): mereka tidak akan menerima perlakuan sewenang-wenang.orang bugis yang berani itu. pantas diberi gelar yang sama dengan yang diberikan oleh Monsieur Poivre terhadap orang-orang Melayu pada umumnya, yaitu gemar berpetualang, suka merantau, dan mampu menjalankan kegiatan paling berbahaya sekalipun (forest, Voyagege From Calcutta : 76-8)

Berdasarkan kehidupan sosial masyarakat Bugis bahwa Siri dan Pesse

dapat digunakan sebagai kunci utama memahami berbagai aspek perilaku

sosial orang Bugis. “Siri” secara harfiah diartikan sebagai perasaan malu ini

terkait dengan kehormatan. Hal yang tidak dinginkan pun bisa terjadi apabila

seseorang merasa tersinggung dengan kata-kata atau tindakan orang lain yang

dianggap tidak sopan, bahkan anggota keluarga, termasuk pengikut dan

pembantu ikut merasa tersinggung dan ikut melakukan tindakan. Jadi siri

dianggap sesuatu yang dirasakan bersama dan merupakan bentuk solidaritas

sosial bukan semata-mata persoalan pribadi.

Pesse‟ atau lengkapnya pesse‟ babua, yang berarti ikut merasakan

penderitaan orang lain yang bisa diartikan sebagai solidaritas kelompok

berhubungan erat dengan identits kelompok memberi dasar rasa memiliki

identitas “kebugis-an" menjadi sempugi “sesama orang Bugis”.

Dalam praktiknya bahwa nilai siri‟ dan pesse‟ dapat dilihat dari sistem

pernikahan, anggota-anggota keluarga akan mempersembahkan yang terbaik

untuk menegakkan gengsi keluarga dimata keluarga lain yang sederajat.

Namun persaingan juga dapat terjadi antar anggota keluarga bila seorang laki-

laki dalam suatu keluarga berhasil meraih suatu prestasi, maka saudara laki-

lakinya akan berusaha juga mencapai sesuatu yang lebih baik demi siri”-nya

itu.

K. Nilai-nilai Budaya Suku Mandar

Suku Mandar adalah salah suku bangsa yang mendiami daerah

Sulawesi Selatan bagian Barat di sekitar 0.5 o -3.5 o LS dan 118 o -119.5 o BT.

Mendatu dalam Mustarimula.blogspot.com menjelaskan bahwa „‟Mandar‟‟

bukanlah suatu penamaan yang terkait dengan geografis dan demografis

tetapi Mandar merupakan kumpulan nilai-nilai yang bertitik tolak kepada

sistem nilai budaya yang luhur yang berasal dari kata„‟Waimarandanna odi

ada‟ odi biasa‟‟ (kejernihan dari adat dan kebiasaan leluhur).

Untuk menjadi orang Mandar seseorang wajib mengenal inti dari nilai

Passemandaran yang merupakan puncak nilai yang terkandung didalam tallu

ponna atonganan (3 dasar kebijakan) yang terdiri atas:

2.

Da‟duatassisara‟ (aspek hukum dan demokrasi)

  • 3. Tallu tammalaesang (aspek ekonomi, aspek keadilan dan aspek

persatuan).

Ketiga dasar kebijakan tersebut dijabarkan tersebut dijabarkan dalam

annang Pappeyappuu di Lita‟ Mandar (Enam pegangan utama di tanah

Mandar) yang terdiri atas

  • 1. Buttutandira‟bai (tegaknya hukum secara utuh)

  • 2. Manu‟ tandipessissi‟ (demokrasi dalam segala lini kehidupan )

  • 3. Bea‟ tandicupa‟(ekonomi kerakyatan yang merata)

  • 4. Karra‟arrangtandidappai (keadilan tanpa takaran)

  • 5. Waitandipolong (persatuan yang berkesinambungan )

  • 6. Buttutanditema‟ Diammemanganna Tokuana tokua (kutuhan

keyakinan akan kekuasaan Zat yang Maha Tinggi).

Keseluruhan nilai itu berada didalam suatu bingkai kokoh Mesa

tanggesar yaitu odi ada‟ odi biasa (sesuai dengan adat dan kebiasaan adat ).

Odi ada‟ odi biasa inilah suatu tanda masyarakat egalitarian karena orang

Mandar tidak mengenal konsep to manurung yang melahirkan masyarakat

yang mempunyai stratifikasi sosial yang ketat berdasarkan darah to manurung

dan darah orang kebanyakan.

Sifat itu tercermin di dalam ajaran luhur orang Mandar yang disebut

Limai gau diajappui na disanga paramata matappak (lima perbuatan sebagai

permata yang bercahaya) yaitu

2.

Loa tongan sola matikka (perkataan benar bersama waspada)

  • 3. Akkalang sola nia „mappaccing (akal bersama niat yang suci).

  • 4. Siri „ sola pannassa (siri „ bersama keyakinan)

  • 5. Barani sola pappejappu (berani bersama ketetapan hati).

Perlu ditambahkan berbagai konsep-konsep kebijakan dari nilai-nilai

luhur kemandaran yang berkaitan dengan kemasyarakatan dibawah ini:

Kesepakatan.Mua „purami dipallandang bassi‟ pemali diliai,mua‟

pura, di pobamba pemali di pepondo‟I di sesena atonanganan.Bassi tambbottu

petabung tarrabba (Apabila sudah ditentukan sesuatu haram untuk dilangkahi,

kalau sudah diucapkan/disepakati pantang diingkari, aturan harus tetap

berjalan sesuai dengan asasnya).

Penegakan Hukum. Naiyya ada‟ tammaelo pai dipasoso „tatti

tonggang pai lembarna , ta „ keindopai, ta‟ keamma „ pai, ta „kelelluluare „

pai, ta‟ ke sola pai, ta‟ ke wali pai andiappa to dikalepa‟na andiang to

disaliwanna, andiang to na poriana, andiang to nabire‟na Tammappucung

tandoppas toi (yang disebut badan penegak hukum adalah tegas dalam

mengambil keputusan, tidak berat sebelah, tidak beribu, tidak berbapak, tidak

punya saudara, tidak punya teman, tidak punya musuh, tidak diiming-iming

kesenangan, tidak punya anak buah dan tidak pernah serakah).

Mencari Kebenaran (Puang Sodo) Appei ruppanna uru bicara

tutumasagala balibali palalo balibali. Sa‟be balibali (ada 4 pokok untuk

memutuskan suatu masalah yaitu meneliti dan menganalisis perkataan kedua

belah pihak, kata benar dari keluarga kedua belah pihak, saksi yang

terpercaya dari kedua belah pihak)

Demokrasi. Mua‟ mendi-mendi oloi elo‟na toarajang disesena odiada„

odibiasa,turu „I ada „mua‟ mendi-mendi oloi elona ada‟ disesena odi ada‟

odibiasa, turu‟I Toarajang (Apbila keinginan bangsawan raja agak kedepan

sesuai dengan adat dan kebiasaan adat maka bangsawan adat hendaknya ikut

dan demikian juga sebaliknya).

Iyyakodhi rappanna anna mara‟dia anna to kaiyyang. Mua sisalai

rappanna, ditokaiyyang diule.Apa nauwang todiolo, iddai naule. Diule dai,

diule‟naung. Mua sisalai tokaiyyang, tau tappa diule ( Inilah suatu ibarat

apabila raja berhadapan dengan kaum adat, apabila mereka bersebrangan

maka kaum adat harus diikuti dan apabila kaum adat bersebrangan dengan

kaum adat maka rakyat harus dikuti ).

Otonomi (Daetta Kakanna I Pattan) Madondomg duambongi anna

diang api naung bakarna napideitoi tia alabena, mu‟andiani mala napideitoi

pendoama‟o lao diindo ada‟mu, mua pitumbongi pitungallo andianni mala

mupiddei siola indo ada‟mu, pendoa mo‟o diama ada‟mu apa nasiolamo‟o

mappiddei (besok lusa apabila ada api menyala disuatu wilayah maka

sebaiknya api itu dapat diredam sendiri dan jika tidak dapat diredam

hendaknya engkau meminta pertolongan kepada ibu adatmu . Jika tujuh hari

tujuh malam belum dapat diredam hendaknya engkau dating ke bapak adatmu

untuk datang bersama-sama meredam api itu ).

Kaiyyang tammaccina dikende „kende‟na tammaccinna dikaiyanganna

(yang merintah seharusnya tidak memaksakan kemauan kepada rakyat dan

rakyat tidak seharusnya memaksakan kehendak kepada yang memerintah).

Konsep Kepemimpinan (tammatindo dilangganna).Pallaku lakuanni

mie lita‟mu, apa‟ medondong duambongi inai-inai mala mappatumbalie lita‟

di balanipa, ia tomo tia nadianna dai dipeuluang, na dipesokkoi anna malai

toma‟tia naung ditambing mengngada‟dai (pertahankanlah tanah air anda bila

besok lusa siapapun yang dapat menyelamatkan negeri Balanipa ia berhak

diangkat sebagai pemimpin dan saya akan turun tahta dan mendukung dengan

sepenuh hati).

Persatuan (Ammana Wewang/Ammana Pattolawali) Dotai tau

siamateang mie namembere diolona lita‟ dadi nanaparentah tedong pute to

kaper (lebih baik mati berkalan tanah dari pada diperintah oleh Belanda si

Kafir laknat).

BAB III

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

  • A. Keadaan Geografis

Wilayah Kelurahan Lette Kecamatan Mariso Kota Makassar berada di

ketinggian tanah dari permukaan air laut 0,3 m dan suhu rata-rata 31,

kelurahan Lette memiliki luas wilayah 14 Ha dengan batas sebelah utara

kelurahan Panambungan, sebelah Selatan kelurahan Mariso sebelah barat

pantai dan sebelah timur kelurahan Mariso. Kelurahan Lette terdiri dari 5 RW

dengan karakteristik topografi berupa wilayah datar yang terbagi atas

kawasan pemukiman dan perdagangan.

Kelurahan Lette Kecamatan Mariso Kota Makassar memiliki batas-

batas wilayah yaitu:

  • 1. Sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Panambungan

  • 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan kelurahan Mariso

  • 3. Sebelah Timur berbatasan dengan kelurahan Mariso

  • 4. Sebelah Barat berbatasan dengan pantai

  • B. Keadaan Demografis

Kelurahan lette memiliki 5 RW yang terdiri dari:

  • 1. RW I dengan jumlah penduduk 3585 orang

  • 2. RW II dengan jumlah penduduk 584 orang

  • 3. RW III dengan jumlah penduduk 833 orang

  • 4. RW IV dengan jumlah penduduk 611 orang

Pada wilayah RW 1 terediri atas 8 RT dengan luas wilayah 3,5 Ha dan

jumlah penduduk berdasarkan laporan penduduk bulan Mei 2012 dari

sumber data kantor kelurahan Lette berjumlah 3585 jiwa, berbatasan

langsung dengan pantai, kondisi jalanya tidak beraspal melainkan

menggunakan paping blok, kondisi perumahan yang padat dengan status

pemilikan tanah rata-rata merupakan berstatus sewa karena mayoritas

penduduknya merupakan dengan kelas ekonomi menegah kebawah. Untuk

RW II terdiri atas 3 RT dengan luas wilayah 2,3 Ha dan jumlah penduduk

pada laporan penduduk bulan Mei 2012 berdasarkan data kelurahan Lette

berjumlah 584 jiwa. Daerah ini merupakan daerah yang lebih kecil diantara

4 RW dikelurahan Lette dengan kriteria bangunan berupa ruko dan

perumahan. Khususnya di sekitar jalan Rajawali I dan II yang sebagian besar

adalah ruko. Dengan akses jalan lebar yang terbuat dari aspal, daerah ini

sebagian besar merupakan daerah perdagangan yang didalamnya berada

sarana dan prasarana berupa ruko, jasa, satu kantor lurah, satu dokter praktik

dan satu mesjid. Pemenuhan akan listrik pun sudah memadai namun untuk

drainase masih kurang dimana masih ada drainase yang tidak berfungsi

sebagaimana mestinya.

Pada RW III terdiri atas empat RT dengan luas wilayah 2,3 Ha

dengan jumlah penduduk 2012 berjumlah 833 jiwa. Daerah ini mencakup

dua jalan lokal dengan lebar 4 meter yang terbuat dari aspal yaitu Jl

Cendrawasih V dan dan Jl Belibis. Daerah ini pada umumnya merupakan

perumahan warga.Sarana yang ada di RW ini adalah satu mesjid, satu asrama

mahasiswa, apotek, dan wartel, serta SMP Swasta. Prasarana air bersih pada

daerah ini mayoritas menggunakan air PAM dan adapula yang menggunakan

sumur pompa dan sumur timba khususnya pada pemukiman yang disewakan

atau kos-kosan.Pemenuhan akan listrik pun sudah mencukupi akan kebutuhan

masyarakat. Draenase yang besar berada pada Jl Cendrawasih V sangat

membantu pembuangan air kotor masyarakat di daerah itu walaupun

kebersihan draenasenya masih belum dapat dikatakan baik sistem

persampahannya pun sudah baik karena sistem angkut oleh truk-truk

pembuang sampah selalu mengontrol agar lingkungan tetap bersih.

Untuk RW IV ini terdiri atas 5 RT dengan luas wilayah 2,3 Ha dengan

jumlah penduduk berdasarkan sumber data kelurahan lette tahun 2012

berjumlah 611 jiwa Daerah ini mencakup 1 jalan lokal yaitu Jl Cendrawasih

IV. Kondisi jalan yang terdapat di RW ini baik serta persampahannya pun

cukup baik dimana masing-masing rumah memiliki tempat sampah masing-

masing dimana akan diangkut oleh truk pengangkut sampah setiap seminggu

sekali, untuk perairan masyarakatnya mayoritas menggunakan air PAM untuk

kehidupan sehari-hari. Drainasenya pun baik namun masih ada saja sampah

yang berada di got-got. Sedangkan RW V pada daerah ini terdiri atas 8 RT

dengan luas wilayah 3,5 Ha dan jumlah penduduk berdasarkan kantor

kelurahan lette pada tahun 2012 sejumlah 2062 jiwa. Daerah ini merupakan

kawasan daerah perumahan yang sangat padat dengan status tanah

kebanyakan sewa. Kondisi jalan yang terbuat dari paving blok dan banyak

gang-gang kecil. Jaringan air menggunakan air PAM untuk kehidupan makan

dan minum. Sumur digunakan untuk menopang kehidupan seperti mencuci

dan lain-lain.sistem drainasenya kurang baik karena lebarnya yang sempit dan

kebanyakan ditutupi oleh jalan untuk perluasan jalan. Pada daerah ini terdapat

satu mesjid, pos kesehatan, dan posyandu.Untuk kebutuhan listrik masyarakat

sudah mencukupi untuk kebutuhan masyrakat.

  • C. Sosial Budaya

Masyarakat Kelurahan Lette terdiri dari beberapa suku Bugis

Makassar, Mandar, Toraja, Jawa, Flores, dan Cina. Di lingkungan RW V

mayoritas dihuni oleh suku Mandar dan terdapat beberapa suku seperti Bugis

dan Jawa, maka kelurahan lette khususnya di lingkungan RW V seringkali

disebut sebagai kampung Mandar.

Masyarakat Kelurahan Lette memiliki sikap sosial dan tenggang rasa

yang kuat. Hal ini terlihat dari sikap warga yang ramah, terbuka terhadap

tamu yang datang dan solidaritas yang kuat antar sesama anggota masyarakat.

Suku Mandar yang bermukim diwilayah kelurahan Lette khususnya pada RW

V rata-rata pekerjaan mereka adalah pengrajin rotan, keahlian tersebut

merupakan keahlian yang diwariskan oleh orang-orang tua mereka dulu,

rotan-rotan diolah menjadi keranjang buah yang dipasok ke beberapa

supermarket di kota Makassar. Kerajinan tersebut dikerjakan dalam skala

kecil pengerjaannya dilakukan oleh satu atau dua keluarga tetapi terkadang

juga terdapat anggota yang bekerja diluar dari hubungan keluarga seperti

warga dari suku Makassar maupun suku Bugis. Sedangkan warga suku Bugis

yang ada dikelurahan Lette rata-rata bekerja sebagai pedagang di pasar.

Interaksi antara warga suku Mandar dan suku Bugis maupun dengan

suku lainnya seperti Makassar dan Jawa sudah sangat terjalin erat dan

harmonis. Dapat dilihat dalam komunikasi yang dilakukan pada keseharian

mereka, seperti beberapa suku Bugis yang sudah paham dengan bahasa

Mandar begitu pun sebaliknya warga Mandar paham dengan bahasa Bugis

atau bahasa Makassar. Selain itu mereka juga berbaur dengan terlibat dalam

aktifitas-aktifitas kemasyarakatan khusunya pada kegiatan seperti kerja bakti,

kegiatan PKK, pengajian, lomba-lomba antar kelurahan maupun kerja bakti.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  • A. Hasil Penelitian

Pengumpulan data dalam bab ini menggunakan metode observasi dan

wawancara mendalam. Pengumpulan data dilakukan di Kota Makassar

dengan memfokuskan lokasi penelitian di Jalan Rajawali keluruhan Lette

Kecamatan Mariso.

Alasan memilih kelurahan Lette sebagai fokus lokasi penelitian adalah

karena di lokasi tersebut mayoritas penduduknya adalah kelompok

masyarakat yang menjadi objek penelitian yaitu suku Bugis dan suku Mandar,

yang menurut pengamatan peneliti telah sesuai dengan kriteria yang telah

ditentukan. Adapun kriterianya sebagai berikut:

1. Suku Bugis yang menetap di kota Makassar

  • 2. Memiliki stereotip terhadap suku Mandar

  • 3. Asli keturunan suku Bugis

  • 4. Berinteraksi dengan suku Mandar minimal 5 tahun

Dari pengamatan peneliti selama di lokasi penelitian, diperoleh lima

warga suku Bugis yang menetap di lokasi tersebut dan selanjutnya menjadi

unit analisis bagi peneliti. Peneliti menetapkan warga tersebut dengan

mempertimbangkan latar belakang informan seperti latar belakang

pendidikan, usia, dan pekerjaan. Dari pertimbangan tersebut, diharapkan

informan dapat memberikan penjelasan yang jelas.

Wawancara terhadap lima warga yang telah ditetapkan, dilakukan di

rumah mereka masing-masing. Sebelum melakukan wawancara peneliti

dengan seksama memperhatikan kesiapan dan kesediaan informan untuk

diwawancarai karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas

informasi yang akan diberikan, dalam hal ini aspek waktu dan tempat menjadi

pertimbangan khusus bagi peniliti. Sedangkan observasi dilakukan

bersamaan pada saat wawancara berlangsung dan juga dilakukan pada saat

informan melakukan aktivitas-aktivitas yang menunjukkan adanya interaksi

antara informan dengan suku Mandar.

Dalam proses wawancara tidak jarang peneliti menemukan kendala,

antara lain:

1. Informan merasa ragu dalam memberikan informasi atau

cenderung sekedarnya dalam memberikan jawaban. Hal ini

diakibatkan kekawatiran informan akan timbulnya ketersinggungan

dari suku yang dibicarakan, dikarenakan mereka hidup dalam satu

lingkungan kompleks perumahan.

2. Aktifitas-aktifitas informan menjadi salah satu kendala dalam

proses wawancara, terkadang informan sulit untuk ditemui

dikarenakan kegiatan-kegiatan informan. Sehingga dalam hal ini

peneliti harus menyesuaikan waktu dengan kesediaan informan

untuk melakukan wawancara.

3. Suasana sekitar ketika peneliti melakukan wawancara juga

berpengaruh terhadap informasi yang diberikan informan. Karena

terkadang pada saat melakukan wawancara ada orang ketiga yang

terlibat dalam memberikan penjelasan sehingga penjelasan

informan dipengaruhi oleh penjelasan informan ketiga.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan melalui wawancara

mendalam mengenai stereotip suku Bugis terhadap suku Mandar, secara

keseluruhan informan yang telah ditentukan menjadi unit analisis telah

memenuhi kriteria. Berikut adalah biodata warga yang menjadi unit analisis.

Unit Analisis I

Informan pertama berinisial DI (41) keturunan asli Bugis Pangkep.

Bekerja pedagang eceran, istri dari kepela RT III yang merupakan wilayah

mayoritas suku Mandar, beliau sudah lama berinteraksi dengan orang

Mandar. Hal ini sesuai dengan pemaparan informan:

“Saya kelahiran tahun 1971 Bugis Pangkep, adama sepuluh tahun, eh, 17 tahun disini. Sebelumnya saya di JL Cakalan-Panampu, nah barupa nikah sama bapaknya baruka pindah kesini. Banyak memangmi disini orang Mandar orang Bugis juga adami, yah campur mi

Unit Analisis II

Informan kedua berinisial ST (50) merupakan keturunan asli Bugis

Soppeng, aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan seperti kader

KADARSI (keluarga sadar gisi) serta anggota dalam penyuluhan KB

(keluarga berencana). Melalui kegiatan tersebut beliau sudah lama

berinteraksi dengan orang Mandar, beliau juga bertetangga dengan orang

Mandar.

Menurut penuturan informan bahwa informan berinteraksi dengan

orang Mandar selama 24 tahun sampai sekarang.

Saya Bugis dari Soppeng, adama 24 tahun tinggal disini, orang Mandar semua saya temani, pas kaada disini satu-satu ji orang Bugis.Saya juga sekolah daerah sini pas SMP”

Unit Analisis III

Informan ketiga, berinisial MA (39) merupakan ibu rumah tangga dan

menjadi kader Posyandu dan terlibat aktif dalam kegiatan masyarakat. Beliau

keturunan Bugis Soppeng suaminya bekerja sebagai buruh bangunan

keturunan Makassar asal Takalar. Berdasarkan penuturan informan bahwa

informan juga sudah lama berinteraksi dengan orang Mandar, berikut

penuturan informan:

Kalo disini kampung Mandar namanya , 15 tahun ma disini semenjak sudah menikah, kalo bapaknya lebih lama disini.Sebelum kawin saya tinggal dekat pasar sama kakak ada rumah batu itu dekat pasar tapi najualmi sekarang, setelah nikah pindah ma kesini karena bapaknya tinggal disini. Bapak ia asli takalar sedangkan saya Bugis”

Unit Analisis IV

Informan keempat berinisial YF (62). Pensiunan TNI AL merupakan

tokoh masyarakat di kelurahan Lette. Beliau asli keturunan Bugis Bone,

sekarang sebagai ketua pembangunan mesjid. Dari tahun 1974 sudah menetap

di Kelurahan Lette sehingga dapat dikatakan informan sangat mengenal orang

mandar. Berikut penuturan informan:

Saya sudah menetap disini dari tahun 1974 saya keturanan asli Bugis Bone dan Soppeng, saya disini tinggal mulai dari saya sejak sekolah, kuliah dan sampai sekarang. dulu saya kontrak rumah kos yang di RT III lorong 10 yang memang disitu mayoritas orang Mandar, teman bermainku orang Mandar, bapak kos ku orang Mandar, teman kuliahku juga orang Mandar.nah nanti saya tinggal di jalan sekitar pasar sini sudah bukan mayoritas Mandar tapi kebanyakan Bugis dengan Makassar.

Unit Analisis V

Informan kelima, berinisial YI (33) beliau keturunan asli Bugis Bone,

sudah menetap selama 12 tahun di Kelurahan Lette. Aktif dalam aktifitas

keagamaan seperti pengajian yang rutin dilakukan oleh majelis ta‟lim Darul

Hijrah mesjid yang berada di RW V RT III. Sebelum menikah informan

menetap di Jl Pettarani tepatnya di Sukaria dan informan juga sebagai guru

PAUD (pendidikan usia dini).

Sebelumnya saya tinggal di Pettarani-Sukaria.12 tahun ma disini saya dari Bugis Bone.Sebelumnya tinggal sama kakak itu mi di Pettarani.”

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui stereotip yang

berkembang pada suku Bugis terhadap suku Mandar sekaligus untuk

mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stereotip suku Bugis terhadap

suku Mandar. Stereotip yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

pengetahuan dan keyakinan suku Bugis terhadap suku Mandar. Untuk

mengetahui gambaran dan faktor terjadinya stereotip tersebut maka peneliti

menganalisis hasil petikan wawancara dan observasi selama di lokasi.

Berikut

petikan

wawancara

dari

unit analisis penelitian dalam

kaitannya dengan rumusan masalah.

A.1 Gambaran Stereotip yang berkembang

pada suku bugis

terhadap suku Mandar

Dari hasil wawancara dan observasi dilapangan ditemukan

bahwa warga Bugis memiliki stereotip yang sama terhadap suku

Mandar, berikut penuturan dari para informan yang kemudian menjadi

unit analisis.

Penuturan informan pertama

Datangka‟disini banyak memangmi orang Mandar, orang Bugis beberapa ji mungkin yang dekat pasar bayak-banyak orang Bugis.Kesulitanta biasa kalau maukisama-sama bicara itu terkendala di bahasa ji karena nakasi ki‟ bahasa Mandar kurang paham ki‟. kayak yang orang-orang tuanya dulu kayak nenek mala, nenek indo sering pake bahasa Mandar tapi ditau tonji sedikit diartikan.Kalau saya disini seringka‟ sama-sama orang Mandar kalau mau bicara ya.pake bahasa Indonesia kayak sama erna pake bahasa Indonesia.

Dari penuturan informan bahwa ketika informan pertama kali

menetap di kelurahan lette, suku Mandar sudah lebih dulu menetap

dan menjadi kelompok masyarakat dominan di wilayah tersebut. Dan

ditemukan pula bahwa bahasa menjadi kendala dalam berkomunikasi,

terkadang informan sulit memahami maksud dari pesan yang

disampaikan oleh suku Mandar khususnya pada saat informan

berkomunikasi dengan orang tua karena bahasa yang digunakan

adalah bahasa Mandar. Oleh karena itu informan berupaya memahami

bahasa tersebut untuk mempermudah dalam melakukan interaksi,

sekaligus merupakan upaya penyusuaian diri dengan lingkungan

barunya.

“Dimana-mana orang Mandar dikenal banyak doti- dotinya.kan pernah ada sepupuku kuliah dan pacaran sama orang Mandar, sekalinya dijodohkan bukan dengan pacarnya orang Mandar tapi dengan kemankanku ji nikah, tiba-tiba sepupuku sakit. Sekalina pergimi ke dukun, bilang mi itu dukun orang Mandar yang kasi kenna i, timbul mi gossip! Nabilangi ma sendiri itu orang tuaku, orang Mandar itu bahaya, jadi sempat ma juga percaya. begitu mi dengar itu agak kawatir- kawatir bicara sama orang Mandar, sempat ada prasangka ku. Tapi sekarang lama ma sama-sama tidak adami dan yang saya lihat juga disini orang mandar rajin ke mesjid,bagus

agamanya.”

Berdasarkan penuturan informan selanjutnya bahwa informan

memiliki stereotip negatif terhadap suku Mandar. Suku Mandar

diyakini sebagai suku yang memiliki ilmu sihir, hal tersebut diketahui

informan melalui pengalaman keluarga informan, stereotip ini sangat

kuat dalam keyakinan informan tentang penggambaran negatif

terhadap suku Mandar dikarenakan informasi ini langsung dari orang

tua informan. Tetapi setelah informan berinteraksi dan mengamati

secara langsung kehidupan suku Mandar, stereotip tersebut berubah

kearah positif yaitu suku Mandar dinilai sebagai suku yang orang-

orangnya taat beribadah.

Alhamdulillah belum pernah pi disini terjadi konflik antar suku atau yang lain.Saya juga aktif di ibu PKK didalam campumi mi semua ada Bugis ada Mandar, Makassar, Jawa, ada memang bagian pembinaan juga. Jadi pembinaannya biasanya melaului pengajian atau majelis ta‟lim disitumi selalu dibilangi untuk selalu menjaga keharmonisanta antar sesama warga tidak dibilang biar Bugis, Mandar, Makassar atau Jawa saling menghargaiki, bersatu ki semua, makanya anak-anak ku juga sering kubilangi karena biar membina diluar tapi sendirita belum. biasanya anakku kubilangi hati- hati bergaul, baik-baik ki‟ sama orang.Ya semoga bisa terus kita jaga hubungan ta antara warga disini.”

Penuturan informan selanjutnya menunjukkan bahwa lembaga

sosial memiliki peranan penting sebagai wadah dalam mempersatukan

kelompok masyarakat yang berbeda suku. Dalam lembaga tersebut

kelompok masyarakat baik suku Mandar, Bugis, Makassar, dan Jawa

dapat saling menghargai dan memahami akan perbedaan suku. Dalam

aktivitas komunikasi kelompok tersebut, keharmonisan menjadi topik

utama yang selalu dibicarakan dalam pertemuan kegiatan mereka.

Penuturan informan kedua

Sekarang campurmi Mandar dengan bugis, banyakmi juga Bugis disini. karena lama ma disini kutaumi bahasa Mandar mungkin kalo saya ke Mandar tidak hilang ma. Disini banyak ji juga orang Bugis tapi jarangka sama-sama orang Bugis, saya lebih suka biasa bicara sama orang Mandar apalagi

kutau bahasanya.”

Dari penuturan informan dapat diketahui bahwa jumlah

penduduk suku Bugis sudah berimbang dengan suku Mandar, dan

mereka sudah berbaur dalam satu wilayah, dengan adanya pembauran

tersebut dimungkinkan terjadi sebuah pertukaran budaya antarsuku

seperti bahasa. Hal ini dapat diketahui dari penuturan informan bahwa

informan tidak menemukan kendala dalam berkomunikasi disebabkan

informan sudah menguasai bahasa Mandar yang kemudian

memudahkan informan untuk berinteraksi dengan suku Mandar,

bahkan informan lebih memilih berkomunikasi dengan suku Mandar.

Saya dulu aktif di kegiatan penyuluhan KADARSI (Keluarga Sadar Gizi) sering kasi penyuluhan sama warga, biasa juga ikut kasi penyuluhan KB datangi rumah warga satu-satu, Wilayahku memang disini di RW III mayoritas orang Mandar. Biasa juga atas inisiatif sendiri saya buat kegiatan pembebasan buta aksara dan didalam ibu-ibu disiniji yang ikut. Alahamdulillah adami yang pintar membaca. Tapi sekarang tidak mi lagi, ini ada orang Mandar rumahnya kan agak besar sama-sama lagi buat kegiatan menjahit tapi berhenti mi juga, dulu pembagian beras RASKIN dan SEMBAKO saya juga biasa yang catat namanya warga. Masyarakat disini baik komunikasinya lancar, kita akrab baru sama-sama terbuka, tidak ada kita beda-bedakan antara Bugis atau Mandar. Itu kalo kegiatan yang seperti tadi saya bilang kita didalam campurmi, baru kalo malam itu disini banyak datang warga; orang tua, anak muda, ibu-ibu datang cerita- cerita, itumi kalo kita menerima orang to pasti kita juga diterima. Memang ada juga yang bilang baik ada juga tidak baik tergantung kita ji sebenarnya.

Dari penjelesan informan ini dapat diketahui bahwa informan

sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang didalamnya ditemukan

keterlibatan langsung dengan masyarakat suku Mandar sehingga dapat

dipastikan informan sudah memiliki kedekatan dan pemahaman

tentang karakter suku Mandar salah satunya adalah memiliki sikap

terbuka.

“Saya kalau dipikiranku orang ini dikenal karena begitunya misalnya Mandar karena doti-dotinya atau Cina sekkenya kan! meskipun dulu ada sempat, karena belum ditau bagaiman aslinya.Tidak jadi penghambatji saya kalau mauka begaul sama mereka artinya berkomunikasi to. karena saya tidak mau langsung memvonis orang ibaratnya kalo saya kan biasa bilang kamu senang saya senang jadi tergantung pendekatanta sama orang.

Dari penuturan informan selanjutnya, bahwa informan kedua

juga memiliki stereotip negatif terhadap suku Mandar, stereotip

tersebut diketahui dari orang lain. Minimnya interaksi langsung antara

informan dengan suku Mandar membuat stereotip tersebut sempat

menjadi keyakinan informan. Namun setelah informan berinteraksi

langsung dan cara informan menaggapi stereotip yang tidak langsung

menggeneralisir kepada semua orang Mandar membuat stereotip

tersebut tidak berkembang sampai saat ini.

Peneturan informan ketiga

Disini memang dikenal kampung Mandar, dulu kebanyakan orang Mandar tapi sekarang campur. Di dekat pasar, Bugis bayak disana sebelumnya saya tinggal dekat pasar sama kakak setelah menikah baru pindah disini karena suamiku sudah lama mi disini. Saya juga aktif kegiatan-kegiatan termasuk saya kader posyandu, tiap bulan diadakan juga posyandu, baru-baru ini ada acara dzikir yang didatangkan itu”Habib”. Konsumsinya ibu-ibu disini ji semua yang bikin artinya didalamnya itu campur mi ki semua kecuali orang Jawa, mereka diacaranya pi datang, orang Bugis ji sama Mandar

yang terlibat.Ini juga pas acara peringatan “Isra Mi‟raj” saya

juga ikut dikonsumsinya apalagi selain kader Posyandu saya

juga anggota majelis ta‟lim Darul Hijrah disitu mi lagi ada

lagi dibuat kegiatan arisan jadi sama-sama mi lagi dengan orang Mandar.

Penuturan informan ketiga menunjukkan bahwa kegiatan

keagamaan menjadi sarana interaksi antara informan dengan suku

Mandar, sehingga sama dengan informan-informan sebelumnya

bahwa informan miliki pengetahuan dan pemahaman mengenai suku

Mandar.

Yah disitu mi juga seninya to ada kebersamaan ta, walaupun beda-beda suku ki. Tidak adaji yang dibilang dibeda-bedakan ini orang Mandar atau ini orang Bugis samaji semua kalau ketemu sama-sama orang Bugis saya pake bahasa Bugis kalo orang Mandar pake bahasa Indonesia, paling itu komunikasinya terhambat dibahasa kalau saya sama-sama orang Bugis pake bahasa Bugis, mereka tidak tau artikan begitupun sebaliknya kita juga tidak mengerti apa nabilang meskipun ada-ada ji yang ditaukan sedikit. Selama saya disini kita semua saling tolong menolong, baru komunikasi ta saling terbuka kita cerita-cerita yang hal-hal baik baiknya tidak pernah cerita-cerita yang jelek, artinya kita sama-sama terbuka, kalo saya memang terbuka ja sama orang disini begitu juga orang-orang Mandar disini terbuka ki orangnya, ramah-ramah baik juga, kayak ini disamping rumahku orang Mandar baik semua seringki luangkan waktu kalau sore duduk-duduk didepan rumah cerita-cerita.

Dalam penuturan informan selanjutnya, bahwa bahasa menjadi

hambatan dalam berkomunikasi, karena informan sulit memahami

bahasa suku Mandar. Meskipun demikian informan tetap dapat

merasakan rasa kebersamaan yang kuat tanpa ada diskriminasi suku.

Informan menganggap suku Mandar adalah orang yang terbuka dan

ramah dalam berkomunikasi, hal ini dilihat adanya waktu yang

diluangkan oleh informan dan suku Mandar untuk berkomunikasi.

“Memang biasa saya dengar kalau suku Mandar itu dikenal banyak doti-dotinya, nah lama mi saya tau itu karena dari teman na orang cerita-cerita toh. Kalau saya pribadi tidak berprasangka seperti itu apalagi dibilang was-was mau bicara sama orang mandar tidak ji.

Kita disini saling menghormati sama menghargai karena anatara orang Bugis dengan Madar disini selama ini hubungannya harmonis. Belum pernah ada masalah apa, kita seling terbuka komunikasi nya artinya tidak adaji yang bilang ini orang Bugis atau Mandar ini yang harus ditemani bicara. Soal seperti itu yang dikenal orang Mandar mungkin karena orang-orang yang belum lama sama-sama tinggal orang Mandar to tapi kalau macam saya lama sama-sama justru hilang mi dipikiranku kalau ada yang seperti itu.

Berdasarkan dari penuturan informan ketiga bahwa informan

juga memiliki stereotip terhadap suku Mandar. Tetapi stereotip

tersebut tidak mengarah pada prasangka yang memberikan penilaian

negatif. Hal ini disebabkan stereotip negatif tidak didukung oleh

pengalaman dan pengamatan langsung dari informan melainkan

sebatas informasi yang didengar dari teman informan. Oleh karena itu

stereotip tersebut tidak menjadi hambatan bagi informan untuk

melakukan komunikasi dengan suku Mandar.

Penuturan informan keempat

Kalau membicarakan soal bagaimana kehidupan antar warga disini saya banyak tahu, apalagi orang mandar. bisa saya katakan saya sangat mengenal orang Mandar lebih dari orang yang tahu karena hal yang seperti saya bilang tadi sudah sekian tahun saya berinteraksi dengan mereka bahkan anak saya nikah dengan orang Mandar.Saya biasa jalan-jalan ke Polmas. Disini yang memang sudah masyarakatnya sudah dihuni bermacam suku ada Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, Flores, Jawa dan cina tidak menutup kemungkinan sangat rawan terjadi konflik.Tapi alhamdulillah hal itu sangat jarang

terjadi. Memang pernah beberapa kali terjadi konflik sebelum dibangun mesjid dan kejadiannya itu pas didepan rumah tapi yang bersinggungan itu antar sesama warga Jeneponto bukan konflik antar suku.

Dari penuturan informan keempat, bahwa informan sangat

mengenal suku Mandar. Hal ini disebabkan informan sudah sangat

lama berinteraksi dengan orang-orang Mandar, bahkan informan

memiliki ikatan keluarga dengan suku Mandar. Informan melihat saat

ini di kelurahan lette tidak lagi hanya dihuni suku Mandar tetapi sudah

dihuni dari berbagai suku dan etnis.

Saya melihat orang Mandar secara pribadi bahwa Mandar orang-orangnya sportif, cepat tersinggung tapi tutur kata mereka lemah lembut, dan kalau soal ilmu-ilmu mistis yang dikatakan orang-orag saya sempat dengar.Mungkin dari sisi agama mereka bagus, saya kenal tokoh agama yang terkenal di Mandar namanya “imam Lapeo”. Saya mengatakan mereka cepat tersinggung yah memang benar tapi mereka sangat cepat juga redah dan mereka redah bukan karena dari orang lain tapi kesadarannya timbul dari dalam diri mereka sendiri tidak seperti dari warga lain yang saya lihat, kalau mau diselesaikan masalahnya harus pake media artinya ada orang ketiga.

Dari penuturan informan selanjutnya bahwa informan

memiliki stereotip tersendiri mengenai suku Mandar yang terbentuk

dari pengalaman pribadi, berbeda dengan informan-informan

sebelumnya. Menurut informan bahawa suku Mandar orang-oranya

sportif, mudah tersinggung tetapi mudah juga redah yang timbul dari

kesedaran mereka sendiri, memiliki tutur kata yang lembut dan

sopan.Mengenai stereotip negatif suku Mandar, informan tidak terlalu

menanggapinya karena hal tersebut tidak pernah didapatkan pada

pengalaman pribadi informan.

Saya menganggap faktor saling memahami sangat penting untuk menjalin hubungan termasuk didalmnya adalah memahami apa yang warga butuhkan termasuk dari kebutuhan ekonomi, karena masalah bisa dipicu dari ekonomi. Kemudian saya juga tidak membawa idetitas saya dalam berinteraksi Baik Mandar Bugis, atau warga lainnya sehingga mereka tidak segan untuk berkomunikasi, kita punya kesesejaran lah. Orang akan segan berbicara dengan kita kalau kita selalu membawa identitas dan menganggap diatas dibanding orang lain misalnya orang tahu kalau kita kaya, kita pejabat dan apalah sebagainya.Makanya saya biasa tidak segan-segan untuk gabung dengan warga biar main domino meskipun saya tidak tahu main dan tidak pernah membahas mengenai pekerjaan saya. Intinya dalam pandangan agama “Hablun minannass” hubungan sesama manusia yang harus dijaga, dan mesjid juga punya peranan sangat penting dalam membangun hubungan Karena di dalam mesjid kita bertemu meskipun kita dari latar belakang berbeda.

Pada penuturan ini, informan keempat memiliki pandangan

dalam menanggapi atas perbedaan yang dapat menimbulkan

perselisihan.Informan menganggap bahwa dengan pemahaman agama

yang baik, kita akan mampu untuk saling memahami satu sama lain dan

dan senantiasa mengutamakan kesetaraan dalam hidup bermasyarakat.

Karena dengan kesejajaran tersebut akan ditemukan kemudahan dalam

berkomunikasi, masing-masing pihak yang terlibat dalam

berkomunikasi tidak merasa ragu dalam menyampaikan pesan. Dalam

penuturan informan juga didapatkan gambaran tentang fungsi rumah

ibadah yakni sebagai sarana pertemuan yang mewadahi masyarakat

yang berbeda latarbelakang baik budaya, status mupun aspek ekonomi.

Penuturan informan kelima

Disini kan ada Mandar sama Bugis kita biasanya terkendala dibahasa, ya bahasa indonesia mami kita pake karena mereka biasa pake bahasa Mandar kalau para orang Mandar, untung ada bahasa Indonesia.Biasanya kalau ada acara-acara apa to kayak pengajian di mesjid, disitu mi pake bahasa Mandar mereka kita juga kadang pake bahasa Bugis.Alhamdullah tidak adapi masalah dari orang Mandar dengan Bugis di sini apa lagi kan biasa terjadi ketersinggungan karena perbedaan bahasa ji, itu mi kan ada biasa bahasa atau kata-kata yang sama bunyinya dari bahasa Mandar atau Bugis tapi beda maknanya menurut orang Mandar atau Bugis, dengar biasa banyak masalah timbul dari situ. Biasa to orang-orang tua Mandar disini pas ka baru disini nabicara pake bahasa Mandar ka senyum-senyumma saja karena tidak kutahu artinya.

Dari penuturan informan kelima bahwa bahasa menjadi

penghambat dalam melakukan komunikasi dengan orang Mandar,

sama dengan beberapa informan sebelumnya. Dari perbedaan bahasa

yang dimiliki dangan suku Mandar terkadang informan merasa

kawatir akan timbulnya konflik dikarenakan kesalapahaman dalam

mengartikan bahasa yang mereka gunakan. Oleh karena itu informan

menggunakan bahasa Indonesia dalam melakukan komunikasi dengan

orang Mandar.

Selain dari masalah bahasa, kalo masalah bergaulnya saya nda ada masalah gang.karena saya orangnya cerewet, saya itu biasa kalau satu kali ketemu langsung akrab begitupun dengan orang Mandar disini atau siapa saja. tergantung kepribadiannya orang mungkin, karena biasa ada orang kalo tidak disapa tidak nasapamiki juga. Tapi kalo saya, saya sapa ki duluan kalau ketemu. Saya sering ja juga ikut acara kaya pengajian, baru didalam campur mi semua artinya ada Mandar, Bugis, Makassar. Kalau ketemunya bukan hanya dikegiatan pi, ini juga saya sering sekali setiap sore sempatkan duduk-duduk di depan rumah campur mi lagi.Itu kaya yang

tetanggaku orang Bugis dari Soppeng ada juga, yang dicerita itu baisanya soal makanan ji.

Dari penuturan selanjutnya, informan memiliki kepribadian

yang terbuka dengan siapa saja sehingga dengan keperibadian tersebut

informan dapat dengan mudah berinteraksi dengan lingkungan

sekitarnya khususnya dengan orang-orang Mandar. Hal ini dapat

dilihat dari kebiasaan informan meluangkan waktunya untuk sengaja

berkomunikasi dengan orang Mandar pada waktu luang.

Kalau masalah nabilang orang Mandar terkenal banyak doti-dotinya yah itu mungkin orang-orang tua dulu, hampirma bilang dulu orang Mandar itu bahaya. kalau ilmu-ilmunya saya tidak percaya karena saya dari kecil memang dididik agama apalagi saya pernah tinggal di Sukaria Pettarani sama tante agamanya bagus jadi saya diajarkan agama. Yah,mungkin ada tonji begitu tapi tidak semua nabilang orang-orang tua dulu, baru bukan ji juga hanya Mandar yang ada begitunya, di Bone juga ada yang dikenal dekat rumahku bisa juga begitu. Itu tetanggaku orang Mandar pernah beng ditanya tentang asalnya, dia jawabmi dari Mandar langsung mi dikira banyak baca-bacanya bisa kasi lembe kepala.Kita disini saling tolong-menolongki jadi itu prasangka tidak ada memang tong justru biasa kalau kebetulan belum sempat masa nasi, saya minta nasi begitupun sebaliknya karena kayak saudara miki semua. Insyallah saya berharap bisa terus kita jaga hubunganta dengan sering-sering silaturahmi kaya itumi sempatkan cerita-cerita supaya persatuanta juga semakin bagus.

Dari penuturan informan kelima, informan memiliki stereotip

negatif terhadap suku Mandar. Stereotip tersebut diketahui dari orang

tua dan teman-teman informan, namun pengetahuan dan keyakinan

terhadap agama yang dimiliki informan membuat stereotip terhadap

suku Mandar tidak berkembang kearah penilaian negatif. Informan

menganggap bahwa semua suku itu sama walaupun terdapat kesalahan

pada individu, kesalahan itu tidak boleh ditujukan ke identitas suku

melainkan harus melihat keselahan itu dari kepribadian individu.

Selama ini informan menganggap suku Mandar dalam hidup

bermasyarakat sangat baik, informan merasa nyaman saat

berkomunikasi dan memiliki solidaritas kuat.

A.2 Faktor Yang Mempengaruhi Stereotip Yang Berkembang

Terhadap Suku Mandar

Pengetahuan atau informasi yang dimiliki kelompok terhadap

kelompok lain, beberapa diantaranya didapatkan dari pengalaman

individu ataupun diketahui dari orang-orang disekitarnya dan ini dapat

menjadi keyakinan kelompok untuk memberikan penilain terhadap

kelompok lain walaupun kelompok tidak memiliki interaksi langsung

secara intensif. Ada banyak hal yang mempengaruhi suatu stereotip

berkembang baik itu murni dari dalam diri seseorang ataupun berasal

dari faktor luar.

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stereotip

terhadap suku Mandar dapat dijelaskan melalui penuturan informan

dalam petikan wawancara berikut ini:

Penuturan informan pertama

Tapi Begini ade, sama mi itu orang Cina yang dianggapki‟ “sekkeorang-orang tapi itu Cina didepan, menyumbang ji ke mesjid padahal bukan ji agama Islam, tidak semuaji orang Cina sekke. Samami juga orang Mandar, yah mungkin ada, baru tidak semua ji itu kalau memang ada begituannya, tapi

selamaka disisni seringka ketemu apa, datang kerumah, ketemu dipengajian, diacara PKK baik semuaji kalau bicara ki sama. Allahua‟alam kalau yang lain dia, biar orang Mandar kalau ada juga tidak baik toh. baru kalau yang saya liat disini orang Mandar rata-rata bagus agamanya bahkan adami orang Mandar jadi imam mesjid disini, ustadnya juga itu orang Mandar. Memang kan awalnya sebelum ki disini kita taunya orang mandar itu biasanya dikenal begitunya tapi lama mi disini justru baik-baik ki semua.

Menurut penuturan warga pertama stereotip yang diketahui

mengenai suku Mandar itu masih tetap menjadi pengetahuan informan

tetapi faktor kedekatan dan kebiasaan yang diamati informan dalam

interaksinya dengan suku Mandar, informan memiliki stereotip lain

terhadap suku Mandar yaitu orang-orangnya dikenal taat beribadah

dan banyak memegang peranan dalam kegiatan keagamaan seperti

menjadi Imam atau ustad. Jadi faktor interaksi langsung dan

pengamatan mempengaruhi perubahan stereotip.

Penuturan informan kedua

Kalau secara khusus kita lihat masyarakat misalnya Mandar, baik ji, terbuka semua, kalau dibilang memang orang biasa taunya kan Mandar dikenal karena ilmu-ilmu dotinya, kalo saya tanggapanku saya tidak mau memvonis atau orang di kasi sama rata.kayak saya ada sebagian orang bilang saya begini tapi tetap ji kenapa juga banyak datang ke rumahku. Itu juga orang Cina yang didepan itu banyak orang bilang tidak baik ki tertutup orangnya, tapi kenapa bagus sama saya. sering tiap hari datang kalau malam disini Saya tadi bilang dari kitanya ji, bagaiman pendekatanta, komunikasinya mi. Tidak bisa langsung vonis orang baru dikasi sama rata kita pelan-pelan to.

“Ini juga saya biasa kasi penyuluhan tentang KB di rumahnya orang Mandar ini, awalnya suaminya marah-marah. Tapi bagus pendekatanta komunikasi ta sopan akhirnya lama-lama bisa ji juga menerima. Biasa juga ini kegiatan pembagian

beras RASKIN atau sembako ada protes-protes, tidak sampai timbulji masalah besar antara warga ini dengan warga ini. Saya tidak bilang kalau warga ini baik atau tidak karena protes-protesnya.seperti saya bilang saya tidak mau sama ratakan tergantung pribadinya orang to.

Berdasarkan penuturan informan kekedua, dapat disimpulkan

bahwa cara informan dalam menanggapi stereotip negatif yaitu

dengan tidak mengeneralisir stereotip terhadap suku Mandar

merupakan faktor utama tidak berkembangnya stereotip negatif

terhadap suku Mandar.

Penuturan informan ketiga

“Meskipun saya tahu dari orang-orang kalau banyak doti- dotinya mungkin itu dulu tapi selama ka tinggal disini belum pernah lihat langsung cuma cerita ji saya dengar.Sekarang mungkin antara percaya tidak percaya mi karena lima belas tahun ma tinggal disini. Saya kenal orang Mandar justru bagus agamanya, bagus persatuannya, kebersamaannya, kalau cerita biasa yang lucu-lucu.

Berdasarkan penuturan informan ketiga bahwa melemahnya

stereotip negatif terhadap suku Mandar disebabkan oleh faktor

kebenaran stereotip itu sendiri. Informan belum pernah melihat secara

langsung kebenaran ilmu doti yang distereotipkan terhadap suku

Mandar, Justru menurut pengamatan informan suku Mandar orang-

orangnya taat beribadah.

Makanya kalau saya, kita perlu perbaiki cara bicara sama orang, jangan menyinggung perasaannya orang to biar Mandar atau suku lain, karena biasa kalo misalnya kena yang begituan kan dari kita yang bikin sakit hati.Yah yang nacerita orang kan yang mungkin pernah mereka lihat makanya itu mi

nabesar-besarkan, yang jelas saya tidak pernah lihat apalagi lama ma sama-sama orang Mandar disini. Itu mi kita jadikan dasar ta berhubungan sama orang, sopan ki, hargai orang kalo bicara. Saya biar dimana dikegiaan-kegiatan atau kalau duduk sore-sore sering saya terapkan biar dimana bukan hanya disini kalau ditempatnya orang harus memang dikasi begitu.

Dari penuturan informan selanjutnya memperlihatkan bahwa

stereotip negatif yang berkembang menjadi sebuah prinsip atau

landasan bagi informan dalam bekomunikasi. Informan memandang

perlu adanya sikap sopan dalam bertutur dan tidak menyakiti hati

ketika menyampaikan sesuatu kepada orang lain, karena anggapan

informan bahwa ilmu sihir itu dapat terjadi ketika kita melukai

perasaan orang lain.

Penuturan informan keempat

“Kalau dikatakan bahwa suku Mandar orang-orang sportif, gampang tersinggung, agamanya bagus dan tutur sapa yang lembut karena faktor kebersamaan itu tadi Saya mengatakan sportif karena yang saya alami bersama teman-teman dari mandar sewaktu berteman dengan mereka kalau ada masalah dia berani menghadapi satu lawan satu, bukan panggil teman baru berani Ini kan kebanyakan yang saya liat kalau ada masalah ajak teman baru berani. Kalau Mandar tidak, satu lawan satu.

Masalah gampang tersinggung tadi memang cepat tapi mereka cepat juga menyadarinya saya berfikir bahwa faktor pengetahuan agamanya dan nilai-nilai budaya mereka pegang sehingga ada kesadaran, bukan hanya orang Mandar tapi Bugis juga seperti itu apalagi Bugis, Makassar dan Mandar ada persamaan dari segi budaya. Mesjid juga sebagai salah satu tempat melakukan kegiatan keagamaan maupun kegiatan lain juga keterlibatan orang mandar, terlihat hal-hal seperti itu.

Tentunya kita juga tidak terlepas melihat Mandar yang seperti apa dulu karena mungkin ada perbedaan Mandar yang

ada di kota dan didesa,kalau melihat Mandar yang ada dikota yang sudah banyak mendapatkan pengaruh pendidikan, teknologi dan lain sebagainya maka tidak boleh disamakan penggambarannya. bisa kita lihat bagaimana orang Mandar di Makassar sudah hampir sama dengan warga Makassar dalam dialeknya ketika menggunakan bahasa Indonesia.

Kemudian orang yang memberikan gambaran juga latar belakangya perlu diperhatikan.Misalnya kan orang Mandar dikenal dengan mistisnya itu kan bagi orang yang percaya hal itu.Tapi kalau macam saya, pola pikir saya dipengaruhi pendidikan dan agama kan sudah tentu beda menaggapinya.

Dari penuturan informan bahwa faktor pengalaman pribadi,

latar belakang pendidikan dan pemahaman agama sangat berpengaruh

dalam melihat penggambaran suku Mandar saat ini.Informan melihat

bahwa keberadaan suku Mandar yang ada diperkotaan tentunya sudah

dipengaruhi oleh pendidikan dan teknologi.Oleh karena itu menurut

informan anggapan tentang ilmu sihir (doti) tidak cocok lagi

digambarkan terhadap suku Mandar.

Penuturan Informan Kelima

Ada ma 12 tahun tinggal disini selama ini saya lihat alhamdullah kemasyarakatannya bagus, agamanya juga bagus artinya yang kita liat agamanya mi itu yang kasi anu ki bilang tidak ada ji yang begitunya paeng, menutupi mi ceritanya. Kalau dibilang prasangka atau yang seperti menilai tidak baik karena ada begitunya, tidak ada. karena saya lihat orang- orang disini, orang Mandar terbukaki semua, bagus komunikasinya enak diajak cerita-cerita. Kalo orang jual mahal diajak cerita yah malu-malu tong ki tapi kalo baik sama kita, kita juga baik.Itu yang saya liat selama tinggal disini.

Mungkin dibawa kedirita lagi, bukan ji masalahnya dari ilmu-ilmu apa to karena semua daerah ada begitunya, tapi semua Tuhan yang atur. Kalau belum pi ki paham memang menanggapi yang beigituan, yah pasti mi ada kaya kekawatiranta untuk bicara atau berhubungan, tapi coba kita serahkan sama Tuhan apalagi baik niat membangun

silaturahmi insyallah baik-baik ji semua itu. Makanya kita warga disini supaya tetap ki dijaga kemasyarakatannya kita sering-sering silaturahmilah.

Dari penuturan informan kelima dapat disimpulkan bahwa

faktor pengetahuan dan keyakinan nilai-nilai agama serta perilaku

yang ditunjukan oleh warga suku Mandar berpengaruh terhadap

perkembangan stereotip. Stereotip yang ada pada suku Mandar

berubah berdasarkan cara informan menanggapi dengan konteks

agama. Perubahan stereotip informan juga disebabkan kebiasaan dan

prilaku warga suku Mandar yang terlihat oleh informan menutupi

penggabaran suku Mandar yang diketahui sebelumnya.

B. Pembahasan

B.1 Perkembangan Stereotip

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, secara umum

stereotip memiliki empat dimensi yaitu Arah (direction) arah penilaian,

baik penilaian positif atau negatif. Intensitas, yaitu seberapa kuat dan

lemahnya keyakinan dari suatu stereotip. Ketepatan, artinya kebenaran

dari streotip, pernah terjadi atau sama sekali tidak pernah terjadi. Isi

khusus, yaitu sifat-sifat khusus atau karakter tertentu mengenai suatu

kelompok yang dapat berubah dari waktu ke waktu.

Berikut

akan

dijelaskan

perkembangan

stereotip

suku

Bugis

terhadap suku Mandar berdasarkan keempat dimensi tersebut:

Arah (direction)

Hasil analisis data yang telah diperoleh di lokasi penelitian,

secara umum dapat disimpulkan bahwa arah stereotip mengalami

perkembangan yakni dari penilaian negatif menjadi penilaian positif.

Dengan adanya perubahan penilaian tersebut tentunya akan mempegaruhi

dampak stereotip pada komunikasi antarbudaya masyarakat suku Bugis

dan suku Mandar, adapun dampak stereotip yang dimaksud adalah

prasangka yang memungkinkan kurangnya intensitas dan kualitas

interaksi.

Penilain positif terhadap suku Mandar juga secara langsung

memberikan peluang terhadap kemudahan dalam melakukan komunikasi

antarbudaya. kemudahan-kemudahan itu dapat berupa keinginan dan

keberanian untuk memulai berkomunikasi. Hal ini dapat dilihat dari

aktifitas komunikasi informan dengan suku Mandar dalam kehidupan

sehari-hari mereka, informan secara rutin sengaja meluangkan waktunya

untuk berkomunikasi dengan suku Mandar.

Adanya kesengajaan untuk melakukan komunikasi juga dapat

diindikasikan sebagai bukti telah terjadi hubungan yang baik antara

masyarakat suku Bugis dengan suku Mandar. Hal ini dilihat dari

penuturan informan kedua secara tegas mengatakan bahwa informan

lebih memilih berkomunikasi dengan suku Mandar dibanding suku

lainnya.

Intensitas

Intensitas diartikan seberapa kuat dan lemahnya keyakinan dari

suatu stereotip. Stereotip suku Bugis terhdap suku Mandar yang

menggabarkan suku Mandar memiliki ilmu sihir (doti) yang dapat

melembekkan kepala seseorang memang sempat menjadi keyakinan yang

cukup kuat pada beberapa informan.

Hal tersebut disebabkan kurangnya pengatahuan dan interaksi

langsung informan dengan suku Mandar, ditambah lagi dengan sikap

informan yang menerima begitu saja dan sedikit melakukan usaha

mencari pengetahuan tentang suku Mandar ketika stereotip negatif

diterima dari keluarga maupun teman informan. sebagaimana pandangan

dovido, Evans, & Tyler dalam Baron bahwa Informasi yang sesuai

dengan stereotip diaktifkan sering diproses lebih cepat dan diingat lebih

baik daripada informasi yang berhubungan dengan hal lain. penjelasan

tersebut nampak jelas pada diri informan.

Dari penuturan semua informan bahwa keyakinan mengenai

stereotip negatif yang berkembang menjadi lemah. Hal ini disebabkan

dari kebenaran stereotip itu sendiri, stereotip negatif yang berkembang

tidak pernah dialami dan diamati secara langsung oleh informan selama

bersama dengan suku Mandar melainkan hanya sebatas isu yang

kebenarannya masih diragukan.

Lemah dan kuatnya keyakinan terhadap stereotip berpengaruh

besar terhadap komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya tidak

akan terjadi jika salah satu orang atau keduanya yang terlibat dalam

komunikasi memiliki keyakinan yang kuat terhadap stereotip negatif

yang dimiliki anggota kelompok, keyakinan yang kuat itu justru hanya

akan menjadi penilaian negatif terhadap masing-masing pihak yang

terlibat komunikasi.

Menurut Werner dan Tankard (2008:177) bahwa keyakinan

sangat terkait dengan sikap seseorang terhadap sesuatu seperti seseorang

yang yakin bahwa anggota kelompok ras tertentu kurang cerdas mungkin

akan memperlakukan orang-orang tersebut dengan cara berbeda. Dalam

penjelasan tersebut kita dapat melihat seberapa besar pengaruh keyakinan

pada stereotip suku Bugis terhadap suku Mandar, misalnya informan

pertama dan kelima sempat merasa kawatir untuk berkomunikasi dan

mengannggap suku Mandar itu berbahaya karena memiliki ilmu sihir

(doti), tetapi ketika keyakinan tersebut melemah, perlakuan mereka pun

berubah tidak ada lagi kekawatiran dan anggapan negatif terhadap suku

Mandar.

Ketepatan

Aspek ketepatan ini sangat berpengaruh terhadap intensitas dan

arah stereotip karena ketepatan terkait dengan kebenaran akan setereotip

itu sendiri. Keyakinan akan semakin kuat terhadap stereotip jika

mengandung nilai kebenaran atau pernah terjadi. Judd, Ryan & Parke

dalam Byrne (2003:230) memberikan pengertian terhadap stereotip

sebagai kerangka berpikir kognitif yang terdiri dari pengetahuan dan

keyakinan tentang kelompok sosial tertentu dan karakter tertentu yang

mungkin dimiliki oleh orang yang menjadi anggota kelompok. Dalam

pengertian ini bahwa sebagaian stereotip keberadaannya masih diragukan

artinya hanya sebatas dugaan atau kemungkinan yang digenaralisir

kepada semua anggota kelompok dan belum tentu pernah terjadi.

Dari kelima informan yang telah diwawancarai, kelima informan

belum pernah melihat secara langsung mengenai stereotip negatif yang

berkembang, stereotip tersebut diperoleh dari penuturan orang terdekat

informan seperti keluarga dan teman tanpa ada pengalaman secara

langsung.

Isi khusus

Isi khusus merupakan sifat-sifat khusus atau karakter tertentu

mengenai suatu kelompok yang dapat berubah dari waktu ke waktu.

Aspek ini dapat dikatakan sebagai bentuk stereotip secara umum karena

stereotip diartikan sebagai penggambaran mengenai suatu kelompok akan

karakter atau sifat yang dimiliki kelompok tertentu.

Dimensi ini juga terkait dengan arah penelian informan terhadap

suku Mandar, artinya penilaian tersebut diperoleh dari penggambaran

suku Bugis terhadap karakter atau sifat yang terlihat oleh suku Bugis

sehingga penggambaran karakter akan berubah berdasarkan pengamatan

informan.

Hal ini dapat ditemukan dari penuturan para informan mengenai

karakter dan sifat orang Mandar yang selama ini mereka amati yaitu

terbuka, ramah, solidaritas yang kuat, taat beribadah ataupun cepat

tersinggung. Sangat berbeda dengan penggambaran yang sebelumnya

mereka ketahui ketika belum melakukan interaksi langsung yaitu suku

Mandar diketahui sebagai suku yang memiliki ilmu sihir pelembekan

kepala.

Interaksi langsung yang kemudian mempengerahui intensitas dan

kualitas interaksi dalam kurung waktu yang lama secara langsung

mempengaruhi perubahan stereotip terhadap suku Mandar. Pengalaman-

pengalaman yang dialami bersama-sama dalam kehidupan bermasyarakat

menimbulkan pengetahuan-pengetahuan baru, hal ini sesuai dengan

anggapan Jhonson dalam Liliweri (2005:209) bahwa stereotip tebentuk

karena adanya pengetahuan dan pengalaman bersama.

Akibat dari perubahan penggambaran karakter atau sifat tersebut

tetunya akan menjadi generalisasi terhadap orang Mandar lainnya

meskipun itu tidak semua penggambaran tersebut dimiliki oleh orang

Mandar yang berada diwilayah lain. Hal ini dikarenakan individu yang

menjadi anggota kelompok diasumsikan memiliki karakteristik, ciri khas

kebiasaan bertindak yang sama dengan kelompok yang digeneralisasi.

(Miles dan Brown dalam liliweri 2005:208)

Perubahan penggambaran karakter atau sifat khusus juga secara

langsung mempengaruhi komunikasi antarbudaya. Dengan adanya

penggambaran sifat dari suku Mandar yang terbuka yang artinya

menerima keberadaan orang lain maka suku Bugis tidak perlu merasa

kawatir dalam memulai komunikasi. Sikap ini sesuai dengan The 5

Invetable Laws of Effective Communication (Lima Hukum Komunikasi

Efektif) yang sekaligus menjadi dasar dalam membangun komunikasi

antarbudaya secara efektif diantaranya adalah Respect dan Clarity.

Respect diartikan sikap menghargai dan Clarity selain diartikan sebagai

kejelasan dari pesan juga dimaknai sebagai sikap terbuka yang harus

dimiliki oleh orang yang terlibat dalam komunikasi (Suranto 2010:196).

Secara sederhana perkembangan stereotip suku Bugis terhadap

suku Mandar dapat digambarkan dalam tabel berikut ini:

Stereotip suku Bugis terhadap suku Mandar sebelum melakukan interaksi

secara langsung dengan suku Mandar

Informan

 

Dimensi Stereotip

 

Isi Khusus

Ketepatan

Intensitas

Arah

I

Memiliki

Ilmu

Tidak

pernah

Kuat

Negatif

sihir (doti)

terjadi

Memiliki

ilmu

Tidak

pernah

II

   

Lemah

Negatif

sihir (doti)

terjadi

Memiliki

ilmu

Tidak

pernah

III

sihir (doti)

terjadi

Lemah

Negatif

Memiliki

ilmu

Tidak

pernah

Lemah

Negatif

IV

sihir (doti)

terjadi

Memiliki

ilmu

Tidak

pernah

V

sihir (doti)

terjadi

Lemah

Negatif

Gambar III: Tabel stereotip suku Bugis sebelum terjadi interaksi dengan suku Mandar

Stereotip suku Bugis terhadap suku Mandar setelah melakukan

interaksi secara langsung dengan suku Mandar

Informan

 

Dimensi Stereotip

 

Isi Khusus

 

Ketepatan

Intensitas

Arah

I

Taat beribadah

 

Terjadi

Kuat

Positif

II

Terbuka

Terjadi

Kuat

Positif

III

Taat

beribadah,

Terjadi

Kuat

Positif

terbuka dan solidaritas

kuat

Cepat

tersinggung,

IV

solidaritas

kuat,

tutur

Terjadi

Kuat

Positif

kata sopan

Dan negatif

V

Solidaritas

kuat,taat

Terjadi

Kuat

Positif

beribadah

dan

baik

dalam berkomunikasi

Gambar IV: Tabel stereotip suku Bugis sebelum terjadi interaksi dengan suku Mandar

Dari pernyataan informan yang telah dirampungkan dan

kemudian dianalisis bahwa secara umum stereotip menurut peneliti tidak

selamanya diikuti oleh prasangka negatif sebagaimana yang diungkapkan

beberapa informan ketika menerima stereotip sebagai informasi, cara

menanggapi baik itu positif atau negatif terhadap stereotip yang

berkembang adalah faktor yang mempengaruhi arah stereotip menjadi

prasangka. Dalam hal ini dimensi-dimensi stereotip menjadi

pertimbangan dalam menanggapi stereotip yang berkembang.

B.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan stereotip

1. Faktor Lingkungan sosial (Sumber stereotip diperoleh)

Dari hasil pemaparan beberapa informan, dapat diketahui

bahwa stereotip yang terbentuk dalam diri informan terhadap suku

Mandar dipengaruhi dari sumber stereotip yaitu diketahui baik dari

keluarga ataupun orang lain. Dari kelima informan, empat

diantaranya mengetahui stereotip dari teman dan orang tua, peneliti

mengamati pengaruh lingkungan ini sangat mempengaruhi intensitas

stereotip dalam diri informan yaitu kuat atau lemahnya keyakinan

terhadap stereotip. Hal tersebut dapat dilihat pada informan pertama,

keyakinan informan pertama terhadap stereotip sangat kuat terhadap

suku Mandar dikarenakan informasi tersebut langsung diketahui dari

orang tua informan.

Pada informan keempat juga menilai aspek lokasi

(lingkungan) dalam memberikan penggambaran terhadap suku

Mandar, terdapat perbedaan antara suku Mandar yang berada di desa

dan di kota. Informan melihat bahwa suku Mandar di kota sudah

banyak mendapatkan pengaruh pendidikan, teknologi dan pergaulan

dengan lingkungan sekitar sehingga penggambaran akan ilmu doti

terhadap suku Mandar tidak sesuai lagi dengan yang digambarkan

pada saat ini.

2. Faktor Persepsi

Dari penuturan informan yang telah diteliti, persepsi

memiliki pengaruh dalam pembentukan dan perkembangan stereotip

terhadap suku Mandar. Persepsi akan menentukan arah, intensitas,

ketepatan, dan isi khusus stereotip. Arah stereotip ini akan merujuk

pada penilain positif atau negatif, intensitas merujuk pada seberapa

kuat atau lemahnya keyakinan terhadap stereotip, ketepatan merujuk

pada kebenaran dari stereotip yang berkembang dan isi khusus

perubahan stereotip.

Proses persepsi ini diawali dengan proses indrawi atau

fisiologi, terstimulus dengan yang dilihat, didengar, dicium dan

dirasakan, kemudian ransangan yang melalui proses indrawi akan

terproses dalam kategori memilih, mengorganisasikan dan

mengiterpretasikan sehingga seseorang dapat memberikan makna

terhadap stimulus yang diterima.

Informasi-informasi yang diterima oleh para informan

mengenai suku Mandar sebelum informan berinteraksi langsung

dengan suku tersebut adalah stimulus yang diterima dari lingkungan

sosial dan pada akhirnya mengarahkan informan untuk melakukan

penilaian, tentunya informasi ini dimulai dari pemilihan,

pengorganisasian dan pada akhirnya memberikan pemaknaan dari

informasi yang diterima.

Pada informan kedua dan kelima misalnya secara jelas

memberikan pemaparan bahwa cara mereka menanggapi stereotip

yang telah terbentuk menjadi dasar untuk berprilaku dalam

berkomunikasi. Pada informan kelima keyakinan nilai-nilai agama

berpengaruh dalam proses pemilihan, pengorganisasian dan

pemberian makna terhadap stereotip, sehingga menghasilkan sikap

terbuka dalam komunikasi.

Untuk informan pertama, ketiga dan kelima pengamatan

menjadi penentu dalam pembentukan dan perkembangan stereotip

terhadap suku Mandar, pengamatan tersebut adalah proses indrawi

yang merupakan bagian proses persepsi. Dalam hal ini suku Mandar

kesehariannya memiliki peranan penting dalam aktifitas keagamaan.

Peranan dalam aktifitas keagamaan inilah menjadi stimulus yang

nampak dominan dibanding stimulus lainnya. Sehingga pada

akhirnya membentuk kesan positif terhadap suku Mandar yang juga

merupakan intepratasi dari hasil pengamatan.

Kesan yang terbentuk dari prespesi warga suku Bugis adalah

kesan positif. Penilain religius terhadap suku Mandar tidak lepas dari

perilaku-perilaku yang ditampakan warga suku Mandar itu sendiri.

Sehingga perlu ditekankan bahwa warga suku Mandar memiliki

porsi besar dalam pembentukan dan perkembangan stereotip suku

Bugis. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa stereotip tidak hanya

dikembangkan oleh kelompok yang menstereotipkan tetapi

kelompok yang distereotipkan pun memiliki peran.

Sehubungan dengan hal tersebut maka dapat diasumsikan

bahwa jika berkembang suatu stereotip negatif terhadap suatu

kelompok maka stereotip tersebut tidak seharusnya ditampakkan

dengan perilaku yang bisa menguatkan stereotip. Sebaliknya jika

stereotip positif yang berkembang terhadap suatu kelompok maka

kelompok yang distereotipkan harus menunjukkan perilaku yang

sesuai dengan stereotip positif.

Proses persepsi ini juga terkait dengan fungsi dari stereotip

yang dikemukakan oleh Wyer dan Srull, bahwa stereotip berfungsi

sebagai skema yang merupakan kerangka kognitif untuk mengatur,

menafsirkan dan mengingat informasi. Sehubungan dengan hal

tersebut maka stereotip yang sebelumnya berkembang dan telah

menjadi acuan atau landasan bagi informan dalam berkomunikasi

dengan suku lainnya adalah fungsi stereotip sebagai skema dalam

aktifitas kerangka kognitf. Cara informan menyampaikan pesan

dengan menjaga tutur kata dan sopan dalam menyampaikan pesan

adalah hasil dari penafsiran stereotip.

Selain fungsi stereotip yang berkaitan dengan persepsi,

persepsi juga berkaitan dengan teori interaksi simbolik yang

memberikan penjelasan mengenai kerangka kerja kognitif (pikiran)

dalam kemampuannya dalam menggunakan dan memaknai simbol.

Tentunya hal ini penggambaran positif dari pengamatan suku Bugis

terhadap kebiasaan dan peran dalam aktifitas keagamaan suku

Mandar adalah hasil pemaknaan dari simbol-simbol yang diamati.

Simbol-simbol yang diamati disini adalah kebiasaan, peran dan

status yang dipegang suku Mandar dalam kehidupan beragama.

Sebagaimana hal ini ditegaskan Mead dalam Stephen dan

Karen (2009:233) bahwa gerak tubuh sebagai simbol signifikan,

gerak tubuh yang dapat mengacu pada setiap tindakan yang dapat

memiliki makna, hal ini biasanya verbal atau berhubungan dengan

bahasa, tetapi dapat juga berhubungan dengan non verbal.

3. Faktor Interaksi Langsung

Berdasarkan dari hasil wawancara dengan informan kedua

dan keempat bahwa faktor interaksi langsung dengan warga suku

Mandar juga dapat mempengruhi stereotip suku Bugis terhadap suku

Mandar yaitu arah penilaian negatif ke positif. Hal tersebut dapat

dilihat dalam aktifitas informan dalam memberikan penyuluhan dan

keterlibatan informan dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan

bersama suku Mandar. Terlebih lagi dengan adanya pemahaman dan

kepandaian informan dalam menggunakan bahasa Mandar semakin

mempermudah informan untuk memahami masyarakat Mandar.

Interaksi secara langsung ini memeberikan peluang untuk

melakukan komunikasi baik secara personal maupun kelompok.

Karena dari proses komunikasi ini informan dapat memahami cara

yang seharusnya digunakan dalam menjalin hubungan dengan suku

Mandar. Komunikasi personal dan kelompok dapat dilihat dari

aktifitas rutin yang dilakukan informan kedua, ketiga dan kelima,

mereka sengaja meluangkan waktu untuk melakukan komunikasi

dengan suku Mandar dilingkungan sekitar mereka.

Hal tersebut secara berlahan menepis kebenaran stereotip

negatif yang berkembang sebelumnya, terlebih stereotip tersebut

belum pernah dialami atau diamati secara langsung oleh informan.

Interaksi secara secara langsung justru memberikan pemahaman baru

warga suku Bugis terhadap penggambaran suku Mandar yang

kemudian digeneralisir pada semua orang Mandar.

Selain itu interaksi langsung juga membangun hubungan

yang akrab sehingga intensitas dan kualitas interaksi semakin baik,

hal demikian menjadikan suku Bugis dan Mandar memiliki

pengalaman yang dialami secara bersama-sama dalam hidup

bermasyarakat sehingga mereka dapat saling memahami akan

karakter budaya masing-masing.

4.

Faktor Unsur Kebudayaan (Keyakinan, Nilai, Sikap Dan

Organisasi Sosial)

Stereotip yang terbentuk melalui informasi yang diterima

oleh informan sebelum berinteraksi secara langsung dengan suku

Mandar memperlihatkan keyakinan, nilai dan sikap menentukan

perkembangan stereotip. Dari pemaparan informan kelima bahwa

stereotip yang terbentuk dan berkembang pada suku Mandar telah

dimaknai melalui landasan keyakinan agama yakni agama Islam

yang mengajarkan keyakinan kepada Tuhan yang maha esa serta

pemahaman akan pentingnya menjaga hubungan sesama manusia.

Hasil dari pengamatan bahwa keyakinan, nilai dan sikap

mempengaruhi stereotip terhadap suku Mandar memiliki persamaan

dengan hasil penelitian prasangka etnik di PT Freeport yang

dilakukan Westy. Kepercayaan terhadap agama ternyata menjadi

elemen kognitif pada suku Amungme sehingga tidak menimbulkan

prasangka yang berkelanjutan dimana agama Kingmi (Kristen versi

Amungme) mengajarkan untuk menghormati perjanjian dengan

orang lain, termasuk perjanjian yang pernah diadakan oleh kepala-

kepala suku mereka sendiri pada tahun 1970-an yang secara adat

telah menyerahkan hak-haknya kepada PT Freeport Indonesia

(Westy dalam Sarwono 2006:35).

Sikap terbuka dari suku Mandar dengan menerima

keberadaan orang lain adalah stereotip yang juga berkembang

sekaligus dapat dikategorikan dalam unsur budaya. Dari hal tersebut

antara warga suku Bugis dan suku Mandar menjadikan sikap terbuka

sebagai landasan untuk menjalin hubungan yang akrab guna

menciptakan kebersamaan dan persaudaraan yang kuat. Hal ini

ditunjukkan oleh informan kedua, ketiga dan kelima dengan adanya

keterbuakaan tersebut telah menghilangkan batasan-batasan

keraguan untuk melakukan komunikasi sekaligus menciptakan

kesepahaman dalam berkomunikasi.

Sikap terbuka menurut peniliti merupakan “konsep diri” yang

dimiliki oleh individu dan hal ini dijelaskan dalam teori interaksi

simbolik oleh Mead dalam dalam West dan Tunner (2008) bahwa

Konsep diri terbentuk dari penilaian orang lain yakni seperti apa

individu memandang diri mereka sendiri berdasarkan pandangan

orang lain. Jadi lingkungan kelompok yang memperlihatkan simbol-

simbol, memberikan pengaruh terhadap penilaian terhadap diri

individu sehingga akan memunculkan kecenderungan untuk

melakukan tindakan yang sama dengan kelompok.

Organisasi sosial juga memiliki peranan dalam perkembangan

stereotip. Dari kelima informan yang diteliti semuanya pernah aktif

dalam aktifitas organisasi sosial baik itu orgnisasi yang bersifat

pelayanan masyarakat atau keagamaan. Peneliti mengamati

organisasi sosial tersebut berfungsi sebagai wadah sosialisasi yang

didalamnya terdapat proses saling memahami satu sama lain

sehingga menimbulkan kesepahaman, saling menghargai, dan

menciptakan solidaritas antarsuku. Namun disisi lain organisasi

sosial juga menjadi tempat stereotip itu diwariskan misalnya pada

informan pertama, mengetahui stereotip dari lingkungan keluarga.

Saling menghargai dan rasa solidaritas kuat yang dimiliki

anatara suku Mandar dan suku Bugis saat ini merupakan wujud dari

nilai budaya masyarakat Bugis Makassar itu sendiri itu yaitu

sipakatau (saling menghargai) dan Pesse (solidaritas, kebersamaan).

Hal ini seringkali dikemukakan oleh beberpa informan yang

mengedepankan dan menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan

sehari-hari guna menjaga keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Penelitian ini telah dilakukan terhadap lima warga suku Bugis yang

berdomisili di jalan Rajawali kelurahan Lette kecamatan Mariso kota

Makassar. Berdasarkan lokasi tempat tinggal kelima warga tersebut, peneliti

dapat mengamati interaksi dan proses komunikasi antarbudaya dalam aktifitas

keseharian mereka dengan suku Mandar.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat stereotip yang berkembang pada

suku Bugis terhadap suku Mandar, serta ditemukan pula faktor-faktor yang

mempengaruhi berkembangnya stereotip dalam komunikasi antarbudaya. Hal

tersebut dapat dijelaskan dalam kesimpulan sebagai berikut:

A. Kesimpulan

1. Stereotip yang terbentuk pada masyarakat suku Bugis di kota

Makassar mengalami perkembangan positif. Perkembangan tersebut

dapat diukur dari empat dimensi stereotip yakni arah penilaian dari

penilaian negatif ke postif, intensitas yakni stereotip negatif terhadap

suku Mandar melemah dan stereotip positif menguat, ketepatan adalah

kebenaran akan stereotip negatif tidak pernah terjadi atau tidak pernah

dialami secara langsung dan isi khusus yaitu terbentuk penggambaran

baru mengenai suku Mandar yakni orang-orang suku Mandar taat

beribadah, memiliki sikap terbuka, tuturkata sopan, memiliki rasa

solidaritas tinggi dan cepat tersinggung.

2. Terbentuknya stereotip pada masyarakat suku Bugis terhadap suku

Mandar disebabkan beberapa faktor: pertama adalah lingkungan

sosial, yaitu sumber stereotip itu diterima sebagai pesan atau

informasi, baik itu dari keluarga atau pun orang lain. kedua adalah

persepsi, dalam Hal ini terkait dengan pengamatan suku Bugis

terhadap perilaku suku Mandar dalam kehidupan sehari-hari serta

pemaknaan dari masyarakat suku Bugis mengenai stereotip yang

berkembang. ketiga adalah interaksi langsung yaitu terbentuknya

peluang untuk melakukan komunikasi baik secara personal maupun

kelompok sehingga antara suku Mandar dan suku Bugis dapat saling

memahami. keempat adalah unsur kebudayaan seperti kepercayaan,

nilai, sikap dan lembaga sosial. Unsur kepercayaan, nilai dan sikap

merupakan unsur yang mempengaruhi cara berpikir dalam merespon

stereotip yang diterima, sedangkan lembaga sosial menjadi wadah

pertemuan dan sosialisasi antara suku Bugis dan suku Mandar

sehingga mereka dapat saling memahami dan terbangun hubungan

yang harmonis.

B. Saran

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap ilmu

komunikasi khususnya dalam komunikasi antabudaya. Adapun saran-saran

yang diberikan:

  • 1. Stereotip yang berkembang akan mempengaruhi proses komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat khususnya bagi masyarakat yang berlainan budaya, oleh karena itu kesadaran dan peran aktif untuk saling memahami satu sama lain sangat diperlukan. Tentunya hal tersebut dapat dimulai dengan sikap terbuka dalam komunikasi antarbudaya.

  • 2. Penelitian yang telah dilakukan dapat dilanjutkan dengan pertimbangan bahwa stereotip dapat berkembang dan berubah, khususnya pada perkembangan stereotip yang telah ditemukan terhadap suku Mandar.

  • 3. Stereotip-stereotip yang berkembang terhadap suatu kelompok suku dan etnis yang arahnya negatif hendaknya tidak dipandang sebagai penghambat dalam komunikasi melainkan dibutuhkan peran aktif dan baik dalam menanggapi hal tersebut. Sebaliknya stereotip yang mengarah pada penilaian positif hendaknya dijadikan sebagai karakteristik suatu kelompok budaya sehingga penilaian terhadap kelompok tersebut dapat mejadi kesan positif bagi kelompok lain.

  • 4. Diperlukan cara pandang yang baik dari setiap anggota masyarakat dalam melihat dan menaggapi stereotip yang berkembang baik stereotip yang mengarah pada penialian positif ataupun negatif, sehingga persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dapat

tetap terjaga dan konflik horizontal yang menjadi kekawatiran

karena adanya kesalapahaman kelompok antarbudaya dapat

ditanggapi dengan baik dan benar.

5. Diperlukan kesadaran akan pentingnya pemahaman unsur-unsur

Budaya baik itu kepercayaan, nilai-nilai dan sikap mengingat

pemahaman-pemahaman tersebut dapat memberikan pemahaman

dalam menaggapi stereotip yang mengandung dapak negatif. Selain

itu semangat untuk ikut serta dan aktif dalam lembaga-lembaga

sosial harus senantiasa ditingkatkan mengingat peranan lembaga

tersebut sebagai wadah pemersatu antar anggota masyarakat.

 

Daftar Pustaka

Ardianto,

Elvinaro

&

Bambang