Anda di halaman 1dari 27

PENCEMARAN LAUT

Disusun oleh :
1. Esti Lestiani 230110120096
2. Ulfah Nurrosyidah 230110120109
3. Nizha Nirera U 230110120112
4. Tria Mawardiani P 230110120134
5. Yuni Arisya 230110120138
6. Hanan Hanifah 230110120139
Perikanan B





PROGRAM STUDI PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2013

I. Pencemaran Laut
Pencemaran laut didefinisikan sebagai peristiwa masuknya partikel kimia,
limbah industri, pertanian dan perumahan, kebisingan, atau penyebaran organisme
invasif (asing) ke dalam laut, yang berpotensi memberi efek berbahaya.
Dalam sebuah kasus pencemaran, banyak bahan kimia yang berbahaya
berbentuk partikel kecil yang kemudian diambil oleh plankton dan binatang dasar,
yang sebagian besar adalah pengurai ataupun filter feeder (menyaring air).
Dengan cara ini, racun yang terkonsentrasi dalam laut masuk ke dalam rantai
makanan, semakin panjang rantai yang terkontaminasi, kemungkinan semakin
besar pula kadar racun yang tersimpan. Pada banyak kasus lainnya, banyak dari
partikel kimiawi ini bereaksi dengan oksigen, menyebabkan perairan menjadi
anoxic. Sebagian besar sumber pencemaran laut berasal dari daratan, baik tertiup
angin, terhanyut maupun melalui tumpahan.
II. Penyebab Pencemaran Laut
A. Pencemaran oleh minyak
Sumber utama pencemaran laut adalah berasal dari tumpahan minyak baik
dari proses di kapal, pengeboran lepas pantai maupun akibat kecelakaan kapal
(Sudrajad, 2006). Pencemaran yang bersumber dari kapal merupakan objek yang
intens dalam taraf internasional. Pencemaran bentuk ini lebih berbahaya jika
dibandingkan dengan pencemaran laut yang bersumber dari darat (Juajir, 1996).
Dari beberapa zat pencemar yang didentifikasi dan diklasifikasikan
sebagai zat pencemar, minyak bumi merupakan zat pencemar yang paling
dominan dalam pencemaran laut. Bertambah besarnya ukuran kapal, bobot,
kecepatan dan jumlah yang beroperasi di lautan, ditambah lagi dengan kegiatan
eksplorasi dan eksploitasi minyak lepas pantai, tidak saja meningkatkan jumlah
dan sumber pencemaran lingkungan laut, tetapi juga mengancam kelestarian
lingkungan laut.
Selama ini tumpahan minyak di laut terus menerus meningkat dalam
jumlah dan frekuensinya, sehingga mengakibatkan kerusakan terhadap sejumlah
besar wilayah pesisir dan laut. Beberapa kejadian yang telah menimbulkan
tumpahan minyak di laut dan memerlukan biaya pembersihan yang cukup besar
antara lain adalah kecelakaan kapal Torrey Canyon di sekitar English Channel,
ledakan sumur minyak di Santa Barbara, California (AS), tenggelamnya kapal
Metula di Selat Magellan, tumpahan minyak di Teluk Chesapeake, Virginia (AS),
tumpahan minyak yang berasal dari Argo Merchant, di sekitar Nantucket,
Massachusetts (AS), tenggelamnya kapal Amoco Cadiz di sekitar pantai Brittany,
Perancis, peristiwa Exxon Valdez di Alaska (AS). Tumpahan minyak yang berasal
dari kapal juga banyak terjadi di perairan Selat Malaka dan Selat Singapura.
Sebagian besar tumpahan minyak ini berasal dari tanker.
Akibat dari tumpahan minyak ini akan sangat cepat dirasakan oleh
masyarakat sekitar pantai dan sangat signifikan merusak makhluk hidup yang ada
di laut (Sudrajad, 2006). Hidrokarbon minyak bumi adalah pencemar utama di
lautan. Minyak dan gas bumi terdiri atas berbagai campuran unsur karbon dan
hidrogen, yang biasanya disebut hidrokarbon (Kadir, 1995). Minyak mentah dan
minyak olahan adalah senyawa kompleks hidrokarbon yang mempunyai ribuan
variasi senyawa (Mangkoedihardjo, 2005). Minyak bumi mentah mengandung
campuran rumit hidrokarbon serta sejumlah kecil senyawa yang mengandung
nitrogen, sulfur, dan oksigen. Minyak bumi mentah dapat diubah dengan proses
fisik dan kimia menjadi berbagai produk sulingan termasuk bensin, minyak tanah,
minyak pemanas, minyak diesel, minyak pelumas, lilin, dan aspal (Connel &
Miller, 1995).
Minyak mentah dan minyak olahan adalah senyawa kompleks hidrokarbon
yang mempunyai ribuan variasi senyawa. Minyak mentah mengandung senyawa
hidrokarbon sekitar 5098 % dan selebihnya senyawa non-hidrokarbon (sulfur,
nitrogen, oksigen, dan beberapa logam berat). Selanjutnya minyak
diklasifikasikan berdasarkan kelarutan dalam pelarut organik, yaitu:
1. Hidrokarbon jenuh.
Termasuk dalam kelas ini adalah alkana. Hidrokarbon jenuh ini merupakan
kandungan terbanyak dalam minyak mentah.
2. Hidrokarbon aromatik.
Termasuk dalam kelas ini adalah monosiklik aromatik (BTEX) dan polisiklik
aromatik hidrokarbon (PAH: naphtalene, anthracene, dan phenanthrene).
3. Resin.
Termasuk di sini adalah senyawa polar berkandungan nitrogen, sulfur, oksigen
(pyridines dan thiophenes), sehingga disebut pula sebagai senyawa NSO.
4. Asphalt.
Termasuk di sini adalah senyawa dengan berat molekul besar dan logam berat
nikel, vanadium, dan besi. Tentu saja variasi komposisi minyak mentah adalah
berbeda di berbagai tempat, itulah sebabnya teknologi remediasi bersifat
sitespesifik (Mangkoedihardjo, 2005).

Antara tahun 1990-1999, rata-rata tumpahan minyak ke laut menunjukkan
persentase sebagai berikut:
1. Natural seeps: 47 %
2. Consumption activities (land-based run-off, non tanker operational
releases and spills): 33 %
3. Tanker spills: 8 %
4. Other (atmospheric deposition and jettisoned aircraft fuel): 5 %
5. Transportation (cargo washings, coastal facility and pipeline spills): 4
%
6. Extraction (platforms and produced wate: 3 %

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi
kelautan yang dicapai dewasa ini, mengakibatkan pemanfaatan laut tidak hanya
terbatas pada usaha-usaha di bidang perikanan dan pelayaran saja, tetapi juga
sebagai sumber kekayaan alam khususnya minyak dan gas bumi yang dapat
dikuasai dengan teknologi instalasi dan bangunan lepas pantai.
Teknologi instansi sangat terasa manfaatnya bagi industri minyak lepas
pantai yang dapat beroperasi pada bagian-bagian laut yang makin dalam.
Kekhawatiran semakin berkurangnya kekayaan alam telah menyebabkan
peningkatan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi secara ekstensif dan hingga
mencapai bagian laut dalam yang hanya dapat dilakukan dengan teknologi
canggih. Karena teknologi instalasi bangunan lepas pantai semakin maju, maka
semakin meningkat pula kegiatan ekonomi dan penggunaan laut lainnya, seperti
pembangunan dan penggunaan instalasi lepas pantai bagi keperluan eksplorasi
dan eksploitasi.
Usaha eksplorasi dan eksploitasi sumber daya minyak dan gas melalui
industri lepas pantai disadari ataupun tidak telah memberikan pengaruh terhadap
tata lingkungan laut yang ada disekitarnya. Bocornya instalasi yang
mengakibatkan minyak merembes ke luar lingkungan laut, tumpahnya minyak
karena proses pengoperasian industri, serta kecelakaan-kecelakaan yang terjadi
terhadap industri lepas pantai ini, telah membawa pengaruh pula bagi
perkembangan hukum baik dalam skala global maupun nasional.

B. Pencemaran oleh logam berat
Logam berat ialah benda padat atau cair yang mempunyai berat 5 gram
atau lebih untuk setiap cm3, sedangkan logam yang beratnya kurang dari 5 gram
adalah logam ringan.
Logam berat, seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), kadmium (Cd),
kromium (Cr), seng (Zn), dan nikel (Ni), merupakan salah satu bentuk materi
anorganik yang sering menimbulkan berbagai permasalahan yang cukup serius
pada perairan. Penyebab terjadinya pencemaran logam berat pada perairan
biasanya berasal dari masukan air yang terkontaminasi oleh limbah buangan
industri dan pertambangan.
Jenis-Jenis Industri Pembuang Limbah yang Mengandung Logam Berat :
Kertas : Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Zn
Petro-chemical : Cd, Cr, Hg, Pb, Sn, Zn
Pengelantang : Cd, Cr, Hg, Pb, Sn, Zn
Pupuk : Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Zn
Kilang minyak : Cd, Cr, Cu, Pb, Ni, Zn
Baja : Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Sn, Zn
Logam bukan besi : Cr, Cu, Hg, Pb, Zn
Kendaraan bermotor : Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Sn, Zn
Semen, keramik : Cr
Tekstil : Cr
Industri kulit : Cr
Pembangkit listrik tenaga uap : Cr, Zn
Logam berat memiliki densitas yang lebih dari 5 gram/cm3 dan logam
berat bersifat tahan urai. Sifat tahan urai inilah yang menyebabkan logam berat
semakin terakumulasi di dalam perairan. Logam berat yang berada di dalam air
dapat masuk ke dalam tubuh manusia, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Logam berat di dalam air dapat masuk secara langsung ke dalam tubuh
manusia apabila air yang mengandung logam berat diminum, sedangkan secara
tidak langsung apabila memakan bahan makanan yang berasal dari air tersebut. Di
dalam tubuh manusia, logam berat juga dapat terakumulasi dan menimbulkan
berbagai bahaya terhadap kesehatan.
Berikut adalah Logam-logam berat yang biasanya mencemari lautan :
a. Air Raksa atau Mercury (Hg) adalah salah satu logam berat dalam
bentuk cair. Terjadinya pencemaran mercury di perairan laut lebih
banyak disebabkan oleh faktor manusia dibanding faktor alam.
Meskipun pencemaran mercury dapat terjadi secara alami tetapi
kadarnya sangat kecil. Pencemaran mercury secara besar-besaran
disebabkan karena limbah yang dibuang oleh manusia. Manusia telah
menggunakan mercury oksida (HgO) dan mercury sulfida (HgS)
sebagai zat pewarna dan bahan kosmetik sejak jaman dulu. Dewasa ini
mercury telah digunakan secara meluas dalam produk elektronik,
industri pembuatan cat, pembuatan gigi palsu, peleburan emas, sebagai
katalisator, dan lain-lain. Penggunaan mercury sebagai elektroda
dalam pembuatan soda api dalam industri makanan seperti minyak
goreng, produk susu, kertas tima, pembungkus makanan juga kadang
mencemari makanan tersebut. Pencemaran logam mercury (Hg) mulai
mendapat perhatian sejak munculnya kasus minamata di Jepang pada
tahun 1953. Pada saat itu banyak orang mengalami penyakit yang
mematikan akibat mengonsumsi ikan, kerang, udang dan makanan laut
lainnya yang mengandung mercury. Kasus minamata yang terjadi dari
tahun 1953 sampai 1975 telah menyebabkan ribuan orang meninggal
dunia akibat pencemaran mercury di Teluk Minamata Jepang. Industri
Kimia Chisso menggunakan mercury khlorida (HgCl2) sebagai
katalisator dalam memproduksi acetaldehyde sintesis di mana setiap
memproduksi satu ton acetaldehyde menghasilkan limbah antara 30-
100 gr mercury dalam bentuk methyl mercury (CH3Hg) yang dibuang
ke laut Teluk Minamata. Methyl mercury ini masuk ke dalam tubuh
organisme laut baik secara langsung dari air maupun mengikuti rantai
makanan. Kemudian mencapai konsentrasi yang tinggi pada daging
kerang-kerangan, crustacea dan ikan yang merupakan konsumsi sehari-
hari bagi masyarakat Minamata. Konsentrasi atau kandungan mercury
dalam rambut beberapa pasien di rumah sakit Minamata mencapai
lebih 500 ppm. Masyarakat Minamata yang mengonsumsi makanan
laut yang tercemar tersebut dalam jumlah banyak telah terserang
penyakit syaraf, lumpuh, kehilangan indera perasa dan bahkan banyak
yang meninggal dunia.
b. Kadmium (Cd) menjadi populer sebagai logam berat yang berbahaya
setelah timbulnya pencemaran sungai di wilayah Kumamoto Jepang
yang menyebabkan keracunan pada manusia. Pencemaran kadmium
pada air minum di Jepang menyebabkan penyakit itai-itai. Gejalanya
ditandai dengan ketidak-normalan tulang dan beberapa organ tubuh
menjadi mati. Keracunan kronis yang disebabkan oleh Cd adalah
kerusakan sistem fisiologis tubuh seperti pada pernapasan, sirkulasi
darah, penciuman, serta merusak kelenjar reproduksi, ginjal, jantung
dan kerapuhan tulang. Kadmium telah digunakan secara meluas pada
berbagai industri antara lain pelapisan logam, peleburan logam,
pewarnaan, baterai, minyak pelumas, bahan bakar. Bahan bakar dan
minyak pelumas mengandung Cd sampai 0,5 ppm, batubara
mengandung Cd sampai 2 ppm, pupuk superpospat juga mengandung
Cd bahkan ada yang sampai 170 ppm. Limbah cair dari industri dan
pembuangan minyak pelumas bekas yang mengandung Cd masuk ke
dalam perairan laut serta sisa-sisa pembakaran bahan bakar yang
terlepas ke atmosfir dan selanjutnya jatuh masuk ke laut. Konsentrasi
Cd pada air laut yang tidak tercemar adalah kurang dari 1 mg/l atau
kurang dari 1 mg/kg sedimen laut.Konsentrasi Cd maksimum dalam
air minum yang diperbolehkan oleh Depkes RI dan WHO adalah
0,01,mg/l. Sementara batas maksimum konsentrasi atau kandungan Cd
pada daging makanan laut yang layak bagi kesehatan yang
direkomendasikan FAO dan WHO adalah lebih kecil dari 0,95 mg/kg.
Sebaliknya Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan merekomendasikan
tidak lebih dari 2,0 mg/kg.
c. Timbal (Pb) juga salah satu logam berat yang mempunyai daya
toksitas yang tinggi terhadap manusia karena dapat merusak
perkembangan otak pada anak-anak, menyebabkan penyumbatan sel-
sel darah merah, anemia dan mempengaruhi anggota tubuh lainnya. Pb
dapat diakumulasi langsung dari air dan dari sedimen oleh organisme
laut. Dewasa ini pelepasan Pb ke atmosfir meningkat tajam akibat
pembakaran minyak dan gas bumi yang turut menyumbang
pembuangan Pb ke atmosfir. Selanjutnya Pb tersebut jatuh ke laut
mengikuti air hujan. Dengan kejadian tersebut maka banyak negara di
dunia mengurangi tetraeil Pb pada minyak bumi dan gas alam untuk
mengurangi pencemaran Pb di atmosfir.
Contoh kasus pencemaran akibat logam berat di Indonesia ada pada Teluk
Buyat, terletak di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, adalah lokasi
pembuangan limbah tailing (lumpur sisa penghancuran batu tambang) milik PT.
Newmont Minahasa Raya (NMR). Sejak tahun 1996, perusahaan asal Denver, AS,
tersebut membuang sebanyak 2.000 ton limbah tailing ke dasar perairan Teluk
Buyat setiap harinya. Sejumlah ikan ditemui memiliki benjolan semacam tumor
dan mengandung cairan kental berwarna hitam dan lendir berwarna kuning
keemasan. Fenomena serupa ditemukan pula pada sejumlah penduduk Buyat,
dimana mereka memiliki benjol-benjol di leher, payudara, betis, pergelangan,
pantat dan kepala

C. Pencemaran oleh sampah
Plastik telah menjadi masalah global. Sampah plastik yang dibuang,
terapung dan terendap di lautan. 80% (delapan puluh persen) dari sampah di laut
adalah plastik, sebuah komponen yang telah dengan cepat terakumulasi sejak
akhir Perang Dunia II. Massa plastik di lautan diperkirakan yang menumpuk
hingga seratus juta metrik ton.
Plastik dan turunan lain dari limbah plastik yang terdapat di laut berbahaya
untuk satwa liar dan perikanan. Organisme perairan dapat terancam akibat terbelit,
sesak napas, maupun termakan.
Jaring ikan yang terbuat dari bahan plastik, kadang dibiarkan atau hilang
di laut. Jaring ini dikenal sebagai hantu jala sangat membahayakan lumba-lumba,
penyu, hiu, dugong, burung laut, kepiting, dan makhluk lainnya. Plastik yang
membelit membatasi gerakan, menyebabkan luka dan infeksi, dan menghalangi
hewan yang perlu untuk kembali ke permukaan untuk bernapas.
Sampah yang mengandung kotoran minyak juga dibuang kelaut melalui
sistem daerah aliran sungai (DAS). Sampah-sampah ini kemungkinan
mengandung logam berat dengan konsentrasi yang tinggi. Tetapi umumnya
mereka kaya akan bahan-bahan organik, sehingga akan memperkaya kandungan
zat-zat makanan pada suatu daerah yang tercemar yang membuat kondisi
lingkungan menjadi lebih baik bagi pertumbuhan mikroorganisme.
Aktifitas pernafasan dari organisme ini membuat makin menipisnya
kandungan oksigen khususnya pada daerah estuarin. Hal tersebut akan
berpengaruh besar pada kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup di
daerah tersebut. Pada keadaan yang paling ekstrim, jumlah spesies yang ada
didaerah itu akan berkurang secara drastis dan dapat mengakibatkan bagian dasar
dari estuarin kehabisan oksigen. Sehingga mikrofauna yang dapat hidup disitu
hanya dari golongan cacing saja. Jenis-jenis sampah kebanyakan termasuk
golongan yang mudah hancur dengan cepat, sehingga pencemaran yang
disebabkannya tidak merupakan suatu masalah besar diperairan terbuka.
D. Pencemaran oleh pestisida
Kerusakan yang disebabkan oleh pestisida adalah bersifat akumulatif.
Mereka sengaja ditebarkan ke dalam suatu lingkungan dengan tujuan untuk
mengontrol hama tanaman atau organism-organisme lain yang tidak diinginkan.
Idealnya pestisida ini harus mempunyai spesifikasi yang tinggi yaitu dapat
membunuh organism-organisme yang tidak dikehendaki tanpa merusak hewan
lainnya, tetapi pada kenyataannya pestisida bisa membunuh biota air yang ada di
laut.
Beberapa pestisida yang dipakai kebanyakan berasal dari suatu grup bahan
kimia yang disebut Organochloride. DDT termasuk dalam grup ini. Pestisida jenis
ini termasuk golongan yang mempunyai ikatan molekul yang sangat kuat dimana
molekul-molekul ini kemungkinan dapat bertahan di alam sampai beberapa tahun
sejak mereka mulai dipergunakan. Hal itu sangat berbahaya karena dengan
digunakannya golongan ini secara terus menerus akan membuat mereka
menumpuk di lingkungan dan akhirnya mencapai suatu tingkatan yang tidak dapat
ditolerir lagi dan berbahaya bagi organism yang hidup didaerah tersebut.
Hewan biasanya menyimpan organochloride di dalam tubuh mereka.
Beberapa organisme air termasuk ikan dan udang ternyata menumpuk bahan
kimia didalam jaringan tubuhnya.
Ketika pestisida masuk ke dalam ekosistem laut, mereka segera diserap ke
dalam jaring makanan di laut. Dalam jarring makanan, pestisida ini dapat
menyebabkan mutasi, serta penyakit, yang dapat berbahaya bagi hewan laut ,
seluruh penyusun rantai makanan termasuk manusia.
E. Pencemaran akibat proses Eutrofikasi
Peristiwa Eutrofikasi adalah kejadian peningkatan/pengkayaan nutrisi,
biasanya senyawa yang mengandung nitrogen atau fosfor, dalam ekosistem. Hal
ini dapat mengakibatkan peningkatan produktivitas primer (ditandai peningkatan
pertumbuhan tanaman yang berlebihan dan cenderung cepat membusuk). Efek
lebih lanjut termasuk penurunan kadar oksigen, penurunan kualitas air, serta
tentunya menganggu kestabilan populasi organisme lain.
Muara merupakan wilayah yang paling rentan mengalami eutrofikasi
karena nutrisi yang diturunkan dari tanah akan terkonsentrasi. Nutrisi ini
kemudian dibawa oleh air hujan masuk ke lingkungan laut , dan cendrung
menumpuk di muara.
The World Resources Institute telah mengidentifikasi 375 hipoksia
(kekurangan oksigen) wilayah pesisir di seluruh dunia. Laporan ini menyebutkan
kejadian ini terkonsentrasi di wilayah pesisir di Eropa Barat, Timur dan pantai
Selatan Amerika Serikat, dan Asia Timur, terutama di Jepang. Salah satu
contohnya adalah meningkatnya alga merah (red tide) secara signifikan yang
membunuh ikan dan mamalia laut serta menyebabkan masalah pernapasan pada
manusia dan beberapa hewan domestik. Umumnya terjadi saat organisme
mendekati ke arah pantai.
F. Pencemaran akibat peningkatan keasaman
Dewasa ini sangat banyak kegiatan manusia yang menyebabkan polusi
udara, tanah dan air, yang disebabkan oleh limbah pabrik, industri, asap
kendaraan, dan banyak lagi. Salah satu contoh adalah semakin banyak karbon
dioksida memasuki atmosfer bumi, maka karbondioksida yang kita hasilkan
sehari-hari dapat menyebabkan hujan asam dan juga meningkatkan kadar
keasaman laut menjadi lebih asam. Potensi peningkatan keasaman laut dapat
mempengaruhi kemampuan karang dan hewan bercangkang lainnya untuk
membentuk cangkang atau rangka. Perubahan iklim juga akan berdampak buruk
pada ekosistem di lautan . Jika air laut semakin memanas, maka akan terjadi
peningkatan keasaman laut, dan terumbu karang adalah yang paling rentan
menghadapi peningkatan keasaman ini .
Menurut Dr. Nerilie Abrahams dari Universitas Nasional Australia,
terumbu karang seperti sedang mencatat kematiannya sendiri. Jumlah Karbon
Dioksida yang dipompakan ke atmosfer sebetulnya mengubah keasaman laut, dan
membuat lebih asam lagi. Bahayanya adalah tentu saja seluruh terumbu karang
akan hancur dan larut karena asam tadi. Persoalan perubahan suhu maupun
berbagai perubahan lain yang dialami lautan sebetulnya bukanlah sesuatu yang
luar biasa. Di masa lalu hal ini sudah barangkali terjadi, nemun perbedaannya
adalah saat ini perubahan suhu tersebut dipicu oleh campur tangan manusia, jadi
bukan karena sebab alami
G. Pencemaran akibat polusi kebisingan
Kehidupan laut dapat rentan terhadap pencemaran kebisingan atau suara
dari sumber seperti kapal yang lewat, survei seismik eksplorasi minyak, dan
frekuensi sonar angkatan laut. Perjalanan suara lebih cepat di laut daripada di
udara. Hewan laut, seperti paus, cenderung memiliki penglihatan lemah, dan
hidup di dunia yang sebagian besar ditentukan oleh informasi akustik. Hal ini
berlaku juga untuk banyak ikan laut yang hidup lebih dalam di dunia kegelapan.
Dilaporkan bahwa antara tahun 1950 dan 1975, ambien kebisingan di laut naik
sekitar sepuluh desibel (telah meningkat sepuluh kali lipat).
Sumber suara di laut antara lain :
1. Sumber alami
Suara di laut yang timbul akibat proses alami terbagi dalam dua yaitu
proses fisika serta proses biologi. Proses fisika ini antara lain : aktivitas tektonik,
gunung api dan gempa bumi, angin, gelombang. Sedangkan contoh dari aktivitas
biologis misalnya suara dari mamalia laut dan ikan.
2. Lalu lintas kapal
Banyak dari kapal-kapal yang beroperasi di laut menimbulkan kebisingan
yang berpengaruh pada ekosistem laut dan umumnya berada pada batasan suara
1000Hz. Kapal-kapal Tanker Besar yang beroperasi mengangkut minyak biasanya
mengeluarkan suara dengan level 190 desibel atau sekitar 500Hz. Sedangkan
untuk ukuran kapal yang lebih kecil biasanya hanya menimbulkan gelombang
suara sekitar160-170 desibel. Kapal-kapal ini menimbulkan sejenis tembok virtual
yang disebut white noise yang memiliki kebisingan konstan. White noise dapat
menghalangi komunikasi antara mamalia di laut sampai batas untuk area yang
lebih kecil. Selain kapal Tanker juga Kapal-kapal besar lainnya sejenis Cargo
yang membawa petikemas memiliki kebisingan yang cukup menimbulkan
pencemaran suara di laut.
3. Eksplorasi dan Ekspoitasi Gas dan Minyak
Kegiatan eksplorasi dan ekspoitasi gas dan minyak banyak menggunakan
survei seismik, pembangunan anjungan minyak/rig, pengeboran minyak, dll.
Kebanyakan dari survei seismik saat ini menggunakan airguns sebagai sumber
suara, alat ini merupakan alat berisi udara yang memproduksi sinyal akustik
dengan cepat mengeluarkan udara terkompresi ke dalam kolom air. Metoda
tersebut dapat menciptakan suara dengan intensitas sampai dengan 255 desibel.
Pengaruhnya terhadap hewan lainnya juga dapat menimbulkan kerusakan
pendengaran akibat dari tekanan air yang ditimbulkan. Seperti layaknya
penggunaan dinamit, airguns juga berpengaruh terhadap pendengaran manusia
secara langsung. Pulsa sinyal akustik ini dapat menimbulkan konflik terhadap
mamalia laut, seperti misalnya paus jenis mysticete, sperm, dan beaked yang
menggunakan frekuensi suara yang rendah.
Begitu juga dalam aktivitas pembangunan rig dan pengeboran minyak
dimana dalam operasionalnya setiap hari banyak menghasilkan suara serta
menimbulkan kebisingan yang beresiko bagi mamalia laut.
4. Penelitian Oseanografi dan Perikanan
Pernah diadakan survei dengan menggunakan Acoustic Thermography of
Ocean Climate (ATOC) dimana digunakan kanal suara untuk memperlihatkan
rata-rata temperatur laut. Sistem ini digunakan untuk penelitian mengenai faktor
temperatur laut. Akibatnya terhadap hewan-hewan di laut terbukti bahwa mereka
bergerak menjauh (terutama Paus jenis tertentu) namun selang beberapa saat
mereka kembali untuk mencari makanan. Deruman dari Speaker yang dipasang
berkekuatan 220 desibel tepat di sumbernya, dan terdeteksi sampai dengan 11000
mil jauhnya.
Dari penyebab diatas terdapat juga penyebab lainnya yang tidak
disebutkan di sini, salah satunya adalah kegiatan perikanan para nelayan yang
menggunakan peledak atau pukat harimau yang tidak hanya menimbulkan polusi
suara namun juga merusak secara langsung ekosistem di laut itu sendiri.
5. Kegiatan militer
Ada beberapa aktivitas yang dilakukan militer yang menghasilkan sumber
suara yang menimbulkan kebisingan di laut. Salah satu contohnya yaitu aktivitas
kapal naval milik US.Army yang menggunakan sonar aktif ketika berlatih dan
dalam aktivitas rutin. Angkatan Laut Amerika (NAVY) pernah mengembangkan
suatu sistem yang dinamakan Low Frequency Active Sonnars (LFA) untuk
keperluan militernya. Dalam penggunaannya, terbukti bahwa terdapat beberapa
efek negatif terhadap kehidupan dan perilaku mamalia di lautan. Terhadap ikan
paus efek tersebut ternyata mengganggu jalur migrasi dan untuk jenis ikan paus
biru dan ikan paus sirip adalah terhentinya proses komunikasi satu sama lain.
Bahkan setelah melalui beberapa penelitian, maka pengunaan LFA tersebut juga
berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Beberapa penyelam NAVY yang
menerima transmisi dari sekitar 160 desibel akibat sistem tersebut terbukti terkena
gangguan seperti vertigo, gangguan terhadap gerakan tubuh serta gangguan di
daerah perut dan dada.
Bukti-bukti lainnya dari pengaruh akibat sonar yang dihasilkan ini di
sebutkan oleh Vonk and Martin (1989), Simmonds and Lopez-Jurado (1991),
Frantzis (1998) dan Frantzis and Cebrian (1999) mereka menganggap bunyi keras
yang ditimbulkan oleh aktifitas militer ini telah menyebabkan terdamparnya paus
jenis beaked di Pulau Canary dan Laut Ionia. Selain itu paus jenis sperm
mengalami perubahan kelakuan dalam vokalisasi dalam merespons sonar ini.
Pendamparan lainnya terjadi pada bulan maret 2000 di Bahama, 17
mamalia laut( termasuk 2 spesies paus jenis beaked dan minke). Pendamparan ini
terjadi akibat latihan militer Amerika yang menggunakan sonar.

III. Dampak Pencemaran Laut
A. Pencemaran Laut Akibat Tumpahan Minyak
Komponen minyak yang tidak dapat larut di dalam air akan
mengapung yang menyebabkan air laut berwarna hitam. Beberapa komponen
minyak tenggelam dan terakumulasi di dalam sedimen sebagai deposit hitam
pada pasir dan batuan-batuan di pantai. Komponen hidrokarbon yang bersifat
toksik berpengaruh pada reproduksi, perkembangan, pertumbuhan, dan
perilaku biota laut, terutama pada plankton, bahkan dapat mematikan ikan,
dengan sendirinya dapat menurunkan produksi ikan. Proses emulsifikasi
merupakan sumber mortalitas bagi organisme, terutama pada telur, larva, dan
perkembangan embrio karena pada tahap ini sangat rentan pada lingkungan
tercemar (Fakhrudin, 2004). Sumadhiharga (1995) dalam Misran (2002)
memaparkan bahwa dampak-dampak yang disebabkan oleh pencemaran
minyak di laut adalah akibat jangka pendek dan akibat jangka panjang.
1. Akibat jangka pendek.
Molekul hidrokarbon minyak dapat merusak membran sel biota laut,
mengakibatkan keluarnya cairan sel dan berpenetrasinya bahan tersebut ke
dalam sel. Berbagai jenis udang dan ikan akan beraroma dan berbau minyak,
sehingga menurun mutunya. Secara langsung minyak menyebabkan kematian
pada ikan karena kekurangan oksigen, keracunan karbon dioksida, dan
keracunan langsung oleh bahan berbahaya.
2. Akibat jangka panjang.
Lebih banyak mengancam biota muda. Minyak di dalam laut dapat
termakan oleh biota laut. Sebagian senyawa minyak dapat dikeluarkan
bersama-sama makanan, sedang sebagian lagi dapat terakumulasi dalam
senyawa lemak dan protein. Sifat akumulasi ini dapat dipindahkan dari
organisma satu ke organisma lain melalui rantai makanan. Jadi, akumulasi
minyak di dalam zooplankton dapat berpindah ke ikan pemangsanya.
Demikian seterusnya bila ikan tersebut dimakan ikan yang lebih besar, hewan-
hewan laut lainnya, dan bahkan manusia.
Secara tidak langsung, pencemaran laut akibat minyak mentah dengan
susunannya yang kompleks dapat membinasakan kekayaan laut dan
mengganggu kesuburan lumpur di dasar laut. Ikan yang hidup di sekeliling
laut akan tercemar atau mati dan banyak pula yang bermigrasi ke daerah lain.
Minyak yang tergenang di atas permukaan laut akan menghalangi sinar
matahari masuk sampai ke lapisan air dimana ikan berdiam. Menurut
Fakhrudin (2004), lapisan minyak juga akan menghalangi pertukaran gas dari
atmosfer dan mengurangi kelarutan oksigen yang akhirnya sampai pada
tingkat tidak cukup untuk mendukung bentuk kehidupan laut yang aerob.
Lapisan minyak yang tergenang tersebut juga akan mempengarungi
pertumbuhan rumput laut , lamun dan tumbuhan laut lainnya jika menempel
pada permukaan daunnya, karena dapat mengganggu proses metabolisme pada
tumbuhan tersebut seperti respirasi, selain itu juga akan menghambat
terjadinya proses fotosintesis karena lapisan minyak di permukaan laut akan
menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam zona euphotik, sehingga
rantai makanan yang berawal pada phytoplankton akan terputus Jika lapisan
minyak tersebut tenggelam dan menutupi substrat, selain akan mematikan
organisme benthos juga akan terjadi perbusukan akar pada tumbuhan laut
yang ada.
Pencemaran minyak di laut juga merusak ekosistem mangrove.
Minyak tersebut berpengaruh terhadap sistem perakaran mangrove yang
berfungsi dalam pertukaran CO2 dan O2, dimana akar tersebut akan tertutup
minyak sehingga kadar oksigen dalam akar berkurang. Jika minyak
mengendap dalam waktu yang cukup lama akan menyebabkan pembusukan
pada akar mangrove yang mengakibatkan kematian pada tumbuhan mangrove
tersebut. Tumpahan minyak juga akan menyebabkan kematian fauna-fauna
yang hidup berasosiasi dengan hutam mangrove seperti moluska, kepiting,
ikan, udang, dan biota lainnya.
Bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa minyak yang
terperangkap di dalam habitat berlumpur tetap mempunyai pengaruh racun
selama 20 tahun setelah pencemaran terjadi. Komunitas dominan species
Rhizophora mungkin bisa membutuhkan waktu sekitar 8 (delapan) tahun
untuk mengembalikan kondisinya seperti semula.
Ekosistim terumbu karang juga tidak luput dari pengaruh pencemaran
minyak . Menurut O'Sullivan & Jacques (2001), jika terjadi kontak secara
langsung antara terumbu karang dengan minyak maka akan terjadi kematian
terumbu karang yang meluas. Akibat jangka panjang yang paling potensial
dan paling berbahaya adalah jika minyak masuk ke dalam sedimen. Burung
laut merupakan komponen kehidupan pantai yang langsung dapat dilihat dan
sangat terpengaruh akibat tumpahan minyak . Akibat yang paling nyata pada
burung laut adalah terjadinya penyakit fisik (Pertamina, 2002). Minyak yang
mengapung terutama sekali amat berbahaya bagi kehidupan burung laut yang
suka berenang di atas permukaan air, seperti auk (sejenis burung laut yang
hidup di daerah subtropik), burung camar dan guillemot ( jenis burung laut
kutub).
Tubuh burung ini akan tertutup oleh minyak, kemudian dalam
usahanya membersihkan tubuh mereka dari minyak, mereka biasanya akan
menjilat bulu-bulunya, akibatnya mereka banyak minum minyak dan akhirnya
meracuni diri sendiri. Disamping itu dengan minyak yang menempel pada
bulu burung, maka burung akan kehilangan kemampuan untuk mengisolasi
temperatur sekitar ( kehilangan daya sekat), sehingga menyebabkan hilangnya
panas tubuh burung, yang jika terjadi secara terus-menerus akan menyebabkan
burung tersebut kehilangan nafsu makan dan penggunaan cadangan makanan
dalam tubuhnya.
Peristiwa yang sangat besar akibatnya terhadap kehidupan burung laut
adalah peristiwa pecahnya kapal tanki Torrey Canyon yang mengakibatkan
matinya burung-burung laut sekitar 10.000 ekor di sepanjang pantai dan
sekitar 30.000 ekor lagi didapati tertutupi oleh genangan minyak ( Farb, 1980
). Pembuangan air ballast di Alaska sekitar Pebruari-Maret 1970 telah pula
mencemari seribu mil jalur pantai dan diperkirakan paling sedikit 100 ribu
ekor burung musnah (Siahaan, 1989 dalam Misran 2002). .
Menyadari akan besarnya bahaya pencemaran minyak di laut, maka
timbullah upaya-upaya untuk pencegahan dan penanggulangan bahaya
tersebut oleh negara-negara di dunia. Diakui bahwa prosedur penanggulangan
seperti: pemberitahuan bencana, evaluasi strategi penanggulangan, partisipasi
unsur terkait termasuk masyarakat, teknis penanggulangan, komunikasi,
koordinasi dan kesungguhan untuk melindungi laut dan keberpihakan kepada
kepentingan masyarakat menjadi poin utama dalam pencegahan dan
penanggulangan pencemaran minyak. Untuk melakukan hal tersebut, tiga hal
yang dapat dijadikan landasan yaitu aspek legalitas, aspek perlengkapan dan
aspek koordinasi.
Sejak September 2003 Departemen Kelautan dan Perikanan memulai
Gerakan Bersih pantai dan Laut (GBPL). Gerakan ini bertujuan untuk
mendorong seluruh lapisan masyarakat untuk mewujudkan laut yang biru dan
pantai yang bersih pada lokasi yang telah mengalami pencemaran. Dengan
gerakan ini diharapkan bukan hanya didukung oleh pemerintah dan
masyarakat, namun juga didukung oleh para pengusaha minyak dan gas bumi
yang beroperasi di Indonesia.

B. Pencemaran Laut Akibat Logam Berat
WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia dan
FAO (Food Agriculture Organization) atau Organisasi Pangan Dunia
merekomendasikan untuk tidak mengonsumsi makanan laut (seafood) yang
tercemar logam berat. Logam berat telah lama dikenal sebagai suatu elemen yang
mempunyai daya racun yang sangat potensil dan memiliki kemampuan
terakumulasi dalam organ tubuh manusia. Bahkan tidak sedikit yang
menyebabkan kematian.
Bahaya yang Dapat Ditimbulkan oleh Logam Berat di dalam Tubuh
Manusia :Barium (Ba): Dalam bentuk serbuk, mudah terbakar pada temperatur
ruang. Jangka panjang, menyebabkan naiknya tekanan darah dan terganggunya
sistem syaraf.
Cadmium (Cd): Dalam bentuk serbuk mudah terbakar. Beracun jika
terhirup dari udara atau uap. Dapat menyebabkan kanker. Larutan dari kadmium
sangat beracun. Jangka panjang, terakumulasi di hati, pankreas, ginjal dan tiroid,
dicurigai dapat menyebabkan hipertensi.
Kromium (Cr): Kromium hexavalen bersifat karsinogenik dan korosif
pada jaringan tubuh. Jangka panjang, peningkatan sensitivitas kulit dan kerusakan
pada ginjal
Timbal (Pb): Beracun jika termakan atau terhirup dari udara atau uap.
Jangka panjang, menyebabkan kerusakan otak dan ginjal; kelainan pada kelahiran
Raksa (Hg): Sangat beracun jika terserap oleh kulit atau terhirup dari uap.
Jangka panjang, beracun pada sistem syaraf pusat, dapat menyebabkan kelainan
pada kelahiran.
Perak (Ag): Beracun. Jangka panjang, pelunturan abu-abu permanen pada
kulit, mata dan membran mukosa (mucus).
C. Pencemaran Laut Akibat Sampah
Banyak hewan yang hidup pada atau di laut mengonsumsi plastik karena
tak jarang plastik yang terdapat di laut akan tampak seperti makanan bagi hewan
laut. Plastik tidak dapat dicerna dan akan terus berada pada organ pencernaan
hewan ini, sehingga menyumbat saluran pencernaan dan menyebabkan kematian
melalui kelaparan atau infeksi. Selain berpengaruh terhadap kesehatan biota laut,
adanya sampah dilaut juga nerpengaruh terhadap kesehatan manusia. Penyakit
yang paling sederhana seperti gatal-gatal pada kulit setelah bersentuhan dengan
air laut, dll.
D. Pencemaran Laut Akibat Pestisida
Pengaruh pestisida terhadap kehidupan organisme air :
- Penumpukan pestisida dalam jaringan tubuh, bersifat racun dan dapat
mempengaruhi system syaraf pusat.
- Bahan aktifnya selain bisa membunuh organism perairan (ikan) juga dapat
merubah tingkah laku ikan dan menghambat perkembangan telur moluska
dan juga ikan.
- Daya racun berkisar dari rendah-tinggi. Moluska cenderung lebih toleran
terhadap racun pestisida dibandingkan dengan Crustacea dan teleostei
(ikan bertulang sejati), dll.

E. Pencemaran Laut Akibat Eutrofikasi
Eutrofikasi adalah perairan menjadi terlalu subur sehingga terjadi ledakan
jumlah alga dan fitoplankton yang saling berebut mendapat cahaya untuk
fotosintesis. Karena terlalu banyak maka alga dan fitoplankton di bagian bawah
akan mengalami kematian secara massal, serta terjadi kompetisi dalam
mengonsumsi O
2
karena terlalu banyak organisme pada tempat tersebut. Sisa
respirasi menghasilkan banyak CO
2
sehingga kondisi perairan menjadi anoxic dan
menyebabkan kematian massal pada hewan-hewan di perairan tersebut.
F. Pencemaran Laut Akibat Peningkatan Keasaman
Selain menyebabkan kerusakan pada terumbu karang, kehidupan laut
terpengaruh karena perubahan itu, khususnya hewan dan tumbuhan yang memiliki
tulang karbonat kalsium dan yang menjadi sumber makanan bagi penghuni laut
lainnya. Satu miliar orang yang bergantung pada ikan sebagai sumber utama
penghasil protein akan terkena dampak dari peningkatan keasaman laut tersebut.
G. Pencemaran Laut Akibat Kebisingan
Gangguan bunyi-bunyi dapat saja menghasilkan frekuensi atau intensitas
yang dapat berbentrokan atau bahkan menghalangi suara/bunyi biologi yang
penting, yang menjadikan tidak terdeteksi oleh mamalia laut. Padahal seperti
diketahui bahwa suara-suara biologi ini penting seperti untuk mencari mangsa,
navigasi, komunikasi antara ibu dan anak, untuk manarik perhatian, atau
melemahkan mangsa.

IV. Penanggulan Pencemaran Laut
A. Akibat Logam Berat
Upaya penanganan pencemaran logam berat sebenarnya dapat dilakukan
dengan menggunakan proses kimiawi. Seperti penambahan senyawa kimia
tertentu untuk proses pemisahan ion logam berat atau dengan resin penukar ion
(exchange resins), serta beberapa metode lainnya seperti penyerapan
menggunakan karbon aktif, electrodialysis dan reverse osmosis. Namun proses ini
relatif mahal dan cenderung menimbulkan permasalahan baru, yaitu akumulasi
senyawa tersebut dalam sedimen dan organisme akuatik (perairan).Penanganan
logam berat dengan mikroorganisme atau mikrobia (dalam istilah Biologi dikenal
dengan bioakumulasi,bioremediasi, atau bioremoval), menjadi alternatif yang
dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat keracunan elemen logam berat di
lingkungan perairan tersebut. Metode atau teknologi ini sangat menarik untuk
dikembangkan dan diterapkan, karena memiliki kelebihan dibandingkan dengan
proses kimiawi. Beberapa hasil studi melaporkan, penggunaan mikroorganisme
untuk menangani pencemaran logam berat lebih efektif dibandingkan dengan ion
exchange dan reverse osmosis dalam kaitannya dengan sensitivitas kehadiran
padatan terlarut (suspended solid), zat organik dan logam berat lainnya. Serta,
lebih baik dari proses pengendapan (presipitation) kalau dikaitkan dengan
kemampuan menstimulasikan perubahan pH dan konsentrasi logam beratnya.
Dengan kata lain, penanganan logam berat dengan mikroorganisme relatif mudah
dilakukan, murah dan cenderung tidak berbahaya bagi lingkungan.
Organisme Selular Sianobakteria merupakan organisme selular yang
termasuk kelompok mikroalga atau ganggang mikro. Di alam, organisme ini
tersebar luas baik di perairan tawar maupun lautan. Sampai saat ini diketahui
sekitar 2.000 jenis sianobakteria tersebar di berbagai habitat. Berdasarkan
penelitian terbaru, sianobakteria merupakan salah satu organisme yang diketahui
mampu mengakumulasi (menyerap) logam berat tertentu seperti Hg, Cd dan Pb.
Suhendrayatna (2001) dalam makalahnya, menjelaskan lebih rinci tentang proses
penyerapan ion logam berat oleh sianobakteria dan mikroorganisme secara umum.
Umumnya, penyerapan ion logam berat oleh sianobakteria dan mikroorganisme
terdiri atas dua mekanisme yang melibatkan proses aktif uptake (biosorpsi) dan
pasif uptake (bioakumulasi).
a. Proses Aktif Uptake
Proses ini juga dapat terjadi pada berbagai tipe sel hidup. Mekanisme ini
secara simultan terjadi sejalan dengan konsumsi ion logam untuk pertumbuhan
sianobakteria, dan/atau akumulasi intraselular ion logam tersebut. Logam berat
dapat juga diendapkan pada proses metabolisme dan ekresi sel pada tingkat kedua.
Proses ini tergantung dari energi yang terkandung dan sensitivitasnya terhadap
parameter yang berbeda seperti pH, suhu, kekuatan ikatan ionik, cahaya dan
lainnya.
Namun demikian, proses ini dapat pula dihambat oleh suhu rendah, tidak
tersedianya sumber energi dan penghambat metabolisme sel. Peristiwa ini seperti
ditunjukkan oleh akumulasi kadmium pada dinding sel Ankistrodesmus dan
Chlorella vulgaris yang mencapai sekitar 80 derajat dari total akumulasinya di
dalam sel, sedangkan arsenik yang berikatan dengan dinding sel Chlorella
vulgaris rata-rata 26 persen. Suhendrayatna (2001) menambahkan, untuk
mendesain suatu proses pengolahan limbah yang mengandung ion logam berat
dengan melibatkan sianobakteria relatif mudah dilakukan. Proses pertama,
sianobakteria pilihan dimasukkan, ditumbuhkan dan selanjutnya dikontakkan
dengan air yang tercemar ion logam berat tersebut. Proses pengontakkan
dilakukan dalam jangka waktu tertentu yang ditujukan agar sianobakteria
berinteraksi dengan ion logam berat, selanjutnya biomassa sianobakteria ini
dipisahkan dari cairan. Proses terakhir, biomassa sianobakteria yang terikat
dengan ion logam berat diregenerasi untuk digunakan kembali atau kemudian
dibuang ke lingkungan. Pemanfaatan sianobakteria untuk menanggulangi
pencemaran logam berat merupakan hal yang sangat menarik dilakukan, baik oleh
masyarakat, pemerintah maupun industri. Karena, sianobakteria merupakan
organisme selular yang mudah dijumpai, mempunyai spektrum habitat sangat
luas, dapat tumbuh dengan cepat dan tidak membutuhkan persyaratan tertentu
untuk hidup, mudah dibudidayakan dalam sistem akuakultur.
b. Proses pasif uptake
Proses ini terjadi ketika ion logam berat terikat pada dinding sel biosorben.
Mekanisme passive uptake dapat dilakukan dengan dua cara, pertama dengan cara
pertukaran ion di mana ion pada dinding sel digantikan oleh ion-ion logam berat;
dan kedua adalah pembentukan senyawa kompleks antara ion-ion logam berat
dengan gugus fungsional seperti karbonil, amino, thiol, hidroksi, fosfat, dan
hidroksi-karboksil secara bolak balik dan cepat. Sebagai contoh adalah pada
Sargassum sp. dan Eklonia sp. di mana Cr(6) mengalami reaksi reduksi pada pH
rendah menjadi Cr(3) dan Cr(3) di-remove melalui proses pertukaran kation.

B. Pencemaran Laut Akibat Tumpahan Minyak
Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ
burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent,
penggunaan bahankimia dispersan, dan washing oil.
- In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan laut, sehingga
mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan
dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi. Teknik ini
membutuhkan booms(pembatas untuk mencegah penyebaran minyak)
atau barrier yang tahan api. Namun, pada peristiwa tumpahan minyak dalam
jumlah besar sulit untuk mengumpulkan minyak yang dibakar. Selain itu,
penyebaran api sering tidak terkontrol.
- Penyisihan minyak secara mekanis melalui 2 tahap, yaitu melokalisir
tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak
ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang
disebut skimmer.
- Bioremediasi yaitu proses pendaurulangan seluruh material organik. Bakteri
pengurai spesifik dapat diisolasi dengan menebarkannya pada daerah yang
terkontaminasi. Selain itu, teknik bioremediasi dapat
menambahkan nutrisi dan oksigen, sehingga mempercepat penurunan polutan.
- Penggunaan sorbent dilakukan dengan menyisihkan minyak melalui
mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pad permukaan sorbent)
dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi
mengubah fase minyak dari cair menjadi padat, sehingga mudah dikumpulkan
dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik, oleofobik,
mudah disebarkan di permukaan minyak, dapat diambil kembali dan
digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami
(kapas, jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami
(lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa
poliuretan, polietilen, polipropilen dan seratnilon).
- Dispersan kimiawi merupakan teknik memecah lapisan minyak menjadi
tetesan kecil (droplet), sehingga mengurangi kemungkinan
terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan minyak. Dispersan kimiawi
adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebutsurfaktan.
- Washing oil yaitu kegiatan membersihkan minyak dari pantai.

C. Usaha Lain untuk Menanggulangi Pencemaran Laut
Berikut adalah Usaha yang dapat di lakukan untuk menanggulangi
pencemaran laut agar laut tetap lestari.
- Tidak membuang sampah ke laut
- Penggunaan pestisida secukupnya
- Yang paling sering di temukan pada saat pembersihan pantai dan laut
adalah puntung rokok. Selalu biasakan untuk tidak membuang puntung
rokok di sekitar laut.
- Kurangi penggunaan plastik
- Jangan tinggalkan tali pancing, jala atau sisa sampah dari kegiatan
memancing di laut.
- Setiap industri atau pabrik menyediakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah
(IPAL)
- Menggunakan pertambangan ramah lingkungan, yaitu pertambangan
tertutup.
- Pendaurulangan sampah organic
- Tidak menggunakan deterjen fosfat, karena senyawa fosfat merupakan
makanan bagi tanaman air seperti enceng gondok yang dapat
menyebabkan terjadinya pencemaran air.
- Penegakan hukum serta pembenahan kebijakan pemerintah
- Melakukan proses bioremediasi, diantaranya melepaskan serangga untuk
menetralisir pencemaran laut yang disebabkan oleh tumpahan minyak dari
ledakan ladang minyak.
- Fitoremediasi dengan menggunakan tumbuhan yang mampu menyerap
logam berat juga ditempuh. Salah satu tumbuhan yang digunakan tersebut
adalah pohon api-api (Avicennia marina). Pohon Api-api memiliki
kemampuan akumulasi logam berat yang tinggi.
- Melakukan pembersihan laut secara berkala dengan melibatkan peran serta
masyarakat

















DAFTAR PUSTAKA
http://journal.ui.ac.id/index.php/science/article/.../414/410%E2%80%8E diakses
pada tanggal 20 November 2013 pukul 13:17
http://masdony.wordpress.com/2009/04/19/logam-berat-sebagai-penyumbang-
pencemaran-air-laut/ diakses pada tanggal 21 November 2013 pukul 20:43
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22664/4/Chapter%20II.pdf
diakses pada tanggal 20 November 2013 pukul 15:24
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30115/3/Chapter%20II.pdf
diakses pada tanggal 20 November 2013 pukul 15:28
http://www.analisadaily.com/mobile/pages/news/7382/cegah-pencemaran-
lingkungan-dengan-tangan-sendiri diakses pada tanggal 21 November
2013 pukul 21:29
http://hunting-ilmu-laporan.blogspot.com/2013/05/pencemaran-laut-di-
indonesia.html diakses pada 21 november 2013 pukul 18:01
http://gudang-ilmu-arianto.blogspot.com/2013/05/makalah-pencemaran-
laut_7.html di akses pada tgl 20 november 2013 pukul 14:05
Ginting, Pedana, Ir., Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri (2007)
Jakarta. MS.CV YRAMA WIDYA. Hal 17-18.