Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

Disusun oleh:
Ani Kurniawati 1112102000042
Anissa Florensia 1112102000040
Yuli Andriani 1112102000051
Fenny Delfiyanti 1112102000032
Hana Youlanda 1112102000033
Nursetyowati Rahayu 1112102000049
Ade Rachma Islamiah 1112102000037
Afra fitrianita 1112102000047
Verona Shaqila E. 1112102000035
Irham pratama putra 1112102000036

Kelompok 1B
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan
Mengukur dan membandingkan kadar glukosa darah dan kandungan glikogen hati tikus pada
keadaan puasa dan tidak puasa.
B. Latar belakang
Karbohidrat merupakan salah satu komponen asupan utama bagi manusia. Tubuh
membutuhkan karbohidrat untuk memproduksi glukosa sebagai bahan bakar untuk energi
utama tubuh, khususnya otak dan sistem saraf. Dua bentuk karbohidrat yang digunakan
tubuh sebagai energi adalah glukosa darah dan glikogen otot. Glikogen merupakan simpanan
karbohidrat dalam bentuk glukosa di dalam tubuh yang berfungsi sebagai salah satu sumber
energi tidak hanya bagi kerja otot namun juga merupakan sumber energi bagi sistem pusat
syaraf dan otak. Di dalam tubuh, jaringan otot dan hati merupakan dua komponen utama yang
digunakan oleh tubuh untuk menyimpan glikogen.
Glikogen sewaktu-waktu diubah jadi glukosa sebagai sumber energi. Ketika puasa
lemak tubuh dirombak jadi asam lemak dan gliserol, lalu diubah menjadi glukosa, untuk
menjamin agar kadar gula darah tetap dan sumber energi bagi metabolisme dan gerakan
tubuh selalu cukup. Kebutuhan utama pada saat kelaparan adalah senyawa penghasil energi.
Jawaban fisiologis pertama terhadap kekurangan pangan adalah mempertahankan kadar
glukosa darah. Glikogen hati hanya dapat menyediakan glukosa selama beberapa jam, dan
setelah itu terjadi proses glukoneogenesis dalam hati yang membutuhkan substrat dari
jaringan lain. Substrat ini berasal dari asam amino glikogenik dan lemak (Montgomery1983).
Glukosa darah adalah gula yang terdapat dalam darah yang terbentuk dari karbohidrat
dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen di hati dan otot rangka. Dalam ilmu
kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah.
Konsentrasi gula darah atau tingkat glukosa serum, diatur di dalam tubuh. Glukosa yang
dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Kadar glukosa
meningkat setelah makan dan biasanya kadar glukosa terendah pada pagi hari yaitu sebelum
orang makan. Kadar glukosa pada saat berpuasa (Anna Poedjiadi 1994).Oleh karena itu,
praktikan melakukan percobaan kali ini untuk mengetahui pengaruh kadar glukosa darah dan
kandungan glikogen hati tikus pada keadaan puasa dan tidak puasa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada keadaan puasa (starvasi) terjadi pembatasan asupan makanan dan minuman yang
dapat menyebabkan kurangnya ketersediaan energi dan unsur-unsur nutrisi esensial yang
diperlukan oleh tubuh (Syaputra, 2007).
Dalam kondisi kekurangan makanan akan terjadi perubahan metabolik. Penurunan kadar
glukosa darah saat puasa akan menyebabkan kadar insulin menurun dan kadar glukagon
meningkat. Untuk mencapai keseimbangan kadar glukosa kembali, secara normalnya
glukagon yang disekresikan oleh pankreas akan merangsang hati untuk mengubah glikogen
menjadi glukosa (glikogenolisis).
Glikogen merupakan simpanan karbohidrat dalam bentuk glukosa didalam tubuh yang
berperan sebagai cadangan sumber energi. Glikogen disimpan dalam dua kompratemen
utama tubuh yakni otot dan hati. Pada jaringan otot, glikogen dapat digunakan secara
langsung oleh otot sebagai sumber energi sedangkan pada hati, glikogen berperan untuk
mempertahankan level glukosa darah.
Demi mendapatkan pemahaman dan gambaran yang menyeluruh maka dilakukan
pengujian pada 2 ekor tikus untuk dapat mengukur dan membandingkan kadar glukosa (darah
dan hati) saat puasa dan tidak puasa.Penentuan kadar glukosa hati dilakukan dengan
mengisolasi hati tikus terlebih dahulu. Kemudian tempatkan hati tikus pada larutan NaCl 0.9
g/dL pada suhu 4 C guna mengawetkan hati tikus. Kemudian keluarkan hati tikus dari larutan
NaCl 0.9 g/dL dan keringkan dengan menggunakan kertas saring. Lalu timbang masing-
masing bobot tikus dan dilanjutkan dengan pelumatan hati tikus dengan blender yang
sebelumnya sudah ditambahkan 100 ml aquades. Penambahan aquades ini dimaksudkan
untuk melarutkan lumatan hati agar mempermudah proses ekstraksi.
Ekstraksi glikogen diawali dengan penambahan larutan asam asetat disertai dengan
pemanasan guna mengikat protein. Saring protein selagi panas lalu filtrat ditambahkan
alkohol 95% dengan 4 kali volume filtratnya untuk mengendapkan glikogen tanpa
mengendapkan glukosanya. Pisahkan endapan glikogen dengan menyaring. Kemudian filtrat
ditambahkan aquades dan HCl pekat untuk menghidrolisis glikogen lalu didihkan dan tambah
NaOH untuk menetralkan larutan. Selanjutnya ditambah aquades hingga volume 10 ml dan
lakukan pengukuran absorbansi pada spektrofotometer.
Kadar glukosa hasil hidrolisis glikogen hati:


Keterangan:
Ru: Absorbansi Uji
Rs: Absorbansi Standar
Rb: Absorbansi blanko
Glukosa darah normal tikus sehat bervariasi 50-135 mg/dl . Seperti mamalia kadar
glukosa tergantung pada jenis makan yang dikonsumsi dan waktu terakhir makan. Kadar
glukosa darah akan menurun jika tidak ada lagi asupan glukosa. Kadar glukosa darah normal
pada tikus puasa adalah 50-105 mg/dl.
Ada beberapa metode untuk mengukur kadar glukosa diantaranya:
a. Metode Kimia
Sebagian besar pengukuran dengan metode kimia yang didasarkan atas kemampuan
reduksi sudah jarang dipakai karena spesifitas pemeriksaan kurang tinggi (Departemen



Kesehatan RI, 2005 ). Prinsip pemeriksaan kadar gula dengan metode ini, yaitu proses
kondensasi glukosa dengan akromatik amin dan asam asetat glasial pada suasana panas,
sehingga terbentuk senyawa berwarna hijau kemudian diukur secara fotometri
(Departemen Kesehatan RI, 2005 ).

Beberapa kelemahan dari metode kimia antara lain:
Memerlukan langkah pemeriksaan yang panjang dengan pemanasan.
Menggunakan reagen-reagen yang bersifat korosif pada alat laboratorium
Gula selain glukosa dapat terukur kadarnya sehingga menyebabkan hasil tinggi
palsu.

b. Metode enzimatik
Metode enzimatik pada pemeriksaan glukosa darah memberikan hasil dengan
spesifitas yang tinggi, karena hanya glukosa yang akan terukur. Cara ini adalah cara
yang digunakan untuk menentukan nilai batas. Ada 2 macam metode enzimatik yang
digunakan yaitu glucose oxidase dan metode hexokinase (Departemen Kesehatan RI,
2005 ).
1) Metode glucose oksidase
Prinsip pemeriksaan pada metode ini adalah enzim glucose oxidase
mengkatalisis reaksi oksidasi glukosa menjadi asam glukonat dan hidrogen
peroksida. Hidrogen peroksida yang terbentuk bereaksi dengan phenol dan 4-
amino phenazone dengan bantuan enzim peroksidase menghasilkan quinoneimine
yang berwarna merah muda dan dapat diukur dengan fotometer pada panjang
gelombang 546 nm. Intensitas warna yang terbentuk setara dengan kadar glukosa
darah yang terdapat dalam sampel (Riyani, 2009).
Digunakannya enzim glucose oxidase pada reaksi pertama menyebabkan sifat
reaksi pertama spesifik untuk glukosa (Departemen Kesehatan RI, 2005).
2) Metode hexokinase
Metode hexokinase merupakan metode pengukuran kadar glukosa darah yang
dianjurkan oleh WHO dan IFCC. Baru sekitar 10% laboratorium yang ikut
PNPME-K menggunakan metode ini untuk pemeriksaan glukosa darah
(Departemen Kesehatan RI, 2005).
Prinsip pemeriksaan pada metode ini adalah hexokinase akan mengkatalis
reaksi fosforilasi glukosa dengan ATP membentuk glukosa-6-fosfat dan ADP.
Enzim kedua yaitu glukosa-6-fosfat dehidrogenase akan mengkatalisis oksidasi
glukosa-6-fosfat dengan nicotinamide adenine dinocleotide phosphate (NADP+)
(Departemen Kesehatan RI, 2005).
Pada metode ini digunakan dua macam enzim yang baik karena kedua enzim
ini spesifik. Akan tetapi, metode ini membutuhkan biaya yang relatif mahal.
c. Cara Strip
Merupakan alat pemeriksaan laboratorium sederhana yang dirancang hanya untuk
penggunaan sampel darah kapiler, bukan untuk sampel serum atau plasma. Strip katalisator
spesifik untuk pengukuran glukosa dalam darah kapiler (Suryaatmadja, 2003).
Prinsip pemeriksaan pada metode ini adalah strip test diletakkan pada alat, ketika darah
diteteskan pada zona reaksi tes strip, katalisator glukosa akan mereduksi glukosa dalam
darah. Intensitas dari elektron yang terbentuk dalam alat strip setara dengan konsentrasi
glukosa dalam darah.
Cara strip memiliki kelebihan hasil pemeriksaan dapat segera diketahui, hanya butuh
sampel sedikit, tidak membutuhkan reagen khusus, praktis, dan mudah dipergunakan, serta
dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa butuh keahlian khusus.
Kekurangannya adalah akurasinya belum diketahui, dan memiliki keterbatasan yang
dipengaruhi oleh kadar hematokrit, interfensi zat lain (Vitamin C, lipid, dan hemoglobin),
suhu, volume sampel yang kurang, dan strip bukan untuk menegakkan diagnosa klinis
melainkan hanya untuk pemantauan kadar glukosa (Suryaatmadja, 2003).
d. Metode Folin-Wu
Prinsipnya adalah ion kupri akan direduksi oleh gula dalam darah menjadi kupro dan
mengendap menjadi CuO2. Penambahan pereaksi fosfomolibdat akan melarutkan CuO2 dan
warna larutan menjadi biru tua karena oksidasi Mo kemudian kadar glukosa diukur dengan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 660 nm (Kuswurj, 2009) Dengan
demikian banyaknya CuO2 yang terbentuk sebanding dengan kadar glukosa yang mereduksi.
Menurut Ptijanti (2008). Kadar glukosa di jaringan hati tikus puasa lebih kecil
dibandingkan dengan kadar glukosa hati pada tikus yang tidak puasa. Alasannya, cadangan
glikogen akan digunakan ketika lapar, glikogen akan dipecah melalui proses glikogenolisis
menjadi glukosa yang akan langsung ditransfer ke dalam darah. Glikogen yang dipecah akan
menyababkan glukosa di hati menjadi sedikit. Begitu pun dengan kadar glikogen dihati yang
menurun akibat dari proses glikogenolisis (Montgomery, 1983).







BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
Tanggal dan Tempat: 03 Oktober 2014 di Laboratorium Biokimia Klinis Fakultas Kedokteran Dan Ilmu
Kesehatan Jakarta
a. Alat dan bahan:
Perangkat bedah tikus
Hati tikus yang baru diambil
Pelumat jaringan (mortar dan alu)
Larutan NaCL 0,9 g/dL
Larutan asam asetat 10%
Spektrofotometer
Glukosa

b. Cara Kerja:

1. Pengambilan hati tikus














2. Pelumatan hati
Dimatikan tikus dengan
menempatkannya pada
bejana kerja yang telah
berisi uap eter jenuh
Segera setelah mati,
dikeluarkan dan
ditelentangkan tikus
diatas papan gabus
atau polistiren
Direntangkan ke
empat kaki sejauh
mungkin dan difiksasi
kepapan operasi
dengan
menggunakan jarum
pentul
Dibasahkan permukaan
perut dengan alcohol, dan
dijepit dinding perut
didaerah median pinset
dan gunting dengan arah
melintang. Akan segera
tampak peritoneum.
Digunting peritoneum dalam
arah yang sama sejauh-
jauhnya dan lakukan
pengguntingan ke arah dada
sampai diafragma
Digunting
diafragma ke
arah belakang.
Dilepaskan hati
dan jaringan
sekitar secara
tumpul,
sehingga mati
dan sebagian
diafragma lepas
dari tubuh
Ditempatkan hati
kedalam larutan
NaCL 0,9 g/dL,
dengan suhu 4
0
C.

Diteteska
n jantung
dengan
heparin
dan
segera
digunting
apeknya.
Diambil darah dan
rongga dada
dengan pipet
Pasteur dan
ditampung dalam
tabung reaksi
untuk penetapan
kadar glukosa
darah

3.









3. Ekstraksi glikogen









4. Pengukuran kadar glukosa darah tikus
1. Disiapkan 3 buah tabung reaksi
2. Diberi label pada masing-masing tabung (blanko, standar, dan sampel)
3. Ditambahkan reagen glukosa 1000 l
4. Tabung pertama(blanko) di tambahkan reagen glukosa 10 l
5. Pada tabung kedua (standar) ditambahkan standar glukosa 10 l
6. Pada tabung ketiga (sampel) ditambahkan sampel serum darah tikus.
7. Ditunggu 10 menit
8. Dibaca pada alat spektrofotometer

Di keluarkan
sampel Hati dari
larutan NaCl
0,9g/dl
Di taambahkan
alkohol 95% 4 kali
volumenya
Di saring dan
ditampung di gelas
ukur
Di didihkan
hingga
volume
tinggal
separuh dari
semula
Di dinginkan dan di
keringkan dengan
kertas saring
Di panaskan
hingga
mendidih
Di lumatkan hati
menggunakan blender
dan ditambahkan
aquadest 100ml
Di timbang
Di tambahkan 5
ml asam asetat
Di masukkan
lumatan hati ke
kaserol
Di kumpulkan hati
tikus dan
dikelompokkan puasa,
dan tidak puasa
Diendapkan, dan
di simpan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

I. Absorbansi glukosa darah dengan metode kit ( = 500nm)
Blanko Standar Uji
Tikus puasa 0,172 0,509 0,710
Tikus tidak puasa 0,156 0,522 1,000

Kadar glukosa tikus puasa =


x 100 =

x 100 = 139,45 mg/dl


Kadar glukosa tikus tidak puasa =


x 100 =

x 100 = 191,57mg/dl
II. Absorbansi glukosa hati ( = 500nm)
Blanko Standar Uji 1 Uji 2 Rata rata
Tikus puasa 0,111 0,114 0,217 0,237 0,227
Tikus tidak puasa 0,001 0,002 0,006 0,005 0,0055

Kadar glukosa hasil hidrolisis glikogen hati tikus puasa (mg/g hati) :


X


= 12,89 (mg/g)

Kadar glukosa hasil hidrolisis glikogen hati tikus tidak puasa (mg/g hati)


X

= 1,5 (mg/g)

B. Pembahasan
1. Pengukuran kadar glukosa jaringan hati pada tikus puasa
Pada praktikum kali ini, kita menggunakan dua kelompok tikus putih jantan dimana satu
kelompok tikus putih jantan dipuasakan selama 48 jam sedangkan kelompok lainnya tidak
dipuasakan. Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu untuk mengetahui pengaruh puasa
terhadap kadar glukosa jaringan hati.
Tikus putih jantan dilakukan pengambilan hati tikus dimana pertama-tama tikus
dimasukkan ke dalam toples yang sudah berisi eter jenuh. Eter jenuh berfungsi untuk
mematikan tikus agar mempermudah dalam proses pengambilan hati tikus. Setelah dipastikan
tikus telah mati, keluarkan tikus dari toples dan telentangkan tikus diatas papan gabus atau
polistiren yang kemudian rentangkan keempat kaki tikus dan fiksasi ke papan operasi
menggunakan jarum pentul. Hal ini bertujuan untuk mempermudah proses pengoperasian.
Setelah itu, dilakukan proses pembedahan bagian abdomen hingga ke diafragma kemudian
lakukan proses pengambilan hati. Hati tersebut dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0,9 g/dL
pada suhu 4
0
C. Larutan NaCl digunakan untuk menjaga agar hati tikus tidak rusak pada saat
penyimpanan.
Keesokan harinya, hati tikus dikeluarkan dari larutan NaCl 0,9 g/dL dingin. Kumpulkan
hati tikus pada masing-masing kelompok puasa dan tidak puasa lalu masukkan ke dalam
lumpang dan lumatkan hati tikus dengan penambahan sedikit aquadest hingga 50 ml.
Aquadest bertujuan untuk melarutkan atau mengencerkan hati tikus sehingga bisa dilakukan
ekstraksi. Pindahkan lumatan hati ke dalam beaker glass lalu tambahkan asam asetat
sebanyak 2,5 ml. Asam asetat bertujuan untuk mendapatkan protein. Didihkan hingga
volumenya setengah dari volume awal. Saring hasil pendidihan dan tampung pada gelas ukur
untuk mempermudahkan dalam penambahan alkohol 96% sebanyak empat kalinya. Alkohol
digunakan unutk mengendapkan glikogen tampa mengendapkan glukosa. Kemudian saring
kembali dengan bantuan vakum untuk mempercepat penyaringan sehingga didapatkan
endapan yang ada di kertas saring. Endapan ditambahkan 10 ml aquadest dan 10 tetes HCl
pekat. HCl pekat digunakan untuk menghidrolisis glikogen sehingga membantu pada saat
proses homogenisasi (Montgomery, 1983). Kemudian didihkan dan tambahkan NaOH hingga
10 mL. Penambahan NaOH bertujuan untuk menetralkan larutan.
Kemudian lakukan penetapan kadar glukosa hasil hidrolisis glikogen hati dengan cara
Folin-Wu. Prinsip pengukuran kadar glukosa darah dengan metode Folin-Wu adalah ion
kupri akan direduksi oleh gula dalam darah menjadi kupro dan mengendap menjadi Cu
2
O.
Penambahan pereaksi fosfomolibdat akan melarutkan Cu2O dan warna larutan menjadi biru
tua, karena ada oksida Mo. Dengan demikian, banyaknya Cu2O yang terbentuk berhubungan
linier dengan banyaknya glukosa di dalam darah. Filtrat yang berwarna biru tua yang
terbentuk akibat melarutnya Cu2O karena oksida Mo dapat diukur kadar glukosanya dengan
menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang500 nm.
Glikogen merupakan simpanan karbohidrat dalam bentuk glukosa di dalam tubuh yang
berfungsi sebagai salah satu sumber energi. Glikogen terbentuk dari molekul glukosa yang
saling mengikat dan membentuk molekul yang lebih kompleks. Glikogen memiliki fungsi
sebagai sumber energi tidak hanya bagi kerja otot namun juga merupakan sumber energi bagi
sistem syaraf pusat dan otak. Di dalam tubuh, jaringan otot dan hati merupakan dua
kompartemen utama yang digunakan oleh tubuh untuk menyimpan glikogen.
Dari hasil yang didapat, terlihat bahwa ada perbedaan yang cukup nampak antara kadar
tikus puasa dan kadar glikogen yang tidak puasa. Pada tikus yang tidak puasa kadar glikogen
hati yaitu 1,5 mg/g sedangkan pada tikus yang dipuasakan kadar glikogen hati yaitu 12,89
mg/g. Hal ini tidak sesuai dengan teori dimana kadar glukosa hati tikus yang dipuasakan
seharusnya lebih kecil dari yang tidak dipuasakan. hal tersebut dikarenakan pada saat puasa
kadar glukosa darah akan turun dari biasanya maka cadangan glikogenpun akan terpakai agar
tetap mendapatkan glukosa. Penurunan mendadak kadar glukosa darah akan menyebabkan
konvulsi, yaitu keadaan seperti overdosis insulin, otak akan yang mengkondisikan secara
langsung pada saat tubuh tetap memasok glukosa. Sedangkan pada saat keadaan tidak puasa
kandungan glukosa pada tubuhnya masih dipasok secara normal dan belum memakai kadar
glikogen pada tubuhnya. Setelah ingesti makanan yang mengandung karbohohidrat, kadar
glukosa darah akan naik. Kesalahan hasil perhitungan kadar glukosa hati diduga disebabkan
kurangnya ketelitian praktikan dalam melakukan prosedur kerja sehingga hasil yang
diperoleh tidak sesuai dengan literatur yang didapat.
2. Pengukuran kadar glikogen pada hati tikus tidak puasa
Glukosa merupakan sumber energi bagi sel dan jaringan pada makhluk
hidup.Sebagai contoh, jaringan memerlukan ribosa untuk membentuk suatu nukleotida.
Pada manusia, glukosa didapatkan dari berbagai asupan makanan (nasi, buah-buahan, mie,
dll) biasanya dalam bentuk karbohidrat. Dalam tubuh, karbohidrat akan dipecah menjadi
bentuk yg lebih sederhana, yakni glukosa dengan berbagai mekanisme enzim, contoh: enzim
amilase yang terdapat dalam saliva. Sebagian asupan glukosa akan disimpan dalam hati
sebagai glikogen. Glikogen akan dipecah menjadi glukosa sewaktu seseorang berpuasa atau
berolahraga.
Gula (glukosa) darah merupakan kadar gula yang berada dalam darah baik berasal
dari proses metabolisme makanan yang mengandung karbohidrat maupun hasil rombakan
dari zat lain seperti glikogen (Marks 2012). Pentingnya peranan glukosa pada manusia,
menyebabkan adanya mekanisme pertahanan glukosa dalam tubuh. Pada saat jaringan
kekurangan glukosa, maka glikogen dalam hati akan dipecah menjadi glukosa (glikogenolisis)
untuk memenuhi kebutuhan glukosa. Selain itu, tubuh juga akan menyintesis glukosa dari
senyawa selain karbohidrat, misalnya: asam laktat dan beberapa asam amino
(glukoneogenesis). Proses-proses ini umumnya terjadi di hati. Sementara jika kadar glukosa
darah terlalu tinggi, maka glukosa tersebut akan mengalami reaksi katabolisme secara
enzimatik untuk menghasilkan energi.
Praktikum kali ini melakukan percobaan mengukur kadar glikogen pada hati tikus.
Pengukuran dilakukan dengan cara menggunakan endapan dan filtrat hati. Pertama-tama
dilakukan proses pelumatan hati tikus, hati yang ditempatkan di NaCl 0,9 g/dL dikeluarkan
lalu disaring dengan kertas saring. Selanjutnya dilakukan proses pelumatan hati dengan
aquades. Proses selanjutnya adalah ekstraksi glikogen dengan memasukkan lumatan hati ke
dalam kaserol. Dipanaskan hingga mendidih, lalu ditambahkan asam asetat, kemudian
dididihkan sampai volume menjadi setengah dari semula. Endapan dan filtrat disaring lalu
ditambahkan alkohol 95% empat kali volume larutan. Kemudian, Endapan glikogen di
vacum untuk memisahkan filtrat dan endapan. Semua endapan diambil kemudian
ditambahkan aquades dan HCl pekat. Fungsi dari larutan HCL adalah untuk menghidrolisis
glikogen sehingga membantu pada saat proses homogenisasi yang akhirnya kadar glikogen
hati dapat ditentukan (Montgomery 1983). Proses ini diibaratkan ketika makanan masuk
kelambung lalu dicampur dengan HCl sehingga menjadi asam. Selanjutnya, larutan tersebut
dididihkan selama 10 menit lalu dinetralkan dengan NaOH sampai pH 7. Tahap ini
diibaratkan ketika makanan dari lambung masuk ke usus akan diubah dari asam menjadi
basa. Larutan hasil hidrolisis tersebut dipindahkan ke tabung reaksi 10 ml kemudian
dilakukan deproteinisasi.selanjutnya,di lakukan pengukuran kadar glukosa darah.
Kadar glukosa darah dapat digunakan untuk memprediksi metabolisme yang terjadi
dalam sel. Penentuan glukosa darah tikus dilakukan dengan metode kit. Darah tikus yang
diperoleh disentrifuge untuk memisahkan bagian plasma dan serum. Serum dari darah tikus
dihitung absorbannya dengan menggunakan spektro uv-vis pada panjang gelombang 500
nm. Nilai absorban selanjutnya dimasukkan ke dalam rumus untuk mendapatkan kadar
glukosa darah tikus. Data yg didapatkan:
Absorbansi glukosa darah dengan metode kit ( = 500nm)
Blanko Standar Uji
Tikus puasa 0,172 0,509 0,710
Tikus tidak puasa 0,156 0,522 1,000

Kadar glukosa tikus puasa =


x 100 =

x 100 = 139,45 mg/dl


Kadar glukosa tikus tidak puasa =


x 100 =

x 100 = 191,57mg/dl
Berdasarkan data diatas kadar glukosa darah tikus puasa adalah 139,45 mg/dl.
Sementara kadar glukosa tikus tidak puasa adalah 191,57 mg/dl. Hasil yang diperoleh sesuai
dengan literatur, dimana kadar glukosa darah pada tikus puasa lebih rendah dibandingkan
pada tikus yang tidak puasa. Pada tikus puasa, glukosa yang diperoleh dari asupan makanan
tidak memenuhi kebutuhan tubuh, menyebabkan kerusakan sel-sel beta pankreas
selanjutnya akan mengakibatkan peningkatan hormon insulin sehingga kadar glukosa di
dalam tubuh tikus akan menurun karena seluruh glukosa yang dikonsumsi tubuh tidak dapat
diproses secara sempurna, lalu tubuh akan mengompensasi melalui pemecahan glikogen
menjadi glukosa pada hati (glikogenolisis). Normalnya kadar glukosa darah tikus puasa, yaitu
60-100mg/dl.
Glikogen sewaktu-waktu dapat diubah jadi glukosa sebagai sumber energi. Ketika
puasa lemak tubuh dirombak jadi asam lemak dan gliserol, lalu diubah menjadi glukosa,
untuk menjamin agar kadar gula darah tetap dan sumber energi bagi metabolisme dan
gerakan tubuh selalu cukup. Puasa merupakan salah satu kondisi yang dapat menyebabkan
stres oksidatif. Kebutuhan utama pada saat kelaparan adalah senyawa penghasil energi.
Glikogen hati hanya dapat menyediakan glukosa selama beberapa jam, dan setelah itu
terjadi proses glukoneogenesis dalam hati yang membutuhkan substrat dari jaringan lain.
Substrat ini berasal dari asam amino glikogenik dan lemak.
Pada tikus yang tidak puasa kadar glikogen hati lebih besar daripada tikus puasa. Hal
tersebut dikarenakan pada sebelum tikus diambil hatinya keadaan kandungan glukosa pada
tubuhnya masih dipasok secara normal dan belum memakai kadar glikogen pada tubuhnya.
Setelah ingesti makanan yang mengandung karbohohidrat, kadar glukosa darah akan naik.

BAB V
KESIMPULAN

1. Kelompok tikus 1 dipuasakan 48 jam dan kelompok tikus 2 tidak dipuasakan
2. Pada tikus yang tidak puasa kadar glikogen hati yaitu 1,5mg/g sedangkan pada tikus yang
dipuasakan kadar glikogen hati yaitu 12,89 mg/g. hal ini tidak sesuai dengan teori dimana
kadar glukosa hati tikus yang dipuasakan seharusnya lebih kecil dari yang tidak dipuasakan.
Kesalahan hasil perhitungan kadar glukosa hati diduga disebabkan kurangnya ketelitian
praktikan dalam melakukan prosedur kerja sehingga hasil yang diperoleh tidak sesuai
dengan literature yang didapat.
3. Berdasarkan praktikum, kadar glukosa darah pada tikus tidak puasa 191,57mg lebih
tinggi disbanding pada tikus puasa 139,45 mg/dl karena pada tikus puasa
asupan karbohidratnya lebih rendah sehingga hasil yang kami dapat telah sesuai
dengan literature.

Daftar Pustaka
Montgomery R, Dryer RL, Conway TW. Spector AA. 1983. Biokima: Suatu
Pendekatan Orientasi Kasus-Kasus Jilid 1. Diterjemahkan Ismadi M. Yogyakarta: Penerbit
Gajah Mada: University Press.
Prijanti AR. 2008. Metabolisme Karbohidrat. Jakarta: FK UI.
Syahputra, Muhammad. 2003. Jurnal Biokimia starvasi. Medan: FK USU.