Anda di halaman 1dari 7

1.

Proestrus
Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan berhentinya progesteron dan
memperluas untuk memulai estrus. Pada fase ini terjadi pertumbuhan folikel yang sangat cepat.
Akhir periode ini adalah efek estrogen pada sistem saluran dan gejala perilaku perkembangan
estrus yang dapat diamati. Menurut Shearer (2008), fase proestrus berlangsung sekitar 12 jam
dan dicirikan dengan pertumbuhan folikel dan produksi estrogen. Peningkatan jumlah estrogen
menyebabkan pemasokan darah ke sistem reproduksi untuk meningkatkan pembengkakan sistem
dalam kelenjar cervix dan vagina dirangsang untuk meningkatkan aktifitas sekretori membangun
muatan vagina yang tebal..Karakteristik sel pada saat proestrus yaitu bentuk sel epitel bulat dan
berinti, leukosit tidak ada atau sedikit.
2.Estrus
Estrus merupakan klimaks fase folikel. Pada fase inilah betina siap menerima jantan. Dan
pada saat ini pula terjadi ovulasi (kecuali pada hewan yang memerlukan rangsangan seksual
lebih dahulu untuk terjadinya ovulasi).Waktu ini betina jadi berahi atau panas.
Karakteristik sel pada saat estrus yaitu penampakan histologi dari smear vagina
didominasi oleh sel-sel superfisial, tetapi terdapat kornifikasi pada hasil preparat, pengamatan
yang berulang menampakkan sel-sel superfisialnya ada yang bersifat anucleate.
Sel-sel parabasal dan superfisial mudah untuk dibedakan, sedangkan sel-sel intermediet
adalah sel yang terletak diantara sel parabasal dan sel superfisial.pada saat nukleus mengecil,
membentuk pyknotic maka sel ini dapat diklasifikasikan pada sel superficial.
3. Metestrus

Fase metestrus diawali dengan penghentian fase estrus. Umumnya pada fase ini
merupakan fase terbentuknya corpus luteum. Selain itu pada fase ini juga terjadi peristiwa
dikenal sebagai metestrus bleeding.
Pada fase metestrus, histologi dari smear vagina menampakkan suatu fenomena
kehadiran sel-sel yang bergeser dari sel-sel parabasal ke sel-sel superfisial, selain itu sel darah
merah dan neutrofil juga dapat diamati.Sel-sel parabasal adalah sel-sel termuda yang terdapat
pada siklus estrus. Karakteristik dari sel-sel parabasal adalah sebagai berikut:
1.Bentuknya bundar atau oval.
2.Mempunyai bagian nucleus yang lebih besar daripada sitoplasma.
3.Sitoplasmanya biasanya tampak tebal
.4.Secara umum dengan pewarnaan berwarna gelap.

Proses perubahan sel-sel parabasal menuju sel intermediet kemudian sel-sel superfisial
dan sel-sel anucleate dapat dijelaskan sebagai berikut :
- Bentuk bundar atau oval perlahan-perlahan akan berubah menjadi bentuk poligonal atau bentuk
tidak beraturan.
- Ukuran nuklei yang besar secara perlahan-lahan akan mengecil, pada beberapa kasus nuklei
mengalami kematian atau rusak secara bersamaan.
- Ukuran sitoplasma akan lebih tipis daripada semula.

Karena ukuran sitoplasma lebih kecil dari semula maka sel-sel parabasal yang berwarna
gelap akibat pewarnaan akan berubah menjadi sel-sel yang bewarna lebih cerah akibat
pewarnaan yang sama. Proses perubahan di atas dapat ditengarai sebagai salah satu proses pada
siklus estrus.

4.Diestrus
Fase diestrus merupakan fase corpus luteum bekerja secara optimal. Pada sapi hal ini di
mulai ketika konsentrasi progresteron darah meningkat dapat dideteksi dan diakhiri dengan
regresi corpus luteum.Fase ini disebut juga fase persiapan uterus untuk kehamilan.Fase ini
merupakan fase yang terpanjang di dalam siklus estrus. Terjadinya kehamilan atau tidak, CL
akan berkembang dengan sendirinya menjadi organ yang fungsional yang menhasilkan sejumlah
progesterone. Jika telur yang dibuahi mencapai uterus, maka CL akan dijaga dari kehamilan. Jika
telur yang tidak dibuahi sampai ke uterus maka CL akan berfungsi hanya beberapa hari setelah
itu maka CL akan meluruh dan akan masuk siklus estrus yang baru.
Fase diestrus ditandai dengan ciri-ciri berikut, diantanranya: terjadi pengurangan jumlah
sel superfisial dari kira-kira 100% pada fase sebelumnya menjadi 20% pada fase diestrus. Selain
itu, jumlah sel parabasal dalam apusan preparat vagina menjadi meningkat, hasil ini dperkuat
dengan pengujian yang dilakukan pada hari berikutnya.

Ciri siklus estrus tidak dapat dipisahkan dari proses perubahan yang terjadi pada sel-sel
epitelnya, untuk itu berikut adalah penjelasan mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan
histologi sel epitel vagina :
-Sel kornifikasi adalah tipe sel vagina yang paling tua dari sel parabasal, sel intermediate, sel
superfisial, dan mempunyai ciri nukleus yang tidak lengkap.
-Sel epitel adalah sel yang menyusun jaringan epitelium, biasanya terletak pada bagian tubuh
yang mempunyai lumen dan kantong misal vagina.
-Sel intermediet adalah tipe sel epitel vagina yang lebih tua dari parabasal tetapi lebih muda dari
sel superfisial dan sel squamous tanpa nukleus.
-Inti sel pyknotic adalah nukleus yang telah degeneratif dan merupakan ciri dari sel superfisial.
Siklus reproduksi adalah perubahan siklis yang terjadi pada sistem reproduksi (ovarium, oviduk,
uterus, dan vagina) hewan betina dewasa yang tidak hamil, yang memperlihatkan hubungan
antara satu dengan yang lainnya (Adnan, 2012).
Sistem reproduksi memiliki 4 dasar yaitu untuk menghasikan sel telur yang membawa
setengah dari sifat genetik keturunan, untuk menyediakan tempat pembuahan selama pemberian
nutrisi dan perkembangan fetus dan untuk mekanisme kelahiran. Lokasi sistem reproduksi
terletak paralel diatas rektum. Sistem reproduksi dalam terdiri dari ovari, oviduct, dan
uterus (Retno, 2011).
Pada fase estrus yang dalam bahasa latin disebut oestrus yang berarti kegilaan atau
gairah, hipotalamus terstimulasi untuk melepaskan gonadotropin-releasing hormone (GRH).
Estrogen menyebabkan pola perilaku kawin pada mencit, gonadotropin menstimulasi
pertumbuhan folikel yang dipengaruhi follicle stimulating hormone (FSH) sehingga terjadi
ovulasi. Kandungan FSH ini lebih rendah jika dibandingkan dengan kandungan luteinizing
hormone (LH) maka jika terjadi coitus dapat dipastikan mencit akan mengalami kehamilan. Pada
saat estrus biasanya mencit terlihat tidak tenang dan lebih aktif, dengan kata lain mencit berada
dalam keadaan mencari perhatian kepada mencit jantan. Fase estrus merupakan periode ketika
betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan, mencit jantan akan mendekati
mencit betina dan akan terjadi kopulasi. Pada kedua kasus ini ovulasi terjadi pada suatu waktu
dalam siklus ini setelah endometrium mulai menebal dan teraliri banyak darah, karena
menyiapkan uterus untuk kemungkinan implantsi embrio. Satu perbedaan antara kedua siklus itu
melibatkan nasib kedua lapisan uterus jika kehamilan tidak terjadi. Pada siklus mnestruasi
endometrium akan meluruh dari uterus melalui serviks dan vagina dalam pendarahan yang
disebut sebagai menstruasi. Pada siklus estrus endometrium diserap kembali oleh uterus, dan
tidak terjadi pendarahan yang banyak (Campbell, 2004).
Siklus reproduksi pada mamalia primate disebut siklus menstruasi, sedangkan siklus
reproduksi pada non-primata disebut siklus estus. Dari satu estrus ke estrus berikutnya disebut
satu estrus. Panjang siklus estrus pada tikus mencit 4-5 hari, pada babi, sapi, dan kuda 21 hari,
pada marmot 15 hari (Adnan, 2012).
Menurut Retno (2011), siklus estrus pada mencit, yaitu :
1. Fase proestrus
Proestrus merupakan periode persiapan yang ditandai dengan pemacuan pertumbuhan folikel
oleh FSH sehingga folikel tumbuh dengan cepat. Proestrus berlangsung selama 2-3 hari. Pada
fase kandungan air pada uterus meningkat dan mengandung banyak pembuluh darah dan
kelenjar-kelenjar endometrial mengalami hipertrofi.
2. Fase estrus
Estrus adalah masa keinginan kawin yang ditandai dengan keadaaan tikus tidak tenang,
keluar lendir dari dalam vulva, pada fase ini pertumbuhan folikel meningkat dengan cepat, uterus
mengalami vaskularisasi dengan maksimal, ovulasi terjadi dengan cepat, dan sel-sel epitelnya
mengalami akhir perkembangan/terjadi dengan cepat.
3. Fase metaestrus
Metaestrus ditandai dengan terhentinya birahi, ovulasi terjadi dengan pecahnya folikel,
rongga folikel secara berangsur-ansur mengecil,dan pengeluaran lendir terhenti. Selain itu terjadi
penurunan pada ukuran dan vaskularitas.
4. Fase diestrus
Diestrus adalah periode terakhir dari estrus, pada fase ini corpus luteum berkembang dengan
sempurna dan efek yang dihasilkan dari progesteron (hormon yang dihasilkan dari corpus
luteum) tampak dengan jelas pada dinding uterus serta folikel-folikel kecil dengan korpora lutea
pada vagina lebih besar dari ovulasi sebelumnya.
Pada fase estrus, terlihat pengaruh estrogen dan dikarakteristikkan oleh sel kornifikasi
yang nyata (jelas) dan hilangnya leukosit. Pada akhir fase estrus, lapisan kornifikasi tampak
sloughed off dan invasi leukosit terjadi. Selama diestrus, leukosit tampak berlimpah. Fase
proestrus, tanpa leukosit dan dikarakteristikkan oleh sel epitel yang dinukleasi. Fase estrus terjadi
dengan pengaruh hormon gonadotropin dan sekresi estrogen mempunyai pengaruh yang besar.
Fase metestrus, selama fase ini dimana sinyal stimulasi estrogen turun. Uterus dipengaruhi oleh
progesteron dan menjadi sikretori. Tipe fase ini adalah jelas dan mungkin berakhir 1-5 hari(Hill,
2006).
Genitalia eksterna dari spermatogenesis adalah penis yang terdiri dari 3 massa silindris dari
jaringan erektil ditambah uretra. Dua silindris disebut corpora kavernosa penis, terletak dibagian
dorsal. Satunya dinamakan korpus kavernosum uretra atau korpus spongiosum dan mengelilingi
uretra (uretra di tengahnya), pada ujung penis melebar membentuk gland penis (Soewolo,1997).


Pada setiap siklus yang terjadi pada tubuh mencit, terjadi perubahan-perubahan perilaku
yang dipengaruhi oleh hormon yang berpengaruh di dalam tubuhnya. Berikut adalah
penggambaran diri mencit pada setiap tahap yang terjadi:
1. Fase Estrus
Pada fase estrus yang dalam bahasa latin disebut oestrus yang berarti kegilaan atau gairah
(Campbell et al, 2004), hipotalamus terstimulasi untuk melepaskan gonadotropin-releasing
hormone (GRH). Estrogen menyebabkan pola perilaku kawin pada mencit, gonadotropin
menstimulasi pertumbuhan folikel yang dipengaruhi follicle stimulating hormone (FSH)
sehingga terjadi ovulasi (Gilbert, 2006). Kandungan FSH ini lebih rendah jika dibandingkan
dengan kandungan luteinizing hormone (LH) maka jika terjadi coitus dapat dipastikan mencit
akan mengalami kehamilan. Pada saat estrus biasanya mencit terlihat tidak tenang dan lebih
aktif, dengan kata lain mencit berada dalam keadaan mencari perhatian kepada mencit jantan.
Fase estrus merupakan periode ketika betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan
perkawinan, mencit jantan akan mendekati mencit betina dan akan terjadi kopulasi. Mencit
jantan melakukan semacam panggilan ultrasonik dengan jarak gelombang suara 30 kHz
110kHz yang dilakukan sesering mungkin selama masa pedekatan dengan mencit betina,
sementara itu mencit betina menghasilkan semacam pheromon yang dihasilkan oleh kelenjar
preputial yang diekskresikan melalui urin. Pheromon ini berfungsi untuk menarik perhatian
mencit jantan. Mencit dapat mendeteksi pheromon ini karena terdapat organ vomeronasal yang
terdapat pada bagian dasar hidungnya (Anonim, 2009 A). Pada tahap ini vagina pada mencit
betinapun membengkak dan berwarna merah. Tahap estrus pada mencit terjadi dua tahap yaitu
tahap estrus awal dimana folikel sudah matang, sel-sel epitel sudah tidak berinti, dan ukuran
uterus pada tahap ini adalah ukuran uterus maksimal, tahap ini terjadi selama 12 jam. Lalu tahap
estrus akhir dimana terjadi ovulasi yang hanya berlangsung selama 18 jam. Jika pada tahap
estrus tidak terjadi kopulasi maka tahap tersebut akan berpindah pada tahap matesterus (
A.Tamyis, 2008).
2. Fase Metestrus
Pada tahap metestrus birahi pada mencit mulai berhenti, aktivitasnya mulai tenang, dan mencit
betina sudah tidak reseptif pada jantan. Ukuran uterus pada tahap ini adalah ukuran yang paling
kecil karena uterus menciut. Pada ovarium korpus luteum dibentuk secara aktif, terdapat sel-sel
leukosit yang berfungsi untuk menghancurkan dan memakan sel telur tersebut. Fase ini terjadi
selama 6 jam. Pada tahap ini hormon yang terkandung paling banyak adalah hormon progesteron
yang dihasilkan oleh korpus leteum (A.Tamyis, 2008).
3. Fase Diestrus
Tahap selanjutnya adalah tahap diestrus, tahap ini terjadi selama 2-2,5 hari. Pada tahap ini
terbentuk folikel-folikel primer yang belum tumbuh dan beberapa yang mengalami pertumbuhan
awal. Hormon yang terkandung dalam ovarium adalah estrogen meski kandungannya sangat
sedikit. Fase ini disebut pula fase istirahat karena mencit betina sama sekali tidak tertarik pada
mencit jantan. Pada apusan vagina akan terlihat banyak sel epitel berinti dan sel leukosit. Pada
uterus terdapat banyak mukus, kelenjar menciut dan tidak aktif, ukuran uterus kecil, dan terdapat
banyak lendir (A.Tamyis, 2008).
4. Fase Proestrus
Pada fase proestrus ovarium terjadi pertumbuhan folikel dengan cepat menjadi folikel
pertumbuhan tua atau disebut juga dengan folikel de Graaf. Pada tahap ini hormon estrogen
sudah mulai banyak dan hormon FSH dan LH siap terbentuk. Pada apusan vaginanya akan
terlihat sel-sel epitel yang sudah tidak berinti (sel cornified) dan tidak ada lagi leukosit. Sel
cornified ini terbentuk akibat adanya pembelahan sel epitel berinti secara mitosis dengan sangat
cepat sehingga inti pada sel yang baru belum terbentuk sempuna bahkan belum terbentuk inti dan
sel-sel baru ini berada di atas sel epitel yang membelah, sel-sel baru ini disebut juga sel cornified
(sel yang menanduk). Sel-sel cornified ini berperan penting pada saat kopulasi karena sel-sel ini
membuat vagina pada mencit betina tahan terhadap gesekan penis pada saat kopulasi. Perilaku
mencit betina pada tahap ini sudah mulai gelisah namun keinginan untuk kopulasi belum terlalu
besar. Fase ini terjadi selama 12 jam. Setelah fase ini berakhir fase selanjutnya adalah fase estrus
dan begitu selanjutnya fase akan berulang (A.Tamyis, 2008).