Anda di halaman 1dari 6

STUDI KASUS

OBSERVASI MANGROVE PESISIR BEKASI


Pendahuluan

Tahun 2011 ini ditetapkan oleh PBB merupakan tahun Hutan Internasional, tujuan dari
penetapan tersebut adalah demi meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan
bagi kehidupan. Dengan menyelamatkan hutan, bukan hanya keragaman satwa yang
terpelihara, ada tujuan besar lain yang akan dicapai. Tujuan tersebut adalah mengurangi
kemiskinan, menekan laju perubahan iklim, serta mempertahankan laju perkembangan.
Demikian tertera pada pernyataan International Union for Conservation of Nature (IUCN).
dikutip dari National Geografic Indonesia.

Seiring dengan dicanangkannya tahun Hutan Internasional tersebut, eLKAIL berinisiatif
untuk melakukan penelitian dan observasi terhadap kondisi saat ini hutan mangrove yang ada
di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa mangrove adalah sebagai salah satu komponen ekosistem
pesisir memegang peranan yang cukup penting, baik di dalam memelihara produktivitas
perairan pesisir maupun di dalam menunjang kehidupan penduduk di wilayah tersebut. Bagi
wilayah pesisir, keberadaan hutan mangrove, terutama sebagai jalur hijau di sepanjang
pantai/muara sungai sangatlah penting untuk habitat nener/ikan dan udang serta
mempertahankan kualitas ekosistem pertanian, perikanan dan permukiman yang berada di
belakangnya dari gangguan abrasi, instrusi dan angin laut yang kencang.

Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis Mangue dan bahasa Inggris
grove (Macnae,1968). Dalam Bahasa Inggris kata mangrove digunakan baik untuk
komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut maupun untuk individu-
individu jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Hutan mangrove dikenal juga
dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen dan hutan payau (bahasa
Indonesia).

Selain itu, hutan mangrove oleh masyarakat Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya
yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau. Penggunaan istilah hutan bakau
untuk hutan mangrovese benarnya kurang tepat dan rancu, karena bakau hanyalah nama lokal
dari marga Rhizophora, sementara hutan mangrove disusun dan ditumbuhi oleh banyak
marga dan jenis tumbuhan lainnya. Oleh karena itu, penyebutan hutan mangrove dengan
hutan bakau sebaiknya dihindari (Kusmana et al, 2003).

Beberapa manfaat hutan mangrove dapat dikelompokkan sebagai berikut :

A. Manfaat / Fungsi Fisik :

Menjaga agar garis pantai tetap stabil
Melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi.
Menahan badai/angin kencang dari laut
Menahan hasil proses penimbunan lumpur, sehingga memungkinkan terbentuknya lahan
baru.
Menjadi wilayah penyangga, serta berfungsi menyaring air laut menjadi air daratan yang
tawar
Mengolah limbah beracun, penghasil O2 dan penyerap CO2

B. Manfaat / Fungsi Biologik :

1. Menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi plankton,
sehingga penting pula bagi keberlanjutan rantai makanan.
Tempat memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang.
Tempat berlindung, bersarang dan berkembang.biak dari burung dan satwa lain.
Sumber plasma nutfah & sumber genetik.
Merupakan habitat alami bagi berbagai jenis biota.

C. Manfaat / Fungsi Ekonomik :

Penghasil kayu : bakar, arang, bahan bangunan.
Penghasil bahan baku industri : pulp, tanin, kertas, tekstil, makanan, obat-obatan, kosmetik,
dll
Penghasil bibit ikan, nener, kerang, kepiting, banding melalui pola tambak silvofishery
Tempat wisata, penelitian & pendidikan

Kerusakan mangrove dapat terjadi secara alamiah atau melalui ulah manusia. Secara alami
umumnya kadar kerusakannya jauh lebih kecil daripada kerusakan akibat ulah manusia.
Kerusakan alamiah timbul karena peristiwa alam seperti adanya topan badai atau iklim kering
berkepanjangan yang menyebabkan akumulasi garam dalam tanaman. Namun kerusakan
yang diakibatkan oleh ulah manusia adalah dengan banyak kegiatan manusia di sekitar
kawasan hutan mangrove yang berakibat perubahan karakteristik fisik dan kimiawi di sekitar
habitat mangrove sehingga tempat tersebut tidak lagi sesuai bagi kehidupan dan
perkembangan flora dan fauna di hutan mangrove.

Ulah manusia tersebut termasuk kegiatan reklamasi, pemanfaatan kayu mangrove untuk
berbagai keperluan, misalnya untuk pembuatan arang dan sebagai bahan bangunan,
pembuatan tambak udang, reklamasi dan tempat pembuangan sampah di kawasan mangrove
yang menyebabkan polusi dan kamatian pohon. Lokasi habitat mangrove yang terletak di
kawasan garis pantai, laguna, muara sungai menempatkan posisi habitat tersebut rentan
terhadap akibat negatif reklamasi pantai.
Kondisi Hutan Mangrove di Pesisir Kabupaten Bekasi
Ekosistem mangrove di Kabupaten Bekasi terdapat di tiga wilayah kecamatan yaitu
Kecamatan Babelan, Muara Gembong dan Tarumajaya, dengan luas lahan hutan bakau
terluas terdapat di Kecamatan Muara Gembong. Di beberapa lokasi hutan bakau tersebut
berada pada kondisi yang kritis, baik disebabkan oleh abrasi pantai maupun adanya
penebangan pohon bakau oleh masyarakat.

Hasil observasi eLKAIL pada tanggal 12 Februari 2011 lalu, hutan mangrove di Pesisir
Kabupaten Bekasi mengalami kerusakan yang sudah sangat memprihatinkan. Kerusakan
hutan mangrove juga disebabkan oleh banyaknya penebangan hutan oleh masyarakat untuk
dijadikan lahan empang dan pembuatan rumah musiman oleh nelayan khususnya sepanjang
kali Muara Bendera dengan tidak memperhitungkan dampak yang akan muncul.

Kabupaten Bekasi memiliki garis pantai 72 kilometer, berada di tiga kecamatan di wilayah
utara dan membentang dari perbatasan Jakarta sampai perbatasan Karawang. Berdasarkan
pengamatan lapangan dan penelusuran data sekunder, kondisi hutan mangrove yang dulu
tebal, kini rusak akibat abrasi dan pengambilan manfaat langsung oleh manusia dan kebijakan
yang tidak mendukung terhadap lingkungan.

Mangrove yang dimiliki Kabupaten Bekasi tersebar di Kecamatan Muara gembong, Babelan
dan Tarumajaya. Dari analisis yang dilakukan, luas wilayah hutan bakau dalam kurun waktu
59 tahun (1943-2006) telah mengalami penyusutan dan mengalami perubahan secara
signifikan, dan luasnya tinggal 16,01 persen dari semula 10.000 hektare menjadi 1.580,05
hektare.

Adapun fauna yang sebelumnya berasosiasi dengan hutan bakau di pesisir Kabupaten Bekasi,
terdapat 32 jenis, sebagian besar burung rawa seperti kuntul. Juga hewan langka dan
dilindungi seperti lutung jawa serta berbagai hewan yang mempunyai potensi ekonomi untuk
dibudidayakan, antara lain udang dan kepiting bakau.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bekasi, dulu
terdapat sekitar 15 ribu hektar hutan mangrove yang terdiri dari 10 ribu hektar lahan yang
dimiliki PT Perhutani dan sisanya milik masyarakat. Tetapi, sekarang hutan mangrove yang
didominasi jenis bakau milik Perhutani tinggal sekitar 10 hektare. Sedangkan hutan
mangrove yang dimiliki rakyat juga mengalami kerusakan. Luas keseluruhan hutan yang saat
ini tersisa, tercatat hanya sekitar 600 hektare.

Banyak faktor yang menjadi penyebab kerusakan hutan mangrove, di antaranya karena faktor
alam seperti banjir, juga karena penebangan pohon bakau. Masyarakat di pesisir pada saat
awal kerusakan, umumnya memiliki kekhawatiran, jika mangrove tumbuh subur akan
membuat masyarakat kehilangan tanah tempat tinggal atau lahan garapan. Selain itu, perilaku
masyarakat di tiga wilayah pesisir mengindikasikan ada beberapa pihak yang beralasan, jika
membiarkan di pesisir tumbuh hutan mangrove akan mengakibatkan pihak Perhutani
mengakui lahan tersebut sehingga mereka tidak dapat lagi tinggal di sana.

Pada tahun 2005 dan 2006, pernah dilakukan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan
Lahan (Gerhan) meremajakan pesisir dengan menanam 729 ribu pohon jenis bakau dan api-
api pada lahan 200 hektar di Kecamatan Babelan dan Tarumajaya. Dan Pemerintah Bekasi
sendiri, pada tahun yang sama juga melakukan penanaman mangrove dengan volume 75 ribu
pohon pada lahan seluas 25 hektare di Kecamatan Muaragembong. Namun kegiatan ini
mengalami kegagalan, selain dari ulah masyarakat, terjadi banjir awal Februari 2007.
Tanaman yang termasuk kepada kelompok mangrove, umumnya memiliki karakter yaitu baru
berakar kuat apabila telah berumur 3-5 tahun sejak penanaman sehingga ketika terjadi banjir,
banyak tanaman mangrove yang tercabut lagi.

Kabupaten Bekasi merupakan salah satu daerah yang mendapat bantuan dari program Gerhan
periode 2003-2008. Secara berturut-turut pada tahun 2003 sampai 2006, daerah ini telah
menerima bantuan bibit untuk rehabilitasi di Kecamatan Muaragembong, Babelan, dan
Tarumajaya. Tetapi, mulai pada tahun 2006, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan
Kabupaten Bekasi tak lagi menerima program bantuan tersebut. Sebab, saat itu mangrove
yang baru ditanam pada program tahun 2005 sudah mengalami kerusakan, sehingga
dipertimbangkan untuk tidak menerima bantuan dulu sampai ada pemecahan.

Berdasarkan data Bappeda Kabupaten Bekasi, terdapat 35 kilometer panjang pesisir laut di
wilayah ini yang meliputi Kecamatan Muaragembong 22 kilometer, Kecamatan Babelan tiga
kilometer, dan Tarumajaya enam kilometer dengan total luas hutan mangrove 15 ribu hektare.
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bekasi 2003-2013, tiga kecamatan
pesisir wilayah ini diarahkan untuk hutan lindung dengan ketebalan hutan minimal 500 meter
dari bibir pantai.

Analisa Dan Rekomendasi

Penyebab rusaknya ekosistem mangrove di pesisir Kabupaten Bekasi, jika dilihat dari hasil
penilaian umumnya bukan disebabkan oleh pencemaran air dan tanah di habitat mangrove.
Hal ini dapat dilihat dari kualitas air maupun kandungan dan kedalaman pirit (mineral yang
mengandung belerang dan besi) yang relatif baik bagi ekosistem mangrove. Kerusakannya
yang terjadi sebagian besar disebabkan oleh pengalihfungsian kawasan mangrove menjadi
lahan tambak, pertanian dan permukiman.

Sumber permasalahan kerusakan hutan mangrove di pesisir Kabupaten Bekasi disebabkan
oleh empat hal,

1. Kondisi kehidupan masyarakat (nelayan dan petani) yang masih miskin akibat kurangnya
lapangan pekerjaan dan usaha.

2. Penegakan hukum lemah. Rencana tata ruang dan peraturan pengelolaan mangrove tidak
diimplementasikan secara tegas.

3. Konsistensi dan komitmen pemerintah daerah dalam pelestarian ekosistem mangrove
masih rendah. Dimana undang-undang hanyalah aturan yang tinggal aturan, tanpa ada
kesadaran hukum dari pembuat dalam hal ini pemerintah melalui DPRD maupun masyarakat
sebagai objek dari aturan itu sendiri.

4. Kesadaran masih kurang. Masyarakat masih berpikir masalah perut, sangat membutuhkan
lahan untuk budi daya perikanan, pertanian, atau aset kepemilikan.

Semua itu disebabkan masih kurangnya pemahaman manfaat dan fungsi ekosistem
mangrove. Menjaga dan melakukan konservasi hutan mangrove sangat penting dilakukan.
Sebab, hutan mangrove yang rusak akan mengakibatkan terancamnya desa-desa di pesisir
pantai. Jika tidak dipelihara, dijaga dan kemudian yang sudah rusak ditanami kembali, maka
ancaman terhadap abrasi pantai semakin tinggi. Ironisnya, kerusakan hutan mangrove itu
sebagian besar dimaksudkan untuk meningkatkan ekonomi, termasuk mendatangkan investor
pertambakan, perkebunan, serta permukiman.

Jangan biarkan pantai kita rusak terus akibat hilangnya ekosistem hutan mangrove. Semua
harus bergandeng tangan untuk menyelamatkan hutan mangrove yang merupakan sumber
kehidupan manusia maupun flora dan fauna. Jangan biarkan desa-desa pesisir pantai
tenggelam akibat kerusakan hutan mangrove dan abrasi.