Anda di halaman 1dari 57

Definisi : REKAYASA SUNGAI

1. Sungai adalah bagian terendah di permukaan bumi dalam bentuk alur memanjang dari sebelah
hulu (atas) menuju ke sebelah hilir (bawah).
2. Sungai adalah system alur alam dapat terdiri dari satu atau lebih alur-alur yang bertemu atau
bercabang.

Sifat Umum :
1. Sungai akan menjadi terminal akhir dari perjalanan gerakan air di sungai (kuantitas maupun
kualitas).
2. Beserta interaksinya dengan tampang basah sungai, sifat sungai sangat dipengaruhi oleh
perjalanan menuju ke sungai tersebut.
3. Jumlah ketersediaan di sungai atau debit aliran di sungai akan dipengaruhi oleh sifat penutupan
permukaan lahan.
4. Untuk lahan dengan penutupan berupa vegetasi (baikperkebunan , hutan atau sawah)
umumnya akan menyebabkan distribusi air yang lebih merata sepanjang tahun, demikian
sebaliknya.
5. Proses interaksi hujan dengan permukaan lahan akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas
aliran di sungai.
6. Dibeberapa daerah atau Negara (missal : Sungai Ciliwung dan Sungai Angke di Jakarta , atau
sungai Thames di London), sungai telah menjadi bagian dari pengembangan daerah urban.
7. Salah satu dari banyak jenis pemanfaatan sungai di daerah tersebut adalah bahwa sungai
digunakan sebagai tempat pembuangan limbah domestik.
8. Konsekuensinya, sungai di bagian hilir relatif lebih banyak menimbulkan permasalahan
lingkungan, terutama dari pencemaran kualitas.

Umum
1. Sumber daya sungai tidak saja dilihat dari pola ketersediaan air di sungai tersebut, melainkan
juga sumberdaya sedimen yang dimilikinya.
2. Pada hampir semua pembangunan keteknik-sipilan, kedua jenis sumberdaya sungai tersebut
merupakan material penting yang selalu digunakan.
3. Usaha pemanfaatan sungai didefinisikan sebagai usaha-usaha untuk memanfaatkan sumber
alam di sungai tersebut, yaitu air dan sedimen.
4. Ilmu teknik sungai diharapkan dapat berperan dalam usaha mengendalikan cara/teknologi
pemanfaatan sumberdaya sungai sehingga pengaruh negatif yang timbul adalah sekecil
mungkin.
5. Proses timbulnya pengaruh negatif dapat berlangsung dalam kurun waktu yang relatif pendek
(misal kurang dari dua tahun) atau relatif panjang (missal lebih dari dua tahun).
6. Berbagai jenis usaha pemanfaatan sungai dapat di deskripsikan seperti berikut ( lihat Jansen
Pph. Halaman 3 s/d 5 ) :
a. Pembangkit listrik tenaga hidro
b. Navigasi
c. Penyediaan air baku irigasi
d. Penyediaan air baku non-irigasi (domestic, municipal, industry, dll)
e. Lainnya : Penambangan bahan galian C, sarana pembuangan limbah cair dengan persyaratan
dll.

Pengaruh positif dan pengaruh negatif untuk berbagai jenis kegiatan pemanfaatan sungai yang lain
misalnya:
1. Irigasi
Pengaruh positif : ketersediaan air dengan jumlah dan waktu serta kualitas yang tepat.
Pengaruh negatif : pencemaran air dari pupuk/pestisida di sawah (N, P, K, dsb)
2. Navigasi
Pengaruh positif : Ketersediaan air dengan kedalaman yang memenuhi syarat
Pengaruh negatif : Pencemaran air dari bahan bakar kendaraan air pengerukan yang berlebihan
untuk mencapai kedalaman tertentu menyebabkan peningkatan intrusi air laut.
3. Tenaga Hidro
Pengaruh positif : ketersediaan air dengan debit dan beda tinggi tertentu.
Pengaruh negative : peningkatan temperatur air menyebabkan turunnya kandungan O2 , hewan-
hewan (ikan) akan mati, juga semua biota air lainnya.
4. Suplai Air
Pengaruh positif : Ketersediaan air dengan jumlah dan kualitas yang memenuhi syarat.
Pengaruh negatif : Pengambilan air terlalu banyak dapat menyebabkan kekeringan.
5. Suplai Sedimen
Pengaruh positif : Ketersediaan sedimen (sebagai bahan bangunan) dalam jumlah yang cukup.
Pengaruh negatif : sedimen yang berlebihan dapat mengurangi kapasitas sungai (banjir)
pengambilan sedimen yang berlebihan dapat menyebabkan erosi.

CATATAN
Pemanfaatan sungai untuk tujuan pemenuhan kebutuhan air irigasi dan suplai air biasanya dilakukan
dengan membangun bendung, dengan dampak negatif secara umum berupa degradasi pada bagian
sungai di sebelah hilir bangunan bendung tersebut.
Referensi / Acuan
1. Jansen, Pph., dkk, 1979, principle of River Engineering , Pitman Publishing Co., London.
2. Kinori, B.Z., 1984, Manual of Surface Drainage Engineering, Elsevier Publishing Company,
Netherland.
3. Shen, H.W., 1977, River Mechanics


Pola Pengendalian Banjir Sungai Krueng Aceh
Selat Malaka


Pola Pengendalian Banjir Sungai Cimanuk




Pola Pengendalian Banjir Sungai Citanduy


SEBAB-SEBAB TERJADINYA BANJIR

AKIBAT TINDAKAN MANUSIA KEADAAN DAN PERISTIWA
ALAM
LINGKUNGAN
1. Pembangunan di dataran
banjir
1. Curah hujan 1. Peledakan penduduk
2. Pemukiman sepanjang
sungai alur sungai
menyempit.
2. Back water dari sungai
induk
2. Untuk memenuhi hidup
3. Agradasi dasar sungai
akibat erosi pada DAS
3. Back water dari laut 3. Perubahan dsb.
4. Peningkatan debit
puncak banjir akibat
perubahan TT. lahan
4. Debit puncak banjir yang
bersamaan pada sungai
induk dan anak sungai.

5. Pengepangan oleh
bangunan-bangunan
sepanjang sungai
5. Battle neck dan ambal
alam

6. Kurang pemeliharaan 6. Factor-faktor geometri
alur sungai

7. Terbatasnya tindakan
pengendali banjir.
7. Kemiringan yang landai
8. Kurangnya kesadaran
masyarakat
8. Agradasi dasar sungai
dsb.

9. Belum terdapatnya
peraturan.






BANGUNAN PENGATUR SUNGAI
3.5 Klasifikasi Krib
Krib dibagi menjadi 3 konstruksi yaitu : tipe permeable (permeable type) dimana air sungai
dapat mengalir melalui krib tersebut, type impermeable (impermeable type) dimana air sungai
tidak dapat mengalir melalui krib tersebut dan semi impermeable (combined of both the
permeable type and the impermeable type).
1. Krib Permeabel
Pada tipe permeable air dapat mengalir melalui krib. Krib ini melindungi tebing terhadap
gerusan arus sungai dengan cara meredam energy yang terdapat dalam aliran sepanjang
tebing sungai dan sekaligus mengendapkan sedimen yang terkandung dalam aliran tersebut.
Dengan adanya aliran melalui krib menyebabkan ketahanan konstruksi menurun, sehingga
diperlukan stabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan krib impermeable.
Jenis krib permeable antara lain jenis tiang pancang, jenis rangka pyramid dan jenis rangka
kotak seperti pada gambar 3-21.

Gambar : 3-12 Krib Tipe Rangka
2. Krib Impermeabel
Krib impermeable digunakan untuk membelokkan arah, arus sungai,oleh sebab itu sering
terjadi gerusan yang cukup dalam di depan ujung krib-krib tersebut atau bagian sungai di
sebelah hilir.
Krib impermeable dibedakan dalam 2 jenis, yaitu :
- jenis terbenam, biasanya terjadi penggerusan yang dalam di sisi krib, karena air
melimpas melalui krib yang menyebabkan sisi hilir berfungsi sebagai kolam olakan.

Gambar : 3-22 Krib Impermeabel Jenis Terbenam

- Jenis tidak terbenam, sering menyebabkan terjadinya turbulensi aliran di bagian ujung
krib dan menimbulkan gerusan yang cukup dalam pula. Untukmencegah gerusan yang
akan terjadi,maka bagian ini diberi pelindung dengan konstruksi yang fleksibel seperti
matras atau hamparan pelindung batu, sebagai pelengkap dari krib padat tersebut.

Gambar : 3-22 Krib Impermeabel Jenis Tidak Terbenam

3. Krib Semi Permeabel
Krib semi permeable berfungsi ganda, yaitu sebagai krib permeable dan krib impermeable.
Bagian yang padat berfungsi sebagai pondasi sedang bagian atasnya merupakan konstruksi
yang permeable disesuaikan dengan fungsi dan kondisi setempat. Tujuan krib semi
permeable ini agar dapat diperoleh efek dari kedua tipe krib tersebut, di satu pihak
meningkatkan kemampuan pengaturan arus sungai dan yang lain lebih meningkatkan
stabilitas krib tersebut dengan penempatan yang benar, sehingga gerusan yang terlalu
dalam dapat dicegah.

4. Krib-krib Silang dan Memanjang
Krib yang formasinya tegak lurus atau hampir tegak lurus arah arus sungai dan dapat
merintangi arus tersebut dinamakan krib melintang (transversal dyke). Sedang krib yang
formasinya hampir sejajar arah arus sungai dinamakan krib memanjang (longitudinal dyke).
Biasanya gerusan dasar sungai secara intensif terjadi di depan ujung krib melintang, karena
pelindung yang memadai perlu diadakan,maka untuk ini dibangun krib memanjang di ujung
depan krib melintang. Dengan adanya krib memanjang dan melintang yang dipasang disatu
lokasi diharapkan sedimen yang terkandung dalam aliran sungai waktu terjadi banjir
sebagian dapat terperangkap di antara krib-krib tersebut.

Gambar : 3-22 Krib Memanjang dan Krib Melintang



3.6 Perencanaan Krib
Metode pembuatan krib sangat tergantung dari resim sungai yang diperoleh dari data
pengalaman pembuatan krib pada sungai yang sama atau hampir sama. Jika krib yang akan
dibangun ditujukan untuk melindungi tebing sungai terhadap pukulan air, maka panjang krib
harus dibatasi. Demikian pula formasi dari krib tersebut. Krib tidak dapat berfungsi dengan baik
pada sungai-sungai yang kecil atau yang sempit alurnya.

3.6.1 Formasi Krib

Krib umumnya dipasang beberapa buah dalam satu deretan sehingga disamping fungsinya
seperti yang telah disebutkan diatas, bagian-bagian antara krib akan terisi sedimen yang dapat
membentuk tepian sungai baru. Untuk memperoleh hasil yang optimum sesuai dengan kondisi
sungai maka arah pemasangan umumnya diterapkan 3 macam formasi krib, yaitu : tegak lurus,
condong kea rah hulu, dan condong kea rah hilir.

1. Krib normal (tegak lurus)
Dengan adanya krib ini arah aliran dialihkan kurang lebih sejajar dengan aliran di udik,
sehingga arah penggerusan diharapkan akan sejajar dengan sisi-sisi sungai. Penggerusan
ini ndisebabkan oleh pusaran-pusaran yang terjadi di ujung krib. Krib normal dibangun
dengan tujuan menyempitkan bagian sungai yang telah menjadi terlalu lebar dan pada
sisi cembung dari pembelokan sungai.
Untuk krib impermeable yang formasinya tegak lurus arus mempunyai sifat yang sama
dengan krib permeable, baik formasi condong ke hulu maupun dengan formasi condong
ke hilir.

2. Formasi krib condong ke hulu (krib elak)
Dengan krib ini arah aliran akan tertekan kurang lebih kea rah tengah sungai, sehingga
penggerusan yang terjadi pada ujung krib akan mengarah ke tengah sungai pula. Krib ini
mempunyai sifat yang cenderung membendung dari pada krib normal (krib tegak lurus)
dank rib pikat (krib yang condong ke hilir).
Pada krib permeable yang formasinya condong ke hulu, penggerusan akan terjadi di
ujung depan krib, akan tetapi pengendapan umumnya terjadi dekat tebing sungai.
Disamping untuk menyempitkan bagian sungai yang telah menjadi terlalu lebar, krib ini
efektif untuk melindungi tebing sungai dan mengurangi hantaman air terhadap tebing
pada taraf banjir. Krib jenis ini dapat digunakan pada sisi cekung dari belokan sungai.

3. Formasi krib condong ke hilir ( krib pikat)
Krib ini mengarahkan aliran ke tengah sungai, tetapi pada saat debit banjir yang
melewati puncak krib, aliran akan mengarah ke tebing sungai, sehingga menimbulkan
gerusan. Pada krib permeable yang formasinya condong ke hilir, penggerusan di ujung
depan krib cenderung berkurang, akan tetapi pengendapan dapat terjadi di sebelah hilir
ujung krib. Dengan demikian krib ini dapat dikatakan mengurangi kontraksi aliran.

Gambar : 3-25 Hubungan antara Formasi Krib dan proses Penggerusan dan
Pengendapan Pada Dasar Sungai
Keterangan :
1. Penggerusan I. Condong ke hulu
2. Pengendapan II. Tegak Lurus
III. Condong ke hilir
IV. Kombinasi
Untuk sungai- sungai di Indonesia, Sudut Optimum dari krib terhadap garis tegak lurus arus
sungai dapat dilihat padatabel 3-32.
Tabel 3-33
Arah Aliran dan Sudut Sumbu Krib

3.6.2 Penetapan Jarak antara Krib
Penetapan jarak antara krib dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh pukulan air
dapat diterima oleh krib tersebut. Secara umum penetapan jarak antara krib tergantung
panjang krib dan lebar sungai. Jarak antara krib biasanya ditetapkan sedemikian rupa
sehingga arus sungai di ujung krib yang lebih hulu dapat diterima oleh krib yang dilindungi
sebelah hilir dari krib pertama.
Pada bagian sungai yang kemungkinan mengalami pukulan air, jarak antara krib yang
berdekatan dibuat lebih rapat karena daya gerus arus akan melebar sampai ke tebing
sungai. Tetapi bila jarak antara krib yang berdekatan terlalu jauh, maka akan terjadi arus
yang menyilang terhadap arus utama dan sangat membahayakan tebing.
Dalam penentuan jarak antara krib, kehilangan energy antara dua krib harus lebih kecil dari
kehilangan energy karena kecepatan.
<

2
2
(3-21)

Dimana :
I = kemiringan dasar saluran
L = jarak antara krib (m)
V = kecepatan aliran (m/det)
g = kecepatan gravitasi = 9,81 m/det
2

= 0,6 diasumsi kondisi sungai dalam keadaan turbulen berat

3.6.3 Penetapan Panjang Krib
Panjang krib ditetapkan secara empiris, hanya dengan perkiraan semata-mata dan
didasarkan pada pengamatan data-data sungai seperti situasi sungai, bahan yang
diendapkan, lebar sungai, kemiringan, debit banjir, debit normal, kedalaman sungai, kondisi
sekeliling sungai serta pengalaman-pengalaman pada sungai tersebut atau pada sungai yang
dimensi serta perilakunya hampir sama.
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang telah dilakukan, krib dipasang melintang
sungai dari tepi menjorok ke tengah sungai dengan panjang 6 sampai 12 meter. Khusus
pemasangan krib pada belokan-belokan yang tajam dipasang bertahap dari 6 sampai 12
meter, kemudian 12 sampai 28 meter. Pangkal krib ditanam 2 sampai 3 meter di dalam
tebing, sedang ujung krib bebas di tengah sesuai dengan posisi sesuai arah yang
dikehendaki.

3.6.4 Penetapan Tinggi Krib
Ditinjau dari segi keamanan terhadap gaya-gaya berat dari arus sungai, tinggi mercu dijaga
serendah mungkin, berkisar 0,5 hingga 1,0 meter diatas tinggi muka air rata-rata. Untuk
jenis krib tiang pancang, masuknya tiang ke dasar sungai minimal 1,5 kali bagian yang
diatasnya atau sampai tanah keras agar tidak mudah hanyut.
Apabila tinggi maksimum mercu ditujukan untuk mengarahkan aliran sungai, maka tinggi
krib ditentukan oleh dataran banjir.




Hal ini disebabkan pada taraf tinggi, konsentrasi arus dan erosi di belakang bangunan harus
dicegah. Bila tinggi mercu krib relative rendah, gerak pusaran akan dilemahkan oleh aliran
yang meninggalkan sungai dan mengalir melalui krib.
Pada sungai yang mempunyai penampang melebihi penampang basah, dipasang krib tidak
terbenam. Selain itu mercu krib biasanya dibuat dengan kemiringan 1/200 1/100 ke arah
ujung dengan maksud mengurangi pukulan air.

3.6.5 Kontrol Gerusan Setempat
Control gerusan setempat atau local scouring dimaksudkan untuk mengetahui seberapa
jauh penurunan dasar sungai yang akan terjadi dengan adanya krib.
Dari percobaan dan pengalaman yang telah dilakukan di lapangan, untuk tipe krib dengan
tiang pancang (krib permeable) digunakan persamaan yang diberikan oleh inglis. Sedang
untuk tipe krib dari pasangan batu (krib impermeable) digunakan persamaan yang diberikan
oleh Breusers-Nicollet-Shen.
Adapun analisis data kedalam scouring dengan persamaan inglish adalah sebagai berikut :
= = 0,95(

)
1
3


(3-22)

dimana :
do = kedalaman air (m)
ds = kedalaman gerusan (m)
Q = debit (m/dt)
Dm = diameter rata-rata butiran (mm)
f = 1,76 Dm
1/2
Persamaan kedalam gerusan yang diberikan Breusers-Nicolett-Shen adalah sebagai
berikut :

= 1 (

) 2 (

) 3 () ( ;
1

) . (3 -23)
Dimana :
ds = dalamnya gerusan dari dasar sungai asli (m)
b = lebar krib (m)

= kecepatan rata-rata (m/dt)


= kecepatan rata-rata kritis untuk permulaan gerakan butiran sedimen (m/dt)


do = kedalaman air (m)
= sudut kemiringan formasi krib ( )
I = panjang krib (m)
(do/b) besar maka f2 2,00
F3 shape = 1,00 untuk ujung bulat
= 0,75 untuk ujung lancip
= 1,30 untuk ujung segi empat
Fy ( ; 1/b ) dapat dilihat pada gambar grafik hubungan sudut hantaman arus dengan
perbandingan 1/b.

Gambar : 3-26 Grafik fy
Menurut Breusers harga kecepatan kritis rata-rata adalah sebagai berikut :

= 0,7 2
12

........................................... ( 3 24 )
Dimana :
Dm = diameter butir rata-rata ( mm )
H = kedalaman air
Ks = dm

= kecepatan rata-rata kritis ( m/dt )



3.6.6. Pemilihan Dimensi dan Tipe Krib
Menurut kondisi lokasi, hidrolika dan sedimen yang terjadi di Sungai Madiun dipilih tipe krib yang
lolos air untuk sungai utama dan tipe tidak lolos air untuk bantaran sungai.
Pada bagian sungai utama, krib tiang pancang kayu dipasang secara berderet-deret dari tepi
sungai hingga tengah sungai dengan panjang 6 sampai 12 meter. Untuk gerusan yang terjadi pada
belokan luar sungai, krib dipasang condong ke hilir, agar endapan yang terjadi dapat tersangkut
oleh arus melewati krib tersebut. Jarak antara krib pada sisi cembung dari belokan dibuat lebih
besar dari jarak pada sisi cekung.
Pada bantaran Sungai Madiun dipilih tipe krib tidak lolos air dari pasangan batu atau bronjong
kawat. Dipilihnya konstruksi ini diharapkan dapat sebagai perkuatan tebing pada taraf banjir.
Lebar krib dibuat lebih kurang sama dengan tinggi krib. Panjang krib dibuat 12 meter pada
pemasangan awal, bila perlu dapat ditambah kemudian.

3.6.7. Contoh Perhitungan
Lokasi l (patok 250), perhitungan pada sungai utama dengan data sebagai berikut :
Q = 52 m
3
/det
I = 7,344 . 10
-4

V = 1,00 m/det
g = 9,81 m/det
2

= 0,6
Dm = 0,57 mm
B = 35 m
Dengan menggunakan persamaan 3-21, jarak antara krib adalah :
IL <

2
2.

L < 0,6
1,00
2
29,817,344.10
4

L < 41, 64 m

Kontrol gerusan setempat menurut persamaan 3-22 adalah sebagai berikut :
f = 1,76 (dm)


= 1,76 x 0,57

= 1,3287

do + ds = 0,95 x ( Q/f ) 1/3
1,32 + ds = 0,95 x ( 52 / 1,3287 )
ds = 1,845 m
lokasi I (patol 250) perhitungan pada bantaran sungai dengan data sebagai berikut :
Q = 892,98 m3/det
I = 7,344 . 10-4
V = 1,752 m/det
G = 9,81 m/det
= 0,6
Dm = 0,57 mm
= 187,70m
dengan menggunakan persamaan 3 21, jarak antara krib adalah sebagai berikut :
IL <

2
2.

L < 0,6
1,752
2
2 9,81 7,344 .10
4

L < 127,817 m
Kontrol gerusan dihitung menggunakan persamaan 3 -23 sebagai berikut :

= 0,7 2 log
12


= 0,7 2 1,65 9,81 0,57 log
121,32
0,57

= 2,08255 /
2 = 1 = 12 6 = 2
3 = 1,30
= 1,30 1 = 6 = 10 ( )
= 1,80 1 = 6 = 15 ( )

= 1 (

) 2(

) 3() (; 1 )
=
1,7520
2,0825
2 1,3 1,3
= 1,42

Perhitungan untuk lokasi selanjutnya dapat dilihat pada tabel 3-33 untuk alur air rendah dan tabel
3-34 untuk alur air tinggi.

PENGAMAN PADA BELOKAN
Dalamnya gerusan yang mungkin terjadi :

Sin = A

.
.

. ( 15)
Dimana :
A

= harga yang tergantung pada struktur butir


A

= diambil = 12
h = tinggi air
Ix = kemiringan dasar sungai
=

= 1,65 ( s w / w )
d = diameter butiran yang mewakili
r = jari-jari tikungan
= sudut kemiringan dasar arah melintang
maka apabila dipakai untuk pengaman dari batu maka tebal lapisan batu minimal :
t = 0,06 Q
1/3
(irrigation engineering and struk hal 378)
dimana :
t = tebal batu pelindung
Q = debit sungai

Soal
Diketahui :
Suatu tebing dengan harga yang tergantung pada struktur butiran (A
1
) = 12
Tinggi air = 5,3 m ; B = 40 m
Jari-jari tikungan : 230 m
Diameter butiran yang mewakili 17 mm
Kemiringan dasar sungai 1,34. 10
-3

Ditanya :
Besarnya gerusan ?
Jawab :
sin =
1
.
.

= 1,65
sin = 0,07
= 4,0147
= 0,07018 =

40
= 40 0,07018 = 2,807
Jadi dalam gerusan :
=
2,807
2
= 1,403~1,5


Perhitungan Berat dan Diameter Batu
Diketahui : Q,ha, Br, I, g, M
= menurut Shields / Lane = 0,30 0,50
= menurut Isbach = 0,70
Tegangan geser dasar sungai

= . .
>

> 0,20
Ada 2 cara
1. Metode Shields/Lane . =0,30
Dm >

> 0,20
2. Metode ISBACH
=
0,70


=
0,70
1.34

>
0,39
1.65
>

2
2

> 0,48

Dari ketiga cara tersebut diambil yang terkecil yaitu Dm=0,20 m
Untuk mencari berat minimum dipakai grafik Shields

Super Elevasi
Super Elevasi adalah naiknya muka air pada tikungan sebelah luar yang disebabkan karena pengaruh
tikungan.
a) =

2
2
0
2

1
2
(
0
2

1
2
)
dimana :
c = konstanta
R0= jari-jari tikungan bagian luar
R1=jari-jari tikungan bagian dalam
g = gravitasi

dimana harga C dapat dicari :
= (

2
2
0

1
)

1


=
= +

2
2

=
b) h=(

)[
20
3

16

3
+ (
4

2
1) .
2+
2
]
dimana : Vmax = kecepatan maksimum
g = gravitasi
b = lebar sungai
Rc = jari-jari tikungan





Gambar : 3-2 Potongan Melintang Profil Sungai yang Tipikal
Analisis Hidrolika
Pekerjaan perbaikan sungai tergantug pada perilaku sungai sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh air dan
material yang ikut didalamnya. Dengan demikian perencanaan perbaikan sungai bertitik tolak pada
analisis hidrolika dari sungai tersebut.
Elevasi Muka Air Rencana
Elevasi muka air rencana ditentukan dengan perhitungan aliran seragam dan aliran tidak seragam. Aliran
seragam dihitung dengan rumus manning, hal ini didasarkan untuk mendapatkan ketinggian awal dari
bagian sungai yang akan diteliti.
Kecepatan arus menurut Manning adalah sebagai berikut :
=
1

.
2
3

.
1
2

.................................................................................. (3-1)
Dimana :
R = jari-jari hidrolis (m)
S = kemiringan dasar saluran
n = koefisien kekasaran Manning
jari-jari hidrolis dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
=

......................................................................................... (3-2)
Dimana :
A = luas penamang basah sungai (m
2
)
P = keliling basah sungai (m
2
)
Sedangkan persamaan gerakan aliran tidak seragam adalah sebagai berikut :
+

2
2.
.

(
1

2
) +

2
.
2

4
3

.
2
= 0 ..........................................................................(3-3)
Dimana :
i = kemiringan dasar sungai
h = kedalaman air
ax = jarak dari titik referensi
Q = debit (m
3
/det)
g = percepatan gravitasi = 9,81 m/det
2


3.3.2. Perhitungan Profil Aliran
Perhitungan profil aliran dimaksudkan untuk menentukan bentuk profil aliran. Metode yang digunakan
adalah metode tahapan standar karena metode ini dapat dipakai untuk saluran tidak prismatis dan akan
memberikan hasil yang terbaik bila dipakai guna menghitung saluran alam.
Perhitungan dilakukan tahap demi tahap dari suatu pos pengamatan ke pos berikutnya. Dengan kata lain
dibuat berdasarkan perhitungan coba-coba. Dalam perhitungan profil aliran, hal-hal yang diperlukan
adalah sebagai berikut:
1. Debit pada profil aliran yang dikehendaki
2. Ketinggian muka air di penampang kontrol. Bila tidak ada perhitungan dapat di mulai dari
ketinggian yang diperkirakan pada suatu penampang yang cukup jauh dari penampang awal
yang profilnya akan diselidiki.
3. Unsur-unsur geometris pada berbagai penampang saluran di sepanjang bagian saluran untuk
setiap kedalaman aliran.
4. Kekasaran saluran dan kehilangan energi akibat pusarn pada berbagai penampang..

Apabila permukaan air terletak pada suatu ketinggian dari bidang datar, tinggi muka air di atas bidang
datar pada kedua ujung penampang adalah :

1
= . +
1
+
2
............................................................................................. (3-4)

2
=
2
+
2
.............................................................................................. (3-5)

Kehilangan tekanan akibat gesekan adalah :
hf = Sf . x
=
1
2
(
1
+
2
). ............................................................................................. (3-6)
Pada bagian saluran sepanjang ax dengan menyamakan tinggi tekanan total di kedua ujung penampang
1 dan 2 adalah :
. +
1
+
1

1
2
2.
=
2
+
2

2
2
2.
+ . ........................................................... (3-7)
Dengan memasukkan persamaan (3-4), (3-5), (3-6) kedalam persamaan (3-7), maka dapat ditulis sebagai
berikut :

1
+
1

1
2
2.
=
2
+
2

2
2
2.
+ + ......................................................................... (3-8)
Dimana :
Y = kedalaman airan (m)
V = kecepatan rata-rata (m/det)
= koefisien energi (1,00)
So = kemiringan dasar saluran
Sf = kemiringan garis energi
G = percepatan gravitasi (=9,81 m/det
2
)
Hf = kehilangan tekanan akibat gesekan
He =kehilangan tekanan akibat pusaran

Gambar 3-3 Bagian Saluran Untuk Menurunkan Metode Tahapan

Tinggi tekanan total pada kedua ujung penampang adalah :

1
=
1
+
1

1
2
2.
......................................................................................... (3-9)

2
=
2
+
2

2
2
2.
......................................................................................... (3-10)
Sehingga persamaan dasar yang merupakan urutan metode tahapan standar menjadi :

1
=
2
+ + ..................................................................................... (3-11)
Kehilangan energi pada tikungan sungai adalah lebih besar daripada dalam sungai atau saluran lurus
yang panjangnya sama. Hal ini disebabkan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Perbedaan distribusi kecepatan terhadap tinggi dan memotong lebar
2. Adanya sirkulasi sekunder
Secara teoritis rozovskii memberikan persamaan koefisien kehilangan energi di tikungan yaitu :
= 24(
.

) [

+
2,5.

2
] ............................................................................ (3-12)
Dimana :
he = kehilangan energi pada belokan sungai
C = koefisien Chezy
h = kedalaman air rata-rata (m)
= sudut belokan (rad)
Rc = jari-jari garis aliran rata-rata
g = percepatan gravitasi = 9,81 m/dt
2


Bila rumus Chezy dibandingkan dengan rumus Manning dapat dilihat bahwa :
=

1 6

.......................................................................................................... (3-13)
Dimana :
C = koefisien chezy
R = jari-jari hidrolis (m)
n = koefisien Manning
persamaan ini menunjukkan hubungan-hubungan antara C dari Chezy dengan nilai n dari Manning.
Contoh perhitungan profil aliran dengan menggunakan metode tahapan standar adalah sebagai berikut :
Data patok 3 :
- Debit (Q) = 48,0 m
3

- n = 0,03
- = 1,00
- g = 9,81 m/dt
2

- lebar dasar saluran utama = 35 m
- lebar dasar saluran kedua = 187,8
- kemiringan tebing saluran utama = 1 : 2
- kemiringan tebing bantaran = 1 : 2
- kedalaman saluran utama ( d) = 5,6

m
- elevasi dasar saluran utama = 48,27 m
- sudut belokan =70 = 1,22
70
180
= 1,22
- jari-jari belokan = 70,0 m
- jarak dari patok 2-3 = 177 m
untuk mendapatkan elevasi muka air dipakai nilai coba-coba, dimana elevasi mula-mula telah dihitung
dengan aliran seragam sebagai titik kontrol pertama.
Dicoba harga elevasi muka air z1=49,584 m, sehingga
d1 = 49,584 48,27 = 1.314 m

- Luas penampang basah :
= (
1
) + (
1
2
)
= (35 1,314) +(2 1,314)
2
= 49,44
2

- Keliling Basah :
= +2
1
1 +
2

= 35 + 2 1,314 1 +2
2
= 40,876
- Jari-jari hidrolis :
=

=
49,440
40,876
= 1,2095

- Kecepatan rata-rata :
=

=
48,000
49,000
= 0,9708 /
- Tinggi kecepatan :

2
2.
=
1,0 0,9708
2
2.9,81
= 0,04804

- Tinggi tekanan total, dihitung dari persamaan (3-9) :

1
=
1
+
1

1
2
2.
= 49,584 +0,04804 = 49,632
- Koefisien hantaran (K), dihitung dengan persamaan :
=
.
2 3


=
49,44 .(1,2095
2/3
)
0,03
= 1870,8 1871
- Kemiringan energi, dihitung dengan persamaan :
= (

)
2
= (
48
1871
)
2
= 6,5816 . 10
4


- Kemiringan energi rata-rata, didapat dari kemiringan energi sebelum (patok 2) dan kemiringan
energi patok 3.
. =
(7,7890+6,5816).10
4

2
= 7,1853 . 10
4


- Kehilangan tekanan karena geseran, didapat dari hasil kali kemiringan energi rata-rata dan jarak
antar patok (dx), sehingga didapat :
= 7,1583. 10
4
177 = 0,127
- Kehilangan energi karena tikungan, menggunakan persamaan (3-12). Hubungan antara Chezy
dan Manning adalah sebagai berikut :
=

1
6

=
(1,2905)
1
6

0,03
= 45,19

= 24(

) [

+
2,5.9,81
45,19
2
]

= 0,06

- Tinggi tekanan total :
H1=H2+hf+he
49,632 = 49,445 +0,127 + 0,06
49,632 = 49,632

Selisih tinggi tekanan pada patok 3 dan 2 adalah 0


Perhitungan profil aliran untuk patok dan debit-debit selanjutnya dapat diperiksa pada tabel
perhitungan profil aliran dengan menggunakan metode tahapan standar 3-1 sampai 3-12. Sedang
potongan memanjang profil aliran ditunjukkan pada gambar 3-5 sampai 3-16.

- Menentukan kedalaman air y dengan coba-coba
- Menghitung luas
- Menghitung kecepatan aliran didapat dari membagi debit (Q) dengan luas basah (A)
- Menghitung tinggi kecepatan
- Menghitung tinggi tekanan total (H) yakni elevasi dasar + kedalaman air + tinggi kecepatan
- Menghitung keliling basah
- Menghitung jari-jari hidrolik didapat dari luas basah dibagi dengan keliling basah
- Menghitung kemiringan gesekan Sf=Q
2
n
2
/A
2
R
2/3

- Menghitung kemiringan rata-rata (Sfbar) sepanjang saluran diantara kedua penampang
- Menghitung kehilangan energi akibat gesekan yakni hasil perkalian kemiringan gesekan rata-rata
dengan panjang saluran (X)
- Menghitung nilai koefisien nilai chezy
- Menghitung kehilangan tenaga akibat kelengkungan
- Menghitung jumlah tinggi tekan, diperoleh dari kehilangan hf, he dan tinggi tekan pada
penampang sebelumnya. Apabila tinggi tekan ini tidak sama dengan tinggi tekanan total (H)
maka kedalaman air pada kolom harus diperkirakan kembali sampai diperoleh nilai yang sesuai.
C. Back Water
Debit maksimum yang terjadi pada sungai dapat menyebabkan terjadinya air balik pada anak sungai.
Proses air balik dihitung berdasarkan persamaan (2.14) yang merupakan fungsi air balik, namun
penyelesaian persamaannya menggunakan metode perulangan. Berbagai metode numerik yang
semuanya mencoba untuk menemukan panjang tertentu X dimana perubahan terbatas dengan
kedalaman Y terjadi.















Bagan analisis dengan metode tahapan standar dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6. Bagan Alir Perhitungan Metode Tahapan Standar




TANGGUL
A. UMUM
Tanggul disepanjang sungai adalah satu bangunan yang paling utama dan paling penting dalam
usaha melindungi kelestarian, dan harta benda masyarakat terhadap genangan-genangan yang
disebabkan oleh banjir dan badai. (gelombang pasang).
Tanggul dibangun terutama dengan konstruksi urugan tanah, karena tanggul merupakan
bangunan menerus yang sangat panjang panjang serta membutuhkan bahan urugan yang
volumenya sangat besar. Kecuali tanah kiranya amatlah sukar untuk memperoleh bahan urugan
untuk pembangunan tanggul dan bahan tanah dapat diperoleh dari hasil galian di kanan kiri
trase rencana tanggul atau bahkan dapat diperoleh dari hasil pekerjaan normalisasi sungai,
berupa galian pelebaran alur sungai, yang biasanya dilaksanakan bersamaan dengan
pembangunan tanggul.
Dalam tahap perencanaan kiranya perlu diperhatikan agar hasil dari pekerjaan normalisasi
sungai dapat dimanfaatkan sebagai bahan tanggul.
Tentulah teratas pada hasil galian yang memenuhi syarat untuk bahan urugan tanggul. Selain itu
tanah merupakan bahan yang sangat mudah penggarapannya dan setelah menjadi tanggul
sangat mudah pula menyesuaikan diri dengan lapisan tanah pondasi yang mendukungnya serta
mudah pula menyesuaikan dengan kemungkinan penurunan yang tidak rata, sehingga perbaikan
yang disebabkan oleh penurunan tersebut mudah dikerjakan.
Selanjutnya tanah merupakan bahan bangunan yang sangat stabil dan tidak akan rusak selama
puluhan, bahkan ratusan tahun. Apabila di beberapa tempat terjadi kerusakan tanggul,
perbaikannya sangat mudah dan cepat menggunakan tanah yang tersedia di sekitar lokasi
kerusakan.

B. BERBAGAI JENIS TANGGUL
Berdasarkan fungsi dan dimensi tempat serta bahan yang dipakai dan kondisi topografi setempat
(periksa gambar 4.1) tanggul dapat dibedakan sebagai berikut :

Gambar 4.1

1. Elevasi Puncak Tanggul
Elevasi puncak tanggul pada dasarnya ditentukan berdasarkan elevasi muka air rencana
menurut debit banjir dengan periode ulang (return period) yang ditentukan.
Agar tanggul tetap stabil dan masih aman pada keadaan terjadi :
a. Settlement pada dasar dan konselidasi pada tubuh tanggulnya sendiri.
b. Gelombang yang diakibatkan tiupan angin untuk sungai yang lebar, dan
c. Kesalahan-kesalahan di dalam pelaksanaan, yang mengakibatkan puncak tanggul lebih
rendah dari yang diharapkan., maka perlu ada tinggi jagaan free board.
Penentuan tinggi jagaan (waking)
Untuk v = 20 m/dt, slope tebing = Iv = 2H, lorong halus jarak tanggul ke tanggul 200 m U=
0,50 m
Settlement sangat tergantung dari struktur tanah dasar (pondasi) tanggul. Perhitungan tidak
akan diuraikan disini.
Di dalam praktik besarnya tinggi jagaan untuk tanggul-tanggul sungai di Indonesia diambil antara
0,50 m sampai dengan 1,0 m. Harga 0,50 dipakai pada sungai-sungai kecil, dengan jarak antara
tanggul kanan dan kiri 200 m, dan harga 1,00 dipakai pada sungai-sungai besar dengan jarak
antara tanggul kanan dan kiri > 200 m
2. Perhitungan Elevasi muka air Rencana
Secara berurutan sebagai berikut :
a. Atas dasar debit banjir rencana (dengan periode ulang tertentu) ditentukan hidrograp banjir
pada sungai induk dan anak-anak sungainya.
b. Ditentukan sistem pengendalian banjir (flood control scheme) untuk satu sistem sungai yang
bersangkutan.
c. Hidrograp banjir di tempat-tempat pertemuan sungai dengan sungai-sungai cabangnya
digabung, dan terhadap hidrograp gabungan tersebut dilakukan routing ke arah hilir
menuju pertemuan berikutnya. Dengan routing ini hidrograp banjir semakin ke hilir
semakin pipih.
d. Dihitung elevasi muka air maksimum di sepanjang sungai atas dasar debit yang dihasilkan
dari routing . perhitungan elevasi muka air dimulai dari hilir (muara sungai) dan
berjalanan ke arah hulu sungai dengan memakai metode Step Method irreguler channel.
Untuk mengadakan perhitungan elevasi muka air sungai ditinjau/dihitung elevasi muka air
pada penampang-penampang sungai dengan jarak tiap-tiap tampang 200 m.
Elevasi permulaan (dimuara sungai) merupakan elevasi muka air pasang tertinggi.

3. Pengaruh Sedimentasi terhadap perhitungan elevasi puncak tanggul.
Penentuan tinggi tanggul banjir, kemungkinan dipengaruhi pula oleh adanya proses agradasi
pada sungai di bagian hilir.
Untuk jangka waktu yang lama, kemampuan penampungan (Storage Capacity) akan
dipengaruhi oleh adanya sedimentasi yang biasa terjadi pada bagian hilir sungai.
Proses sedimentasi yang menimbulkan agradasi ini berjalan relatif pelan, akan tetapi untuk
perencanaan tanggul banjir dimana diharapkan bangunan tersebut dapat berfungsi lama
(sampai puluhan tahun) maka diperlukan peninggian (tambahan) elevasi puncak tanggul.
Tambahan ini dapat diperhitungkan (diramalkan) didalam perencanaan. Proses sedimentasi
tersebut akan berjalan terus dan proses peninggian tanggul akan berjalan terus pula. Proses
sedimentasi dapat meningkat atau berkurang akibat pembuatan/pengaruh manusia. Misalnya
dengan adanya penggundulan hutan di sebelah hulu sungai.
Sedimen pada sungai adalah hasil proses erosi pada daerah pengaliran ( sheet erosion. rill
erosion dan gully erosion) maupun erosi pada alur sungai ( beo erosion dan bank
erosion).

Proses sedimentasi yang menimbulkan agradasi disuatu tempat pada sungai akan terjadi pada
keadaan dimana transport capacity pada sungai di tempat tersebut kecil dan tidak mampu untuk
membawa angkutan sedimen ke hilir sungai.
Dengan demikian keseimbangan baru akan terbentuk yaitu dari sungai akan naik dan
membentuk kemiringan dan kecepatan yang lebih besar sehingga mampu membawa angkutan
sedimen.
Peristiwa tersebut diatas telah dapat dilihat di sungai Citandui misalnya, dimana elevasi
bantaran sungai pada bagian hilir telah jauh lebih tinggi dari elevasi tanah asli di kanan-kiri
tanggul.


Berbagai Jenis Tanggul :
1. Tanggul Utama
2. Tanggul Sekunder
3. Tanggul Terbuka
4. Tanggul Pemisah
5. Tanggul Melingkar
6. Tanggul Sirip/melintang
7. Tanggul Pengarah
8. Tanggul keliling dan tanggul Sekat
9. Penyadap banjir
10. Tanggul tepi danau atau Tanggul Pasan
11. Tanggul khusus
12. Tanggul belakang


3.4. Analisis Sedimen
3.4.1. UMUM
Ciri-ciri gerakan material dasar sungai mempunyai arti penting terhadap masalah sedimen. Sedimen
merupakan bahan endapan yang terjadi karena bahan yang terangkut oleh aliran terendapkan. Dari
sifat-sifat hidrolika sungai yang telah dianalisis, sangat erat hubungannya dengan proses pengangkutan
sedimen.
Gambar berikut ini memperlihatkan proses pengangkutan pada dasar saluran bahan granular.

Gambar : 3-17 Bagan Pengangkutan Sedimen pada Dasar Granular

Bila K1 < K2 terjadi penggerusan (aggradation)
K1 = K2 keadaan seimbang (equilibrium)
K1 > K2 terjadi pengendapan (deggradation)
K = kapasitas pengangkutan
3.4.2. Sedimen di Sungai Madiun
Proses sedimentasi disamping sifat sedimen terdapat sifat partikel. Sifat partikel yang terjadi di Sungai
Madiun adalah non kohesif, artinya sedimen digerakkan sebagai butiran-butiran yang lepas. Butiran
yang lepas ini berasal dari sedimen kohesif digerakkan sebagai satu kesatuan dan lama-kelamaan akan
kehilangan ikatan antar partikel-partikelnya, sehingga menjadi sedimen non kohesif.
Untuk analisis angkutan sedimen, ukuran partikel diambil dari hasil pengukuran pada lokasi KM 7, KM 8,
dan KM 9. Data diameter besar butir material dasar sungai Madiun dapat dilihat pada tabel 3-13.
Tabel 3-13
Data Diameter Besar ButirMaterial Dasar Sungai

Komposisi dan penyebaran butir material dasar sungai Madiun bagian hulu sampai hilir memperlihatkan
hasil yang umumnya sama yaitu pasir dengan harga ps=2650 kg/m
3
.
3.4.3. Permulaan Gerak Butiran
Terjadinya angkutan sedimen atau tidak pada suatu aliran air ditentukan oleh keseimbangan kritis dari
butiran sedimen tersebut. Bila gaya hidrodinamik bekerja pada suatu butiran dari partikel sedimen non
kohesif telah tercapai suatu nilai yang bila bertambah sedikit saja akan menyebabkan partikel atau
butiran bergerak. Keadaan ini dikatakan sebagai keadaan kritis. Dengan demikian jika kondisi kecepatan
geser sub layer lebih besar dari kecepatan kritis maka butiran sedimen bergerak. Shield telah membuat
suatu grafik hubungan antara tegangan geser kritis dengan kecepatan geser kritis dan diameter butiran
untuk ps = 2650 kg/m
3
. Grafik tersebut menggambarkan saat dimana sebuah partikel akan bergerak
atau diam.

3.4.4. Perhitungan Angkutan Sedimen
Ditinjau dari sumbernya, sedimen berasal dari kikisan bahan dasar maupun tebingnya yaitu sebagai bed
material transport (pengangkutan bahan dasar) dan berdasarkan erosi lahan sebagai wash load (muatan
cuci). Bila ditinjau dari cara bergeraknya menurut status hidrolika, terdiri dari suspended load (muatan
layang) dan bed load (muatan dasar). Hubungan antara keduanya dapat dilihat pada gambar 3-19.

Gambar : 3-19 Bagan Mekanisme Pengangkutan Sedimen

Hubungan antara banyaknya angkutan sedimen dan kondisi pengaliran didasarkan pada tegangan geser
dasar. Pengukuran kedalaman air dan kemiringan dasar sungai akan menghasilkan besarnya tegangan
geser dasar total. Untuk mengetahui besarnya nilai angkutan, diperlukan adanya faktor koreksi. Faktor
tersebut disebut ripple factor.

= (

)

; =

................................................... (3-14)
Dimana :

= faktor friksi intensif


= c = faktor friksi angkutan

Dalam perhitungan terdahulu digunakan rumus Manning. Maka harga ripple faktor yang digunakan
dalam perhitungan angkutan sedimen ini didasarkan pada rumus Manning dan rumus strickler. Adapun
persamaan tersebut adalah sebagai berikut :
=
1


2 3

1 2
............................................................. (rumus Manning)

=
2 3

1 2
............................................................. (rumus Strickler)
Menurut strickler harga = (

)

.........................................
Dimana :
K= koefisien strickler

90
1
6


Mengingat hubungan Manning dan Strickler
1

= , maka
= (

)

= (

)


= (

)
3
2

..................................................................................................................(3-15)
Dimana :
n = koefisien Manning

()

................................................................................(3-16)
Sehingga harga ripple faktor untuk MPM adalah :

= [
90
1 6

1
26

]
3 2
........................................................................................................... (3-17)
Secara umum intensitas angkutan sedimen, dalam hal ini muatan dasar digunakan rumus :
= /(. .
3
)
1
2

................................................................................................................(3-18)
Dimana :
s = volume angkutan teoritis (m
3
/dt/m)
=(

)
D = diameter butiran (m)

Intensitas pengaliran menggunakan rumus :
=

2
..
......................................................................................................................... ...... (3-19)

= ............................................................................................................................. (3-20)
Dimana :
= intensitas pengaliran

= nilai efektif dari



Untuk menghitung angkutan sedimen di lokasi perbaikan sungai Madiun diberikan persamaan yang
diberikan oleh meyer-Peter-Muller

Adapun persamaan MPM adalah sebagai berikut :

= (1 26 ) 90
1
6


= (

)
3
2

50


= (4.

0,188)
3
2


= ( g D50
3
)
1
2


QS = s x jumlah hari
Volume angkutan dalam setahun =

246060
1

Dimana :
n = koefisien Manning
=

= intensitas pengaliran efektif


R = jari-jari hidrolis (m)
I = kemiringan dasar sungai
= (ps-pw)/pw ............................................................. ps = 2650 kg/m
3
..................................................................................................
pw = 1000 kg/m
3
D50 / D90 = diameter butiran (m)
= intensitas angkutan sedimen
S = volume angkutan sedimen persatuan waktu (m
3
/dt)
Qs = volume angkutan sedimen (m
3
)
= = 0,40
Contoh perhitungan angkutan sedimen bulan Januari pada lokasi dengan parameter sebagai berikut :
Q = 48 m3/dt
H = 1,31 m
R = 1,210 m

= 0,9708 m/dt
= 7,344. 10
4

= 0,570 . 10
3

90 = 1,830 . 10
3

B = 35 m
n = 0,03
g = 9,81 m/dt
= 31

= (
1
26
) 90
1
6

= (
1
26
) (1,83 10
3
)
1
6

= 0,01345
= (

)
3
2

= (
0,1345
0,03
)
3
2

= 0,30024
=

50
=
0,300241,210(7,344.10
4
)
1,65(0,57.10
3
)
= 0,283681
3
/
= (4

0,188)
3
2

= (4 0,283681 0,188)
3
2

= 0,921159
3
/
= [ 50
3
]
1
2


= 35 0,921159 [9,81 1,65 (0,57 10
3
)]
1 2

= 0,001765
= = 0,001765 31
= 0,0547 (86.400)
3


Hasill perhitungan volume angkutan sedimen untuk bulan-bulan berikutnya dapat dilihat pada tabel 3-
14 sampai 3-30.
Kontrol butiran :
50 = 0,57 10
3

= ( )
1
2

= (9,81 1,210 7,344 . 10
4
)
1
2


= 0,09337 /
Dari gambar 3-18 didapat harga U* cr=0,0175 m/dt, sehingga U* > U*cr ..........butiran bergerak
Dari hari perhitungan angkutan sedimen dapat diketahui lokasi yang mengalami penggerusan dan
pengendapan. Adapun hasilnya dapat dilihat pada tabel 3-31.
Teori tentang aliran yang terjadi pada belokan sungai menurut karaki dalam penyelidikannya
memperhatikan faktor tegangan geser () pada bagian sisi luar dan dalam sepanjang belokan,
memperoleh hasil yang disajikan dalam bentuk grafik dan persamaan sebagai berikut (Dwi Prihantoro,
1988):

dfdfs

Tabel 3-31
Lokasi Penggerusan dan Pengendapan





Contoh perhitungan besarnya kecepatan maksimum di belokan pada lokasi I.
Lebar (B) = 35
Sudut belokan () = 70
o

Kedalaman aliran rata-rata = 1,38 m
Kedalaman aliran maksimum = 5,60 m
Kemiringan dasar sungai (I) = 6,6 x 10
-4

Koefisien kekasaran Manning (n) = 0.03

Langkah I : menentukan parameter dengan persamaan (3-21)
= 0,42 (Hmaks) / B . g
1/2/c

Sungai dianggap lebar : R~H
=
1
6
/
=
1,38
1
6
0,03
= 35,1758
1/2
/
Maka :
= 0,42 . (70).
5,6
35
.
(9,81)
1
2
35,1758
= 0,42

Langkah II dengan menggunakan grafik (Ka) pada gambar (3-20)
Diperoleh .10
2
=42
Kemudian dengan menggunakan grafik (Kb) diperoleh :
Vmaks.102 =13,2 dan 2x /B = 0,68
Sehingga :
X= (0,68 x 35)/2 = 11,9 ~ 12 m


Langkah III kecepatan Vo didapat dari tabel 3-3
Vo = 1,00 m/dt

Langkah IV dengan menggunakan grafik (Ka) untuk 2x/B = 0,68 dan .10
2
= 13,2 diperoleh : vb/vo = 1,2
Dimana : vb adalah kecepatan maksimum pada bagian cekung (sisi luar) dari belokan.
Maka :
Vb = 1,2 x Vo = 1,2 x 1 = 1,2 m/dt

Langkah V :
Menentukan kecepatan maksimum pada bagian luar dan bagian dalam dari belokan dengan melihat
grafik hubungan antara 2x/B=0,68 maka didapat Vb luar= 0,975 dan Vb dalam = 1,20
Perhitungan untuk lokasi selanjutnya dapat dilihat pada tabel 3-32




Langkah-langkah perhitungan ini dapat dilihat pada bagan alir dibawah ini.