Anda di halaman 1dari 2

Teori Keadilan

Teori bahwa individu membandingkan masukan-masukan dan hasil pekerjaan mereka dengan
masukan-masukan dan hasil pekerjaan orang lain, dan kemudian merespons untuk
menghilangkan ketidakadilan.

Untuk itu, ada empat pembandingan acuan yang dapat digunakan karyawan/individu tersebut:
1. Didalam diri sendiri: pengalaman seorang karyawan dalam posisi yang berbeda
didalam organisasinya dewasa ini.
2. Diluar diri sendiri: pengalaman seorang karyawan dalam posisi/situasi diluar
organisasinya saat ini.
3. Didalam diri orang lain: individu atau kelompok individu lain didalam organisasi
karyawan itu.
4. Diluar diri orang lain: individu atau kelompok individu diluar organisasi karyawan
itu.
Acuan mana yang dipilih seorang karyawan akan dipengaruhi oleh informasi yang dipegang
karyawan itu mengenai acuan-acuan maupun oleh daya tarik acuan itu, sehingga ada
pemusatan pada empat variable pelunak : jenis kelamin, masa kerja, level dalam organisasi,
dan tingkat pendidikan/profesionalisme.

Berdasarkan teori ini, bila karyawan mepersepsikan suatu ketidakadilan mereka dapat
meramalkan untuk mengambil salah satu dari enam pilihan berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengubah masukan-masukan mereka


Mengubah hasil-hasil mereka
Mengubah persepsi-persepsi diri
Mengubah persepsi-persepsi individu lain
Memilih rujukan yang berbeda
Meninggalkan bidang tersebut

Secara khusus, teori keadilan menegakkan empat dalil yang berkaitan dengan upah yang
tidak adil :

Pembayaran menurut waktu, karyawan yang diganjjar terlalu tinggi menghasilkan


lebih tinggi daripada karyawan yang dibayar dengan adil.
Dengan adanya pembayaran menurut kuantitas produksi, karyawan yang diganjar
lebih tinggi menghasilkan lebih sedikit satuan, tetapi dengan kualitas yang lebih tinggi
daripada karyawan yang dibayar dengan adil.
Dengan adanya penggajian menurut waktu, karyawan yang kurang diganjar
menghasilkan keluaran dengan kualitas yang kurang atau lebih buruk.
Dengan adanya penggajian menurut kuantitas produksi, karyawan yang kurang diberi
ganjaran menghasilkan sejumlah besar satuan dengan adil.

Sebagai kesimpulan, teori keadilan memperlihatkan bahwa, untuk kebanyakan karyawan,


motivasi sangat dipengaruhi oleh ganjaran relatif maupun ganjaran mutlak.

Teori Harapan
Teori harapan kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dalam cara tertentu
bergantung pada kekuatan dari suatau harapan bahwa tindakan tersebut akan dikikuti dengan
hasil yang ada dan pada daya terik dari hasil itu terhadap individu tersebut.
dikembangkan oleh Victor Vroom, yang meskipun banyak dikritik, banyak bukti riset yang
mendukungnya. Teori ini berargumen bahwa seorang karyawan dimotivasi untuk
menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia meyakini upaya akan menghantar ke suatu
penilaian kinerja yang baik; penilaian yang baik akan mendorong ganjaran-ganjaran
organisasional seperti bonus, kenaikan gaji, atau promosi; dan ganjaran itu akan memuaskan
tujuan pribadi individu.
Oleh karenanya, teori ini memfokuskan pada tiga hubungan :
1. Hubungan usaha kerja. Kemungkinan yang dirasakan oleh individu yang
mengeluarkan sejumlah usaha akan menghasilkan kinerja.
2. Hubungan kinerja penghargaan. Tingkat sampai mana individu tersebut yakin
bahwa bekerja pada tingat tertentu akan menghasilkan pencapaian yang diinginkan.
3. Hubungan penghargaa tujuan-tujuan pribadi. Tingkat samapai mana penghargaanpenghargaan organisasional memuaskn tujuan-tujuan pribadi atau kebutuhankebutuhan seoran individu dan daya tarik dari penghargaan-penghargaan potensial
bagi individu tersebut.
Teori harapan ini sangat membantu menjelaskan mengapa banyak sekali pekerja tidak
termotivasi pada pekerjaan mereka dan semata-mata melakukan yang minimum untuk
menyelamatkan diri. Namun, teori ini cenderung bersifat idealistis karena sedikit individu
yang mempersepsikan suatu korelasi yang tinggi antara kinerja dan ganjaran dalam pekerjaan
mereka. Jika organisasi benar-benasr mengganjar individu untuk kinerja, bukannya menurut
kriteria seperti senioritas, upaya, tingkat ketrampilan, dan sulitnya pekerjaan, maka validitas
teori ini mungkin lebih besar.