Anda di halaman 1dari 12

1.

Pengaruh Pariwisata Di bidang Ekonomi


Pengaruh pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal dapat
dikategorikan menjadi delapan kelompok besar (Cohen, 1984), yaitu:
1.

Dampak terhadap penerimaan devisa

2.

Dampak terhadap pendapatan masyarakat

3.

Dampak terhadap kesempatan kerja

4.

Dampak terhadap harga-harga

5.

Dampak terhadap distribusi manfaatan atau keuntungan

6.

Dampak terhadap kepemilikan dan kontrol

7.

Dampak terhadap pembangunan pada umumnya

8.

Dampak terhadap pendapatan pemerintah.


Hampir semua literature dan kajian studi lapangan menunjukkan bahwa
pembangunan pariwisata pada suatu daerah mampu memberikan dampak-dampak yang
dinilai positif, yaitu:
a. Meningkatan pendapatan,
b. Meningkatan penerimaan devisa,
c. Meningkatan kesempatan kerja dan peluang usaha,

d. Meningkatan pendapatan pemerintah dari pajak dan keuntungan badan usaha milik
pemerintah, dan sebagainya.
Pariwisata diharapkan mampu menghasilkan angka pengganda yang tinggi,
melebihi angka pengganda pada berbagai kegiatan ekonomi lainnya. Peranan pariwisata
juga sangat besar bagi Indonesia melalui besarnya devisa yang diterima dengan adanya
pariwisata.

2. Pengaruh Pariwisata Terhadap Sosial


Dalam kaitannya dengan dampak atau pengaruh pariwisata terhadap kehidupan
sosial masyarakat, harus dilihat bahwa ada banyak faktor lain yang ikut berperan dalam
mengubah kondisi sosial budaya tersebut, seperti pendidikan, media massa, transportasi,
komunikasi maupun sektor-sektor pembangunan lainnya yang menjadi wahana dalam
perubahan sosial-budaya, serta dinamika internal masyarakat itu sendiri.
Douglas dan Douglas (1996: 49) mengingatkan bahwa berbagai perubahan
sosial yang terjadi tidak dapat sepenuhnya dipandang sebagai dampak pariwisata
semata-mata. Hal ini adalah karena pariwisata terjalin erat dengan berbagai aktivitas
1

lain, yang mungkin pengaruhnya lebih besar, atau sudah berpengaruh jauh sebelum
pariwisata berkembang,
Perlu juga dikemukakan bahwa dalam melihat dampak sosial pariwisata
terhadap masyarakat setempat, masyarakat tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang
internally totally integrated entity, melainkan harus juga dilihat segmen-segmen yang
ada, atau melihat bebagai interest group, karena dampak terhadap kelompok sosial yang
satu belum tentu sama, bahkan bisa bertolak belakang dengan dampak terhadap
kelompok sosial yang lain.
Demikian juga mengenai penilaian tentang positif dan negative, sangat sulit
untuk digeneralisasi untuk suatu masyarakat, karena penilaian positif negative tersebut
sudah merupakan penilaian yang mengandung nilai (value judgement), sedangkan
nilai tersebut tidak selalu sama bagi segenap kelompok masyarakat. Artinya, dampak
positif ataupun negative masih perlu dipertanyakan.
Secara teoritis, Cohen (1984), mengelompokkan dampak sosial pariwisata ke
dalam sepuluh kelompok besar, yaitu:
1. Dampak terhadap keterkaitan dan keterlibatan antara masyarakat setempat dengan
masyarakat yang lebih luas, termasuk tingkat otonomi atau ketergantungannya.
2. Dampak terhadap hubungan interpersonal antara anggota masyarakat.
3. Dampak terhadap dasar-dasar organisasi/kelembagaan sosial
4. Dampak terhadap migrasi dari dan ke daerah pariwisata.
5. Dampak terhadap ritme kehidupan sosial masyarakat.
6. Dampak terhadap pola pembagian kerja.
7. Dampak terhadap stratifikasi dan mobilitas sosial.
8. Dampak terhadap distribusi pengaruh dan kekuasaan.
9. Dampak terhadap meningkatnya penyimpangan-penyimpangan sosial, dan
10. Dampak terhadap bidang kesenian dan adat istiadat.
Sedangkan Figuerola (dalam Pearce, 1989: 218) mengidentifikasi ada enam kategori
dampak sosial, yaitu:
1. Dampak terhadap struktur demografi
2. Dampak terhadap bentuk dan tipe mata pencaharian
3. Dampak terhadap transformasi nilai
4. Dampak terhadap gaya hidup tradisional.
5. Dampak terhadap pola konsumsi
6. Dampak terhadap pola pembangunan masyarakat yang merupakan manfaan sosial
budaya
2

masyarakat.

3. Pengaruh Pariwisata terhadap Kebudayaan


Pariwisata sebagai suatu fenomena yang terdiri dari berbagai aspek tentu akan
berpengaruh terhadap aspek-aspek tersebut, termasuk kebudayaan yang merupakan
salah satu aspek pariwisata. Apalagi pengembangan pariwisata di Indonesia bertumpu
pada kebudayaan nasional Indonesia, tentu perkembangan pariwisata akan berdampak
bagi kebudayaan nasional Indonesia.
Dampak yang ditimbulkan oleh pariwisata terhadap kebudayaan tidak terlepas
dari pola interaksi di antaranya yang cenderung bersifat dinamika dan positif. Dinamika
tersebut berkembang, karena kebudayaan memegang peranan yang penting bagi
pembangunan berkelanjutan pariwisata dan sebaliknya pariwisata memberikan peranan
dalam merevitalisasi kebudayaan. Ciri positif dinamika tersebut diperlihatkan dengan
pola kebudayaan mampu meningkatkan pariwisata dan pariwisata juga mampu
memajukan kebudayaan. (Geriya, 1996: 49).
Paparan di atas menandakan perkembangan pariwisata dapat memberikan
dampak yang positif terhadap kebudayaan. Di sini akan terjadi akulturasi kebudayaan,
karena adanya interaksi masyarakat lokal dengan wisatawan. Di samping itu,
kebudayaan-kebudayaan daerah yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional
Indonesia akan terus berkembang. Ini disebabkan oleh adanya wisatawan (orang asing)
yang datang berkunjung untuk melihat dan mengenal lebih dekat kebudayaan asli
tersebut. Hal ini tentunya juga menyebabkan terjadinya penggalian nilai-nilai budaya
asli untuk dikembangkan dan dilestarikan. Dengan demikian pola kebudayaan
tradisional seperti tempat-tempat bersejarah, monumen-monumen, kesenian, dan adat
istiadat akan tetap terpelihara dan lestari (sustainable).
Dampak positif pariwisata terhadap kebudayaan seperti disebutkan di atas
sejalan dengan pemikiran Sihite (2000: 76) yang menyebutkan secara garis besar
dampak positif pariwisata terhadap kebudayaan dapat dilihat pada hal-hal berikut:
a. Merupakan perangsang dalam usaha pemeliharaan monumen-monumen budaya yang
dapat dinikmati oleh penduduk setempat dan wisatawan.

b. Merupakan dorongan dalam usaha melestarikan dan menghidupkan kembali beberapa


pola budaya tradisional seperti kesenian, kerajinan tangan, tarian, musik, upacaraupacara adat, dan pakaian.
c. Memberingan dorongan untuk memperbaiki lingkungan hidup yang bersih dan
menarik.
d. Terjadinya tukar-menukar kebudayaan antara wisatawan dan masyarakat lokal.
Misalnya, wisatawan dapat lebih banyak mengenal kebudayaan serta lingkungan yang
lain dan penduduk lokal juga mengetahui tempat-tempat lain dari cerita wisatawan.
e. Mendorong pendidikan di bidang kepariwisataan untuk menghasilkan Sumber Daya
Manusia di bidang kepariwisataan yang handal
Perkembangan

pariwisata

yang

sangat

pesat

dan

terkosentrasi

dapat

menimbulkan berbagai dampak. Secara umum dampak yang ditimbulkan adalah


dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif dari pengembangan pariwisata
meliputi; (1) memperluas lapangan kerja; (2) bertambahnya kesempatan berusaha; (3)
meningkatkan pendapatan; (4) terpeliharanya kebudayaan setempat; (5) dikenalnya
kebudayaan setempat oleh wisatawan. Sedangkan dampak negatifnya dari pariwisata
tersebut akan menyebabkan; (1) terjadinya tekanan tambahan penduduk akibat
pendatang baru dari luar daerah; (2) timbulnya komersialisasi; (3) berkembangnya pola
hidup konsumtif; (4) terganggunya lingkungan; (5) semakin terbatasnya lahan
pertanian; (6) pencernaan budaya; dan (7) terdesaknya masyarakat setempat (Spillane,
1989:47).
Dampak positif dari kegiatan pariwisata terhadap budaya masyarakat lokal
antara lain; munculnya kreativitas dan inovasi budaya, akulturasi budaya, dan
revitalisasi budaya. Sedangkan dampak negatif yang sering dikawatirkan terdapat
budaya masyarakat lokal antara lain; proses komodifikasi, peniruan, dan profanisasi
(Shaw and Williams, dalam Ardika 2003:25). Lebih lanjut dijelaskan bahwa dampak
pariwisata terhadap budaya masyarakat lokal sebagaimana tersebut di atas disebabkan
oleh tiga hal yakni: (1) masyarakat lokal ingin memberikan hasil karya seni atau
kerajinan yang bermutu tinggi kepada pembeli (wisatawan); (2) untuk menjaga citra dan
menunjukkan identitas budaya masyarakat lokal kepada dunia luar; (3) masyarakat ingin

memperoleh uang akibat meningkatnya komersialisasi (Graburn 2000 dalam Ardika


2003).
Subadra (2006) memberikan batasan yang lebih jelas mengenai dampak sosial-budaya
pariwisata. Dampak positif sosial budaya pengembangan pariwisata dapat dilihat dari
adanya pelestarian budaya-budaya masyarakat lokal seperti kegiatan keagamaan, adat
istiadat, dan tradisi, dan diterimanya pengembangan objek wisata dan kedatangan
wisatawan oleh masyarakat lokal. Sedangkan dampak negatif sosial budaya
pengembangan pariwisata dilihat dari respon masyarakat lokal terhadap keberadaan
pariwisata seperti adanya perselisihan atau konflik kepentingan di antara para
stakeholders, kebencian dan penolakan terhadap pengembangan pariwisata, dan
munculnya masalah-masalah sosial

seperti

praktek perjudian, prostitusi

dan

penyalahgunaan seks (sexual abuse).


Bali sebagai salah satu objek wisata utama di Indonesia merupakan barometer
perkembangan pariwisata nasional. Oleh karena itu, Bali memegang peranan yang
penting dalam perkembangan pariwisata di Indonesia.
Sebagai daerah tujuan utama bagi wisatawan, tentu Bali tidak terlepas dari
dampak pengembangan pariwisata dari segala aspek kehidupan termasuk kebudayaan.
Pengembangan pariwisata di Bali yang bertumpu pada kebudayaan Bali yang pada
dasarnya bersumber pada agama Hindu, menimbulkan adanya kegairahan penggalian,
pemeliharaan, dan pengembangan aspek-aspek kebudayaan terutama kesenian,
monumen-monumen peninggalan sejarah, dan adat istiadat. Tentu saja hal ini
memberikan efek ganda yaitu bertambahnya pendapatan masyarakat lokal dari kegiatan
ini sebagai konsumsi bagi wisatawan dan dapat menjaga kelestarian aspek-aspek
kebudayaan itu sendiri. Misalnya, pertunjukan berbagai kesenian untuk wisatawan,
adanya museum untuk menyimpan benda-benda bersejarah yang juga sebagai daya tarik
wisatawan, dan berbagai kegiatan adat istiadat yang bersifat unik.
Adanya dampak positif pariwisata terhadap kebudayaan menunjukkan adanya
keselarasan ungkapan yang mengatakan Pariwisata untuk Kebudayaan. Artinya,
pengembangan pariwisata benar-benar memberikan dampak yang positif terhadap
perkembangan kebudayaan dalam arti yang luas. Ini artinya, perkembangan pariwisata
secara

positif

dapat

memperkokoh

kebudayaan

Indonesia.

Di samping memberikan dampak yang positif, pengembangan pariwisata juga dapat


5

menimbulkan masalah. Di samping pariwisata dapat mengembangkan dan melestarikan


kebudayaan, sering juga terjadi sebaliknya yaitu tereksploitasinya kebudayaan secara
berlebihan demi kepentingan pariwisata. Tentu hal ini akan berdampak negatif terhadap
perkembangan kebudayaan. Ini sering terjadi akibat adanya komersialisasi kebudayaan
dalam pariwisata. Artinya, memfungsikan pola-pola kebudayaan seperti kesenian,
tempat-tempat sejarah, adat istiadat, dan monumen-monumen di luar fungsi utamanya
demi kepentingan pariwisata. Inilah suatu masalah yang dihadapi sekaligus tantangan
dalam pengembangan pariwisata budaya. Hal ini juga dialami oleh Bali sebagai daerah
tujuan wisata di Indonesia.
Perkembangan pariwisata memang dapat menumbuhkembangkan aspek-aspek
kebudayaan seperti kesenian dan adat istiadat di Bali. Akan tetapi, di balik itu ternyata
juga muncul permasalahan akibat terlalu tereksploitasinya aspek-aspek tadi. Misalnya,
munculnya berbagai kesenian yang awalnya hanya dipentaskan untuk kepentingan
upacara agama, kemudian dipertunjukkan untuk kepentingan wisatawan. Demikian juga
dijadikannya tempat suci sebagai objek wisata. Ini merupakan fakta terjadinya
komersialisasi budaya dalam pariwisata, karena berubahnya atau bertambahnya fungsi
di samping fungsi utamanya.
Di samping terjadinya komersialisasi, tampaknya yang perlu juga menjadi
pemikiran kita bersama, yaitu pola pembinaan kebudayaan dalam arti luas sebagai
pendukung kepariwisataan. Sudah menjadi kenyataan devisa yang dihasilkan dari
pengembangan pariwisata, digunakan oleh negara untuk melaksanakan pembangunan di
segala bidang. Devisa itu dibagi-bagi ke semua aspek pembangunan, sehingga dirasakan
sangat kecil kembali pada bidang kebudayaan. Padahal secara nyata kebudayaan itulah
sebagai penopang paling besar dalam pariwisata untuk mendatangkan devisa. Oleh
karena itu, ada kesan budaya untuk pariwisata. Dengan demikian, kebudayaan di sini
tereksploitasi secara besar-besar dan hanya digunakan sebagai bahan promosi tanpa
adanya usaha untuk menjaga dan melestarikannya. Kini banyak objek wisata yang tidak
tertata akibat dana pemeliharaan yang terbatas. Salah satu contoh konkret adalah
Museum Subak yang ada di Kabupaten Tabanan, Bali. Museum ini meruapakan aset
budaya Bali yang tak ternilai harganya. Sayang, kini museum itu sepertinya hanya
tinggal kenangan.

4. Pengaruh Pariwisata terhadap Lingkungan


Industri pariwisata memiliki hubungan erat dan kuat dengan lingkungan fisik.
Lingkungan alam merupakan aset pariwisata dan mendapatkan dampak karena sifat
lingkungan fisik tersebut yang rapuh (fragile), dan tak terpisahkan (Inseparability).
Bersifat rapuh karena lingkungan alam merupakan ciptaan Tuhan yang jika dirusak
belum tentu akan tumbuh atau kembali seperti sediakala. Bersifat tidak terpisahkan
karena manusia harus mendatangi lingkungan alam untuk dapat menikmatinya.
Lingkungan fisik adalah daya tarik utama kegiatan wisata. Lingkungan fisik
meliputi lingkungan alam (flora dan fauna, bentangan alam, dan gejala alam) dan
lingkungan buatan (situs kebudayaan, wilayah perkotaan, wilayah pedesaan, dan
peninggalan sejarah).
Secara teori, hubungan lingkungan alam dengan pariwisata harus mutual dan
bermanfaat. Wisatawan menikmati keindahan alam dan pendapatan yang dibayarkan
wisatawan digunakan untuk melindungi dan memelihara alam guna keberlangsungan
pariwisata. Hubungan lingkungan dan pariwisata tidak selamanya simbiosa yang
mendukung dan menguntungkan sehingga upaya konservasi, apresiasi, dan pendidikan
dilakukan agar hubungan keduanya berkelanjutan, tetapi kenyataan yang ada hubungan
keduanya justru memunculkan konflik. Pariwisata lebih sering mengeksploitasi
lingkungan alam.
Dampak pariwisata terhadap lingkungan fisik merupakan dampak yang mudah
diidentifikasi karena nyata. Pariwisata memberikan keuntungan dan kerugian, sebagai
berikut :
1. Air
Air mendapatkan polusi dari pembuangan limbah cair (detergen pencucian linen hotel)
dan limbah padat(sisa makanan tamu). Limbah-limbah itu mencemari laut, danau dan
sungai. Air juga mendapatkan polusidari buangan bahan bakar minyak alat transportasi
air seperti dari kapal pesiar.Akibat dari pembuangan limbah, maka lingkungan
terkontaminasi, kesehatan masyarakat terganggu, perubahan dan kerusakan vegetasi air,
nilai estetika perairan berkurang (seperti warna laut berubah dari warnabiru menjadi
warna hitam) dan badan air beracun sehingga makanan laut (seafood) menjadi
berbahaya.Wisatawan menjadi tidak dapat mandi dan berenang karena air di laut, danau
dan

sungai

tercemar.Masyarakat

dan

wisatawan

saling

menjaga

kebersihan

perairan.Guna mengurangi polusi air, alat transportasi air yang digunakan, yakni
angkutan yang ramah lingkungan, seperti : perahu dayung, kayak, dan kano.
7

2. Atmosfir
Perjalanan menggunakan alat transportasi udadra sangat nyaman dan cepat.
Namun, angkutan udara berpotensi merusak atmosfir bumi. Hasil buangan emisinya
dilepas di udara yang menyebabkan atmosfir tercemar dan gemuruh mesin pesawat
menyebabkan polusi suara. Selain itu, udara tercemar kibat emisi kendaraan darat
(mobil, bus) dan bunyi deru mesin kendaraan menyebabkan kebisingan. Akibat polusi
udara dan polisi suara, maka nilai wisata berkurang, pengalaman menjadi tidak
menyenangkan dan memberikandampak negatif bagi vegetasi dan hewan.Inovasi
kendaraan ramah lingkungan dan angkutan udara berpenumpang massal (seperti
pesawat Airbus380 dengan kapasitas 500 penumpang) dilakukan guna menekan polusi
udara dan suara. Anjuran untukmengurangi kendaraan bermotor juga dilakukan dan
kampanye berwisata sepeda ditingkatkan.

3. Pantai dan pulau


Pantai dan pulau menjadi pilihan destinasi wisata bagi wisatawan. Namun,
pantai dan pulau sering menjaditempat yang mendapatkan dampak negatif dari
pariwisata. Pembangunan fasilitas wisata di pantai dan pulau, pendirian prasarana
(jalan, listrik, air), pembangunan infrastruktur (bandara, pelabuhan) mempengaruhi
kapasitas pantai dan pulau.Lingkungan tepian pantai rusak (contoh pembabatan hutan
bakau untuk pendirian akomodasi tepi pantai),kerusakan karang laut, hilangnya
peruntukan lahan pantai tradisional dan erosi pantai menjadi beberapaakibat
pembangunan pariwisata.Preservasi dan konservasi pantai dan laut menjadi pilihan
untuk memperpanjang usia pantai dan laut. Pencanangan taman laut dan kawasan
konservasi menjadi pilihan. Wisatawan juga ditawarkan kegiatan ekowisata yang
bersifat ramah lingkungan. Beberapa pengelola pulau (contoh pengelola Taman
NasionalKepulauan Seribu) menawarkan paket perjalanan yang ramah lingkungan yang
menawarkan aktivitas menanam lamun dan menanam bakau di laut.

4. Pegunungan dan area liar


Wisatawan asal daerah bermusim panas memilih berwisata ke pegunungan
untuk berganti suasana. Aktivitas di pegunungan berpotensi merusak gunung dan area
liarnya. Pembukaan jalur pendakian, pendirian hotel di kaki bukit, pembangunan
gondola (cable car), dan pembangunan fasilitas lainnya merupakanbeberapa contoh
pembangunan yang berpotensi merusak gunung dan area liar. Akibatnya terjadi
tanahlongsor, erosi tanah, menipisnya vegetasi pegunungan (yang bisa menjadi paru8

paru masyarakat) ,potensi polusi visual dan banjir yang berlebihan karena gunung tidak
mampu menyerap air hujan. Reboisasi (penanaman kembali pepohonan di pegunungan)
dan peremajaan pegunungan dilakukan sebagai upaya pencegahan kerusakan
pegunungan dan area liar.

5. Vegetasi
Pembalakan liar, pembabatan pepohonan, bahaya kebakaran hutan (akibat api
unggun di perkemahan),koleksi bunga, tumbuhan dan jamur untuk kebutuhan
wisatawan merupakan beberapa kegiatan yang merusak vegetasi. Akibatnya, terjadi
degradasi hutan (berpotensi erosi lahan), perubahan struktur tanaman(misalnya pohon
yang seharusnya berbuah setiap tiga bulan berubah menjadi setiap enam bulan,
bahkanmenjadi tidak berbuah), hilangnya spesies tanaman langka dan kerusakan habitat
tumbuhan. Ekosistemvegetasi menjadi terganggu dan tidak seimbang.

6. Kehidupan satwa liar


Kehidupan satwa liar menjadi daya tarik wisata yang luar biasa. Wisatawan
terpesona dengan pola hiduphewan. namun, kegiatan wisata mengganggu kehidupan
satwa-satwa tersebut. Komposisi fauna berubahakibat:pemburuan hewan sebagai
cinderamata, pelecehan satwa liar untuk fotografi, eksploitasi hewan untuk pertunjukan,
gangguan

reproduksi

hewan

(berkembang

biak),

perubahan

insting

hewan

(contohhewan komodo yang dahulunya hewan ganas menjadi hewan jinak yang
dilindungi), migrasi hewan (ketempat yang lebih baik). Jumlah hewan liar berkurang,
akibatnya ketika wisatawan mengunjungi daerah wisata, ia tidak lagi mudah
menemukan satwa-satwa tersebut

7. Situs sejarah, budaya, dan keagamaan


Penggunaan yang berlebihan untuk kunjungan wisata menyebabkan situs
sejarah, budaya dan keagamaanmudah rusak. Kepadatan di daerah wisata, alterasi
fungsi awal situs, komersialisasi daerah wisasta menjadi beberapa contoh dampak
negatif kegiatan wisata terhadap lingkungan fisik. Situs keagamaan didatangi oleh
banyak wisatawan sehingga mengganggu fungsi utama sebagai tempat ibadah yang
suci. Situs budaya digunakan secara komersial sehingga dieksploitasi secara berlebihan
(contoh Candi menampung jumlah wisatawan yang melebihi kapasitas). Kapasitas daya
tampung situs sejarah, budaya dan keagamaan dpat diperkirakan dan dikendalikan
melalui manajemen pengunjung sebagai upaya mengurangi kerusakan pada situs
9

sejarah, budaya dan keagamaan. Upaya konservasi dan preservasi serta renovasi dapat
dilakukan untuk memperpanjang usia situs-situs tersebut.

8. Wilayah perkotaan dan pedesaan


Pendirian hotel, restoran, fasilitas wisata, toko cinderamata dan bangunan lain
dibutuhkan di daerah tujuanwisata. Seiring dengan pembangunan itu, jumlah kunjungan
wisatawan, jumlah kendaraan dan kepadatan lalu lintas jadi meningkat. Hal ini bukan
hanya menyebabkan tekanan terhadap lahan, melainkan juga perubahan fungsi lahan
tempat tinggal menjadi lahan komersil, kemacetan lalu lintas, polusi udara dan polusi
estetika (terutama ketika bangunan didirikan tanpa aturan penataan yang benar).
Dampak buruk itu dapatdiatasi dengan melakukan manajemen pengunjung dan penataan
wilayah kota atau desa serta membedayakan masyarakat untuk mengambil andil yang
besar dalam pembangunan.

5. Pengaruh Pariwisata Terhadap Politik


Dalam dunia politik, suatu negara sangat terikat dengan hubungan kerjasama
antar negara. banyak negara yang menjalin hubungan kerjasama dalam hal pariwisata.
sehingga keadaan politik dapat mempengaruhi dunia pariwisata. sedangkan pariwisata
merupakan pendapatan terbesar negara. sehingga perekonomian negarapun terpengaruhi
bila perkembangan pariwisata terhambat oleh kondisi polik tak mendukung. butuh
keseimbangan antara politik dengan pariwisata bila perekonomian ingin meningkat.
Ada beberapa perilaku wisatawan yang perlu dicermati dalam bisnis. Pertama
adalah mereka ingin menikmati alam, keindahannya, panorama pantai, gunung, dan
danau. Kedua selain hal tersebut mereka akan menggunakan waktunya juga untuk
menikmati kreasi budaya (culture) dan peninggalan bersejarah di suatu daerah tertentu
dan negara tertentu.
Perilaku wisatawan perlu menjadi perhatian karena strategi pengembangan
pariwisata bermula dari hal tersebut. Dengan diberlakukan Undang-undang Nomor 22
Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, maka wewenang untuk mengembangkan
wisata menjadi terletak di daerah dan tidak terpusat di Jakarta saja. Ada otonomi untuk
mengembangkan pariwisata di daerah masing-masing. Daerah dapat mempromosikan
sendiri wilayahnya untuk menjadi tujuan wisata sesuai dengan keunggulan daerahnya
masing-masing. Keadaan pariwisata akan mempengaruhi bisnis perhotelan di Indonesia.
Kondisi politik yang tenang dan stabil merupakan prasyarat perkembangan
usaha dan bisnis. Dalam kondisi yang tidak aman dan nyaman untuk investasi tentu saja
10

investor tidak akan datang. Hal ini sejalan dengan kondisi wisatawan manca negara.
Keamanan suatu daerah atau negara dana stabilnya kondisi politik akan mendukung
kedatangan dan hadirnya wisatawan.
Saat kepemimpinan orde baru dengan keadaan politik relatif stabil sampai
dengan tahun 1998, maka jumlah kunjungan wisatawan juga stabil tanpa ada penurunan.
Akan tetapi pada saat kondisi politik yang chaos pada masa terjadinya kerusuhan massal
tahun 1998, banyak wisatawan membatalkan kunjungannya ke Indonesia sehingga
terjadi penurunan jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia sehingga
terjadi konstraksi pertumbuhan jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia.
Berdasarkan uraian pada pembahasan dapat disimpulkan betapa kondisi politik dalam
negeri yang baik disertai dengan tingkat keamanan yang memadahi maka akan
mempengaruhi perkembangan bisnis pariwisata dan bisnis turunannya seperti hotel,
restoran dan jasa transportasi.

6. Pengaruh Pariwisata Terhadap Teknologi


Teknologi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data,
termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan,memanipulasi data dalam
berbagai cara untuk menghasilkan informasi yangberkualitas, yaitu informasi yang
relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakanuntuk keperluan pribadi, bisnis, dan
pemerintahan dan merupakan informasi yangstrategis untuk pengambilan keputusan.
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan
teknologi secara umum adalahsemua teknologi yang berhubungan dengan pengambilan,
pengumpulan,pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi.
Pariwisata

tidak

dipungkiri

lagi

berfungsi

sebagai

motor

penggerak

perekonomian di Bali. Dalam hal ini pariwisata menimbulkan multiflier effect bagi
seluruh aktivitas ekonomi di Bali. Sebagai contoh : Pariwisata membutuhkan sarana
akomodasi, restoran, bar dan fasilitas penunjang lainnya. Satu buah hotel yang didirikan
akan menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu hotel membutuhkan berbagai supplier
untuk memasok kebutuhan hotel. Tenaga kerja yang diserap hotel juga membutuhkan
berbagai macam kebutuhan hidupnya, sehingga muncul berbagai macam pusat
perbelanjaan, demikian seterusnya rantai ekonomi yang ditimbulkan dari aktivitas
pariwisata sebagai akibat dari multilier effect tersebut.

11

TIK, sangat menunjang perkembangan pariwisata, dengan TIK maka informasi


dan komunikasi dapat dilakukan dengan sangat cepat, efisien dan akurat yang mampu
mereduce human error. Sebagai contoh alikasi TIK, yakni penggunaan software
LIBICA, FIDELIO sebagai Program Piranti Lunak Hotel Information System. Dengan
menggunakan software tersebut informasi mengenai kepastian pemesanan kamar,
kepastian rekening tamu, informasi tamu yang akan datang ke hotel, tamu yang sedang
tinggal di hotel dan tamu yang akan meninggalkan hotel. Informasi yang cepat, tepat
dan akurat tersebut akan membuat tamu puas dan senang tinggal dihotel. Kepuasan
tamu akan menyebabkan tamu akan kembali lagi untuk berlibur di Bali dan tinggal di
hotel tersebut. Jika dikaitkan dengan tujuan berdirinya sebuah hotel, yakni : Profit
through guest satisfaction, and get a repeat business through word of mouth
communication, peranan TIK dirasakan sangat vital. Kondisi ini berlaku juga untuk
perusahaan lainnya yang berperan sebagai entitas ekonomi (mengelola sumber daya
yang ada untuk dapat ditukarkan kepada pasar sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan
keinginan pasar/konsumen sehingga tercapai kepusan pasar/konsumen)

12