Anda di halaman 1dari 9

Step 3

1. Ciri-ciri pemukiman kumuh?


Ciri-ciri pemukiman kumuh, seperti yang diungkapkan oleh Suparlan (1984)
adalah:
1. Fasilitas umum yang kondisinya kurang atau tidak memadai.
2. Kondisi hunian rumah dan pemukiman serta penggunaan ruangannya
mencerminkan penghuninya yang kurang mampu atau miskin.
3. Adanya tingkat frekuensi dan kepadatan volume yang tinggi dalam
penggunaan ruang-ruang yang ada di pemukiman kumuh sehingga
mencerminkan adanya kesemrawutan tata ruang dan ketidakberdayaan
ekonomi penghuninya.
4. Pemukiman kumuh merupakan suatu satuan-satuan komuniti yang hidup
secara tersendiri dengan batas-batas kebudayaan dan sosial yang jelas, yaitu
terwujud sebagai:
a. Sebuah komuniti tunggal, berada di tanah milik negara, dan karena itu
dapat digolongkan sebagai hunian liar.
b. Satuan komuniti tunggal yang merupakan bagian dari sebuah Rukun
Tetangga, atau sebuah Rukun Warga.
c. Sebuah satuan komuniti tunggal yang terwujud sebagai sebuah
Rukun Tetangga atau Rukun Warga atau bahkan terwujud sebagai
sebuah Kelurahan, dan bukan hunian liar.
5. Penghuni pemukiman kumuh secara sosial dan ekonomi tidak homogen,
warganya mempunyai mata pencaharian dan tingkat kepadatan yang
beranekaragam, begitu juga asal muasalnya. Dalam masyarakat pemukiman kumuh juga dikenal
adanya pelapisan sosial berdasarkan atas kemampuan
ekonomi mereka yang berbeda-beda tersebut.
6. Sebagian besar penghuni pemukiman kumuh adalah mereka yang bekerja
di sektor informal atau mempunyai mata pencaharian tambahan di sektor
informil (Kurniasih, 2007).
Menurut Sinulingga (2005) ciri kampung/pemukiman kumuh terdiri dari:
a. Penduduk sangat padat antara 250-400 jiwa/ha. Pendapat para ahli perkotaan
(MMUDP,90) menyatakan bahwa apabila kepadatan suatu kawasan telah
mencapai 80 jiwa/ha maka timbul masalah akibat kepadatan ini, antara
perumahan yang dibangun tidak mungkin lagi memiliki persyaratan fisiologis,
psikologis dan perlindungan terhadap penyakit.
b. Jalan-jalan sempit tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda empat, karena
sempitnya, kadang-kadang jalan ini sudah tersembunyi dibalik atap-atap
rumah yang sudah bersinggungan satu sama lain.
c. Fasilitas drainase sangat tidak memadai, dan malahan biasa terdapat jalanjalan tanpa drainase,
sehingga apabila hujan kawasan ini dengan mudah akan
tergenang oleh air.
d. Fasilitas pembuangan air kotor/tinja sangat minim sekali. Ada diantaranya
yang langsung membuang tinjanya ke saluran yang dekat dengan rumah,
ataupun ada juga yang membuangnya ke sungai yang terdekat.
e. Fasilitas penyediaan air bersih sangat minim, memanfaatkan air sumur
dangkal, air hujan atau membeli secara kalengan.
f. Tata bangunan sangat tidak teratur dan bangunan-bangunan pada umumnya
tidak permanen dan malahan banyak yang darurat.
g. Kondisi a sampai f membuat kawasan ini sangat rawan terhadap penularan

penyakit.
h. Pemilikan hak atas lahan sering tidak legal, artinya status tanahnya masih
merupakan tanah negara dan para pemilik tidak memiliki status apa-apa.
Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22314/3/Chapter%20II.pdf
2. Faktor yang menyebabkan suatu kawasan menjadi pemukiman kumuh?
1.Faktor Urbanisasi Dan Migrasi Penduduk
Rumusan beberapa faktor secara umum yang dapat mempengaruhi terjadinya proses keurbanan, antara lain :
1.Ketimpangan tingkat pertumbuhan ekonomi antara desa dengan perkotaan
2.Peluang dan kesempatan kerja yang lebih terbuka di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah perdesaan
3.Terjadinya pola perubahan minat tentang lapangan pekerjaan dari pertanian ke industri, utamanya bagi
penduduk usia kerja di perdesaan
4.Lebih majunya teknologi dan infrastruktur prasarana transportasi, sehingga memudahkan terjadinya mobilitas
penduduk baik yang permanen atau yang ulang alik.
5.Keberadaan fasilitas perkotaan yang lebih menjanjikan, utamanya aspek pendidikan, kesehatan, pariwisata dan
aspek sosial lainnya

Lee dalam Lisna Yoeliani P (1966) mendekati migrasi dengan formula yang lebih terarah. faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan untuk bermigrasi dapat dibedakan atas kelompok sebagai berikut :
a.Faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat asal migran.
b.Faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat tujuan migran (destination)
c.Faktor-faktor penghalang atau pengganggu (intervening factors)
d.Faktor-faktor yang berhubungan dengan individu migran.

2.Faktor Lahan di Perkotaan


3. Faktor Prasarana dan Sarana Dasar
4. Faktor Sosial Ekonomi
5.Faktor Sosial Budaya
Kaum migran desa-kota cenderung berharap mereka akan mampu memperbaiki posisi sosial ekonomi mereka
ketika melakukan migrasi kekota. Mereka dipenuhi pikiran untuk memapankan hubungan pekerjaan dan nilai
finansial yang akan didapatkannya ketika berada dikota. Namun perlu diketahui bahwa persaingan dikota jauh
lebih besar dibandingkan dengan di desa. (darsono Wisadirana : 2004)
6.Faktor Tata Ruang
7. Faktor Aksesibilitas
8. Faktor Pendidikan

Sumber : Laode MAsrun, ST, M.Si Pendidikan (S1). Perencanaan WIlayah dan Kota (S2). Manajemen Perkotaan

3. Langkah untuk pembenahan pemukiman kumuh?


o Pemerintah membuat program rumah susun
o Perbaikan sistem tata kampung

o
o
o
o
o
o
o
o

Pengolahan limbah
Penyediaan air bersih
Menggalakkan program transmigrasi
Program KB
Program kerja bakti/kebersihan lingkungan
Sosialisasi pentingnya sanitasi
Pemerataan pembangunan daerah
evaluasi

Upaya-upaya Pemecahan Permasalahan Kuantitas Penduduk Indonesia : Upaya


pemerintah mengatasi permasalahan kuantitas penduduk antara lain, dengan pengendalian
jumlah dan pertumbuhan penduduk serta pemerataan persebaran penduduk.
a. Pengendalian jumlah danpertumbuhan penduduk : Dilakukan dengan cara menekan
angka kelahiran melalui pembatasan jumlah kelahiran, menunda usia perkawinan muda, dan
meningkatkan pendidikan.
b. Pemerataan Persebaran Penduduk : Dilakukan dengan cara transmigrasi dan
pembangunan industri di wilayah yang jarang penduduknya. Untuk mencegah migrasi
penduduk dari desa kekota, pemerintah mengupayakan berbagai program berupa
pemerataan pembangunan hingga ke pelosok, perbaikan sarana dan prasarana pedesaan,
dan pemberdayaan ekonomi di pedesaan.
http://aiirm59.blogspot.com/2012/07/permasalahan-penduduk-dan-dampaknya.html

4. Dampak negatif dari pemukiman kumuh?


(1) kondisi perumahan yang buruk,
(2) penduduk yang terlalu padat,
(3) fasilitas lingkungan yang kurang memadai,
(4) tingkah laku menyimpang,
(5) budaya kumuh,
(6) apati dan isolasi (Kurniasih, 2007).
Sumber :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22314/3/Chapter%20II.pdf

5. Proses terbentuknya pemukiman kumuh?


o Pembangunan perumahan oleh sektor nonformal, baik individu maupun
dibangunkan oleh orang lain
6. Masalah kesehatan apa saja yang disebabkan dari adanya pemukiman kumuh?
Sanitasi yang buruk memungkinkan berbagai penyakit
menular terus menyebar. Diantara penyakit manusia
yang disebabkan oleh parasit schistosomiasis menempati

peringkat kedua setelah malaria. Penyakit tersebut bersifat endemic di 74


negara berkembang dan menginfeksi
200 juta penduduk dan 20 juta diantaranya sangat
menderita sebagai akibat dari penyakit tersebut.
Ascariasis ditemukan di berbagai belahan dunia. Penularan dengan frekuensi
kejadian tertinggi terjadi di Negaranegara tropis dan subtropics serta di wilayah
yang sanitasinya buruk. Ascariasis merupakan salah satu penyakit
parasit yang paling umum dijumpai. Penyakit Ascaris
mengakibatkan 60.000 kematian setiap tahunnya terutama anak-anak.
Infeksi trematode disebabkan oleh parasit yang menginfeksi manusia dan
binatang. Di banyak wilayah, infeksi
ini bersifat endemic. Tinja yang dibuang begitu saja ke
kolam, sungai, atau danau dari orang yang terinfeksi
akan dimakan oleh ikan, kerang-kerangan, dan lainnya.
Manusia terinfeksi oleh trematode melalui ikan dan kerang-kerangan tersebut.
Penyakit lainnya adalah ifeksi trachoma yang menyebabkan kebutaan. Trakhoma
sangat terkait dnegan sanitasi yang buruk. Trakhoma disebarkan oleh komninasi
dari:
1. Sanitasi yang buruk, yang memberikan kesempatan bagi lalat untuk
berkembangbiak
2. Kesehatan yang buruk akibat kelangkaan air dan
kualitas air yang rendah
3. Rendahnya pendidikan dan pemahaman tentang
mudahnya penularan berbagai penyakit di rumah
dan antar manusia
Sekitar empat milyar kasus
diare per tahun menyebabkan 1,5 juta kematian yang
sebagian besar adalah balia.
Penyakit malaria juga diderita oleh 300 juta penduduk/
Penyakit schistosomiasis
mengakibatkan 20 juta penduduk mengalami gangguan kesehatan.
Pengaruh buruk dari lingkungan sebenarnya dapat
dicegah dengan mengembangkan kebiasaan hidup sehat
dan menciptakan sanitasi lingkungan yang baik. Kebiasaan hidup sehat dilakukan
dalam berbagai cara
seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah makan,
membuang sampah pada tempatnya, membersihkan
rumah dan halaman secara rutin, membersihkan kamar
mandi dan bak mandi secara rutin dan lain-lain. Kebiasaan tersebut dapat
memutus siklus perkembangbiakan berbagai jenis organism pembawa penyakit.
Sumber : http://www.kalyanamitra.or.id/wpcontent/uploads/2012/07/SANITASI-LINGKUNGAN.pdf
7. Apakah ada dampak positif dari pemukiman kumuh? Jika ada, sebutkan!
o Pemerintah jadi berifikr kritis

Sebagai objek pembelajaran


Dampak bagi daerah tujuan
1) dampak positif, yaitu:
- jumlah tenaga kerja meningkat
- terjadinya percampuran budaya antara penduduk pribumi dan pendatang yang pada akhirnya dapat
membentuk budaya baru
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/2268530-dampak-dinamika-penduduk/#ixzz2Gv9CSOx7

8. Kriteria pemukiman yang baik dan sehat?


Menurut American Public Health Association (APHA) rumah dikatakan sehat apabila :
(1) Memenuhi kebutuhan fisik dasar seperti temperatur lebih rendah dari udara di luar
rumah, penerangan yang memadai, ventilasi yang nyaman, dan kebisingan 45-55 dB.A.;
(2) Memenuhi kebutuhan kejiwaan;
(3) Melindungi penghuninya dari penularan penyakit menular yaitu memiliki penyediaan
air bersih, sarana pembuangan sampah dan saluran pembuangan air limbah yang saniter
dan memenuhi syarat kesehatan; serta
(4) Melindungi penghuninya dari kemungkinan terjadinya kecelakaan dan bahaya
kebakaran, seperti fondasi rumah yang kokoh, tangga yang tidak curam, bahaya
kebakaran karena arus pendek listrik, keracunan, bahkan dari ancaman kecelakaan lalu
lintas (Sanropie, 1992; Azwar, 1996)

Komponen yang harus dimiliki rumah sehat (Ditjen Cipta Karya, 1997) adalah :
(1) Fondasi yang kuat untuk meneruskan beban bangunan ke tanah dasar, memberi
kestabilan bangunan , dan merupakan konstruksi penghubung antara bagunan dengan
tanah;
(2) Lantai kedap air dan tidak lembab, tinggi minimum 10 cm dari pekarangan dan 25
cm dari badan jalan, bahan kedap air, untuk rumah panggung dapat terbuat dari papan
atau anyaman bambu;
(3) Memiliki jendela dan pintu yang berfungsi sebagai ventilasi dan masuknya sinar
matahari dengan luas minimum 10% luas lantai;
(4) Dinding rumah kedap air yang berfungsi untuk mendukung atau menyangga atap,
menahan angin dan air hujan, melindungi dari panas dan debu dari luar, serta menjaga
kerahasiaan ( privacy) penghuninya;
(5) Langit-langit untuk menahan dan menyerap panas terik matahari, minimum 2,4 m
dari lantai, bisa dari bahan papan, anyaman bambu, tripleks atau gipsum; serta
(6) Atap rumah yang berfungsi sebagai penahan panas sinar matahari serta melindungi
masuknya debu, angin dan air hujan

Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menurut Keputusan


Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/1999 meliputi parameter
sebagai berikut :
1. Lokasi
a. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai, aliran
lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa, dan sebagainya;
b. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah atau
bekas tambang;
c. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti jalur
pendaratan penerbangan
2. Kualitas udara

Kualitas udara ambien di lingkungan perumahan harus bebas dari gangguan gas beracun
dan memenuhi syarat baku mutu lingkungan sebagai berikut :
a. Gas H2S dan NH3secara biologis tidak terdeteksi;
b. Debu dengan diameter kurang dari 10 g maksimum 150 g/m3;
c. Gas SO2 maksimum 0,10 ppm;
d. Debu maksimum 350 mm3 /m2 per hari
3. Kebisingan dan getaran
a. Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A;
b. Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik
4. Kualitas tanah di daerah perumahan dan pemukiman
a. Kandungan Timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg
b. Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
c. Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
d. Kandungan Benzo(a)pyrene maksimum 1 mg/kg
5. Prasarana dan sarana lingkungan
a. Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan konstruksi yang
aman dari kecelakaan;
b. Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor penyakit;
c. Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan tidak
mengganggu kesehatan, onstruksi trotoar tidak membahayakan pejalan kaki dan
penyandang cacat, jembatan harus memiliki pagar pengaman, lampu penerangan jalan
tidak menyilaukan mata;
d. Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas air yang memenuhi
persyaratan esehatan;
e. Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus memenuhi
persyaratan kesehatan;
f. Pengelolaan pembuangan sampah rumah tangga harus memenuhi syarat kesehatan;
g. Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi, tempat kerja,
tempat hiburan, tempat pendidikan, kesenian, dan lain sebagainya;
h. Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya;
i. Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi kontaminasi
makanan yang dapat menimbulkan
6. Vektor penyakit
a. Indeks lalat harus memenuhi syarat;
b. Indeks jentik nyamuk dibawah 5%.
7. Penghijauan
Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan pelindung dan juga
berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian alam

Adapun ketentuan persyaratan kesehatan rumah tinggal menurut Kepmenkes No.


829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut :
1. Bahan bangunan
a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan bahan yang dapat membahayakan
kesehatan, antara lain : debu total kurang dari 150 g/m2 , asbestos kurang dari 0,5
serat/m3 per 24 jam, plumbum (Pb) kurang dari 300 mg/kg bahan;
b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya
mikroorganisme patogen
2. Komponen dan penataan ruangan
a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan;
b. Dinding rumah memiliki ventilasi, di kamar mandi dan kamar cuci kedap air dan
mudah dibersihkan;

c. Langit-langit rumah mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan;


d. Bumbungan rumah 10 m dan ada penangkal petir;
e. Ruang ditata sesuai dengan fungsi dan peruntukannya;
f. Dapur harus memiliki sarana pembuangan asap.
3. Pencahayaan
Pencahayaan alam dan/atau buatan langsung maupun tidak langsung dapat menerangi
seluruh ruangan dengan intensitas penerangan minimal 60 lux dan tidak menyilaukan
mata.
4. Kualitas udara
a. Suhu udara nyaman antara 18 30oC;
b. Kelembaban udara 40 70 %;
c. Gas SO2 kurang dari 0,10 ppm/24 jam;
d. Pertukaran udara 5 kaki3/menit/penghuni;
e. Gas CO kurang dari 100 ppm/8 jam;
f. Gas formaldehid kurang dari 120 mg/m3.
5. Ventilasi
Luas lubang ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% luas lantai.
6. Vektor penyakit
Tidak ada lalat, nyamuk ataupun tikus yang bersarang di dalam rumah.
7. Penyediaan air
a. Tersedia sarana penyediaan air bersih dengan kapasitas minimal 60 liter/ orang/hari;
b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan/atau air minum
menurut Permenkes 416 tahun 1990 dan Kepmenkes 907 tahun 2002.
8. Sarana penyimpanan makanan
Tersedia sarana penyimpanan makanan yang aman .
9. Pembuangan Limbah
a. Limbah cair yang berasal rumah tangga tidak mencemari sumber air, tidak
menimbulkan bau, dan tidak mencemari permukaan tanah;
b. Limbah padat harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan bau, tidak
mencemari permukaan tanah dan air tanah.
10. Kepadatan hunian
Luas kamar tidur minimal 8 m2 dan dianjurkan tidak untuk lebih dari 2 orang tidur.
Persyaratan tersebut diatas berlaku juga terhadap kondominium, rumah susun (rusun),
rumah toko (ruko), rumah kantor (rukan) pada zona pemukiman. Pelaksanaan ketentuan
mengenai persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman Menjadi
tanggung jawab pengembang atau penyelenggara pembangunan perumahan, dan
pemilik atau penghuni rumah tinggal untuk rumah.
Penyelenggara pembangunan perumahan (pengembang) yang tidak memenuhi
ketentuan tentang persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman dapat
dikenai sanksi pidana dan/atau sanksi administrasi sesuai dengan UU No. 4 /1992
tentang Perumahan dan Pemukiman, dan UU No. 23 /1992 tentang Kesehatan, serta
peraturan pelaksanaannya. Bagi pemilik rumah yang belum memenuhi ketentuan
tersebut diatas tidak dapat dikenai sanksi, tetapi dibina agar segera dapat memenuhi
persyaratan kesehatan rumah.

9.
10.
11.
12.

Apakah ada kemungkinan terjadi pemukina kumuh selain di daerah industri?


Adakah langkah preventif untuk mencegah terjadinya pemukiman kumuh? Jelaskan!
Pengaruh lahan industri terhadap pemukiman yang kumuh?
Bagaimana menciptakan sanitasi yang baik?
1. Mengembangkan kebiasaan atau perilaku
hidup sehat

Terjangkitnya penyakit seperti diare diakibatkan oleh kebiasaan hidup yang tidak sehat.
Kebiasaan yang dimaksud adalah tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan,
buang air besar atau kecil sembarangan, minum air yang belum dimasak secara benar
dan
lain-lain.
2. Membersihkan ruangan dan halaman
rumah secara rutin
Ruangan dalam rumah dapat menimbulkan
berbagai penyakit jika tidak secara rutin dibersihkan. Perlengkapan rumah seperti karpet
dan
kursi berpotensi menjadi tempat mengedapnya
debu. Debu yang mengendap dan kemudian
bertebvangan di dalam ruangan dapat menimbulkan pentakit infeksi saluran pernafasan
akut (ISPA). Debu juga dapat berfungsi sebagai media tempat menempelnya bakteri atau
virus yang dapat mengganggu kesehatan
manusia.
Ruangan yang tidak bersih dan rapi juga dapat
mengundang masuknya lalat, nyamuk dan
tikus masuk dalam ruangan. Padahal keduanya
dapat menjadi vector pembaya penyakit.
3. Membersihkan kamar mandi dan toilet
Kamar mandi dan tolit merupakan bagian dari
rumah yang paling kondusif untuk dijadikan
tempat perkembangbiakan berbagai jenis organism penyebab dan pembawa penyakit.
4. Menguras, menutup dan menimbun (3M)
Bak atau tempat penampungan air dapat menjadi tempat yang sangat baik bagi
perkembangbiakan nyamuk. Karena itu, bak, dan penampungan air harus dibersihkan
dan dikuras secara rutin minimal satu minggu sekali. Tampat penampungan air
diupayakan selalu tertutup.Menutup tempat penyimpanan air dapat mencegah
perkembangiakan nyamuk. Menutup tempat penampungan ar juga mencegah masuknya
organism lainnya yang dapat menimbulkan penyakit seperti tikus dan kecoa.Aktivitas
menimbun dilakukan agar barangbarang di lingkungan tidak dijadikan sarang atau
tempat perkembangbiakan organism yang merugikan kesehatan. Kaleng, ban bekas,
plastic dan lain-lain sebaiknya ditimbun jika tidak dipakai lagi.
5. Tidak membiarkan adanya air yang tergenang
Genangan air seringkali dianggap tidak membahayan. Padahal, genangan air yang
dibiarkan lama, terutama pada musim hujan dapat menjadi tempat perkembangbiakan
nyamuk. Karena itu, barang-barang bekas yang sedianya dapat menampung air seperti
botol, kaleng, ban bekas sebaiknya dikubur atau dihancurkan.
6. Membersihkan saluran pembuangan air
Air bekas mencuci, mandi, masak dan air dari kakus akan masuk kesaluran pembuangan.
Saluran tersebut biasanya terbuka dan air yang mengalir sangat kotor dari limbah cair
maupun sampah. Jika dibiarkan, tempat tersebut menjadi sumber berbagai jenis
penyakit dari organism yang hidup di dalamnya. Karena itu, secara individu maupun

bersamasama dengan warga masyarakat lainnya, secara rutin saluran tersebut harus
dibersihkan.
7. Menggunakan air yang bersih
Air menjadi salah satu komponen penting dalam kaitannya
dengan kesehatan. Namun, sebagian masyaraat kita masih
menggunakan air yang tidak bersih untuk keperluan mencuci dan mandi serta memasak
maupun minum. Selain itu, poses masak yang tidak sempurna juga dapat menyebabkan
penyakit. Karena itu, tidak heran jika banyak penyakit yang muncul karena faktor air.
Sumber : http://www.kalyanamitra.or.id/wp-content/uploads/2012/07/SANITASILINGKUNGAN.pdf
13. Bagaimana cara mengatasi penyakit yang timbul akibat pemukiman yang kumuh?