Anda di halaman 1dari 21

Skenario 1

Membuka Rahasia Medik


Ibu desi, seorang perawat, 32 tahun dirawat di kamar 520 Rumah Sakit Harapan
Sehat. Ia terbaring lunglai sambil memandagi plafon kamar dengan tatapan
kosong setelah menjalani oprasi kanker serviks stadium 1, ketika jam berkunjung
tiba, ibu Desi merasa gembira karena teman-temannya datang mengunjunginya.
Seperti biasa mereka datang membawa biskuit, buah-buahan, makanan kaleng,
dan lain sebagainya. Keriuhan ini pun berkurang ketika dokter Fauziah dokter
bedah ibu Desi memasuki ruangan tersebut. Dokter Fauziah memberitahukan hasil
pemeriksaan lab dan Patologi Anatomi dari jaringan yang diambil ternyata
hasilnya positif keganasan. Ibu Desi terdiam karena tidak tahu apa yang harus ia
lakukan selain tersenyum, teman-teman kantornya saling memandang satu dengan
yang lainnya. Setelah menulis saran di rekam medis, dokter Fauziah kemudian
pamit meninggalkan kamar.
Kini tinggal ibu Desi yang sedih dan pilu karena dokter Fauziah, dokter yang ia
percayai telah membuka rahasia medis -nya dan dianggap tidak bias menjaga
amanah, melanggar kode etik kedokteran dan syariat islam. Selama ini dia
tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang penyakitnya, dan dia sudah
mempercayakan penyakitnya kepada dokter yang merawatnya, karena dia yakin
dokter akan memegang sumpah Hippocrates. Ibu Desi tidak tahu harus berbuat
apa, apakah ia akan mengahiri hubungan dokter pasien yang selama ini terjadi
atau membawa khasus ini ke polisi.

Hipotesis
Sebagai dokter, kita harus dapat menjaga hubungan baik dengan pasien, menjaga
rahasia pasien, memegang teguh sumpah dokter, dan bekerja sesuai dengan Kode
Etik Kedokteran Indonesia, serta bertanggung jawab.

Sasaran Belajar
LO.1 Mampu memahami tentang Rekam Medis
LI.1.1 Memhami dan menjelaskan definisi Rekam Medis
LI.1.2 Memahami dan menjelaskan isi, jenis, pemilik, lama penyimpanan,
dan manfaat Rekam Medis
LI.1.3 Memahami dan menjelaskan Undang-undang tentang Rekam Medis
LO.2 Mampu memahami tentang Rahasia Medis
LI 2.1 Memahami dan menjelaskan definisi Rahasia Medis
LI 2.2 Memahami dan menjelaskan Undang-undang tentang Rahasia
Medis
LO.3 Mampu memahami tentang Sumpah Dokter
LI.3.1 Memahami dan menjelaskan sumpah Hippocrates, smpah Janewa,
dan sumpah kedokteran Indonesia
LO.4 Mampu menjelaskan tentang hubungan dokter pasien
LI.4.1 Memahami dan menjelaskan definisi hubungan dokter pasien
LI.4.2 Memahami dan menjelaskan jenis-jenis hubungan dokter pasien
LI.4.3 Memahami dan menjelaskan komunikasi dokter pasien
LI.4.4 Memahami dan menjelaskan hak dan kewajiban dokter dan pasien
LO.5 Mampu memahami tentang membuka rahasia medik dalam sudut pandang
syariat islam
LI.5.1 Memahami dan menjelaskan dalil dan hadist membuka rahasia
medik

PEMBAHASAN

LO.1 Mampu memahami tentang Rekam Medis


LI 1.1 Memahami dan menjelaskan definisi Rekam Medis
Rekam medis adalah kumpulan keterangan tentang identitas, hasil
anamnesis, pemeriksaan dan catatan segala kegiatan para pelayanan kesehatan
atas pasien dari waktu ke waktu. Catatan tersebut berupa tulisan, gambaran,
ataupun rekaman elektronik seperti komputer, microfilm dan rekam suara.
Dalam Permenkes No.749A/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis disebut
pengertian rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang
identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain kepada
pasien pada sarana pelayanan kesehatan.
LI 1.2 Memahami dan menjelaskan isi, jenis, pemilik, lama penyimpanan,
dan manfaat Rekam Medis
A. Isi rekam medis
1. Identitas pasien
2. Tanggal dan waktu
3. Riwayat penyakit (Anamnesis) tentang :
a. Keluhan utama
b. Riwayat sekarang
c. Riwayat penyakit yang pernah diderita
d. Riwayatt keluarga tentang penyakit yang diturunkan
4. Laporan pemeriksaan fisik dan penunjang medic, seperti pemeriksaan
laboratorium, foto rontgen, scanning, MRI dan lain-lain
5. Diagnosis
6. Rencana penatalaksanaan
7. Pengobatan atau tindakan
8. Pelayanan lain yang diberikan kepada pasien
9. Persetujuan tidak bila ada/diperlukan
10. Ringkasan pulang
B. Jenis rekam medis
1. Rekam medis untuk pasien rawat jalan
2. Rekam medis untuk pasien rawat inap dan rawat satu hari
3. Rekam medis untuk pasien gawat darurat
C. Manfaat rekam medis
1. Administrative value
- Pengelolaan rumah sakit/sarana kesehatan
- Peningkatan mutu dan efektifitas pelayanan medis disarana kesehatan
2. Legal value
- Bukti jika ada penuntutan hukum
- Kepentingan pasien/keluarga, dokter/RS
3. Financial value
- Biaya pengobatan sesuai dengan tindakan
- Perencanaan keuangan RS
4

4. Research value
- Untuk penelitian : detil, lengkap, jelas,jujur
5. Education value
- Pendidikan kedokteran dan keperawatan
6. Documentary value
- Pertanggungjawaban atau laporan kepada pihak yang memerlukan
untuk masa mendatang
D. Pemilik Rekam Medis
Rekam medis merupakan dokumen milik dokter atau sarana kesehatan. Dan isi
rekam medis merupakan milik pasien. Pasien hanya diperbolehkan untuk
mengopy rekam medis dengan seizin dokter atau pihak sarana pelayanan
kesehatan.
E. Lama Penyimpanan Rekam Medis
Permenkes tentang rekam medis tahun 1989 pasal 7 :
1. Lama penyimpanan rekam medis sekurang-kurangnya 5 tahun yang terhitung
dari tanggal terakhir pasien berobat
2. Ringkasan pulang dan persetujuan tindakan medis harus disimpan selama 10
tahun
3. Penyimpanan rekam medis, untuk non-rumah sakit wajib disimpan sekurangkurangnya untuk jangka waktu 2 tahun setelah itu dapat dimusnahkan
LI 1.3 Memahami dan menjelaskan Undang-undang tentang Rahasia
Medis
BAB I
Ketentuan Umum
Pasal 1
Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan :
a. Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan, dan dokumen tentang
identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain pada
pasien pada sarana pelayanan kesehatan
b. Sarana pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya keseehatan baik untuk rawat jalan maupun rawat
inap yang dikelola oleh pemerintah ataupun swasta
c. Dokter adalah dokter umum/dokter spesialis dan dokter gigi/dokter gigi
spesialis
d. Tenaga kesehatan lain adalah tenaga kesehatan yang ikut memberikan
pelayanan kesehatan secara langsung kepada pasien
e. Direktur Jenderal adalah Direktur pelayanan medic dan atau Direktur Jenderal
pembinaan kesehatan masyarakat.

BAB II
TATA CARA PENYELENGGARAAN
Pasal 2
Setiap sarana pelayanan kesehatan yang melakukan pelayanan rawat jalan maupun
rawat inap membuat rekam medis
Pasal 3
Rekam medis sebagaimana yang dimaksud pasal 2 dibuat oleh dokter dan atau
tenaga kesehatan lainnya yang memberikan pelayanan langsung kepada pasien.
Pasal 4
Rekam medis harus dibuat segera dan dilengkapi diseluruhnya setelah pasien
menerima pelayanan.
Pasal 5
a. Pembetulan kesehatan catatan dilakukan padaa tulisan yang salah dan
diberi paraf oleh petugas yang bersangkutan
b. Penghapusan tulisan dengan cara apapun tidak diperbolehkan
Pasal 6
a. Lama penyimpanan rekam medis sekurang-kurangnya untuk jangka waktu
5 tahun terhitung dari tanggal terakhir pasien berobat
b. Lama penyimpanan rekam medis yang berkaitan dengan hal-hal yang
bersifat khusus dapat ditetapkan sendiri
Pasal 7
a. Setelah batas waktu sebagaimana dimaksud pasal 7 dilampaui, rekam
medis dapat dimusnahkan
b. Tata cara pemusnahan sebagaimana dimaksud ayat (a) ditetapkan oleh
Direktur Jenderal.
Pasal 8
Rekam medis harus disimpan oleh petugas yang ditunjuk oleh pimpinan sarana
pelayanan kesehatan
BAB III
PEMILIKAN DAN PEMANFAATAN
Pasal 9
a. Berkas rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan
b. Isi rekam medis milik pasien
Pasal 10
Rekam medis merupakan berkas yang wajib dijaga kerahasiaannya
Pasal 11
a. Pemaparan isi rekam medis hanya boleh dilakukan oleh dokter yang merawat
pasien dengan izin tertulis dari pasien
b. Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dapat memaparkan isi rekam medis
tanpa izin pasien berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
6

Pasal 12
a. Pemaparan isi rekam medis hanya boleh dilakukan oleh dokter yang merawat
pasien dengan izin tertulis dari pasien
b. Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dapat memaparkan isi rekam medis
tanpa izin pasien berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pimpinan sarana kesehatan bertanggung jawab atas :
-

Hilangnya, rusaknya, atau pemalsuan rekam medis


Penggunaan oleh orang/badan yang tidak berhak

Pasal 13
Rekam medis dapat dipakai sebagai :
-

Dasar pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pasien


Bahan pembuktian dalam perkara hukum
Bahan untuk keperluan penelitian dan pendidikan
Dasar pembayaran biaya pelayanan kesehatan
Bahan untuk menyampaikan statistic kesehatan

BAB IV
ISI REKAM MEDIS
Pasal 14
Isi rekam medis untuk pasien rawat jalan dapat dibuat selengkap-lengkapnya dan
sekurang-kurangnya memuat : identitas, anamnesis, diagnosis dan
tindakan/pengobatan
Pasal 15
Isi rekam medis untuk pasien rawat inap sekurang-kurangnya memuat :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Identitas pasien
Anamnesis
Riwayat penyakit
Hasil pemerikasaan laboratotik
Diagnosis
Persetujuan tindak medik
Tindakan atau pengobatan
Catatan perawat
Catatan observasi klinis dan hasil pengobatan
Resume akhir dan evaluasi pengobatan

BAB V
PENGORGANISASIAN
Pasal 16
Pengelolaan rekam medis dilaksanakan sesuai dengan tata cara kerja organisasi
sarana pelayanan kesehatan
Pasal17
Pimpinan sarana pelayanan kesehatan wajib melakukan pembinaan terhadap
petugas rekam medis untuk meningkatkan keterampilan
Pasal 18
Pengawasan terhadap penyelenggaraan rekam medis dilakukan oleh Direktur
Jenderal
BAB VI
SANKSI
Pasal 19
Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam peraturan ini dapat dikenakan
sanksi administrative mulai dari teguran lisan sampai pencabutan surat izin
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 20
Semua sarana pelayanan kesehatan harus menyesuaikan diri dengan ketentuanketentuan dalam peraturan ini paling lama 1 (satu) tahun sejak berlakunya
peraturan ini
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal21
Hal-hal teknis yang belum diatur dalam petunjuk pelaksanaan peraturan ini akan
ditetapkan oleh Direktur Jenderal sesuai dengan bidang tugas masing-masing
Pasal 22
Peraturan Menteri ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan peraturan ini
dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

LO.2 Mampu memahami tentang Rahasia Medis


LI 2.1 Memahami dan menjelaskan definisi Rahasia Medis
Rahasia adalah sesuatu yang di sembunyikan dan hanya diketahui oleh
satu orang, oleh beberapa orang saja, atau kalangan tertentu. Kewajiban untuk
menyimpan rahasia kedokteran pada pokoknya adalah kewajiban moril.
Salah satu ayat lafal sumpah dokter Indonesia berdsarkan peraturan
pemerintah no 26 tahun 1960 berbunyi : saya akan merahasiakan sesuatu yang
saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.
Dalam bab II KODEKI tentang kewajiban dokter pasien dicantumkan
antara lain : seoraang dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang
diketahuinya tentang pasien karena kepercayaan yang di berikan padanya, bahkan
setelah pasien meninggal dunia.
LI 2.2 Memahami dan menjelaskan Undang-undang tentang Rahasia
Medis
Hukum yang berkaitan tentang rahasia medis:
Pasal 322 KUHP :
1. Barang siapa yang dengan sengaja membuka rahasia yang wajib di
simpannya karena jabatannya atau mata pencaharianya baik yang sekarang
maupun yang dahulu akan diancam hukuman pidana penjara paling lama 9
bulan atau denda paling banyak Rp. 600,- UANG LAMA
2. Jika kejahatan dilakukan terhadap seseorang tertentu maka perbuatan itu
hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu.
Pasal 1365 KUHP :
Barang siapa yang berbuat salah sehingga orang lain menderita kerugian,
berwajib mengganti kerugian itu.
Pasal 522 KUHP :
Barang siapa yang menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, atau
ahli, atau juru bahasa, tidak datang secara melawn hukum, diancam
dengan pidana denda.
Peraturan pemerintah no. 10 tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia kedokteran
Pasal 1 :
Yang dimaksud rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh
orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan
pekerjaannya dalam lapangan kedokteran.
Pasal 2 :
Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang tersebut dalam
pasal 3, kecuali apabila suatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi
daripada peraturan pemerintah ini menentukan lain.
9

Pasal 3 :
Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 adalah :
a. Tenaga kesehatan menurut pasal 2 undang-undang tentang tenaga
kesehatan.
b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan,
pengobatan dan / atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh
menteri kesehatan.
Pasal 4 :
Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan rahasia kedokteran yang
tidak atau tidak dapat dipidana menurut pasal 322 atau pasal 122 kitab undangundang hukum pidana. Menteri kesehatan dapat melakukan tindakan
administrative berdasarkan pasal 11 undang-undang tentang tenaga kesehatan.
Pasal 5 :
Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan oleh mereka yang
disebut dalam pasal 3 huruf b, maka menteri kesehatan dapat menggambil
tindakan berdasarkan wewenang dan kebijaksanaanya.
Pasal 6 :
Dalam pelaksanaan peraturan ini menteri kesehatan dapat mendengar dewan
pelindung susila kedokteran dan/atau badan lain bila mana perlu.
Pasal 7 :
Peraturan ini dapat disebut peraturan pemerintah tentang wajib simpan rahasia
kedokteran.
Pasal 8 :
Peraturan ini mulai berlaku pada hari diundangkanya. Agar setiap orang dapat
mengetahuinya, memerintahkan pengundangan peraturan pemerintah ini dengan
penempatannya dalam lembaran Negara Republik Indonesia.

LO.3 Mampu memahami tentang sumpah dokter


LI 3.1 Memahami dan menjelaskan sumpah Hippocrates, sumpah Janewa,
dan sumpah kedokteran Indonesia
a.

Sumpah Hipokrates

Saya bersumpah demi Appolo sang penyembuh dan Asclepios, Segala


Kesembuhan, seluruh Dewa-Dewi, bahwa sesuai dengan kemampuan dan
penilaian,
Saya akan menaati sumpah dan perjanjian ini dengan menghormati orangorang yang mengajarkan Seni ini pada saya selayaknya orang tua saya, berbagi
pengetahuan dengannya, dan meringankan bebannya bila diperlukan; memandang
anak-anaknya seperti saudara-saudara saya sendiri, dan mengajarkan mereka Seni
10

ini, bila mereka ingin mempelajarinya, tanpa biaya atau imbalan, dan melalui
bimbingan, ceramah dan cara-cara pembelajaran yang lainnya, saya akan
mengajarkan pengetahuan Seni ini kepada anak-anak saya, dan anak-anak guru
saya dan kepada siswa-siswa yang terkait perjanjian atau sumpah sesuai dengan
hukum dunia kedokteran, namun tidak kepada pihak-pihak lain.
Saya akan menaati sistem prosedur kesehatan yang sesuai dengan
kemampuan dan penilaian saya, saya akan memperhatikan kepentingan pasien
saya, dan tidak akan melakukan hal-hal yang membahayakan baik secara langsung
maupun tidak langsung.
Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapa pun bila
diminta, atau tidak akan memberikan saran untuk itu; dalam bentuk apapun.
Saya tidak akan memberikan obat untuk melakukan aborsi kepada wanita,
dan dengan ketulusan dan kesucian, saya akan menjalani hidup saya dan
mempraktekkan Seni ini.
Saya tidak akan membedah orang tetapi akan memberikan hal ini
dikerjakan oleh orang yang dapat mengajarkannya. Di rumah mana pun yang saya
kunjungi, saya akan mendatanginya untuk kepentingan si sakit, dan akan
menjauhi tindakan pen yelewengan dan korupsi dengan sengaja; dan selanjutnya
menjauhkan diri dari rayuan wanita dan pria baik dari golongan orang merdeka
maupun budak.
Apa pun, yang berhubungan dengan praktek profesional atau tidak
berhubungan dengannya, yang saya lihat atau dengar selama saya hidup, yang
tidak boleh disebarluaskan, saya tidak akan menyebarluaskan hal-hal yang harus
dirahasiakan itu. Selama saya memegang teguh sumpah ini, semoga saya
dikarunia kebahagiaan hidup, dan praktek Seni ini dihormati oleh semua orang
selamanya. Tapi bila saya melanggar sumpah ini, semoga kebalikannya yang
terjadi pada saya.
b. Deklarasi Jenewa
Pada saat diterima sebagai anggota profesi kedokteran, saya bersumpah bahwa:
1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan
2. Saya akan menghormati dan berterima kasih kepada guru-guru saya
sebagaimana layaknya
3. Saya akan menjalankan tugas saya sesuai dengan hati nurani dengan cara yang
terhormat
4. Kesehatan pasien senantiasa akan saya utamakan
5. Saya akan merahasiakan segala rahasia yang saya ketahui bahkan sesudah
pasien meninggal dunia
6. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan
kedokteran
11

7. Teman sejawat saya akan saya perlakukan sebagai saudara-saudara saya


8. Dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien, saya tidak mengizinkan untuk
terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik
kepartaian, atau kependudukan sosial
9. Saya akan menghormati setiap hidup insane mulai dari saat pembuahan
10.Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran
saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hokum perikemanusiaan
11.Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan bebas, dengan
mempertaruhkan kehormatan diri saya.

c. Sumpah Kedokteran Indonesia


Demi Allah saya bersumpah/berjanji, bahwa:
1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan
2. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga dan tradisi luhur jabatan
kedokteran
3. Saya akan menjalanlan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila,
sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai seorang dokter
4. Saya akan menjalankan tugas saya dengan mengutamakan kepentingan
masyarakat
5. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan
saya dan keilmuan saya sebagai dokter
6. Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu
yang bertentangan dengan perikemanusiaan sekalipun diancam
7. Saya akan menghormati setiap hidup insane mulai dari saat pembuahan
8. Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien
9. Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh
oleh pertimbangan keagamaan, kesukuan, perbedaan kelamin, politik
kepartaian atau kedudukan sosial dalam menunaikan kewajiban terhadap
pasien
10.Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan
terima kasih yang selayaknya
11.Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya sendiri ingin
diperlakukan
12. Saya akan menaati dan mengamalkan Kode Etika Kedokteran Indonesia
12

13.Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dengan mempertaruhkan


kehormatan diri saya
LO.4 Mampu menjelaskan tentang hubungan dokter pasien
LI 4.1 Memahami dan menjelaskan definisi hubungan dokter pasien
Hubungan dokter pasien adalah hubungan yang dilandasi dengan suatu
kepercayaan dimana seorang pasien harus menaruh kepercayaan kepada
dokternya. Pasien harus mengungkapkan keluhan yang dirasakannya.
LI 4.2 Memahami dan menjelaskan jenis-jenis hubungan dokter

pasien

Jenis-jenis hubungan dokter pasien yaitu :


a. Activity-Passivity
Disini dokter seolah-olah dapat sepenuhnya melaksanakan ilmunya tanpa campur
tangan pasien. Biasanya hubungan ini berlaku pada pasien yang keselamatan
jiwanya terancam tidak sadar, atau sedang menderita gangguan kejiwaan.
b. Guidance-Cooperation
Hubungan membimbing-kerjasama. Meskipun sakit, pasien tetap sadar dan
memiliki perasaan serta kemauan sendiri. Ia berusaha mencari pertolongan
pengobatan dan berssedia bekerjasama. Walupun dokter mengetahui lebih banyak,
ia tidak semata-mata menjalankan kekuasaan, namun mengharapkan kerjasama
pasien yang diwujudkan dengan menuruti nasihat atau anjuran dokter.
c. Mutual Participation
Pola ini berdasarkan pemikiran bahwa setiap manusia memiliki martabat dan hak
yang sama. Pasien secara sadar dan aktif berperan dalam pengobatan terhadap
dirinya. Hal ini tidak bisa diterapkan pada pasien dengan latar belakang
pendidikan dan sosial yang rendah, juga pada pasien dengan ganggua mental.
Berikut ini beberapa prinsip moral profesi yang mempengaruhi jenis
hubungan dokter pasien:
a. Beneficience
Prinsip ini berorientasi kepada kebaikan pasien.
Contoh kasus:
Seorang wanita terpotong tangannya sewaktu bekerja. Wanita tersebut
kemudian dilarikan ke IGD dan ditangani seorang dokter. Dokter memberitahukan
bahwa tendonnya terpotong, wanita tersebut tidak bersedia bila dilakukan
penjahitan pada tendonnya. Namun menginginkan tangannya sembuh. Kemudian
tendon dijahit tanpa ada kelainan. Wanita tersebut tidak menyadari bahwa dokter
sudah melakukan tindakan yang terbaik terhadap dirinya.
b. Non Maleficience
Prinsip ini berorientasi
keadaan pasien.

untuk tidak mencelakakan atau memperburuk

13

Contoh kasus:
Seorang mental illness dibawa ibunya ke rumah sakit jiwa. Dokter
kemudian memeriksa penyakit orang tersebut. Pasien menyatakan tidak bersedia
meminum obat-obat yang diresepkan kepadanya walaupun sudah diterangkan
dengan jelas mengenai maksud dan efek samping pemberian obat tersebut. Dokter
dan ibu pasien bersepakat untuk memberikan obat tersebut melalui makan .
c. Autonomy
Prinsip ini berorientasi untuk menghormati hak-hak pasien
Contoh kasus:
Seorang pria yang menderita penyakit jantung koroner berat menulis surat
wasiat kepada dokter pribadi yang merawatnya apabila ia berada dalam stadium
terminal penyakitnya, ia tidak bersedia untuk dilakukan RJP atau resusitasi
(DNR= Do Not Resusitation). Surat iotu diserahkan kepada dokternya dan
disimpan dalam rekam medis. Pada suatu hari pasien tersebut datang dalam
keadaan stadium terminal. Dokter tidak melakukan resusitasi dan membiarkan
pasien meninggal dengan tenang (letting die) sesuai dengan surat wasiat.
d. Justice
Prinsip ini berorientasi meniadakan diskriminasi kepada pasien
LI 4.3 Memahami dan menjelaskan komunikasi dokter pasien
Kurtz (1998) menyatakan bahwa komunikasi efektif justru tidak
memerlukan waktu lama. Tujuan dari komunikasi efektif antara dokter dengan
pasiennya adalah untuk mengarahkan proses penggalian riwayat penyakit lebih
akurat untuk dokter, lebih memberikan dukungan pada pasien dengan demikian
lebih efektif dan efisien bagi keduanya(Kurtz, 1998).
Dalam dunia kedokteran ada dua pendekatan komunikaasi yang digunakan :
a. Komunikasi berdasarkan kepentingan dokter dalam usaha menegakkan
diagnosis, termasuk penyelidikan dan penalaran.
b. Komunikasi berdasarkan apa yang dirasakan pasien tentang penyakitnya
secara individu merupakan pengalaman unik seperti
pendapat,
kehawatiran, harapan, serta yang menjadi pikiran pasien (Kurtz, 1998)

LI 4.4 Memahami dan menjelaskan hak dan kewajiban dokter dan pasien
Hak sebagai dokter adalah :
1. Melakukan praktik dokter setelah memperoleh Surat Izin Dokter (SID)
dan Surat Izin Praktik (SIP)
2. Memperoleh informasi yang benar dan lengkap dari pasien/keluarga
tentang penyakitnya
14

Informasi tentang penyakit terdahulu dan keluhan pasien yg sekarang


dideritanya, serta riwayat pengobatan sebelumnya sangat membantu
dokter untuk menegakkan diagnosis yang pasti. Setelah diperoleh
anamnesis, dokter berhak melanjutkan pemeriksaan dan pengobatan
walaupun untuk prosedur tertentu memerlukan Persetujuan Tindakan
Medik (PTM).
3. Bekerja sebagai standar profesi
Dalam upaya memelihara kesehatan pasien, seorang dokter berhak untuk
bekerja sesuai standar (ukuran) profesinya sehingga ia dipercaya dan
diyakini oleh masyarakat bahwa dokter bekerja secara profesional.
4. Menolak melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan etika,
hukum, agama, dan hati nuraninya
Hak ini dimiliki dokter untuk menjaga martabat profesinya. Dalam hal ini
berlaku Sa science et sa conscience, ya ilmu pengetahuan, dan ya hati
nurani.
5. Mengakhiri hubungan dengan seorang pasien jika menurut penilaiannya
kerja sama pasien dengannya tidak berguna lagi, kecuali dalam keadaan
gawat darurat
Dalam hubungan pasien dengan dokter haruslah saling harga menghargai
dan saling percaya mempercayai. Jika instruksi yang diberikan dokter,
misalnya untuk meminum obat berkali-kali tidak dipatuhi oleh pasien
dengan alasan lupa, tidak enak badan dan sebagainya sehingga jelas bagi
dokter bahwa pasien tersebut tidak kooperatif. Dengan demikian, dokter
mempunyai hak memutuskan hubungan dengan pasien tersebut.
6. Menolak pasien yang bukan bidang spesialisnya, kecuali dalam keadaan
darurat atau tidak ada dokter lain yang mampu menanganinya
7. Hak atas kebebasan pribadi (privacy) dokter
Pasien yang mengetahui kehidupan pribadi dokter, perlu menahan diri
untuk tidak menyebarluaskan hal-hal yang sangat bersifat pribadi dari
dokternya.
8. Ketenteraman bekerja
Seorang dokter memerlukan suasana tenteram agar dapat bekerja dengan
baik. Permintaan yang tidak wajar dan sering diajukan oleh
pasien/keluarganya, bahkan disertai tekanan psikis atau fisik, tidak akan
membantu dokter dalam memelihara keluhuran profesinya. Sebaliknya,
dokter akan bekerja dengan tenteram jika dokter sendiri memegang teguh
prinsip-prinsip ilmiah dan moral/etika profesi.
9. Mengeluarkan surat-surat keterangan dokter
Hampir setiap hari kepada dokter diminta surat keterangan tentang
kelahiran, kematian, kesehatan, sakit, dan sebagainya. Dokter berhak
15

menerbitkan surat-surat keterangan tersebut yang tentunya berlandaskan


kebenaran.
10. Menerima imbalan jasa
11. Menjadi anggota perhimpunan profesi
Dokter yang melakukan pekerjaan profesi perlu menggabungkan dirinya
dalam perkumpulan profesi atau perhimpunan seminat dengan tujuan
untuk meningkatkan iptek dan karya dalam bidang yang ditekuninya serta
menjalin keakraban antara sesama anggota.
12. Hak membela diri
Dalam hal menghadapi keluhan pasien yang merasa tidak puas
terhadapnya, atau dokter bermasalah, dokter mempunyai hak untuk
membela diri dalam lembaga tempat ia bekerja (misalnya rumah sakit),
dalam perkumpulan tempat ia menjadi anggota (misalnya IDI), atau di
pengadilan jika telah diajukan gugatan terhadapnya.

Kewajiban dokter yaitu :


1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien
2. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian
atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan
3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan
juga setelah pasien itu meninggal dunia
4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia
yakin pada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya
5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti pekembangan ilmu
kedokteran atau kedokteran gigi.
Hak Pasien yaitu :
1. Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya sendiri, dan hak untuk mati secara
wajar
2. Memperoleh pelayanan kedokteran yang manusiawi sesuai dengan standar
profesi kedokteran
3. Memperoleh penjelasan tentang diagnosis dan terapi dari dokter yang
mengobatinya
4. Menolak prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan, bahkan dapat
menarik diri dari kontak terapeutik
5. Memperoleh penjelasan tentang riset kedokteran yang akan diikutinya
6. Menolak atau menerima keikutsertaannya dalam riset kedokteran

16

7. Dirujuk kepada dokter spesialis kalau diperlukan, dan dikembalikan


kepada dokter yang merujuknya setelah selesai konsultasi atau pengobatan
untuk memperoleh perawatan atau tindak lanjut
8. Kerahasiaan dan rekam mediknya atas hal pribadi
9. Memperoleh penjelasan tentang peraturan rumah sakit
10. Berhubungan dengan keluarga, penasehat atau rohaniwan dan lain-lain
yang diperlukan selama perawatan dirumah sakit
11. Memperoleh tentang perincian biaya rawat inap, obat, pemeriksaan
laborratorium, pemeriksaan rontgen, ultrasonografi atau USG, CT-Scan,
magnetic resonanci imaging (MRI), dan sebagainya,(kalau dilakukan)
biaya kamar bedah, kamar bersalin, imbalan jasa dokter, dan lain-lainnya.
Kewajiban pasien yaitu :
1.
2.
3.
4.

Memeriksakan diri sedini mungkin pada dokter


Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang penyakinya
Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter
Menandatangani surat-surat PTM, surat jaminan dirawat di rumah
sakit, dan lain-lainnya
5. Yakin pada dokternya, dan yakin akan sembuh
6. Melunasi biaya perawatan dirumah sakit, biaya pemeriksaan dan
pengobatan serta honorarium dokter.

LO.5 Mampu memahami tentang membuka rahasia medik dalam sudut pandang
syariat islam
LI 5.1 Memahami dan menjelaskan dalil dan hadist membuka rahasia
medik
Q.S Al Maidah : 89

Artinya : Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang


tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan
sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah
memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu
berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau
17

memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang


demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah
kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan
jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukumNya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).
Menjaga rahasia medis temasuk kedalam salah satu sumpah dokter.
Sumpah dokter Indonesia diawali dengan Wallahi atau Demi Allah, maka
dokter tersebut telah besumpah menurut islam. Apabila ia melanggar sumpah
salah satu isi sumpah tersebut, ia diharuskan membayar kafarat sebagaimana
tertuang dalam surat Al Maidah ayat 89.
Macam-macam kafarat yaitu:
1.
2.
3.
4.

Memberi makan 10 orang miskin


Memberi pakaian 10 orang miskin
Memerdekakan hamba sahaya
Jika ia tidak sanggup memenuhi salah satu diatas, maka ia wajib berpuasa
selama tiga hari.

Q.S. An Nisa : 58

Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada


yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

18

Q.S Al Baqarah : 283

Artinya : Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai)
sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang[180] (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian
kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu
menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah
Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan
barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang
berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Q.S Al Ahzab : 72

Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi


dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan
mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.

19

Q.S Al Anfal : 27

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah


dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat
yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
Q.S Al Muminun : 8

Artinya : Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya)


dan janjinya.

Hadist yang berhubungan dengan rahasia medis


Hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi serta yang lainnya dari Abu Hurairah
r.a., Rasulullah saw. Memerintahkan :
"Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanat kepadamu dan
janganlah mengkhianati orang yang berbuat khianat terhadap dirimu."
Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Shalllahu Alaihi wa Sallam bersabda, Tanda
orang munafiq itu ada tiga, yaitu: apabila berbicara berdusta, apabila berjanji
menyalahi, dan apabila dipercaya, berkhianat. Dalam riwayat lain, Sekalipun
ia melakukan shaum, shalat dan mengaku sebagai seorang muslim.
Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam, bersabda, Orang
yang dimintai pendapat adalah orang yang memperoleh amanat. (HR.Tirmidzi).
Dari Jabur bin Abdillah r.a, dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam, beliau
bersabda: Apabila seseorang menceritakan suatu cerita, kemudian menengok (ke
kanan dan ke kiri), perkataan itu adalah amanat. (HR. Tirmidzi).

DAFTAR PUSTAKA
20

Amanah dalam Al-Quran dan Hadits.


http://btm3.wordpress.com/2007/08/10/amanah-dalam-al-quran-dan-hadits/
diakses Sabtu, 20.34 WIB
http://www.dudung.net/quran-online/indonesia/5 diakses 4 Oktober 2011 17.45
WIB
Kode Etik Kedokteran Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Indonesia.
http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/sehat/Kode-Etik-Kedokteran.pdf diakses Sabtu, 1
Oktober 2011 09.35 WIB
Konsil Kedokteran Indonesia. 2006. Jakarta
M. Jusuf,H. dan Amri,A. 2008. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan Edisi 4.
Medan: EGC.
Manual Rekam Medis. http://inamc.or.id/download/Manual%20Rekam
%20Medis.pdf diakses Sabtu, 1 Oktober 2011 09.32 WIB
Sumpah Hippocrates (Bapak Ilmu Kedokteran).
http://duniaveteriner.com/2009/12/sumpah-hippocrates-bapak-ilmu
kedokteran/print diakses 28 September 2011 19.43 WIB
Yunanto. 2009. Pertanggungjawaban Dokter Dalam Transaksi Terapeutik.
Semarang: Universitas Dipenogoro

21