Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

3. dll

SIGMOIDI :
Untuk gigi susu :

Rapid progresif Perrodontitis --> dominan anaerob


Kerusakannya hebat
Pada juvenile : plaque sudah tidak ada
Terutama gigi insisivus 1 dan molar 1
Tanda-tanda peradangan tidak ada
Setelah rontgen baru tulang kelihatan rusak
Pada rapid --> tanda-tanda peradangan (+)
Scheller : alat untuk membersihkan karang gigi
Pada kondisi yang sudah rusak sekali, selain
pembersihan plaque dan kalkulus schelling, perlu
dilakukan pembersihan jaringan rusak yang lebih
dalam.
Pada pocket 6 - 5 mm masih bisa dibersihkan
dengna kuret, dan membuat luka baru agar gusi
melekat.
Gigi tidak dapat dipertahankan bila sampai ke
ujung akar tidak ada lagi tulang yang menyangga.

Kanan
V
IV
V
IV

III
III

II
II

I
I

Kiri
I
II
I
II

III
III

IV
IV

V
V

RA
RB

dengan hurup Romawi


Misalnya :

I
V

Untuk gigi tetap


Misalnya :

Nomenklatur lain :
I
II
18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25
48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35
IV
VI
American System
16 15 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4
17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29
Jaringan penyangga gigi :
Jaringan yang menyokong gigi pada tempatnya :
- Pre ginggiva
- Atach ginggiva
- Muco ginggiva line
Gingivitis --> gusi meradang
Periodontitis --> kena lig. periodontium dan
merusak tulang
Pocket : pendalaman sukus gingiva yang patulogis
karena adanya kerusakan epitel attachment
Dapat sampai gusi maupun tulang
Penyebab utama penyakit perio adalah bakteri
yang terdapat pada plague
Plague dapat mudah mengeras karena adanya
calsium dalam saliva --> karang gigi
Kondisi-kondisi dalam mulut yang menunjang
terjadinya kerusakan, contoh : ditambal ketinggian
Karena kalau dibiarkan tekanan pada gigi tersebut
lebih besar sehingga tulang di bawah gigi akan
rusak oleh trauma mekanis. Bahkan kalau saraf
gigi putus --> dapat menjadi abses.
Kondisi sistemis dari pasien, misalnya DM
Penumpukan karang gigi hebat sekali
Pada kondisi gigi sehat, bakteri yang dominant
aerob.
Pada kondisi sakit --> anaerob
1. Kuman Porviro Monas Ginggivalis (Anaerob
yang paling patogen)
2. Adinobacilles

339 545 880 009 489 506 749 182

KELENJAR LIUR
25 Januari 2000

GANGGUAN FUNGSI SENDI RAHANG


(TEMPORO MANDIBULAR JUNCTION)

Kelenjar liur :
- Major saliva gland
- Minor salive gland

3 sistem pengunyahan :
- Gigi geligi dan jaringan penyangga
- Otot-otot mastikasi
- Sendi TMJ

Gangguan fungsi :
- Aptylalism
- Ptyalism (sialorrhea)

Gerak mastikasi
- Fungsi bicara
- Fungsi mengunyah
- Fungsi estetik

Aplyalism :
Produksi air liur menurun sehingga terjadi
xerostomia
Keadaan ini bisa :
- Temporer --> faktor psikis, obstruksi saluran
napas
- Permanen : tidak ada kelenjar air liur,
penyakit-penyakit sistemik seperti DM, post
menopause

Gerakan mandibula bisa berfungsi normal, otototot yang berperan :


- M. temporalis
- M. pterygoideus externum
- M. pterygoideus internum
- M. masseter
TMJ dibentuk oleh :
1. Discus articulare
2. Capsula articulare
3. Fossa articulare
4. Condylus mandibular

Gejala Klinik
- Rasa kering dalam mulut
- Atropi mukosa mulut
- Mukosa mulut pecah
- Sulit mengunyah / menelan

Kelainan sendi :

Therapy
- Estrogen
- Vitamin B kompleks
Peradangan (infeksi)
Oleh Thoma disebut : Sialodochitis
Archer disebu t: Sialodyctitis
Peradangan ini lebih sering dijumpai

Etiologi disfungsi :

Enukliasi : lapisan diambil dan


isi dibersihkan

Ranula terdapat di atas m. mylohyoideus. Kalau


sudah lebih dalam --> plunging Ranula (dibawah
m. mylohyoid)
Ada pembengkakan sub mandibula, konsistensi
lunak, biasanya Runula (Plunging Ranula)
Tumor kelenjar liur
Jinak : Pleomorfik adenoma / mixed tumor
Kalau pada pengangkatan pleomorfik adenoma
tidak bershi maka akan dapat berubah menjadi
malignant
Warthins
tumor
lymphomalosum

Pafilillary

Cyst.

ILMU PENYAKIT MULUT


26 Januari 2000

I. Etiologi dan Patogenesis


A. Mikroorganisme
- Bakteri : streptokokus, staphylococcus
- Virus : HSV, V3V
- Fungsi : candidiasis : c. albicans,
actinomycosis : actynomyces
B. Kondisi sistemik
- Penyakit darah
- STD (Sexual Transmitted Disease)
- Kelenjar saliva
- Kelainan imunologi
- Keganasan
- Defisiensi
C. Trauma
- Fisik, kimia, panas, radiasi
Menaruh analgesik (contoh Aspirin) di
tempelkan di gigi justru akan
membakar mukosa.
II. Klasifikasi klinik penyakit jaringan lunak
mulut
A. Lesi mukosa
- Lesi vesikulo - bulosa
- Lesi ulseratif
- Lesi putih
- Lesi merah biru
- Lesi pigmentasi jaringan oral - peri oral
B.

Ulseratif
Bulosa --> lebih sering

Penyakit Herediter

Host (sero (-))


Kontak I HSV
Infeksi primer (ginggivostomatitis
Primer)
Klinis / subklinis

Laten
Host (sero (+))

Herpetika

Infeksi sekunder
- Bibir
- Mulut
- Kulit
- Gusi

Reaktivasi
- Sinar UV
- Temperatur (dingin - panas)
- Stress
- Keadaan imunologi menurun

LESI VESIKULO BULOSA


1. Penyakit virus HSV, VZV, Measles
2. Kondisi yang berhubungan dengan kerusakan
imunologi
3. Penyakit herediter

Penyakit Virus
- Infeksi Herpes Simplex
- L. varicella - zoster
- Herpargina
- Measles

Cold sores
Fever blisters

LESI ULSERATIF
- Lesi reaktif
- Lesi bakteri : sifilis, GO, TB, MH,
aktinomikosis, NOMA
- Lesi jamur : dalam, subkutan, opportunitis
- Hubungan dengan disfungsi imunologik
- Neoplasma

Infeksi primer H. simplex biasa terjadi pada anakanak. Biasanya saat pergantian gigi, sehingga
anak malas menggosok gigi. Apalagi apabila anak
tersebut sakit (flu misalnya) sehingga daya tahan
tubuh menurun, maka mudah HSV masuk.
Biasanya didahulu oleh varicella terlebih dahulu,
dan HSV dorman di ganglion kemudian setelah
bertahun-tahun muncul apabila imun menurun.

Disfungsi Imunologik
- Ulserasi afle --> sariawan
- Sindroma Behcet --> perkembangan dari afle
- Eritroma multiforme
- LE
- Reaksi obat
- Alergi kontak
- Wegeners granulomatosis
- Cydic netropenia

Hubungan dengan kerusakan imunologi


- Pemfigus vulgaris
Memp. erupsi pada kulit. Karena mukosa
mulut lebih sensitif maka timbul lesi di
mukosa mulut akan lebih cepat. Timbul bulae
di gusi yang ternyata bulae sudah ruptur d/
pemfigus
- Pemfigoid :

Selain mulut, juga genital, kulit (siku, dengkul),


konjungtivitis

339 545 880 009 489 506 749 182

E. multiforme karena defisiensi imun kompleks


karena mudah makan obat, misalnya sulfa,
analgesik

Afle : bulat, dangkal, dikelilingi eritemaotus


(gambaran pertahanan tubuh)
Khas : rasa sakit karena penyakit tersering adlaah
trauma yang menyebabkan mukosa robek.

Mayor afte : lesi lebih besar, sembuh lebih lama


dan meninggalkan jaringan parut.
KGB membesar + demam, pengobatan : steroid
Neoplasma
- Squamous cell ca
- Ca sinus maxillaris

Mucosal burn
- Mukosa terbakar karena orang menaruh
obat di mukosa
- Pada op. kpl ditaruh alkohol konsentrasi
tinggi, betadine
- Makanan panas
Submucosa fibrosa
Gambaran fibrotik di submukosa
Granula forgyce
Kista ginggiva
Parulis
Lipoma

LESI MERAH - BIRU


- Lesi interavaskular fokal
- Hemangioma --> lesi developmental (pada
waktu lahir anak sudah mempunyai
gambaran neoplastik ini merupakan
benign)
- Median Rhamboid Glositis --> reaktif lesi
di lidah, jamur
- Eritroplakia, kaposi sarkoma --> neoplasma
- Lidah geografi, psoriasis --> etiologi tidak
diketahui
- Lesi intravaskular difuse
- Defisiensi vitamin .....
- Anemia pernissiosa
- Defisiensi Fe
- Sindroma mulut terbakar
--> kondisi metabolik endokrin
--> pada mulut semuanya merah, dorsum lidah
menjadi licin karena ada atrofi dari papil
lidah. Ketika makan, sel-sel banyak yang
lepas.
Pada sindroma mulut terbakar --> mulut
perih dan nyeri tatkala makan
- Scarlet fever
Candidiasis atrofik
--> kondisi infectious
- Plasma sel ginggivitis

Keganasan tumbuh eksofilik kalau terasda sakit


bukan primer, tetapi karena ada penekanan ke
jaringan sehat. Kalau dipalpasi --> ada massa
LESI PUTIH
- Kondisi herediter : leuko edema (pada mukosa
pipi), white sponge nevus (lebih tebal)
- Lesi reaktif : hiperkeratosis fokal (contoh
pemakaian protesa berkawat) atau pada orang
ompong, di atas / bawahnya belum dicabut.
Lama-lama gigi atau turun sampai-sampai
menyentuh gusi dibawahnya. Gusi kemudian
menjadi lebih putih karena rangsangan
hiperkeratotik.
Smokeless tobacco : tembakau dihisap /
dikunyah. Pada akhirnya daerah tempat
mengunyah tobako maka akan menjadi putih.
Kalau diobati + kontrol kemudian tidak
sembuh-sembuh maka harus dibiopsi.
Nikotin stomatitis : pada perokok (terutama
smokers) panas, asap + nikotin merangsang
mukosa untuk hiperkeratotik. Biasany yang
paling duluan : palatum
Solar cheilitis : pada bibir ada radang karena
sinar matahari.
- Lesi putih lain :
- Idiopatik leukoplakia : merupakan lesi
putih yang tidak dapat digolongkan lesi
putih lain
- Hairy leukoplakia : menyerupai rambut,
letaknya di lihda. Papila feliformis
memanjang dan berwarna putih oleh
karena EBV, merupakan bagian dari
diagnosis AIDS (Pre AIDS syndrome)
- Lieken planus berkembang menjadi
Wiegham striae.
- Geongrafik tonge : gambaran lidah seperti
kereta oleh karena adanya lesi putih dan
lesi merah.
- Lesi putih oleh karena dentrifice :
disebabkan alat / bahan pembersih gigi,
misalnya alergi pasta gigi.
- Lesi putih - kuning non epitelial
- Candidiasis : bisa karena adanya jamur

PIGMENTASI JARINGAN ORAL - PERI ORAL


- Lesi jinak dengan asal melanosit
- Fisiologik
- Melanosis oleh karena merokok
- Makula oral melanotik : karena pemakaian
obat-obatan
- Neoplasma
- Nevus
- Melanoma
- Deposit eksogen
- Amalgam tatto
- Logam berat
- Minocyclin
Ada gambaran pigmentasi di mukosa mulut yang
datangnya dari luar
Amalgam tatto : misalnya pada penambalan,
amalgam masuk sulcus yang ada (luka) kemudian
diam di situ

Pada saat ekstrasi gigi, ada tambalan, ....... dan


masuk luka cabutan gigi

KISTA
27 Januari 2000

Logam berat : biasanya tukang las.


Ada gambaran garis-garis hitam

KRAMER, 1974
Kista adalah rongga patologis yang berisi cairan,
semi cairan, ataupun seperti gas dan tidak
dibentuk oleh pengumpulan nanah, sering dibatasi
oleh epitel tetapi tidak selalu.

Pada penyakit Addison, MSH meningkat sehingga


melanosit sangat tinggi
-

Klasifikasi
- Kista rahang
- Kista yang berhubungan dengan antrum
maxillari
- Kista pada jaringan lunak mulut, muka dan
leher

Pembengkakan gusi
Focal :
- Granuloma
- Fibroma
- Exostosis
- Kista
- Epulis
Hiperplasia luas : dilantin, hormon, leukemia

KISTA RAHANG
1. Epitel
2. Tidak berepitel

Dasar mulut
- Ranula
- Kista dermoid
- Tumor kelenjar saliva
Bibir - mukosa bukal
- Bibir atas : tumor, kista
- Bibir bawah : fibroma, mucocele
- Mukosa bukal : fibroma, tumor, neoplasma
- Hifeolipin --> gusi bengkak luas
Palatum :
- Tumor
- Torus : tonjolan tulang

ad. 1.
Epitel
a. Non odontogenik
- Kista radikular
- Kista residual
- Kista folateral peradangan
- Kista paradental
b. Odontogenik
- Peradangan
- Perkembangan
- Kista yang terjadi pada waktu mau
tumbuh gigi / tidak menjadi gigi tetapi
kista
- Kista primordial
- Kista gingival pada bayi dan dewasa
- perodontal lateralis
- Dentrigerous / folikular
- Erupsi
- Odontogenik berkalsifikasi

C. Sign - Symptom
- Symptom
- Type of onset
- Duration
- Distribution of lession
- Clinical course
- Exogenous modifiers
- Systemic involvement
III. Terapi
Tujuan :
- Menurunkan inflamasi
- (-) sakit dan discomford
- Mempercepat penyembuhan

ad. 2
Non epitel
a. Kista tulang sederhana
(Kista tulang hemoragik soliter traumatik)
b. Kista tulang aneurisma
(bedah mulut)
-

Jenis obat :
- Antibiotik
- Imunomodulator
- Antimikrobiasis
- Supplement dietary
Simptomatik :
- Analgesik
- Anestetikum lokal
Prevensi :
- Antiseptikum

Kista yang berhubungan dengan antrum amxillare


- Kista mukosa benigna pada antrum maxilare
- Kista bedah bersilia pada maxilla

Klorhexidin glukonat 0,2% (antiseptik)

Kista yang pada jaringan lunak mulut, muka dan


leher

339 545 880 009 489 506 749 182

Kista dermoid dan epidermoid


Kista celah brankialis (limfo - epitel)
Kista ductus thyroglosus
Kista lingualis mediana anterior
Kista mulut dengan epitel lambung atau usus
Higroma kistik
Kista glandula salivaria
Kista parasit (hidatid)
Cysticercus cellulosae

Treatment
- Enucleation
Pengeluaran kista dengan mengerok semua
kista, baik cairan maupun dinding-dindingnya
- Marsupialisation
Cairan kista dikeluarkan, tetapi dinding kista
diharapkan mati karena berhubungan dengan
dunia luar
Contoh Ranula dimarsupialisasi
Cairan diambil, kemudian tempat insisi dimasuki
kassa membentuk bulatan, kemudian tepinya
dijahit dengan daerah sekitarnya. Hati-hati paplica
dekat muara kelenjar liur. Dinding bagian luar
digunting sehingga dasar bola menjadi jaringan
dasar mulut yang berhubungan dengan dunia luar.
Klasifikasi kista odontogenik (menurut WHO
1992)
- Developmental
- Dentigerous (fetricular cyst)
- Eruption cyst (erruption hematoma)
- Odontogenic ceratocyst
- Gingival cyst of newborn
- Gingival cyst of the adult
- Lateral periodental cyst
- Calcifying odontogenic cyst
- Glandular odontogenic cyst
- Imflammatory
- Radicular
- Residual - radikular cyst
- Paradental cyst
Developmental cyst
Merupakan suatu pertumbuhan yang lain akibat
pertautan yang tidak sempurna menjadi kista.
- Globula maxilary cyst, antara premaxilla
dengan nasal di daerah insisi
- Palatal cyst of newborn (eipstein pearls, bohns
nodules)
- Nasolabial cyst (nasoalveolar cyst)
- Nasopalatine duct syst (insisive canal syst)
- Median palatine cyst

NEOPLASMA

Predisposisi faktor :
- Herediter
- Kemikal
- Virus
- Thermis
- Sifilis
- Radiasi
- Mekanikal
- Malnutrisi
- Alkohol
- Rokok
- Emis

A. Jinak / benign
Epulis, fibroma, ameloblastoma, hemangioma,
lipoma, papiloma
B. Ganas / maligna
Fibrosarkoma, osteosarkoma
Perbedaan
Jinak / benigna
Padat
Berkapsul
Tumbuh lambat
Tidak bermetastasis
Tidak residif
Tidak fatal
Ekspansif

Ganas / maligna
Padat
Tidak berkapsul
Tumbuh cepat
Metastasis
Residif
Fatal
Infiltratif

Penegakkan diagnosa
1. Anamnesa
2. Klinik :
- Inspeksi
- Palpasi
- Functie aspirasi
3. Radiologis
- PA
- AP
- Lateral
- Panoramic
4. Patologi anatomik
- Eksisi biopsi --> massa diambil seluruhnya
--> biopsi
- Insisi --> massa diambil sebagian (sebagian
jaringan tumor, sebagian jaringan sehat)
--> biopsi

KLASIFIKASI TUMOR ODONTOGENIK WHO,


1992
-

Tumor
odontogenik
epitelium
tanpa
odontogenik ektomesenkim
1. Ameloblastoma
(multi,
uni
cystic,
peripheral)
2. Calcifying epithelial O.T. / tumor Pinborg
3. Squamous O.T.
4. Clear cell odontogenic Ca
Tumor
odontogenik
epitelium
dengan
odontogenik ektomesenkim dengan atau tanpa
formasi jaringan keras gigi
1. Ameloblastoma fibroma
2. Ameloblastik fibro - odontoma
3. Ameloblastik fibrosarkom
4. Adenomatoid odontogenik
5. Odonto ameloblastoma
6. Complex odontoma
7. Compound odontoma
Tumor odontogenik epithelial dengan atau
tanpa termasuk odontogenik epithelium
1. Fibroma
- Peripheral
- Odontogenidc
- Glanular cell
2. Myxoma
- Osteogenic
- Odontogenic
3. Cementoblastoma (true cementoma)

TUMOR JINAK / BENIGNA


Tidak ganas, tidak recurent, favourable for
recovery
Mikroskopis dan makroskopis :
1. Inti : perubahan DNA
2. Bentuk inti sel : lebih besar karena siap untuk
membelah
3. Protoplasma : hiperkromatosis (pengecatan)
4. Perubahan RNA
5. Mempengaruhi permeabilitas dinding sel
menjadi tinggi
6. Daya ikat menjadi kurang sehingga mudah
lepas, sifat menguntungkan yang dipakai untuk
obat yang diberikan yaitu obat sitostatik
7. Bentuk sel tidak sama dengan asalnya
8. Sedikit stroma - banyak sel
9. Metastase (karena kohesi kurang antar sel dan
banyak pbd)
10. Dasarnya lebih besar (secara klinik) --> tonjol
dari dasar
11. Ada jaringan nekrotik, ulkus dan bau
12. Banyak pbd
13. Tidak bisa digerakkan dari dasarnya (karena
pertumbuhan dari dasar ke atas)

TUMOR
Definisi
Pertumbuhan baru dari jaringan yang :
- Tidak normal
- Bertambah besar
- Terus menerus
- Tidak terkontrol
- Tidak anatomis
- Tidak fisiologis

Macam-macamnya :
1. Epulis fibromatosa
- Warna sama dengan jaringan sekitarnya
- Bisa bertangkai / tidak

Etiologi :
Tidak diketahui

339 545 880 009 489 506 749 182

- Tidak mudah berdarah


- PA fibroblast sel fibrosit
2. Epul gravidarum / granulomatosa
- Warna lebih merah dari jaringan sekitarnya
- Bertangkai
- Lebih mudah berdarah
- PA : banyak terdapat pbd
- Banyak
disebabkan
oleh
hormonal
imbalance
- Sering gigi goyang
- Sering pada orang hamil
- Kontra indikasi untuk pembedahan (dapat
menyebabkan keguguran)
3. Epulis gigantoseluler
- Berbenjol-benjol seperti bunga kol, ukuran
besar
- Makroskopis / klinis : miripd engan epulis
fibromatosa
- Ciri-ciri : keabu-abuan, berbenjol-benjol
- PA : ada sel-sel raksasa (giant cell) secara
pintas seperti keganasan

Jaringan keras --> kepatahan (fractures)

Trauma benda tumpul / tajam


- Luka terbuka / tertutup
- Patah tulang terbuka / tertutup
Macam luka :
- Vulnus scissum : luka sayat (benda tajam)
- Vulnus cuntusum : luka benda tumpul
- Vulnus mossum : gigitan
Pengertian fraktur secara umum adalah suatu
keadaan dimana kontinuitas tulang terputus
sebagian ataupun keseluruhna.
- Dapat terjadi pada semua tulang termasuk
tulang rahang
- Yang dimaksud .................
Yang paling sering pada rahang : compound open
fracture
Greenstick fracture : retak / rengat, biasa pada
tulang muda (anak-anak)

THERAPY
1. Eksisi / ekstirpasi : wide surgical excission
2. Cauterisasi jaringan
- Stop perdarahan
- Membunuh kuman
- Mematikan sel-sel tumor
3. Sinar laser, kemungkinan efek samping

Pembagian :
1/3 bawah : mandibula dengan gigi-giginya
1/3 tengah : bagian muka, oleh karena ia fondasi
dari gigi-gigi yang diatas
1/3 atas : otak (di luar bdg gigi)

TUMOR GANAS
Berasal dari :
Epitel / ektoderm
- Jika berasal dari epitel ektoderm --> caranoma
- Jika berasal dari mesoderm --> sarcoma

ABC :
A (Airway obstruction)
B (Breathing)
C (Circulation)
A. Airway Obstruction
1. Tersumbatnya jalan nafas pada hidung dan
mulut disebabkan adanya bekuan darah,
muntahan, air ludah, patahan tulang, gigi dan
gigi tiruan
2. Tertutupnya nasopharynx dan oropharynx ec.
jatuh ke belakangnya lidah dan perlekatannya
pada patahan symphyscal tulang mandibula
3. Tertutupnya oronasopharynx ec. jatuh ke
belakangnya perpindahan patahan tulang
mandibula

Lokasi :
Bibir, lidah, dasar mulut, pipi
Gambaran oral malignant neoplasma
1. Kronik ulcer tanpa batas yang jelas
2. Pembengkakan tanpa batas yang jelas, tanpa
kemerahan (seperti radang)
3. Cepat dan tidak terduga, goyang gigi, destruksi
tulang, fraktur tulang rahang tidak terduga
oleh karena trauma kecil
4. Tanda-tanda infilitrasi -- organ jauh dari
penyebab keterbatasan gerak orang tersebut
5. Terlibatnya saraf terdekat : pain, anestesia atau
paralisa
6. Terlibatnya tanda-tanda duktus salivatorius /
obstruksi
7. Perdarahan ringan berulang-ulang

Secara khusus :
1. Fraktur maxilla
2. Fraktur mandibula
1. Fraktur maxilla
- Dental fraktur
- Dento alveolar fraktur
- Nasal fraktur
- Zygomatic fraktur
- Le Fort I
- Le Fort II
- Le Fort III
3. Fraktur mandibula
- Dental fraktur

TRAUMA ORO - MAXILLO FACIAL


Trauma - ruda paksa - (external forces)
- Jaringan lunak --> luka (vulnus)

Dento alveolar fraktur


Symphisis fraktur
Corpus fraktur
Angulus fraktur
Ramus fraktur
Condyle fraktur

Rontenographic examination
A. Lateral (oblique) foto (views) mandibula
(eisler) pada :
- Ramus mandibula
- Angulus mandibula
- Body mandibula s/d foramen mentalis
B. PA (Posterior - Anterior) Foto mandibula
- Daerah symphisis, dll
C. Intra oral occlusal foto
D. PA foto (Towne Projections)
E. PA (Waters photo)
F. Schuller foto (TMJ Foto)
G. Panoramic foto
H. Dental

Paling sering : neck condylus fraktur


Paling jarang : coronoid fraktur karena terlindung
Gejala klinis :
1. Artikulasi gigi geligi
Oklusi gigi bergerak pada saat mengunyah
2. Abnormal movement
Fragment fraktur :
- Bergerak sendiri
- Manipulasi
3. Krepitasi
Grating noises :
- Suara bergeretak
- Berbicara
- Pengunyahan
- Penelanan
- Dengan manipulasi
4. Tidak dapat mengunyah makanan
5. Sakit / nyeri pada waktu rahang berfungsi
6. Maloklusi
7. Asymetri muka
8. Pembengkakan / perubahan warna
9. Ecchymosis (sakit sekitar mata / orbita cavity)
10. Bibir paresthesia

Prinsip Perawatan Fraktur Tulang Rahang


1. Reposisi / reduksi
2. Fiksasi / imobilisasi rahang atas +- 4 minggu
Fiksasi / imobilisasi rahang batah +- 6 minggu
3. Kontrol infeksi
4. Nutrisi selama periode fiksasi
Etiologi trauma oro maxillo facial :
- Kecelakaan lalu lintas
- Trauma tumpul
- Luka tembak
- Kecelakaan kerja
- Olah raga, dll
Komplikasi :
- Osteomyelitis

Pada fraktur undisplace tidak terlihat maloklusi


pada open bite. Sebaliknya pada yang displaced.
Fungsi stomatognatik (pengunyahan) normal
terjadi pada oklusi normal.
Pada therapy maloklusi dibuat oklusi normal.
Bagaimana mendeteksi patah tulang rahang ?
DIAGNOSA
1. Riwayat penyakit / kelainan
Anamnesa (Auto / hetero anamnesa)
A. Sebab-sebab
Pembengkakan
(Trauma, infeksi, trauma + infeksi,
neoplasma, dll)
B. Arah trauma - dugaan letak fracture
C. Waktu kejadian
- Baru terjadi
- Sudah beberapa jam yang lalu (> 8 jam)
- Sudah lama terjadi
- Infeksi
- Penyembuhan (malunion)
D. Kesadaran penderita
- Sadar / tidak
- Muntah / tidak
Comm. cerebri
Cont. cerebri

339 545 880 009 489 506 749 182

INFEKSI REGIO MAXILLO FASIAL


-

1. Akarnya panjang, selain fokus locus


minoris resistensi juga karena jaraknya
pendek.
Etiologi : umumnya gigi-gigi bawah positif
Gejala-gejala klinik :
Umum : kulema, demam
Ekstra oral :
- Trismus sedang
- Pembengkakan regio sub mandibula -->
konsistensi lunak

Infeksi pada regio tersebut daripada prinsipnya


sama dengan infeksi pada daerah-daerah lain.

Beda :
Penyebabnya :
- Berasal dari gigi
- Infeksi
pada
daerah
tersebut
dapat
mengganggu airway (respiratory tract) -->
Letaknya

Palpasi dan nyeri tekan : (+)


Intra oral : gigi penyebab dalam keadaan
periodontitis

Beberapa faktor yang mempengaruh penyebaran


infeksi maxillo fasial :
- Virulensi dan jumlah kuman
- Daya tahan tubuh --> umum
lokal
- Faktor-faktor anatomis
- Origo dan insertio otot-otot pada tulang
rahang (A dan B)
- Adanya beberapa potensial space di daerah
maksilo fasial
- (Sub mandibula space,sub mental, sub
lingual buccal space, sub masseter space,
dll)
- Potensial
space
merupakan
tempat
berkumpulnya pus / abses
Misalnya. submandibular space --> sub
mandibular abses
Bucal space --> bucal abses

Therapy :
- Antibiotika dan analgetika
- Insisi bila fluktuasi sudah (+) --> ekstrasi
gigi penyebab
2. Sub lingual abcess
Klinis :
- Pembengkakan daerah sublingual
- Lidah terangkat
- Ekstra oral pembengkakan
- Pada sublingual abses --> biasanya perlu
insisi --> kumur-kumur oral antiseptik.
Abses akan pecah karena mukosa tipis
--> perawatan --> ekstrasi gigi penyebab
3. Sub mental abcess :
- Pembengkakan pada daerah submental,
hyperemis
- Palpasi dan nyeri tekan (+)
- Trismus (+/-)

PATOGENESIS
M1 caries --> gangiena pulpa --> perodontitis -->
dento alveolar abses --> sumber penjalaran infeksi
regio fasial (dentogen)
- Dento alveolar abses --> penjalaran
- Dalam tulang rahang dapat ke arah lingual
(A), di atas perlekatan m. mylohyoid
(sublingual abses) (B) di bawah m. mylohyoid
(submanol, submental abses)

Therapy :
Antibiotik dan analgetika --> insisi bila
fluktuasi --> perawatan / ekstrasi gigi
penyebab
Extra oral :
- Pembengkakan pada daerah submandibula,
sub mentalis --> keras seperti papan, warna
merah kecoklatan
- Batas-batas tidak jelas
- Palpasi dan nyeri tekan (+)

Skema penyebaran infeksi odontogenic (M1) :

Intra oral :
- Trismus sedang
- Lidah terangkat --> dapat menutupi airway
- Gigi penyebab periodontitis berat

Pada rahang atas, ada sinus maxillaris. Bisa gigi


terinfeksi, karena sinusitis maxillaris yang kronis.

Terapi :
- Antibiotik dosis tinggi
- Perbaiki keadaan umum --> posisi tidur
semi redining
- Insisi bila keadaan memungkinkan
(submental, sublingual, sumbandibula)
trough dan trough
- Perawatan gigi penyebab --> ekstrasi

Yang suda ke arah A belum tentu tidak dapat


menyebar ke daerah B.
Beberapa abses regio maxilo fasial dan
penalataksanaan :
1. Submandibular abses
Dapat bilateral atau unilateral
Paling sering M1, karena :

10

--> kematian karena sepsis dan respiratory


distress karena gangguan airway
4. Angina Ludwig :
Infeksi menyebar mengelilingi sub mandibula
sub mental dan sublingual space.
Klinis :
- Keadaan umum lemah
- Demam
- Kesukaran membuka mulut
- Trismus
5. Submasseteric abcess
(Biasanya oleh M3) impacted
Gejala :
- Keadaan umum lemah
- Demam
- Rasa sakit yang hebat (karena penekanan
pada ramus)
Ekstra oral :
- Trismus berat
- Pembengkakan tidak nyata
Intra oral :
- M3 impacted --> pericoronal impected
Terapi :
- Latihan buka-tutup mulut (karena trismus)
- Odontoctomy M3 penyebab
6. Focus infection / focal infection
Definisi :
Infeksi pada suatu tempat yang menyebabkan
sakit / infeksi di tempat lain yang jauh
letaknya dari sumber infeksi.
Di rongga mulut :
Semua infeksi kronis di rongga mulut dapat
merupakan fokus infeksi.
Misalnya : gangreng pulpa, gangreng radix,
periodontitis kronis, ginggivitis kronis,
periodontitis kronik.
Berhubungan dengan penyakit-penyakit lain
--> kelainan jantung, ginjal, penderitapenderita yang akan mendapat therapy radiasi
dan sitostatika, chemoterapy, dll.

11

339 545 880 009 489 506 749 182

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN


GIGI

IV. Atrisi
Pengurangan lapisan gigi dimulai segera
setelah gigi mencapai oklusi
V. Resorbsi akar
Dihubungkan dengan pertumbuhan gigi tetap
pengganti gigi sulung --> merangsang
aktivitas osteoclast.

Tahap perkembangan gigi :


- Pertumbuhan
- Kalsifikasi
- Atrisi
- Resorbsi akar + ekfoliasi (untuk gigi)

Ekspoliasi :
Goyahnya kedudukan GS dalam tulang alv. -->
karena proses resorpsi akar gigi sulung

Asal gigi :
Sel ektoderm dan mesoderm
Fungsi sel ektodermal :
--> akan lenyap setelah menjalankan fungsi :
1. Membentuk enamel
2. Merangsang terbentuknya odontoblast
3. Determinasi bentuk mahkota akar

ERUPSI GIGI SULUNG (Bulan)


I
I

II
II

7,5
6

Fungsi sel mesodermal :


--> tetap terus dalam kehidupan gigi :
Membentuk :
- Dentin
- Jaringan pulpa
- Sementum
- Period. membr.
- Tulang alv.

III
III

IV
IV

V
V

18
16

14
12

24
20

9
7

ERUPSI GIGI TETAP (Tahun)


6
6
6-7
6-7

I. Pertumbuhan
+- minggu ke IV - VI I.U.
A. Inisiasi (Bud stage / tunas)
Permulaan pembentukan tunas gigi dari
sel-sel lapisan basal oral epithelium -->
terjadi proliferasi sel --> penebalan sel
ektoderm
B. Proliferasi (Ap Stage / topi)
Minggu ke 6 - 10 I.U.
Terjadi proliferasi sel mesoderm di struktur
sel ektoderm --> terjadi invaginasi ke arah
sel ektoderm.
Dental lamina :
Setiap lengkung tapal kuda terdapat 10
benih gigi sulung.
C. Histodiferensiasi (Bell stage)
- Perubahan bentuk
- Inner epithelium --> ameloblast
- Outher epithelium --> odontoblast
- Pembentukan tunas gigi tetap sebelum
lingual
D. Morphodiferensiasi :
Mendisain ukuran + bentuk mahkota +
akar gigi
E. Aposisi
Peletakan matrix enamel dan dentin
II. Kalsifikasi
Mineralisasi : pengerasan matrix
Segera setelah aposisi --> presipitasi garam
kalsium
Maturasi : segera setelah mineralisasi dan
berlangsung setelah gigi erupsi.
III. Erupsi
Migrasi gigi ke dalam rongga mulut

1
1

2
2
7-8
6-7

4
3
8-9
7-8

3
4

5
5

10 - 11
9 - 10

7
7
11 - 12
10 - 12

10 - 12
11 - 12

12 - 13
11 - 13

Gigi sulung :
1. Mulai kalsifikasi : 4 - 6 bulan I.U.
2. Erupsi : 6 - 24 bulan
3. Akar terbentuk sempurna : +- 1 tahun setelah
erupsi
4. Tanggal / lepas : 6 - 11 tahun

12