Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi tidak dapat segera bernafas secara
spontan dan teratur segera setelah lahir. Asfiksia adalah salah satu penyebab mortalitas dan
morbiditas bayi baru lahir dan akan membawa berbagai dampak pada periode neonatal.
Menurut National Center For Health Statistics (NCHS), pada tahun 2002, asfiksia
menyebabkan 14 kematian per 100.000 kelahiran hidup di Amerika Serikat. Di dunia, lebih
dari 1 juta bayi mati karena komplikasi asfiksia neonatorum.
Asfiksia neonatorum adalah kegawatdaruratan bayi baru lahir berupa depresi
pernapasan yang berlanjut sehingga menimbulkan berbagai komplikasi. Oleh sebab itu,
asfiksia memerlukan intervensi dan resusitasi segera untuk meminimalkan mortalitas dan
morbiditas. Survei atas 127 institusi pada 16 negara, baik negara maju ataupun berkembang
menunjukkan bahwa sarana resusitasi dasar seringkali tidak tersedia, dan tenaga kesehatan
kurang terampil dalam resusitasi bayi.
Asfiksia akan menyebabkan keadaan hipoksia dan iskemik pada bayi. Hal ini
berakibat kerusakan pada beberapa jaringan dan organ tubuh. Dari beberapa penelitian yang
dilaporkan oleh Mohan(2000) bahwa kerusakan organ ini sebagaian besar terjadi pada
ginjal(50%), sistem syaraf pusat(28%), sistem kardiovaskuler(25%), dan paru (23%).
Di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan 4 juta bayi meninggal pada tahun pertama
kehidupannya dan dua pertiganya meninggal pada bulan pertama. Dua pertiga dari yang
meninggal pada bulan pertama meninggal pada minggu pertama. Dua pertiga dari yang
meninggal pada minggu pertama, meninggal pada hari pertama. Penyebab utama kematian
pada minggu pertama kehidupan adalah komplikasi kehamilan dan persalinan seperti
1

asfiksia, sepsis dan komplikasi berat lahir rendah. Kurang lebih 99% kematian ini terjadi di
negara berkembang dan sebagian besar kematian ini dapat dicegah dengan pengenalan dini
dan pengobatan yang tepat.
Asfiksia bayi baru lahir dapat dihubungkan dengan beberapa keadaan kehamilan dan
kelahiran. Bayi tersebut dalam keadaan resiko tinggi dan ibu dalam keadaan hamil resiko
tinggi. Pada umur kahamilan 30 minggu, paru janin sudah menunjukan pematangan baik
secara anatomis maupun fungsional, walaupun demikian janin tidak melakukan pergerakan
pernapasan kecuali jika ada gangguan yang dapat menimbulkan hipoksia /anoksia. Pada
keadaan asfiksia bayi mengalami kekurangan O2 dan kelebihan CO2 yang dapat
mengakibatkan asidosis. Keadaan inilah yang menjadi penyebab kegagalan dalam
beradaptasi dan sering berlanjut menjadi sindrom gangguan pernapasan dan pada hari- hari
pertama kelahiran. Insidensi pada bayi premature kulit putih lebih tinggi daripada bayi kulit
hitam dan lebih sering pada bayi laki- laki daripada perempuan (Nelson, 2005).
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mampu menerapkan asuhan keperawatan klien dengan asfiksia neonaturum
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian secara langsung pada klien asfiksia neonaturum
b. Dapat merumuskan masalah dan membuat diagnosa keperawatan pada klien asfiksia
neonaturum.
c. Dapat membuat perencanaan pada klien asfiksia neonaturum.
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan dan mampu mengevaluasi tindakan
yang telah dilakukan pada klien asfiksia neonaturum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS
1. Pengertian
Asfiksia merupakan suatu keadaan dimana bayi tidak dapat bernapas secara
spontan dan teratur segera setelah lahir, keadaan tersebut dapat disertai dengan adanya
hipoksia, hiperkapnea dan sampai ke asidosis (Hidayat, 2005).
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara
spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan
mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan
kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan
bayi selama atau sesudah persalinan (Asuhan Persalinan Normal, 2007).
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas scr
spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan
hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan,
atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila
penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada
bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala
lanjut yang mungkin timbul. (Prawirohardjo: 2008).
2. Etiologi
Paru-paru neonatus mengalami pengembangan pada menit-menit pertama
kelahiran dan kemudian disusul dengan pernapasan teratur, namun bila terjadi gangguan
pertukaran gas atau angkutan oksigen dari ibu ke janin akan memicu terjadinya asfiksia
janin atau neonatus. Gangguan tersebut dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan,
atau segera setelah lahir. Towell (1966) dalam Ilyas (1994), menggolongkan penyebab
kegagalan pernapasan pada bayi asfiksia yang terdiri dari :

a. Faktor ibu
Ibu merupakan subjek yang berperan dalam persalinan, berbagai kondisi dan keadaan
ibu akan banyak mempengaruhi bayi saat dilahirkan. Berikut beberapa situasi pada
ibu yang dapat menimbulkan masalah pada bayi :
1) Hipoksia pada ibu, hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat
pemberian obat analgetik atau anestesia umum.
2) Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, pertambahan umur akan
diikuti oleh perubahan organ dalam rongga pelvis. Keadaan ini akan
mempengaruhi kehidupan janin dalam rahim. Pada wanita usia muda dimana
organ-organ reproduksinya belum sempurna secara keseluruhan, disertai kejiwaan
yang belum bersedia menjadi seorang ibu (Llewellyn & Jones, 2001). Usia
perempuan untuk hamil dan melahirkan memiliki pengaruh yang berbeda pada
kesehatan ibu dan janinnya. Kehamilan dan persalinan di bawah umur 20 tahun
memiliki resiko yang sama tingginya dengan kehamilan umur 35 tahun keatas
sehingga dapat menimbulkan resiko. Usia berkaitan dengan masalah kesehatan,
resiko akan meningkat sejalan dengan usia. Persalinan pada ibu usia tua dapat
menimbulkan kecemasan yang mengakibatkan persalinan yang lebih sulit dan
lama (Kasdu, 2005 dan Curtis, 2000).
Dalam penelitian Zakaria di RSUP M. jamil padang tahun 1999
menemukan kejadian asfiksia neonatorum sebesar 36,4% pada ibu yang
melahirkan dengan usia kurang dari 20 tahun dan 26,3% pada ibu dengan usia
lebih dari 34 tahun. Hasil penelitian Ahmad di RSUD Dr Adjidarmo
Rangkasbitung tahun 2000 menemukan bayi yang lahir dengan asfiksia

neonatorum 1,309 kali pada ibu umur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35
tahun.
3) Gravida empat atau lebih, sosial ekonomi rendah, setiap penyakit pembuluh darah
ibu yang mengganggu pertukaran gas janin. Contohnya kolesterol tinggi,
hipertensi, hipotensi, jantung, paruparu/ tbc, ginjal, gangguan kontraksi uterus dan
lain-lain..
b. Faktor plasenta,
Plasenta merupakan suatu organ serba guna dan vital bagi janin yang berfungsi
sebagai alat pernapasan, alat pemenuhan nutrisi, dan alat pertahanan dan
pembentukan hormon-hormon. Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh
luas dan kondisi plasenta. Apabila terjadi gangguan mendadak pada plasenta maka
akan terjadi asfiksia janin. Gangguan plasenta tersebut seperti solusio plasenta,
perdarahan plasenta (plasenta previa).
1) Plasenta previa ialah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah lahir dan
menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum.
2) Solusio plasenta ialah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal
pada uterus, sebelum janin dilahirkan.
c. Faktor janin atau neonates
Meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat antara
janin dan jalan lahir, gameli, IUGR (intra uterin growth retardation), premature,
kelainan kongenital pada neonatus, dan lain-lain.
1) Prematur adalah keadaan bayi lahir hidup sebelum usia kehamilan minggu ke 37
(dihitung dari hari pertama haid terakhir). Bayi yang lahir kurang bulan memiliki

organ dan alat-alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup
diluar rahim. Pognosis bayi prematur terganutng dari berat ringannya masalah
perinatal, misalnya masa gestasi (makin muda mas gestasi maka makin tinggi
angka kematian. Terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan
komplikasi

seperti

asfiksia,

pneumonia,

perdarahan

intra

kranial,

dan

hipoglikemia (Saifuddin, 2002).


2) Gangguan tali pusat, kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya
aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas
antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah tersebut dapat ditemukan pada
keadaan tali pusat menumbung, melilit leher, kompresi tali pusat antara jalan lahir
dan janin (Saifuddin, 2002).
d. Faktor persalinan
Menurut Saifuddin (2002), persalinan normal adalah poses pengeluaan janin yang
terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi
belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu
maupun pada janin. Faktor persalinan yang dimaksud adalah meliputi partus lama,
persalinan dengan tindakan/buatan.
1) Partus lama menurut Mochtar (2004), yaitu persalinan yang berlangsung lebih
dari 24 jam pada primipara, dan lebih dari 18 jam pada multipara. Persalinan pada
primi biasanya lebih lama 5-6 jam dari pada multi. Insiden partus lama menurut
penelitian berkisar 2,8% sampai 4,9%. Bila persalinan lama, dapat menimbulkan
komplikasi baik terhadap ibu maupun bayi, dan dapat meningkatkan angka
kematian ibu dan bayi.

2) Persalinan buatan yakni persalinan dengan rangsangan/bantuan tenaga dari luar


sehingga terdapat kekuatan untuk persalinan. Misalnya forcep/vakum/SC (Joseph
& Nugraha, 2010). Menurut Hamilton (1995), forcep digunakan untuk
mempercepat persalinan ketika hidup ibu atau janin terancam, untuk
mempersingkat persalinan kala II. Persalinan dengan forcep menyebabkan adanya
tekanan pada kepala yang bisa menekan pusat-pusat vital pada medula oblongata
dan hal tersebut dapat menyebabkan asfiksia. Persalinan cesarea adalah kelahiran
bayi melalui abdomen dan insisi uterus. Persalinan cesarea dipilih karena indikasi
distres janin, posisi sungsang, distosia, dan persalinan cesarea sebelumnya.
Tindakan cesarea bisa dilakukan pada kejadian plasenta previa, solution plasenta,
gawat janin, letak lintang. Yang mana hal tersebut berpengaruh terhadap
pernapasan bayi (Saifuddin, 2002). Persalinan buatan juga bisa dengan induksi
yakni tindakan/langkah untuk memulai persalinan yang sebelumnya belum
terjadi. Metode yang digunakan ialah amniotomi, infus oxytocin, dan pemberian
prostaglandin. Pemberian prostaglandin akan menimbulkan kontraksi otot rahim
yang berlebihan yang mana dapat mengganggu sirkulasi darah sehingga
menimbulkan asfiksia janin (Hamilton,1995).
3. Patofisiologi
Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak bernapas secara spontan dan teratur.
Sering sekali bayi mengalami gawat janin sebelum persalinan akan mengalami asfiksia
setelah persalinan. Masalah tersebut mungkin berkaitan erat dengan kondisi ibu, masalah
pada tali pusat dan plasenta atau masalah pada bayi selama atau sesudah persalinan.
Apabila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, maka timbulah rangsangan

terhadap nervus vagus sehingga bunyi jantung janin menjadi lambat (Depkes RI, 2005).
Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi.
Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat
akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan
bila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru,
bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis.
Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut jantung mulai
menurun. Sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur dan bayi
memasuki periode apneu primer. Apabila bayi dapat brnapas kembali secara teratur maka
bayi mengalami asfiksia ringan.
Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung
terus menurun disebabkan karena terjadinya metabolisme anaerob yaitu glikolisis
glikogen tubuh yang sebelumnya diawali dengan asidosis respiratorik karena gangguan
metabolisme asam basa, Biasanya gejala ini terjadi pada asfiksia sedang - berat, tekanan
darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terlihat lemas (flascid). Pernafasan makin
lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu
sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun.
Pada paru terjadi pengisian udara alveoli yang tidak adekuat sehingga menyebabkan
resistensi pembuluh darah paru. Sedangkan di otak terjadi kerusakan sel otak yang dapat
menimbulkan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya. Pada saat ini,
Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya
pernafasan secara spontan.

Gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan/ persalinan ini


akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian
jika resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian O2 tidak dimulai segera.
Kerusakan dan gangguan ini dapat reversible atau tidak tergantung dari berat badan dan
lamanya asfiksia.
Asfiksia neonatorum diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Asfiksia Ringan ( vigorus baby)
Skor APGAR 7-10, bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa
b. Asfiksia sedang ( mild moderate asphyksia)
Skor APGAR 4-6, pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari
100/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.
c. Asfiksia Berat
Skor APGAR 0-3, pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari
100x/menit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek
iritabilitas tidak ada. Pada asfiksia dengan henti jantung yaitu bunyi jantung fetus
menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap atau bunyi jantung
menghilang post partum, pemeriksaan fisik sama pada asfiksia berat.
Pemeriksaan apgar untuk bayi :
Klinis

Detak jantung

Tidak ada

< 100 x/menit

>100x/menit

Pernafasan

Tidak ada

Tak teratur

Tangis kuat

Refleks saat
jalan nafas
dibersihkan
Tonus otot

Tidak ada

Menyeringai

Batuk/bersin

Lunglai

Fleksi ekstrimitas
(lemah)

Fleksi kuat
gerak aktif

Warna kulit

Biru pucat

Tubuh merah
ekstrimitas biru

Merah seluruh
tubuh

Nilai 0-3 : Asfiksia berat

Nilai 4-6 : Asfiksia sedang


Nilai 7-10 : Normal
Pemantauan nilai apgar dilakukan pada menit ke-1 dan menit ke-5, bila nilai
apgar 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor
mencapai 7. Nilai Apgar berguna untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir
dan menentukan prognosis, bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasi dimulai 30
detik setelah lahir bila bayi tidak menangis. (bukan 1 menit seperti penilaian skor Apgar).
4. Manifestasi Klinis
a. Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari 100 x/mnt,
halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
1) Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia
2) Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia
3) Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat
b. Pada bayi setelah lahir
1) Bayi pucat dan kebiru-biruan
2) Usaha bernafas minimal atau tidak ada
3) Hipoksia
4) Asidosis metabolik atau respiratori
5) Perubahan fungsi jantung
6) Kegagalan sistem multiorgan
7) Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik, kejang,
nistagmus dan menangis kurang baik/tidak baik.

10

5. Komplikasi
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
a. Edema otak & Perdarahan otak

Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga
terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun, keadaaan
ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema
otak, hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak.
b. Anuria atau oliguria

Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia, keadaan ini
dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai dengan
perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke
organ seperti mesentrium dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya
hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan
pengeluaran urine sedikit.
c. Kejang

Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan
transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran
CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak
efektif.
d. Koma

Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma
karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.
6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Foto polos dada
11

b. USG kepala
c. Laboratorium : darah rutin( Hemoglobin/ hematokrit (HB/ Ht) : kadar Hb 15-20 gr
dan Ht 43%-61%), analisa gas darah dan serum elektrolit
d. PH tali pusat : tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status parasidosis, tingkat
rendah menunjukkan asfiksia bermakna.
e. Tes combs langsung pada daerah tali pusat. Menentukan adanya kompleks antigenantibodi pada membran sel darah merah, menunjukkan kondisi hemolitik.
7. Penatalkasanaan Medis
Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir
yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala
sisa yang mungkin muncul. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapantahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi :
a. Memastikan saluran nafas terbuka :
Meletakan bayi dalam posisi yang benar
Menghisap mulut kemudian hidung kalau perlu trachea
Bila perlu masukan Et untuk memastikan pernapasan terbuka
b. Memulai pernapasan :
Lakukan rangsangan taktil Beri rangsangan taktil dengan menyentil atau menepuk
telapak kakiLakukan penggosokan punggung bayi secara cepat,mengusap atau
mengelus tubuh,tungkai dan kepala bayi.
Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif
c. Mempertahankan sirkulasi darah :
Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila
perlu menggunakan obat-obatan
Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus :
Tindakan umum
Pengawasan suhu
Pembersihan jalan nafas
Rangsang untuk menimbulkan pernafasan

12

Tindakan khusus
1) Asfiksia berat
Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan, langkah utama memperbaiki
ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan dan intermiten, cara terbaik
dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg.
Asphiksia berat hampir selalu disertai asidosis, koreksi dengan bikarbonas
natrium 2-4 mEq/kgBB, diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 24ml/kgBB. Kedua obat ini disuntuikan kedalam intra vena perlahan melalui vena
umbilikalis, reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak
telah berlangsung. Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan
positif diberikan 1-3 kali, bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan
pernapasan atau frekuensi jantung, maka masase jantung eksternal dikerjakan
dengan frekuensi 80-100/menit. Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam
perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali
kompresi dinding toraks, jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai
kembali, mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang
belum dikoreksi atau gangguan organik seperti hernia diafragmatika atau stenosis
jalan nafas.
2) Asfiksia sedang
Stimulasi agar timbul reflek pernapsan dapat dicoba, bila dalam waktu 3060 detik tidak timbul pernapasan spontan, ventilasi aktif harus segera dilakukan,
ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasaldengan aliran 1-2 lt/mnt, bayi
diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. Kemudioan dilakukan gerakan
membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan
kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit, sambil diperhatikan gerakan dinding
toraks dan abdomen. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan,
usahakan mengikuti gerakan tersebut, ventilasi dihentikan jika hasil tidak dicapai
dalam 1-2 menit, sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak
langsung segera dilakukan, ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. Pada ventilasi
dari mulut ke mulut, sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2, ventilasi
13

dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas
spontan yang mungkin timbul. Tindakan dinyatakan tidak berhasil jika setelah
dilakukan berberapa saat terjasi penurunan frekuensi jantung atau perburukan
tonus otot, intubasi endotrakheal harus segera dilakukan, bikarbonas natrikus dan
glukosa dapat segera diberikan, apabila 3 menit setelah lahir tidak
memperlihatkan pernapasan teratur, meskipun ventilasi telah dilakukan dengan
adekuat.
8. Prognosis
a. Asfiksia Ringan : Tergantung pada kecepatan penatalaksanaan.
b. Asfikisia Berat : Dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama kelainan
saraf. Asfiksia dengan PH 6,9 dapat menyababkan kejang sampai koma dan kelainan
neurologis permanen,misalnya retardasi mental.
B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajan adalah data dasar utama proses keperawatan yang tujuannya adalah
untuk memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan klien
yang memungkinkan perawat asuhan keperawatan kepada klien
a. Identitas Pasien, yaitu: mencakup nama pasien, umur, agama, alamat, jenis kelamin,
pendidikan, perkerjaan, suku, tanggal masuk, no. MR, identitas keluarga, dll.
b. Keluhan Utama
biasanya bayi setelah partus akan menunjukkan tidak bias bernafas secara spontan dan
teratur segera setelah dilahirkan keadaan bayi ditandai dengan sianosis, hipoksia,
hiperkapnea, dan asidosis metabolic
c. Riwayat kehamilan dan kelahiran
1) Prenatal
Kemungkinan ibu menderita penyakit infeksi akut, infeksi kronik, keracunan
karena obat-obat bius, uremia, toksemia gravidarum, anemia berat, bayi
mempunyai resiko tinggi terhadap cacat bawaan dan tejadi trauma pada waktu
kehamilan.
2) Intranatal
Biasanya asfiksia neonatus dikarenakan kekurangan o2 sebab partus lama, rupture
14

uteri yang memberat, tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada placenta, prolaps
fenikuli tali pusat, pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada
waktunya, perdarahan bayak, placenta previa, sulitio plasenta, persentase janin
abnormal, lilitan tali pusat, dan kesulitan lahir
3) Postnatal
Biasanya ditandai dengan adanya hipoksia, hiperkapnea, asidosis metabolic,
perubahan fungsi jantung, kegagalan system multi organ.
d. Riwayat kesehatan
1) RKD, Kemungkinan ibu menderita penyakit infeksi akut, infeksi kronik,
keracunan karena obat-obat bius, uremia, toksemia gravidarum, anemia berat,
bayi mempunyai resiko tinggi terhadap cacat bawaan dan tejadi trauma pada
waktu kehamilan.
2) RKS, Biasanya bayi akan menunjukkan warna kulit membiru, terjadi hipoksia,
hiperkapnea, asidosis metabolic, usaha bernafas minimal atau tidak ada,
perubahan fungsi janutng, kegagalan system multi organ, kejang, nistagmus dan
menagis kurang baik atau tidak menangis.
3) RKK, biasanya faktor ibu meliputi amnionitis, anemia, diabetes, hipertensiyang
diinduksi oleh kehamilan dan obat-obat infeksi.
e. Pemeriksaan fisik
1) Kulit, warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstremitas berwarna biru, pada bayi
preterm terdapat lanugo dan verniks.
2) Kepala, Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom,
ubun-ubun besar cekung atau cembung.
3) Mata, Warna konjungtiva anemis/tidak anemis, tidak ada bleeding konjungtiva,
warna sclera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi terhadap cahaya.
4) Hidung, Terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir.
5) Mulut, Bibir berwarna pucat atau merah, ada lendir atau tidak.
6) Telinga, Perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan.
7) Leher, Perhatikan kebersihannya karena leher neonatus pendek.
8) Thorax, Bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara wheezing
dan ronchi, frekuensi bunyi jantung lebih dari 100 x/menit.
15

9) Abdomen, Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1-2 cm dibawah arcus costae pada
garis papilla mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites/tumor,
perut cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1-2 jam setelah masa
kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract belum sempurna.
10) Umbilikus, Tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan/tidak, adanya tanda- tanda
infeksi pada tali pusat.
11) Genitalia, Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak
muara uretra pada neonatus laki-laki, neonatus perempuan lihat labia mayor dan
labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan.
12) Anus, Perhatikan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar

serta

warna dari faeces.


13) Ekstremitas

: Warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya

patah tulang atau adanya kelumpuhan saraf atau keadaan jari-jari tangan serta
jumlahnya.
14) Refleks, Pada neonates preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking
lemah. Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan saraf
pusat atau adanya patah tulang
2. Diagnose Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi mukus banyak.
b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi/ hiperventilasi
c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
d. Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 berhubungan dengan dengan post asfiksia berat.
e. Resiko Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi dengan faktor resiko reflek
menghisap lemah.
f. Resiko tinggi terjadinya infeksi dengan faktor resiko respon imun yang terganggu.
g. Gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan bayi sehubungan dengan rawat
terpisah.
3. Intervensi Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi mukus banyak
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
diharapkan jalan nafas lancar.
16

Kriteria Hasil :
Tidak menunjukkan demam.
Tidak menunjukkan cemas.
Rata-rata repirasi dalam batas normal.
Pengeluaran sputum melalui jalan nafas.
Tidak ada suara nafas tambahan.
Intervensi :
Auskultasi bunyi napas,dan catat adanya bunyi napas tambahan
Rasional :obstrusi jalan napas dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi
tambahan missal ronki
Kaji / pantau frekuensi pernapasan
Rasional :pada takipnea biasanya ditemukan pernapasan dapat melambat dan
frekuensi espirasi memanjang dibanding ispirasi.
Catat adanya dispnea
Rasional: disfungsi pernapasan adalah variable biasanya disebabkan oleh adanya
infeksi atau reaksi alergi.
b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi/ hiperventilasi
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
diharapkan pola nafas menjadi efektif.
Kriteria hasil :
Pasien menunjukkan pola nafas yang efektif.
Ekspansi dada simetris.
Tidak ada bunyi nafas tambahan.
Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal.
Intervensi :
Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan melakukan pengisapan lender
Rasional: Untuk menghilangkan mucus yang terakumulasi dari nasofaring, tracea
Auskultasi jalan nafas untuk mengetahui adanya penurunan ventilasi
Rasional: Bunyi nafas menurun/tak ada bila jalan nafas obstruksi sekunder. Ronki
dan mengi menyertai obstruksi jalan nafas/kegagalan pernafasan.
Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan
17

Rasional: Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas.


c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
diharapkan pertukaran gas teratasi.
Kriteria hasil :
Tidak sesak nafas
Fungsi paru dalam batas normal
Intervensi :
Kaji bunyi paru, frekuensi nafas, kedalaman nafas dan produksi sputum.
Rasional: Penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan atelektasis. Ronki, mengi
menunjukkan akumulasi secret/ketidakmampuan untuk membersihkan
jalan nafas yang dapat menimbulkan peningkatan kerja pernafasan.
Pantau saturasi O2 dengan oksimetri
Rasional: Penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan/atau saturasi atau peningkatan
PaCO2 menunjukkan kebutuhan untuk intervensi/perubahan program
terapi.
Berikan oksigen tambahan yang sesuai
Rasional: Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder
terhadap penurunan ventilasi/menurunnya permukaan alveolar paru.
d. Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 berhubungan dengan dengan post asfiksia berat.
Tujuan: Kebutuhan O2 bayi terpenuhi
Kriteria hasil :
Pernafasan normal 40-60 kali permenit
Pernafasan teratur
Tidak cyanosis
Wajah dan seluruh tubuh warna kemerahan
Gas darah normal.
Intervensi
Letakkan bayi terlentang dengan alas yang datar, kepala lurus, dan leher sedikit
tengadah/ekstensi dengan meletakkan bantal atau selimut diatas bahu bayi
sehingga bahu terangkat 2-3 cm.
18

Rasional:Memberi rasa nyaman dan mengantisipasi flexi leher yang dapat


mengurangi kelancaran jalan nafas.
Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.
Raional:Jalan nafas harus tetap dipertahankan bebas dari lendir untuk menjamin
pertukaran gas yang sempurna.
Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam.
Rasional:Deteksi dini adanya kelainan.
Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian O2 dan pemeriksaan kadar gas
darah arteri.
Rasional:Menjamin oksigenasi jaringan yang adekuat terutama untuk jantung dan
otak. Dan peningkatan pada kadar PCO2 menunjukkan hypoventilasi.
e. Resiko Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi dengan faktor resiko reflek
menghisap lemah.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria:
Bayi dapat minum pespeen / personde dengan baik
Berat badan tidak turun lebih dari 10%; Retensi tidak ada.
Intervensi:
Lakukan observasi BAB dan BAK jumlah dan frekuensi serta konsistensi.
Rasional: Deteksi adanya kelainan pada eliminasi bayi dan segera mendapat
Monitor turgor dan mukosa mulut.
Rasional: Menentukan derajat dehidrasi dari turgor dan mukosa mulut.
Monitor intake dan out put
Rasional: Mengetahui keseimbangan cairan tubuh (balance).
Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan.
Rasional; Kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat.
Lakukan control berat badan setiap hari.
Rasional: Penambahan dan penurunan berat badan dapat di monitor.
f. Resiko tinggi terjadinya infeksi dengan faktor resiko respon imun yang terganggu.
Tujuan: Selama perawatan tidak terjadi komplikasi (infeksi)
Kriteria:
19

Tidak ada tanda-tanda infeksi


Tidak ada gangguan fungsi tubuh.
Intervensi:
Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan keperawatan
Rasional: Pada bayi baru lahir daya tahan tubuhnya kurang / rendah.
Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
Rasional: Mencegah penyebaran infeksi nosokomial.
Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi).
Rasional: Mencegah masuknya bakteri dari baju petugas ke bayi.
lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari.
Rasional: Mencegah terjadinya infeksi dan memper-cepat pengeringan tali pusat
karena mengan-dung anti biotik, anti jamur, desinfektan.
Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan lingkungan bayi.
Rasional: Mengurangi media untuk pertumbuhan kuman.
Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala kardinal.
Rasional: Deteksi dini adanya kelainan.
Hindarkan bayi kontak dengan sakit.
Rasional: Mencegah terjadinya penularan infeksi.
Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian antibiotik.
Rasional: Mencegah infeksi dari pneumonia.
g. Gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan bayi sehubungan dengan rawat
terpisah.
Tujuan: Terjadinya hubungan batin antara bayi dan ibu.
Kriteria:
Ibu dapat segera menggendong dan meneteki bayi
Bayi segera pulang dan ibu dapat merawat bayinya sendiri.
Intervensi:
Jelaskan para ibu / keluarga tentang keadaan bayinya sekarang
Rasional:Ibu mengerti keadaan bayinya dan mengura-ngi kecemasan serta untuk
kooperatifan ibu/keluarga.
Bantu orang tua / ibu mengungkapkan perasaannya.
20

Rasional: Membantu memecah-kan permasalahan yang dihadapi.


Orientasi ibu pada lingkungan rumah sakit.
Rasional: Ketidaktahuan memperbesar stressor.
Tunjukkan bayi pada saat ibu berkunjung (batasi oleh kaca pembatas)
Rasional: Menjalin kontak batin antara ibu dan bayi walaupun hanya melalui kaca
pembatas.
Lakukan rawat gabung jika keadaan ibu dan bayi jika keadaan bayi
memungkinkan
Rasional: Rawat gabung merupakan upaya mempererat hubungan ibu dan
bayi/setelah bayi diperbolehkan pulang

21