Anda di halaman 1dari 9

DASAR TEORI

Wavelet adalah sinyal pendek yang merupakan komponen dasar pembentukan sinyal. Ada
beberapa macam wavelet, namun yang banyak digunakan dalam seismik eksplorasi dan
seismologi adalah ricker wavelet.
Wavelet dapat diperoleh dari model metematik maupun dari ekstraksi data lapangan. Untuk
mendapatkan wavelet dari sinyal yang diekstraksi atau dikonvolusi pada seismik biasanya
digunakan mix delay wavelet, yaitu wavelet yang energinya terkonsentrasi di tengah.
Data seismik adalah hasil dari proses konvolusi koefisien refleksi dengan wavelet. Proses
konvolusi meliputi pelipatan,pergeseran,perkalian dan penjumlahan. Sedang koefisien refleksi
dirumuskan sbb:
Rn=

v2

v 1

v2

v 1

R=koefisien

refleksi,

v=cepat

rambat

gelombang

sismik,

=rapat massa medium, bilangan 1 untuk lapisan


yang lebih atas dan 2 untuk lapisan yang lebih bawah.

Dalam praktikum ini digunakan Ricker wavelet yang dibuat secara matamatik, dengan rumus:
ft 2 ]e

R=[ 12

= ricker wavelet, f = frekuensi dominan di wavelet, t = waktu,


=3.14

PROGRAM DAN GRAFIK


%------------------------------%PROGRAM PEMBUATAN RICKERWAVELET
%------------------------------function [R]=rickerwavelet
n=25;dt=0.002;f=40;
for i=1:n;
a=1-2*(pi*f*dt*(i-1))^2;
b=exp(-(pi*f*dt*(i-1))^2);
r(i)=a*b;

ft

; R

t(i)=dt*(i);
end;
plot(t,r);
title('WAVELET SATU SISI')
grid on;
for i=1:n
R(n+i-1)=r(i);
R(i)=r(n-i+1);
end
k=2*n-1
for i=1:k
T(i)=dt*(i);
end
figure;
plot(T-0.05,R);
title('TWO SIDED WAVELET')
grid on;
%-----------------------------------------------------------------% PROGRAM UNTUK PROSES KONVOLUSI
%-----------------------------------------------------------------l=400;
q=1:1:l;
p=length(q);
for i=1:p
d(i)=0.0;
end
d(80)=0.35;
d(120)=0.75;
d(130)=-0.25;
d(180)=0.5;
d(220)=0.4;
d(270)=-0.25;
d(300)=0.35;
d(350)=-0.35;
figure;
plot(d,-q);
axis([-5 5 -450 0])
title('KOEFISIEN REFLEKSI')
grid on;
h=conv(d,R);
s=1:1:length(h);
figure;
plot(h,-s+n);
axis([-5 5 -450 0])
title('HASIL KONVOLUSI')
grid on;

WAVELET SATU SISI


1

0.5

-0.5

0.005

0.01

0.015

0.02

0.025

0.03

0.035

0.04

0.045

0.05

Untuk membuat konvulusi dari beberapa gelombang refleksi dengan ricker wavelet, dikopi
program ricker wavelet diatas dan dijalankan kembali dengan program sbb:
%-----------------------------------------------------------------% PROGRAM UNTUK PROSES KONVOLUSI untuk beberapa gelombang refleksi
%-----------------------------------------------------------------l=400;
q=1:1:l;
p=length(q);
for i=1:p
d1(i)=0.0; d2(i)=0.0; d3(i)=0.0; d4(i)=0.0; d5(i)=0.0;

end
d1(80)=0.35; d2(84)=0.3;
d3(88)=0.35; d4(85)=0.37; d5(84)=0.34;
d1(120)=0.75; d2(124)=0.77; d3(127)=0.75; d4(125)=0.7; d5(124)=0.7;
d1(130)=-0.25;d2(134)=-0.25;d3(138)=-0.2; d4(136)=-0.3; d5(135)=-0.3;
d1(180)=0.5; d2(183)=0.5; d3(187)=0.45; d4(185)=0.53; d5(184)=0.55;
d1(220)=0.4; d2(224)=0.35; d3(226)=0.45; d4(225)=0.4; d5(224)=0.4;
d1(270)=-0.25;d2(273)=-0.2; d3(274)=-0.25;d4(275)=-0.3; d5(274)=-0.29;
d1(300)=0.35; d2(305)=0.3; d3(308)=0.4; d4(306)=0.36; d5(304)=0.38;
d1(350)=-0.35;d2(354)=-0.38;d3(357)=-0.33;d4(355)=-0.35;d5(353)=-0.35;
figure;
plot(d1-4,-q, d2-2,-q, d3,-q, d4+2,-q, d5+4,-q);
axis([-5 5 -450 0])
title('KOEFISIEN REFLEKSI')
grid on;
e=conv(d1,R); f=conv(d2,R); g=conv(d3,R); h=conv(d4,R); j=conv(d5,R);
s=1:1:length(e); t=1:1:length(f); u=1:1:length(g); v=1:1:length(h);
w=1:1:length(j);
figure;
plot(e-2,-s+n, f-1,-t+n, g,-u+n, h+1,-v+n, j+2,-w+n );
axis([-5 5 -450 0])
title('HASIL KONVOLUSI')
grid on;

KOEFISIEN REFLEKSI
0
-50
-100
-150
-200
-250
-300
-350
-400
-450
-5

-4

-3

-2

-1

HASIL KONVOLUSI
0
-50
-100
-150
-200
-250
-300
-350
-400
-450
-5

-4

-3

-2

-1

Program untuk membuat seismogram sintetik CDP dan CMP adalah sbb:

%-------------------% cdp dan cmp


%-------------------gp=50;
k=1:1:1000;
for i=1:length(k)
d(i)=0.0;
m(i)=0.0;
end
bd=0.0;
figure;
for i=1:gp
d(100+bd)=0.5;
hd=conv(d,R);
w=1:1:length(hd);
plot(hd+(i-1),-w+n)
hold on;
d(100+bd)=0;
bd=bd+i;
end
grid on;
title('SINTETIK SEISMOGRAM SEISMIK REFLEKSI CDP')
xlabel('no geophone')
ylabel('t (sekon)')
axis([-1 gp+1 -1000 0]);

figure;
bd=0.0;
for i=1:gp
m(100+2*bd)=0.5;
hm=conv(m,R);
w=1:1:length(hm);
plot(hm+(i-1),-w+n)
hold on;
m(100+2*bd)=0;
bd=bd+i;
end
grid on;
title('SINTETIK SEISMOGRAM SEISMIK REFLEKSI CMP')
xlabel('no geophone')
ylabel('t (sekon)')
axis([-1 gp+1 -1000 0]);

SINTETIK SEISMOGRAM SEISMIK REFLEKSI CDP


0
-100
-200
-300

t (sekon)

-400
-500
-600
-700
-800
-900
-1000

10

15

20
25
30
no geophone

35

40

45

50

SINTETIK SEISMOGRAM SEISMIK REFLEKSI CMP


0
-100
-200
-300

t (sekon)

-400
-500
-600
-700
-800
-900
-1000

10

15

20
25
30
no geophone

35

40

45

50

PEMBAHASAN

Pada praktikum digunakan frekuensi dominan (f )= 40 Hz, dt = 0.002 sekon dan n = 25.
Waktu(t) diperoleh dari t = dt * i , i digerakkan dari i = 0, 1,2 , 3,
Grafik 2 (two sided wavelet) diperoleh dari pencerminan wavelet satu sisi (grafik 1) dengan:
R(n+i-1)=r(i);
R(i)=r(n-i+1);

R untuk wavelet dua sisi dan r untuk wavelet satu sisi.


Koefisien refleksi diperoleh dari data sintetik, dengan syarat nilainya tidak lebih dari 1.
Kemudian dikonvolusikan dengan wavelet maka akan diperoleh data seismik sintetik.
Koefisien refleksi

wavelet

= sinyal + noise = data

Pada proses ini diberi batasan l = 400, batas tepi kiri dan kanan grafik adalah 5 dan 5 . Hal
ini dimaksudkan agar bentuk gelombang lebih jelas terlihat.

Hasil konvolusi dengan beberapa gelombang seismik akan memberikan informasi tentang
letak atau batas perlapisan . Pada grafik , batas perlapisan tampak dari daerah yang
mempunyai amplitudo terbesar dari sekitarnya.