Anda di halaman 1dari 17

Hepatitis merupakan pembengkakan dan

inflamasi pada hati. Istilah yang sering


digunakan ialah infeksi virus pada hati.
Hepatitis dapat disebabkan oleh sel imun
menyerang hati sehingga disebut hepatitis
autoimun. Kemudian dapat disebabkan
karena infeksi virus (seperti hepatitis A, B,
atau C), bakteri, atau parasit. Hepatitis
dapat terjadi karena kerusakan hati akibat
konsumsi alkohol, jamur beracun, atau jenis
racun lainnya.

Penularan perinatal terutama ditemukan pada bayi


yang dilahirkan carrier HbsAg atau ibu yang
menderita Hepatitis B selama kehamilan trimester
ketiga atau selama periode awal pasca partus
Penyebaran perinatal merupakan masalah yang
besar di negaranegara di mana terdapat
prevalensi infeksi virus Hepatitis B yang tinggi dengan
prevalensi HbsAg yang tinggi. Hampir semua bayi
yang dilahirkan dari ibu HbsAg positif akan terkena
infeksi pada bulan kedua dan ketiga dari
kehidupannya. Peranan adanya HbsAg pada ibu
sangat dominan untuk penularan

Transmisi perinatal HBV melalui 3 cara:


1) Transmisi intrauterine; 2) Transmisi
intrapartum; dan 3) Transmisi postnatal

Mekanisme penularan HBV intrauterine


sepenuhnya belum dipahami, tetapi
adanya
infeksi
intrauterine
telah
ditunjukkan dalam beberapa studi, seperti
adanya HBsAg dan HBV DNA pada bayi
baru lahir dan dari imunohistokimia
plasenta serta studi PCR
Kemampuan HBV melakukan translokasi
melalui plasenta dari ibu ke janin trofoblas,
merupakan rute transplasenta langsung
dari infeksi

Diperkirakan
timbul
karena
ada
kemungkinan transfusi darah ibu ke janin
selama kontraksi persalinan; sebagai
konsekuensi dari ruptur membran; HBV
yang mengontaminasi darah ibu atau
cairan ketuban/cairan vagina yang ditelan
oleh janin atau memasuki sirkulasi darah
janin melalui plasenta yang ruptur, atau
melalui kontak langsung janin dengan
sekresi/darah dari saluran genitalia ibu

Melibatkan kontak dekat bayi dengan


sekresi ibu yang terkontaminasi HBV:
termasuk konsumsi bayi dari makanan
yang dikunyah ibu, ciuman dari ibu
pada mulut bayi, dan infeksi nosokomial
akibat kurangnya kebersihan tangan
petugas kesehatan yang terlibat dalam
perawatan pasca melahirkan ibu dan
bayi

Kategori

Definisi
Obat-obat yang dapat diberikan dalam jumlah besar pada ibu hamil dan wanita usia

subur dan telah terbukti tidak menimbulkan peningkatan risiko terjadinya kecacatan
atau efek berbahaya secara langsung maupun tidak langsung pada janin manusia
Obat-obat yang dapat diberikan dalam jumlah terbatas pada ibu hamil dan wanita

B1

usia subur tanpa peningkatan risiko terjadinya kecacatan atau efek berbahaya secara
langsung maupun tidak langsung pada janin manusia. Penelitian pada hewan coba

tidak memperlihatkan terjadinya kerusakan pada janin


Obat-obat yang dapat diberikan hanya dalam jumlah terbatas pada ibu hamil dan
wanita usia subur tanpa peningkatan risiko terjadinya kecacatan atau efek berbahaya
B2

secara langsung maupun tidak langsung pada janin manusia. Penelitian pada hewan

coba masih kurang, tetapi data yang ada tidak memperlihatkan terjadinya kerusakan
pada janin

Kategori Definisi
Obat-obat yang dapat diberikan hanya dalam jumlah terbatas pada ibu hamil dan
wanita usia subur tanpa peningkatan risiko terjadinya kecacatan atau efek berbahaya

B3

secara langsung maupun tidak langsung pada janin manusia. Akan tetapi, penelitian
pada hewan coba menunjukkan terjadinya kerusakan pada janin dan perlu
dipertimbangkan penggunaannya pada manusia

Obat-obat dengan efek farmakologis yang berbahaya untuk janin manusia atau bayi
C

baru lahir tanpa mengakibatkan kecacatan. Efeknya mungkin bersifat reversibel

Obat-obat yang dapat meningkatkan insidensi kecacatan janin atau kerusakan yang
D

bersifat ireversibel. Obat ini memiliki reaksi yang berlawanan

Obat yang memiliki risiko tinggi untuk terjadinya kerusakan permanen pada janin
X

dan tidak boleh digunakan oleh ibu hamil

Nama obat

Kategori

Lamivudine

B3

Telbivudine

B1

Tenofovir

B3

Entecavir

B3

Adefovir

B3

Emtrecitabine

B1

Insidensi dan prevalensi infeksi HCV terus menurun,


khususnya di kalangan orang muda. Di Amerika
Serikat, prevalensi infeksi HCV pada populasi umum
adalah 1,6% tetapi bervariasi antara kelompok usia
berbeda dengan orang dewasa berumur 40-49
tahun memiliki prevalensi tertinggi (4,3%). Lansia
berusia 60-69 tahun dan 70 tahun atau yang lebih
tua memiliki tingkat prevalensi yang lebih rendah
(masing-masing 0,9% dan 1%). Data dari studi di
Eropa menunjukkan proporsi individu yang terinfeksi
dengan HCV genotype 1 meningkat dengan usia:
57% pada orang dewasa berusia <65 tahun, 72%
pada usia 65-80 tahun, dan 84% pada orang dewasa
yang lebih tua dari 80 tahun

Kerusakan sel hati akibat HCV atau partikel


virus secara langsung masih belum jelas.
Namun beberapa bukti menunjukkan adanya
mekanisme imunologis yang menyebabkan
kerusakan sel-sel hati.
Protein core misalnya ditengarai dapat
menimbulkan reaksi pelepasan radikal oksigen
pada mitokondria. Selain itu, protein ini
diketahui pula mampu berinteraksi pada
mekanisme signaling dalam inti sel terutama
berkaitan
dengan
penekanan
regulasi
imunologik dan apoptosis.

Reaksi cytotoxic T-cell (CTL) spesifik yang kuat


diperlukan
untuk
terjadinya
eleminasi
menyeluruh VHC pada infeksi akut. Pada
infeksi kronik, reaksi CTL yang relative lemah
masih mampu merusak sel-sel hati dan
melibatkan respon inflamasi di hati tetapi tidak
bisa menghilangkan virus maupun menekan
evolusi genetik VHC sehingga kerusakan sel
hati berjalan terus-menerus. Kemampuan CTL
tersebut dihubungkan dengan aktivitas limfosit
sel T-helper spesifik VHC. Adanya pergeseran
dominasi aktivitas Th1 menjadi Th2 berakibat
pada reaksi toleransi dan melemahnya respon
CTL

Kombinasi pegylated interferon (IFN) dan


ribavirin yaitu pegylated IFN - A2A dan
pegylated IFN - a2b telah disetujui dan
diterima dengan baik sebagai standar
perawatan (SoC) untuk hepatitis C kronis

Konferensi konsensus The National Institute Of Health


hepatitis C, identifikasi pada orang tua dengan
infeksi HCV kronis sebagai kelompok yang sulit untuk
diatasi. Meskipun pedoman praktek tidak membuat
batasan usia untuk terapi antivirus, namun lansia
dengan infeksi HCV lebih mungkin untuk memiliki
kontraindikasi terhadap terapi antivirus daripada
orang dewasa muda
Orang dewasa yang berusia di atas 60 tahun
memiliki prevalensi komorbiditas yang tinggi
dibandingkan dengan individu yang lebih muda
(38% vs 18%), terutama jantung, ginjal, paru, dan
penyakit hematologi yang sering menghalangi terapi
HCV

Penghentian terapi atau pengurangan


dosis dua kali lipat lebih umum pada
orang tua (77%) dibandingkan pada
dewasa
muda
(38%).
Usia
tua
merupakan faktor independen terkait
dengan
kemungkinan
rendahnya
pertimbangan untuk terapi antivirus