Anda di halaman 1dari 3

6/17/2014

Untaian Hikmah Ulama Sunnah [Bagian 2] | Kajian Islam al-Mubarok

Kajian Islam al-Mubarok


Bersama mereguk kesegaran ilmu dan iman

Untaian Hikmah Ulama Sunnah [Bagian 2]


By Admin Blog on May 19, 2014

(http://kajianmahasiswa.files.wordpress.com/2014/05/th.jpeg)
Hakikat Ilmu
[11] Abdullah bin Masud radhiyallahuanhu berkata, Bukanlah ilmu itu diperoleh -semata-matadengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakikat ilmu itu adalah khas-yah/rasa takut kepada Allah.
(lihat al-Fawaid, hal. 142)
Niat Yang Lurus Dalam Menimba Ilmu
[12] Abu Abdillah ar-Rudzabari rahimahullah berkata, Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu
sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu, ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan
barangsiapa yang berangkat menimba ilmu untuk mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun
akan bermanfaat baginya. (lihat al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaaiq, hal. 71)
Ilmu, Amalan, dan Keikhlasan
[13] Imam Ibnul Qoyyim rahimahulllah berkata, Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan
niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya
amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang
munafik. (lihat al-Fawaid, hal. 34)
Merasa Haus Akan Ilmu
http://kajianmahasiswa.wordpress.com/2014/05/19/untaian-hikmah-ulama-sunnah-bagian-2/

1/3

6/17/2014

Untaian Hikmah Ulama Sunnah [Bagian 2] | Kajian Islam al-Mubarok

[14] Qotadah rahimahullah berkata, Sesungguhnya setan tidak membiarkan lolos seorang pun di
antara kalian. Bahkan ia datang melalui pintu ilmu. Setan membisikkan, Untuk apa kamu terus
menuntut ilmu? Seandainya kamu mengamalkan apa yang telah kamu dengar, niscaya itu sudah
cukup bagimu. Qotadah berkata: Seandainya ada orang yang boleh merasa cukup dengan ilmunya,
niscaya Musa alaihis salam adalah orang yang paling layak untuk merasa cukup dengan ilmunya.
Akan tetapi Musa berkata kepada Khidr (yang artinya), Bolehkah aku mengikutimu agar engkau
bisa mengajarkan kepadaku kebenaran yang diajarkan Allah kepadamu. (QS. al-Kahfi: 66). (lihat
Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/136])
Guru Yang Ideal
[15] Yusuf bin al-Husain menceritakan: Aku bertanya kepada Dzun Nun tatkala perpisahanku
dengannya, Kepada siapakah aku belajar?. Beliau menjawab, Hendaknya kamu belajar bersama
orang yang dengan melihatnya mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan
kepadanya di dalam hatimu. Orang yang pembicaraannya menambah ilmumu. Orang yang tingkah
lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Kamu pun tidak mau bermaksiat kepada Allah
selama sedang berada di sisinya. Dia memberikan nasehat kepadamu dengan perbuatannya, tidak
dengan ucapannya semata. (lihat al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaaiq, hal. 71-72)
Keyakinan al-Quran Makhluk
[16] Abdullah putra Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya, dari Ibrahim bin Ziyad. Dia
berkata: Suatu saat aku bertanya kepada Abdurrahman bin Mahdi. Aku katakan kepadanya,
Bagaimana pendapatmu mengenai orang yang mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk?.
Beliau menjawab, Seandainya aku adalah penguasa atas dirinya, niscaya aku akan berdiri di atas
jembatan dan tidak akan lewat seorang pun melainkan aku pasti menanyainya. Apabila dia
mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk, pastilah akan aku penggal lehernya dan kepalanya
kulemparkan ke dalam sungai. (lihat as-Sunnah li Abdillah ibn Ahmad ibn Hanbal [1/172])
[17] Abdullah putra Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya, dari Harun bin Maruf. Beliau
mengatakan, Barangsiapa yang menyangka (berkeyakinan, pent) bahwasanya Allah tidak
berbicara, sesungguhnya dia adalah orang yang memuja berhala. (lihat as-Sunnah [1/172])
[18] Abdullah putra Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya, dari Ibnul Majisyun. Beliau
berkata, Barangsiapa yang mengatakan bahwasanya al-Quran adalah makhluk maka dia telah
kafir. (lihat as-Sunnah [1/173])
Nilai Sebuah Keikhlasan
[19] Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata: Malaikat naik ke langit membawa amal seorang
hamba dengan perasaan gembira. Apabila dia telah sampai di hadapan Rabbnya, maka Allah pun
berkata kepadanya, Letakkan ia di dalam Sijjin [catatan dosa], karena amalan ini tidak ikhlas/murni
ditujukan kepada-Ku. (lihat al-Ikhlas wa an-Niyah, hal. 45)
Sosok Yang Rabbani

[20] Imam Ibnul Arabi rahimahullah mengatakan, Tidaklah seorang alim disebut sebagai alim

http://kajianmahasiswa.wordpress.com/2014/05/19/untaian-hikmah-ulama-sunnah-bagian-2/

2/3

6/17/2014

Untaian Hikmah Ulama Sunnah [Bagian 2] | Kajian Islam al-Mubarok

[20] Imam Ibnul Arabi rahimahullah mengatakan, Tidaklah seorang alim disebut sebagai alim
rabbani kecuali apabila dia telah menjadi orang yang [benar-benar] berilmu, mengajarkan ilmu, dan
beramal -dengan ilmunya-. (lihat Fath al-Bari [1/197] cet. Dar al-Hadits)
[21] al-Khathib meriwayatkan dari Mujahid, bahwa yang dimaksud dengan rabbani adalah para ahli
fikih -orang-orang yang dalam ilmu agamanya- (lihat Umdat al-Qari [2/64])
[22] Abdullah bin Abbas radhiyallahuanhuma menafsirkan bahwa rabbani adalah orang-orang yang
memiliki ketenangan (hilm) dan fikih (pemahaman agama) yang mendalam. Dalam sebagian teks,
beliau menafsirkan rabbani dengan orang-orang yang memiliki sifat hikmah/bijak dan orang-orang
yang fakih (lihat Umdat al-Qari [2/65])
Posted in: Akhlaq, Ilmu, Mutiara Hikmah, Nasehat | Tagged: faidah, Hikmah Ulama, Ikhlas, Ilmu,
Islam, Mutiara Kata, nasihat salaf, Nasihat Ulama, Niat, Salafus Shalih
Create a free website or blog at WordPress.com. The Retro-Fitted Theme.
Follow

Follow Kajian Islam al-Mubarok


Powered by WordPress.com

http://kajianmahasiswa.wordpress.com/2014/05/19/untaian-hikmah-ulama-sunnah-bagian-2/

3/3