Anda di halaman 1dari 64

Cermin 1984

Dunia Kedokteran

34. Masalah Otak


Cermin
No 34, 1984 Dunia Kedokteran
International Standard Serial Number : 0125—913X Diterbitkan oleh :

Pusat Ps'nelitian dan P.np.mbanpan P.T. Kalbe Farina

Cermin
Dunia Kedokteran

Artikel :
3 Afasia Sebagai Gangguan Komunikasi Pada Kelainan
Otak
7 Gangguan Bahasa, Persepsi dan Memori Pada Kelainan
Otak
12 Disfungsi Otak Minor
34. Masalah Otak Kesulitan Belajar ditinjau dari Segi Neurologis
15 Gangguan Kesadaran
20 Beberapa Obat yang Digunakan pada Insufisiensi
Serebral dan Demensia
Karya Sriwidodo 25 Penanggulangan Bencana Peredaran Darah di Otak
28 Peranan Radiologik Pada Kelainan Otak
32 Cedera Otak dan Dasar-dasar Pengelolaannya
39 Infeksi Intrakranial
42 Tumor Otak : Tinjauan Kepustakaan

47 Ketulian : Pemeriksaan dan Penyebabnya


50 Rodamin B dan Metanil Kuning ("Metanil Yellow")
Sebagai Penyebab Toksik pada Mencit dan Tikus
Percobaan

56 Perkembangan : Obat-obat & Insomnia


Pengobatan Preleukemia

58 Hukum & Etika : Tepatkah Tindakan Saudara ?


60 Catatan Singkat
Tulisan dalam majalah ini merupakan pandang- 61 Humor Ilmu Kedokteran
an/pendapat masing-maeing penulie dan tidak
eelalu merupakan pandangan atau kebijakan
63 Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran
inetansl/lembaga/bagian tempat kerja ai penulie. 64 Abstrak-abstrak
Artikel

Afasia Sebagai Gangguan Komunikasi


Pada Kelainan Otak
dr. Lily Sidiarto dan dr. Sidiarto Kusumoputro
Klinik Gangguan Wicara - Bahasa Bagian Neurologi FKUI/RSCM, Jakarta

PENDAHULUAN 6. lafal : menghasilkan pengucapan bunyi bahasa.


Dengan bertambahnya jumlah gangguan peredaran darah 7. prosodi : yang membuat lagu kalimat.
otak (CDV) dan trauma kapitis, maka jumlah kasus dengan 8. kemampuan komunikasi, yaitu kemauan, kesediaan dan
gejala sisa neurologik juga makin meningkat. Gejala sisa ele- kemampuan untuk berinteraksi lewat komunikasi.
menter yang paling menyolok adalah hemiparesis dan gejala sisa Jenis gangguan komunikasi dapat disebabkan oleh kelainan
fungsi luhur yang paling banyak adalah afasia. Pada kasus CVD, pada salah satu atau beberapa dari fungsi tersebut diatas.
kemungkinan seorang pasien menderita afasia adalah 25%, Bagan gangguan wicara-bahasa (speech and language disorder)
karena separuhnya menderita hemiparesis dekstra dan separuh Gangguan komunikasi juga disebut sebagai gangguan wicara
dari ini mungkin menderita afasia. Karena afasia tergolong bahasa dan istilah ini lebih sering dipakai. Gangguan ini dapat
kelainan komunikasi dan komunikasi merupakan bagian yang terjadi pada anak dan dewasa.
penting dalam kehidupan manusia, maka rehabilitasi afasia tidak Sebuah bagan sederhana disajikan dibawah ini :
dapat diabaikan. Mungkin saja seorang dengan gejala sisa
gangguan wicara mencakup
kelumpuhan menduduki jabatannya semula tetapi akan sangat fungsi dasar :
sulit bagi orang yang menderita afasia. Bukannya ini berarti - respirasi
tidak mungkin; sebagian pasien afasia dapat juga kembali - resonansi
menduduki jabatan semula asal afasinya yang tidak terlalu berat - fonasi
- artikulasi
mendapatkan rehabilitasi yang cepat dan tepat. Untuk maksud - lafal
itu, kecepatan dan ketepatan diagnosis sangat diperlukan untuk - prosodi
menolong nasib pasien afasia.
Makalah ini menguraikan secara singkat masalah afasia ditin- Gangguan wicara—bahasa
jau secara klinik.

GANGGUAN KOMUNIKASI
Seorang yang berkomunikasi menggunakan sederetan fungsi a. gangguan multimodalitas :
sebagai berikut : — afasia
1. simbolisasi, yaitu melakukan formulasi dan menyimak ba- b. gangguan modalitas tunggal :
hasa dan simbol-simbol lain yang lazim disebut berbahasa. — agnosia
— apraksia
2. respirasi, yang diperlukan untuk mendapatkan tenaga gu-
na berbicara (speech). c. gangguan "berpikir" :
— demensia
3. resonansi : menghasilkan nada-nada tertentu. — confusion (kusut pikir)
4. fonasi (pembunyian) : tenaga yang didapat dipakai untuk — psikogemic
menggerakkan pita suara.
5. artikulasi : menghasilkan vokal dan konsonan untuk berbicara. Untuk memahami jenis-jenis gangguan wicara- bahasa se-
baiknya dikenal juga komponen- komponen dari proses pusat
bahasa di otak. Menurut Brown, model pusat bahasa di otak

Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 3


terdiri dari 4 komponen : dapat berbicara dan menyimak bahasa, tetapi masih dapat
1. kosa kata (leksikal) yang didapat sejak kecil dan dikem- menulis dan membaca. Pasien ini menderita agnosia auditif.
bangkan terus seumur hidup. Sebaliknya pasien yang menderita apraksia tidak mampu
2. sintaktikal, suatu aturan yang dikuasai untuk membentuk menulis, tetapi mampu berbicara.
kalimat yang benar. gangguan "berpikir" : Penggunaan bahasa yang tidak benar
3. rentang ingatan auditif (auditory retention span) yang cu- dapat juga disebabkan oleh gangguan cara berpikir dan salah
kup lama untuk dapat memproses apa yang didengar. menggunakan bahasa. Hal ini membedakan dari afasia,
4. pemilihan saluran, suatu kemampuan untuk menyaring agnosia dan apraksia yang disebabkan oleh gangguan mo-
dan memilih masukan (input) dan keluaran (output) yang dalitas bahasa. Contoh dari gangguan "berpikir" adalah de-
diperlukan untuk berbahasa menurut hirargi. mensia, kusut pikir (confusion) dan kasus psikiatrik. Di
Komponen- komponen ini diperlukan untuk mempelajari bawah ini akan dibahas sepintas tentang pola berbahasa pada
bahasa dan mempergunakannya secara baik dan benar. Pene- contoh tersebut untuk memberikan gambaran bahwa ada
rapan penggunaan komponen- komponen tersebut dalam ber- gangguan bahasa yang non-afasia. Pola berbahasa pada
bahasa dapat dilihat dari ketrampilan penggunaan modalitas pasien demensia menunjukkan kesalahan- kesalahan pada
bahasa sebagai berikut : semua segi bahasa. Yang menyolok ialah ketidak mampuan
1. berbicara untuk memberikan makna sebuah pepatah. Tidak mampu
2. menyimak melaksanakan tugas verbal yang abstrak, seperti tidak dapat
3. menulis menyebutkan nama-nama benda dalam satu kategori (nama-
4. membaca nama hewan piaraan rumah). Reaksinya lambat, sukar
mengikuti pembicaraan yang beralih dari satu judul ke judul
Jenis-jenis gangguan bahasa dapat diterangkan berdasarkan yang lain. Pasien lupa apa yang baru saja dibicarakan. Selain
ketrampilan menggunakan modalitas bahasa diatas. gangguan bahasa, pasien demensia juga menunjukkan
gangguan fungsi luhur lainnya seperti gangguan persepsi,
GANGGUAN WICARA—BAHASA memori, kognitif dan emosi.
Pola berbahasa pasien kusut pikir (confused) tampaknya
Seseorang dapat terganggu wicaranya saja (speech disorder) sepintas masih normal. la masih dapat menyebutkan nama
ataukah bahasanya (language disorder). Kedua gangguan yang benda, membaca kalimat pendek dan mudah, berhitung se-
disatukan tersebut sebenarnya mempunyai perbedaan yang derhana. Tetapi mengalami kesukaran kalau tugas tersebut agak
nyata. Gangguan wicara : bersifat perifer, disebabkan oleh sulit. Pasien akan mengalami kesulitan menjawab pertanyaan
kelainan- kelainan saraf perifer, otot dan struktur yang dipakai yang terbuka, yang harus ia jawab dengan menyusun kalimat. la
untuk berbicara. akan mengalami kesulitan pula dalam memberi makna sebuah
Gangguan bahasa : bersifat sentral, disebabkan oleh kelainan pepatah. Walaupun kalimatnya benar tetapi isinya sering tidak
pada korteks serebri (fungsi luhur). cocok. la tidak sadar bahwa ia telah membuat kesalahan dalam
1. Gangguan wicara : Sering disebut juga sebagai gangguan pembicaraannya. Pasien juga mengalami gangguan orientasi
wicara dan suara (speech and voice disorder), karena memang waktu, orang dan tempat disamping gangguan yang tersebut
mencakup kedua fungsi tadi. Lazim juga disebut dengan satu diatas. Juga pasien sukar mempertahankan interaksinya dengan
kata "disartria" untuk kemudahan. Kelainan- kelainan neuro- orang lain dalam waktu lama dan tidak dapat mengikuti
logik banyak yang menyebabkan gangguan wicara ini dan letak pembicaraan terus menerus. Biasanya keadaan kusut pikir ini
lesinya dapat ditetapkan berdasarkan gangguan fungsi dasar sementara (transient) sifatnya. Pola berbahasa pada kasus
yang ditemukan. Juga penyakit- penyakit lain seperti THT, psikiatrik tidak dibahas disini.
mulut, gigi- geligi, paru dan sebagainya dapat menyebabkan
gejala "disartria" ini. Kami tidak membahas hal ini lebih lanjut. SINDROMA AFASIA
2. Gangguan bahasa : Gangguan ini lebih kompleks sifatnya. Afasia adalah gangguan bahasa yang multimodalitas, artinya
Gangguan bahasa dapat ditinjau dari aspek gangguan modal itas tidak mampu berbicara, menyimak, menulis dan membaca.
bahasa (berbicara, menyimak, menulis dan membaca), untuk Tergantung dari jenis afasinya, ketidak mampuan dalam moda-
membedakan afasia dari agnosia dan apraksia. Sedangkan dari litas tersebut tidak merata tetapi satu lebih menonjol dari yang
aspek gangguan "berpikir" dan "cara penggunaan bahasa" dapat lain.
dibedakan demensia, kusut pikir (confusion) dan kasus Dari segi klinik, jenis afasia yang mudah dikenali adalah :
psikiatrik. 1. afasia Broca (menonjol : tidak dapat bicara)
• gangguan multimodalitas bahasa : Afasia adalah gangguan 2. afasia Wernicke (menonjol : tidak dapat menyimak)
bahasa yang meliputi semua modalitas yaitu berbicara, 3. afasia anomik (menonjol : tidak dapat menyebut nama benda)
menyimak, menulis dan membaca. Tidak ada afasia yang 4. afasia konduksi (menonjol : tidak dapat mengulang kalimat)
salah satu modalitasnya masih sempurna. Biasanya semua 5. afasia global (semua tidak dapat)
terkena, hanya yang satu lebih berat daripada yang lain. Masih ada jenis-jenis afasia lain yang tidak dicantumkan, ka-
• gangguan modalitas tunggal : Sering dijumpai pasien tidak

4 Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984


rena jarang dan sukar dikenali secara klinik. kan dengan menganalisis ciri-ciri bicara sebagai berikut :
Ciri-ciri afasia
Ciri bicara Non-fluent Fluent
Afasia adalah gangguan bahasa dan biasanya tanpa gangguan - tempo berbicara menurun meningkat
fungsi luhur lainnya seperti gangguan persepsi, memori, emosi - usaha bicara meningkat normal
dan kognitif (kalaupun ada tidak seberat gangguan bahasanya). - banyak bicara menurun meningkat (logore)
Disini letak perbedaan dengan demensia, yang mengalami - isi substantif predikatif
- panjang frase pendek panjang
gangguan pada semua fungsi luhur secara merata.
- parafasia jarang ada
Afasia dapat dibagi dalam 2 golongan besar : afasia non-fluent
dan afasia fluent. Penggolongan ini dilakukan dengan memper- Menentukan ciri bicara ini penting dalam menetapkan letak lesi.
inci ciri-ciri bicara spontan pasien. Afasia dapat ditentukan Afasia non fluent : biasanya letak lesi di bagian anterior he-
jenisnya dari analisis kemampuan linguistiknya (bicara spontan, misfer kiri (dominan).
menyimak, mengulang dan menyebut). Afasia yang berat dan Afasia fluent : letak lesi biasanya di bagian posterior.
sedang dapat ditetapkan secara klinik non formal, sedangkan Pada penentuan ciri bicara ini pasien disuruh berbicara secara
afasia yang ringan atau meragukan perlu ditetapkan secara spontan untuk beberapa saat. Dari pembicaraannya dapat dinilai
formal dengan tes afasia. Penetapan jenis afasia (Broca, ciri-ciri tadi. Tentu hal ini dilakukan secara global dalam
Wernicke dan sebagainya) diperlukan untuk menentukan letak penetapan secara klinik. Dalam penetapan formal terdapat
lesi di otak (diagnostik) dan program rehabilitasinya (bina wicara patokan penilaian tertentu dari ciri bicara ini.
= speech therapy).
4. Penetapan jenis afasia dipakai kemampuan linguistik bicara
Langkah-langkah penetapan afasia spontan, menyimak, mengulang dan menyebut sebagai patokan.
1. menentukan bahasa yang dikuasai pasien. Secara klinik, bicara spontan telah. dibahas diatas. Penyimakan
2. menentukan kecekatan tangan (handedness) bahasa dapat ditentukan secara klinik dengan menanyakan
3. menetapkan golongan afasia non fluent dan fluent. beberapa pertanyaan pada pasien dan pertanyaan yang diajukan
4. menetapkan jenis afasia. mula-mula sederhana makin lama makin kompleks. Pertanyaan
5. menetapkan fungsi-fungsi luhur lainnya (persepsi, memori, dibuat sedemikian hingga cukup dijawab oleh pasien dengan ya
emosi, kognitif). atau tidak, bila perlu dengan anggukan dan gelengan kepala. Hal
6. menetapkan dengan tes formal (Token Test, Peabody Vo- ini terutama bila kita memeriksa pasien afasia yang non-fluent.
cabulary Test, Boston Diagnostic Aphasia Test). Contoh pertanyaan : "Apakah ibu yang ada disamping saya ini
7. menetapkan fungsi-fungsi luhur lainnya dengan formal (tes istri bapak?" "Apakah bapak sudah sarapan pagi tadi?"
psikometrik). Pertanyaan dapat disusun dan disesuaikan dengan latar bela-
Cara dan makna penetapan kang pendidikan dan kedudukan social pasien. Pertanyaan-
1. Pada afasia, biasanya bahasa ibu merupakan bahasa yang pertanyaan formal pada tes afasia tentu menggunakan kalimat
paling sedikit terkena dibandingkan bahasa- bahasa lain yang yang dibuat sedemikian rupa hingga mempunyai kesukaran
dipelajari oleh pasien poliglot. linguistik. Pengulangan kata/kalimat juga dimulai dari yang
sederhana sampai yang sulit. Contoh kata yang sederhana "ma-
2. Hemisfer kiri pada orang kinan (right-handed) dianggap me- kan" dan yang sulit "menjajagi". Kalimat mudah "Udara hari ini
rupakan hemisfer yang dominan. Dominansi serebral ini dapat cerah" dan kalimat sulit "Musim kemarau yang panjang dan
diketahui dari kecekatan tangan pasien. Kemutlakan dominansi kering tahun ini merupakan bencana bagi kami".
serebral dapat dipakai sebagai ancar-ancar untuk menentukan Penyebutan nama benda dapat dilakukan dengan menyuruh
prognosis afasia. Dikatakan bahwa dominansi yang mutlak pasien menyebutkan beberapa nama benda yang ada diseki-
mempunyai prognosis yang kurang baik dibandingkan do- tarnya.
minansi yang tidak mutlak. Kemutlakan ini dapat diketahui dari
Jenis afasia ditentukan dengan kemampuan linguistik sebagai berikut :
kecekatan tangan, mata dan kaki pasien. Orang dianggap kinan
mutlak bila ia cekat dalam hal penggunaan tangan, mata dan Afasia bicara spontan penyimakan pengulangan penyebutan
kaki kanan serta tidak ada keluarga yang kidal. Orang dianggap
kinan tidak mutlak bila cekat tangan kanan disertai cekat mata Wernicke fluent buruk buruk buruk
atau kaki kiri, atau bila ada keluarga yang kidal. Cara Broca non-fluent baik buruk buruk
menentukan cekat tangan biasanya dilihat dari tangan mana yang konduksi fluent baik buruk buruk
buruk
dipakai untuk bekerja, menulis dan makan minum. Cekat mata global non-fluent buruk buruk
anomik fluent baik baik buruk
ditentukan dengan mata mana pasien mengintip sebuah lubang
dan cekat kaki dengan cara kaki mana yang dipakai untuk
berdiri diatas satu kaki. Cara-cara tersebut sudah cukup untuk
menentukan kecekatan. Ada cara-cara lain yang lebih terperinci Penetapan jenis afasia ini mempunyai makna : diagnostik,
yang tidak dibahas disini. Hal-hal tersebut tidak berlaku prognostik dan terapeutik sebagai berikut :
seluruhnya bagi pasien kidal. • Afasia Broca terletak di bagian anterior di daerah posterior
3. Bicara spontan yang non fluent dan fluent dapat ditentu- girus frontalis.

Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 5


• Afasia Wernicke terletak di bagian posterior di daerah girus 2. Dikatakan bahwa bina wicara yang diberikan pada bulan
temporalis posterior-superior pertama sejak mula sakit mempunyai hasil yang paling baik.
• Afasia konduksi lesinya berada di fasikulus arkuatus diantara 3. Hindarkan penggunaan komunikasi non-linguistik (seperti
Broca dan Wernicke. isyarat).
• Afasia global mempunyai lesi yang luas meliputi seluruh 4. Program terapi yang dibuat oleh terapis sangat individual dan
korteks. Prognosisnya juga sangat buruk ada yang menye- tergantung dari latar belakang pendidikan, status sosial dan
butnya sebagai afasia irreversible Jenis inilah yang sering kebiasaan pasien.
mirip dengan demensia. 5. Program terapi berlandaskan pada penumbuhan motivasi
• Afasia anomik atau anomia dapat terjadi di beberapa tempat. pasien untuk mau belajar (re-learning) bahasanya yang hi-
Tidak mempunyai nilai lokalisasi. Paling sering di daerah lang. Memberikan stimulasi supaya pasien memberikan
girus angularis. Sering mgrupakan gejala sisa dari afasia yang tanggapan verbal. Stimuli dapat berupa verbal, tulisan atau-
berat. pun taktil. Materi yang telah dikuasai pasien perlu diulang-
5. Penetapan afasia dengan tes formal yang dipakai di Klinik ulang (repetisi).
Gangguan Wicara Bahasa FKUI/RSCM dipilihkan dari tes yang 6. Terapi dapat diberikan secara pribadi dan diseling dengan
bersifat multilingual. Artinya, tes yang dapat dialih bahasakan terapi kelompok dengan pasien afasi yang lain.
ke bahasa lain. Namun demikian, kesulitan linguistik dalam 7. Penyertaan keluarga dalam terapi sangat mutlak.
modifikasi tes tersebut masih ada. Afasia adalah ilmu yang
prinsip, konsep dan tes formalnya tidak dapat diambil alih
KEPUSTAKAAN
begitu saja dari bahasa aslinya.
Penanganan terpadu afasia oleh neurolog, psikolog, linguist dan 1. Benson DF. Aphasia, Alexia and Agraphia. New York: Churchill
ahli bina-wicara sangat mutlak. Livingstone, 1979.
2. Darley FL. And Spriestersbach DC. Diagnostic Methods in Speech
DASAR-DASAR REHABILITASI Pathology. New York: Harper and Row, 1978.
3. Eisenson J. Adult Aphasia, Assessment and Treatment. San Fran-
Bina wicara (speech therapy) pada afasia didasarkan pada : cisco: Appleton-Century-Crofts, 1973.
1. Dimulai seawal mungkin. Segera diberikan bila keadaan 4. Espir M and Rose FC. The Neurology of Speech. London : Black-
umum pasien sudah memungkinkan pada fase akut penya- well Scientific Publications, 1976.
kitnya. 5. Watson R. How to examine the patient with aphasia. Geriatrics, Des.
1975;73-77.

S I M D I TteWu N B a NAR, SA yA TEL-414


MEN66G6crR KAN MEN6606URkAN
KAt.D lN6AN.
KEHAM►b.14N 1 0 0 E?coR
APAKA HB E N 4 ?
TlKtdS ( Lt K

PERCOBAAN (LMIA

6 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


Gangguan Bahasa, Persepsi dan Memori
Pada Kelainan Otak
dr. Sidiarto Kusumoputro dan dr. Lily Sidiarto
Klinik Gangguan Wicara - Bahasa Bagian Neurologi FKUI/RSCM, Jakarta

PENDAHULUAN
dari otak, maka semua fungsi- fungsi luhur tersebut dapat ter-
Tiga unsur tingkah laku manusia terhadap alam sekeliling- kena dan hasilnya adalah suatu demensia atau retardasi mental.
nya ialah pengamatan, pikiran dan tindakan. Dalam bidang Tetapi pada kerusakan yang fokal, maka biasanya hanya satu
neurologi tiga unsur tersebut tertuang dalam fungsi sensorik. atau beberapa dari fungsi ini terganggu. Justru pada kerusakan
luhur dan motorik. Dalam keadaan sakit, unsur-unsur tadi dapat otak yang fokal inilah, gejala luhur mempunyai peranan penting.
terganggu. Gangguan tersebut dapat berupa gejala neurologik Pada pasien dengan kelainan tingkah laku, perlu ditentukan
elementer, misalnya hemiparesis, hemihipestesia, koma, kejang apakah kelainan ini disebabkan oleh kerusakan otak (brain
dan sebagainya tetapi dapat pula berupa gejala neurologik luhur, damage) ataukah sesuatu yang fungsional (kasus psikiatrik).
yang merupakan kelainan integratif yang kompleks dari ke tiga Penelusuran gangguan fungsi luhur inilah yang dapat membe-
fungsi di atas. dakan kedua kemungkinan tadi.
Yang dimaksud dengan fungsi luhur atau fungsi kortikal
luhur adalah fungsi- fungsi : Menetapkan gangguan fungsi luhur
1. bahasa Melakukan anamnesis dan pemeriksaan neurologik memer-
2. persepsi lukan waktu yang cukup lama dan kompleks. Apabila di dalam
3. memori pemeriksaan itu juga dibebani penetapan fungsi Iuhur secara
4. emosi rutin, maka waktu pemeriksaan akan bertambah lama lagi.
5. kognitif Untuk menghemat waktu, maka penetapan fungsi luhur secara
Dalam neurologi, gejala elementer dan luhur dipergunakan un- artifisial dapat dilakukan bertahap. Tahap awal merupakan
tuk menetapkan adanya kerusakan di otak, baik tentang loka- observasi terhadap kemungkinan adanya gangguan fungsi
lisasi maupun luas lesinya. Ke dua fungsi tersebut sama pen- luhur, yang dilakukan selama pemeriksaan neurologik rutin.
tingnya dalam penetapan diagnosis. Juga keduanya menuruti Apabila diduga adanya gangguan fungsi luhur ini, maka pasien
prinsip organisasi lateral dan longitudinal serebral yang akan bersangkutan perlu diperiksa lebih teliti secara klinis pada tahap
diuraikan kemudian. Karena gejala fungsi luhur ini kerap di- berikutnya. Selanjutnya pada tahap terakhir dipertimbangkan
lupakan atau diabaikan, maka penulis ingin menguraikan secara untuk suatu penetapan secara formal dengan tes psikometrik.
singkat peranan fungsi ini, terutama fungsi bahasa, persepsi dan Tahap terakhir ini melibatkan psikolog yang berwenang
memori pada kelainan otak. Kelainan otak disini dibatasi pada melakukan tes tersebut. Jenis tes akan dipilih yang khusus
penyakit- penyakit yang frekuen, yaitu gangguan peredaran darah dipergunakan untuk menentukan adanya gangguan otak (a.l.
di otak (Cerebro-Vascular Disorder) dan trauma kapitis. Raven's Progressive Matrices). Khusus untuk gangguan bahasa
perlu dilakukan tes afasia (a.l. Token Test) yang melibatkan ahli
Peranan fungsi luhur dalam klinik bina wicara. Dokter sebaiknya mengenal penetapan awal dan
Seperti halnya gejala elementer, maka gejala fungsi Iuhur ini klinis gangguan fungsi Iuhur ini, karena dialah yang akan
dapat dipakai untuk menetapkan diagnosis dan rehabilitasi pasien berhadapan pertama kali dengan pasien- pasien dengan gangguan
dengan penyakit otak. Pada kerusakan difus dan berat tersebut.

Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 7


Tahap-tahap penetapan fungsi luhur • Sindroma hemisfer non-dominan terdiri dari :
1. neglect
1. Penetapan awal.
2. anosognosia
Pada saat membuat anamnesis dan melakukan pemeriksaan
3. kesukaran visuospatial
neurologik rutin, sebaiknya menambah anamnesis yang tertuju
4. apraksia konstruksional
untuk mengungkapkan gangguan fungsi luhur. Syarat mutlak
5. apraksia berpakaian
adalah pasien harus kompos mentis.
Sindroma ini tidak ditulis lengkap, masih ada gejala yang tidak
Pertanyaan- pertanyaan meliputi :
dicantumkan.
— data-data lengkap tentang pribadi pasien termasuk riwayat
• Sindroma lobus temporalis kiri dan kanan terdiri dari gangguan:
dahulu.
— mengapa ia dirawat atau datang berobat dan apa sakitnya. 1. immediate memory
— dimana ia sekarang berada dan siapa orang yang ada dide- 2. short-term memory
katnya serta jam berapa sekarang ini. 3. long-term memory
— dimana ia tinggal, bagaimana ia mencapai tempat ini. Gangguan memori disebut sebagai amnesia; bila mengenai lobus
— dengan apa dan siapa ia datang kemari. temporalis kiri menyebabkan gangguan memori verbal dan bila
— apa yang ia lakukan selama 24 jam terakhir ini. kanan menyebabkan memori visual.
— Kejadian apa yang diketahuinya atau dibacanya akhir-akhir Sindroma afasia
ini (peristiwa sekitar rumah, dalam kota, dalam negeri
Secara klinis kita kenal afasia :
atau luar negeri).
1. Broca
— cobalah pasien disuruh mengurangi angka 100 dengan 7
2. Wernicke
dan hasilnya dikurangi lagi dengan 7 dan seterusnya.
3. konduksi
— cobalah suruh pasien mengulangi 6 digit yang kita sebutkan.
4. anomia
— cobalah suruh pasien memberi makna sebuah pepatah.
5. global
— cobalah suruh pasien mengulangi kalimat pendek dan pan-
jang yang kita sebutkan. Uraian masing afasia secara singkat ialah sebagai berikut :
— cobalah suruh pasien menyebut nama benda yang kita Afasia Broca : ciri bicara spontan pasien ialah lambat, ter-
tunjukkan. bata-bata, monoton dan kalimat pendek- pendek (disebut non
— nilailah cara bicara pasien dari segi kecepatan, lagu dan fluent). Penyimakan bahasa baik, pengulangan kalimat buruk
panjang kalimat. dan penyebutan nama benda buruk.
Sekali lagi, pasien harus sadar, kompos mentis. Kalau ada per- Afasia Wernicke : ciri bicara spontan cepat, kadang- kadang
tanyaan yang kurang benar jawabnya, maka ada alasan untuk terlalu cepat, lagu kalimat baik, panjang kalimat cukup
menduga adanya gangguan fungsi luhur. (disebut fluent). Penyimakan bahasa buruk, pengulangan
kalimat buruk dan penyebutan nama benda buruk.
2. Penetapan klinis.
Afasia konduksi : ciri bicara fluent, penyimakan dan pe-
Akan diuraikan kemudian.
nyebutan nama benda baik, hanya pengulangan kalimat
3. Penetapan secara formal dilakukan oleh psikolog. buruk.
Sebaiknya diberikan pengarahan tentang apa yang kita kehen- Afasia nominal atau anomia : ciri bicara spontan fluent, hanya
daki supaya tidak menyulitkan psikolog mencari tes yang tepat. penyebutan nama benda yang buruk, yang lain baik. Afasia
Penetapan fungsi luhur secara klinis global : ciri bicara spontan non-fluent, lain-lain buruk
semua.
Dalam menetapkan secara klinis dianut prinsip organisasi Dengan menilai gangguan segi bahasa tersebut, dapat di-
lateral dan longitudinal serebral. Artinya, bagian-bagian otak tentukan pasien menderita jenis afasia apa dan dimana letak
tertentu mempunyai fungsi tertentu. Prinsip pusat lokalisasi lesinya. Broca terletak di bagian anterior, Wernicke di bagian
fungsi pada otak ini tidak mutlak. Pusat-pusat di otak ini me- posterior, konduksi di jaras antara Broca dan Wernicke, global
rupakan suatu sistem pusat fungsional yang kompleks (Luria). di seluruh hemisfer kiri dan anomia tidak mempunyai letak lesi
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa fungsi bahasa me- yang tetap.
nempati hemisfer kiri (disebut hemisfer dominan bagi orang yang
kinan atau right-handed), fungsi persepsi menempati hemisfer Sindroma Gerstmann
kanan (non-dominan) dan fungsi memori menempati hemisfer lalah sekelompok gejala yang terdiri dari agnosia jari (tidak
kanan dan kiri, tepatnya di lobus temporalis. Dengan demikian mengenali jari-jari sendiri dan pemeriksa), right-left dis-
dikenal sindroma hemisfer kiri dan kanan dengan perincian orientation, disgrafia (tidak mampu menulis) dan akalkulia
sebagai berikut : (tidak mampu berhitung). Sindroma ini disebabkan kerusakan
hemisfer kiri daerah lobus parietalis.
• Sindroma hemisfer dominan terdiri dari :
1. sindroma afasia (termasuk aleksia dan agrafia) Right-left disorientation ialah ketidak mampuan pasien mem-
2. sindroma Gerstmann (right-left confusion, agnosia jari, bedakan kanan dan kiri dari anggota tubuh sendiri dan dari
agrafia dan akalkulia). ruang sekitarnya. Pasien tidak sanggup menunjuk tangan ka-

8 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


nannya, kaki kirinya, dan juga tidak dapat menunjukkan tangan nesia sering menjadi manifestasi dari gangguan peredaran darah
yang benar dari pemeriksa bila diminta. otak jenis transient ischemic attack's (TIA's) . Jenis CVD ini
Unilateral Spatial neglect merupakan gangguan persepsi ruang umumnya dikenal karena adanya gangguan neurologik ele-
yang sering mengakibatkan pasien membentur benda yang ber- menter seperti hemiparesis, hemihipestesia dan sebagainya yang
ada di sisi kirinya atau pasien tampak mengabaikan benda-benda timbul secara tiba-tiba dan sentara (transient) dan berlangsung
yang berada di lapangan pandang kirinya. Kelainan ini dapat tidak lebih dari 24 jam serta tanpa memberikan gejala sisa.
dikenali dengan menyuruh pasien membuat gambar yang Serangan sentara ini dapat berulang-ulang. Tidak jarang
simetris dan ia akan menghilangkan sisi kiri dari gambar tadi. serangan ini berupa gangguan bahasa seperti afasia atau
Misalnya disuruh membuat gambar jam, maka hasilnya ialah gangguan memori seperti amnesia. TIA'S dengan gejala afasia
sebuah gambar jam yang angka-angka 8, 9 dan 10 tidak mudah dikenali karena gejala yang jelas, tetapi tidak demikian
tergambar. halnya dengan gangguan memori. Transient global amnesia
Anosognosia ialah gangguan persepsi karena kerusakan hemis- sebagai manifestasi TIA's biasanya dikenali dari perubahan
fer non-dominan lobus parietalis. Pasien tidak mempunyai tingkah laku pasien. Pasien tampak seperti bingung-bingung,
pandangan dan kesadaran tentang dirinya dan anggota tubuh- banyak bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan oleh dirinya.
nya. Pasien tidak memberi perhatian pada kelainan tubuhnya, Kalau kita agak waspada dan mengajukan pertanyaan pada
bahkan sampai menyangkal bahwa anggota tubuhnya lumpuh. pasien akan terungkap bahwa ia tidak ingat apa yang telah
Gangguan visuospatial ialah gangguan utuk menafsirkan posisi, dilakukan beberapa saat yang lalu, tetapi orientasi pasien,
jarak, gerak, bentuk dan hubungan anggota tubuhnya terhadap immediate memory dan long-term memory masih baik. Perlu
objek sekitarnya. la seakan-akan tidak tahu terhadap konsep dibedakan dengan keadaan confuse. Ungkapan adanya TIA's
atas-bawah, depan belakang, dan dalam-luar. Pasien meng-
-
sangat penting karena merupakan suatu peringatan bahwa suatu
alami kesukaran bila harus melewati sebuah gang, ia tidak ingat ketika pasien dapat mengalami stroke serebral yang manifes bila
lagi tata ruang yang pernah dikenalnya, tidak tahu letak kamar tidak diobati.
tidurnya, tidak kenal peta rumah tinggalnya. Pasien tidak dapat 2. Sering pula, gangguan bahasa, afasia, merupakan satu-satu-
menjiplak sebuah gambar bergaris, tidak sanggup menggambar nya gejala gangguan peredaran darah otak yang menetap (iso-
kubus atau binatang dan tidak dapat menyusun balok-balok yang lated stroke). Pada afasia Broca, gejala tunggal ini mudah dike-
diperlihatkan kepadanya. Gangguan orientasi ini disebabkan nali, tetapi anomia lebih sulit dikenali sedangkan afasia Wernic-
kelainan hemisfer non-dominan. ke sering sukar dikenali karena pasien dengan bicara spontan
Apraksia konstruksional : ketidak mampuan untuk mencontoh banyak akan disalah tafsirkan sebagai kasus psikiatrik.
bentuk bentuk gambar dan menyusun balok-balok atau batang-
- 3. Walaupun pada gangguan peredaran darah otak terdapat gejala
batang korek api menurut contoh yang diberikan. Kemampuan hemiparesis yang nyata hingga diagnosis mudah ditegakkan,
ini termasuk fungsi kognitif yang kompleks dan diperankan sebaiknya adanya gangguan bahasa, persepsi dan memori perlu
oleh semua lobi dengan lobus parietalis non-dominan yang mendapat perhatian. Hal ini perlu untuk rehabilitasi pasien
terpenting. selanjutnya terutama pada hemiparesis kiri.
Apraksia berpakaian merupakan gangguan orientasi ruang yang
menyebabkan pasien sukar mengenakan pakaian karena sukar Peranan pada trauma kapitis.
membedakan bagian mana yang diperuntukkan lengan, tungkai
1. Pada keadaan akut trauma kapitis, maka gangguan memori
dan sebagainya.
mempunyai peranan penting. Amnesia post trauma kapitis dapat
-

Amnesia meliputi kejadian sebelum trauma (retrograd amnesia) atau


Gangguan immediate memory mudah dikenali dengan menyu- setelah trauma (anterograd amnesia). Lamanya amnesia tersebut
ruh pasien mengulangi 6 digit yang kita sebutkan. Gangguan dapat dipakai sebagai patokan akan luas lesi yang terjadi di otak.
short-term memory dapat dikenali karena pasien tidak dapat Umumnya amnesia ini meliputi gangguan short-term memory
mengingat apa yang telah terjadi beberapa saat yang lalu. Ia tidak saja. Apabila ternyata long-term memory juga terkena maka ini
dapat menceritakan kejadian pada hari itu. Sedangkan long-term menandakan adanya kelainan otak yang difus, berat dan
memory terganggu bila pasien tidak lagi mengenali riwayat mempunyai prognosis yang kurang baik. Juga disini perlu dicatat
hidupnya. bahwa pasien umumnya hanya terganggu memorinya tanpa
Umumnya amnesia yang terjadi adalah gangguan short-term kehilangan fungsi-fungsi lain.
memory. Pada kelainan lobus temporalis kiri menyebabkan 2. Pada keadaan lanjut trauma kapitis, dapat dijumpai berbagai
gangguan memori verbal (tidak ingat apa yang disebutkan) kelainan fungsi luhur, baik sebagai gejala tunggal atau bersama-
sedangkan lobus temporalis kanan menyebabkan memori visual sama gejala elementer. Pada keadaan yang pertama kita perlu
(apa yang diperlihatkan). Gangguan memori ini merupakan waspada karena gejala yang tidak jelas. Sering pasien mengeluh
gangguan yang paling sering dikeluhkan. _
tentang kurangnya konsentrasi, cepat lupa setelah mengalami
trauma kapitis. Masalah yang juga disebut sebagai sindroma post
Peranan pada gangguan peredaran darah di otak (cerebro-vas- -trauma kapitis ini perlu penanganan serius. Perlu dibedakan
cular disorder). antara keadaan pribadi yang neurastenis yang sudah ada
premorbid dengan gejala gangguan persepsi, memori atau bahasa
1. Gangguan memori yang disebut sebagai transient global am-
yang disebabkan trauma. Keadaan akhir

Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 9


ini dapat dikenali kalau kita sempat melakukan observasi selama Pasien dilatih untuk memandangi anggota yang sakit terse-but
pasien mengalami trauma. Pada mulanya lebih banyak gejala yang sedang digerak-gerakan oleh terapis kesegala arah, juga
yang ditemukan yang lambat laun makin berkurang dan akhirnya arah melewati garis tengah tubuhnya. Selanjutnya pasien
hanya tersisa satu atau dua gejala saja. Selain yang akut, trauma diminta melakukan hal tersebut tanpa bantuan terapis, tetapi
kapitis menahun juga membawa pengaruh terhadap timbulnya dengan bantuan anggotanya yang tidak sakit. Pasien dilatih
gangguan luhur ini. Salah satu contoh trauma kapitis menahun menunjuk benda yang dipegang oleh terapis dan digerak-ge-
ialah olah raga tinju. Sudah sering diungkapkan bahwa olah raga rakan kesegala arah termasuk arah melewati garis tengah tu-
ini dapat merusak saraf. Yang dimaksudkan kerusakan saraf ini buhnya. Pasien diminta berdiri diatas garis lantas menempatkan
ialah gangguan fungsi luhur, bukan gangguan elementer yang kaki-kakinya diatas tempat-tempat yang telah diberi tanda.
mudah dikenali oleh awam. Pasien diminta menirukan terapis yang menunjuk-nunjuk
Adanya afasia ringan, gangguan persepsi atau memori pada anggota tubuhnya. Kemudian pasien diminta menunjuk atas
trauma kapitis akut dan menahun perlu ditelusuri. Penelusuran ini perintah terapis.
perlu karena biasanya pasien tidak mengeluh secara jelas. Lagi
pula gejala fungsi luhur post-trauma kapitis ini dapat Pada pasien yang mengalami gangguan visuospatial, dimana
menyebabkan masalah dalam hubungan kerja pasien dengan ia mengalami kesukaran menafsir keadaan dirinya terhadap
majikan. Pasien mengeluh tetapi majikan tidak melihat alasan ruang sekelilingnya, maka tata ruang dimana pasien tinggal
keluhan tadi. Atau juga bagi dokter yang harus menentukan perlu mendapat perhatian. Ruangan sebaiknya tidak terlalu
apakah pasien dengan trauma kapitis sudah sembuh benar dan penuh dengan alat-alat rumah tangga dan benda-benda, cukup
dapat kembali kerja menduduki jabatan semula. Tentu kita harus terang, tidak berwarna terlalu menyolok dan tenang. Hal-hal ini
berhati-hati kalau .berhadapan dengan kasus demikian. Dan yang akan membantu pasien dalam kehidupan sehari-hari. Pada
terakhir yang akan menyebabkan masalah adalah asuransi pasien lebih baik diberikan instruksi secara verbal yang jelas
kesehatan. daripada instruksi yang menggunakan isyarat. Cermin yang
besar sangat menolong pasien dalam menafsirkan dirinya ter-
Rehabilitasi hadap ruang sekitarnya. Latihan-latihan menjiplak gambar-
Disamping rehabilitasi gejala hemiparesis pada CVD, maka gambar perlu diberikan.
rehabilitasi terhadap gangguan bahasa, persepsi perlu mendapat
perhatian. Terutama hal ini penting bagi pasien dengan Pasien dengan gangguan unilateral spatial neglect, yang me-
hemiparesis kiri. Sering pasien demikian ini juga menunjukkan nyebabkan pasien mengabaikan lapangan pandang sisi kirinya,
gejala gangguan persepsi-orientasi yang menghambat latihan- perlu dibantu dengan mengatur tata ruangnya secara khusus.
latihan untuk paresisnya. Pasien tidak acuh terhadap tungkainya Semua alat mmah tangga dan benda diletakkan ke arah kanan
yang lumpuh, pasien tidak mengenali posisi tungkainya, pasien dari titik pusat aktivitas pasien. Dengan letak khusus ini di-
tidak memperhatikan lapangan pandang sisi kirinya, semua ini maksudkan supaya pasien dapat melihat bila ada orang lain yang
menyukarkan fisioterapi. Sebaiknya rehabilitasi juga ditujukan sedang bekerja di dalam ruangnya. Juga Ietak TV, meja kursi
kepada gangguan persepsi orientasi ini. Demikian pula pada perlu diatur demikian. Letak makanan dalam piringnya juga
pasien dengan hemiparesis kanan yang menderita juga afasia. perlu mendapat perhatian. Latihan memberikan rangsangan
Latihan fisioterapi perlu disertai latihan bina wicara (speech verbal dan taktil perlu diberikan dari arah kiri pasien.
therapy). Pasien dengan apraksia konstruksional perlu dilatih menyu-
Latihan afasia berupa bina wicara dapat diberikan oleh sun balok atau batang korek api membuat konstruksi 3 dimen-
seorang yang profesional dan oleh keluarga yang telah mendapat sional. Mula-mula bentuk sederhana, kemudian makin kom-
petunjuk-petunjuk untuk ini di rumah, karena pasien pleks.
membutuhkan latihan terus menerus. Prinsip bina wicara ialah Latihan-latihan mengenakan pakaian perlu diberikan pada
motivasi, stimulasi dan repetisi. Pasien perlu mendapat motivasi pasien dengan apraksia berpakaian. Bila perlu diberikan tanda
untuk melatih bicaranya. Jangan dibiarkan menggunakan bahasa pada salah satu bagian baju atau celananya untuk dijadikan
isyarat dalam percakapan sehari-hari, juga di rumahnya. patokan bagi pasien dalam mengenakan pakaian tadi. Secara
Keluarga diberi tahukan untuk tidak membiarkan pasien ringkas dapat disebutkan bahwa rehabilitasi pasien dengan
memakai bahasa isyarat. Pasien harus dipaksakan mengucapkan gangguan bahasa umumnya perlu :
kata disamping isyarat yang dipakainya. Terapis akan membuat 1. menimbulkan motivasi agar pasien mau belajar berbicara lagi,
program latihan bagi pasien yang disesuaikan dengan latar 2. memberikan banyak stimulasi verbal dan tulisan.
belakang pendidikan dan berat-ringan afasinya. Program ini 3. melakukan repetisi secara kontinu.
ditujukan untuk memberikan stimulasi yang kontinu secara Pada rehabilitasi pasien dengan gangguan persepsi perlu :
auditif atau tertulis. Pengulangan atau repetisi perlu dilakukan 1. mengatur ruangannya supaya sederhana, tidak semrawut.
secara teratur. Stimulasi taktil juga dapat dipakai bila diperlukan. 2. aktivitas rutin yang di-arahkan pada latihan penguatan
Pada gangguan anosognosia dimana pasien mengabaikan (reinforces learning) dan dilakukan banyak repetisi.
anggota tubuhnya yang sakit, maka anggota bersangkutan perlu 3. stimulasi sensorik yang menimbulkan kesadaran (awa-
dirangsang supaya lambat laun pasien menyadarinya. reness)

10 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


KEPUSTAKAAN University Press, 1976.
4. Luria AR. The Working Brain. London The Penguin Press, 1973.
1. Benson DF. Aphasia, Alexia and Agraphia. New York: Churchill 5. O'Brien MT and Pallett PJ. Total care of the Stroke patient USA:
Livingstone, 1979. Little, Brown and Company (Inc), 1978.
2. Cummings J, Benson F, and Lovermen S. Reversible Dementia. 6. Valenstein E. Making sense of cerebral dominance and syndrome
JAMA. 243, 1980; 2434 - 2439. of the nondominant hemisphere. Geriatrics, Nov. 1976; 111 - 117.
3. Lezak M.D. Neuropsychological Assessment. New York: Oxford

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 11


Disfungsi Otak Minor
Kesulitan Belajar Ditinjau Dari Segi Neurologis
dr. Lily Sidiarto
Klinik Gangguan Wicara - Bahasa Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta.

PENDAHULUAN suatu sindroma sehingga lebih tepat bila digunakan nama Mi-
nimal Brain Dysfunction Syndrome atau Sindroma Disfungsi
Di Amerika dilaporkan bahwa lebih kurang 10% dari jumlah
Otak Minor (S.D.O.M.).
anak usia sekolah mengalami kesulitan belajar (Silver, 1982).
Apakah definisi dari S.D.O.M
WHO melaporkan 5 - 25% dari anak-anak usia sekolah
Anak-anak dengan S.D.O.M. adalah anak-anak dengan inteli-
menderita disfungsi otak minor. Belum ada data mengenai anak-
gensi mendekati rata-rata, rata-rata (average) atau diatas rata-
anak usia sekolah yang mengalami disfungsi otak minor di
rata dengan kesulitan belajar dan perilaku (behaviour) yang
Indonsia, karena sering tidak terdeteksi. Anak-anak dengan
disertai dengan kelainan fungsi sistem saraf.
disfungsi otak minor biasanya mengalami kesulitan belajar di
sekolah. Kesulitan belajar dapat disebabkan oleh beberapa hal, Gejala klinis
yaitu : Gejala klinis dapat berupa :
1. retardasi mental 1. Kesulitan belajar yang spesifik (satu atau lebih).
2. gangguan fungsi sistem saraf 2. Hiperaktivitas dan/atau distraktibilitas dengan short attention
3. problema emosional primer span.
Anak-anak dengan kesulitan belajar karena retardasi mental 3. Disfungsi motorik.
4. Problema emosional sekunder.
lebih mudah dideteksi/dikenal, dan untuk anak-anak ini telah ada
wadahnya yaitu Sekolah Pendidikan Luar Biasa C. Lagi pula Gejala- gejala tersebut di atas tidak harus ada seluruhnya, dapat
gangguan fungsi sistem sarafnya lebih difus, mencakup hampir berupa kombinasi dari satu atau lebih gejala tersebut.
semua fungsi kortikal, sehingga tidak akan disinggung dalam Kesulitan belajar yang spesifik
makalah ini. Problema emosional primer yang merupakan Kesulitan belajar dapat dimanifestasikan dalam gangguan
penyebab lain dari kesulitan belajar merupakan bidang memproses (processing) masukan sensoris (gangguan persepsi),
psikologi/psikiatri. Yang akan dibahas dalam tulisan ini ialah gangguan dalam mengintergrasikan masukan tersebut (gang-
anak-anak dengan kesulitan belajar tertentu/spesifik, yang di- guan kognitif), gangguan dalam menyimpan dan mendapatkan
sebabkan karena gangguan pada beberapa fungsi sistem saraf kembali data (gangguan memori), atau gangguan dalam mem-
pusat atau lebih terkenal dengan nama Minimal Brain Dys- proses keluaran (gangguan bahasa, gangguan motorik). Beberapa
function (M .B .D), atau Disfungsi Otak Minor (D.0.M.). Anak- ahli menekankan pada problema spesifik yang timbul, sehingga
anak dengan D.O.M. sering tidak terdiagnosis, sehingga tidak disebut dengan disleksia (kesulitan membaca), disgrafia
mendapat penanganan yang semestinya. Ini mengakibatkan (kesulitan menulis), diskalkuli (kesulitan menghitung) dan
timbulnya problema sosial dan emosional sekunder. Bila hal ini disfasia (kesulitan berbahasa).
terjadi, maka akan merupakan problema hidup (life disability),
dimana penanganan akan lebih kompleks. Hiperaktivitas/hiperkinetik
SINDROMA KLINIS
Hiperaktivitas atau aktivitas motorik yang berlebihan pada
Disfungsi Otak Minor atau Minimal Brain Dysfunction S.D.O.M. bersifat fisiologis. Ini harus dibedakan dari hiper-
(M.B.D) terdiri dari berbagai macam gejala klinis, merupakan aktivitas yang disebabkan oleh keadaan cemas (anxiety). Hi-

12 Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984


peraktivitas pada S.D.O.M. timbul pada setiap saat dan dimana menonton TV dan sebagainya.
saja, tidak tergantung dari tempat dan waktu, sedangkan yang Riwayat perkembangan : Biasanya riwayat perkembangan mo-
disebabkan oleh keadaan cemas, hiperaktivitas hanya timbul pada torik kasar tidak terlambat, tapi adanya riwayat anak sering
saat-saat tertentu. Perbedaan ini perlu diketahui oleh seorang tersandung dan jatuh mengingatkan pada suatu inkoordinasi.
dokter, karena terapi yang diberikan berlainan. Silver Riwayat motorik halus : kesulitan mengikat tali sepatu, meng-
mengemukakan bahwa hiperaktivitas terdapat pada kira-kira 40% ancing baju, kesulitan menggunting, melipat dan mewarnai.
dari kasus dengan S.D.O.M. Adanya riwayat anak sering "bengong" atau kejang-kejang.
Masukan sensoris baik visual maupun auditoris yang masuk Riwayat keluarga : adanya kasus kesulitan belajar dalam ke-
ke korteks tidak dapat disaring, karena untuk proses tersebut luarga, hubungan antar keluarga.
diperlukan perhatian. Anak ini menunjukkan suatu distrakti-
bilitas. Karena perhatian cepat dialihkan pada setiap rangsangan PEMERIKSAAN
visual maupun auditoris, maka timbul short attention span.
Pemeriksaan Sindroma Disfungsi Otak Minor terdiri dari :
Disfungsi motorik
1. Pemeriksaan neurologik umum
Biasanya kelainan yang menonjol dalam bentuk gangguan 2. Pemeriksaan daya penglihatan dan pendengaran (sensoric
motorik halus dan koordinasi. Dalam klinik disamping peme- input)
riksaan neurologis umum, dilakukan pemeriksaan neurologis 3. Pemeriksaan jenis hiperaktivitas (fisiologik atau emosional).
minor. 4. Pemeriksaan neurologik minor :
Problema emosional sekunder a. penetapan dominansi serebral (kecekatan tangan, mata dan
kaki).
Telah disebutkan di atas bahwa sering kesulitan belajar
b. penetapan fungsi kortikal luhur :
spesifik tidak dikenal dan tidak mendapatkan penanganan yang
— fungsi persepsi-orientasi
tepat, sehingga anak-anak ini karena mengalami kegagalan demi
— fungsi kognitif (abstraksi dan matematik)
kegagalan menjadi frustrasi. Sehingga stres emosional akan
— fungsi memori
menjadi suatu kelainan perilaku atau problema watak (character)
— fungsi Wicara-bahasa
. Bila hal ini terjadi, kadang-kadang sukar untuk membedakan
c. pemeriksaan koordinasi motorik halus (ketrampilan)
apakah problema emosional ini bersifat primer atau sekunder,
d. pemeriksaan koordinasi motorik kasar (ketangkasan)
sehingga penanganan kurang memuaskan hasilnya. Lagi pula
anak-anak ini akan mendapatkan kesulitan dalam perkembangan PENANGGULANGAN
psikososial selanjutnya. Problema yang dihadapi akan lebih
1. Terapi medikamentosa :
kompleks, karena problema ini tidak saja melibatkan anak itu
sendiri, tetapi juga keluarganya, sekolahnya dan masyarakat. Hal a. untuk hiperaktivitas yang berdasarkan fisiologik dapat
ini sudah merupakan suatu sindroma yang multi-dimensional, diberikan psikostimulan seperti golongan amfetamin, efedrin
dimana banyak pihak yang terlibat dalam penanganannya. dan sebagainya. Penggunaan dalam jangka waktu lama dapat
menyebabkan kemunduran psikik.
b. pada hiperaktivitas karena keadaan cemas dapat diberikan
PENYEBAB/ETIOLOGI
anxiolitik. Pemberian obat-obat ini tidak tanpa gejala sam-
- Kelainan genetik. ping, hingga dianjurkan pemberian dalam jangka waktu
- Kelainan metabolik. pendek dan dosis yang tepat.
- Gangguan otak (brain insult) pada masa prenatal dan c. obat golongan cerebro-metabolic-vasodilators dapat diberi-
perinatal. kan untuk stimulasi metabolisme otak.
- Penyakit dan trauma dari susunan saraf pusat terutama
2. Remedial teaching programme
pada masa krisis dari perkembangan dan maturasi dari
susunan saraf pusat. Program pendidikan khusus yang diberikan di sekolah dapat
memperbaiki penampilan anak.
3. Untuk membantu anak-anak dengan kesulitan belajar secara
TATALAKSANA menyeluruh, para profesional perlu mengikut-sertakan orang tua
Untuk dapat mendiagnosis S.D.O.M., diperlukan data leng- dalam program pendidikan. Orang tua diberi keterangan
kap yang mencakup : mengenai kelemahan dan kemampuan dari anaknya, serta
RIWAYAT MEDIS bagaimana cara menanganinya guna memperoleh keberhasilan
Meliputi riwayat pada masa kehamilan (prenatal), perinatal dan secara maksimal dan mengurangi kegagalan se-minimal
posnatal terutama 2 tahun pertama. mungkin.
Aktivitas yang kurang wajar dari sejak bayi : tidak dapat diam KESIMPULAN
dalam gendongan ibu, berguling-guling dalam box, lari sebelum
berjalan, makan tidak dapat diam di kursi, tidak betah Setiap anak dengan kesulitan belajar sebaiknya dilakukan
pemeriksaan neurologik untuk mengenali adanya disfungsi

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 13


otak minor. Hal ini akan sangat membantu dalam penanggu- Special Needs, Down Syndrome Report. Vol 5 No 3, 1983.
langannya. 3. Touwen BCL and Sporrel T. Soft Signs and MBD. Develop Med Child
Neurol. 1979; 21 : 528 - 529.
4. Wilson EB. Sensory Integrative Therapy for Children With Learning
KEPUSTAKAAN Disorders. Rehabilitation in Australia. Jan 1975; 27 - 29.
5. Wright FS, Schain RJ, Weinberg WA and Rapin I. Learning disabilitie
1. Peter FE, Romine JS and Dykman RA. A Special-Neurological and associated conditions. In : The Practice of Pediatric neurology
Examination of Children with Learning Disabilities. Develop Med Child Edited by Swaiman KF & Wright FS. Saint Louis : The CV Mosby
Neurol 1975;17 : 63 - 78. Company, 1975; pp 883 - 926.
2. Pray BS. Learning Principles from Psychoneurology. People With

14 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


Gangguan Kesadaran
dr. Manthurio dan dr. P Nara
Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin/RSU Ujung Pandang

PENDAHULUAN
Kesadaran merupakan fungsi utama susunan saraf pusat.
Untuk mempertahankan fungsi kesadaran yang baik, perlu suatu
interaksi yang konstan dan efektif antara hemisfer serebri yang
intak dan formasio retikularis di batang otak. Gangguan pada
hemisfer serebri atau formasio retikularis dapat menimbulkan
gangguan kesadaran.l
Bergantung pada beratnya kerusakan, gangguan kesadaran
dapat berupa apati, delirium, somnolen, sopor atau koma. Koma
sebagai kegawatan maksimal fungsi susunan saraf pusat
memerlukan tindakan yang cepat dan tepat, sebab makin lama
koma berlangsung makin parah keadaan susunan saraf pusat
sehingga kemungkinan makin kecil terjadinya penyembuhan
sempurna.2
Makalah ini membahas anatomi fisiologi, etiologi, patofi- Neuron substansia reau-
laris diensefalon, "peng-
sologi, klinik serta penanggulangan gangguan kesadaran. galak kewaspadaan".
ANATOMI FISIOLOGI :
Lintasan asendens dalam susunan saraf pusat yang menya-
lurkan impuls sensorik protopatik, propioseptik dan perasa
pancaindra dari perifer ke daerah korteks perseptif primer di-
sebut lintasan asendens spesifik atau lintasan asendens lem-
niskal.3-5 Ada pula lintasan asendens aspesifik yakni formasio

retikularis di sepanjang batang otak yang menerima dan me-


nyalurkan impuls dari lintasan spesifik melalui koleteral ke pusat
kesadaran pada batang otak bagian atas serta meneruskannya ke
nukleus intralaminaris talami yang selanjutnya disebarkan difus ke
seluruh permukaan otak4,5
Pada hewan, pusat kesadaran(arousal centre) terletak di rostral
Sub dan formasio retikularis daerah pons sedangkan pada manusia pusat
Hip otalamus Pons kesadaran terdapat didaerah pons, formasio retikularis daerah
Mesensefalon Med. oblong
mesensefalon dan diensefalon. Lintasan aspesifik ini
Sistema aseudens difus aspesifik

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 15


oleh Merruzi dan Magoum disebut diffuse ascending reticular PATOFISIOLOGI
activating system (ARAS). Melalui lintasan aspesifik ini, suatu Lesi Supratentorial
impuls dari perifer akan menimbulkan rangsangan pada seluruh Pada lesi supratentorial, gangguan kesadaran akan terjadi
permukaan korteks serebri.6 Dengan adanya 2 sistem lrntasan baik oleh kerusakan langsung pada jaringan otak atau akibat
tersebut terdapatlah penghantaran asendens yang pada pokok- penggeseran dan kompresi pada ARAS karena proses terse-but
nya berbeda. maupun oleh gangguan vaskularisasi dan edema yang di-
Lintasan spesifik menghantarkan impuls dari satu titik pada akibatkannya. Proses ini menjalar secara radial dari lokasi lesi
alat reseptor ke satu titik pada korteks perseptif primer. kemudian ke arah rostro- kaudal sepanjang batang otak.4'6
Sebaliknya lintasan asendens aspesifik menghantarkan se- Gejala- gejala klinik akan timbul sesuai dengan perjalan pro-
tiap impuls dari titik manapun pada tubuh ke seluruh korteks ses tersebut yang dimulai dengan gejala- gejala neurologik fokal
serebri. sesuai dengan lokasi lesi. Jika keadaan bertambah berat dapat
Neuron- neuron di korteks serebri yang digalakkan oleh timbul sindroma diensefalon, sindroma mesei►sefalon bahkan
impuls asendens aspesifik itu dinamakan neuron pengemban sindroma ponto- meduler dan deserebrasi.2'4'6
kewaspadaan, sedangkan yang berasal dari formasio retikularis Oleh kenaikan tekanan intrakranial dapat terjadi herniasi
dan nuklei intralaminaris talami disebut neuron penggalak girus singuli di kolong falks serebri, herniasi transtentoril dan
kewaspadaan. Gangguan pada kedua jenis neuron tersebut oleh herniasi unkus lobus temporalis melalui insisura tentorii.4'6
sebab apapun akan menimbulkan gangguan kesadaran.4,5 Lesi infratentorial
Pada lesi infratentorial, gangguan kesadaran dapat terjadi
ETIOLOGI karena kerusakan ARAS baik oleh proses intrinsik pada batang
otak maupun oleh proses ekstrinsik.2'6
A. Menurut kausa : 1.
1. Kelainan otak
— trauma komosio, kontusio, laserasio, Gangguan difus (gangguan metabolik)
hematoma epidural, hematoma Pada penyakit metabolik, gangguan neurologik umumnya
subdural. bilateral dan hampir selalu simetrik. Selain itu gejala neurolo-
— gangguan sirkulasi perdarahan intraserebral, in- giknya tidak dapat dilokalisir pada suatu susunan anatomik
fark otak oleh trombosis dan tertentu pada susunan saraf pusat.2
emboli. Penyebab gangguan kesadaran pada golongan initerutama
— radang ensefalitis, meningitis. akibat kekurangan 02 , kekurangan glukosa, gangguan sirkulasi
— neoplasma primer, metastatik. darah serta pengaruh berbagai macam toksin.6
— epilepsi status epilepsi. Kekurangan 02
2. Kelainan sistemik Otak yang normal memerlukan 3.3 cc 02/100 gr otak/menit
— gangguan metabolis- : hipoglikemia, diabetik ketoa- yang disebut Cerebral Metabolic Rate for Oxygen (CMR 02).
me dan elektrolit sidosis, uremia, gangguan he- CMR 02 ini pada berbagai kondisi normal tidak banyak berubah.
par, hipokalsemia, hiponatre- Hanya pada kejang- kejang CMR 02 meningkat dan jika timbul
mia. gangguan fungsi otak, CMR 02 menurun. Pada CMR 02 kurang
— hipoksia penyakit paru berat, kegagalan dari 2.5 cc/100 gram otak/menit akan mulai terjadi gangguan
jantung berat, mental dan umumnya bila kurang dari 2 cc 02/100 gram
anemia be- otak/menit terjadi koma.6
rat.
— toksik : keracunan CO, logam berat, obat, alkohol. Glukosa
Energi otak hanya diperoleh dari glukosa. Tiap 100 gram otak
B. Menurut mekanisme gangguan serta letak lesi :
memerlukan 5.5 mgr glukosa/menit. Menurut Hinwich pada
- gangguan kesadaran pada lesi supratentorial.
hipoglikemi, gangguan pertama terjadi pada serebrum dan
— gangguan kesadaran pada lesi infratentorial.
kemudian progresif ke batang otak yang letaknya lebih kaudal.
— gangguan difus (gangguan metabolik).
Menurut Arduini hipoglikemi menyebabkan depresi selektif
Benyamin Chandral menggunakan istilah cemented yang me- pada susunan saraf pusat yang dimulai pada formasio reti-
rupakan huruf- huruf pertama penyebab gangguan kesadaran. kularis dan kemudian menjalar ke bagian-bagian lain.6 Pada
hipoglikemi, penurunan atau gangguan kesadaran merupakan
c = circulation (gangguan sirkulasi darah). gejala dini.
e = ensefalomeningitis.
m metabolisme (gangguan metabolisme). Gangguan sirkulasi darah
e elektrolit and endokrin (gangguan elektrolit dan endok- Untuk mencukupi keperluan 02 dan glukosa, aliran darah ke
rin) otak memegang peranan penting. Bila aliran darah ke otak
• neoplasma. berkurang, 02 dan glukosa darah juga akan berkurang.
trauma kapitis.
• epilepsi
drug intoxication.

16 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


Toksin Dinilai anggota gerak yang memberikan reaksi paling baik
Gangguan kesadaran dapat terjadi oleh toksin yang berasal dan tidak dinilai pada anggota gerak dengan fraktur/kelum-
dari penyakit metabolik dalam tubuh sendiri atau toksin yang puhan. Biasanya dipilih lengan karena gerakannya lebih
berasal dari luar/akibat infeksi. bervariasi daripada tungkai.
KLINIK a. mengikuti perintah : 6
Kesadaran mempunyai 2 aspek yakni derajat kesadaran dan b. adanya gerakan untuk menyingkirkan rang- : 5
kualitas kesadaran. Derajat kesadaran atau tinggi rendahnya sangan yang diberikan pada beberapa tempat
kesadaran mencerminkan tingkat kemampuan sadar seseorang c. gerakan fleksi cepat disertai dengan abduksi : 4
dan merupakan manifestasi aktifitas fungsional ARAS terhadap bahu
stimulus somato-sensorik. d. fleksi lengan disertai aduksi bahu : 3
Kualitas kesadaran atau isi kesadaran menunjukkan kemam- e. ekstensi lengan disertai aduksi : 2
puan dalam mengenal diri sendiri dan sekitarnya yang merupa- f. tidak ada gerakan : 1
kan fungsi hemisfer serebri.2 Perbedaan kedua aspek tersebut 3. Kemampuan bicara
sangat penting sebab ada beberapa bentuk gangguan kesadaran Menunjukkan fungsi otak dengan integritas yang paling ting-
yang derajat kesadarannya tidak terganggu tetapi kualitas gi.
kesadarannya berubah.3,4,5,7
Dalam klinik dikenal tingkat-tingkat kesadaran : kompos
a. orientasi yang baik mengenai tempat, orang : 5
dan waktu
mentis, inkompos mentis (apati, delir, somnolen, sopor, koma) b. dapat diajak bicara tetapi jawaban kacau : 4
Kompos mentis : Keadaan waspada dan terjaga pada seseorang c. mengeluarkan kata-kata yang tidak dimenger- : 3
yang bereaksi sepenuhnya dan adekuat terhadap rangsang vi- ti
suil, auditorik dan sensorik. d. tidak mengeluarkan kata, hanya bunyi : 2
Apati : sikap acuh tak acuh, tidak segera menjawab bila ditanya.
e. tidak keluar suara : 1
Delir : kesadaran menurun disertai kekacauan mental dan mo-
torik seperti desorientasi, iritatif, salah persepsi terhadap
rangsang sensorik, sering timbul ilusi dan halusinasi. tgl.
Somnolen : penderita mudah dibangunkan, dapat lereaksi se- jam
cara motorik atau verbal yang layak tetapi setelah membe-
rikan respons, ia terlena kembali bila rangsangan dihentikan.
kemampuan membuka mata E
Sopor (stupor) : penderita hanya dapat dibangunkan dalam
waktu singkat oleh rangsang nyeri yang hebat dan berulang- a. 4
ulang. b. 3
Koma : tidak ada sama sekali jawaban terhadap rangsang nyeri c. 2
yang bagaimanapun hebatnya. d. 1

PENENTUAN TINGKAT KESADARAN aktifitas motorik M


a. 6 -' - ~ i
Batas antara berbagai derajat kesadaran tidak jelas. b. 5
Untuk menentukan derajat gangguan kesadaran dapat digunakan:
c. 4 `J
A. Glasgow Coma Scale = CGS8, yang pertama kali diperke-
d. 3
nalkan oleh Teasdale & Jennet dalam tahun 1974 dan banyak
digunakan dalam klinik. e. 2
B. Glasgow Pitsburgh Coma Scale = GPCS (modifikasi CGS)2 f. 1

Pada GSC tingkat kesadaran dinilai menurut 3 aspek : Kemampuan bicara V


1. kemampuan membuka mata : EYE opening =E a. 5
2. aktifitas motorik : MOTOR response = M - --~ ~•---
b. 4
3. kemampuan bicara : VERBAL response = V
c 3
d. 2

1. Kemampuan membuka mata e. 1


a. dapat membuka mata sendiri secara spontan : 4
b. dapat membuka mata atas perintah : 3
c. dapat membuka mata atas rangsang nyeri : 2 E + M + V = 3 - 15
d. tak dapat membuka mata dengan rangsang : 1
nyeri apapun E + M + V : bergeser antara 3 dan 15. Teasdale & Jennet
menemukan pada 700 kasus trauma kepala skor E+M+V se-
2. Aktifitas motorik bagai berikut : >9 tidak ada kasus koma, nilai 8 : 58% dengan
koma dan <7 : koma 100%. Penilaian aspek kesadaran

Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 17


harus dilakukan tiap hari beberapa jam sekali yang dicatat pada Klaster ("Cluster breathing")
tabel sehingga memberikan suatu grafik. Keuntungan sistem ini.7 respirasi yang berkelompok diikuti oleh apnoe. Ditemukan pa-
da lesi pons.
• sangat sederhana dan tidak memerlukan alat khusus.
• mudah dikerjakan oleh petugas kesehatan.
• derajat dan lamanya kesadaran dapat diukur secara kuan- p i i o t

titatif.

PEMERIKSAAN KLINIK
Ataksik
Pemeriksaan klinik penting untuk etiologi dan letaknya pernapasan tidak teratur, baik dalamnya maupun iramanya. Lesi
proses patologik (hemisfer batang otak atau gangguan siste- di medulla oblongata dan merupakan stadium preterminal.
mik). Pemeriksaan sistematis dilakukan sebagai berikut :
Anamnesis
— penyakit-penyakit yang diderita sebelumnya.
— keluhan penderita sebelum terjadi gangguan kesadaran.
— obat-obat diminum sebelumnya.
— apakah gangguan kesadaran terjadi mendadak atau perla-
han-lahan.
Pemeriksaan fisik 3. KELAINAN PUPIL : Perlu diperhatikan besarnya pupil (normal,
— tanda-tanda vital : nadi, pernapasan, tensi, suhu. midriasis, miosis), bentuk pupil (isokor, anisokor), dan refleks.
— kulit : ikterus, sianosis, luka-luka karena trauma Midriasis dapat terjadi oleh stimulator simpatik (kokain, efedrin,
— toraks : paru-paru, jantung. adrenalin dan lain-lain), inhibitor parasimpatik (atropin,
— abdomen dan ekstremitas skopolamin dan lain-lain).
Miosis dapat terjadi oleh stimulator parasimpatik dan inhibitor
simpatik. Lesi pada mesensefalon menyebabkan dilatasi pupil
Pemeriksaan neurologis' '3,9 yang tidak memberikan reaksi terhadap cahaya. Pupil yang
1. OBSERVASI UMUM . masih bereaksi menunjukkan bahwa mesensefalon belum rusak.
Pupil yang melebar unilateral dan tidak bereaksi berarti adanya
• gerakan primitif : gerakan menguap, menelan dan memba-
tekanan pada saraf otak III yang mungkin dapat disebabkan oleh
sahi mulut.
herniasi tentorial.
• posisi penderita : dekortikasi dan deserebrasi.
4. REFLEKS SEFALIK : Refleks-refleks mempunyai pusat pada
batang otak. Dengan refleks ini dapat diketahui bagian mana
2. POLA PERNAPASAN : dapat membantu melokalisasi lesi dan batang otak yang terganggu misalnya refleks pupil (me-
kadang-kadang menentukan jenis gangguan. sensefalon), refleks kornea (pons), Doll's head manoeuvre (
Cheyne-Stokes pons), refleks okulo-auditorik (pons), refleks okulo-vestibuler =
Pernapasan
baik. makin lama makin dalam kemudian makin dangkal uji kalori (pons), gag reflex (medulla oblongata).
5. REAKSI TERHADAP RANGSANG NYERI :
Penderita dengan kesadaran menurun dapat memberikan respons
yang dapat dikategorikan sebagai berikut :
a. sesuai (appropriate)
Penderita mengetahui dimana stimulus nyeri dirasakan. Hal
Hiperventilasi neurogen sentral ini menunjukkan utuhnya sistem sensorik dalam arti sistem
pernapasan cepat dan dalam dengan frekuensi ± 25 per menit. asendens spesifik.
Lokasi lesi pada tegmentum batang otak antara mesensefalon b. tidak sesuai (inappropriate)
dan pons. Dapat terlihat pada jawaban berupa rigiditas dekortikasi dan
j\k yi Ai\ )( rigiditas deserebrasi.
i, ;1111 6. FUNGSI TRAKTUS PIRAMIDALIS : Bila terdapat hemiparesis,
, ,i dipikirkan ke suatu kerusakan strukturil. Ella traktus piramidalis
tidak terganggu, dipikirkan gangguan metabolisme.
IiU~iv~4Y '~~'~rrr~ Ill 7. PEMERIKSAAN LABORATORIK :
— darah : glukose, ureum, kreatinin, elektrolit dan fungsi hepar.
Apnestik
— pungsi likuor untuk meningitis dan ensefalitis.
inspirasi yang memanjang diikuti apnoe dalam; ekspirasi de-
— funduskopi mutlak dilakukan pada tiap kasus dengan kesa-
ngan frekuensi 1 - 2/menit. Pola pernapasan ini dapat diikuti
daran menurun untuk melihat adanya edema papil dan tan-

18 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


menilai kesadaran menurut 3 aspek yaitu kemampuan membu-
da-tanda hipertensi.
ka mata, aktifitas motorik dan kemampuan bicara.
— dan lain-lain seperti EEG, eko-ensefalografi, CT-scan dila-
Pemeriksaan klinik dan neurologik secara sistematis perlu
kukan bila perlu.
untuk dapat mengetahui etiologi dan letaknya proses patologik
PENANGGULANGAN penyebab gangguan kesadaran.
Penanggulangan gangguan kesadaran harus dilakukan cepat
Harus dilakukan cepat dan tepat. Gangguan yang berlang-
sung lama dapat menyebabkan kerusakan yang ireversibel dan tepat untuk menghindari terjadinya kematian dan kerusakan
bahkan kematian. Terapi bertujuan mempertahankan homeos- otak yang lebih berat.
tasis otak agar fungsi dan kehidupan neuron dapat terjamin.
KEPUSTAKAAN
Terapi umum :
1. resusitasi kardio-pulmonal-serebral meliputi : 1. Chandra B. Diagnostik dan penanggulangan penderita dalam koma
Cermin Dunia Kedokteran, nomor khusus, 1979; 95 - 100.
a. memperbaiki jalan napas berupa pembersihan jalan 2. Yusuf Misbach. Penatalaksanaan umum penderita koma. Media
napas, sniffing position, artificial airway, endotracheal Aesculapius 30 September 1983.
inlubation, tracheotomy. 3. Bannister R. Consciousness and Unconciousness. Brain's clinical
b. pernapasan buatan dikerjakan setelah jalan napas sudah Neurology 5th ed. Oxford : The English Book Society Oxford
University Press, 1978; pp 150 - 160.
bebas berupa : 4. Mahar Mardjono dan Priguna Sidharta. Kesadaran dan fungsi luhur.
— pernapasan mulut ke mulut/hidung. Neurologi klinis Dasar, cetakan 3 PT Dian Rakyat, Jakarta 1978;
— pernapasan dengan balon ke masker. hal. 184 - 200.
— pernapasan dengan mesin pernapasan otomatis. 5. Priguna Sidharta. Penilaian derajat dan kualitas kesadaran. Tata
Pemeriksaan Dalam Neurologi, cetakan 1 PT Dian Rakyat, Jakarta
c. peredarah darah 1980; bal. 500 - 512.
Bila peredaran darah terhenti, diberikan bantuan sirkulasi 6. Rizal T. Rumawas. Patologi dan patofisiologi gangguan kesadaran.
berupa : Simposium Koma, Jakarta 3 September 1983; hal 1 - 13.
— kompresi jantung dari luar dengan tangan. 7. Andrari S. Penilaian tingkat gangguan kesadaran dengan Glasgow
Coma Scale Simposium Koma, Jakarta 3 September 1983; hal 71-77.
— kompresi jantung dari luar dengan alat. 8. Teasdale G and Jennet B. Assessment of coma and impaired cons-
d. obat-obatan ciousness Lancet 1974; 2 : 81 - 83.
Dalam keadaan darurat dianjurkan pemberian obat secara 9. Pedoman Praktis Pemeriksaan Neurologi FK UI. Jakarta 1978; hal. 39
intravena, seperti epinefrin, bikarbonas, deksametason, - 40.
10. Kasim YA. Cardio-Pulmonal-Cerebral-Resuscitation pada anak.
glukonas kalsikus dan lain-lain. Critical Care Pediatrics Berita Klink 1980; 6 : 17 - 41.
e. elektrokardiogram dilakukan untuk membuat diagnosis 11. Lumbantobing SM. Koma. Kedaruratan dan kegawatan medik. FK UI,
apakah terhentinya peredaran darah karena asistol, fib- Jakarta 1981; hal. 55 - 61.
rilasi ventrikel atau kolaps kardiovaskuler.
f. resusitasi otak tidak banyak berbeda dengan orang dewasa,
bertujuan untuk melindungi otak dari kerusakan lebih
lanjut.
g. intensive care
2. anti konvulsan bila kejang.
Terapi kausal : segera dilakukan setelah diagnosis ditegakkan.
RINGKASAN
Untuk mempertahankan fungsi kesadaran yang baik, perlu
interaksi yang konstan dan efektif antara hemisfer serebri dan
formasio retikularis di batang otak. Penyebab gangguan
kesadaran ialah multi faktorial dengan proses patologis yang
berlokasi supratentorial, infratentorial ataupun difus dalam
susunan saraf pusat.
Pada lesi supratentorial dan infratentorial, gangguan kesa-
daran terjadi karena kerusakan pada "ARAS" sedangkan gang-
guan difus oleh kekurangan 02, kekurangan glukosa, gangguan
peredaran darah serta pengaruh toksin.
Kesadaran meliputi dua aspek yakni derajat kesadaran dan
kualitas kesadaran. Tingkat kesadaran dapat berupa kompos
mentis, apati, delir, sopor dan koma.
Untuk menentukan derajat gangguan kesadaran sehari-hari
dalam klinik dapat digunakan Glasgow Coma Scale yang

Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 19


Beberapa Obat Yang Digunakan Pada
Insufisiensi Serebral dan Demensia
dr. Sardjono O. Santoso dan dr. Santoso Wibowo
Bagian Farmakologi dan Bagian Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

PENDAHULUAN Perubahan- perubahan fisiologik dan patologik pada proses


menua sangat kompleks, dan bisa menyebabkan gangguan afek-
Otak merupakan organ penting bagi manusia, karena otaklah tif serta intelektual.
yang membedakan manusia dengan mahluk-mahluk Tuhan lain
yang hidup di dunia ini. Meskipun besarnya kalah dibandingkan
ANATOMI - FISIOLOGI ALIRAN DARAH OTAK
dengan otak gajah atau kerbau misalnya, tetapi otak manusia
jauh lebih unggul. Aliran darah yang menuju otak berasal dari dua buah arteri
Walaupun ukuran otak relatif kecil dibandingkan dengan karotis dan sebagian berasal dari arteri vertebralis. Kedua arteri
ukuran tubuh manusia secara keseluruhan, otak menerima darah vertebralis bergabung membentuk arteri basilaris otak belakang
yang cukup banyak yakni 750 ml per menit atau 15 persen dari dan arteri ini berhubungan dengan kedua arteri karotis interna
seluruh curah jantung dalam keadaan istirahat. Aliran darah yang yang juga berhubungan satu dengan lainnya membentuk suatu
menuju ke jaringan otak adalah 50 - 55 ml per 100 grarn otak per sirkulus Willisi. Dengan demikian terjadilah jalinan kolateral
menit.l Jumlah darah yang mengalir ini relatif tidak mengalami yang cukup besar pada arteri- arteri besar yang mengurus
variasi yang begitu besar walau dalam keadaan yang ekstrim jaringan otak. Adanya kolateral yang besar ini, maka pada orang
sekalipun. Ini disebabkan terdapatnya mekanisme khusus yang muda kedua arteri karotis biasanya dapat disumbat tanpa
mengatur tetapnya aliran darah ke otak. Tentu saja terdapat menimbulkan efek yang merugikan fungsi serebral. Sedangkan
kekecualian yakni bila terdapat karbondioksida yang berlebihan pada orang tua, arteri besar pada dasar otak sering mengalami
dalam otak atau otak mengalami kekurangan oksigen yang berat. sklerosis dan menyumbat arteri karotis, sehingga penyediaan
Pada usia lanjut, fungsi- fungsi sentral menurun, sehingga darah ke otak berkurang sedemikian rupa sampai terjadi
antara lain terjadi penurunan proses belajar dan berpikir, gangguan fungsi serebral.3
aktivitas seksual, kebutuhan tidur, motivasi dan aktivitas pada Terdapat beberapa hal yang mengatur aliran darah otak, yakni
umumnya. Dalam proses menua yang berjalan normal, massa 1. Pengaturan metabolisme
otak pada usia 70 tahun menurun sampai 10 - 15%. Belum jelas Bila metabolisme neuronal meningkat, produk CO2 akan me-
apakah terjadi penurunan jumlah sel atau terjadi suatu ningkat, sedangkan pH ekstra seluler akan menurun sehingga
"pengerutan". Pada kira-kira 10% manusia yang berumur 60 - 70 terjadi vasodilatasi serebral yang menyebabkan peningkatan
tahun, terjadi penurunan massa otak sampai lebih dari 30% dan aliran darah.
terdapat 3 golongan yaitu : 2. Autoregulasi serebral
1. Demensia senilis/presenilis dari type Alzheimer dengan atrofi Pengaturan ini merupakan kapasitas bawaan pembuluh darah
primer berupa degenerasi atau penurunan jumlah sel dari untuk mempertahankan aliran darah otak. Pembuluh darah otak
otak besar. menyesuaikan lumennya pada ruang lingkupnya sedemikian
2. Demensia multiinfark dengan kausa vaskuler sebagai akibat rupa, sehingga aliran darah menetap, walaupun tekanan perfusi
suatu arterioklerosis serebral. berubah. Pengaturan diameter lumen ini di sebut autoregulasi.
3. Bentuk-bentuk lain terutama karena kausa ekstrakranial.2 Walaupun teori ini cukup menarik, tetapi terdapat bukti-bukti
Dengan sendirinya suatu terapi farmakologik hanya bisa yang menunjukkan pengaruh faktor neurogenik pada
berhasil bila terdapat suatu gangguan fungsional pada SSP. autoregulasi ini.

20 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


3. Pengaturan neurogenik — isi pikiran disimpan di dalam kode/file berupa sekuens asam
Peran faktor neurogenik telah dibuktikan yakni berupa amino atau :
pengawasan susunan saraf otonom yang terletak di batang otak — apakah karena perubahan morfologik terjadi proses transmisi
dan diensefalon, serta inervasi alfa dan beta adrenergik dan pada berbagai sinaps yang lebih efisien.
kolinergik. Adrenergik alfa bersifat vasokonstriktif, sedangkan Adalah suatu kenyataan bahwa tiap-tiap fase proses berpikir
adrenergik beta dan kolinergik mengakibatkan vasodilatasi. dapat dipengaruhi secara farmakologik.
Peningkatan aliran darah hemisferik dapat disebabkan oleh Beberapa contoh :
perangsangan formasio retikularis. Agaknya hal ini diakibatkan Fase Inisial dan mungkin juga PPJP dapat dipengaruhi antara
oleh peran faktor neurogenik dan akibat meningkatnya lain oleh renjatan listrik (Elektroshock) dan Narkosis.
metabolisme otak. Skopolamin menghambat konsolidasi atau pemindahan isi
pikiran dari PPJP ke PPJPa dan efek ini dapat dihilangkan
dengan Fisostigmin : juga Benzodiazepin agaknya mem-
PATOFISIOLOGI INSUFISIENSI SEREBRAL DAN DEMEN punyai efek yang sama.
SIA Zat-zat yang dengan suatu cara tertentu mempengaruhi
Insufisiensi serebral merupakan salah satu jenis penyakit mekanisme transmisi dalam sinaps terutama bekerja pada
serebrovaskuler yang banyak dijumpai terutama pada usia lanjut. PPJP, tetapi juga ada pengaruh pada PPJPa, sedangkan
Proses patologik yang terjadi yaitu iskemia otak, yakni aliran zat-zat yang mempengaruhi sintesis protein (seperti Puro-
darah ke suatu bagian otak berkurang sehingga menimbulkan misin, Sikloheksimid, dan Anisomisin) terutama hanya
manifestasi klinik berupa gangguan fungsi serebral. Tergantung mempengaruhi PPJP dalam arti suatu amnesia retrograd.
dari bagian otak yang mengalami iskemia maka gangguan Efek zat-zat tersebut pada proses berpikir tidak hanya tergantung
fungsi serebral dapat berupa : tinitus, vertigo, gangguan berfikir, dari dosis tapi juga dari waktu kapan diberikan.
dan sebagainya. Terjadinya insufisiensi serebral dan gangguan Anatomi lokalisasi proses berpikir belum jelas benar tetapi
metabolisme otak saling berkaitan. Kelainan yang satu dapat umumnya dianggap terdapat suatu kerjasama antara diense-
menyebabkan atau memperberat kelainan yang lain. Oleh karena falon, hipokampus dan struktur-struktur fungsi limbik yang lain.
itu, kadang-kadang obat-obat yang digunakan atau dinyatakan Secara eksperimental zat-zat yang mempengaruhi proses berpikir
bermanfaat pada insufisiensi serebral dapat pula digunakan dinilai dari kerjanya zat-zat tersebut pada proses belajar.
untuk meningkatkan atau memperbaiki metabolisme otak. Idealnya ialah bila bisa dibuktikan bahwa dengan pengaruh
Pada usia lanjut terjadi penurunan katekolamin terutama suatu zat terjadi suatu reaksi tertentu yang lebih cepat dengan
fungsi-fungsi dopamin pada berbagai daerah otak, sehingga bisa kesalahan yang lebih sedikit dan dapat dikerjakan terus menerus
terjadi suatu ketidak-seimbangan antara dopamin dan asetikolin dalam waktu yang lebih lama.
atau lebih baik disebut antara dopamin dan GABA. Dilain fihak
juga terjadi penurunan dari sistem kolinergik yaitu asetilkolin, OBAT-OBAT YANG DIGUNAKAN UNTUK GANGGUAN
asetikolinesterase dan asetilkolinetransferase, dimana antara lain FUNGSI SEREBRAL
telah diperiksa bahwa pada usia 50 tahun terjadi penurunan 40 -
Gangguan fungsi serebral dapat disebabkan oleh berbagai
60% dari asetilkolintransferase dibanding dengan pada umur 20
macam sebab. Obat-obat yang dibicarakan di sini adalah untuk
tahun.
gangguan fungsi akibat insufisiensi serebral dan menurunnya
Pada proses berpikir, maka informasi didapat lalu disimpan
metabolisme otak. Manfaat obat-obat ini untuk menanggulangi
(teoritis disimpan sampai mati), sehingga seharusnya informasi
gangguan fungsi serebral masih belum mantap, karena data yang
tersebut setiap waktu dapat dipanggil (diingat) kembali.
tersedia umumnya pada hewan percobaan sedangkan data uji
• Penyimpanan (Storage. ) mula-mula terjadi pada proses
klinik pada manusia belum meyakinkan. Selain itu, parameter
pemikiran jangka pendek (PPJP) (KZG = Kurzzeitgedacht-
perbaikan fungsi serebral sukar diukur dengan pasti dan di-
nis) yang lamanya beberapa detik sampai menit, mungkin
perlukan waktu yang lama dan dana yang besar untuk menilai
juga beberapa hari, kemudian disimpan dalam :
manfaat penggunaan obat-obat ini.
• Proses Pemikiran Jangka Panjang (PPJPa) (LZG = Lang-
zeitgedachtnis) dimana isi pikiran dikonsolidasi. Penggolongan obat berdasarkan cara kerjanya :
Ada pendapat bahwa sebelum PPJP terdapat suatu Fase Inisial 1. Zat-zat dengan kerja utama pada peredaran darah serebral
yang pendek dan antara PPJP dan PPJPa juga terdapat suatu — vasodilator misalnya Naftidrofuril, xantinolnikotinat.
Fase Peralihan. Mekanisme fase pertama (PPJP) agaknya — antikoagulan, plasmaekspander, penghambat agregasi.
terjadi dalam neuron-neuron pertama sedangkan pada fase kedua 2. Zat-zat dengan kerja utama pada sel saraf
(PPJPa), terjadi sintesis protein yang diperkuat atau diubah — zat yang mempengaruhi transmisi sinaps misalnya L-DOPA
sebagai akibat suatu peninggian RNA. Yang masih belum jelas dan zat-zat sejenis DOPA (lergotril, Amfetamin); Inhibitor
ialah apakah dalam fase kedua (PPJPa) ini : MAO; Fisostigmin.
— Psikostimulan dan Analeptik sentral seperti Pemolin, Di-
metilantinoetanol, Fenkamfamin, Meklofenoksat.

Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 21


— zat-zat yang mempengaruhi sintesis protein misalnya asam Infra cerebral steal dapat terjadi pada pemberian CO2 kon-
orotik. sentrasi tinggi, sehingga berdasarkan teori ini dibuatlah postulat
— Lain-lain misalnya Piritinol, Pirasetam, Kavain dan Prokain. bahwa pengobatan dengan vasodilator tidak efektif bahkan
Seringkali terjadi tumpang tindih dalam penggolongan di atas berbahaya pada pasien dengan infark akut. Tetapi penelitian lain
pada anjing menunjukkan peningkatan aliran darah otak pada
misalnya Amfetamin yang merupakan zat sejenis DOPA juga
adalah suatu Psikostimulan. pemberian inhalasi campuran CO 2 5% dalam 02 , yakni
konsentrasi yang sama seperti yang dianjurkan pada pemberian
Penggolongan obat berdasarkan struktur kimianya : inhalasi intermiten pada manusia. a Peningkatan cerebral blood
— Alkaloid misalnya Dihidroergotoksin, Papaverin, derivat- flow ini terjadi melalui sirkulasi kolateral ke daerah yang
derivat vitamin. iskemik.
— Xanthin : Pentifilin, Pentoksifilin, Xantinol. Pemberian heksobendin intravena meningkatkan aliran darah
— Piperazin : Cinarizin, Flunarizin, Piribedil.
hemisferik pada daerah infark dengan sedikit atau tanpa
— Derivat asam Fenoksiasetat : Fenoksedil, Feksikain, Meklo-
penurunan tekanan darah sistemik. 9 Heksobendin juga tidak
fenoksat.
mempengaruhi metabolisme otak.
— Feniletanolamin : Isoksuprin, Nilidrin, Oksifedrin, Tinofedrin.
— Lain-lain : Bensiklan, Betahistin, Siklandelat, Naftidrofuril, 2. Gabungan heksobendin, etamivan dan etofilin (Instenon)
Pirasetam, Piritinol. Etamivan merupakan perangsang susunan saraf pusat, yang
Pada usia lanjut, maka prestasi serebral bisa menurun karena tempat kerjanya diduga di substansia retikularis pada pusat
gangguan peredaran darah dan atau berkurangnya fungsi sel-sel pernafasan dan sirkulasi. Pemberian etamivan saja ternyata
saraf, sehingga bisa dibenarkan untuk memberikan obat-obat tidak memberikan perubahan yang berarti pada aliran darah. 6
tersebut di atas. Tidak boleh dilupakan bahwa perbaikan selain Etifilin meningkatkan aliran darah koroner, mempunyai efek
oleh pengaruh obat bisa juga disebabkan oleh efek plasebo dan inotropik positif terhadap jantung serta mempunyai efek diuretik
perbaikan yang spontan. Walaupun efek zat-zat tersebut masih yang mengurangi edema serebri serta memperbaiki metabolisme
sering dianggap kontroversial, akan tetapi pemikiran yang ingin jaringan otak. Etofilin meningkatkan aliran darah pada daerah
dicapai antara lain ialah : iskemik, sedangkan pada daerah normal perubahan hanya
• perbaikan utilisasi/pemakaian 02 dan glukosa oleh SSP sedikit atau hampir tidak ada. 6
• peningkatan resistensi jaringan otak terhadap hipoksia Gabungan dari ke tiga preparat ini rupa-rupanya mempunyai
• peningkatan sintesis protein efek sinergistik yakni meningkatnya aliran darah otak secara
• perbaikan sirkulasi serebral nyata. Penggunaan baik heksobendin maupun gabungan tiga
preparat ini cukup popular di Eropa, tetapi di Amerika Serikat
• perbaikan prestasi dalam proses belajar dan berpikir.
penggunaannya masih terbatas pada keperluan penelitian. 5,9 Di
Obat-obat ini diindikasikan pada penurunan prestasi serebral
Indonesia penggunaan obat ini masih dalam taraf permulaan dan
yang disebabkan oleh berbagai kausa baik vaskuler maupun non- belum pernah ada uji klinik atau publikasi mengenai
vaskuler.
penggunaan obat ini.
Obat-obat untuk insufisiensi serebral
3. Bensiklan
Golongan obat ini terutama diindikasikan untuk kelainan
Obat ini merupakan suatu sikloalkano eter yang menyebab-
fungsi serebral yang diduga akibat gangguan penyediaan darah, kan vasodilatasi dengan jalan relaksasi otot-otot pembuluh da-
atau berkurangnya aliran darah ke jaringan otak. rah tanpa adanya perubahan pada transmitor adrenergik di
1 . Heksobendin daerah inervasi adrenergik. Dengan demikian maka terjadi
Heksobendin (N, N-bis (3- (3,4,5-trimetoksi)-propil)-etilen-- vasodilatasi yang lebih banyak pada jaringan kolateral yang
diamindihidroklorid merupakan vasodilator kuat yang dapat tadinya tidak berfungsi disekitar daerah yang iskemik, dan alir-
meningkatkan aliran darah otak (cerebral blood flow) dan pasien an darah mikrosirkuler juga meningkat. Oleh karena terjadi
iskemia serebral dan infark, baik pada daerah iskemik maupun peningkatan aliran darah di daerah iskemik yang lebih besar
pada daerah yang normal, tanpa adanya efeksteal 4,5 . Aliran darah (40%) daripada di daerah lain (20%) maka tidak terjadi suatu
otak total dan regional ini diukur dengan metode penyuntikan steal syndrome.
Xenon 133 intra karotis. 6 Heksobendin diberikan intravena dan Obat ini meninggikan jumlah glukosa di otak, menimbulkan
30 menit kemudian dilakukan pengukuran aliran darah otak. toleransi pada keadaan anoksia serta meningkatkan akumulasi
Selama penyelidikan ini diukur juga tekanan darah sistemik dan glukosa dan kinin. Dengan demikian metabolisme otak disti-
diambil contoh darah arteri dan vena jugularis untuk mulasi, dan terjadi suatu perubahan mekanisme transpor glu-
pemeriksaan pCO 2 dan pO 2 . Terlihat peningkatan aliran darah kosa dan substrat yang lain pada sawar darah otak dengan jalan
otak sebanyak 15%, dengan penurunan resistensi vaskuler intra meningkatkan permeabilitas sawar darah otak. l0 Selain itu
serebral yang menetap untuk 35 menit. 7 Pemberian heksobendin terjadi pengurangan tendensi aglutinasi platelet. Sesuai dengan
secara oral juga meningkatkan aliran darah otak. cara kerjanya, maka obat ini terutama bermanfaat bila terdapat
suatu insufisiensi sirkulasi otak. Dengan dosis 300-600 mg/hari
selama 8 minggu, terlihat perbaikan dalam kriteria obyektif
maupun subyektif pada gangguan sirkulasi serebral 11
22 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
4. Co-dergokrin mesilat e. tidak mempengaruhi sistem kardiovaskuler maupun per-
Obat ini terdiri dari dihidroergokornin mesilat, dihidroergo- napasan.12
kristin mesilat dan dihidroergokriptin mesilat dalam jumlah yang Mekanisme kerja obat ini adalah sebagai berikut :
sama banyaknya. aktivasi metabolik peredaran darah otak
Khasiat campuran komponen- komponen ini antara lain adalah : meningkatkan kecepatan metabolik serebral oksigen dan
glukosa regional
reaktivasi neurotransmisi sentral dengan cara yang menye-
menormalkan aliran darah ke daerah iskemik, bukan dengan
rupai dopamin dan serotonin, yaitu stimulasi reseptor-reseptor
suatu aktivitas langsung tetapi sekunder
post sinaptik
menurunkan rasio laktat/piruvat
menggantikan sebagian dari defisiensi neurotransmitor akibat
Dosis yang dianjurkan ialah 2,4 - 4,8 g/hari, selama 6 - 12
proses menua dan menggunakannya secara lebih efisein
minggu.16-18 Status obat ini masih dimintakan persetujuan kepada
sebagai suatu agonis dopamin dan serotonin maka obat ini
FDA (Food Drug Administration).
memulihkan fungsi serebral sehingga diharapkan terjadi
kemajuan-kemajuan gejala demensia. 2. Piritinol
Obat ini meningkatkan aliran darah serebral (CBF) dan kon- Suatu derivat B6 (piridoksin), yang termasuk juga golongan
sumsi oksigen, juga terjadi aktivasi suksinik oksidase (MAO), Nootropik, menyebabkan peningkatan aliran darah otak secara
dan melakukan inhibisi ATP-ase, adenil siklase dan fosfodies- selektif terutama ke substansia grisea. Pada penyelidikan
terase sehingga mengkonservasi konsumsi ATP.12 Dosis yang ditemukan peningkatan aliran darah sebanyak 12% ke substan-
dianjurkan adalah 3 - 6 mg/hari dan perbaikan gejala diharapkan sia grisea dan 4% ke substansia alba di daerah-daerah yang
dalam 3 - 4 minggu, sehingga dianjurkan pemakaian dalam mempunyai sirkulasi patologik. Peningkatan aliran darah ini
jangka waktu lama. merupakan akibat sekunder dari peningkatan metabolisme.19
Dengan pemberian obat ini, konsumsi glukosa oleh otak dinor-
5. Pentoksifilin
malkan kembali.20 Piritinol juga menurunkan permeabilitas sawar
Obat ini merupakan suatu derivat Xantin yang mempunyai darah otak terhadap fosfat, menurunkan kadar GABA dan
mekanisme sebagai berikut : GABA-transaminase dan meningkatkan RNA residual dan RNA
menghambat agregasi platelet dan eritrosit, memperbaiki ribosomal.12 Aktivasi umum yang disebabkan obat ini
deformabilitas eritrosit serta mengurangi viskositas darah, diperkirakan karena pengaruhnya terhadap membran fosfolipid
sehingga terjadi peningkatan aliran darah otak eritrosit, di tempat mana terjadi peningkatan pengaturan molekul-
memperbaiki utilisasi Oksigen dan glukosa otak memperbaiki molekul pada lapisan ganda fosfolipid.21
permeabilitas dinding sel serta fungsi sel otak sehingga Dosis yang dianjurkan ialah 600 - 800 mg/hari dan efeknya
edema serebri berkurang.13 baru terlihat setelah 3 minggu dan jelas bermakna terhadap
Dari mekanisme kerja obat ini maka dapat dimengerti bahwa plasebo setelah 6 - 9 minggu.22 Beberapa penyelidik menge-
obat ini terutama diindikasikan pada keadaan- keadaan di mana mukakan, bahwa dengan dosis 600 mg/hari atau lebih selama 2 -
terdapat insufisiensi aliran darah otak. Dosis yang dianjurkan 4 bulan jelas memberikan hasil yang lebih baik daripada dengan
berkisar antara 300 - 1200 mg/hari selama 8 minggu.13-15 dosis rendah atau plasebo pada organic brain syndrome
Obat-obat yang meningkatkan atau memperbaiki metabolis- termasuk demensia.22-24 Manfaat obat ini terutama pada pasien
me otak dengan gangguan serebral yang berhubungan dengan gangguan
Golongan obat ini diindikasikan untuk kelainan fungsi se- metabolisme glukosa.25 Walaupun demikian perlu dilakukan
rebral yang terutama diduga akibat menurun atau terganggunya penelitian uji klinik yang lebih luas dengan rancangan yang lebih
metabolisme otak. baik untuk memastikan manfaat obat ini.

1. Pirasetam KESIMPULAN
Obat ini adalah suatu derivat siklik gamma amino-butyric
acid (GABA), tetapi tidak mempunyai sifat-sifat GABA.16 Obat Telah dibicarakan beberapa obat yang lazim dipakai pada
ini disebut suatu Nootropik yang berarti : kelainan insufisiensi serebral dan demensia. Walaupun efek obat-
a. tidak mempunyai vasoaktivitas yang langsung, yakni tidak obat tersebut masih sering dianggap kontroversial dan perlu
menyebabkan vasodilatasi atau vasokonstriksi, tidak mem- diadakan penelitian uji klinik yang luas dengan rancangan
pengaruhi aliran darah serebral total (total CBF) dan tidak penelitian yang mantap untuk dapat menilai manfaat obat-obat
menyebabkan suatu steal phenomenon. ini secara tuntas, namun agaknya persoalannya mempunyai titik
b. tidak menyebabkan perubahan pada aktivitas dasar EEG. Obat awal pada penentuan jenis kausanya terlebih dulu.
ini tidak mengubah ritme dasar EEG, tetapi menurunkan Dengan mengingat penggolongan obat berdasarkan cara
jumlah gelombang- gelombang delta. kerjanya, maka obat-obat yang kerja utamanya pada sel saraf
c. melewati sawar darah otak (blood brain barrier) dalam ke- atau meningkatkan metabolisme sel-sel saraf dapat diberikan
adaan normal maupun patologik pada keadaan- keadaan degeneratif. Sedangkan obat-obat yang
d. mempunyai efek samping yang minimal kerja utamanya pada peredaran darah serebral, dapat di berikan
pada keadaan insufisiensi serebral. Disamping itu perlu

Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 23


diperhatikan pengobatan penyakit yang mendasari kelainan Res Opin Vol 7 : No. 4, 1981.
14. Buckert D & Harwart D. Trials of BL 191 in double blind test, II
serebral yang merupakan kausa ekstrakranial.
Farmaco, 1976;5, 31.
Dengan demikian maka terapi farmakologik diharapkan da- 15. Takamatsu S, Sato K, Takamatsu M, Sakuta S & Mizuno S. Cha-
pat memberikan manfaat yang optimal. nges in haematological and blood chemical parameters after treat-
ment of aged arteriosclerotic patients with Pentoxifylline, Phar-
matherapeutica, Vol. 2, No. 3, 1979.
16. Chouinard G, Annable L, Olivier M, Fontaine F & Ross Chouinard
KEPUSTAKAAN
A. Psychotropic and Neurophysiologic effects of Piracetam in
1. Guyton AC. Blood flow through special areas of the body. Text book Geratric Psychiatr Patients. a controlled study. preliminary report.
of medical Physiology, 4th. edition, WB Saunders Co, 1971; p. International Symposium on Nootropic Drugs, Rio de Janeiro,
367. 1979; pp 23 - 30.
2. Stumpf C. Pharmaka and Mirnleistung, in Neuropharmakologie, 17. Castellanos V & Suarez MV. The use of Piracetam in the Psycho-
Springer Verlag, Wien New York, 1983; pp 157 - 163. Organic Syndrome of Senility. International Symposium on
3. Rasyad RS. Efek gabungan Hexobendin, Etamivan dan Etofilin pada Nootropic Drugs, Rio de Janeiro, 1979; pp 49 - 60.
penderita CVD, makalah Joint-session Neuropharmacology, 18. Mendivil MAC. Clinical work in Patients with a Psyeho-Organic
Agustus, 1982. Syndrome of Senility using the Drug Piracetam. International
4. Marshall J. The management of cerebrovascular disease, 3rd ed. Symposium on Nootropic Drugs, Rio de Janeiro, 1979; pp 31 - 48.
Oxford: Blackwell Scientific Publications, 1976; 1 - 60. 19. Herrschaft H. Die Wirkung von Pyritinol ouf die Gehirndurchblu-
5. Meyer JS. Modern concepts of cerebrovascular disease, Spectrum tung des Menschen,.Munchen Medizinische Wochenschrift, 60,
publications, New York, 1975. 1978.
6. Meiss, WD. Drug effects on regional cerebral blood flow in focal 20. Becker K & Hoyer S. Hirnstoffwechseluntersuchungen unter der
cerebrovascular disease, Journal of the Neurological Science, 1973, Behandlung mit Pyrithioxin, Deutsche Zeitschrift fur Nervenheil-
19 : 461 - 482. kunde, p1966; pp 188 - 200.
7. Meyer JS et al. Effects of hexobendine on cerebral hemispheric 21. Martin KJ. On the Mechanism of Action of Encephabol, J. int. Med.
blood flow and metabolism. Neurology 1971; 121. 7 : 691 - 702. Res, Vol. 2. no. 2, 1983.
8. Kraupp D et al. The effect of Hexobendine on cerebral blood flow 22. Hamouz W. The use of Pyritinol in patients with moderate to se-
and metabolism, Arzneim-Forsch, 1969; 19 : 1691 - 1698. vere organic psychosyndrome, Pharmatherapeutica, Vol. 1 No. 6,
9. McHenry L et al. Regional cerebral blood flow and cardiovascular 1977.
effect of hexobendine in stroke patiens, Neurology, vol. 22, 1972; 23. Cooper AJ & Magnus RV. A placebo-controlled study of Pyritinol
3:213:217-223. in Dementia, Pharmatherapeutica, Vol 2, No. 5, 1980.
10. Hapke HJ. The effect of Fludilat on the Blood Brain Barrier, The- 24. Glatzel J. Dose-Effect Relationship of Drally Administered Pyriti-
rapie Woche, English Edition 24. Nr 25, 17; 1974. nol in the Chronic Brain Syndrome, Med. Klinik, 1978; 73. 1117-
11. Bartles H & Schneider B. Investigation of the pharmacodynamic 1121.
action of Fludilat in the . treatment of cerebrovascular insuffi- 25. Hoyer S, Oesterreich K & Stoll KD. Effects of Pyritinol HCL on
ciency, Med. Welt 1978; 29 : 1056 - 1060. blood flow and oxidative metabolism of the brain in patients with
12. Skondia V. Criteria for Clinical Development and Classification of Dementia, Arzneim Forsch 1977; 27, 671.
Nootropic Drugs. International Symposium on Nootropic Drugs, 26. Kohimeyer K. The effect of Bencyclane on the General and Re-
Rio de Janeiro, 1979; pp 7 - 20. gional Blood supply of the brain. Investigation with the Xenon 133
13. Muller R & Lehrach F. Haemorheology and Cerebrovascular Di- clearance method. Herz/Kreislauf 4. Nr. 5, 1972; 196 - 203.
sease : Multifunctional approach with Pentoxifylline, Curr Med

9A RAH

24 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


Penanggulangan Bencana
Peredaran Darah di Otak
Dr. Sahala Maringan Lumban Tobing
Bagian Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta

PENDAHULUAN Pada stroke yang ringan, iskemia berlangsung singkat, defisit


neurologik dapat pulih sempurna. Bila pemulihan sempurna ini
Bencana peredaran darah di otak (BPDD) sering dikenal
terjadi dalam jangka waktu 24 jam, ia dinamakan "serangan
dengan kata stroke atau cerebrovascular accident, merupakan
iskemia sepintas" (transient ischemic attack atau disingkat TIA).
penyebab invaliditas yang paling sering pada golongan umur di
Bila pulih sempurna terjadi setelah waktu 24 jam, disebut defisit
atas 45 tahun Di negara industri BPDD merupakan penyebab
neurologik iskemia yang reversibel (reversible ischemic
kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan keganasan
neurologic deficit atau disingkat RIND).
Otak merupakan organ yang membutuhkan banyak oksigen
Pada iskemia yang lebih berat atau berlangsung lama, terjadi
dan glukosa Zat ini diperolehnya dari darah. Di otak hampir
defisit neurologik yang irreversibel, yang menetap, dan
tidak ada cadangan oksigen, sehingga jaringan otak sangat
merupakan cacad.
bergantung kepada keadaan aliran darah setiap saat. Beberapa
detik saja aliran darah terhenti maka fungsi otak akan ter- 'Stroke" hemoragik
ganggu; bila aliran darah kesuatu daerah otak terhenti selama Stroke hemoragik terjadi karena salah satu pembuluh darah di
kira-kira 3 menit maka jaringan otak akan mati (infark). Gang- otak (aneurisma, mikroaneurisma, kelainan pembuluh darah
guan aliran darah di otak dapat diakibatkan oleh gangguan di kongenital) pecah atau robek. Keadaan penderita stroke
pembuluh darah darah atau jantung atau gabungan ketiga faktor hemoragik umumnya lebih parah. Kesadaran umumnya menurun.
tersebut Adanya BPDD dapat dengan mudah diketahui, yaitu Mereka berada dalam keadaan somnolen, sopor atau koma pada
dari terjadinya defisit neurologik yang timbul secara mendadak fase akut.
misalnya lumpuh sebelah badan mendadak. PENANGGULANGAN "STROKE"
Kita mengenal dua jenis stroke, yaitu : • Perawatan umum
• Stroke non-hemoragik — Memonitor, dan bila perlu memperbaiki fungsi pernafasan,
• Stroke hemoragik tekanan darah dan jantung.
"Stroke" non-hemoragik — Mengusahakan keadaan metabolisme yang optimal, mem-
Didapatkan penurunan aliran darah sampai di bawah titik kri- perhatikan kebutuhan akan : cairan, kalori dan elektrolit.
tis, sehingga terjadi gangguan fungsi pada sebagian jaringan — Memperhatikan fungsi miksi dan defekasi.
otak Bila hal ini lebih berat dan berlangsung lebih lama dapat — Mencegah terjadinya dekubitus, pneumonia ortostatik.
terjadi infark dan kematian. Berkurangnya aliran darah ke otak • Mendeteksi dan bila perlu mengobati faktor risiko :
dapat disebabkan oleh berbagai hal : misalnya trombus, emboli — Hipertensi
yang menyumbat salah satu pembuluh darah, atau gagalnya — diabetes mellitus
pengaliran darah oleh sebab lain, misalnya kelainan jantung — kelainan jantung
(fibrilasi, asistol). — hiperlipidemia, hiperkolesterolemia
Stroke non-hemoragik lebih sering dijumpai daripada yang — obesitas
hemoragik. Diagnosis mudah ditegakkan, yaitu timbulnya defi- — berhenti merokok
sit neurologik secara mendadak (misalnya hemiparesis), dan • Memberikan pengobatan atau tindakan khusus.
kesadaran penderita umumnya tidak menurun. — antiedema

Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 25


— antiagregasi, antikoagulasi Obat anti-agregasi trombosit
— antifibrinolisis Trombosit mempunyai kemampuan untuk beragregasi dan dapat
— meningkatkan aliran darah dan metabolisme otak. membentuk trombus atau tromboemboli. Diduga bahwa
• Tindakan bedah tromboemboli mempunyai peranan pada banyak kasus stroke.
— Mengeluarkan hematoma (bila perlu) Untuk mencegah hal ini digunakan obat-obat anti-agregasi.
— Melakukan EC-IC shunt. Telah banyak dilakukan penyelidikan mengenai khasiat obat anti
• Melakukan rehabilitasi. -agregasi untuk mencegah berulangnya stroke pada penderita
TIA (transient ischemic attack) atau stroke ringan. Banyak
• Mencegah berulangnya stroke. laporan yang mengemukakan bahwa obat anti-agregasi seperti
asetosal dapat mengurangi kambuhnya stroke pada penderita
stroke ringan. Obat anti-agregasi yang dapat digunakan ialah :
Hipertensi
asetosal, dipiridamol, sulfinpirazon, pentoksifilin. Obat yang
Sebagian terbesar penderita stroke adalah penderita hiper- paling banyak diselidiki ialah asetosal. Dosis yang digunakan
tensi. Hipertensi adalah faktor risiko yang paling "kuat" bagi bermacam-macam, ada yang melakukan penyelidikan dengan
terjadinya stroke. Bila hipertensi diobati secara adekuat, maka dosis 2 x 650 mg sehari, ada dengan 2 x 500 mg sehari; 500 mg
jumlah penderita stroke dapat dikurangi. Pada fase akut kita sehari 10 mg/kg berat badan sehari.1 Bahkan ada yang
harus hati-hati menurunkan tensi. Oleh karena keadaan iskemia, melaporkan bahwa Asetosal dengan dosis rendah mempunyai
maka fungsi autoregulasi menjadi terganggu. Aliran darah di manfaat, yaitu 40 mg sehari.2 Lamanya pengobatan berkisar
otak bergantung kepada tekanan perfusi (tekanan darah sistemik antara 2 sampai 5 tahun. Obat lainnya, yaitu dipiridamol,
- tekanan venous). sulfinpirazon dan pentoksifilin masih kurang banyak diselidiki.
Bila tekanan diastole pada fase akut tidak melebihi 115 mm Hg Masih ditunggu hasil penyelidikan yang lebih luas. Hasil
tidak diberikan obat anti-hipertensi. Bila memberikan obat anti- sementara melaporkan bahwa dipiridamol dan sulfinpi razone
hipertensi pada fase akut, harus dijaga agar turunnya tensi tidak bila diberikan tersendiri tidak mempunyai khasiat, tetapi bila
terlalu banyak, cukup bila sudah mencapai 160/110 mm Hg. Bila diberi bersama sama asetosal ada khasiatnya.3
fase akut sudah berlalu, maka pengobatan hipertensi adalah
sebagai biasanya.
Obat antiedema Obat antifibrinolisis
Edema di otak dapat mengakibatkan terganggunya aliran darah Beberapa penyelidikan telah dilakukan guna menilai manfaat
otak, terutama "mikrosirkulasi", dan dapat pula mengakibatkan obat antifibrinolisis dalam mencegah perdarahan-ulang pada
herniasi jaringan otak yang berakibat fatal. penderita perdarahan subaraknoid. Hasilnya masih kontrover-
Deksametason : Steroid adalah obat anti-inflamasi yang ampuh, sial. Obat yang digunakan ialah asam aminokaproat dan asam
yang juga dapat mengurangi sembab-otak, mungkin melalui traneksamat.
pen-stabilan membran sel dan menncegah terjadinya edema intra Meningkatkan aliran darah dan metabolisme otak
dan ekstraselular. Deksametason merupakan steroid yang paling Manfaat vasodilatansia dalam meningkatkan aliran darah di
sering digunakan sebagai antiedema otak. Walaupun khasiatnya daerah iskemia belum dapat dibuktikan. Vasodilatansia yang
sudah dapat dibuktikan dalam mengobati edema otak pada pernah digunakan ialah : dioksida karbon, papaverin, hekso-
keganasan (neoplasma) di otak, namun khasiatnya dalam bendin, betahistin dihidroergonovin, nilidrin, siklandelat.
mengobati edema oleh infark dan hemoragi di otak masih Pemberian oksigen juga tidak berguna, kecuali bila kadar ok-
kontroversial. sigen arterial memang menurun. Vasopressor pernah dicoba
Deksametason dapat diberikan dalam dosis permulaan 10 mg untuk meningkatkan aliran darah ke daerah iskemia. Landasan
intravena atau intramuskular, kemudian diikuti oleh 5 mg tiap 6 teoritiknya ialah : autoregulasi di daerah iskemik terganggu,
jam sampai selama satu minggu dan kemudian dihentikan dengan demikian aliran darah bergantung kepada tekanan per-
secara bertahap (tapering off). fusi, yaitu tekanan darah iskemia - tekanan vena. Meningkatkan
Efek samping steroid cukup banyak, kita harus mempertim- tekanan darah akan meningkatkan tekanan perfusi. Penyelidikan
bangkan untung-ruginya pada tiap kasus. Bila terdapat riwayat mengenai hal ini belum cukup dilakukan, namun ada laporan
tukak lambung sebaiknya tidak diberikan ! yang mengemukakan hasil baik. hiperventilasi untuk
Gliserol : Larutan hiperosmolar ini dapat menarik air dari otak, mengurangi PaCO2 tidak bermanfaat dalam pengobatan stroke.
dengan demikian mengurangi edema otak. Dosis yang di-
anjurkan per infus ialah larutan 10% diberikan sebanyak 24-30 PENUTUP
tetes per menit, sampai jumlah 1 gram gliserol/kg berat ba-
dan/hari; Di klinik kami, untuk orang dewasa kami berikan 1 Stroke atau bencana peredaran darah di otak dapat didefinisikan
kolf 500 ml larutan 10% gliserol sehari yang diberikan dalam sebagai gangguan yang mendadak daripada suplai darah di otak,
waktu kira-kira 6 jam (28 tetes/menit). Gliserol dapat pula atau perdarahan setempat di otak. Walaupun didapatkan
diberikan per oral, dengan dosis 1,5 gram/kg berat badan sehari, kemajuan yang pesat dalam bidang diagnostik serta pemahaman
dibagi dalam 4 kali pemberian. Laporan mengenai hasil patofisiologi daripada stroke, namun dalam bi-
pengobatan dengan gliserol masih kontroversial.

26 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


KEPUSTAKAAN
dang pengobatan kemajuan sangat lambat. Bila stroke sudah
1. Bousser MG Eschwege E, Haguenau M, Lefaucconnier, Thibult N,
terjadi infark atau perdarahan otak sudah terjadi maka penga- Toubould D, Touboul PJ. "AICLA" controlled trial of aspirin and
ruh pengobatan tidak banyak artinya. Oleh karena itu tujuan dipyridamole in the secondary prevention of atherothrombotic ce-
utama ialah pencegahan. Saat ini telah diketahui beberapa rebral ischemia. Stroke 1 9 8 3 ; 1 4 : 5 - 14.
faktor yang menyebabkan seseorang lebih rentan terhadap 2. Weksler BB, Scherer P, Kent J, Rudolph D. Low dose aspirin effec-
tively inhibits platelet function in patients with recent cerebral is-
stroke. Bila faktor risiko ini ditanggulangi dengan baik. ke- chemia. Stroke 1984; 15 : 183.
mungkinan mendapatkan stroke dapat dikurangi. 3. Yatsu FM. Acute medical therapy of strokes. Stroke 1982; 13 : 524-
526.

Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 27


Peranan Radiologik Pada Kelainan Otak
dr. Susworo
Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta

PENDAHULUAN
Perubahan umum
Pemeriksaan radiologi pada kelainan otak dapat dibagi atas : 1. Peninggian tekanan intrakranial.
1. Konvensional a. Terjadi pelebaran dari ukuran sela tursika (ballooning).
— tanpa kontras (foto polos) b. Pelebaran dari sutura.
— dengan kontras (positif atau negatif) c. Ekspansi dari rongga tengkorak.
2. Radioisotop d. Penipisan tulang batok kepala.
3. CT scanning e. Pelebaran dari foramina.
Indikasi paling sering untuk melakukan pemeriksaan-peme- 2. Atrofi atau perkembangan jaringan otak yang terhambat.
riksaan ini adalah kelainan karena trauma dan tumor (proses a. Penebalan tulang batok kepala.
desak ruang). Dalam jumlah kecil dilakukan pada kelainan-ke- b. Rongga tengkorak yang kecil dengan kompensasi per-
lainan bawaan serta degeneratif. Kelainan akibat infeksi, se- tumbuhan struktur organ-organ didalamnya.
kalipun sering ditemukan di Indonesia jarang dilakukan peme- c. Sutura cepat menutup.
riksaan radiologik karena kurangnya manifestasi langsung yang Perubahan setempat
dapat dilihat. 1. Didapatkan tanda- tanda terdorongnya struktur normal oleh
proses desak ruang.
A. FOTO POLOS a. Korpus pineale mungkin terdorong sebagai akibat lang-
Perubahan- perubahan yang tampak pada gambaran radiologik sung dari tumor, atau sekunder karena herniasi jaringan
adalah merupakan akibat dari peninggian tekanan intrakranial. otak melalui tentorium serebri.
Keadaan ini telah diketahui sejak tahun tiga puluhan oleh b. Pendorongan pada pleksus koroideus, falks atau tento-
Schuller, dan makin lama makin banyak fakta-fakta yang rium yang semuanya berkalsifikasi.
terungkap pada kelainan tersebut. Sepertiga dari penderita- 2. Erosi setempat pada tulang akibat penekanan.
penderita dengan tanda-tanda peninggian tekanan intrakranial, 3. Penipisan setempat atau penonjolan setempat tulang akibat
baik itu disebabkan tumor, abses atau hidrosefalus, pada orang penekanan massa yang berlangsung lama.
dewasa atau kanak- kanak, akan menunjukkan tanda-tanda 4. Adanya tumor atau malformasi arteriovenosa akan me-
tersebut pada foto polos kepala. Sedangkan pada 20% penderita nimbulkan kelainan pada tulang tengkorak.
yang dengan pemeriksaan radiologik menunjukkan tanda-tanda 5. Hiperostosis.
kenaikan tekanan intrakranial, pada pemeriksaan klinis belum 6. Adanya struktur tulang tengkorak yang abnormal dapat
didapatkan adanya edema papil. mengakibatkan kelainan neurologik yang sekunder.
7. Akibat peradangan pada organ-organ yang berdekatan se-
perti mastoid atau sinus frontalis.
TANDA-TANDA RADIOLOGIK 8. Adanya fraktur atau akibat penyembuhan dari fraktur.
9. Pembentukan tulang yang abnormal (anomali) dengan
Pada foto polos kepala kelainan intrakranial dapat menim- kelainan neurologik.
bulkan perubahan yang sifatnya umum atau lokal. 10. Adanya kalsifikasi patologik intrakranial.

28 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


KELAINAN RADIOLOGIK
Efek pada tulang tengkorak
Apabila kenaikan tekanan intrakranial ini terjadi pada periode
ante-natal sampai minggu pertama setelah kelahiran, tulang-
tulang tengkorak akan tampak lebih tipis dari pada normal,
kadang-kadang menunjukkan kegagalan dalam proses
penulangan (sebuah bentuk dari kraniolakuna). Tetapi kenaikan
tekanan intrakranial yang terjadi secara akut tidak akan
mempengaruhi penebalan atau bentuk tulang tengkorak. Tanda
lain dari kenaikan tekanan intrakranial pada kanak-kanak adalah
yang dinamakan impressiones digitatae (Convolutional
impressions) yang terjadi pada bagian atas tulang frontal dan
parietal. Tetapi apabila gambaran ini tampak pada tulang teng-
korak 2/3 bawah ia tidak mempunyai nilai diagnostik, melainkan
dianggap merupakan respons dari tulang yang sedang tumbuh
terhadap jaringan otak di bawahnya.
Pada orang dewasa, kelainan yang berlangsung lama kadang-
kadang menimbulkan penipisan kalvaria secara menyeluruh.
Tetapi apabila tekanan intrakranial yang tinggi ini berlangsung
sejak masa kanak-kanak, misalnya pada_ stenosis akuaduk akan
terjadi pelebaran bagian supratentorial, kecuali fossa posterior
serebri.
Efek pada sutura
Dalam pertumbuhan seorang anak, sutura akan menyempit
pada rata rata usia 1 tahun pertama. Apabila sutura ini tetap lebar
maka patut dicurigai adanya peninggian tekanan intrakranial.
Yang paling jelas adalah sutura lambdoidea. Diastasis dari sutura
ini lebih nyata apabila telah terjadi osifikasi yang sempurna.
Untuk dapat melihat dengan nyata, maka diperlukan pengaturan
posisi kepala anak sehingga tidak terjadi superposisi dengan
jaringan lain.
Efek pada sela tursika
Gambar 1 : Angiogram karotis normal. Sela tursika merupakan salah satu bagian intrakranial yang di
gunakan sebagai tolok-ukur ada tidaknya kenaikan intrakranial.
Keadaan-keadaan yang mengakibatkan peninggian tekanan Untuk mendeteksi perubahan dini pada sela tursika akibat
intrakranial adalah : kenaikan tekanan intrakranial ini, diperlukan syarat-syarat
1. Massa intrakranial yang besar seperti neoplasma, abses atau radiologik yaitu :
hematoma akan menimbulkan tekanan intrakranial yang — Posisi pemotretan harus lateral murni, arah sinar-X
meninggi.Otak lebih sering tertekan dari pada tulang kepala tegak lurus pada bidang yang melalui sela tursika.
apabila tumbuhnya dengan cepat. (bidang sagital).
2. Terjadinya obstruksi parsial atau komplit dari aliran likuor — Teknik pemotretan harus sedemikian rupa sehingga
serebrospinal, baik oleh massa intrakranial ataupun kelainan dapat dilihat adanya perubahan yang men-detail pada tulang.
kongenital, atau oleh perlekatan setelah infeksi dapat
mengakibatkan terjadinya hidrosefalus. Kelainan radiologik yang tampak pada sela tursika sebagai
3. Edema serebral yang terjadi sebagai akibat neoplasma, ab- akibat kenaikan tekanan intrakranial, oleh du Boulay dan El
ses, ensefalitis, infark serebri atau hipertensi vaskuler. Gammal dibagi dalam 3 kategori :
4. Kronio stenosis, yaitu suatu keadaan dimana tengkorak te- I. Tampak erosi pada garis korteks sela tursika dekat basis dari
lah berhenti berkembang pada saat jaringan otak masih dorsum sela.
membutuhkan tempat untuk berkembang. II. Destruksi dari puncak dorsum sela prosesus (klinoideus
Manifestasi radiologik dari peninggian tekanan intrakranial anterior) dengan kecendrungan terdorongnya sisa dari
sangat bergantung pada : periode timbulnya peninggian tersebut lamina dura.
(akut atau kronik), apakah terjadinya pada saat masih bayi, III. Apabila erosi tulang sedemikian rupa sehingga telah meli-
kanak-kanak atau dewasa. Biasanya kelainan radiologik timbul batkan planum sfenoidale.
apabila tekanan intrakranial yang tinggi telah berlangsung 5 Harus dapat dibedakan kelainan yang timbul akibat tumor
sampai 6 minggu. Dua daerah menjadi pegangan akan ada intra atau suprasellar. Tumor intrasellar akan mengakibatkan
tidaknya peninggian tekanan intrakranial ini, yaitu sutura pada
kanak-kanak dan sela tursika pada orang dewasa.

Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 29


fosa hipofisi yang membengkak seperti balon (ballooning) se-
dangkan tumor-tumor suprasellar menimbulkan pendataran dari Adanya tumor serebral akan mengakibatkan distribusi yang
sela (flattening). normal dari pembuluh darah otak terganggu. Lesi-lesi di daerah
Pada penelitian penulis terhadap 83 orang Indonesia dewasa oksipital dan temporal sebelah posterior akan lebih sulit terdeteksi
"normal" mendapat ukuran sela tursika rata rata : 1,17 cm.
daripada bagian lainnya. Kadang- kadang jenis tumor dapat
diperkirakan berdasarkan gambaran pembuluh darah tumor
tersebut terutama pada jenis meningioma dan glioblastoma
multiforme
Perdarahan subaraknoid : Angiografi karotis merupakan salah
satu sarana diagnostik yang menentukan adanya perdarahan
subaraknoid. Bila faktor trauma disangkal, maka perdarahan yang
terjadi, 50 - 70% diakibatkan aneurisma arteri intrakranial. Pada
kasus-kasus hipertensi, perdarahan subaraknoid sering disertai
perdarahan intraserebral yang spontan. Pada Stenosis pembuluh
darah otak yang mengakibatkan iskemia, maka angiografi
serebral ini diperlukan benar untuk mengetahui lokalisasi pasti
dari penyumbatan.
Trauma kepala dengan kecurigaan perdarahan intraserebral
memerlukan angiografi karotis segera, sehingga hematoma dapat
ditemukan dengan segera dan tindakan adekuat dapat pula
dilaksanakan.
Pada hidrosefalus, tindakan angiografi karotis jarang dila-
kukan dan lebih bermanfaat untuk mengevaluasi hasil tindakan.
Kelainan yang tampak pada angiografi serebral dapat di-
kelompokkan sebagai berikut :
1. Pendorongan pembuluh darah akibat proses desak ruang.
2. Tanda-tanda dilatasi ventrikuler.
3. Tanda-tanda herniasi melewati foramen magnum atau ten-
torium.
Gambar 2 : Angiogram karotis menunjukkan penekanan pada a. serebri 4. Tanda-tanda atrofi serebral.
anterior ke medial dan a. serebri medial ke bawah (tanda 5. Sirkulasi vaskuler yang bertambah pada tumor dan angioma.
panah). 6. Aneurisma.
7. Tanda-tanda penyakit serebro vaskuler.
B. FOTO DENGAN KONTRAS 8. Kelainan kongenital.
9. Tanda-tanda yang berhubungan dengan trauma kepala (he-
Foto polos tengkorak digunakan untuk menilai akibat dari matoma).
kelainan otak pada tulang tengkorak, sedangkan jaringan otak-
nya sendiri tidak akan tergambar, kecuali adanya pengapuran. Ventrikulografi dan pneumoensefalografi (PEG) :
Selain itu juga kelainan yang sifatnya akut, kecuali fraktur tidak Pneumoensefalografi lumbal adalah memasukkan udara ke
menimbulkan jejak pada tulang tengkorak. Karena itu, dalam ruangan ventrikel melalui pungsi- lumbal sehingga seluruh
usahakanlah melakukan pemeriksaan jaringan otak dengan ventrikel IV, akuaduk serta sisterna fosa posterior serebri, juga
menggunakan kontras. Pada hakekatnya, pemeriksaan dengan sistim ventrikel yang lain terisi udara.
kontras terdiri atas : kontras positif, yang menimbulkan ba- Sedangkan ventrikulografi adalah tindakan mengisi ventrikel
yangan opak (angiografi); kontras negatif, apabila menimbulkan secara langsung dengan udara steril, yang sebelum cairan di
bayangan lusen (dengan udara; pneumoensefalografi). dalamnya di-tap terlebih dulu untuk memberi tempat pada udara
Angiografi serebral dilakukan dengan memasukkan kontras tersebut.
ke dalam pembuluh- pembuluh otak melalui arteri karotis, Indikasi untuk melakukan ventrikulografi serta PEG adalah:
dengan pertolongan jarum atau kateter atau dengan modifikasi pada kasus-kasus yang klinis menunjukkan tekanan intrakranial
teknik Seldinger yang menggunakan kanula. Karena aliran darah yang meninggi namun tidak tampak pada pemeriksaan
arteri yang cepat, maka pemotretan pun harus dilaksanakan radiografik biasa. Ensefalografi terutama dilakukan untuk semua
secara seri (serial), sehingga setiap fase di mana kontras berada kasus-kasus tumor ekstra serebral yang asalnya dari basis kranii,
tidak akan terluput. Fase tersebut adalah fase arteriil, kapiler dan pada tumor-tumor yang berasal dari cerebello-pontin angle.
venosa. Selain berseri, pemotretan sekaligus dilakukan pada Dikatakan bahwa ventrikulografi lebih superior dibandingkan
proyeksi lateral dan anteroposterior. dengan PEG pada tumor-tumor serebelum serta tumor-
Selain angiografi karotis untuk mengevaluasi tumor-tumor tumor intra serebral.
pada muka atau nasofaring dilakukan angiografi karotis ekstema.
Indikasi pemeriksaan ini terutama adanya proses desak ruang.

30 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


patologik pada otak, seperti tumor, mengakibatkan bertam-
bahnya cairan ekstra seluler. Komponen radio aktif diatas akan
mengalami kumulasi terutama pada cairan ekstra seluler tadi,
karena itu bagian ini akan memancarkan sinar radio aktif paling
tinggi yang akan tampak sebagai hot-spot. Sebaliknya gambaran
cold-spot menunjukkan daerah dengan vaskuler yang rendah
pada daerah tersebut.
Kegunaan pemeriksaan radioisotop pada jaringan otak ter-
utama pada tumor primer (glioma, meningioma), metastasis
tumor. Pada abses. dan hematoma jarang dilakukan karena ku-
rang spesifik.

CT SCAN PADA KELAINAN OTAK


Merupakan teknik pemeriksaan yang mutakhir, mempunyai
risiko pemeriksaan yang rendah dan memberikan nilai
diagnostik yang amat tinggi. Hampir semua kelainan pada ja-
ringan otak dan dasar tengkorak dapat dideteksi dalam keadaan
yang masih dini. Sekalipun demikian, pemeriksaan ini tidak
dapat seluruhnya menggantikan fungsi- fungsi pemeriksaan yang
telah diuraikan sebelum ini, melainkan harus saling melengkapi.
Kekurangan lain adalah masih langkanya sarana dan masih
mahalnya biaya pemeriksaan ini.

KEPUSTAKAAN
1. Shanks SC, Kerley P. A textbook of X-rayDiagnosis. 4th ed., Phi-
ladelphia: WB Saunders Co., 1959.
2. Susworo. Pengukuran Sella Tursica Pada Sejumlah Orang Indonesia
Secara Radiologik. Majalah Radiologi Indonesia 1980; 4 : 5 - 13.

Gambar 3 : Pneumoensefalografi normal.

Secara umum penggunaan kontras negatif ini dilakukan


apabila dengan foto polos atau kontras positif tidak didapatkan
kelainan, padahal klinis amat mengarah ke hal tersebut. Makin
lama penggunaan kontras udara ini makin terdesak karena
tindakan ini dinilai terlalu "tidak enak" (uncomfortable), apalagi
dengan dikembangkannya penggunaanradio isotop dan lebih-
lebih lagi sekarang telah digunakan orang Computerized
Tomography Scanning yang benar-benar tidak ada faktor ma-
nipulasi pada penderita.

PEMERIKSAAN JARINGAN OTAK DENGAN RADIO-


ISOTOP
Apabila sejumlah kecil isotop radio aktif mencapai aliran
darah maka ia akan segera disebar keseluruh tubuh dalam jum-
lah yang berbeda-beda. Banyak sedikitnya zat radio aktif dalam
jaringan dapat diketahui dari jumlah radiasi yang dapat
ditangkap kamera, sehingga akan tercipta suatu pola penyebaran
radio aktif dalam jaringan.
RISA (radio iodinated Serum albumen) serta technetium 99
dalam bentuk pertechnetate merupakan materi yang digunakan
untuk mendeteksi adanya tumor otak. Adanya proses

Cermin Dunia Kedokteran No. 31, 1984 35


Cedera Otak
dan Dasar-dasar Pengelolaannya
dr. Leksmono PR*, dr. A Hafid**, dr. M Sajid D**
* Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya
* * Sie Bedah Saraf Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya

PENDAHULUAN lambat atau berhenti. Mekanisme yang sama terjadi bila ada
rotasi kepala yang mendadak. Tenaga gerakan ini menyebabkan
Cedera otak yang akan dibicarakan dalam makalah ini adalah
cedera pada otak karena kompresi (penekanan) jaringan,
cedera akibat rudapaksa kepala (trauma kapitis). Di negara maju,
peregangan maupun penggelinciran suatu bagian jaringan di atas
kecelakan lalu lintas merupakan penyebab kematian utama pada
jaringan yang lain. Ketiga hal ini biasanya terjadi bersama-sama
umur antara 2 - 44 tahun, dimana 70% diantaranya mengalami
atau berturutan.7
rudapaksa kepala 1-3 Di Surabaya, frekuensi trauma kapitis
Kerusakan jaringan otak dapat terjadi di tempat benturan
meningkat dengan 18% setiap tahunnya4
(coup), maupun di tempat yang berlawanan (countre coup).
Secara klasik kita kenal pembagian : komosio, kontusio dan
Diduga countre coup terjadi karena gelombang tekanan dari sisi
laserasio serebri. Pada komosio serebri kehilangan kesadaran
benturan (sisi coup) dijalarkan di dalam jaringan otak ke arah
bersifat sementara tanpa kelainan PA. Pada kontusio serebri
yang berlawanan; teoritis pada sisi countre coup ini terjadi
terdapat kerusakan dari jaringan otak, sedangkan laserasio
tekanan yang paling rendah, bahkan se-ring kali negatif hingga
serebri berarti kerusakan otak disertai robekan duramater.
timbul kavitasi dengan robekan jaringan.
Pembagian lain menyebutkan bahwa pada komosio serebri,
Selain itu, kemungkinan gerakan rotasi isi tengkorak pada
penurunan kesadaran kurang dari 15 menit dan post traumatic
setiap trauma merupakan penyebab utama terjadinya countre
amnesia kurang dari 1 jam. Bila penurunan kesadaran melebihi 1
coup, akibat benturan- benturan otak dengan bagian dalam
jam dan post traumatic amnesia melebihi 24 jam berarti telah
tengkorak maupun tarikan dan pergeseran antar jaringan dalam
terjadi kontusio serebri. Perlu ditambahkan juga ada atau
tengkorak.1,7,8,9 Yang seringkali menderita kerusakan- kerusakan
tidaknya gejala cedera otak fokal yang dini, dan hasil rekaman
ini adalah daerah lobus temporalis, frontalis dan oksipitalis.
EEG.5
Pembagian seperti di atas ternyata tidak memuaskan, karena
batas antara kontusio dan komosio serebri sering kali sulit
dipastikan.5,6 PATOFISIOLOGI
Trauma secara langsung akan menyebabkan cedera yang
MEKANISME disebut lesi primer. Lesi primer ini dapat dijumpai pada kulit
dan jaringan subkutan, tulang tengkorak, jaringan otak, saraf
Rudapaksa kepala dapat menyebabkan cedera pada otak
otak maupun pembuluh- pembuluh darah di dalam dan di sekitar
karena adanya aselerasi, deselerasi dan rotasi dari kepala dan
otak.
isinya.1,7,8 Karena perbedaan densitas antara tengkorak dan
Pada tulang tengkorak dapat terjadi fraktur linier (±70% dari
isinya, bila ada aselerasi, gerakan cepat yang mendadak dari
fraktur tengkorak), fraktur impresi maupun perforasi. Penelitian
tulang tengkorak diikuti dengan lebih lambat oleh otak. Ini
pada lebih dari 500 penderita trauma kepala menunjukkan
mengakibatkan benturan dan goresan antara otak dengan bagian-
bahwa hanya ± 18% penderita yang mengalami fraktur
bagian dalam tengkorak yang menonjol atau dengan sekat-sekat
tengkorak.10 Fraktur tanpa kelainan neurologik, secara klinis
duramater. Bita terjadi deselerasi (pelambatan gerak), terjadi
tidak banyak berarti.7
benturan karena otak masih bergerak cepat pada saat tengkorak
sudah bergerak

32 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


nga.
Fraktur linier pada daerah temporal dapat merobek atau —Banyak didapatkan gangguan saraf VIII pada. trauma ke-
menimbulkan aneurisma pada arteria meningea media dan pala, misalnya gangguan pendengaran maupun keseim-
cabang- cabangnya; pada dasar tengkorak dapat merobek atau bangan.2 Edema juga merupakan salah satu penyebab
menimbulkan aneurisma a. karotis interna dan terjadi gangguan.7
perdarahan lewat hidung, mulut dan telinga. Fraktur yang —Gangguan pada saraf IX, X dan XI jarang didapatkan,
mengenai lamina kribriform dan daerah telinga tengah dapat mungkin karena kebanyakan penderitanya meninggal bila
menimbulkan rinoroe dan otoroe (keluarnya cairan serebro trauma sampai dapat menimbulkan gangguan pada saraf-
spinal lewat hidung atau telinga. saraf tersebut.
Fraktur impresi dapat menyebabkan penurunan volume Akibat dari trauma pada pembuluh darah, selain robekan
dalam tengkorak, hingga menimbulkan herniasi batang otak terbuka yang dapat langsung terjadi karena benturan atau ta-
lewat foramen magnum.7,11 Juga secara langsung menyebabkan rikan, dapat juga timbul kelemahan dinding arteri. Bagian ini
kerusakan pada meningen dan jaringan otak di bawahnya kemudian berkembang menjadi aneurisma. Ini sering terjadi
akibat penekanan. pada arteri karotis interna pada tempat masuknya di dasar
tengkorak. Aneurisma arteri karotis interim ini suatu saat da-
Pada jaringan otak akan terdapat kerusakan- kerusakan yang pat pecah dan timbul fistula karotiko kavernosa.7
hemoragik pada daerah coup dan countre coup, dengan Aneurisma pasca traumatik ini bisa terdapat di semua arteri,
piamater yang masih utuh pada kontusio dan robek pada dan potensial untuk nantinya menimbulkan perdarahan
laserasio serebri. Kontusio yang berat di daerah frontal dan subaraknoid. Robekan langsung pembuluh darah akibat gaya
temporal sering kali disertai adanya perdarahan subdural dan geseran antar jaringan di otak sewaktu trauma akan menye-
intra serebral yang akut.9 Tekanan dan trauma pada kepala akan babkan perdarahan subaraknoid, maupun intra serebral. Ro-
menjalar lewat batang otak kearah kanalis spinalis; karena bekan pada vena-vena yang menyilang dari korteks ke sinus
adanya foramen magnum, gelombang tekanan ini akan venosus (bridging veins) akan menyebabkan suatu subdural
disebarkan ke dalam kanalis spinalis. Akibatnya terjadi hematoma. Ada 3 macam yaitu yang akut - terjadi dalam 72
gerakan ke bawah dari batang otak secara mendadak, hingga jam sesudah trauma; subakut dan kronik. Bentuk akut dapat
mengakibatkan kerusakan-kerusakan di batang otak.7 juga disebabkan oleh robekan pembuluh darah di korteks.
Saraf otak dapat terganggu akibat trauma langsung pada Hematoma subdural akibat robekan bridging veins disebut
saraf, kerusakan pada batang otak, ataupun sekunder akibat juga hematoma subdural yang simple, sedangkan yang dari
meningitis atau kenaikan tekanan intrakranial.7 pembuluh darah korteks disebut complicated. Hal ini sehu-
Kerusakan pada saraf otak I kebanyakan disebabkan oleh bungan dengan ada (complicated) atau tidaknya (simple) ke-
fraktur lamina kribriform di dasar fosa anterior maupun rusakan jaringan otak di bawah hematoma.12
countre coup dari trauma di daerah oksipital. Pada gangguan Perdarahan epidural biasanya terjadi karena robekan arteri/
yang ringan dapat sembuh dalam waktu 3 bulan.2 Dinyatakan vena meningea media atau cabang-cabangnya oleh fraktur li-
bahwa ± 5% penderita tauma kapitis menderita gangguan ini.7 nier tengkorak di daerah temporal. Kumpulan darah di antara
Gangguan pada saraf otak II biasanya akibat trauma di duramater dan tulang ini akan membesar dan menekan jaring-
daerah frontal. Mungkin traumanya hanya ringan saja an otak ke sisi yang berlawanan, herniasi unkus dan akhirnya
(terutama pada anak-anak)2 , dan tidak banyak yang terjadi kerusakan batang otak. Keadaan ini terdapat pada 1 - 3%
mengalami fraktur di orbita maupun foramen optikum.7 penderita trauma kapitis dan dapat berakibat fatal bila tidak
Dari saraf-saraf penggerak otot mata, yang sering terkena mendapat pertolongan dalam 24 jam.7
adalah saraf VI karena letaknya di dasar tengkorak.11 Ini Dalam perjalanan penyakit selanjutnya bila penderita tidak
menyebabkan diplopia yang dapat segera timbul akibat meninggal oleh lesi primer tersebut di atas, terjadi proses
trauma, atau sesudah beberapa hari akibat dari edema otak. gangguan/kerusakan yang akan menimbulkan lesi sekunder.
Gangguan saraf III yang biasanya menyebabkan ptosis, Proses ini selain disebabkan faktor- faktor intrakranial juga di-
midriasis dan refleks cahaya negatif sering kali diakibatkan pengaruhi oleh faktor faktor sistemik.
hernia tentorii 2,7,11 Sebagai kelanjutan dari kontusio akan terjadi edema otak.
Gangguan pada saraf V biasanya hanya pada cabang supra- Penyebab utamanya adalah vasogenik, yaitu akibat kerusakan
orbitalnya, tapi sering kali gejalanya hanya berupa anestesi B.B.B. (blood brain barrier). Disini dinding kapiler mengalami
daerah dahi hingga terlewatkan pada pemeriksaan. kerusakan ataupun peregangan pada sel-sel endotelnya. Cairan
Saraf VII dapat segera memperlihatkan gejala, atau sesudah akan keluar dari pembuluh darah ke dalam jaringan otak ka-
beberapa hari kemudian. Yang timbulnya lambat biasanya rena beda tekanan intra vaskuler dan interstisial yang disebut
cepat dapat pulih kembali, karena penyebabnya adalah tekanan perfusi. Bila tekanan arterial meningkat akan mem-
edema2,7 Kerusakannya terjadi di kanalis fasialis, dan sering percepat terjadinya edema dan sebaliknya bila turun akan
kali disertai perdarahan lewat lubang teli- memperlambat.13,14 Edema jaringan menyebabkan penekanan
pada pembuluh-pembuluh darah yang mengakibatkan aliran
darah berkurang. Akibatnya terjadi iskemia dan hipoksia.
Asidosis yang terjadi akibat hipoksia ini selanjutnya menim-
bulkan vasodilatasi dan hilangnya auto regulasi aliran darah,

Cermin Dunia Kedokteran No. 33, 1984 35


sium di kepala.
sehingga edema semakin hebat. Hipoksia karena sebab-sebab — Adanya tanda-tanda trauma di tempat lain, bila ada dapat
lain juga memberikan akibat yang sama.15 memperburuk prognosisnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan suhu tubuh • X Foto Kepala : sebaiknya dibatasi10,20
menjadi 400 Celcius selama 2 jam akan menambah edema se- Dianjurkan dibuat pada :
besar 40% yang mungkin disebabkan oleh karena perubahan -- trauma kepala tertutup dengan ekskoriasi ataupun hematoma
penneabilitas kapiler dan kenaikan metabolisme.16 kulit kepala.
Akibat lain dari trauma kapitis adalah kenaikan tekanan intra penderita dengan kelainan neurologik.
kranial. Pada saat trauma, terdapat peningkatan tekanan pada adanya fraktur impresi.
sisi benturan dan penurunan tekanan pada sisi yang ber- penderita akan dioperasi dengan dugaan hematoma intra-
lawanan. Kenaikan tekanan intrakranial yang terjadi beberapa kranial.
waktu kemudian dapat oleh karena edema otak atau kenaikan trauma kepala terbuka untuk mengetahui lokalisasi frak-
volume darah otak. Bila timbulnya lebih lambat lagi (lebih dari tur/fragmen-fragmennya.
10 hari), ini mungkin disebabkan oleh adanya hematoma kronik • Pemeriksaan Tambahan 17,21,22
atau gangguan sirkulasi cairan serebro spinal. 1. Eko - Ensefalografi
Kenaikan tekanan intra kranial ini menyebabkan : Sebagian penulis menyatakan, pemeriksaan ini dapat mem-
— aliran darah ke otak menurun. bantu mengetahui adanya pergeseran garis tengah otak bila
— Brain shift maupun herniasi. dikerjakan oleh orang yang berpengalaman; penulis lain
— perubahan metabolisme, yaitu terjadi asidosis metabolik berpendapat bahwa pemakaiannya kurang dapat dijamin.
yang selanjutnya memperberat edema. 2. Angiografi dan CT Scan
— gangguan faal paru-para. Keduanya merupakan cara pemeriksaan yang dapat dian-
Ini terjadi karena kerusakan pada batang otak sesudah trauma dalkan untuk mengetahui adanya massa intrakranial.
mengakibatkan terjadinya apnea atau takipnea. Hal ini Indikasi Masuk Rumah Sakit18
menimbulkan edema paru-paru yang selanjutnya mengganggu Hal ini tergantung pada berat ringannya kerusakan yang terdapat
pertukaran gas. Gangguan ini menyebabkan hipoksia yang akan pada waktu masuk dan kemungkinan-kemungkinan komplikasi
memperberat edema di otak maupun di paru-paru.1 yang akan terjadi.
Dari hal-hal di atas terlihat bahwa gangguan intrakranial 1. Gangguan kesadaran.
maupun sistemik sesudah trauma kapitis itu merupakan suatu 2. Gangguan kelainan neurologik.
lingkaran kejadian sebab akibat yang makin lama makin mem- 3. Fraktur tulang kepala yang menyilang jalan a. meningea media
perjelek keadaan penderita ( "lingkaran setan"). (untuk observasi).
4. Kemungkinan fraktur dasar tengkorak.
PENGELOLAAN 5. Fraktur impresi terbuka dan trauma kepala terbuka yang lain.
Pemeriksaan 5,17,18,19 6. Dipertimbangkan pada nyeri kepala, vertigo dan muntah yang
• Anamnesis. Anamnesis dapat diambil dari famili, orang di- terus menerus.
sekitar kejadian, pegawai ambulans, polisi, mengenai :
Perawatan
— Saat terjadinya kecelakaan, macam kecelakaan : lalu lin-
tas, pabrik dll. • Umum
—cara kecelakaan, untuk dapat memperkirakan intensitas a) menjaga agar jalan nafas tetap bebas/lancar, terutama bila
trauma dan macam cederanya. penderita koma. Posisi penderita sebaiknya miring (termasuk
—pada penderita yang sadar : ada tidaknya gangguan kesa- badannya), ini untuk mencegah aspirasi dan penyumbatan laring
daran sebelumnya, ada tidaknya amnesia, baik retrograde oleh lidah. Tungkai yang di atas sebaiknya fleksi, dan posisi
maupun pasca traumatik. Makin lama amnesia post trau- diubah setiap 2 jam.
matik, prognosis makin jelek. Kalau perlu dapat dipertimbangkan pemasangan pipa endo-
—penyakit yang diderita : epilepsi, hipertensi, diabetes, jan- trakea/trakeostomi.
tung dan lain-lain. Bila ada fasilitas analisa gas darah, p02 arteri dipertahankan
—Obat-obat yang telah/sedang dipergunakan. diatas 80 mmHg dan pCO2 antara 25 - 30 mmHg.
• Pemeriksaan Fisik b) Tekanan darah yang kurang dari 90 mmHg dengan nadi kecil,
—fungsi- fungsi vital, kesadaran, gejala neurologik, antara lain harus dicari sebab- sebabnya diluar kepala, antara lain trauma
gejala vegetatif : mual, muntah, pucat, (dalam hal ini harus abdomen26 , fraktur.
dibedakan dengan pucat akibat perdarahan). Data-data Syok harus segera diatasi dan perdarahan dihentikan. Bila ada
pemeriksaan awal ini penting sebagai dasar observasi anemia harus segera diperbaiki (terutama pada penderita
selanjutnya. Di Bagian Saraf dan Sie Bedah Saraf Bagian arterioskeloris).
Bedah RS Dr. Soetomo dipakai Glasgow Coma Scale (GCS) c) Cairan, Elektrolit, Nutrisi.
untuk evaluasi kesadaran. Pada umumnya diadakan pembatasan cairan ringan untuk
—Tanda-tanda trauma di kepala, hematoma sekitar mata dan
hematoma di belakang telinga, darah dari orifisium-orifi-

34 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


mencegah adanya overhidrasi, terutama dalam 24 jam pertama. Cairan Hipertonik24
27 Bila keadaan memungkinkan pemberian cairan intravena Yang biasa dipakai adalah Manitol 20%. Diberikan pada pen-
setelah 2 hari dapat dikombinasi/diganti dengan sonde hidung. derita yang akan dioperasi dan bila keadaan kritis. Takaran 1 -
Penderita dewasa, kebutuhan cairan minimal 2 liter/hari dan 1,59 gr/kg dalam 10 menit. Marshal13 menganjurkan 0,25
tiap kenaikan suhu 1° C ditambah ½ liter. gr/kg. Pemberian dapat diulang menurut keperluan.
Kalori yang dibutuhkan pada penderita koma minimal 2000 Diuretik
kal/hari. Efeknya dalam menurunkan tekanan intrakranial belum dapat
d) Miksi, defekasi, kulit, mata. dipastikan.
Urin ditampung untuk memperhitungkan kebutuhan cairan dan Di rumah sakit yang lengkap peralatannya, dapat dilakukan
"hiperventilasi yang terkontrol", dimana PaCO dipertahankan
menjaga agar tempat tidur tetap kering. Dipasang kondon atau 2
kateter. Kateter dipakai sesedikit mungkin untuk mencegah 30 torr dan PaO2 diatas 150 torr.24,28
bahaya infeksi. Observasi
Diusahakan tidak terdapat konstipasi yang terlalu lama ka- Tujuannya untuk mengikuti perjalanan penyakit penderita,
rena bahaya ileus. mengetahui sedini mungkin terjadinya komplikasi, hingga dapat
Untuk mencegah dekubitus, tempat tidur harus rata, kering secepatnya diambil tindakan. Sebagai dasar observasi adalah
dan lunak. data-data pemeriksaan fisik mengenai fungsi vital, kesadaran
Mata dapat dibasahi dengan larutan asam borat 2%. penderita dan gangguan neurologik.
e) Hipotermi 28 • Observasi fungsi vital mencakup hal-hal yang tersebut
Dengan penurunan suhu tubuh menjadi 32° C, kebutuhan 02 dalam Bab Perawatan.
otak menurun sebanyak 25%; ini mengurangi risiko terjadinya • Kesadaran
hipoksia. Selain itu pendinginan tubuh ini juga membantu Kesadaran merupakan hal yang terpenting pada observasi. Ke-
mengeringkan sekret, mengurangi tonus otot di saluran napas, sadaian diatur oleh dua pusat di otak yaitu oleh (Ascending
dan mengurangi tekanan intrakranial. Reticular Activating System (ARAS) yaitu untuk off-on nya
• Khusus/Pengobatan. misalnya reaksi membuka mata, sedangkan hemisfer otak me-
a) Kejang-kejang. nentukan "isi" dari kesadaran tersebut. Kedua pusat ini harus
Sekitar 5% dari penderita mengalami kejang-kejang 6,21,29 tetap dalam keadaan baik supaya seseorang dapat sadar dengan
Bila ada fraktur impresi, insidensi naik menjadi 10%. Angka- sepenuhnya.
angka ini untuk kejadian-kejadian pada minggu pertama, Untuk dapat memperoleh catatan/gambaran yang cukup
(epilepsi traumatik dini).7 Untuk mengatasi diberikan diazepam, obyektif mengenai kesadaran penderita di Bagian Saraf FK
selanjutnya difenilhidantoin dan fenobarbital. Unair dan Sie Bedah Saraf Bagian Bedah FK Unair selama be
b) Penderita yang mulai sadar sering menjadi gelisah. Diusaha- berapa tahun telah dipakai Glasgow Coma Scale (GCS)4,32,33
kan untuk menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan penye- Skala ini disusun oleh Teasdale dan Jennett pada tahun 1974.
babnya, misalnya kandung kemih yang penuh atau ikatan yang Disini dinilai tiga macam reaksi yaitu reaksi membuka mata,
terlalu kuat. Kegelisahan ini dapat menyebabkan peningkatan reaksi verbal dan reaksi motorik (Lihat Tabel) Dalam skala ini
tensi dan lain-lain hal yang tidak diinginkan. Bila perlu dapat seseorang yang sadar sepenuhnya mendapat nilai 15, yaitu 4
diberikan suntikan klorpromazin 25 mg23 untuk reaksi buka mata, 5 untuk reaksi verbal dan 6 untuk
c) Suhu tubuh reaksi motorik. Jadi penderita dapat membuka mata spontan,
Kenaikan suhu tubuh dapat memperberat edema otak. Harus bila diajak berbicara jawabannya berorientasi (mengenal diri,
diusahakan untuk mencari penyebabnya dan mengendalikan- waktu dan tempat), dan dapat melakukan hal-hal sesuai dengan
nya. Kemungkinan penyebabnya: penggantian cairan tidak ba- yang diperintahkan , misalnya mengangkat tangannya.
ik, infeksi pm-pm komplikasi trakeostomi, infeksi saluran Penderita koma yang dalam mendapat jumlah nilai 3 yaitu
kencing, tromboflebitis, luka operasi, reaksi transfusi, drug nilai 1 untuk masing-masing reaksi.
fever, gangguan hipotalamus dan batang otak. Dengan mengisi tabel ini pada waktu-waktu yang tertentu,
d) Pengobatan edema otak kita dapat menilai/mengikuti perkembangan kesadaran pen-
derita.
Deksametason
Terpenting adalah deksametason karena paling kuat kerjanya • Gangguan Neurologik.39
diantara obat-obat glukokortikoid, dan dapat membantu fungsi Disini antara lain diperiksa adanya lesi kompresi yang unila-
membran sel dalam pertukaran ion Na+ K+ (sodium pump)22 teral dan ada atau tidaknya perkembangan kerusakan dari kra-
Takaran permulaan 8 - 12 mg dilanjutkan dengan 4 mg tiap 6 nial (hemisfer) ke kaudal (batang otak/medula) --> kematian
jam selama 7 - 10 hari kemudian perlahan-lahan dihentikan. penderita.
Dosis untuk anak-anak 1 - 4 mg kemudian 0,25 - 0,50 mg/kg/ 1. Lesi unilateral supratentorial.
hari dibagi dalam 4 kali pemberian.20 Pada trauma berat dapat a. Hemiparesis.
diberikan dosis yang lebih besar. Sebaiknya diberikan juga b. Gangguan saraf fasialis sentral.
antasida dan simetidin untuk mencegah terjadinya perdarahan c. Deviasi bola mata ke arah lesi.
karena ulkus lambung.31 d. Kompresi mesensefalon unilateral --> reaksi pupil ab-
normal.

Cermin Dunia Kedokteran No. 35, 1984 35


TABEL

Bagian Saraf/Sie Bedah Saraf Bagian Bedah


Nama . Tn. X Fakultas Kedokteran Unair/RS Dr. Soetomo
Surabaya
Umur . 30 tahun (l P
Ref. 007.84 Tgl. 9 April 84 10 11 12 13

Hari Senin 1 2 3 4 5

Reaksi Spontan I
• •

~.I
buka

mata
thd. suara

thd. nyeri
7
negatif
1
S
K berorientasi
A
L Reaksi bingung
A I
Verbal tidak sesuai
K
O tidak dimengerti •
• i
M
A negatif

mengikuti perintah I
Reaksi melokalisir nyeri I
_
~ . •
_ •
. _ ~
Moto- menarik diri
rik
fleksi j • • • • •
ekstensi

negatif

2. Perkembangan kranio kaudal. Cheyne stokes — lesi kortikal.


~

a. Pupil dan reaksinya : integritas batang otak. Hiperventilasi (sentral) —. lesi mesensefalon.
besar normal/refleks cahaya (+) - - pin point/refleks (+) ( Iregular — lesi tegmentum.
~

Normal) —► (lesi di pons) Ataksik — Apnea — ~ lesi medula.


b. Gerak refleks mata Selain hal-hal tersebut diatas, diobservasi juga gejala-gejala
— D o l l 's h e a d e y e m o v e m e n t . neurologik lain, misalnya kemungkinan timbulnya fistula
Rotasi cepat kepala penderita oleh pemeriksa akan karotiko kavernosa dan emboli lemak.
memberi reaksi gerak mata konjugat ke arah yang ber- Fistula karotiko kavernosa dapat timbul sejak beberapa jam
lawanan (batang otak masih baik). sesudah trauma. Penderita mendengar suara bising (bruit) da-
Tes kalori (harus dicek utuhnya membrana Timpani). lam kepalanya, nyeri kepala dan penglihatan ganda. Pada pe-
Irigasi telinga dengan air dingin sesudah 20 - 30 detik meriksaan didapatkan pembengkakan dan penonjolan mata yang
akan menimbulkan gerakan mata konjugat tonik ke merah dan berdenyut. Dapat ditemukan gangguangangguan
arah rangsangan (batang otak masih baik). saraf kranial berturut-turut saraf 3,6,5,7,4 dan 2. Pada auskultasi
c. Reaksi motorik di daerah temporal, orbita, dan diatas arteri karotis dapat
Bila dirangsang nyeri dan lain-lain, posisi penderita akan terdengar suara bising yang sesuai dengan denyut nadi. Operasi
memperlihatkan gejala-gejala dekortikasi atau deserebrasi ligasi dilakukan setelah evaluasi dengan arteriografi dan EEG."
atau flaksid. (Gangguan kranial — , ► kaudal). Emboli lemak dapat terjadi bila terdapat juga fraktur tulang-
d. Tipe pernapasan tulang panjang. Gejala dapat timbul dari beberapa jam sampai 3
Hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor matabolik. hari sesudah trauma. Mula mula akan timbul sindroma paru-
Bila faktor-faktor tersebut dapat disingkirkan, hubungan paru dengan hipoksia, takipnea dan sesak nafas, ta-
lokalisasi kurang lebih sebagai berikut :

36 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


hap berikutnya terjadi sindroma serebral dengan kegelisahan, dikirim berhubung gejalanya sudah nyata, seyogyanya tindak-
suhu badan meningkat, penurunan kesadaran sampai koma an bedah dapat dilakukan di RS setempat.
yang kadang-kadang disertai dengan gejala-gejala fokal misal- Beberapa petunjuk pembantu menentukan lokalisasi :
nya hemiparesis ataupun kejang-kejang. — biasanya temporal (73%)36
Pada X-foto torak dapat terlihat gambaran snowstorm. Peng- — adanya jejas di kepala; laserasi kulit, hematoma subkutan,
obatan dengan pemberian kortikosteroid, 02 dan hipotermi.7,25,35 ekskoriasi, perdarahan dari telinga.
Hasil-hasil observasi sangat menentukan tindakan apa yang — x foto kepala terdapat fraktur tulang kepala.
selanjutnya harus dikerjakan, antara lain perlu atau tidaknya Hematoma epidural terdapat pada/dibawah/sekitar garis
seseorang penderita segera dioperasi. fraktur.
— dipilih terutama pada sisi pupil yang melebar.
Pembedahan explorative burrhole, bila positif dilanjutkan
Tindakan bedah darurat. dengan kraniotomi evakuasi hematoma dan hemostasis yang
Dari segi bedah saraf sangat penting adalah komplikasi intra- cermat.
kranial, lesi massa, khususnya hematoma intrakranial.
• Hematoma epidural 12
•Hematoma subdural12
Yang terpenting dalam hal gawat darurat adalah hematoma
Adalah komplikasi intrakranial yang paling mudah dicapai dan
subdural akut (yang terjadi dalam waktu 72 jam sesudah trau-
paling baik hasilnya dari tindakan-tindakan bedah trauma ke-
ma). Hematoma subdural, khususnya yang berkomplikasi,
pala. Pada umumnya alasan untuk merawat penderita dalam RS
gejalanya tak dapat dipisahkan dari kerusakan jaringan otak
didasarkan atas kemungkinan timbulnya hematoma ini.
yang menyertainya; yang berupa gangguan kesadaran yang
Maka perjalanan penyakit serta gejala-gejalanya harus dikenal
berkelanjutan sejak trauma (tanpa lusid interval) yang sering
dengan baik.
bersamaan dengan gejala-gejala lesi massa, yaitu hemiparesis,
Gambaran klasik adalah kehilangan kesadaran sementara
deserebrasi satu sisi, atau pelebaran pupil.
pada waktu trauma. Gangguan kesadaran ini membaik tanpa
Dalam hal hematoma subdural yang simple dapat terjadi
kelainan neurologik. Kemudian terjadi gangguan kesadaran
lusid interval bahkan dapat tanpa gangguan kesadaran. Sering
yang kedua dengan didahului oleh nyeri kepala. Pada saat
terdapat lesi multiple. Maka, tindakan CT Scan adalah ideal,
trauma, terjadi robekan dan perdarahan dari a. meningea me-
karena juga menetapkan apakah lesi multiple atau single.
dia. Perdarahan kemudian berhenti oleh karena spasme pem-
Angiografi karotis cukup bila hanya hematoma subdural yang
buluh darah dan pembentukan gumpalan darah. Beberapa jam
didapatkan.
kemudian terjadi perdarahan ulang; penumpukan darah di ruang
Bila kedua hal tersebut tak mungkin dikerjakan, sedang ge-
epidural_ini akan melepaskan duramater dari tulang tengkorak.
jala dan perjalanan penyakit mengarah pada timbulnya lesi
Pada waktu nyeri kepala menghebat dan kesadaran menurun,
massa intrakranial, maka dipilih tindakan pembedahan. Tin-
telah terjadi kenaikan tekanan intrakranial yang kedua. Pada
dakan eksploratif burrhole dilanjutkan tindakan kraniotomi,
saat ini timbul gejala-gejala distorsi otak.
pembukaan dura, evakuasi hematoma dengan irigasi memakai
Begitu kemampuan kompensasi ruang intrakranial habis,
cairan garam fisiologis. Sering tampak jaringan otak edematous.
keadaan umum penderita dengan cepat menurun. Tampak pe-
Disini dura dibiarkan terbuka, namun tetap diperlukan penu-
lebaran pupil ipsilateral (80%), oleh karena herniasi bagian
tupan ruang likuor hingga kedap air. Ini dijalankan dengan
mesial dari lobus temporalis menekan n. okulomotorius.
bantuan periost. Perawatan pascabedah ditujukan pada faktor-
— penurunan kesadaran bertambah.
faktor sistemik yang memungkinkan lesi otak sekunder.
— hemiparesis kontralateral (dapat juga ipsilateral).
— deserebrasi.
Bila keadaan berlanjut tanpa tindakan, timbul
•Fraktur impresi.
— Pernapasan Cheyne Stokes. Fraktur impresi terbuka (compound depressed fracture). In-
— refleks pupil dan respon kalorik negatif. dikasi operasi terutama adalah debridement, mencegah infeksi.
— pernapasan paralitik, bradikardi dan akhirnya meninggal. Operasi secepatnya dikerjakan. Dianjurkan sebelum lewat 24
Maka sangat penting diagnosis ditegakkan sedini mungkin, jam pertama. Pada impresi tertutup, indikasi operasi tidak
yaitu bila hanya nyeri kepala dan penurunan kesadaran saja mutlak kecuali bila terdapat kemungkinan lesi massa dibawah
yang tampak. Pada saat ini diperlukan pemeriksaan tambahan fraktur atau penekanan daerah motorik (hemiparesis dan lain-
arteriografi atau bila mungkin CT. Bila telah tampak pelebaran lain).
pupil dan atau hemiparesis maka tindakan secepatnya harus Indikasi yang lain (lebih lemah), ialah kosmetik dan ke-
diambil dengan atau tanpa bantuan sarana diagnosis tersebut. mungkinan robekan dura. Diagnosis dengan x foto kepala 2
Mengirimkan penderita ke pusat yang lebih lengkap seharus- proyeksi, kalau perlu dengan proyeksi tangensial. Impresi lebih
nya pada saat dini tersebut, yaitu pada saat baru timbul nyeri dari tebal tulang kepala pada x foto tangensial, mempertinggi
kepala hebat dan penurunan kesadaran. Bila tidak mungkin kemungkinan robekan dura. X foto juga diperlukan untuk
melakukan rujukan, atau bila diperkirakan terlambat untuk menentukan letak fragmen-fragmen dan perluasan garis
fraktur; dengan ini ditentukan pula apakah fraktur menyilang
sinus venosus. Impresi fraktur tertutup yang menyilang garis
tengah merupakan kontra indikasi relatif untuk operasi,

Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 37


dalam arti sebaiknya tidak diangkat bila tidak terdapat gejala negatif, tak ada gerakan apapun merupakan tanda-tanda
yang mengarah pada kemungkinan lesi massa atau penekanan brain death. Ini perlu dilengkapi dengan EEG yang iso-
otak.37 elektrik.35
Dalam hal fraktur impresi terbuka yang menyilang sinus
venosus maka persyaratan untuk operasi bertambah dengan : RINGKASAN
— bila luka sangat kotor.
Dibicarakan mengenai cedera otak dan dasar-dasar pengelo-
— bila angulasi besar.
laannya, sehubungan dengan makin meningkatnya korban ke-
— bila terdapat persediaan darah cukup.
celakaan lalu lintas dimana banyak diantaranya mengalami ce-
— bila terdapat ketrampilan (skill) dan peralatan yang cukup.
dera otak.
Akibat benturan kepala, terjadi cedera pada otak dan ja-
PROGNOSIS ringan sekitarnya yang disebut dengan lesi primer. Bila korban
dapat tetap bertahan, terjadi proses lebih lanjut yang dipenga-
Hal-hal yang dapat membantu menentukan prognosis :
38 ruhi oleh faktor-faktor intrakranial maupun sistemik. Proses ini
Usia dan lamanya koma pasca traumatik, makin muda usia,
akan menghasilkan kerusakan-kerusakan yang disebut lesi
makin berkurang pengaruh lamanya koma terhadap restitusi
sekunder. Mekanisme terjadinya cedera akibat benturan kepala
mental.
dan patofisiologik proses selanjutnya telah dibicarakan; juga
Tekanan darah pasca trauma. Hipertensi pasca trauma mem-
kerusakan-kerusakan pada jaringan sekitar otak.
perjelek prognosis.38
Pengelolaan meliputi pemeriksaan, observasi dan pengobat-
Pupil lebar dengan fefleks cahaya negatif, prognosis jelek.35
an penderita baik secara konservatif maupun yang memerlukan
Reaksi motorik abnormal (dekortikasi/deserebrasi) biasanya
tindakan operasi darurat. Dengan pengelolaan yang cepat,
tanda penyembuhan akan tidak sempurna.35
Hipertermi, hiperventilasi, Cheyne-Stokes, deserebrasi: terutama pada saat proses terjadinya lesi-lesi sekunder,
menjurus ke arah hidup vegetatif.35,39 diharapkan dapat diperoleh hasil yang sebaik-baiknya bagi
Apnea, pupil tak ada reaksi cahaya, gerakan refleks mata penderita.
Daftar kepustakaan ada pada redaksi/penulis

38 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


Infeksi Intrakranial
dr. Hendro Susilo
Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya

PENDAHULUAN — Perluasan dari tromboflebitis kortikal dan abses otak


Mekanisme Penanggulangan terhadap infeksi yang terjadi di — Melalui lamina kribrosa pada rinore CSS yang kronis atau
susunan saraf pusat diduga kurang efektif dibandingkan dengan rekuren.
infeksi yang terjadi di bagian tubuh lain. Tidak jarang organisme Etiologi : Meningitis adalah kasus darurat yang memerlukan
yang relatif memiliki derajat patogenitas rendah dapat pengobatan segera tanpa menunggu hasil pembiakan kuman,
menyebabkan meningitis atau abses otak. Demikian pula cairan sehingga perlu diketahui jenis organisme yang sering ditemukan
serebrospinal (CSS) pada beberapa kasus justru merupakan berdasarkan usia penderita.2
media yang ideal untuk pertumbuhan kuman disamping — Neonatus (sampai 30 hari) : Gram negatip enterobaccili,
hambatan antibodi dan sel radang untuk menembus jaringan Streptococcus grup B, Listeria monocytogenes
saraf pusat oleh karena adanya barrier darah otak. — Bayi (30 - 60 hari) : Streptococcus grup B, Haemophilus
Dari segi klinis, infeksi intrakranial seringkali menunjukkan influenzae, Neisseria meningitidis.
angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Hingga penting — Anak (2 - 4 tahun) : Haemophilus influenzae, Neisseria
untuk mengenal diagnosis secara dini dan memberikan meningitidis, Streptococcus pneumonia.
pengobatan yang segera, tepat dan rasional untuk menghindari — Anak (lebih 4 tahun) dan dewasa : Streptococcus
kematian dan gejala sisa yang menetap. pneumonia. Neisseria meningitidis, Staphylococcus aureus,
MENINGITIS Haemophilus influenzae.
Istilah "meningitis" menunjukkan reaksi keradangan yang Manifestasi klinis : Secara klinis meningitis purulenta pada de-
mengenai satu atau semua lapisan selaput otak yang membung- wasa ada 3 kelompok :
kus jaringan otak dan sumsum tulang. Dalam arti yang terbatas — Kelompok I :
menunjukkan infeksi difus yang mengenai lapisan pia dan dengan panas, nyeri kepala dan kaku tengkuk mendadak di-
araknoid (lepto meningitis).1 Pada umumnya infeksi tidak hanya ikuti kesadaran yang menurun.
terbatas pada selaput otak namun juga mengenai jaringan otak — Kelompok II :
(ensefalitis) dan pembuluh darah (vaskulitis). dengan panas, nyeri kepala dan kaku tengkuk yang berjalan
Pembagian klinis : antara 1 - 7 hari, dengan tanda-tanda infeksi saluran napas
1. Meningitis bakteri akut bagian atas; penderita hanya mengantuk tanpa penurunan
2. Meningitis subakut dan kronis. kesadaran yang jelas.
MENINGITIS BAKTERI AKUT — Kelompok III :
Patogenesis : infeksi mencapai selaput otak melalui : panas dan nyeri kepala mendadak diikuti keadaan syok
— Implantasi langsung setelah luka terbuka kepala dengan hipotensi dan takikardia oleh karena sepsis.
— Perluasan langsung dari infeksi telinga tengah, sinus para-
nasalis dan wajah Pemeriksaan neurologis seringkali dijumpai tanda rangsangan
— Lewat aliran darah (bakteriemia atau sepsis) selaput otak (seperti kaku tengkuk, tanda Kernig dan Brudzinki),
kelumpuhan saraf kranial (strabismus, gerakan bola mata

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1 9 8 4 39


terganggu) dan tanda fokal lain. Pada bayi dan anak sering di- — Stadium I :
jumpai kejang dan kesadaran yang menurun sampai koma. kesadaran penderita baik disertai rangsangan selaput otak
Faktor predisposisi : Beberapa faktor predisposisi perlu di- tanpa tanda neurologik fokal atau tanda hidrosefalus.
pikirkan seperti otitis media dan mastoiditis, pneumonia, dia- — Stadium II :
betes mellitus, trauma kepala, abses otak, furunkulosis dan didapatkan kebingungan dengan atau tanpa disertai tanda
selulitis. Meningitis dapat juga merupakan komplikasi dari neurologis fokal misalnya kelumpuhan otot mata bagian luar
leukemia dan penyakit Hodgkin.1,2 atau adanya hemiparesis.
Diagnosis : — Stadium III :
Pemeriksaan CSS menunjukkan tekanan meningkat dengan penderita dengan stupor atau delirium dengan hemiparesis/
warna keruh sampai purulen, dan peningkatan jumlah lekosit paraparesis.
(500 - 35000/cmm) yang terutama terdiri sel PMN (stadium Pengobatan : Beberapa kombinasi obat pernah diberikan untuk
awal). Kadar protein meningkat dan kadar glukosa menurun. menanggulangi penyakit ini namun pada dasarnya obat tersebut
Hendaknya dilakukan pengecatan CSS (Gram) disamping harus dapat menembus barrier darah otak, berada dalam CSS
pembiakkan kuman. dengan kadar yang cukup efektif dan aktivitas anti tuberkulosis
Pemeriksaan lain seperti X-foto tengkorak, sinus paranasalis tinggi, resistensi dan kerja samping obat yang minimal.
mastoid, toraks dan EEG. Di RS Dr Soetomo dipakai kombinasi3 :
Pengobatan : — Streptomisin 20 - 30 mg/kg/hari selama 2 minggu kemudian
— Pengobatan kausal dengan antibiotika dosis tinggi sesuai dijarangkan 3 kali/minggu hingga klinis dan laboratorium
dengan usia penderita dan kuman penyebab. baik (perlu waktu kira-kira 6 minggu).
Dosis dewasa yang biasanya diberikan adalah : — INH 20 - 25 mg/kg/hari pada anak anak atau 400 mg/hari
Ampisilin : 300 - 400 mg per kg (6 dosis) i.v pada dewasa selama 18 bulan.
— Etambutol 25 mg/kg/hari sampai sel cairan serebrospinal
Kloramfenikol : 4 - 6 g/hari (4 dosis) i.v.
Gentamisin : 3 - 5 mg per kg (3 dosis) i.v normal, kemudian diturunkan 15 mg/kg/hari selama 18 bu-
Oksasilin : 10 - 12 gram (6 dosis) lan.
— Pengobatan suportip dan simtomatik (cairan, elektrolit, — Rifampisin 15 mg/kg/hari selama 6 - 8 minggu.
kejang, edema otak, febris). Kortikosteroid hanya dianjurkan bila ditemukan tanda edema
otak.
MENINGITIS TUBERKULOSIS ABSES OTAK
Penyakit ini merupakan meningitis yang sifatnya subakut Penanganan penderita dengan abses otak di RS Dr Soetomo
atau kronis dengan angka kematian dan kecacadan yang cukup akhir-akhir ini mengalami kemajuan dengan adanya sarana di-
tinggi. Menurut pengamatan, meningitis tuberkulosis merupakan agnosis yang modern seperti CT scan, penanggulangan bedah
38,5% dari seluruh penderita dengan infeksi susunan saraf pusat saraf yang memadai dan pengobatan yang adekuat. Namun perlu
yang dirawat di bagian Saraf RS Dr Soetomo.3 diperhatikan pula adanya kegagalan dalam pengobatan, karena
Manifestasi klinis : Penulis menemukan adanya panas (94%), adanya pembahan pola organisme seperti ditemukannya kuman
nyeri kepala (92%), muntah muntah, kejang dan pemeriksaan anaerob dan infeksi campuran serta resistensi terhadap
neurologik menunjukkan adanya kaku tengkuk, kelumpuhan antibiotika.5
saraf kranial (terutama N III, IV, VI, VII) (30%), edema papil Sumber infeksi :
dan kelumpuhan ekstremitas (20%) serta gangguan kesadaran.4 — Penyebaran langsung dari otitits media, mastoiditis atau
Diagnosis : Diagnosis Meningitis tuberkulosis ditegakkan atas sinusitis frontalis, etmoidalis, sfenoidalis dan maksilaris.
dasar : — Tromboflebitis kortikal, osteomielitis tulang tengkorak.
1. Adanya gejala rangsangan selaput otak seperti kaku tengkuk, — Luka tembus pada tulang tengkorak.
tanda Kernig dan Brudzinski. — Emboli septik yang berasal dari paru (bronkiektasis, empie-
2. Pemeriksaan CSS menunjukkan : ma, abses paru), dan jantung (SBE, penyakit jantung ko-
— peningkatan sel darah putih terutama limfosit ngenital).
— peningkatan kadar protein Lokalisasi : Sering daerah lobus frontalis dan parietalis, juga
— penurunan kadar glukosa ditemukan pada lobus temporalis dan serebelum (otitis, media
3. Ditambah 2 atau 3 dari kriteria dibawah ini : dan mastoiditis) serta abses yang multiple.
— ditemukannya kuman tuberkulosis pada pengecatan dan Manifestasi klinis :
pembiakan CSS
— Gejala sistemik : panas, malaise, menggigil, bradikardia.
— kelainan foto toraks yang sesuai dengan tuberkulosis
— Pada anamnesis kontak dengan penderita tuberkulosis aktif — Gejala SSP non fokal : akibat kenaikan tekanan intrakranial
(nyeri kepala, muntah, gangguan kesadaran).
Stadium : Pembagian klinis ke dalam 3 stadium : — Gejala fokal SSP : tergantung lokalisasi abses (gangguan
motorik, mental, sensorik, kejang,ataksia).

40 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


Diagnosis : — Pengobatan suportif dan simtomatik.
— Darah : sel lekosit dan laju endap darah meningkat.
— X-foto tengkorak, mastoiditis, sinusitis, pergeseran
kelenjar pineal. KEPUSTAKAAN
— CT scan : sangat membantu diagnosis dini maupun
follow-up pasca pengobatan/bedah. Demikian pula CT scan 1. Gilroy J, Meyer JS. Medical Neurology, 3rd Ed. New York : Mc Milian
sangat membantu pada penderita dengan gejala meningitis Co, 1979; 387 - 444.
2. Sahs AL, Joynt RJ. Bacterial Meningitis. In Baker AB, Baker LH eds.
yang disertai tanda lateralisasi neurologi sebelum dilakukan Clinical Neurology,Philadelphia : Harper & Row 1981; chap 15,
punksi lumbal 1 - 90.
— EEG dan arteriogram. 3. Hasan M, Troeboes P. Penanggulangan dari tuberkulosa susunan sa-
raf pusat. Simposium Tuberkulosa, Surabaya, 1982.
4. Hendro S. Treatment of Tuberculous Meningitis with Prothionamide-
Pengobatan : Isoniazid-Ethambutol and Streptomycin regimen, 5th Asian and
— Pemberian antibiotika yang adekuat terutama stadium Oceanian Congress of Neurology. Manila, 1979.
serebritis baik terhadap kuman aerob maupun anaerob (Pe- 5. Hendro S dkk. Penyulit Otitis Media Khronika-Mastoiditis Khronika
dalam bidang Neurologi. Kongres Nasional II PNPNCh, Bandung,
nisilin G, Kloramfenikol, Metronidazole).6 1980.
— Tindakan pembedahan. 6. De Lauvois J. Antibiotic treatment of abscesses of the central nervous
system. Br Med J 1977; 2 : 985 - 87.

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 41


Tumor otak
Tinjauan Kepustakaan
dr. Ny. Herainy Hartono
Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya.

PENDAHULUAN Tumor serebelum lebih sering pada anak-anak dari pada


orang dewasa. Glioma batang otak, praktisnya di Pons lebih
Di dalam era CT scan dewasa ini, sering kali dibuat diagnosis
sering dijumpai pada anak-anak.
penderita sebagai tumor otak. Dan sebagai gambaran umum
Berdasarkan pemeriksaan histopatologi tumor, digambarkan
disebutkan bahwa kurang lebih 10% tumor pada manusia
sebagai berikut :
mengenai susunan saraf pusat, dimana 80% dari padanya berada
— Meduloblastoma, pada dasa warsa I
didalam intrakranial dan 20% di medulla spinalis. Tumor
— Pinealoma dan astrositoma serebelum, pada dasawarsa II
metastasis otak merupakan 20% dari tumor intrakranial.
— Glioblastoma, pada dasa warsa V
Penyebab yang pasti belum dapat ditentukan, walaupun
— Schwannoma, pada dasa warsa V - VI
penyelidikan-penyelidikan telah dilakukan. Faktor-faktor yang
diduga sebagai penyebab yaitu : keturunan, sisa-sisa sel em- Insidensi jenis kelamin :
brional, perubahan neoplastik, trauma, virus dan bahan-bahan Tumor otak yang banyak dijumpai pada laki-laki, yaitu :
karsinogenik. — Glioma : astrositoma, glioblastoma dan meduloblastoma
Urutan-urutan frekuensi tumor otak adalah sebagai berikut : — tumor-tumor di regio pineale
1. Glioma 41% — Tumor pituitari
2. Meningioma 17% — Tumor-tumor kongenital
3. Adenoma hipofise 13% — Kordoma
4. Neurilemmoma/neurofibroma 12% Sedangkan schwannoma dan meningioma lebih sering di-
5. Tumor metastasis jumpai pada wanita.
6. Tumor pembuluh darah GEJALA KLINIS
Mengenai lokalisasi tumor otak, dilaporkan bahwa pada orang
Gejala klinis sangat dipengaruhi oleh lokalisasi dan histo-
dewasa kebanyakan di daerah supratentorial, sedangkan pada
patologik dari tumor.
anak-anak di daerah infratentorial.
Gejala-gejala tersebut dapat digolongkan menjadi :
Tumor-tumor metastasis otak kebanyakan berasal dari paru,
• Gejala umum
traktus digestivus, mamma serta ginjal, din-ma 70% terletak di
• Gejala fokal
hemisfir serebri, sedangkan 30% di serebelum dan 70% multipel.
Gejala umum
INSIDENSI
Biasanya disebabkan oleh karena tekanan intrakranial yang
Insidensi umur :
meningkat. Kenaikan tekanan intrakranial dapat disebabkan
Jenis tumor saraf mempunyai kecenderungan untuk ber- oleh faktor-faktor :
kembang pada golongan umur tertentu. Tumor primer dari — langsung oleh masa tumor sendiri
susunan saraf pusat yang berasal dari jaringan embrional ba- — edema serebri
nyak dijumpai pada umur di bawah 10 tahun, dan jenis tumor — obstruksi aliran cairan serebro spinalis
lain berkisar antara umur 20 - 60 tahun. Sedangkan tumor — obstruksi sistema vena serebri
metastasis otak sebagian besar terdapat pada umur 40 - 70 tahun. — gangguan mekanisme absorbsi cairan serebro spinalis
Gejala-gejala ini dapat berupa :
42 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
1. Nyeri kepala menonjol. Pada beberapa anak sering terlihat pembendungan
2. Muntah vena didaerah skalp dan adanya eksoftalmos. Pada perkusi
3. Kejang terdengar suara yang khas, disebut crack pot signs (bunyi gendi
4. Gangguan mental yang rengat).
5. Pembesaran kepala
6. Papil edema 6. Papil edema :
7. Sensasi abnormal di kepala Papil edema dapat terjadi oleh karena tekanan intrakranial
8. Nadi lambat dan tensi meningkat yang meningkat atau akibat langsung dari tekanan tumor pada N
9. False localizing sign II. Derajat papil edema tidak sebanding dengan besarnya tumor
10. Perubahan respirasi dan tidak sama antara mata satu dan lainnya.
1. Nyeri kepala : Bila tekanan intrakranial meningkat dengan cepat, akan
Merupakan keluhan utama pada kira-kira 20% kasus. Dapat terjadi pembendungan vena-vena N. Optikus dan diskus optikus
dirasakan selama perjalanan penyakitnya, dapat umum atau menjadi pucat serta membengkak. Sering disertai perdarahan-
terlokalisir pada daerah yang berlainan. Sifat nyerinya perdarahan disekitar fundus okuli. Pada papil edema yang kronis
digambarkan sebagai nyeri berdenyut atau dirasakan sebagai rasa dapat menyebabkan gliosis N. Optikus dan akhirnya N. Optikus
penuh di kepala dan seolah-olah kepala mau "meledak". mengalami atrofi sekunder dengan akibat kebutaan.
Timbulnya dimulai pagi hari, dikaitkan oleh karena kenaikan Dilaporkan bahwa 60% dari tumor otak memperlihatkan
kadar CO2 selama tidur. Adanya CO2 ini menyebabkan aliran gejala papil edema, dan 50% diakibatkan oleh tumor supra-
darah serebral meningkat serta kongesti dari sistema vena tentorial.
serebral. Ini mengakibatkan tekanan intrakranial meningkat. 7. Sensasi abnormal di kepala :
Nyeri dapat diperhebat dengan gerakan manuver valsava, batuk, Banyak penderita merasakan berbagai macam rasa yang
bersin, mengejan, mengangkat barang ataupun ketegangan. samar-samar. Sering dikeluhkan sebagai enteng kepala (light-
Nyeri intermiten sering didapat pada anak-anak. Gejala ini headness), pusing (dizziness) dan lain-lainnya. Keadaan ini
mungkin karena hilang atau berkurangnya tekanan intrakranial mungkin sesuai dengan tekanan intrakranial yang meningkat.
dengan jalan pelebaran sutura. 8. Bradikardi dan tensi meningkat : Keadaan ini dianggap
2. Muntah : sebagai mekanisme kompensatorik untuk menanggulangi
Muntah tidak berhubungan dengan lokalisasi tumor, sering iskemia otak.
timbul pada pagi hari. Sifat muntah adalah khas, yaitu proyektil 9. False localizing sign :
atau muncrat dan tidak didahului rasa mual. False localizing signs dari tumor otak adalah merupakan
3. Kejang : gejala yang tidak semuanya berhubungan dengan gangguan
Kejang dapat merupakan manifestasi pertama tumor otak pada fungsi pada tempat tumor tersebut. Biasanya terlihat sebagai
15% kasus. Dikatakan, bahwa apabila terjadi kejang fokal pada gejala fokal dari tempat-tempat yang jauh dari tumor itu sendiri.
orang berumur di bawah 50 tahun, harus dipikirkan adanya Misalnya pada. tumor otak yang kecil disertai edema serebri
tumor otak, selama penyebab lain belum ditemukan. yang luas, akan memperlihatkan gejala-gejala klinis yang luas.
Dalam hal terjadinya kejang, lokasi tumor lebih penting Sebaliknya tumor besar tanpa disertai edema serebri biasanya
daripada histologinya. Tumor yang jauh dari korteks motoris tidak memberikan gejala klinis. Hal-hal inilah yang dapat
akan jarang menimbulkan kejang. Meningioma pada konvek- membingungkan untuk menentukan lokalisasi tumor. Keadaan-
sitas otak, sering menimbulkan kejang fokal sebagai gejala dini. keadaan tersebut dapat disebabkan oleh karena ada nya edema
Sedangkan kejang urnum biasanya terjadi, apabila kenaikan serebri atau herniasi.
tekanan intrakranial melonjak secara cepat misalnya pada 10. Perubahan respirasi :
Glioblastoma multiforme. Hal ini akibat tekanan intrakranial yang meningkat. Dapat
4. Gangguan mental : timbul respirasi tipe Cheyne Stokes, dilanjutkan dengan hiper-
Gejala gangguan mental tidak perlu dihubungkan dengan ventilasi-respirasi irreguler-apneu, akhirnya kematian.
lokalisasi tumor, walaupun beberapa sarjana menyatakan bahwa Gejala fokal
gejala ini sering dijumpai pada tumor lobus frontalis dan
Gejala-gejala fokal sangat tergantung dengan lokalisasi tumor.
temporalis. Juga dikatakan bahwa menigioma merupakan tumor
Gejalanya sesuai dengan fungsi jaringan otak yang ditekan atau
yang seting menimbulkan gangguan mental.
dirusak, dapat perlahan-lahan atau cepat. Dapat menimbulkan
Gejalanya sangat tidak spesifik. Dapat berupa apatis, de-
disfungsi, misalnya hemiparesis, afasia motorik ataupun paresis
mensia, gangguan memori, gangguan intelegensi, gangguan
saraf kranial, sebelum tekanan intrakranial meninggi secara
tingkah laku, halusinasi sampai seperti psikosis.
berarti. Dalam hal ini, gejala dan tanda di atas mempunyai arti
5. Pembesaran kepala : lokalisasi/fokal.
Keadaan ini hanya terjadi pada anak-anak, dimana suturanya Dibawah ini akan diuraikan tentang beberapa gejala dan
belum menutup. Dengan meningkatnya tekanan intrakranial, manifestasi fokal yang menunjukkan lokasi tumor otak.
sutura akan melebar dan fontanella anterior menjadi

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 43


Tumor lobus frontalis : Bila tumor mengenai insula, menimbulkan kejang parsiil
Tumor di daerah ini pada umumnya menimbulkan gang- dengan keluhan didaerah visera, termasuk nyeri epigastrium,
guan kepribadian dan mental. Dapat timbul perlahan-lahan, perasaan fluttering di epigastrik atau toraks.
beberapa bulan sampai bertahun-tahun. Pada mulanya pende- Tumor pada temporalis posterior, menimbulkan kejang par-
rita menjadi apatis, kurang atau hilangnya perhatian/kontrol, siil. Dimulai dengan halusinasi visual.
kemudian kesukaran dalam pandangan kedepan (lack of fore Pada medial lobus temporalis, dapat meluas ke daerah basal
sight), kesukaran dalam pekerjaan dan akhirnya regresi dalam ganglia dengan akibat distonia unilateral, korea atetosis dan
tingkah laku sosial, kebiasaan dan penampilan, serta gangguan tremor.
psikoseksual. Euforia sering dijumpai dan senang berkelakar Pada daerah midtemporal dapat disertai halusinasi pende-
(factitiousness) yang dalam beberapa kepustakaan disebut ngaran, berupa suara siulan (whistling), menyiut (hissing) atau
sebagai "witzelsucht". suara bel. Juga didapatkan gejala "dejavu" atau "jamais Vu".
Gejala fokal lain terjadi bila tumor meluas ke jaringan se- Jenis tumor pada lobus temporalis biasanya glioblastoma
kitarnya. Bila mengenai bagian posterior di dekat girus sentra- multiforme, astrositoma, oligodendroglioma disusul tumor-
lis anterior, Pada penderita didapatkan graps refleks (refleks tumor metastasis.
memegang). Kadang-kadang didapatkan spasme tonik pada Tumor lobus parietalis :
jarijari tangan atau kaki ipsilateral tumor, monospasme, kejang Tumor di daerah parietalis dapat merangsang korteks sen-
fokal pada wajah dan transitory post convulsive paralysis soris, sebelum manifestasi lain dijumpai. Area parietalis ini
(Todd's paralisis). berguna untuk diskriminasi tekstur, berat, ukuran, bentuk dan
Bila mengenai area Broca pada hemisfer dominan dapat ter- identifikasi obyek yang diraba. Akibat rangsangan disini ialah
jadi afasia motorik. serangan Jackson sensorik. Jika tumor menimbulkan kerusakan
Kejang tonik fokal merupakan simtom fokal dari bagian strukturil di daearah ini, maka segala macam perasaan di butuh
atas posterior dari lobus frontalis di sekitar daerah premotor. kontralateral sisi lesi, tidak dapat dirasakan dan dikenal.
Bila mengenai traktus kortikospinalis mengakibatkan he- Gangguan dapat berupa astereognosis, atopognosis,
miparesis sampai hemiplegia dengan tonus meningkat, refleks hemianestesia, tidak dapat membedakan kanan atau kiri dan
meningkat dan adanya ekstensor plantar refleks yang positip. loss of body image.
Semua ini kontralateral lesi. Jenis tumor lobus parietalis meliputi glioma, glioblastoma,
Bila tumor tumbuh ditengah atau timbul dari groove olfac- astrositoma, oligodendroglioma, meningioma, ependimoma,
torius, maka biasanya meluas ke posterior dan mengenai N. tumor-tumor metastasis dan angioma.
Optikus. Pada penderita didapatkan tanda "sindroma Foster
Kennedy", yaitu anosmia sesisi lesi akibat tekanan N. I, atrofi Tumor lobus oksipitalis :
N. II ipsilateral akibat tekanan pada N. II, dan papil edema Tumor di daerah ini biasanya jarang. Gejala dini yang me-
kontralateral lesi akibat meningkatnya tekanan intrakranial. nonjol sering berupa nyeri kepala di daerah oksipital, kemudi-
Jika tumor tumbuh didaerah falks serebri setinggi daerah an disusul oleh adanya gangguan yojana penglihatan.
presentral maka paraparesis inferior akan dijumpai. Tumor di daerah medial lobus oksipitalis, sering menim-
Pada tumor lobus frontalis juga dijumpai kurangnya kontrol bulkan kuadrananopsia homonimus inferior kontralateral dan
sfingter dilanjutkan dengan hilangnya inhibisi kandung ken- dapat meluas menjadi hemianopsia homonim.
cing dan akhirnya jatuh dalam inkontinensia urine. Tumor di daerah ini jenis glioma, angioma dan tumor-tumor
Urutan jenis tumor pada lobus frontalis adalah glioma (glio- metastasis.
blastoma multiforme pada orang dewasa dan astrositoma pada Tumor serebellum :
anak-anak), ependimoma, meningisma disusul kraniofaringio- Tumor serebellum cepat mengadakan obstruksi aliran cairan
masis dan yang jarang adalah glioma dari N. Optikus. serebro spinalis, sehingga tumor ini cepat menimbulkan te-
Tumor lobus temporalis : kanan intrakranial yang meningkat. Gejala nyeri kepala, mun-
Lobus temporalis mempunyai ambang yang rendah untuk tah dan papil edema sering sebagai gejala dini, disusul dengan
timbulnya serangan epilepsi. gangguan gait dan gangguan koordinasi. Nyeri kepala dirasa-
Tumor yang menekan atau timbul di Unkus mengakibatkan kan didaerah oksipital dan dapat menjalar ke leher bawah.
uncinate fit yaitu kejang parsiil, yang dapat terjadi beberapa Nyeri menghebat apabila terjadi herniasi tonsila serebellaris.
kali dalam satu hari. Biasanya dimulai dengan halusinasi bau Gangguan koordinasi dapat diperiksa dengan finger to nose
atau rasa. 80% dengan halusinasi bau busuk dan 20% halu- test; heel to knee test, dan didapatkan disdiadokokinesia. Bila
sinasi bau bunga. Ini merupakan sensasi yang pertama. berjalan akan jatuh ke sisi lesi, Romberg test positip, ataksia,
Tumor yang mengenai lobus temporalis dan insula, menim- tremor, nistagmus hipotonia dan scanning speech positip.
bulkan psikomotor epilepsi. Penderita dapat mengalami mo- Tumor di daerah ini meliputi medulloblastoma, astrositoma,
vement motoric automatic dengan sengaja. Penderita dapat granuloma tuberkuloma, granuloma luetika dan tumor-tumor
berjalan, berlari, menyetir mobil, membuka pakaian atau ben- metastasis.
tuk-bentuk gerakan lain yang terkoordinir baik selama fase ini.
Biasanya jarang merupakan gerakan-gerakan yang anti sosial
atau agresip, dan bentuknya tetap (stereotype).

44 Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984


"UICC Classification for tumors of the brain and related structures"

1. Nerve cells : — Neurinoma, neurolemmoma, schwannoma


— Ganglioneuroma, gangliocytoma, ganglioglioma — Neurofibroma
— Ganglioneuroblastoma — Malignant neurinoma, malignant neurolemmoma,
— Malignant ganglioneuroma, malignant gangliocytoma, malignant schwannoma
malignant ganglioglioma
— Sympathicogonioma 6. Meningens :
— Neuroblastoma, sympathicoblastoma. — Meningioma
2. Neuroepithelium : Epitheloid meningioma, meningotheliomatousmeni-
— Ependymoma : ngioma, endotheliomatous meningioma Fibroblastic
Epthelial ependymoma meningioma, fibromatous meningioma
Papillary ependymoma — Psammomatous
Cellular ependymoma 7. Vascular structure of central nervous system :
— Malignant ependymoma, ependymoblastoma — Hemangioma of cerebellum
— Plexus papilloma — Von Hippel-Lindau disease
— Olfactory neuroepithelioma. 8. Parapanglia :
3. Eye : — Noncromaffm paraganglioma included, carotid body
— Medulloepithelioma of ciliary epithelium, dyktioma tumor, glomus caroticum tumor
Neuroepihtelioma, retinoblastoma — Chemodectoma
4. Glia : 9. Pineal gland :
— Astrocytoma : Pinealoma
Fibrillary astrocytoma 10. Hypophysis :
Gemistocytic astrocytoma
Protoplasmatic astrocytoma — Chromophobe adenoma : Diffuse
— Astrocytoma of the nose, nasal glioma chromophobe adenoma Sinusoidal
— Oligodendroglioma chromophobe adenoma
— Multiform glioblastoma Papillary chromophobe adenoma
— Polar spongioblastoma — Oxyphil adenoma, eosinophil adenoma, papillary
— Medulloblastoma — Basophil adenoma
— Craniopharyngioma, adamantinoma of ductus,
5. Peripheral and cranial nerves : craniopharyngeus
— Chromophobe carcinoma.

Di atas adalah kutipan kaasifikasi tumor otak berdasarkan " dewasa berupa suatu struktur di garis tengah yang tidak akan
Unio Internarnationalis Contra Cancrum" (UICC). berpindah ke lateral lebih dari 3 mm pada gambaran foto
tengkorak AP. Pergeseran lebih dari 3 mm sebagai indikasi
PROSEDUR DIAGNOSIS adanya tumor otak.
Menegakkan diagnosis tumor otak secara klinis tidaklah be- . c. Tanda-tanda tekanan intra kranial yang meningkat :
gitu sulit, terutama apabila penderita menunjukkan trias gejala, — Tanda paling dini dari kenaikan tekanan intrakranial
berupa nyeri kepala; muntah dan pada pemeriksaan didapatkan adalah dekalsifikasi prosessus klinoideus posterior, di-
papil edema. Namun sering kali beberapa tumor otak, hanya lanjutkan dengan perubahan yang serupa di lantai dorsum
menunjukkan gejala gangguan mental sebagai gejala sella tursika. Pada jangka waktu yang lama, keadaan ini
permulaan. Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan dapat mengakibatkan lantai dorsum sella mengembung,
fisik, masih diperlukan beberapa pemeriksaan tambahan, hilang atau rusak. Juga dapat disebabkan karena ekspansi
dimulai cara nontraumatik sampai yang traumatik. adenoma hipofise atau tumor-tumor disekitar sella tursika.
— Impresio digiti.
1. X-foto tengkorak — Pelebaran sutura pada anak-anak.
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan : d. Pembentukan tulang baru (Hyperostosis) :
a. Kalsifikasi intrakranial : Pada meningioma kira-kira 40% memperlihatkan gambaran
— pada tumor otak kira-kira 10% mengalami kalsifikasi. hiperostosis, terutama didaerah pterion, tuberkulum sella,
— insidensi kalsifikasi tertinggi terjadi pada Kraniofaringi- serebelepontin dan fosa kranii media. Sedangkan tumor jenis
oma dan Oligodendroglioma. lain sering pada daerah dasar tengkorak.
b. Displacement calcified pineal gland : e. Destruksi tulang :
Glandula pineale sering mengalami kalsifikasi pada orang

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 45


— Kira-kira 10% meningioma menunjukkan penipisan PENGOBATAN
tulang. Dapat disebabkan karena infiltrasi tumor pada Pengobatan tumor otak pada umumnya membutuhkan
tulang atau karena erosi tulang disebabkan tekanan dari intervensi dari bidang bedah saraf. Makin dini diagnosa dite-
tumor yang tumbuh perlahan-lahan. gakkan dan makin mudah dicapai lesinya, makin baik hasilnya.
— Kista epidermoid kadang-kadang dapat ditunjukkan Pada prinsipnya pengobatan meliputi pengelolaan/penurunan
dengan adanya area yang mengalami destruksi. dari tekanan intrakranial, tindakan operatif, pemberian radiasi
2. X-foto toraks : Banyak tumor metastase otak berhubungan dan obat-obat khemoterapi.
dengan adanya lesi primer di paru.
3. "Computerized Tomography,Scan" (CT scan) : PROGNOSIS
Merupakan pemeriksaan yang nontraumatik dan dapat Pada umumnya prognosis ditentukan oleh faktor keganasan
mendeteksi adanya tumor otak kira-kira 95%. dan lokalisasi dari tumor otak.
4. "Electroencephalography" (EEG) : Makin ganas jenis tumor seperti glioblastoma atau medulo-
Tumor pada hemisfer serebri, sering memberi gambaran EEG blastoma prognosisnya makin buruk dan tidak tergantung dari
abnormal pada 75 - 85% kasus. Sedangkan tumor pada fosa letak tumor. Sebaliknya tumor-tumor yang timbulnya perlahan
posterior sering tidak memberikan kelainan EEG. seperti meningioma, relatif memberikan prognosis yang lebih
Tumor otak sendiri tidak memberi aktifitas listrik abnormal. baik. Disamping itu, tumor-tumor yang terletak di bagian yang
Hanya neuron-neuron yang membuat ini dan neuron-neuron pada sukar dicapai akan memberikan prognosis yang kurang baik.
daerah dekat tumor menjadi abnormal sedemikian rupa sehingga Demikian juga dengan tumor-tumor metastasis akan
"hypersynchronisation" dari pelepasanpelepasan listrik dari memberikan prognosis yang jelek.
beribu-ribu atau berjuta-juta sel saraf membentuk gelombang
lambat atau gelombang runcing (spike) pada EEG. Mungkin KEPUSTAKAAN
tumor ini memberi kelainan metabolik neuron-neuron
1. Ausman JI. Intracranial neoplasms. In : Baker AB & Bakker LB.
didekatnya, dengan tekanan langsung tumor, edema atau dengan Rived ed. Vol I Chap Clinical neurology. Philadelphia:Harper &
merusak enervasi darahnya. Edema serebri mungkin adalah Row Publ. 1981; pp. 6 - 103.
mekanisme yang paling penting. 2. Chusid JG. Correlative neuroanatomy and functional neurology 17 thed.
Mauzen Asia (ptc) Ltd, 1979.
5. Lumbal pungsi (LP) : 3. De Jong RN. The Neurologic Examination 4 thed. Hagertown, Ma-
Penggunaan LP untuk metidiagnosis adanya tumor otak, ryland, New York, London : Harper Row Publ. 1979.
sudah banyak ditinggalkan. Lagi pula cara ini harus dikerjakan 4. Gilroy J & Meyer IS. Tumor of the central nervous system. In: Me-
dical Neurology 2 nded., Mac Milian Pub Co, 1975; pp. 591 - 645.
pada indikasi yang tepat. L.P. masih tetap digunakan pada 5. Merrit HH. Tumors in a Textbook of Neurology. 5 thEd. Tokyo:
dugaan adanya meningeal carcinomatosis, granuloma kronis atau Igaku Shoin Ltd 1973; pp. 377 - 388.
adanya dugaan proses desak ruang yang dengan pemeriksaan CT
scan negatip.
6. Arteriografi :
Dewasa ini pemeriksaan CT scan telah mendesak arteriog-
rafi. Arteriografi dapat memberikan tambahan dimensi tumor
otak dan serial arteriografi dapat membantu menggambarkan
mengenai blood supply dari tumor.
Tumor dari kelompok meningioma biasanya sangat vaskuler
(banyak pembuluh darah) dan sering menimbulkan pembesaran
pada pembuluh darah arteri yang diinervasi. Gambaran yang khas
pada meningioma adalah adanya pembuluh darah yang
menginervasi tumor oleh cabang-cabang dari sistim karotis
eksterna. Arteriografi juga membantu adanya dugaan proses
tumor di fosa posterior, tumor kecil di batang otak atau
neurilemmoma akustikus yang tidak tampak pada CT scan.
7. Pneumoensefalografi dan Ventrikulografi :
Dapat menunjukkan paling jelas tumor intra ventrikuler dan
tumor yang letaknya dalam dekat pada ventrikel, atau
mengadakan invasi pada struktur di garis tengah (invading mid
line structures).

46 Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984


Ketulian : Pemeriksaan dan Penyebabnya
dr. MS Wiyadi
Bagian Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya

PENDAHULUAN • Dengan diketahui sifat ketulian berarti diketahui pula letak


kelainan, sehingga dapat ditentukan apakah perlu tindakan
Yang dimaksud "ketulian" disini adalah sama dengan "ku- operasi, pemberian obat-obatan saja atau hanya dapat
rang pendengaran", yang dalam buku-buku ditulis deafness atau ditolong oleh Alat Pembantu Mendengar (APM) atau hearing
hearing loss. aid.
Di dalam buku pedoman praktis penyelenggaraan sekolah Macamnya tes pendengaran yaitu :
luar biasa Departemen P dan K, kata "tuli" menggambarkan • Tes yang paling sederhana ialah tes suara bisik dan perca-
adanya kekurangan pendengaran 70 db atau lebih pada telinga kapan ("konversasi").
yang terbaik.l Dalam tulisan ini antara kata-kata "ketulian", • Tes dengan garpu suara.
"kurang pendengaran" dan "tuli" mempunyai arti yang hampir • Di klinik yang maju dipergunakan alat elektro-akustik yaitu
sama. tes dengan audiometer dan,
Secara garis besar ketulian dibagi menjadi dua. Ketulian • Tes dengan Impedance meter.
dibidang konduksi atau disebut tuli konduksi dimana kelainan 1. Tes suara bisik
terletak antara meatus akustikus eksterna sampai dengana tulang Caranya ialah dengan membisikkan kata-kata yang dikenal
pendengaran stapes. Tuli di bidang konduksi ini biasanya dapat penderita dimana kata-kata itu mengandung huruf lunak dan
ditolong dengan memuaskan, baik dengan pengobatan atau huruf desis. Lalu diukur berapa meter jarak penderita dengan
dengan suatu tindakan misalnya pembedahan. pembisiknya sewaktu penderita dapat mengulangi kata-kata yang
Tuli yang lain yaitu tuli persepsi (sensori neural hearing- dibisikan dengan benar. Pada orang normal dapat mendengar
loss) dimana letak kelainan mulai dari organ korti di koklea 80% dari kata-kata yang dibisikkan pada jarak 6 s/d 10 meter.
sampai dengan pusat pendengaran di otak. Tuli persepsi ini Apabila kurang dari 5 - 6 meter berarti ada kekurang
biasanya sulit dalam pengobatannya. pendengaran. Apabila penderita tak dapat mendengarkan kata-
Apabila tuli konduksi dan tuli persepsi timbul bersamaan, kata dengan huruf lunak, berarti tuli konduksi. Sebaliknya bila
disebut tuli campuran. tak dapat mendengar kata-kata dengan huruf desis berarti tuli
Untuk mengetahui jenis ketulian diperlukan pemeriksaan persepsi.
pendengaran. Dapat dari cara yang paling sederhana sampai Apabila dengan suara bisik sudah tidak dapat mendengar dites
dengan memakai alat elektro-akustik yang disebut audiometer. dengan suara konversasi atau percakapan biasa. Orang normal
Dengan menggunakan audiometer ini jenis ketulian dengan dapat mendengar suara konversasi pada jarak 200 meter.
mudah dapat ditentukan.
Maksud dari tulisan ini adalah untuk memberi pengertian 2. Tes Garpu Suara
yang lebih mendalam tentang ketulian.
Dengan garpu suara frekuensi 64, 128, 256, 512, 1024, 2048
PEMERIKSAAN PENDENGARAN2 dan 4096 hz, dibunyikan dengan cara tertentu lalu disuruh
Dengan melakukan pemeriksaan pendengaran kita dapat mendengarkan pada orang yang dites. Bila penderita banyak tak
mengetahui : mendengar pada frekuensi rendah berarti tuli konduksi. Bila
• Apakah seseorang kurang pendengaran atau tidak. banyak tak mendengar pada frekuensi tinggi berarti tuli
• Sifat ketuliannya, tuli konduksi ataukah tub persepsi. persepsi.
• Derajat ketuliannya atau besar kekurang pendengarannya.

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 47


Kemudian dengan garpu suara frekuensi 256 atau 512 hz speech frequency. Konversasi biasa besarnya kurang lebih 50 db.
dilakukan tes-tes Rinne, Weber dan Schwabach sehingga lebih
jelas lagi apakah tuli penderita dibagian konduksi atau persepsi. Derajat ketulian berdasar audiogram nada murni adalah sebagai
3. Tes dengan Audiometer berikut :
Hasil dari tes pendengaran dengan audiometer ini digambar • Normal antara 0 s/d 20 db.
dalam grafik yang disebut audiogram. Apabila pemeriksaan • Tull ringan antara 21 s/d 40 db.
dengan audiometer ini dilakukan, tes-tes suara bisik dan garpu • Tull sedang antara 41 s/d 60 db.
suara tak banyak diperlukan lagi, sebab hasil audiogram lebih • Tull berat antara 61 s/d 80 db.
lengkap. Dengan audiometer dapat dibuat 2 macam audio-gram : • Tull amat berat bila lebih dari 80 db.
• Audiogram nada murni (pure tone audiogram)
• Audiogram bicara (speech audiogram) PENYEBAB KETULIAN 8-10
Dengan audiometer dapat pula dilakukan tes-tes : Penyebab tuli konduksi
• tes SISI (Short Increment Sensitivity Index), tes Fowler 1. Pada meatus akustikus eksterna : cairan (sekret, air) dan
dimana dapat diketahui bahwa kelainan ada di koklear atau benda asing, polip telinga).
bukan. 2. Kerusakan membrana timpani : perforasi, ruptura, sikatriks.
• tes Tone Decay dimana dapat diketahui apakah kelainan 3. Dalam kavum timpani : kekurangan udara pada oklusio tuba,
dibelakang koklea (retro cochlear) atau bukan. Kelainan retro cairan (darah atau hematotimpanum karena trauma kepala,
coklear ini misalnya ada tumor yang menekan N VIII sekret pada otitis media baik yang akut maupun yang kronis),
Keuntungan pemeriksaan dengan audiometer kecuali dapat tumor.
ditentukan dengan lebih tepat lokalisasi kelainan yang me- 4. Pada osikula : gerakannya terganggu oleh sikatriks, meng-
nyebabkan ketulian juga dapat diketahui besarnya ketulian alami destruksi karena otitis media, oleh ankilosis stapes pada
yang diukur dengan satu db (desibel). otosklerosis, adanya perlekatan-perlekatan dan luksasi karena
4. Tes dengan "Impedance" meter trauma maupun infeksi, atau bawaan karena tak terbentuk
Tes ini paling obyektif dari tes-tes yang terdahulu. Tes ini salah satu osikula.
hanya memerlukan sedikit kooperasi dari penderita sehingga Penyebab tuli persepsi
pada anak-anak di bawah 5 tahun pun dapat dikerjakan dengan
• Periode prenatal
baik. Dengan mengubah-ubah tekanan pada meatus akustikus
ekterna (hang telinga bagian luar) dapat diketahui banyak 1. Oleh faktor genetik
tentang keadaan telinga bagian tengah (kavum timpani). Dari 2. Bukan oleh faktor genetik.
pemeriksaan dengan Impedancemeter dapat diketahui : — Terutama penyakit-penyakit yang diderita ibu pada ke-
• Apakah kendang telinga (membrana timpani) ada lobang hamilan trimester pertama (minggu ke 6 s/d 12) yaitu pada
atau tidak. saat pembentukan organ telinga pada fetus. Penyakit-
• Apakah ada cairan (infeksi) di dalam telinga bagian tengah? penyakit itu ialah rubela, morbili, diabetes melitus, nefritis,
• Apakah ada gangguan hubungan antara hidung dan telinga toksemia dan penyakit-penyakit virus yang lain.
bagian tengah yang melalui tuba Eustachii. — Obat-obat yang dipergunakan waktu ibu mengandung
• Apakah ada perlekatan-perlekatan di telinga bagian tengah seperti salisilat, kinin, talidomid, streptomisin dan obat-
akibat suatu radang. obat untuk menggugurkan kandungan.
• Apakah rantai tulang-tulang telinga terputus karena kece- • Periode perinatal
lakaan (trauma kepala) atau sebab infeksi. Penyebab ketulian disini terjadi diwaktu ibu sedang melahirkan.
• Apakah ada penyakit di tulang telirigastapes (otosklerosis). Misalnya trauma kelahiran dengan memakai forceps, vakum
• Berapa besar tekanan pada telinga bagian tengah. ekstraktor, letak-letak bayi yang tak normal, partus lama. Juga
pada ibu yang mengalami toksemia gravidarum. Sebab yang lain
DERAJAT KETULIAN3-7 ialah prematuritas, penyakit hemolitik dan kern ikterus.
• Periode postnatal
Untuk mengetahui derajat ketulian dapat memakai suara bisik 1. Penyebab pada periode ini dapat berupa faktor genetik atau
sebagai dasar yaitu sebagai berikut : keturunan, misalnya pada penyakit familiar perception
• Normal bila suara bisik antara 5 - 6 meter deafness.
• Tuli ringan bila suara bisik 4 meter 2. Penyebab yang bukan berupa faktor genetik atau keturunan:
• Tuli sedang bila suara bisik antara 2 - 3 meter — Pada Anak-anak :
• Tuli berat bila suara bisik antara 0 - 1 meter. a. Penyakit-penyakit infeksi pada otak misalnya meningitis
Apabila yang dipakai dasar audiogram nada murni, derajat dan ensefalitis.
ketulian ditentukan oleh angka rata-rata intensitas pada fre- b. Penyakit-penyakit infeksi umum : morbilli, varisela,
kuensi-frekuensi 500, 1000 dan 2000 Hz yang juga disebut

48 Cermin Dunia Kedokteran No. 34. 1984


parotitis (mumps), influenza, deman skarlatina, demam dari 5556 kasus di seksi audiologi bagian THT RS Dr. Soetomo.
tipoid, pneumonia, pertusis, difteri dan demam yang tak
RINGKASAN
diketahui sebabnya.
c. Pemakaian obat-obat ototoksik pada anak-anak. Telah dibicarakan pengertian tentang ketulian, pemeriksaan
— Pada orang dewasa : pendengaran, derajat ketulian dan penyebab ketulian baik di
a. Gangguan pada pembuluh-pembuluh darah koklea, dalam bagian konduksi maupun persepsi.
bentuk perdarahan, spasme (iskemia), emboli dan trombosis.
Gangguan ini terdapat pada hipertensi dan penyakit jantung. KEPUSTAKAAN
b. Kolesterol yang tinggi : Oleh Kopetzky dibuktikan bahwa
penderita-penderita tuli persepsi rata-rata mempunyai kadar 1. Hendarmin H. Sebab Tuna Rungu di Indonesia. Kumpulan Naskah
kolesterol yang tinggi dalam darahnya. Kongres Nasional V Perhati di Semarang 27 - 29 Oktober 1977;
c. Diabetes Melitus : Seringkali penderita diabetes melitus tak hal 152.
mengeluh adanya kekurangan pendengaran walaupun kalau 2. Wiyadi MS. Beberapa Macam Test Pemeriksaan Pendengaran.
diperiksa secara audiometris sudah jelas adanya kekurang Airlangga. Pers Kampus Universitas Airlangga. Edisi Desember
pendengaran. Sebab ketulian disini diperkirakan sebagai 1979, hal 5.
berikut : 3. Katz J. Handbook of Clinical Audiology. Baltimore: The Williams
& Wilkins Co, 1972; p. 79.
— Suatu neuropati N VIII.
4. Sedjawidada R dan Manukbua A. Test Bisik. Kumpulan
— Suatu mikroangiopati pada telinga dalam (inner ear). Naskah Kongres Nasional V Perhati di Semarang 27 - 29
— Obat-obat ototoksik. Penderita diabetes sering ter- Oktober 1977; hal 189 - 198.
kena infeksi dan lalu sering menggunakan antibiotika 5. Strome M. Differential Diagnosis in Pediatric Otolaryngology, 1st
yang ototoksik ed. Boston : Little, Brown &Co, 1975; p 16.
d. Penyakit-penyakit ginjal : Bergstrom menjumpai 91 kasus 6. Wiyadi MS dan Iskandar A. Pemeriksaan Pendengaran Pada
tuli persepsi diantara 224 penderita penyakit ginjal. Calon Mahasiswa Universitas Airlangga. Konas Perhati ke-VI di
Diperkirakan penyebabnya ialah obat ototoksik, sebab Medan 30 Juni s/d 2 Juli 1980.
penderita penyakit ginjal mengalami gangguan ekskresi obat- 7. Zaman M. Kuliah Test Suara Bisik pada Mahasiswa FK Unair
obat yang dipakainya. tahun 1975.
e. Influenza oleh virus. Oleh Lindsay dibuktikan bahwa sudden 8. Maulani HS. Pengobatan Tuli Persepsi dengan Vitamin A.
Karya Untuk Memperoleh ljazah Keahlian THT Fakultas
deafness pada orang dewasa biasanya terjadi bersama-sama Kedokteran Unair, 1981.
dengan infeksi traktus respiratorius yang disebabkan oleh 9. Wiyadi MS. Penyebab Ketulian di Seksi Audiologi Bagian THT
virus. RS Dr. Soetomo/FK Unair 1974 - 1976. Kumpulan Naskah
f. Obat-obat ototoksik : Diberitakan bahwa bermacam-macam Kongres Nasional V Perhati di Semarang 27 - 29 Oktober 1977;
obat menyebabkan ketulian, misalnya : dihidrostreptomisin, hal 124 - 137.
salisilat, kinin, neomisin, gentamisin, arsenik, antipirin, 10. Wiyadi MS. Pemeliharaan Pendengaran. Majalah Kedokteran Sura-
baya, 1979; 16 : 44 - 54.
atropin, barbiturat, librium.
g. Defisiensi vitamin. Disebut dalam beberapa karangan, bahwa
defisiensi vitamin A, B1, B kompleks dan vitamin C dapat
menyebabkan ketulian.
h. Faktor alergi. Diduga terjadi suatu gangguan pembuluh
darah pada koklea.
i. Trauma akustik : letusan born, letusan senjata api, tuli karena
suara bising. Va, hidungnya mirip ayahnya.
j. Presbiakusis : tuli karena usia lanjut. Tapi saya perhatikan matanya
k. Tumor : Akustik neurinoma. lebih mirip suami saya.
1. Penyakit Meniere
m. Trauma kapitis.
• Psikogen
Ketulian psikogen dapat :
— simulated (malingering) • f F ~T 1
v d J rY ~~
— fungsional (histeri)
• Tak diketahui sebabnya (unknown)
Arnvig memberitakan bahwa 21,1% dari kasus-kasusnya tak
diketahui sebabnya. Menurut Harrison dan Livingstone besarnya
30%, menurut Fraser 38% dari 2355 kasus dan menurut Maran 28%
dari 464 kasus. Penulis sendiri menemukan 40,4%
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 49
Rodamin B dan Metanil Kuning ("Metanil
Yellow") Sebagai Penyebab Toksik
Pada Mencit dan Tikus Percobaan
G. Nainggolan — Sihombing
Unit Penelitian Gizi Diponegoro
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Dep Kes R.I., Jakarta

PENDAHULUAN ini adalah 7 mg per 100 gram.


Dalam penyelidikan pada tahun 1978, ditemukan bahwa ro- Makanan yang dicampur dengan metanil kuning (untuk per-
damin B dan metanil kuning dipakai sebagai pewarna makanan cobaan I) : 1 gram bahan pewarna metanil kuning dicampur
di Jakarta.1 Kedua bahan pewarna ini sebenarnya diproduksi dengan 3kg makanan stok. Kadar metanil kuning dalam ma-
untuk mewarnai kertas, tekstil, kayu dan barang industri non kanan ini adalah 14,5 mg per 100 gram.
pangan lainnya.2 Laporan tentang adanya kasus keracunan ma- 3. Hewan Percobaan
kanan yang mengandung rodamin B atau metanil kuning belum Mencit dan tikus putih sapihan diperoleh dari Unit Gizi
diperoleh di kepustakaan Jakarta. Berhubung kedua bahan Diponegoro, Badan Litbangkes, Dep Kes, Jakarta.
pewarna ini telah terbukti sering dan banyak digunakan peda- 4. Perlakuan hewan percobaan
gang kecil di Jakarta untuk mewarnai makanan kecil dan mi- • Percobaan I
numan, maka telah dilakukan percobaan biologik pada mencit Delapan belas ekor mencit dibagi menjadi 3 grup, yang ma-
dan tikus putih. Data yang diperoleh kiranya dapat dipergu- sing-masing terdiri dari 6 ekor. Grup I diberi makan stok yang
nakan oleh para ilmuwan untuk ditafsirkan pada manusia. dicampur dengan rodamin B. Grup II diberi makanan stok yang
Diharapkan lambat laun masyarakat Indonesia dapat menge- dicampur dengan matanil kuning. Grup III diberi makanan stok
tahui bahwa rodamin B dan metanil kuning memang berbahaya saja dan dipakai sebagai grup kontrol. Semua hewan diberi
bagi kesehatan manusia dan menolak penggunaannya dalam makan dan minum ad libitum selama 16 minggu (Tabel 1).
makanan. • Percobaan II
BAHAN DAN METODE Grup A (percobaan) dimulai dari seekor tikus jantan dan 2
1. Zat pewarna ekor tikus betina yang berumur 3 bulan untuk dikawinkan se-
Rodamin B diperoleh dari PT Krikras Jakarta asal produk lama 3 hari. Kemudian ke dua ekor tikus betina itu dipisahkan
pabrik Ciech Organik B2 Div Warsawa. (1 gram produk ekiva- selama masa hamil sampai dekat pada hari melahirkan. Setelah
len dengan 210 mg rodamin B murni). Metanil kuning berasal beranak, anak-ananya dibiarkan tetap bersama induknya sampai
dari pabrik Imperial Chemical Industry Ltd London, PT Galic umur 3 bulan. Pada umur ini dipilih secara acak 6 ekor anak
Bina Mada Jakarta. (1 gram ekivalen dengan 435 mg metanil jantan dan 6 ekor anak betina untuk dipergunakan sebagai 6
kuning)1 pasang parent stok (FI). Sisa anak yang tidak terpakai dibuang
2. Makanan stok dan ke 6 parent stok (keturunan grup A) ini kemudian
Makanan stok diperoleh dari Unit Gizi Diponegoro Badan dikawinkan. Dari hasil perkawinan dipilih lagi secara
Litbangkes Dep Kes Jakarta (Addendum 1).3 acak 6 ekor anak jantan dan 6 ekor betina yang kemudian di-
Makanan yang dicampur dengan rodamin B (untuk perco- pasangkan untuk dikawinkan (F2). Demikianlah seterusnya di-
baan I dan II) : 1 gram bahan pewarna rodamin B dicampur lakukan sampai dengan generasi ke-6 (F6) (tabel 2). Semua ti-
dengan 3 kg makanan stok. Kadar rodamin B dalam makanan kus mulai dari FI sampai F6 dari keturunan grup A ini diberi
makanan campuran dengan rodamin B selama 12 bulan.
Grup B (kontrol) juga dimulai dari seekor tikus jantan yang
*) Ringkasan naskah Ceramah Ilmiah di PT Kalbe Farma, Jakarta tanggal
22 Februari 1983.

50 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


ADDENDUM 1 HASIL
• Percobaan I
"COMPOSITION OF PREPARED STOCKDIETS FOR ALBINO - RATS, STRAIN L.M.R."
Mencit yang diberi makanan yang dicampur
Basic dengan rodamin B dan metanil kuning selama 16
Foodstuff minggu. Pada grup rodamin G gejala menyolok
adalah bulu-bulu menjadi kasar dan pertumbuhan
Protein Fat Weight Weight
% % in kg in%
badan terlambat kalau dibandingkan dengan
kelompok kontrol. Mata dan air seninya
1. Rice 7.0 1 10.0 54.3 berfluoresensi bila kena sinar matahari. Hewan-
2. Soybean, boiled, dried 40 18 4.5 24.4 hewan nampak aktif sadar. Pada minggu ke-7
3. Peanut, chelled, fried 27 44 1.5 8.1 mereka umumnya gelisah, sering menggaruk-garuk
4. Skim milk powder, high quality 35 - 2.0 10.8
- 100 250 ml 1.3
badannya sehingga mendapat luka-luka dibe-
5. Coconut-oil
6. Kitchensalt - - 0.15 0.8 berapa tempat bagian tubuhnya (Gambar 1). Pada
7. Bonemeal - - 0.075 0.4 minggu ke-8 keaktifan mereka mulai berkurang dan
8. Vit. B-complex tablet * 30 tab. + geraknya lambat dan malas. Pada minggu ke-10
9. Vit. A + D3 in starch ** + +
+
ditemukan seekor mencit mati (Tabel 1).
10. Ferri - citrate +
Pada kelompok mencit yang diberi meta-nil
kuning, pertumbuhan badan juga terlambat (lihat
±18.4 kg ±100% Grafik), tetapi mereka aktif dan sadar. Di antara 6
ekor mencit ditemukan 2 ekor yang menderita
Average Composition megalosefali (Gambar 2), dan 2 ekor lainnya
as calculated : Crude Protein 19.6 %
mendapat pembengkakkan pada ke dua kaki
Total Fat 9%
Total Energy 370 Cals. %
depannya. Seperti halnya kelompok rodamin B,
NPU-standard 60 pok metanil kuning pun mulai bergerak lam-ban
NPU-operative 50 pada minggu ke-8 dan ke-9 masing-masing
as analysed : Crude Protein 20.3 % ditemukan seekor mencit mati (Tabel 1).
Pada otopsi dari ke tiga ekor mencit yang mati (
For Comparison
1 ekor dari grup rodamin B dan 2 ekor dari grup
: Composition of Purina Laboratory Chow : metanil kuning), hanya menunjukkan keadaan gizi
(Ralston Purina Co St Louis, USA). yang jelek dimana semua deposito lemak di dalam
Crude Protein 23.0 % tubuhnya habis sama sekali.
Nitrogen free extract 50.6 %
Crude fat 5.8 % Sisa mencit grup 1 yang berjumlah 5 ekor
Crude fibre 4.9 % dibunuh pada akhir minggu ke-16. Pada hati seekor
Ash 7.7 % mencit ditemukan 1 bungkul tumor hapatoma
dengan ukuran ± 0,5 x 0,5x 0,25 cm yang terletak
* B-complex, ** Rovimix A + D3 Type 500/100 Roche : pada lobus hepatis dekstra.
Each table contains : 1 gram contains 500.000 IU Vit. A + Sisa mencit yang berjumlah 4 ekor dari grup II
Thiamin HO 3 mg 100.000 IU Vit. D dibunuh pada akhir minggu ke-16 juga. Dua ekor
Riboflavin 2 mg 125 grams Rovimix to 400 grains of starch
diantaranya mengalami perubahan ginjal (ginjal
Pyridoxin HCl 0.5 mg For 18.4 kg of food use 8 grams of
Calcium pantothe- (Starch + Rovimix). kistik). Terlihat jelas bahwa bagian pielum meluas
nate 2 mg (equiv. to 0.25 g Rovimix). dan bagian korteks menipis.
Nicotinamide 10 mg
Sumber Unit Gizi Diponegoro - Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, De-
partemen Kesehatan.
Kompleks Nutrition Centre, Seameo Tropmed - U.I.
Salemba 4 (Kampus U.l.) Jakarta. October 1978

dikawinkan dengan 2 ekor tikus betina berumur 3 bulan. Perlakuan Percobaan II


selanjutnya sama seperti pada grup A, untuk memperoleh 6 generasi ( Enam pasang tikus selama 6 generasi diberi makanan yang
F1 - F6). Kemudian pasangan F1 dari grup B (kontrol) merupakan dicampur dengan rodamin B (Tabel2).
counter . part dari F1 grup A (percobaan). Demikian seterusnya Gejala klinik yang nyata adalah perubahan warna yang menjadi
pasangan-pasangan F2 sampai dengan F6. Grup B menjadi counter kemerah-merahan pada kulit dan ekor (mungkin kena sentuhan
part masing-masing dari pasangan F2 sampai dengan F6 grup A ( makanan berwarna setiap hari atau mungkin konsentrasi rodamin B di
percobaan). Semua tikus dari semua generasi grup B hanya diberi dalam darahnya lebih tinggi dari biasanya). Bola mata, air mata, dan air
makanan stok selama 12 bulan dan dipergunakan sebagai grup kontrol. seni mereka juga kemerahan-merahan, air seninya berfluoresensi kalau
kena sinar ma-

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 51


Tabel 1
Percobaan II : Disain percobaan dengan mencit, jumlah kematian dan jenis kelainan patologi pada mencit yang
diberi makanan yang dicampur rodamin B dan metanil kuning.*

Jumlah Jumlah kematian


Jenis Mencit Mencit pada Jumlah Kelainan Patologi
Makanan minggu ke Total Keterangan
Grup pada _
permulaan Ginjal
VIII IX X Hati

I Rodamin B 6 0 0 1 1 1** 0 Hepatoma


(1 ekor)

H Metanil 6 1 1 0 2 0 2** Ginjal kistik


kuning (2 ekor)

III Kontrol 6 0 0 0 0 0 0

Lama percobaan 16 minggu


Kandungan bahan pewarna rodamin B (tidak murni) adalah 1 gram (ekivalen dengan 7 mg) per 100 gram
stokdiet.
Kandungan bahan pewarna metanil kuning (tidak murni) adalah 1 gram (ekivalen dengan 14.5 mg) per 100
gram stokdiet.
** Kelainan patologi ditemukan pada mencit yang dibunuh pada akhir minggu.

Grafik : Perobahan berat badan mencit yang diberi masing masing dari
rodamin B dan metanil kuning dalam diet selama 16 minggu (
persen dari berat badan semula).

200
150
100
50
Kontrol

Metanil
kuning

Rodamin B
Gambar 1 : Mencit yang mendapat benjolan dan luka pada kaki kanan,
karena pemberian rodamin B dalam diet pada percobaan
selama 16 minggu.

Diet &
pemberian
— 1 gram rodamin B ( 210 mg)
per 3 ekuiv.
— 1 gram kg stokdiet (ekuiv. 435
mg) metanil kuning
t% malcan per 3 kg stokdiet libitum
dan minum ad.

0 1 2 3 4 Gambar 2 : Mencit yang memperoleh metanil kuning dalam diet selama 16


Bulan minggu, menderita megalosefali pada minggu ke 10.

52 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


Tabel 2
Percobaan II : Jumlah tikus-tikus yang mati dan yang mendapat tumor pada pengamatan selama 6 minggu dengan pemberian makan-
an yang mengandung 7 mg Rodamin B murni dalam 100 gram diet selama 12 bulan, setiap generasi (F) terdiri dari 6 pa-
sang hewan.

Jumlah kematian dan Jumlah Tumor yang


Jumlah
Generasi Jumlah ditemukan pada bulan ke —
ke — Jumlah masmg- Total Keterangan
(F) d tikus mas ng
i I II III N V VI VII VIII IX X XI XII
Kemtal

F- 1 9 12 6 0 0 0 0 0 0 0 0 2* 2 1 0 0 5 * Ditemukan
limfoma
F- i 12 6 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 — — — 6 pada 1 ekor
tikus
F-2 9 6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1* 1 1 1 4

d 6 0 0 0 0 1 1 1 0 1 0 0 0 0 4

F-3 9 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 4
12 —
d 6 0 0 0 0 0 0 0 0 2* 0 0 0 0 4

F-4 9 6 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 3
12
d 6 0 0 0 0 0 2 2* 0 0 0 0 0 0 4

F-5 9 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 3
12
d 6 0 0 0 0 0 0 0 0 2* 0 1 0 0 3

F-6 9 6 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 2
12
d 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1

Catatan ; — Pada kelompok kontrol tidak ada yang mati


Pada kelompok kontrol tidak ada pertumbuhan tumor

tahari. Tubuhnya rata-rata lebih kecil bila dibandingkan de-


ngan hewan kontrol (Gambar 3), akan tetapi semua hewan
menjadi aktif, malah banyak yang galak, agresif dan kanibal.
Tikus-tikus umumnya mengalami diare sebelum mati, dan yang
mati kemudian dimakan oleh tikus-tikus yang masih hidup dan
aktif. Mulai bulan ke-10 banyak tikus mengalami kerusakan
tubuh (Gambar 4).
Angka kematian pada generasi pertama cukup tinggi, akan

Gambar 4 Tikus yang mengalami kerusakan tubuh pada pemberian


rodamin B dalam diet pada penelitian selama 12 bulan.

tetapi makin lama pada generasi berikutriya menjadi makin


berkurang (Tabel 2).
Pada otopsi, ditemukan tumor limfoma masing-.masing 1
ekor pada Fl, F2, F3, F4, F5 dan F6 (Tabel 2). Waktu yang
Gambar 3 : Perbedaan besar tubuh tikus yang diberi rodamin B dalam diet diperlukan untuk menimbulkan tumor limfoma antara 6 sampai
dengan kontrol pada penelitian selama 12 bulan. 9 bulan. Limfoma yang sering ditemukan berada pada me-

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 53


diastinum dan kadang-kadang pada mesenterium. Besarnya terbentuk pula produk sampingan yang tidak dikenal sifatnya. Ini
bervariasi dari yang berdiameter ± 0,25 cm sampai 2,5 cm. mungkin berbahaya atau tidak berbahaya, tetapi kehadiran zat itu
Tikus-tikus dari grup kontrol tidak ada yang mati dan pada tidak diinginkan.4
otopsi tidak ditemukan tumbuh ganda di dalam tubuhnya. Rodamin B dibuat dari meta- dietilaminofenol dan ftalik
anhidrid, kemudian diasamkan dengan asam hidroklorid. Kedua
bahan baku ini bukanlah bahan yang boleh dimakan. Se-
lanjutnya asam HC1 yang dipakai tentunya bertingkat "teknis"
dengan kadar logam logam berat yang cukup tinggi. Begitu juga
metanil kuning yang dibuat dari asam metanilat dan dife-
nilamin. Kedua bahan ini toksik. Jadi, dapat kita bayangkan
bahwa di dalam bahan pewarna baik rodamin B maupun meta-
nil kuning, berbagai bahan lain masih ada di dalamnya. Mereka
turut ambil bagian sebagai penyebab toksik tambahan pada
hewan percobaan. Memang kemurnian pewarna rodamin B dan
metanil kuning diusahakan tinggi oleh pabrik pembuatnya, tetapi
karena bahan pewarna ini dimaksudkan untuk mewarnai
sebangsa tekstil, kertas, kayu dan sebagainya, maka kehadiran
logam berat serta produk sampingan lainnya yang dianggap
rendah bagi industri non-pangan sudah cukup tinggi untuk
pewarna makanan.
Kontaminasi dapat pula terjadi dari kemasan bahan pewarna
Gambar 5 non
Beginilah label dari kemasan plastik yang berisi bahan pe- pangan yang kurang baik mutunya sehingga menambah
warna "makanan", dijual di pasaran bebas Jakarta. Per-bahaya kesehatan manusia bila menggunakan bahan pewarna ini
hatikan "Special Colours fo all Purposes". untuk makanan.4,5

KESIMPULAN
Pemberian rodamin B dan metanil kuning dalam diet mencit
dan tikus percobaan mengakibatkan efek toksik pada hewan
tersebut. Ini menegaskan keterangan yang ada dalam ke-
pustakaan, yaitu baik rodamin B maupun metanil kuning adalah
bahan pewarna untuk mewarnai barang- barang non pangan2, jadi
tidak dapat ditolerir untuk mewarnai makanan manusia.
Karena masyarakat Indonesia di Jakarta khususnya dan di
Indonesia umumnya memang senang pada makanan yang ber-
warna, maka pengadaan bahan pewarna makanan yang diizin-
kan dengan derajat Food Grade dan memenuhi persyaratan
higine, harus mendapat perhatian instansi pemerintah yang
berwenang c.q. Departemen Kesehatan, Departemen Perda-
gangan dan Departemen Perindustrian. Pengadaan ini hendak-
nya disertai dengan harga yang kompetitif dengan harga pewar-
na non pangan yang sebelumnya diperdagangkan sebagai pe-
Gambar 6 : Bahan pewarna dalam kemasan kaleng, botol, kantong plastik warna pangan, sehingga dapat dijangkau masyarakat luas seperti
dijual di pasaran bebas Jakarta sebagai pewarna makanan.
sediakala.

PEMBAHASAN RINGKASAN

Data mengenai efek toksik yang diperoleh dari percobaan Dua pewarna non-pangan dikenal dengan nama rodamin B
bahan pewarna rodamin B dan metanil kuning pada mencit dan yang memberi efek warna merah jambu, dan metanil kuning
tikus percobaan menimbulkan pertanyaan, apakah keracunan yang memberi warna kuning telor digunakan luas sebagai pe-
serupa seperti yang terlihat pada hewan percobaan itu, akan warna makanan di Jakarta.
terjadi juga pada manusia yang sering makan makanan yang Sebagai bahan non-pangan pada umumnya bila berada di
mengandung pewarna rodamin B atau metanil kuning. dalam makanan kemudian dikonsumsi manusia, dapat dira-
Mungkin ada gunanya juga kalau diutarakan di sini, bahwa malkan akan mengganggu kesehatan dalam jangka waktu pen-
pada pembuatan bahan pewarna seperti pembuatan bahan-bahan dek atau panjang. Untuk pembuktiannya telah dilakukan per-
kimia organik pada umumnya dibutuhkan proses yang rumit cobaan pada mencit dan tikus putih dengan mencampurkan
untuk memperoleh produk yang murni. Ada kalanya masing- masing dari kedua bahan pewarna non-pangan tersebut

54 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


ke dalam diet mereka sehari-hari. ing Matters Commonly Used As Food Colours In Jakarta (Thesis),
1978; p. 37 - 82.
Hasil penelitian menguatkan dugaan, bahwa kedua bahan 2. Fairhall LT. Industrial Toxicology, 2nd. Ed., New York: Hafner
pewarna non-pangan ini dapat mengganggu kesehatan hewan Publishing Company, 1975 ; p. 235 - 236.
percobaan. 3. Unit Penelitian Gizi Diponegoro, Badan Litbangkes Depkes R.I.
Miller DS. Worksheet for Determination of Net Protein Utilisation
Ucapan terima kasih : using Rats Body N Technique, 1978; p 2.
4. Jacobs MB. The Chemical Analysis of Foods and Food Products, 3rd.
Kepada Dr. Iwan T. Budiarso, ahli patologi veteriner pada Puslitbang Ed, New York : Robert E. Krieger Publishing Co., Inc. Hung-
Kanker, Badan Litbangkes, Dep Kes R.I., yang telah memberi penilaian tington, 1973; 11743, p. 103 - 105.
simtom patologi dari penelitian biologik ini. 5. Imperial Chemical Industries. Edicol Colours for Foodstuffs, Pat-
tern leaflet 113.
KEPUSTAKAAN
1. Sihombing G. An Exploratory Study on Three Synthetic Colour-

Kalender Kegiatan Ilmiah


SECOND INTERNATIONAL CONGRESS on TRADITIONAL ASIAN MEDICINE
Dates : September 2, through September 7, 1984
I. Scientific programe :
Theme of the congress :
Traditional medicine in Asian countries and their place in
pluralistic health care systems.
Main subject areas of the congress :
1. The sources and histories of classical traditions
2. Popular medicine
3. Ethnobotany, ethnopharmacology, and allied subjects
4. Models of integration : problems and chances
5. The social construction of illness experience
6. Clinical and experimental studies of therapeutic practices
7. Primary health care and education of health care workers.
II. Social programme :
Ladies' Programme : traditional Indonesian beauty treatment with traditional drug
and traditional cosmetic.
III. Cultural evening.
Place : Bumi Hyatt Hotel, Jln. Basuki Rachmat 124 - 128.
Phone 031 - 470875, Surabaya .
Secretariat : Faculty of Pharmacy, Airlangga University
J1n. Dharmahusada 47, Surabaya
Phone (031). 43710
Registration fee: For Indonesian participant is : Rp. 50.000,-
and the accompanying person : Rp. 25.000,-
Sent payment to : ICTAM II, Bank Account : BNI 46
branch No. 11.02.090.8000 UNAIR

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 55


PERKEMBANGAN
diobati dengan androgen, sitarabin dosis rendah, dan peng-
Pengobatan Preleukemia obatan suportif. Penelitian meliputi faktor- faktor prognosis dan
efek dari masing- masing pengobatan di atas. Hasilnya ternyata
mengecewakan, karena evolusi dari penyakitnya tidak
Istilah "preleukemia" dulu digunakan untuk menggambar-
terpengaruh. Dalam penelitian lain, digunakan sitarabin dosis
kan sekelompok kelainan morfologik sel-sel darah yang diiden-
rendah yang diberikan subkutan secara intermittent pada 21
tifikasikan, secara retrospektif, sebagai pendahulu dari leukemia
pasien. Lima di antaranya menderita preleukemia, dan sisanya
mieloblastik akut. Sekarang, istilah ini banyak dipakai oleh para
leukemia nonlimfositik akut. Hasilnya cukup baik, 50% kasus
hematolog, secara prospektif, untuk pasien yang diduga
mencapai remisi sempurna, termasuk 4 dari pasien preleukemia
menderita leukemia, dengan prognosis buruk, tapi belum tentu
tadi.
berakhir sebagai leukemia akut. Perjalanan kliniknya bervariasi.
Wisch dengan kolega- koleganya di Amerika telah mempe-
Cukup banyak penderita meninggal karena kegagalan sumsum
lajari 8 pasien preleukemia dengan berbagai gambaran morfo-
tulang, sebelum penyakitnya sendiri berkembang menjadi
logik; 7 di antaranya dengan peningkatan sel-sel bias dalam
leukemia akut. Gambaran dari sumsum tulang biasanya
sumsum tulang. Digunakan sitarabin secara infus intravena terus
hiperseluler; dan karena maturasi sel-sel darah kurang sem-
menerus dengan dosis 20 mg/m2/hari selama 21 hari. Satu
purna, maka pada darah tepi didapatkan sitopenia. Pada pasien-
pasien mencapai kesembuhan klinik yang sempurna, dan tetap
pasien tua, atau bila transplantasi sumsum tulang tidak dapat
baik setelah 14 bulan kemudian. Dua pasien meninggal, dan 5
dilakukan, pengobatan suportif dengan tranfusi darah masih
pasien menunjukkan kemajuan dalam hitung darahnya, yang
merupakan pilihan utama. Usaha-usaha penyembuhan dengan
bertahan 2 - 4 bulan setelah pemberian obat. Corak
rejimen pengobatan anti- leukemia yang telah dikenal, biasanya
maturasi dalam sumsum tulang mengalami kemajuan, bahkan 1
gagal. Juga telah dicoba pemakaian steroid androgen tanpa hasil
kasus kembali normal. Dari laporan- laporan lain juga
yang berarti.
ditekankan bahwa cara pengobatan demikian dapat menghasil-
Bagaimana caranya supaya sel-sel neoplastik tadi terinduk-
kan remisi, atau setidaknya, maturasi hematologik dalam ber-
si hingga berdiferensiasi? Ini akan memperbaiki keadaan darah-
bagai jenis displasia sumsum tulang preleukemia. Sebelum re-
nya. Penemuan cara pembiakan dan "cloning" sel darah, baik
misi, kadang- kadang ada episode-episode di mana sumsum
yang normal maupun leukemik, telah membuka jalan untuk
tulang menjadi hipoplasia. Hal yang demikian masih dapat
mempelajari beberapa zat kimia yang dapat menginduksi sel.
ditolerir, mengingat besarnya potensi untuk maturasi; efek dari
Pada percobaan in-vitro terbukti perlunya protein induser
obat terhadap stroma sumsum tulang, dan peranannya dalam
supaya sel menjadi dewasa dan viable. Protein- protein ini
mensekresi substansi- substansi penginduksi juga tak boleh
dihasilkan oleh beberapa jenis sel seperti fibroblas, limfosit,
dilupakan.
makrofag, dan anehnya, ternyata juga dihasilkan oleh sel-sel
Walaupun secara in-vitro efeknya masih belum jelas, tapi
mieloid leukemik sendiri. Pada sel leukemia akut, kelainan
pengalaman dalam klinik meyakinkan kita bahwa zat tersebut
fenotip utamanya adalah ketidakmampuannya untuk berdi-
bermanfaat sebagai kemoterapi preleukemia. Bagaimanapun
ferensiasi menjadi sel dewasa. Protein induser, penambahan zat-
juga, bahkan dengan dosis yang rendah, risiko terjadinya depresi
zat kimia tertentu dan substansi-substansi alamiah seperti asam
sumsum tulang tetap ada. Dosis yang lazim dipakai sebagai
retinoat dan metabolit dari vitamin D, semua ini dapat
kemoterapi preleukemia telah ditinggalkan, mungkin karena
menginduksi sel-sel leukemik untuk berdiferensiasi. Walaupun
anggapan bahwa sumsum tulang tidak dapat kembali lagi ke
beberapa bahan tadi cukup toksik untuk digunakan dalam klinik,
fungsinya yang normal. Anggapan ini tidak mutlak benar; makin
beberapa lainnya merupakan bahan standar sebagai kemoterapi.
intensif pengobatan, kesempatan untuk remisi mungkin lebih
Contohnya ialah sitarabin.
besar, dan risiko kematian menurun.
Klon spesifik dari sel-sel leukemik tikus akan terinduksi
Efek sitarabin (dan mungkin zat-zat penginduksi lain),
untuk berdiferensiasi oleh sitarabin. Dan pemberian terus
dengan dosis yang bervariasi di dalam pengobatan displasia
menerus zat ini terhadap HL 60 human promyelocytic leuce-
sumsum tulang pada preleukemia ini, masih perlu dipelajari
mic cell, akan meningkatkan pematangan sel sampai menyamai
secara lebih meluas.
monosit atau granulosit. Jadi sel-sel leukemik jenis ini mungkin
sangat sensitif terhadap sitarabin. Tapi cara kerjanya belum Lancet 1984; i : 943-944
diketahui dengan tepat.
Keuntungan pemakaian sitarabin dengan dosis yang jauh
lebih rendah daripada rejimen pengobatan anti- leukemia biasa,
telah dipelajari dan diperdebatkan. Sebagai contoh, para ahli dari
Obat-obat & Insomnia
Inggris telah melakukan penelitian terhadap pasien dengan Insomnia terjadi dalam begitu banyak keadaan, sehingga sulit
anemia aplastik dan anemia refrakter. Pasien- pasien tersebut diketahui hipnotik mana yang harus dipergunakan dan

56 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


mana yang paling cocok. Dalam 10 tahun belakangan ini banyak Namun pendekatan ini perlu dipertimbangkan benar- benar.
kemajuan yang telah dicapai dalam pemahaman masalah tidur Diazepin lebih menguntungkan dari barbiturat, bukan saja
dan gangguannya; dan banyak obat, diazepin maupun non- karena keamanannya, tetapi juga karena manfaat terapeutiknya.
diazepin, telah dibuat untukmemperbaiki tidur. Beberapa waktu Masalah yang terutama timbul ialah efek sisanya di siang hari
lalu, dalam konperensi tentang "Obat-obatan dan insomnia" di (yang sedikit bila memakai senyawa yang cepat dieliminasi);
Inggris telah dicapai suatu konsensus. Pandangan yang lebih kumatnya insomnia bila obat distop (yang dapat dicegah bila
jelas tentang obat-obat tadi mulai tampak, sehingga kini kita digunakan jangka pendek dan penghentian pengobatan
mempunyai pegangan sekadarnya. bertahap); ketergantungan obat (dapat diminimalkan dengan
Insomnia adalah simtom dari berbagai keadaan. Ini menun- dosis kecil intermiten, pemberian jangka pendek, atau
jukkan perlunya penilaian sistematik terhadap penyebab- penghentian bertahap); dan potensiasi obat sedatif lainnya.
penyebab medis, psikiatrik, ataupun lainnya. Analisis dari Untuk menghindarkan semua itu, pasien harus diberi dosis ter-
insomnia paling baik dilakukan dalam tiga bagian : transien, kecil, dengan jangka waktu sesingkat- singkatnya. Dokter perlu
jangka pendek, dan jangka panjang. mendidik pasien untuk menggunakan dosis kecil secara inter-
Insomnia transien timbul pada mereka yang biasa tidur miten tersebut.
nyenyak; biasanya ini karena perubahan keadaan yang me- Saran-saran di atas cukup masuk akal. Terapi dengan hip-
nyertai tidur (misalnya, kebisingan), atau pola istirahat yang tak notik dengan cara di atas akan banyak mengurangi masalah
biasa, misalnya bekerja malam atau setelah perjalanan dengan penggunaan sedatif yang terlalu lama. Selain itu dosis obat dulu
pesawat jet ke negeri jauh. Obat hipnotik mungkin diperlukan, sering terlalu tinggi. Mungkin dosis yang terlalu tinggi ini karena
mungkin tidak, tergantung apakah pasien tadi mengeluhkannya salah penilaian; pasien dengan insomnia transien atau jangka
atau tidak. Tapi, bila pengobatan diberikan, hipnotik yang cepat pendek disamakan dosisnya dengan yang untuk pasien insomnia
dieliminasi lebih cocok. Dan ia seharusnya cuma diberikan sekali kronik.
dua kali.
Insomnia jangka pendek biasanya berkaitan dengan problema Brit Med J 1984; 288 : 261
emosional atau penyakit medis yang serius. Mungkin ia
berlangsung beberapa minggu, dan bisa kumat. Diperlukan
pengelolaan yang baik agar insomnia jangka panjang dapat
dihindari. Yang paling penting ialah perhatian akan higiene tidur.
Hipnotik mungkin sekali berguna, namun jangan lebih dari tiga Untuk segala surat- surat, pergunakan alamat :
minggu pemberiannya; lebih baik kalau cuma sekitar seminggu. Redaksi Majalah Cermin Dunia Kedokteran
Penggunaan intermiten dianjurkan, setelah beberapa hari tidur
P.O. Box 3105 Jakarta 10002
nyenyak. Obat yang cepat dieliminasi biasanya cocok, agar
siangnya tidak mengantuk. Namun pada mereka yang
menunjukkan ansietas cukup banyak, obat yang eliminasinya
lama (diazepam misalnya) boleh dipakai. Tapi harus berhati-hati
agar tidak terlalu mengantuk akibat akumulasi obat.
Banyak kontroversi tentang penggunaan hipnotik pada
insomnia kronik. Diagnosis yang tepat diperlukan sebelum
keputusan diambil. Mungkin sepertiga sampai setengah pende-
rita tadi punya latar belakang penyakit psikiatrik, terutama
depresi, dan pasien- pasien demikian perlu pengobatan khusus.
Kelompok lain termasuk mereka yang menyalahgunakan obat
dan alkohol. Tapi ada juga kelompok yang benar-benar punya
kelainan tidur yang spesifik. Secara praktis, yang terpenting —
terutama pada usia lanjut — ialah apnea tidur. Pada pasien
demikian, yang biasanya gemuk dan suka tidur mengorok, atau
mengantuk di siang hari — sedatif dianggap merupakan
kontraindikasi!
Sekalipun demikian, pada banyak pasien insomnia kronik,
penyebabnya tidak diketahui. Di sini kedua pendekatan :
perbaikan higiene tidur dan hipnotik, akan diperlukan. Yang
penting ialah olahraga, mengurangi stress, pantang kopi dan
alkohol; hipnotik digunakan secara intermiten sekali dalam tiga
malam sampai sebulan. Pada pasien- pasien ini, benzodiazepin
jangka panjang mungkin lebih baik. Bila setelah sebulan belum
berhasil, dapat dicoba antidepresan sedatif, misalnya selama 4
minggu, meskipun tak tampak jelas gejala depresi.

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 57


• Pada suatu hari, datang seorang ibu ke dokter dengan mem-
bawa pembantu wanita yang berumur kira-kira 30 tahun. Komentar
• Ibu rumah tangga tadi mengatakan bahwa pembantunya itu TANGGAPAN DARI SEGI ETIK KEDOKTERAN.
sedang hamil muda. Hasil pemeriksaan fisik dan tes kehamilan
menunjukkan bahwa pembantu tersebut memang sedang hamil Inti permasalahan ialah bagaimana sikap etis seorang dokter
lebih kurang 10 minggu. terhadap abortus provokatus. Dalam kasus ini, dokter tersebut
Dokter tersebut mencoba melakukan tanya jawab dengan pem- memahami keinginan dari sang majikan dan korban untuk
bantu tadi, tapi wanita tersebut bungkam seribu bahasa. melakukan abortus provokatus dan karena itu dia menyetujui
• Menyadari bahwa mungkin pembantu ini takut sekali ter- dengan sekaligus mengirim yang bersangkutan ke sebuah klinik
hadap majikannya, maka dokter mempersilahkan sang majikan untuk penghentian kehamilan. Indikasi untuk abortus provokatus
menunggu di luar kamar periksa. Ternyata tindakan ini itu adalah indikasi sosial dari kedua pihak, yaitu rasa "malu".
membawa hasil. Si pembantu sekarang dapat bercerita : bahwa Bicara mengenai abortus provokatus, maka secara langsung
ia memang hamil akibat hubungan kelamin dengan ayah mertua dokter berhadapan dengan hati nuraninya sendiri, mengingat
majikannya yang sudah berumur lebih kurang 65 tahun. Oom sumpah jabatan dokter yang diantaranya berbunyi : "Saya akan
tua yang sudah pensiun dan tak memiliki kegiatan sehari-hari menghormati hidup insani semenjak saat pembuahan". Namun
yang tetap, ternyata berhasil membujuk/mengancam pembantu kita juga menyaksikan bahwa penyimpangan seakanakan sudah
ini untuk melakukan hubungan seksual sampai sebanyak tiga lumrah terjadi.
kali. Kesempatan untuk "pertemuan" ini dipilihnya waktu-waktu Di bawah "permukaan", abortus provokatus dapat dilakukan
dimana rumah sedang kosong oleh karena para anggota keluarga secara tersembunyi oleh "dukun" yang sulit diharapkan akan
semua keluar rumah, seperti pada pagi hari. dilakukan dengan memperhatikan kriteria medis, sehingga
• Dapat dibayangkan bahwa istri rumah tangga tersebut ter- sering membawa korban bagi sang calon ibu. Namun yang
kejut dan malu sekali setelah mendengar dari dokter tentang dilakukan secara baik menurut kriteria teknis medis juga ada,
kasus kehamilan yang tak terencana ini. Setelah mengatasi untuk mengurangi bahkan menghilangkan risiko dan efek sam-
keributan dalam keluarganya, mereka kembali ke dokter dan pingan berupa infeksi, perdarahan, dan lain-lain. Dan yang ter-
sang majikan mengatakan bahwa telah disepakati oleh para akhir ini dilakukan oleh tenaga ahli yaitu dokter !
anggota keluarga besarnya, dimana kehamilan tersebut harus Secara resmi yang dibenarkan oleh etik kedokteran adalah bila
diakhiri. ada indikasi medis yaitu bila terminasi kehamilan tidak di-
• Untuk meyakinkan bahwa tidak ada unsur paksaan dari pihak lakukan akan membahayakan si calon ibu. Dengan demikian,
keluarga majikan, maka dokter tersebut mempersilahkan secara tersirat, dunia kedokteran sudah sejak lama menentukan
majikan keluar dari kamar periksa dan mengadakan tanya jawab urutan prioritas dalam menghormati kehidupan insani. Yaitu,
dengan pembantu tersebut. yang pertama dihormati kehidupan insani yang telah
• Dijelaskan oleh dokter tersebut : bahwa bila pembantu wanita lengkap/telah lahir; baru kemudian insani yang belum lahir ke
itu hendak mempertahankan kehamilannya sampai kemudian dunia !
bayinya lahir. maka dokter tersebut akan berusaha agar Secara tidak sadar penampilan sikap "egoisme" dari manusia
majikannya memberikan pengganti materil yang wajar sebagai sendiri maju ke depan; membela ras manusia yang telah hadir di
uang pesangon si pembantu untuk pulang kedesanya. Bila tidak, dunia, lebih penting ketimbang membela calon manusia yang
maka akan dicarikan jalan untuk mengakhiri kehamilan ini. belum kelihatan. Beberapa dasawarsa belakangan ini indikasi
Ternyata memang si pembantu bertekad untuk tidak mene- lain untuk melakukan abortus provokatus semakin luas, seperti
ruskan kehamilannya, oleh karena tidak dapat menghadapi beban indikasi sosial dalam arti luas, indikasi sosial dalam skala
batin di kampungnya. keluarga, keenganan mempunyai unwanted child demi
Nah, setelah mendengar itu, dokter tersebut mengatakan kepada kesejahteraan keluarga dan lain-lain.
majikannya agar pembantu tersebut dibawa ke sebuah klinik Program KB dengan Norma Keluarga Kecil yang Berbahagia
untuk dihentikannya kehamilannya. dan Sejahtera (NKKBS) banyak pula dimanfaatkan oleh ang-
Bagaimana pendapat saudara tentang "penyelesaian" kasus ini? gota masyarakat tertentu yang menjurus pada abortus provoka-
OLH tus, biarpun secara resmi cara ini tidak termasuk dalam program
KB. Akan tetapi praktek seperti M.R. masih diperdebatkan
antara yang pro dengan yang kontra, apakah itu suatu
58 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
• Yang kedua menyangkut ancaman. Jika ini berupa ancaman
abortus provokatus atau bukan. Bahkan, pemasangan IUD bila kekerasan, misalnya mau dibunuh, maka telah terjadi perkosaan.
mekanismenya dalam mencegah kehamilan diyakini sebagai Tapi kalau hanya ditakut-takuti akan diberhentikan dari
pencegahan nidasi saja, akan berarti telah menciderai sumpah pekerjaan maka perbuatan ini tidak dapat dituntut.
dokter sebab pembuahan telah terjadi, hanya nidasi yang • Yang ketiga menyangkut abortus provokatus. Seperti kita
terhalang. ketahui, abortus provokatus yang diperbolehkan oleh hukum (
Karena berbagai realitas hidup sehari-hari, maka secara di- berdasarkan yurisprudensi dan juga sejarah pembuatan
am-diam masalah abortus provokatus menjadi semakin ringan. hukumnya) hanya yang berdasarkan indikasi medik.
Dengan perkataan lain secara evolusi telah terjadi pergeseran Jika indikasi untuk dilakukan abortus itu tidak tepat, maka
nilai dalam kehidupan masyarakat termasuk masyarakat dokter. dokter yang memberi tabu di klinik mana dapat dilakukan
Dalam kasus kita ini mungkin sebagai suatu apologi, Sejawat abortus itu dapat dituntut sebagai pembantu melakukan keja-
yang mengirim ke klinik tersebut, merasa tidak bersalah karena hatan menurut KUH Pidana pasal 56 :
dia tidak menganjurkan dan lagi pula yang melaksanakan Sebagai pembantu melakukan kejahatan dipidana :
bukan dia sendiri; dia cuma memberikan kemudahan dengan ke-1: orang yang dengan sengaja membantu waktu kejahatan itu
menunjukkan tempat yang baik dan aman. dilakukan;
Pergeseran nilai yang lain ialah secara tersirat seolah-olah ke-2: orang yang dengan sengaja memberi kesempatan, ikhtiar
sudah ada klinik yang berfungsi untuk maksud abortus provo- atau keterangan untuk melakukan kejahatan itu.
katus tanpa indikasi medis, yang diterima oleh masyarakat. Kita Dalam yurisprudensi Belanda (putusan Arrondissements-
juga menyaksikan bergesernya nilai sakral dari hubungan intim rechtbank Amsterdam 5 Februari 1942) dibenarkan suatu abortus
perkawinan biarpun salah satu sila dalam Pancasila adalah " provokatus atas dasar indikasi psikiatrik, di mana psikiater
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Makna beradab ini menerangkan, bahwa si wanita itu berada dalam ketegangan
sering terlanggar, mungkin karena tolak ukurnya kurang jelas. jiwa yang hebat dengan bahaya bunuh diri (in een zeer ernstige
Pertanyaan kita : "Apakah hubungan seksuil dalam kehi- overspanningstoestand met direct suicide-gevaar). Di Indonesia
dupan perkawinan masih dianggap sakral dan merupakan ra- belum pernah ada yurisprudensi seperti ini, tapi dalam suatu
hasia pribadi yang termulia, masih dianut ?" Dalam beberapa perkara (tentang hal lain) dalam sidang pengadilan pernah
hal, misalnya dalam kampanye Safari KB di layar TVRI, sering terungkap adanya abortus provokatus atas dasar indikasi
kita menyaksikan pertanyaan dan dialog yang tidak lagi psikiatrik dan dokter yang melakukannya tidak dituntut. Jadi
menghormati kesakralan dan kerahasiaan hubungan seksuil secara diam-diam (stilzwijgend)tampaknya indikasi psikiatrik
suami istri, seolah-olah perbuatan tersebut merupakan kegiatan juga diterima di sini.
rutin yang tak perlu disembunyikan, karena toh semua orang Oleh karena itu sebaiknya dokter mengirim pembantu rumah
tabu juga. tangga tadi ke psikiater untuk meneliti besarnya "beban tekanan
Kembali di sini masalah pergeseran nilai. Bilamana hubung- batin" yang diderita dan apakah dapat dipertanggungjawabkan,
an seksuil dua insan yang berlainan jenis, kehilangan nilai sakral jika dilakukan abortus provokatus atas dasar "be-ban tekanan
dan keintimannya, maka kehamilan sebagai buah dari hubungan batin" itu.
tersebut juga tidak lagi dinilai sakral, maka dengan sendirinya
penilaian pun menjadi rutin, sehingga pelaksanaan abortus dr. Handoko Tjandroputranto
secara berangsur-angsur akan diterima sebagai hal yang wajar Lembaga Kriminologi
pula. Seolah-olah kita menerima kesepakatan: "Marilah kita Universitas Indonesia, Jakarta
menikmati dunia ini untuk kita sendiri, tidak perlu memikirkan
hak asasi calon manusia itu". Di sini kita sekarang berada dalam
manifestasi kontroversialitas "species" yang namanya manusia.
dr. H. Masri Roestam
Direktorat Transfusi Darah PMI/
Ketua I.D.I. Cabang Jakarta Pusat

TANGGAPAN DARI SEGI HUKUM KEDOKTERAN


Ada 3 persoalan yuridis dalam kasus ini :
• Yang pertama menyangkut rahasia pekerjaan dokter.
Seharusnya dokter itu meminta ijin kepada pembantu rumah
tangga untuk memberi tabu tentang kehamilannya kepada si
majikan. Tapi dari cerita selanjutnya ternyata pembukaan rahasia
itu adalah demi kebaikan si pembantu, sehingga tidak ada alasan
untuk menuntut dokternya.
Catatan singkat
Menteri Kesehatan Inggris bulan Mei yang lalu mencabut Banyak macam ukuran cuff dari sfigmomanometer
izin peredaran tablet anti- rematik yang berisi yang dimiliki dan digunakan oleh para dokter. Cuff yang
oksifenbutason, karena alasan keamanan. Di Inggris ia terlalu besar atau terlalu kecil dapat mengubah tekanan
beredar dengan nama Tanderil, Tandacote dsb. ( di darah seseorang sebesar 8,5 mmHg sistolik dan 4,6 mmHg
Indonesia: Tanderil, Rheumapax, Realin, Reozon). Apotik diastolik.
- apotik harus mengembalikan stok obat tersebut pada Bila cuff terlalu kecil, tekanan darah akan terukur lebih
waktu yang telah ditentukan. tinggi dari yang sebenarnya; sedangkan bila cuff terlalu
Dulu fenilbutason juga mengalami nasib serupa; Tapi besar, tekanan darah akan terukur lebih rendah. Ini dapat
ia masih boleh dipergunakan oleh dokter di rumah sakit, menyebabkan over treatment atau under treatment.
pada keadaan tertentu. Circulation 1983; 68 : 763 - 6
• •
Penemuan antibiotika telah diikuti dengan resistensi
Dari Afrika Selatan, dilaporkan adanya 19 kasus per- kuman. Bagaimana mencegah bencana ini pada obat-obat
lukaan vagina setelah melakukan senggama biasa. Menga- antivirus? Pada infeksi bakteri, pemberian antibiotika
pa demikian ? Penulis tersebut menduga bahwa perlukaan profilaksis umumnya dianggap sebagai penyebab resistensi.
vagina tadi terbanyak pada wanita- wanita yang meng- Tapi pada obat antivirus, keadaannya berbeda sekali,
ulang senggama setelah sekian lama tidak melakukannya. terutama virus yang punya fase laten pada siklus hidupnya
Tidak disebutkan bagaimana karakteristik dari pasangan - seperti, herpes simplex, sitomegalovirus, dan adenovirus.
wanita-wanita yang mengalami perlukaan vagina itu. Pencegahan pada penyakitpenyakit karena virus tadi dapat
South African Med J 1983; 64 : 746 - 7 amat bermanfaat. Dan mungkin mencegah timbulnya
• resistensi.
Lancet 1984;i:1154
Apakah transplantasi otak dapat dilakukan? Ya, menu-
rut hasil penelitian baru-baru ini. Binatang yang diduga •
mengalami kerusakan pada salah satu bagian otaknya, ka-
Banyak zat-zat pemanis sintetis. Tapi banyak pula yang tak
dang-kadang dapat diperbaiki melalui transplantasi de-
dianjurkan karena efek sampingnya. Sakarin, misalnya,
ngan jaringan otak fetus. Dalam waktu mendatang, hal ini
karena menyebabkan kanker kandung kencing, pernah
mungkin menjadi kenyataan pada manusia.
Developmental Med and Child Neuro 1983; 25: 654-6 akan dilarang di Amerika. Tapi ini ditentang oleh para
• penderita diabetes yang memerlukan.
Tapi pemanis sintetis aspartam, oleh sebuah komite
Pil KB ternyata dapat menimbulkan efek samping
kesehatan di Inggris dinyatakan aman. Aspartam ini,
berupa otosklerosis. Sebaiknya pada ibu-ibu yang akan
setelah dimakan akan dipecah menjadi fenilalanin dan
menggunakan pil KB tersebut, sebelumnya dilakukan
asam aspartat; kedua- duanya asam amino alamiah, dan
pemeriksaan telinga. Juga penting anamnesis ada tidak-
fenilalanin asam amino yang esensial. Juga setelah makan
nya riwayat ketulian dalam keluarga.
Br J Fam Planning 1984; 9 : 134 aspartam, kadar fenilalanin tubuh tidak meningkat secara
• bermakna.
Pada awal tahun 1970, dilakukan screening terhadap •
2000 orang laki-laki yang tampaknya sehat, dengan usia
antara 40 - 59 tahun. Hasilnya : 115 orang menderita Penyebab vertigo yang sering dan biasa pada orang dewasa
penyakit pembuluh koroner jantung yang laten. Pada 109 justru jarang menyebabkan vertigo pada anakanak.
dari 115 orang ini dilakukan pemeriksaan angiografi.
Penyelidikan terhadap 50 kasus vertigo yang rekuren pada
Didapatkan 36 orang dengan gambaran angiogram yang anak-anak, ternyata 28% disebabkan epilepsi lobus
normal. Pada follow-up 7 tahun kemudian, dari ke 36 temporal, 22% oleh karena epilepsi subkortikal, baru
orang ini, 3 orang meninggal tiba-tiba, 4 orang menderita kemudian penyebab- penyebab lainnya. Anak-anak dengan
kardiomiopati, dan 1 orang dengan dilatasi/regurgitasi vertigo, seharusnya dilakukan pemeriksaan EEG dan
aorta. Kesimpulan : angiogram normal belum tentu audiometri.
menunjukkan jantung yang normal. Up Date 1983; 1389 - 1397
Circulation 1983; 68 : 490 - 7

60 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


TIUP BALON TEKANAN DARAH RENDAH
Seorang anak laki-laki berumur lebih Seorang sejawat ditugasi oleh Lembaga Transfusi Darah PMI DKI Jaya untuk melaksa-
kurang 4 tahun sedang berada di kamar nakan kegiatan pengambilan darah pada anggota keluarga besar salah satu ludruk terke-
bersama ibunya yang sedang berganti nal di wilayah Jakarta.
pakaian. Setelah memeriksa seorang pasien, terjadilah percakapan sebagai berikut
Dokter : "Bapak, darahnya tidak bisa diambil. Bapak
Sewaktu ibunya menanggalkan kutang-
nya, anak tadi nycletuk : "Ibu, balon- sekarang tidak bisa donor"
balon ibu kurang keras / besar, perlu Pemain ludruk I : "Kenapa dokter?"
ditiup !" Dokter : "Tekanan darah Bapak ini rendah." "
Ibu : "Hush, ini bukan balon !" sambil Pemain ludruk I (dengan agak cemas) : Bagaimana mengobatinya dokter?"
menunjuk pada payudaranya. Pemain ludruk II (nyeletuk) : "Gampang mas, makan saja "tangga", kan nanti
Anak : "Lho, tadi saya lihat bapak di tekanan darahnya jadi naik tinggi!!"
gudang sedang meniup balon dr. Tjandra Yoga Aditama
Minah (si pembantu) sampai Jakarta
keras sekali !!!" JUDUL BARU
OLH
Tiap penerbitan majalah ini selalu dirakit dalam suatu simposium dengan tema
K.O. tertentu. Suatu ketika seorang pengumpul naskah bertanya kepada dokter penulis, suatu
judul untuk "Simposium masalah otak" : "Dokter, dari judul-judul simposium otak ini,
Sewaktu masih coass, saya berdua
judul apa lagi yang dipandang masih perlu untuk ditambahkan?"
dengan teman saya harus memberikan
Dokter membaca sederetan judul- judul, dan sambil manggut- manggut mengatakan : "
ceramah mengenai cara-cara per-
Menurut saya sudah cukup. Tapi kalau mau ditambahkan ini menarik juga." Dengan serta
tolongan partus yang benar kepada para
merta si peminta naskah menulis apa yang dikatakan oleh dokter tsb : 'Resep-resep baru
dukun beranak. Sebenarnya kami masih
dalam pengelolaan ......... masakan ......................otak kambing!'
hijau dalam praktek dibandingkan
Sang dokter meledak ketawanya dan sang peminta naskah cepat-cepat balik minta diri
mereka. Maklum, belum lagi masuk
sambil berkata : "Dan sop buntut ya dokter."
kebidanan. Sebelumnya, saya buat
perjanjian dengan teman saya; bila ada Sri
pertanyaan yang tidak dapat saya jawab,
saya akan memberi kode dengan
menyentuh kakinya agar ia yang
menjawab. Beberapa kali hal ini berjalan
mulus. Akhirnya, saya dibuat "knock
out" juga, karena biar sudah saya
tendang- tendang kakinya, ia tetap diam
saja. Sama-sama tidak bisa
Kris

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 61


POSITIF MINTA TOLONG
Waktu menjalani kepaniteraan klinik Disuatu ruang praktek seorang dokter, datang seorang pria umur ± 60 tahun, seorang
di bagian neurologi, setiap coass harus wanita umur ± 25 tahun dan seorang anak kecil umur ± 2 tahun.
membuat presentasi kasus secara Setelah dipersilahkan duduk, terjadi tanya jawab antara dokter dengan pasien tersebut.
bergilir. Istimewanya, untuk seorang Dokter : "Yang sakit siapa Pak ?"
dosen tertentu presentasi tersebut di- Si wanita yang menjawab : "Itu Pak Dokter, suami saya senjatanya tidak bisa ber-
bawakan di rumah beliau. Jadi setiap kali gerak". (Maksudnya : impotent).
kami berbondong- bondong ke ru- Dokter (setengah kaget, karena disangkanya sang Bapak tadi adalah orang tua dari
mahnya, dan tentu saja ..., tanpa pasien! wanita tersebut) : "Sudah berapa lama sakitnya Pak ?"
Suatu kali tiba giliran saya. Karena di Bapak : "Sudah kurang lebih 5 tahun Pak Dokter".
rumah sakit tidak ada kasus yang Dokter : "Tapi anak ibu baru ± 2 tahun, mana mungkin ?"
menarik, terpaksa kasusnya saya karang- Si istri mendengar pertanyaan Dokter itu senyum senyum kecil.
karang sendiri. Status saya salin saja dari Sang Bapak dengan malu-malu kucing menjawab :
bekas teman saya. "Betul Pak Dokter, anak itu memang anak dari istri saya, tetapi bukan anak saya".
Saatnya pun tiba. Saya bacakan Dokter : "Apakah istri Bapak waktu kawin dengan Bapak sudah
identifikasi pasien wanita itu, anam- janda ?"
nesis, dan seterusnya. Beliau manggut- Bapak : "Tidak Pak Dokter, dia waktu itu masih gadis" .
manggut . . ., tiba-tiba dia tertawa. Dokter : "Lalu ?"
Teman-teman yang lain pun ikut ter- Bapak : "Waktu itu saya minta tolong kepada tetangga oleh ka-
tawa. Saya bingung juga, tapi segera rena saya ingin punya anak".
sadar. Rupanya dalam status palsu Mendengar jawaban yang tidak terduga tadi sang Dokter berkata : "Kenapa Bapak dulu
tersebut tertulis : refleks kremaster tidak minta tolong kepada saya ?"
positif ! Si istri, mendengar perkataan Dokter tadi, terlihat senyum- senyum kecil penuh arti.
Segera Dokter sadar, dan meralatnya.
Kris
"Bukan begitu, kenapa tidak berobat, maksud saya !"

: dr. Sudaranto
Puskesmas Sail, Pekanbaru, Riau

SALAH PAKAI
Sepasang suami istri datang menghadap seorang dokter dalam rangka KB. Oleh dokter
tersebut diberi 1 doos kondom, sambil bertanya kepada si suami :
"Bapak sudah tahu cara memakainya ?"
"Sudah dok, dulu sebelum kawin saya sudah pernah pakai !"
Pasangan suami istri tersebut kemudian pergi sambil membawa bekal kondom tadi.
Setelah beberapa waktu si istri kembali kepada dokter dan bercerita bahwa haidnya

r
belum juga datang.
Dokter bertanya : "Apakah bapaknya tiap kali pakai alat tadi, bu ?"
Si istri : "Wah, bapak sering malas, jadi saya yang pakai saja !"
Dokter : "Lho, caranya bagaimana ?"
Si istri : "Saya makan satu biji sebelum campur !"
Dokter : "Wah, salah ! Itu tidak untuk dimakan !"
Si istri : "Pantas sekarang tiap kali saya kentut, keluar plembungannya
(balon) !"
OLH

KEMANA ?

Pengalaman dokter gigi di desa macam- macam.


Ada pasien, seorang kakek tua, yang gigi gerahamnya berlubang. Harus dicabut ! Ke-
mudian dokter memberikan suntikan anestesi lokal, dan menyuruhnya menunggu di luar.
Setelah beberapa saat dokter membuka pintu dan menyilahkan pasien tersebut masuk.
Tapi ........................... ruangan telah kosong, pasien tersebut telah pergi, mungkin diki-
ranya pengobatan telah selesai . . . . atau uangnya yang tidak cukup, sehingga harus
Sri

62 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984


RUAN G PENYE G AR DAN

i►a~ili
PENAMBAH ILMU KEDOKTERAN

Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini ???

1. Afasia adalah gangguan bahasa, dan biasanya : (a) fraktur tengkorak, tanpa kelainan neurologik, secara
(a) disertai gangguan persepsi klinik tidak begitu berarti.
(b) disertai gangguan memori (b) diantara saraf otot mata,yang sering terkena ialah Saraf
(c) disertai gangguan emosi III, sehingga mengalami diplopia.
(d) disertai gangguan kognitif (c) Saraf keVII dan VIII sering cuma mengalami ganggu-
(e) tidak disertai gangguan fungsi luhur di atas. an karena edema.
2. Prinsip dari rehabilitasi(speech therapy) penderita afasia: (d) Saraf vagus jarang terkena, karena bila terkena biasanya
(a) dimulai seawal mungkin penderita mati.
(b) komunikasi dengan isyarat jangan digunakan (e) semua jawaban di atas benar.
(c) materi pelajaran perlu diulang-ulang 7. Tumor otak yang paling banyak didapatkan ialah jenis :
(d) penyertaan keluarga adalah mutlak (a) glioma
(e) semua di atas benar. (b) meningioma
3. Mengenai disfungsi otak minor pada anak, pernyataan yang (c) adenoma hipofisis
tidak benar ialah : (d) tumor metastasis
(a) diduga diderita oleh5 - 25% anak-anak usia sekolah. (e) tumor pembuluh darah.
(b) dapat mengalami kesulitan membaca, menulis, meng- 8. Pada tumor otak :
hitung, atau berbahasa. (a) Nyeri kepala ditemukan pada sebagian besar pasien.
(c) anak dengan kesulitan belajar tak perlu pemeriksaan (b) Pada sebagian besar pasien didapatkan kejang umum.
neurologik. (c) dapat ditemukan gejala bradikardia dan hipertensi.
(d) riwayatnya : tidak dapat diam, sering tersandung dan (d) Gangguan mental, seperti halusinasi, tak pernah di-
jatuh, sulit mengikat tali sepatu, sulit mengancing jumpai .
baju, dan lain-lain. (e) Papil edema jarang ditemukan.
(e) terapinya antaralain obat psikostimulan dan cerebral- 9. Penanggulangan penderita insomnia kronik adalah sebagai
metabolic vasodilators. berikut, kecuali :
4. Obat-obat untuk insufisiensi otak, umumnya masih diper- (a) lebih dipilih benzodiazepin yang kerjanya singkat.
debatkan efektivitasnya.Tapi, secara umum, tujuannya ialah (b) dapat dicoba pemberian antidepresan, meskipun
sebagai berikut, kecuali : gejalanya tak jelas.
(a) perbaikan pemakaian02 dan glukosa oleh otak (c) higiene tidur dan olah raga penting sekali.
(b) penghambatan sintesis protein otak, misalnya dengan (d) bila diberikan hipnotik, dipilih dosis seringan mungkin;
heksobendin kalau perlu diberikan intermiten.
(c) peningkatan resistensi otak terhadap hipoksia. (e) benzodiazepin lebih dipilih daripada fenobarbital.
(d) perbaikan sirkulasi serebral, misalnya dengan nikotinat. 10. Mana diantara keadaan ini yang tak dapat menyebabkan
(e) semua jawaban benar. ketulian ?
5. Pada penanggulangan stroke; yang tidak benar ialah : (a) Keturunan
(a) penderita hipertensi berat cukup bila tekanan ditu- (b) Influena
runkan sampai 160/110 mmHg pada fase akut. (c) Diabetes melitus
(b) pemberian deksametason masih kontroversial. (d) Vitamin B-1
(c) bila pasien dapat minum, gliserol dapat diberikan per- (e) Penyakit Meniere.
oral, meskipun efeknya masih kontroversial.
(d) pemberian vasodilatansia dan oksigen sangat berguna. 3 '8 fl 'b
(e) yang terpenting ialah perawatan umum dan mengobati V 'L '£
faktor risiko. D'01 S'9 3'Z
6. Pada cedera otak, manakah pernyataan berikut yang tidak V'6 a'S 3'1
benar ?
7I1dd)l uageMa

Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 63


ABSTRAK AB5TRAK
PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG
Pelayanan kesehatan jiwa di negara-negara berkembang, lebih banyak dikenal pada
saat ini daripada 10 tahun yang lalu. Yaitu, sejak WHO membentuk suatu badan khusus
untuk mempelajari strategi supaya pelayanan kesehatan jiwa itu berhasil.
Berikut ini adalah kesimpulan-kesimpulan yang dicapai oleh Badan tersebut :
(a) Kebutuhan akan pelayanan kesehatan jiwa antara masyarakat pedesaan dan
perkotaan adalah sama besar.
(b) Sebagai primary health care, sistem desentralisasi bagi pelayanan kesehatan jiwa
baik di desa dan di kota untuk negara-negara berkembang, dapat dilaksanakan.
(c) Selain oleh dokter umum, pelayanan kesehatan jiwa dapat juga dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang telah mendapat latihan sekedarnya. Cara seperti ini telah digu.
nakan dibanyak pusat kesehatan, dan pedoman latihan diterbitkan dalam bahasa se-
tempat.
(d) Ketrampilan menolong penderita gangguan jiwa perlu diberikan pada semua staf
medis; bukan hanya untuk menolong penderita gangguan jiwa, tapi untuk meningkatkan
mutu segala bentuk pelayanan kesehatan.
(e) Ketrampilan dalam ilmu mengenai tingkah-laku, pada saat yang bersamaan dapat
menolong dalam formulasi dan implementasi program kesehatan masyarakat, yang
mempromosikan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa. Kris
WHO Technical Report Series, No 698, 1984; 30 - 31
DUA LANGKAH UNTUK BERUBAH MENJADI KANKER
Oleh 3 team peneliti masing-masing : R. Weinberg dari MIT, USA, E. Rodey dari Cold
Spring Harbour U.S.A dan R.F. Newbold/R.W. Overell dari Institute of Cancer Re-search
dari Inggeris telah ditemukan bahwa untuk perubahan sel-sel normal menjadi sel-sel
kanker (ganas) diperlukan 2 langkah :
Langkah I, disebut immortalization, yaitu berubahnya sel-sel normal sedemikian rupa
sehingga dapat hidup selama-lamanya dalam laboratorium, Sel-sel normal biasanya akan
mati setelah 1k. 50 generasi. Langkah II, diperlukan impuls atau rangsang agar sel-sel
dapat membagi-bagi diri secara cepat.
Urutan kedua langkah ini tidak menjadi soal, akan tetapi kedua-duanya mutlak untuk
mengubah sel-sel normal menjadi sel yang ganas. Perubahan ini dapat disebabkan oleh
gen-gen virus, zat-zat karsinogenik, atau oleh oncogenes, yaitu gen-gen binatang yang
bertalian dengan jenis-jenis kanker tertentu.

OLH
"CHILD ABUSE" Science, Nov. 1983

"Child abuse" merupakan suatu tragedi bagi anak. Ia merupakan contoh rasa saling tidak
mengerti antara orang tua dengan anaknya. Bahkan sering-sering menimbulkan
keterasingan sang ibu dari bayinya.
Perlu dipertimbangkan di sini sensasi yang berlainan antara ibu dan bayi pada saat
dilahirkan. Kelahiran, bagi ibu adalah peristiwa dramatik yang menyakitkan dan
melelahkan. Sang bayi, yang biasanya hidup dalam rahim ibunya, tiba-tiba harus hidup
dalam dunia "luar". Pelukan dan buaian dari ibunya itu perlu supaya perubahan tersebut
tidak terlalu besar dirasakan. Tapi, yang sering terjadi, bayi dipisahkan dari ibunya, dan
diletakkan begitu saja dalam box. Tentunya, perubahan ini terasa besar bagi bayi dan
amat tidak menyenangkan.
Mungkin berbicara tentang cinta sudah ketinggalan jaman, tapi bernyanyi lagu cinta
adalah mode. Yang dibutuhkan bagi bayi dan setiap orang, yaitu keinginan untuk dicintai
dan perasaan aman. Bayi yang tidak dicintai akan menangis. Menangis merupakan satu-
satunya cara bagi bayi untuk menuntut sesuatu, Adalah kewajiban seorang ibu untuk
mengetahui apa yang dimaui bayinya bila ia menangis. Misalnya, keinginan untuk
dicintai! Kris
Up date Jan 1984; 29
64 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984