Anda di halaman 1dari 77

167 / vol. 36 no.

1
Januari - Februari 2009

ISSN: 0125-913 X
http://www.kalbe.co.id/cdk

IKLAN 17 Artikel :
5 Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) Sebagai Sasaran Terapi

Vipine Kanker Kolorektal


Santosa, C. Suharti

13 Eritropoietin Rekombinan pada Penderita Kanker


Syafrizal Syafei

16 Implikasi Hipermetilasi Gen MGMT di Kanker Otak:


Contoh Aplikasi Farmakogenomik
Ahmad R. Utomo, Ferry Sandra

20 Prenylated Flavonoid sebagai Senyawa Anti Kanker yang Berpotensi


Enos Tangke Arung, Dani Britanto Wicaksono, Ferry Sandra

24 Aplikasi Hybrid Capture II System Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks


Sinta Sasika Novel, Ratu Safitri, Sukma Nuswantara

28 Karakteristik Klinik Penderita ARMD di RS Mata Cicendo Bandung


Erry

33 Uji Mutagenisitas Benzo(a)piren dengan Metode Mikronukleus


pada Sumsum Tulang Mencit Albino (Mus musculus)
Yana Sumpena, Rochestri Sofyan, Rusi Rusilawati

Berita Terkini :
39 Proteksi Vit B12 terhadap Penurunan Volume Otak

41 Biopsi Prostat dan Hubungannya dengan Mortalitas

42 Lavender dan Saffron untuk atasi Depresi dan Cemas


43 Kombinasi Ibuprofen dengan Parasetamol untuk Menurunkan
Demam pada Anak
Petunjuk untuk Penulis
CDK menerima naskah yang membahas berbagai aspek
kesehatan, kedokteran dan farmasi, bisa berupa tinjauan
daftar isi
kepustakaan ataupun hasil penelitian di bidang-bidang
tersebut, termasuk laporan kasus. Naskah yang dikirimkan
content
kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan
oleh CDK; bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu Editorial 2
pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan mengenai
nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. English Summary 4

Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris; bila


menggunakan bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti
Artikel
kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Istilah medis Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) sebagai 5
sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia Sasaran Terapi Kanker Kolorektal
yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Santosa, C. Suharti

Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah Eritropoietin Rekombinan pada Penderita Kanker 13
isinya. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam Syafrizal Syafei
bahasa Indonesia dan Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak
membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan Implikasi Hipermetilasi Gen MGMT di Kanker Otak: 16
tersebut. Naskah berisi 2000 - 3000 kata ditulis dengan Contoh Aplikasi Farmakogenomik
program pengolah kata seperti MS Word, spasi ganda, font Ahmad R. Utomo, Ferry Sandra
Euro-stile atau Times New Roman 10 pt.
Prenylated Flavonoid sebagai 20
Nama (para) pengarang ditulis lengkap, disertai keterangan
Senyawa Anti Kanker yang Berpotensi
lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. Tabel / skema /
Enos Tangke Arung, Dani Britanto Wicaksono, Ferry Sandra
grafik / ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas- jelasnya
dan telah dimasukkan dalam program MS Word.
Aplikasi Hybrid Capture II System Dalam 24
Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya
Deteksi Dini Kanker Serviks
Sinta Sasika Novel, Ratu Safitri,
dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated
Sukma Nuswantara
Index Medicus dan/atau Uniform Requirement for Manuscripts
Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979; 90 : 95-9).
Karakteristik Klinik Penderita ARMD 28
Contoh : di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung
Erry
1. Basmajian JV, Kirby RL.Medical Rehabilitation.
1st ed. Baltimore, London: William and Wilkins,
1984; Hal 174-9.
Uji Mutagenisitas Benzo(a)piren dengan Metode Mikronukleus 33
pada Sumsum Tulang Mencit Albino (Mus musculus)
2. Weinstein L, Swartz MN. Pathogenetic properties
Yana Sumpena, Rochestri Sofyan, Rusi Rusilawati
of invading microorganisms. Dalam: Sodeman
WA Jr. Sodeman WA, eds. Pathologic physiology:
Mechanism of diseases. Philadelphia:
WB Saunders, 1974 ; 457-72.
Berita Terkini
3. Sri Oemijati. Masalah dalam pemberantasan filariasis Anak-anak Asia tidur lebih malam, waktu tidur lebih sedikit 38
di Indonesia. Cermin Dunia Kedokt. 1990; 64: 7-10.
Proteksi Vit B12 terhadap penurunan volume otak 39
Jika pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; Bahaya Plastik 40
bila tujuh atau lebih, sebutkan hanya tiga yang pertama dan
Biopsi Prostat dan Hubungannya dengan Mortalitas 41
tambahkan dkk.
Lavender dan Saffron untuk atasi Depresi dan Cemas 42
Naskah dikirim ke redaksi dalam bentuk softcopy / CD atau Kombinasi Ibuprofen dengan Parasetamol untuk 43
melalui e-mail ke alamat : Menurunkan Demam pada Anak
Redaksi CDK Periodontitis dan Kelahiran Prematur 44
Jl. Letjen Suprapto Kav. 4 dengan berat Badan Lahir Rendah
Cempaka Putih, Jakarta 10510
E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id FDA: Vytorin (Simvastatin plus Ezetimibe) 45
Tlp: (021) 4208171. Fax: (021) 42873685 Meningkatkan Resiko kanker?

Korespondensi selanjutnya akan dilakukan melalui e mail; Probiotik Bermanfaat pada Tubuh 46
oleh karena itu untuk keperluan tersebut tentukan contact Secara Keseluruhan
person lengkap dengan alamat e-mailnya.
Revolusi Web 2.0 dalam 48
kesehatan sedang berlangsung
Praktis 49
Informatika Kedokteran 50
Opini 53
Info Produk 54
Laporan Khusus 56
Kegiatan Ilmiah 69
Gerai 71
Korespondensi 73
Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat
masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan Agenda 75
atau kebijakan instansi/lembaga tempat kerja si penulis. RPPIK 76

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


1
Petunjuk untuk Penulis
CDK menerima naskah yang membahas berbagai aspek
kesehatan, kedokteran dan farmasi, bisa berupa tinjauan
daftar isi
kepustakaan ataupun hasil penelitian di bidang-bidang
tersebut, termasuk laporan kasus. Naskah yang dikirimkan
content
kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan
oleh CDK; bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu Editorial 2
pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan mengenai
nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. English Summary 4

Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris; bila


menggunakan bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti
Artikel
kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Istilah medis Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) sebagai 5
sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia Sasaran Terapi Kanker Kolorektal
yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Santosa, C. Suharti

Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah Eritropoietin Rekombinan pada Penderita Kanker 13
isinya. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam Syafrizal Syafei
bahasa Indonesia dan Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak
membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan Implikasi Hipermetilasi Gen MGMT di Kanker Otak: 16
tersebut. Naskah berisi 2000 - 3000 kata ditulis dengan Contoh Aplikasi Farmakogenomik
program pengolah kata seperti MS Word, spasi ganda, font Ahmad R. Utomo, Ferry Sandra
Euro-stile atau Times New Roman 10 pt.
Prenylated Flavonoid sebagai 20
Nama (para) pengarang ditulis lengkap, disertai keterangan
Senyawa Anti Kanker yang Berpotensi
lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. Tabel / skema /
Enos Tangke Arung, Dani Britanto Wicaksono, Ferry Sandra
grafik / ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas- jelasnya
dan telah dimasukkan dalam program MS Word.
Aplikasi Hybrid Capture II System Dalam 24
Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya
Deteksi Dini Kanker Serviks
Sinta Sasika Novel, Ratu Safitri,
dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated
Sukma Nuswantara
Index Medicus dan/atau Uniform Requirement for Manuscripts
Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979; 90 : 95-9).
Karakteristik Klinik Penderita ARMD 28
Contoh : di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung
Erry
1. Basmajian JV, Kirby RL.Medical Rehabilitation.
1st ed. Baltimore, London: William and Wilkins,
1984; Hal 174-9.
Uji Mutagenisitas Benzo(a)piren dengan Metode Mikronukleus 33
pada Sumsum Tulang Mencit Albino (Mus musculus)
2. Weinstein L, Swartz MN. Pathogenetic properties
Yana Sumpena, Rochestri Sofyan, Rusi Rusilawati
of invading microorganisms. Dalam: Sodeman
WA Jr. Sodeman WA, eds. Pathologic physiology:
Mechanism of diseases. Philadelphia:
WB Saunders, 1974 ; 457-72.
Berita Terkini
3. Sri Oemijati. Masalah dalam pemberantasan filariasis Anak-anak Asia tidur lebih malam, waktu tidur lebih sedikit 38
di Indonesia. Cermin Dunia Kedokt. 1990; 64: 7-10.
Proteksi Vit B12 terhadap penurunan volume otak 39
Jika pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; Bahaya Plastik 40
bila tujuh atau lebih, sebutkan hanya tiga yang pertama dan
Biopsi Prostat dan Hubungannya dengan Mortalitas 41
tambahkan dkk.
Lavender dan Saffron untuk atasi Depresi dan Cemas 42
Naskah dikirim ke redaksi dalam bentuk softcopy / CD atau Kombinasi Ibuprofen dengan Parasetamol untuk 43
melalui e-mail ke alamat : Menurunkan Demam pada Anak
Redaksi CDK Periodontitis dan Kelahiran Prematur 44
Jl. Letjen Suprapto Kav. 4 dengan berat Badan Lahir Rendah
Cempaka Putih, Jakarta 10510
E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id FDA: Vytorin (Simvastatin plus Ezetimibe) 45
Tlp: (021) 4208171. Fax: (021) 42873685 Meningkatkan Resiko kanker?

Korespondensi selanjutnya akan dilakukan melalui e mail; Probiotik Bermanfaat pada Tubuh 46
oleh karena itu untuk keperluan tersebut tentukan contact Secara Keseluruhan
person lengkap dengan alamat e-mailnya.
Revolusi Web 2.0 dalam 48
kesehatan sedang berlangsung
Praktis 49
Informatika Kedokteran 50
Opini 53
Info Produk 54
Laporan Khusus 56
Kegiatan Ilmiah 69
Gerai 71
Korespondensi 73
Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat
masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan Agenda 75
atau kebijakan instansi/lembaga tempat kerja si penulis. RPPIK 76

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


1
Redaksi Kehormatan
Prof. Drg. Siti Wuryan A Prayitno, SKM, MScD, PhD
Bagian Periodontologi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta

Prof. Dr. Abdul Muthalib, SpPD KHOM


Divisi Hematologi Onkologi Medik
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ISSN: 0125-913 X
http://www.kalbe.co.id/cdk Prof. Dr. Djoko Widodo, SpPD-KPTI
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonsia/
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Alamat Redaksi Prof. DR. Dr. Charles Surjadi, MPH


Pusat Penelitian Kesehatan Unika Atma Jaya Jakarta
Gedung KALBE
Jl. Letjen. Suprapto Kav. 4 Prof. DR. Dr. H. Azis Rani, SpPD, KGEH
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Cempaka Putih, Jakarta 10510 RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Tlp: 021-4208171
Prof. DR. Dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE
Fax: 021-4287 3685 Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Web: http://www.kalbe.co.id/cdk DR. Dr. Abidin Widjanarko, SpPD-KHOM
Milis: http://groups.yahoo.com/group/milisCDK Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Kanker Dharmais, Jakarta

DR. Dr. med. Abraham Simatupang, MKes


Nomor Ijin Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta
151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 Prof. Dr. Sarah S. Waraouw, SpA(K)
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado
Penerbit Kalbe Farma
Prof. DR. Dr. Rully M.A. Roesli, SpPD-KGH
Pencetak PT. Temprint Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Dr. Aucky Hinting, PhD, SpAnd


Bagian Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

Editorial Prof. DR. drg. Hendro Kusnoto, SpOrt.


Laboratorium Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta

DR. Dr. Yoga Yuniadi, SpJP


Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI/
Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta
K anker - kata yang menakutkan bagi kebanyakan orang - memang masih merupakan masalah yang Prof. DR. Dra. Arini Setiawati
pelik di dunia kedokteran. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Prof. Dr. Faisal Yunus, PhD, SpP(K)


Dengan makin membaiknya usia harapan hidup manusia, masalah kanker menjadi makin mengemuka; Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia/SMF Paru RS Persahabatan, Jakarta
antara lain karena proses mutasi dan paparan yang makin berperan sesuai dengan bertambahnya
umur ditambah dengan perubahan lingkungan yang menyebabkan bertambah kompleksnya masalah Susunan Redaksi Prof. DR. Dr. Rianto Setiabudy, SpFK
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
risiko perubahan genetik.
Dr. R.M. Nugroho Abikusno, MSc., DrPH
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta
Artikel yang kami terbitkan di edisi CDK kali ini membahas berbagai aspek penatalaksanaan kanker, Ketua Pengarah
Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS
antara lain kanker kolon; dan beberapa artikel lain yang berkenaan dengan perubahan genetik yang Dr. Boenjamin Setiawan, PhD Fakultas KedokteranUniversitas Udayana Denpasar, Bali
mungkin dapat dimanfaatkan sebagai salah satu cara pengobatan. Pemimpin Umum Prof. DR. Dr. Ignatius Riwanto, SpB(K)
Dr. Erik Tapan Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/
RS Dr. Kariadi, Semarang
Artikel Informatika kali ini diharapkan dapat membantu sejawat untuk tetap up to date di dunia
informasi yang melimpah ini. Ketua Penyunting Dr. Tony Setiabudhi, SpKJ, PhD
Dr. Budi Riyanto W. Universitas Trisakti/ Pusat Kajian Nasional Masalah Lanjut Usia, Jakarta

Prof. DR. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI


Bersama dengan logo baru, CDK akan menyajikan informasi Kedokteran dalam bentuk yang lebih Manajer Bisnis Sub Dept. Alergi-Imunologi, Dept. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
ringkas, tetapi padat dan tetap aktual, sesuai dengan kebutuhan Sejawat. Nofa, S.Si, Apt. Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Dr. Prijo Sidipratomo, SpRad(K)


Selamat Tahun Baru 2009 dengan harapan pembaruan dan perbaikan di segala bidang, terutama Dewan Redaksi Departemen Radiologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

untuk peningkatan taraf kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Prof. Dr. Sjahbanar Soebianto Zahir, MSc. Prof. DR. Dr. Johan S. Masjhur, SpPD-KEMD, SpKN
Dr. Michael Buyung Nugroho Departemen Kedokteran Nuklir Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
Dr. Karta Sadana RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung
Dr. Sujitno Fadli
Redaksi Drs. Sie Djohan, Apt.
Dr. Hendro Susilo, SpS(K)
Dept. Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo,
Ferry Sandra, Ph.D. Surabaya
Budhi H. Simon, Ph.D. Prof. DR. Dr. Darwin Karyadi, SpGK
Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat
Tata Usaha Dr. Ike Sri Redjeki, SpAn KIC, M.Kes
Dodi Sumarna Bagian Anestesiologi & Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
2 3
Redaksi Kehormatan
Prof. Drg. Siti Wuryan A Prayitno, SKM, MScD, PhD
Bagian Periodontologi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta

Prof. Dr. Abdul Muthalib, SpPD KHOM


Divisi Hematologi Onkologi Medik
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ISSN: 0125-913 X
http://www.kalbe.co.id/cdk Prof. Dr. Djoko Widodo, SpPD-KPTI
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonsia/
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Alamat Redaksi Prof. DR. Dr. Charles Surjadi, MPH


Pusat Penelitian Kesehatan Unika Atma Jaya Jakarta
Gedung KALBE
Jl. Letjen. Suprapto Kav. 4 Prof. DR. Dr. H. Azis Rani, SpPD, KGEH
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Cempaka Putih, Jakarta 10510 RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Tlp: 021-4208171
Prof. DR. Dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE
Fax: 021-4287 3685 Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Web: http://www.kalbe.co.id/cdk DR. Dr. Abidin Widjanarko, SpPD-KHOM
Milis: http://groups.yahoo.com/group/milisCDK Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Kanker Dharmais, Jakarta

DR. Dr. med. Abraham Simatupang, MKes


Nomor Ijin Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta
151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 Prof. Dr. Sarah S. Waraouw, SpA(K)
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado
Penerbit Kalbe Farma
Prof. DR. Dr. Rully M.A. Roesli, SpPD-KGH
Pencetak PT. Temprint Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Dr. Aucky Hinting, PhD, SpAnd


Bagian Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

Editorial Prof. DR. drg. Hendro Kusnoto, SpOrt.


Laboratorium Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta

DR. Dr. Yoga Yuniadi, SpJP


Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI/
Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta
K anker - kata yang menakutkan bagi kebanyakan orang - memang masih merupakan masalah yang Prof. DR. Dra. Arini Setiawati
pelik di dunia kedokteran. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Prof. Dr. Faisal Yunus, PhD, SpP(K)


Dengan makin membaiknya usia harapan hidup manusia, masalah kanker menjadi makin mengemuka; Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia/SMF Paru RS Persahabatan, Jakarta
antara lain karena proses mutasi dan paparan yang makin berperan sesuai dengan bertambahnya
umur ditambah dengan perubahan lingkungan yang menyebabkan bertambah kompleksnya masalah Susunan Redaksi Prof. DR. Dr. Rianto Setiabudy, SpFK
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
risiko perubahan genetik.
Dr. R.M. Nugroho Abikusno, MSc., DrPH
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta
Artikel yang kami terbitkan di edisi CDK kali ini membahas berbagai aspek penatalaksanaan kanker, Ketua Pengarah
Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS
antara lain kanker kolon; dan beberapa artikel lain yang berkenaan dengan perubahan genetik yang Dr. Boenjamin Setiawan, PhD Fakultas KedokteranUniversitas Udayana Denpasar, Bali
mungkin dapat dimanfaatkan sebagai salah satu cara pengobatan. Pemimpin Umum Prof. DR. Dr. Ignatius Riwanto, SpB(K)
Dr. Erik Tapan Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/
RS Dr. Kariadi, Semarang
Artikel Informatika kali ini diharapkan dapat membantu sejawat untuk tetap up to date di dunia
informasi yang melimpah ini. Ketua Penyunting Dr. Tony Setiabudhi, SpKJ, PhD
Dr. Budi Riyanto W. Universitas Trisakti/ Pusat Kajian Nasional Masalah Lanjut Usia, Jakarta

Prof. DR. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI


Bersama dengan logo baru, CDK akan menyajikan informasi Kedokteran dalam bentuk yang lebih Manajer Bisnis Sub Dept. Alergi-Imunologi, Dept. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
ringkas, tetapi padat dan tetap aktual, sesuai dengan kebutuhan Sejawat. Nofa, S.Si, Apt. Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Dr. Prijo Sidipratomo, SpRad(K)


Selamat Tahun Baru 2009 dengan harapan pembaruan dan perbaikan di segala bidang, terutama Dewan Redaksi Departemen Radiologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

untuk peningkatan taraf kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Prof. Dr. Sjahbanar Soebianto Zahir, MSc. Prof. DR. Dr. Johan S. Masjhur, SpPD-KEMD, SpKN
Dr. Michael Buyung Nugroho Departemen Kedokteran Nuklir Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
Dr. Karta Sadana RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung
Dr. Sujitno Fadli
Redaksi Drs. Sie Djohan, Apt.
Dr. Hendro Susilo, SpS(K)
Dept. Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo,
Ferry Sandra, Ph.D. Surabaya
Budhi H. Simon, Ph.D. Prof. DR. Dr. Darwin Karyadi, SpGK
Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat
Tata Usaha Dr. Ike Sri Redjeki, SpAn KIC, M.Kes
Dodi Sumarna Bagian Anestesiologi & Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
2 3
ENGLISH SUMMARY TINJAUAN PUSTAKA

The Food and Drug Administration and Swiss diagnoses were: early - 63 (32,1%) eyes;
Epidermal Growth Factor Medical Control Agency approved cetuximab intermediate - 43 (21,9%) eyes; advanced

Receptor (EGFR) as
for the irinotecan-refractory colorectal cancer.
Bevacizumab is humanized antibody that inhibit
- 90 (45,9%) eyes. Advanced cases was sub-
divided into two categories: non neovascular
Epidermal Growth Factor
Therapeutic Target in VEGF action. The Food and Drug Administra-
tion approved the use of bevacizumab in com-
(dry) - 12 (6,1%) eyes and neovascular (wet)-
78 (39,8%) eyes. 24 (26,7%) eyes with cicatrix Receptor (EGFR) Sebagai Sasaran
Colorectal Cancer
Santosa, C. Suharti*
bination with any intravenous fluorouracil-
containing regimen as initial therapy for patients
with advanced colorectal cancer. There is small
disciformis complication and 45 (40%) had
FFA alone. 34,9% patients with low vision
and 27,8% with blindness. A higher rate of
Terapi Kanker Kolorektal
Specialist Program, *Head of Hematology-Oncology gefitinib trial for colorectal cancer treatment.
Subdept., Dept. of Internal Medicine, Faculty of
neovascular ARMD was noted in Cicendo Santosa*, C. Suharti **
Medicine, Diponegoro University, Dr.Kariadi Hospital, Eye Hospital. Perserta Program Pendidikan Dokter Spesialis I, ** Kepala Sub Bagian
Semarang, Indonesia CDK. 2009; 36(1) : 5-12
Key words: ARMD, neovascular, visual acuity. Hematologi Onkologi Medik Bagian Penyakit Dalam FK UNDIP/RS. Dr. Kariadi Semarang

CDK. 2009; 36(1) : 28-32


Colorectal cancer is the fourth most frequent
malignant disease in the world. Estimation ABSTRAK Penelitian paling luas mengenai mAbs anti EGFR adalah cetuximab,
of new cases and mortality are 1.023.000 and Karsinoma kolorektal merupakan keganasan keempat di seluruh yang dikenal sebagai IMC-25 atau C225, suatu mAb chimeric
529.000 annually. There is an increase of Mutagenicity Test of dunia dengan perkiraan kasus baru 1.023.000 dan kematian yang dirancang khusus menghambat EGFR. Cetuximab telah
colorectal cancer incidence in Indonesia, but Benzo(α)pyrene disetujui penggunaannya oleh Food and Drug Administration
529.000 tiap tahun. Di Indonesia dari berbagai laporan terdapat
no exact number available. dan Swiss Medical Control Agency untuk pengobatan kanker
by Microneucleus kenaikan jumlah kasus tetapi belum ada angka yang pasti
berapa insiden karsinoma kolorektal. kolorektal yang tidak respon terhadap irinotecan. Bevacizumab
The problems in management of colorectal Method on Albino Mice
cancer are patients came in advanced stage, merupakan antibodi manusia yang berperan menghambat
refractory cytostatics regiment, adverse (Mus musculus) Bone Masalah-masalah dalam pengelolaan adalah karena pasien sering VEGF. FDA mengakui penggunaan bevacizumab dalam kombi-
reaction to cytostatics. Alternative strategy nasi dengan regimen flurouracil intravena sebagai terapi awal
uses an agent that act at specific site; for
Marrow datang pada stadium lanjut, refrakter terhadap regimen sitostatika,
kanker kolorektal lanjut. Uji klinis gefitinip untuk kanker kolorek-
dan efek samping sitostatika; sehingga dikembangkan pilihan terapi
instance Epidermal Growth Factor Receptor Yana Sumpena*, Rochestri Sofyan*, tal masih terbatas.
yang ditujukan pada sasaran spesifik pada Epidermal Growth Factor
(EGFR) inhibitor. Rusi Rusilawati**
Receptor (EGFR).
*Nuclear Technology Research and Development PENDAHULUAN
EGFR have specific ligand including EGF Center - BATAN, Indonesia
**Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia Karsinoma kolorektal merupakan keganasan ke empat di seluruh
(epidermal growth factor), bFGF (basic fibro- EGFR bersama ligand spesifiknya seperti EGF (epidermal growth dunia dengan perkiraan kasus baru 1.023.000 dan kematian
blast gorwth factor), VEGF(vascular endothe- factor), bFGF (basic fibroblast growth factor), VEGF (vascular endo- 529.000 tiap tahun.1 Di Amerika Serikat menduduki urutan kega-
lial growth factor) and TGF-_ (transforming thelial growth factor), dan TGF-_(transforming growth factor-_) ber-
growth factor-_). They have important role in Benzo (α) pyrene (BP) is a carcinogenic com- nasan ke tiga dan menjadi penyebab kematian ke dua terbanyak.
pound that is supposed to be able to induce peran penting dalam pertumbuhan dan survival kanker kolorektal. Pada tahun 2005 diperkirakan akan ditemukan 145.290 kasus
growth dan survival of colorectal cancer.
EGFR expression in colorectal cancer is associ- chromosomal damage. The mutagenic effect Ekspresi EGFR pada kanker kolorektal berhubungan dengan baru dengan kematian 56.290.2
ated with aggressive disease and poor prog- of BP has been studied using MN test on poly- agresivitas penyakit dan prognosis yang buruk. Aktivasi EGFR
nosis. EGFR stimulates tumor growth and chromatic erythrocyte (PCE) cells of albino menstimulasi pertumbuhan dan progresi tumor melalui beberapa Di Indonesia dari berbagai laporan terdapat kenaikan jumlah
Clinical Characteristics mice femur bone marrow. Mice were injected
progression through several mechanism i.e. mekanisme yaitu memacu proliferasi, angiogenesis, invasi, meta- kasus tetapi belum ada angka pasti insiden karsinoma kolorektal.
proliferation, angiogenesis, invasion, metas- of ARMD Patients at with 0.1 ml of 0.3% (b/v) BP subcutaneously stasis dan menghambat apoptosis, adesi dan differensiasi. Terdapat Sjamsuhidajat (1986) dari evaluasi data di Departemen Kesehatan
tasis, apoptosis inhibition, adhesion and at the shoulder, every day at the same time
Cicendo Eye Hospital for ten days. After 120 days, treated and non-
variabilitas ekspresi atau disregulasi EGFR pada keganasan. mendapatkan 1,8 per 100.000 penduduk. Tirtosugondo (1986) untuk
differentiation. Kodya Semarang, melaporkan peningkatan karsinoma kolorektal
Bandung treated mice were killed by cervical dislocation.
dengan Age Standardized Rate (ASR) per 100.000 penduduk
EGFR is specific rational target. Monoclonal Their femur bone marrow cells were prepared EGFR merupakan target rasional pada strategi antitumor. Pengem-
antibody (mAbs) directed against EGFR Erry on object glass by smear technique followed bangan sasaran terapi ditujukan terhadap interaksi ikatan domain untuk laki-laki tahun 1970-1974: 2,5; tahun 1980-1981: 3,2;
through several mechanism: (1) extracellu- Health System and Policy Research by Giemsa»s staining. The appearance of micro- ligand ekstraseluler seperti antibodi monoklonal (mAbs) dan yang sementara untuk wanita tahun 1970-1974: 2,2 tahun 1982: 3,4
Development Center, Department of Health,
lar binding; (2) internalization of receptor- Republic of Indonesia, Jakarta, Indonesia nucleus (MN) in PCE cells were examined berikatan intraseluler seperti tirosin kinase inhibitor. Antibodi dan menduduki urutan ke lima di antara keganasan lain.3
anti-body complexes; (3) inhibition of EGFR microscopically by the magnificfication of 2000. monoklonal (mAbs) bereaksi terhadap EGFR melalui mekanisme
signalling pathways; and (4) potential stimu- The amount of MN in PCE (MNPCE) were Modalitas terapi kanker kolorektal adalah pembedahan,
sebagai berikut :
lation of an immunological response. Age Related Macular Degeneration (ARMD) evaluated in 1000 PCE cells and called MNPCE radioterapi dan kemoterapi sesuai stadium penyakitnya. Terapi
frequency. BP treatment could increase MNPCE 1. Ikatan ekstraseluler
affects the central area of the retina (macula). kanker kolorektal stadium dini dilakukan dengan pembedahan,
Tyrosine kinase inhibitors (TKIs) directed ARMD is the leading cause of severe irrever- frequency up to 38.82 Ø 8.70 (n=10) per 1000 2. Internalisasi kompleks reseptor antibodi
tetapi keadaan lanjut dan tidak dapat dibedah merupakan
against EGFR through several mechanisms: sible central vision loss. The aim of this study is PCE cells compared to MNPCE frequency of 3. Inhibisi jalur sinyal EGFR
masalah dan sering fatal. Deteksi dini merupakan suatu upaya
(1) intracellular binding; (2) prevention of to determine the clinical characteristics of 2.19 Ø 0.99 per 1000 PCE cells in control group 4. Meningkatkan stimulasi respon imunologis. untuk menemukan kanker kolorektal stadium awal. Radioterapi
tyrosine kinase activation; and (3) inhibition ARMD at Cicendo Eye Hospital. (n=10). The significant increase of MNPCE
frequency indicated the relatively high muta- dan kemoterapi merupakan pilihan pada stadium lanjut. 4-10
of EGFR signalling pathways. Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs) langsung bereaksi terhadap EGFR
This prospective descriptive study was con- genic effect of BP. Terapi sitostatika untuk kanker kolorektal di beberapa pusat
melalui mekanisme aksi : kanker menggunakan fluorourasil (FU), irinotecan dan obat baru
There are many trials of cetuximab as EGFR ducted on newly diagnosed ARMD on July -
inhibitor. Cetuximab is known as IMC-25 or November 2005 in Cicendo Eye Hospital. Key words: benzo (α) pyrene, micronucleus, carcinogenic.
1. Ikatan intraseluler oxaliplatin. Masalah dalam pengelolaan karsinoma kolorektal
C255, monoclonal antibody chimeric that Ninety nine patients (196 eyes) consists of 2. mencegah aktivasi tirosin kinase adalah refrakter terhadap regimen sitostatika dan adanya efek
is specifically directed against EGFR. 45,5% males and 54,5% females, ages from CDK. 2009; 36(1) : 33-36 3. Inhibisi jalur sinyal EGFR. samping sehingga diperlukan pilihan terapi lain.11-15

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
4 5
ENGLISH SUMMARY TINJAUAN PUSTAKA

The Food and Drug Administration and Swiss diagnoses were: early - 63 (32,1%) eyes;
Epidermal Growth Factor Medical Control Agency approved cetuximab intermediate - 43 (21,9%) eyes; advanced

Receptor (EGFR) as
for the irinotecan-refractory colorectal cancer.
Bevacizumab is humanized antibody that inhibit
- 90 (45,9%) eyes. Advanced cases was sub-
divided into two categories: non neovascular
Epidermal Growth Factor
Therapeutic Target in VEGF action. The Food and Drug Administra-
tion approved the use of bevacizumab in com-
(dry) - 12 (6,1%) eyes and neovascular (wet)-
78 (39,8%) eyes. 24 (26,7%) eyes with cicatrix Receptor (EGFR) Sebagai Sasaran
Colorectal Cancer
Santosa, C. Suharti*
bination with any intravenous fluorouracil-
containing regimen as initial therapy for patients
with advanced colorectal cancer. There is small
disciformis complication and 45 (40%) had
FFA alone. 34,9% patients with low vision
and 27,8% with blindness. A higher rate of
Terapi Kanker Kolorektal
Specialist Program, *Head of Hematology-Oncology gefitinib trial for colorectal cancer treatment.
Subdept., Dept. of Internal Medicine, Faculty of
neovascular ARMD was noted in Cicendo Santosa*, C. Suharti **
Medicine, Diponegoro University, Dr.Kariadi Hospital, Eye Hospital. Perserta Program Pendidikan Dokter Spesialis I, ** Kepala Sub Bagian
Semarang, Indonesia CDK. 2009; 36(1) : 5-12
Key words: ARMD, neovascular, visual acuity. Hematologi Onkologi Medik Bagian Penyakit Dalam FK UNDIP/RS. Dr. Kariadi Semarang

CDK. 2009; 36(1) : 28-32


Colorectal cancer is the fourth most frequent
malignant disease in the world. Estimation ABSTRAK Penelitian paling luas mengenai mAbs anti EGFR adalah cetuximab,
of new cases and mortality are 1.023.000 and Karsinoma kolorektal merupakan keganasan keempat di seluruh yang dikenal sebagai IMC-25 atau C225, suatu mAb chimeric
529.000 annually. There is an increase of Mutagenicity Test of dunia dengan perkiraan kasus baru 1.023.000 dan kematian yang dirancang khusus menghambat EGFR. Cetuximab telah
colorectal cancer incidence in Indonesia, but Benzo(α)pyrene disetujui penggunaannya oleh Food and Drug Administration
529.000 tiap tahun. Di Indonesia dari berbagai laporan terdapat
no exact number available. dan Swiss Medical Control Agency untuk pengobatan kanker
by Microneucleus kenaikan jumlah kasus tetapi belum ada angka yang pasti
berapa insiden karsinoma kolorektal. kolorektal yang tidak respon terhadap irinotecan. Bevacizumab
The problems in management of colorectal Method on Albino Mice
cancer are patients came in advanced stage, merupakan antibodi manusia yang berperan menghambat
refractory cytostatics regiment, adverse (Mus musculus) Bone Masalah-masalah dalam pengelolaan adalah karena pasien sering VEGF. FDA mengakui penggunaan bevacizumab dalam kombi-
reaction to cytostatics. Alternative strategy nasi dengan regimen flurouracil intravena sebagai terapi awal
uses an agent that act at specific site; for
Marrow datang pada stadium lanjut, refrakter terhadap regimen sitostatika,
kanker kolorektal lanjut. Uji klinis gefitinip untuk kanker kolorek-
dan efek samping sitostatika; sehingga dikembangkan pilihan terapi
instance Epidermal Growth Factor Receptor Yana Sumpena*, Rochestri Sofyan*, tal masih terbatas.
yang ditujukan pada sasaran spesifik pada Epidermal Growth Factor
(EGFR) inhibitor. Rusi Rusilawati**
Receptor (EGFR).
*Nuclear Technology Research and Development PENDAHULUAN
EGFR have specific ligand including EGF Center - BATAN, Indonesia
**Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia Karsinoma kolorektal merupakan keganasan ke empat di seluruh
(epidermal growth factor), bFGF (basic fibro- EGFR bersama ligand spesifiknya seperti EGF (epidermal growth dunia dengan perkiraan kasus baru 1.023.000 dan kematian
blast gorwth factor), VEGF(vascular endothe- factor), bFGF (basic fibroblast growth factor), VEGF (vascular endo- 529.000 tiap tahun.1 Di Amerika Serikat menduduki urutan kega-
lial growth factor) and TGF-_ (transforming thelial growth factor), dan TGF-_(transforming growth factor-_) ber-
growth factor-_). They have important role in Benzo (α) pyrene (BP) is a carcinogenic com- nasan ke tiga dan menjadi penyebab kematian ke dua terbanyak.
pound that is supposed to be able to induce peran penting dalam pertumbuhan dan survival kanker kolorektal. Pada tahun 2005 diperkirakan akan ditemukan 145.290 kasus
growth dan survival of colorectal cancer.
EGFR expression in colorectal cancer is associ- chromosomal damage. The mutagenic effect Ekspresi EGFR pada kanker kolorektal berhubungan dengan baru dengan kematian 56.290.2
ated with aggressive disease and poor prog- of BP has been studied using MN test on poly- agresivitas penyakit dan prognosis yang buruk. Aktivasi EGFR
nosis. EGFR stimulates tumor growth and chromatic erythrocyte (PCE) cells of albino menstimulasi pertumbuhan dan progresi tumor melalui beberapa Di Indonesia dari berbagai laporan terdapat kenaikan jumlah
Clinical Characteristics mice femur bone marrow. Mice were injected
progression through several mechanism i.e. mekanisme yaitu memacu proliferasi, angiogenesis, invasi, meta- kasus tetapi belum ada angka pasti insiden karsinoma kolorektal.
proliferation, angiogenesis, invasion, metas- of ARMD Patients at with 0.1 ml of 0.3% (b/v) BP subcutaneously stasis dan menghambat apoptosis, adesi dan differensiasi. Terdapat Sjamsuhidajat (1986) dari evaluasi data di Departemen Kesehatan
tasis, apoptosis inhibition, adhesion and at the shoulder, every day at the same time
Cicendo Eye Hospital for ten days. After 120 days, treated and non-
variabilitas ekspresi atau disregulasi EGFR pada keganasan. mendapatkan 1,8 per 100.000 penduduk. Tirtosugondo (1986) untuk
differentiation. Kodya Semarang, melaporkan peningkatan karsinoma kolorektal
Bandung treated mice were killed by cervical dislocation.
dengan Age Standardized Rate (ASR) per 100.000 penduduk
EGFR is specific rational target. Monoclonal Their femur bone marrow cells were prepared EGFR merupakan target rasional pada strategi antitumor. Pengem-
antibody (mAbs) directed against EGFR Erry on object glass by smear technique followed bangan sasaran terapi ditujukan terhadap interaksi ikatan domain untuk laki-laki tahun 1970-1974: 2,5; tahun 1980-1981: 3,2;
through several mechanism: (1) extracellu- Health System and Policy Research by Giemsa»s staining. The appearance of micro- ligand ekstraseluler seperti antibodi monoklonal (mAbs) dan yang sementara untuk wanita tahun 1970-1974: 2,2 tahun 1982: 3,4
Development Center, Department of Health,
lar binding; (2) internalization of receptor- Republic of Indonesia, Jakarta, Indonesia nucleus (MN) in PCE cells were examined berikatan intraseluler seperti tirosin kinase inhibitor. Antibodi dan menduduki urutan ke lima di antara keganasan lain.3
anti-body complexes; (3) inhibition of EGFR microscopically by the magnificfication of 2000. monoklonal (mAbs) bereaksi terhadap EGFR melalui mekanisme
signalling pathways; and (4) potential stimu- The amount of MN in PCE (MNPCE) were Modalitas terapi kanker kolorektal adalah pembedahan,
sebagai berikut :
lation of an immunological response. Age Related Macular Degeneration (ARMD) evaluated in 1000 PCE cells and called MNPCE radioterapi dan kemoterapi sesuai stadium penyakitnya. Terapi
frequency. BP treatment could increase MNPCE 1. Ikatan ekstraseluler
affects the central area of the retina (macula). kanker kolorektal stadium dini dilakukan dengan pembedahan,
Tyrosine kinase inhibitors (TKIs) directed ARMD is the leading cause of severe irrever- frequency up to 38.82 Ø 8.70 (n=10) per 1000 2. Internalisasi kompleks reseptor antibodi
tetapi keadaan lanjut dan tidak dapat dibedah merupakan
against EGFR through several mechanisms: sible central vision loss. The aim of this study is PCE cells compared to MNPCE frequency of 3. Inhibisi jalur sinyal EGFR
masalah dan sering fatal. Deteksi dini merupakan suatu upaya
(1) intracellular binding; (2) prevention of to determine the clinical characteristics of 2.19 Ø 0.99 per 1000 PCE cells in control group 4. Meningkatkan stimulasi respon imunologis. untuk menemukan kanker kolorektal stadium awal. Radioterapi
tyrosine kinase activation; and (3) inhibition ARMD at Cicendo Eye Hospital. (n=10). The significant increase of MNPCE
frequency indicated the relatively high muta- dan kemoterapi merupakan pilihan pada stadium lanjut. 4-10
of EGFR signalling pathways. Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs) langsung bereaksi terhadap EGFR
This prospective descriptive study was con- genic effect of BP. Terapi sitostatika untuk kanker kolorektal di beberapa pusat
melalui mekanisme aksi : kanker menggunakan fluorourasil (FU), irinotecan dan obat baru
There are many trials of cetuximab as EGFR ducted on newly diagnosed ARMD on July -
inhibitor. Cetuximab is known as IMC-25 or November 2005 in Cicendo Eye Hospital. Key words: benzo (α) pyrene, micronucleus, carcinogenic.
1. Ikatan intraseluler oxaliplatin. Masalah dalam pengelolaan karsinoma kolorektal
C255, monoclonal antibody chimeric that Ninety nine patients (196 eyes) consists of 2. mencegah aktivasi tirosin kinase adalah refrakter terhadap regimen sitostatika dan adanya efek
is specifically directed against EGFR. 45,5% males and 54,5% females, ages from CDK. 2009; 36(1) : 33-36 3. Inhibisi jalur sinyal EGFR. samping sehingga diperlukan pilihan terapi lain.11-15

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
4 5
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) bersama ligand spesifik- Tabel 2. Perbandingan Percobaan-percobaan Irinotecan dan Oxaliplatin Terdapat tujuh ligand yang berbeda secara genetik seperti EGF,
sebagai Terapi Lini Pertama untuk Kanker Kolorektal17
nya seperti EGF (epidermal growth factor), bFGF (basic fibroblast TGF-_ , heparin-binding EGF, amphiregulin, betacllulin, epiregulin,
gorwth factor), VEGF (vascular endothelial growth factor), dan TGF-_ neuregulin G2_ yang mampu berikatan dengan EGFR. EGFR mem-
Percobaan Median Median
(transforming growth factor-_) berperan penting dalam pertumbuhan dan Jumlah Rerata p waktu p survival p berikan jalur sinyal transduksi intraseluler seperti Ras/mitogen-
regimen pasien respon progresi keseluruhan
dan survival kanker kolorektal. Ekspresi EGFR pada kanker kolo- activated protein kinase (MAPK). Ikatan growth factor dan resep-
rektal berhubungan dengan agresivitas penyakit dan prognosis Goldber dkk tornya merupakan awal organisasi dan proses biokimia sel. Proses
yang buruk.13,16 Sasaran terapi terhadap EGFR merupakan strategi IFL 264 31 7,0 15,0 tersebut adalah aktivasi reseptor, kaskade fosforilasi dengan iden-
baru untuk pengobatan kanker kolorektal. Pada makalah ini akan FOLFOX 267 45 <0,001 9,3 0,002 19,5 <0.001 tifikasi protein kinase dan pada tingkat nukleus terjadi aktivasi
dibahas terapi biologi dengan inhibitor EGFR yang merupakan IROX 264
faktor transkripsi. Gambar 2 merupakan ilustrasi sederhana interaksi
35 0,3 6,5 0,5 17,4 0,04
pilihan terapi baru dalam pengelolaan kanker kolorektal. sistem EGFR dan kaskade Ras/kaskade MAPK yang merupakan
salah satu jalur sinyal seluler utama. Respon biologi terhadap sinyal
Tournigand
PENGELOLAAN KANKER KOLOREKTAL Gambar 1. Obat-obat yang diakui FDA dalam pengelolaan kanker kolorektal dkk. EGFR adalah pleiotropik, yaitu: mitogenesis, penurunan apoptosis,
lanjut dan median survival keseluruhan pada percobaan fase III.17 mempercepat motilitas sel, sekresi protein dan differensiasi atau
Modalitas terapi untuk kanker kolon adalah pembedahan, radio-
Keterangan: 5-FU: 5-fluorouracil, Ctx:kemoterapi FOLFIRI 109 56 8,5 21,5
terapi dan kemoterapi menggunakan obat sitotoksik. Terapi yang dedifferensiasi.21,22
FOLFOX 111 54 TB 8,0 0,3 20,6 0,99
baru adalah terapi biologis yang ditujukan pada sasaran molekul Protokol kombinasi menggunakan 5-FU/LV, per infus (bukan bolus)
spesifik yang berkaitan dengan pertumbuhan tumor. Stadium pato- ditambah irinotecan (FOLFIRI) dan oxaliplatin (FOLFOX) lebih baik Grothey dkk.
logi masih merupakan indikator prognostik penting. American dibandingkan 5-FU/LV dengan IFL (bolus 5-FU/LV ditambah irinote-
Joint Committee on Cancer memperkenalkan sistem TNM dalam Irinitecan + 79 43 7,9 >16
can), standar yang dipakai mulai tahun 2000. Pada tabel 2 dapat capecitabine
menentukan stadium kanker kolorektal dan memprediksi five-year dilihat ringkasan percobaan klinis penggunaan irinotecan dan
survival rate (Tabel 1).3,17 Oxaliplatin + 82 51 0,3 7,9 0,3 >16 TB
oxaliplatin sebagai terapi lini pertama kanker kolorektal.
capecitabine

Terapi pembedahan tetap merupakan pilihan utama pada penata- Tabel 1. Sistem Stadium TNM untuk Kanker Kolorektal17
laksanaan kolorektal yang masih terlokalisir. Terapi adjuvan dengan
Stadium Klasifikasi TNM Five-Year survival (%)
radiasi digunakan untuk memperbaiki hasil terapi dan mengurangi EPIDERMAL GROWTH FACTOR RECEPTOR SEBAGAI SASARAN
I T1-2,N0,M0 >90
kekambuhan lokal. Radiasi dapat dilakukan pra dan pasca bedah TERAPI PADA KANKER KOLOREKTAL
IIA T3,N0,M0
dikombinasi dengan kemoterapi. Radiasi dapat berupa radiasi 60-85 Struktur dan Fungsi EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor)
IIB T4,N0,M0
eksternal atau brakiterapi.3 Growth factor dan reseptor kinase transmembran berperan penting
IIIA T1-2,N1,M0
25-65 dalam proliferasi, survival, adesi, migrasi dan differensiasi. EGFR
IIIB T3-4,N1,M0
terdiri dari empat reseptor transmembran, yaitu: EGFR (HER1/erbB-1),
Kemoterapi telah dikenal lama untuk kanker kolorektal lanjut. IIIC Semua T, N2,M0
HER2 (erbB-2/neu), HER3 (erbB-3) dan HER4 (erbB-4). EGFR
Pilihan pengobatan untuk kanker kolorektal lanjut telah meluas IV Semua, semua N, M1 5-7 Gb 2. Ilustrasi skematik jalur EGFR pengaruh terhadap sel dan jaringan.
(HER1/erbB-1) merupakan glikoprotein 170 kDa yang terdiri dari 3
untuk beberapa tahun terakhir termasuk sitotoksik baru dan terapi Lokasi inhibitor EGFR dapat ditempati monoklonal antibodi (Abs) dan
Tumor primer (T)
domain fungsional utama yaitu domain ligan ikatan ekstraseluler, tyrosine kinase inhibitor (TKIs).21
biologi (Gambar 1). Obat-obat sitotoksik lama adalah 5-fluouracil domain transmembran hidrofilik dan domain tirosin kinase
TX : Tumor primer tak dapat ditentukan
(5-FU), capecitabine, sedangkan yang baru adalah irinotecan dan sitoplasmik (Gb.1).16,18,19,20,21 Peran EGFR dalam Onkologi
N0 : Tidak ditemukan tumor primer
oxaliplatin. 5-fluouracil (5-FU) masih merupakan tulang punggung Efek aktivasi EGFR pada sel tumor adalah beragam dan konvergen
Tis : Carcinoma in situ
pengobatan kanker kolorektal. Antibodi monoklonal cetuximab T1 : Tumor menyebuk sub mukosa sehingga terjadi pertumbuhan sel yang tidak terkontrol, peningkatan
dan bevacizumab merupakan agen biologi yang telah digunakan T2 : Tumor menyebuk muskularis propia mobilitas, proliferasi sel, invasi, metastasis, penurunan kemampuan
untuk kanker kolorektal yang metastasis.17,18 T3 : Tumor menembus muskularis propia ke sub serosa atau ke apoptosis serta stimulasi angiogenesis (Gambar 3).16 Secara normal
peritoneum atau jaringan perirektal EGFR terekspresi oleh banyak jenis sel seperti epitel dan jaringan
Pasien karsinoma kolorektal stadium II-II berisiko tinggi mengalami T4 : Tumor menginfiltrasi organ atau struktur atau ke peritoneum visceral mesenkim. Tetapi terdapat variabilitas rekspresi atau disregulasi EGFR
kekambuhan lokal maupun sistemik. Rekomendasi tingkat A oleh Kelenjar limfe regional(N) pada keganasan. Telah diketahui sebagian besar kanker epitel banyak
Kelompok Kerja Adenokarsinoma Kolorektal (2004) adalah kemo- NX : KGB regional tidak dapat ditentukan mengekspresikan EGFR. 21,23 Overekspresi EGFR terjadi pada kanker
terapi pada stadium III/Dukes C dengan 5-FU/FA atau capecitabine N0 : Tak terdapat keterlibatan KGB regional kandung kemih, otak, payudara, servik, uterus, kolon, esofagus,
N1 : Metastasis ke 1-3 KGB regional
hingga 6 bulan dan pada stadium IV/metastasis dengan 5√FU/FA glioma, ovarium, ginjal dan paru non-small-cell.21 Tumor dengan
N2 : Metastasis ke 4 atau lebih KGB regional
atau capecitabine hingga 6 bulan ditambah oxaliplatin atau irino- ekspresi EGFR cenderung lebih agresif dan invasif. Ekspresi EGFR
Metastasis jauh (M)
tecan selama 6 bulan. Rekomendasi tingkat B: dipertimbangkan kanker kolorektal kurang lebih 70-75 %, sehingga keganasan ini
MX : Tidak dapat ditentukan adanya metastasis jauh
pemberian kemoterapi pada stadium IIA/Dukes B1. Rekomendasi Gb 1. Diagram skema empat famili ErB beserta ligand-ligand spesifiknya. dapat diidentifikasi dalam pengembangan klinis inhibitor EGFR.
M0 : Tidak ditemukan metastasis jauh
tingkat D pada stadium IIB/Dukes B2: kemoterapi 5-FU/FA atau Angka (sebagai prosentase) menunjukkan tingkat homologi relatif ter- Ekspresi EGFR pada kanker kolorektal berhubungan dengan penya-
M1 : Ditemukan metastasis jauh hadap ErB1/EGFR. Dengan perkecualian kinase-deficient ErbB3 karena
capecitabine, hingga 6 bulan.3 terdapat tingkat homologi yang tinggi dalam domain tirosin kinase.21 kit yang lebih agresif dan prognosis yang buruk 14,15

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
6 7
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) bersama ligand spesifik- Tabel 2. Perbandingan Percobaan-percobaan Irinotecan dan Oxaliplatin Terdapat tujuh ligand yang berbeda secara genetik seperti EGF,
sebagai Terapi Lini Pertama untuk Kanker Kolorektal17
nya seperti EGF (epidermal growth factor), bFGF (basic fibroblast TGF-_ , heparin-binding EGF, amphiregulin, betacllulin, epiregulin,
gorwth factor), VEGF (vascular endothelial growth factor), dan TGF-_ neuregulin G2_ yang mampu berikatan dengan EGFR. EGFR mem-
Percobaan Median Median
(transforming growth factor-_) berperan penting dalam pertumbuhan dan Jumlah Rerata p waktu p survival p berikan jalur sinyal transduksi intraseluler seperti Ras/mitogen-
regimen pasien respon progresi keseluruhan
dan survival kanker kolorektal. Ekspresi EGFR pada kanker kolo- activated protein kinase (MAPK). Ikatan growth factor dan resep-
rektal berhubungan dengan agresivitas penyakit dan prognosis Goldber dkk tornya merupakan awal organisasi dan proses biokimia sel. Proses
yang buruk.13,16 Sasaran terapi terhadap EGFR merupakan strategi IFL 264 31 7,0 15,0 tersebut adalah aktivasi reseptor, kaskade fosforilasi dengan iden-
baru untuk pengobatan kanker kolorektal. Pada makalah ini akan FOLFOX 267 45 <0,001 9,3 0,002 19,5 <0.001 tifikasi protein kinase dan pada tingkat nukleus terjadi aktivasi
dibahas terapi biologi dengan inhibitor EGFR yang merupakan IROX 264
faktor transkripsi. Gambar 2 merupakan ilustrasi sederhana interaksi
35 0,3 6,5 0,5 17,4 0,04
pilihan terapi baru dalam pengelolaan kanker kolorektal. sistem EGFR dan kaskade Ras/kaskade MAPK yang merupakan
salah satu jalur sinyal seluler utama. Respon biologi terhadap sinyal
Tournigand
PENGELOLAAN KANKER KOLOREKTAL Gambar 1. Obat-obat yang diakui FDA dalam pengelolaan kanker kolorektal dkk. EGFR adalah pleiotropik, yaitu: mitogenesis, penurunan apoptosis,
lanjut dan median survival keseluruhan pada percobaan fase III.17 mempercepat motilitas sel, sekresi protein dan differensiasi atau
Modalitas terapi untuk kanker kolon adalah pembedahan, radio-
Keterangan: 5-FU: 5-fluorouracil, Ctx:kemoterapi FOLFIRI 109 56 8,5 21,5
terapi dan kemoterapi menggunakan obat sitotoksik. Terapi yang dedifferensiasi.21,22
FOLFOX 111 54 TB 8,0 0,3 20,6 0,99
baru adalah terapi biologis yang ditujukan pada sasaran molekul Protokol kombinasi menggunakan 5-FU/LV, per infus (bukan bolus)
spesifik yang berkaitan dengan pertumbuhan tumor. Stadium pato- ditambah irinotecan (FOLFIRI) dan oxaliplatin (FOLFOX) lebih baik Grothey dkk.
logi masih merupakan indikator prognostik penting. American dibandingkan 5-FU/LV dengan IFL (bolus 5-FU/LV ditambah irinote-
Joint Committee on Cancer memperkenalkan sistem TNM dalam Irinitecan + 79 43 7,9 >16
can), standar yang dipakai mulai tahun 2000. Pada tabel 2 dapat capecitabine
menentukan stadium kanker kolorektal dan memprediksi five-year dilihat ringkasan percobaan klinis penggunaan irinotecan dan
survival rate (Tabel 1).3,17 Oxaliplatin + 82 51 0,3 7,9 0,3 >16 TB
oxaliplatin sebagai terapi lini pertama kanker kolorektal.
capecitabine

Terapi pembedahan tetap merupakan pilihan utama pada penata- Tabel 1. Sistem Stadium TNM untuk Kanker Kolorektal17
laksanaan kolorektal yang masih terlokalisir. Terapi adjuvan dengan
Stadium Klasifikasi TNM Five-Year survival (%)
radiasi digunakan untuk memperbaiki hasil terapi dan mengurangi EPIDERMAL GROWTH FACTOR RECEPTOR SEBAGAI SASARAN
I T1-2,N0,M0 >90
kekambuhan lokal. Radiasi dapat dilakukan pra dan pasca bedah TERAPI PADA KANKER KOLOREKTAL
IIA T3,N0,M0
dikombinasi dengan kemoterapi. Radiasi dapat berupa radiasi 60-85 Struktur dan Fungsi EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor)
IIB T4,N0,M0
eksternal atau brakiterapi.3 Growth factor dan reseptor kinase transmembran berperan penting
IIIA T1-2,N1,M0
25-65 dalam proliferasi, survival, adesi, migrasi dan differensiasi. EGFR
IIIB T3-4,N1,M0
terdiri dari empat reseptor transmembran, yaitu: EGFR (HER1/erbB-1),
Kemoterapi telah dikenal lama untuk kanker kolorektal lanjut. IIIC Semua T, N2,M0
HER2 (erbB-2/neu), HER3 (erbB-3) dan HER4 (erbB-4). EGFR
Pilihan pengobatan untuk kanker kolorektal lanjut telah meluas IV Semua, semua N, M1 5-7 Gb 2. Ilustrasi skematik jalur EGFR pengaruh terhadap sel dan jaringan.
(HER1/erbB-1) merupakan glikoprotein 170 kDa yang terdiri dari 3
untuk beberapa tahun terakhir termasuk sitotoksik baru dan terapi Lokasi inhibitor EGFR dapat ditempati monoklonal antibodi (Abs) dan
Tumor primer (T)
domain fungsional utama yaitu domain ligan ikatan ekstraseluler, tyrosine kinase inhibitor (TKIs).21
biologi (Gambar 1). Obat-obat sitotoksik lama adalah 5-fluouracil domain transmembran hidrofilik dan domain tirosin kinase
TX : Tumor primer tak dapat ditentukan
(5-FU), capecitabine, sedangkan yang baru adalah irinotecan dan sitoplasmik (Gb.1).16,18,19,20,21 Peran EGFR dalam Onkologi
N0 : Tidak ditemukan tumor primer
oxaliplatin. 5-fluouracil (5-FU) masih merupakan tulang punggung Efek aktivasi EGFR pada sel tumor adalah beragam dan konvergen
Tis : Carcinoma in situ
pengobatan kanker kolorektal. Antibodi monoklonal cetuximab T1 : Tumor menyebuk sub mukosa sehingga terjadi pertumbuhan sel yang tidak terkontrol, peningkatan
dan bevacizumab merupakan agen biologi yang telah digunakan T2 : Tumor menyebuk muskularis propia mobilitas, proliferasi sel, invasi, metastasis, penurunan kemampuan
untuk kanker kolorektal yang metastasis.17,18 T3 : Tumor menembus muskularis propia ke sub serosa atau ke apoptosis serta stimulasi angiogenesis (Gambar 3).16 Secara normal
peritoneum atau jaringan perirektal EGFR terekspresi oleh banyak jenis sel seperti epitel dan jaringan
Pasien karsinoma kolorektal stadium II-II berisiko tinggi mengalami T4 : Tumor menginfiltrasi organ atau struktur atau ke peritoneum visceral mesenkim. Tetapi terdapat variabilitas rekspresi atau disregulasi EGFR
kekambuhan lokal maupun sistemik. Rekomendasi tingkat A oleh Kelenjar limfe regional(N) pada keganasan. Telah diketahui sebagian besar kanker epitel banyak
Kelompok Kerja Adenokarsinoma Kolorektal (2004) adalah kemo- NX : KGB regional tidak dapat ditentukan mengekspresikan EGFR. 21,23 Overekspresi EGFR terjadi pada kanker
terapi pada stadium III/Dukes C dengan 5-FU/FA atau capecitabine N0 : Tak terdapat keterlibatan KGB regional kandung kemih, otak, payudara, servik, uterus, kolon, esofagus,
N1 : Metastasis ke 1-3 KGB regional
hingga 6 bulan dan pada stadium IV/metastasis dengan 5√FU/FA glioma, ovarium, ginjal dan paru non-small-cell.21 Tumor dengan
N2 : Metastasis ke 4 atau lebih KGB regional
atau capecitabine hingga 6 bulan ditambah oxaliplatin atau irino- ekspresi EGFR cenderung lebih agresif dan invasif. Ekspresi EGFR
Metastasis jauh (M)
tecan selama 6 bulan. Rekomendasi tingkat B: dipertimbangkan kanker kolorektal kurang lebih 70-75 %, sehingga keganasan ini
MX : Tidak dapat ditentukan adanya metastasis jauh
pemberian kemoterapi pada stadium IIA/Dukes B1. Rekomendasi Gb 1. Diagram skema empat famili ErB beserta ligand-ligand spesifiknya. dapat diidentifikasi dalam pengembangan klinis inhibitor EGFR.
M0 : Tidak ditemukan metastasis jauh
tingkat D pada stadium IIB/Dukes B2: kemoterapi 5-FU/FA atau Angka (sebagai prosentase) menunjukkan tingkat homologi relatif ter- Ekspresi EGFR pada kanker kolorektal berhubungan dengan penya-
M1 : Ditemukan metastasis jauh hadap ErB1/EGFR. Dengan perkecualian kinase-deficient ErbB3 karena
capecitabine, hingga 6 bulan.3 terdapat tingkat homologi yang tinggi dalam domain tirosin kinase.21 kit yang lebih agresif dan prognosis yang buruk 14,15

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
6 7
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Terdapat mekanisme lain dalam meningkatkan sinyal ekspresi INHIBITOR EGFR PADA KANKER Mekanisme lain inhibisi pertumbuhan tumor adalah antiangio- Gefitinib menunjukkan efek antiproliferatif pada kultur sel tumor
EGFR yaitu: EGFR merupakan target rasional dalam strategi antitumor. genesis. Cetuximab menghambat produksi VEGF (vascular epithelial dan xenograf tumor manusia, baik sebagai obat tunggal ataupun
1. Peningkatan jumlah reseptor Terdapat 2 jenis inhibitor EGFR yang dikembangkan yaitu : growth factor) sel karsinoma epidermoid, sehingga mengurangi dalam kombinasi dengan obat sitotoksik atau radioterapi.
2. Peningkatan jumlah ligan 1. Monoklonal antibodi (mAbs) yang ditujukan terhadap domain jumlah pembuluh darah tumor; down regulation VEGF, interleukin Penambahan gefitinib akan memberikan efek aditif atau kadang
3. Heterodimerisasi reseptor ekstraseluler reseptor
4. Mutasi reseptor. 8 dan ekspresi bEGF (basic fibroblast growth factor) pada xenograft sinergis. Efek aditif atau sinergis yang dicapai dalam kombinasi
2. Tirosin kinase inhibitor.19,24
tumor. Cetuximab juga menghambat pertumbuhan serta metas- terapi membuat ekspresi EGFR dari model tumor tidak terlalu tinggi.
Mekanisme multipel aktivasi EGFR secara skematis dapat dilihat Monoklonal antibodi (mAbs) bereaksi terhadap EGFR melalui mekanisme : tasis tumor 253J B-V dan tumor prostat manusia.21 Temuan preklinik ini memberikan arti bahwa ekpsresi EGFR tumor
pada gambar 4.22 1. Ikatan ekstraseluler bukan merupakan kriteria yang diperlukan dalam penelitian.
2. Internalisasi kompleks reseptor antibodi Bevacizumab Chung dkk. menyatakan bahwa tumor dengan ekspresi EGFR
3. Inhibisi jalur sinyal EGFR Pemahaman bahwa tumor dapat menginduksi pembentukan negatif mungkin berespon baik terhadap Gefitinib.15,21
4. Meningkatkan stimulasi respon imunologis.21 pembuluh darah baru, membuat peneliti berusaha mengontrol Penelitian preklinik menunjukkan bahwa gefitinib memiliki efek
pertumbuhan dan penyebaran kanker melalui penghambatan jalur sinyal intraseluler yang sama seperti mAbs. Gefitinib meng-
Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs) langsung bereaksi terhadap EGFR
melalui mekanisme sebagai berikut: angiogenesis. Usaha yang paling berhasil adalah menetralisasi hambat pertumbuhan sel kanker manusia in vitro dan in vivo. Efek
1. Ikatan intraseluler vascular endothelial growth factor (VEGF), suatu protein terlarut gefitinib terjadi melalui penghentian siklus sel dan/atau apoptosis.
2. Mencegah aktivasi tirosin kinase yang berperan dalam angiogenesis. Bevacizumab merupakan TKIs memiliki beberapa mekanisme antitumor, seperti dapat secara
3. Inhibisi jalur sinyal EGFR. antibodi manusia yang berperan menghambat VEGF. Bahan ini langsung menghambat angiogenesis pada pertumbuhan kanker
telah dicoba sebagai terapi kombinasi pada beberapa percobaan kolon, payudara, ovarium dan kanker manusia secara in vitro,
Masing-masing tempat aksi mAbs dan TKIs dapat dilihat pada klinik pada pasien dengan kanker kolorektal.17 hambatan produksi VEGF, bFGF dan TGF-_. Akibat penghambatan
ilustrasi Gambar 1.21
ini adalah penurunan densitas pembuluh darah mikro tumor.21,22,28
Gambar 3. Peranan EGFR pada kanker kolon. Lapisan A adalah tempat interaksi ligan Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs)
dengan EGFR. Lapisan C adalah proses kaskade sinyal intraseluler yang kompleks. Inhibitor monoklonal antibodi terhadap EGFR
Pada lapisan C diperlihatkan efek akhir aktivasi EGFR tersebut seperti hambatan
Beberapa mAbs langsung menghambat EGFR dalam berbagai TKIs merupakan sintesis derivat quinazoline, berat molekul PENELITIAN KLINIK INHIBITOR EGFR PADA KANKER
apoptosis, proliferasi, angiogenesis, maturasi, migrasi, adesi, invasi dan differensiasi.
stadium perkembangan klinik (Tabel 3). rendah yang berinteraksi dengan beberapa reseptor domain KOLOREKTAL
Growth factor mengatur perkembangan kanker melalui beberapa mekanisme: tirosin kinase intraseluler termasuk EGFR, dan menghambat Monoklonal antibodi (mAbs) dan Tirosin Kinase Inhibitors (TKIs)
1. Pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali akibat produksi Tabel 3. Monoklonal antibodi EGFR dalam percobaan klinik21 fosforilasi reseptor yang diinduksi ligan melalui kompetisi pada memiliki profil farmakokinetik yang berbeda dalam cara dan fre-
growth factor autokrin oleh sel kanker
tempat ikatan Mg-ATP. Lebih dari 20 tahun lalu telah dikem- kuensi pemberian. Cetuximab merupakan protein yang dapat di-
2. Stimulasi neovaskularisasi sebagai akibat rangsang parakrin sel epitel Nama Jenis Nama generik
normal oleh angiogenic growth factor yang disekresi sel kanker.13 bangkan beberapa ratus TKIs. Telah cukup banyak mengenai degradasi di saluran cerna sehingga diberikan secara intravena.
IMC- C225 Chimeric IgG1 *Cetuximab/Erbitux penelitian TKIs (Tabel 4).21 Sebaliknya gefinitib dapat diberikan secara oral sehingga memungkin-
Angiogenesis tumor merupakan proses dalam pembentukan pem- ABX-EGF Fully human IgG2 Panitumumab kan pemakaian jangka panjang.21
buluh darah baru dalam masa tumor yang berperan dalam survival Tabel 4. Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs) dalam percobaan klinik21 Cetuximab, ABX-EGF, gefinitib dan erlotinib telah dievaluasi secara
sel kanker, pertumbuhan tumor dan perkembangan metastasis EMD 72000 Humanized IgG1
klinis sebagai obat tunggal dan dalam kombinasi bersama kemo-
jauh. Pembentukan pembuluh darah baru penting dalam menye- Nama Jenis Nama generik
diakan asupan oksigen dan nutrien bagi perkembangan masa MDX-447 Humanized, bispecific: HuMab-Mouse terapi dan radioterapi konvensional. EGFR dan terapi antikanker
tumor dan metastasis. Perkembangan pembuluh darah diatur oleh EGFR/FcR 1 ZD1839 erbB1 *Gefitinib/Iressa konvensional bekerja melalui cara yang berbeda, sehingga terapi
produksi beberapa growth factor dan growth inhibitor. Telah kombinasi akan memberikan efek potensiasi atau sinergi.
h-R3 Humanized TheraCIM OSI-774 erbB1 Erlotinib HC1/Tarceva
diidentifikasi growth factor yang berbeda seperti: bFGF, VEGF, Beberapa penelitian preklinik telah menunjukkan aktivitas antitumor
dan TGF-_ sebagai regulator angiogenesis. Zat ini disekresi oleh Mab 806 Anti-EGFR VIII CI-1033 pan erbB Canertinib yang sinergis atau tambahan baik secara in vitro maupun in vivo. 21
sel kanker untuk merangsang pertumbuhan sel endotel normal
melalui mekanisme parakrin. VGEF merupakan mitogen yang poten EKB-569 erbB1/2 -
dan spesifik untuk sel endotel yang mengaktifkan perubahan * Telah diakui penggunaannya. CETUXIMAB
GW2016 erbB1/2 -
agiogenesis in vivo dan meningkatkan permeabilitas vaskuler. Cetuximab diberikan secara intravena dengan dosis 200-400/m2
Peningkatan ekspresi VGEF telah diamati pada kanker manusia Cetuximab PKI-166 erbB1/2 - dan memiliki waktu paruh 114 (75-188) jam, sehingga memung-
seperti kanker kolorektal, payudara, ovarium dan berhubungan Penelitian paling luas mengenai mAbs anti EGFR adalah untuk kinkan diberikan setiap minggu. Kinetik cetuximab belum dipahami
langsung dengan peningkatan neovaskularisasi.13 cetuximab, yang dikenal sebagai IMC-25 atau C225, suatu mAb
Gefitinib yang dikenal sebagai ZD1839 telah mendapat pengakuan secara jelas dan bersihan sistemik terjadi secara lengkap.21
chimeric yang dirancang khusus menghambat EGFR. Cetuximab
telah disetujui penggunaannya oleh Food and Drug Administration dari 18 negara, termasuk USA, Kanada, Jepang, Australia. Untuk menilai efikasi dilakukan percobaan fase 2 cetuximab+
dan Swiss Medical Control Agency untuk pengobatan kanker Gefitinib merupakan bahan aktif oral dengan berat molekul irinotecan pada pasien kanker kolorektal yang refrakter terhadap
kolorektal yang tidak respon terhadap irinotecan.21,25 rendah, aniloquiazoline sintetik yang menghambat beberapa irinotecan (n=121), hasilnya menunjukkan respon sebagian pada
reseptor tirosine kinase terutama EGFR. Pada konsentrasi yang 23% pasien dan sedikit respon atau stabil pada 31 pasien. Dari
Antibodi chimeric ini dikembangkan dengan mengkombinasi lebih tinggi memungkinkan menghentikan aktivitas tyrosine total 138 pasien yang dilaporkan rata-rata respon lengkap adalah
berbagai regio prekursor antibodi tikus (mAb 225) dengan regio kinase in vivo. Proses ini terjadi sebagai akibat konsentrasi ATP 15% dan median durasi respon 6,5 bulan.17,21 Percobaan fase II
konstan imunoglobulin G1 manusia untuk mengurangi reaksi intraseluler yang tinggi. Pada dosis 100 kali lipat dosis yang yang lebih besar di Eropa (the BOND study) dilakukan untuk mem-
imunologi pasien. Cetuximab sangat spesifik untuk EGFR dan
diperlukan untuk mem-blok EGFR, Gefitinib mengikat resptor bandingkan kombinasi cetuximab dan irinotecan (218 pasien)
menyebabkan internalisasi reseptor dan down regulation. Efek
tirosine kinase lain termasuk HER2. Aktivitas reseptor tambahan dengan cetuximab sebagai obat tunggal (111 pasien) pada pasien
menghambat proliferasi sel tumor tergantung dosis. Inhibisi
Gambar 4. Berbagai mekanisme yang meningkatkan aktivasi EGFR (EGF; epidermal proliferasi sel ini menyebabkan siklus sel terhenti pada fase G1 ini mungkin memiliki makna klinis tetapi efeknya masih dalam kanker kolorektal metastasis yang positif EGFR dan refrakter
growth factor, TGF-_ (transforming growth factor-_), R: receptor, S;substrate, K:
tyrosine, Py:phosphorilated tyrosine residue. dan/atau meningkatkan apoptosis.21,25,26 proses penelitian.21 terhadap irinotecan.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
8 9
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Terdapat mekanisme lain dalam meningkatkan sinyal ekspresi INHIBITOR EGFR PADA KANKER Mekanisme lain inhibisi pertumbuhan tumor adalah antiangio- Gefitinib menunjukkan efek antiproliferatif pada kultur sel tumor
EGFR yaitu: EGFR merupakan target rasional dalam strategi antitumor. genesis. Cetuximab menghambat produksi VEGF (vascular epithelial dan xenograf tumor manusia, baik sebagai obat tunggal ataupun
1. Peningkatan jumlah reseptor Terdapat 2 jenis inhibitor EGFR yang dikembangkan yaitu : growth factor) sel karsinoma epidermoid, sehingga mengurangi dalam kombinasi dengan obat sitotoksik atau radioterapi.
2. Peningkatan jumlah ligan 1. Monoklonal antibodi (mAbs) yang ditujukan terhadap domain jumlah pembuluh darah tumor; down regulation VEGF, interleukin Penambahan gefitinib akan memberikan efek aditif atau kadang
3. Heterodimerisasi reseptor ekstraseluler reseptor
4. Mutasi reseptor. 8 dan ekspresi bEGF (basic fibroblast growth factor) pada xenograft sinergis. Efek aditif atau sinergis yang dicapai dalam kombinasi
2. Tirosin kinase inhibitor.19,24
tumor. Cetuximab juga menghambat pertumbuhan serta metas- terapi membuat ekspresi EGFR dari model tumor tidak terlalu tinggi.
Mekanisme multipel aktivasi EGFR secara skematis dapat dilihat Monoklonal antibodi (mAbs) bereaksi terhadap EGFR melalui mekanisme : tasis tumor 253J B-V dan tumor prostat manusia.21 Temuan preklinik ini memberikan arti bahwa ekpsresi EGFR tumor
pada gambar 4.22 1. Ikatan ekstraseluler bukan merupakan kriteria yang diperlukan dalam penelitian.
2. Internalisasi kompleks reseptor antibodi Bevacizumab Chung dkk. menyatakan bahwa tumor dengan ekspresi EGFR
3. Inhibisi jalur sinyal EGFR Pemahaman bahwa tumor dapat menginduksi pembentukan negatif mungkin berespon baik terhadap Gefitinib.15,21
4. Meningkatkan stimulasi respon imunologis.21 pembuluh darah baru, membuat peneliti berusaha mengontrol Penelitian preklinik menunjukkan bahwa gefitinib memiliki efek
pertumbuhan dan penyebaran kanker melalui penghambatan jalur sinyal intraseluler yang sama seperti mAbs. Gefitinib meng-
Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs) langsung bereaksi terhadap EGFR
melalui mekanisme sebagai berikut: angiogenesis. Usaha yang paling berhasil adalah menetralisasi hambat pertumbuhan sel kanker manusia in vitro dan in vivo. Efek
1. Ikatan intraseluler vascular endothelial growth factor (VEGF), suatu protein terlarut gefitinib terjadi melalui penghentian siklus sel dan/atau apoptosis.
2. Mencegah aktivasi tirosin kinase yang berperan dalam angiogenesis. Bevacizumab merupakan TKIs memiliki beberapa mekanisme antitumor, seperti dapat secara
3. Inhibisi jalur sinyal EGFR. antibodi manusia yang berperan menghambat VEGF. Bahan ini langsung menghambat angiogenesis pada pertumbuhan kanker
telah dicoba sebagai terapi kombinasi pada beberapa percobaan kolon, payudara, ovarium dan kanker manusia secara in vitro,
Masing-masing tempat aksi mAbs dan TKIs dapat dilihat pada klinik pada pasien dengan kanker kolorektal.17 hambatan produksi VEGF, bFGF dan TGF-_. Akibat penghambatan
ilustrasi Gambar 1.21
ini adalah penurunan densitas pembuluh darah mikro tumor.21,22,28
Gambar 3. Peranan EGFR pada kanker kolon. Lapisan A adalah tempat interaksi ligan Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs)
dengan EGFR. Lapisan C adalah proses kaskade sinyal intraseluler yang kompleks. Inhibitor monoklonal antibodi terhadap EGFR
Pada lapisan C diperlihatkan efek akhir aktivasi EGFR tersebut seperti hambatan
Beberapa mAbs langsung menghambat EGFR dalam berbagai TKIs merupakan sintesis derivat quinazoline, berat molekul PENELITIAN KLINIK INHIBITOR EGFR PADA KANKER
apoptosis, proliferasi, angiogenesis, maturasi, migrasi, adesi, invasi dan differensiasi.
stadium perkembangan klinik (Tabel 3). rendah yang berinteraksi dengan beberapa reseptor domain KOLOREKTAL
Growth factor mengatur perkembangan kanker melalui beberapa mekanisme: tirosin kinase intraseluler termasuk EGFR, dan menghambat Monoklonal antibodi (mAbs) dan Tirosin Kinase Inhibitors (TKIs)
1. Pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali akibat produksi Tabel 3. Monoklonal antibodi EGFR dalam percobaan klinik21 fosforilasi reseptor yang diinduksi ligan melalui kompetisi pada memiliki profil farmakokinetik yang berbeda dalam cara dan fre-
growth factor autokrin oleh sel kanker
tempat ikatan Mg-ATP. Lebih dari 20 tahun lalu telah dikem- kuensi pemberian. Cetuximab merupakan protein yang dapat di-
2. Stimulasi neovaskularisasi sebagai akibat rangsang parakrin sel epitel Nama Jenis Nama generik
normal oleh angiogenic growth factor yang disekresi sel kanker.13 bangkan beberapa ratus TKIs. Telah cukup banyak mengenai degradasi di saluran cerna sehingga diberikan secara intravena.
IMC- C225 Chimeric IgG1 *Cetuximab/Erbitux penelitian TKIs (Tabel 4).21 Sebaliknya gefinitib dapat diberikan secara oral sehingga memungkin-
Angiogenesis tumor merupakan proses dalam pembentukan pem- ABX-EGF Fully human IgG2 Panitumumab kan pemakaian jangka panjang.21
buluh darah baru dalam masa tumor yang berperan dalam survival Tabel 4. Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs) dalam percobaan klinik21 Cetuximab, ABX-EGF, gefinitib dan erlotinib telah dievaluasi secara
sel kanker, pertumbuhan tumor dan perkembangan metastasis EMD 72000 Humanized IgG1
klinis sebagai obat tunggal dan dalam kombinasi bersama kemo-
jauh. Pembentukan pembuluh darah baru penting dalam menye- Nama Jenis Nama generik
diakan asupan oksigen dan nutrien bagi perkembangan masa MDX-447 Humanized, bispecific: HuMab-Mouse terapi dan radioterapi konvensional. EGFR dan terapi antikanker
tumor dan metastasis. Perkembangan pembuluh darah diatur oleh EGFR/FcR 1 ZD1839 erbB1 *Gefitinib/Iressa konvensional bekerja melalui cara yang berbeda, sehingga terapi
produksi beberapa growth factor dan growth inhibitor. Telah kombinasi akan memberikan efek potensiasi atau sinergi.
h-R3 Humanized TheraCIM OSI-774 erbB1 Erlotinib HC1/Tarceva
diidentifikasi growth factor yang berbeda seperti: bFGF, VEGF, Beberapa penelitian preklinik telah menunjukkan aktivitas antitumor
dan TGF-_ sebagai regulator angiogenesis. Zat ini disekresi oleh Mab 806 Anti-EGFR VIII CI-1033 pan erbB Canertinib yang sinergis atau tambahan baik secara in vitro maupun in vivo. 21
sel kanker untuk merangsang pertumbuhan sel endotel normal
melalui mekanisme parakrin. VGEF merupakan mitogen yang poten EKB-569 erbB1/2 -
dan spesifik untuk sel endotel yang mengaktifkan perubahan * Telah diakui penggunaannya. CETUXIMAB
GW2016 erbB1/2 -
agiogenesis in vivo dan meningkatkan permeabilitas vaskuler. Cetuximab diberikan secara intravena dengan dosis 200-400/m2
Peningkatan ekspresi VGEF telah diamati pada kanker manusia Cetuximab PKI-166 erbB1/2 - dan memiliki waktu paruh 114 (75-188) jam, sehingga memung-
seperti kanker kolorektal, payudara, ovarium dan berhubungan Penelitian paling luas mengenai mAbs anti EGFR adalah untuk kinkan diberikan setiap minggu. Kinetik cetuximab belum dipahami
langsung dengan peningkatan neovaskularisasi.13 cetuximab, yang dikenal sebagai IMC-25 atau C225, suatu mAb
Gefitinib yang dikenal sebagai ZD1839 telah mendapat pengakuan secara jelas dan bersihan sistemik terjadi secara lengkap.21
chimeric yang dirancang khusus menghambat EGFR. Cetuximab
telah disetujui penggunaannya oleh Food and Drug Administration dari 18 negara, termasuk USA, Kanada, Jepang, Australia. Untuk menilai efikasi dilakukan percobaan fase 2 cetuximab+
dan Swiss Medical Control Agency untuk pengobatan kanker Gefitinib merupakan bahan aktif oral dengan berat molekul irinotecan pada pasien kanker kolorektal yang refrakter terhadap
kolorektal yang tidak respon terhadap irinotecan.21,25 rendah, aniloquiazoline sintetik yang menghambat beberapa irinotecan (n=121), hasilnya menunjukkan respon sebagian pada
reseptor tirosine kinase terutama EGFR. Pada konsentrasi yang 23% pasien dan sedikit respon atau stabil pada 31 pasien. Dari
Antibodi chimeric ini dikembangkan dengan mengkombinasi lebih tinggi memungkinkan menghentikan aktivitas tyrosine total 138 pasien yang dilaporkan rata-rata respon lengkap adalah
berbagai regio prekursor antibodi tikus (mAb 225) dengan regio kinase in vivo. Proses ini terjadi sebagai akibat konsentrasi ATP 15% dan median durasi respon 6,5 bulan.17,21 Percobaan fase II
konstan imunoglobulin G1 manusia untuk mengurangi reaksi intraseluler yang tinggi. Pada dosis 100 kali lipat dosis yang yang lebih besar di Eropa (the BOND study) dilakukan untuk mem-
imunologi pasien. Cetuximab sangat spesifik untuk EGFR dan
diperlukan untuk mem-blok EGFR, Gefitinib mengikat resptor bandingkan kombinasi cetuximab dan irinotecan (218 pasien)
menyebabkan internalisasi reseptor dan down regulation. Efek
tirosine kinase lain termasuk HER2. Aktivitas reseptor tambahan dengan cetuximab sebagai obat tunggal (111 pasien) pada pasien
menghambat proliferasi sel tumor tergantung dosis. Inhibisi
Gambar 4. Berbagai mekanisme yang meningkatkan aktivasi EGFR (EGF; epidermal proliferasi sel ini menyebabkan siklus sel terhenti pada fase G1 ini mungkin memiliki makna klinis tetapi efeknya masih dalam kanker kolorektal metastasis yang positif EGFR dan refrakter
growth factor, TGF-_ (transforming growth factor-_), R: receptor, S;substrate, K:
tyrosine, Py:phosphorilated tyrosine residue. dan/atau meningkatkan apoptosis.21,25,26 proses penelitian.21 terhadap irinotecan.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
8 9
TINJAUAN PUSTAKA

Hasil analisis menunjukkan rerata respon 22,9% (cetuximab+ BEVACIZUMAB


irinotecan) dan 10,8% (cetuximab sebagai monoterapi). Median Percobaan fase 2 yang membandingkan Bevacizumab dengan
survival rate lebih lama pada pasien yang mendapat terapi kombi- fluorouracil dan leukovorin menunjukkan bahwa Bevacizumab
nasi (8,6 bulan) daripada cetuximab saja (6,9 bulan), tetapi perbe- meningkatkan repon tumor. Huwitz dkk. melakukan percobaan
daan ini secara statistik tidak bermakna. Kemaknaan ini dapat pada 815 pasien yang diberi IFL bersama bevacizumab dibanding
dipengaruhi protokol penelitian. Penelitian ini juga menunjukkan IFL ditambah plasebo. Penambahan bevacizumab meningkatkan
bahwa Oxaliplatin gagal pada 63% pasien.19,21 rerata respon dan memperpanjang median survival 4,7 bulan secara
bermakna. Pada penelitian melibatkan pasien yang dipertimbang-
Di Amerika Serikat telah dilakukan percobaan fase II (the EPIC kan tidak dapat mentolerir irinotecan, Kabbivanavar dkk menunjuk-
study) menggunakan cetuximab+irinotecan vs irinotecan, sebagai kan bahwa bevacizumab yang ditambahkan pada fluorouracil
pengobatan lini kedua pada pasien kanker kolorektal metastasis dan leucovorin meningkatkan rerata respon dan memperlambat
dengan EGFR positif. Juga telah dilakukan penelitian fase III (the progresi tumor, tetapi tidak memperpanjang median survival.
EXPLORE study) yang melibatkan pasien kanker kolorektal meta- Pada dua penelitian tersebut bevacizumab berhubungan dengan
stasis dengan ekspresi EGFR positif. Pada penelitian ini dilakukan hipertensi dan proteinuria yang reversibel dan relatif ditolerir dengan
evaluasi cetuximab sebagai kombinasi dengan 5FU/leukovorin (LV) baik. Peningkatan median survival secara bermakna dilaporkan pada
dan oxaliplatin(FOLVOX) yang dibandingkan dengan pemberian penambahan bevacizumab pada FOLFOX, yang dibandingkan
oxaliplatin (FOLVOX).19,21 dengan pemberian FOLFOX saja. Penelitian terakhir ini dilakukan
pada kanker kolorektal yang telah diberi terapi irinotecan.17
Saltz dkk. memberikan kombinasi cetuximab dan irinotecan pada
pasien kanker kolorektal lanjut yang tidak respon terhadap irino- Tabel 5. Percobaan Terapi pada Kanker Kolorektal17
tecan. Hasilnya 19% pasien mengalami perbaikan ukuran tumor
Percobaan Jenis Jumlah Rerata Median Median
secara radiologis. Untuk menentukan apakah efek anti tumor ini dan regimen penelitian pasien respon waktu survival
akibat efek sinergis kedua obat atau aktivitas independen cetuximab, progresi

60 pasien yang sama hanya diterapi dengan cetuximab; dari evaluasi Cetuximab
Saltz dkk. TD
radiografi 10% terdapat regresi tumor yang bermakna.17 Fase 2 121 19 TD *
- cetuximab dan
irinotectan
Pengalaman tersebut dikaji ulang oleh Cunningham dkk. yang
Saltz dkk. Fase 2 57 11 1,4 6,4
secara acak melakukan percobaan pada 329 pasien dengan kanker - hanya cetuximab
kolorektal lanjut yang refrakter terhadap irinotecan. (Tabel 5).
Hasil penelitian ini hampir identik, regresi terjadi pada 23% pasien Cunningham dkk Randomized,
- Cetuxmab saja fase 2 111 11 1,5 6,9
yang mendapat terapi kombinasi dan 11% pada yang mendapat - Cetuximab dan 218 23 4,1 8,6
cetuximab tunggal.17 irinotectan

Bevacizumab
Cetuximab telah diakui dalam pengobatan kanker kolorektal yang Kabbinavar dkk. Randomized,
refrakter terhadap irinotecan. Efek samping pemberian cetuximab - Fluorouracil dan fase 2 36 17 5,2 13,8
leukovorin
biasanya ringan seperti rash seperti jerawat, kulit kering dan fisura. - Flourouracil, 68 32 7,4 16,1 dan 21,5
Jarang terjadi reaksi infus (3% pasien); 90% berhubungan dengan leukovorin dan
infus pertama. Keadaan ini jarang fatal (kematian kurang dari 1 bevacizumab

dalam 1000). Penggunaan gefitinib bersamaan dengan terapi Kabbinavar dkk. Fase 3
kanker konvensional, berisiko menyebabkan penyakit paru interstitial. - Fluorouracil dan 105 15 5,5 12,9
Kejadian ini dilaporkan 3 dari 633 pasien (<3%) dengan kanker leukovorin
- Flourouracil, 104 26 9,2 16,6 (p=0,16)
kolorektal lanjut yang diberikan cetuximab. Efek samping lain leukovorin dan (p=0,06) (p<0,001)
yang serius adalah demam (5%), sepsis (3%), gagal ginjal (2%), bevacizumab
emboli paru (1%), dehidrasi (5% pada cetuximab+irinotecan; Hurwitz dkk. Fase 3
2% pada cetuximab), dan diare (6% pada cetuximab + irinotecan, - IFL 412 35 6,2 15,6
0% pada cetuximab saja).17,19,21 - IFL dan 403 45 10,6 20,3 (p<0,001)
bevacizumab (p=0,004) (p<0,001)

Data tersebut mendukung bahwa cetuximab efektif pada subgrup


* TD tidak dilaporkan dan IFL : irinotectan, fluouracil dan leucovorin.
pasien kanker kolorektal lanjut. Percobaan ini hanya melibatkan Pada kelompok cetuximab dilakukan pertukaran dengan kelompok cetuximab
pasien dengan bukti ekspresi EGFR melalui pemeriksaan histokimia. dan irinotecan. Empat puluh empat pasien secara acak kemudian ditukar men-
dapat cetuximab sebagai obat tunggal, hasilnya 3,6 terjadi respon pasrsial
Tetapi tampaknya tingkat ekspresi tidak berhubungan dengan dan 35,7 % penyakit menjadi stabil.
regresi penyakit. Ini menimbulkan pertanyaan apakah dalam me- Pada percobaan ini, dua kelompok mendapat bevacizumab:satu kelompok
lakukan terapi harus ditentukan ada tidaknya ekspresi EGFR dan mendapat 10 mg per kg BB dengan hasil median survival 16,1 bulan dan pada
kelompok lain yang mendapat 5 mg per kgBB memiliki median survival secara
apakah obat bertinteraksi dengan target molekular lain.13,17,21 keseluruhan. 21,5.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


11
TINJAUAN PUSTAKA

Hasil analisis menunjukkan rerata respon 22,9% (cetuximab+ BEVACIZUMAB


irinotecan) dan 10,8% (cetuximab sebagai monoterapi). Median Percobaan fase 2 yang membandingkan Bevacizumab dengan
survival rate lebih lama pada pasien yang mendapat terapi kombi- fluorouracil dan leukovorin menunjukkan bahwa Bevacizumab
nasi (8,6 bulan) daripada cetuximab saja (6,9 bulan), tetapi perbe- meningkatkan repon tumor. Huwitz dkk. melakukan percobaan
daan ini secara statistik tidak bermakna. Kemaknaan ini dapat pada 815 pasien yang diberi IFL bersama bevacizumab dibanding
dipengaruhi protokol penelitian. Penelitian ini juga menunjukkan IFL ditambah plasebo. Penambahan bevacizumab meningkatkan
bahwa Oxaliplatin gagal pada 63% pasien.19,21 rerata respon dan memperpanjang median survival 4,7 bulan secara
bermakna. Pada penelitian melibatkan pasien yang dipertimbang-
Di Amerika Serikat telah dilakukan percobaan fase II (the EPIC kan tidak dapat mentolerir irinotecan, Kabbivanavar dkk menunjuk-
study) menggunakan cetuximab+irinotecan vs irinotecan, sebagai kan bahwa bevacizumab yang ditambahkan pada fluorouracil
pengobatan lini kedua pada pasien kanker kolorektal metastasis dan leucovorin meningkatkan rerata respon dan memperlambat
dengan EGFR positif. Juga telah dilakukan penelitian fase III (the progresi tumor, tetapi tidak memperpanjang median survival.
EXPLORE study) yang melibatkan pasien kanker kolorektal meta- Pada dua penelitian tersebut bevacizumab berhubungan dengan
stasis dengan ekspresi EGFR positif. Pada penelitian ini dilakukan hipertensi dan proteinuria yang reversibel dan relatif ditolerir dengan
evaluasi cetuximab sebagai kombinasi dengan 5FU/leukovorin (LV) baik. Peningkatan median survival secara bermakna dilaporkan pada
dan oxaliplatin(FOLVOX) yang dibandingkan dengan pemberian penambahan bevacizumab pada FOLFOX, yang dibandingkan
oxaliplatin (FOLVOX).19,21 dengan pemberian FOLFOX saja. Penelitian terakhir ini dilakukan
pada kanker kolorektal yang telah diberi terapi irinotecan.17
Saltz dkk. memberikan kombinasi cetuximab dan irinotecan pada
pasien kanker kolorektal lanjut yang tidak respon terhadap irino- Tabel 5. Percobaan Terapi pada Kanker Kolorektal17
tecan. Hasilnya 19% pasien mengalami perbaikan ukuran tumor
Percobaan Jenis Jumlah Rerata Median Median
secara radiologis. Untuk menentukan apakah efek anti tumor ini dan regimen penelitian pasien respon waktu survival
akibat efek sinergis kedua obat atau aktivitas independen cetuximab, progresi

60 pasien yang sama hanya diterapi dengan cetuximab; dari evaluasi Cetuximab
Saltz dkk. TD
radiografi 10% terdapat regresi tumor yang bermakna.17 Fase 2 121 19 TD *
- cetuximab dan
irinotectan
Pengalaman tersebut dikaji ulang oleh Cunningham dkk. yang
Saltz dkk. Fase 2 57 11 1,4 6,4
secara acak melakukan percobaan pada 329 pasien dengan kanker - hanya cetuximab
kolorektal lanjut yang refrakter terhadap irinotecan. (Tabel 5).
Hasil penelitian ini hampir identik, regresi terjadi pada 23% pasien Cunningham dkk Randomized,
- Cetuxmab saja fase 2 111 11 1,5 6,9
yang mendapat terapi kombinasi dan 11% pada yang mendapat - Cetuximab dan 218 23 4,1 8,6
cetuximab tunggal.17 irinotectan

Bevacizumab
Cetuximab telah diakui dalam pengobatan kanker kolorektal yang Kabbinavar dkk. Randomized,
refrakter terhadap irinotecan. Efek samping pemberian cetuximab - Fluorouracil dan fase 2 36 17 5,2 13,8
leukovorin
biasanya ringan seperti rash seperti jerawat, kulit kering dan fisura. - Flourouracil, 68 32 7,4 16,1 dan 21,5
Jarang terjadi reaksi infus (3% pasien); 90% berhubungan dengan leukovorin dan
infus pertama. Keadaan ini jarang fatal (kematian kurang dari 1 bevacizumab

dalam 1000). Penggunaan gefitinib bersamaan dengan terapi Kabbinavar dkk. Fase 3
kanker konvensional, berisiko menyebabkan penyakit paru interstitial. - Fluorouracil dan 105 15 5,5 12,9
Kejadian ini dilaporkan 3 dari 633 pasien (<3%) dengan kanker leukovorin
- Flourouracil, 104 26 9,2 16,6 (p=0,16)
kolorektal lanjut yang diberikan cetuximab. Efek samping lain leukovorin dan (p=0,06) (p<0,001)
yang serius adalah demam (5%), sepsis (3%), gagal ginjal (2%), bevacizumab
emboli paru (1%), dehidrasi (5% pada cetuximab+irinotecan; Hurwitz dkk. Fase 3
2% pada cetuximab), dan diare (6% pada cetuximab + irinotecan, - IFL 412 35 6,2 15,6
0% pada cetuximab saja).17,19,21 - IFL dan 403 45 10,6 20,3 (p<0,001)
bevacizumab (p=0,004) (p<0,001)

Data tersebut mendukung bahwa cetuximab efektif pada subgrup


* TD tidak dilaporkan dan IFL : irinotectan, fluouracil dan leucovorin.
pasien kanker kolorektal lanjut. Percobaan ini hanya melibatkan Pada kelompok cetuximab dilakukan pertukaran dengan kelompok cetuximab
pasien dengan bukti ekspresi EGFR melalui pemeriksaan histokimia. dan irinotecan. Empat puluh empat pasien secara acak kemudian ditukar men-
dapat cetuximab sebagai obat tunggal, hasilnya 3,6 terjadi respon pasrsial
Tetapi tampaknya tingkat ekspresi tidak berhubungan dengan dan 35,7 % penyakit menjadi stabil.
regresi penyakit. Ini menimbulkan pertanyaan apakah dalam me- Pada percobaan ini, dua kelompok mendapat bevacizumab:satu kelompok
lakukan terapi harus ditentukan ada tidaknya ekspresi EGFR dan mendapat 10 mg per kg BB dengan hasil median survival 16,1 bulan dan pada
kelompok lain yang mendapat 5 mg per kgBB memiliki median survival secara
apakah obat bertinteraksi dengan target molekular lain.13,17,21 keseluruhan. 21,5.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


11
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Food and Drug Administration mengakui penggunaan bevaci- DAFTAR PUSTAKA

Eritropoietin
zumab dalam kombinasi dengan regimen flurouracil IV sebagai 1. Ferlay J, Bray F, Pisani P, Parkin DM.GLOBOCAN 2002: cancer incidence, mortality
and prevalence worldwide. IARC Cancer Base no. 5, version 2.0. Lyon, France: IARC
terapi awal pada kanker kolorektal lanjut. Belum jelas apakah Press, 2004.
aktivitasnya terutama melalui mekanisme antiangiogensis saja atau
apakah pengaruhnya terhadap vaskularisasi tumor, sehingga me-
2. Jemal A, Murray T, Ward E, et al. Cancer statistics, 2005. CA Cancer J Clin 2005;55: 10-30.
3. Kelompok Kerja Adenokolorektal Indonesia. Pengelolaan Karsinoma Kolorektal. 2004.
4. Jeekel J. Tumor usus halus dan usus besar. Dalam: van de Velde, CJH, Bosman FT,
Rekombinan pada Penderita Kanker
ningkatkan masuknya bahan kemoterapi ke dalam sel kanker.17 Wagener DJTh. Onkologi. Yogyakarta, Gadjah Mada University Press. 1999:393-407.
5. Hadi S. Tumor di kolon dan rectum. dalam: Gastroenterologi. Bandung, PT. Alumni Syafrizal Syafei
Bandung. 2002:386-401. Divisi Hematologi-Onkologi Medik RS Cipto Mangunkusumo-RS Kanker Dharmais/
GEFITINIB
6. Schein PS. Kanker kolon. Dalam: Seri Skema Diagnosis dalam Penatalaksanaan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Inodnesia, Jakarta, Indonesia
Pemberian dosis tunggal hingga 700 mg pada relawan sehat dan Onkologi. Jakarta; Binurapa Aksara. 1997: 82-83
pasien dengan keganasan lanjut menghasilkan konsentrasi puncak 7. Schein PS. Kanker rektal. Dalam: Seri Skema Diagnosis dalam Penatalaksanaan
Onkologi. Jakarta; Binurapa Aksara. 1997: 84-85. PENDAHULUAN PATOGENESIS dan PATOFISIOLOGI ANEMIA pada KANKER
plasma dicapai pada 3-7 jam, dengan waktu paruh eliminasi 8. Hadi S. Tumor Kolorektal. Dalam: Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta; Balai Penerbit
kurang lebih 48 jam. Pemberian oral pada pasien kanker mem- FKUI. 2001: 205-11. Anemia adalah kelainan hematologi yang biasa dan tersering Kausa anemia pada kanker multifaktor, sebagian berkaitan dengan
berikan akumulasi 2 kali lipat dibandingkan dengan dosis tunggal, 9. Simadibrata R. Dianosis dini kanker kolon-rektum dan hati serta penanggulangannya, ditemui pada pasien kanker. Penyebab anemia pada pasien kanker proses keganasannya, sedangkan lainnya berkaitan dengan
dalam: Karsinoma Kolon-rektum dan hati, diagnosis dini dan penanggulangannya.
konsentrasi plasma keadaan steady state dicapai dalam 10 hari. Jakarta; Balai Penerbit FKUI.1983:1-5.
multifaktor. Banyak pasien telah didiagnosis anemia akibat penyakit pengobatan(9). Faktor-faktor yang menaikkan risiko anemia antara
Pemberian Gefitinib jangka panjang umumnya ditolerir pada 10. Kartoleksono. Diagnosis dini kanker kolon-rektum dan hati serta penanggulangannya, kronik, sebelum diagnosis kankernya ditegakkan. Di lain pihak lain: tipe, stadium, dan lama kanker diderita, serta rejimen dan
dosis hingga 600 mg/hari. Toksisitas gastrointestinal tampaknya dalam: Karsinoma Kolon-rektum dan hati, diagnosis dini dan penanggulangannya. anemia pada pasien kanker juga disebabkan oleh radioterapi dan
Jakarta; Balai Penerbit FK UI.1983:7-11. intensitas terapi yang diterima, ada tidaknya infeksi, juga tindakan
sebagai akibat paparan langsung sel epitel intestinal.21 11. Kartowisastro H. Terapi Pembedahan karsinoma kolon dan perawatan stoma kolon, atau kemoterapi yang didapatnya. Pada pasien kanker yang telah
operasi yang dialami(1).
dalam: Karsinoma Kolon-rektum dan hati, diagnosis dini dan penanggulangannya. mengalami metastasis, atau keganasan darah, maka anemianya
Efek samping yang perlu diwaspadai adalah penyakit paru inter- Jakarta; Balai Penerbit FK UI.1983:15-25.
12. Mayer RJ. Gastrointestinal tract cancer. In: Harrison»s Principal Internal Medicine 14th
bisa disebabkan oleh keterlibatan sumsum tulang(1). Anemia juga
stitial.; insidensinya mencapai 1%, kurang lebih 2/3 kasus fatal. Anemia akibat proses keganasan bisa disebabkan oleh aktifasi
ed. New York; McGraw-Hill 1998: 569-83. dikaitkan dengan penurunan produksi eritropoietin tubuh, atau
Toksisitas pada hepar perlu diwaspadai, ditandai peningkatan 13. Cunningham D, Humblet Y, Siena S et al. Cetuximab monotherapy and cetuximab sistim imun/ inflamasi yang menyebabkan pelepasan sitokin, a.l,
tumpulnya respon sumsum tulang terhadap eritropoietin(2). Eratnya
transaminase serum. Efek lain adalah diare, rash, kulit kering, plus Irinotecan in Irinotecan-refractory metastatic colorectal cancer. N Engl J Med
hubungan kadar hemoglobin dengan kelelahan (fatigue) akibat TNF (Tumor Necrotizing Factor)-alpha, IFN ( Interferon )-gamma,
2004;351:337-45.
mual, muntah, pruritus, anoreksia, astenia dan penurunan berat 14. Prewett MC, Hooper AT, Bassi R et al. Enhanced antitumor activity of anti-Epidermal penyakit dan kualitas hidup telah lama diketahui. Akan tetapi hubu- dan IL (Interleukin)-1(10,11). Hal tersebut menyebabkan gangguan
badan. Efek samping ini tergantung dosis yang diberikan.21 Growth Factor Receptor monoclonal antibody IMC-C225 in combination with
ngan antara anemia dengan patofisiologi kanker adalah rumit, eritropoiesis, berupa gangguan utilisasi besi, supresi diferensiasi
Irinotecan (CPT-11) against human colorectal tumor xenografts. Clin.l Cancer Res.
2002;8: 994√1003. banyak sisi relasi ini yang masih perlu diteliti(3). Walaupun demikian sel progenitor eritroid, dan gangguan produksi eritropoietin(10).
Penelitian klinis fase I/II gefitinib telah dilakukan pada pasien dengan 15. Meropol NJ. Epidermal Growth Factor Receptor Inhibitors in colorectal cancer: telah banyak pendapat yang menduga anemia bisa mempengaruhi
kanker kolorektal. Pada percobaan ini dilakukan biopsi sebelum dan It»s time to get back on target. J.Clin.Oncol. 2005;23: 1791-93.
16. Castillo L, Grimaldi E, Fischel L, et al. Pharmacological background of EGFR targeting.
respon terapi kanker pada pasien, bahkan yang lebih penting lagi Pasien kanker mempunyai kadar eritropoietin yang lebih rendah
sesudah pengobatan sebagai kriteria evaluasi. Penilaian keberhasilan
Ann. 2004;15: 1007√12, adalah perjalanan penyakitnya. Sejak dekade terakhir telah banyak dibandingkan dengan derajat anemianya, yang berarti adanya
dinilai dari adanya proliferasi, apoptosis dengan pemeriksaan histo- 17. Meyerhardt JA, Mayer R. Systemic therapy for colorectal cancer. N Engl J Med bukti yang menunjukkan anemia berkaitan dengan kegagalan gangguan mekanisme homeostasis antara proses peradangan/
kimia. Hasil penelitian disimpulkan bahwa ZD1839 menghambat 2005;352:476-67.
18. Grothey A, Goldber RM. A review of oxaliplatin and its clinical use in colorectal pengobatan kanker(4). Pada penelitian in vitro dan binatang per- inflamasi yang diikuti proses keganasan(12). Sementara itu lama
sinyal EGFR dan proliferasi sel kanker pada pasien dengan kanker
kolorektal metastasis. ZD1839 juga menginduksi apoptosis sel
cancer. Reprinted from: Expert Opinion on Pharmacother. 2004;5(10):2159-70. cobaan, didapat hasil bahwa anemia menaikkan mutasi, pertum- hidup sel darah merah memendek, sedangkan produksi sel darah
19. Monoclonal antibody blockade of EGFR for the treatment of solid tumor. Cetuximab
kanker.28,29,30 (Erbirux TM) International product monograph.
buhan, potensi metastasis, dan resistensi terhadap terapi pada sel merah yang baru, tak dapat mengatasi lama hidup sel darah
20. Ennis BW, Lippman ME, Dickson RB.The EGF receptor system as a target for tumor; di lain sisi menurunkan potensi apoptosis. Bahkan anemia merah yang berkurang. Dilain pihak adanya perdarahan di lokasi
antitumor therapy. Cancer Invest. 1991;9(5):553-62.[Medline] sendiri bisa merangsang angiogenesis dari sel tumor(5,6). Keberhasilan
Gefitinib telah dicoba sebagai terapi tumor padat, tetapi uji klinis 21. Harari M. Epidermal growth factor receptor inhibition strategies in oncology. tumor, atau perdarahan akibat gangguan pembekuan darah juga
untuk kanker kolorektal masih terbatas. Banyak penelitian atas Endocrine-Related Cancer 2004; 11:689-708. http://erc.endocrinology-journal.org mengatasi anemia pada pasien kanker yang mendapat kemoterapi
berakibat anemia pada pasien kanker(10,13). Prevalensi anemia pada
penggunaannya sebagai terapi kankel paru non small cell lanjut. 22. Watanabe T, Shintani A, Nakata M, Shing Y, Folkman J, Igarashi K, Sasada R. bisa memperbaiki hasil pengobatan dan harapan hidup(7).
Recombinant human betacellulin. Molecular structure, biological activities, and pasien kanker bervariasi tergantung jenis kanker. Beberapa studi
(IDEAL,INTACT).21 receptor interaction. J. Biol. Chem. 1994;269; 9966-73.
Tabel 1 mencantumkan 2 kriteria anemia yang sering digunakan, telah melaporkan prevalensi anemia pada pasien kanker berkisar
23. Arteaga CL.. Epidermal Growth Factor Receptor Dependence in Human Tumors:
More Than Just Expression?. Oncologist 2002; 7(Suppl 4): 31-39. yaitu dari World Health Organization (WHO), dan National Cancer antara 5% pada pasien kanker prostat, sampai 90% pada pasien
24. Arteaga CL, Baselga J. Clinical trial design end point for epidermal growth factor mieloma multipel. Pada pasien kanker serviks, mieloma multipel
receptor-targeted therapies: implication for drug development and practice. Clin.l Institute ( NCI )(8)
Cancer Res. 2003; 9: 1579-89 stadium lanjut dan pasien kanker yang mengalami gangguan
25. Erlichman C, Sargent DJ. New Treatment Options for Colorectal Cancer. N Engl J Med ginjal, prevalensi anemia semakin mencolok(14,15).
Tabel 1. WHO and NCI grading system for Anemia (8).
2004; 351:391-92.
26. Saltz LB, Meropol NJ, Loehrer PJ et al. Phase II trial of cetuximab in patients with
refractory colorectal cancer that expresses the epidermal Growth Factor Receptor. J. Severity WHO ( g/dl ) NCI ( g/dl ) Anemia pada pasien kanker yang mendapat kemoterapi dan atau
Clin. Oncol. 2004; 23:1791-89.
27. Ciardiello F, Caputo R, Bianco R et al. Inhibition of growth factor production and radioterapi kebanyakan akibat mielosupresi, serta juga akibat peng-
Grade 0 ( Normal ) > 11 Normal
angiogenesis in human cancer cells by ZD1839 (Iressa), a Selective Epidermal Growth hancuran sel darah merah selama pengobatan(16). Pasien kanker
Factor Receptor Tyrosine Kinase Inhibitor. Clin. Cancer Res. 2001; 1459√1465.
28. Hirata A, Ogawa S, Kometani T, Kuwano T, Naito S, Kuwano M and Ono M.
Grade 1 ( Mild ) 9,5 √ 10,9 10,0 √ Normal yang mendapat kemoterapi cisplatinum, akan mengalami gangguan
ZD1839 (Iressa) Induces Antiangiogenic Effects through Inhibition of Epidermal
Grade 2 ( Moderate ) 8,0 √ 9,4 8,0 √ 10,0
produksi eritropoietin, sehingga semakin memperlama masa anemia-
Growth Factor Receptor Tyrosine Kinase. Cancer Res. 2002; 62: 2554-2560.
29. Daneshmand M, Parolin DAE, Hirte HW, et al. Pharmacodynamic Study of the nya. Kombinasi kemoterapi cisplatinum dan etoposide pada pasien
Epidermal Growth Factor Receptor Tyrosine Kinase Inhibitor ZD1839 in Metastatic Grade 3 ( Severe ) 6,5 √ 7,9 6,5 -7,9 kanker paru, berakibat anemia sekitar 16-55 % pasien(17). Radio-
Colorectal Cancer Patients. http://clincancerres.aarcjournals.org.
30. Arteaga CL, Johnson DH. Tyrosine kinase inhibitors-ZD1839 (Iressa). Curr Opin Oncol. Grade 4 ( Life-threatening ) < 6,5 < 6,5 terapi juga menaikkan kejadian anemia pada pasien kanker sekitar
2001 Nov;13(6):491-8.[Medline] 41-54% pasca radiasi (14,17).

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
12 13
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Food and Drug Administration mengakui penggunaan bevaci- DAFTAR PUSTAKA

Eritropoietin
zumab dalam kombinasi dengan regimen flurouracil IV sebagai 1. Ferlay J, Bray F, Pisani P, Parkin DM.GLOBOCAN 2002: cancer incidence, mortality
and prevalence worldwide. IARC Cancer Base no. 5, version 2.0. Lyon, France: IARC
terapi awal pada kanker kolorektal lanjut. Belum jelas apakah Press, 2004.
aktivitasnya terutama melalui mekanisme antiangiogensis saja atau
apakah pengaruhnya terhadap vaskularisasi tumor, sehingga me-
2. Jemal A, Murray T, Ward E, et al. Cancer statistics, 2005. CA Cancer J Clin 2005;55: 10-30.
3. Kelompok Kerja Adenokolorektal Indonesia. Pengelolaan Karsinoma Kolorektal. 2004.
4. Jeekel J. Tumor usus halus dan usus besar. Dalam: van de Velde, CJH, Bosman FT,
Rekombinan pada Penderita Kanker
ningkatkan masuknya bahan kemoterapi ke dalam sel kanker.17 Wagener DJTh. Onkologi. Yogyakarta, Gadjah Mada University Press. 1999:393-407.
5. Hadi S. Tumor di kolon dan rectum. dalam: Gastroenterologi. Bandung, PT. Alumni Syafrizal Syafei
Bandung. 2002:386-401. Divisi Hematologi-Onkologi Medik RS Cipto Mangunkusumo-RS Kanker Dharmais/
GEFITINIB
6. Schein PS. Kanker kolon. Dalam: Seri Skema Diagnosis dalam Penatalaksanaan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Inodnesia, Jakarta, Indonesia
Pemberian dosis tunggal hingga 700 mg pada relawan sehat dan Onkologi. Jakarta; Binurapa Aksara. 1997: 82-83
pasien dengan keganasan lanjut menghasilkan konsentrasi puncak 7. Schein PS. Kanker rektal. Dalam: Seri Skema Diagnosis dalam Penatalaksanaan
Onkologi. Jakarta; Binurapa Aksara. 1997: 84-85. PENDAHULUAN PATOGENESIS dan PATOFISIOLOGI ANEMIA pada KANKER
plasma dicapai pada 3-7 jam, dengan waktu paruh eliminasi 8. Hadi S. Tumor Kolorektal. Dalam: Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta; Balai Penerbit
kurang lebih 48 jam. Pemberian oral pada pasien kanker mem- FKUI. 2001: 205-11. Anemia adalah kelainan hematologi yang biasa dan tersering Kausa anemia pada kanker multifaktor, sebagian berkaitan dengan
berikan akumulasi 2 kali lipat dibandingkan dengan dosis tunggal, 9. Simadibrata R. Dianosis dini kanker kolon-rektum dan hati serta penanggulangannya, ditemui pada pasien kanker. Penyebab anemia pada pasien kanker proses keganasannya, sedangkan lainnya berkaitan dengan
dalam: Karsinoma Kolon-rektum dan hati, diagnosis dini dan penanggulangannya.
konsentrasi plasma keadaan steady state dicapai dalam 10 hari. Jakarta; Balai Penerbit FKUI.1983:1-5.
multifaktor. Banyak pasien telah didiagnosis anemia akibat penyakit pengobatan(9). Faktor-faktor yang menaikkan risiko anemia antara
Pemberian Gefitinib jangka panjang umumnya ditolerir pada 10. Kartoleksono. Diagnosis dini kanker kolon-rektum dan hati serta penanggulangannya, kronik, sebelum diagnosis kankernya ditegakkan. Di lain pihak lain: tipe, stadium, dan lama kanker diderita, serta rejimen dan
dosis hingga 600 mg/hari. Toksisitas gastrointestinal tampaknya dalam: Karsinoma Kolon-rektum dan hati, diagnosis dini dan penanggulangannya. anemia pada pasien kanker juga disebabkan oleh radioterapi dan
Jakarta; Balai Penerbit FK UI.1983:7-11. intensitas terapi yang diterima, ada tidaknya infeksi, juga tindakan
sebagai akibat paparan langsung sel epitel intestinal.21 11. Kartowisastro H. Terapi Pembedahan karsinoma kolon dan perawatan stoma kolon, atau kemoterapi yang didapatnya. Pada pasien kanker yang telah
operasi yang dialami(1).
dalam: Karsinoma Kolon-rektum dan hati, diagnosis dini dan penanggulangannya. mengalami metastasis, atau keganasan darah, maka anemianya
Efek samping yang perlu diwaspadai adalah penyakit paru inter- Jakarta; Balai Penerbit FK UI.1983:15-25.
12. Mayer RJ. Gastrointestinal tract cancer. In: Harrison»s Principal Internal Medicine 14th
bisa disebabkan oleh keterlibatan sumsum tulang(1). Anemia juga
stitial.; insidensinya mencapai 1%, kurang lebih 2/3 kasus fatal. Anemia akibat proses keganasan bisa disebabkan oleh aktifasi
ed. New York; McGraw-Hill 1998: 569-83. dikaitkan dengan penurunan produksi eritropoietin tubuh, atau
Toksisitas pada hepar perlu diwaspadai, ditandai peningkatan 13. Cunningham D, Humblet Y, Siena S et al. Cetuximab monotherapy and cetuximab sistim imun/ inflamasi yang menyebabkan pelepasan sitokin, a.l,
tumpulnya respon sumsum tulang terhadap eritropoietin(2). Eratnya
transaminase serum. Efek lain adalah diare, rash, kulit kering, plus Irinotecan in Irinotecan-refractory metastatic colorectal cancer. N Engl J Med
hubungan kadar hemoglobin dengan kelelahan (fatigue) akibat TNF (Tumor Necrotizing Factor)-alpha, IFN ( Interferon )-gamma,
2004;351:337-45.
mual, muntah, pruritus, anoreksia, astenia dan penurunan berat 14. Prewett MC, Hooper AT, Bassi R et al. Enhanced antitumor activity of anti-Epidermal penyakit dan kualitas hidup telah lama diketahui. Akan tetapi hubu- dan IL (Interleukin)-1(10,11). Hal tersebut menyebabkan gangguan
badan. Efek samping ini tergantung dosis yang diberikan.21 Growth Factor Receptor monoclonal antibody IMC-C225 in combination with
ngan antara anemia dengan patofisiologi kanker adalah rumit, eritropoiesis, berupa gangguan utilisasi besi, supresi diferensiasi
Irinotecan (CPT-11) against human colorectal tumor xenografts. Clin.l Cancer Res.
2002;8: 994√1003. banyak sisi relasi ini yang masih perlu diteliti(3). Walaupun demikian sel progenitor eritroid, dan gangguan produksi eritropoietin(10).
Penelitian klinis fase I/II gefitinib telah dilakukan pada pasien dengan 15. Meropol NJ. Epidermal Growth Factor Receptor Inhibitors in colorectal cancer: telah banyak pendapat yang menduga anemia bisa mempengaruhi
kanker kolorektal. Pada percobaan ini dilakukan biopsi sebelum dan It»s time to get back on target. J.Clin.Oncol. 2005;23: 1791-93.
16. Castillo L, Grimaldi E, Fischel L, et al. Pharmacological background of EGFR targeting.
respon terapi kanker pada pasien, bahkan yang lebih penting lagi Pasien kanker mempunyai kadar eritropoietin yang lebih rendah
sesudah pengobatan sebagai kriteria evaluasi. Penilaian keberhasilan
Ann. 2004;15: 1007√12, adalah perjalanan penyakitnya. Sejak dekade terakhir telah banyak dibandingkan dengan derajat anemianya, yang berarti adanya
dinilai dari adanya proliferasi, apoptosis dengan pemeriksaan histo- 17. Meyerhardt JA, Mayer R. Systemic therapy for colorectal cancer. N Engl J Med bukti yang menunjukkan anemia berkaitan dengan kegagalan gangguan mekanisme homeostasis antara proses peradangan/
kimia. Hasil penelitian disimpulkan bahwa ZD1839 menghambat 2005;352:476-67.
18. Grothey A, Goldber RM. A review of oxaliplatin and its clinical use in colorectal pengobatan kanker(4). Pada penelitian in vitro dan binatang per- inflamasi yang diikuti proses keganasan(12). Sementara itu lama
sinyal EGFR dan proliferasi sel kanker pada pasien dengan kanker
kolorektal metastasis. ZD1839 juga menginduksi apoptosis sel
cancer. Reprinted from: Expert Opinion on Pharmacother. 2004;5(10):2159-70. cobaan, didapat hasil bahwa anemia menaikkan mutasi, pertum- hidup sel darah merah memendek, sedangkan produksi sel darah
19. Monoclonal antibody blockade of EGFR for the treatment of solid tumor. Cetuximab
kanker.28,29,30 (Erbirux TM) International product monograph.
buhan, potensi metastasis, dan resistensi terhadap terapi pada sel merah yang baru, tak dapat mengatasi lama hidup sel darah
20. Ennis BW, Lippman ME, Dickson RB.The EGF receptor system as a target for tumor; di lain sisi menurunkan potensi apoptosis. Bahkan anemia merah yang berkurang. Dilain pihak adanya perdarahan di lokasi
antitumor therapy. Cancer Invest. 1991;9(5):553-62.[Medline] sendiri bisa merangsang angiogenesis dari sel tumor(5,6). Keberhasilan
Gefitinib telah dicoba sebagai terapi tumor padat, tetapi uji klinis 21. Harari M. Epidermal growth factor receptor inhibition strategies in oncology. tumor, atau perdarahan akibat gangguan pembekuan darah juga
untuk kanker kolorektal masih terbatas. Banyak penelitian atas Endocrine-Related Cancer 2004; 11:689-708. http://erc.endocrinology-journal.org mengatasi anemia pada pasien kanker yang mendapat kemoterapi
berakibat anemia pada pasien kanker(10,13). Prevalensi anemia pada
penggunaannya sebagai terapi kankel paru non small cell lanjut. 22. Watanabe T, Shintani A, Nakata M, Shing Y, Folkman J, Igarashi K, Sasada R. bisa memperbaiki hasil pengobatan dan harapan hidup(7).
Recombinant human betacellulin. Molecular structure, biological activities, and pasien kanker bervariasi tergantung jenis kanker. Beberapa studi
(IDEAL,INTACT).21 receptor interaction. J. Biol. Chem. 1994;269; 9966-73.
Tabel 1 mencantumkan 2 kriteria anemia yang sering digunakan, telah melaporkan prevalensi anemia pada pasien kanker berkisar
23. Arteaga CL.. Epidermal Growth Factor Receptor Dependence in Human Tumors:
More Than Just Expression?. Oncologist 2002; 7(Suppl 4): 31-39. yaitu dari World Health Organization (WHO), dan National Cancer antara 5% pada pasien kanker prostat, sampai 90% pada pasien
24. Arteaga CL, Baselga J. Clinical trial design end point for epidermal growth factor mieloma multipel. Pada pasien kanker serviks, mieloma multipel
receptor-targeted therapies: implication for drug development and practice. Clin.l Institute ( NCI )(8)
Cancer Res. 2003; 9: 1579-89 stadium lanjut dan pasien kanker yang mengalami gangguan
25. Erlichman C, Sargent DJ. New Treatment Options for Colorectal Cancer. N Engl J Med ginjal, prevalensi anemia semakin mencolok(14,15).
Tabel 1. WHO and NCI grading system for Anemia (8).
2004; 351:391-92.
26. Saltz LB, Meropol NJ, Loehrer PJ et al. Phase II trial of cetuximab in patients with
refractory colorectal cancer that expresses the epidermal Growth Factor Receptor. J. Severity WHO ( g/dl ) NCI ( g/dl ) Anemia pada pasien kanker yang mendapat kemoterapi dan atau
Clin. Oncol. 2004; 23:1791-89.
27. Ciardiello F, Caputo R, Bianco R et al. Inhibition of growth factor production and radioterapi kebanyakan akibat mielosupresi, serta juga akibat peng-
Grade 0 ( Normal ) > 11 Normal
angiogenesis in human cancer cells by ZD1839 (Iressa), a Selective Epidermal Growth hancuran sel darah merah selama pengobatan(16). Pasien kanker
Factor Receptor Tyrosine Kinase Inhibitor. Clin. Cancer Res. 2001; 1459√1465.
28. Hirata A, Ogawa S, Kometani T, Kuwano T, Naito S, Kuwano M and Ono M.
Grade 1 ( Mild ) 9,5 √ 10,9 10,0 √ Normal yang mendapat kemoterapi cisplatinum, akan mengalami gangguan
ZD1839 (Iressa) Induces Antiangiogenic Effects through Inhibition of Epidermal
Grade 2 ( Moderate ) 8,0 √ 9,4 8,0 √ 10,0
produksi eritropoietin, sehingga semakin memperlama masa anemia-
Growth Factor Receptor Tyrosine Kinase. Cancer Res. 2002; 62: 2554-2560.
29. Daneshmand M, Parolin DAE, Hirte HW, et al. Pharmacodynamic Study of the nya. Kombinasi kemoterapi cisplatinum dan etoposide pada pasien
Epidermal Growth Factor Receptor Tyrosine Kinase Inhibitor ZD1839 in Metastatic Grade 3 ( Severe ) 6,5 √ 7,9 6,5 -7,9 kanker paru, berakibat anemia sekitar 16-55 % pasien(17). Radio-
Colorectal Cancer Patients. http://clincancerres.aarcjournals.org.
30. Arteaga CL, Johnson DH. Tyrosine kinase inhibitors-ZD1839 (Iressa). Curr Opin Oncol. Grade 4 ( Life-threatening ) < 6,5 < 6,5 terapi juga menaikkan kejadian anemia pada pasien kanker sekitar
2001 Nov;13(6):491-8.[Medline] 41-54% pasca radiasi (14,17).

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
12 13
TINJAUAN PUSTAKA

ERITROPOIETIN REKOMBINAN 7. Ada satu uji klinik berdisain baik, terandomisasi dan dengan
Eritropoietin dalam darah dibuat oleh sel-sel interstitial peritubuler plasebo yang menunjukkan manfaat eritropoietin pada pasien
ginjal atas kendali gen yang berada dalam kromosom 7q11-22. anemia akibat Myelodisplasia resiko rendah. Tapi tak ada studi
Gen tersebut membuat polipeptida yang terdiri atas 193 asam- yang baik yang mendukung pemberian eritropoietin pada
amino(18). Selama modifikasi pasca tranlasi, terjadi glikosilasi yang mieloma multipel, limfoma nonHodgkin, leukemia limfositik
akhirnya membentuk mature eritropoietin (= eritropoietin rekom- kronik yang tak mendapat kemoterapi. Bila mendapat kemo-
binan) yang terdiri dari 165 asam-amino(18). Proliferasi, diferen- terapi maka sebaiknya pemberian eritropoietin sesuai dengan
siasi dan maturasi sel darah merah memerlukan eritropoietin, panduan diatas.
Bahkan eritropoietin mutlak bagi survival progenitor sel darah 8. Dokter yang merawat pasien mieloma multipel, limfoma non
merah di sumsum-tulang, juga mempunyai kemampuan immuno- Hodgkin dan leukemia limfositik kronik disarankan untuk
modulatory(19,20). memulai terapi dengan kemoterapi atau kortikosteroid
dengan melihat hasil lab. hematologi sebelum memberikan
Terdapat empat jenis eritropoietin rekombinan, yaitu alfa, beta, eritropoietin. Bila tak ada kenaikkan Hb setelah kemoterapi
delta dan omega, secara komersial yang tersedia saat ini adalah maka pemberian eritropoietin agar sesuai dengan panduan
alfa dan beta. Sejak tahun 1989 Food Drug Administration (FDA), diatas. Transfusi sel darah merah juga suatu pilihan.
telah mengizinkan pemberian eritropoietin rekombinan pada pasien
Komplikasi pemberian
anemia akibat gagal ginjal kronik, dan sejak itu banyak studi yang
Yang terbanyak ialah flu-like syndrome, biasanya ringan dan hilang
meneliti kegunaannya pada anemia pada pasien kanker (21)
dalam sehari. Ada juga yang melaporkan hipertensi, trombosis,
akibat cepatnya kenaikan Hb selama pengobatan. Efek samping
Pada Mei 2001, setelah diskusi lama sejak tahun 1997, para pakar
lain seperti reaksi alergi/anafilaksis, kejang, hiperkalemia dan
dari American Society of Clinical Oncology (ASCO) dan American
trombositosis jarang dilaporkan (18).
Society of Hematology (ASH), berhasil membuat rekomendasi
pemakaian eritropoietin rekombinan pada pasien kanker (21).
Komplikasi yang serius, tapi amat jarang adalah Pure Red Cell
Aplasia (PRCA) terjadi pada pasien gagal ginjal yang mendapat
Rekomendasi ASCO dan ASH untuk pemakaian eritropoietin
terapi eritropoietin (22).
rekombinan pada pasien kanker (21) :
1. Pemakaian eritropoietin disarankan sebagai pilihan terapi Penatalaksanaan PRCA yang berkaitan dengan pemakaian eritro-
pada pasien anemia akibat kemoterapi yang Hb-nya < 10 g/dl. poietin adalah penghentian pemberian epoietin, pemberian imuno-
Transfusi sel darah merah juga suatu pilihan, tergantung supresan dengan/tanpa imunoglobulin, transfusi darah, serta biopsi
derajat anemia dan keadaan klinik. sumsum tulang untuk memastikan adanya PRCA (22).
2. Bagi pasien dengan Hb rendah, tapi tak berat ( Hb < 12 g/dl -
> 10 g/dl ), keputusan untuk pemakaian Eritropoietin segera SIMPULAN
atau menunggu sampai Hb mendekati 10 g/dl sebaiknya Sejak diakui kegunaannya dalam mengatasi anemia pada pasien
tergantung keadaan klinik. Transfusi sel darah merah juga gagal ginjal, maka manfaat terapi eritropoietin terus diselidiki
pilihan, bila keadaan klinik memerlukan. pada pelbagai keadaan, termasuk pada anemia akibat kanker.
3. Rekomendasi berdasarkan uji klinik, yaitu eritropoietin subkutan Sejak 2001 ASCO dan ASH telah mengeluarkan rekomendasi pem-
3x/mgg mulai 150 U/kgBB selama minimum 4 minggu berian eritropoietin pada pasien kanker.
dengan pertimbangan eskalasi dosis sampai 300 U/kgBB Pada pasien kanker disarankan pemakaian eritropoietin bagi kelompok
untuk 4 √ 8 minggu berikutnya, bila respon pada dosis awal yang kemungkinan besar responsif.
belum didapat.
Suplementasi besi disarankan karena terapi eritropoietin yang
4. Meneruskan terapi eritropoietin di atas 6 √ 8 minggu pada mempercepat eritropoiesis akan menyebabkan defisiensi besi secara
keadaan tak ada respon (yaitu < 1-2 g/dl kenaikkan Hb) fungsional.
menunjukkan pasien non-responder berarti tak ada guna
Walaupun demikian kendala biaya patut juga jadi pertimbangan
diteruskan pemberiannya.
pemakaian eritropoietin.
5. Hemoglobin dapat naik sampai 12 g/dl, maka terapi eritropoi etin
dapat dikurangi, dan diberikan lagi bila Hb mendekati 10 g/dl.
6. Diperlukan data awal dan periodik dari kadar besi, TIBC, DAFTAR PUSTAKA
Transferrin, atau Ferritin, serta pemberian besi bila ada indikasi. Untuk Informasi rincian Daftar Pustaka, silahkan menghubungi redaksi.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


14
TINJAUAN PUSTAKA

ERITROPOIETIN REKOMBINAN 7. Ada satu uji klinik berdisain baik, terandomisasi dan dengan
Eritropoietin dalam darah dibuat oleh sel-sel interstitial peritubuler plasebo yang menunjukkan manfaat eritropoietin pada pasien
ginjal atas kendali gen yang berada dalam kromosom 7q11-22. anemia akibat Myelodisplasia resiko rendah. Tapi tak ada studi
Gen tersebut membuat polipeptida yang terdiri atas 193 asam- yang baik yang mendukung pemberian eritropoietin pada
amino(18). Selama modifikasi pasca tranlasi, terjadi glikosilasi yang mieloma multipel, limfoma nonHodgkin, leukemia limfositik
akhirnya membentuk mature eritropoietin (= eritropoietin rekom- kronik yang tak mendapat kemoterapi. Bila mendapat kemo-
binan) yang terdiri dari 165 asam-amino(18). Proliferasi, diferen- terapi maka sebaiknya pemberian eritropoietin sesuai dengan
siasi dan maturasi sel darah merah memerlukan eritropoietin, panduan diatas.
Bahkan eritropoietin mutlak bagi survival progenitor sel darah 8. Dokter yang merawat pasien mieloma multipel, limfoma non
merah di sumsum-tulang, juga mempunyai kemampuan immuno- Hodgkin dan leukemia limfositik kronik disarankan untuk
modulatory(19,20). memulai terapi dengan kemoterapi atau kortikosteroid
dengan melihat hasil lab. hematologi sebelum memberikan
Terdapat empat jenis eritropoietin rekombinan, yaitu alfa, beta, eritropoietin. Bila tak ada kenaikkan Hb setelah kemoterapi
delta dan omega, secara komersial yang tersedia saat ini adalah maka pemberian eritropoietin agar sesuai dengan panduan
alfa dan beta. Sejak tahun 1989 Food Drug Administration (FDA), diatas. Transfusi sel darah merah juga suatu pilihan.
telah mengizinkan pemberian eritropoietin rekombinan pada pasien
Komplikasi pemberian
anemia akibat gagal ginjal kronik, dan sejak itu banyak studi yang
Yang terbanyak ialah flu-like syndrome, biasanya ringan dan hilang
meneliti kegunaannya pada anemia pada pasien kanker (21)
dalam sehari. Ada juga yang melaporkan hipertensi, trombosis,
akibat cepatnya kenaikan Hb selama pengobatan. Efek samping
Pada Mei 2001, setelah diskusi lama sejak tahun 1997, para pakar
lain seperti reaksi alergi/anafilaksis, kejang, hiperkalemia dan
dari American Society of Clinical Oncology (ASCO) dan American
trombositosis jarang dilaporkan (18).
Society of Hematology (ASH), berhasil membuat rekomendasi
pemakaian eritropoietin rekombinan pada pasien kanker (21).
Komplikasi yang serius, tapi amat jarang adalah Pure Red Cell
Aplasia (PRCA) terjadi pada pasien gagal ginjal yang mendapat
Rekomendasi ASCO dan ASH untuk pemakaian eritropoietin
terapi eritropoietin (22).
rekombinan pada pasien kanker (21) :
1. Pemakaian eritropoietin disarankan sebagai pilihan terapi Penatalaksanaan PRCA yang berkaitan dengan pemakaian eritro-
pada pasien anemia akibat kemoterapi yang Hb-nya < 10 g/dl. poietin adalah penghentian pemberian epoietin, pemberian imuno-
Transfusi sel darah merah juga suatu pilihan, tergantung supresan dengan/tanpa imunoglobulin, transfusi darah, serta biopsi
derajat anemia dan keadaan klinik. sumsum tulang untuk memastikan adanya PRCA (22).
2. Bagi pasien dengan Hb rendah, tapi tak berat ( Hb < 12 g/dl -
> 10 g/dl ), keputusan untuk pemakaian Eritropoietin segera SIMPULAN
atau menunggu sampai Hb mendekati 10 g/dl sebaiknya Sejak diakui kegunaannya dalam mengatasi anemia pada pasien
tergantung keadaan klinik. Transfusi sel darah merah juga gagal ginjal, maka manfaat terapi eritropoietin terus diselidiki
pilihan, bila keadaan klinik memerlukan. pada pelbagai keadaan, termasuk pada anemia akibat kanker.
3. Rekomendasi berdasarkan uji klinik, yaitu eritropoietin subkutan Sejak 2001 ASCO dan ASH telah mengeluarkan rekomendasi pem-
3x/mgg mulai 150 U/kgBB selama minimum 4 minggu berian eritropoietin pada pasien kanker.
dengan pertimbangan eskalasi dosis sampai 300 U/kgBB Pada pasien kanker disarankan pemakaian eritropoietin bagi kelompok
untuk 4 √ 8 minggu berikutnya, bila respon pada dosis awal yang kemungkinan besar responsif.
belum didapat.
Suplementasi besi disarankan karena terapi eritropoietin yang
4. Meneruskan terapi eritropoietin di atas 6 √ 8 minggu pada mempercepat eritropoiesis akan menyebabkan defisiensi besi secara
keadaan tak ada respon (yaitu < 1-2 g/dl kenaikkan Hb) fungsional.
menunjukkan pasien non-responder berarti tak ada guna
Walaupun demikian kendala biaya patut juga jadi pertimbangan
diteruskan pemberiannya.
pemakaian eritropoietin.
5. Hemoglobin dapat naik sampai 12 g/dl, maka terapi eritropoi etin
dapat dikurangi, dan diberikan lagi bila Hb mendekati 10 g/dl.
6. Diperlukan data awal dan periodik dari kadar besi, TIBC, DAFTAR PUSTAKA
Transferrin, atau Ferritin, serta pemberian besi bila ada indikasi. Untuk Informasi rincian Daftar Pustaka, silahkan menghubungi redaksi.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


14
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Glioblastoma dan Mekanisme Resistensi dengan gen Ketika gen MMR gagal memperbaiki lesi mismatch tersebut, ia akan

Implikasi Hipermetilasi DNA Repair


Glioblastoma adalah jenis kanker yang sulit dideteksi dini. Prognosis
mengaktifkan proses apoptosis (kematian sel) sehingga terjadilah
cytotoxicity. Terjadinya apoptosis ini bertujuan agar sel yang memiliki

Gen MGMT di Kanker Otak: kanker glioblastoma sangat buruk; mayoritas penderitanya meninggal
sekitar 2 tahun setelah diagnosis(5). Faktor prognosis, yaitu parameter
potensi perubahan genetik bisa tereliminasi secara alami sehingga
mengurangi kemungkinan tercetusnya kanker. Kegagalan MMR

Contoh Aplikasi Farmakogenomik yang bisa memperkirakan laju perkembangan kanker, adalah
umur, nekrosis, dan skor Karnofsky Performance Status (KPS) (5-7).
dalam memperbaiki lesi bisa terjadi apabila gen MGMT yang ber-
tugas mengenali O6-meG dan menggantikannya dengan Guanine
Mengenai umur, 50% pasien yang berumur dibawah 40 tahun tidak melakukan tugasnya dengan baik(9).
Ahmad R. Utomo, Ferry Sandra
Stem Cell and Cancer Institute, Kalbe Farma Pharmaceutical Company bisa hidup selama 18 bulan, 20% untuk pasien berumur antara
Jakarta 13210, Indonesia 40-60 tahun, dan hanya 10% bagi pasien di atas 60 tahun(5). Studi in vitro menunjukkan bahwa sel yang tidak memiliki ekspresi
gen MGMT memiliki sensitifitas yang tinggi ketika dipaparkan
Keberadaan nekrosis memberikan prognosis buruk terhadap nasib
dengan zat kemoterapi yang meng-alkilasi DNA(10). Di lain pihak, sel
penderita. Nekrosis yang mencapai 50% atau lebih dari volume
ABSTRAK yang memiliki ekspresi gen MGMT secara normal atau lebih, akan
kanker, memberi kemungkinan untuk bertahan hidup selama 10
Farmakogenomik bertujuan untuk mengoptimasi strategi pengobatan dengan memperhatikan faktor genetik dan memiliki resistensi terhadap zat DNA alkilasi tersebut. Maka, salah
bulan saja(7). Selanjutnya, makin tinggi skor KPS, makin baik
satu mekanisme resistensi sel kanker terhadap kemoterapi adalah
epigenetik pasien. Hipermetilasi promotor adalah proses epigenetik yang menghambat ekspresi gen. Hipermetilasi prognosis pasien. Tingkat kelangsungan hidup pasien dengan
dengan mengekspresikan gen MGMT. Di samping itu, sel kanker
gen MGMT terjadi di sekitar 30-40% pasien glioblastoma. Tindakan bedah yang diikuti dengan kombinasi obat skor KPS di atas 70 adalah 34% dan di bawah 70 adalah 13%
yang sudah tidak lagi memiliki gen MGMT juga akan menjadi
Temozolomide (obat sitotoksik yang meng-alkilasi DNA) dan terapi radiasi merupakan strategi terbaik saat ini untuk untuk bertahan hidup selama 18 bulan(5).
resisten terhadap akibat cytotoxicity apabila ia juga kehilangan
pasien glioblastoma. Lebih dari itu, pasien yang mengalami hipermetilasi MGMT memiliki respon yang lebih baik dan ekspresi gen MMR(11). Hilangnya fungsi gen MGMT dan MMR
median kelangsungan hidup yang lebih lama dibanding dengan pasien yang tidak mengalami hipermetilasi. Menariknya, Hingga saat ini standar pengobatan terbaik konvensional adalah sekaligus memberikan efek yang lebih hebat dalam pertumbuhan
lebih dari 70% pasien yang masih hidup selama 3 tahun atau lebih ternyata mengalami hipermetilasi di gen MGMT. tindakan bedah dengan resection atau mengambil jaringan kanker kanker karena ia memberikan kemudahan dalam memutasi gen-gen
sebanyak mungkin, diikuti oleh radioterapi dan/atau kemoterapi(8). lainnya, sehingga bisa menjadi jenis kanker yang lebih ganas(12).
Maka, hipermetilasi di promoter gen MGMT adalah faktor prediktif yang positif dan menjadi paradigma untuk kemoterapi
Standar ini lahir dari hasil uji klinis secara acak melibatkan sekitar Hal-hal seperti ini menjadi dasar pertimbangan dalam farmako-
kanker di masa depan.
600 pasien dari berbagai pusat di Eropa yang menunjukkan bahwa genomik : status genetik dari kanker itu sendiri perlu dijadikan per-
pasien bedah yang diikuti oleh gabungan radioterapi dengan timbangan dalam pemilihan dan penetapan strategi kemoterapi.
Kata-kata kunci: hipermetilasi, glioblastoma, temozolomide, pharmakogenomik
kemoterapi (temozolomide) memiliki respon yang lebih baik di-
Abbreviations: MGMT: O6-methylguanine (O6-MG)-DNA-methyltransferase banding dengan radioterapi saja. Tingkat kelangsungan hidup Korelasi hipermetilasi gen MGMT dengan respon terhadap
selama 2 tahun adalah 10% untuk pasien dengan radioterapi, temozolomide
dan 26% untuk pasien yang mendapatkan kombinasi radioterapi Sejak ditemukannya fenomena hipermetilasi DNA(13), beberapa
PENDAHULUAN DEFINISI FARMAKOGENOMIK
’ dan kemoterapi (dengan temozolomide). Namun demikian, tingkat gen yang penting dalam metabolisme sel, perbaikan DNA, atau
Pengobatan kanker hingga sekarang masih merupakan tantangan. Farmakogenomik diartikan sebagai individualisasi pengobatan
kelangsungan hidup secara keseluruhan belum banyak berubah, pencetusan kanker dievaluasi daerah promotornya untuk dilihat
Fatalnya efek samping (Adverse Drug Reaction/ADR) zat kemo- melalui seleksi jenis obat atau dosis obat tertentu yang didasarkan
kepada tes profil genetika seseorang terhadap efek obat baik secara kurang dari 5% penderita masih bertahan setelah 5 tahun(8). kadar hipermetilasi di daerah tersebut (12). Beberapa laporan me-
terapi dan timbulnya resistensi atau tidak responnya pasien terha- ’ nunjukkan bahwa gen MGMT terhipermetilasi di daerah promotor-
dap kemoterapi adalah gambaran kompleksitas strategi terapi langsung (tes genotip) atau tidak langsung (tes fenotip) (4). Dengan
demikian aplikasi farmakogenomik bertujuan untuk mengoptimalisasi Temozolomide, sebagaimana mayoritas zat kemoterapi lainnya, nya sehingga menghambat ekspresi gen tersebut. Frekuensi
dalam melawan kanker(1). Secara tradisional, faktor genetik pasien hipermetilasi di gen MGMT terjadi di berbagai jenis kanker, termasuk
toksisitas obat terhadap kanker dan mengurangi efek samping. adalah zat bersifat genotoxic (merusak DNA) sekaligus cytotoxic
belum menjadi parameter yang dipertimbangkan dalam memilih di sekitar 30-40% pasien glioblastoma, kolorektal, nasofaring,
Dengan kata lain, status genetik dari pasien dan dari kanker di (penyebab kematian sel)(9). Cara kerja Temozolomide adalah
jenis pengobatan kanker(2). Parameter yang umum digunakan dalam tubuh pasien dianalisis terlebih dahulu guna menyeleksi jenis, dan rahim. Di sisi lain, jenis kanker seperti payudara, ovarium,
dengan meng-alkilasi DNA di posisi oksigen yang ke-6 (O6) dari
pemilihan dan pemberian dosis kemoterapi adalah jenis tumor, dosis, dan strategi yang optimal sebelum kemoterapi dimulai. gugus guanidine, sehingga menghasilkan alkilasi guanidine atau endometrium, hati dan pankreas jarang mengalami hipermetilasi
karakter patologi/histologi, tahapan klinis, umur, berat badan dan di gen MGMT(12).
O6-meG. Contoh lain zat kemoterapi yang mengalkilasi DNA
luas permukaan tubuh (2,3). Untuk jenis kanker tertentu seperti kanker payudara atau kanker adalah nitrosourea (seperti BCNU atau carmustine), procarbazine,
paru-paru, prinsip farmakogenomik sudah mulai diterapkan dengan Konsekuensi dari hipermetilasi gen MGMT ternyata memiliki
dan streptozotocin(9). Terbentuknya gugus O6-meG ini dikenali dan
Namun parameter tradisional tersebut tidak bisa menjelaskan mendeteksi status ekspresi Estrogen Receptor (ER), amplifikasi gen dampak klinis yang bermakna dalam kemoterapi. Di tahun 2000,
diperbaiki menjadi gugus guanidine kembali oleh enzim MGMT
Her2/neu, atau mutasi gen EGFR sebelum pengobatan dengan Tamo- tim yang dipimpin James Herman di sekolah kedokteran Johns
mengapa respon pasien dan kanker pasien terhadap kemoterapi ber- (O6 methylguanine DNA methyltransferase)(9).
xifen, Trastuzumab (antibodi melawan Her2) atau Iressa (antibodi Hopkins, AS menganalisis secara retrospektif hipermetilasi gen
beda-beda, walaupun memiliki parameter yang sama. Pengetahuan
melawan EGFR)(4). Artinya, pasien yang jaringan kankernya tidak MGMT dari 47 sampel kanker otak dari pasien, sebelum mereka
biologi molekuler modern menunjukkan bahwa faktor genetik Normalnya, gugus guanine berpasangan dengan gugus cytosine.
mengekspresikan amplifikasi gen Her2 atau tidak mengalami mutasi menjalani tindakan bedah yang diikuti dengan radiasi dan kemo-
seseorang dan status genetik di kanker pasien itu sendiri memiliki Apabila gugus O6-meG ini tidak diperbaiki, maka ia akan ber-
di EGFR di permukaan selnya tentu saja bukan kandidat yang tepat. terapi dengan Temozolomide (14). Hasil penelitian menunjukkan
peran penting dalam menentukan keberhasilan kemoterapi yang pasangan dengan gugus thymine. Berpasangannya gugus O6-meG bahwa hipermetilasi promoter gen MGMT terjadi di 40% dari
Di samping mengoptimalkan kinerja jenis obat-obat yang berbasis
maksimal dan yang memberikan efek samping minimal. Maka antibodi dalam melawan kanker, farmakogenomik juga memberikan (yang mirip dengan gugus aslinya yaitu guanidine) dengan thymine pasien. Persentase hipermetilasi ini tidak dipengaruhi oleh umur,
salah satu cabang ilmu dalam era paska genomik yang mempela- kontribusi dengan mengoptimalkan kemoterapi konvensional yang akan merusak struktur helix dari DNA. Struktur ini akan terdeteksi skor KPS dan tingkat keganasan kanker. Dalam analisis univariasi,
jari interaksi genetik dengan pengobatan/farmakologi adalah sudah ada(2). Dalam rentang 5 tahun terakhir, aplikasi farmakoge- sebagai pasangan yang mismatch (tidak sepadan) dan akan diperbaiki adanya hipermetilasi berkorelasi dengan respons klinis dan tingkat
Farmakogenomik(1). nomik mulai terlihat dalam perawatan penderita kanker glioblastoma. oleh sekelompok gen dari jenis Mismatch Repair (MMR)(9). kelangsungan hidup (Overall Survival).

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
16 17
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Glioblastoma dan Mekanisme Resistensi dengan gen Ketika gen MMR gagal memperbaiki lesi mismatch tersebut, ia akan

Implikasi Hipermetilasi DNA Repair


Glioblastoma adalah jenis kanker yang sulit dideteksi dini. Prognosis
mengaktifkan proses apoptosis (kematian sel) sehingga terjadilah
cytotoxicity. Terjadinya apoptosis ini bertujuan agar sel yang memiliki

Gen MGMT di Kanker Otak: kanker glioblastoma sangat buruk; mayoritas penderitanya meninggal
sekitar 2 tahun setelah diagnosis(5). Faktor prognosis, yaitu parameter
potensi perubahan genetik bisa tereliminasi secara alami sehingga
mengurangi kemungkinan tercetusnya kanker. Kegagalan MMR

Contoh Aplikasi Farmakogenomik yang bisa memperkirakan laju perkembangan kanker, adalah
umur, nekrosis, dan skor Karnofsky Performance Status (KPS) (5-7).
dalam memperbaiki lesi bisa terjadi apabila gen MGMT yang ber-
tugas mengenali O6-meG dan menggantikannya dengan Guanine
Mengenai umur, 50% pasien yang berumur dibawah 40 tahun tidak melakukan tugasnya dengan baik(9).
Ahmad R. Utomo, Ferry Sandra
Stem Cell and Cancer Institute, Kalbe Farma Pharmaceutical Company bisa hidup selama 18 bulan, 20% untuk pasien berumur antara
Jakarta 13210, Indonesia 40-60 tahun, dan hanya 10% bagi pasien di atas 60 tahun(5). Studi in vitro menunjukkan bahwa sel yang tidak memiliki ekspresi
gen MGMT memiliki sensitifitas yang tinggi ketika dipaparkan
Keberadaan nekrosis memberikan prognosis buruk terhadap nasib
dengan zat kemoterapi yang meng-alkilasi DNA(10). Di lain pihak, sel
penderita. Nekrosis yang mencapai 50% atau lebih dari volume
ABSTRAK yang memiliki ekspresi gen MGMT secara normal atau lebih, akan
kanker, memberi kemungkinan untuk bertahan hidup selama 10
Farmakogenomik bertujuan untuk mengoptimasi strategi pengobatan dengan memperhatikan faktor genetik dan memiliki resistensi terhadap zat DNA alkilasi tersebut. Maka, salah
bulan saja(7). Selanjutnya, makin tinggi skor KPS, makin baik
satu mekanisme resistensi sel kanker terhadap kemoterapi adalah
epigenetik pasien. Hipermetilasi promotor adalah proses epigenetik yang menghambat ekspresi gen. Hipermetilasi prognosis pasien. Tingkat kelangsungan hidup pasien dengan
dengan mengekspresikan gen MGMT. Di samping itu, sel kanker
gen MGMT terjadi di sekitar 30-40% pasien glioblastoma. Tindakan bedah yang diikuti dengan kombinasi obat skor KPS di atas 70 adalah 34% dan di bawah 70 adalah 13%
yang sudah tidak lagi memiliki gen MGMT juga akan menjadi
Temozolomide (obat sitotoksik yang meng-alkilasi DNA) dan terapi radiasi merupakan strategi terbaik saat ini untuk untuk bertahan hidup selama 18 bulan(5).
resisten terhadap akibat cytotoxicity apabila ia juga kehilangan
pasien glioblastoma. Lebih dari itu, pasien yang mengalami hipermetilasi MGMT memiliki respon yang lebih baik dan ekspresi gen MMR(11). Hilangnya fungsi gen MGMT dan MMR
median kelangsungan hidup yang lebih lama dibanding dengan pasien yang tidak mengalami hipermetilasi. Menariknya, Hingga saat ini standar pengobatan terbaik konvensional adalah sekaligus memberikan efek yang lebih hebat dalam pertumbuhan
lebih dari 70% pasien yang masih hidup selama 3 tahun atau lebih ternyata mengalami hipermetilasi di gen MGMT. tindakan bedah dengan resection atau mengambil jaringan kanker kanker karena ia memberikan kemudahan dalam memutasi gen-gen
sebanyak mungkin, diikuti oleh radioterapi dan/atau kemoterapi(8). lainnya, sehingga bisa menjadi jenis kanker yang lebih ganas(12).
Maka, hipermetilasi di promoter gen MGMT adalah faktor prediktif yang positif dan menjadi paradigma untuk kemoterapi
Standar ini lahir dari hasil uji klinis secara acak melibatkan sekitar Hal-hal seperti ini menjadi dasar pertimbangan dalam farmako-
kanker di masa depan.
600 pasien dari berbagai pusat di Eropa yang menunjukkan bahwa genomik : status genetik dari kanker itu sendiri perlu dijadikan per-
pasien bedah yang diikuti oleh gabungan radioterapi dengan timbangan dalam pemilihan dan penetapan strategi kemoterapi.
Kata-kata kunci: hipermetilasi, glioblastoma, temozolomide, pharmakogenomik
kemoterapi (temozolomide) memiliki respon yang lebih baik di-
Abbreviations: MGMT: O6-methylguanine (O6-MG)-DNA-methyltransferase banding dengan radioterapi saja. Tingkat kelangsungan hidup Korelasi hipermetilasi gen MGMT dengan respon terhadap
selama 2 tahun adalah 10% untuk pasien dengan radioterapi, temozolomide
dan 26% untuk pasien yang mendapatkan kombinasi radioterapi Sejak ditemukannya fenomena hipermetilasi DNA(13), beberapa
PENDAHULUAN DEFINISI FARMAKOGENOMIK
’ dan kemoterapi (dengan temozolomide). Namun demikian, tingkat gen yang penting dalam metabolisme sel, perbaikan DNA, atau
Pengobatan kanker hingga sekarang masih merupakan tantangan. Farmakogenomik diartikan sebagai individualisasi pengobatan
kelangsungan hidup secara keseluruhan belum banyak berubah, pencetusan kanker dievaluasi daerah promotornya untuk dilihat
Fatalnya efek samping (Adverse Drug Reaction/ADR) zat kemo- melalui seleksi jenis obat atau dosis obat tertentu yang didasarkan
kepada tes profil genetika seseorang terhadap efek obat baik secara kurang dari 5% penderita masih bertahan setelah 5 tahun(8). kadar hipermetilasi di daerah tersebut (12). Beberapa laporan me-
terapi dan timbulnya resistensi atau tidak responnya pasien terha- ’ nunjukkan bahwa gen MGMT terhipermetilasi di daerah promotor-
dap kemoterapi adalah gambaran kompleksitas strategi terapi langsung (tes genotip) atau tidak langsung (tes fenotip) (4). Dengan
demikian aplikasi farmakogenomik bertujuan untuk mengoptimalisasi Temozolomide, sebagaimana mayoritas zat kemoterapi lainnya, nya sehingga menghambat ekspresi gen tersebut. Frekuensi
dalam melawan kanker(1). Secara tradisional, faktor genetik pasien hipermetilasi di gen MGMT terjadi di berbagai jenis kanker, termasuk
toksisitas obat terhadap kanker dan mengurangi efek samping. adalah zat bersifat genotoxic (merusak DNA) sekaligus cytotoxic
belum menjadi parameter yang dipertimbangkan dalam memilih di sekitar 30-40% pasien glioblastoma, kolorektal, nasofaring,
Dengan kata lain, status genetik dari pasien dan dari kanker di (penyebab kematian sel)(9). Cara kerja Temozolomide adalah
jenis pengobatan kanker(2). Parameter yang umum digunakan dalam tubuh pasien dianalisis terlebih dahulu guna menyeleksi jenis, dan rahim. Di sisi lain, jenis kanker seperti payudara, ovarium,
dengan meng-alkilasi DNA di posisi oksigen yang ke-6 (O6) dari
pemilihan dan pemberian dosis kemoterapi adalah jenis tumor, dosis, dan strategi yang optimal sebelum kemoterapi dimulai. gugus guanidine, sehingga menghasilkan alkilasi guanidine atau endometrium, hati dan pankreas jarang mengalami hipermetilasi
karakter patologi/histologi, tahapan klinis, umur, berat badan dan di gen MGMT(12).
O6-meG. Contoh lain zat kemoterapi yang mengalkilasi DNA
luas permukaan tubuh (2,3). Untuk jenis kanker tertentu seperti kanker payudara atau kanker adalah nitrosourea (seperti BCNU atau carmustine), procarbazine,
paru-paru, prinsip farmakogenomik sudah mulai diterapkan dengan Konsekuensi dari hipermetilasi gen MGMT ternyata memiliki
dan streptozotocin(9). Terbentuknya gugus O6-meG ini dikenali dan
Namun parameter tradisional tersebut tidak bisa menjelaskan mendeteksi status ekspresi Estrogen Receptor (ER), amplifikasi gen dampak klinis yang bermakna dalam kemoterapi. Di tahun 2000,
diperbaiki menjadi gugus guanidine kembali oleh enzim MGMT
Her2/neu, atau mutasi gen EGFR sebelum pengobatan dengan Tamo- tim yang dipimpin James Herman di sekolah kedokteran Johns
mengapa respon pasien dan kanker pasien terhadap kemoterapi ber- (O6 methylguanine DNA methyltransferase)(9).
xifen, Trastuzumab (antibodi melawan Her2) atau Iressa (antibodi Hopkins, AS menganalisis secara retrospektif hipermetilasi gen
beda-beda, walaupun memiliki parameter yang sama. Pengetahuan
melawan EGFR)(4). Artinya, pasien yang jaringan kankernya tidak MGMT dari 47 sampel kanker otak dari pasien, sebelum mereka
biologi molekuler modern menunjukkan bahwa faktor genetik Normalnya, gugus guanine berpasangan dengan gugus cytosine.
mengekspresikan amplifikasi gen Her2 atau tidak mengalami mutasi menjalani tindakan bedah yang diikuti dengan radiasi dan kemo-
seseorang dan status genetik di kanker pasien itu sendiri memiliki Apabila gugus O6-meG ini tidak diperbaiki, maka ia akan ber-
di EGFR di permukaan selnya tentu saja bukan kandidat yang tepat. terapi dengan Temozolomide (14). Hasil penelitian menunjukkan
peran penting dalam menentukan keberhasilan kemoterapi yang pasangan dengan gugus thymine. Berpasangannya gugus O6-meG bahwa hipermetilasi promoter gen MGMT terjadi di 40% dari
Di samping mengoptimalkan kinerja jenis obat-obat yang berbasis
maksimal dan yang memberikan efek samping minimal. Maka antibodi dalam melawan kanker, farmakogenomik juga memberikan (yang mirip dengan gugus aslinya yaitu guanidine) dengan thymine pasien. Persentase hipermetilasi ini tidak dipengaruhi oleh umur,
salah satu cabang ilmu dalam era paska genomik yang mempela- kontribusi dengan mengoptimalkan kemoterapi konvensional yang akan merusak struktur helix dari DNA. Struktur ini akan terdeteksi skor KPS dan tingkat keganasan kanker. Dalam analisis univariasi,
jari interaksi genetik dengan pengobatan/farmakologi adalah sudah ada(2). Dalam rentang 5 tahun terakhir, aplikasi farmakoge- sebagai pasangan yang mismatch (tidak sepadan) dan akan diperbaiki adanya hipermetilasi berkorelasi dengan respons klinis dan tingkat
Farmakogenomik(1). nomik mulai terlihat dalam perawatan penderita kanker glioblastoma. oleh sekelompok gen dari jenis Mismatch Repair (MMR)(9). kelangsungan hidup (Overall Survival).

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
16 17
TINJAUAN PUSTAKA

Waktu median kelangsungan hidup pasien yang memiliki Dengan bertambah dalamnya pengetahuan tentang kinerja genetik
hipermetilasi dan yang tidak mengalami hipermetilasi adalah 21 yang berkaitan dengan timbulnya kanker, beberapa strategi kemo-
bulan dan 8 bulan. Lebih jauh lagi, 63% dari pasien yang mengalami terapi muncul dengan memanfaatkan kombinasi berbagai obat.
hipermetilasi memiliki respon parsial atau seluruhnya terhadap Promotor dari gen PTEN, misalnya, juga sering terhipermetilasi
kemoterapi, dibandingkan dengan hanya 1% dari pasien yang dengan frekuensi sekitar 35%(19). Beberapa uji praklinis (20) telah
tidak memiliki hipermetilasi(14). memberikan gambaran bahwa sel yang kehilangan fungsi PTEN
memiliki sensitifitas yang khas terhadap Rapamycin. Dengan
Fungsi hipermetilasi gen MGMT sebagai faktor prediktif terhadap demikian, kombinasi Rapamycin dengan temozolomide bisa di-
respon pasien terhadap standar terapi glioblastoma terulang gunakan untuk pasien glioblastoma yang memiliki hipermetilasi
secara prinsip oleh grup di Eropa yang melibatkan 206 pasien di gen MGMT dan PTEN.
glioblastoma(15). Hipermetilasi promotor gen MGMT terjadi di
sekitar 45% pasien. Pasien yang mengalami hipermetilasi di gen PROSPEK MASA DEPAN
MGMT mendapatkan median tingkat kelangsungan hidup selama Untuk saat ini, uji prospektif klinis masih sangat diperlukan untuk
22 bulan dengan tingkat respon 46% untuk 2-tahun ketika menvalidasi efektifitas farmakogenomik sehingga bisa menjadi
dirawat dengan radioterapi dan kemoterapi, dibanding dengan praktik yang bisa diadopsi secara meluas. Maka di samping para-
15 bulan dan tingkat respon 23% untuk 2-tahun di pasien yang meter klinis dan histologis, masa depan pemeriksaan glioblastoma
dirawat dengan radioterapi saja. Dengan demikian pasien yang khususnya, dan kanker pada umumnya akan juga melibatkan para-
mengalami hipermetilasi di promotor gen MGMT mendapatkan meter genetik secara rutin untuk melihat profil beberapa gen di saat
keuntungan ketika dirawat dengan kemoterapi Temozolomide. yang bersamaan dan menentukan kombinasi terapi yang optimal.
Menariknya lagi, pasien yang masih hidup setelah 3 tahun, 74%
dari mereka memiliki MGMT hipermetilasi(16). DAFTAR PUSTAKA
1. Phillips K, Veenstra D, Oren E, Lee J, Sadee W. Potential role of pharmacogenomics in reducing
adverse drug reactions: a systematic review. JAMA 2001;286: 2270-79.
Metoda deteksi hipermetilasi MGMT 2. Weinstein J. Teaching Old Drugs New Tricks. N Engl J Med. 2000;343: 1408-1409
Meski secara prinsip hipermetilasi gen MGMT berbanding lurus 3. Ezzeldin H, Diasio R. Genetic Testing in Cancer Therapeutics. Clin Cancer Res. 2006;12: 4137-41.
4. Swen JJ, Huizinga TW, Gelderblom H, de Vries EGE, Assendelft WJJ, Kirchheiner J, Guchelaar
dengan tingkat ekspresi gen MGMT, jenis pemeriksaan gen MGMT H-J. Translating Pharmacogenomics: Challenges on the Road to the Clinic. PLoS Medicine
untuk menimbang manfaat yang akan diterima pasien sebelum 2007;4: e209
kemoterapi dengan temozolomide adalah penting(17). Hipermetilasi 5. Grossman S, Batara J. Current management of glioblastoma multiforme. Semin Oncol.
2004;31: 635-4
mengakibatkan hambatan ekspresi gen MGMT sehingga mem- 6. Ohgaki H, Kleihues P. Epidemiology and etiology of gliomas. Acta Neuropathologica 2005;
buat sel kanker menjadi sensitif terhadap paparan temozolomide(11). 109: 93-108.
7. Raza S, Lang F, Aggarwal B, Fuller G, Wildrick D, Sawaya R. Necrosis and glioblastoma: a friend
Akibatnya ekspresi gen MGMT dalam bentuk protein yang biasanya or a foe? A review and a hypothesis. Neurosurgery 2002;51: 2-12.
dideteksi dengan metoda immunohistokima pun bisa berkurang 8. Stupp R, Hegi ME, Gilbert MR, Chakravarti A. Chemoradiotherapy in Malignant Glioma:
di sel yang mengalami hipermetilasi di promotornya. Akan tetapi Standard of Care and Future Directions. J Clin Oncol. 2007;25: 4127-36.
9. Kaina B, Christmann M, Naumann S, Roos W. MGMT: key node in the battle against
sinyal protein MGMT yang terlihat dengan metoda immunohisto- genotoxicity, carcinogenicity and apoptosis induced by alkylating agents. DNA Repair (Amst).
kimia (teknik umum di laboratorium patologi anatomi pada umum- 2007;6: 1079-99 .
10. Gerson S. Clinical relevance of MGMT in the treatment of cancer. J Clin Oncol. 2002;20:
nya) bisa berasal dari sel non-kanker, seperti sel leukosit(17). Maka 2388-99.
teknik PCR (polymerase-chain reaction) adalah teknik yang lebih 11. Liu L, Gerson SL. Targeted Modulation of MGMT: Clinical Implications. Clin Cancer Res. 2006;
akurat karena ia hanya mendeteksi adanya hipermetilasi di sel 12: 328-31.
12. Esteller M, Herman J. Generating mutations but providing chemosensitivity: the role of O6-
kanker (di mana hipermetilasi gen MGMT tidak ditemukan di sel methylguanine DNA methyltransferase in human cancer. Oncogene 2004; 23: 1-8.
normal), suatu bentuk sinyal yang tidak bisa dibedakan dengan 13. Herman J, Baylin S. Gene silencing in cancer in association with promoter hypermethylation. N
Engl J Med. 2003;349: 2042-2054.
teknik immunohistokimia (17).
14. Esteller M, Garcia-Foncillas J, Andion E, Goodman SN, Hidalgo OF, Vanaclocha V, Baylin SB,
Herman JG. Inactivation of the DNA-Repair Gene MGMT and the Clinical Response of Gliomas
Molekul penghambat MGMT to Alkylating Agents. N Engl J Med. 2000; 343: 1350-54.
15. Hegi ME, Diserens A-C, Gorlia T, Hamou M-F, de Tribolet N, Weller M, Kros JM, Hainfellner JA,
Dalam kondisi alternatif pengobatan terhadap glioblastoma sangat Mason W, Mariani L, Bromberg JEC, Hau P, Mirimanoff RO, Cairncross JG, Janzer RC, Stupp
terbatas, timbul pertanyaan apakah pasien yang gen MGMT-nya R. MGMT Gene Silencing and Benefit from Temozolomide in Glioblastoma. N Engl J Med.
2005;352: 997-1003.
tidak termetilasi, tidak perlu diberi temozolomide atau kehilangan
16. Krex D, Klink B, Hartmann C, von Deimling A, Pietsch T, Simon M, Sabel M, Steinbach JP,
harapan untuk perbaikan? Saat ini beberapa uji klinis sedang di- Heese O, Reifenberger G, Weller M, Schackert G, for the German Glioma Network. Long-term
lakukan untuk menghambat ekspresi gen MGMT dengan mem- survival with glioblastoma multiforme. Brain 2007;130: 2596-2606
17. Stupp R, Hegi ME. Methylguanine Methyltransferase Testing in Glioblastoma: When and
berikan molekul kecil O6-Benzylguanine (O6-BG)(18). O6-BG bekerja How? J Clin Oncol. 2007; 25: 1459-1460.
dengan menon-aktifkan protein MGMT dengan mengikat daerah 18. Rabik C, Njoku M, Dolan M. Inactivation of O6-alkylguanine DNA alkyltransferase as a means
aktif protein MGMT tersebut dan berkompetisi terhadap lesi O6- to enhance chemotherapy. Cancer Treat Rev. 2006;32: 261-276.
19. Baeza N, Weller M, Yonekawa Y, Kleihues P, Ohgaki H. PTEN methylation and expression in
MeG(18). Maka pasien yang awalnya mengekspresikan gen MGMT glioblastomas. Acta Neuropathologica 2003;106: 479-485.
diharapkan akan juga menjadi sensitif terhadap kemoterapi yang 20. Wang MY, Lu KV, Zhu S, Dia EQ, Vivanco I, Shackleford GM, Cavenee W. K, Mellinghoff IK,
Cloughesy TF, Sawyers CL, Mischel PS. Mammalian Target of Rapamycin Inhibition Promotes
menggunakan Temozolomide, sebagaimana pasien yang mengalami Response to Epidermal Growth Factor Receptor Kinase Inhibitors in PTEN-Deficient and PTEN-
hipermetilasi gen MGMT(11). Intact Glioblastoma Cells. CAN-04-4392. Cancer Res. 2006;66: 7864-69

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


18
TINJAUAN PUSTAKA

Waktu median kelangsungan hidup pasien yang memiliki Dengan bertambah dalamnya pengetahuan tentang kinerja genetik
hipermetilasi dan yang tidak mengalami hipermetilasi adalah 21 yang berkaitan dengan timbulnya kanker, beberapa strategi kemo-
bulan dan 8 bulan. Lebih jauh lagi, 63% dari pasien yang mengalami terapi muncul dengan memanfaatkan kombinasi berbagai obat.
hipermetilasi memiliki respon parsial atau seluruhnya terhadap Promotor dari gen PTEN, misalnya, juga sering terhipermetilasi
kemoterapi, dibandingkan dengan hanya 1% dari pasien yang dengan frekuensi sekitar 35%(19). Beberapa uji praklinis (20) telah
tidak memiliki hipermetilasi(14). memberikan gambaran bahwa sel yang kehilangan fungsi PTEN
memiliki sensitifitas yang khas terhadap Rapamycin. Dengan
Fungsi hipermetilasi gen MGMT sebagai faktor prediktif terhadap demikian, kombinasi Rapamycin dengan temozolomide bisa di-
respon pasien terhadap standar terapi glioblastoma terulang gunakan untuk pasien glioblastoma yang memiliki hipermetilasi
secara prinsip oleh grup di Eropa yang melibatkan 206 pasien di gen MGMT dan PTEN.
glioblastoma(15). Hipermetilasi promotor gen MGMT terjadi di
sekitar 45% pasien. Pasien yang mengalami hipermetilasi di gen PROSPEK MASA DEPAN
MGMT mendapatkan median tingkat kelangsungan hidup selama Untuk saat ini, uji prospektif klinis masih sangat diperlukan untuk
22 bulan dengan tingkat respon 46% untuk 2-tahun ketika menvalidasi efektifitas farmakogenomik sehingga bisa menjadi
dirawat dengan radioterapi dan kemoterapi, dibanding dengan praktik yang bisa diadopsi secara meluas. Maka di samping para-
15 bulan dan tingkat respon 23% untuk 2-tahun di pasien yang meter klinis dan histologis, masa depan pemeriksaan glioblastoma
dirawat dengan radioterapi saja. Dengan demikian pasien yang khususnya, dan kanker pada umumnya akan juga melibatkan para-
mengalami hipermetilasi di promotor gen MGMT mendapatkan meter genetik secara rutin untuk melihat profil beberapa gen di saat
keuntungan ketika dirawat dengan kemoterapi Temozolomide. yang bersamaan dan menentukan kombinasi terapi yang optimal.
Menariknya lagi, pasien yang masih hidup setelah 3 tahun, 74%
dari mereka memiliki MGMT hipermetilasi(16). DAFTAR PUSTAKA
1. Phillips K, Veenstra D, Oren E, Lee J, Sadee W. Potential role of pharmacogenomics in reducing
adverse drug reactions: a systematic review. JAMA 2001;286: 2270-79.
Metoda deteksi hipermetilasi MGMT 2. Weinstein J. Teaching Old Drugs New Tricks. N Engl J Med. 2000;343: 1408-1409
Meski secara prinsip hipermetilasi gen MGMT berbanding lurus 3. Ezzeldin H, Diasio R. Genetic Testing in Cancer Therapeutics. Clin Cancer Res. 2006;12: 4137-41.
4. Swen JJ, Huizinga TW, Gelderblom H, de Vries EGE, Assendelft WJJ, Kirchheiner J, Guchelaar
dengan tingkat ekspresi gen MGMT, jenis pemeriksaan gen MGMT H-J. Translating Pharmacogenomics: Challenges on the Road to the Clinic. PLoS Medicine
untuk menimbang manfaat yang akan diterima pasien sebelum 2007;4: e209
kemoterapi dengan temozolomide adalah penting(17). Hipermetilasi 5. Grossman S, Batara J. Current management of glioblastoma multiforme. Semin Oncol.
2004;31: 635-4
mengakibatkan hambatan ekspresi gen MGMT sehingga mem- 6. Ohgaki H, Kleihues P. Epidemiology and etiology of gliomas. Acta Neuropathologica 2005;
buat sel kanker menjadi sensitif terhadap paparan temozolomide(11). 109: 93-108.
7. Raza S, Lang F, Aggarwal B, Fuller G, Wildrick D, Sawaya R. Necrosis and glioblastoma: a friend
Akibatnya ekspresi gen MGMT dalam bentuk protein yang biasanya or a foe? A review and a hypothesis. Neurosurgery 2002;51: 2-12.
dideteksi dengan metoda immunohistokima pun bisa berkurang 8. Stupp R, Hegi ME, Gilbert MR, Chakravarti A. Chemoradiotherapy in Malignant Glioma:
di sel yang mengalami hipermetilasi di promotornya. Akan tetapi Standard of Care and Future Directions. J Clin Oncol. 2007;25: 4127-36.
9. Kaina B, Christmann M, Naumann S, Roos W. MGMT: key node in the battle against
sinyal protein MGMT yang terlihat dengan metoda immunohisto- genotoxicity, carcinogenicity and apoptosis induced by alkylating agents. DNA Repair (Amst).
kimia (teknik umum di laboratorium patologi anatomi pada umum- 2007;6: 1079-99 .
10. Gerson S. Clinical relevance of MGMT in the treatment of cancer. J Clin Oncol. 2002;20:
nya) bisa berasal dari sel non-kanker, seperti sel leukosit(17). Maka 2388-99.
teknik PCR (polymerase-chain reaction) adalah teknik yang lebih 11. Liu L, Gerson SL. Targeted Modulation of MGMT: Clinical Implications. Clin Cancer Res. 2006;
akurat karena ia hanya mendeteksi adanya hipermetilasi di sel 12: 328-31.
12. Esteller M, Herman J. Generating mutations but providing chemosensitivity: the role of O6-
kanker (di mana hipermetilasi gen MGMT tidak ditemukan di sel methylguanine DNA methyltransferase in human cancer. Oncogene 2004; 23: 1-8.
normal), suatu bentuk sinyal yang tidak bisa dibedakan dengan 13. Herman J, Baylin S. Gene silencing in cancer in association with promoter hypermethylation. N
Engl J Med. 2003;349: 2042-2054.
teknik immunohistokimia (17).
14. Esteller M, Garcia-Foncillas J, Andion E, Goodman SN, Hidalgo OF, Vanaclocha V, Baylin SB,
Herman JG. Inactivation of the DNA-Repair Gene MGMT and the Clinical Response of Gliomas
Molekul penghambat MGMT to Alkylating Agents. N Engl J Med. 2000; 343: 1350-54.
15. Hegi ME, Diserens A-C, Gorlia T, Hamou M-F, de Tribolet N, Weller M, Kros JM, Hainfellner JA,
Dalam kondisi alternatif pengobatan terhadap glioblastoma sangat Mason W, Mariani L, Bromberg JEC, Hau P, Mirimanoff RO, Cairncross JG, Janzer RC, Stupp
terbatas, timbul pertanyaan apakah pasien yang gen MGMT-nya R. MGMT Gene Silencing and Benefit from Temozolomide in Glioblastoma. N Engl J Med.
2005;352: 997-1003.
tidak termetilasi, tidak perlu diberi temozolomide atau kehilangan
16. Krex D, Klink B, Hartmann C, von Deimling A, Pietsch T, Simon M, Sabel M, Steinbach JP,
harapan untuk perbaikan? Saat ini beberapa uji klinis sedang di- Heese O, Reifenberger G, Weller M, Schackert G, for the German Glioma Network. Long-term
lakukan untuk menghambat ekspresi gen MGMT dengan mem- survival with glioblastoma multiforme. Brain 2007;130: 2596-2606
17. Stupp R, Hegi ME. Methylguanine Methyltransferase Testing in Glioblastoma: When and
berikan molekul kecil O6-Benzylguanine (O6-BG)(18). O6-BG bekerja How? J Clin Oncol. 2007; 25: 1459-1460.
dengan menon-aktifkan protein MGMT dengan mengikat daerah 18. Rabik C, Njoku M, Dolan M. Inactivation of O6-alkylguanine DNA alkyltransferase as a means
aktif protein MGMT tersebut dan berkompetisi terhadap lesi O6- to enhance chemotherapy. Cancer Treat Rev. 2006;32: 261-276.
19. Baeza N, Weller M, Yonekawa Y, Kleihues P, Ohgaki H. PTEN methylation and expression in
MeG(18). Maka pasien yang awalnya mengekspresikan gen MGMT glioblastomas. Acta Neuropathologica 2003;106: 479-485.
diharapkan akan juga menjadi sensitif terhadap kemoterapi yang 20. Wang MY, Lu KV, Zhu S, Dia EQ, Vivanco I, Shackleford GM, Cavenee W. K, Mellinghoff IK,
Cloughesy TF, Sawyers CL, Mischel PS. Mammalian Target of Rapamycin Inhibition Promotes
menggunakan Temozolomide, sebagaimana pasien yang mengalami Response to Epidermal Growth Factor Receptor Kinase Inhibitors in PTEN-Deficient and PTEN-
hipermetilasi gen MGMT(11). Intact Glioblastoma Cells. CAN-04-4392. Cancer Res. 2006;66: 7864-69

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


18
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Potensi Prenylated Flavonoid untuk kemoterapi kanker Tabel 3. Nilai IC50 (µM) senyawa c dan d pada beberapa Sel Kanker
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, ada sekurang-kurangnya
Prenylated Flavonoid sebagai Senyawa 400 senyawa prenylated flavonoid yang telah diidentifikasi. Dari
senyawa-senyawa tersebut, beberapa prenylated flavonoid yang
Sel yang digunakan

c
HCT-116

24.37 Ø 4.2
SMMC-7721

28.94 Ø 3.19
SGC-7901

65.86 Ø 12.45
BCG-823

28.68 Ø 4.69

Anti Kanker yang Berpotensi telah diisolasi dari tanaman menunjukkan aktivitas sitotoksisitas
terhadap beberapa sel kanker, seperti artelastin, artelasto-
d
Vincristinea
>71.09
0.0096 Ø 0.0021
32.04 Ø 4.08
0.04 Ø 0.01
28.68 Ø 5.11
0.0031 Ø 0.0009
26.90 Ø 3.21
20.58 Ø 5.18

Enos Tangke Arung 1,2, Dani Britanto Wicaksono , Ferry Sandra 1 1 chromene, artelasticin pada sel MCF-7 (kanker payudara), TK-10
Note : Sel yang digunakan : HCT-116 (sel kanker kolon), SMMC-7721 (sel kanker hepatitis),
1 Stem Cell and Cancer Institute, Jakarta, Indonesia (kanker ginjal), UACC-62 (kanker melanoma); artelastoxanthone SGC-7901 dan BCG-823 (Gastric carcinoma). a Positif kontrol
2 Lab. Kimia Kayu, Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia dan artonol A pada A549 (kanker paru-paru), Hep3B (kanker
liver), HT-29 (kanker usus besar), MCF-7 (kanker payudara) 6-7.
Selain itu, beberapa peneliti seperti Watjen et al. (2007) 8, c d

ABSTRAK Keragaman jenis prenylated ini berdampak pada penamaan struktur Cottiglia et al. (2005) 9, Itoigawa et al.(2004) 10, Hakim et al.
Lebih dari 6500 senyawa flavonoid telah diidentifikasi dari tanaman, kimia flavonoid tersebut dan nama ini akan berbeda dengan (2002) 11, Itoigawa et al. (2002) 12, melaporkan bahwa prenylated
sekurang-kurangnya 400 senyawa adalah prenylated flavonoid. nama perdagangannya. Sebagai contoh, nama kimia senyawa : flavonoid sebagai senyawa yang menginduksi sitotoksisitas pada
Senyawa flavonoid diketahui memiliki banyak fungsi bagi kesehatan 6-(3,3-DMA flavone) dengan nama perdagangan (6-prenylapigenin), beberapa sel kanker.
manusia seperti antioxidant, anti inflammatory, anti virus, anti Gb.1(a) dan contoh lainnya nama kimia senyawa 3-(3,3-DMA)-6,7-
bakteri, dan lain-lain.1-2 Flavonoid mewakili beragam tipe senyawa (2,2 Dimethyl Chromeno) flavone dengan nama perdagangan Untuk melihat dengan lebih rinci efek senyawa prenylated
yang terdapat di alam. Dalam kelompok senyawa flavonoid, ter- (Cudraflavone B), Gb. 1 (b). flavonoid tersebut, berikut ditampilkan hasil-hasil riset dari Gambar 5. Senyawa Cudraflavanone C (c) dan Cudraflavanone A (d)
dapat senyawa yang disebut prenylated flavonoid yaitu senyawa Perbedaan prenylated baik jenis ataupun jumlah pada flavonoid beberapa peneliti yang berhubungan dengan jenis-jenis tanaman
flavonoid yang mengandung tambahan rantai isoprenoid [ditambah juga memberikan efek biologis yang berbeda pada suatu pengu- seperti artocarpus dan Cudrania (merupakan jenis yang banyak Tabel 4. Sitotoksisitas (IC50, µM) senyawa e-i terhadap beberapa sel kanker
5 atom karbon (C) pada gugus fenol], (Gb. 1). Saat ini, senyawa jian aktifitas biologi dari senyawa prenylated flavonoid tersebut. menghasilkan senyawa prenylated flavonoid) (Tabel 2 dan 3 pada manusia
prenylated flavonoid mendapat perhatian yang sangat besar dari Sebagai contoh, senyawa Norartocarpin (a) memiliki IC50 = 4.9 serta Gambar 4 dan 5). Pada Tabel 2, senyawa artelastoxan-
Senyawa TK-10 UACC-62 MCF-7
para peneliti karena fungsinya dalam kesehatan manusia.3-4 ±M, Albanin A(b), IC50 = 40.1 ±M (struktur kimia lihat Gb. 3), dan thone (a) dan artonol A (b) memperlihatkan efek sitotoksisitas-
Tulisan ini akan membahas tentang manfaat senyawa prenylated Cudraflavone B(Gb.1b), IC50 = 3.0 ±M memberikan hasil yang nya terhadap beberapa sel kanker yang diuji. Senyawa artelasto- e 4.6 Ø 1.7 2.2 Ø 0.5 2.2 Ø 0.3
flavonoid untuk kemoterapi pada kanker yang merupakan rangku- berbeda pada penghambatan proses pembentukan melanin xanthone terlihat lebih efektif untuk menekan pertumbuhan sel f 10.5 Ø 1.1 10.5 Ø 1.7 9.6 Ø 0.7
man dari beberapa hasil penelitian. pada sel B16 melanoma dimana pada IC50 tersebut tidak menim- Hep 3B, MCF-7, dan HT-29 kecuali A549; sedangkan artonol A g 10.6 Ø 3.1 8.8 Ø 0.2 8.9 Ø 2.4
bulkan kematian pada sel.5 lebih efektif pada sel A549, MCF-7, dan HT-29 kecuali Hep 3B7. h 64.1 Ø 5.7 38.1 Ø 2.4 24.4 Ø 1.6
Pada contoh lainnya, senyawa Cudraflavanone C (c) terlihat i 40.5 Ø 1.4 26.6 Ø 3.2 21.8 Ø 1.3
efektif pada sel HCT-166, SMMC-7721, dan BGC-823; sedang- Doxorubin a 5.5 Ø 3.2 x 10 -2 9.4 Ø 2.3 x 10 -2 5.5 Ø 3.2 x 10 -2
kan Cudraflavanone A (d) efektif pada SMMC-7721, SGC-7901
a
dan BCG-82313. Dari hasil ini, terlihat satu kecenderungan yang Note : Sel yang digunakan : TK-10 (sel kanker ginjal), UACC-62 (sel kanker
b melanoma/kulit), dan MCF-7 (sel kanker payudara). a Positif kontrol
dapat dijadikan bahan kajian yaitu : prenylated flavonoid
a b
Gambar 1. Contoh senyawa prenylated flavonoid dengan jenis prenylated yang berbeda mempunyai efektifitas tertentu pada sel tertentu pula, dan perbe-
Gambar 3. Struktur Norartocarpin (a) dan Albanin A (b)
daan tipe rantai isoprenoid juga memberikan pengaruh terhadap
efektifitas menghambat pertumbuhan sel. e f

Aktivitas biologi dan farmakologi dari Prenylated Flavonoid


Sebelum melihat lebih jauh tentang manfaat prenylated flavonoid Tabel 2. Sitotoksisitas senyawa a dan b (ED50 values in µg/ml)a
untuk terapi kanker, beberapa manfaat lain senyawa ini bagi
kesehatan manusia dapat dilihat pada tabel 1. Sel yang digunakan b A549 Hep 3B HT-29 MCF-7

a 10.0 3.2 3.9 3.1


Tabel 1. Manfaat prenylated flavonoid g
b 1.1 21.9 3.1 2.7
Aktifitas biologi dan farmakologi Senyawa aktif 5-flurouracil c
0.4 0.6 0.2 0.2
Antibakteri ( gram +) Xanthoangelol dan 4-hydroxy derricin
Antioksidan Macarangin;6,8-diprenyleriodictiol; dorsmanin C dan F Note: a Untuk aktivitas yang signifikan, diperlukan nilai ED50 < 4.0 mg/ml. b Sel yang h i
Aromatase inhibitor Demethylmoracin, isogemichalcone C
, ’ ’ digunakan : A549 (sel kanker paru) Hep 3B (sel kanker hati), HT-29 (sel kanker usus
Cyclooxygenase-1 (COX-1) dan COX-2 inhibitor 5-hydroxy-4
’ ’ -methoxy-2 ,2 -dimethylpyrano
, ’, besar), dan MCF-7 (sel kanker payudara). c Positif kontrol
(7, 8:6 ,5 ) flavanone dan 5,4 -dihydroxy-2 ’- ’
(1-hydroxy-1-methylethyl) dihyrofurano (7, 8:6 ,5 )
flavanone
a b
DNA strand scission activity Xanthoangelol
Gambar 2. Jenis-jenis prenylated pada senyawa flavonoid Aktifitas induksi pada kerusakan DNA Isoliquiritigenin dan 8-prenyl eriodictiol
HIV inhibitor 5,7-dihydroxy-6,8-diprenylflavonoid
Herpes simplex type-1 inhibitor Leachianone G
Jenis-jenis Prenylated Flavonoid Tyrosinase inhibitor Kuraridin dan Kurarinon
Sebelum membahas manfaat dari senyawa prenylated flavonoid, Sumber : Botta et al, 2005 3
ada baiknya sekilas melihat jenis-jenis prenylated yang terdapat pada
Gambar 3. Beberapa Senyawa dari Artocarpus elasticus
senyawa flavonoid. Pada Gambar 2, terlihat jenis-jenis prenylated Manfaat prenylated flavonoid yang ditampilkan pada Tabel 1 adalah
pada flavonoid. sebagian dari banyaknya manfaat dari prenylated flavonoid yang telah diteliti. Gambar 4. Senyawa artelastoxanthone (a) dan artonol A (b)

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
20 21
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Potensi Prenylated Flavonoid untuk kemoterapi kanker Tabel 3. Nilai IC50 (µM) senyawa c dan d pada beberapa Sel Kanker
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, ada sekurang-kurangnya
Prenylated Flavonoid sebagai Senyawa 400 senyawa prenylated flavonoid yang telah diidentifikasi. Dari
senyawa-senyawa tersebut, beberapa prenylated flavonoid yang
Sel yang digunakan

c
HCT-116

24.37 Ø 4.2
SMMC-7721

28.94 Ø 3.19
SGC-7901

65.86 Ø 12.45
BCG-823

28.68 Ø 4.69

Anti Kanker yang Berpotensi telah diisolasi dari tanaman menunjukkan aktivitas sitotoksisitas
terhadap beberapa sel kanker, seperti artelastin, artelasto-
d
Vincristinea
>71.09
0.0096 Ø 0.0021
32.04 Ø 4.08
0.04 Ø 0.01
28.68 Ø 5.11
0.0031 Ø 0.0009
26.90 Ø 3.21
20.58 Ø 5.18

Enos Tangke Arung 1,2, Dani Britanto Wicaksono , Ferry Sandra 1 1 chromene, artelasticin pada sel MCF-7 (kanker payudara), TK-10
Note : Sel yang digunakan : HCT-116 (sel kanker kolon), SMMC-7721 (sel kanker hepatitis),
1 Stem Cell and Cancer Institute, Jakarta, Indonesia (kanker ginjal), UACC-62 (kanker melanoma); artelastoxanthone SGC-7901 dan BCG-823 (Gastric carcinoma). a Positif kontrol
2 Lab. Kimia Kayu, Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia dan artonol A pada A549 (kanker paru-paru), Hep3B (kanker
liver), HT-29 (kanker usus besar), MCF-7 (kanker payudara) 6-7.
Selain itu, beberapa peneliti seperti Watjen et al. (2007) 8, c d

ABSTRAK Keragaman jenis prenylated ini berdampak pada penamaan struktur Cottiglia et al. (2005) 9, Itoigawa et al.(2004) 10, Hakim et al.
Lebih dari 6500 senyawa flavonoid telah diidentifikasi dari tanaman, kimia flavonoid tersebut dan nama ini akan berbeda dengan (2002) 11, Itoigawa et al. (2002) 12, melaporkan bahwa prenylated
sekurang-kurangnya 400 senyawa adalah prenylated flavonoid. nama perdagangannya. Sebagai contoh, nama kimia senyawa : flavonoid sebagai senyawa yang menginduksi sitotoksisitas pada
Senyawa flavonoid diketahui memiliki banyak fungsi bagi kesehatan 6-(3,3-DMA flavone) dengan nama perdagangan (6-prenylapigenin), beberapa sel kanker.
manusia seperti antioxidant, anti inflammatory, anti virus, anti Gb.1(a) dan contoh lainnya nama kimia senyawa 3-(3,3-DMA)-6,7-
bakteri, dan lain-lain.1-2 Flavonoid mewakili beragam tipe senyawa (2,2 Dimethyl Chromeno) flavone dengan nama perdagangan Untuk melihat dengan lebih rinci efek senyawa prenylated
yang terdapat di alam. Dalam kelompok senyawa flavonoid, ter- (Cudraflavone B), Gb. 1 (b). flavonoid tersebut, berikut ditampilkan hasil-hasil riset dari Gambar 5. Senyawa Cudraflavanone C (c) dan Cudraflavanone A (d)
dapat senyawa yang disebut prenylated flavonoid yaitu senyawa Perbedaan prenylated baik jenis ataupun jumlah pada flavonoid beberapa peneliti yang berhubungan dengan jenis-jenis tanaman
flavonoid yang mengandung tambahan rantai isoprenoid [ditambah juga memberikan efek biologis yang berbeda pada suatu pengu- seperti artocarpus dan Cudrania (merupakan jenis yang banyak Tabel 4. Sitotoksisitas (IC50, µM) senyawa e-i terhadap beberapa sel kanker
5 atom karbon (C) pada gugus fenol], (Gb. 1). Saat ini, senyawa jian aktifitas biologi dari senyawa prenylated flavonoid tersebut. menghasilkan senyawa prenylated flavonoid) (Tabel 2 dan 3 pada manusia
prenylated flavonoid mendapat perhatian yang sangat besar dari Sebagai contoh, senyawa Norartocarpin (a) memiliki IC50 = 4.9 serta Gambar 4 dan 5). Pada Tabel 2, senyawa artelastoxan-
Senyawa TK-10 UACC-62 MCF-7
para peneliti karena fungsinya dalam kesehatan manusia.3-4 ±M, Albanin A(b), IC50 = 40.1 ±M (struktur kimia lihat Gb. 3), dan thone (a) dan artonol A (b) memperlihatkan efek sitotoksisitas-
Tulisan ini akan membahas tentang manfaat senyawa prenylated Cudraflavone B(Gb.1b), IC50 = 3.0 ±M memberikan hasil yang nya terhadap beberapa sel kanker yang diuji. Senyawa artelasto- e 4.6 Ø 1.7 2.2 Ø 0.5 2.2 Ø 0.3
flavonoid untuk kemoterapi pada kanker yang merupakan rangku- berbeda pada penghambatan proses pembentukan melanin xanthone terlihat lebih efektif untuk menekan pertumbuhan sel f 10.5 Ø 1.1 10.5 Ø 1.7 9.6 Ø 0.7
man dari beberapa hasil penelitian. pada sel B16 melanoma dimana pada IC50 tersebut tidak menim- Hep 3B, MCF-7, dan HT-29 kecuali A549; sedangkan artonol A g 10.6 Ø 3.1 8.8 Ø 0.2 8.9 Ø 2.4
bulkan kematian pada sel.5 lebih efektif pada sel A549, MCF-7, dan HT-29 kecuali Hep 3B7. h 64.1 Ø 5.7 38.1 Ø 2.4 24.4 Ø 1.6
Pada contoh lainnya, senyawa Cudraflavanone C (c) terlihat i 40.5 Ø 1.4 26.6 Ø 3.2 21.8 Ø 1.3
efektif pada sel HCT-166, SMMC-7721, dan BGC-823; sedang- Doxorubin a 5.5 Ø 3.2 x 10 -2 9.4 Ø 2.3 x 10 -2 5.5 Ø 3.2 x 10 -2
kan Cudraflavanone A (d) efektif pada SMMC-7721, SGC-7901
a
dan BCG-82313. Dari hasil ini, terlihat satu kecenderungan yang Note : Sel yang digunakan : TK-10 (sel kanker ginjal), UACC-62 (sel kanker
b melanoma/kulit), dan MCF-7 (sel kanker payudara). a Positif kontrol
dapat dijadikan bahan kajian yaitu : prenylated flavonoid
a b
Gambar 1. Contoh senyawa prenylated flavonoid dengan jenis prenylated yang berbeda mempunyai efektifitas tertentu pada sel tertentu pula, dan perbe-
Gambar 3. Struktur Norartocarpin (a) dan Albanin A (b)
daan tipe rantai isoprenoid juga memberikan pengaruh terhadap
efektifitas menghambat pertumbuhan sel. e f

Aktivitas biologi dan farmakologi dari Prenylated Flavonoid


Sebelum melihat lebih jauh tentang manfaat prenylated flavonoid Tabel 2. Sitotoksisitas senyawa a dan b (ED50 values in µg/ml)a
untuk terapi kanker, beberapa manfaat lain senyawa ini bagi
kesehatan manusia dapat dilihat pada tabel 1. Sel yang digunakan b A549 Hep 3B HT-29 MCF-7

a 10.0 3.2 3.9 3.1


Tabel 1. Manfaat prenylated flavonoid g
b 1.1 21.9 3.1 2.7
Aktifitas biologi dan farmakologi Senyawa aktif 5-flurouracil c
0.4 0.6 0.2 0.2
Antibakteri ( gram +) Xanthoangelol dan 4-hydroxy derricin
Antioksidan Macarangin;6,8-diprenyleriodictiol; dorsmanin C dan F Note: a Untuk aktivitas yang signifikan, diperlukan nilai ED50 < 4.0 mg/ml. b Sel yang h i
Aromatase inhibitor Demethylmoracin, isogemichalcone C
, ’ ’ digunakan : A549 (sel kanker paru) Hep 3B (sel kanker hati), HT-29 (sel kanker usus
Cyclooxygenase-1 (COX-1) dan COX-2 inhibitor 5-hydroxy-4
’ ’ -methoxy-2 ,2 -dimethylpyrano
, ’, besar), dan MCF-7 (sel kanker payudara). c Positif kontrol
(7, 8:6 ,5 ) flavanone dan 5,4 -dihydroxy-2 ’- ’
(1-hydroxy-1-methylethyl) dihyrofurano (7, 8:6 ,5 )
flavanone
a b
DNA strand scission activity Xanthoangelol
Gambar 2. Jenis-jenis prenylated pada senyawa flavonoid Aktifitas induksi pada kerusakan DNA Isoliquiritigenin dan 8-prenyl eriodictiol
HIV inhibitor 5,7-dihydroxy-6,8-diprenylflavonoid
Herpes simplex type-1 inhibitor Leachianone G
Jenis-jenis Prenylated Flavonoid Tyrosinase inhibitor Kuraridin dan Kurarinon
Sebelum membahas manfaat dari senyawa prenylated flavonoid, Sumber : Botta et al, 2005 3
ada baiknya sekilas melihat jenis-jenis prenylated yang terdapat pada
Gambar 3. Beberapa Senyawa dari Artocarpus elasticus
senyawa flavonoid. Pada Gambar 2, terlihat jenis-jenis prenylated Manfaat prenylated flavonoid yang ditampilkan pada Tabel 1 adalah
pada flavonoid. sebagian dari banyaknya manfaat dari prenylated flavonoid yang telah diteliti. Gambar 4. Senyawa artelastoxanthone (a) dan artonol A (b)

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
20 21
TINJAUAN PUSTAKA

Data pada Tabel 4 memperlihatkan efek senyawa prenylated


DAFTAR PUSTAKA
flavonoid lainnya. Secara umum, jika diperhatikan senyawa e, f
1. Di Pietro A, Conseil G, Pérez-Victoria JM. et al. Modulation by flavonoids of cell multidrug
dan i yang diberikan pada kultur sel TK-10, UACC-62 dan MCF-7 resistance mediated by P-glycoprotein and related ABC transporters. Cell Mol Life Sci
terlihat perbedaan nilai sitotoksisitasnya. Hasil ini menunjukkan 2002;59 : 307-322
adanya suatu kecenderungan bahwa jumlah rantai isoprenoid 2. Barron D, Di Pietro A, Dumontet C, McIntosh DB. Isoprenoid flavonoids are new leads in

dan tipe rantai isoprenoid memberikan efek yang berbeda terha- the modulation of chemoresistance. Phytochem Rev 2002;3: 325-332
3. Botta B, Vitali A, Menendez P, Misiti D, Monache GD. Prenylated flavonoids : Pharmacology
dap kultur sel kanker yang diuji. Kecenderungan ini perlu
and biotechnology. Curr Med Chem 2005;12: 713-739
mendapatkan perhatian dan dikaji lebih mendalam agar penye-
4. Botta B, Monache GD, Menendez P, Boffi A. Novel prenyltransferase enzymes as a tool
bab kecenderungan-kecenderungan di atas dapat terjawab. for flavonoid prenylation. Trends Pharmacol Sci 2005;26: 606-608
Studi tentang efek sitotoksisitas dari jumlah dan posisi rantai 5. Arung ET, Shimizu K, Kondo I. Structure-activity relationship of prenyl-substituted
isoprenoid pada kultur sel kanker belum pernah dilaporkan, akan polyphenols from Artocarpus heterophyllus as inhibitors of melanin biosynthesis in

tetapi Barron dan Ibrahim (1996) telah melaporkan bahwa posisi cultured melanoma cells. Chem. Biodev 2007;4 : 2166-2171
6. Cidade HM, Nacimento MSJ, Pinto MMM, Kijjoa A, Silva AMS, Herz W. Artelastocarpin
rantai isoprenoid menentukan tingkat fungitoxic. 14
and Carpelastofuran, Two New Flavones, and Cytotoxicities of Prenyl Flavonoids from
Artocarpus elasticus against Three Cancer Cell Lines. Planta Med 2001;67: 867-870
Berdasarkan hasil-hasil penelitian di atas, maka menjadi sangat 7. Ko HH, Lu YH, Yang SZ, Won SJ, Lin CN. Cytotoxic prenylflavonoids from Artocarpus
penting untuk mengkaji efektifitas prenylated flavonoid berdasar- elasticus. J Nat Prod 2005;68: 1692-1695
kan jumlah, tipe atau posisi dari rantai isoprenoid sehingga di- 8. Wätjen W, Weber N, Lou YJ, Wang ZQ, Chovolou Y, Kampkötter A, Kahl R, Proksch P.

ketahui efek yang nyata terhadap tipe sel kanker sehingga nantinya Prenylation enhances cytotoxicity of apigenin and liquiritigenin in rat H4IIE hepatoma and

dapat dipakai untuk mengobati penyakit kanker. C6 glioma cells. Food Chem Toxicol 2007;45:119-124
9. Cottiglia F,Casu L, Bonsignore L. et al. New Cytotoxic Prenylated Isoflavonoids from
Bituminaria morisiana. Planta Med 2005;71:254-260
IKLAN 5
Di lain pihak, pada tahun 2002 kasus kanker di Indonesia dilaporkan
dan dikategorikan berdasarkan banyaknya kasus yang ditemukan
10. Itoigawa M, Ito C, Tokuda H, Enjo F, Nishino H, Furukawa H. Cancer chemopreventive
activity of phenylpropanoids and phytoquinoids from Illicium plants. Cancer Lett 2004; Produk Askes 2009
yaitu kanker payudara (25,208 orang), leher rahim (15,050 orang), 214 :165-9

usus besar (9,577), indung telur (7,910), paru dan saluran per- 11. Hakim ¤H, Asnizar, Yurnawilis, Aimi N, Kitajima M, Takayama M. Artoindonesianin P,
a new prenylated flavone with cytotoxic activity from Artocarpus lanceifolius. Fitoterapia
napasan (6,227), rahim (4,909), tiroid (3,881), non-Hodgkin
2002;73: 668-673
lymphoma (3,388), dan leukemia (3,327). 15 Selain itu, berdasar-
12. Itoigawa M, Ito C, Ju-ichi M, Nobukuni T, et al. Cancer chemopreventive activity of
kan data anatomi patologi, dikategorikan 4 jenis kanker yang ter- flavanones on Epstein√Barr virus activation and two-stage mouse skin carcinogenesis.
golong berbahaya di Indonesia yaitu kanker mulut rahim, payudara, Cancer Lett 2002;176: 25-29
kulit, dan nasofaring.16 Juga dilaporkan bahwa, kanker merupakan 13. Zou YS, Hou AJ, Zhu G.F. Isoprenylated xanthones and flavonoids from Cudrania tricuspidata.

salah satu penyebab utama kematian pada penduduk Indonesia; Chem Biodiver 2005;2: 131-138
14. Barron D, Ibrahim RK. Isoprenylated flavonoids √ A survey. Phytochem 1996;43: 921-982
sekitar 800.000 orang per tahun meninggal karena penyakit kanker.17
15. The Globocan 2002 Data base. Descriptive epidemiology Group International Agency for
Dengan melihat data penderita kanker di Indonesia dan hasil pe-
Research on Cancer Lyon, France. http://www-dep.iarc.fr
nelitian senyawa prenylated flavonoid maka senyawa ini sangat 16. Kompas 28 June 2004, www.kompas.co.id
berpotensi menjadi alternatif obat anti kanker di masa mendatang. 17. Kompas 12 May 2007, www.kompas.co.id

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


22
HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

Pertama sering ditemukan sel epitelium abnormal sehingga Prosedur kerja: pengujian sampel menggunakan perangkat
diduga sebagai kanker serviks, namun ternyata sel tersebut diagnostik HC-II. Penelitian dimulai dengan pengambilan sampel,
Aplikasi Hybrid Capture II System bukan terinfeksi HPV melainkan oleh mikoorganisme lain
misalnya bakteri. Kedua pada saat pengamatan tidak ditemukan
persiapan reagen, persiapan perangkat lunak, denaturasi DNA,
persiapan kontrol dan kalibrator HC-II, persiapan larutan probe,
Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks kelainan sel epitelium tapi setelah diselediki lebih lanjut pasien
tersebut terinfeksi HPV(20).
hibridisasi, penangkapan hibrid, pendeteksian hibrid DNA-RNA
menggunakan amplifikasi sinyal (reagen pendeteksi satu), pencu-
Sinta Sasika Novel1, Ratu Safitri2, Sukma Nuswantara3 cian, pendeteksian amplifikasi sinyal menggunakan substrat
1
Mahasiswa Biologi, FMIPA Universitas Padjadjaran. 2Dosen Mikrobiologi, FMIPA Universitas Padjadjaran. Oleh karena itu para peneliti mengembangkan teknik lain chemiluminescent.
3
Biotech Coordinator, Sandia Biotech Diagnosis Centre, Santosa Bandung International Hospital. sebagai pelengkap Pap smear untuk mengetahui tingkat akurasi
sel-sel epitelium tersebut; apakah benar-benar terinfeksi HPV HASIL DAN DISKUSI
atau hanya terinfeksi bakteri. Teknik tersebut adalah teknik Nilai RLU pada Pasien :
ABSTRAK deteksi DNA virus dengan menggunakan perangkat HC-II. HC-II
Pasien Kode RLU Hasil
Penelitian mengenai Aplikasi Hybrid Capture II System dalam deteksi dini kanker serviks dimaksudkan untuk mem- merupakan teknologi terbaru di bidang biologi molekuler
sehingga dapat melengkapi tes sitologi Pap smear dan dapat Pasien 1 08070088 0,21 Negatif
pelajari metoda hibridisasi DNA dalam identifikasi keterdapatan HPV yang menyebabkan kanker serviks dengan Pasien 2 08070089 0,32 Negatif
membantu diagnosis dokter.
menggunakan perangkat diagnostik Hybrid Capture® 2 Digene. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pasien 3 08070090 0,23 Negatif
kemampuan sistem Hybrid Capture-II (HC-II) untuk mendeteksi keberadaan HPV dalam sampel. Kegunaan penelitian Prinsip kerja HC-II adalah melakukan hibridisasi DNA, DNA virus Pasien 4 08070091 0,27 Negatif
Pasien 5 08070092 0,26 Negatif
ini adalah untuk penguji tingkat akurasi teknik HC-II sebagai salah satu cara dalam deteksi dini kanker serviks. akan terikat oleh probe sehingga terbentuk ikatan DNA virus
Pasien 6 08040043 0,97 Negatif
Hasil yang didapatkan dari 12 pasien adalah 9 pasien negatif terinfeksi HPV tergolong high risk dengan nilai RLU dengan probe yang merupakan RNA. Ikatan yang terbentuk
Pasien 7 08040044 1293,03 High risk
(Relative Light Unit): pasien (kode 08070088) 0,21; pasien (kode 08070089) 0,32; pasien (kode 08070090) 0,23; disebut hibrid DNA : RNA. Hibrid DNA : RNA akan terikat oleh
Pasien 8 08040045 0,17 Negatif
antibodi spesifik yang ada di dalam sumur microplate. Ikatan
pasien (kode 08070091) 0,27; pasien (kode 08070092) 0,26; pasien (kode 08040043) 0,97; pasien (kode antibodi dengan hibrid DNA : RNA akan bereaksi dengan alkaline
Pasien 9 08040046 0,18 Negatif
Pasien 10 08040047 44,44 High risk
08040045) 0,17; pasien (kode 08040046) 0,18; pasien (kode 08040046) 0,18; pasien (kode 08040050) 0,12; dan phosphatase. Reaksi ini dideteksi oleh chemiluminescent yang Pasien 11 08040048 1,85 High risk
3 pasien positif terinfeksi HPV tergolong high risk dengan nilai RLU: pasien (kode 08040044) 1293,03; pasien akan menghasilkan sinyal amplifikasi dalam bentuk emisi cahaya. Pasien 12 08040050 0,12 Negatif
(kode 08040047) 44,44; pasien (kode 08040048) 1,85. Emisi cahaya diukur oleh luminometer menghasilkan nilai RLU
(Relative Light Unit). Nilai RLU inilah yang akan menentukan HC-II dirancang untuk mendeteksi 18 tipe HPV (hr-HPV dan lr-
apakah pasien tersebut terinfeksi atau tidak oleh HPV(8). HPV)(10) yang telah diakui dunia serta disahkan oleh FDA (Food
Kata kunci : Kanker serviks, HPV, Hybrid Capture-II System, RLU.
and Drug Administration) Amerika Serikat(13). Tes ini mempunyai
Tes DNA HPV menggunakan perangkat HC-II memiliki keaku- satu keuntungan tambahan yaitu memperkirakan jumlah kuanti-
ratan yang lebih tinggi dibandingkan teknik lainnya(3), selain tatif virus(4;17).
PENDAHULUAN Protein E6 dan E7 merupakan vektor pembawa karsinogen dari karena dilengkapi oleh teknik komputerisasi, juga karena HC-II
HPV (Human Papilloma Virus) termasuk ke dalam familia Papova- HPV yang dapat menyebabkan pertumbuhan sel tidak normal memiliki nilai sensitivitas 98%, nilai spesifisitas 98%, dan nilai HC-II memiliki keakuratan yang tinggi dalam mendeteksi infeksi
viridae, memiliki diameter 555 nm dengan genom yang berukuran yang disebut displasia, displasia inilah yang berkembang menjadi prediksi negatif 99% sehingga kemungkinan kesalahan diagno- HPV(15;2) karena sistem ini mampu mendeteksi keberadaan DNA
8kbp, struktur kapsid Ikosahedral tak beramplop. HPV merupakan kanker(9). Kanker serviks 90% berasal dari sel skuamosa yang sis negatif palsu sangat kecil. HPV dalam jumlah yang sangat kecil. Keakuratan uji atau tes
virus DNA yang memiliki hampir 100 tipe. Berdasarkan karsino- melapisi serviks dan 10% berasal dari sel kelenjar penghasil lendir berdasarkan pada nilai sensitivitas dan spesifisitas(18). Nilai sensiti-
genitasnya, HPV terbagi ke dalam dua kelompok yaitu high-risk pada saluran servikal yang menuju uterus(7). Sel yang terinfeksi MAKSUD, TUJUAN, DAN KEGUNAAN PENELITIAN vitas suatu uji berarti yang menjamin bahwa nilai positif yang
Maksud penelitian ini adalah mempelajari metoda hibridisasi dihasilkan adalah benar positif dengan peluang nilai negatif palsu
HPV (hr-HPV) dan low-risk HPV (lr-HPV)(12). Infeksi lr-HPV menyebab- HPV akan menyebabkan metabolisme sel menjadi tidak normal
DNA untuk identifikasi keterdapatan hr-HPV yang menyebabkan yang kecil sedangkan nilai spesifisitas suatu uji adalah yang
kan kutil pada kulit dan kulit kelamin, sedangkan infeksi hr-HPV sehingga mengakibatkan perubahan sel normal menjadi sel yang
kanker serviks dengan menggunakan perangkat diagnostik menjamin bahwa nilai negatif yang dihasilkan adalah benar
menyebabkan kanker serviks atau leher rahim. abnormal. Para dokter menyebut sel abnormal tersebut sebagai Hybrid Capture® 2 HPV DNA TEST™. Tujuan penelitian ini adalah negatif dengan peluang nilai positif palsu yang kecil(3). Nilai
pra-kanker sedangkan perubahan awal pra-kanker pada permu- untuk mengetahui kemampuan sistem HC-II untuk mendeteksi sensitivitas HC-II adalah sebesar 98% sedangkan pada Pap smear
Kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak kedua pada wanita kaan sel disebut displasia atau lesi intra epithelial squamosa(9). adanya HPV dalam sampel. Kegunaan penelitian ini adalah untuk sekitar 51-76% sedangkan nilai spesifisitas HC-II 98 % dan Pap
setelah kanker payudara(14). Terdapat lebih dari 440.000.000 individu Pencegahan kanker serviks yaitu dengan pencegahan primer dan menguji tingkat akurasi teknik HC-II sebagai salah satu cara smear 97% sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan diagno-
yang terinfeksi HPV(19). Pada tahun 2005 lebih dari 250.000 sekunder. Pencegahan Primer yaitu dengan mencegah terjadinya deteksi dini kanker serviks. sis negatif palsu dari pemeriksaan ini sangat kecil.
kematian disebabkan oleh kanker serviks(14). Hampir 80% kanker infeksi HPV melalui vaksinasi. Pencegahan sekunder melalui
serviks terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. deteksi dini dengan metode Pap Smear, kolposkopi, pendetek- BAHAN DAN CARA KERJA Prinsip kerja HC-II hibridisasi antibodi adalah menggunakan
sian DNA virus dengan teknik PCR dan Hybrid Capture-II. Bahan : koleksi sampel, set bahan kimia Hybrid Capture II System pendeteksian chemiluminescent(16). Hibridisasi antara DNA virus
terdiri atas: 0,35 mL larutan indicator pewarna, 50 mL reagen dengan probe RNA menghasilkan DNA-RNA hybrid yang ditang-
Di Indonesia sendiri, kanker serviks menjadi ancaman tersendiri
denaturasi, 5 mL larutan pengencer probe, 200 mL probe HPV kap oleh antibodi di dalam sumur microplate yang kemudian
bagi para wanita(1). Setiap hari ditemukan 41 kasus baru dan 20 Pap Smear merupakan teknik yang paling mudah dilakukan dengan
high risk, 2 mL control (-), 1 mL kalibrator HPV High risk, 1 mL akan bereaksi dengan antibodi ke dua yang dikonjugasikan
kematian akibat kanker serviks. Diperkirakan 40.000 kasus baru melihat perubahan sel-sel epitelium serviks. Infeksi HPV dapat control kualitas HPV high risk, 12 mL reagen pendeteksi 1, 12 mL dengan alkaline phosphate. Antibodi ke dua ini bertindak sebagai
kanker serviks ditemukan setiap tahunnya(11). Kanker serviks itu merusak atau mengubah susunan sel-sel epitelium serviks; perubahan reagen pendeteksi 2, dan 100 mL konsentrat buffer pencuci. sinyal amplifikasi; makin banyak hibrid DNA-RNA yang tertang-
sendiri adalah jenis kanker yang telah diketahui protein karsinogen- inilah yang dideteksi menggunakan Pap smear. Teknik Pap smear Bahan pendukung lain antara lain: parafilm, plate sealer, reservoir kap pada dinding capture plate, makin banyak pula antibodi
nya yaitu protein E6 dan E7(1). kurang efektif karena bisa meragukan. plastic, kertas tisu. kedua yang dapat mengenali hibrid DNA-RNA.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
24 25
HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

Pertama sering ditemukan sel epitelium abnormal sehingga Prosedur kerja: pengujian sampel menggunakan perangkat
diduga sebagai kanker serviks, namun ternyata sel tersebut diagnostik HC-II. Penelitian dimulai dengan pengambilan sampel,
Aplikasi Hybrid Capture II System bukan terinfeksi HPV melainkan oleh mikoorganisme lain
misalnya bakteri. Kedua pada saat pengamatan tidak ditemukan
persiapan reagen, persiapan perangkat lunak, denaturasi DNA,
persiapan kontrol dan kalibrator HC-II, persiapan larutan probe,
Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks kelainan sel epitelium tapi setelah diselediki lebih lanjut pasien
tersebut terinfeksi HPV(20).
hibridisasi, penangkapan hibrid, pendeteksian hibrid DNA-RNA
menggunakan amplifikasi sinyal (reagen pendeteksi satu), pencu-
Sinta Sasika Novel1, Ratu Safitri2, Sukma Nuswantara3 cian, pendeteksian amplifikasi sinyal menggunakan substrat
1
Mahasiswa Biologi, FMIPA Universitas Padjadjaran. 2Dosen Mikrobiologi, FMIPA Universitas Padjadjaran. Oleh karena itu para peneliti mengembangkan teknik lain chemiluminescent.
3
Biotech Coordinator, Sandia Biotech Diagnosis Centre, Santosa Bandung International Hospital. sebagai pelengkap Pap smear untuk mengetahui tingkat akurasi
sel-sel epitelium tersebut; apakah benar-benar terinfeksi HPV HASIL DAN DISKUSI
atau hanya terinfeksi bakteri. Teknik tersebut adalah teknik Nilai RLU pada Pasien :
ABSTRAK deteksi DNA virus dengan menggunakan perangkat HC-II. HC-II
Pasien Kode RLU Hasil
Penelitian mengenai Aplikasi Hybrid Capture II System dalam deteksi dini kanker serviks dimaksudkan untuk mem- merupakan teknologi terbaru di bidang biologi molekuler
sehingga dapat melengkapi tes sitologi Pap smear dan dapat Pasien 1 08070088 0,21 Negatif
pelajari metoda hibridisasi DNA dalam identifikasi keterdapatan HPV yang menyebabkan kanker serviks dengan Pasien 2 08070089 0,32 Negatif
membantu diagnosis dokter.
menggunakan perangkat diagnostik Hybrid Capture® 2 Digene. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pasien 3 08070090 0,23 Negatif
kemampuan sistem Hybrid Capture-II (HC-II) untuk mendeteksi keberadaan HPV dalam sampel. Kegunaan penelitian Prinsip kerja HC-II adalah melakukan hibridisasi DNA, DNA virus Pasien 4 08070091 0,27 Negatif
Pasien 5 08070092 0,26 Negatif
ini adalah untuk penguji tingkat akurasi teknik HC-II sebagai salah satu cara dalam deteksi dini kanker serviks. akan terikat oleh probe sehingga terbentuk ikatan DNA virus
Pasien 6 08040043 0,97 Negatif
Hasil yang didapatkan dari 12 pasien adalah 9 pasien negatif terinfeksi HPV tergolong high risk dengan nilai RLU dengan probe yang merupakan RNA. Ikatan yang terbentuk
Pasien 7 08040044 1293,03 High risk
(Relative Light Unit): pasien (kode 08070088) 0,21; pasien (kode 08070089) 0,32; pasien (kode 08070090) 0,23; disebut hibrid DNA : RNA. Hibrid DNA : RNA akan terikat oleh
Pasien 8 08040045 0,17 Negatif
antibodi spesifik yang ada di dalam sumur microplate. Ikatan
pasien (kode 08070091) 0,27; pasien (kode 08070092) 0,26; pasien (kode 08040043) 0,97; pasien (kode antibodi dengan hibrid DNA : RNA akan bereaksi dengan alkaline
Pasien 9 08040046 0,18 Negatif
Pasien 10 08040047 44,44 High risk
08040045) 0,17; pasien (kode 08040046) 0,18; pasien (kode 08040046) 0,18; pasien (kode 08040050) 0,12; dan phosphatase. Reaksi ini dideteksi oleh chemiluminescent yang Pasien 11 08040048 1,85 High risk
3 pasien positif terinfeksi HPV tergolong high risk dengan nilai RLU: pasien (kode 08040044) 1293,03; pasien akan menghasilkan sinyal amplifikasi dalam bentuk emisi cahaya. Pasien 12 08040050 0,12 Negatif
(kode 08040047) 44,44; pasien (kode 08040048) 1,85. Emisi cahaya diukur oleh luminometer menghasilkan nilai RLU
(Relative Light Unit). Nilai RLU inilah yang akan menentukan HC-II dirancang untuk mendeteksi 18 tipe HPV (hr-HPV dan lr-
apakah pasien tersebut terinfeksi atau tidak oleh HPV(8). HPV)(10) yang telah diakui dunia serta disahkan oleh FDA (Food
Kata kunci : Kanker serviks, HPV, Hybrid Capture-II System, RLU.
and Drug Administration) Amerika Serikat(13). Tes ini mempunyai
Tes DNA HPV menggunakan perangkat HC-II memiliki keaku- satu keuntungan tambahan yaitu memperkirakan jumlah kuanti-
ratan yang lebih tinggi dibandingkan teknik lainnya(3), selain tatif virus(4;17).
PENDAHULUAN Protein E6 dan E7 merupakan vektor pembawa karsinogen dari karena dilengkapi oleh teknik komputerisasi, juga karena HC-II
HPV (Human Papilloma Virus) termasuk ke dalam familia Papova- HPV yang dapat menyebabkan pertumbuhan sel tidak normal memiliki nilai sensitivitas 98%, nilai spesifisitas 98%, dan nilai HC-II memiliki keakuratan yang tinggi dalam mendeteksi infeksi
viridae, memiliki diameter 555 nm dengan genom yang berukuran yang disebut displasia, displasia inilah yang berkembang menjadi prediksi negatif 99% sehingga kemungkinan kesalahan diagno- HPV(15;2) karena sistem ini mampu mendeteksi keberadaan DNA
8kbp, struktur kapsid Ikosahedral tak beramplop. HPV merupakan kanker(9). Kanker serviks 90% berasal dari sel skuamosa yang sis negatif palsu sangat kecil. HPV dalam jumlah yang sangat kecil. Keakuratan uji atau tes
virus DNA yang memiliki hampir 100 tipe. Berdasarkan karsino- melapisi serviks dan 10% berasal dari sel kelenjar penghasil lendir berdasarkan pada nilai sensitivitas dan spesifisitas(18). Nilai sensiti-
genitasnya, HPV terbagi ke dalam dua kelompok yaitu high-risk pada saluran servikal yang menuju uterus(7). Sel yang terinfeksi MAKSUD, TUJUAN, DAN KEGUNAAN PENELITIAN vitas suatu uji berarti yang menjamin bahwa nilai positif yang
Maksud penelitian ini adalah mempelajari metoda hibridisasi dihasilkan adalah benar positif dengan peluang nilai negatif palsu
HPV (hr-HPV) dan low-risk HPV (lr-HPV)(12). Infeksi lr-HPV menyebab- HPV akan menyebabkan metabolisme sel menjadi tidak normal
DNA untuk identifikasi keterdapatan hr-HPV yang menyebabkan yang kecil sedangkan nilai spesifisitas suatu uji adalah yang
kan kutil pada kulit dan kulit kelamin, sedangkan infeksi hr-HPV sehingga mengakibatkan perubahan sel normal menjadi sel yang
kanker serviks dengan menggunakan perangkat diagnostik menjamin bahwa nilai negatif yang dihasilkan adalah benar
menyebabkan kanker serviks atau leher rahim. abnormal. Para dokter menyebut sel abnormal tersebut sebagai Hybrid Capture® 2 HPV DNA TEST™. Tujuan penelitian ini adalah negatif dengan peluang nilai positif palsu yang kecil(3). Nilai
pra-kanker sedangkan perubahan awal pra-kanker pada permu- untuk mengetahui kemampuan sistem HC-II untuk mendeteksi sensitivitas HC-II adalah sebesar 98% sedangkan pada Pap smear
Kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak kedua pada wanita kaan sel disebut displasia atau lesi intra epithelial squamosa(9). adanya HPV dalam sampel. Kegunaan penelitian ini adalah untuk sekitar 51-76% sedangkan nilai spesifisitas HC-II 98 % dan Pap
setelah kanker payudara(14). Terdapat lebih dari 440.000.000 individu Pencegahan kanker serviks yaitu dengan pencegahan primer dan menguji tingkat akurasi teknik HC-II sebagai salah satu cara smear 97% sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan diagno-
yang terinfeksi HPV(19). Pada tahun 2005 lebih dari 250.000 sekunder. Pencegahan Primer yaitu dengan mencegah terjadinya deteksi dini kanker serviks. sis negatif palsu dari pemeriksaan ini sangat kecil.
kematian disebabkan oleh kanker serviks(14). Hampir 80% kanker infeksi HPV melalui vaksinasi. Pencegahan sekunder melalui
serviks terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. deteksi dini dengan metode Pap Smear, kolposkopi, pendetek- BAHAN DAN CARA KERJA Prinsip kerja HC-II hibridisasi antibodi adalah menggunakan
sian DNA virus dengan teknik PCR dan Hybrid Capture-II. Bahan : koleksi sampel, set bahan kimia Hybrid Capture II System pendeteksian chemiluminescent(16). Hibridisasi antara DNA virus
terdiri atas: 0,35 mL larutan indicator pewarna, 50 mL reagen dengan probe RNA menghasilkan DNA-RNA hybrid yang ditang-
Di Indonesia sendiri, kanker serviks menjadi ancaman tersendiri
denaturasi, 5 mL larutan pengencer probe, 200 mL probe HPV kap oleh antibodi di dalam sumur microplate yang kemudian
bagi para wanita(1). Setiap hari ditemukan 41 kasus baru dan 20 Pap Smear merupakan teknik yang paling mudah dilakukan dengan
high risk, 2 mL control (-), 1 mL kalibrator HPV High risk, 1 mL akan bereaksi dengan antibodi ke dua yang dikonjugasikan
kematian akibat kanker serviks. Diperkirakan 40.000 kasus baru melihat perubahan sel-sel epitelium serviks. Infeksi HPV dapat control kualitas HPV high risk, 12 mL reagen pendeteksi 1, 12 mL dengan alkaline phosphate. Antibodi ke dua ini bertindak sebagai
kanker serviks ditemukan setiap tahunnya(11). Kanker serviks itu merusak atau mengubah susunan sel-sel epitelium serviks; perubahan reagen pendeteksi 2, dan 100 mL konsentrat buffer pencuci. sinyal amplifikasi; makin banyak hibrid DNA-RNA yang tertang-
sendiri adalah jenis kanker yang telah diketahui protein karsinogen- inilah yang dideteksi menggunakan Pap smear. Teknik Pap smear Bahan pendukung lain antara lain: parafilm, plate sealer, reservoir kap pada dinding capture plate, makin banyak pula antibodi
nya yaitu protein E6 dan E7(1). kurang efektif karena bisa meragukan. plastic, kertas tisu. kedua yang dapat mengenali hibrid DNA-RNA.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
24 25
HASIL PENELITIAN

Kuantitas antibodi yang terikat pada hibrid DNA-RNA diukur SIMPULAN


dengan menambahkan zat chemiluminescent atau 1,2-dioxetan. 1. Teknik HC-II dapat mendeteksi HPV high risk dan low risk.
Intensitas cahaya yang dipancarkan menandakan ada atau 2. Hasil HC-II jika melebihi nilai ambang positif maka spesimen
tidaknya DNA target dalam sampel. Cahaya berasal dari dioxetan dinyatakan positif terinfeksi HPV.
yang memiliki waktu paruh singkat dan memiliki reaksi oksidasi 3. Teknik HC-II dapat melengkapi tes sitologi Pap smear dan
intermediet yang tidak stabil. Alkaline phosphatase mendefosfo- dapat membantu diagnosis dokter.
rilasi substrat adamantil-1,2-dioxetan fosfat secara hidrolitik
membentuk anion yang metastabil. Sifat metastabil inilah yang
membuat anion akan terfragmentasi membentuk adamanta- DAFTAR PUSTAKA
none dan anion metil-m-oksibenzoat. Anion metil-m-oksibenzoat 1. Andrijono. Kanker Serviks. Jakarta: Divisi Onkologi Departemen Obstetri-Ginekologi
yang tereksitasi akan mengemisikan sinar dengan panjang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007; 1-81
gelombang 447 nm. 2. Castle PE, Lorincz AT, Lohnas IM, dkk. Results of human papillomavirus DNA testing
with the hybrid capture II assay are reproducible. J Clin Microbiol. 2002; 40:1088-90.
Cahaya yang dihasilkan dari reaksi pemutusan substrat chemilu- 3. Clavel C, Masure M, Putaud I, dkk. Hybrid capture II, a new sensitive test for human
papillomavirus detection. Comparison with hybrid capture I and PCR results in cervical
minescent oleh alkaline phosphatase kemudian dideteksi oleh
lesions. J. Clin. Pathol. 1998; 5: 737-40.
luminometer dan diinterpretasikan dalam satuan RLU oleh
4. Cox JT, Lorincz AT, Schiffman MH. Human Papillomavirus Testing by Hybrid Capture
luminometer yang sebanding dengan l pglmL kontrol positif Appears to be Useful in Triaging Women with a Cytologic Diagnosis of ASCUS. Am J
DNA HPV tipe 16 dan 5000 genom HPV. Penentuan nilai positif Obstet Gynecol. 1995; 172: 946-54.
uji DNA HPV didasarkan pada perbandingan sampel dengan 5. Cuzick J. Human Papillomavirus Infection of the Prostate. Cancer Surveys.1995; 23: 91-5.
rata-rata triplikasi RLU kontrol positif (RLU/PC). Jika perbandingan 6. Doorbar J. Molecular Biology of Human Papillomavirus Infection and Cervical Cancer.
RLU/PC (relative light unit/posirif kontrol) melebihi nilai ambang Clin. Sci. 2006; 110: 525-41.
positif maka spesimen dinyatakan positif terhadap tes DNA HPV. 7. Greer CE, Wheeler CM, Ladner MB, dkk. Human papillomavirus (HPV) type Distribution
and Serological Response to HPV type 6 Virus-like Particles in Patients with Genital Warts.
J Clin Microbiol 1995; 33:2058-63.
Nilai positif palsu artinya tes DNA HPV positif tetapi setelah
8. Lörincz AT, Reid R, Jenson AB, dkk. Human Papillomavirus Infection of the Cervix:
melalui pengujian lain seperti kolposkopi, IVA, dan Pap smear Relative Risk Associations of 15 Common Anogenital Types. Obstet Gynecol. 1992; 79:
ternyata tidak ditemukan kelainan yang mengacu pada kanker 328-37.
serviks. Penentuan konsentrasi ambang DNA HPV yang akan 9. Maciag PC, Villa LL. Genetic Susceptibility to HPV Infection and Cervical Cancer. Brazilian
berpeluang terbentuknya kanker serviks adalah sangat penting. Journal of Medical and Biological Research. 1999; 32: 915-22.
Digene menetapkan nilai ambang positif sebesar 1.0 RLU/PC(2). 10. Maria OOC, Almeida RW, Leite FMS, dkk. Detection of Human Papillomavirus DNA by
the Hybrid Capture Assay. Braz. J. Infect. Dis. 2003; 7(2): 121-5.
11. Marianda GW. Harapan Baru dalam Penanganan Kanker yang Terinfeksi Human
Infeksi HPV ke dalam luka berlangsung antara 8 sampai 12
Papillomavirus dengan Penggunaan Vaksin. Denpasar: Program Pendidikan Dokter
minggu(6). Infeksi HPV dipengaruhi faktor usia dan kondisi sistem
Spesialis I Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Udayana, 2004.
imunitas pasien, kedua faktor ini juga mempengaruhi nilai positif 12. Muñoz N, Bosch FX, de Sanjosé S, dkk. Epidemiologic classification of human papilloma
palsu. Nilai positif palsu menurun sampai tiga kali lipat untuk virus types associated with cervical cancer. N. Engl. J. Med. 2003; 348(6): 518-2.
pasien yang berusia di atas 30 tahun jika dibandingkan dengan 13. Nuswantara S. Deteksi Human Papilloma Virus dalam Pencegahan Dini Kanker Leher
pasien yang berusia di bawah 30 tahun(5). Wanita berusia di Rahim. Bandung: Seminar Deteksi Dini dan Penangannan Terkini Kanker Leher Rahim.
bawah 30 tahun cenderung memiliki sistem imunitas yang cukup Santosa Bandung International Hospital, 2008.
untuk mengurangi infeksi HPV, sedangkan wanita berusia di atas 14. Rasjidi I. Panduan Penatalaksanaan Kanker Ginekologi. Jakarta: EGC, 2008.
15. Schiffman MH, Kiviat NB, Burk RD, dkk. Accuracy and interlaboratory reliability of
30 tahun cenderung mengalami infeksi HPV yang persisten atau
human papillomavirus DNA testing by hybrid capture. J Clin Microbiol. 1995; 33: 545-550.
menetap(22). 16. Slawa S, Klimek M, Zawilinska B, Kopec J, Daszkiewicz E. Detection of human papillomavirus
in cervical cell specimens by hybrid capture and PCR with different primers. Acta
Infeksi HPV yang bersifat laten dapat berkembang menjadi displa- Biochimica Polonica. 2006; 53(3): 603-607.
sia (kelainan) pada sel epitel serviks(21). Peluang terjadinya displa- 17. Sun CA, Liu JF, Wu DM, dkk. Viral load of high-risk human papillomavirus in cervical
sia sel epitel serviks lebih besar apabila penderita mengalami squamous intraepithelial lesions. Int J Gynecol Obstet. 2002; 76: 41-47.
imunosupresi, misalnya orang yang terinfeksi HIV akan lebih 18. Terry G, Ho L, Londesborough P, dkk. Detection of high-risk HPV types by the hybrid

mudah terinfeksi HPV karena infeksi HIV dan HPV sama-sama capture 2 test. J Med Virol. 2001; 65:155-162.
19. Torpy JM, Burke AE, Glass RM. Human Papillomavirus Infection. JAMA 2007; 297(8): 912.
ditularkan melalui aktivitas seksual. Penurunan sistem imunitas
20. Walboomers JM, Jacobs MV, Manos MM, dkk. Human Papillomavirus is A Necessary
akibat infeksi HIV akan memudahkan infeksi virus HPV(6). Cause of Invasive Cervical Cancer Worldwide. J. Pathol. 1999; 189(1): 12-9.
21. Winer RL, Kiviat NB. Development and Duration of Human Papillomavirus Lesions, After
Selain itu faktor lain misalnya kebiasaan merokok, penggunaan Initial Infection. J Infect Dis. 2005; 191(5): 731-738.
kontrasepsi oral, dan terinfeksi penyakit menular seksual lainnya 22. Wright TC, Cox JT, Massad LS, Twiggs LB, Wilkinson EJ. Consensus Guidelines for the
akan meningkatkan peluang terjadinya kanker serviks yang ber- Management of Women with Cervical Cytological Abnormalities. JAMA 2002; 287(16):
sifat invasif (22). 2120-212.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


26
HASIL PENELITIAN

Kuantitas antibodi yang terikat pada hibrid DNA-RNA diukur SIMPULAN


dengan menambahkan zat chemiluminescent atau 1,2-dioxetan. 1. Teknik HC-II dapat mendeteksi HPV high risk dan low risk.
Intensitas cahaya yang dipancarkan menandakan ada atau 2. Hasil HC-II jika melebihi nilai ambang positif maka spesimen
tidaknya DNA target dalam sampel. Cahaya berasal dari dioxetan dinyatakan positif terinfeksi HPV.
yang memiliki waktu paruh singkat dan memiliki reaksi oksidasi 3. Teknik HC-II dapat melengkapi tes sitologi Pap smear dan
intermediet yang tidak stabil. Alkaline phosphatase mendefosfo- dapat membantu diagnosis dokter.
rilasi substrat adamantil-1,2-dioxetan fosfat secara hidrolitik
membentuk anion yang metastabil. Sifat metastabil inilah yang
membuat anion akan terfragmentasi membentuk adamanta- DAFTAR PUSTAKA
none dan anion metil-m-oksibenzoat. Anion metil-m-oksibenzoat 1. Andrijono. Kanker Serviks. Jakarta: Divisi Onkologi Departemen Obstetri-Ginekologi
yang tereksitasi akan mengemisikan sinar dengan panjang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007; 1-81
gelombang 447 nm. 2. Castle PE, Lorincz AT, Lohnas IM, dkk. Results of human papillomavirus DNA testing
with the hybrid capture II assay are reproducible. J Clin Microbiol. 2002; 40:1088-90.
Cahaya yang dihasilkan dari reaksi pemutusan substrat chemilu- 3. Clavel C, Masure M, Putaud I, dkk. Hybrid capture II, a new sensitive test for human
papillomavirus detection. Comparison with hybrid capture I and PCR results in cervical
minescent oleh alkaline phosphatase kemudian dideteksi oleh
lesions. J. Clin. Pathol. 1998; 5: 737-40.
luminometer dan diinterpretasikan dalam satuan RLU oleh
4. Cox JT, Lorincz AT, Schiffman MH. Human Papillomavirus Testing by Hybrid Capture
luminometer yang sebanding dengan l pglmL kontrol positif Appears to be Useful in Triaging Women with a Cytologic Diagnosis of ASCUS. Am J
DNA HPV tipe 16 dan 5000 genom HPV. Penentuan nilai positif Obstet Gynecol. 1995; 172: 946-54.
uji DNA HPV didasarkan pada perbandingan sampel dengan 5. Cuzick J. Human Papillomavirus Infection of the Prostate. Cancer Surveys.1995; 23: 91-5.
rata-rata triplikasi RLU kontrol positif (RLU/PC). Jika perbandingan 6. Doorbar J. Molecular Biology of Human Papillomavirus Infection and Cervical Cancer.
RLU/PC (relative light unit/posirif kontrol) melebihi nilai ambang Clin. Sci. 2006; 110: 525-41.
positif maka spesimen dinyatakan positif terhadap tes DNA HPV. 7. Greer CE, Wheeler CM, Ladner MB, dkk. Human papillomavirus (HPV) type Distribution
and Serological Response to HPV type 6 Virus-like Particles in Patients with Genital Warts.
J Clin Microbiol 1995; 33:2058-63.
Nilai positif palsu artinya tes DNA HPV positif tetapi setelah
8. Lörincz AT, Reid R, Jenson AB, dkk. Human Papillomavirus Infection of the Cervix:
melalui pengujian lain seperti kolposkopi, IVA, dan Pap smear Relative Risk Associations of 15 Common Anogenital Types. Obstet Gynecol. 1992; 79:
ternyata tidak ditemukan kelainan yang mengacu pada kanker 328-37.
serviks. Penentuan konsentrasi ambang DNA HPV yang akan 9. Maciag PC, Villa LL. Genetic Susceptibility to HPV Infection and Cervical Cancer. Brazilian
berpeluang terbentuknya kanker serviks adalah sangat penting. Journal of Medical and Biological Research. 1999; 32: 915-22.
Digene menetapkan nilai ambang positif sebesar 1.0 RLU/PC(2). 10. Maria OOC, Almeida RW, Leite FMS, dkk. Detection of Human Papillomavirus DNA by
the Hybrid Capture Assay. Braz. J. Infect. Dis. 2003; 7(2): 121-5.
11. Marianda GW. Harapan Baru dalam Penanganan Kanker yang Terinfeksi Human
Infeksi HPV ke dalam luka berlangsung antara 8 sampai 12
Papillomavirus dengan Penggunaan Vaksin. Denpasar: Program Pendidikan Dokter
minggu(6). Infeksi HPV dipengaruhi faktor usia dan kondisi sistem
Spesialis I Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Udayana, 2004.
imunitas pasien, kedua faktor ini juga mempengaruhi nilai positif 12. Muñoz N, Bosch FX, de Sanjosé S, dkk. Epidemiologic classification of human papilloma
palsu. Nilai positif palsu menurun sampai tiga kali lipat untuk virus types associated with cervical cancer. N. Engl. J. Med. 2003; 348(6): 518-2.
pasien yang berusia di atas 30 tahun jika dibandingkan dengan 13. Nuswantara S. Deteksi Human Papilloma Virus dalam Pencegahan Dini Kanker Leher
pasien yang berusia di bawah 30 tahun(5). Wanita berusia di Rahim. Bandung: Seminar Deteksi Dini dan Penangannan Terkini Kanker Leher Rahim.
bawah 30 tahun cenderung memiliki sistem imunitas yang cukup Santosa Bandung International Hospital, 2008.
untuk mengurangi infeksi HPV, sedangkan wanita berusia di atas 14. Rasjidi I. Panduan Penatalaksanaan Kanker Ginekologi. Jakarta: EGC, 2008.
15. Schiffman MH, Kiviat NB, Burk RD, dkk. Accuracy and interlaboratory reliability of
30 tahun cenderung mengalami infeksi HPV yang persisten atau
human papillomavirus DNA testing by hybrid capture. J Clin Microbiol. 1995; 33: 545-550.
menetap(22). 16. Slawa S, Klimek M, Zawilinska B, Kopec J, Daszkiewicz E. Detection of human papillomavirus
in cervical cell specimens by hybrid capture and PCR with different primers. Acta
Infeksi HPV yang bersifat laten dapat berkembang menjadi displa- Biochimica Polonica. 2006; 53(3): 603-607.
sia (kelainan) pada sel epitel serviks(21). Peluang terjadinya displa- 17. Sun CA, Liu JF, Wu DM, dkk. Viral load of high-risk human papillomavirus in cervical
sia sel epitel serviks lebih besar apabila penderita mengalami squamous intraepithelial lesions. Int J Gynecol Obstet. 2002; 76: 41-47.
imunosupresi, misalnya orang yang terinfeksi HIV akan lebih 18. Terry G, Ho L, Londesborough P, dkk. Detection of high-risk HPV types by the hybrid

mudah terinfeksi HPV karena infeksi HIV dan HPV sama-sama capture 2 test. J Med Virol. 2001; 65:155-162.
19. Torpy JM, Burke AE, Glass RM. Human Papillomavirus Infection. JAMA 2007; 297(8): 912.
ditularkan melalui aktivitas seksual. Penurunan sistem imunitas
20. Walboomers JM, Jacobs MV, Manos MM, dkk. Human Papillomavirus is A Necessary
akibat infeksi HIV akan memudahkan infeksi virus HPV(6). Cause of Invasive Cervical Cancer Worldwide. J. Pathol. 1999; 189(1): 12-9.
21. Winer RL, Kiviat NB. Development and Duration of Human Papillomavirus Lesions, After
Selain itu faktor lain misalnya kebiasaan merokok, penggunaan Initial Infection. J Infect Dis. 2005; 191(5): 731-738.
kontrasepsi oral, dan terinfeksi penyakit menular seksual lainnya 22. Wright TC, Cox JT, Massad LS, Twiggs LB, Wilkinson EJ. Consensus Guidelines for the
akan meningkatkan peluang terjadinya kanker serviks yang ber- Management of Women with Cervical Cytological Abnormalities. JAMA 2002; 287(16):
sifat invasif (22). 2120-212.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


26
HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

Tabel 1. Karakteristik penderita ARMD yang Berobat ke RS Mata Cicendo Tabel 3. Klasifikasi Penderita ARMD RS Mata Cicendo berdasarkan umur
1 Juli 2004 - 30 November 2004 dan jenis kelamin 1 Juli 2004 - 30 November 2004
Karakteristik Klinik Penderita ARMD Variabel Jumlah (n = 99 Persentase (%)
Stadium awal Stadium menengah Stadium lanjut
di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung Jenis Kelamin
Umur Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
Laki-laki 45 45,4 (tahun) n (%) n (% n (%) n(%) n (%) n (%)
Erry Perempuan 54 54,5
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem & Kebijakan Kesehatan, 50-59 3 (3,03) 5 (5,05) - 1 (1,01) 1 (1,01) 3 (3,03)
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departeman Kesehatan RI, Jakarta, Indonesia Umur (tahun)
60-69 4 (4,04) 4 (4,04) 13 (13,13) 2 (2,02) 6 (6,06) 9 (9,09)
50 √ 59 12 12,1
PENDAHULUAN Gejala ARMD awalnya terjadi pada satu mata, sehingga penderita 60 √ 69 38 38,4 70-79 6 (6,06) 2 (2,02 5 (5,05) 6 (6,06) 6 (6,06) 13 (13,13)
Membaiknya pelayanan kesehatan dan pesatnya kemajuan di sering mengabaikannya. Mereka baru menyadari ketika mata yang 70 √ 79 39 39,4 80-89 1 (1,01) - - 2 (2,02) 2 (2,02) 5 (5,05)
bidang kedokteran membuat usia harapan hidup makin tinggi. satunya lagi juga mengalami hal yang sama. Keluhan yang sering 80 √ 89 10 10,1
Namun di sisi lain muncul berbagai keluhan baru yang umumnya dirasakan berupa menurunnya tajam penglihatan, menurunnya Jumlah 14(14,14) 11(11,11) 18(18,18) 11(11,11) 15(15,15) 30(30,30)
terkait dengan usia lanjut, termasuk ARMD (age related macular Pendidikan
sensitifitas kontras, adanya daerah yang lebih buram di bagian
degeneration) atau sering pula disebut dengan AMD (age macular lapang pandang sentral (skotoma sentral) dan bila penderita melihat SD 40 40,4
degeneration). Survai kesehatan indera penglihatan dan pendengaran SMP 19 19,2 ARMD stadium lanjut dibagi dalam 2 bentuk yaitu: neovaskular
garis lurus, akan terlihat melengkung.5
(1993-1996) menunjukkan angka kebutaan 1,5%. Kebutaan terkait SMA 19 19,2 dan non neovaskular.
usia lanjut menyumbang 0,38 %, lebih rendah dibanding katarak Sarjana 1 1,0 Bentuk neovaskular lebih banyak (38,4%) dibandingkan dengan
0,78%1, namun katarak dapat direhabilitasi dengan tindakan Penyebab ARMD belum diketahui pasti, tetapi sering dihubung-
Tidak Sekolah 20 20,2 bentuk non neovaskular (7,07%).
operasi sedangkan untuk ARMD sampai saat ini belum ada tindakan kan dengan faktor risiko usia, jenis kelamin, ras, genetik, riwayat
yang menjanjikan. WHO (2003) memperkirakan 8 juta orang keluarga, hipertensi, kebiasaan merokok dan nutrisi.5,6,7 Pekerjaan
Tabel 4. ARMD stadium lanjut berdasarkan umur dan jenis kelamin yang
mengalami kebutaan karena ARMD.2 Hal ini merupakan bencana Pegawai Negeri Sipil 1 1,0 berobat ke RS Mata Cicendo 1 Juli 2004 - 30 November 2004
sosial dan ekonomi bagi penderita dan keluarganya karena produk- Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik klinik Wiraswasta 25 25,3
tivitas yang menurun. penderita ARMD yang berobat ke Rumah Sakit Mata Cicendo Petani 12 12,1 Neovaskular Non neovaskular
Bandung pada periode Juli-November 2004. Pensiunan 25 25,3
ARMD adalah penyakit mata yang menyerang polus posterior Ibu Rumah Tangga 36 36,4 Umur Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
retina tepatnya daerah makula, sering terjadi pada usia lebih dari (tahun) n (%) n (% n (%) n(%)
METODOLOGI
50 tahun.3,4 Saat ini ARMD merupakan penyebab kebutaan Penelitian bersifat observasional prospektif atas penderita ARMD Pola Penderita ARMD 50-59 1 (1,01) 3 (3,03) - -
utama di negara maju. Awal ARMD ditandai dengan terbentuknya yang datang berobat ke bagian retina Rumah Sakit Mata Cicendo. Seluruh (100%) penderita ARMD mengeluh penglihatannya 60-69 6 (6,06) 7 (7,07) - 2(2,02)
drusen yang tampak sebagai lesi kekuningan yang terletak di
Penilaian ARMD dilakukan berdasarkan pemeriksaan klinis dengan buram; keluhan metamorphopsia dengan skotoma hanya 11%.
lapisan retina luar di polus posterior. ARMD mempunyai 2 bentuk 70-79 5 (5,05) 13 (13,13) 1 (1,01) -
funduskopi tidak langsung memakai lensa +20 D setelah pupil Keluhan penderita tergantung dari stadium ARMD.
klinis yaitu ARMD non neovaskular (non eksudatif) dan neovaskular 80-89 1 (1,01) 2 (2,02) 1 (1,01) 3 (3,03)
(eksudatif).3,5 Bentuk non neovaskular lebih sering ditemui, meru- dilebarkan dengan tetes mata tropikamid 1%, dan lensa +90 D
dengan memakai biomikroskop di kamar gelap. Jumlah 13(13,13) 25(25,25) 2 (2,02) 5 (5,05)
pakan 90% dari semua kasus ARMD.6,7 Bentuk neovaskular Tabel 2. Keluhan Penderita ARMD yang Berobat ke RS Mata Cicendo
hanya kurang dari 10% 6, tetapi 85% menyebabkan gangguan 1 Juli 2004 - 30 November 2004
penglihatan berat.3,8 Stadium klinik ARMD diklasifikasikan sesuai dengan Age-Related
Eye Disease Study (AREDS). Analisis data dilakukan dengan meng- Keluhan Jumlah mata (n=198) Persentase(%) Klasifikasi ARMD dikelompokkan berdasarkan perbedaan ke dua
Akhir-akhir ini klasifikasi ARMD dilakukan menurut kelompok gunakan metode statistik deskriptif terhadap seluruh variabel yang mata yaitu mata kanan dan kiri. Dari 198 mata, stadium awal
peneliti Age-Related Eye Disease Study (AREDS) berdasarkan diamati. Buram 198 100 lebih banyak di mata kanan (37,4%). Dan stadium lanjut bentuk
ukuran drusen. Ukuran drusen dapat diperkirakan dengan mem- neovaskular lebih banyak di mata kiri (44,3%). Di dua mata kiri
Metamorphopsia 54 27,27
bandingkannya dengan kaliber vena besar di sekitar papil yaitu HASIL belum terjadi ARMD.(Tabel 5)
kurang lebih 125 mikron. Skotoma 48 24,24
Dari bulan Juli 2004 sampai dengan November 2004 diperoleh
1. ARMD dini: terdapat banyak drusen kecil ( Æ <63 ±), disertai Metamorphopsia +
99 penderita ARMD yang berobat ke unit retina RS Mata Cicendo. Tabel 5. Stadia ARMD Pasien yang Berobat ke RS Mata Cicendo periode 1
beberapa drusen sedang (Æ 63-124±), atau kelainan epitel Skotoma 22 11,1 Juli 2004 - 30 November 2004
pigmen retina (EPR),
Karakteristik sampel penelitian Buram + Metamorphopsia
2. ARMD menengah: terdapat sangat banyak drusen sedang dan Mata Kanan Mata Kiri
Tabel 1 menyajikan data karakteristik demografi ARMD. + Skotoma 124 62,62 Stadium
paling sedikit terdapat satu drusen besar (Æ > 125 ±), atau n (%) n (%)
atrofi geografikan yang tidak melibatkan sentral fovea, Pada umumnya responden yang berobat ke rumah sakit adalah
Awal 37 (37,37) 26 (26,80)
3. ARMD lanjut: adanya satu atau lebih tanda berikut: perempuan (54,5 %). Umur termuda 50 tahun dan tertua 85
Penderita ARMD dibagi 3 kelompok yaitu: stadium awal, mene- Menengah 22 (22,22) 21 (21,65)
i. atrofi geografikan EPR dan koriokapiler yang melibatkan tahun, rerata umur 68,9 tahun; terbanyak pada kelompok umur
ngah dan lanjut. Setiap stadium dibagi menurut umur dan jenis Lanjut Neovaskular 35 (35,35) 43 (44,33)
sentral fovea, 70-79 tahun (39,4%) dan paling sedikit pada kelompok umur
ii. makulopati neovaskular seperti neo-vaskularisasi koroid, 80-89 tahun (10,1%). Pendidikan responden sebagian besar kelamin. Stadium lanjut yang terbanyak (45,5%) dan pada
Non neovaskular 5 (5,05) 7 (7,23)
hemorrhagic detachment retina sensoris atau EPR, eksudat Sekolah Dasar (SD) atau setingkat (40,4%). Kebanyakan ibu rumah kelompok umur 70-79 tahun (19,19%) dengan jenis kelamin
Jumlah 99 (100%) 97 (100%)
lemak, proliferasi fibrovaskular subretina dan sikatrik disiformis.7 tangga (tidak bekerja) 36,4%. perempuan 13,1%. Sedangkan stadium dini hanya 25,3%.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
28 29
HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

Tabel 1. Karakteristik penderita ARMD yang Berobat ke RS Mata Cicendo Tabel 3. Klasifikasi Penderita ARMD RS Mata Cicendo berdasarkan umur
1 Juli 2004 - 30 November 2004 dan jenis kelamin 1 Juli 2004 - 30 November 2004
Karakteristik Klinik Penderita ARMD Variabel Jumlah (n = 99 Persentase (%)
Stadium awal Stadium menengah Stadium lanjut
di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung Jenis Kelamin
Umur Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
Laki-laki 45 45,4 (tahun) n (%) n (% n (%) n(%) n (%) n (%)
Erry Perempuan 54 54,5
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem & Kebijakan Kesehatan, 50-59 3 (3,03) 5 (5,05) - 1 (1,01) 1 (1,01) 3 (3,03)
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departeman Kesehatan RI, Jakarta, Indonesia Umur (tahun)
60-69 4 (4,04) 4 (4,04) 13 (13,13) 2 (2,02) 6 (6,06) 9 (9,09)
50 √ 59 12 12,1
PENDAHULUAN Gejala ARMD awalnya terjadi pada satu mata, sehingga penderita 60 √ 69 38 38,4 70-79 6 (6,06) 2 (2,02 5 (5,05) 6 (6,06) 6 (6,06) 13 (13,13)
Membaiknya pelayanan kesehatan dan pesatnya kemajuan di sering mengabaikannya. Mereka baru menyadari ketika mata yang 70 √ 79 39 39,4 80-89 1 (1,01) - - 2 (2,02) 2 (2,02) 5 (5,05)
bidang kedokteran membuat usia harapan hidup makin tinggi. satunya lagi juga mengalami hal yang sama. Keluhan yang sering 80 √ 89 10 10,1
Namun di sisi lain muncul berbagai keluhan baru yang umumnya dirasakan berupa menurunnya tajam penglihatan, menurunnya Jumlah 14(14,14) 11(11,11) 18(18,18) 11(11,11) 15(15,15) 30(30,30)
terkait dengan usia lanjut, termasuk ARMD (age related macular Pendidikan
sensitifitas kontras, adanya daerah yang lebih buram di bagian
degeneration) atau sering pula disebut dengan AMD (age macular lapang pandang sentral (skotoma sentral) dan bila penderita melihat SD 40 40,4
degeneration). Survai kesehatan indera penglihatan dan pendengaran SMP 19 19,2 ARMD stadium lanjut dibagi dalam 2 bentuk yaitu: neovaskular
garis lurus, akan terlihat melengkung.5
(1993-1996) menunjukkan angka kebutaan 1,5%. Kebutaan terkait SMA 19 19,2 dan non neovaskular.
usia lanjut menyumbang 0,38 %, lebih rendah dibanding katarak Sarjana 1 1,0 Bentuk neovaskular lebih banyak (38,4%) dibandingkan dengan
0,78%1, namun katarak dapat direhabilitasi dengan tindakan Penyebab ARMD belum diketahui pasti, tetapi sering dihubung-
Tidak Sekolah 20 20,2 bentuk non neovaskular (7,07%).
operasi sedangkan untuk ARMD sampai saat ini belum ada tindakan kan dengan faktor risiko usia, jenis kelamin, ras, genetik, riwayat
yang menjanjikan. WHO (2003) memperkirakan 8 juta orang keluarga, hipertensi, kebiasaan merokok dan nutrisi.5,6,7 Pekerjaan
Tabel 4. ARMD stadium lanjut berdasarkan umur dan jenis kelamin yang
mengalami kebutaan karena ARMD.2 Hal ini merupakan bencana Pegawai Negeri Sipil 1 1,0 berobat ke RS Mata Cicendo 1 Juli 2004 - 30 November 2004
sosial dan ekonomi bagi penderita dan keluarganya karena produk- Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik klinik Wiraswasta 25 25,3
tivitas yang menurun. penderita ARMD yang berobat ke Rumah Sakit Mata Cicendo Petani 12 12,1 Neovaskular Non neovaskular
Bandung pada periode Juli-November 2004. Pensiunan 25 25,3
ARMD adalah penyakit mata yang menyerang polus posterior Ibu Rumah Tangga 36 36,4 Umur Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
retina tepatnya daerah makula, sering terjadi pada usia lebih dari (tahun) n (%) n (% n (%) n(%)
METODOLOGI
50 tahun.3,4 Saat ini ARMD merupakan penyebab kebutaan Penelitian bersifat observasional prospektif atas penderita ARMD Pola Penderita ARMD 50-59 1 (1,01) 3 (3,03) - -
utama di negara maju. Awal ARMD ditandai dengan terbentuknya yang datang berobat ke bagian retina Rumah Sakit Mata Cicendo. Seluruh (100%) penderita ARMD mengeluh penglihatannya 60-69 6 (6,06) 7 (7,07) - 2(2,02)
drusen yang tampak sebagai lesi kekuningan yang terletak di
Penilaian ARMD dilakukan berdasarkan pemeriksaan klinis dengan buram; keluhan metamorphopsia dengan skotoma hanya 11%.
lapisan retina luar di polus posterior. ARMD mempunyai 2 bentuk 70-79 5 (5,05) 13 (13,13) 1 (1,01) -
funduskopi tidak langsung memakai lensa +20 D setelah pupil Keluhan penderita tergantung dari stadium ARMD.
klinis yaitu ARMD non neovaskular (non eksudatif) dan neovaskular 80-89 1 (1,01) 2 (2,02) 1 (1,01) 3 (3,03)
(eksudatif).3,5 Bentuk non neovaskular lebih sering ditemui, meru- dilebarkan dengan tetes mata tropikamid 1%, dan lensa +90 D
dengan memakai biomikroskop di kamar gelap. Jumlah 13(13,13) 25(25,25) 2 (2,02) 5 (5,05)
pakan 90% dari semua kasus ARMD.6,7 Bentuk neovaskular Tabel 2. Keluhan Penderita ARMD yang Berobat ke RS Mata Cicendo
hanya kurang dari 10% 6, tetapi 85% menyebabkan gangguan 1 Juli 2004 - 30 November 2004
penglihatan berat.3,8 Stadium klinik ARMD diklasifikasikan sesuai dengan Age-Related
Eye Disease Study (AREDS). Analisis data dilakukan dengan meng- Keluhan Jumlah mata (n=198) Persentase(%) Klasifikasi ARMD dikelompokkan berdasarkan perbedaan ke dua
Akhir-akhir ini klasifikasi ARMD dilakukan menurut kelompok gunakan metode statistik deskriptif terhadap seluruh variabel yang mata yaitu mata kanan dan kiri. Dari 198 mata, stadium awal
peneliti Age-Related Eye Disease Study (AREDS) berdasarkan diamati. Buram 198 100 lebih banyak di mata kanan (37,4%). Dan stadium lanjut bentuk
ukuran drusen. Ukuran drusen dapat diperkirakan dengan mem- neovaskular lebih banyak di mata kiri (44,3%). Di dua mata kiri
Metamorphopsia 54 27,27
bandingkannya dengan kaliber vena besar di sekitar papil yaitu HASIL belum terjadi ARMD.(Tabel 5)
kurang lebih 125 mikron. Skotoma 48 24,24
Dari bulan Juli 2004 sampai dengan November 2004 diperoleh
1. ARMD dini: terdapat banyak drusen kecil ( Æ <63 ±), disertai Metamorphopsia +
99 penderita ARMD yang berobat ke unit retina RS Mata Cicendo. Tabel 5. Stadia ARMD Pasien yang Berobat ke RS Mata Cicendo periode 1
beberapa drusen sedang (Æ 63-124±), atau kelainan epitel Skotoma 22 11,1 Juli 2004 - 30 November 2004
pigmen retina (EPR),
Karakteristik sampel penelitian Buram + Metamorphopsia
2. ARMD menengah: terdapat sangat banyak drusen sedang dan Mata Kanan Mata Kiri
Tabel 1 menyajikan data karakteristik demografi ARMD. + Skotoma 124 62,62 Stadium
paling sedikit terdapat satu drusen besar (Æ > 125 ±), atau n (%) n (%)
atrofi geografikan yang tidak melibatkan sentral fovea, Pada umumnya responden yang berobat ke rumah sakit adalah
Awal 37 (37,37) 26 (26,80)
3. ARMD lanjut: adanya satu atau lebih tanda berikut: perempuan (54,5 %). Umur termuda 50 tahun dan tertua 85
Penderita ARMD dibagi 3 kelompok yaitu: stadium awal, mene- Menengah 22 (22,22) 21 (21,65)
i. atrofi geografikan EPR dan koriokapiler yang melibatkan tahun, rerata umur 68,9 tahun; terbanyak pada kelompok umur
ngah dan lanjut. Setiap stadium dibagi menurut umur dan jenis Lanjut Neovaskular 35 (35,35) 43 (44,33)
sentral fovea, 70-79 tahun (39,4%) dan paling sedikit pada kelompok umur
ii. makulopati neovaskular seperti neo-vaskularisasi koroid, 80-89 tahun (10,1%). Pendidikan responden sebagian besar kelamin. Stadium lanjut yang terbanyak (45,5%) dan pada
Non neovaskular 5 (5,05) 7 (7,23)
hemorrhagic detachment retina sensoris atau EPR, eksudat Sekolah Dasar (SD) atau setingkat (40,4%). Kebanyakan ibu rumah kelompok umur 70-79 tahun (19,19%) dengan jenis kelamin
Jumlah 99 (100%) 97 (100%)
lemak, proliferasi fibrovaskular subretina dan sikatrik disiformis.7 tangga (tidak bekerja) 36,4%. perempuan 13,1%. Sedangkan stadium dini hanya 25,3%.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
28 29
HASIL PENELITIAN

Pada tabel 6 terlihat dari198 mata yang diperiksa tajam peng- Dari seluruh penderita yang mengeluh buram, 74 mata (37,4%)
lihatannya, 74 mata masih baik dan 55 mata dengan kategori buta. dapat terkoreksi dengan baik. Keluhan tergantung dari stadium
ARMD. Keluhan buram lebih mudah diungkapkan oleh respon-
Tabel 6. Tajam Penglihatan Penderita ARMD yang Berobat ke RS Mata
den karena tingkat pendidikan yang rendah, padahal saat pe-
Cicendo 1 Juli 2004 - 30 November 2004
meriksaan dengan kartu Amsler ditemui distorsi garis lurus
Tajam Penglihatan n (%) (metamorfopsia) dan skotoma. Pada saat itu ARMD telah mema-
suki stadium lanjut bentuk neovaskular, sehingga harus cepat
Baik 74 (37,37) ditangani.
Low vision 69 (34,85)

Buta 55 (27,78) Sebagian besar pasien datang pada stadium lanjut lebih karena
Jumlah 198 (100%) pada stadium awal dan menengah hampir tidak ada keluhan;
akan tetapi pada pemeriksaan fundus dengan 90 Dioptri ditemui
Dari 90 mata ARMD stadium lanjut (40 mata kanan dan 50 mata drusen dengan berbagai ukuran. ARMD stadium menengah ini
kiri), pada 24 mata didapatkan komplikasi (tabel 7). perlu segera ditangani karena 18% akan berkembang ke
Komplikasi yang terbanyak dalam bentuk skar disiformis (20% stadium lanjut dalam waktu 5 tahun, meningkat sampai 26%
mata kanan, 16 % mata kiri); hanya 1 mata yang telah mengalami bila terdapat drusen besar bilateral.7 Pada stadium lanjut tajam
perdarahan vitreus. penglihatan sentral menurun dengan cepat karena skotoma
sehingga akan terlihat bercak hitam pada setiap objek.
Tabel 7. Komplikasi pada Kasus ARMD yang Berobat ke RS Mata Cicendo
1 Juli 2004 - 30 November 2004
Berbeda dengan kepustakaan, pada penelitian ini bentuk ARMD
Kompilasi Mata Kanan Mata Kiri
neovaskular lebih banyak dibanding dengan nonneovaskular. Hal
n (%) n (%)
ini karena penelitian dilakukan di rumah sakit dan bentuk
Sikatrik disiformis 8 (20) 8 (16) neovaskular lebih sering menyebabkan penderita merasa tidak
Pendarahan submakula 4 (10) 3 (6) nyaman dalam melakukan aktifitas sehari-hari akibat metamor-
Pendarahan vitreus 1 (2,5) - fopsia dan skotoma sentral sehingga mereka mendatangi pusat
pelayanan mata. Walaupun bentuk nonneovaskular persentase-
Dari 45 penderita ARMD stadium lanjut hanya 40% yang nya lebih kecil, tetapi dapat menyebabkan kehilangan tajam
menjalani tindakan (tabel 8). Tindakan yang dilakukan hanya penglihatan sentral 12% sampai 21% tergantung besarnya lesi
sebatas FFA 31,1% ; hanya 4,4% yang dilanjutkan dengan TTT. makula, persentase ini lebih besar bila nonneovaskular berubah
menjadi neovaskular. Hal ini bisa terjadi bila ditemui soft drusen
Tabel 8. Tindakan atas kasus ARMD di RS Mata Cicendo 1 Juli 2004 - 30 besar, hiperpigmentasi makula dan disertai hipertensi sistemik.
November 2004

Jumlah
Di antara kedua mata kanan dan kiri, 2 mata tidak terlihat adanya
Tindakan
n (%) drusen. Awal ARMD terjadi pada satu mata (dalam hal ini tidak
FFA (fundus fluorescein angiography) 14 (31,1) ada perbedaan sisi mata yang terkena) sehingga penderita
TTT (transpupillary thermotherapy) 2 (4,44) cenderung mengabaikannya dan baru menyadari saat mata
Pneumatic displacement 1 (2,22) sebelahnya juga ikut terkena; berat ringannya ARMD sering tidak
Vitrektomi 1 (2,22) sama antara kedua mata. Studi sebelumnya menemukan 26%
ARMD akan bilateral (2 mata) setelah lebih dari 5 tahun.7
PEMBAHASAN
Wanita lebih berisiko menderita ARMD. Risiko ini akan mening- Gangguan penglihatan (WHO) terbagi atas: penglihatan rendah
kat dengan bertambahnya umur: pasien ARMD lebih sering pada jika tajam penglihatan dengan koreksi terbaik bisa mencapai <
kelompok umur 60-79 tahun. Pertambahan umur meningkatkan 6/18 atau 0,3; dan dikatakan buta jika tajam penglihatan < 3/60
penyakit sistemik seperti hipertensi, hiperkolesterol dan penyakit atau 0,05.6. Masih banyak kasus dengan tajam penglihatan yang
jantung; faktor tersebut mempercepat terjadinya ARMD.8 Hal ini baik karena drusen belum mencapai makula sentral, hal ini perlu
sesuai dengan penemuan Beaver Dam Eye Study dan Framingham diwaspadai karena tajam penglihatan salah satu mata cenderung
Eye Study. lebih berat dari mata sebelahnya.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


31
HASIL PENELITIAN

Pada tabel 6 terlihat dari198 mata yang diperiksa tajam peng- Dari seluruh penderita yang mengeluh buram, 74 mata (37,4%)
lihatannya, 74 mata masih baik dan 55 mata dengan kategori buta. dapat terkoreksi dengan baik. Keluhan tergantung dari stadium
ARMD. Keluhan buram lebih mudah diungkapkan oleh respon-
Tabel 6. Tajam Penglihatan Penderita ARMD yang Berobat ke RS Mata
den karena tingkat pendidikan yang rendah, padahal saat pe-
Cicendo 1 Juli 2004 - 30 November 2004
meriksaan dengan kartu Amsler ditemui distorsi garis lurus
Tajam Penglihatan n (%) (metamorfopsia) dan skotoma. Pada saat itu ARMD telah mema-
suki stadium lanjut bentuk neovaskular, sehingga harus cepat
Baik 74 (37,37) ditangani.
Low vision 69 (34,85)

Buta 55 (27,78) Sebagian besar pasien datang pada stadium lanjut lebih karena
Jumlah 198 (100%) pada stadium awal dan menengah hampir tidak ada keluhan;
akan tetapi pada pemeriksaan fundus dengan 90 Dioptri ditemui
Dari 90 mata ARMD stadium lanjut (40 mata kanan dan 50 mata drusen dengan berbagai ukuran. ARMD stadium menengah ini
kiri), pada 24 mata didapatkan komplikasi (tabel 7). perlu segera ditangani karena 18% akan berkembang ke
Komplikasi yang terbanyak dalam bentuk skar disiformis (20% stadium lanjut dalam waktu 5 tahun, meningkat sampai 26%
mata kanan, 16 % mata kiri); hanya 1 mata yang telah mengalami bila terdapat drusen besar bilateral.7 Pada stadium lanjut tajam
perdarahan vitreus. penglihatan sentral menurun dengan cepat karena skotoma
sehingga akan terlihat bercak hitam pada setiap objek.
Tabel 7. Komplikasi pada Kasus ARMD yang Berobat ke RS Mata Cicendo
1 Juli 2004 - 30 November 2004
Berbeda dengan kepustakaan, pada penelitian ini bentuk ARMD
Kompilasi Mata Kanan Mata Kiri
neovaskular lebih banyak dibanding dengan nonneovaskular. Hal
n (%) n (%)
ini karena penelitian dilakukan di rumah sakit dan bentuk
Sikatrik disiformis 8 (20) 8 (16) neovaskular lebih sering menyebabkan penderita merasa tidak
Pendarahan submakula 4 (10) 3 (6) nyaman dalam melakukan aktifitas sehari-hari akibat metamor-
Pendarahan vitreus 1 (2,5) - fopsia dan skotoma sentral sehingga mereka mendatangi pusat
pelayanan mata. Walaupun bentuk nonneovaskular persentase-
Dari 45 penderita ARMD stadium lanjut hanya 40% yang nya lebih kecil, tetapi dapat menyebabkan kehilangan tajam
menjalani tindakan (tabel 8). Tindakan yang dilakukan hanya penglihatan sentral 12% sampai 21% tergantung besarnya lesi
sebatas FFA 31,1% ; hanya 4,4% yang dilanjutkan dengan TTT. makula, persentase ini lebih besar bila nonneovaskular berubah
menjadi neovaskular. Hal ini bisa terjadi bila ditemui soft drusen
Tabel 8. Tindakan atas kasus ARMD di RS Mata Cicendo 1 Juli 2004 - 30 besar, hiperpigmentasi makula dan disertai hipertensi sistemik.
November 2004

Jumlah
Di antara kedua mata kanan dan kiri, 2 mata tidak terlihat adanya
Tindakan
n (%) drusen. Awal ARMD terjadi pada satu mata (dalam hal ini tidak
FFA (fundus fluorescein angiography) 14 (31,1) ada perbedaan sisi mata yang terkena) sehingga penderita
TTT (transpupillary thermotherapy) 2 (4,44) cenderung mengabaikannya dan baru menyadari saat mata
Pneumatic displacement 1 (2,22) sebelahnya juga ikut terkena; berat ringannya ARMD sering tidak
Vitrektomi 1 (2,22) sama antara kedua mata. Studi sebelumnya menemukan 26%
ARMD akan bilateral (2 mata) setelah lebih dari 5 tahun.7
PEMBAHASAN
Wanita lebih berisiko menderita ARMD. Risiko ini akan mening- Gangguan penglihatan (WHO) terbagi atas: penglihatan rendah
kat dengan bertambahnya umur: pasien ARMD lebih sering pada jika tajam penglihatan dengan koreksi terbaik bisa mencapai <
kelompok umur 60-79 tahun. Pertambahan umur meningkatkan 6/18 atau 0,3; dan dikatakan buta jika tajam penglihatan < 3/60
penyakit sistemik seperti hipertensi, hiperkolesterol dan penyakit atau 0,05.6. Masih banyak kasus dengan tajam penglihatan yang
jantung; faktor tersebut mempercepat terjadinya ARMD.8 Hal ini baik karena drusen belum mencapai makula sentral, hal ini perlu
sesuai dengan penemuan Beaver Dam Eye Study dan Framingham diwaspadai karena tajam penglihatan salah satu mata cenderung
Eye Study. lebih berat dari mata sebelahnya.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


31
HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

Tajam penglihatan rendah (low vision) perlu perhatian karena dalam


hitungan minggu dapat menjadi buta, terutama bila dijumpai
drusen lima atau lebih, terdapat satu atau lebih drusen yang ber-
ukuran besar, adanya hiperpigmentasi fokal dan adanya riwayat
Uji Mutagenisitas Benzo(α)piren dengan
hipertensi sistemik;9 untuk mengantisipasinya, setiap penderita
dengan drusen di makulanya agar memantau sendiri penglihatan
Metode Mikronukleus pada Sumsum
sentralnya dengan menggunakan kartu Amsler; jika terlihat
distorsi garis lurus (metamorfopsia) dan bercak hitam (skotoma
Tulang Mencit Albino (Mus musculus)
sentral), penderita harus segera mendapatkan tindakan.9 Setiap Yana Sumpena*, Rochestri Sofyan*, Rusi Rusilawati**
ophtalmolog disarankan selalu melakukan pemeriksaan fundus *Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknik Nuklir - BATAN, **Universitas Pendidikan Indonesia

karena kebanyakan ARMD tanpa keluhan tajam penglihatan


selama belum melibatkan penglihatan sentral.
ABSTRAK
Scar disiformis adalah bentuk akhir dari neovaskular. Karena proses Benzo (α) piren (BP) sebagai senyawa yang bersifat karsinogen diduga dapat menimbulkan kerusakan
iskemik terbentuk pembuluh darah baru berupa neovaskularisasi DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI. Rencana Strategis Nasional Penanggulangan pada kromosom. Salah satu cara pemeriksaan kerusakan kromosom adalah dengan uji mikronukleus
choroidal (CNV) di submakula. CNV mudah pecah menyebabkan
perdarahan subretina; jaringan scar ini dapat terus berproliferasi
Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (PGPK) untuk Mencapai Vision 2020. (MN). Efek mutagenik dari BP telah diteliti menggunakan uji MN pada sel eritrosit polikromatik (PCE) dari
Jakarta, 2003.
sehingga dapat menimbulkan ablasio (lepas) retina.9-12 Penderita 2. Chopdar A, Chakravarthy U. Age-related macular degeneration. BMJ 2003; sumsum tulang femur mencit albino. Mencit albino diberi perlakuan dengan menginjeksikan larutan BP
dapat memanfaatkan sisa penglihatannya dengan menggunakan 326:485-8.
, 0,3% (b/v) sebanyak 0,1 ml pada daerah tengkuk secara subkutan, sebanyak sepuluh kali dalam interval
3. O Connel SR, Bressler NM. Age-related macular degeneration. Dalam:
alat bantu optik seperti lensa, teleskop, kaca pembesar atau Regillo CD, Brown GC, Flynn HW, penyunting. Vitreoretinal disease: the waktu satu hari. Setelah 120 hari, baik mencit perlakuan maupun kontrol dibunuh dengan cara dislokasi
CCTV (close circuit television).13 essentials. New York: Thieme Medical Publisher; 1999:213-40. leher, diambil sumsum tulang femurnya, lalu dibuat preparat apusan dengan pewarnaan Giemsa. Terben-
4. Sarks SM, Sarks JP. Age-related maculopathy: non neovascular age-related
macular degeneration and the evolution of geographic atrophy. Dalam: Ryan tuknya MN pada sel PCE diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 2000 kali. Banyaknya MN
Saat ini banyak pilihan tindakan, tetapi bukan untuk memper- SJ, penyunting. Medical Retina. Edisi ke-3. Vol. 2. Singapore: Mosby. 2001: dalam sel PCE atau MNPCE dihitung per 1000 sel PCE, yang kemudian disebut sebagai frekuensi MNPCE,
baiki penglihatan melainkan hanya untuk mempertahankan 1064-96.
5. Bressler NM. Early detection and treatment of neovascular age-related dengan satuan permil. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian BP dapat menyebabkan fre-
penglihatan yang masih tersisa. Oleh karena itu hanya sebagian
kecil responden yang bersedia menjalani intervensi, karena selain
macular degeneration. JABFP 2002; 15:142-52. kuensi MNPCE menjadi 38,82 Ø 8,70 permil (n=10) dibandingkan dengan kontrol dengan frekuensi
6. Evans J. Age-related macular degeneration. Dalam: Johnson GJ, Minassian
faktor di atas juga biaya yang tidak kecil. Pemeriksaan fundus DC, Weale RA, West SK, penyunting. The epidemiology of eye disease. Edisi MNPCE sebesar 2,19 Ø 0,99 permil (n=10). Kenaikan frekuensi MNPCE yang cukup besar tersebut menun-
fluorescein angiography (FFA) merupakan gold standard pada ke-2. London:Arnold 2003:356-68. jukkan bahwa BP memiliki efek mutagenik dengan tingkat mutagenisitas yang cukup tinggi.
7. American Academy of Ophthalmology. Age-related macular degeneration,
kecurigaan CNV. Gambaran FFA dapat menentukan tipe lesi, preferred practice pattern. San Francisco: American Academy of Ophthal-
ukuran dan lokasi CNV, sehingga tindakan selanjutnya dapat mology, 2003 (dikutip 10 Desember 2004). URL: http:// www.aao.org/ Kata kunci: benzo (α) piren, mikronukleus, karsinogen.
dipertimbangkan. FFA juga digunakan sebagai penuntun tindakan aao/education library/ppp/index.cfm.
8. Seddon JM. Epidemiology of age-related macular degeneration. Dalam: Ryan
laser dan sebagai pemantau dalam menentukan adanya CNV
SJ, penyunting. Medical Retina. Edisi ke-3. Vol. 2. Singapore: Mosby; 2001:
yang menetap atau berulang setelah tindakan laser.7,9,14 1039-47. PENDAHULUAN Pada tahap telofase, fragmen kromosom dan atau massa kromatin
9. Bressler NM, Bressler SB, Fine SL. Neovascular (exudative) age-related macular
Perkembangan teknologi yang pesat dewasa ini, telah mengaki- dalam sel akan tertinggal pada sitoplasma membentuk struktur
degeneration. Dalam: Ryan SJ, penyunting. Medical Retina. Edisi ke-3. Vol. 2.
Pada penelitian ini hanya sebagian (14 penderita) yang bersedia batkan pencemaran lingkungan yang makin berat. Sejalan dengan menyerupai inti sel dengan diameter antara 1/20 sampai 1/5
Singapore: Mosby;2001:1100-31.
menjalani FFA dan dari hasil FFA hanya 2 penderita yang 10. Cavallerano AA. Age-related macular degeneration. Dalam: Cavallerano AA, itu maka perlu dilakukan suatu penelitian tentang respon biologik diameter inti yang dinamai mikronukleus(MN)(4). Jadi terbentuknya
menjalani tindakan Transpupillary thermotherapy (TTT). TTT Gutner RK, Oshinskie LJ, penyunting. Macular disorder and illustrated diag- dari xenobiotik atau senyawa yang bersifat racun, untuk dapat mikronukleus pada sel merupakan indikasi terjadinya aktivitas
merupakan suatu terapi yang sedang berkembang; menggu- nostic guide.Boston: Butterworth-Heinemann;1997:111-34.
memahami efeknya terhadap tubuh manusia. mutagenik yang merusak kromosom.dan akhirnya memicu terjadi-
11. Deutman A. Age-related macular degeneration. Dalam: Boyd BF, Boyd S.
nakan iradiasi rendah dengan sinar laser inframerah (810 nm) penyunting. Retinal and vitreoretinal surgery. Panama: Highlights of Ophthal- nya kanker. Metode penentuan MN yang cukup sederhana dapat
sehingga panas yang dihasilkan tidak merusak jaringan dan mology 2002:237-95. Salah satu xenobiotik yang cukup akrab dengan kehidupan manusia dilakukan pada sel PCE dari apusan sumsum tulang hewan rodensia(5).
dapat digunakan pada CNV subfovea dengan lesi okult. 15,16 12. Schatz H, Yannuzzi LA, Gitter KA. Subretinal neovascularization. Dalam: sehari-hari adalah benzo(α)piren (BP). BP merupakan senyawa Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek mutagenik BP,
Yannuzzi LA, Gitter KA, Schatz H, penyunting. The macular a comprehensive
hidrokarbon polisiklik aromatik yang digolongkan sebagai senyawa melalui uji MN pada sel PCE yang diambil dari sumsum tulang femur
text and atlas. USA: Baltimore; 1979:180-208.
Saran 13. Kraut JA. Vision rehabilitation. Dalam: Tasman W, Jaeger EA, penyunting. pro karsinogen kuat. Senyawa ini dijumpai di lingkungan sebagai mencit albino.
Penelitian ini merupakan langkah awal terhadap ARMD yang mem- Duane_s Clinical Ophthalmology (CD-ROM). Baltimore:Lippincott Williams & hasil pirolisis lemak atau sebagai hasil proses pembakaran yang
Wilkins;2003. tidak sempurna, seperti pada daging panggang, sate, makanan BAHAN DAN TATA KERJA
punyai akses ke Pusat Pelayanan Mata (Rumah Sakit Mata), sehingga 14. Amin HI, Donald HR, Johnson RN, Ai E, Schatz H. Age-related macular
angka ARMD yang diperoleh belum mencerminkan keadaan yang degeneration. Dalam: Tasman W, Jaeger EA, penyunting. Duane_s Clinical
yang diasap, asap rokok dan asap kendaraan bermotor (1, 2, 3). Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini berkualitas
sesungguhnya di dalam masyarakat. Ophthalmology (CD-ROM). Baltimore:Lippincott Willians & Wilkins;2003. proanalisis diperoleh dari E. Merck terdiri atas: BP, metanol, etanol,
Untuk itu :
15. Lanzetta P, Michieletto P, Pirracchio A, Bandello F.Early vascular changes Hingga saat ini masih terus berkembang anggapan BP sebagai larutan garam fisiologis, larutan pewarna Giemsa yang telah di-
induced by transpupillary thermotherapy of choroidal neovascularization. penyebab kanker. Sebagai senyawa karsinogen, BP dapat me- encerkan lima kali dalam metanol dan Oleum olivarum. Peralatan
1. Perlu dilakukan kajian epidemiologis. Ophthalmology 2002;109: 1098-1104.
16. Reichel E, Berrocal AM, Kroll AJ, Desai V, Duker JS, Puliafito CA. Transpupillary
nimbulkan mutasi gen yang dapat dimanifestasikan sebagai yang digunakan adalah kaca objek, standing jar, berbagai alat gelas,
2. Untuk efisiensi perlu disosialisasikan penggunaan kartu Amsler.
thermotherapy of occult subfoveal chroidal neovascularization in patients with kerusakan kromosom, yaitu terjadi aberasi atau terbentuk patahan- alat suntik, kandang tikus dan mikroskop Nikon MM-21 dengan
3. Perlu fasilitas direct opthalmoskop di puskesmas
age-related macular degeneration. Ophthalmology 1999;106: 1908-14. patahan kromosom. pembesaran 2000 kali.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
32 33
HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

Tajam penglihatan rendah (low vision) perlu perhatian karena dalam


hitungan minggu dapat menjadi buta, terutama bila dijumpai
drusen lima atau lebih, terdapat satu atau lebih drusen yang ber-
ukuran besar, adanya hiperpigmentasi fokal dan adanya riwayat
Uji Mutagenisitas Benzo(α)piren dengan
hipertensi sistemik;9 untuk mengantisipasinya, setiap penderita
dengan drusen di makulanya agar memantau sendiri penglihatan
Metode Mikronukleus pada Sumsum
sentralnya dengan menggunakan kartu Amsler; jika terlihat
distorsi garis lurus (metamorfopsia) dan bercak hitam (skotoma
Tulang Mencit Albino (Mus musculus)
sentral), penderita harus segera mendapatkan tindakan.9 Setiap Yana Sumpena*, Rochestri Sofyan*, Rusi Rusilawati**
ophtalmolog disarankan selalu melakukan pemeriksaan fundus *Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknik Nuklir - BATAN, **Universitas Pendidikan Indonesia

karena kebanyakan ARMD tanpa keluhan tajam penglihatan


selama belum melibatkan penglihatan sentral.
ABSTRAK
Scar disiformis adalah bentuk akhir dari neovaskular. Karena proses Benzo (α) piren (BP) sebagai senyawa yang bersifat karsinogen diduga dapat menimbulkan kerusakan
iskemik terbentuk pembuluh darah baru berupa neovaskularisasi DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI. Rencana Strategis Nasional Penanggulangan pada kromosom. Salah satu cara pemeriksaan kerusakan kromosom adalah dengan uji mikronukleus
choroidal (CNV) di submakula. CNV mudah pecah menyebabkan
perdarahan subretina; jaringan scar ini dapat terus berproliferasi
Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (PGPK) untuk Mencapai Vision 2020. (MN). Efek mutagenik dari BP telah diteliti menggunakan uji MN pada sel eritrosit polikromatik (PCE) dari
Jakarta, 2003.
sehingga dapat menimbulkan ablasio (lepas) retina.9-12 Penderita 2. Chopdar A, Chakravarthy U. Age-related macular degeneration. BMJ 2003; sumsum tulang femur mencit albino. Mencit albino diberi perlakuan dengan menginjeksikan larutan BP
dapat memanfaatkan sisa penglihatannya dengan menggunakan 326:485-8.
, 0,3% (b/v) sebanyak 0,1 ml pada daerah tengkuk secara subkutan, sebanyak sepuluh kali dalam interval
3. O Connel SR, Bressler NM. Age-related macular degeneration. Dalam:
alat bantu optik seperti lensa, teleskop, kaca pembesar atau Regillo CD, Brown GC, Flynn HW, penyunting. Vitreoretinal disease: the waktu satu hari. Setelah 120 hari, baik mencit perlakuan maupun kontrol dibunuh dengan cara dislokasi
CCTV (close circuit television).13 essentials. New York: Thieme Medical Publisher; 1999:213-40. leher, diambil sumsum tulang femurnya, lalu dibuat preparat apusan dengan pewarnaan Giemsa. Terben-
4. Sarks SM, Sarks JP. Age-related maculopathy: non neovascular age-related
macular degeneration and the evolution of geographic atrophy. Dalam: Ryan tuknya MN pada sel PCE diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 2000 kali. Banyaknya MN
Saat ini banyak pilihan tindakan, tetapi bukan untuk memper- SJ, penyunting. Medical Retina. Edisi ke-3. Vol. 2. Singapore: Mosby. 2001: dalam sel PCE atau MNPCE dihitung per 1000 sel PCE, yang kemudian disebut sebagai frekuensi MNPCE,
baiki penglihatan melainkan hanya untuk mempertahankan 1064-96.
5. Bressler NM. Early detection and treatment of neovascular age-related dengan satuan permil. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian BP dapat menyebabkan fre-
penglihatan yang masih tersisa. Oleh karena itu hanya sebagian
kecil responden yang bersedia menjalani intervensi, karena selain
macular degeneration. JABFP 2002; 15:142-52. kuensi MNPCE menjadi 38,82 Ø 8,70 permil (n=10) dibandingkan dengan kontrol dengan frekuensi
6. Evans J. Age-related macular degeneration. Dalam: Johnson GJ, Minassian
faktor di atas juga biaya yang tidak kecil. Pemeriksaan fundus DC, Weale RA, West SK, penyunting. The epidemiology of eye disease. Edisi MNPCE sebesar 2,19 Ø 0,99 permil (n=10). Kenaikan frekuensi MNPCE yang cukup besar tersebut menun-
fluorescein angiography (FFA) merupakan gold standard pada ke-2. London:Arnold 2003:356-68. jukkan bahwa BP memiliki efek mutagenik dengan tingkat mutagenisitas yang cukup tinggi.
7. American Academy of Ophthalmology. Age-related macular degeneration,
kecurigaan CNV. Gambaran FFA dapat menentukan tipe lesi, preferred practice pattern. San Francisco: American Academy of Ophthal-
ukuran dan lokasi CNV, sehingga tindakan selanjutnya dapat mology, 2003 (dikutip 10 Desember 2004). URL: http:// www.aao.org/ Kata kunci: benzo (α) piren, mikronukleus, karsinogen.
dipertimbangkan. FFA juga digunakan sebagai penuntun tindakan aao/education library/ppp/index.cfm.
8. Seddon JM. Epidemiology of age-related macular degeneration. Dalam: Ryan
laser dan sebagai pemantau dalam menentukan adanya CNV
SJ, penyunting. Medical Retina. Edisi ke-3. Vol. 2. Singapore: Mosby; 2001:
yang menetap atau berulang setelah tindakan laser.7,9,14 1039-47. PENDAHULUAN Pada tahap telofase, fragmen kromosom dan atau massa kromatin
9. Bressler NM, Bressler SB, Fine SL. Neovascular (exudative) age-related macular
Perkembangan teknologi yang pesat dewasa ini, telah mengaki- dalam sel akan tertinggal pada sitoplasma membentuk struktur
degeneration. Dalam: Ryan SJ, penyunting. Medical Retina. Edisi ke-3. Vol. 2.
Pada penelitian ini hanya sebagian (14 penderita) yang bersedia batkan pencemaran lingkungan yang makin berat. Sejalan dengan menyerupai inti sel dengan diameter antara 1/20 sampai 1/5
Singapore: Mosby;2001:1100-31.
menjalani FFA dan dari hasil FFA hanya 2 penderita yang 10. Cavallerano AA. Age-related macular degeneration. Dalam: Cavallerano AA, itu maka perlu dilakukan suatu penelitian tentang respon biologik diameter inti yang dinamai mikronukleus(MN)(4). Jadi terbentuknya
menjalani tindakan Transpupillary thermotherapy (TTT). TTT Gutner RK, Oshinskie LJ, penyunting. Macular disorder and illustrated diag- dari xenobiotik atau senyawa yang bersifat racun, untuk dapat mikronukleus pada sel merupakan indikasi terjadinya aktivitas
merupakan suatu terapi yang sedang berkembang; menggu- nostic guide.Boston: Butterworth-Heinemann;1997:111-34.
memahami efeknya terhadap tubuh manusia. mutagenik yang merusak kromosom.dan akhirnya memicu terjadi-
11. Deutman A. Age-related macular degeneration. Dalam: Boyd BF, Boyd S.
nakan iradiasi rendah dengan sinar laser inframerah (810 nm) penyunting. Retinal and vitreoretinal surgery. Panama: Highlights of Ophthal- nya kanker. Metode penentuan MN yang cukup sederhana dapat
sehingga panas yang dihasilkan tidak merusak jaringan dan mology 2002:237-95. Salah satu xenobiotik yang cukup akrab dengan kehidupan manusia dilakukan pada sel PCE dari apusan sumsum tulang hewan rodensia(5).
dapat digunakan pada CNV subfovea dengan lesi okult. 15,16 12. Schatz H, Yannuzzi LA, Gitter KA. Subretinal neovascularization. Dalam: sehari-hari adalah benzo(α)piren (BP). BP merupakan senyawa Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek mutagenik BP,
Yannuzzi LA, Gitter KA, Schatz H, penyunting. The macular a comprehensive
hidrokarbon polisiklik aromatik yang digolongkan sebagai senyawa melalui uji MN pada sel PCE yang diambil dari sumsum tulang femur
text and atlas. USA: Baltimore; 1979:180-208.
Saran 13. Kraut JA. Vision rehabilitation. Dalam: Tasman W, Jaeger EA, penyunting. pro karsinogen kuat. Senyawa ini dijumpai di lingkungan sebagai mencit albino.
Penelitian ini merupakan langkah awal terhadap ARMD yang mem- Duane_s Clinical Ophthalmology (CD-ROM). Baltimore:Lippincott Williams & hasil pirolisis lemak atau sebagai hasil proses pembakaran yang
Wilkins;2003. tidak sempurna, seperti pada daging panggang, sate, makanan BAHAN DAN TATA KERJA
punyai akses ke Pusat Pelayanan Mata (Rumah Sakit Mata), sehingga 14. Amin HI, Donald HR, Johnson RN, Ai E, Schatz H. Age-related macular
angka ARMD yang diperoleh belum mencerminkan keadaan yang degeneration. Dalam: Tasman W, Jaeger EA, penyunting. Duane_s Clinical
yang diasap, asap rokok dan asap kendaraan bermotor (1, 2, 3). Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini berkualitas
sesungguhnya di dalam masyarakat. Ophthalmology (CD-ROM). Baltimore:Lippincott Willians & Wilkins;2003. proanalisis diperoleh dari E. Merck terdiri atas: BP, metanol, etanol,
Untuk itu :
15. Lanzetta P, Michieletto P, Pirracchio A, Bandello F.Early vascular changes Hingga saat ini masih terus berkembang anggapan BP sebagai larutan garam fisiologis, larutan pewarna Giemsa yang telah di-
induced by transpupillary thermotherapy of choroidal neovascularization. penyebab kanker. Sebagai senyawa karsinogen, BP dapat me- encerkan lima kali dalam metanol dan Oleum olivarum. Peralatan
1. Perlu dilakukan kajian epidemiologis. Ophthalmology 2002;109: 1098-1104.
16. Reichel E, Berrocal AM, Kroll AJ, Desai V, Duker JS, Puliafito CA. Transpupillary
nimbulkan mutasi gen yang dapat dimanifestasikan sebagai yang digunakan adalah kaca objek, standing jar, berbagai alat gelas,
2. Untuk efisiensi perlu disosialisasikan penggunaan kartu Amsler.
thermotherapy of occult subfoveal chroidal neovascularization in patients with kerusakan kromosom, yaitu terjadi aberasi atau terbentuk patahan- alat suntik, kandang tikus dan mikroskop Nikon MM-21 dengan
3. Perlu fasilitas direct opthalmoskop di puskesmas
age-related macular degeneration. Ophthalmology 1999;106: 1908-14. patahan kromosom. pembesaran 2000 kali.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
32 33
HASIL PENELITIAN

Hewan percobaan adalah mencit albino (Mus musculus) galur HASIL DAN PEMBAHASAN
Swiss Webster yang dikembangkan di P3TkN. Mencit albino yang Secara teoritis MN adalah kromatin sitoplasmik yang tampak
dipilih adalah yang berjenis kelamin betina dengan bobot badan sebagai inti kecil terbentuk dari fragmen atau patahan kromo-
antara 20 √ 40 gram, berumur 2 √ 3 bulan sebanyak 20 ekor som yang diasingkan dari inti (nukleus), pada tahap anafase
(10 ekor perlakuan dan 10 ekor kontrol). Mencit dipelihara dalam pembelahan sel. Setelah mencapai tahap telofase, elemen sentris
ruangan dengan suhu berkisar antara 22 √ 25o C dan kelemba- menjadi inti sel anak, sedang fragmen kromosom yang tertinggal
pan 70 √ 80%. Pakan tikus terdiri atas pelet dan air minum yang tetap berada pada sitoplasma membentuk inti kecil yang disebut
diberikan secara ad libitum. Mencit disuntik dengan larutan BP MN. Zat asing bersifat karsinogen seperti BP, berpengaruh pada
dalam oleum olivarum secara subkutan di daerah interskapuler proses pembelahan sel. Kanker berawal dari kelainan gen yaitu
(tengkuk) dengan dosis 0,3 mg /0,1 ml sebanyak sepuluh kali pada kromosom. Terjadinya kerusakan kromosom yang menga-
dalam interval satu hari. Pengamatan dilakukan dua kali sehari rah ke kanker, dapat termanifestasikan sebagai terbentuknya
selama 120 hari, saat benjolan kanker pada mencit telah tumbuh
MN. Jadi terbentuknya MN setelah pemberian BP menandakan
optimal. Pembuatan dan pewarnaan preparat dilakukan menurut
bahwa BP karsinogenik. Pada penelitian ini sumsum diambil dari
metode Schmid(6). Hewan perlakuan yang telah diamati selama
tulang femur atas pertimbangan bentuk tulang femur lurus dan
120 hari dan juga hewan kontrol dibunuh dengan cara dislokasi
ukurannya relatif besar, sehingga pengambilan sumsum lebih
leher, lalu dibedah; tulang femurnya diambil dan dibersihkan dari
perlekatan otot dengan pisau bedah dan tissue. Ujung proksimal mudah. Struktur MN yang teramati di bawah mikroskop dengan
tulang ini digunting dan sumsumnya diaspirasi dengan semprit pembesaran 2000 kali tampak sebagai bintik hitam berbentuk
berisi 1 ml larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%). Suspensi bulat atau hampir lonjong, terletak eksentrik atau agak perifer
sumsum tulang disentrifuga selama 10 menit dengan kecepatan pada sel PCE, dengan diameter antara 1/20 √ 1/5 kali diameter
1000 rpm, lalu endapannya diambil dan dibuat preparat apusan inti (Gb. 1).
pada kaca objek. Setelah dikeringkan satu malam untuk fiksasi,
preparat diwarnai dengan pewarna Giemsa dalam metanol.
Pertama-tama preparat kering dimasukkan ke dalam larutan
IKLAN 8 metanol absolut yang dituang ke dalam standing jar selama 30
menit, setelah itu preparat dipindahkan ke dalam standing jar

Cernevit lain yang berisi pewarna Giemsa-metanol dan dibiarkan lagi


selama 30 menit. Preparat yang sudah diwarnai ini selanjutnya
dicuci dengan air mengalir dan dibiarkan kering. Untuk memper-
tajam perbedaan antara sel PCE dengan sel yang lain, preparat
dicuci ulang dengan cara merendam secara berturut-turut dalam
etanol 30%, 50%, 70%, 80% dan etanol absolut. Lama setiap
perendaman 10 menit dan setiap selesai perendaman preparat
dibilas dengan air mengalir dan dikeringkan. Terakhir direndam
kembali dalam xylol selama 10 menit, dibilas dengan air mengalir Gambar 1.Penampakan MN pada sel PCE mencit albino yang diinduksi
dan dikeringkan. kanker dengan BP

Pengamatan MN pada preparat dilakukan dengan mikroskop Hasil penelitian diperoleh dari sepuluh tikus (perlakuan) dan sepuluh
dengan pembesaran 2000 kali. Pada sumsum tulang terdapat tikus (kontrol); menunjukkan bahwa pemberian BP dapat mening-
berbagai variasi tipe sel yang dapat digunakan untuk penghitu- katkan frekuensi MNPCE sampai 38,82 Ø 8,70 permil (n=10)
ngan MN. Untuk mengurangi jumlah variabel pengganggu yang dibandingkan dengan kontrol 2,19 Ø 0,99 permil (n=10). Dari
dapat mempengaruhi pengamatan, maka pemeriksaan MN data ini terbukti bahwa BP karsinogenik yang juga ditunjukkan
hanya dilakukan pada satu tipe sel yaitu hanya pada sel PCE.
oleh hasil pengamatan morfologik terjadinya benjolan di tengkuk
Keuntungannya adalah sel PCE pada preparat mudah dikenali
tikus. Nilai frekuensi MNPCE yang cukup tinggi setelah pembe-
dari warnanya yang relatif kontras dibandingkan sel lain. Sel PCE
rian BP menunjukkan bahwa mutagenisitas BP cukup tinggi.
merupakan sel eritrosit muda yang baru mengalami mitosis dan
Sayangnya hingga saat ini belum ada ketentuan nilai batas
sintesis DNA, mengandung banyak ribosom serta memiliki inti.
Selain warnanya relatif kontras, ukurannya relatif besar dan ambang frekuensi MNPCE. Akan tetapi mengingat terjadinya
penyebarannya terbatas dibandingkan dengan sel lain maupun kanker melewati proses yang panjang dan dapat berawal dari
sel eritrosit dewasa atau sel eritrosit normokromatik (NCE). setitik kelainan(7), maka kenaikan frekuensi MNPCE sekecil
Pemeriksaan dilakukan dengan cara mengamati struktur MN apapun perlu disikapi. Sebagai pembanding, herbisida paraquat
pada sel PCE selanjutnja disebut MNPCE dan menghitungnya juga dapat menginduksi frekuensi MNPCE pada konsentrasi
untuk tiap 1000 sel PCE. Jumlah MNPCE dalam 1000 sel PCE 57,38 dan 66,56 mg/kg bobot badan masing-masing menjadi
kemudian disebut sebagai frekuensi MNPCE yang dinyatakan 8,4 Ø 1,6 permil dan 10,6 Ø 1,9 permil dengan frekuensi MNPCE
dalam permil. kontrol sebesar 2,4 Ø 1,4 permil.(8).

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


35
HASIL PENELITIAN

Nilai ini tidak sebesar nilai yang diperoleh pada pemberian BP,
padahal paraquat termasuk herbisida kelas dua ditinjau dari DAFTAR PUSTAKA
dampak kesehatan terhadap manusia (WHO). Bahkan di Malaysia 1. Atlas RM, Cerniglia CE. Bioremediation of petrolium pollutants: Diversity
pemakaiannya sangat dibatasi dan mendapat pengawasan yang and environmental aspects of hydrocarbon biodegradation. Bioscience
1995; 45 (5): 25-40
cukup ketat. Akan tetapi perlu diingat pula bahwa pada penelitian uji
mutagenitas paraquat digunakan tikus Wistar (Rattus norvegicus), 2. Tandjojo N. Pengaruh Benzo (α) piren terhadap Beberapa Sifat Biokimia
sedang pada penelitian ini digunakan mencit albino yang ukuran Khamir. Disertasi FMIPA-ITB 1992.
dan bobot tubuhnya lebih kecil yaitu sekitar 1/5 bobot tikus Wistar.
3. Noor Cholies, Komponen Herba Veronica cinneria yang Berkhasiat
Anti Kanker. Disertasi, FMIPA-ITB 1982.
Dari pengalaman penentuan MN, penggunaan mencit sebagai
hewan percobaan penanganannya lebih mudah dan praktis di- 4. Fenech M, Marley AA. Measurement of micronuclei in lymphocytes.
Mut.Res. 1985; 147 : 29-40.
bandingkan dengan penggunaan tikus. Penelitian ini dapat dilanjut-
kan ke arah penggunaan parameter MN antara lain untuk uji 5. Auletta A. Current status of short term test for carcinogenicity. J. Env.
kemanjuran obat antikanker misalnya dari zat bioaktif tanaman Sci. Health 1991; 8 (1): 31-43.
obat, dengan cara mengamati perubahan frekuensi MNPCE pada
6. Schmid W. The micronucleus test. Mut. Res. 1975; 31: 9 -15.
sumsum tulang tikus yang telah diinduksi kanker dengan BP.
7. Weinberg RA. How cancer arises. Scient Am. September 1996 : 32-40.
SIMPULAN
Pemeriksaan MN pada sel PCE dari tulang femur mencit albino 8. Hadiansyah C, Yunarni E, Hartati T. Uji mutagenisitas herbisida paraquat
dengan metoda mikronukleus pada sumsum tulang tikus Wistar. Pros.
dapat digunakan untuk mengamati adanya paparan xenobiotik. Kongres HITOKSI Jakarta 22 - 23 Februari 1999. Himpunan Toksikologi
Dilihat dari frekuensi MNPCE-nya, BP memiliki efek mutagenik Indonesia, 2000: 67-77.
dengan tingkat mutagenitas cukup tinggi.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


36
HASIL PENELITIAN

Nilai ini tidak sebesar nilai yang diperoleh pada pemberian BP,
padahal paraquat termasuk herbisida kelas dua ditinjau dari DAFTAR PUSTAKA
dampak kesehatan terhadap manusia (WHO). Bahkan di Malaysia 1. Atlas RM, Cerniglia CE. Bioremediation of petrolium pollutants: Diversity
pemakaiannya sangat dibatasi dan mendapat pengawasan yang and environmental aspects of hydrocarbon biodegradation. Bioscience
1995; 45 (5): 25-40
cukup ketat. Akan tetapi perlu diingat pula bahwa pada penelitian uji
mutagenitas paraquat digunakan tikus Wistar (Rattus norvegicus), 2. Tandjojo N. Pengaruh Benzo (α) piren terhadap Beberapa Sifat Biokimia
sedang pada penelitian ini digunakan mencit albino yang ukuran Khamir. Disertasi FMIPA-ITB 1992.
dan bobot tubuhnya lebih kecil yaitu sekitar 1/5 bobot tikus Wistar.
3. Noor Cholies, Komponen Herba Veronica cinneria yang Berkhasiat
Anti Kanker. Disertasi, FMIPA-ITB 1982.
Dari pengalaman penentuan MN, penggunaan mencit sebagai
hewan percobaan penanganannya lebih mudah dan praktis di- 4. Fenech M, Marley AA. Measurement of micronuclei in lymphocytes.
Mut.Res. 1985; 147 : 29-40.
bandingkan dengan penggunaan tikus. Penelitian ini dapat dilanjut-
kan ke arah penggunaan parameter MN antara lain untuk uji 5. Auletta A. Current status of short term test for carcinogenicity. J. Env.
kemanjuran obat antikanker misalnya dari zat bioaktif tanaman Sci. Health 1991; 8 (1): 31-43.
obat, dengan cara mengamati perubahan frekuensi MNPCE pada
6. Schmid W. The micronucleus test. Mut. Res. 1975; 31: 9 -15.
sumsum tulang tikus yang telah diinduksi kanker dengan BP.
7. Weinberg RA. How cancer arises. Scient Am. September 1996 : 32-40.
SIMPULAN
Pemeriksaan MN pada sel PCE dari tulang femur mencit albino 8. Hadiansyah C, Yunarni E, Hartati T. Uji mutagenisitas herbisida paraquat
dengan metoda mikronukleus pada sumsum tulang tikus Wistar. Pros.
dapat digunakan untuk mengamati adanya paparan xenobiotik. Kongres HITOKSI Jakarta 22 - 23 Februari 1999. Himpunan Toksikologi
Dilihat dari frekuensi MNPCE-nya, BP memiliki efek mutagenik Indonesia, 2000: 67-77.
dengan tingkat mutagenitas cukup tinggi.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


36
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Proteksi Vit B12


terhadap penurunan volume otak
Seseorang dengan kadar B12 tinggi mempunyai tendensi untuk tidak mengalami
penurunan volume otaknya sampai dengan 6 kali, pernyataan ini merupakan hasil
penelitian di Departemen Fisiologi, Anatomi dan Genetik Universitas Oxford UK
Anak-anak Asia tidur lebih malam, serta dimuat pada jurnal Neurology edisi September 2008.

waktu tidur lebih sedikit P enelitinya A. David Smith, Dphil menyebutkan bahwa
rendahnya kadar vitamin B12 dapat menjadi penyebab
terjadinya atrofi otak yang memberikan konsekuensi gangguan
Kadar vitamin B12 < 308 pmol/L berhubungan dengan cepat
hilangnya volume otak , hal ini berhubungan dengan rendahnya
kadar holotranskobalamin <54 pmol/L.
Dalam sebuah studi baru, dibandingkan anak-anak di negara-negara Asia, anak-anak fungsi kognitif pada saat lanjut usia. Penelitian ini sengaja
di negara yang dominan kaukasia lebih mendapat cukup tidur secara keseluruhan, mencari hubungan antara penanda status vitamin B12 dan Dari penelitian tersebut didapatkan rata-rata penurunan
volume otak yang hilang setiap tahunnya dan diteliti selama kadar B12 dan dan holotranskobalamin:
punya waktu tidur lebih awal dan jarang berbagi kamar dengan anak-anak lain. 5 periode pada populasi usia tua.
Studi ini dipresentasikan pada Annual Meeting of the Associated Professional Sleep Kadar Odds Ratio (95% CI)
Penelitian prospektif ini dilakukan pada 107 komunitas,
Societies di Baltimore, 11 Juni 2008. Sementara anak-anak di negara-negara Asia lebih sering mengikutsertakan sukarelawan lansia yang tinggal di rumah.
Vitamin B12 6,17 (1,25 √ 30,47)

Holotranscobalamin 5,.99 (1,21 √ 29,81)


Peneliti Jodi Mindell dari Saint Joseph's University di tidur larut malam, total waktu tidurnya lebih pendek, me-
ningkatnya persepsi orang tua tentang masalah tidur dan
Usia peserta adalah 61-87 tahun tanpa penurunan fungsi
kognitif. Penelitian dinilai dengan pencitraan MRI, test kogni-
Philadelphia menilai kuesioner tidur yang diisi oleh orang
lebih sering berbagi kamar dibandingkan anak-anak di negera- tif dan laboratorium darah dengan mengukur vitamin B12 Berbeda dengan B12, penelitian ini tidak menemukan hubungan
tua dari 28.287 bayi dan balita di Amerika (4.505), Inggris (800), negara Kaukasia. Tidak ada perbedaan bermakna dalam hal plasma, kadar Transkobalamin (TC), Holotranskobalamin antara hilangnya volume otak dengan tingginya kadar homo-
Australia (1.073), New Zealand (1.081), Kanada (501), berjalan saat tidur dan istirahat. (holoTC), Asam Metillmalonat (MMA), Homosistein total (tHcy), sistein maupun rendahnya asam folat.
Hong Kong (1.049), Korea (1.036), Taiwan (896), Thailand serta serum asam folat. saat baseline.
(988), Indonesia (967), Jepang (872), Cina (7.505), India (3.892), Mindell mengatakan bahwa studi ini pertama kalinya melihat Kesimpulan akhir penelitian menyebutkan bahwa status vitamin
Malaysia (997), Filipina (1.034) dan Singapura (1.001). tidur pada bayi dan anak-anak melewati batas kultural dan Hasilnya menunjukkan bahwa penurunan volume otak lebih B12 plasma merupakan marker dini atau awal terjadinya
hasilnya mengherankan. Mereka menemukan perbedaan jumlah banyak terjadi pada orang yang kadar vitamin B12 dan kadar atrofi orak dan potensial sekali untuk mengalami penurunan
Mindell menemukan variasi dalam waktu tidur, waktu tidur tidur dan persepsi orang tua terhadap masalah tidur antar negara. holoTC rendah dan kadar homosistein plasma serta kadar fungsi kognitif.(I) (IDS)
Hasil ini menambah lebih banyak pertanyaan dibandingkan MMA nya tingginya saat baseline.
total dan hal lain yang bermakna. Contohnya, 15,1%
menghasilkan jawaban. Contohnya, apakah perbedaan seder- Referensi:
anak-anak di Kanada berbagi ruang, dibandingkan 94,5% Di bulan Agustus artikel di jurnal American Journal of Clinical Vitamin B12 status and rate of brain volume loss in community-dwelling elderly,
di Thailand. Persentase orang tua yang percaya anaknya hana hasil dari praktek budaya yang berbeda ? dan apakah Neurology 2008;71:826-832
Nutrition juga menyebutkan bahwa vitamin B12 sangat penting
mengalami masalah tidur ringan atau berat bervariasi dari dampaknya (jika ada) dari perbedaan-perbedaan ini ? (NFA) Bread cofortified with folic acid and vitamin B-12 improves the folate and vitamin B-12
dan bermanfaat jika dikonsumsi setiap hari.(H, Smith AD. status of healthy older people: a randomized controlled trial, Am J Clin Nutr 88(2):348-355
11% di Thailand sampai dengan 76% di China. Sumber : MedlinePlus, 13 Juni 2008 Am J Clin Nutr. 2008;88:253-254). Are we ready for mandatory fortification with vitamin B-12?, Am J Clin Nutr 88( 2):253-254,

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
38 39
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Proteksi Vit B12


terhadap penurunan volume otak
Seseorang dengan kadar B12 tinggi mempunyai tendensi untuk tidak mengalami
penurunan volume otaknya sampai dengan 6 kali, pernyataan ini merupakan hasil
penelitian di Departemen Fisiologi, Anatomi dan Genetik Universitas Oxford UK
Anak-anak Asia tidur lebih malam, serta dimuat pada jurnal Neurology edisi September 2008.

waktu tidur lebih sedikit P enelitinya A. David Smith, Dphil menyebutkan bahwa
rendahnya kadar vitamin B12 dapat menjadi penyebab
terjadinya atrofi otak yang memberikan konsekuensi gangguan
Kadar vitamin B12 < 308 pmol/L berhubungan dengan cepat
hilangnya volume otak , hal ini berhubungan dengan rendahnya
kadar holotranskobalamin <54 pmol/L.
Dalam sebuah studi baru, dibandingkan anak-anak di negara-negara Asia, anak-anak fungsi kognitif pada saat lanjut usia. Penelitian ini sengaja
di negara yang dominan kaukasia lebih mendapat cukup tidur secara keseluruhan, mencari hubungan antara penanda status vitamin B12 dan Dari penelitian tersebut didapatkan rata-rata penurunan
volume otak yang hilang setiap tahunnya dan diteliti selama kadar B12 dan dan holotranskobalamin:
punya waktu tidur lebih awal dan jarang berbagi kamar dengan anak-anak lain. 5 periode pada populasi usia tua.
Studi ini dipresentasikan pada Annual Meeting of the Associated Professional Sleep Kadar Odds Ratio (95% CI)
Penelitian prospektif ini dilakukan pada 107 komunitas,
Societies di Baltimore, 11 Juni 2008. Sementara anak-anak di negara-negara Asia lebih sering mengikutsertakan sukarelawan lansia yang tinggal di rumah.
Vitamin B12 6,17 (1,25 √ 30,47)

Holotranscobalamin 5,.99 (1,21 √ 29,81)


Peneliti Jodi Mindell dari Saint Joseph's University di tidur larut malam, total waktu tidurnya lebih pendek, me-
ningkatnya persepsi orang tua tentang masalah tidur dan
Usia peserta adalah 61-87 tahun tanpa penurunan fungsi
kognitif. Penelitian dinilai dengan pencitraan MRI, test kogni-
Philadelphia menilai kuesioner tidur yang diisi oleh orang
lebih sering berbagi kamar dibandingkan anak-anak di negera- tif dan laboratorium darah dengan mengukur vitamin B12 Berbeda dengan B12, penelitian ini tidak menemukan hubungan
tua dari 28.287 bayi dan balita di Amerika (4.505), Inggris (800), negara Kaukasia. Tidak ada perbedaan bermakna dalam hal plasma, kadar Transkobalamin (TC), Holotranskobalamin antara hilangnya volume otak dengan tingginya kadar homo-
Australia (1.073), New Zealand (1.081), Kanada (501), berjalan saat tidur dan istirahat. (holoTC), Asam Metillmalonat (MMA), Homosistein total (tHcy), sistein maupun rendahnya asam folat.
Hong Kong (1.049), Korea (1.036), Taiwan (896), Thailand serta serum asam folat. saat baseline.
(988), Indonesia (967), Jepang (872), Cina (7.505), India (3.892), Mindell mengatakan bahwa studi ini pertama kalinya melihat Kesimpulan akhir penelitian menyebutkan bahwa status vitamin
Malaysia (997), Filipina (1.034) dan Singapura (1.001). tidur pada bayi dan anak-anak melewati batas kultural dan Hasilnya menunjukkan bahwa penurunan volume otak lebih B12 plasma merupakan marker dini atau awal terjadinya
hasilnya mengherankan. Mereka menemukan perbedaan jumlah banyak terjadi pada orang yang kadar vitamin B12 dan kadar atrofi orak dan potensial sekali untuk mengalami penurunan
Mindell menemukan variasi dalam waktu tidur, waktu tidur tidur dan persepsi orang tua terhadap masalah tidur antar negara. holoTC rendah dan kadar homosistein plasma serta kadar fungsi kognitif.(I) (IDS)
Hasil ini menambah lebih banyak pertanyaan dibandingkan MMA nya tingginya saat baseline.
total dan hal lain yang bermakna. Contohnya, 15,1%
menghasilkan jawaban. Contohnya, apakah perbedaan seder- Referensi:
anak-anak di Kanada berbagi ruang, dibandingkan 94,5% Di bulan Agustus artikel di jurnal American Journal of Clinical Vitamin B12 status and rate of brain volume loss in community-dwelling elderly,
di Thailand. Persentase orang tua yang percaya anaknya hana hasil dari praktek budaya yang berbeda ? dan apakah Neurology 2008;71:826-832
Nutrition juga menyebutkan bahwa vitamin B12 sangat penting
mengalami masalah tidur ringan atau berat bervariasi dari dampaknya (jika ada) dari perbedaan-perbedaan ini ? (NFA) Bread cofortified with folic acid and vitamin B-12 improves the folate and vitamin B-12
dan bermanfaat jika dikonsumsi setiap hari.(H, Smith AD. status of healthy older people: a randomized controlled trial, Am J Clin Nutr 88(2):348-355
11% di Thailand sampai dengan 76% di China. Sumber : MedlinePlus, 13 Juni 2008 Am J Clin Nutr. 2008;88:253-254). Are we ready for mandatory fortification with vitamin B-12?, Am J Clin Nutr 88( 2):253-254,

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
38 39
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Bahaya Plastik
Kandungan Biopsi Prostat dan
Kandungan plastik
plastik Bisfenol-A
Bisfenol-A (BPA)
(BPA) dapat
dapat
merusak sel-sel otak dan mempengaruhi mood
merusak sel-sel otak dan mempengaruhi mood dan dan ingatan
ingatan
Hubungannya dengan
Para ilmuwan di Amerika dan Kanada yang mempelajari efek bisfenol-A (BPA), sebuah
kandungan plastik polikarbonat yang biasa digunakan dalam alat sehari-hari untuk menyimpan
makanan dan obat-obatan, menemukan bahwa BPA menyebabkan hilangnya hubungan
Mortalitas
antara sel-sel otak primata dan dapat mengarah pada penurunan daya ingat dan kemampuan Dilaporkan dalam American Society of Clinical Oncology 2008, hasil suatu studi yang
belajar. Berdasarkan temuan ini, mereka menyarankan US Enviromental Protection Agency menilai hal yang cukup unik dan menarik, yaitu hubungan biopsi prostat dan angka
(US EPA) menurunkan batas keamanan minimum paparan harian BPA. mortalitas. Studi yang bersifat population-based ini melibatkan 22.175 pasien yang
menjalani biopsi prostat (transrectal ultrasound guided / TRUS) dari tahun 1989 - 2000.
Studi oleh para peneliti dari Yale University School of Leranth dkk menjelaskan, data mereka mengindikasikan
Medicine dan Ontario Veterinary College, Kanada ini dipubli- bahwa walaupun paparan kadar BPA relatif rendah, BPA
kasikan dalam Proceedings of the National Academy of menghilangkan respon sinaptik terhadap estradiol. Remodel-
Sementara kelompok kontrol terdiri dari 1.778 pasien dengan Hasil penelitian ini memberikan pandangan baru bahwa
karakteristik serupa yang tidak menjalani biopsi. Separuh pasien mungkin prosedur biopsi prostat perlu dipertimbangkan
Sciences (PNAS) edisi online 3 September 2008. ing sinapsis saraf sangat penting dalam fungsi kognitif dan yang menjalani biopsi dianalisisa sebagai model prediktif lebih lanjut, dan disarankan hanya dilakukan jika manfaat
mood. BPA merinterferensi hubungan sinaps yang dibangun. untuk menilai mortalitas selama 120 hari dan separuhnya biopsi lebih besar dibandingkan risikonya. Diperlukan studi
Studi sebelumnya telah melihat efek BPA pada tikus, namun
lagi untuk validasi prediktor (selain mortalitas). lebih lanjut untuk memverifikasi hasil studi ini dan menjelaskan
ini yang pertama melihat apa yang terjadi pada primata dan Mereka menyimpulkan bahwa studi ini pertama kalinya men-
mekanismenya. (LHS)
juga pertama kalinya menggunakan batas terendah bahan demonstrasikan efek samping BPA pada otak model hewan
Hasilnya, ternyata angka mortalitas 120 hari pada kelompok
ini berdasarkan acuan US EPA. primata nonmanusia yang selanjutnya perlu ditingkatkan
yang menjalani biopsi lebih tinggi dibandingkan kelompok
dengan kepedulian penggunaan BPA secara luas di bidang
kontrol (1,3% vs 0,3%; p<0,001). Selain itu faktor lain yang
Untuk studi ini, Lerant dkk. memberikan dosis harian 50 medis. Model primata ini mengindikasikan bahwa BPA
mikrogram/kg BB BPA selama 28 hari kepada setiap primata. secara negatif mempengaruhi fungsi otak dalam manusia. berpengaruh pada meningkatnya mortalitas adalah usia,
Mereka juga memberikan estradiol, hormon estrogen Untuk itu, EPA diharapkan menurunkan 'batas keamanan penyakit penyerta (komorbiditas), dan jumlah prosedur biopsi.
manusia yang terlibat dalam mengatur hubungan sinaptik harian' untuk konsumsi BPA manusia. (NFA) Usia < 61 tahun memiliki angka mortalitas 0,2%, sedangkan
antar sel-sel otak. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan usia > 75 tahun : 2,5%. Pasien tanpa penyakit penyerta
hormon ini tidak hanya diproduksi oleh ovarium, tapi juga di Medical news today, 4 September 2008 memiliki angka mortalitas 0,7% (vs 2,2% pada pasien dengan
otak, yang berkontribusi pada pengembangan dan bekerja penyakit penyerta multipel). Biopsi pertama kali memiliki angka
Referensi:
di hipokampus dan korteks prefrontal, dua bagian yang mortalitas 1,4%, sementara biopsi ulangan sebesar 0,8%
ASCO.Short-term Mortality Increased After Prostate Biopsy.2008.
mengatur mood dan membantu ingatan. atau kurang. www.asco.org

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
40 41
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Bahaya Plastik
Kandungan Biopsi Prostat dan
Kandungan plastik
plastik Bisfenol-A
Bisfenol-A (BPA)
(BPA) dapat
dapat
merusak sel-sel otak dan mempengaruhi mood
merusak sel-sel otak dan mempengaruhi mood dan dan ingatan
ingatan
Hubungannya dengan
Para ilmuwan di Amerika dan Kanada yang mempelajari efek bisfenol-A (BPA), sebuah
kandungan plastik polikarbonat yang biasa digunakan dalam alat sehari-hari untuk menyimpan
makanan dan obat-obatan, menemukan bahwa BPA menyebabkan hilangnya hubungan
Mortalitas
antara sel-sel otak primata dan dapat mengarah pada penurunan daya ingat dan kemampuan Dilaporkan dalam American Society of Clinical Oncology 2008, hasil suatu studi yang
belajar. Berdasarkan temuan ini, mereka menyarankan US Enviromental Protection Agency menilai hal yang cukup unik dan menarik, yaitu hubungan biopsi prostat dan angka
(US EPA) menurunkan batas keamanan minimum paparan harian BPA. mortalitas. Studi yang bersifat population-based ini melibatkan 22.175 pasien yang
menjalani biopsi prostat (transrectal ultrasound guided / TRUS) dari tahun 1989 - 2000.
Studi oleh para peneliti dari Yale University School of Leranth dkk menjelaskan, data mereka mengindikasikan
Medicine dan Ontario Veterinary College, Kanada ini dipubli- bahwa walaupun paparan kadar BPA relatif rendah, BPA
kasikan dalam Proceedings of the National Academy of menghilangkan respon sinaptik terhadap estradiol. Remodel-
Sementara kelompok kontrol terdiri dari 1.778 pasien dengan Hasil penelitian ini memberikan pandangan baru bahwa
karakteristik serupa yang tidak menjalani biopsi. Separuh pasien mungkin prosedur biopsi prostat perlu dipertimbangkan
Sciences (PNAS) edisi online 3 September 2008. ing sinapsis saraf sangat penting dalam fungsi kognitif dan yang menjalani biopsi dianalisisa sebagai model prediktif lebih lanjut, dan disarankan hanya dilakukan jika manfaat
mood. BPA merinterferensi hubungan sinaps yang dibangun. untuk menilai mortalitas selama 120 hari dan separuhnya biopsi lebih besar dibandingkan risikonya. Diperlukan studi
Studi sebelumnya telah melihat efek BPA pada tikus, namun
lagi untuk validasi prediktor (selain mortalitas). lebih lanjut untuk memverifikasi hasil studi ini dan menjelaskan
ini yang pertama melihat apa yang terjadi pada primata dan Mereka menyimpulkan bahwa studi ini pertama kalinya men-
mekanismenya. (LHS)
juga pertama kalinya menggunakan batas terendah bahan demonstrasikan efek samping BPA pada otak model hewan
Hasilnya, ternyata angka mortalitas 120 hari pada kelompok
ini berdasarkan acuan US EPA. primata nonmanusia yang selanjutnya perlu ditingkatkan
yang menjalani biopsi lebih tinggi dibandingkan kelompok
dengan kepedulian penggunaan BPA secara luas di bidang
kontrol (1,3% vs 0,3%; p<0,001). Selain itu faktor lain yang
Untuk studi ini, Lerant dkk. memberikan dosis harian 50 medis. Model primata ini mengindikasikan bahwa BPA
mikrogram/kg BB BPA selama 28 hari kepada setiap primata. secara negatif mempengaruhi fungsi otak dalam manusia. berpengaruh pada meningkatnya mortalitas adalah usia,
Mereka juga memberikan estradiol, hormon estrogen Untuk itu, EPA diharapkan menurunkan 'batas keamanan penyakit penyerta (komorbiditas), dan jumlah prosedur biopsi.
manusia yang terlibat dalam mengatur hubungan sinaptik harian' untuk konsumsi BPA manusia. (NFA) Usia < 61 tahun memiliki angka mortalitas 0,2%, sedangkan
antar sel-sel otak. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan usia > 75 tahun : 2,5%. Pasien tanpa penyakit penyerta
hormon ini tidak hanya diproduksi oleh ovarium, tapi juga di Medical news today, 4 September 2008 memiliki angka mortalitas 0,7% (vs 2,2% pada pasien dengan
otak, yang berkontribusi pada pengembangan dan bekerja penyakit penyerta multipel). Biopsi pertama kali memiliki angka
Referensi:
di hipokampus dan korteks prefrontal, dua bagian yang mortalitas 1,4%, sementara biopsi ulangan sebesar 0,8%
ASCO.Short-term Mortality Increased After Prostate Biopsy.2008.
mengatur mood dan membantu ingatan. atau kurang. www.asco.org

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
40 41
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Lavender dan Saffron Kombinasi Ibuprofen


dengan Parasetamol
untuk Atasi Depresi untuk Menurunkan
dan Cemas Demam pada Anak
Hasil:
Saat ini banyak tumbuh-tumbuhan alami yang mulai di- • Parasetamol + ibuprofen lebih unggul dibandingkan dengan para-
kembangkan untuk pengobatan kejiwaan, seperti Lavender setamol saja dalam waktu bebas demam dalam 4 jam pertama
dan Saffron yang merupakan tumbuhan alami yang telah (adjusted difference 55 menit, 95% CI 33-77; p<0,001) dan
sebanding dengan ibuprofen saja (adjusted difference 16 menit,
banyak digunakan di industri kosmetik, makanan dan juga 95% CI -7-39; p=0,2).
sering digunakan sebagai aromaterapi. Demam merupakan salah satu gejala penyakit yang • Parasetamol + ibuprofen lebih unggul dibandingkan dengan para-
paling sering dialami oleh anak-anak, 70% dialami setamol saja dalam waktu bebas demam dalam 24 jam (adjusted
L avender dan Saffron telah dilaporkan mempunyai efek oleh anak-anak prasekolah setiap tahunnya. difference 4,4 jam; 95% CI 2,4-6,3; p<0,001) dan juga dengan
ibuprofen saja (adjusted difference 2,5 jam; 95% CI 0,6-4,4; p=0,008).
ansiolitik atau anticemas atau bahkan sebagai antidepresan. Sebanyak 40% anak-anak prasekolah dibawa ke • Terapi kombinasi parasetamol + ibuprofen menurunkan demam
Meskipun data yang menunjukkan efek positif masih sangat dokter karena demam setiap tahunnya. 23 menit lebih cepat (95% CI 2-45; p=0,025) dibandingkan dengan
terbatas dan masih membutuhkan pembuktian, penelitian parasetamol saja namun tidak lebih cepat dibandingkan dengan
fase I menunjukkan hasil yang cukup baik. Walaupun demam merupakan reaksi normal tubuh terhadap adanya ibuprofen saja (adjusted difference -3 menit; 95% CI 18-[-24]; p=0,8).
infeksi dan sebenarnya tidak perlu ditangani, namun masyarakat telah • Tidak ada keuntungan yang ditemukan dalam studi ini terhadap gejala-
Pada penelitian fase I pada manusia menggunakan cairan menggunakan obat-obat antipiretik secara luas. Alasan penggunaan gejala lainnya yang menyertai demam.
Lavender yang dilarutkan dengan alkohol perilil (POH), pada obat-obat antipiretik adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan, • Tidak ada perbedaan efek samping antara ketiga kelompok studi.
pasien kanker memperlihatkan keamanan dan tolerabilitas Studi awal menunjukkan bahwa Lavandula tincture ditemukan mengontrol demam, dan mencegah timbulnya kejang demam.
meskipun segi efikasinya belum diketahui. sedikit efektif dibandingkan dengan Imipramin pada terapi Kesimpulan: Pada anak-anak yang mengalami demam dianjurkan
depresi ringan sampai sedang secara bermakna (P=.001). Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menangani demam penggunaan ibuprofen terlebih dahulu; kombinasi parasetamol +
Berikut adalah penelitian yang pernah dipublikasi terhadap Kelompok Imipramin merasakan efek antikolinergik yang sangat adalah dengan menggunakan obat-obat antipiretik parasetamol dan ibuprofen dapat dipertimbangkan untuk memperpanjang waktu bebas
efektivitas Lavandula angustifolia (Lavender) : menonjol, sedangkan pada semua kelompok Lavandula tincture ibuprofen. Parasetamol dan ibuprofen telah memperlihatkan efek demam dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian.
Penelitian pada pasien demensia dengan gangguan agitasi hanya menderita sakit kepala ringan. Kombinasi Imipramine antipiretik yang lebih unggul dibandingkan dengan plasebo; ibuprofen
di Hong Kong, dilakukan secara acak buta ganda, silang ter- dan Lavandula tincture terlihat lebih baik dibandingkan dengan lebih unggul dibandingkan parasetamol. Karena mekanisme kerja Studi lain mengenai kombinasi penggunaan parasetamol dan ibu-
hadap 70 pasien China usia lanjut dan mengalami demensia. pemberian Imipramine saja (P<.0001). kedua obat tersebut berbeda, terdapat kemungkinan keduanya lebih profen bertujuan membandingkan efek antipiretik monoterapi para-
efektif bila diberikan secara kombinasi dibandingkan jika digunakan setamol atau ibuprofen dengan terapi kombinasi ibuprofen + parase-
Sebagian pasien diacak dan diberi inhalasi Lavender selama 3 Selain Lavender, ada tumbuhan lain yang ternyata mempunyai sendiri-sendiri. Namun, bukti yang mendukung penggunaan kedua tamol pada anak-anak usia 6-36 bulan. Merupakan uji klinik secara
minggu dan kemudian ditukar ke kelompok kontrolnya yang efek antidepresan yang baik yaitu Saffron atau Crocus sativus L. obat tersebut secara kombinasi masih sangat sedikit dan kontradiktif. acak, tersamar ganda, dan paralel melibatkan 464 anak-anak usia 6-
diberi inhalasi bunga matahari 3 minggu kemudian. Respon yang sebenarnya sudah dikenal sebagai bumbu masa. Saat Panduan NICE yang terakhir menganjurkan penggunaan ibuprofen 36 bulan yang mengalami demam. Partisipan dibagi dalam 3 kelompok:
klinik dievaluasi dengan penilaian skala CMAI/Cohen- Mansfield ini Saffron telah diketahui manfaatnya sebagai pengobatan atau parasetamol untuk anak-anak yang mengalami demam dan tidak kelompok I (n=154) mendapatkan parasetamol 12,5 mg/kg/kali
menganjurkan penggunaan kedua obat tersebut sebagai kombinasi setiap 6 jam, kelompok II (n=155) mendapatkan ibuprofen 5 mg/kg/
Agitation Inventory dan skala NPI/Neuropsychiatric Inventory depresi. Bahkan pernah dibandingkan antara Crocus sativus
ataupun digunakan secara bergantian karena masih sedikitnya bukti kali setiap 8 jam, dan kelompok III (n=155) mendapatkan kombinasi
berbahasa China. Didapatkan skor total CMAI turun dari (saffron) dengan antidepresan Imipramin pada pasien depresi
yang mendukung penggunaan keduanya sebagai kombinasi. parasetamol + ibuprofen (setiap 4 jam) selama 3 hari setelah pemberian
24,68 ke 17,77 secara bermakna (p < 0.001). Skor NPI berubah ringan sampai sedang pada 6 minggu pengobatan. dosis awal. Parameter yang dinilai: suhu, skor stress, jumlah antipiretik
dari 63,17 (SD = 17.81) ke 58,77 (SD = 16.74) secara yang digunakan, total absen orangtua di kantor, timbulnya demam
bermakna (p < 0.001) setelah diterapi inhalasi Lavender. Sekitar 31 pasien yang rawat jalan dan mengalami depresi Untuk mengetahui apakah penggunaan kombinasi parasetamol dan
ibuprofen lebih unggul dibandingkan jika digunakan sendiri-sendiri kembali, dan jumlah kunjungan ke UGD.
yang ditegakkan diagnosisnya dengan criteria DSM IV dan
Tidak ditemukan adanya efek periode dan efek sekuensial. kemudian depresinya ditegakkan dengan skala HAMD/ Hamilton untuk memperpanjang waktu bebas demam dan mempercepat
penurunan demam pada anak saat di rumah dilakukan uji klinik Hasil:
Kesimpulan akhir menyatakan bahwa Lavender efektif sebagai Rating Scale for Depression yang nilai skornya adalah kurang • Kelompok III memperlihatkan suhu tubuh rata-rata yang lebih rendah,
individually randomized, blinded, three arm trial melibatkan 156
terapi tambahan untuk memperbaiki tingkah laku pasien lebih 18. Pasien secara acak dan dibagi menjadi 2 kelompok, penurunan suhu tubuh yang lebih cepat, jumlah obat antipiretik
anak-anak usia 6 bulan-6 tahun dengan suhu aksila 37,8°C-41,0°C.
demensia. kelompok A diberikan kapsul berisi Saffron 30 mg/hari 3 kali yang dibutuhkan lebih sedikit, skor stres lebih rendah, dan total
sehari, dan kelompok ke 2 diberikan Imipramin kapsul 100 absen orangtua lebih sedikit dibandingkan dengan 2 kelompok
Partisipan dibagi dalam 3 kelompok yaitu: kelompok yang mendapatkan
Pernah dilakukan pembandingan efikasi ekstrak Lavender mg/hari 3 kali sehari selama 6 minggu.Dosis Saffron yang yang lain; semua hasil tersebut berbeda bermakna (p<0,001).
parasetamol + ibuprofen (n=52), hanya parasetamol saja (n=52), dan
angustifolia dengan antidepresan trisiklik imipramin pada diberikan terlihat sama efektifnya dengan Imipramin pada hanya ibuprofen saja (n=52). Dosis parasetamol adalah 15 mg/kg/dosis
• Jumlah kunjungan ke UGD tidak berbeda bermakna antara ketiga
depresi ringan sampai sedang selama 4 minggu. Pasien adalah terapi depresi ringan sampai sedang (P = 0.09). Efek samping dan dosis ibuprofen adalah 10 mg/kg/dosis. Parasetamol diberikan
kelompok (p=0,65), begitu juga dengan jumlah komplikasi jangka
45 orang dewasa yang diacak secara buta ganda dan sebelum- antikolinergik Imipramin ditemukan jauh lebih banyak jika panjang yang serius (p=0,66).
setiap 4-6 jam (maksimum 4 kali pemberian dalam 24 jam) sedangkan
nya didiagnosis dengan DSM IV, skor depresi dari HAMD dibandingkan dengan Saffron yang tanpa efek samping serius. ibuprofen diberikan setiap 6-8 jam (maksimum 3 kali pemberian
(Hamilton Rating Scale for Depression) pada baseline 18. Simpulan: kombinasi parasetamol + ibuprofen lebih efektif dibanding-
dalam 24 jam). Semua obat diberikan hingga jam ke-48.
Penelitian lain membandingkan ekstrak Saffron/Crocus sativus kan dengan monoterapi parasetamol atau ibuprofen dalam menurunkan
Pasien diberisecara acak: untuk kelompok A ƒ> Lavandula dengan Fluoksetin pada 40 pasien depresi ; kelompok I diberi demam pada bayi dan anak-anak. (VKS)
Parameter yang dinilai: Primer: waktu bebas demam (<37,2°C) dalam
tincture (1:5 pada 50% alkohol) 60 tetes/hari ditambah tablet kapsul Saffron 30 mg/hari 2 kali sehari dibandingkan dengan 4 jam pertama setelah pemberian dosis pertama dan proporsi anak- Referensi :
plasebo, untuk kelompok B ƒ> tablet Imipramin 100 kelompok 2 dengan Fluoksetin 20 mg/hari selama 6-minggu; anak yang kembali pada keadaan normal pada jam ke-48. Sekunder: 1. Hay AD et al. Paracetamol plus ibuprofen for the treatment of fever in children (PITCH) : randomised
controlled trial. In: BMJ. 2008; 337: a1302. Available from: http://www.bmj.com/cgi/content/full/337
mg/hari ditambah plasebo tetes dan kelompok C ƒ> Imipra- terlihat hasil yang sama di antara ke dua kelompok tersebut. waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu normal, waktu bebas 2. Barclay L. Ibuprofen May Be Preferred First-Line Therapy for Children With Fever. 2008. Available from:
http://www.medscape.com/viewarticle/580157
min tablet 100 mg/hari plus Lavandula tincture 60 tetes /hari. ( P = 0.71). Efek samping juga terlihat ringan terlihat pada ke demam dalam 24 jam, gejala-gejala lain yang menyertai demam, dan 3. Sarrell EM et al. Antipyretic Treatment in Young Children with Fever : Acetaminophen, Ibuprofen,
or Both Alternating in a Randomised Double-Blind Study. In : Arch Pediatr Adolesc Med. 2006;
Lamanya penelitian 4 minggu. dua kelompok. (IDS) timbulnya efek samping. 160 : 197-202. Available from : http://archpedi.ama-assn.org/cgi/reprint/160/2/197

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
42 43
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Lavender dan Saffron Kombinasi Ibuprofen


dengan Parasetamol
untuk Atasi Depresi untuk Menurunkan
dan Cemas Demam pada Anak
Hasil:
Saat ini banyak tumbuh-tumbuhan alami yang mulai di- • Parasetamol + ibuprofen lebih unggul dibandingkan dengan para-
kembangkan untuk pengobatan kejiwaan, seperti Lavender setamol saja dalam waktu bebas demam dalam 4 jam pertama
dan Saffron yang merupakan tumbuhan alami yang telah (adjusted difference 55 menit, 95% CI 33-77; p<0,001) dan
sebanding dengan ibuprofen saja (adjusted difference 16 menit,
banyak digunakan di industri kosmetik, makanan dan juga 95% CI -7-39; p=0,2).
sering digunakan sebagai aromaterapi. Demam merupakan salah satu gejala penyakit yang • Parasetamol + ibuprofen lebih unggul dibandingkan dengan para-
paling sering dialami oleh anak-anak, 70% dialami setamol saja dalam waktu bebas demam dalam 24 jam (adjusted
L avender dan Saffron telah dilaporkan mempunyai efek oleh anak-anak prasekolah setiap tahunnya. difference 4,4 jam; 95% CI 2,4-6,3; p<0,001) dan juga dengan
ibuprofen saja (adjusted difference 2,5 jam; 95% CI 0,6-4,4; p=0,008).
ansiolitik atau anticemas atau bahkan sebagai antidepresan. Sebanyak 40% anak-anak prasekolah dibawa ke • Terapi kombinasi parasetamol + ibuprofen menurunkan demam
Meskipun data yang menunjukkan efek positif masih sangat dokter karena demam setiap tahunnya. 23 menit lebih cepat (95% CI 2-45; p=0,025) dibandingkan dengan
terbatas dan masih membutuhkan pembuktian, penelitian parasetamol saja namun tidak lebih cepat dibandingkan dengan
fase I menunjukkan hasil yang cukup baik. Walaupun demam merupakan reaksi normal tubuh terhadap adanya ibuprofen saja (adjusted difference -3 menit; 95% CI 18-[-24]; p=0,8).
infeksi dan sebenarnya tidak perlu ditangani, namun masyarakat telah • Tidak ada keuntungan yang ditemukan dalam studi ini terhadap gejala-
Pada penelitian fase I pada manusia menggunakan cairan menggunakan obat-obat antipiretik secara luas. Alasan penggunaan gejala lainnya yang menyertai demam.
Lavender yang dilarutkan dengan alkohol perilil (POH), pada obat-obat antipiretik adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan, • Tidak ada perbedaan efek samping antara ketiga kelompok studi.
pasien kanker memperlihatkan keamanan dan tolerabilitas Studi awal menunjukkan bahwa Lavandula tincture ditemukan mengontrol demam, dan mencegah timbulnya kejang demam.
meskipun segi efikasinya belum diketahui. sedikit efektif dibandingkan dengan Imipramin pada terapi Kesimpulan: Pada anak-anak yang mengalami demam dianjurkan
depresi ringan sampai sedang secara bermakna (P=.001). Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menangani demam penggunaan ibuprofen terlebih dahulu; kombinasi parasetamol +
Berikut adalah penelitian yang pernah dipublikasi terhadap Kelompok Imipramin merasakan efek antikolinergik yang sangat adalah dengan menggunakan obat-obat antipiretik parasetamol dan ibuprofen dapat dipertimbangkan untuk memperpanjang waktu bebas
efektivitas Lavandula angustifolia (Lavender) : menonjol, sedangkan pada semua kelompok Lavandula tincture ibuprofen. Parasetamol dan ibuprofen telah memperlihatkan efek demam dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian.
Penelitian pada pasien demensia dengan gangguan agitasi hanya menderita sakit kepala ringan. Kombinasi Imipramine antipiretik yang lebih unggul dibandingkan dengan plasebo; ibuprofen
di Hong Kong, dilakukan secara acak buta ganda, silang ter- dan Lavandula tincture terlihat lebih baik dibandingkan dengan lebih unggul dibandingkan parasetamol. Karena mekanisme kerja Studi lain mengenai kombinasi penggunaan parasetamol dan ibu-
hadap 70 pasien China usia lanjut dan mengalami demensia. pemberian Imipramine saja (P<.0001). kedua obat tersebut berbeda, terdapat kemungkinan keduanya lebih profen bertujuan membandingkan efek antipiretik monoterapi para-
efektif bila diberikan secara kombinasi dibandingkan jika digunakan setamol atau ibuprofen dengan terapi kombinasi ibuprofen + parase-
Sebagian pasien diacak dan diberi inhalasi Lavender selama 3 Selain Lavender, ada tumbuhan lain yang ternyata mempunyai sendiri-sendiri. Namun, bukti yang mendukung penggunaan kedua tamol pada anak-anak usia 6-36 bulan. Merupakan uji klinik secara
minggu dan kemudian ditukar ke kelompok kontrolnya yang efek antidepresan yang baik yaitu Saffron atau Crocus sativus L. obat tersebut secara kombinasi masih sangat sedikit dan kontradiktif. acak, tersamar ganda, dan paralel melibatkan 464 anak-anak usia 6-
diberi inhalasi bunga matahari 3 minggu kemudian. Respon yang sebenarnya sudah dikenal sebagai bumbu masa. Saat Panduan NICE yang terakhir menganjurkan penggunaan ibuprofen 36 bulan yang mengalami demam. Partisipan dibagi dalam 3 kelompok:
klinik dievaluasi dengan penilaian skala CMAI/Cohen- Mansfield ini Saffron telah diketahui manfaatnya sebagai pengobatan atau parasetamol untuk anak-anak yang mengalami demam dan tidak kelompok I (n=154) mendapatkan parasetamol 12,5 mg/kg/kali
menganjurkan penggunaan kedua obat tersebut sebagai kombinasi setiap 6 jam, kelompok II (n=155) mendapatkan ibuprofen 5 mg/kg/
Agitation Inventory dan skala NPI/Neuropsychiatric Inventory depresi. Bahkan pernah dibandingkan antara Crocus sativus
ataupun digunakan secara bergantian karena masih sedikitnya bukti kali setiap 8 jam, dan kelompok III (n=155) mendapatkan kombinasi
berbahasa China. Didapatkan skor total CMAI turun dari (saffron) dengan antidepresan Imipramin pada pasien depresi
yang mendukung penggunaan keduanya sebagai kombinasi. parasetamol + ibuprofen (setiap 4 jam) selama 3 hari setelah pemberian
24,68 ke 17,77 secara bermakna (p < 0.001). Skor NPI berubah ringan sampai sedang pada 6 minggu pengobatan. dosis awal. Parameter yang dinilai: suhu, skor stress, jumlah antipiretik
dari 63,17 (SD = 17.81) ke 58,77 (SD = 16.74) secara yang digunakan, total absen orangtua di kantor, timbulnya demam
bermakna (p < 0.001) setelah diterapi inhalasi Lavender. Sekitar 31 pasien yang rawat jalan dan mengalami depresi Untuk mengetahui apakah penggunaan kombinasi parasetamol dan
ibuprofen lebih unggul dibandingkan jika digunakan sendiri-sendiri kembali, dan jumlah kunjungan ke UGD.
yang ditegakkan diagnosisnya dengan criteria DSM IV dan
Tidak ditemukan adanya efek periode dan efek sekuensial. kemudian depresinya ditegakkan dengan skala HAMD/ Hamilton untuk memperpanjang waktu bebas demam dan mempercepat
penurunan demam pada anak saat di rumah dilakukan uji klinik Hasil:
Kesimpulan akhir menyatakan bahwa Lavender efektif sebagai Rating Scale for Depression yang nilai skornya adalah kurang • Kelompok III memperlihatkan suhu tubuh rata-rata yang lebih rendah,
individually randomized, blinded, three arm trial melibatkan 156
terapi tambahan untuk memperbaiki tingkah laku pasien lebih 18. Pasien secara acak dan dibagi menjadi 2 kelompok, penurunan suhu tubuh yang lebih cepat, jumlah obat antipiretik
anak-anak usia 6 bulan-6 tahun dengan suhu aksila 37,8°C-41,0°C.
demensia. kelompok A diberikan kapsul berisi Saffron 30 mg/hari 3 kali yang dibutuhkan lebih sedikit, skor stres lebih rendah, dan total
sehari, dan kelompok ke 2 diberikan Imipramin kapsul 100 absen orangtua lebih sedikit dibandingkan dengan 2 kelompok
Partisipan dibagi dalam 3 kelompok yaitu: kelompok yang mendapatkan
Pernah dilakukan pembandingan efikasi ekstrak Lavender mg/hari 3 kali sehari selama 6 minggu.Dosis Saffron yang yang lain; semua hasil tersebut berbeda bermakna (p<0,001).
parasetamol + ibuprofen (n=52), hanya parasetamol saja (n=52), dan
angustifolia dengan antidepresan trisiklik imipramin pada diberikan terlihat sama efektifnya dengan Imipramin pada hanya ibuprofen saja (n=52). Dosis parasetamol adalah 15 mg/kg/dosis
• Jumlah kunjungan ke UGD tidak berbeda bermakna antara ketiga
depresi ringan sampai sedang selama 4 minggu. Pasien adalah terapi depresi ringan sampai sedang (P = 0.09). Efek samping dan dosis ibuprofen adalah 10 mg/kg/dosis. Parasetamol diberikan
kelompok (p=0,65), begitu juga dengan jumlah komplikasi jangka
45 orang dewasa yang diacak secara buta ganda dan sebelum- antikolinergik Imipramin ditemukan jauh lebih banyak jika panjang yang serius (p=0,66).
setiap 4-6 jam (maksimum 4 kali pemberian dalam 24 jam) sedangkan
nya didiagnosis dengan DSM IV, skor depresi dari HAMD dibandingkan dengan Saffron yang tanpa efek samping serius. ibuprofen diberikan setiap 6-8 jam (maksimum 3 kali pemberian
(Hamilton Rating Scale for Depression) pada baseline 18. Simpulan: kombinasi parasetamol + ibuprofen lebih efektif dibanding-
dalam 24 jam). Semua obat diberikan hingga jam ke-48.
Penelitian lain membandingkan ekstrak Saffron/Crocus sativus kan dengan monoterapi parasetamol atau ibuprofen dalam menurunkan
Pasien diberisecara acak: untuk kelompok A ƒ> Lavandula dengan Fluoksetin pada 40 pasien depresi ; kelompok I diberi demam pada bayi dan anak-anak. (VKS)
Parameter yang dinilai: Primer: waktu bebas demam (<37,2°C) dalam
tincture (1:5 pada 50% alkohol) 60 tetes/hari ditambah tablet kapsul Saffron 30 mg/hari 2 kali sehari dibandingkan dengan 4 jam pertama setelah pemberian dosis pertama dan proporsi anak- Referensi :
plasebo, untuk kelompok B ƒ> tablet Imipramin 100 kelompok 2 dengan Fluoksetin 20 mg/hari selama 6-minggu; anak yang kembali pada keadaan normal pada jam ke-48. Sekunder: 1. Hay AD et al. Paracetamol plus ibuprofen for the treatment of fever in children (PITCH) : randomised
controlled trial. In: BMJ. 2008; 337: a1302. Available from: http://www.bmj.com/cgi/content/full/337
mg/hari ditambah plasebo tetes dan kelompok C ƒ> Imipra- terlihat hasil yang sama di antara ke dua kelompok tersebut. waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu normal, waktu bebas 2. Barclay L. Ibuprofen May Be Preferred First-Line Therapy for Children With Fever. 2008. Available from:
http://www.medscape.com/viewarticle/580157
min tablet 100 mg/hari plus Lavandula tincture 60 tetes /hari. ( P = 0.71). Efek samping juga terlihat ringan terlihat pada ke demam dalam 24 jam, gejala-gejala lain yang menyertai demam, dan 3. Sarrell EM et al. Antipyretic Treatment in Young Children with Fever : Acetaminophen, Ibuprofen,
or Both Alternating in a Randomised Double-Blind Study. In : Arch Pediatr Adolesc Med. 2006;
Lamanya penelitian 4 minggu. dua kelompok. (IDS) timbulnya efek samping. 160 : 197-202. Available from : http://archpedi.ama-assn.org/cgi/reprint/160/2/197

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
42 43
BERITA TERKINI

Periodontitis dan Kelahiran Prematur


dengan Berat Badan Lahir Rendah
Bayi prematur yang lahir dengan berat badan rendah (PLBW) merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama baik pada negara maju maupun negara berkembang. Kelainan-
kelainan yang terkait dengan masa kehamilan yang lebih pendek dan PLBW merupakan penyebab
utama kematian pada bayi.
B ayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki tingkat Kesimpulan: ibu dengan status kesehatan periodontal yang
mortalitas yang lebih tinggi selama periode neonatal dibandingkan buruk merupakan faktor risiko potensial terhadap PLBW.
dengan bayi dengan berat badan lahir normal, dan bayi dengan BBLR 2. Studi meta analisis PLBW dan status periodontal ibu bertujuan
yang berhasil bertahan hidup akan menghadapi masalah tumbuh menilai efek penyakit periodontal ibu terhadap persalinan preterm
kembang, masalah respiratorik, kelainan kongenital, dan komplikasi dan/atau bayi dengan BBLR. Review meta analisis dilakukan ter-
akibat selama perawatan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU). hadap 5 database medik (MEDLINE, EMBASE, LILACS, BIOSIS

Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan PLBW adalah


usia ibu saat mengandung yang terlalu tua (>34 tahun) atau terlalu
and PASCAL) mengenai studi observasional pada manusia yang
menghubungkan persalinan preterm dan/atau bayi dengan BBLR
dan penyakit periodontal ibu; juga mengikuti MOOSE guide line
IKLAN 10
muda (<17 tahun), keturunan Afrika-Amerika status sosial ekonomi
yang rendah, perawatan antenatal (ANC) yang tidak adekuat, pe-
nyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, merokok, hipertensi, diabetes,
untuk meta analisis terhadap studi observasional.
Hasilnya: Menemukan 17 artikel yang sesuai dengan kriteria
inklusi; mencakup 7151 wanita, 1056 wanita mengalami persalinan
Biogaia
dan kehamilan multipel. Walaupun sudah banyak usaha-usaha yang preterm dan/atau bayi dengan BBLR. OR secara keseluruhan
dilakukan untuk mengurangi efek-efek yang ditimbulkan akibat faktor- adalah 2,83 (95% CI 1,95-4,10; p< 0,0001).
faktor diatas dengan melakukan intervensi pencegahan selama ANC, Kesimpulan: terdapat hubungan antara penyakit periodontal
namun ternyata hanya ada sedikit penurunan pada jumlah bayi ibu dengan persalinan preterm dan/atau bayi dengan BBLR, namun
dengan PLBW. Oleh karena itu, diduga ada faktor risiko lain yang perlu diteliti lebih lanjut menggunakan large, well-designed, multi-
berpengaruh terhadap prevalensi bayi dengan PLBW. Salah satu center trials.
faktor risiko tersebut adalah infeksi. Infeksi saluran kemih dan kelamin 3. Studi mengenai peningkatan risiko persalinan prematur dan BBLR
subklinis dan infeksi periodontal merupakan salah satu infeksi yang pada wanita dengan penyakit periodontal; bertujuan untuk
dapat mempengaruhi proses kehamilan, infeksi periodontal dapat mengetahui apakah perawatan kesehatan periodontal ibu setelah
mempengaruhi proses kehamilan dengan menjadi sumber bakteri masa kehamilan 28 minggu dapat menurunkan risiko PLBW;
anaerobik Gram negatif dan komponen bakteri seperti lipopolisa- Melibatkan 639 wanita, 406 wanita menderita gingivitis dan di-
karida. Bakteri dan komponennya dapat memicu pelepasan modu- terapi sebelum masa kehamilan 28 minggu, dan 233 wanita
lator sistem imun seperti PGE2 dan TNF-_yang normalnya berperan menderita penyakit periodontal dan diterapi setelah persalinan.
dalam proses kelahiran normal, sehingga secara tidak langsung bakteri Informasi mengenai kehamilan saat ini dan sebelumnya serta
dan komponennya berperan dalam lamanya masa kehamilan. faktor risiko yang diketahui didapatkan dari rekam medik pasien.
Parameter yang dinilai : persalinan sebelum masa kehamilan 37
Beberapa studi yang mengevaluasi hubungan antara periodon- minggu atau bayi yang dilahirkan dengan berat badan < 2500 g.
titis dengan PLBW. Hasil: Insiden PLBW adalah 2,5% pada wanita dengan status
1. Studi mengenai periodontitis sebagai faktor risiko PLBW bertujuan kesehatan periodontal normal, dan 8,6% pada wanita dengan
mengevaluasi penyakit periodontal sebagai faktor risiko PLBW. penyakit periodontal (p=0,0004; risiko relatif =3,5; 95% CI 1,7-7,3).
Studi ini melibatkan 48 ibu, 20 ibu mengalami persalinan prema- Faktor risiko yang berhubungan secara signifikan dengan PLBW
tur dengan bayi BBLR. Seluruh partisipan menjalani pemeriksaan adalah riwayat PLBW sebelumnya, penyakit periodontal, ANC < 6
periodontal yaitu pemeriksaan kedalaman periodontal pocket, kali, dan berat badan ibu yang rendah.
penghitungan skor indeks gingiva Loc dan Sillness, dan analisa foto Kesimpulan: penyakit periodontal berhubungan dengan kelahiran
panoramik. Informasi faktor risiko lainnya yang dapat menyebab- prematur dan BBLR; penyakit periodontal tidak terkait dengan
kan PLBW didapat dari dokter keluarga. faktor risiko lain. (VKS)
Hasil: Periodontitis (Odd Ratio [OR] 3,6; 95% Confidence Interval Referensi :
[CI] 1,06-12,18) bersama dengan vaginosis bakterial (OR 11,57; 1. Marakoglu I et al. Periodontitis as a Risk Factor for Preterm Low Birth Weight. In : Yonsei Med J. 2008;
49 (2) : 200-3. Available from : www.eymj.org/2008/pdf/04200.pdf
95% CI 1,26-105,7) merupakan faktor risiko independen terhadap 2. Vergnes JN, Sixou M. Preterm low birth weight and maternal periodontal status: a meta-analysis. In: Am J Obstet
PLBW. Usia ibu, merokok, dan tinggi badan ibu bukan faktor risiko Gynecol. 2007; 196 (2) : 135e1-7. Available from : www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17306654
3. Lopez NJ et al. Higher Risk of Preterm Birth and Low Birth Weight in Women with Periodontal Disease.
yang signifikan terhadap PLBW. In : J Dent Res. 2002; 81 (1) : 58-63. Available from : jdr.iadrjournals.org/cgi/reprint/81/1/58.pdf

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


44
BERITA TERKINI

Periodontitis dan Kelahiran Prematur


dengan Berat Badan Lahir Rendah
Bayi prematur yang lahir dengan berat badan rendah (PLBW) merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama baik pada negara maju maupun negara berkembang. Kelainan-
kelainan yang terkait dengan masa kehamilan yang lebih pendek dan PLBW merupakan penyebab
utama kematian pada bayi.
B ayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki tingkat Kesimpulan: ibu dengan status kesehatan periodontal yang
mortalitas yang lebih tinggi selama periode neonatal dibandingkan buruk merupakan faktor risiko potensial terhadap PLBW.
dengan bayi dengan berat badan lahir normal, dan bayi dengan BBLR 2. Studi meta analisis PLBW dan status periodontal ibu bertujuan
yang berhasil bertahan hidup akan menghadapi masalah tumbuh menilai efek penyakit periodontal ibu terhadap persalinan preterm
kembang, masalah respiratorik, kelainan kongenital, dan komplikasi dan/atau bayi dengan BBLR. Review meta analisis dilakukan ter-
akibat selama perawatan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU). hadap 5 database medik (MEDLINE, EMBASE, LILACS, BIOSIS

Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan PLBW adalah


usia ibu saat mengandung yang terlalu tua (>34 tahun) atau terlalu
and PASCAL) mengenai studi observasional pada manusia yang
menghubungkan persalinan preterm dan/atau bayi dengan BBLR
dan penyakit periodontal ibu; juga mengikuti MOOSE guide line
IKLAN 10
muda (<17 tahun), keturunan Afrika-Amerika status sosial ekonomi
yang rendah, perawatan antenatal (ANC) yang tidak adekuat, pe-
nyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, merokok, hipertensi, diabetes,
untuk meta analisis terhadap studi observasional.
Hasilnya: Menemukan 17 artikel yang sesuai dengan kriteria
inklusi; mencakup 7151 wanita, 1056 wanita mengalami persalinan
Biogaia
dan kehamilan multipel. Walaupun sudah banyak usaha-usaha yang preterm dan/atau bayi dengan BBLR. OR secara keseluruhan
dilakukan untuk mengurangi efek-efek yang ditimbulkan akibat faktor- adalah 2,83 (95% CI 1,95-4,10; p< 0,0001).
faktor diatas dengan melakukan intervensi pencegahan selama ANC, Kesimpulan: terdapat hubungan antara penyakit periodontal
namun ternyata hanya ada sedikit penurunan pada jumlah bayi ibu dengan persalinan preterm dan/atau bayi dengan BBLR, namun
dengan PLBW. Oleh karena itu, diduga ada faktor risiko lain yang perlu diteliti lebih lanjut menggunakan large, well-designed, multi-
berpengaruh terhadap prevalensi bayi dengan PLBW. Salah satu center trials.
faktor risiko tersebut adalah infeksi. Infeksi saluran kemih dan kelamin 3. Studi mengenai peningkatan risiko persalinan prematur dan BBLR
subklinis dan infeksi periodontal merupakan salah satu infeksi yang pada wanita dengan penyakit periodontal; bertujuan untuk
dapat mempengaruhi proses kehamilan, infeksi periodontal dapat mengetahui apakah perawatan kesehatan periodontal ibu setelah
mempengaruhi proses kehamilan dengan menjadi sumber bakteri masa kehamilan 28 minggu dapat menurunkan risiko PLBW;
anaerobik Gram negatif dan komponen bakteri seperti lipopolisa- Melibatkan 639 wanita, 406 wanita menderita gingivitis dan di-
karida. Bakteri dan komponennya dapat memicu pelepasan modu- terapi sebelum masa kehamilan 28 minggu, dan 233 wanita
lator sistem imun seperti PGE2 dan TNF-_yang normalnya berperan menderita penyakit periodontal dan diterapi setelah persalinan.
dalam proses kelahiran normal, sehingga secara tidak langsung bakteri Informasi mengenai kehamilan saat ini dan sebelumnya serta
dan komponennya berperan dalam lamanya masa kehamilan. faktor risiko yang diketahui didapatkan dari rekam medik pasien.
Parameter yang dinilai : persalinan sebelum masa kehamilan 37
Beberapa studi yang mengevaluasi hubungan antara periodon- minggu atau bayi yang dilahirkan dengan berat badan < 2500 g.
titis dengan PLBW. Hasil: Insiden PLBW adalah 2,5% pada wanita dengan status
1. Studi mengenai periodontitis sebagai faktor risiko PLBW bertujuan kesehatan periodontal normal, dan 8,6% pada wanita dengan
mengevaluasi penyakit periodontal sebagai faktor risiko PLBW. penyakit periodontal (p=0,0004; risiko relatif =3,5; 95% CI 1,7-7,3).
Studi ini melibatkan 48 ibu, 20 ibu mengalami persalinan prema- Faktor risiko yang berhubungan secara signifikan dengan PLBW
tur dengan bayi BBLR. Seluruh partisipan menjalani pemeriksaan adalah riwayat PLBW sebelumnya, penyakit periodontal, ANC < 6
periodontal yaitu pemeriksaan kedalaman periodontal pocket, kali, dan berat badan ibu yang rendah.
penghitungan skor indeks gingiva Loc dan Sillness, dan analisa foto Kesimpulan: penyakit periodontal berhubungan dengan kelahiran
panoramik. Informasi faktor risiko lainnya yang dapat menyebab- prematur dan BBLR; penyakit periodontal tidak terkait dengan
kan PLBW didapat dari dokter keluarga. faktor risiko lain. (VKS)
Hasil: Periodontitis (Odd Ratio [OR] 3,6; 95% Confidence Interval Referensi :
[CI] 1,06-12,18) bersama dengan vaginosis bakterial (OR 11,57; 1. Marakoglu I et al. Periodontitis as a Risk Factor for Preterm Low Birth Weight. In : Yonsei Med J. 2008;
49 (2) : 200-3. Available from : www.eymj.org/2008/pdf/04200.pdf
95% CI 1,26-105,7) merupakan faktor risiko independen terhadap 2. Vergnes JN, Sixou M. Preterm low birth weight and maternal periodontal status: a meta-analysis. In: Am J Obstet
PLBW. Usia ibu, merokok, dan tinggi badan ibu bukan faktor risiko Gynecol. 2007; 196 (2) : 135e1-7. Available from : www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17306654
3. Lopez NJ et al. Higher Risk of Preterm Birth and Low Birth Weight in Women with Periodontal Disease.
yang signifikan terhadap PLBW. In : J Dent Res. 2002; 81 (1) : 58-63. Available from : jdr.iadrjournals.org/cgi/reprint/81/1/58.pdf

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009


44
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

FDA : Vytorin
(Simvastatin plus Ezetimibe)
Meningkatkan Risiko Kanker?
FDA telah memberikan pengumuman mengenai hubungan antara pemberian Vytorin, obat gabungan
ezetimibe dan simvastatin (Merck/Schering-Plough Pharmaceuticals) dengan peningkatan risiko kanker.
N amun sampai saat ini FDA tidak mengharuskan pasien cepat-
cepat menghentikan terapi menggunakan Vytorin atau meng-
Data SEAS akan dipresentasikan kembali di European Society of
Cardiology (ESC) 2008 Congress di Munich, Jerman pada sesi Probiotik Bermanfaat
pada Tubuh Secara Keseluruhan
hentikan obat-obat penurun kolesterol lainnya. hotline ESC. Presentasi tersebut akan memberikan informasi
lebih baik untuk para klinisi dan memberikan informasi lebih
Pengumuman tersebut berdasarkan hasil laporan penelitian SEAS baik mengenai endpoint dan angka kejadian klinik yang dialami
pasien. Selain itu juga presentasi ini akan memberikan gambaran
(Simvastatin and Ezetimibe in Aortic Stenosis), sebuah penelitian
yang lebih jelas mengenai angka kejadian dan tipe kanker yang
Dari data studi terbaru menunjukkan manfaat perlindungan dari patogen dan
yang gagal memenuhi endpoint primernya karena gagal menu-
runkan endpoint gabungan kejadian katup aorta (aortic valve ditemukan selama penelitian dilakukan. efek anti inflamasi (radang) Bifidobacterium infantis 35624, sebuah strain bakteri
events) dan kejadian kardiovaskuler. Walau demikian, pada peneli-
Tiap tablet Vytorin seharga 4$ terdiri dari kombinasi Zocor (simvas-
probiotik yang asli dari tubuh manusia.
tian ini ditemukan penurunan kejadian iskemi, yang merupakan
endpoint sekunder gabungan dari infark miokard nonfatal,
tindakan coronary artery bypass graft (CABG), percutaneus
tatin), obat golongan statin yang terbukti mencegah serangan
jantung dan stroke, dengan Zetia (ezetimibe), obat penurun koles-
M anfaat gastrointestinal probiotik telah didokumentasi- Studi yang dipublikasi menguji efek penggunaan Bifidobac-
terol lemah, yang belum begitu terbukti bermanfaat menurunkan kan dengan baik tapi lebih banyak penelitian membuka tabir terium infantis 35624 pada imunitas Salmonella (Salmonella
coronary intervention (PCI), rawat inap karena angina tidak
kadar kolesterol. manfaat probiotik pada tubuh secara keseluruhan. laporan typhimurium), bakteri merugikan yang dapat menyebabkan
stabil, stroke non-hemoragik dan kematian kardiovaskular. Ada
ini dipublikasikan di dalam Public Library of Science (PLOS) infeksi usus halus dan memicu respon inflamasi tubuh.
data lain dalam penelitian ini yang perlu mendapat perhatian:
kelompok pasien yang diterapi Vytorin mengalami peningkatan Bagaimana Vytorin dapat meningkatkan risiko kanker? Pathogen edisi Agustus 2008. Bifidobacterium infantis 35624, strain probiotik yang diisolasi
risiko dan kematian karena kanker (semua jenis) bila dibanding- Sebuah analisis yang disampaikan adalah bahwa ezetimibe bukan dari jaring saluran cerna manusia sehat, digunakan oleh tikus
kan dengan pasien yang menerima plasebo. hanya menghambat absorpsi kolesterol, tapi juga sterol tumbuhan Respon inflamasi adalah bagian kunci perang sistem imun dalam bentuk bubuk kering beku plasing sedikit 3 minggu
(plant sterols) yang ditemukan pada buah dan tumbuhan, yang melawan kuman yang masuk tubuh. Respon normal terha- sebelum infeksi Salmonella. Tikus yang menerima Bifidobac-
Dalam penelitian SEAS yang berlangsung selama 5 tahun, di- dapat menghambat pertumbuhan tumor meskipun sampai saat dap infeksi sangat cepat dan efektif, namun demikian terium infantis 35624 menunjukkan peningkatan jumlah
temukan 93 kasus kanker pada pasien yang diberi Vytorin ini juga tidak terbukti bahwa sterol tumbuhan dan makanan kaya respon imun kadang-kadang menyebabkan inflamasi dan
yang dramatis dari sel-sel imun sehingga mengontrol respon
dibandingkan dengan 65 kasus kanker yang ditemukan pada buah dan sayuran mencegah kanker. kerusakan jaringan yang sehat.
sistem imun patogen merugikan dari Salmonella.
pasien dengan yang diterapi dengan plasebo. Hasilpenelitian ini Kesimpulan:
dipresentasikan oleh dr. Terje Pedersen (Ulleval University Hospital, • FDA memberikan pernyataan pada publik mengenai adanya Dr. Liam O'Mahony, pimpinan peneliti mengatakan bahwa
Oslo, Norwegia), yang merupakan anggota steering committee. hubungan antara terapi Vytorin dengan peningkatan risiko Tambahan, data menunjukkan peningkatan sejumlah sel-sel
inflamasi adalah faktor utama sejumlah penyakit kronik yang
kanker, namun tidak ada pernyataan dari FDA untuk meng- T-regulatory (Treg) atau sel-sel yang menekan penyakit infla-
hentikan terapi bagi pasien yang telah diterapi dengan
mnyerang jutaan orang dan dapat menyebabkan dampak
Data SEAS ini mendesak dilakukannya review segera atas dua kesehatan tidak diinginkan. Penelitian terdahulu menunjukkan masi dalam kumpulan luas penyakit otoimun. Penggunaan
penelitian yang masih berlangsung (yang menggunakan Vytorin), Vytorin. Bifidobacterium infantis 35624 menghasilkan induksi sel-sel
• FDA akan kembali memberikan kesimpulan dan rekomendasi probiotik Bifidobacterium infantis 35624 berdampak positif
yaitu Study of Heart and Renal Protection (SHARP) dan the Treg ini yang melindungi inang dari inflamasi berlebihan
kepada masyarakat setelah ada review akhir mengenai data terhadap sistem pertahanan dan kebanyakan data terbaru
Improved Reduction in High-Risk Subjects Presenting with Acute selama terjadinya infeksi. Para peneliti menyimpulkan bahwa
penelitian SEAS. menunjukkan manfaatnya tidak terbatas pada saluran cerna.
Coronary Syndrome (IMPROVE-IT). Kedua penelitian ini tidak pemberian Bifidobacterium infantis 35624 menghasilkan per-
memperlihatkan peningkatan risiko kanker pada pemberian • Perkiraan sementara: ezetimibe bukan hanya menghambat
absorpsi kolesterol, tapi juga sterol tumbuhan (plant sterols), Inflamasi berkaitan dengan kondisi yang menyebar luas lindungan tambahan terhadap infeksi, sedangkan pembatasan
simvastatin plus ezetimibe. Karena hasil kedua penelitian besar
inilah (SHARP dan IMPROVE-IT), FDA tidak mendesak pasien
yang ditemukan pada buah dan tumbuhan, yang dapat seperti penyakit inflamasi usus besar, artritis, kolitis diinduksi kerusakan pro inflamasi disebabkan oleh aktivasi sistem
menghambat pertumbuhan tumor. (YYA) bakteri, diabetes tipe 1 dan transplantasi organ. Bifidobacte- imun alami. (NFA)
untuk menghentikan terapi Vytorin. FDA sedang menunggu
hasil akhir penelitian SEAS dari sponsor obat ini dalam 3 bulan, Referensi : rium infantis 35624 sebelumnya menunjukkan kemampuan
1. CNBC. US to Examine Data on Vytorin and Cancer Risk. http://www.cnbc.com/id/26335395
dan penyelesaian review data penelitian diperkirakan akan 2. Forbes. The Vytorin Saga. Another Storm Brewing For Vytorin. http://www.forbes.com/home/ 2008/08/27/vytorin-peto-cancer-
biz-healthcare_cx_mh_0827vytorin.html
memodulasi respon inflamasi dalam uji klinis pasien dengan
selesai dalam 6 bulan. Setelah itu FDA akan kembali memberi- 3. http://www.medscape.com/viewarticle/579477?src=mpnews&spon=2&uac=117092CG
O»Riordan. FDA Looking into Vytorin and Cancer Risk, but Interim Analysis Reassuring for Patients to Continue WithMedication.
sindroma iritasi usus besar. Data baru menjelaskan manfaat
4. O»Riordan. Terje Pedersen on SEAS: Vytorin Study to be Presented at European Society of Cardiology. http://www.medscape.com/
kan kesimpulan dan rekomendasi kepada masyarakat. viewarticle/578989 kesehatan tambahan strain probiotik jenis ini. Sumber : Medical news today 26 Agustus 2008.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
46 47
BERITA TERKINI PRAKTIS

Beberapa zat/obat
yang sering menyebabkan
Revolusi Web 2.0 dalam Delirium/Coma
kesehatan sedang berlangsung Zat/obat Deteksi zat Gangguan tingkah laku
Hipertensi, agresi, kadang paranoid
Tanda fisik
Hipertermi, hipotensi, aritmi,
Menurut penelitian baru dari E-health Insider, perkembangan internet yang menampilkan situs-situs Amfetamin Darah/urin berlanjut menjadi delirium dilatasi pupil, tremor, distonia ;
seperti Facebook, YouTube dan Wikipedia saat ini sedang diatur untuk merevolusi layanan kesehatan. Halusinasi visual dan auditorik kadang kejang

Menurut penelitian baru dari E-health Insider, perkembangan Editor E-Health Insider Research dan penulis laporan, Lindsay Kokain Tidak ada Seperti amfetamin, lebih euforik,
kurang paranoid Variabel
internet yang menampilkan situs-situs seperti Facebook, Birnsteel mengatakan bahwa walaupun penting, laporan ini
YouTube dan Wikipedia saat ini sedang diatur untuk me- bukan sekedar user generated content melalui alat networking Bingung, disorientasi, distorsi
seperti wiki, blog, video klip atau mash-up. Teknologi web MDMA/ persepsi. Menarik diri atau Gelisah, ataksia, sulit konsen-
revolusi layanan kesehatan. Darah/urin trasi, kejang. Dilatasi pupil,
2.0 saat ini digunakan sebagai interaksi baru antara pasien Ecstasy impulsif dapat menyebabkan cedera
atau tindak kekerasan kematian akibat hipertermi
Laporan berjudul "Web 2.0 in the Health sector : Industry dan pemberi jasa pelayanan.
Review with a UK Perspective" menyimpulkan bahwa aplikasi Demam, flushing, dilatasi pupil,
baru berdasarkan jaringan kesehatan sosial dan konten yang Birnsteel menunjuk UK Service Patient Opinion sebagai standar Atropin/ Tidak ada Delirum, agitasi, halusiansi visual, takikardi sinus/supraventrikuler,
Skopolamin mengantuk sp. coma kulit kering dan panas
dibuat oleh pengguna layanan kesehatan sendiri, seperti dalam menghubungkan umpan balik masyarakat ke dalam
tinjauan ulang dokter dan rumah sakit, akan meningkat cepat pengembangan layanan kesehatan. Pandangan publik yang
Demam, takikardi supravetrikuler,
dalam menghadapi tantangan sistem kesehatan yang ada dan diberikan langsung ke NHS mendorong perbaikan pelayanan. Antidepresan gangguan konduksi jantung,
Darah/urin Mengantuk, delirium, agitasi,
menciptakan cara baru dalam memberikan layanan kesehatan. triskilik kadang coma fibrilasi ventrikel, hipotensi,
Dua puluh perusahaan dan organisasi e-health 2.0 pemimpin distoni
Laporan penelitian menjelaskan detil tentang bagaimana aplikasi sektor yang tumbuh cepat ini dibuat profilnya melalui kuesioner
Fenotiazin Darah Somnolen, jarang coma Aritmi, hipotensi, distoni
teknologi web 2.0 saat ini mengendalikan jauh perubahan dan wawancara lanjutan. Profil menghasilkan luasnya jang-
dalam sistem kesehatan di Inggris, Amerika dan Eropa, sebuah kauan aplikasi e-health yang telah tersedia. Profil ini juga Letargi, bingung, mutisme sp. coma.
Kejang multifokal. Gejala dapat Bingung, roving conjugate eye
trend yang dinamakan e-health 2.0. Laporan menjelaskan menghasilkan ilustrasi inovasi dalam layanan kesehatan: dari Litium Darah movement, pupil normal,
mereka yang mengabaikan trend e-health 2.0 berisiko ke- organisasi yang menghasilkan komunitas online pasien dengan muncul lambat beberapa jam/hari paratonia, tremor, akithisia
setelah overdosis
hilangan tahap awal sosial, ekonomi dan pergeseran teknologi kondisi khusus, alat-alat untuk mengelola penyakit kronik,
dalam perencanaan dan pemberian layanan kesehatan. situs yang memungkinkan pasien menilai mutu layanan yang Tidak ada depresi pernapasan/
Benzodiazepin Darah/urin Stupor
mereka terima, alat yang memungkinkan para klinisi untuk kardiovaskuler
Chief Knowlegde Officer di NHS, Sir Murray Gray mengatakan pencarian yang lebih baik dan berbagi data penelitian.
Ringan: serupa intoksikasi
dalam pembukaan laporan bahwa publikasi ini meringkas Metakualon barbiturat. Berat: rx. tendon
Laporan ini mengundang para pemimpin dari semua area
Darah/urin Halusinasi, agitasi berlanjut sp. coma
beberapa efek revolusi dan mengidentifikasi ke mana arahnya meningkat, mioklonus, distoni,
di masa depan. layanan kesehatan untuk memperhatikan e-health 2.0 yang kejang, takikardi, payah jantung
mulai mendefinisikan kembali praktek dan bisnis dalam layanan
Diproduksi oleh perusahaan layanan berita IT kesehatan online, kesehatan. (NFA) Hipotensi, kulit kering, dan dingin,
Barbiturat Darah/urin Stupor, coma pupil reaktif, doll s eye (-),
E-Health Insider, laporan ini menguji bagaimana jaringan hiporefleks, hipotensi, apnea
teknologi web 2.0 partisipasi seperti Facebook, YouTube dan
Wikipedia sedang diaplikasikan dalam layanan kesehatan. Disartri, ataksia, stupor. Kesadaran Stupor, hipotermi, kulit dingin
Alkohol Darah/nafas cepat berubah dengan stimulasi dan lembap, takikardi, pupil
reaktif di tengah sp. midriasis
Laporan berargumen bahwa e-health 2.0 akan menjadi
yang pertama dan terutama dikendalikan oleh pelanggan. Hipotermi, kulit dingin dan
Kesehatan merupakan salah satu subyek online yang secara lembap, pupil pinpoint, reaktif,
Opiat/opioid Darah/urin Stupor, coma bradikardi, hipotensi,
konsisten paling dicari. Aplikasi teknologi web 2.0 dalam
kesehatan sudah menjadi tantangan dalam hubungan dokter- hipoventilasi, edema paru
pasien dan mulai menempatkan kekuatan lebih besar di tangan
pelanggan. Sumber: Posner JB, Saper CB, Schiff ND, Plum F. Plum and Posner,s Diagnosis of Stupor and Coma. 4th ed. 2007. p.242 (BRW)

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
48 49
BERITA TERKINI PRAKTIS

Beberapa zat/obat
yang sering menyebabkan
Revolusi Web 2.0 dalam Delirium/Coma
kesehatan sedang berlangsung Zat/obat Deteksi zat Gangguan tingkah laku
Hipertensi, agresi, kadang paranoid
Tanda fisik
Hipertermi, hipotensi, aritmi,
Menurut penelitian baru dari E-health Insider, perkembangan internet yang menampilkan situs-situs Amfetamin Darah/urin berlanjut menjadi delirium dilatasi pupil, tremor, distonia ;
seperti Facebook, YouTube dan Wikipedia saat ini sedang diatur untuk merevolusi layanan kesehatan. Halusinasi visual dan auditorik kadang kejang

Menurut penelitian baru dari E-health Insider, perkembangan Editor E-Health Insider Research dan penulis laporan, Lindsay Kokain Tidak ada Seperti amfetamin, lebih euforik,
kurang paranoid Variabel
internet yang menampilkan situs-situs seperti Facebook, Birnsteel mengatakan bahwa walaupun penting, laporan ini
YouTube dan Wikipedia saat ini sedang diatur untuk me- bukan sekedar user generated content melalui alat networking Bingung, disorientasi, distorsi
seperti wiki, blog, video klip atau mash-up. Teknologi web MDMA/ persepsi. Menarik diri atau Gelisah, ataksia, sulit konsen-
revolusi layanan kesehatan. Darah/urin trasi, kejang. Dilatasi pupil,
2.0 saat ini digunakan sebagai interaksi baru antara pasien Ecstasy impulsif dapat menyebabkan cedera
atau tindak kekerasan kematian akibat hipertermi
Laporan berjudul "Web 2.0 in the Health sector : Industry dan pemberi jasa pelayanan.
Review with a UK Perspective" menyimpulkan bahwa aplikasi Demam, flushing, dilatasi pupil,
baru berdasarkan jaringan kesehatan sosial dan konten yang Birnsteel menunjuk UK Service Patient Opinion sebagai standar Atropin/ Tidak ada Delirum, agitasi, halusiansi visual, takikardi sinus/supraventrikuler,
Skopolamin mengantuk sp. coma kulit kering dan panas
dibuat oleh pengguna layanan kesehatan sendiri, seperti dalam menghubungkan umpan balik masyarakat ke dalam
tinjauan ulang dokter dan rumah sakit, akan meningkat cepat pengembangan layanan kesehatan. Pandangan publik yang
Demam, takikardi supravetrikuler,
dalam menghadapi tantangan sistem kesehatan yang ada dan diberikan langsung ke NHS mendorong perbaikan pelayanan. Antidepresan gangguan konduksi jantung,
Darah/urin Mengantuk, delirium, agitasi,
menciptakan cara baru dalam memberikan layanan kesehatan. triskilik kadang coma fibrilasi ventrikel, hipotensi,
Dua puluh perusahaan dan organisasi e-health 2.0 pemimpin distoni
Laporan penelitian menjelaskan detil tentang bagaimana aplikasi sektor yang tumbuh cepat ini dibuat profilnya melalui kuesioner
Fenotiazin Darah Somnolen, jarang coma Aritmi, hipotensi, distoni
teknologi web 2.0 saat ini mengendalikan jauh perubahan dan wawancara lanjutan. Profil menghasilkan luasnya jang-
dalam sistem kesehatan di Inggris, Amerika dan Eropa, sebuah kauan aplikasi e-health yang telah tersedia. Profil ini juga Letargi, bingung, mutisme sp. coma.
Kejang multifokal. Gejala dapat Bingung, roving conjugate eye
trend yang dinamakan e-health 2.0. Laporan menjelaskan menghasilkan ilustrasi inovasi dalam layanan kesehatan: dari Litium Darah movement, pupil normal,
mereka yang mengabaikan trend e-health 2.0 berisiko ke- organisasi yang menghasilkan komunitas online pasien dengan muncul lambat beberapa jam/hari paratonia, tremor, akithisia
setelah overdosis
hilangan tahap awal sosial, ekonomi dan pergeseran teknologi kondisi khusus, alat-alat untuk mengelola penyakit kronik,
dalam perencanaan dan pemberian layanan kesehatan. situs yang memungkinkan pasien menilai mutu layanan yang Tidak ada depresi pernapasan/
Benzodiazepin Darah/urin Stupor
mereka terima, alat yang memungkinkan para klinisi untuk kardiovaskuler
Chief Knowlegde Officer di NHS, Sir Murray Gray mengatakan pencarian yang lebih baik dan berbagi data penelitian.
Ringan: serupa intoksikasi
dalam pembukaan laporan bahwa publikasi ini meringkas Metakualon barbiturat. Berat: rx. tendon
Laporan ini mengundang para pemimpin dari semua area
Darah/urin Halusinasi, agitasi berlanjut sp. coma
beberapa efek revolusi dan mengidentifikasi ke mana arahnya meningkat, mioklonus, distoni,
di masa depan. layanan kesehatan untuk memperhatikan e-health 2.0 yang kejang, takikardi, payah jantung
mulai mendefinisikan kembali praktek dan bisnis dalam layanan
Diproduksi oleh perusahaan layanan berita IT kesehatan online, kesehatan. (NFA) Hipotensi, kulit kering, dan dingin,
Barbiturat Darah/urin Stupor, coma pupil reaktif, doll s eye (-),
E-Health Insider, laporan ini menguji bagaimana jaringan hiporefleks, hipotensi, apnea
teknologi web 2.0 partisipasi seperti Facebook, YouTube dan
Wikipedia sedang diaplikasikan dalam layanan kesehatan. Disartri, ataksia, stupor. Kesadaran Stupor, hipotermi, kulit dingin
Alkohol Darah/nafas cepat berubah dengan stimulasi dan lembap, takikardi, pupil
reaktif di tengah sp. midriasis
Laporan berargumen bahwa e-health 2.0 akan menjadi
yang pertama dan terutama dikendalikan oleh pelanggan. Hipotermi, kulit dingin dan
Kesehatan merupakan salah satu subyek online yang secara lembap, pupil pinpoint, reaktif,
Opiat/opioid Darah/urin Stupor, coma bradikardi, hipotensi,
konsisten paling dicari. Aplikasi teknologi web 2.0 dalam
kesehatan sudah menjadi tantangan dalam hubungan dokter- hipoventilasi, edema paru
pasien dan mulai menempatkan kekuatan lebih besar di tangan
pelanggan. Sumber: Posner JB, Saper CB, Schiff ND, Plum F. Plum and Posner,s Diagnosis of Stupor and Coma. 4th ed. 2007. p.242 (BRW)

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
48 49
INFORMATIKA INFORMATIKA

Hal ini diikuti dengan terbentuknya wadah atau asosiasi kelompok PENGEMBANGAN SISTEM INFORMATIKA KEDOKTERAN
Identifikasi Kebutuhan bidang keilmuan informatika kedokteran. Namun, pertukaran UNIVERSITAS GUNADARMA
hasil penelitian bidang informatika kedokteran antar perguruan 1) Memberi akses terbuka terhadap hasil penelitian dari institusi
Model Sistem Informatika Kedokteran tinggi maupun individu sivitas akademika belum berjalan baik. pendidikan atau lembaga yang terkait.
2) Memberi tempat diskusi atau forum untuk membicarakan
Universitas Gunadarma Beberapa masalah mendasar di Indonesia dapat diidentifikasi
sebagai berikut:
hasil-hasil penelitian dan pembelajaran informatika kedokteran.
3) Menyimpan dan memelihara aset digital dari institusi lainnya,
Eri Prasetyo Wibowo, Setia Wirawan, Johan Harlan 1) Belum tersedia tempat untuk menyimpan hasil penelitian. dengan memanfaatkan Repository UG yang sudah selesai
Universitas Gunadarma, Jakarta, Indonesia 2) Belum tersedia portal untuk menyampaikan hasil penelitian dibangun.
informatika kedokteran.
3) Budaya untuk saling bertukar (sharing) hasil penelitian belum Pengembangan Sistem Informatika Kedokteran untuk
ABSTRAK berkembang baik. Diseminasi Hasil Penelitian
Dengan perkembangan Informatika Kedokteran yang semakin pesat, Universitas Gunadarma yang merupakan 4) Belum ada pembelajaran jarak jauh dalam pemanfaatan peralatan Sistem ini direncanakan sebagai sebuah portal khusus tentang
universitas unggulan dalam bidang teknologi informasi berkewajiban mengembangkan Pusat Studi Informatika kedokteran.
bidang yang terkait pada informatika kedokteran untuk diskusi,
Kedokteran dengan memanfaatkan hibah kompetisi TIK K-1 yang didanai oleh DIKTI. Dalam makalah ini dibahas
diseminasi materi kuliah, praktik, laboratorium, dan penelitian.
bagaimana Universitas Gunadarma mengidenti–kasikan kebutuhan dalam pengembangan program model Sistem Layanan Jaringan INHERENT
Sistem ini tentunya terkait untuk memperkaya konten INHERENT
Informatika Kedokteran. Program yang akan dilaksanakan adalah (1) Pengembangan Sistem Informatika Kedokteran INHERENT (Indonesian Higher Education Network) adalah sebuah
khususnya hasil-hasil penelitian informatika kedokteran serta
untuk Desiminasi Hasil Penelitian, (2) Pengkayaan Konten Informatika Kedokteran dan (3) Pengembangan Inkooperasi jaringan komunikasi yang digagas oleh Direktorat Jenderal Perguruan
meningkatkan budaya saling kerjasama antar perguruan tinggi
Hasil Pemeriksaan USG ke dalam Rekam Medik Elektronik dan Pembelajaran Jarak Jauh untuk Bidang Kebidanan. Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
dan mengoptimalkan pemanfaatan sarana INHERENT dengan
Pada dasarnya INHERENT dibangun oleh Dikti untuk menghubung-
penggunaan bandwidth secara optimal.
Kata Kunci : Informatika kedokteran, USG, Teknologi Informasi, Portal kan seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Rancangan Sistem
Aplikasi yang akan dikembangkan adalah aplikasi berbasis web
LATAR BELAKANG MASALAH Fokus saat ini misalnya pemrosesan data EEG (elektroen-
yang dapat diakses oleh semua orang yang terhubung pada
Istilah informatika kedokteran saat ini makin populer di kalangan sefalogram), EKG (elektrokardiogram), CT-scan (computerized-
jaringan INHERENT. Saat ini (Pusat Studi Informatika Kedokteran)
masyarakat Indonesia, terutama setelah adanya kemajuan di bidang tomography), USG (ultrasonography) dan MRI (magnetic
PSIK Universitas Gunadarma telah memiliki sebuah Website (gb. 2)
informatika dan komunikasi. Namun definisi informatika kedokteran resonance imaging).
sampai saat ini masih belum final. Beberapa ahli yang mendefinisi- 2) Perancangan basis data medik, yaitu merancang dan mem- namun saat ini informasi yang disampaikan baru seputar informasi
kan informatika kedokteran di antaranya Morris F Collen (1977), bangun sistem yang memungkinkan seseorang menyimpan lembaga dan kegiatan seminar atau konferensi yang diadakan.
Jack D Myers (1986), Jan H. van Bemmel (1996), Reinhold Haux informasi medik hingga orang lain dapat menariknya tanpa
(1997), Wikipedia (2006), Handbook of Medical Informatics.2,3,4 perlu memahami rincian teknik representasi data.
3) Pengambilan keputusan klinik, yaitu upaya merekonstruksi
Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil beberapa konsep informasi kesehatan untuk memfasilitasi proses pengambilan
penting informatika kedokteran: keputusan klinik.
1) Informatika kedokteran merupakan pertemuan beberapa disiplin 4) Pemodelan dan Simulasi, yaitu memperoleh wawasan yang
ilmu, terutama informatika dan kedokteran, serta bidang- sering muncul dari kegagalan suatu model untuk mendeskrip- Gambar 1. Backbone INHERENT[7]
bidang pendukung dua disiplin tersebut; sikan hubungan kuantitatif yang dibangun berdasarkan
2) Aktifitas informatika kedokteran berhubungan dengan pe- intuisi. Ada 4 kegiatan awal yang telah dilaksanakan yaitu :
ngumpulan, pengiriman, pemrosesan data menjadi informasi 5) Interaksi Manusia Komputer Kesehatan, yaitu dialog antara 1) Pembangunan Backbone untuk 32 perguruan tinggi yang
dan pengetahuan; komputer dengan pengguna yang menjamin tercapainya menjadi simpul utama di seluruh Indonesia, (gb.1)
3) Pada awal perkembangan, informatika kedokteran identik komunikasi tanpa kehilangan informasi yang disampaikan. 2) PHK INHERENT K-1 untuk sembilan perguruan tinggi besar;
dengan aspek teknis, seperti aplikasi komputer, teknologi kesembilan perguruan tinggi tersebut diharapkan menyiapkan
informasi dan komunikasi untuk bidang kedokteran. Dalam IDENTIFIKASI KEBUTUHAN content yang dapat digunakan dalam INHERENT
perkembangan selanjutnya, bahasan dan penerapan informatika Sistem informatika kedokteran adalah sarana untuk penyampaian 3) PHK INHERENT K-2 untuk perguruan tinggi-perguruan tinggi
kedokteran juga mencakup aspek kognitif dan sosial. informasi secara sistematik, pelayanan kesehatan dan penelitan lain yang lebih diarahkan untuk persiapan infrastruktur masing-
4) Tujuan pencapaian informatika kedokteran diarahkan untuk biomedik untuk akses berbagai sumber daya yang unik dan mahal, masing.
meningkatkan kualitas kesehatan, penelitian dan pendidikan bisa memecahkan faktor institusi dan geografis dalam sharing 4) INHERENT K-3 pengembangan backbone INHERENT; perguruan Gambar 2. Website Pusat Studi Informatika Kedokteran Universitas Gunadarma
kedokteran. hasil penelitian yang dibutuhkan serta dapat membangun kolaborasi tinggi yang bukan merupakan simpul lokal dapat mengajukan
untuk mengakses berbagai sumber informasi yang dibutuhkan. proposal kegiatan berbasis teknologi informasi dan komunikasi Aplikasi ini akan dikembangkan tidak hanya berupa penyampaian
Dari definisi di atas maka ruang lingkup informatika kedokteran (ICT, Information and Communication Technology) sehingga informasi kegiatan namun juga dapat dijadikan sarana untuk
meliputi4: Permasalahan di Indonesia perguruan tinggi tersebut berkesempatan menjadi sub-simpul bertukar informasi hasil penelitian, bahan belajar termasuk sharing
1) Pemrosesan sinyal biologis, yaitu pemrosesan data yang dipancar- Kegiatan penelitian informatika kedokteran di Indonesia INHERENT melalui perguruan tinggi yang menjadi simpul lokal data dan forum diskusi. Arsitektur sistem PSIK dapat dilihat pada
kan dari dalam tubuh manusia dengan algoritma tertentu. sudah mulai banyak dilakukan pada beberapa tahun terakhir. di daerahnya. gambar 3.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
50 51
INFORMATIKA INFORMATIKA

Hal ini diikuti dengan terbentuknya wadah atau asosiasi kelompok PENGEMBANGAN SISTEM INFORMATIKA KEDOKTERAN
Identifikasi Kebutuhan bidang keilmuan informatika kedokteran. Namun, pertukaran UNIVERSITAS GUNADARMA
hasil penelitian bidang informatika kedokteran antar perguruan 1) Memberi akses terbuka terhadap hasil penelitian dari institusi
Model Sistem Informatika Kedokteran tinggi maupun individu sivitas akademika belum berjalan baik. pendidikan atau lembaga yang terkait.
2) Memberi tempat diskusi atau forum untuk membicarakan
Universitas Gunadarma Beberapa masalah mendasar di Indonesia dapat diidentifikasi
sebagai berikut:
hasil-hasil penelitian dan pembelajaran informatika kedokteran.
3) Menyimpan dan memelihara aset digital dari institusi lainnya,
Eri Prasetyo Wibowo, Setia Wirawan, Johan Harlan 1) Belum tersedia tempat untuk menyimpan hasil penelitian. dengan memanfaatkan Repository UG yang sudah selesai
Universitas Gunadarma, Jakarta, Indonesia 2) Belum tersedia portal untuk menyampaikan hasil penelitian dibangun.
informatika kedokteran.
3) Budaya untuk saling bertukar (sharing) hasil penelitian belum Pengembangan Sistem Informatika Kedokteran untuk
ABSTRAK berkembang baik. Diseminasi Hasil Penelitian
Dengan perkembangan Informatika Kedokteran yang semakin pesat, Universitas Gunadarma yang merupakan 4) Belum ada pembelajaran jarak jauh dalam pemanfaatan peralatan Sistem ini direncanakan sebagai sebuah portal khusus tentang
universitas unggulan dalam bidang teknologi informasi berkewajiban mengembangkan Pusat Studi Informatika kedokteran.
bidang yang terkait pada informatika kedokteran untuk diskusi,
Kedokteran dengan memanfaatkan hibah kompetisi TIK K-1 yang didanai oleh DIKTI. Dalam makalah ini dibahas
diseminasi materi kuliah, praktik, laboratorium, dan penelitian.
bagaimana Universitas Gunadarma mengidenti–kasikan kebutuhan dalam pengembangan program model Sistem Layanan Jaringan INHERENT
Sistem ini tentunya terkait untuk memperkaya konten INHERENT
Informatika Kedokteran. Program yang akan dilaksanakan adalah (1) Pengembangan Sistem Informatika Kedokteran INHERENT (Indonesian Higher Education Network) adalah sebuah
khususnya hasil-hasil penelitian informatika kedokteran serta
untuk Desiminasi Hasil Penelitian, (2) Pengkayaan Konten Informatika Kedokteran dan (3) Pengembangan Inkooperasi jaringan komunikasi yang digagas oleh Direktorat Jenderal Perguruan
meningkatkan budaya saling kerjasama antar perguruan tinggi
Hasil Pemeriksaan USG ke dalam Rekam Medik Elektronik dan Pembelajaran Jarak Jauh untuk Bidang Kebidanan. Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
dan mengoptimalkan pemanfaatan sarana INHERENT dengan
Pada dasarnya INHERENT dibangun oleh Dikti untuk menghubung-
penggunaan bandwidth secara optimal.
Kata Kunci : Informatika kedokteran, USG, Teknologi Informasi, Portal kan seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Rancangan Sistem
Aplikasi yang akan dikembangkan adalah aplikasi berbasis web
LATAR BELAKANG MASALAH Fokus saat ini misalnya pemrosesan data EEG (elektroen-
yang dapat diakses oleh semua orang yang terhubung pada
Istilah informatika kedokteran saat ini makin populer di kalangan sefalogram), EKG (elektrokardiogram), CT-scan (computerized-
jaringan INHERENT. Saat ini (Pusat Studi Informatika Kedokteran)
masyarakat Indonesia, terutama setelah adanya kemajuan di bidang tomography), USG (ultrasonography) dan MRI (magnetic
PSIK Universitas Gunadarma telah memiliki sebuah Website (gb. 2)
informatika dan komunikasi. Namun definisi informatika kedokteran resonance imaging).
sampai saat ini masih belum final. Beberapa ahli yang mendefinisi- 2) Perancangan basis data medik, yaitu merancang dan mem- namun saat ini informasi yang disampaikan baru seputar informasi
kan informatika kedokteran di antaranya Morris F Collen (1977), bangun sistem yang memungkinkan seseorang menyimpan lembaga dan kegiatan seminar atau konferensi yang diadakan.
Jack D Myers (1986), Jan H. van Bemmel (1996), Reinhold Haux informasi medik hingga orang lain dapat menariknya tanpa
(1997), Wikipedia (2006), Handbook of Medical Informatics.2,3,4 perlu memahami rincian teknik representasi data.
3) Pengambilan keputusan klinik, yaitu upaya merekonstruksi
Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil beberapa konsep informasi kesehatan untuk memfasilitasi proses pengambilan
penting informatika kedokteran: keputusan klinik.
1) Informatika kedokteran merupakan pertemuan beberapa disiplin 4) Pemodelan dan Simulasi, yaitu memperoleh wawasan yang
ilmu, terutama informatika dan kedokteran, serta bidang- sering muncul dari kegagalan suatu model untuk mendeskrip- Gambar 1. Backbone INHERENT[7]
bidang pendukung dua disiplin tersebut; sikan hubungan kuantitatif yang dibangun berdasarkan
2) Aktifitas informatika kedokteran berhubungan dengan pe- intuisi. Ada 4 kegiatan awal yang telah dilaksanakan yaitu :
ngumpulan, pengiriman, pemrosesan data menjadi informasi 5) Interaksi Manusia Komputer Kesehatan, yaitu dialog antara 1) Pembangunan Backbone untuk 32 perguruan tinggi yang
dan pengetahuan; komputer dengan pengguna yang menjamin tercapainya menjadi simpul utama di seluruh Indonesia, (gb.1)
3) Pada awal perkembangan, informatika kedokteran identik komunikasi tanpa kehilangan informasi yang disampaikan. 2) PHK INHERENT K-1 untuk sembilan perguruan tinggi besar;
dengan aspek teknis, seperti aplikasi komputer, teknologi kesembilan perguruan tinggi tersebut diharapkan menyiapkan
informasi dan komunikasi untuk bidang kedokteran. Dalam IDENTIFIKASI KEBUTUHAN content yang dapat digunakan dalam INHERENT
perkembangan selanjutnya, bahasan dan penerapan informatika Sistem informatika kedokteran adalah sarana untuk penyampaian 3) PHK INHERENT K-2 untuk perguruan tinggi-perguruan tinggi
kedokteran juga mencakup aspek kognitif dan sosial. informasi secara sistematik, pelayanan kesehatan dan penelitan lain yang lebih diarahkan untuk persiapan infrastruktur masing-
4) Tujuan pencapaian informatika kedokteran diarahkan untuk biomedik untuk akses berbagai sumber daya yang unik dan mahal, masing.
meningkatkan kualitas kesehatan, penelitian dan pendidikan bisa memecahkan faktor institusi dan geografis dalam sharing 4) INHERENT K-3 pengembangan backbone INHERENT; perguruan Gambar 2. Website Pusat Studi Informatika Kedokteran Universitas Gunadarma
kedokteran. hasil penelitian yang dibutuhkan serta dapat membangun kolaborasi tinggi yang bukan merupakan simpul lokal dapat mengajukan
untuk mengakses berbagai sumber informasi yang dibutuhkan. proposal kegiatan berbasis teknologi informasi dan komunikasi Aplikasi ini akan dikembangkan tidak hanya berupa penyampaian
Dari definisi di atas maka ruang lingkup informatika kedokteran (ICT, Information and Communication Technology) sehingga informasi kegiatan namun juga dapat dijadikan sarana untuk
meliputi4: Permasalahan di Indonesia perguruan tinggi tersebut berkesempatan menjadi sub-simpul bertukar informasi hasil penelitian, bahan belajar termasuk sharing
1) Pemrosesan sinyal biologis, yaitu pemrosesan data yang dipancar- Kegiatan penelitian informatika kedokteran di Indonesia INHERENT melalui perguruan tinggi yang menjadi simpul lokal data dan forum diskusi. Arsitektur sistem PSIK dapat dilihat pada
kan dari dalam tubuh manusia dengan algoritma tertentu. sudah mulai banyak dilakukan pada beberapa tahun terakhir. di daerahnya. gambar 3.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
50 51
INFORMATIKA INFORMATIKA

Hal ini diikuti dengan terbentuknya wadah atau asosiasi kelompok PENGEMBANGAN SISTEM INFORMATIKA KEDOKTERAN
Identifikasi Kebutuhan bidang keilmuan informatika kedokteran. Namun, pertukaran UNIVERSITAS GUNADARMA
hasil penelitian bidang informatika kedokteran antar perguruan 1) Memberi akses terbuka terhadap hasil penelitian dari institusi
Model Sistem Informatika Kedokteran tinggi maupun individu sivitas akademika belum berjalan baik. pendidikan atau lembaga yang terkait.
2) Memberi tempat diskusi atau forum untuk membicarakan
Universitas Gunadarma Beberapa masalah mendasar di Indonesia dapat diidentifikasi
sebagai berikut:
hasil-hasil penelitian dan pembelajaran informatika kedokteran.
3) Menyimpan dan memelihara aset digital dari institusi lainnya,
Eri Prasetyo Wibowo, Setia Wirawan, Johan Harlan 1) Belum tersedia tempat untuk menyimpan hasil penelitian. dengan memanfaatkan Repository UG yang sudah selesai
Universitas Gunadarma, Jakarta, Indonesia 2) Belum tersedia portal untuk menyampaikan hasil penelitian dibangun.
informatika kedokteran.
3) Budaya untuk saling bertukar (sharing) hasil penelitian belum Pengembangan Sistem Informatika Kedokteran untuk
ABSTRAK berkembang baik. Diseminasi Hasil Penelitian
Dengan perkembangan Informatika Kedokteran yang semakin pesat, Universitas Gunadarma yang merupakan 4) Belum ada pembelajaran jarak jauh dalam pemanfaatan peralatan Sistem ini direncanakan sebagai sebuah portal khusus tentang
universitas unggulan dalam bidang teknologi informasi berkewajiban mengembangkan Pusat Studi Informatika kedokteran.
bidang yang terkait pada informatika kedokteran untuk diskusi,
Kedokteran dengan memanfaatkan hibah kompetisi TIK K-1 yang didanai oleh DIKTI. Dalam makalah ini dibahas
diseminasi materi kuliah, praktik, laboratorium, dan penelitian.
bagaimana Universitas Gunadarma mengidenti–kasikan kebutuhan dalam pengembangan program model Sistem Layanan Jaringan INHERENT
Sistem ini tentunya terkait untuk memperkaya konten INHERENT
Informatika Kedokteran. Program yang akan dilaksanakan adalah (1) Pengembangan Sistem Informatika Kedokteran INHERENT (Indonesian Higher Education Network) adalah sebuah
khususnya hasil-hasil penelitian informatika kedokteran serta
untuk Desiminasi Hasil Penelitian, (2) Pengkayaan Konten Informatika Kedokteran dan (3) Pengembangan Inkooperasi jaringan komunikasi yang digagas oleh Direktorat Jenderal Perguruan
meningkatkan budaya saling kerjasama antar perguruan tinggi
Hasil Pemeriksaan USG ke dalam Rekam Medik Elektronik dan Pembelajaran Jarak Jauh untuk Bidang Kebidanan. Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
dan mengoptimalkan pemanfaatan sarana INHERENT dengan
Pada dasarnya INHERENT dibangun oleh Dikti untuk menghubung-
penggunaan bandwidth secara optimal.
Kata Kunci : Informatika kedokteran, USG, Teknologi Informasi, Portal kan seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Rancangan Sistem
Aplikasi yang akan dikembangkan adalah aplikasi berbasis web
LATAR BELAKANG MASALAH Fokus saat ini misalnya pemrosesan data EEG (elektroen-
yang dapat diakses oleh semua orang yang terhubung pada
Istilah informatika kedokteran saat ini makin populer di kalangan sefalogram), EKG (elektrokardiogram), CT-scan (computerized-
jaringan INHERENT. Saat ini (Pusat Studi Informatika Kedokteran)
masyarakat Indonesia, terutama setelah adanya kemajuan di bidang tomography), USG (ultrasonography) dan MRI (magnetic
PSIK Universitas Gunadarma telah memiliki sebuah Website (gb. 2)
informatika dan komunikasi. Namun definisi informatika kedokteran resonance imaging).
sampai saat ini masih belum final. Beberapa ahli yang mendefinisi- 2) Perancangan basis data medik, yaitu merancang dan mem- namun saat ini informasi yang disampaikan baru seputar informasi
kan informatika kedokteran di antaranya Morris F Collen (1977), bangun sistem yang memungkinkan seseorang menyimpan lembaga dan kegiatan seminar atau konferensi yang diadakan.
Jack D Myers (1986), Jan H. van Bemmel (1996), Reinhold Haux informasi medik hingga orang lain dapat menariknya tanpa
(1997), Wikipedia (2006), Handbook of Medical Informatics.2,3,4 perlu memahami rincian teknik representasi data.
3) Pengambilan keputusan klinik, yaitu upaya merekonstruksi
Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil beberapa konsep informasi kesehatan untuk memfasilitasi proses pengambilan
penting informatika kedokteran: keputusan klinik.
1) Informatika kedokteran merupakan pertemuan beberapa disiplin 4) Pemodelan dan Simulasi, yaitu memperoleh wawasan yang
ilmu, terutama informatika dan kedokteran, serta bidang- sering muncul dari kegagalan suatu model untuk mendeskrip- Gambar 1. Backbone INHERENT[7]
bidang pendukung dua disiplin tersebut; sikan hubungan kuantitatif yang dibangun berdasarkan
2) Aktifitas informatika kedokteran berhubungan dengan pe- intuisi. Ada 4 kegiatan awal yang telah dilaksanakan yaitu :
ngumpulan, pengiriman, pemrosesan data menjadi informasi 5) Interaksi Manusia Komputer Kesehatan, yaitu dialog antara 1) Pembangunan Backbone untuk 32 perguruan tinggi yang
dan pengetahuan; komputer dengan pengguna yang menjamin tercapainya menjadi simpul utama di seluruh Indonesia, (gb.1)
3) Pada awal perkembangan, informatika kedokteran identik komunikasi tanpa kehilangan informasi yang disampaikan. 2) PHK INHERENT K-1 untuk sembilan perguruan tinggi besar;
dengan aspek teknis, seperti aplikasi komputer, teknologi kesembilan perguruan tinggi tersebut diharapkan menyiapkan
informasi dan komunikasi untuk bidang kedokteran. Dalam IDENTIFIKASI KEBUTUHAN content yang dapat digunakan dalam INHERENT
perkembangan selanjutnya, bahasan dan penerapan informatika Sistem informatika kedokteran adalah sarana untuk penyampaian 3) PHK INHERENT K-2 untuk perguruan tinggi-perguruan tinggi
kedokteran juga mencakup aspek kognitif dan sosial. informasi secara sistematik, pelayanan kesehatan dan penelitan lain yang lebih diarahkan untuk persiapan infrastruktur masing-
4) Tujuan pencapaian informatika kedokteran diarahkan untuk biomedik untuk akses berbagai sumber daya yang unik dan mahal, masing.
meningkatkan kualitas kesehatan, penelitian dan pendidikan bisa memecahkan faktor institusi dan geografis dalam sharing 4) INHERENT K-3 pengembangan backbone INHERENT; perguruan Gambar 2. Website Pusat Studi Informatika Kedokteran Universitas Gunadarma
kedokteran. hasil penelitian yang dibutuhkan serta dapat membangun kolaborasi tinggi yang bukan merupakan simpul lokal dapat mengajukan
untuk mengakses berbagai sumber informasi yang dibutuhkan. proposal kegiatan berbasis teknologi informasi dan komunikasi Aplikasi ini akan dikembangkan tidak hanya berupa penyampaian
Dari definisi di atas maka ruang lingkup informatika kedokteran (ICT, Information and Communication Technology) sehingga informasi kegiatan namun juga dapat dijadikan sarana untuk
meliputi4: Permasalahan di Indonesia perguruan tinggi tersebut berkesempatan menjadi sub-simpul bertukar informasi hasil penelitian, bahan belajar termasuk sharing
1) Pemrosesan sinyal biologis, yaitu pemrosesan data yang dipancar- Kegiatan penelitian informatika kedokteran di Indonesia INHERENT melalui perguruan tinggi yang menjadi simpul lokal data dan forum diskusi. Arsitektur sistem PSIK dapat dilihat pada
kan dari dalam tubuh manusia dengan algoritma tertentu. sudah mulai banyak dilakukan pada beberapa tahun terakhir. di daerahnya. gambar 3.

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
50 51
IN F O RM A T IKA OPINI

Pengembangan Inkooperasi Hasil Pemeriksaan USG ke dalam Upaya peningkatan kewaspadaan di kalangan masyarakat harus
diimbangi dengan kesiapan personil rumahsakit yang andal dan
Rekam Medik Elektronik dan Pembelajaran Jarak Jauh
untuk Bidang Kebidanan MENGELOLA fasilitas diagnostik yang memadai karena pemberian obat yang spesifik
seperti rtPA memerlukan kepastian jenis strokenya, di samping fasilitas

Sistem ini direncanakan dengan mengacu pada artikel TeleNursing


dan Telemedicine (5,6) dan kemampuan Universitas Gunadarma
STROKE pemantauan ketat di rumahsakit (6). Ketersediaan obat tersebut di
Indonesia masih belum merata, di samping adanya hambatan peng-
gunaannya mengingat masalah ketepatan diagnostik dan rentang
dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi serta adanya
program studi D3 kebidanan; tentunya ditunjang oleh bandwidth
DENGAN waktunya. Masalah transportasi ambulan juga perlu diperbaiki; di
samping masalah kepadatan lalu lintas yang berada di luar jangkauan
bidang kesehatan. Perlu dipikirkan apakah hal-hal ini dapat diatasi
backbone INHERENT yang sangat memadai.
LEBIH BAIK dengan metode tele medicine meskipun harus diakui bahwa metode
ini padat teknologi dan tidak murah (7).
Rancangan Sistem Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Sistem ini digunakan untuk menyimpan data rekam medik secara Dokter Spesialis Saraf, Jakarta Klub-klub stroke yang sampai saat ini kegiatannya lebih banyak pada
Gambar 3. Arsitektur Sistem PSIK digital dan aplikasi pembelajaran jarak jauh untuk bidang kebidanan. aspek rehabilitasi hendaknya lebih diberdayakan untuk memberi
pemahaman yang lebih baik mengenai pencegahan stroke melalui
Sistem ini menyediakan layanan pembelajaran jarak jauh secara Setiap orang pasti sudah pernah mengenal istilah cara hidup sehat, tidak/berhenti merokok, berat badan ideal dan me-
Pengkayaan Konten Informatika Kedokteran real time baik dalam model kuliah ataupun pemakaian peralatan stroke - penyakit gangguan peredaran darah otak - nangani faktor risiko sebaik-baiknya. Di sini pula peran serta masyara-
Portal sistem informatika kedokteran yang telah terbentuk tentunya kedokteran (USG). (gambar 5). yang merupakan penyebab kecacatan utama dan kat dapat diaktifkan meskipun tetap memerlukan pembinaan. Upaya
memerlukan konten yang bisa disimpan di dalam portal tersebut penyebab kematian penting - di samping kanker dan pencegahan terhadap penyakit-penyakit kronis √ penyakit jantung,
dan bisa diakses secara terbuka, sehingga pengkayaan konten serangan jantung. Bahkan mungkin di antara sejawat stroke, diabetes dan kanker jika dijalankan dengan konsisten dapat
informatika kedokteran harus mempunyai sistem yang dinamis, sudah ada yang merasakannya sebagai pengalaman mencegah 36 juta kematian prematur di seluruh dunia; separuhnya di
kalangan usia di bawah 70 tahun ; kira-kira seperenamnya (6 juta)
user friendly, dan mudah diperbaharui. di kalangan keluarga sendiri. berasal dari pencegahan kematian akibat stroke (8). Bahkan jika dihitung
Rancangan Sistem Engine Pengkayaan Konten M asyarakat telah mengenal stroke sebagai penyakit yang potensial
secara ekonomi biaya, masih tetap menguntungkan; penurunan 2%
kematian akibat penyakit kronis bisa menghemat sekitar US$ 8 milyar atau
Kegunaaan sistem ini adalah sebagai engine untuk mengatur mana- berbahaya dan berisiko menyebabkan kecacatan; tetapi yang mungkin 10% dari potensi penurunan pendapatan nasional dalam kurun waktu10
jemen konten yang berupa hasil penelitian, artikel populer, materi belum disadari sepenuhnya adalah bahwa stroke sebetulnya bisa di- tahun. Penggunaan multidrug untuk mencegah penyakit jantung, stroke
cegah dengan penanganan faktor risiko yang baik. Peningkatan usia
kuliah atau semua kegiatan yang berkaitan dengan materi pem- dan diabetes di kalangan risiko tinggi dapat menghindari 17.9 juta kematian.
harapan hidup akan memperbesar populasi lanjut usia sehingga harus
belajaran informatika kedokteran. Metode yang digunakan dalam diantisipasi adanya peningkatan kejadian stroke di masa mendatang.
pengkayaan konten adalah dengan mendapatkan hasil penelitian atau Upaya-upaya ini memang tidak akan segera terlihat hasilnya dalam waktu
dekat, dan seperti halnya dengan upaya pencegahan lainnya, memerlukan
materi pembelajaran yang berkaitan dengan informatika kedokteran. Hipertensi merupakan faktor risiko utama yang sering tanpa gejala; kesinambungan. Berpulang pada kita semua, apakah cukup bersungguh-
Konten materi pembelajaran mencakup : masyarakat dianjurkan untuk mengukur dan memantau tekanan sungguh berupaya mencegah penyakit yang menimbulkan kecacatan dan
• Bioinformatika darahnya secara berkala, apalagi sekarang sudah tersedia alat pengukur (mungkin) kematian ini sekaligus dapat menghemat biaya kesehatan.
• Informatika Pencitraan Medik tekanan darah yang dapat dibeli di mana-mana.; mengendalikan tekanan
darah dapat menurunkan risiko stroke sampai sepertiganya(1) Faktor
• Informatika Keperawatan Daftar Pustaka
risiko lain yang juga penting ialah diabetes mellitus yang seharusnya 1. Adams HP,delZoppo GJ, vKummer R. Management of Stroke. 2nd ed. 2002.
• Informatika Klinis bisa dikontrol .
2. Misbach J, Wendra A. Clinical pattern of hospitalized stroke in 28 hospitals in Indonesia.Med.J.Indon. 2000;9(1):29-34
3. Data Survey Kesehatan Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2006
Gambar 5. Sistem Pembelajaran Jarak Jauh Real Time
• Informatika Kesehatan masyarakat 4. Wardlaw JM, Murray V, Sandercock PAG. Thrombolysis for acute ischemic stroke: an update of the Cochrane thrombolysis
meta-analysis. Abstracts. Internat.J.Stroke 2008;3 suppl.1:50
5. Gabrielli A,Idris AH, Layon AJ. Ch.14. Prehospital Care of the Patient with Neurologic Injury. Dalam: Layon AJ, Gabrielli A,
Untuk merancang pembuatan setiap materi pembelajaran akan Survai atas 2065 pasien stroke di 28 rumahsakit di seluruh Indonesia Friedman WA. Textbook of Neurointensive Care. Saunders, 2004. pp.450-1
6. Guidelines for the Early Management of Adults with Ischemic Stroke. Stroke 2007;38:1655-1711
ditunjuk dosen di lingkungan Universitas Gunadarma yang mem- PENUTUP (Oktober 1996 - Maret 1997)(2) menunjukkan bahwa 73,9% menderita 7. Ilyan T, Sakasasmita S. Aplikasi Telemedicine bagi Pendidikan Kedokteran di Pedesaan. Cermin Dunia Kedokt.2008;35(5):271-78
8. Bonita BR. Costs of stroke prevention in the context of the chronic disease goal: what are the savings? Abstracts. Internat.J.Stroke
punyai kompetensi di bidang-bidang tersebut; tidak menutup Sesuai definisi informatika kedokteran yang merupakan per- hipertensi; 33.5% tidak diobati dan 8.9% bahkan baru terdiagnosis 2008;3 suppl.1:77

kemungkinan dosen di luar institusi berperan serta memperkaya paduan ilmu medik dengan teknologi informasi dan ruang lingkup saat dirawat. Sedangkan diabetes mellitus ditemukan pada 17.3%
bidang tersebut, serta dengan melihat kekuatan dan potensi pasien. Kematian akibat stroke merupakan 5.4% dari semua kematian
konten informatika kedokteran. Topik topik tersebut akan disimpan
di rumahsakit.(3)
dalam engine sistem pembelajaran informatika kedokteran. (gambar 4). Universitas Gunadarma di bidang teknologi informasi, maka
selayaknya Universitas Gunadarma dapat mengembangkan dan Masalah lain yang juga penting ialah menyadarkan masyarakat agar
melaksanakan program TIK K-1 DIKTI. waspada terhadap gejala awal stroke yang sering dapat diamati,
sehingga dapat sedini mungkin dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat;
DAFTAR PUSTAKA karena meskipun studi yang mutakhir menunjukkan bahwa rtPA masih
1. Dwi Astuti Aprijani, M. Abdushomad Elfaizi. Bioinformatika: Perkembangan, berguna jika diberikan sampai 6 jam setelah serangan(4), manfaat ini
disiplin ilmu dan penerapannya di Indonesia. download from Internet, 2007. tidak banyak membantu jika pasien baru tiba di rumahsakit rata-rata
2. Anis Fuad. Memahami difusi teknologi informasi kesehatan. http://anisfuad. 48,5 jam setelah serangan.(2)
wordpress.com/ 2006/01/, January 2006.
3. Handbook of Medical Informatics. download from Internet, August 2008.
Jika seseorang wajahnya lumpuh sesisi ,atau menderita kelemahan
lengan/anggota gerak, atau mengeluh bicaranya terganggu/pelo,
4. Johan Harlan. Informatika Kesehatan. Penerbit Gunadarma, 2006.
probabilitas disebabkan oleh stroke sebesar 72%.(5) Kampanye deteksi
5. Nur Martono. Telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) alternatif
dini gejala stroke perlu dilakukan terus menerus di kalangan masyara-
asuhan keperawatan Indonesia menjelang Indonesia Sehat 2010. http://nurmartono.
kat luas, antara lain penyebarluasan tanda dini melalui poster seperti
blogspot.com/ 2006/07/, July 2006.
yang telah dilakukan di AS (gambar), melalui siaran radio dan/atau televisi,
6. Handayani Tjandrasa. Teknologi informasi dalam aplikasi telemedika. download dapat dengan cara bekerja sama dengan salah satu rumahsakit. Juga Ket.Gambar:
from Internet, 2007. penting untuk memberi pemahaman bahwa stroke dapat dicegah se- Poster yang digunakan
7. Team PHK-TIK UG. Universitas Gunadarma dalam jaringan antar perguruan tinggi untuk kampanye deteksi
maksimal mungkin melalui pengendalian faktor risiko seperti hipertensi, dini stroke di AS.
Gambar 4. Engine Pengayaan Konten Pembelajaran se-Indonesia. Desember. e-mail: (eri,setia,harlan johan)@staff.gunadarma.ac.id 2006. diabetes mellitus, hiperkholesterolemi dan penyakit metabolik lain. (Sumbangan drg.Wasis Sumartono)

CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009 CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
52 53
IN F O RM A T IKA OPINI

Pengembangan Inkooperasi Hasil Pemeriksaan USG ke dalam Upaya peningkatan kewaspadaan di kalangan masyarakat harus
diimbangi dengan kesiapan personil rumahsakit yang andal dan
Rekam Medik Elektronik dan Pembelajaran Jarak Jauh
untuk Bidang Kebidanan MENGELOLA fasilitas diagnostik yang memadai karena pemberian obat yang spesifik
seperti rtPA memerlukan kepastian jenis strokenya, di samping fasilitas

Sistem ini direncanakan dengan mengacu pada artikel TeleNursing


dan Telemedicine (5,6) dan kemampuan Universitas Gunadarma
STROKE pemantauan ketat di rumahsakit (6). Ketersediaan obat tersebut di
Indonesia masih belum merata, di samping adanya hambatan peng-
gunaannya mengingat masalah ketepatan diagnostik dan rentang
dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi serta adanya
program studi D3 kebidanan; tentunya ditunjang oleh bandwidth
DENGAN waktunya. Masalah transportasi ambulan juga perlu diperbaiki; di
samping masalah kepadatan lalu lintas yang berada di luar jangkauan
bidang kesehatan. Perlu dipikirkan apakah hal-hal ini dapat diatasi
backbone INHERENT yang sangat memadai.
LEBIH BAIK dengan metode tele medicine meskipun harus diakui bahwa metode
ini padat teknologi dan tidak murah (7).
Rancangan Sistem Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Sistem ini digunakan untuk menyimpan data rekam medik secara Dokter Spesialis Saraf, Jakarta Klub-klub stroke yang sampai saat ini kegiatannya lebih banyak pada
Gambar 3. Arsitektur Sistem PSIK digital dan aplikasi pembelajaran jarak jauh untuk bidang kebidanan. aspek rehabilitasi hendaknya lebih diberdayakan untuk memberi
pemahaman yang lebih baik mengenai pencegahan stroke melalui
Sistem ini menyediakan layanan pembelajaran jarak jauh secara Setiap orang pasti sudah pernah mengenal istilah cara hidup sehat, tidak/berhenti merokok, berat badan ideal dan me-
Pengkayaan Konten Informatika Kedokteran real time baik dalam model kuliah ataupun pemakaian peralatan stroke - penyakit gangguan peredaran darah otak - nangani faktor risiko sebaik-baiknya. Di sini pula peran serta masyara-
Portal sistem informatika kedokteran yang telah terbentuk tentunya kedokteran (USG). (gambar 5). yang merupakan penyebab kecacatan utama dan kat dapat diaktifkan meskipun tetap memerlukan pembinaan. Upaya
memerlukan konten yang bisa disimpan di dalam portal tersebut penyebab kematian penting - di samping kanker dan pencegahan terhadap penyakit-penyakit kronis √ penyakit jantung,
dan bisa diakses secara terbuka, sehingga pengkayaan konten serangan jantung. Bahkan mungkin di antara sejawat stroke, diabetes dan kanker jika dijalankan dengan konsisten dapat
informatika kedokteran harus mempunyai sistem yang dinamis, sudah ada yang merasakannya sebagai pengalaman mencegah 36 juta kematian prematur di seluruh dunia; separuhnya di
kalangan usia di bawah 70 tahun ; kira-kira seperenamnya (6 juta)
user friendly, dan mudah diperbaharui. di kalangan keluarga sendiri. berasal dari pencegahan kematian akibat stroke (8). Bahkan jika dihitung
Rancangan Sistem Engine Pengkayaan Konten M asyarakat telah mengenal stroke sebagai penyakit yang potensial
secara ekonomi biaya, masih tetap menguntungkan; penurunan 2%
kematian akibat penyakit kronis bisa menghemat sekitar US$ 8 milyar atau
Kegunaaan sistem ini adalah sebagai engine untuk mengatur mana- berbahaya dan berisiko menyebabkan kecacatan; tetapi yang mungkin 10% dari potensi penurunan pendapatan nasional dalam kurun waktu10
jemen konten yang berupa hasil penelitian, artikel populer, materi belum disadari sepenuhnya adalah bahwa stroke sebetulnya bisa di- tahun. Penggunaan multidrug untuk mencegah penyakit jantung, stroke
cegah dengan penanganan faktor risiko yang baik. Peningkatan usia
kuliah atau semua kegiatan yang berkaitan dengan materi pem- dan diabetes di kalangan risiko tinggi dapat menghindari 17.9 juta kematian.
harapan hidup akan memperbesar populasi lanjut usia sehingga harus
belajaran informatika kedokteran. Metode yang digunakan dalam diantisipasi adanya peningkatan kejadian stroke di masa mendatang.
pengkayaan konten adalah dengan mendapatkan hasil penelitian atau Upaya-upaya ini memang tidak akan segera terlihat hasilnya dalam waktu
dekat, dan seperti halnya dengan upaya pencegahan lainnya, memerlukan
materi pembelajaran yang berkaitan dengan informatika kedokteran. Hipertensi merupakan faktor risiko utama yang sering tanpa gejala; kesinambungan. Berpulang pada kita semua, apakah cukup bersungguh-
Konten materi pembelajaran mencakup : masyarakat dianjurkan untuk mengukur dan memantau tekanan sungguh berupaya mencegah penyakit yang menimbulkan kecacatan dan
• Bioinformatika darahnya secara berkala, apalagi sekarang sudah tersedia alat pengukur (mungkin) kematian ini sekaligus dapat menghemat biaya kesehatan.
• Informatika Pencitraan Medik tekanan darah yang dapat dibeli di mana-mana.; mengendalikan tekanan
darah dapat menurunkan risiko stroke sampai sepertiganya(1) Faktor
• Informatika Keperawatan Daftar Pustaka
risiko lain yang juga penting ialah diabetes mellitus yang seharusnya 1. Adams HP,delZoppo GJ, vKummer R. Management of Stroke. 2nd ed. 2002.
• Informatika Klinis bisa dikontrol .
2. Misbach J, Wendra A. Clinical pattern of hospitalized stroke in 28 hospitals in Indonesia.Med.J.Indon. 2000;9(1):29-34
3. Data Survey Kesehatan Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2006
Gambar 5. Sistem Pembelajaran Jarak Jauh Real Time
• Informatika Kesehatan masyarakat 4. Wardlaw JM, Murray V, Sandercock PAG. Thrombolysis for acute ischemic stroke: an update of the Cochrane thrombolysis
meta-analysis. Abstracts. Internat.J.Stroke 2008;3 suppl.1:50
5. Gabrielli A,Idris AH, Layon AJ. Ch.14. Prehospital Care of the Patient with Neurologic Injury. Dalam: Layon AJ, Gabrielli A,
Untuk merancang pembuatan setiap materi pembelajaran akan Survai atas 2065 pasien stroke di 28 rumahsakit di seluruh Indonesia Friedman WA. Textbook of Neurointensive Care. Saunders, 2004. pp.450-1
6. Guidelines for the Early Management of Adults with Ischemic Stroke. Stroke 2007;38:1655-1711
ditunjuk dosen di lingkungan Universitas Gunadarma yang mem- PENUTUP (Oktober 1996 - Maret 1997)(2) menunjukkan bahwa 73,9% menderita 7. Ilyan T, Sakasasmita S. Aplikasi Telemedicine bagi Pendidikan Kedokteran di Pedesaan. Cermin Dunia Kedokt.2008;35(5):271-78
8. Bonita BR. Costs of stroke prevention in the context of the chronic disease goal: what are the savings? Abstracts. Internat.J.Stroke
punyai kompetensi di bidang-bidang tersebut; tidak menutup Sesuai definisi informatika kedokteran yang merupakan per- hipertensi; 33.5% tidak diobati dan 8.9% bahkan baru terdiagnosis 2008;3 suppl.1:77

kemungkinan dosen di luar institusi berperan serta memperkaya paduan ilmu medik dengan teknologi informasi dan ruang lingkup saat dirawat. Sedangkan diabetes mellitus ditemukan pada 17.3%
bidang tersebut, serta dengan melihat kekuatan dan potensi pasien. Kematian akibat stroke merupakan 5.4% dari semua kematian
konten informatika kedokteran. Topik topik tersebut akan disimpan
di rumahsakit.(3)
dalam engine sistem pembelajaran informatika kedokteran. (gambar 4). Universitas Gunadarma di bidang teknologi informasi, maka
selayaknya Universitas Gunadarma dapat mengembangkan dan Masalah lain yang juga penting ialah menyadarkan masyarakat agar
melaksanakan program TIK K-1 DIKTI. waspada terhadap gejala awal stroke yang sering dapat diamati,