Anda di halaman 1dari 24

Kebijaksanaan Redaksional

Topik Bahasan:
Kebebasan Pers

Oleh Usman Yatim

Kebebasan Pers
Kebebasan pers adalah bagian dari
hak asasi manusia. UUD 45 pasal 28
berbunyi: Setiap orang berhak
berkomunikasi dan memperoleh
informasi untuk mengembangkan
pribadi dan lingkungan sosialnya, serta
berhak untuk mencari, memperoleh,
memiliki, menyimpan, mengolah, dan
menyampaikan informasi dengan
menggunakan segala jenis saluran
yang tersedia.
Pers dan kemerdekaan pers adalah
suatu wujud dari kedaulatan rakyat

Trauma Kebebasan Pers

Pers yang bebas merupakan


salah satu komponen yang
paling esensial dari
masyarakat yang demokratis,
sebagai prasyarat bagi
perkembangan sosial dan
ekonomi yang baik.
Meski kalangan pers di
berbagai negara diberi
kebebasan dan telah menjadi
lebih profesional, di berbagai
belahan dunia saat ini para
wartawan tetap menghadapi
intimidasi, kekerasan,
pengasingan, penjara, bahkan
hukuman mati atau
pembunuhan.

Pemberedelan Pers
Indonesia mengalami pengekangan
pemerintah terhadap pers dimulai
tahun 1846, yaitu ketika pemerintah
kolonial Belanda mengharuskan
adanya surat izin atau sensor atas
penerbitan pers di Batavia,
Semarang, dan Surabaya.
Sejak itu hingga sekarang, pendapat
tentang kebebasan pers terbelah.
Satu pihak menolak adanya surat izin
terbit, sensor, dan pembredelan,
namun di pihak lain mengatakan
bahwa kontrol terhadap pers perlu
dilakukan.

Kebabasan Pers Era Orde Lama


Soekarno: Saya tidak menginginkan siaran
berita yang objektif, tetapi jelas memihak
pada revolusi kita dan menghantam musuhmusuh revolusi.
Pers yang bermusuhan dengan revolusi
harus dilenyapkan.
Selama Orla, tindakan, tuduhan dan
pembredelan pers terjadi berkali-kali.
1952, dua surat kabar dibredel, Merdeka dan
Berita Indonesia, dan 12 tuduhan lainnya
terhadap pers.
1957 saat Indonesia dinyatakan dalam
keadaan darurat perang (SOB-Staat van
Orlog en Beleg),terjadi 125 tindakan terhadap
pers, termasuk penutupan tiga kantor berita,
pembredelan 10 surat kabar dan penahanan
tujuh wartawan.

Kebebasan Pers Era Orde Baru


Masa pemerintahan Orde Baru, pembredelan, sensor, dan
perlunya surat izin terbit yang secara resmi dilarang UU
Pokok Pers (Pasal 4 dan 8, Ayat 2), tetap terjadi dengan
dasar Permenpen 01/1984 Pasal 33h yang menghadirkan
Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP).
Konsep Pers Pancasila, Pers Pembangunan, dan pers
kemitraan (pers, pemerintah dan masyarakat), membuat
pers harus secara total tunduk kepada kekuasaan.
Dengan definisi pers yang bebas dan bertanggung
jawab, SIUPP merupakan lembaga yang menerbitkan
pers dan pembredelan.
Terjadinya pembredelan Tempo, Detik, Editor pada 21 Juni
1994, mengisyaratkan ketidakmampuan sistem hukum
pers mengembangkan konsep pers yang bebas dan
bertanggung jawab secara hukum. Sejarah ketiga media
tersebut mengikuti sejarah Fokus, Sinar Harapan,
Prioritas, dan Monitor, yang semuanya dibredel tanpa
proses pengadilan.

Kebebasan Pers Orde Reformasi


Perubahan kekuasaan pada tahun
1998, dari Orde Baru ke Orde
Reformasi, membuat pers
menemukan kemerdekaanya.
Menteri Penerangan saat itu,
Yunus Yosfiah: kebebasan pers
adalah satu pengejawantahan dari
keikutsertaan warga negara dalam
melaksanakan kekuasaan negara.
SIUPP tidak lagi diperlukan

Transparansi Pers
Sejak 1998, pers Indonesia
dapat mengabarkan berita
secara transparan tanpa
kekhawatiran SIUPP yang
akan dicabut.
Tidak perlu takut lagi untuk
menampilkan tokoh-tokoh
kontroversial yang menggugat
maupun berseberangan
dengan pemerintah.
Tidak perlu ragu lagi untuk
menyajikan berita atau
laporan-laporan yang
sebelumnya dinilai berisiko.

Kemunculan Kembali Media


Dengan dihapuskannya
lembaga SIUPP, beberapa
media yang sempat mati,
kini pun hidup kembali, seperti
Majalah Berita Mingguan
Tempo dan Harian Umum
Sinar Harapan. Kalaupun
tidak menghidupkan yang
mati, dengan segala
kemudahannya, kini mudah
ditemui suratkabat, majalah,
berita radio, dan televisi
maupun situs berita online
baru.

Dilema Kebebasan Pers


Dunia pers mengklaim
kebebasan untuk tidak dituntut
oleh pengadilan kriminal:
kebebasan untuk mencari,
memperoleh dan
menyebarluaskan gagasan dan
informasi tanpa hambatan dari
pihak mana pun.
Pers bebas dari tindakan
pencegahan, pelarangan dan
atau penekanan dalam upaya
mencari, memperoleh dan
menyebarluaskan gagasan dan
informasi.

Peringkat Kebebasan Pers


Tahun 2005, Freedom House
menilai Indonesia dengan
partially free. Mostly unfree
dalam Index of Economic
Freedom dan difficult situation
dalam Wolrdwide Press
Freedom Index. Hanya satu
lembaga (baca; Reporters
Without Borders) yang menilai
pers Indonesia sudah
membaik, itu pun baru secara
partial.

Penurunan Peringkat Kebebasan


Pers

peringkat kebebasan pers di Indonesia:


77 (1998), 53 (1999), 47 (2001), 53
(2002), 56 (2003), 55 (2004), 58 (2005).
Rating Indonesia mengalami lompatan
kemajuan, dan terus makin baik selama
3 tahun sampai tahun 2001. Tetapi sejak
itu, kualitas kemerdekaan pers terus
menurun.
Pers Indonesia meresot
kemerdekaannya, antara lain karena:
meningkatnya tuntutan perkara terhadap
pers di pengadilan, penyerangan atas
kantor redaksi dan penyogokan
wartawan oleh pengusaha dan pejabat.
Atas dasar inilah pers Indonesia
dikelompokkan sebagai partially free.

Kebebasan Pers dan Hukum


Undang-Undang (UU) No 40/1999 tentang
Pers menyebutkan, "Kemerdekaan pers
adalah suatu wujud kedaulatan rakyat yang
berasaskan prinsip-prinsip demokrasi,
keadilan dan supremasi hukum".
Kemerdekaan pers dijalankan di dalam
bingkai moral, etika dan hukum.
Kemerdekaan pers adalah kemerdekaan
yang disertai dengan kesadaran akan
pentingnya penegakan supremasi hukum
yang dilaksanakan oleh pengadilan, dan
tanggung jawab profesi yang dijabarkan
dari Kode Etik Wartawan Indonesia
(KEWI), sesuai dengan hati nurani insan
pers.

Pers dan Demokrasi


Pers berperan menentukan
dalam peningkatan kualitas
demokrasi. Demokrasi bukan
hanya berarti soal mencoblos di
saat pemilihan umum, tapi juga
mengembangkan apa yang
disebut civil liberties,
kebebasan beragama,
berpendapat, berserikat, dan
seterusnya.
Bill Kovach: satu hal di luar
agama yang dianggap berguna
buat kehidupan orang banyak,
itu adalah jurnalisme.

Kebebasan & Konglomerasi Media


Sekarang ini kebebasan sangat maju.
Namun ada tekanan lain yang muncul,
namanya pasar dan juga konglomerasi
media.
Para pengusaha media bergandengan
tangan dengan para penguasa, bukan
saja dalam kerangka mau aman tapi
juga mengembangkan pasar.
Ancaman terhadap kebebasan pers
juga bisa muncul dari pemilik media itu,
misalnya dengan alasan bisnis.
Menurut survei National Democratic
Institute, hampir 95 persen dari semua
informasi soal politik yang diperoleh
warga Indonesia kecuali Maluku dan
Papuadidapat dari surat kabar dan
televisi yang pemegang sahamnya ada
di Jakarta.

Pers dan Kekuasaan


Salah satu kerja media adalah
memantau kekuasaan.
Kekuasaan itu bisa pemerintah,
pers, tentara, agama, dan
sebagainya.
Apakah pers harus selalu
melakukan kritik terhadap
kekuasaan?
Apakah pers dapat bermitra
dengan penguasa?

Hubungan Antar Pers


Terhadap sesama media, apakah
pernah dipantau dengan standar
yang sama?
Di negeri-negeri lain misalnya
India atau Amerika Serikat kritik
sesama media cukup lazim. Artinya
kalau ada koran atau majalah nulis
jelek, dia akan dikritik oleh koran
lain.
Solidaritas pers, apakah harus
mengorbankan kepentingan publik?
Kalau pemilik sebuah koran
dianggap melanggar hukum, apakah
kasusnya harus diberitakan oleh
koran bersangkutan atau koran lain?

Otokrotik Pers
BBC London pernah membuat
kesalahan sehingga seorang
narasumber mereka bunuh diri. Itu
dilaporkan oleh BBC sendiri. Reporter
The New York Times pernah menipu,
dan dilaporkan oleh The New York
Times sendiri. Koran itu juga pernah
keliru dalam soal senjata pemusnah
masal di Irak; itu diberitakan oleh NYT
dan mereka minta maaf.
Kalau media menempatkan diri sebagai
institusi masyarakat, memberitakan diri
sendiri itu tidak ada masalah, justru
akan membuat kredibilitas koran
bersangkutan semakin tinggi.

Kritik Kebebasan Pers


Pers dalam media massa tidak
menghasilkan informasi yang mendidik
masyarakat, tetapi lebih banyak
menjadi sumber provokasi.
pers kita menjadi pers yang lebih
sering beretorika (meminjam istilah
Satjipto Rahardjo) sehingga terkadang
menyalahgunakan kebebasan sendiri
(abuse of liberty).
Pers gagal mengantisipasi ekses-ekses
negatif dari kebebasan pers seperti
pornografi, penyebaran berita bohong,
provokatif, sampai pada character
assassination.
Banyak terjadi pelanggaran etika dan
profesionalisme jurnalistik yang justru
kontraproduktif bagi esensi
kemerdekaan pers

Hak-hak Sipil

Kebebasan pers erat kaitannya dengan


hak-hak sipil masyarakat. Ada banyak
kasus yang merekam tentang
pelanggaran hak-hak sipil warga negara
oleh pers yang diselesaikan melalui
pemberitaan di Dewan Pers, misalnya
kasus Djaja Suparman dan Ir
Laksamana Sukardi.
Pemberitaan tentang kaburnya
Laksamana adalah salah satu dari
sekian banyak pemberitaan retorik yang
diembuskan oleh pers. Pemberitaanpemberitaan demikian tanpa klarifikasi
dari objek berita apalagi pemberitaan
yang tidak benar, maka hak-hak sipil
warga negara sangat dirugikan.
Amir Syamsuddin (pengacara):
Ancaman hukum terhadap pers
seyogyanya bukan suatu yang
ditabukan, tetapi merupakan satu
sarana kontrol terhadap bekerjanya
pers.

Korban Kebebasan Pers

Dalam viktimisasi pers, dikenal yang


namanya korban tanpa adanya si pelaku
atau victims without crimes, karena korban
yang terjadi akibat adanya interrelationship
atau dual relationship antara pemberitaan
pers dengan masyarakat.
JE Sahetapy, pers bisa dikategorikan
sebagai pelaku invisible criminal karena
dampak pemberitaan bisa merugikan
masyarakat (seperti keresahan, balas
dendam, main hakim sendiri dan lain-lain)
tetapi tanpa merasa takut dicap sebagai
pelaku kriminal karena ada hak jawab atau
hak koreksi.
Ahli viktimologi Schafer: diperlukan
tanggung jawab fungsional (functional
responsibility) yang jauh lebih besar dari
sekadar tanggung jawab pers sebagai alat
reformasi ataupun demokrasi.

Kebebasan Pers dan Hukum


Untuk melindungi hak-hak sipil
masyarakat, ancaman hukum perdata
dan pidana terhadap pers merupakan
hal yang wajar dan merupakan
keharusan.
Amir Syamsuddin: Penyelesaian
kasus sengketa dengan pemberitaan
oleh Dewan Pers sebagaimana diatur
dalam UU Pers, bukanlah kewajiban
undang-undang sehingga pers tidak
bisa melarang orang untuk datang ke
pengadilan perdata maupun pidana.
Dunia pers tidak bisa mengklaim
secara sepihak bahwa norma norma
KEWI merupakan norma hukum yang
berlaku untuk sengketa pers karena
sengketa pers erat kaitannya dengan
masyarakat umum.

Pers Kebablasan

Tjipta Lesmana: Sejak akhir 2001 saya


sudah berteriak-teriak di berbagai forum
bahwa kebebasan pers Indonesia
sesungguhnya sudah kebablasan.
Suasananya mirip pada periode tidak
lama setelah jatuhnya Orde Lama di
awal tahun 1966.
Di mana-mana pergantian rezim
membawa ekses pada kehidupan pers.
Tatkala rezim Orde Baru jatuh pada
bulan Mei 1998, kita menyaksikan
fenomena serupa. Tapi, di dunia ini tidak
ada rezim yang suka melihat persnya
arogan, hantam kiri dan hantam kanan.
Masyarakat pun tidak suka. Di manamana rezim dan publik akan terpancing
untuk menindak pers yang beringas

Sikap Pers dan Publik


Gugatan terhadap kebebasan pers
oleh masyarakat yang merasa
dirugikan oleh pemberitaan media
massa perlu diwaspadai dengan
lebih mawas diri dan mengawasi
diri tentang keberadaan dan
tanggung jawabnya terhadap
publik.
Publik sendiri juga perlu memahami
makna kebebasan pers dengan
menindaklanjutinya secara hukum
jika merasa dirugikan, bukan
dengan melakukan kekerasan.
Penegakan supremasi hukum akan
benar-benar diuji dalam kerangka
mengembangkan pers yang
demokratis dan taat hukum