Anda di halaman 1dari 24

1

A. Konsep Hukum Islam


Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dan merupakan bagian dari ajaran
Islam. Ada dua Istilah yang berhubungan dengan hukum Islam. Pertama syariat,
kedua fiqih. Syariat merupakan hukum Islam yang ditetapkan secara langsung dan
tegas oleh Allah SWT. Sementara fiqih merupakan hukum yang ditetapkan pokokpokoknya saja. Hukum ini dapat atau perlu dikembangkan dengan ijtihad. Hasil
pengembangannya inilah yang kemudian dikenal dengan istilah fiqih.
Hukum Islam kategori syariat bersifat konstan, tetap, maksudnya tetap berlaku di
sepanjang zaman, tidak mengenal perubahan dan tidak boleh disesuaikan dengan
situasi dan kondisi. Situasi dan kondisilah yang menyesuaikan dengan syariat.
Sedangkan hukum Islam kategori fiqih bersifat fleksibel, elastis, tidak (harus)
berlaku universal, mengenal perubahan, serta dapat disesuaikan dengan situasi dan
kondisi.
Adapun tujuan ditetapkannya hukum Islam adalah untuk kemaslahatan manusia
seluruhnya, baik kemaslahatan di dunia, maupun kemaslahatan di akhirat nanti.
Apabila dirinci, maka tujuan ditetapkannya hukum Islam ada lima, yakni:
1. Memelihara kemaslahatan agama
2. Memelihara jiwa
3. Memelihara akal
4. Memelihara keturunan
5. Memelihara harta benda
B. Sumber Hukum Islam
1. Al-Quran
Al-Quran berasal dari kata qaraa (baca), artinya bacaan yaitu kitab suci yang
diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Ada juga yang berpendapat bahwa
Quran merupakan kata sifat dari Al-qaru yang berarti Al-jamu (kumpulan),
karena Al-Quran terdiri dari sekumpulan surah dan ayat yang memuat kisah,
perintah, dan larangan, selain itu juga karena Al-Quran mengintisarikan dari kitabkitab suci sebelumnya (Taurat, Zabur, dan Injil).
Al-Quran sebagai sumber hukum Islam mempunyai beberapa nama. Nama-nama
tersebut antara lain:
a. Al-Kitab atau Kitab Allah merupakn sinonim dari perkataan Al-Quran.
b. Al-Furqon, artinya pembeda. Ia merupakan pembeda antara yang benar dan yang
batil.
c. Al-Dzikr, artinya peringatan.
d. Selain tiga nama tersebut masih ada nama-nama lain untuk Aquran, yakni alNur, al-Rahman, al-Syifa, al-Mauidzah, al-Hukm, al-Qaul, al-Naba, al-Adzim, Ahsan
al-Hadist, al-Matsany, al-Tanzil, al-Ruh, al-Bayan, al-Wahy wa al-Bashir, al-Ilm, alHaqq, al-Shidq, al-Amr, al-Basyar, dan al-Balagh.
Fungsi Al-Quran antara lain: Al-Huda (petunjuk), Al-Syifa (obat), Al-Mauidzah
(nasehat).

2. Sunnah
Secara etimologi, sunnah berarti jalan yang biasa dilalui, cara yang biasa
dilakukan, kebiasaan yang selalu dilaksanakan. Secara terminologi, sunnah
(menurut ulama ushul fiqh) adalah seluruh yang disandarkan kepada Nabi
Muhammad SAW, baik perkataan, perbuatan, maupun persetujuan/penetapan
(taqrir). Ada beberapa istilah yang mempunyai kesamaan makna dengan sunnah,
antara lain:Hadist, Khobar, dan Atsar.
Sebagai sumber hukum kedua, sunnah mempunyai tiga fungsi:
a. Bayan takid, sebagai penetap dan menegaskan hukum-hukum yang terdapat
dalam Al-Quran.
b. Bayan tafsir, berfungsi sebagai penjelas, atau memperinci atau membatasi yang
secara umum dijelaskan Al-Quran.
c. Bayan Tasyri, sunnah berfungsi menetapkan suatu hukum yang secara jelas tidak
disebutkan dalam Al-Quran.
Hadist dapat digolongkan menjadi beberapa bagian:
Ditinjau dari segi bentuknya
(1) Hadist qauli: berupa ucapan Nabi, (2) Hadist fili: berupa perbuatan Nabi, (3)
Hadist taqriri: berupa ketetapan Nabi
Ditinjau dari segi jumlah orang yang meriwayatkannya
(1) Hadist mutawatir, (2) Hadist masyur, (3) Hadist ahad
Ditinjau dari segi kualitasnya
(1) Hadist shahih, (2) Hadist hasan, (3) Hadist dhaif, (4) Hadist maudhu.
3. Ijtihad
Ijtihad berarti mencurahkan segala kemampuan dan memikul beban. Secara
terminologi, berarti mencurahkan kemampuan untuk mendapatkan kaum syara
(hukum Islam) tentang suatu masalah dari sumber (dalil) hukum yang tafsili/rinci
(Al-Quran dan Sunnah). Dengan demikian dapat dipahami ijtihad merupakan suatu
upaya (metode) para ulama dalam secara rinci tidak disebutkan dalam Al-Quran
maupun sunnah. Beberapa metode (ijtihad) yang digunakan ulama dalam
memutuskan suatu hukum:
(a) Ijma, (b) Qiyas, (c) Istislah, (d) Istihsan, (e) Urf, (f) Sad al-zahiriyah, (g) Istishab,
(h) Madzab Shahabi, (i) Syaru man qablana.
Al-Syaukani (1992:297-302) menandaskan bahwa untuk melakukan ijtihad harus
memenuhi persayaratan-persyaratan, antara lain:
a. Memahami betul Al-Quran dan hadist
b. Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma
(kesepakatan)
c. Menguasai bahasa Arab secara komprehensif
d. Menguasai ilmu ushul al-fiqh
e. Memiliki pengetahuan di bidang Nasikh-Mansukh(konsep pembatalan hukum)
C. Prinsip Hukum Islam
Menurut Hasby Al-Shidiqqi ada 5 prinsip yang menjadi batu pijakan hukum Islam:
1. Persamaan

2. Kemaslahatan
3. Keadilan
4. Tidak memberatkan
5. Tanggung jawab
Dapat disimpulkan bahwa tujuan utama hukum Islam adalah untuk mencegah
kerusakan (mafsadah) dan mendatangkan kemaslahatan (maslahah) secara pribadi
dan masyarakat (Ash-Shiddiqi, 1997:99). Mengatur tata kehidupan mereka, baik
kehidupan duniawi dan ukhrawi, kehidupan individual, bermasyarakat, dan
bernegara (Mahfudz, 1994:4)

D. Perkembangan Hukum Islam di Indonesia


1. Fase Pra Pemerintahan Hindia Belanda
Hukum Islam pada masa kerajaan Islam dipakai sebagai hukum kerajaan yang
berlaku di daerah kekuasaannya masing-masing. Keberadaan hukum Islam saat itu
belum tertulis seperti layaknya kitab perundang undangan dewasa ini, akan tetapi
ia menjadi hukum yang hidup yang berkembang alamiah, berlaku dan ditaati oleh
masyarakat Islam. Hukum yang berlaku pada fase ini meliputi hukum keluarga,
perkawinan, waris, hibah dan wakaf, transaksi jual beli, dan pengakuan perlayaran
(Harahap, 1994:97).
2. Fase Pemerintah Hindia Belanda
Sebagai bangsa yang menganut agama Kristen, Belanda juga berusaha
memasukkan misi suci menyebarkan agama Kristen. Hukum Islam yang boleh
berlaku di masyarakat saat itu tak lebih dari hukum yang mengatur persoalan
keluarga. Keberadaan hukum Islam pada masa kolonial Belanda telah diakui
eksistensinya sebagai hukum positif yang berlaku bagi umat Islam Indonesia sejajar
dengan hukum adat, meskipun ruang lingkupnya masih sangat terbatas.
3. Fase Pasca Kemerdekaan
Pada fase ini bisa dikatakan bahwa hukum Islam belum bisa diterima dengan baik
oleh pemerintah. Hal ini bisa dilihat misalnya pada PP. No. 45 Tahun 1957 dimana
diterangkan bahwa kewenangan PA tetap terbatas seperti yang digariskan
Staatsblaad 1937 No.116, yakni PA tidak bisa mengadili sengketa waris, PA
ditempatkan dibawah pengawasan PN, dan putusan PA tidak dapat dieksekusi tanpa
persetujuan PN.
4. Fase Orde Baru
Hukum Islam menduduki posisi yang sejajar dengan hukum positif. Beberapa contoh
kesejajaran hukum Islam dan Peradilan Agama bisa dilihat sebagai berikut.
a. UU No. 14 Tahun 1970. Pada pasal 10 dijelaskan bahwa PA memiliki kewenangan
yang sama dengan PN sebagai judicial power (kekuasaan kehakiman)
b. UU NO. 14 Tahun 1974 tentang perkawinan. UU ini menegaskan kembali
keberadaan PA yang sejajar dengan PN sebagai kekuasaan kehakiman sekaligus
berlakunya hukum Islam dalam persoalan perkawinan.
c. UU No. 7 Tahun 1989. UU ini memberikan kewenangan tambahan PA bukan saja

mengurusi persoalan perkawinan, akan tetapi juga persoalan waris, wasiat, hibah,
wakaf, dan sedekah.
Melihat perkembangan hukum Islam sebagaimana dijelaskan di depan, dapat
dikatakan bahwa hukum Islam merupakan bagian dari sistem tata hukum nasional
yang sebagian telah dimuat dalam hukum positif dan akan tetap berperan sebagai
contribution factor dalam pembangunan kodifikasi hukum nasional.
E. Hak Asasi Manusia Menurut Ajaran Islam
Hak asasi manusia (HAM) adalah hak yang melekat secara eksistensial dalam
identitas kemanusiaan. Tanpa HAM, identitas kemanusiaan itu menjadi tidak berarti
atau malah dianggap tidak ada sama sekali. Di mana dan kapanpun, manusia
menyandang hak-hak asasinya itu sejak lahir. Pemikiran barat yang berkembang
selama ini sangat mementingkan individu. Akibatnya, pola pikir manusia lebih
difokuskan pada hak-hak asasi daripada kewajiban-kewajibannya. Para ahli pikir
barat tampaknya sangat dipengaruhi oleh pandangan individualisme, sehingga hakhak asasi manusia dianggap lebih utama dari kewajiban-kewajibannya. Akibat dari
pandangan ini manusia lebih banyak menuntut hak-haknya daripada memenuhi
kewajibannya.
Berbeda dengan pendekatan barat, antara hak dan kewajiban, Islam lebih
mengedepankan kewajiban daripada hak. Setelah kewajiban dikerjakan terlebih
dahulu, barulah boleh menuntut haknya, karena hak lahir dari kewajiban yang
dikerjakan. Seseorang berhak menuntut hak-haknya setelah kewajibankewajibannya ditunaikan. Dengan adanya kewajiban manusia, berarti manusia tidak
bebas dalam menjalani kehidupannya di dunia. Secara garis besar, kewajiban
manusia itu adalah:
1. Kewajiban terhadap Allah.
2. Kewajiban terhadap diri sendiri.
3. Kewajiban terhadap keluarga.
4. Kewajiban terhadap tetangga.
5. Kewajiban terhadap buruh.
6. Kewajiban terhadap harta.
7. Kewajiban terhadap negara.
8. Kewajiban terhadap lingkungan hidup.
Kewajiban-kewajiban tersebut tidak hanya menimbulkan hak bagi individu
melainkan juga akan memperoleh pahala kelak di akhirat. Pahala itu merupakan hak
yang diperolehnya dari kewajiban yang ditunaikannya. Berikut ini merupakan
delapan hak yang dimiliki manusia sebagai pemberian dari Allah SWT:
1) Hak untuk hidup
2) Hak memperoleh keselamatan dalam hidup
3) Penghormatan terhadap kesucian wanita
4) Hak untuk memperoleh kebutuhan hidup
5) Hak memperoleh kebebasan
6) Hak memperoleh keadilan
7) Kesamaan derajat manusia

8) Hak untuk bekerja sama atau tidak bekerja sama


F. Demokrasi dalam Islam
Kata demokrasi terdiri dari kata demos yang berarti rakyat dan kratos/cratia yang
berarti kekuasaan/pemerintahan di tangan rakyat. Esposito dan Piscatori (dalam Eko
Taranggono, 2002) mengidentifikasi adanya tiga varian pemikiran mengenai
hubungan Islam dan demokrasi, yaitu:
1) Islam menjadi sifat dasar demokrasi, karena konsep syura, ijtihad, dan ijma
merupakan konsep yang sama dengan demokrasi.
2) Islam tidak berhubungan dengan demokrasi. Menurut pandangan ini, kedaulatan
rakyat tidak bisa berdiri di atas kedaulatan Tuhan, juga tidak bisa disamakan antara
muslim dan non muslim dan antara laki-laki dengan perempuan. Ini bertentangan
dengan equalitynya demokrasi.
3) Theodemocracy yang diperkenalkan oleh Al-Maududi yang berpandangan bahwa
Islam merupakan dasar demokrasi. Meskipun kedaulatan rakyat tidak bisa bertemu
dengan kedaulatan Tuhan, tetapi perlu diakui bahwa kedaulatan rakyat merupakan
subordinasi kedaulatan Tuhan.
Demokrasi Islam dianggap sebagai sistem yang mengukuhkan konsep-konsep Islami
yang sudah lama berakar, yaitu: musyawarah (syura), kesepakatan (ijma), dan
penilaian interpretatif yang mandiri (ijtihad). Ijtihad ialah mencurahkan seluruh
kemampuan berpikir untuk menentukan hukum suatu perkara berdasarkan Alquran atau Sunnah Rasulullah SAW.
Demokrasi dalam Islam bukan semata-mata suara rakyat, tetapi suara rakyat yang
sesuai dengan prinsip-prinsip agama. Sepanjang suara rakyat itu sesuai dengan
aturan agama, maka Islam dapat menerimanya.sebaliknya jika tidak sesuai dengan
aturan agama, maka Islam tidak dapat menerimanaya sekalipun itu merupakan
aspirasi orang banyak.
Kesimpulan
Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dan merupakan bagian dari ajaran
Islam. Ada dua Istilah yang berhubungan dengan hukum Islam. Pertama syariat,
kedua fiqih. Ada 3 sumber hukum Islam, yaitu Al-Quran, Sunnah, dan ijtihad.
Menurut Hasby Al-Shidiqqi ada 5 prinsip yang menjadi batu pijakan hukum
Islam:persamaan, kemaslahatan, keadilan, tidak memberatkan, dan tanggung
jawab.
Hukum Islam merupakan bagian dari sistem tata hukum nasional yang sebagian
telah dimuat dalam hukum positif dan akan tetap berperan sebagai contribution
factor dalam pembangunan kodifikasi hukum nasional. Baik di dalam hukum Islam
maupun hukum nasional telah dikenal Hak Asasi Manusia. Hak asasi manusia (HAM)
adalah hak yang melekat secara eksistensial dalam identitas kemanusiaan. Dengan
adanya HAM ini, maka dikenal pula demokrasi. Demokrasi Islam dianggap sebagai
sistem yang mengukuhkan konsep-konsep Islami yang sudah lama berakar, yaitu:
musyawarah (syura), kesepakatan (ijma), dan penilaian interpretatif yang mandiri
(ijtihad).
B. Saran
Sebagai umat Islam, hendaknya kita mematuhi hukun-hukum Islam yang telah

tertera di dalam ketiga sumber hukum Islam. Pemerintah harus lebih bijak dalam
menentukan hukum nasional sebab mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk
agama Islam. Dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan tidak terjadi simpangsiur mengenai tatanan hukum negara.
DAFTAR PUSTAKA
Idris, Manan, dkk. 2006. Reorientasi Pendidikan Islam. Surabaya:Hilal Pustaka.
Syarif Iberani, Jamal. 2003. Mengenal Islam. Jakarta:El-Kahfi.
Tahir Azari, Muhammad. 2003. Negara Hukum. Jakarta:Prenada Media.
Tim Dosen PAI IKIP Malang. 1997. Pendidikan Agama Islam untuk Mahasiswa.
Malang:Penerbit IKIP Malang.

http://aminnatul-widyana.blogspot.com/2011/07/perspektif-islam-tentang-hukumham-dan.html

2
LATAR BELAKANG
Hukum, HAM, dan Demokrasi Dalam islam berisi tentang penjelasan konsepkonsep hukum islam, HAM menurut islam dan demokrasi dalam Islam meliputi
prinsip bermusyawarah dan prinsip dalam ijma. HAM dan Demokrasi merupakan
konsepsi kemanusiaan dan relasi sosial yang dilahirkan dari sejarah peradaban
manusia di seluruh penjuru dunia. HAM dan demokrasi juga dapat dimaknai sebagai
hasil perjuangan manusia untuk mempertahankan dan mencapai harkat
kemanusiaannya, sebab hingga saat ini hanya konsepsi HAM dan demokrasilah
yang terbukti paling mengakui dan menjamin harkat kemanusiaan.Manusia
diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan seperangkat hak yang menjamin
derajatnya sebagai manusia. Hak-hak inilah yang kemudian disebut dengan hak
asasi manusia, yaitu hak yang diperoleh sejak kelahirannya sebagai manusia yang
merupakan karunia Sang Pencipta.
Karena setiap manusia diciptakan kedudukannya sederajat dengan hak-hak
yang sama, maka prinsip persamaan dan kesederajatan merupakan hal utama
dalam interaksi sosial. Namun kenyataan menunjukan bahwa manusia selalu hidup
dalam komunitas sosial untuk dapat menjaga derajat kemanusiaan dan mencapai
tujuannya. Hal ini tidak mungkin dapat dilakukan secara individual. Akibatnya,
muncul struktur sosial. Dibutuhkan kekuasaan untuk menjalankan organisasi sosial
tersebut.
B.
1.
2.
3.

RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian Hukum dalam islam ?
Berapakah sumber hukum islam?
Apakah tujuan hukum islam?

4.
5.
A.

Apa pengertian Hak Asazi Manusia ?


Apa perbedaan HAM dalam pandangan Islam dan Barat?
PEMBAHASAN
Pengertiam Hukum Dalam Islam
Hukum Islam adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah melalui wahyu-Nya yang
kini terdapat dalam Al Quran dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai RasulNya melalui Sunnah beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam kitab-kitab
hadits. Terdapat perbedaan pendapat antara ulama ushul fiqh dan ulama fiqh dalam
memberikan pengertian hukum syari karena berbedanya sisi pandang mereka.
Ulama fiqh berpendapat bahwa hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh
tuntutan yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Sedangkan ulama ushul
fiqh mengatakan bahwa yang disebut hukum adalah dalil itu sendiri. Mereka
membagi hukum tersebut kepada dua bagian besar yaitu hukum taklifi dan hukum
wadhi. Hukum taklifi berbentuk tuntutan dan pilihan yang disebut dengan wajib,
sunnat, haram, makruh dan mubah.
Dan hukum wadhi terbagi kepada lima macam yaitu sabab, syarat, mani, shah
dan bathal. Masyarakat Indonesia disamping memakai istilah hukum Islam juga
menggunakan istilah lain seperti syariat Islam, atau fiqh Islam. Istilah-istilah
tersebut mempunyai persamaan dan perbedaan. Syariat Islam sering dipergunakan
untuk ilmu syariat dan fiqh Islam dipergunakan istilah hukum fiqh atau kadangkadang hukum Islam, yang jelas antara yang satu dengan yang lain saling terkait.
[1]

B.

Sumber Hukum dalam Islam


Ada 2 sumber hukum dalam islam yaitu :[2]
1.
Al-Quran sebagai sumber hukum
2. Definisi: al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad dalam
bahasa Arab yang berisi khitab Allah dan berfungsi sebagai pedoman bagi umat
Islam. Tiga Fungsi: sebagai petunjuk bagi umat manusia, yang berupa:
doktrin atau pengetahuan tentang struktur kenyataan dan posisi manusia di
dalamnya, seperti: petunjuk moral dan hukum yang menjadi dasar syariat,
metafisika tentang Tuhan dan kosmologi alam, dan penjelasan tentang sejarah
dan eksistensi manusia.
Ringkasan sejarah manusia baik para raja, orang-orang suci, nabi,kaum
Mukjizat, yaitu kekuatan yang berbeda dengan apa yang dipelajari.
3.

Penjelasan Al-Quran:
Ijmali (global): yaitu penjelasan yang masih memerlukan penjelasan lebih lanjut
dalam pelaksanaannya. Contoh: masalah shalat, zakat
Tafshili (rinci): yaitu keterangannya jelas dan sempurna, seperti masalah akidah,
hukum waris dan sebagainya.
Kategori Ayat Hukum dan Ayat Non-hukum: berdasarkan kandungan ayat, jika
mengandung ketetapan hukum maka disebut dengan ayat hukum dan dapat
menjadi dalil fiqh. Dalalah atau petunjuk al-Quran dibagi dua:
Qaty (definitive text): lafal yang mengandung pengertian tunggal dan tidak
bisa dipahami dengan makna lainnya. Lafal ini tidak membutuhkan ijtihad dan
takwil.

Zanny (speculative text): lafal yang mengandung pengertian lebih dari satu dan
memungkinkan untuk ditakwil, dan dapat menerima ijtihad.

4.

Hadis sebagai sumber Hukum:


Definisi: Hadis adalah penuturan sahabat tentang Rasulullah baik mengenai
perkataan, perbuatan, dan taqrirnya. Keshahihan Hadis: Hadis yang dapat
digunakan sebagai sumber adalah hadis yang sahih dan hasan. Hadis dhaif tidak
dapat dipakai sebagai sumber hukum. Sebagian ulama membolehkan
menggunakan hadis dhaif sebagai dalil dengan syarat:
1.
Kedhaifanya tidak terlalu lemah
2.
Memiliki beberapa jalur sanad
3.
Tidak mengatur masalah yang pokok, hanya sampai hukum sunnah atau
makruh.
penentuan kesahihan hadis dibuat oleh ulama sehingga terjadi perbedaan
pendapat.
C.

Tujuan Hukum Islam


Tujuan hukum islam secara umum adalah Dar-ul mafaasidiwajalbul mashaalihi
(mencegah terjadinya kerusakan dan mendatangkan kemaslahatan). Abu Ishaq AsSathibi merumuskan lima tujuan hukum islam:[3]
1.
Memelihara agama
Agama adalah sesuatu yang harus dimilki oleh setiap manusia oleh
martabatnyadapat terangkat lebih tinggi dan martabat makhluk lain danmemenuhi
hajat jiwanya. Agama islam memberi perlindungan kepada pemeluk agam lain
untuk menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya.
2.
Memelihara jiwa
Menurut hukum islam jiwa harus dilindungi. Hukum islam wajib memelihara hak
manusia untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya. Islam melarang
pembunuhan sebagai penghilangan jiwa manusia dan melindungi berbagai sarana
yang dipergunakan oleh manusia untuk mempertahankan kemaslahatannya
hidupnya (Qs.6:51,17:33)
3.

Memelihara akal
Islam mewajibkan seseorang untuk memlihara akalnya, karena akal mempunyai
peranan sangat penting dalam hidup dan kehidupan manusia. Seseorang tidak akan
dapat menjalankan hukum islam dengan baik dan benar tanpa mempergunakan
akal sehat. (QS.5:90)
4.
Memelihara keturunan
Dalam hukum islam memlihara keturunan adalah hal yang sangat penting. Karena
itu, meneruskan keturunan harus melalui perkawinan yang sah menurut ketentuan
Yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah dan dilarang melakukan perzinahaan.
(qs4:23)
5.
Memlihara harta
Menurut ajaran islam harta merupakan pemberian Allah kepada manusia untuk
kelangsungan hidup mereka. Untuk itu manusia sebagai khalifah di bumi dilindungi
haknya untuk memperoleh harta dengan cara-cara yang halal, sah menurut hukum
dan benar menurut aturan moral. Jadi huku slam ditetapkan oleh Allah untuk
memenuhi kebutuhan hidup manusia itu sendiri, baik yang bersifat primer,
sekunder, maupun tersier (dloruri, haaji, dan tahsini).

D.

Hak asasi manusia


Hak asasi manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh tuhan yang
maha pencipta(hak-hak yang bersifat kodrati.) oleh karena itu, tidak ada kekuasaan
apapun yang dapat mencabutnya. Meskipun demikian, bukan berarti manusia
daengan hak-haknya dapat berbuat semauny, sebab apabila seseorang melakukan
sesuatu yang dapat dikatagorikan memperkosa atau merampas hak asasi orang
lain, harus mempertangung jawabkan perbuatanya.[4]
Hak asasi yang dimiliki oleh manusia telah dideklerasikan oleh ajaran islam jauh
sebelum masyarakat(Barat) mengenalnya, melalui berbagai ayat Al-Quran
misalnya manusia tidak dibedakan berdasarkan warna kulitnya, rasnya tingkat
sosialnya. Allah menjamin dan memberi kebebasan pada manusia untuk hidup dan
merasakan kenikmatan dari kehidupan, bekerja dan menikmati hasil usahanya,
memilih agama yang diyakininya.
1.
Musyawarah
Kedaulatan mutlak dan Keesaan Tuhan yang terkandung dalam konsep tauhid
dan peranan manusia yang terkandung dalam konsep kilafah memberikan kerangka
yang dengannya para cendikiawan belakangan ini mengembangkan teori politik
tertentu yang dapat dianggap demokratis.
Dalam penjelasan mengenai demokrasi dalam kerangka konseptual islam,
bayak perhatian diberikan pada beberapa aspek khusus dari ranah sosial dan
politik. Demokrasi islam dianggap sebagai sistem yang mengukuhkan konsepkonsep islami yang sudah lama berakar, yaitu musyawarah, konsensus (ijma) dan
ijtihad. Masalah musyawarah ini dengan jelas telah disebutkan dalam QS. 42:28,
yang berisi perintah kepada para pemimpin dalam kedudukan apapun untuk
menyelesaikan urusan mereka yang dipimpinnya dengan cara bermusyawarah.
Dengan, demikian, tidak akan terjadi kesewenang-wenangan dari seorang pemimpi
terhadap rakyat yang dipimpinnya.
2.
Konsensus Atau Ijma
Disamping musyawarah, ada hal lain yang sangat penting dalam masalah
demokrasi, yakni consensus atau ijma. Konsep consensus memberikan dasar bagi
penerima system yang mengakui suara mayoritas.Selain syura dan ijma ada
konsep yang sangat penting dalam proses demokrasi islam, yaitu ijtihad. Ini
merupakan langkah kunci menuju penerapan perintah Allah, berkaitan debgan
tempat dan waktu.Dalam pengertian politik murni, Muhammad iqbal dalam
tulisanya menegaskan tentang hubungan anatara consensus, demokratisasi, dan
ijtihad, bahwa tumbuhnya semangat legislatif di Negara Negara muslim
merupakan langkah awal yang besar. Pengalihan wewenang ijtihad dan individuindividu berbagai madzab kepada suatu majelis legislatif muslim yang dalam
kondisi kemajemukan madzabmerupakan satu-satunya bentuk ijma yang dapat
diterima di zaman modern, akan terjamin kontribusi dalam pembahasan hukum dari
kalangan rakyat yang memliki wawasan yang tajam.[5]
E.

HAM dalam pandangan Islam dan Barat


Hukum menurut Islam adalah hukum yang ditetapkan Allah melalui wahyu-Nya,
dalam Al-Quran dijelaskan nabi Muhammad saw sebagai rasulnya melalui sunah
beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam al-quran dan hadist.[6] HAM terbagi
menjadi 2 HAM Menurut barat dan menurut islam.
HAM barat bersifat anthroposentris: segala sesuatu berpusat pada manusia
sehingga menempatkan manusia sebagai tolak ukur segala sesuatu. HAM islam

bersifat theosentris: segala sesuatu berpusat pada Allah. Dalam konsep demokrasi
modern, kedaulatan rakyat merupakan inti dari demokrasi sedang demokrasi islam
meyakini bahwa kedaulatan Allah-lah yang menjadi inti dari demokrasi.[7]
KESIMPULAN
Hukum Islam adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah melalui wahyu-Nya yang
kini terdapat dalam Al Quran dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai
Rasul-Nya melalui Sunnah beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam kitabkitab hadits.
Sumber hukum islam adalah Al-Quran, As-Sunnah, Ijma, Qiyas
Tujuan hukum islam secara umum adalah Dar-ul mafaasidiwajalbul mashaalihi
(mencegah terjadinya kerusakan dan mendatangkan kemaslahatan). Abu Ishaq
As-Sathibi merumuskan lima tujuan hukum islam.
Hak asasi manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh tuhan yang
maha pencipta (hak-hak yang bersifat kodrati), oleh karena itu, tidak ada
kekuasaan apapun yang dapat mencabutnya.
Hukum menurut Islam adalah hukum yang ditetapkan Allah melalui wahyu-Nya,
dalam Al-Quran dijelaskan nabi Muhammad saw sebagai Rasul Nya melalui
sunah beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam Al-Quran dan Hadits

PUSTAKA
Terjemah AL-QURAN
Husain, syekh syaukat, 1991, Hak asasi manusia dalam islam, Jakarta. Gema
Insani perss
Lopa, Baharuddin, 1999. Al Quran dan Hak Azasi Manusia, Yogyakarta, PT. Dana
Bakti Prima Yasa.
Ilyas, Muhtarom, 2009. Pendidikan Agama Islam, Jakarta, PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Pramudya, Willy, Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi, Jakarta: GagasMedia 2004

http://serbamakalah.blogspot.com/2013/03/hukum-ham-dan-demokrasidalam-islam_6683.html

HUKUM ISLAM
3.1
Pengertian Hukum Islam
Hukum adalah seperangkat norma atau aturan yang mengatur tingkah laku
manusia, baik norma atau aturan tersebut tumbuh dalam masyarakat maupun yang
dibuat oleh cara tertentu dan tegakkan oleh penguasa.Sedangkan hukum Islam
adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah melalui wahyu-Nya yang kini terdapat
dalam Al-Quran dan dijelaskan Nabi Muhammad sebagai Rassul-Nya melalui
Sunnah yang kini terhimpun dengan baik dalam kitab-kitab hadits. Hukum Islam
adalah hukum yang bersumber dan merupakan bagian dari ajaran Islam. Hukum
tersebut tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan manusia dan benda
dalam masyarakat, tetapi juga hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan
manusia dengan manusia dan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lainnya
dalam masyarakat dan hubungan manusia dengan benda alam sekitarnya.
3.2

Ruang Lingkup Hukum Islam


hukum Islam dalam pengertian syariat dan fiqih dibagi menjadi dua bagian
besar, yaitu :
1. Ibadah (Mahdhah)
Adalah tata cara dan upacara yang wajib diikuti oleh orang muslim dalam
menjalankan hubungan terhadap Allah SWT, seperti sholat, membayar zakat, dan
menjalankan ibadah haji. Ketentuannya telah diatur oleh Allah dan RassulNya.
Dengan demikian tidak mungkin ada proses yang membawa perubahan dan
perombakan secara asasi mengenai hukum, susunan dan tata cara beribadat.
2. Muamalah (Gairu Mahdhah)
Adalah ketetapan Allah yang berhubungan dengan kehidupan sosial manuusia
walaupun ketetapan tersebut terbatas pada pokok-pokok saja.

3.3 Sumber Hukum Islam


Hukum Islam digali dari dalil-dalil yang terperinci dalam Al-Quran, sunnah dan
beberapa metode yang diratifikasikan kepada dua sumber utama tersebut.
Al-Quran
Berasal dari kata qiraah, artinya bacaan. Menurut Imam Ghazali, kata Al-Quran
adalah nama, bukan kata bentukan. Dari pendapat tersebut, maka Al-Quran adalah
firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad, memiliki kemukjizatan lafal,
membacanya bernilai ibadah, diriwayatkan secara mutawatir, tertulis dalam
mushaf, dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri surah An-Nas.
Dalam menetapkan hukum ada tiga cara yang dipergunakan Al-Quran, yaitu :
1)
Mujmal
2)
Agak jelas dan terperinci
3)
Jelas dan terperinci
Dalam menyimpulkan ayat Al-Quran berkembang beberapa metode penafsiran
antara lain :
1)
Tafsir Tahlili
2)
Tafsir Ijmali
3)
Tafsir Muqaran
4)
Tafsir Maudlui

Sunnah
Secara etimologi sunnah berarti jalan yang biasa dilalui, cara yang senantiasa
dilakukan, kebiasaan yang selalu dilaksanakan. Menurut ulama ushul fiqih sunnah
adalah seluruh yang disandarkan kepada Nabi Muhammad, baik perkataan,
perbuatan maupun penetapan (taqrir). Istilah yang mempunyai kesamaan makna
dengan sunnah antara lain :
1)
Hadis
2)
Khabar
3)
Atsar
Sebagai sumber hukum, sunnah memiliki tiga fungsi :
1)
Bayan takid
2)
Bayan tafsir
3)
Bayan tasyri

Ijtihad
Ijtihad berarti mencurahkan segala kemampuan dan memikul beban. Secara
terminologi berarti mencurahkan kemampuan untuk mendapatkan hukum syara
tentang suatu masalah. Beberapa metode ijtihad yang digunakan ulama dalam
memutuskan suatu hukum antara lain :
1) Ijma artinya kesepakatan semua ulama mujtahidin dari ummat Muhammad SAW
pada suatu masa, atas suatu hukum syariat
2) Qiyas menurut bahasa Arab berarti menyamakan, membandingkan atau
mengukur.
3) Al-mashalah al-mursalah
4) Ihtisan
5) Urf
6) Sadd al-dzarai
7) Istishab
8) Madzhab Shahabi
9) Syaru man qablana
3.4
Prinsip dan Fungsi Hukum Islam
Prinsip-prisip hukum islam sebagai berikut :
1. Prinsip Tauhid
Tauhid adalah prinsip umum hukum Islam. Prinsip ini menyatakan bahwa semua
manusia ada di bawah satu ketetapan yang sama.
2. Prinsip Keadilan
Keadilan adalah keseimbangan antara kewajiban yang harus dipenuhi oleh manusia
dengan kemampuan manusia untuk melaksanakan kewajiban itu.
3. Prinsip Amar Maruf Nahi Munkar
4. Prinsip Kemerdekaan atau Kebebasan
5. Prinsip Persamaan
6. Prinsip Taawun
7. Prinsip Toleransi
Fungsi hukum Islam :
1. Memelihara Kemaslahan Agama

Agama adalah sesuatu yang harus dimilki oleh setiap manusia oleh
martabatnyadapat terangkat lebih tinggi dan martabat makhluk lain dan memenuhi
hajat jiwanya.
2. Memelihara Jiwa
Hukum islam wajib memelihara hak manusia untuk hidup dan mempertahankan
kehidupannya.
3. Memelihara akal
karena akal mempunyai peranan sangat penting dalam hidup dan kehidupan
manusia. Seseorang tidak akan dapat menjalankan hukum islam dengan baik dan
benar tanpa mempergunakan akal sehat. (QS.5:90)
4. Memelihara keturunan
Karena itu, meneruskan keturunan harus melalui perkawinan yang sah menurut
ketentuan Yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah dan dilarang melakukan
perzinahaan. (Qs.4:23)
5. Memelihara Harta Benda
Menurut ajaran islam harta merupakan pemberian Allah kepada manusia untuk
kelangsungan hidup mereka. Untuk itu manusia sebagai khalifah di bumi dilindungi
haknya untuk memperoleh harta dengan cara-cara yang halal, sah menurut hukum
dan benar menurut aturan moral.
3.5
Kontribusi Umat Islam Dalam Perumusan Dan Penegakan Hukum
Islam
Dalam pembentukan hukum islam di indonesia, kesadaran berhukum islam
untuk pertama kali pada zaman kemeerdekaan adalah di dalam Piagam Jakarta 22
juni 1945 , yang di dalam dasar ketuhanan diikuti dengan pernyataan dengan
kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya. Tetapi dengan
pertimbangan untuk persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia akhirnya mengalami
perubahan pada tanggal 18 Agustus 1945 yang rumusan sila pertamanya menjadi
ketuhanan yang maha esa. Meskipun demikian, dalam berbagai macam peraturan
perundang-undangan, hukum islam telah benar-benar memperoleh tempat yang
wajar secara kontitusional yuridis.
Dengan demikian kontribusi umat islam dalam petrumusan dan penegakan
hukum sangat besar. Adapun upaya yang harus dilakukan untuk penegakan hukum
dalam praktek bermasyarakat dan bernegara yaitu melalui proses kultural dan
dakwah. Apabila islam telah menjadikan suatu keebijakan sebagai kultur dalam
masyarakat, maka sebagai konsekuensinyahukum harus ditegakkan. Bila perlu law
inforcement dalam penegakkan hukum islam dengan hukum positif yaitu melalui
perjuangan legislasi. Sehingga dalam perjaalananya suatu ketentuan yang wajib
menurut islam menjadi wajib pula menurut perundangan.
2.
3.6

HAM DAN KAM MENURUT ISLAM


Pengertian HAM dan KAM
Hak Asasi Manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang melekat pada diri
manusia semenjak ia berada dalam kandungan sampai meninggal dunia yang harus
mendapat perlindungan.ak Asasi Manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang
melekat pada diri manusia semenjak ia berada dalam kandungan sampai meninggal
dunia yang harus mendapat perlindungan. Hak asasi manusia menurut pemikiran
Barat semata-mata bersifat antroposentris artinya segala sesuatu berpusat kepada
manusia. Dengan demikian manusia sangat dipentingkan. Sedangkan dalam Islam

hak-hak asasi manusia bersifat teosentris artinya segala sesuatu berpusat pada
Tuhan. Dengan demikian Tuhan sangat dipentingkan.
Kewajiban Asasi Manusia adalah MENGHORMATI HAK ASASI MANUSIA.
Menghormati hak-hak asasi orang lain. Inilah yang sering terlupakan. Kita hanya
sering menuntut hak kita tetapi kita lupa bahwa kita juga punya kewajiban untuk
mengormati hak asasi orang lain.
3.7

Hak-Hak Asasi Manusia Menurut Pandangan Islam dan Barat


Manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa secara kodrati dianugerahi
hak dasar yang disebut hak asasi. Dengan hak asasi tersebut, manusia dapat
mengembangkan diri pribadi, peranan dan sumbangsinya bagi kesejahteraan hidup
manusia. Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai suatu hak dasar yang melekat pada diri
setiap manusia.
Dilihat dari sejarahnya, umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa
lahirnya HAM dimulai dengan lahirnya Magna Charta pada tahun 1215 di Inggris
yang mencanangkan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolut, menjadi
dibatasi kekuasannya dan mulai dapat dimintai pertanggung jawabannya di muka
hukum. Selanjutnya diikuti dengan lahirnya Bill of Right di Inggris tahun 1689
dengan adigium bahwa manusia sama di muka hukum. Perkembangan HAM
selanjutnya ditandai munculnya The American Declaration of Independence, The
French Declaration tahun 1789 dan terakhir lahirnya rumusan HAM yang bersifat
universal yang dikenal dengan The Universal Declaration Of Human Rights tahun
1948 disahkan langsung oleh PBB.
Ada perbedaan prinsip antara hak-hak asasi manusia dilihat dari sudut
pandangan barat dan Islam. Hak Asasi Manusia menurut pemikiran barat sematamata bersifat antroposentris, artinya segala sesuatu berpusat kepada manusia,
sehingga manusia sangat dipentingkan. Sedangkan ditilik dari sudut pandang Islam
berisfat teosentris, artinya, segala sesuatu berpusat kepada Tuhan, sehingga Tuhan
sangat dipentingkan.
Pemikiran Barat menempatkan manusia pada psosisi bahwa manusialah yang
menjadi tolok ukur segala sesuatu, maka di dalam Islam melalui firman-Nya,
Allahlah yang menjadi tolok ukur segala sesuatu, sedangkan manusia letak
perbedaan yang fundamental antara hak-hak asasi menurut pola pemikiran Barat
dengan hak-hak asasi menurut pola ajaran Islam.
Dalam konsep Islam seseorang hanya mempunyai kewajiban-kewajiban atau
tugas-tugas kepada Allah, karena ia harus mematuhi hukum-Nya. Namun secara
paradoks, di dalam tugas-tugas inilah terletak semua hak dan kemerdekaannya.
Manusia diciptakan oleh Allah hanya untuk mengabdi kepada Allah sebagaimana
dinyatakan dalam Al-Quran surat Al-Zariyat ayat 56, artinya: Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Dari ketentuan ayat di atas, menunjukan manusia mempunyai kewajiban
mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Allah. Kewajiban yang
diperintahkan kepada umat manusia dibagi dalam 2 kategori, yaitu:
1) huququllah (hak-hak Allah) yaitu kewajiban-kewajiban manusia terhadap
Allah yang diwujudkan dalam sebuah ritual ibadah
2) huququlibad (hak-hak manusia) merupakan kewajiban-kewaajiban manusia
terhadap sesamanya dan terhadap makhluk-mahkluk Allah lainnya.
Hak Asasi Manusia dijamin oleh agama Islam bagi manusia dikalsifikasikan
kedalam dua kategori yaitu :
1) HAM dasar yang telah diletakkan oleh Islam bagi seseorang sebagai manusia;

2) HAM yang dianugerahkan oleh Islam bagi kelompok masyarakat yang berbeda
dalam situasi tertentu. Status, posisi, dan lain-lain yang mereka miliki. Hak-hak
khusus bagi non muslim, kaum wanita, buruh/pekerja, anak-anak, dan lainnya
seperti hak hidup, hak-hak milik, perlindungan kehormatan, keamanan, kesucian
kehidupan pribadi dan sebagainya.
The Universal Declaration Of Human Rights di dunia mengikat semua bangsa,
untuk menghargai Hak Asasi Manusia, meski faktanya dunia barat cukup banyak
melanggarnya. Dengan demikian para ahli hukum Islam mengemukakan Universal
Islamic Declaration Human Right, yang diangkat dari al-quran dan sunnah Islam
terdiri XXIII Bab dan 63 pasal yang meilputi seluruh aspek hidup dan kehidupan
manusia antara lain :
(1) hak hidup
(2) hak untuk mendapatkan kebebasan
(3) hak atas persamaan kedudukan
(4) hak untuk mendapatkan keadilan
(5) hak untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyalahgunaan kekuasaan
(6) hak untuk mendapatkaan perlindungan dari penyiksaan
(7) hak untuk mendapatkan perlindungan atas kehormatan nama baik
(8) hak untuk bebas berpikir dan berbicara
(9) hak untuk bebas memilih agama
(10) hak untuk bebas berkumpul dan berorganisasi
(11) hak untuk mengatur tata kehidupan ekonomi
(12) hak atas jaminan sosial
(13) hak untuk bebas mempunyai keluarga dan segala sesuatu yang berkaitan
dengannya
(14) hak-hak bagi wanita dalam kehidupan rumah tangga
(15) hak untuk mendapatkan pendidikan dan sebagainya.
3.8

Konsep Hukum, KAM & HAM Menurut Islam


Konsep HAM menurut persepsi islam dan Barat adalah suatu pandangan
islam, yang menganggap manusia sebagai mahkluk Allah secara kodrati di
anugerahi hak dasar yang disebut dengan hak asasi. Adapun perbedaan prinsip
antara pandangan Barat dengan islam tentang HAM adalah semata-mata hanya
bersifat antroposentris (segala sesuatu berpusat pada manusia).
Hukum islam adalah suatu hukum yang di dalamnya menunjukkan dua
bangian penting dan aturan-aturan perundang-undangan dalam islam yakni syariah
dan fiqih.
Fungsi dan tujuan hukum islam dalam masyarakat adalah untuk
mengatur hubungan manusia dengan penciptanya, manusia dengan manusia, dan
manusia dengan ciptaan lainnya. Sedangkan tujuannya adalah untuk menciptakan
hubungan yang harmonis (seimbang) antara manusia dengan Penciptanya, manusia
dengan manusia, dan manusia dengan ciptaan lainnya.
3.

DEMOKRASI DALAM ISLAM


Lincoln (1863) menyatakan Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat,
oleh rakyat, dan untuk rakyat. Secara teori, dalam sistem demokrasi, rakyatlah
yang dianggap berdaulat, rakyat yang membuat hukum dan orang yang dipilih
rakyat haruslah melaksanakan apa yang telah ditetapkan rakyat tersebut. Menurut
Syaikh Abdul Qadim Zallum, dalam kitabnya Demokrasi Sistem Kufur, demokrasi
mempunyai latar belakang sosio-historis yang tipikal Barat selepas Abad

Pertengahan, yakni situasi yang dipenuhi semangat untuk mengeliminir pengaruh


dan peran agama dalam kehidupan manusia.
Dalam demokrasi kedaulatan berada di tangan rakyat, konsekuensinya
bahwa hak legislasi (penetapan hukum) berada di tangan rakyat (yang dilakukan
oleh lembaga perwakilannya, seperti DPR). Sementara dalam Islam, kedaulatan
berada di tangan syara, bukan di tangan rakyat. Ketika syara telah mengharamkan
sesuatu, maka sesuatu itu tetap haram walaupun seluruh rakyat sepakat
membolehkannya.
Sebagian kalangan menyatakan bahwa Demokrasi itu sesungguhnya berasal dari
Islam, yakni sama dengan syuro (musyawarah), amar maruf nahyi munkar dan
mengoreksi penguasa. Hal ini tidaklah tepat karena syuro, amar maruf nahyi
munkar dan mengoreksi penguasa merupakan hukum syara yang telah Allah swt
tetapkan cara dan standarnya, yang jauh berbeda dengan demokrasi.
http://erka23d.blogspot.com/2013/12/hukum-ham-dan-demokrasi-dalamislam.html

4
Latar Belakang
Agama Islam yang mulia telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia
menuju kebahagian dunia dan akherat. Namun banyak orang yang tidak
mengetahuinya dan banyak pula yang enggan menerimanya dengan dalih-dalih
yang beraneka ragam banyaknya.Tidak dipungkiri lagi mengajak manusia untuk
taat kepada Allah dan beribadah hanya kepadaNya dizaman ini secara umum
mengalami kesulitan dan kendala. Terlalu banyak pemikiran dan isu yang
menghalangi manusia mencapai kebenaran yang dibawa agama Islam ini.
Sebenarnya Allah telah menjanjikan kemenangan dan kejayaan untuk islam dalam
firman-Nya (Q.S at-Taubah : 33) yang artinya : Dialah Allah yang telah mengutus
Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk diunggulkan
atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.
Kemenangan islam ini diwujudkan dengan dakwah yang membutuhkan
perencanaan, pemilihan uslub yang pas dan pengenalan terhadap realita yang
digeluti masyarakat dalam masyarakat islam maupun non islam.
Demikian juga membutuhkan persiapan dan pembekalan para dai agar siap
mengemban tugas menyebarkan kalimatullah diantara manusia dan untuk
perbaikan hati dan jiwa mereka. Semua ini ada dalam al-Qur`an dan sunnah Nabi
yang menjelaskan uslub dakwah yang baik dan pas. Juga ada contoh yang baik
dalam menjalankan dakwah dan mengajak bicara manusia serta perbaikan jiwa dan
hati mereka. Demikian juga di zaman kenabian telah ditetapkan ushul dakwah dan
adab-adabnya.

Mengenal hal ini merupakan bekal yang bisa menjadikan dai memiliki senjata
dalam dakwahnya. Tidaklah bagus amalan dai di zaman apapun dan dimanapun
kecuali dengan memiliki ilmu kitabullah dan sunnah, mempelajari ilmu-ilmu islam
baik aqidah maupun syariat dan berhias dengan akhlak yang mulia serta ittiba
dalam menyampaikan dan menasehati umat ini sesuai dengan perbedaan waktu
dan tempat.
Dalam kajian singkat ini kita mencoba menjelaskan permasalahan Konsep
Hukum, Hak Asasi Manusia dan Demokrasi dalam Pandangan Islam dengan harapan
bisa mengetahui sebatas mana kebenaran isu ini dan syubhat yang dilontarkan
kepada kaum muslimin seputarnya.
a.
b.
c.
d.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana hukum dalam islam?
Apa pengertian HAM?
Apa perbedaan prinsip HAM barat dan dalam Islam?
Bagaimana demokrasi dalam Islam?
1.3 Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk bertambahnya pemahaman konsepsi
hukum dalam Islam, HAM dan Demokrasi dalam Islam serta keterkaitan antara
ketiganya. Dan agar dapat membedakan antara pengertian HAM Barat dan HAM
dalam pandangan Islam.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Hukum dalam Islam
Hukum merupakan seperangkat norma atau aturan yang dibuat dengan cara-cara
tertentu dan ditegakkan oleh pemimpin sehingga tercapainya hak-hak manusia.
Bentuk hukum bisa berupa hukum tertulis dan tidak tertulis. Hukum tertulis berupa
perundang-undangan yang telah disusun sistematis oleh Negarademi kesejahteraan
rakyat.
Demikian hukum tidak tertulis yaitu seperti hukum adat, hukum yang muncul
karena kebiasaan atau adanya pengaruh-pengaruh eksternal maupun internal.
Hukum adat terjadi sebagian karena pengaruh kepercayaan masing-masing. Seperti
Bali mayoritas penganut agama hindu, sehingga seseorangpun jika tinggal disana
sedikit banyak akan terpengaruh dan mengikuti adat dari Hindu, pengaruhpengaruh spiritual seperti kepercayaan terhadap mistis menjadikan seseorang
melakukan adat yang mungkin orang modern sekarang sangat tidak masuk akal
seperti memberi sesajen diperempatan jalan dan lain sebagainya.
hukum dibuat oleh manusia untuk mengatur hubungan manusia satu sama lain dan

harta bendanya. Tidak dengan hukum Islam yang langsung bersumber dari Firman
Allah dan sebarkan melalui Rasul-Nya. Hukum Allah lebih luas cakupannya, karena
tidak hanya membahas seputar mengatur hubungan manusia dengan manusia
melainkan juga hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan dirinya sendiri
masyarakat dan alam sekitarnya.
Hukum Islam dalam pengertian secara syari digariskan dalam 2 garis besar yakni ;
Ibadah dan Muamalah.
1.
Ibadah adalah amalan yang wajib dilakukan oleh seorang muslim dalam
menjalankan hubungan dengan Allah, seperti shalat, membayar zakat,
melaksanakan ibadah haji bagi yang telah mampu. Ini adalah tata cara hukum
dalam islam yang mutlaq, tidak pernah berubah hukumnya, tidak pernah berkurang
bahkan bertambah. Dengan demikian tidak mungkin terjadi proses yang
menyebabkan perubahan secara asasi menurut hukum, susunan dan tata cara
ibadah tersebut. Yang mungkin berubah hanyalaah alat-alat yang semakin modern
dan pelaksanaannya.
2.
Muamalah mencakup hungan antara manusia dengan sesamanya dalam
berusaha mensejahterakan kehidupan sosial mereka dengan usaha, berupa jualbeli, sewa menyewa, pinjam meminjam, persekutuan dan lain-lain.
Sumber sumber hukum islam bisa kita fahami dari ayat Allah dalam surat Q.S AnNisa; 59

1.
2.
3.
4.

Artinya : wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya
dan ulil amri diantara kamu. Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia pada Allah (Al-quran) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benarbenar beriman kepadaa Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama
(bagimu) dan lebih baik(akibatnya).
Dari ayat tersebut dapat diperoleh pemahaman bahwa umat islam dalam
menjalankan agamanya harus didasarkan urutan :
Selalu mentaati Allah dan mengindahkan seluruh ketentuan yang berlaku dalam
Al-quran
Mentaati Rasulullah dan memahami seluruh sunnah-sunnahnya
Mentaati ulil amri
Mengembalikan kepada Al-quran dan alhadis jika terjadi perbedaan dalam
menetapkan hukum
Untuk memahami alquran dan alhadis tidaklah cukup dengan memaknainya
secara literlijk, ada suatu hal yang harus dipertimbangkan ketika membaca sebuah
teks-teks alquran dan alhadist, yaitu seperti kondisi masyarakat pada saat
turunnya ayat, juga harus melihat dari segi bahasa. Contohnya Nahwu, balaghah,
ilmu mantek.
berkaitan dengan hadist nabawi yang mengatakan bahwa semua Bidah adalah
sesat, kita tidak bisa memukul kata. Nabi Muhammad SAW dalam hadist tersebut
menggunakan lafadz kullu yang secara harfiyah berarti seluruh. Namun, pada
dasarnya kullu tidak selamanya berarti seluruh tetapi berarti juga sebagian. ini
bisa kita lihatdalam ayat al-quran Surat Anbiya ; 30, pada ayat ini, kita bisa
melihat bahwa lafadz kullu yang ada dihadist nabawi tersebut tidaklah bermakna
seluruhnya, tetapi sebagian. Begitu juga dengan Bidah, tidak seluruhnya dihukumi
haram.

Imam Izzudin bin Abdus salam berpendapat bahwa bidah itu dibagi menjadi 5 ;
Bidah wajibah, muharromat, mandubah, makruhah dan mubahah. Sedangkan
Imam Syafii membedakan bidah menjadi 2 bagian, yakni Bidah Sayyiah (bidah
yang buruk) dan Bidah Hasanah (bidah kebaikan).
2.2 HAM dalam pandangan Islam
Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan seperangkat hak yang
menjamin derajatnya sebagai manusia. Hak-hak inilah yang kemudian disebut
dengan hak asasi manusia, yaitu hak yang diperoleh sejak kelahirannya sebagai
manusia yang merupakan karunia Sang Pencipta 1[1] tanpa mengganggu hak- hak
orang lain. Dan hak ini harus dijaga yang tidak boleh diabaikan. Rasulullah pernah
bersabda, Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu haram atas
kamu. Dan negara bukan hanya harus menahan diri untuk tidak menyentuh hakhak asasi ini melainkan mempunyai kewajiban memberikan dan menjamin hak-hak
ini. Sebagai contoh negara wajib menjamin perlindungan sosial terhadap rakyatnya
tanpa melihat perbedaan Ras, jenis kelamin dan sebagainya. Dan Islam sangat
menjunjung tinggi hak-hak asasi ini, seperti yang terjadi pada zaman kepemimpinan
Abu Bakar as-Shiddiq, beliau memerangi orang orang yang tidak mau membayar
zakat.
begitupun pembelaan Rasullah yang gigih dalam menegakkan HAM ini lewat
pertemuan besarnya pada Haji wada.
Dari Umamah bin Tsabalah, nabi SAW bersabda, Barangsiapa merampak hak
seorang muslim, maka dia telah berhak masuk neraka dan haram masuk surga.
Seorang pria berkata, meskipun itu sesuatu yang kecil? beliau menjawab,
meskipun hanya sebatang kayu arak. HR. Muslim
Islam berbeda dengan sistem lain dalam menyikapi bahwa hak-hak manusia
sebagai hamba Allah tidak bisa tergantung pada pemimpin dan Undang-undangnya,
melainkan semuanya harus mengacu pada yang telah disyariatkan dalam islam.
Sampai shadaqohpun tetap dipandang ebagai hal-hal yang besar lainnya. Misalnya
Allah melarang beshadaqoh(berbuat baik) melalui cara yang buruk. dan janganlah
kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya.. (Q.S Ali
Imron ; 267)
Hak dibagi dalam beberapa pengelompokan, yakni :
1. Hak-hak Alamiyah yang telah diberikan Allah kepada seluruh umat yang
diciptakan dari unsur yang sama dan dari sumber yang sama pula. Hak Alamiyah
mencakup, hak kebebasan pribadi, beragama dan hak bekerja.
2.
Hak hidup mecakup hak kepemilikan, hak berkeluarga, hak keamanan, hak
keadilan, hak saling membela dan hak keadilan dan persamaan.

2.3 HAM dalam pandangan Barat


Hak asasi manusia ini muncul setelah Revolusi Perancis, Pada waktu para
tokoh borjuis berkoalisi dengan tokoh-tokoh gereja untuk merampas hak-hak rakyat
yang telah mereka miliki sejak lahir. Akibat dari penindasan panjang yang dialami
masyarakat Eropa dari kedua kaum ini, muncullah perlawanan rakyat dan yang
akhirnya berhasil memaksa para raja mengakui aturan tentang hak asasi manusia.
1

Dalam HAM barat, manusia lah yang menjadi tolak ukur segala sesuatu. Hal ini
dikarenakan manusia menjadi pusat segala sesuatu, dan bangsa Barat beranggapan
bahwa kebebasan manusia itu merupakan suatu hak asasi.
Secara umum HAM dibagi menjadi dua yaitu:
a. Hak asasi alamiah manusia sebagai manusia, yaitu menurut kelahirannya,
seperti: hak hidup, hak kebebasan pribadi dan hak bekerja.
b. Hak asasi yang diperoleh manusia sebagai bagian dari masyarakat sebagai
anggota keluarga dan sebagai individu masyarakat, seperti: hak memiliki,
hak berumah-tangga, hak mendapat keamanan, hak mendapat keadilan dan
hak persamaan dalam hak.
Terdapat berbagai klasifikasi yang berbeda mengenai hak asasi manusia menurut
pemikiran barat, diantaranya :
1. Pembagian hak menurut hak materiil yaitu: hak keamanan, kehormatan dan
pemilihan serta tempat tinggal, dan hak moril, yang termasuk di dalamnya:
hak beragama, hak sosial dan berserikat.
2. Pembagian hak menjadi tiga: hak kebebasan kehidupan pribadi, hak
kebebasan kehidupan rohani, dan hak kebebasan membentuk perkumpulan
dan perserikatan.
Pembagian hak asasi ini semata mata hanya untuk membendung pengaruh
Sosialisme dan Komunisme, partai-partai politik di Barat mendesak agar negara ikut
campur-tangan dalam memberi jaminan hak-hak asasi seperti untuk bekerja dan
jaminan sosial.
Perbandingan antara HAM versi Islam dengan Konsep HAM barat
Sisi Sumber Pengambilan Hukumnya
HAM barat dibuat oleh manusia sehingga kebenarannya masih tidak dapat di
pertanggung jawabkan atau tidak luput dari kesalahan. Sedangkan HAM dalam
islam di ambil dari kitap suci al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah yang tidak berbicara
dengan hawa nafsu. Sehingga Ham versi syariat adalah Rabbaniyatul mashdar.
2.
Konsekuensi hukuman
Konsekuensi HAM barat hanyalah sekedar konsep dan harapan yang berasal
dari PBB tidak ada paksaan dan konsekuensi hukum dan tidak juga ada konsekuensi
bila tidak dapat dijalankan dengan satu hukum undang-undang. Sedangkan HAM
dalam islam bersifat abadi, pati, memiliki konsekuensi hukum dan tidak menerima
pelaksanaan parsial, penghapusan dan perubahan. Setiap individu harus
melaksanakannya dengan berharap pahala dari Allah dan takut dari adzab-Nya.
Siapa yang sengaja mentelantarkannya maka pemerintah dalam islam berhak
memaksanya untuk melaksanakan dan menerapkan hukuman syari atasnya pada
keadaan tidak dilaksanakannya hal tersebut.
3.
Lahirnya istilah HAM
HAM dunia pertama kali ada pada tahun 1215 M atau diabad ke 13 Masehi.
Sedangkan islam mengenal konsep dan HAM sejak awal munculnya Islam.
4.
Perlindungan HAM dan Jaminannya
1.

Dalam HAM barat perlindungan internasional tidak ada kecuali hanya himbauan
etika dan usaha-usaha yang belum sampai pada batas pelaksanaannya. Hal ini
dibagi menjadi dua diantaranya yaitu:
Usaha kesepakatan berdasar umum dan pengakuan antara seluruh negara
Usaha meletakkan hukuman yang dipakai untuk menghukum negara yang
melanggar HAM.
Hal ini pada dasarnya hanya tersurat saja dan cenderung pada hasrat
manusia itu sendiri. Sedangkan HAM dalam islam, HAM tersebut adalah
anugerah Allah kepada manusai sebagai pelindung dan penjamin. Hal itu
karena:
Suci yang terselubungi kewibawaan dan pemuliaan, dikarenakan turun
dari sisi Allah sehingga menjadi penghalang bagi pribadi dan pemerintah
secara sama dari melanggar dan melampai batasannya.
Pemuliaanya bersumber dari dalam diri yang beriman kepada Allah.
Tidak bisa di hilangkan, dihapus dan dirubah.
Tidak ada sikap ektrim baik terlalu melampaui batas atau tidak dihiraukan.
Ditambah lagi untuk menjaga HAM dan syariat, diadakan Hudud syariat dan aturan
peradilan untuk melindungi HAM.
5.

Bersifat universal
Dalam HAM islam memiliki keistimewaan atas selainnya dalam keuniversalan
konsep HAM nya. Sebagian HAM dalam islam yang belum tercantum dalam HAM
dunia ialah:
a)
Hak anak yatim, dalam HAM internasional hanya ada isyarat pemeliharaan anak
yatim saja. Sedangkan dalam islam ada perhatian khusus terhadap anak yatim,
penjagaan hak-haknya dan anjuran berbuat baik kepada mereka dengan seluruh
jenis kebaikan. Bahkan memberikan pahala atas hal tersebut. Allah berfirman: Dan
berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu
menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu Makan harta mereka
bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu,
adalah dosa yang besar. (an-Nisaa: 2 ).Bahkan memberikan balasan terhadap
orang yang memakan harta yatim dengan zhalim seperti dalam firman Nya:
Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim,
sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke
dalam api yang menyala-nyala (neraka). (an-Nisa`: 10)
b)
Hak orang yang lemah akalnya. Islam memberikan perhatian dan menjaga hakhak mereka, seperti dijelaskan dalam firman Allah : Dan janganlah kamu serahkan
kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam
kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka
belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata
yang baik. (an-Nisaa: 5)
c)
Hak Waris. Hak ini banyak diabaikan dan tidak diperhatikan dalam HAM
internasional, namun islam memberikan perhatian yang besar atas hak waris ini
hingga menjelaskan semua tata cara pembagiannya dengan lengkap dalam alQur`an. Seperti dijelaskan dalam firman Allah: Bagi orang laki-laki ada hak bagian
dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak
bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau
banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.(an-Nisaa`: 7).

Bahkan nabi shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: Sampaikan bagian


warisan kepada ahlinya lalu yang tersisa untuk lelaki yang paling berhak. (HR alBukhori)
d)
Hak membela diri. Hak ini tidak disampaikan juga dalam HAM dunia, Di dalam
islam disampaikan Allah dalam beberapa ayat dan juga dalam beberapa hadits,
seperti firman Allah: Bulan Haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang
patut dihormati Berlaku hukum qishaash. oleh sebab itu Barangsiapa yang
menyerang kamu, Maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.
Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang
bertakwa. (Al-Baqarah: 194)
Bahkan Allah perintahkan Jihad dan mempersiapkannya untuk itu, seperti
firman Allah : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang
kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan
persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang
selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa
saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup
kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (al-Anfaal:60)
e)
Hak memaafkan. Pernah ada muktamar HAM yang diadakan kementrian hukum
(Wizarah al-Adl) Saudi Arabia pada bulan shofar 1392 H bertepatan dengan bulan
maret 1972 M dengan dihadiri sebagian tokoh HAM dunia. Setelah adanya
penjelasan tentang HAM versi Syaria tislam, maka Pimpinan delegasi Komisi HAM
dunia dalam pertemuan tersebut bernama Mr. Max Braid menyatakan: Dari sini
dan dari negeri islam ini, wajib untuk menampakkan HAM bukan dari negara lain
dan wajib bagi ulama muslimin untuk menyebarkan hak-hak yang tidak diketahui
oleh internasional dan ketidak tahuan hal ini yang menjadi sebab rusaknya wajah
islam dan muslimin serta hukum islam.
Bahkan salah seorang anggota delegasi sempat berkomentar: Saya sebagai
seorang nashrani mengumumkan bahwa dinegeri ini Allah disembah secara
hakekatnya (benar) dan para ilmuwan sepakat menyatakan hukum-hukum alQur`an telah menjelaskan masalah HAM setelah mendengarnya dan melihat
langsung realita penerapannya.
2.4 Demokrasi Islam
Secara etimologi (lughawi), kata Demokrasi yaitu Democratie berasal dari
bahasa Yunani, yang terdiri dari kata : demos yang berarti rakyat dan cratos yang
berarti kekuasaan. Lebih dikenal dengan istilah Kedaulatan Rakyat, rakyatlah yang
berkuasa dan berhak mengatur dirinya sendiri. Makna kata Kedaulatan itu sendiri
ialah sesuatu yang mengendalikan dan melaksanakan aspirasi.
Secara terminologi (ishtilaahi), Demokrasi secara lugas ialah Sistem
Pemerintahan yang secara konseptual memiliki prinsip dari rakyat, oleh rakyat dan
untuk rakyat. Maka, dikenal istilah vox populi vox dei (suara rakyat suara Tuhan).
Demokrasi menurut Islam dapat diartikan seperti musyawarah, mendengarkan
pendapat orang banyak untuk mencapai keputusan dengan mengedepankan nilai
nilai keagamaan.
Konsep demokrasi tidak sepenuhnya bertentangan dan tidak sepenuhnya sejalan
dengan Islam
1. Demokrasi tersebut harus berada di bawah payung agama.
2. Rakyat diberi kebebasan untuk menyuarakan aspirasinya.
3. Pengambilan keputusan senantiasa dilakukan dengan musyawarah.

4. Suara mayoritas tidaklah bersifat mutlak meskipun tetap menjadi pertimbangan


utama dalam musyawarah.
5. Musyawarah atau voting hanya berlaku pada persoalan ijtihadi; bukan pada
persoalan yang sudah ditetapkan secara jelas oleh Alquran dan Sunah.
6. Produk hukum dan kebijakan yang diambil tidak boleh keluar dari nilai-nilai
agama.
7. Hukum dan kebijakan tersebut harus dipatuhi oleh semua warga
Banyak kalangan non-muslim (individual dan institusi) yang menilai bahwa
tidak terdapat konflik antara Islam dan demokrasi dan mereka ingin melihat dunia
Islam dapat membawa perubahan dan transformasi menuju demokrasi. Robin
Wright, pakar Timur Tengah dan dunia Islam yang cukup terkenal menulis di Journal
of Democracy (1996) bahwa Islam dan budaya Islam bukanlah penghalang bagi
terjadinya modernitas politik.
Dalam menjelaskan sejumlah miskonsepsi umum di Barat, Graham E Fuller
(mantan Wakil Direktur National Intelligence Council di CIA) menulis di Jurnal Foreign
Affairs: Kebanyakan peneliti Barat cenderung untuk melihat fenomena politik Islam
seakan-akan ia sebuah kupu-kupu dalam kotak koleksi, ditangkap dan disimpan
selamanya, atau seperti seperangkat teks baku yang mengatur sebuah jalan
tunggal. Inilah mengapa sejumlah sarjana yang mengkaji literatur utama Islam
mengklaim bahwa Islam tidak kompatibel dengan demokrasi. Seakan-akan ada
agama lain yang secara literal membahas demokrasi. Banyak kalangan sarjana
Islam yang kembali mengkaji akar dan khazanah Islam dan secara meyakinkan
berkesimpulan bahwa Islam dan demokrasi tidak hanya kompatibel; sebaliknya,
asosiasi keduanya tak terhindarkan, karena sistem politik Islam adalah berdasarkan
pada Syura (musyawarah). sejumlah intelektual dan sarjana Islam lain yang
bersusah payah berusaha mencari titik temu antara dunia Islam dan Barat menuju
saling pengertian yang lebih baik berkenaan dengan hubungan antara Islam dan
demokrasi. Karena, kebanyakan diskursus yang ada tampak terlalu tergantung dan
terpancang pada label yang dipakai secara stereotip oleh sejumlah kalangan.
Realitasnya adalah bahwa Islam tidak hanya kompatibel dengan aspek- aspek
definisi atau gambaran demokrasi di atas, tetapi yang lebih penting lagi, aspekaspek tersebut sangat esensial bagi Islam. Apabila kita dapat melepaskan diri dari
ikatan label dan semantik, maka akan kita dapatkan bahwa pemerintahan Islam,
apabila disaring dari semua aspek yang korelatif, memiliki setidaknya tiga unsur
pokok, yang berdasarkan pada petunjuk dan visi Alquran di satu sisi dan preseden
Nabi dan empat Khalifah sesudahnya (Khulafa al-Rasyidin) di sisi lain.

Pertama, konstitusional. Pemerintahan Islam esensinya merupakan


sebuah pemerintahan yang `konstitusional, di mana konstitusi mewakili
kesepakatan rakyat (the governed) untuk diatur oleh sebuah kerangka hak dan
kewajiban yang ditentukan dan disepakati. Bagi Muslim, sumber konstitusi adalah
Alquran, Sunnah, dan lain-lain yang dianggap relevan, efektif dan tidak
bertentangan dengan Alquran dan Sunnah.

Kedua, partisipatoris. Sistem politik Islam adalah partisipatoris. Dari


pembentukan struktur pemerintahan institusional sampai tahap implementasinya,
sistem ini bersifat partisipatoris. Ini berarti bahwa kepemimpinan dan kebijakan
akan dilakukan dengan basis partisipasi rakyat secara penuh melalui proses
pemilihan populer. Aspek partisipatoris ini disebut proses Syura dalam Islam

Ketiga, akuntabilitas. Poin ini menjadi akibat wajar esensial bagi sistem
konstitusional/partisipatoris. Kepemimpinan dan pemegang otoritas bertanggung

jawab pada rakyat dalam kerangka Islam. Kerangka Islam di sini bermakna bahwa
semua umat Islam secara teologis bertanggung jawab pada Allah dan wahyu-Nya.

http://mawaddatulkarimah.blogspot.com/2012/10/hukum-ham-dandemokrasi-dalam-islam.html