Anda di halaman 1dari 10

Perkembangan Undang-Undang Dasar

Secara formal pengaturan sistem politik indonesia tentu saja mendasarkan


diri pada konstitusi tertulis.Ada tiga konstitusi tertulis yang pernah berlaku
yaitu UUD 1945,UUD RIS,UUDS 1950.UUD1945 merupakan konstitusi tertulis
pertama tertulis dan masih berlaku sekarang ini.konstitusi ini di susun dan
digunakan

18

Agustus

1945,sehari

setelah

proklamasi

kemerdekaan

indonesia. konstitusi ini dapat disebutkan salah satu konstitusi terpendek di


dunia karena hanya terdiri dari 37 pasal. Ada beberapa alasan mengapa
konstitusi ini disusun secara ringkas. Menurut para penyusun konstitusi itu
sendiri, ringkasnya UUD 1945 dimaksudkan agar ia tetap bertahan,
mengikuti perkembangan zaman. Fleksibelitasnya ini dimungkinkan karena
yang di atur hanyalah masalah-masalah pokok saja, sementara aturanaturan operasional ditetapkan melalui undang-undang biasa dan peraturan
lain yang lebih rendah tingkatannya, yang lebih mudah untuk dicabut dan
diubah.

meskipun

demikian

tidaklah

terlepas

kemungkinan

bahwa

singkatnya UUD-1945 disebabkan oleh terbatasnya waktu yang digunakan


untuk menyusun UUD tersebut[4].
Adakalanya suatu undang-undang dasar dibatalkan dan diganti dengan
undang-undang dasar yang baru.hal semacam ini terjadi kalau dianggap
bahwa undang-undang dasar yang ada tidak lagi memenuhi harapan dan
aspirasi rakyat. Misalnya, sesudah perancis dalam tahun 1946 di bebaskan
dari pendudukan tentera jerman,di anggap perlu untuk mengadakan
undang-undang dasar baru yang mencerminkan lahirnya negara perancis
baru, yaitu republik perancis ke-V,dibawah pimpinan presiden DeGaulle.
Kedua pergantian Undang-undang dasar menunjukkan pada di tinggalkannya
masa lampau dandimulainya halaman konstitusionil yang baru. Di negaranegara

komunis

pergantian

Undang-undang

dasar

mencerminkan

tercapainya tahap tertentu dalam perjuangan untuk mencapai masyarakat


komunis.
Di indonesia kita telah melalui empat tahap perkembangan undangundang dasar[5] , yaitu:

1.

Pada tahun 1945(Undang-Undang Dasar Republik indonesia yang de facto


hanya berlaku di jawa,madura dan sumatra. Dalam kurun waktu 1945, UUD
1945 tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena Indonesia sedang
disibukkan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Maklumat
Wakil Presiden Nomor X pada tanggal 16 Oktober 1945 memutuskan bahwa
KNIP diserahi kekuasaan legislatif, karena MPR dan DPR belum terbentuk.
Tanggal 14 November 1945 dibentuk Kabinet Parlementer yang pertama,
sehingga peristiwa ini merupakan penyimpangan UUD 1945.

2. Tahun 1949 (Undang-undang dasar Republik Indonesia Serikat yang de facto


berlaku di seluruh indonesia,kecuali irian barat).
3.

Tahun 1950(Undang-undang dasar indonesia, negara kesatuan, yang de


facto berlaku di seluruh indonesia,kecuali irian barat). Karena situasi politik
pada Sidang Konstituante 1959 dimana banyak saling tarik ulur kepentingan
partai politik sehingga gagal menghasilkan UUD 1945 baru, maka pada
tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang
salah satu isinya memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai undang-undang
dasar, menggantikan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 waktu itu.
Pada

masa

ini,

terdapat

berbagai

penyimpangan

UUD

1945,

diantaranya :
Presiden mengangkat Ketua dan Wakil Ketua MPR / DPR dan MA serta Wakil
Ketua DPa menjadi Menteri Negara.
MPRS menetapkan Soekarno sebagai Presiden seumur hidup.
Pemberontakan Partai Komunis Indonesia melalui Gerakan 30 September Partai Komunis
Indonesia (G30S/PKI).
4.

Tahun 1959(Undang-Undang Dasar Republik indonesia 1945 dengan demokrasi


terpimpim,di susul demokrasi pancasila,Undang-undang dasr ini di mulai 1963 berlaku
di seluruh indonesia,termasuk irian barat)[6].

Setiap pergantian Undang-undang dasar mencerminkan anggapan bahwa perubahan


konstitusional yang dihadapi bersipat fundamental,sehingga mengadakan perubahan
pada Undang-undang dasar yang berlaku di anggap tidak memadai.
Akan tetapi apabila di tinjau dari sudut pertimbangan demokrasi sejarah republik
indonesia,dapatlah dibagi dalam tiga tahap:
1.

Masa 1945-1959 sebagai republik Indonesia ke I(demokrasi parlementer)yang di


dasari tiga Undang-undang dasar berturut-turut yaitu 1945,1949,dan 1950.

2. Masa 1959-1965 sebagai republik Indonesia ke II (demokrasi terpimpin) yang didasari


Undang-undang dasar 1945.
3.

Masa 1965 sampai sekarang sebagai republik Indonesia ke III (demokrasi pancasila)
yang di dasri Undang-undang dasar 1945.
Pentahapan terakhir ini kiranya lebih sesuai dengan kenyataan bahwa stuktur
politik dan ideologi indonesia pada ke III tahap tersebut di atas berbeda secara
fundamental[7].
Sistem Pemerintahan Negara Menurut UUD 1945 Hasil Amandemen
Sebelum adanya amandemen terhadap UUD 1945, dikenal dengan Tujuh Kunci Pokok
Sistem Pemerintahan Negara, namun tujuh kunci pokok tersebut mengalami suatu perubahan.
Oleh karena itu sebagai Studi Komparatif sistem pemerintahan Negara menurut UUD 1945
mengalami perubahan.

a.

Indonesia ialah negara yang berdasarkan atas hukum (Rechtstaat ).


Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (Rechtstaat ), tidak berdasarkan atas
kekuasaan belaka (Machtstaat), mengandung arti bahwa negara,

termasuk didalamnya

pemerintahan dan lembaga - lembaga negara lainnya dalam melaksanakan tindakan apapun.
b. Sistem Konstitusi
Pemerintah berdasarkan atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat absolut
(kekuasaan yang tidak terbatas). Sistem ini memberikan penegasan bahwa cara pengendalian

pemerintahan dibatasi oleh ketentuan - ketentuan konstitusi dan juga oleh ketentuan-ketentuan
hukum lain merupakan produk konstitusional.
c.

Presiden ialah penyelenggara pemerintahan negara yang tertinggi disamping MPR dan DPR.
Berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen 2002, Presiden penyelenggara pemerintahan
tertinggi disamping MPR dan DPR, karena Presiden dipilih langsung oleh rakyat. UUD 1945
pasal 6 A ayat 1, jadi menurut UUD 1945 ini Preiden tidak lagi merupakan mandataris MPR,
melainkan dipilih oleh rakyat.

d. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR.


e. Menteri Negara ialah pembantu Presiden, Menteri Negara tidak bertanggung jawab kepada
DPR. Presiden dalam melaksanakan tugas dibantu oleh menteri-menteri negara, pasal 17 ayat 1
f.

(hasil amandemen).
Kekuasaan Kepala Negara Tidak Tak Terbatas, meskipun Kepala negara tidak bertanggung
jawab kepada DPR, ia bukan "Diktator" artinya kekuasaan tidak terbatas, disini Presiden adalah
sudah tidak lagi merupakan mandataris MPR, namun demikian ia tidak dapat membubarkan

g.

DPR atau MPR.


Negara Indonesia adalah negara hukum, negara hukum berdasarkan Pancasila bukan

berdasarkan kekuasaan.
C. Ciri-ciri Undang-undang dasar[8]
Setiap Undang-undang dasar memuat ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
1.

Organisasi negara, misalnya pembagian kekuasaan antara badan legislatif, eksekutif


dan yudikatif, dalam negara federal dan pemerintah negara bagian, prosedur
penyelesaian masalah pelanggaran yurisdiksi oleh salah satu badan pemerintah dan
sebagainya.

2.

Hak-hak asasi manusia (Biasanya di sebut Bill of rights kalau berbentuk naskah
tersendiri).

3. Prosedur mengubah Undang-undang dasar.


4.

Ada kalanya memuat larangan untuk mengubah sifat tertentu dari undang-undang
dasar[9].
Ciri-ciri UUD 1945 :

1. Mengatur tentang sistem ketatanegaraan

2.
a.
b.
c.
3.
4.
5.

Mengatur tentang lembaga negara :


Legislatif (pembuat)
Eksekutif (Pelaksana)
Yudikatif (Pengawas)
Mengatur hak dan kewajiban negara terhadap warga negara.
Mengatur hak dan kewajiban warga negara terhadap negara.
Adanya perlindungan Hak Asasi Manusia.

6. Mengatur tentang lambang negara.


7. Mengatur tentang perubahan UUD 1945 itu sendiri.

Latar Belakang, Dasar Pemikiran & Tujuan Perubahan


A. Latar Belakang, Dasar Pemikiran Dan Tujuan Perubahan UUD 1945
1. Latar Belakang Dan Dasar Pemikiran
Pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan presiden setelah
terjadi gelombang unjuk rasa besar-besaran, yang dimotori oleh mahasiswa, pemuda, dan
berbagai komponen bangsa lainnya, di Jakarta dan di daerah-daerah. Berhentinya Presiden
Soeharto di tengah krisis ekonomi dan moneter yang sangat memberatkan kehidupan masyarakat
Indonesia menjadi awal dimulainya era reformasi di tanah air.
Era reformasi memberikan harapan besar bagi terjadinya perubahan menuju penyelenggaraan
negara yang lebih demokratis, transparan, dan memiliki akuntabilitas tinggi serta terwujudnya
good governance dan adanya kebebasan berpendapat. Semuanya itu diharapkan makin
mendekatkan bangsa pada pencapaian tujuan nasional sebagaimana terdapat dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk itu gerakan reformasi
diharapkan mampu mendorong perubahan mental bangsa Indonesia, baik pemimpin maupun
rakyat sehingga mampu menjadi bangsa yang menganut dan menjunjung tinggi nilai-nilai
kebenaran, keadilan, kejujuran, tanggung jawab, persamaan, serta persaudaraan.
Pada awal era reformasi, berkembang dan populer di masyarakat banyaknya tuntutan reformasi

yang didesakkan oleh berbagai komponen bangsa, termasuk mahasiswa dan pemuda. Tuntutan,
itu antara lain, sebagai berikut.
1. Amendemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Penghapusan doktrin dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
3. Penegakan supremasi hukum, penghormatan hak asasi manusia (HAM), serta
pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
4. Desentralisasi dan hubungan yang adil antara pusat dan daerah (otonomi daerah).
5. Mewujudkan kebebasan pers.
6. Mewujudkan kehidupan demokrasi.
Tuntutan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
digulirkan oleh berbagai kalangan masyarakat dan kekuatan sosial politik didasarkan pada
pandangan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 belum cukup
memuat landasan bagi kehidupan yang demokratis, pemberdayaan rakyat, dan penghormatan
HAM. Selain itu di dalamnya terdapat pa-sal-pasal yang menimbulkan multitafsir dan membuka
peluang bagi penyelenggaraan negara yang otoriter, sentralistik, tertutup, dan KKN yang
menimbulkan kemerosotan kehidupan nasional di berbagai bidang kehidupan.
Tuntutan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada era
reformasi tersebut merupakan suatu langkah terobosan yang mendasar karena pada era
sebelumnya tidak dikehendaki adanya perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Sikap politik pemerintah pada waktu itu kemudian diperkukuh dengan
dasar hukum Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum, yang berisi kehendak
untuk tidak melakukan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Apabila muncul juga kehendak mengubah Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, terlebih dahulu harus dilakukan referendum dengan persyaratan yang
sangat ketat sehingga kecil kemungkinannya untuk berhasil sebelum usul perubahan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diajukan ke sidang MPR untuk dibahas
dan diputus.
Dalam perkembangannya, tuntutan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 itu menjadi kebutuhan bersama bangsa Indonesia. Selanjutnya, tuntutan
itu diwujudkan secara komprehensif, bertahap, dan sistematis dalam empat kali perubahan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada empat sidang MPR sejak
tahun 1999 sampai dengan 2002.
Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dilakukan oleh MPR
sesuai dengan kewenangannya yang diatur dalam Pasal 3 dan Pasal 37 Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal-pasal tersebut menyatakan bahwa MPR
berwenang mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar dan untuk mengubah Undang-

Undang Dasar, sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR harus hadir. Putusan diambil
dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir.
Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang dilakukan oleh
MPR, selain merupakan perwujudan tuntutan reformasi, juga sejalan dengan pidato Ir. Soekarno,
Ketua Panitia Penyusun Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam
rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945. Pada
kesempatan itu ia menyatakan antara lain, bahwa ini adalah sekedar Undang-Undang Dasar
Sementara, Undang-Undang Dasar Kilat, bahwa barangkali boleh dikatakan pula, inilah
revolutiegrondwet. Nanti kita membuat Undang-Undang Dasar yang lebih sempurna dan
lengkap.
Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang dilakukan MPR
merupakan upaya penyempurnaan aturan dasar guna lebih memantapkan usaha pencapaian citacita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagaimana tertuang dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Selain itu, perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memenuhi
sila keempat Pancasila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, yang penerapannya berlangsung di dalam sistem perwakilan atau
permusyawaratan. Orang-orang yang duduk di dalam merupakan hasil pemilihan umum. Hal itu
selaras dengan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
mengenai pemilihan presiden dan wakil presiden serta anggota lembaga perwakilan yang dipilih
oleh rakyat.
Perubahan yang dilakukan secara bertahap dan sistematis dalam empat kali perubahan, yaitu
Perubahan Pertama, Perubahan Kedua, Perubahan Ketiga, dan Perubahan Keempat, harus
dipahami bahwa perubahan tersebut merupakan satu rangkaian dan satu sistem kesatuan.
Perubahan dilakukan secara bertahap karena mendahulukan pasal-pasal yang disepakati oleh
semua fraksi MPR, kemudian dilanjutkan dengan perubahan terhadap pasal-pasal yang lebih sulit
memperoleh kesepakatan.
Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pertama kali
dilakukan pada Sidang Umum MPR tahun 1999 yang menghasilkan Perubahan Pertama. Setelah
itu, dilanjutkan dengan Perubahan Kedua pada Sidang Tahunan MPR tahun 2000, Perubahan
Ketiga pada Sidang Tahunan MPR tahun 2001, dan Perubahan Keempat pada Sidang Tahunan
MPR tahun 2002.
Dasar pemikiran yang melatarbelakangi dilakukannya perubahan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, antara lain, sebagai berikut.
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 membentuk struktur
ketatanegaraan yang bertumpu pada kekuasaan tertinggi di tangan MPR yang sepenuhnya
melaksanakan kedaulatan rakyat. Hal itu berakibat pada tidak terjadinya saling
mengawasi dan saling mengimbangi (checks and balances) pada institusi-institusi

ketatanegaraan. Penyerahan kekuasaan tertinggi kepada MPR merupakan kunci yang


menyebabkan kekuasaan pemerintahan negara seakan-akan tidak memiliki hubungan
dengan rakyat.
2. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan kekuasaan
yang sangat besar kepada pemegang kekuasaan eksekutif (presiden). Sistem yang dianut
oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah dominan
eksekutif (executive heavy,) yakni kekuasaan dominan berada di tangan presiden. Pada
diri presiden terpusat kekuasaan menjalankan pemerintahan (chief executive) yang
dilengkapi dengan berbagai hak konstitusional yang lazim disebut hak prerogatif (antara
lain memberi grasi, amnesti, abolisi, dan rehabilitasi) dan kekuasaan legislatif karena
memiliki kekuasaan membentuk undang-undang. Hal itu tertulis jelas dalam Penjelasan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang berbunyi Presiden
ialah penyelenggara pemerintah Negara yang tertinggi di bawah Majelis. Dua cabang
kekuasaan negara yang seharusnya dipisahkan dan dijalankan oleh lembaga negara yang
berbeda tetapi nyatanya berada di satu tangan (Presiden) yang menyebabkan tidak
bekerjanya prinsip saling mengawasi dan saling mengimbangi (checks and balances) dan
berpotensi mendorong lahirnya kekuasaan yang otoriter.
3. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengandung pasal-pasal
yang terlalu luwes sehingga dapat menimbulkan lebih dari satu tafsiran (multitafsir),
misalnya Pasal 7 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
(sebelum diubah) yang berbunyi Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya
selama masa lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali. Rumusan pasal itu dapat
ditafsirkan lebih dari satu, yakni tafsir pertama bahwa presiden dan wakil presiden dapat
dipilih berkali-kali dan tafsir kedua adalah bahwa presiden dan wakil presiden hanya
boleh memangku jabatan maksimal dua kali dan sesudah itu tidak boleh dipilih kembali.
Contoh lain adalah Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 (sebelum diubah) yang berbunyi Presiden ialah orang Indonesia asli.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak memberikan
penjelasan dan memberikan arti apakah yang dimaksud dengan orang Indonesia asli.
Akibatnya rumusan itu membuka tafsiran beragam, antara lain, orang Indonesia asli
adalah warga negara Indonesia yang lahir di Indonesia atau warga negara Indonesia yang
orang tuanya adalah orang Indonesia.
4. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terlalu banyak
memberikan kewenangan kepada kekuasaan Presiden untuk mengatur hal-hal penting
dengan undang-undang. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
menetapkan bahwa Presiden juga memegang kekuasaan legislatif sehingga Presiden
dapat merumuskan hal-hal penting sesuai dengan kehendaknya dalam undang-undang.
Hal itu menyebabkan pengaturan mengenai MPR, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Mahkamah Agung (MA), HAM, dan pemerintah
daerah disusun oleh kekuasaan Presiden dalam bentuk pengajuan rancangan undangundang ke DPR.

5. Rumusan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tentang


semangat penyelenggara negara belum cukup didukung ketentuan konstitusi yang
memuat aturan dasar tentang kehidupan yang demokratis, supremasi hukum,
pemberdayaan rakyat, penghormatan hak asasi manusia (HAM), dan otonomi daerah. Hal
itu membuka peluang bagi berkembangnya praktik penyelenggaraan negara yang tidak
sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, antara lain, sebagai berikut.
a. Tidak adanya saling mengawasi dan saling mengimbangi (checks and balances)
antarlembaga negara dan kekuasaan terpusat pada Presiden.
b. Infrastruktur politik yang dibentuk, antara lain partai politik dan organisasi masyarakat,
kurang mempunyai kebebasan berekspresi sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya.
c. Pemilihan umum (pemilu) diselenggarakan untuk memenuhi persyaratan demokrasi
formal karena seluruh proses dan tahapan pelaksanaannya dikuasai oleh pemerintah.
d. Kesejahteraan sosial berdasarkan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 tidak tercapai, justru yang berkembang adalah sistem monopoli,
oligopoli, dan monopsoni.
2. Tujuan Perubahan UUD 1945
Tujuan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk:
1. menyempurnakan aturan dasar mengenai tatanan negara dalam mencapai tujuan nasional
yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 dan memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
Pancasila;
2. menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan pelaksanaan kedaulatan rakyat
serta memperluas partisipasi rakyat agar sesuai dengan perkembangan pa-ham
demokrasi;
3. menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan perlindungan hak asasi manusia
agar sesuai dengan perkembangan paham hak asasi manusia dan peradaban umat manusia
yang sekaligus merupakan syarat bagi suatu negara hukum dicita-citakan oleh UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
4. menyempurnakan aturan dasar penyelenggaraan negara secara demokratis dan modern,
antara lain melalui pembagian kekuasaan yang lebih tegas, sistem saling mengawasi dan
saling mengimbangi (checks and balances) yang lebih ketat dan transparan, dan
pembentukan lembaga-lembaga negara yang baru untuk mengakomodasi perkembangan
kebutuhan bangsa dan tantangan zaman;

5. menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan konstitusional dan kewajiban negara


mewujudkan kesejahteraan sosial, mencerdaskan kehidupan bangsa, menegakkan etika,
moral, dan solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sesuai
dengan harkat dan martabat kemanusiaan dalam perjuangan mewujudkan negara
sejahtera;
6. melengkapi aturan dasar yang sangat penting dalam penyelenggaraan negara bagi
eksistensi negara dan perjuangan negara mewujudkan demokrasi, seperti pengaturan
wilayah negara dan pemilihan umum;
7. menyempurnakan aturan dasar mengenai kehidupan bernegara dan berbangsa sesuai
dengan perkembangan aspirasi, kebutuhan, serta kepentingan bangsa dan negara
Indonesia dewasa ini sekaligus mengakomodasi kecenderungannya untuk kurun waktu
yang akan datang.