Anda di halaman 1dari 3

HERMENUTIKA DASAR

Kata Hermeneutik berasal dari bahasa Yunani Hermeneuin (kata kerja) yang memiliki arti
menafsirkan; sedangkan Hermeneuia (kata benda) memiliki arti penafsiran atau komentar.
Ungkapan Hermeneutike Tekhne memiliki arti the skill or art of interpretation. Disebut teknik
atau skill karena memiliki aturan-aturan. Sedangkan disebut seni karena membutuhkan imajinasi dan
feeling untuk menerapkan aturan-aturan tersebut.
Milton S. Terry dalam bukunya Biblical Hermeneutics menunjukkan setidaknya ada sepuluh
corak penafsiran: allegoris, mistis, pietis, naturalis, rasionalis, dogmatis, apologetis, historical dan
linguistis. Namun secara sederhana, macam-macam penafsiran tersebut dapat digolongkan ke dalam
tiga jenis penafsiran, yaitu:
1. Penafsiran Intuitif (allegoris, mistis, pietis) Berdasarkan bisikan hati, daya batin atau ilham
roh. Peranan Roh Kudus sangat menonjol sebagai Pribadi yang memberikan penjelasan,
penerangan dan pengilhaman, namun di saat yang sama penafsiran jenis ini sangat rentan terhadap
penyesatan.
2. Penafsiran secara Ilmiah (naturalis, rasionalis, apologetis) Pada dasarnya penafsiran jenis ini
mencari pesan aslinya (menurut penulis) agar dapat diterapkan ke dalam konteks masa kini.
3. Penafsiran Kontekstual (dogmatis, historical, linguistis) Mempelajari konteks budaya, filsafat,
sosiologis, ekonomis, politis dan geografis. Juga memperhatikan konteks sejarah dan tata bahasa,
maka penafsiran ini sering disebut grammatico-historical. Penafsiran model ini membutuhkan
beberapa prinsip dasar:
a. Prinsip Analogy of Faith yaitu Alkitab adalah sabda Allah yang tidak mungkin salah dan
keliru pada naskah aslinya.
b. Prinsip Sacra Scriptura sui Interpres yaitu Alkitab dapat menafsirkan dirinya sendiri.
c. Prinsip Genre Analysis yaitu mempelajari bentuk tulisan, bahasa simbol dan gaya bahasa yang
dipakai penulis.
d. Prinsip Sensus Literalis yaitu mempelejari asal kata, sintaks dan konteksnya.
Contoh: Matius 1:18-19, beberapa pertanyaan:
1. Apakah Yusuf-Maria sudah menikah? Kenapa dikatakan bertunangan?
2. Apabila sudah, mengapa mereka belum hidup sebagai suami-istri (bersetubuh)
3. Apabila belum, mengapa Yusuf disebut suami dan Maria disebut Istri?
Jawab = Setelah mempelajari konteks sejarah, maka diketahui bahwa pernikahan menurut adat-istiadat
orang Israel pada masa itu adalah sbb: Setelah perkawinan dilaksanakan, maka selama 1 tahun

pasangan suami-istri tersebut belum boleh melakukan hubungan badan. Bagi orang Israel, mereka
sudah resmi dinyatakan sebagai suami-istri, namun masa ini disebut sebagai masa pertunangan.
Beberapa prinsip dasar dalam penafsiran untuk menghasilkan penafsiran yang alkitabiah:
1. Prinsip Eksegesa (induktif), bukan Eisegesa (deduktif) Induktif = Dari dalam Alkitab kita
menemukan arti, sedangkan Deduktif = Arti dari luar dicari dalam Alkitab.
2. Prinsip O-I-A yaitu Observasi, Interpretasi dan Aplikasi.
Observasi (pengamatan) = Usaha mencari fakta dan data Alkitab sebanyak-banyaknya sebagai
dasar untuk mengerti maksud penulis. Beberapa pertanyaan penolong adalah: siapa, apa,
kapan, dimana, dan bagaimana.
Interpretasi = Menafsirkan bagian Alkitab yang telah diselidiki.
Aplikasi = Mengaplikasikan teks Alkitab yang sudah ditafsirkan dalam bentuk aplikasi
3. Prinsip Eksplisit (tersurat) dan Implisit (tersirat) Pernyataan eksplisit memiliki nilai yang lebih
tinggi daripada implisit. Bila bertentangan yang implisit harus ditolak. (Ch: Kis 11:15-17 BRK).
4. Prinsip Konteks dekat dan jauh. Konteks dekat biasanya dalam satu perikop, pasal atau kitab,
sedangkan konteks jauh biasanya beda kitab atau perjanjian. (ch: 1 Kor 1:8 tentang Hari Tuhan
Konteks dekat = 1 Kor 3:13, 1 Kor 5:5 Konteks jauh = 1 Tes 5:2, Why 1:10, Mal 4:5).
5. Prinsip Dogmatis yaitu bila Alkitab bicara keras maka kita juga bicara keras. Bila Alkitab bicara
pelan maka kita juga bicara pelan. Tetapi apabila Alkitab diam maka seharusnya kita juga diam
(contoh menurut urutan: 1.Kasih (bicara keras), 2.Rokok (pelan), 3.Peneguhan pernikahan (diam).
6. Prinsip penafsiran Khusus untuk tiap-tiap model teks Alkitab: Narasi (Cerita/Hikayat), Surat
Kiriman (Korintus, Petrus), Perumpamaan (Ilustrasi: benih yang ditabur, gadis bijaksana &
bodoh), Allegori (Gambaran: roti hidup, terang dunia, pokok anggur), Tipe (Tipologi: baptisan di
laut merah, pengorbanan Ishak), Simbol (patung mimpi nebukadezar, sungai yang mengalir dari
bait Suci), Nubuat (Apokaliptik: Wahyu, Daniel), Puisi (Mazmur, Kidung Agung).
Catatan Tambahan:
1. KONTRADIKSI (Antinomi) Anti = melawan, Nomos = hukum (melawan hukum). Alkitab
tidak berisi kontradiksi, sebab jika kebenaran saling berkontradiksi, maka itu bukan kebenaran.
2. PARADOKS Sesuatu yang kelihatannya seperti kontradiksi, namun apabila diteliti ternyata
dapat dipecahkan. Ch: 2 Sam 24:1 dgn 1 Taw 21:1 = Siapa yg melakukan?
3. MISTERI Menunjuk pada apa yang benar, tetapi tidak dapat (sukar) untuk kita mengerti.
Misalnya: Tritunggal.