Anda di halaman 1dari 8

FRAMBUSIA

Definisi
Penyakit frambusia atau patek (yaws) adalah penyakit treponematosis menahun,
hilang timbul dengan 3 stadium ialah ulkus atau granuloma pada kulit (mother yaw), lesi non
dekstruktif yang dini, dan dekstruktif yang lanjut pada kulit, tulang, dan perios. Tidak seperti
penyakit treponema lain yaitu sifilis, frambusia tidak menular secara seksual tetapi menular
melewati kontak kulit secara langsung ataupun melalui lesi yang terdapat pada kulit.
Penularan melalui tranmisi dari ibu ke anak tidak ditemukan sehingga bukti menunjukkan
bahwa penyakit ini tidak diperoleh secara kongenital. 1,2,3
Epidemiologi
Insidensi frambusia terjadi pada daerah tropik dan lembab, tidak pernah terjadi pada
daerah dengan iklim dingin ataupun pada daerah dengan suhu ekstrim. Insidensi tertinggi
frambusia pada iklim tropis erat hubungannya dengan hujan deras. Secara umum, kejadian
frambusia banyak terjadi pada daerah dengan curah hujan rata-rata diatas 1300 mm per tahun
dan kasus frambusia cenderung meningkat pada musim hujan sehingga banyak ditemukan
kasus baru ataupun reinfeksi saat musim hujan. Lesi frambusia juga dilaporkan terlihat
berbeda selama musim hujan dan kemarau. Pada musim hujan, proporsi yang lebih besar dari
kasus menunjukkan adanya lesi terbuka yang menular dan papiloma. Saat musim kemarau,
lesi sering kering, scalier, dan tipe makulopapular.3
Umumnya frambusia menyerang pada masyarakat pedesaan terutama orang yang
kurang mampu dan kebersihan yang buruk, dengan kejadian menurun pada status sosial dan
ekonomi yang meningkat. Selain itu di daerah pedesaan atau rural juga banyak terdapat
daerah semak yang luas yang meningkatkan kemungkinan cedera lutut sampai kaki yang
menjadi tempat masuk infeksi. Frambusia umumnya ditemukan pada anak-anak berumur 215 tahun yang juga dianggap sebagai resevoir untuk infeksi dan lebih sering mengenai lakilaki dibandingkan dengan perempuan karena lebih banyak menderita trauma.2,3,4
Pada tahun 1948, ketika WHO baru didirikan, treponematosis endemik merupakan
salah satu masalah kesehatan yang besar. Dilaporkan bahwa dari tahun 1950 2013
menunjukkan terdapat 90 negara yang terserang frambusia. Diperkirakan secara global
terdapat 50 150 juta kasus frambusia aktif pada awak tahun 1950-an. Negara-negara
Amerika selatan yang sering terkena yaitu Venezuela, Bolivia, Kolombia, Ekuador, dan

Brazil dan terbanyak ditemukan pada Haiti dan kepulauan Karibia lainnya. Pada Afrika,
penyakit ini sangat umum pada sebagian besar negara pantai barat, lalu di Uganda,
Mozambik, dan Madagaskar. Pada Asia banyak terjadi di Thailan dan Indochina, yaitu
kamboja, laos, dan malaysia. Dan juga ditemukan pada beberapa kabupaten di India dan
China. Pada Asia pasifik terdapat di negara Indonesia, Australia, Timor leste dan insidensi
tertinggi pada pulau-pulau kecil di Papua new guinea dan kepulauan Solomon.3,4

Gambar 1. Gambaran distribusi penyakit frambusia di dunia.2


. Prevalensi frambusia secara global menurun drastis setelah dilakukan kampanye
pengobatan dengan penisilin secara masal pada tahun 1950-an dan 1960-an sehingga
menekan peningkatan kasus frambusia sebanyak 95%. WHO menyatakan terdapat 12 negara
yang masih endemis frambusia, yaitu Benin, Kameroon, Republik Afrika Tengah, Republik
Kongo, Cote dlvoire, Ghana, Togo, Indonesia, Papua New Guinea, Kepulauan Solomon, dan
Vanuatu. Sementara India dan Ekuador sudah dinyatakan tidak lagi endemisIndonesia
merupakan salah satu negara yang sudah menjadi bagian dari WHO dalam usaha
menanggulangi frambusia sejak tahun 1950-an yang terus dilanjutkan hingga tahun 2000-an,
namun sangat disayangkan karena tidak membawa hasil yang begitu memuaskan karena
sumber daya. Sekitar tahun 2003 angka kejadian dari kasus frambusia di Indonesia sebanyak
4012, yang ditemukan di daerah Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat,
Sumatera Selatan dan Papua. Dari data yang didapatkan diperkirakan sekitar 75% penderita

penyakit frambusia ini adalah anak-anak usia di bawah 15 tahun dengan insidensi terbanyak
pada anak-anak yang berusia 6-10 tahun, menyerang baik pria maupun wanita dan tidak
dipengaruhi oleh ras tertentu. Beberapa faktor yang mendukung terjadinya penyebaran dari
penyakit ini adalah kepadatan penduduk, higienitas dari setiap orang yang buruk dan fasilitas
sanitasi yang buruk.3

Tabel 1. Prevalensi frambusia di beberapa negara tahun 2008-20123


Etiologi
Penyakit frambusia atau yaws disebabkan oleh Treponema pallidum subspesies
pertenue yang merupakan satu dari empat penyakit treponema yang menyerang manusia.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dari kelompok yang sama dari organisme yang
menyebabkan penyakit sifilis, namun pada frambusia tidak ditularkan secara seksual.
Treponema subspesies pertenue ini ditemukan oleh Castellani pada tahun 1905 yaitu kuman
dengan tampak terlihat tipis, menyerupai pembuka botol berwarna perak dengan galur
melingkar-lingkar, dan bergerak khas dengan gerakan memutar cepat.
Bakteri ini bersifat motil, berukuran 3-18 m dan memiliki 8-20 corkscrew spirals.
Bakteri ini cepat mati karena kekeringan atau panas, kekurangan oksigen dan sulit hidup di
luar host. Keempat treponema patogen secara morfologis dan serologis dibedakan dan
berbagi urutan DNA setidaknya 99% homolog. Sekuensi genom secara keseluruhan
menunjukkan bahwa genom dari Treponema subspesies perteneu hanya berbeda 0,2% dari

subspesies pallidum.2 Treponema subspesies pertenue ini hidup pada keadaan pH antara 7,2
7,4 dengan temperatur suhu 30oC 37oC dan dengan lingkungan yang sedikit oksigen.
Struktur organisme ini memiliki suatu pembungkus glikosaminoglikan yang dapat menjadi
host-derivated dan membran luar yang menutupi 3 flagel untuk motilitasnya. Selain itu
selnya juga kaya akan lipid (kolesterol dan kardiolipin) yang biasanya tidak sering pada
bakteri. Kardiolipin pada treponema ini diduga dapat meningkatkan antibodi wasserman yang
terdiagnosis pada sifilis5
Pada frambusia terdapat hubungan imunologi mengenai kekebalan terhadap bakteri
treponema lainnya. Pada frambusia yang belum diberi pengobatan terdapat kekebalan
terhadap treponema yang sama. Kekebalan ini tidak sempurna sehingga dapat terjadi
reinfeksi dan superinfeksi. Reinfeksi lebih sering terjadi pada kasus yang tidak mendapat
pengobatan, hal ini mempengaruhi terjadinya kekebalan. Penderita yang secara klinis dan
serologik sembuh menunjukkan kekebalan yang parsial terhadap reinokulasi. Ada tanda
terjadinya kekebalan silang antara sifilis dan frambusia. Pada penderita frambusia
menunjukkan kekebalan yang parsial terhadap sifilis, tetapi pada penderita sifilis akan sukar
ditulari T.pertenue karena mempunyai kekebalan yang lengkap.1
Histopatologi
Treponema sering mengenai epidermis. Pada stadium I terdapat akantosis dan
papilomatosis, pada epidermis menunjukkan edema dan eksositosis neutrofil sehingga terjadi
mikroabses. Pada dermis terdapat infiltrat yang padat terdiri atas sel plasma, neutrofil ,
limfosit, eosinofil, histiosit, dan fibroblas. Tidak ada kelainan pada pembuluh darah (pada
sifilis justru ada).1
Manifestasi klinis
Treponema perteneu akan masuk ke tubuh penderia melalui lesi pada kulit. Pada fase
awal dan primer penyakit ini menular, namun sudah tidak pada stadium lanjut. Masa inkubasi
penyakit frambusia berkisar antara 9-90 hari.4 Lesi awal frambusia berbentuk papiloma,
papiloma serpiginosa, ulserpapilomata, makula skuamosa, makulopapul, nodul, plak
hiperkeratosis telapak tangan dan telapak kaki, lesi tulang dan sendi, dan dapat terjadi
limfadenopati general. Lesi pada stadium lanjut berupa hiperkeratosis, scar nodular, gangosa,
tibia pedang, goundou, monodaktil, nodul juxta-artikular.6 Penyakit ini dibagi menjadi 3
stadium.

Stadium I
Umumnya pada tungkai bawah, tempat yang mudah mendapat trauma. Masa tunas
berkisar antara 3 6 minggu. Kelainan mulai sebagai papul yang eritematosa,
semakin membesar dan menjadi ulkus dengan dasar papilomatosa. Jaringan
granulasinya banyak mengeluarkan serum bercampur darah yang banyak mengandung
treponema. Serum mengering menjadi krusta berwarna kuning-hijau. Terjadi
pembesaran kelenjar limfe regional, berkonsistensi keras dan tidak nyeri. Pada
stadium I, frambusia dapat menetap selama beberapa bulan kemudian sembuh sendiri
meninggalkan sikatriks yang cekung dan atrofik.1

Gambar 2. Lesi primer frambusia2

Stadium II
Timbul setelah stadium I sembuh atau lebih sering terjadi tumpang tindih
(overlapping). Erupsi generalisata terjadi pada 3 12 bulan setelah penyakit
berlangsung. Kelainannya berkelompok, tempat predileksi di sekeliling lubang badan,
muka, dan lipatan-lipatan. Biasanya pada fase ini terjadi juga gejala konstitusi seperti
demam, malaise, anorexia. Lesi sekunder berupa kemerahan, basah (eksudat dan
transudat), seperti kutil, berkrusta, papul dan plak yang tidak gatal mirip dengan lesi
primer tetapi ukurannya lebih kecil (mencapai 2 cm). Lesi terus membesar dan
akhirnya pecah dan ditutupi oleh eksudat fibrin yang sangat infeksius sehingga
membuat penderita semakin tidak nyaman. Dapat berkembang menjadi pianic onchya
(paronychia)

Gambar 3. Lesi Ulseratif pada frambusia6


Stadium lanjut
Stadium lanjut terjadi pada 10% kasus, biasanya terjadi 5-10 tahun setelah onset
pertama penyakit. Pada stadium lanjut, menyerang kulit, tulang, dan persendian,
sifatnya dekstruktif. Terdiri atas nodus, guma, keratoderma pada telapak kaki dan
tangan, gangosa, dan goundou. Saat fase laten, lesi pada kulit dapat relaps setelah 5
tahun setelah infeksi. Hyperkeratosis palmoplantar dapat menyebabkan keratoderma.
Limfadenopati juxta-articular dapat terjadi pada siku dan lutut, Selanjutnya akan
terjadi perubahan pada skeletal tahap akhir berupa periostitis hipertrofi, hidrartosis,
osteoitis gumatosa, dan osteomielitis
Nodus dapat melunak, pecah menjadi ulkus; dapat sembuh di tengah dan

meluas ke perifer.
Guma umumnya terdapat pada tungkai. Mulai dengan nodus yang tidak nyeri,
keras, dapat digerakkan terhadap dasarnya, kemudian melunak; memecah dan
meninggalkan ulkus yang curam (punched out), dapat menembus sampai ke
tulang atau sendi dan mengakibatkan ankilosis dan deformitas. Nodulus guma
yang terdapat pada kutan maupun subkutan akan mengalami nekrosis sentral
dan ulkus dan akan menyebabkan lesi lebih dalam dan terjadi mutilasi

(gumma frambosiodes)
Goundou : Osteoitis hipertrofi bilateral pada prosesus nasalis pada maksila
dengan Eksositosis tulang hidung dan di sekitarnya, pada sebelah kanan dan
kiri batang hidung menjadi membesar.

Gangosa : Mutilasi pada fosa nasalis, palatim mole hingga membentuk lubang

dan suaranya khas menjadi sengau.


Kelainan tulang berupa periostitis dan osteitis pada ulna,, tibia, metatarsal, dan
metakarpal. Tibia berbentuk seperti pedang dan fraktur spontan dapat terjadi
bila terbentuk kista di tulang

Gambar 4. Tibia yang berbentuk pedang dan keratoderma4,6

REFERENSI
1. Natahusada EC. Frambusia dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed 5. Jakarta :
Fakultas kedokteran universitas Indonesia. 2010
2. Marks M, Mitja O, Solomon AW, Asiedu KB, Mabey DC. Yaws. British Medical
Bulletin, 2014, h1-10
3. Kazadi WM, Asiedu KB, Agana N, Mitja O. Epidemiology of yaws : an update.
Clinical epidemiology 2014:6. h119-28
4. Sanchez M.R. Endemic (Non-veneral) Treponematoses in Fitzpatricks Dermatology
in General Medicine, ed 7.2008.h1977-8
5. Jawetz, Melnick, & Adelbergs Medical Microbiology. Ed 24. McGraw-Hill company.
2007
6. Amin Robed, Sattar A, Basher A, Faiz M. Eradication of yaws.J Clin Med Res.2010
vol 2(3). h49-54.