Anda di halaman 1dari 20

Jurnal

Suara serak karena kelainan jantung: 2 kasus sindrom cardiovocal.

Khairullah Anwar, MBChB., Marina Mat Baki, MD., et al


Philippine Journal Of Otolaryngology- Head and Neck Surgery. Vol.26 No.2
July-December 2011.

Pembimbing:
Dr. Maria Kwarditawati Sp.THT
Disadur oleh:
Emilia Puspita Sari
092011101029

ABSTRAK
Obyektif: dua kasus sindrom cardiovocal (Ortners syndrome)
karena kelainan jantung

Metode:
Desain: laporan kasus
Tempat: rumah sakit Universitas Tertiary
Subjek: dua

Hasil: Dua pasien dengan sindrom Cardiovocal (aneurisma aorta


saccular dan stenosis mitral yang berat) operasi. Setelah
operasi suara serak menghilang pada pasien stenosis mitral
dan bertahan pada aneurisma saccular.

Kesimpulan: penyakit jantung didiagnosis banding pada


pasien dengan suara serak. kecurigaan yang tinggi
diperlukan untuk membuat diagnosis dini.
Suara serak karena kerusakan nervus laringeus rekurren
kelainan jantung sindrom cardiovocal atau (Ortners
syndrome ).
Pertama kali dijelaskan pada tahun 1897 oleh Nobert
Ortner, seorang peneliti dari Austria dengan prevalensi
tinggi (0,6-5 %) pada pasien stenosis mitral. Sembuh jika
dideteksi dini dan etiologi jantung yang mendasari diobati.
Kami melaporkan dua kasus sindrom : satu karena
aneurisma aorta saccular dan yang lain karena stenosis
mitral yang berat.

KASUS 1
identitas

Pemeriksaan

Pemeriksaan

hasil

KASUS 2
Identitas

Pemeriksaan

Pemeriksaan

Pemeriksaan

Diagnosi

Pembahasan
Sindrom Cardiovocal kerusakan nervus laringeus
rekuren
kiri karena peregangan atau akibat
penyakit jantung atau aorta.
Ortner: akibat dilatasi atrium kiri pada stenosis
mitral
Penulis yang lain: aneurisma aorta, patent ductus
arteriosus, hipertensi paru primer, kelainan pada
septum atrium dan ventrikel, Eisenmengers
syndrome dan emboli paru.

Anatomi
Nervus Laringeus rekuren
Kanan

Arteri subklavia
kanan

Kiri

Arkus aorta

Trakea dan esofagus

Kompresi,
traksi, erosi
karena
dilatasi ruang
jantung,
dilatasi arteri
paru dan
dilatasi aorta

Insiden sindrom cardiovocal pada stenosis


mitral berkisar 0,6-5%.
De Bakey et al. melaporkan bahwa 8,6%
pasiennya mengeluhkan suara serak
karena peregangan atau kompresi nervus
laringeus rekuren,
Leonetti melaporkan bahwa 8 dari 168
pasien (4,8%) aneurisma aorta toraks
(TAA) mengeluh suara serak.

Prognosis tergantung dari terapi etiologi, Jika


terdeteksi awal reversibel.
Kedua pasien dilakukan pembedahan.
Pasien stenosis mitral
dilakukan pembedahan.

membaik

setelah

Terapi pembedahan awal pada aneurisma yang


simtomatik maupun asimtomatik dianjurkan
untuk
mengurangi
komplikasi
seperti
thrombosis, pecah, diseksi atau emboli perifer.

Terapi kelumpuhan plica vokalis unilateral ( UVCP


) tergantung tingkat kelumpuhan, dan kompensasi
dari sisi yang sehat.
Rehabilitasi dini sangat penting. jika
menunjukkan peningkatan yang cukup
terapi bicara seperti yang ditunjukkan
kasus kedua tidak perlu terapi
tambahan.

pasien
selama
dalam
bedah

Pengobatan definitif dipertimbangkan jika


aspirasi sangat berat atau jika tidak ada
perbaikan, alasan pekerjaan atau karena alasan
sosial.

Studi
menemukan
bahwa
UVCP
meningkatkan risiko aspirasi karena
rusaknya mekanisme perlindungan jalan
napas seperti elevasi laring, kemiringan
epiglottis, penutupan kedua plica vokalis
dan plica vestibularis dan batuk efektif.
Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa
40% pasien dengan UVCP memiliki gejala
aspirasi dan 50% memiliki penetrasi
aspirasi laring.

Berbagai kemungkinan pilihan operasi untuk


paralisis
plika
vokalis.
Pilihannya
dari
thyroplasty sampai injeksi tambahan atau
injeksi laryngoplasty.
Sindrom cardiovocal jarang tetapi lebih sering
pada aneurisma dan stenosis mitral. Kecurigaan
yang tinggi diperlukan untuk diagnosis dini.
kembali secara spontan karena kembalinya
fungsi plica vokalis, sering tanpa membutuhkan
terapi tambahan yang invasive.

Terima kasih