Anda di halaman 1dari 7

1

HEARING LOSS/ KETULIAN


Definisi
Hearing loss/ ketulian adalah ketidakmampuan secara parsial atau total untuk
mendengarkan suara pada salah satu atau kedua telinga
[13]
.

Anatomi Telinga


Fisiologi Pendengaran
Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang diteruskan ke liang telinga
dan menggerakkan membran timpani. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang
pendengaran (maleus, inkus, stapes) yang saling berhubungan. Selanjutnya stapes
menggerakkan tingkap lonjong yang menggerakkan perilimfe pada skala vestibuli.
Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang mendorong endolimfe,
menimbulkan gerak relatif antara membran basalis dan membran tektoria. Pada
waktu istirahat, ujung sel rambut Corti berkelok, dan dengan terdorongnya membran
basal, terjadi defleksi stereosilia sel-sel rambut. Rangsangan fisik ini menimbulkan
penglepasan ion bermuatan listrik. Kemudian terjadi depolarisasi sel rambut yang
akan melepasakan neurotrasmiter dan menuju saraf auditorius. Penginterpretasian
suara diolah di korteks pendengaran (Area 39-40) di lobus temporalis
[2][11]
.


2

Klasifikasi Gangguan Pendengaran
1. Tuli konduktif (Conductive Hearing Loss) adalah gangguan pada mekanisme
konduksi telinga luar dan telinga tengah. Bagian yang terkena antara lain meatus
akustikus eksterna, membran timpani, tulang pendengaran, dan kavum timpani
hingga tingkap lonjong
2. Tuli sensorineural (Sensorineural Hearing Loss) disebabkan karena kerusakan
kelainan pada labirin, N VIII atau di pusat pendengaran.
3. Tuli campuran (Mixed Hearing Loss) disebabkan bila tuli konduksi dan
sensorineural terjadi bersamaan
[1]
.

Pemeriksaan Pendengaran
Fungsi pendengaran pada bayi dan anak harus diketahui sedini mungkin,
sebab gangguan pendengaran akan mempengaruhi kemampuan berbicara dan
berbahasa. Beberapa pemeriksaan pendengaran yang dapat dilakukan pada bayi
dan anak antara lain Behavioral Observation Audiometry (BOA), timpanometri,
audiometri bermain (play audimetry), Oto Acoustic Emission (OAE), Brainsteam
Evoked Response Audiometry (BERA)
[2][4]
.
Pemeriksaan pendengaran pada pada orang dewasa dilakukan secara
kualitatif dengan menggunakan garpu tala dan kuantitatif dengan
menggunakan audiometer
1. Tes penala
Tes Rinne ialah tes untuk membandingkan hantaran udara (AC) dan
hantaran tulang (BC) pada telinga yang diperiksa. Tes Weber ialah tes untuk
membandingkan hantaran tulang telinga kiri dengan telinga kanan penderita. Tes
Schwabah ialah tes untuk membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa
dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. Tes Bing (Oklusi), menutup
telinga yang diperiksa dengan menekan tragus kemudian penala diletakkan di
pertengahan kepala (seperti Tes Weber). Bila terjadi lateralisasi ke telinga yang
3

ditutup berarti normal. Tes Stenger, digunakan pada pemeriksaan tuli anorganik
(simulasi atau pura-pura tuli)
2. Tes berbisik, bersifat semi-kuantitatif, untuk menentukan derajat ketulian
secara kasar. Dilakukan di ruangan yang tenang dengan panjang minimal 6 meter.
Pada nilai normal tes berbisik 5/6-6/6.
3. Audiometri nada murni dan audiometri tutur (speech audiometric )
[2][9]
.

Tabel Perbedaan Tuli Konduksi (CHL) dan Tuli Sensorineural (SNHL)
[1]

No. Tuli Konduktif (CHL) Neurosensoris (SNHL)
1 Letak lesi Telinga luar dan tengah Telinga dalam,N.VIII
2 Tes Rinne BC lebih baik dari AC AC lebih baik dari BC
3 Tes Weber Lateralisasi ke telinga sakit Lateralisasi ke telinga sehat
4 Tes Schwabach Memanjang Memendek
5 Audiometri nada murni BC threshold normal, AC
threshold meningkat
BC dan AC threshold
meningkat
6 Hearing loss Tidak lebih dari 60dB Lebih dari 60 dB
7 Speech Bicara dengan suara pelan Bicara dengan suara keras
8 Speech discrimination Baik Buruk
9 Recruitment Tidak ada Ada pada tuli retrokoklear

Pada makalah ini akan dibahas mengenai beberapa jenis ketulian antara lain
ketulian pada bayi, tuli mendadak, gangguan pendengaran akibat bising (NIHL),
gangguan pendengaran akibat obat ototoksik, gangguan pendengaran pada geriatri.
1. Ketulian pada bayi
Perkembangan auditorik pada manusia sangat erat hubungannya dengan
perkembangan otak. Perkembangan auditorik pranatal tekalah diteliti berdasarkan
dari fungsi koklea yang mulai berkembang saat usia gestasi 20 minggu. Pada masa
tersebut janin dalam kandungan telah dapat memberikan respon terhadap suara yang
4

ada disekitarnya. Bersamaan dengan proses maturasi fungsi auditorik, berlangsung
pula perkembangan kemampuan bicara. Kemahiran wicara dan berbahasa pada
seseorang hanya dapat tercapai bila input sensorik (auditorik) dan motorik dalam
keadaan normal
[14]
.
Penyebab gangguan pendengaran pada bayi dan anak dibedakan berdasarkan
saat terjadinya gangguan pendengaran yaitu pada masa prenatal, perinatal, dan
postnatal. Periode prenatal dapat disebabkan oleh faktor genetic dan non genetik,
terutama penyakit-penyakit yang diderita ibu pada kehamilan trimester pertama
(minggu ke 6 s/d 12) yaitu pada saat pembentukan organ telinga pada fetus. Penyakit-
penyakit itu seperti rubela, morbili, diabetes melitus, nefritis,toksemia dan penyakit-
penyakit virus yang lain. Obat-obat yang dipergunakan waktu ibu mengandung
seperti salisilat, kinin, talidomid, streptomisin dan obat-obat untuk menggugurkan
kandungan
[14]
.
Pada periode perinatal penyebab ketulian disini terjadi diwaktu ibu sedang
melahirkan. Misalnya trauma kelahiran dengan memakai forceps, vakum ekstraktor,
letak-letak bayi yang tak normal, partus lama. Juga pada ibu yang mengalami
toksemia gravidarum. Sebab yang lain ialah prematuritas, berat lahir rendah,
hiperbilirubinemia, dan asfiksia. Pada periode postnatal dapat disebabkan oleh
infeksi. Penyakit-penyakit infeksi pada otak misalnya meningitis dan ensefalitis.
Penyakit-penyakit infeksi yang lain seperti morbilli, varisela, parotitis (mumps),
influenza, dan demam tifoid
[14]
.

2. Tuli Mendadak
Tuli mendadak atau sudden deafness atau sudden sensorineural hearing loss
(SSNHL) adalah kehilangan pendengaran sensorineural yang lebih dari 30 dB pada 3
frekuensi berturut turut dalam onset 3 hari, sering unilateral dan bersifat idiopatik.
Tuli mendadak mempunyai tiga karakteristik yaitu bersifat akut, tuli sensorineural
dan etiologi tidak diketahui, kemungkinan penyebab SNHL antara lain iskemik
5

koklea, infeksi virus, trauma kepala, trauma bising yang keras, perubahan tekanan
atmosfir, autoimun, obat ototoksik, penyakit Meniere, dan neuroma akustik..
Karakteristik yang lain berupa vertigo, tinitus dan tidak adanya keterlibatan saraf
kranialis. Penatalaksanaan tuli mendadak meliputi tirah baring selama 2 minggu, obat
vasodilator injeksi maupun oral, prednison 4x10mg, vitamin C, E, B1, B6, B12,
inhalasi oksigen 4x15 menit (2liter/menit), diet rendah garam dan rendah kolesterol
[6]
.

3. Gangguan Pendengaran Akibat Bising ( Noise I nduced Hearing Loss)
Gangguan pendengaran akibat bising (noise induced hearing loss / NIHL )
adalah tuli akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang
cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja, mendengarkan
musik keras, tempat hiburan, contohnya timezone yang intensitas bunyinya sebesar
90-97 dB, sehingga kita tidak boleh lebih dari satu jam disana. Sifat ketuliannya
adalah tuli saraf koklea dan biasanya bilateral. Hal yang mempermudah timbulnya
NIHL antara lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekwensi tinggi, lebih lama
terpapar bising, kepekaan individu dan faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian.
Pada NIHL tinitus sering muncul. Kerusakan pada sel rambut pada koklea bersifat
ireversibel. Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan earplugs, earmuf dan
melakukan screening audiometrik secara periodik
[7][11][12].

Batas pajanan bising yang sesuai keputusan Menteri Tenaga Kerja 1999
[7]

Lama pajan/hari Intensitas dalam dB
Jam 24 80
16 82
8 85
4 88
2 91
1 94
* Setiap kenaik 3 dB lama pajan berkurang separuh dari intensital awal
* Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dB, walau sesaat
6

4. Gangguan Pendengaran Akibat Obat Ototoksik (Ototoxicity)
Ototoxicity adalah kerusakan akibat toksik dari efek obat yang mengenai
koklea atau vestibular atau keduanya pada telinga dalam. Obat ototoksik antara lain
antibiotik aminoglikosida, kokleotoksik: neomycin, kanamycin, tobramycin;
vestibulotoksik: streptomycin, gentamycin; diuretik: furosemid, ethacrynic acid;
salisilat; cytotoxic agents: nitrogen mustard, cisplatinum; antiprotozoa: quinine;
antiepilepsi: fenitoin; beta bloker: propanolol. Gejala pada ototoxicity sering timbul
tinitus nada tinggi berkisar antara 4 KHz sampai 6 KHz, gangguan pendengaran, dan
vertigo. Penatalaksanaan pada ototoxicity dapat dilakukan dengan menghentikan
penggunaan obat . Berat ringannya ketulian tergantung kepada jenis obat, jumlah dan
lamanya pengobatan. Penatalaksanaan dapat dilakukan rehabilitasi antara lain dengan
alat bantu dengar (ABD), psikoterapi, auditory training, bila tuli total bilateral dapat
dipertimbangkan pemasangan implan koklea
[1][8].

5. Gangguan Pendengaran Pada Geriatri
Perubahan patologik pada organ auditori akibat proses degenerasi pada
usia lanjut dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Jenis ketulian yang umumnya
terjadi adalah tuli sensorineural (SNHL), namun dapat juga tuli konduktif (CHL) atau
tuli campur
[5]
.
Tuli konduktif (CHL) pada geriatri dipengaruhi oleh degenerasi pada
telinga luar dan tengah, terjadi perubahan berkurangnya elastisitas dan bertambah
besarnya ukuran pinna daun telinga, atrofi dan bertambah kakunya liang telinga,
penumpukan serumen, membran timpani bertambah tebal dan kaku, kekakuan sendi
tulang-tulang pendengaran. Pada usia lanjut kelenjar-kelenjar serumen mengalami
atrofi, sehingga produksi kelenjar serumen berkurang menyebabkan serumen lebih
kering, sehingga sering terjadi serumen prop yang mengakibatkan tuli konduktif
[2]
.
Presbikusis adalah tuli sensorineural (SNHL) frekuensi tinggi, umumnya
terjadi mulai usia 65 tahun, bersifat bilateral. Presbikusis dapat mulai pada frekuensi
7

1000 Hz atau lebih. Proses degenerasi menyebabkan perubahan struktur koklea dan N
VIII. Pada koklea terjadi atrofi dan degenerasi sel-sel rambut penunjang pada organ
Corti, perubahan vaskular pada stria vaskularis. Ukuran sel-sel ganglion dan saraf
jumlahnya berkurang. Keluhan utama presbikusis berupa berkurangnya pendengaran
secara perlahan dan progresif, simetris pada kedua telinga. Keluhan lainnya adalah
tinitus nada tinggi, cocktail party deafness (sulit memahami percakapan di tempat
ramai). Timbul rasa nyeri bila intensitas suara ditinggikan karena kelelahan saraf
(recruitment) Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan pemasangan alat bantu dengar
vasodilator dan vitamin dapat diberikan, serta pemasangan koklear implan
[5].