Anda di halaman 1dari 4

RUMUSAN RESEP

1. BERDASARKAN BERAT BADAN


- Clark's rule
Dosis Anak = Berat Badan (lb) x Dosis Dewasa
150
berat badan bukan dalam kg, tapi lb dimana 1kg=2,2lb
2. BERDASARKAN UMUR
- Young's rule
Dosis Anak = Umur (tahun) x Dosis Dewasa
Umur +12
- Cowling's rule
Dosis Anak = (Umur (tahun) + 1) x Dosis Dewasa
24
- Friend's rule
Dosis Anak = 2xUmur (tahun) x Dosis Dewasa
25
- Fried's rule (untuk bayi)
Dosis Anak = Umur (bulan) x Dosis Dewasa
150
3. BERDASARKAN LUAS PERMUKAAN TUBUH (BODY SURFACE AREA)
- Rumus menghitung BSA
Mosteller BSA = akar kuadrat dari tinggi badan (cm) x berat badan (kg)
3600
Dosis Anak= Mosteller BSA x Dosis Dewasa
1,73

DOSIS UNTUK ANAK


PERHITUNGAN DOSIS

Umumnya dosis untuk anak-anak diukur berdasarkan berat badan (karena itu dibutuhkan
perkalian dengan berat badan dalam kilogram untuk menentukan dosis anak); kadang dosis
ditentukan berdasarkan luas permukaan tubuh (dalam m2). Metoda di atas lebih baik digunakan
dibandingkan dengan menghitung dosis untuk anak berdasarkan dosis yang digunakan untuk
orang dewasa.

Pada umumnya dosis tersebut tidak boleh melebihi dosis maksimum orang dewasa. Misalnya:
jika dosis ditentukan 8 mg/kg (maksimum 300 mg), seorang anak dengan berat 10 kg, dosis yang
diberikan 80 mg, tetapi jika berat anak 40 kg dosis yang diberikan 300 mg (bukan 320 mg).
Anak mungkin memerlukan dosis per kilogram yang lebih besar dibandingkan dengan orang
dewasa karena kecepatan metabolismenya lebih tinggi. Beberapa masalah yang perlu
dipertimbangkan antara
lain, anak yang gemuk akan mendapat dosis yang terlalu besar, untuk itu dosis harus
diperhitungkan berdasarkan berat ideal dan dikaitkan dengan tinggi badan dan umur.
Penghitungan berdasarkan luas permukaan tubuh lebih akurat dibandingkan dengan berat badan
karena fenomena fisiologis tubuh lebih dekat berhubungan dengan luas permukaan tubuh. Ratarata luas permukaan tubuh pada orang dewasa dengan berat badan 70 kg adalah 1,8 m2. Untuk
anak-anak rumus yang bisa digunakan adalah:

Luas permukaan tubuh pasien (m2) x dosis dewasa

TOPIKAL APLIKASI FLUORIDA


Penggunaan Fluor Secara Topikal Menurut Angela (2005), tujuan penggunaan fluor
adalah untuk melindungi gigi dari karies, fluor bekerja dengan cara menghambat metabolisme
bakteri plak yang dapat memfermentasi karbohidrat melalui perubahan hidroksil apatit pada
enamel menjadi fluor apatit yang lebih stabil dan lebih tahan terhadap pelarutan asam. Reaksi
kimia : Ca10(PO4)6(OH)2+F Ca10(PO4)6(OHF) menghasilkan enamel yang lebih tahan
asam sehingga dapat menghambat proses demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi.
Remineralisasi adalah proses perbaikan kristal hidroksiapatit dengan cara penempatan
mineral anorganik pada permukaan gigi yang telah kehilangan mineral tersebut (Kidd dan
Bechal, 1991).
Demineralisasi adalah proses pelarutan kristal hidroksiapatit email gigi, yang terutama
disusun oleh mineral anorganik yaitu kalsium dan fosfat, karena penurunan pH plak sampai
mencapai pH kritis (pH 5) oleh bakteri yang menghasilkan asam (Rosen, 1991; Wolinsky, 1994).
Penggunaan fluor sebagai bahan topikal aplikasi telah dilakukan sejak lama dan telah
terbukti menghambat pembentukan asam dan pertumbuhan mikroorganisme sehingga
menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam mempertahankan permukaan gigi dari proses
karies. Penggunaan fluor secara topikal untuk gigi yang sudah erupsi, dilakukan dengan beberapa
cara (Yanti, 2002):
1. Topikal aplikasi yang mengandung fluor
2. Kumur-kumur dengan larutan yang mengandung fluor
3. Menyikat gigi dengan pasta yang mengandung fluor
Topikal Aplikasi Yang dimaksud dengan topikal aplikasi fluor adalah pengolesan
langsung fluor pada enamel. Setelah gigi dioleskan fluor lalu dibiarkan kering selama 5 menit,
dan selama 1 jam tidak boleh makan, minum atau berkumur (Lubis, 2001).