Anda di halaman 1dari 3

Pengeringan adalah pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair dari bahan sehingga

mengurangi kandungan/sisa cairan di dalam zat padat itu sampai suatu nilai yang dikehendaki.
Pengeringan hamparan terfluidisasi (Fluidized Bed Drying) adalah proses pengeringan dengan
memanfaatkan aliran udara panas dengan kecepatan tertentu yang dilewatkan menembus
hamparan bahan sehingga hamparan bahan tersebut memiliki sifat seperti fluida. Metode
pengeringan fluidisasi digunakan untuk mempercepat proses pengeringan dan mempertahankan
mutu bahan kering. Pengeringan ini banyak digunakan untuk pengeringan bahan berbentuk
partikel atau butiran, baik untuk industri kimia, pangan, keramik, farmasi, pertanian, polimer dan
limbah. Proses pengeringan dipercepat dengan cara meningkatkan kecepatan aliran udara panas
sampai bahan terfluidisasi. Dalam kondisi ini terjadi penghembusan bahan sehingga
memperbesar luas kontak pengeringan, peningkatan koefisien perpindahan kalor konveksi, dan
peningkatan laju difusi uap air.
Pada praktikum ini bahan yang digunakan dalam proses pengeringan adalah ketumbar.
Percobaan dilakukan sebanyak tiga kali RUN, setaip RUN masing-masing dilakukan selama 50
menit dan dilakukan pengambilan data setiap 5 menit sekali. Data yang diambil antara lain
temperature proses, temperature bola basah (Tw), temperature bola kering (Td), tinggi unggun
dan laju untuk aliran masuk dan keluar. Pada RUN pertama dan kedua ketumbar yang digunakan
adalah sebanyak 0.5 kg, hanya saja pada RUN pertama tidak dilakukan pemanasan (cooling)
sedangkan untuk RUN kedua dilakukan pemanasan (heating), sedangkan untuk RUN ketiga
ketumbar yang digunakan adalah sebanyak 0.4 kg dengan proses pemanasan (heating). Hal ini
dilakukan untuk melihat pengaruh massa bahan yang dikeringkan terhadap efisiensi pengeringan.
Langkah pertama yang dilakukan adalah membasahi ketumbar yang sudah ditimbang
dengan cara memercikan air. Selanjutnya ketumbar yang sudah mengandung air ditimbang
kembali untuk mengetahui massa air yang ditambahkan.
Untuk RUN pertama dilakukan fluidisasi dengan proses cooling, sehingga aliran steam
tidak dinyalakan. Pada proses ini massa ketumbar yang sudah diberi air adalah 0.68 kg.
Temperature proses udara masuk rata-rata sebesar 28.34C. pada akhir proses massa ketumbar
menjadi 0.53 kg. sehingga jika dibandingkan dengan massa ketumbar awal sebelum diberi air,
masih terdapat kandungan air sebesar 0.03 kg pada ketumbar yang sudah melalui proses

fluidisasi. Hal ini terjadi karena tidak dilakukan proses pemanasan sehingga masih terdapat air
pada ketumbar tersebut.
Pada RUN kedua dilakukan fluidisasi dengan proses heating, pada proses ini sebelum
udara kering dialirkan menuju ruang fluidized bed dryer terlebih dahulu dikontakkan dengan
steam dengan tekanan 2 bar. pada proses ini massa ketumbar yang sudah diberi air adalah 0.66
kg. Temperature proses udara masuk rata-rata sebesar 53.34C. pada akhir proses massa
ketumbar menjadi 0.42 kg, lebih kecil dibandingkan dengan massa ketumbar sebelum diberi air.
Hal ini terjadi karena pada saat RUN pertama terjadi kesalahan pengerjaan. Ketumbar yang telah
diberi air tumpah sehingga menggunakan ketumbar yang baru. Sedangkan untuk RUN kedua
digunakan ketumbar yang telah tumpah tadi. Sehingga pada RUN kedua anggapan ketumbar
awal sebelum diberikan air adalah ketumbar yang tumpah tadi sehingga sebenarnya pada massa
ketumbar awal (500 kg) sudah mengandung air.
Pada RUN ketiga dilakukan fluidisasi dengan proses heating. Pada RUN ketiga ini
mekanisme pengerjaannya sama dengan RUN kedua yaitu udara kering terlebih dahulu
dikontakkan dengan steam bertekanan 2 bar. Massa ketumbar yang sudah diberi air adalah 0.52
kg. Temperature proses udara masuk rata-rata adalah sebesar 53.19C. pada akhir proses massa
ketumbar menjadi 0.38 kg. dapat terlihat bahwa massa ketumbar setelah proses pengeringan
kurang dari massa ketumbar awal (0.4 kg). Hal ini dapat disebabkan karena ketumbar awal
mengandung sedikit air sehingga air tersebut ikut teruapkan.
Dari hasil pengolahan data didapatkan data:

RUN 1
RUN 2
RUN 3

Unggun
(%)
19,9
3,15
12,1

Neraca Energi
(%)
47,65
95,23

Dari data tersebut dapat terlihat bahwa efisiensi unggun tertinggi adalah pada RUN
pertama. Padahal pada RUN pertama tidak dilakukan proses pemanasan. Seharusnya efisiensi
unggun akan semakin besar jika dilakukan pemansan. Sedangkan pengaruh massa (banyaknya

bahan yang dikeringkan) terhadap efisiensi unggun dan efisiensi energi adalah semakin sedikit
bahan yang dikeringkan maka efisiensi unggun dan energy akan semakin besar.

PUSTAKA
Rahayu, Tri. 2012. Teknik Pengeringan dengan Fluidized Bed Dryer.
http://tsffarmasiunsoed2012.wordpress.com/2012/05/22/teknikpengeringan-dengan-fluidized-bed-dryer/. Diakses tanggal 6
November 2014