Anda di halaman 1dari 48

ALAT DAN KAPAL PENANGKAP IKAN

MODUL PRAKTIKUM

TIM PENYUSUN

LABORATORIUM TEKNOLOGI MENEJEMEN ILMU PENANGKAPAN


UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JATINANGOR
2014

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

DAFTAR ISI
Daftar Isi

.................................................................................. ii

Daftar Gambar

.................................................................................. iii

BAB I
1.1.

Deskripsi Mata Kuliah .................................................................

I-1

1.2.

Deskripsi Praktikum Mata Kuliah................................................

I-1

1.3.

Kompetensi Praktikum Mata Kuliah............................................

I-2

1.4.

Materi Praktikum..........................................................................

I-2

1.5.

Penilaian Hasil Praktikum............................................................. I-2

1.6.

Tata Tertib Praktikum...................................................................

I-2

2.1.

Pengenalan Alat dan Kapal Penangkapan Ikan............................

II-1

2.2.

Kapal Penangkap Ikan..................................................................

II-2

2.3.

Bahan Pembuat Jaring..................................................................

II-16

2.4.

Simpul........................................................................................... II-19

2.5.

Mata Jaring/ Mesh Size................................................................

II-20

2.6.

Mata Pancing................................................................................

II-21

2.7.

Pelampung dan Pemberat.............................................................

II-31

BAB II

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

DAFTAR GAMBAR
No

Judul

Halaman

Bagian-bagian Kapal...................................................................

II-7

Panjang Kapal..............................................................................

II-9

Lebar Kapal.................................................................................

II-10

Purse Winch.................................................................................

II-12

Power Block.................................................................................

II-12

Line Hauler..................................................................................

II-13

Branch Winder.............................................................................

II-13

Line Arranger...............................................................................

II-13

Trawl Winch................................................................................

II-14

10

Boom Samping............................................................................

II-14

11

Monofilament dengan Continuous Filament (1); Monofilament

II-16

12

Netting Twine or Folded Yarn.....................................................

II-17

13

Arah Pilinan.................................................................................

II-18

14

Struktur Benang Anyam..............................................................

II-19

15

Bagian-bagian Mata Pancing.......................................................

II-23

16

Point.............................................................................................

II-24

17

Shank............................................................................................

II-25

18

Sabiki Hook.................................................................................

II-26

19

Model-model Single Hook...........................................................

II-27

20

Treble Hook.................................................................................

II-28

21

Double Hook................................................................................

II-28

22

Mata Oshsughenssy....................................................................

II-29

23

Mata Big Game............................................................................

II-29

24

Circle Hook..................................................................................

II-30

25

Bentuk-bentuk Mata Pancing.......................................................

II-29

26

Penomoran Mata Pancing............................................................

II-31

27

Bentuk-bentuk Pemberat..............................................................

II-36

ii

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah alat dan kapal penangkapan ikan merupakan dasar dari
rangkaian mata kuliah perikanan tangkap yang dipelajari di Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. Dalam pembelajarannya sendiri,
kegiatan perikanan tangkap tidak lepas dari kapal yang digunakan untuk
menangkap ikan beserta dengan jenis alat tangkap yang dipergunakan.
Kapal penangkap ikan adalah kapal yang secara khusus dipergunakan
untuk menangkap ikan, termasuk menampung dan mengangkut, menyimpan,
mendinginkan atau mengawetkan. Spesifikasi kapal penangkap ikan disesuaikan
dengan jenis alat yang digunakan, ikan target (contoh: kecepatan renang ikan),
serta kondisi alam dari daerah penangkapan ikan.
Alat penangkap ikan merupakan suatu alat yang di desain khusus untuk
menangkap ikan yang disesuaikan dengan karakteristik ikan target tangkapan,
kondisi perairan serta regulasi alat tangkap yang diperbolehkan. Secara global,
materi alat tangkap menjelaskan tentang jenis-jenis alat tangkap ikan yang
dipergunakan. Secara spesifik, materi alat tangkap menjelaskan tentang bahan
pembuat alat tangkap, mesh size/mata jaring hingga penggunaan pemberat dan
pelampung pada alat tangkap.
1.2.Deskripsi Praktikum Mata Kuliah
Praktikum mata kuliah alat dan kapal penangkap ikan menitikberatkan
pada pengenalan jenis-jenis alat tangkap dan kapal penangkap ikan melalui
miniatur alat dan kapal penangkap ikan yang ada di laboratorium. Dilanjutkan
dengan pembelajaran mengenai konstruksi alat tangkap yang diawali dari
pembelajaran bahan benang yang digunakan, pengukuran mesh size, struktur mata
pancing, serta perhitungan pemberat dan pelampung pada alat tangkap.

I-1

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

1.3.Kompetensi Praktikum Mata Kuliah


Dari kegiatan praktikum yang dilakukan, praktikan diharapkan mampu
mengenali jenis-jenis alat penangkap ikan serta karakteristik alat penangkap ikan
tersebut serta praktikan diharapkan mengetahui secara garis besar konstruksi dari
kapal penangkapan ikan.
1.4.Materi Praktikum
Materi praktikum terbagi atas beberapa bagian, yaitu:
-

Pengenalan alat dan kapal penangkap ikan

Menggambar konstruksi kapal

Pengenalan bahan dan perhitungan konstruksi alat penangkap ikan

1.5.Penilaian Hasil Belajar (Praktikum)


Bobot penilaian praktikum adalah 20%. Penilaian hasil praktikum
berdasarkan pada beberapa indikator yang ditetapkan, yaitu:
-

Absensi praktikan

Keaktifan praktikan dalam pelaksanaan praktikum

Laporan praktikum, baik modul praktikum harian maupun laporan akhir

1.6.Tata Tertib Praktikum


Tata tertib paraktikum dijabarkan sebagai berikut:
-

Praktikan hadir 10 menit sebelum praktikum

Membawa modul praktikum yang telah diberikan

Mengikuti kegiatan praktikum dengan tertib

Berkerja secara teliti dan tidak merusak/menghilangkan alat laboratorium

Mengikuti seluruh rangkaian kegiatan praktikum. Bagi yang berhalangan


hadir harap menunjukan surat keterangan sakit, izin kegiatan atau surat
yang berkaitan dengan alasan tidak menghadiri praktikum

Bagi praktikan yang berhalangan hadir diwajibkan untuk mengikuti


praktikum susulan atau mengerjakan tugas pengganti yang diberikan.

I-2

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN
2.1. Materi Pengenalan Alat dan Kapal Penangkapan Ikan
a.

Kompetensi dari materi


Praktikan mampu mengenali karakteristik kapal beserta alat tangkap ikan

yang digunakan melalui simulasi dari pengamatan miniatur yang disediakan.


b.

Waktu pertemuan
Waktu pertemuan dalam praktikum laboratorium dilaksanakan selama 2 jam

pelajaran.
c.

Pendahuluan
Kapal, perahu atau alat apung lain yang dipergunakan untuk melakukan

penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan,


pengangkutan

ikan,

pengolahan

ikan,

pelatihan

perikanan

dan

penelitian/eksplorasi perikanan. Secara spesifik, kapal penangkap ikan merupakan


kapal yang secara khusus dipergunakan untuk menangkap ikan, termasuk
menampung dan mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.
Alat tangkap ikan merupakan suatu alat yang di disain untuk menangkap
ikan, dimana konstruksi/strukturnya berdasar pada jenis ikan target, kondisi alam
serta regulasi yang ditetapkan.
Dalam operasi penangkapan ikan, kapal yang dipergunakan perlu
disesuaikan dengan alat tangkap yang digunakan. Hal tersebut akan sangat
berpengaruh pada teknis penangkapan ikan serta hasil tangkapan ikan yang
didapat.
d.

Alat yang digunakan


Miniatur alat dan kapal penangkap ikan
Mistar

Alat tulis

e.

Prosedur Kerja

Mempersiapkan alat kerja yang diperlukan


Mengamati bentuk kapal dan alat tangkap pada miniatur yang disediakan
II-3

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Menggambar bentuk kapal dan alat tangkap


Mengidentifikasi bagian-bagian kapal dan alat penangkap ikan serta
memberi penamaan pada setiap bagiannya.

f.

Bentuk Pelaporan
Pelaporan dilakukan dengan mengisi lembar kerja setiap mata acara

praktikum yang telah disediakan.


2.2. Materi Kapal Penangkap Ikan
a.

Kompetensi materi
Praktikan diharapkan mampu untuk menentukan kapal yang sesuai untuk

melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap tertentu.


b.

Waktu pertemuan
Waktu pertemuan dalam praktikum laboratorium dilaksanakan selama 2 jam

pelajaran.
c.

Pendahuluan

Jenis-jenis Kapal Pengangkap Ikan


Menurut Kepmen nomor : KEP. 02/MEN/2002 Kapal Perikanan adalah
kapal atau perahu atau alat apung lainnya yang digunakan untuk melakukan
penangkapan ikan termasuk melakukan survei atau eksplorasi kelautan. Kapal
Perikanan secara umum terdiri dari: Kapal Penangkap Ikan, Kapal Pengangkut
Hasil Tangkapan, Kapal Survey, Kapal Latih, dan Kapal Pengawas Perikanan.
Kapal penangkapan ikan antara lain sebagai berikut:

Kapal Pukat Cincin (Purse Seine)


Kapal pukat cincin adalah kapal yang paling penting dan efektif untuk

menangkap sekumpulan (schooling) ikan yang berada di dekat permukaan.


Sebagai sarana pengamatan ikan dibangun tempat panjarwala (crows nest) di tiang
utama, pada kapal pukat cincin berukuran besar diberi juga fasilitas bangunan
pengamatan dan helipad.

II-4

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Kapal purse seine yang digunakan di Indonesia adalah kapal purse seine
kayu tanpa menggunakan power block. Purse seine biasanya menggunakan tenaga
manusia sebagai penggerak .
Karakteristik :
1.

Kapasitas kapal : 30 600 GT

2.

Awak kapal : 20 35 Orang

3.

Sistem Operasi :
- Satu Kapal (One Boat)
- Dua Kapal (Two Boat)
4. Jenis
- Kapal Pukat Cincin Pantai
- Kapal Pukat Cincin Lepas Pantai

Kapal Pukat Hela


Kapal Pukat Hela (trawler) adalah kapal yang didisain untuk menarik pukat

hela di belakang kapal. Umumnya kapal-kapal pukat hela memiliki geladak kerja
di buritan kecuali untuk kapal hasil modifikasi dari kapal lain (kapal-kapal niaga)
yang digunakan untuk mengoperasikan kapal pukat hela samping (side trawl).
Kapal pukat hela belakang (Stern trawl) dan kapal pukat hela samping dapat
digunakan untuk mengoperasikan trawl dasar, pertengahan, dan permukaan.
Hasil tangkapan ada yang langsung ditangani di atas dek dan untuk kapalkapal pukat hela yang berukuran besar di lakukan di bawah dek (working spaces).

Kapal Pukat Hela Belakang (Stern Trawl)


Jenis kapal ini dapat berukuran hingga 200 GT. Kapal-kapal berukuran

300 GT dilengkapi dengan slip way dan roller di buritan, yang berfungsi sebagai
alur pukat hela dari dan ke kapal.

Kapal Pukat Hela Samping (Side Trawl)


Kapal Pukat Hela Samping (Side Trawl) adalah kapal yang didisain untuk

mengoperasikan pukat hela dari samping terutama saat setting dan hauling.
II-5

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Sedangkan bagian towing di hela di belakang seperti kapal-kapal pukat pada


umumnya.

Kapal Pukat Hela Rig Ganda (Double Rigger Trawl)


Kapal Pukat Hela Rig Ganda (Double Rigger Trawl) disebut juga kapal hela

udang. Didesain untuk menghela dua atau lebih pukat hela untuk menangkap
udang di belakang kapal melalui dua buah rig yang dipasang menjorok ke kiri dan
kanan lambung kapal.

Kapal Pukat Garuk


Kapal pukat garuk termasuk kategori kapal pukat hela dasar. Kapal ini

dirancang untuk mengoperasikan pukat garuk sebagai pengumpul kerangkerangan di dasar laut dengan cara menghelanya di belakang kapal.

Kapal Jaring Angkat


Kapal jaring angkat (Lift netter) adalah kapal yang didisain dan dilengkapi

peralatan yang digunakan untuk mengoperasikan lift net berukuran besar.


Peralatan ini ditata di geladak untuk menaik-turunkan lift net di lambung kanan
dan lambung kiri kapal secara bergantian. Kapal-kapal ini juga dilengkapi dengan
lampu-lampu penarik perhatian ikan baik dipermukaan maupun di bawah air
(underwater fishing lamp).

Kapal Jaring Insang


Kapal Jaring Insang (gill netter) adalah kapal yang didisain sangat

sederhana, umumnya berukuran kecil dan memiliki geladak terbuka hingga yang
berukuran besar yang beroperasi di lautan terbuka. Jenis kapal ini tidak banyak
memerlukan perlengkapan penangkapan. Kapal gillnet kecil umumnya memiliki
kamar kemudi di bagian belakang yang sekaligus berfungsi sebagai ruang
akomodasi.

II-6

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Karakteristik :
1.

Kapasitas kapal : 30 GT

2.

Awak kapal : 7 12 Orang

3.

Jaring : 10 30 Pis

4.

Jenis :
- Kapal Jaring Insang Permukaan (Surface Gill Net)
- Kapal Jaring Insang Pertengahan (Mid Water Gill Net)
- Kapal Jaring Insang Dasar (Bottom Gill Net)

Kapal Pancing Joran (Pole and Line/huhate)


Kapal pancing joran (Pole and Line/huhate) memiliki dua tipe, yaitu tipe

Amerika dan tipe Jepang. Huhate yang dioperasikan di Indonesia umumnya


menggunakan tipe Jepang karena pemancingan dilakukan di haluan.
Pada kapal ini kamar kemudi dan akomodasi ditempatkan di bagian buritan.
Kapal ini dilengkapi dengan tangki umpan hidup dan water sprayer yang
digunakan untuk menarik perhatian ikan.
Karakteristik :
1.

Kapasitas kapal : 10 80 GT

2.

Awak kapal : 15 30 Orang

3.

Anjungan menjorok Ke dalam

4.

Bak umpan hidup dan penyemprot air

5.

Jenis :
- Kapal Huhate Perairan Pantai

: 30 GT

- Kapal Huhate Perairan Lepas Pantai : 30 50 GT


- Kapal Huhate Perairan Samudera

: 50 GT

Kapal Rawai (Longline)


Kapal rawai adalah kapal yang dilengkapi dengan pancing dibedakan atas

tipe Eropa dan tipe Jepang. Longline umumnya ditarik dari lambung kapal (bow
side) dengan menggunakan line hauler sedangkan setting dan penataan komponen
longline ditentukan oleh tipe longline yang digunakan.
II-7

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Karakteristik :
1.

Kapasitas kapal: 50 200 GT

2.

Awak kapal : 10 25 Orang

3.

Operasi Penangkapan : 15 60 hari/ Trip

4.

Perlengkapan :
- Pelempar Tali (Line Thrower)
- Pengatur Tali (Line Arranger)
- Penarik Tali (Line Hauler)
- Palka

5.

50-100 Basket Jaring, 5-15 Pancing per basket

Kapal Tonda
Kapal tonda adalah kapal penangkapan ikan dengan pancing yang ditarik

sepanjang permukaan. Ukuran kapal tonda sangat variatif dari yang berukuran
kecil dengan geladak terbuka hingga berukuran besar yang dilengkapi dengan
sistem refrigerasi sepanjang 25-30 meter. Umumnya kapal digerakan dengan
mesin tetapi juga dipasang layar untuk mempertahankan haluan saat sedang
melakukan tarikan/towing. Di Indonesia kapal tonda masih menggunakan layar
terutama yang beroperasi di sekitar kepulauan Karimun Jawa dan Bawean.
karakteristik :
1.

Kapasitas kapal : 15 gross ton (gt)

2.

Awak kapal : 5 7 orang

3.

tali pancing : 5 30 buah

4.

umpan buatan

5.

jenis :
- tonda surface (permukaan)
- tonda mid water (pertengahan)

II-8

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Bagian Utama Kapal Penangkap Ikan

Gambar 1. Bagian-bagian Kapal


bagian utama :
Bagian-bagian
1.

Smokestack atau Cerobong

2.

Buritan
Buritan adalah bagian belakang dari kapal.. Di bagian buritan terdapat

dan lain sebagainya). (Wikipedia, 2012)


instrumen pengendali (rudder
(
3.

Kemudi
rudder)) adalah perangkat untuk mengubah arah kapal dengan
Kemudi (rudder

mengubah arah arus air yang mengakibatkan perubahan arah kapal. Kemudi
ditempatkan di ujung belakang lambung kapal/buritan di belakang, baling
baling-baling
digerakkan secara mekanis atau hidraulik dari anjungan dengan menggerakkan
roda kemudi.
4.

Portside
Portside adalah lambung kiri kapal, gunanya untuk bersandar ke pelabuhan

sehingga muncul kata Port side.


5.

Jangkar
Jangkar adalah perangkat penambat kapal ke dasar perairan
perairan, di laut, sungai

ataupun danau sehingga tidak berpindah tempat karena hembusan angin, arus
ataupun gelombang.. Jangkar dihubungkan dengan rantai yang terbuat dari besi ke
kapal dan dengan tali pada kapal kecil atau perahu. Jangkar didisain sedemikian
ehingga dapat tersangkut di dasar perairan. Jangkar biasanya dibuat dari bahan
sehingga
besi cor.. (Anonim, 2012)
6.

Bulbous bow
II-9

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Bulsous bow adalah bagian kapal yang terletak di bagian haluan. Bagian ini
merupakan bagian yang terintegrasi dengan lambung kapal yang berfungsi untuk
mengurahi hambatan kapal pada saat ekplotasi atau operasi sebuah kapal dengan
cara membangkitkan gelombang atau mengiterferensi gelombang kapal yang
datang dari haluan, sehingga gelombang yang datang akan kehilangan tenaga
kerja karenainterferensi gelombang dari bulbous bow. (Wikipedia, 2013)
7.

Haluan
Haluan adalah bagian depan dari badan kapal. Haluan kapal dirancang untuk

mengurangi tahanan ketika haluan kapal memecah air dan harus cukup tinggi
untuk mencegah air masuk kedalam kapal akibat ombak atau belahan air saat
kapal berlayar. (Wikipedia, 2012)
8.

Geladak
Geladak atau deck adalah lantai kapal, nama nama geladak ini tergantung

dari banyaknya geladak yang ada dikapal tersebut. Pada umumnya geladak yang
berada di bawah sendiri dinamakan geladak dasar serta geladak yang di atas
dinamakan geladak atas atau geladak utama (main deck).
9.

Anjungan
Anjungan adalah ruang komando kapal dimana ditempatkan roda kemudi

kapal, peralatan navigasi untuk menentukan posisi kapal berada dan biasanya
terdapat kamar nahkoda dan kamar radio. Anjungan biasanya ditempatkan pada
posisi yang mempunyai jarak pandang yang baik kesegala arah.
Ukuran Utama Kapal

Principal Dimension (Ukuran Utama), meliputi :


L (Length, panjang)
B (Beam/Breadht, lebar)
D (Depth, dalam)
Panjang Kapal (Length)
Ukuran panjang kapal dinyatakan dengan ukuran sebagai berikut (Gambar

2) :

II-10

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

LOA Length Over All. LOA adalah panjang kapal yang diukur dari ujung
paling depan haluan kapal hingga ujung paling belakang buritan kapal.

LBP Length Between Pependicular. LBP yaitu panjang kapal yang diukur

dari mulai garis tegak pada tepi air di linggi depan hingga garis tegak pada

poros kemudi
LWL Length on the designed load water line. LWL , yaitu panjang kapal
yang diukur pada garis muatan penuh

Gambar 2. Panjang Kapal

Lebar Kapal
Ukuran lebar kapal dinyatakan dengan ukuran sebagai berikut :
Beam (extreme) - Extreme Breadth
Extreme Breadth, yaitu lebar kapal pada bagian terlebar kapal yang diukur

dari tepi luar kulit kapal di lambung kanan hingga tepi luar kulit kapal di lambung
kanan sejajar lunas

Beam (moulded) - Moulded Breadth


Moulded Breadth, yaitu lebar kapal pada bagian terlebar kapal yang diukur

dari tepi dalam kulit kapal di lambung kanan hingga tepi dalam kulit kapal di
lambung kanan sejajar lunas.

II-11

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Gambar 3. Lebar Kapal


-

Dalam
Ukuran dalam kapal dinyatakan dengan ukuran sebagai berikut:

Depth (D) :
--- Jarak vertikal dari dasar badan kapal sampai titik tertinggi rangka samping
kapal
Draft (d) :
--- Jarak vertikal dari dasar badan kapal sampai batas muka air
L/B : berpengaruh terhadap kecepatan
L/D : berpengaruh terhadap tarikan longitudinal
B/D : berpengaruh terhadap stabilitas
-

Sarat
Sarat (draft) adalah ukuran kapal yang diukur dari titik terendah badan kapal

hingga garis air (water line). Sarat selalu berubah tergantung dari muatan kapal
temasuk perbekalan kapal dan komponen alat penangkap ikan, awak kapal beserta
keperluannya, masa jenis air laut dimana kapal mengapung
-

Tonnage (Tonase)
Ukuran besar/ bobot kapal biasanya dinyatakan tonnage. Macam-macam

Tonnage :

Gross Tonnage (GT)


Net Tonnage (NT)
II-12

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Displacement Tonnage (DT)

Dead Weight Tonnage (DWT)

Gross Tonnage (GT)


Gross Tonnage (GT) adalah volume kotor dari konstruksi kapal.

GT : (L x B x D) x (0,20 to 0,32), ex :

WW2 Liberty

: 12000 Tons Gross

RMS Titanic

: 45000 Tons Gross

RMS Queen Mary

: 82000 Tons Gross

Supertanker

: 200000 Tons Gross

Net Tonnnage (NT)


Terbatas pada volume ruang kargo dan atau ruang penumpang dalam kapal.
Biasanya terkait dengan kalkulasi Rasio Efisiensi Komersial (CER), pengukuran
keuntungan relatif dalam pelayanan.
Displacement Tonnage (DT)
Bobot badan kapal yang terkait secara langsung dengan volume hull di
bawah batas muka air. Penting digunakan pada kapal-kapal perang (warships) dan
kapal kargo.
Dead Weigth Tonnage (DWT)
Bobot kapal dalam kondisi kapasitas kargo maksimal. Digunakan untuk
menentukan seberapa maksimal bobot muatan yang dapat diangkut oleh kapal
Speed
Faktor-faktor yang mempengaruhi speed :

Komposisi Ukuran Utama (L,B,D)


Bentuk konstruksi kapal
Tenaga Prupolsive kapal

Satuan Speed : KNOT (1 Knot = 1 sea mile/hour)

II-13

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Alat Bantu Penangkap Ikan di Atas Kapal


Perlengkapan Primer Penangkapan Pukat Cincin:
Purse winch
Purse winch umunya digerakkan dengan menggunakan tenaga hidrolik yang
dapat dikontrol baik manual maupun otomatis. Winch ini terdiri dari dua drum
utama yang berfungsisebagai penggulung purse seine.

Gambar 4. Purse Winch


Power Block
Power block terdiri dari sebuah keeping beralur yang dilapisi bahan dari
karet untuk memudahkan penhiboban jaring.

Gambar 5. Power Block


Perlengkapan Penangkapan Rawai Tuna
Line Hauler
Alat ini digerakkan baik dengan system elektrik maupun hidrolik. Line
hauler terdiri dari dua blok dan roda penekan. Satu blok berfungsi sebagai penarik
dan satunya lagi sebagai blok penghantar.

II-14

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Gambar 6. Line Hauler


Branch winder
Digerakan dengan tenaga listrik yang berfungsi sebagai penggulung branch
line.

Gambar 7. Branch Winder


Line Arranger
Alat ini digerakkan dengan tenaga listrik atau hidrolik dipasang diatas kotak
penyimpanan main line pada kapal rawai tuna

Gambar 8. Line Arranger

II-15

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Perlengkapan Penangkapan Pukat Udang


Trawl Winch
Selain berfungsi sebagai pengarea alat ini dapat berfungsi sebagai cargo
winch atau pekerjaan-pekerjaaan lain untuk mengangkut beban yang berat.

Gambar 9. Trawl Winch


Boom Samping
Berfungsi sebagai penahan warp saat tahapan thowing dan menggantung
sementara otter board pada persiapan setting dan hauling.

Gambar 10. Boom Samping

II-16

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Test:
Pertanyaan:
1.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan Kapal Penangkap Ikan?

2.

Jelaskan dengan jelas jenis-jenis kapal penangkap ikan serta uraikan


perbedaannya !

3.

Sebutkan jenis-jenis ikan yang tertangkap berdasarkan jenis-jenis kapal


penangkapan ikan !

4.

Sebutkan kelemahan dan kelebihan beberapa kapal penangkapan ikan !

5.

Sebutkan kapal penangkapan yang banyak dioperasikan di wilayah perairan


Indonesia, kemudian jelaskan alasannya !

6.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan panjang kapal serta uraikan beberapa
ukuran panjang kapal?

7.

Mengapa harus ada beberapa ukuran panjang kapal kemudian jelaskan


alasannya !

8.

Sebutkan perbedaan antara Gross Tonnage (GT), Net Tonnage (NT),


Displacement Tonnage (DT), Dead Weight Tonnage (DWT) !

9.

Dalam merancang sebuah kapal, ukuran yang tepat dan sesuai merupakan
hal yang sangat menentukan. Mengapa demikian?

10.

Singkronisasi berbagai aspek ukuran kapal (panjang, lebar, speed, dll)


merupakan hal yang penting. Jelaskan !

II-17

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

2.3. Materi Bahan Pembuat Jaring


a.

Kompetensi materi
Praktikan mampu mengetahui jenis, spesifikasi serta berat kering dan berat

basah benang yang yang tepat untuk digunakan membuat setiap jenis alat tangkap.
b.

Waktu pertemuan
Waktu pertemuan dalam praktikum laboratorium dilaksanakan selama 2 jam

pelajaran.
c.

Pendahuluan

Struktur Dasar Serat


Struktur dasar serat dibagi menjadi 4 kelompok, sebagai berikut:
1.

Monofilament

2.

Staple fiber

3.

Continuous filament

4.

Split fiber

Gambar 11.. Monofilament dengan Continuous Filament (1); Monofilament


Jenis benang:
1)

Benang tunggal (single


(
yarn)
Single yarn adalah benang jenis continuous yang sangat sederhana yang
terdiri atas beberapa serat. Jenis material serat akan dapat membedaka
membedakan
antara yarn tunggal terpuntal (single
(
spun yarn),
), yarn filamen tunggal
single filamen yarn),
(single
yarn single yarn yang terbuat dari monofilament dan single
split fibre yarn.. Benang tunggal adalah bagian dari benang jaring.

II-18

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

2)

Benang jaring (netting yarn)


Ini adalah istilah standar universal untuk semua bahan tekstil yang sesuai
pada pabrik jaring atau alat penangkapan ikan dan yang mungkin dirajut
langsung menjadi jaring dengan mesin atau tangan tanpa harus melalui
proses lanjutan. Jadi, monofilamen tunggal dapat juga menjadi netting yarn
jika langsung dirajut menjadi jaring.

3)

Benang jaring atau benang jaring lipat (netting twine or folded yarn)
Benang jaring yang dibuat dari 2 atau lebih benang tunggal atau
monofilament dengan cara hanya satu kali proses pemintalan.

Gambar 12. Netting Twine or Folded Yarn


4)

Cabled netting twine or cabled yarn


Netting twine atau folded yarn artinya sebuah netting twine yang dibuat dari
2 atau lebih benang tunggal atau monofilament dengan hanya sekali
pintalan. Ini adalah suatu netting yarn yang mengkombinasikan 2 atau lebih
netting twine dengan 1 atau 2 pilinan lanjutan.

5)

Benang jaring anyam (braided netting yarn)


Benang jaring anyam adalah benang jaring yang dibuat dengan cara
dianyam

(disilangkan).

Braiding/penganyaman

merupakan

proses

penjalinan tiga atau lebih benang sedemikian rupa sehingga benang-benang


tersebut saling menyilang satu sama lain dalam formasi diagonal.

II-19

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Konstruksi Benang:
1.

Pilinan (Twist)
Setiap jenis benang memiliki pilinan (twist).
(
Twist adalah penyusunan
bentuk spiral pada bahan benang tunggal, folded yarn atau netting yarn.
Sebagian suatu nilai numerik, istilah ini mengindikasikan jumlah putaran
per unit panjang. Misalnya per 1 m (t/m) atau per 1 inchi (t/inchi).
Arah pilinan ditunjukan
ditunjukan dengan huruf kapital S atau Z.

suatu produk

memiliki pilinan S jika ketika ditegakkan pada posisi bertikal, maka pilinan
yang dibentuk oleh serat atau filament yang mengelilingi sumbunya
memiliki kemiringan yang sama dengan arah bagian tegak huruf kapital S,
sebaliknya dengan huruf Z.

Gambar 13. Arah Pilinan


Koefisien pilinan atau factor pilinan (). Huruf adalah ukuran kekerasan
benang yang ditentukan dengan melipat gandakan putaran per unit panjang
dengan akar pangkat 2 dari jumlah suatu
s
system langsung.
2.

Anyaman (braiding
braiding)
Ini adalah proses penjalinan 3 atau lebih benang dengan cara menyilangkan
satu dengan lainnya dan dikaitkan bersama dalam formasi diagonal. Proses
ini terkadang juga disebut dengan plaiting (penjalinan). Hasil akhir proses
braiding adalah braided netting yarn

II-20

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Gambar 14. Struktur Benang Ayam


3.

Helainan benang (strand)


(
Ini adalah istilah tidak standar untuk suatu bahan individual dari suatu
netting yarn yang dipilin atau dianyam.

d.

Alat yang digunakan

e.

Beberapa jenis benang

Penggaris

Gunting
Jangka sorong

Tabung

Prosedur Kerja

Pengukuran Benang
1)

Pengukuran langsung.
a) Sampel benang sepanjang 20 cm dipegang.
b) Diameter benang langsung diukur dengan menggunakan jangka sorong
tanpa tekanan yang kuat
c) Pengukuran dilakukan pada beberapa titik berbeda sebanyak 10 kali.

2)

Pengukuran tidak langsung


a) Sampel dililitkan pada tabung silinder sebanyak 20 lilitan secara sejajar
dan saling bersinggungan antara setiap lilitan.
b) Jarak antara sisi luar gulungan diukur panjangnya.
c) Diameter dapat diperoleh dengan membagi jarak antara sisi luar dengan
jumlah lilitan.

II-21

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Berat Benang
1.

Beberapa potongan sampel dipersiapkan dengan cara benang digantungkan


secara vertikal, bagian atas dijepit dengan penjepit atas (upper clamp) dan
bagian bawah dengan penjepit bawah (lower clamp) yang diberi beban W
dengan berat tertentu. Besar beban W akan memberikan tegangan awal
(initial tension) pada benang sampel, titik K menunjukan jarak 1m dari
bagian penjepit atas sampel tersebut. Pemotongan benang T tepat pada
bagian bawah penjepit atas sampel tersebut. Pemotongan benang T tepat
pada bagian bawah penjepit atas pada titik K akan mendapatan sampel uji
tepat sepangan 1 m.

2.

Untuk mendapatkan berat kering, 10 sampel uji ditimbang bersama-sama.


Linear density benang dapat dihitung dari panjang per berat sampel uji.

3.

Berat basah diperoleh dengan merendam ke-10 sampel uji ke dalam air
selama 12 jam, selanjutnya sampel dibiarkan hingga airnya habis menetes.
Dalam keadaaan demikian ke-10 sampel ditimbang, berat basah dinyakatan
dalam % dari berat kering.

f.

Bentuk Pelaporan
Pelaporan dilakukan dengan mengisi lembar kerja setiap mata acara

praktikum yang telah disediakan.


2.4. Materi Simpul
a.

Kompetensi
Praktikan mengetahui jenis simpul yang digunakan untuk membuat sebuah

alat penangkap ikan dan mampu membuat simpul tersebut.


b.

Waktu Pertemuan
Waktu pertemuan dalam praktikum laboratorium dilaksanakan selama 2 jam

pelajaran.
c.

Pendahuluan
Simpul adalah ikatan pada tali atau tambang yang dibuat dengan sengaja

untuk keperluan tertentu. Ikatan itu sendiri, khususnya yang digunakan pada saat

II-22

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Panjat Tebing, terbagi kedalam empat macam. Adapun jenis-jenis simpul antara
lain sebagai berikut:

d.

Simpul Pengunci/kancing
Simpul penyambung (Bends)
Simpul Melingkar ( Loops)
Simpul Pengikat ( Hitches)
Alat
Gunting

Mistar

e.

Bahan

Tali/ Benang

f.

Prosedur Kerja

a.

Praktikan mempersiapkan bahan dan memotong sesuai dengan ukuran yang


ditentukan

b.

Membuat jenis simpul yang ditentukan

c.

Menggambar dan mendefinisikan bentuk simpul yang telah dibuat

g.

Bentuk Pelaporan
Pelaporan dilakukan dengan mengisi lembar kerja setiap mata acara

praktikum yang telah disediakan.


2.5. Materi Mata Jaring (Mesh Size)
a.

Kompetensi Materi
Praktikan mampu menentukan ukuran mata jaring ada beberapa cara, salah

satunya adalah dengan menggunakan penggaris, jangka sorong dan menghitung


jumlah simpul per unit panjang jaring.
b.

Waktu Pertemuan
Waktu pertemuan dalam praktikum laboratorium dilaksanakan selama 2 jam

pelajaran.
c.

Pendahuluan
Nomura and Yamazuki (1977) menyatakan bahwa ukuran mata jaring (mesh

size) yang sesuai dengan panjang badan ikan sasaran sangat berkaitan dengan
II-23

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

efisiensi alat tangkap. Pemilihan ukuran mata jaring sangat penting bagi gillnet
(jaring insang). Penentuan ukuran mata jaring yang optimal harus memperhatikan
elastisitas tubuh ikan, ketegangan dan daya regang benang jaring, rasio
pemanjangan (elongation ratio) benang jaring, momentum ikan dan bentuk badan
ikan sasaran.
d.

Alat yang digunakan

Beberapa jenis jaring

e.

Prosedur kerja

1)

Pengukuran dengan penggaris (cara I)

Jangka sorong

a) Satu mata jaring ditarik penuh.


b) Dilakukan pengukuran mulai dari titik tengah simpul ke titik tengah
berikutnya, atau
c) Dilakukan pengukuran dari bagian luar kebagian dalam simpul pada satu
mata jaring.
d) Pengukuran dilakukan antara 5-10 kali pada beberapa tempat.
2)

Pengukuran dengan jangka sorong (cara II)


a) Satu mata jaring ditarik penuh
b) Jangka sorong dimasukan ke dalam mata jaring.
c) Ukuran jangka sorong disesuaikan dengan bukaan mata jaring
d) Pengukuran dilakukan antara 5-10 kali pada beberapa tempat berbeda

3)

Pengukuran dengan menentukan jumlah simpul per unit panjang (cara III)
a) Satu jaring ditarik penuh dihitung jumlah simpulnya.
b) Pada jaring yang ditarik penuh dihitung jumlah simpulnya.
c) Ukuran mata jaring adalah jumlah simpul per unit panjang.
d) Pengukuran dilakukan antara 5-10 kali ulangan dengan panjang dan
jumlah simpul berbeda.

f.

Bentuk pelaporan
Pelaporan dilakukan dengan mengisi lembar kerja setiap mata acara

praktikum yang telah disediakan.

II-24

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

2.6. Materi Pancing


a.

Kompetensi
Praktikan mengetahui jenis-jenis mata pancing yang digunakan dalam

operasi penangkapan ikan serta mengetahui detail bagian-bagian dari mata


pancing.
b.

Waktu Pertemuan
Waktu pertemuan dalam praktikum laboratorium dilaksanakan selama 2 jam

pelajaran.
c.

Pendahuluan
Mata Pancing adalah salah satu alat untuk menangkap ikan yang paling

populer dan digunakan untuk memancing. Mata Pancing digunakan sebagai


tempat untuk menaruh umpan pancing, yang pada awalnya terbuat mulai dari
tulang atau kayu keras pada zaman dahulu.
Pada masa kini bermacam mata Pancing sudah dapat dibuat dari berbagai
macam logam keras seperti dari besi (yang diberi lapisan chrome), baja atau bisa
juga dengan campuran bahan logam lainnya misalnya dari bahan karbon.

Gambar 15. Bagian-bagian Mata Pancing


Bagian-bagian hook
Berikut adalah penjelasan dari tiap bagian hook :
a. Tip
Tip pada hook harus benar-benar tajam, supaya bisa hook up (ikan terkait
mata kail) dengan sempurna.
b. Barb

II-25

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Barb berfungsi agar hasil pancingan tidak mudah terlepas setelah hook up,
tapi di beberapa tempat pemancingan melarang penggunaan hook yang memilki
barb yang terlalu panjang, karena barb yang panjang dapat menyebabkan luka
parah pada ikan yang terpancing.
c. Point
Point terbentuk dengan cara stamping, cutting, grinding atau gabungan dari
ketiga proses tersebut. Point merupakan bagian yang terpenting dari hook dan
sangat berpengaruh pada saat hook up. Hook point dibedakan menjadi :
- Hollow point, misalnya

: Chinu, Marusode

- Curved in point, misalnya

: Tuna circle

- Dublin point, misalnya

: OShaughnessy, Round bent sea

- Knife edge point, misalnya : Tuna hook, Beak hook

Gambar 16. Point


d. Gap
Lebar dan sempitnya gap dipengaruhi oleh bentuk bend serta ukuran hook.
Umumnya gap yang lebar akan sangat berguna jika kita memancing dengan
menggunakan umpan alami, karena ada kelebihan ruang diantara gap.
e. Throat
Dalam dan dangkalnya throat atau tenggorokan mata kail yang dipakai
tergantung jenis ikan dan cara makan ikan yang dipancing.
f. Bend
Umumnya bentuk bend juga mempengaruhi kekuatan hook saat penetrasi
dan hook up. Bentuk-bentuk bend dibedakan menjadi :

Kirbed, misalnya

: American Kirby, Tuna hook, Tuna circle

Straight, misalnya

: OShaughnessy, Sproat hook


II-26

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Reversed, misalnya

: Beak hook, Bait holder

Sedangkan bentuk body pada bagian bend dibedakan menjadi 2 jenis


yaitu:

Regular, bentuknya bulat misalnya :Round bent sea, American Kirby

Forged, dari bentuk bulat dipadatkan, dimana kekuatannya akan


bertambah + 20% misalnya : OShaughnessy, Beak hook

g. Shank
Bentuk shank dibedakan menjadi long shank (panjang) dan short shank
(pendek). Umumnya shank yang panjang akan memudahkan pemancing dalam
melepaskan hook dari mulut ikan, karena masih tersisa sedkit ruang untuk
memegang shank. Umumnya untuk pemancingan dengan umpan hidup (mis :
cacing) mata kail yang digunakan adalah yang memiliki slice (duri) pada bagian
shank, yang berfungsi untuk mengikat umpan (agar umpan tidak mudah terlepas
atau tergelincir ke bawah) contoh : Bait hoder, Okiami chinu.

Gambar 17. Shank


h. Eye
Eye berfungsi sebagai tempat untuk memasang senar, kawat dan aksesoris
memancing lainnya. Bentuk-bentuk eye dibedakan menjadi :
- Flat,

: Chinu, Umitanago

- Hole in flat, : Tuna circle


- Ringed,

: OShaughnessy

Jenis-jenis Ringed :

Tapered eye,

: Jig hook

Ball eye ,

: OShaughnessy

Looped eye,

: Double hook

II-27

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Pengembangan Jenisjenis Hook


a.

Double hook, merupakan hook yang memiliki dua mata kail, dalam
penggunaannya pada umumnya dipasangkan lure. Jenisnya antara lain :
Double ryder, Double fly, Limerick double.

b.

Treble hook, memiliki tiga mata kail dan juga biasanya dipasangkan
dengan lure. Treble hook lebih efektif dalam hook up dibanding dengan
single hook karena mata kailnya menghadap tiga arah. Jenisnya antara lain:
Round Treble, OShaughnessy Treble.

c.

Pancing cumi, berbentuk seperti payung terbalik dan memiliki banyak mata
kail, umumnya digunakan untuk memancing cumi-cumi.

d.

Pancing garong, memiliki enam mata kail yang melingkar pada umumnya
digunakan untuk mancing ikan baronang.

e.

Snelled hook, merupakan rangkaian hook yang terdiri dari senar dan mata
pancing (Eropa) sedangkan untuk model Jepang umumnya terdapat
tambahan kili-kili.

f.

Sabiki hook, merupakan rangkaian mata kail yang terdiri dari senar, kilikili, peniti, mata kail, dengan variasi kulit ikan, bulu-bulu dan manik-manik
(bead)

Gambar 18. Sabiki Hook


Model-model Single Hook
a.

Jig hook, merupakan hook dengan technical bend down shank 900 dekat
ringed. Untuk penggunaannya dipasangkan dengan umpan karet, dan
umumnya digunakan untuk mancing jigging.

II-28

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

b.

Worm hook, hook dengan 900 offset shank dekat ringed (2 kali bent shank).
Untuk penggunaannya dipasangkan dengan umpan karet.

c.

Weedless hook, Hook yang memiliki kawat dibagian depan hook,


melintang dari kepala sampai barb. Fungsinya agar saat dipakai mancing,
rumput atau tumbuhan air tidak tersangkut dimata kail. Pada saat hook up
kawat akan terdorong ke belakang karena mendapatkan tekanan.

d.

Jighead, Hook yang kepalanya berbentuk seperti ikan dan bisa berfungsi
sebagai pemberat. Dalam penggunaanya, umumnya jighead dipasang
dengan bulu-bulu atau umpan karet dan biasanya dipakai untuk memancing
dengan teknik jigging. Berat hook berkisar antara + 0.5 gr sampai 50 gr.

e.

Pancing Udang, pancing yang tidak memiliki barb dan umumnya dipakai
untuk mancing udang.

Gambar 19. Model-model Single Hook


Jenis Mata Pancing
1. Mata Tiga ( Treble Hooks )
Mata Pancing jenis ini dari gabungan 3 mata Pancing dijadikan satu. Ia
biasanya dipasang pada umpan tiruan seperti gewang, jig, popper dan sebagainya.
Kelemahannya, ia mampu dikunyah oleh rahang ikan yang kuat. Anda boleh
mengujinya dengan melakukan demonstrasi seperti berikut, letakkan mata mata 3
tersebut dipermukaan yang keras dan jatuhkan keatas sesuatu benda yang keras
contohnya seperti buku atau benda yang berat. Anda harus berhati-hati
melakukannya, jika tersilap teknik ia boleh mendatangkan kecederaan yang serius
II-29

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

kepada anda. Walaupun ia agak rapuh tetapi ia boleh bertukar kepada pelbagai
jenis kekuatan ekstra mata 3 seperti kekuatan 3x, 4x, 5x.

Gambar 20. Treble Hook

2. Mata Dua ( Double Hooks )


Mata 2 juga biasanya digunakan untuk umpan tiruan seperti mata 3 tadi. Ia
mempunyai 2 mata sahaja dan kelebihannya ia agak keras dan sukar untuk ikan
yang mempunyai rahang yang kuat. Mata jenis ini kebanyakan hanya dijual di
luar negara dan di Malaysia ini ia begitu sukar untuk diperolihi lantaran kurang
sambutan

Gambar 21. Double Hook


3. Mata OShsughnessy.
Mata jenis ini memiliki teras yang panjang tetapi berleher pendek, jurang
yang rapat dan lembing yang pendek. Ia sangat sesuai digunakan untuk
menangkap ikan yang suka menggetu umpan (ikan yang menggetu gemar
mencuri umpan secara perlahan dengan mengigit sedikit demi sedikit umpan.
Anda

akan

menyentap

joran

bila

terasa

getuan

yang

kuat

dan

kebiasaannya ikan akan terlepas. Anda hanya akan mengarau mata yang telah

II-30

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

kosong. Namun begitu anda akan sentiasa merasa renggutan umpan dimakan ikan.
Jika anda memancing ikan karang yang sederhana sizenya, sebaiknya anda
menggunakan mata Pancing yang berteras halus kerana bila tersangkut ia mudah
lurus dan senang membentuknya semula

Gambar 22. Mata OShsughnessy


4. Mata Big Game / Tundaan ( Trolling )
Mata Pancing jenis ini mempunyai luyut yang lebar, leher yang panjang,
tahap penembusan yang jauh dan jurang yang rapat. Ia diperbuat dari besi yang
kuat dan tebal, sebab ita penembusannya lebih baik dan teguh dimana luyutnya
dapat memberikan tusukan ketulang rahang dengan baik sekali. Ia amat sesuai
digunakan untuk kedua-dua jenis umpan baik umpan hidup/ mati dan umpan
tiruan contohnya untuk pancingan tundaan (trolling).

Gambar 23. Mata Big Game


5. Mata Lingkar ( Circle Hooks ).
Mata lingkar ini sesuai untuk digunakan bagi umpan yang asli dan sesuai
untuk menjerat ikan yang gemar menyambar dan memecut lari atau yang
menyambar, menelan dan memecut lari. Mata ini berbentuk hampir bulat dengan
hujung matanya yang tajam melengkung kedalam. Ia tidak sesuai untuk jenis ikan

II-31

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

yang makannya secara menggetu,juga tidak sesuai untuk pancingan tunda kecuali
menggunakan umpan hidup atau mati. Mengikut kajian penggunaan mata jenis
lingkar ini kadar sangkutannya adalah lebih 95%.Apabila ikan menyambar umpan
dan melarikannya, perambut dan tali yang tegang akan membawa mata Pancing
kesudut mulut atau tepi rahang ikan. Samaada umpan telah ditelan atau tidak,
bahagian jurang mata Pancing ( gap ) akan tergelincir pada tulang rahang atau
sudut mulut ikan. ketegangan
ketegangan yang meningkat akan memaksa mata Pancing
tersangkut dengan baik dan sukar untuk melepaskan diri.

Gambar 24. Circle Hook


Bentuk-bentuk
bentuk Mata Pancing

25. Bentuk-bentuk Mata Pancing


Gambar 2
II-32

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Metode Penomoran Kail


Metode penomoran mata kail didasarkan pada lebar mata pancing dan
diameter batang pancing. Semakin kecil ukuran pancing semakin besar
penomorannya. Ukuran 0 atau 1 adalah ukuran terbesar kail.
Tabel 1. Spesifikasi mata pancing
Nomor kail

Celah ( mm )

Diameter ( mm )

12

9,5

1,0

11

10,0

1,0

10

11,0

1,0

12,5

1,5

14,0

1,5

15,0

2,0

16,0

2,0

18,0

2,5

20,0

3,0

23,0

3,0

26,5

3,5

31,0

4,0

35,0

4,5

Gambar 26. Penomoran mata Pancing

II-33

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Test kekuatan hook


Untuk mengetes kekuatan hook, umumnya dilakukan dengan mesin yaitu
dengan memegang bagian eye dan bend lalu menariknya hingga lurus atau patah.
Hook protektor
Untuk menjaga ketajaman serta menghindari luka akibat tergores hook,
maka dapat dipasangkan pelindung berupa pipa plastik dari ujung tip sampai barb.
Potongan pipa plastik tersebut dipotong sesuai panjang point dan ukuran pipa juga
disesuaikan dengan diameter hook. Dipasaran juga dijual protektor dari bahan
plastic untuk treble hook dengan berbagai ukuran.
d.

Alat yang digunakan

Mata Pancing

e.

Prosedur Kerja

Jangka sorong

Mempersiapkan peralatan praktikum


Menggambar bagian-bagian mata pancing dan memberi penamaan pada
setiap bagian

Mengukur spesifikasi setiap bagian dari mata pancing.

f.

Bentuk Pelaporan
Pelaporan dilakukan dengan mengisi lembar kerja setiap mata acara

praktikum yang telah disediakan.


2.7. Materi Pelampung dan Pemberat
a.

Kompetensi
Praktikan mengetahui nilai gaya apung pelampung secara langsung dan

dengan perhitungan matematis serta mengetahui nilai gaya tenggelam pemberat


secara langsung dan dengan perhitungan matematis.
b.

Waktu Pertemuan
Waktu pertemuan dalam praktikum laboratorium dilaksanakan selama 2 jam

pelajaran.

II-34

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

c.

Pendahuluan
Pemberat atau timbel digunakan sebagai penyeimbang di dalam air. Jumlah

beratnya sendiri sangat disesuaikan dengan kedalaman kolam serta besar


pelampung. Takaran berat yang pas akan memberikan keseimbangan yang pas
sehingga umpan tidak terombang-ambing karena arus air dan posisi pakan
umpan selalu berada mengambang pas dengan posisi makan ikan.
Pelampung merupakan satu kesatuan dengan pemberat yang merupakan alat
penyeimbang senardan mata pancing , fungsi pelampung sendiri sebenarnya lebih
sebagai pembantu penglihatan pemancing jika umpan telah disambar ikan.
Pelampung akan bergerak gerak dan tenggelam saat ikan mulai memakan ikan,
dan itu pertanda bahwa pemancing harus menarik joran sesegera mungkin.
Pelampung yang baik harus dapat dilihat secara jelas oleh kita.
Secara fisik jenis pelampung pancingan ada dua, yaitu pelampung yang
gemuk di pangkal dan pelampung yang gemuk dibagian ujung. Sedangkan secara
kegunaan, juga terbagi dua, yaitu pelampung pada permukaan air yang tenang dan
Pelampung pada permukaan air yang berarus atau mengalir.
a)

Pelampung pada permukaan air yang tenang


Kelompok pertama ialah pelampung yang dirancang untuk digunakan

saat mancing di perairan yang permukaannya tenang atau relatif diam. Bentuknya
antara lain silinder pendek, silinder panjang atau silinder dengan bagian yang
membengkak di dekat pangkal. Bentuk batang silinder pendek misalnya, paling
pas digunakan untuk mancing pada kondisi tidak ada angin dan permukaan air
"licin" bagai berminyak. Pelampung dengan bentuk batang silinder panjang lebih
pas dipakai untuk mancing di perairan yang agak beriak sedangkan pelampung
yang gemuk di pangkal cocok digunakan manakala riak di permukaan air menjadi
masalah bagi pelampung berbentuk silinder rata. Apabila diujung pelampung
terdapat semacam jarum indikator, gunanya ialah agar dihasilkan sensitivitas yang
lebih jelas teramati, khususnya pada saat mancing ikan yang cara makan
umpannya tergolong sangat "santun". Pelampung jenis pertama ini dipakai dengan
meloloskan senar utama melalui cincin kawat di bagian pangkal dan posisinya

II-35

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

ditetapkan

dengan

bantuan

dua

buah timah (pemberat

mata

kail)

berbentuk bulat kecil yang dijepitkan ke senar utama


b)

Pelampung pada permukaan air yang berarus atau mengalir


Kelompok berikutnya pelampung yang digunakan khusus untuk mancing di

perairan yang berarus atau mengalir. Kebalikan dari yang pertama, pelampung
jenis

ini

dibagian

ujungnya

justru

lebih gemuk ketimbang

di

pangkal.Pemasangannya juga tidak dengan dijepit timah (pemberat mata kail),


melainkan dijepit selang karet (biasanya pentil sepeda) dibagian pangkal dan
ujung, sehingga senar utama penempel di sepanjang pelampung. Pelampung yang
ujungnya agak langsing ideal dipakai untuk mancing dimana jarak antara ujung
joran (tongkat pancing) dan pelampung relatif dekat, seperti bila mancing si
sungai, dengan umpan laron, kecoa dan umpan lain sejenis yang bobotnya relatif
ringan. Bentuk yang agak gemuk diujung namun tetap silindris di pangkal akan
lebih terapung di permukaan air, sehingga lebih mudah diamati responnya pada
saat umpan disambar ikan. Pemancing yang baru belajar mancing di sungai
sebaiknya memilih pelampung jenis ini. Pelampung yang bentuknya agak gemuk
di pangkal dan semakin gemuk lagi mendekati ujung hanya cocok untuk mancing
di sungai yang dalam, namun airnya mengalir cukup deras.
Bentuk-bentuk Pelampung
Pelampung yang digunakan pada banyak kapal penangkapan terdiri dari
beberapa jenis yaitu pelampung bola, pelampung bendera, pelampung radio, dan
pelampung lampu. Warna pelampung harus berbeda atau kontras dengan warna
air laut. Hal ini dimakasudkan untuk mempermudah mengenalnya dari jarak jauh
setelah setting.

Pelampung bola
Pelampung

bola

biasanya

terpasang

pada ujung basket dari

alat

tangkap. Pelampung bola ini terbuat dari bahan sinteticdengan dimeter 35 cm dan
ada yang lebih besar. Untuk long line dengan jumlah basket 70 maka jumlah
pelampung bola yang digunakan adalah 68 buah, pada ujungnya terdapat pipa
setinggi 25 cm dan stiker scotlight yang sengat berguna bila alat penangakap
tersebut terputus maka mudah menemukannya. Untuk melindungi pelampungII-36

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

pelampung tersebut dari benturan yang dapat menyebabkan pecahnya pelampung


tersebut,

maka

pelampung

tersebut

dibalut

dengan

anyaman

tali polyehylene dengan diameter 5 mm

Pelampung Bendera
Pelampung bendera merupakan pelampung yang pertama kali diturunkan

pada waktu setting dilakukan. Biasanya diberi tiang (dari bambu atau bahan lain)
yang panjangnya bervariasi sekitar 7 m dan diberi pelampung. Supaya tiang ini
berdiri tegak maka diberi pemberat.

Pelampung Radio Bouy


Sebuah radio bouy dilengkapi dengan transmiter yang mempunyai frekuensi

tertentu. Daerah tranmisinya bisa mencapai 30 mil. Jika dalam pengoperasian long
line menggunakan radio bouy,maka kapal harus dilengkapi dengan radio direction
finder (RDF). Peralatan ini berfungsi untuk menunjukan arah lokasi radio bouy
dengna tepat pada waktu basket putus.

Pelampung Lampu
Pelampung ini biasanya menggunakan balon 5 watt yang sumber listriknya

berasal dari baterai yang terletak pada bagian ujung atas pipa atau bagian bawah
ruang yang kedap air.
Jenis-jenis Pemberat
Timah digunakan sebagai pemberat, agar umpan bisa tenggelam dalam air.
Bentuk timah sangat beragam, antara lain: timah anting, melinjo, lonceng, peluru,
teratai, kerucut, jantung, dll, dengan berat berkisar antara 0.5 gr 300gr.

Pada umumnya timah dibagi menjadi tiga jenis :


Timah berat, umumnya digunakan untuk mancing di laut atau sungai
yang berarus kencang.
Timah pasir, umumnya digunakan untuk memancing di empang/ kolam.
Timah daun, umumnya digunakan untuk memancing di empang/ kolam,
dan untuk penggunaannya umumnya di robek atau digunting selebar
yang kita inginkan, lalu sobekan timah tersebut dilipat dan dipasangkan
pada tali senar.

II-37

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Gambar 27. Bentuk-bentuk Pemberat


Bentuk-bentuk Pemberat
Bila pemancing menyebut kata Timah, yang dimaksud adalah pemberat.
Kegunaannya agar kombinasi line, mata kail dan umpan lebih cepat tenggelam
atau bila dicast bisa mencapai jarak yang jauh.
Timah sering menjadi pilihan bahan, karena berat jenisnya yang tinggi,
mudah dibentuk karena titik lelehnya yang tidak terlalu tinggi dan relatif murah
harganya. Walaupun akhir2 ini seiring dengan menipisnya deposit timah dinegeri
kita, harganya menjadi semakin berat juga. Bentuk dan kegunaan dari pemberat
ini sangat bervariasi, tergantung dari cara memancing.
Timah dalam kaitan sebagai pemberat biasanya adalah timah hitam (Pbplumbum). Termasuk salah satu logam berat seperti Mercury (Hg), Cadmium
(Cd) dll, yang sebenarnya bisa berbahaya bagi kesehatan.
II-38

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Pemberat berfungsi sebagai pemberi daya tenggelam pada alat tangkap.


Namun dewasa ini para nelayan banyak yang menggunakan bahan lain,
termasuk menggunakan besi mur bekas atau batu sebagai pemberat. Pemberat
ditata sedemikian rupa pada ujung bawah tali pancing, sehingga memberikan
daya tenggelam yang merata.
d.

Alat yang digunakan

e.
f.

Pelampung
Neraca

Jangka sorong

Tali/ benang

Ember

Bahan yang digunakan

Pemberat

Air

Prosedur

Penentuan gaya apung


1)

Pengukuran langsung dengan penggelaman (cara I)

Penentuan dimensi dan jenis material pembentuk pelampung.

Sebuah pemberat digantung dan diukur beratnya didalam air, posisi


pemberat di antara dasar ember dan permukaan air.

Pelampung digabungkan dengan pemberat, di tenggelamkan ke dalam air


dan selanjutnya diukur beratnya (nilai Q). posisi pemberat berada di
antara dasar ember dan permukaan air.

Nilai Q diperoleh dengan mengurangi point 2 dengan 3.


2)

Pengukuran dengan perhitungan matematis (cara II)

Penetuan dimensi dan jenis material pembentuk pelampung.

Penetuan volume pelampung dengan perhitungan.

Penetuan

berat

spesifik

pelampung

berdasarkan

jenis

pembentuknya dengan melihat tabel 1-8.

Penetuan nilai gaya apung Q secara sistematis.


Pengukuran Gaya Tenggelam
Pengukuran langsung dengan penggelaman (cara I)

Penentuan dimensi dan jenis material pembentuk pemberat.

Pemberat digantung dan diukur beratnya


II-39

material

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Pemberat ditenggelamkan kedalam air dan di ukur beratnya.

Posisi

pemberat berada di antara dasar ember dan permukaan air

Penentuan nilai gaya tenggelam Q dengan mengurangi point 2 dengan 3


Pengukuran dengan perhitungan matematis (cara II)

Penetuan dimensi dan jenis material pembentuk pemberat.

Penetuan volume pemberat dengan perhitungan.

Penetuan

berat

spesifik

pelampung

berdasarkan

jenis

material

pembentuknya dengan melihat table 1-8.

Penetuan nilai gaya apung Q secara sistematis.


g.

Bentuk Pelaporan
Pelaporan dilakukan dengan mengisi lembar kerja setiap mata acara
praktikum yang telah disediakan.

II-40

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

LEMBAR KERJA
PRAKTIKUM

II-41

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Praktikum 1.

Nama

Tanggal

Kelompok :

II-42

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Praktikum 1.

Tanggal

Nama

Kelompok

II-43

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Praktikum 2.

Tanggal

Nama

Kelompok

II-44

Modul Praktikum Alat dan Kapal Penangkap Ikan 2014

Praktikum 2.

Tanggal

Nama

Kelompok

II-45