Anda di halaman 1dari 13

Judul Jurnal : Labour and Management in Development Journal, Volume 7 Number 5

Judul Artikel : Studies on The Indonesian Textile and Garment Industry


Penulis
: Wu Chongbo, The Australian National University in association with
The University of Tasmania
Penerbit
: Asia Pacific Press
Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu produsen tekstil dan produk tekstil terbesar di ASEAN.
Industri Tekstil dan Produk Tekstil yang ada di Indonesia memiliki sebuah struktur industri
yang lengkap, mulai dari pengolahan serat sampai ke produksi pakaian jadi dan barang tekstil
lainnya. Industri Tekstil dan Produk Tekstil di Indonesia pun beragam dan berdaya saing.
Industri Tekstil dan Produk Tekstil sangat penting untuk perekonomian Indonesia karena
menyerap banyak tenaga kerja dan memberikan devisa yang besar jika dibandingkan dengan
sektor lain. Industri Tekstil dan Produk Tekstil juga memiliki struktur yang kuat. Hal tersebut
terbukti pada tahun 1998 pada saat Asia terkena krisis keuangan, Industri Tekstil dan Produk
Tekstil masih bisa bertahan. Akan tetapi, Industri Tekstil dan Produk Tekstil mengalami
penurunan setelah adanya pengakhiran kuota tekstil pada 1 Januari 2005 yang berdampak
pada penjual dan produsen tekstil dan produk tekstil. Akibatnya, banyak pabrik tekstil dan
produk tekstil yang bangkrut dan mengalami dislokasi sehingga banyak tenaga kerja industri
ini kehilangan pekerjaan dan munculnya peningkatan kesulitan sosial. Artikel/ jurnal ini
menggali tentang industri tekstil dan garmen yang terfokus pada fakta-fakta permasalahan
yang dihadapi industri tersebut dan respon pemerintah terhadap industri ini.
Ringkasan
Profil Industri Tekstil dan Garmen di Indonesia
Menurut data dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, Pada tahun 1987, terdapat 88
perusahaan tekstil dan garmen yang beroperasi di Indonesia. Lalu jumlahnya meningkat
menjadi lebih dari 2000 pada tahun 1992, dan pada tahun 2003, mencapai 2.654 industri
tekstil dan garmen berada di Indonesia. Dari total tersebut terbagi menjadi 28 adalah
produsen serat; 204 adalah produsen benang; 1043 adalah produsen kain; 855 adalah
produsen garmen; dan 524 adalah produsen produk tekstil lainnya. Lebih dari tiga tahun
terakhir jumlah industri tekstil tersebut masih tetap stabil. Industri Tekstil dan Produk Tekstil
90% terletak di Pulau Jawa dan 54,8%nya terletak di Jawa Barat. Untuk industri garmen,
konsentrasi tertinggi terdapat banyaknya industri ini berada di Jawa Barat, Jakarta dan Batam,
yang menjadi zona perdagangan bebas. Sekitar setengah dari produk tekstil Indonesia masuk
1|Masalah Perencanaan

ke pasar dunia. Industri Tekstil dan garmen merupakan industri non migas yang paling
banyak memberikan kontribusi untuk perekeonomian. Sejak awal 1990-an, sekitar 16 persen
dari total nilai ekspor Indonesia berasal dari industri tekstil dan garmen. Pada tahun 2000,
ekspor industri ini mencapai Rp. 74,9 triliun. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai 10
negara penghasil tekstil dan garmen terbesar. Menurut data dari Kementerian Perdagangan
dan Industri, pada tahun 2003, 2.654 perusahaan tekstil di Indonesia mempekerjan lebih dari
1,18 juta orang, dan pada tahun 2004, industri tekstil di Indonesia mempekerjakan sekitar 1,5
juta orang secara langsung dan sektor ini secara keseluruhan mempekerjakan sekitar 3,5 juta
orang secara langsung dan tidak langsung.
Dari tahun 2002 industri ini telah mengalami masa-masa sulit dengan banyaknya pabrik yang
menyatakan bangkrut. Lebih dari 100 pabrik Industri Tekstil dan Produk Tekstil di Bandung
tutup.
Mengapa Industri Ini Mengalami Kesulitan
Penutupan pabrik tersebut akibat adanya penghapusan kuota tekstil, yang terjadi pada tanggal
1 Januari 2005. Penutupan kuota tekstil ini dirancang untuk melindungi industri-industri di
Amerika Serikat dan Eropa dengan menghapuskan kuota tekstil sehingga mendorong
terjadinya liberalisasi/ perdagangan bebas lalu muncul adanya persaingan/ kompetisi antar
negara penghasil tekstil. Selain hal tersebut, ancaman inefisiensi juga dialami oleh industri
tekstil di Indonesia, seperti adanya perselisihan perburuhan, kenaikan biaya tenaga kerja dan
energi (bahan bakar), serta penuaan mesin-mesin tekstil. Untuk garmen, permasalahan yang
dihadapi adalah kompetisi dengan negara berkembang penghasil tekstil dan produk tekstil
lainnya, penuaan industri, biaya produksi yang sangat tinggi, iklim investasi yang suram dan
lembaga keuangan yang tidak kooperatif.
Kompetisi Internasional yang Sengit
Masalah besar dari industri tekstil Indonesia adalah adanya persaingan sengit ekspor yang
berasal dari India, Cina, Pakistan, Bangladesh, Turki, Meksiko, dan bahkan Vietnam,
Thailand dan Kamboja. Terutama Cina, India dan Vietnam yang merupakan eksportir baru di
industri ini. Mereka memasuki pasar global dengan tekad dan energi yang sangat kompetitif.
Dalam beberapa tahun terakhir, Negara-negara ini telah berinvestasi besar dalam
pembaharuan mesin dan teknologi. Strategi tersebut telah memungkinkan mereka untuk
menjadi kekuatan dominan baru di pasar internasional. Pada saat yang sama, negara-negara
ini telah mengadopsi strategi baru yang bertujuan untuk mengatasi rezim perdagangan
2|Masalah Perencanaan

internasional yang mengatur tekstil dan garmen. Seperti contohnya di India, yang
mengerucutkan program revitalisasi untuk pakaian dengan membangun 15 taman yang
dimodelkan seperti Kawasan Ekonomi Khusus Cina. Taman itu dilengkapi dengan
infrastruktur dan pusat-pusat pelatihan pekerja untuk menarik investasi dari produsen pakaian
skala besar. Begitu juga dengan Vienam yang lebih meningkatkan hubungan perdagangan
dengan Amerika Serikat sehingga Vietnam menjadi negara pengirim pakaian terbesar ke
Amerika Serikat melebihi Negara-negara ASEAN lainnya seperti Indonesia, Thailand dan
Filipina.
Sebuah Penuaan Industri
Menurut PT SUCIFINDO, 57 persen dari mesin pabrik tekstil dan garmen di Indonesia
berusia 15 tahun. 18 persen berusia 10-15 tahun, 18 persen berusia 5-10 tahun dan hanya 7
persen yang berusia di bawah 5 tahun. Teknologi yang usang ini berdampak negatif pada
produktivitas, efisiensi dan kualitas. Selain itu ada masalah dengan adanya isu-isu kerusakan
lingkungan, yaitu penggunaan bahan baku dan energi yang aman.
Peningkatan Biaya Produksi
Hal ini terkait dengan biaya bahan baku untuk industri tekstil dan garmen, yaitu kapas yang
80 persennya merupakan impor karena kapas tidak tumbuh subur di Indonesia. Sekitar 90
persen kebutuhan kapas dari Australia dan Amerika Serikat. Selain itu pula, masalah lainnya
yaitu meningkatnya biaya untuk upah buruh dan bahan bakar serta korupsi menjadikan
industri tekstil dan garmen di Indonesia kehilangan keunggulan kompetitifnya jika
dibandingkan dengan negara-negara lain.
Iklim Investasi dan Penarikan Modal Asing yang Buruk
Terdapat adanya beberapa faktor serius yang menghambat investasi di Indonesia, yaitu
pengaturan izin usaha yang prosesnya panjang, biasanya memakan waktu lebih dari satu
tahun. Kedua, infrastruktur yang lemah, termasuk jalan, air dan limbah, transportasi serta
telekomunikasi. Ketiga adalah konflik kepentingan antara pusat dan pemerintah daerah,
keempat adalah sistem pajak.
Penolakan Bank Untuk Bekerjasama Dengan Industri tekstil

3|Masalah Perencanaan

Selama beberapa tahun terakhir, bank-bank lokal pada umumnya menghindari pinjaman
kepada industri tekstil karena risiko tinggi. Para banker berpendapat bahwa industri tekstil
dan garmen adalah overdependent pada sistem kuota pasar Amerika.
Menurut paper/ artikel tersebut, yang menyebabkan banyaknya Industri Tekstil dan Produk
Tekstil yang tutup di Indonesia (terutama Jawa dan Bali) adalah karena tingginya biaya
produksi (yaitu tingginya energi bahan bakar dan meningkatnya upah) sehingga menurunnya
daya saing Industri Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia dengan negara lain sehingga para
investor pun enggan menanamkan modalnya di Indonesia yang pada akibatnya investasi
menurun. Faktor-faktor penghambat investasi antara lain adalah birokrasi/ perizinan yang
lama; lemahnya infrastruktur, seperti permasalahan jalan, transportasi, air bersih, air limbah
dan telekomunikasi yang mengakibatkan logistik dan pelabuhan yang tidak efisien; dan
konflik kepentingan pemerintah daerah dan pusat, yaitu pemerintah daerah terkesan tidak
mendukung kepentingan nasional dengan banyaknya peraturan yang tidak mendukung
investasi serta pemerintah yang korupsi (penyuapan dan pungli oleh pejabat daerah).
Akan teteapi, Industri Tekstil dan Produk Tekstil diperkirakan akan tetap sebagai kontributor
utama perekonomian Indonesia karena Indonesia masih memiliki keunggulan komparatif
untuk labour intensive (upah buruh). Berikut ini merupakan langkah-langkah yang dilakukan
pemerintah terkait Industri Tekstil dan Produk Tekstil:
-

Membatasi impor;
Mengurangi impor bahan baku;
Restrukturisasi mesin;
Memperbaiki birokrasi;
Mencari pasar lain untuk tujuan ekspor;
Menjadikan Batam sebagai zona perdagangan bebas;
Peningkatan produksi; dan
Meningkatkan inovasi untuk UMKM produk tekstil.

Dari paper/ artikel di atas, dapat disimpulkan bahwa pembatasan kuota tekstil bukan
merupakan hambatan, melainkan sebuah tantangan dan peluang agar Industri Tekstil dan
Produk Tekstil Indonesia bisa berkompetisi dengan negara lain. Selain itu pula, pasar untuk
tujuan ekspor masih ada, sehingga permasalahannya berasal dari dalam negeri, seperti
penyeludupan, perpajakan, kemanan, perselisihan perburuhan, tarif ekspor dan masalah
produksi. Selain itu pula, permasalahan lainnya adalah bagaimana pemerintah Indonesia bisa
menerapkan kebijakan yang bisa mengembangkan Industri Tekstil dan Produk Tekstil di
Indonesia.

4|Masalah Perencanaan

Perbandingan dengan Jurnal/ Penelitian Lain


Berdasarkan jurnal Labour and Management in Development (Studies on The Indonesian
Textile and Garment Industry), permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh Industri
Tekstil dan Produk Tekstil di Indonesia sehingga Indonesia kalah bersaing dengan negaranegara penghasil tekstil dan produk tekstil lainnya adalah bukan karena adanya pembatasan
kuota ekspor, melainkan permasalahan yang berasal dari dalam negeri, seperti penyeludupan,
perpajakan, kemanan, perselisihan perburuhan, tarif ekspor dan masalah produksi. Selain itu
pula, permasalahan lainnya adalah bagaimana pemerintah Indonesia bisa menerapkan
kebijakan yang bisa mengembangkan Industri Tekstil dan Produk Tekstil di Indonesia.
Sedangkan pada penelitian-penelitian di Indonesia, masih ada permasalahan-permasalahan
lainnya yang dihadapi oleh Industri Tekstil dan Produk Tekstil, seperti di bawah ini :
-

Penelitian Hermawan (2008), menganalisis ekonomi perkembangan Industri TPT


Indonesia yang hasilnya adalah walaupun laju ekspor TPT Indonesia cenderung meningkat
dari tahun ke tahun, namun posisi daya saing TPT Indonesia di pasar dunia masih di
bawah Cina, India, dan Italia. Perkembangan industri TPT pada periode 1980-2006 masih
baik, yaitu dengan tingkat pertumbuhan industri TPT yang masih positif. Prospek industri
TPT Indonesia sangat dipengaruhi oleh harga riil kapas dunia, depresiasi nilai tukar
Rupiah terhadap USD dan tarif impor TPT.
Pendahuluan
Industri TPT merupakan penyumbang terbesar dalam perolehan devisa Indonesia. Selain
mempunyai kontribusi yang besar di dalam PDB dan perolehan devisa, industri ini juga
menyerap banyak tenaga kerja. Permintaan hasil produksi TPT akan cenderung meningkat
seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, sehingga potensi pasar TPT domestik cukup
besar. Hal ini didasarkan pada tingkat populasi yang mencapai lebih dari 20 juta jiwa dan
membaiknya tingkat pendapatan masyarakat. Tujuan penelitian secara umum adalah
menganalisis perkembangan dan prospek industri TPT Indonesia di pasar dunia.
Sedangkan secara khusus, tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi posisi dan daya
saing ekspor TPT Indonesia di antara Negara-negara pesaingnya, menganalisis
perkembangan industri TPT Indonesia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dan
menganalisis perkembangan industri TPT Indonesia dan keterkaitannya dengan pasar TPT
dunia.
Pembahasan
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah CMS, 2SLS, dan simulasi kebijakan
ekonomi dan non ekonomi. Secara keseluruhan, meskipun laju ekspor TPT Indonesia

5|Masalah Perencanaan

cenderung meningkat dari tahun ke tahun, namun posisi daya saing TPT Indonesia di pasar
TPT dunia masih di bawah Cina, India, dan Italia. Di samping itu produksi tekstil dan
garmen domestik dipengaruhi oleh harga riil kapas dunia dan upah riil tenaga kerja ITPT.
Ekspor tekstil Indonesia dipengaruhi oleh produksi tekstil domestik. Sedangkan ekspor
garmen Indonesia dipengaruhi oleh rasio harga riil tekstil dunia dengan harga riil garmen
domestik tahun sebelumnya. Prospek industri TPT Indonesia sangat tergantung pada
ketersediaan bahan berupa kapas dan pertumbuhan ekonomi dunia pada umumnya.
-

Dalam Kajian Pengembangan Industri Tekstil dan Produk Tekstil yang dilakukan
oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (2011), industri TPT memegang peran dalam
mendorong pertumbuhan ekonomi, disamping itu industri TPT tetap harus dikembangkan
melalui kegiatan investasi, baik oleh investor dalam negeri maupun asing. Beberapa
kendala yang menyebabkan kinerja industri TPT semakin melemah termasuk penurunan
ekspor, antara lain terkait umur mesin yang sudah tua, pasokan energi yang tidak kontinu,
ketergantungan impor bahan baku, dan sulitnya mengakses sumber pembiayaan. Untuk
nilai ekspor TPT Indonesia didominasi oleh produk garmen dan benang.
Pendahuluan
Industri Tekstil dan Produk Tekstil atau lebih dikenal dengan industri TPT adalah salah
satu industri perintis dan tulang punggung manufaktur Indonesia. Posisi strategis industri
ini semakin tampak nyata jika ditinjau dari sisi kontribusinya terhadap perekonomian
khususnya dalam bentuk pendapatan ekspor dan penyerapan tenaga kerja. Bahkan jika
mencermati periode sekitar 20 yang lalu perkembangan kinerja industri tekstil
menunjukkan masa keemasannya, dimana pada saat itu industri ini mampu menyumbang
lebih dari 35% dari total ekspor manufaktur dan penciptaan lapangan kerja terbesar di
sektor manufaktur.
Pada saat itu industri tekstil sangat diuntungkan oleh beberapa perangkat kebijakan antara
lain melalui sistem pengembalian tarif (duty drawback system) yang menurunkan bias
anti-ekspor dan adanya sistem joint venture menghasilkan keterampilan teknis, manajerial
dan pemasaran yang diperlukan untuk memproduksi tekstil tujuan ekspor. Insentif yang
besar bagi industri berorientasi ekspor ternyata kurang diimbangi oleh penguatan ke dalam
negeri. Sistem pengembalian tarif pada tingkat terentu telah menyebabkan kurangnya daya
saing industri tekstil jadi di tingkat domestik (finishing fabrics). Selain itu, keterkaitan
antara industri tekstil jadi dan industri pakaian jadi juga lemah sehingga Indonesia harus
mengekspor sejumlah besar tekstil setengah jadi (gray fabrics) dengan nilai tambah rendah

6|Masalah Perencanaan

dan mengimpor tekstil jadi dalam jumlah besar. Selain itu, industri ini juga masih
menghadapi biaya tinggi terkait dengan lisensi dan prosedur ekspor dan impor.
Kurang kondusifnya iklim usaha industri tekstil pada saat itu diperburuk dengan terjadinya
krisis moneter tahun 1997 dimana pada saat itu ada lebih dari 12 perusahaan tekstil yang
bangkrut, dan sisanya banyak yang mengalami stagnasi. Kondisi tersebut terus berlanjut
hingga saat ini sehingga akumulasi masalah yang dihadapi oleh industri TPT menjadi
cukup berat baik dari sisi permintaan maupun sisi penawaran.
Potensi pasar domestik yang didukung oleh besarnya jumlah penduduk serta penguasaan
semua rantai produksi meskipun belum sepenuhnya terintegrasi menjadikan industri ini
tetap menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi domestik. Oleh karena itu diperlukan
strategi pengembangan dan revitalisasi industri TPT dari hulu sampai hilir.
Diterbitkannya UU No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan Peraturan Presiden
Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan ndustri nasional diharapkan mampu memberikan
arah bagi pengembangan industri tekstil dan produk tekstil di dalam negeri namun
demikian untuk menghasilkan industri yang berdaya saing diperlukan kemampuan
teknologi yang efektif dan efisien dan saat ini teknologi yang digunakan di dalam negeri
masih belum mampu menghasilkan output yang optimal. Oleh karena itu, kehadiran
penanaman modal asing yang membawa teknologi, modal dan jaringan pemasaran masih
sangat relevan menjadi salah satu faktor dalam pengembangan industri tekstil dan produk
tekstil di dalam negeri dan dapat dijadikan pengungkit daya saing investasi di Indonesia.
Untuk mendukung prioritas pemerintah tersebut perlu disiapkan suatu kajian industri
tekstil dan produk tekstil di masa datang.
Maksud dan tujuan dari kajian ini adalah untuk dapat merumuskan kebijakan dan strategi
terkait perencanaan pengembangan industri TPT sehingga dapat mendorong program
revitalisasi pada akhirnya meningkatkan daya saing industri.
Pembahasan
Terkait dengan permasalahan industri TPT yaitu :
1) Tuanya umur mesin industri TPT domestik
Tuanya umur mesin menjadi salah satu isu utama dalam industri TPT di Indonesia.
Penggunaan mesin yang overcapacity pada masa puncak produksi pada dasawarsa
1980-an menyebabkan mesin-mesin mengalami penurunan produktivitas. Kondisi
mesin-mesin yang sudah tua ini selain menurunkan produktivitas juga ketinggalan
teknologi. Kondisi mesin sangat menentukan kualitas produk. Mesin yang semakin tua
selain menjadi kurang produktif juga semakin boros energi. Sebagai gambaran, mesin
carding yang 15 tahun lalu biaya energinya hanya mencapai 7% namun saat ini
memakan biaya listri sebesar 15-20%.
7|Masalah Perencanaan

Sebagian besar dari beberapa jenis industri TPT seperti industri pemintalan, pertenunan
dyeing/ printing/ finishing dan pakaian jadi (garment) mempunyai mesin peralatan yang
sudah tua sehingga menurunkan prduktivitas dan daya saing industri tersebut.
2) Masalah Ketenagakerjaan
Produktivitas tenaga kerja di sektor tekstil dinilai rendah karena kenaikan upah di

sektor TPT tidak diimbangi dengan kenaikan produktivitas.


Kekurangan tenaga profesional, antara lain di sektor industri weaving untuk bidang
pemasaran dan di sektor industri garment untuk tenaga di bidang merchandizing dan

marketing.
Dalam hal penetapan upah, setiap tahun lebih besar dari angka inflasi dan tidak

melihat indikator ekonomi.


Tidak melihat kemampuan perusahaan untuk membayar upah (company ability to

pay) serta tidak dikaitkan dengan tingkat produktivitas minimum perusahaan.


3) Mahalnya Biaya Energi
Pasokan energi yang tidak kontinu. Pasokan gas, listrik, dan batubara masih menjadi
hambatan. Pasokan energi domestik masih terkendala karena masih tingginya proporsi
produksi yang dipasarkan di pasar ekspor.
4) Ketergantungan Impor Bahan Baku
Terbatasnya jumlah pelaku industri serat menjadikan indusri tekstil hulu Indonesia
sangat tergantung pada pasokan bahan baku serat impor. Kontribusi pasokan impor
serat di Indonesia mencapai 66% dari kebutuhan. Bahkan untuk serat kapas 99% masih
harus diimpor. Demikian juga dengan kain, peranan kain impor sudah mencapai 39%
dan statistik impor mencatat bahwa impor kain dari tahun ke tahun mengalami
pertumbuhan paling tinggi.
5) Rendahnya Kegiatan Research & Development (R&D)
Menurunnya daya saing harga seharusnya diimbangi dengan daya saing berbasis
kualitas. Kegiatan R&D ini diyakini dapat menodorong daya saing berbasis kualitas.
Kegiatan R&D diyakini dapat mendorong daya saing suatu industri baik melalui
ongkos yang rendah atau produk yang berkualitas. Di satu sisi, kegiatan R&D yang
diarahkan pada perbaikan proses produksi (produktivitas) dapat menekan ongkos, di
sisi lain R&D yang diarahkan pada pengembangan produk baru dapat menghasilkan
produk yang lebih baik. Dengan demikian aktivitas R&D dapat ditujukan sekaligus
untuk mengembangkan produk (better product) dan proses produksi. Namun dalam
kenyataannya aktivitas R&D dalam industri TPT di Indonesia masih sangat rendah.
6) Infrastruktur pelabuhan yang tidak memadai dan tingginya biaya terminal handling
Infrastruktur pelabuhan merupakan salah satu faktor utama yang ikut menentukan,
khususnya untuk kepastian dan kelancaran proses kegiatan ekspor-impor. Pelabuhanpelabuhan di Indonesia fungsinya sebagai lembaga profit yang menarik berbagai jenis
8|Masalah Perencanaan

biaya dan pungutan sehingga merugikan pengguna jasa karena menyebabkan ekonomi
biaya tinggi. Selain itu pelabuhan Tanjung Priok saat ini sudah melebihi ambang
kapasitas. Apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut dan tidak ada pembenahan, maka
akan mengganggu kelancaran arus barang dan menimbulkan ketidakpastian bagi
industri TPT Nasional, dan akhirnya dapat dipastikan akan mengakibatkan daya saing
produk TPT nasional melemah.
7) Maraknya Impor Legal Maupun Ilegal
Produk TPT eks Cina yang cenderung murah dan beragam membanjiri pasar Indonesia
(baik legal maupun illegal). Sejak berlakunya ACFTA, produk Cina semakin
membanjiri pasar domestik. Dalam kurun waktu 2006 hingga 2009, misalnya, telah
terjadi trend kenaikan impor Indonesia dari China yang sangat tajam yakni 367% dari
US$ 262 juta ke US$ 1.14 miliar. Maka, defisit perdagangan TPT Indonesia dengan
Cina pun kian lebar. Tahun 2009, neraca perdagangan TPT Indonesia-Cina terjadi
defisit untuk Indonesia sebesar US$ 882 juta.
8) Perda-Perda yang kontra produktif
Sejak diberlakukannya otonomi daerah, 01 Januari 2001, pelaksanaannya yang
dominan muncul adalah penyimpangan dan efek negatif dari otonomi itu sendiri.
Pemerintah daerah (pemda) berlomba-lomba memproduksi peraturan daerah (perda)
untuk mengisi keuangan daerah (Pendapatan Asli Daerah-PAD) tanpa memikirkan
dampaknya bagi dunia usaha. Otomi daerah seharusnya dapat meningkatkan pelayanan
pemerintah terhadap warganya, tetapi kenyataannya justru sebaliknya, yaitu dunia
usaha justru dililit oleh pajak daerah maupun retribusi daerah yang bukan saja
membebani akan tetapi juga menambah inefisiensi yang tahap akhirnya menciptakan
hambatan terhadap perdagangan dan investasi bagi pengusaha/ investor yang berniat
berusaha/ berinvestasi di daerah.
9) Kesulitan dunia usaha untuk mengakses sumber pembiayaan dalam rangka peremajaan
(Tingginya tingkat suku bunga tinggi komersial & anggapan industri TPT sebagai high
risk)
-

Nur Effendi (2013) dalam penelitiannya yang berjudul Analysis of Indonesia Textile
Industry Competitiveness in Regulation Perspective menyatakan bahwa lemahnya daya
saing industri TPT Jawa Barat bukan semata-mata disebabkan oleh banyaknya produk
tekstil yang membanjiri pasar domestik, tetapi secara fundamental sangat dipengaruhi oleh
kelembagaan yang ada dalam industri ini.
Pendahuluan

9|Masalah Perencanaan

Dalam laporan WEF (World Economic Forum) Tahun 2011, Indonesia berada di peringkat
ke 44 berdasarkan Indeks Daya Saing Global, jauh di beberapa Negara ASEAN lainnya
seperti Malaysia dan Thailand yang masing-masing berada pada urutan ke 26 dan 38. Hal
tersebut dikarenakan rendahnya skor Indonesia dalam Indeks Daya Saing Global di 3 pilar,
yaitu kecanggihan teknologi (skor 3,2), infrastruktur (skor 3,6) dan kelembagaan (skor
4,0).
Salah satu industri yang cukup mengalami penurunan daya saing beberapa tahun terakhir
adalah industri tekstil. Industri tekstil adalah salah satu kelompok industri yang masuk ke
dalam kluster industri prioritas berdasarkan Perpres Nomor 28 Tahun 2008 Tentang
Kebijakan Industri Nasional. Dengan dikeluarkannya Perpres ini seharusnya daya saing
industri ini tekstil terutama industri yang bersaing di pasar domestic, tidak mengalami
penurunan seperti yang terjadi saat ini. Penurunan ini ditandai oleh banyaknya perusahaan
tekstil yang harus ditutup karena produknya tidak mampu bersaing dengan produk pesaing
dan produk impor. Data dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) wilayah Jawa Barat
misalnya, menunjukkan bahwa terdapat 50 perusahaan tekstil yang tidak dapat
dikonfirmasi pada tahun 2011. Dalam konteks kelembagaan, turunnya daya saing industri
tekstil dapat dilihat dari berbagai perspektif teori, seperti dalam perspektif teori biaya
transaksi yang menyoroti tingginya biaya transaksi dalam suatu industri yang berakibat
terjadinya praktek ekonomi biaya tinggi. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis
lemahnya daya saing industri tekstil di pasar domestik dalam perspektif teori regulasi.
Pembahasan
Dalam kaitannya dengan fenomena pasar tekstil domestik yang 60 persen dikuasai oleh
produk impor, para pengusaha dalam industri tekstil maupun Asosiasi Pertekstilan
Indonesia belum melihat adanya regulasi yang mengarah pada perlindungan terhadap
industri tekstil lokal. Berdasarkan analisis terhadap Peraturan Menteri Perindustrian
Nomor 15/ M-IND/ PER/ 2/ 2012 dengan menggunakan sudut pandang alur produk, dalam
hal ini regulasi dipandang sebagai suatu proses input-proses-output-outcome, ternyata
aspek-aspek yang ditekankan dalam regulasi ini secara langsung belum menyentuh pokok
permasalahan dalam industri tekstil. Regulasi ini dianggap belum bisa mewakili industri
tekstil skala kecil dan menengah untuk dapat bersaing di pasar domestik dan hanya
menguntungkan perusahaan tekstil skala besar yang berorientasi ekspor. Selain masalah
mesin produksi yang sudah tua, industri tekstil juga menghadapi praktek bisnis biaya
tinggi sebagai akibat dari mahalnya biaya bahan baku dan biaya energi. Selain itu juga,
pengusaha masih harus mengeluarkan banyak biaya untuk praktek birokrasi dan pungutan
10 | M a s a l a h P e r e n c a n a a n

nelitian

ngbo

an

oordinasi
an Modal

ndi

tidak resmi lainnya yang sudah melembaga dalam industri tekstil. Sehingga lemahnya
daya saing industri tekstil dapat dipahami sebagai akibat dari lemahnya regulasi yang
mampu melindungi industri dalam negeri.
Dari perbandingan-perbandingan jurnal tersebut, dapat dibuatkan matriks permasalahanpermasalahan yang dihadapi oleh Industri Tekstil dan Produk Tekstil yang ada di Indonesia
sehingga didapatkan perbedaan dan persamaan antara penelitian yang satu dengan penelitian
lainnya.
Permasalahan yang dihadapi oleh
Industri Tekstil dan Produk Tekstil
Permasalahan yang berasal dari dalam
negeri, seperti penyeludupan, perpajakan,
kemanan, perselisihan perburuhan, tarif
ekspor dan masalah produksi serta
kebijakan pemerintah
Prospek industri TPT Indonesia sangat
dipengaruhi oleh harga riil kapas dunia,
depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap
USD dan tarif impor TPT
Umur mesin yang sudah tua, pasokan
energi yang tidak kontinu,
ketergantungan impor bahan baku, dan
sulitnya mengakses sumber pembiayaan
Dipengaruhi oleh kelembagaan yang ada
dalam Industri Tekstil dan Produk Tekstil
Sumber: Hasil Analisis 2014

11 | M a s a l a h P e r e n c a n a a n

Perbedaan

Menurut Hermawan, prospek industri


TPT Indonesia sangat dipengaruhi
oleh faktor eksternal, yaitu harga riil
kapas dunia, depresiasi nilai tukar
rupiah terhadap USD dan tarif impor
TPT

Persamaa

Menurut penelitian Wu C
Badan Koordinasi Penan
dan Nur Effendi, permas
permasalahan yang diha
Industri Tekstil dan Prod
lebih kepada permasalah
negeri, seperti permasala
produksi, teknologi dan

Kesimpulan
Dari jurnal dan penelitian-penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa isu penurunan daya
saing Industri Tekstil dan Produk Tekstil yang terjadi di Indonesia semata-mata bukan hanya
Industri TPT Indonesia tidak dapat bersaing dengan negara-negara penghasil tekstil lainnya.
Akan tetapi, lebih karena masih terdapat banyaknya permasalahan-permasalahan yang
dihadapi oleh industri ini yang berasal dari dalam negeri, seperti permasalahan dalam faktor
biaya produksi (pasokan energi yang tidak kontinu, ketergantungan impor bahan baku dan
upah buruh); permasalahan dalam faktor teknologi (umur mesin yang sudah tua); dan
permasalahan dalam faktor kelembagaan (penyeludupan, perpajakan, kemanan, perselisihan
perburuhan, tarif ekspor serta kebijakan pemerintah). Selain itu pula, faktor eksternal seperti
harga riil kapas dunia, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap USD dan tarif impor TPT
mempengaruhi prospek Industri Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia.
Dari isu-isu tersebut, sehingga menarik bagi penulis untuk menjadikannya sebagai isu dalam
pembuatan Tugas Akhir, karena selain Industri Tekstil dan Produk Tekstil sangat
berkontribusi untuk perekonomian nasional dan memiliki banyak tenaga kerja, industri ini
juga memiliki multiplier effect bagi wilayah yang banyak terdapat industri ini, seperti di
Kabupaten Bandung yang menjadikan Industri Tekstil dan Produk Tekstil sebagai produk
unggulan prioritas. Akan tetapi, dengan banyaknya permasalahan-permasalahan yang
dihadapi oleh Industri Tekstil dan Produk Tekstil, sehingga dampaknya adalah terjadinya
penutupan industri-industri di Kabupaten tersebut. Hal itu menjadikan penulis tertarik untuk
meneliti lebih lanjut mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi peningkatan daya
saing Industri Tekstil dan Produk Tekstil di wilayah Industri Tekstil dan Produk Tekstil di
Kabupaten Bandung dan bagaimana mengoptimalkan faktor-faktor yang mempengaruhi daya
saing sehingga penelitian tersebut diharapkan agar Industri Tekstil dan Produk Tekstil di
wilayah Industri Tekstil dan Produk Tekstil dapat bertahan dan memanfaatkan peluangnya di
pasar global sehingga peningkatan perekonomian bisa terjadi di wilayah tersebut.

Daftar Pustaka
Badan Koordinasi Penanaman Modal. 2011. Kajian Pengembangan Industri Tekstil dan
Produk Tekstil.
http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsipid/id/userfiles/ppi/KAJIAN
12 | M a s a l a h P e r e n c a n a a n

%20PENGEMBANGAN%20INDUSTRI%20TEKSTIL%20DAN%20PRODUK
%20TEKSTIL%202011.pdf (tanggal akses 25 Oktober 2013)
Chongbo, Wu. 2007. Studies on The Indonesian Textile and Garment
Industry. Labour and Management in Development Journal Volume
7,
Number
5.
http://www.nla.gov.au/openpublish/index.php/lmd/article/viewFile/12
96/1583 (tanggal akses 25 Oktober 2013)
Effendi, Nur. 2013. Analysis of Indonesia Textile Industry in
Competitiveness
in
Regulation
Theory
Perspective.
http://www.researchgate.net/publication/235766698_Analysis_of_In
donesia_Textile_Industry_Competitiveness_in_Regulation_Theory_Pe
rspective_By__Nur_Efendi (tanggal akses 25 Oktober 2013)
Hermawan, Iwan. 2008. Analisis Ekonomi Perkembangan Industri Tekstil
dan
Produk
Tekstil
(TPT)
Indonesia.
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/41648/Cover
%202008ihe.pdf?sequence=1 (tanggal akses 25 Oktober 2013)

13 | M a s a l a h P e r e n c a n a a n